Showing posts with label Tribun Jateng. Show all posts
Showing posts with label Tribun Jateng. Show all posts

Monday, 11 February 2019

[Resensi] Agar Anak Tidak Kecanduan Gadget

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 30 Desember 2018


Judul               : Digital Parenthink
Penulis             : Mona Ratuliu
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Juli 2018
Tebal               : 202 halaman
ISBN               : 978-602-385-513-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Menjadi orangtua pada era digital memang penuh tantangan. Di mana kita dituntut untuk selalu update dengan berbagai hal dan bisa mengimbangi arus perkembangan zaman itu sendiri.  Karena melihat kondisi yang ada, perkembangan zaman sedikit banyak telah merubah cara berpikir dan tingkah laku anak. Pada masa dahulu, dengan terbatasanya teknologi, anak ditempa untuk memiliki daya juang yang cukup tinggi. Anak-anak lebih sering bermain permainan tradisional dan berkumpul untuk bersosialisasi.

Akan tetapi pada era digital,  ketika teknologi semakin canggih, kebiasaan lama itu pun mulai bergeser.  Saat ini anak-anak lebih menikmati berjibaku dengan gadget dari pada bermain permainan tradisional. Apalagi  dengan berbagai fitur menarik dan lengkap, anak merasa sudah cukup berteman dengan gadget. Dengan gadget saja, mereka sudah bisa melakukan banyak hal. Dari menonton youtube, bermain game, pesan makanan secara online, berselancar di dunia maya dan banyak lagi.

Pada beberapa hal keberadaan gadget memang telah memberikan banyak sekali manfaat. Namun di sisi lain, gadget juga memberi dampak buruk bagi pertumbuhan anak. apalagi jika dalam perizinan memakai gadget tanpa adanya bimbingan dari orangtua. Bahkan yang lebih parah, anak-anak bisa kecanduan gadget. Dalam artian waktu online anak lebih banyak daripada melakukan kegiatan lain. Anak lebih memilih bermain gagdet daripada berkumpul dengan keluarga, anak akan marah jika gadgetnya diminta.

Lalu bagaimana caranya agar anak tidak kecanduag gadget?  Buku ini sangat tepat dijadikan bahan bacaan. Di sini akan diuangkap dengan jelas dan detail tentang bagaimana caranya agar orangtua bisa meminimalis agar anak tidak kecanduan gadget.

Hal pertama yang bisa dilakukan orangtua adalah dengan memulai menjelaskan tentang dampak negatif bermain gadget. Salah satu pakar psikologi, menjelaskan ada delapan aspek perkembangan anak yang akan terpengaruh;  perkembangan motirik, fisik, moral, sosial, identifikasi gender, bahasa, neourologi dan kognitif.

Cara lain, kita bisa mulai mengenalkan kepada anak berbagai permainan yang tidak kalah seru, dari gadget.  Orangtua juga perlu membatasi pemakaian dan memberi bimbingan dalam pemakaian gadget. Namun,  jika anak sudah terlanjur kecanduan gadget, maka kita memerlukan tindakan detoks. Artinya kita perlu mengentikan  sama sekali penggunaan gadget dalam jangka waktu tertentu, sekitar 4-6 minggu (hal 82).

Selain sedikit hal ini, masih banyak penjelasan yang lebih jelas. Buku ini sangat patut dibaca bagi orangtua sebagai pedoman pola asuh anak. Dilengkapi dengan kisah nyata pengalaman dari beberapa orangtua. Hal ini akan membantu kita untuk melihat gambaran fenomen gadget yang memiliki banyak pengaruh dalam kehidupan saat ini.

Srobyong, 1 Desember 2018 

Wednesday, 9 January 2019

[Resensi] Semangat Belajar di Tanah Eropa

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 16 Desember 2018

Judul               : Diary La Sorbonne
Penulis             : Kualakata
Penerbit           : Bhuana Sastra
Cetakan           : Pertama, 2018
Tebal               : xiv + 201 halaman
ISBN               : 978-602-455-274-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Jangan pernah takut bermimpi dan memiliki harapan. Karena mimpi dan harapan merupakan  jalan untuk meraih sebuah kesuksesan. Tanpa mimpi kita tidak mungkin melakukan usaha dan bekerja keras. Soekarno pernah berkata, “gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Buku ini menceritakan tentang perjalan dan pengalaman Kualakata ketika ingin belajar dan mengais ilmu di negara Eropa—tepatnya di Sarbonne University.  Siapa sih yang tidak ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri? Di sana kita bisa mendapatkan banyak pengalaman dan kaya akan wawasan. Begitupula harapan yang dimiliki Kualakata. 

Terlahir dari keluarga yang  mayoritas adalah pendidik, hal itu membuat Kualakata memiliki semangat untuk belajar  yang sangat tinggi. Dia meyakini tidak peduli dari mana kita berasal, semua orang mampu menciptakan hal-hal besar (hal 4).  Didukung oleh almarhum dosennya, Monsieur Agoes Soeswanto, Kuala nekat untuk mulai mengejar impiannya untuk belajari di Paris.

Sembari les bahasa Prancis, dia mulai mendaftarkan diri untuk perkuliahan di Prancis. Dan dia diterima di Sarbonne University. Hanya saja dia menyadari  tantangan terberat yang harus dia pertimbangankan adalah masalah biaya. Sedangkan biaya hidup di Prancis jauh di atas standar hidup di Indonesia.  Untuk itulah Kuala mulai berburu beasiswa agar tetap bisa mengejar impiannya. 

Dia memilih mendaftarkan diri pada beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Beasiswa). Karena menurutnya beasiswa ini  sangat mengayomi penerimanya.  Selain itu LPDP memang memiliki misi untuk menjadi lembaga penyedia biaya pendidikan terbaik di wilayah regional dan nasional.  Jadi setelah menerima beasiswa ini, dia tidak langsung menerima dana begitu saja.  Sebelum berangkat para penerima beasiswa ditempa dulu melalui Pelatihan Kepemimpinan selama seminggu.  Mereka dibekali tentang nasionalisme, bahwa mahasiswa yang kuliah di luar negeri, setelah ilmu dan pengalaman mencukupi, maka harus pulang untuk mengabdi kepada bangsa, tidak melupakan asal meskipun menjadi orang sukes di luar sana (hal 35).

Tantangan lain yang harus dia taklukkan lagi adalah permasalahan adat dan budaya yang berbeda, serta perbedaan iklim antara Indonesia-Parancis.  Apalagi selama ini Kuala belum pernah jauh dari tanah kelahirannya, Sidoarjo.  Namun dengan tekad bulat, Kuala yakin bisa melaluinya.  Apalagi di sana dia bisa belajar di tempat sastra dan seni melebur jadi satu.

Hanya saja untuk sistem belajar di Sarbonne, Kuala merasa kurang cocok.  Di Sarbonne umumnya memiliki dua sistem perkuliahan atau sistem kelas. Ada kelas TD (Travaux Dirige) –kelas kecil yang terdiri dari 20 mahasiswa, dan kelas besar disingkat CM (Cour Magistraux)—kelas yang terdiri dari puluhan sampai ratusan siswa. Sedang kelas yang diambil Kuala rata-rata CM.  Dengan bahasa prancis pas-pas-an, dia sering  kurang memahami materi, karena dosennya terlalu cepat dalam menyampaikan pembelajaran di kelas. Di sisi lain dia juga kesulitan untuk mencari teman. Namun hal itu tetap tidak membuat Kuala down dan minder. Dia memilih beradaptasi dengan  upgrade cara belajar dan bersosialisasi (hal 83).

Banyak suka dan duka yang pernah dialami Kuala selama belajar di Prancis. Tapi hal itu tidak menyusutkan niat dan minatnya untuk terus belajar. Dari kisah perjalannya, kita bisa mengambil keteladanan bahwa agar sukses belajar di negeri eropa atau di negeri manapun, kita harus memiliki pribadi yang ulet,  semangat, sabar dan tidak mudah menyerah.

Srobyong, 9 Desember 2018

Wednesday, 26 December 2018

[Resensi] Dari Hobi Menjadi Usaha Bisnis

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 9 Desember 2018


Judul               : Homesick for Seoul
Penulis             : Fiona Natalia
Penerbit           : Pop, Imprin KPG
Cetakan           : Pertama, Juli 2018
Tebal               : 136 halaman
ISBN               : 978-602-424-848-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Fiona tidak pernah menyangka dari kunjungannya ke Korea di tahun 2013,  kini dia telah berhasil membangun sebuah usaha bisnis. Di mana bisnis yang dijalankan tidak jauh dari hobinya, yaitu traveling.  Hanya saja dalam usahanya dia fokus pada destinasi wisata di Korea. Karena sejak kunjungannya ke Korea, Fiona merasa jatuh cinta dengan negeri gingseng tersebut. Dia selalu rindu, dan mengungkapkan kerinduannya dengan membuat bisnis ini.

Bisnis itu dia beri nama “dearestJINHE”. Di mana, Fiona mencoba membantu beberapa temannya menyusun itinerary (rencana perjalanan) ke Korea. Dan ternyata usaha kecil itu cukup membuat teman-temannya puas dengan itinerary dan direction yang telah dia buat. Maka sejak itu, dia mencoba menawarkan jasa itu melalui beberapa media sosial. Pertama kali dia memilih mengenalkan bisnisnya di ask.fm (hal 35).  Awal-awalnya banyak pelanggan yang berasal dari folowers  ask.fm, hingga kemudian Fional mulai melirik Instagram sebagai media yang mengenalkan  dearestJINHEE, dengan akun @dearestjinhee.

Di luar dugaan banyak sekali yang tertarik dengan jasa yang dia tawarkan, karena mereka bisa atur itinerary fsn bebas menentukan waktu untuk belanja atau bahkan fangirling. Jasa ini snagat berbeda dengan tur umum yang membatasi waktu berkunjung ke suatu tempat. Sejak tahun 2015, dearestJINHEE terus berkembang dan kini sudah bekerjasama dengan local guide, sopir, pemilik apartemen, pemilik gusthouse, fotografer bahkan rumah sakit (hal 37).

Suka duka yang pernah dialami Fiona selama mengembangkan bisnis travelnya adalah itinerary dan  paket tur yang diabuat dijiplak oleh agen lain dengan memasang harga yang lebih murah. Pernah juga ada akun travel online yang mem-follow seluruh folowers di instagram personalnya dan kemudian menghujat Fiona di ask.fm. Namun dari pengalaman itu, dia menyadari bahwa bisnis online memang sangat menghasilkan profit sehingga banyak orang yang berlomba-lomba mengejar keuntungan.  Tapi bagi Fiona, meski dia sempat terbawa arus, dia kemudian memilih fokus pada tujuan awalnya dalam membangun bisnis. Karena bagaimana pun bisnis ini memang didasari akan rasa suka Fiona terhadap Korea. Dia ingin mengenalkan keindahan kota negeri gingseng kepada banyak orang.

Oleh sebab itu, dia tidak pernah lelah untuk mencari informasi terkait tempat-tempat indah yang disukai para traveler, yang kebanyakan memang merupakan pecinta K-Pop dan K-Drama. Sehingga tempat yang dia tawarkan dalam liburan  pun tidak monoton, namun berbeda dan menarik. Sehingga dia bisa memuaskan pelanggannya.  Berkat kesuksesannya ini, dia pernah menjadi pembicara di Fakultas Ilmu Bahasa UI dalam Talkshow Korean Culture 2016 dengan tema Travel dan Livinf ini Korea, sekaligus membahas sisi entrepreurship usaha travel. Dan tulisan Fiona tentang Bisnis Travel Consultant juga pernah dimuat di Harian Cetak Jawa Pos, Februari 2018.

Penasaran dengan paket tour yang ada di dearestJINHEE, bisa cek langsung di akun Instagramnya. Buku ini sangat menarik untuk dibaca, baik sebagai panduang wisata juga untuk mengambil inspirasi dari perjuangan penulis dalam membangun bisnis.

Srobyong, 1 Desember 2018 

Thursday, 4 October 2018

[Resensi] Ziarah Sebagai Jalan Perenungan Diri

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 2 September 2018


Judul               : Ziarah
Penulis             : Iwan Simatupang
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, September 2017
Tebal               : 224 halaman
ISBN               : 978-602-385-334-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Ini merupakan naskah asli ketika mengirim, sebelum dipotong oleh redaksi dan dimuat :) 

Novel ini merupakan peraih Roman ASEAN Terbaik 1977. Dengan tema yang sederhana dia mampu menghasilkan sebuah kisah yang tidak biasa. Ziarah yang kita ketahui memiliki hubungan erat dengan kebiasaan kita untuk mengunjungi makam—baik makam keluarga, tokoh agama. Di mana tujuan kunjungan itu adalah untuk  mendoakan dan memohon berkah pada tokoh-tokoh agama. selain itu ziarah juga salah satu hal yang mengingatkan kita bahwa pada akhirnya nanti kita juga akan mati. Untuk itulah kita memerlukan perisapan dan bekal yang cukup untuk menghadap Tuhan.

Namun dalam novel ini ziarah memiliki makna yang lebih mendalam dan tidak biasa.  Belum lagi dalam novel ini penulis tidak memberikan nama-nama tokoh, secara gamblang.  Sehingga kita harus siap untuk berpikir lebih dalam untuk memahami apa yang ingin disampaikan penulis lewat kisah ini.

Sejak kematian istrinya, mantan pelukis itu menjadi sosok yang berbeda.  Di pagi hari dia akan ceria layaknya manusia normal. Dia  bekerja dengan rajin, mengecat dan mengapur rumah, atau bekerja serabutan lainnya. Yang terpenting dia tidak diminta untuk menggali kuburan. Itu adalah jenis pekerjaan yang sangat dia hindari.  Sedang di malam hari, dia akan menghabiskan uangnya untuk membeli tuak. Dia akan meminumnya hingga mabuk, lalu berteriak memanggil nama istrinya, dan Tuhan sambil menangis. Namun tidak lama kemudian dia akan  tertawa keras (hal 14).

Padahal sebelum istrinya meninggal, dia adalah seorang pelukis yang sangat berbakat dan mempunyai masa depan cerah.  Tersebab kematian istrinya, dia meninggalkan pekerjaan itu dan mengubur semua lukisannya. Dia menyatakan bahwa dirinya tidak berbakat pada bidang lukisan.

Namun suatu hari, seorang opseter datang dan mengajak si mantan pelukis untuk bekerja padanya. Dia meminta si mantan pelukis untuk mengapur seluruh tembok luar perkuburan kotapraja, yang tanpa dinyana langsung disetujui si mantan pelukis. Dan inilah awal mula perubahan sikap si mantan pelukis setelah ditinggal mati istrinya. Dia tidak lagi berteriak sambil menangis atau tertawa. Tapi dia mulai bersikap sopan, yang membuat semua orang bingung.  Tidak hanya itu si mantan pelukis ini juga berhasil membuat wali kota kebingungan dan  banyak berbagai kejadian ajaib yang terjadi karena si mantan pelukis, yang membuat warga geger.

Membaca novel ini saya seperti masuk pada labirin panjang, dan tidak tahu kapan bisa keluar.  Ketika saya membaca ulasan dari para penikmat buku, mereka dominan mengatakan bahwa buku ini bagus dan menarik untuk dibaca. Hal itu pula yang melatar belakangi saya untuk membeli buku ini. Di sisi lain saya juga penasaran dengan judul novel “Ziarah” yang sangat menggelitik tersebut. Akan tetapi saya cukup kaget, ketika apa yang saya bayangkan tidak sesuai dengan isi dari novel ini.   Mungkin hal ini dikembalikan kepada masalah selera masing-masing pembaca. Saya sendiri, merasa buku ini agak berat dan perlu pendalaman yang lebih untuk memahami keseluruhan kisah.

Namun lepas  dari masa itu, saya cukup terhibur dengan kisah ini. Ada bagian yang lucu, ada juga bagian yang bikin tegang. Saya menikmati sindiran halus tentang masalah tata negara dan bagaimana ambisi seseorang untuk meraih kedudukan juga bisa kita temukan di dalam novel ini.  Melalui kisah ini penulis juga mengkritisi cara berpikir kebanyakan manusia yang hanya melihat sesuatu dari satu sisi saja. Misalnya saja tentang calon sarjana filsafat  dan merupakan anak orang yang ingin jadi opseter penjaga kuburan atau pilihan si mantan pelukis yang ingin bunuh diri dan banyak kejadian lain dalam novel ini.

Tidak ketinggalan melalui novel ini kita diajak untuk siap menerima segala takdir Tuhan dan ikhlas menerika kematian yang bisa datang sewaktu-waktu.  Karena kematian mutlak akan terjadi pada manusia.  Dan ziarah adalah jalan perenungan. Ke mana pun langkah kita teriring, kita telah melakukan ziarah.

Srobyong, 26 Agustus 2018

Tuesday, 2 October 2018

[Resensi] Berwisata Sambil Mengenal Budaya Nusantara

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 30 September 2018


Judul               : 101 Travel Tips & Stories Indonesia 1
Penulis             : Claudia Kaunang, dkk
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : 288 halaman
ISBN               : 978-602-03-3165-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Pergi berwisata merupakan salah satu hiburan yang menarik dan menyenangkan untuk melepas lelah dari berbagai rutinitas. Misalnya berwisata ke pantai, pegunungan, museum atau berbagai lokasi wisata lainnya. Indonesia merupakan  negara gemah lipah loh jinawi yang memiliki banyak wisata menarik.  Dari sabang sampai merauke, setiap daerah menyimpan keindahan panorama yang sangat sayang untuk dilewatkan. 

Buku ini dengan paparan yang lugas, aktual dan persuasif akan mengajak kita mengenal lebih dalam tentang 13 wisata menarik di daerah  Indonesia serta panduan dalam berwisata. Ada Lampung , Bali, Bengkulu, Wakatobi, Banda Aceh, Makassar, Pontianak, Cirebon, Kupang , Sambas, Semarang, Demak dan Karimun Jawa. Selama mengunjungi tempat-tempat tersebut, selain bisa mengusir kepenatan, ternyata dari berwisata kita bisa  mengenal berbagai adat, budaya serta sejarah di Nusantara. Karena sebagai negara kepulauan yang terdiri dari berbagai daerah, agama dan suku bangsa, Indonesia sangat kaya dengan adat dan budaya.

Misalnya saja ketika kita berwisata ke Bengkulu.  Di sana kita bisa menikmati keindahan  alam yang memikat. Seperti menikmati keindahan di Danau Dendam Tak Sudah, Pantai Panjang, Pantai Tapak Paderi, Pantai Zakat dan banyak lagi.  Selain itu juga bisa berwisata sambil mengenal sejarah Indonesia.  Misalnya saja kita bisa mengunjungi Benteng Malrborough, yang merupakan benteng peninggalan Inggris. Benteng ini berdiri kukuh dengan kepala atau bagian depan  menghadap Bengkulu dan bagian punggung atau belanag menghadap Samudera Hindia.  Saat berkunjung kita bisa melihat beberapa meriam yang menghadap ke laut (hal 58).

Tidak kalah seru kita bisa mengunjungi Kediaman Bung Karno saat Pengasingan di Bengkulu. Pengasingan itu terjadi pada 1938-1942. Di rumah itu kita bisa melihat berbagai benda milik Bung Karno. Seperti sepeda ontel, ranjang, kursi tamu, dan buku koleksi Bung Karno. Selanjutnya kita bisa mengunjungi Museum Negeri Bengkulu.  Di sana kita bisa melihat berbagai benda-bedan bersejarah dan representasi adat istiada suku-suku di wilayah Bengkulu (hal 61).

Kita juga bisa berwisata sambil mengenal budaya di Bengkulu. Di mana kita bisa datang pada tanggal 1-10 Muharram berdasarkan kalender Islam. Karena pada saat itu ada sebuah Festival Tabot. Yaitu upacara tradisional masyarakar Bengkulu untuk mengenang kematian Husein Ali bin Abi Thalin, cucu Nabi Muhammad dalam peperangan melawan pasukan Ubaidillah bin Zain di padang Karbala (sekarang Irak).

Begitupula ketika kita berwisata ke Lampung.  Selain bisa menikmati berbagai wisata menarik, seperti mengunjungi Meseum Lampung, Teluk Kiluan,  Taman Nasional Way Kambas dan lain sebagainya, kita juga bisa melihat Festival Krakatau. Yaitu salah satu pertunjukan kebudayaan andalan Provinsi Lampung yang dilakukan setiap tahun di bulan Juli – Agustus.  Festival ini menampilkan parade yang mengangkat kekayaan budaya dan tradisi yang dimiliki Lampung.  Ada karnaval, aktrasi seni tradisional, pameran dan berbagai lomba (hal 86).

Tidak kalah menarik adalah wisata di Cerebon. Sebagai pelabuhan yang aktif sejak lebih dari 400 tahun yang lalu, ciberon menyimpan banyak sejarah. Misalnya saja Keraton Kesepuhan.  Keraton ini dibangun  pada 1452 oleh Pangeran Cakra Buana dan diperluas pada  1929 oleh Sunan Gunung Jati. Di sebelah kiri ada Museum Kereta Singa Barong, dan di sebelah kanan halaman teradapat Museum Benda Pusaka, yang memamerkan berbagai koleksi yang berkaitan dengan keraton (hal 99-100).

Jika kita tertarik berwisata ke Sambas, maka kita perlu berhat-hati. Perlu kita ketahui, Sambas masih merupakan daerah yang dikeramatkan. Oleh sebab itu, setiap pengunjung atau wisatawan sangat diharapkan menjaga bicaranya (jangan menghina, menyumpah dan sebagainya) dan menjaga perilaku, khususnya di objek-objek wisata yang dinilai suci dan sakral (hal 166). Misalnya ketika berkunjung ke Masjis Jami Keraton Sambas, Kareraton Sambas Alwatzikhoebillah dan banyak lagi.

Selain yang sudah dipaparkan di atas, tentu saja masih banyak tempat wisata lain, yang bisa kita kunjungi. Dari masing-masing tempat selain kita bisa menikmati keindahan bentang alam, bisa mengenal budaya dan sejarah, ternyata kita bisa mengenal berbagai kuliner nusantara juga berbagai wisata religi yang menarik.

Srobyong, 26 Juli 2018 

Thursday, 5 July 2018

[Resensi] Pentingnya Melakukan Inovasi Bisnis

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 24 Juni 2018



Judul               :  Inno Fiction
Penulis             : Alfred Boediman & Gloria Morgen
Penerbit           : Elex Media Komputindo
Cetakan           : Pertama, 2018
Tebal               : 274 halaman
ISBN               : 978-602-04-5032-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Inovasi merupakan sesuatu yang diperlukan untuk mengetahui kesempatan yang baik dan merancang produk pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan.  Apalagi dalam dunia bisnis yang penuh dengan tantangan dan persaingan. Jika kita ingin memiliki produk yang tetap bertahan dan disukai konsumen, maka kita tidak bisa berada pada titik yang sama, tanpa adanya perubahan. Kita perlu melakukan inovasi agar produk-produk yang kita miliki, tetap disukai dan laris di pasaran.

Melalui buku ini, kita akan diajarkan tentang pentingnya inovasi. Dengan inovasi kita akan menemukan terobosan baru, yang selain berguna bagi diri sendiri juga akan berguna bagi masyarakat luas. “Cobalah untuk memulai perubahan dengan mengembangkan kebudayaan yang ada hingga menjadi inovasi.” (hal 146).

Perlu kita catat ketika kita melakukan inovasi, berarti kita harus pandai dalam mengambil kesempatan dan memanfaatkannya dengan baik. Kita harus mengetahui tren yang ada dan mengkolaborasikan keadaan pasar dengan kondisi masa depan.  Kita harus terus mengumpulkan ide-ide menarik untuk dijadikan bahan diskusi, kemudian kita akan memilih ide yang paling cocok dan matang untuk diolah.

Tapi perlu kita catat, untuk memgerjakan inovasi, kita tidak hanya membutuhkan ide cemerlang, tapi juga kemampuan dalam mengimplementasikan ide tersebut. Ide tanpa eksekusi bukanlah apa-apa (hal 212).  Karena inovasi memerlukan proses yang konsisten dan tuntutan tingkat kompetensi tertentu, sama seperti proses-proses lainnya.

Buku Inno-Fiction, ini memberikan gambaran luas tentang inovasi bisnis yang menarik dan memotivasi. Tidak ketinggalan dalam buku ini dipaparkan juga masalah inovasi sosial dan teknologi.  Buku ini patut dibaca untuk semua kalangan. Agar ke depannya kita selalu berani berinovasi dan tidak takut merasa gagal.

Dari buku ini pula kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yang berani mencoba dan tidak mudah menyerah. Berbagai motivasi yang penulis tulis, sungguh merasuk dan membawa aura positif bagi saya selalu pembaca.

Srobyong, 17 Mei 2018

Tuesday, 22 May 2018

[Resensi] Petualangan Memburu Puspa Karsa

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 6 Mei 2018 


Judul               : Aroma Karsa
Penulis             : Dee Lestari
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : xiv + 710 halaman
ISBN               : 978-602-291-463-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Siapa yang tidak tertarik ketika mendapat informasi tentang kehebatan sebuah bunga misterius—puspa karsa—yang konon  tiap pemunculannya  bisa mengubah tata Nusantara?  Semua bermula ketika Janirah meninggalkan sebuah peti yang berisi lontar kuno. Di mana lontar itu menunjukkan fakta menarik tentang puspa karsa, yang awalnya Raras pikir hanya ada dalam dongeng, ternyata bunga itu benar-benar ada dan berada di suatu tempat yang tersembunyi.

Menariknya lagi bunga ini memiliki kegunaaan yang luar biasa. “Prosi pertama akan mengubah nasibmu. Porsi kedua akan mengubah nasib keturunanmu. Porsi ketiga akan mengubah dunia sebagaimana keinginanmu.” (hal 9).  Hal itulah yang mendorong Raras ingin membuktikan kebenaran cerita Janirah. Dia ingin memburu dan menemukan Puspa Karsa.

Maka Raras pun membuat sebuah ekspedisi yang didanai Kemara—pabrik milik Janirah yang diakuisisi olehnya. Dan dengan  tangan dinginnya itu dia berhasil membuat Kemara—pabrik yang didirikan Jarinah yang sempat diambang pailit, akibat dikelola oleh Romo—ayah Raras kembali bangkit dan semakin sukses. Ekspedisi tersebut diketuai Profesor Sudjatmiko. Sayangnya pada ekspedisi ini dia harus menelan kegagalan.  Meski begitu, Raras bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia kembali menyusun rencana baru agar bisa  menemukan puspa karsa. Apalagi dalam ekspedisi pertama, dia menemukan sebuah jalan yang mungkin bisa dia gunakan untuk menemukan puspa karsa.

Dan perjalanannya dalam upaya menemukan puspa karsa semakin lengkap ketika dia  tanpa sengaja mengenal Jati Wesi. Pria sederhana yang tinggal di TPA Bantar Gebang. Dia tidak menyangka kalau Jati memiliki indra penciuman yang sangat tajam, melebihi kemampuan putrinya—Tanaya Suma.  Bahkan karena kemampuannya itu Jati dijuluki si Hidung Tikus.

Kehidupan Jati yang awalnya penuh perjuangan, karena harus bekerja dari satu tempat ke tempat yang lain, pun berubah total ketika dia dibawa Raras ke kediamannya dan bahkan disekolahkan ke Paris. Meski dia harus membayar kemudahan itu dengan kebencian dari Tanaya Suma, yang merasa tersaing karena keahliannya dalam meracik parfum juga penciumannya yang tajam.

Namun semakin lama tinggal dengan keluarga Raras,  Jati mulai menemukan misteri tentang siapa dirinya sendiri dan masa lalu yang tidak pernah dia ketahui.  Dan semua terungkap ketika dia ikut andil dalam ekspedisi perburuan puspa karsa. Ekspedisi yang sejak awal banyak ditentang, karena memang menyimpan bahaya—mengingat dalam ekspedisi ini, para anggotanya tidak hanya berhubungan dengan manusia tapi  harus menghadapi makhluk dari lingkung lain yang tidak terlihat dan berbeda.

Namun karena keegoisan Raras, tidak ada  siapa pun yang bisa membantah.  Dan di sana-lah Jati menemkukan sebuah kenyataan yang cukup mengejutkan dan tidak pernah dia sangka sebelumnya.
Dee Lestari hadir dengan kisah yang unik—karena berani mengambil tema aroma, yang saya pikir jarang diangkat penulis. Belum lagi novel semi fantasi ini  dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan gurih. Sehingga kisah ini sukses membuat saya  terpana dan terhibur. Menegangkan dan membuat penasaran, sejak awal saya  membacanya. Rasanya saya tidak ingin berhenti sebelum mencapai finish

Dipadukan dengan masalah cinta, yang menjadi bumbu menarik dalam sebuah kisah, novel ini semakin menarik untuk diikuti. Saya suka dengan kejutan-kejutan yang ditawarkan Dee dalam mengungkap kelebat misteri yang sejak awal dia bangun.  Mengejutkan dan tidak terduga.  

Kisah ini seperti membuka kenyataan tentang sikap manusia yang selalu rakus dan ingin menguasai hal-hal yang menguntungkan. Manusia kerap egois, tidak memedulikan makhluk lain, asal dirinya bisa sukses.  Dari kisah ini juga saya belajar untuk  menjadi pribadi yang lebih menghargai pendapat orang lain.  Selain itu dari kisah ini kita diingatkan tentang bahaya sikap tamak dan egois—yang pada akhirnya akan membawa kerugian pada diri sendiri.

Srobyong, 21 April 2018

Monday, 26 March 2018

[Resensi] Langkah Perjuangan Berantas Korupsi

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 18 Maret 2018


Judul               : Novel Baswedan : Biarlah Malaikat yang Menjaga Saya
Penulis             : Zaenuddin HM
Penerbit           : Mizan
Cetakan           : Pertama, November 2017
Tebal               : 272 halaman
ISBN               : 978-602-441-046-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

“Korupsi itu bukanlah masalah sepele. Korupsi itu jauh lebih parah daripada perampokan.” (hal 89).

Sebagaimana kita ketahui korupsi masih menjadi masalah yang cukup rumit di negeri ini. Banyak kasus korupsi yang tidak ditindak dengan benar, bahkan berkahir dibiarkan tanpa adanya hukuman. Karena pada kenyataannya korupsi lebih banyak dilakukan para pemilik kuasa—sehingga sering kali para pelaku korup melakukan lobi hukum karena adanya uang dan kekuasaan.  Inilah yang sangat disayangkan mengingat korupsi pada dasarnya hanya akan merugikan negeri sendiri dan rakyat.

Masalah itulah yang disoroti oleh Novel Baswedan. Sebagai penyidik KPK, dia berusaha keras untuk memberantas korupsi di negeri ini, agar tidak lagi merampas hak-hak warga juga hak negara untuk maju. Buku ini dengan paparan yang menarik dan apa adanya, mengisahkan sepak terjang Novel Baswedan dalam upanya memberantas praktik korupsi di negeri ini.  Menurutnya memberantas korupsi adalah bagian dari amal baik, bahkan ibadah, sehingga dia tidak pernah takut memerangi korupsi, menangkapi koruptor (hal 91).

Hal itu ditunjukkan dengan keberhasilan Novel dalam membongkar kasus-kasus besar korupsi yang ada di negeri ini. Seperti kasus korupsi yang terjadi pada proyek penyesuaian infrastruktur daerah. Di mana atas kasus tersebut, Politikus PAN, Wa Ode Nurhayati, divonis 6  tahun dan denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan (hal 97).  Ada pula kasus E-KTp, korupsi Wisma Atlet SEA game Palembang.  Selain kasus itu tentu saja masih banyak kasus lain yang telah berhasil Novel beberkan.

Namun di sanalah masalahnya, keberhasilan Novel ini menjadi ancaman bagi dirinya sendiri. Keberaniannya dalam membongkar berbagai kasus besar perihal tindak korupsi, membuat dia memiliki musuh banyak dan berusaha menjatuhkannya. Dia kerap mendapat teror—dimulai percobaan tabrakan motor, hingga disiram air keras. Akan tetapi teror itu sama sekali tidak berhasil menjatuhkan mental dan semangat Novel. Bahkan sebaliknya, dengan integritas tinggi, Novel semakin menunjukkan cakarnya demi memerangi korupsi.

Novel selalu berprinsip jika apa yang dilakukannya memang benar, maka dia tidak perlu takut. Dia juga sosok yang tidak pernah pandang bulu jika itu berhubungan dengan tegaknya hukum. Dia tidak mudah dirayu bahkan oleh orangtuanya sendiri.  

Sebuah buku yang menarik dan memberi pencerahan. Melalui sosok Novel Baswedan kita ditunjukkan tentang kepedulian terhadap masalah korupsi dan bagaimana usaha kita untuk memberantasnya sampai akar. Kita diingatkan pentingnya menegakkan hukum yang adil dan tidak mudah menyerah, selalu berserah diri pada Allah.

Srobyong, 3 Februari 2018


Friday, 2 February 2018

[Resensi] Bayang-bayang Prasangka dan Kepercayaan

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 21 Januari 2018 


Judul               : Kejujuran Seorang Maling
Penulis             : Fyodor Dostoyevsky
Penerjemah      : Noa Dhegaska
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : 232 halaman
ISBN               : 978-602-6651-43-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Naskah asli sebelum ada editing dari redaksi Tribun  Jateng 

Kumpulan cerpen ini ditulis oleh Fyodor Dostoyevsky—merupakan penulis asal Rusia yang cukup berpengaruh di masanya. Dalam setiap karyanya dia memiliki ciri khas mengeksplore aspek-aspek psikologi dengan tokoh cerita yang cenderung berasal dari kelas menengah-bawah.  Selain membahas aspek psikologis, penulis juga kerap menggarap cerpennya dengan pembahasan yang pendalam perihal politik, sosial juga spiritual.  Tidak ketinggalan dalam setiap cerita yang diangkat penulis memiliki kecenderungan bermain misteri. Terdiri dari enam cerita,  buku ini cukup menarik dan membuat kita penasarannya. 

Sebut saja cerpen berjudul “Sebuah Kisah dalam Sembilan Surat” ketika membaca cerita ini kita harus sabar mengurai percakapan  antara Pyotr Ivanitch dengan Ivan Pertovitch melalui surat. Mengungkap apa yang  mereka perdebatkan dan kenapa mereka harus saling  mengirim surat.  Tapi yang lebih menarik adalah mengungkap siapa sebenarnya yang melakukan kebohongan dan kelicikan dalam kisah mereka.

Mengingat sebenarnya mereka dulunya adalah sepasang sahabat. Namun karena sebuah masalah, mereka melaukan perbebatan panjang melalui surat yang jujur saya bulang cukup pelik dan membingungkan.

“Aku tak tahu  sampai selama ini apa yang menahanku untuk menyatakan kebenarannya. Sekarang dengan gamblang kubilang bahwa sepertinya kau menelan ludahmu sendiri atas kesepatakan-kesepakatan kita mengenai perjanjian itu.” (hal 15).

Ada pula kisah berjudul “Istri Pria lain atau Sesosok Suami di Bawah Ranjang”  sebuah kisah yang cukup pelik tapi menarik untuk kita cari kebenarannya. Di mana suatu hari ada seorang pemuda sederhana bertemu dengan pria bermantel bulu rakun—di sini memang tidak dijelaskan secara gamblang nama-nama pria tersebut—si pria bermantel bulu rakun sedang mencari seorang wanita yang konon adalah istri dari temannya. Sedang si pemuda ini tengah menunggu pacarnya.  Yang menjadi pertanyaan apakah mungkin mereka sedang menunggu wanita yang sama?  Mungkinkah ini tentang sebuah perselingkuhan?

“Maafkan, maksudku, apakah kau sempat melihat seorang wanita dengan mantel bulu rubah, dengan tudung beludru gelap dan kerudung hitam?” (hal 35).

Tidak kalah menarik adalah cerpen “Kejujuran Seorang Maling”. Mendengar judul itu pasti kita akan bertanya-tanya. Bernakah seorang maling bisa jujur? Mengingat kebiasaan para maling adalah melakukan tipudaya dan tidak ingin tertangkap basah. Di sinilah menariknya.  Dengan bahasa yang tidak rumit, penulis sukses memebuat kita terperangah dengan sebuah kisah sederhana ini.  Kisah tentang Astavy Ivanovitch dengan pemilik rumah kosnya juga dengan teman lamanya Emelyan Ilyitch.

Dari kisah-kisah yang termatub di sini, penulis mengkritisi tentang rendahnya tingkat kepercayaan yang terbangun antara individu,  betapa manusia kerap kali diperbudak kerakusan akan uang, sehingga berani melakukan tindakan licik dan jahat, lalu banyak manusia yang gila kehormatan dan jabatan. Di sisi lain dari buku ini kita bisa mengambil pembelajaran bahwa kita harus menjauhi prasangka, cemburu buta dan dendam, kita juga harus membiasakan bersikap jujur. Karena ketidakjujuran hanya akan membuat kita dihantui rasa bersalah sampai kapan pun. 

Srobyong, 30 Desember 2017