Showing posts with label Fiksi Mini. Show all posts
Showing posts with label Fiksi Mini. Show all posts

Friday, 6 March 2015

[Fiksi Mini] Kau yang Ditunggu

Kau yang Ditunggu

Kazuhana El Ratna Mida

Kau nampak cantik. Terlihat sangat anggun, membuat siapa pun berdersir, ketika bersitatap. Kau yang terhebat, dalam sejekap mata mambu membuat orang jatuh cinta. Itulah kau yang selalu disuka dan dipuja. Selalu ditunggu kapanpun kau datang menampakkan wajahmu yang sungguh jelita.

“Lihatlah, dia sangat cantik sekali.” Semua orang selalu mengucapkan itu ketika melihatmu.

Mereka terpana. Menatapmu dengan sumringah.

Sedangkan dirimu, hanya diam sambil memerhatikan saja. Kau layaknya ratu yang dikirim dari surga untuk membahagiakan rakyat jelata. Membuat mereka tersenyum dengan kehadiranmu.

Seperti hari ini. Semua orang datang melihatmu. Meski berjuta kali pernah bertemu, kau tetap disukai. Mereka tak bosan menanti. Kau yang selalu ditunggu. Melihat kau merekah. Melihatmu bermetamorfosis dengan indah. Ketika kau merekah semua orang akan bahagia. Entah kenapa, kau begitu istimewa.

Hingga mereka rela menunggu demi melihatmu—keindahan sakura yang bersemi di pulau Jeju.

“Kkoch areumdawoyo.”[1]


[1]Bunga-bunga itu sangat indah.

Srobyong,2/2/15


 

[Fiksi Mini] Janjiku Pada-Mu


By :  Kazuhana El Ratna Mida

Mengenalmu adalah anugerah yang terindah. Darimu aku belajar banyak hal yang tak terkira. Sungguh pertemuan itu seperti undian besar. Mataku kembali terbuka. Kau membimbingku menuju surga.

“Terima kasih,” ucapku padamu.

Sungguh entah bagaimana aku bisa membalas semua jasa yang telah kau beri.

Kutatap kau penuh kasih, meraihmu segera dan kupeluk dengan mesra.

“Aku janji tak akan pernah meninggalkanmu selamanya.”

“Kau-lah kekasiku--Al-Quran--buatku tersadar dari masa-masa kelam.”


Sby, 17/1/15 edit 4/2/15

Saturday, 10 January 2015

[Fiksi Mini] Sumur Tua


Fiksi mini

Sumur Tua

Ratna Hana

Aku hanya bisa menganga melihat sosok yang kini berada tepat dihadapanku. Dia menatap dengan mata menyala, membuatku mati rasa.

Salahku juga kenapa, tak mendengarkan Bian yang sudah mengingatkan agar tak ke sumur tua di belakang rumah.

“Bian, tolong aku!” aku berteriak, tapi aneh tak ada suara yang keluar dari kerongkongan.

Glek!

Aku menelan ludah, kakiku benar-benar tak mau diajak kerjasama.

Keringat dingin pun mulai membasahi kaos yang kukenakan.

Ya Allah tolong aku. Doaku dalam hati, berharap apa yang aku lihat ini hanya imajinasi.

Namun, yang terjadi sosok itu makin mendekat. Sadako menyeringai buatku tak bisa bernapas.

Sby,7.1.15