Showing posts with label Diva Press. Show all posts
Showing posts with label Diva Press. Show all posts

Monday, 24 December 2018

[Review Buku] Menaklukkan Masalah dan Kesedihan dengan Sikap Positif




Judul               : Hapus Sedihmu, Nikmati Hidupmu
Penulis             : Dwi Suwiknyo, dkk
Penerbit           : Noktah, Diva Press
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : 348 halaman
ISBN               : 978-602-51185-9-3

Setiap orang sudah pasti memiliki masalah. Karena masalah adalah bumbu dalam  kehidupan.  Kita tidak mungkin selalu dalam keadaan suka atau dalam keadaan sedih terus. Suka dan duka adalah pasangan yang saling mengiringi. Semua memiliki porsi masing-masing. Pepatah mengatakan, “Di balik kesedihan pasti ada kebahagian.”  Oleh karena itu, ketika kita mendapat masalah, hadapilah dengan  sikap positif dan pikiran terbuka. Karena dengan begitu, hati kita akan lebih lapang serta tegar.

Buku yang diambil dari kisah nyata para penulis ini, dengan paparan yang renyah dan lugas, mengajak kita untuk melihat sebuah masalah dari sisi pandang yang lain. Bahwa sebuah masalah bukanlah sesuatu yang harus kita takuti, hingga membuat kita selalu sedih. Namun sebaliknya, hadapi masalah dengan sikap positif, dan mengambil pelajaran untuk mendewasakan diri.

Sebut saja kisah yang dipaparkan Abi Ziya “Bayi, Ujian dan Keikhlasan”. Hal yang paling diharapkan dari sebuah pernikahan adalah kehadiran bayi. Begitu pula yang diharapkan Abi Ziya. Baginya menikah bukanlah akhir dari segalanya, tapi sebuah gerbang baru yang harus dia hadapi apa pun yang ada di dalamnya. Sebulan dua bulan, kabar tentang kehamilan istrinya belum juga dia dengar.

Namun pada bulan ke tiga, akhirnya kabar itu datang juga. Abi tentu saja sangat senang dan bersemangat dengan kabar tersebut. Dia bahkan sudah menyiapkan kamar mungil untuk bayinya nanti. Dia juga rutin membawa istrinya ke dokter kandungan untuk konsultasi kesehatan.  Semua awalnya terlihat baik-baik saja. Tapi suatu hari dokter memberitahukan, bahwa istrinya harus melakukan persalinan di rumah sakit. Dokter menjelaskan bahwa ada resiko kehamilan karena istrinya mengidap asma (hal 15).

Mendengar kabar itu Abi merasa sangat sedih. Dalam bayangan Abi, ketika istrinya harus melahirkan di rumah, nanti dia tidak akan mendapat pelayanan dengan cepat dan bahkan dibiarkan saja oleh para perawat yang terkenal ketus-ketus.  Mengingat banyak gosip negatif yang sering dia dengar. Namun yang lebih membuat Abi merasa sedih adalah ketika akhirnya bayi yang dia tunggu kelahirannya, lahir dalam keadaan yang memprihatikan dan harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Bahkan sempat terdengar persentase kehidupannya sangat sedikit.

Kalut dan sedih itulah yang dirasakan Abi. Namun dia sadar sedih terus menerus bukanlah cara penyelesaian yang baik. Dia harus tegar demi dirinya, anak dan istrinya. Berbagai cara pun dia lakukan,  demi kesehatannya anaknya. Hingga akhirnya usahanya berhasil, anaknya  bisa sembuh dan sehat.

Ada pula kisah yang dipaparkan Afiana Rohmani “ Peluh dan  Air Mata  di FK” cita-cita Afi adalah menjadi penulis dan masuk jurusan sastra atau bahasa.  Namun orangtuanya menyarankannya untuk menjadi seorang dokter. Akhirnya demi kebahagiaan orangtua, Afi memilih masuk kedokteran (hal 31-32).

Di sinilah berbagai masalah mulai menyapa Afi.  Dia menyadari dirinya bukanlah siswa yang sangat pintar. Oleh karena itu, Afi belajar mati-matian agar bisa mengikuti arus pendidikan kedokteran, yang umumnya memang didominasi anak-anak cerdas. Sayangnya hal itu tidak mudah. Afi sering tertinggal dan bahkan tidak bisa ikut praktikum, karena nilai  pre-test-nya jelek. 

Tidak hanya itu,  pada akhir semester dia harus menerima, bahwa nilainya sangat anjlok. Banyak mata kuliahnya yang mendapat nilai D bahkan E. Padahal dia sudah belajar dengan maksimal. Berbagai masalah yang sering hadir saat kuliah, kadang membuat Afi ingin berhenti. Namun mengingat harapan sang ibu, akhirnya Afi bertahan meski harus terseok-seok hingga berhasil lulus dan dia tetap bisa menekuni hobinya menulis.

Selain dua kisah tersebut, masih ada 13 kisah yang tidak kalah menarik dan menginspirasi.  Seperti kisah Menjemput Rezeki di Pulau Seberang, Ketika Salah Jadi Sumber Tawa,  Balada Perawan Tua dan banyak lagi. Masing-masing cerita memiliki keunikan tersendiri. Meski ada beberapa kesalahan, kisah ini tetap menarik dibaca.

Membaca buku ini, kita diingatkan tentang pentingnya rasa syukur, sabar dan ikhlas ketika mendapat masalah. Kita tidak boleh putus asa dan selalu berpikir positif saat menghadapi masalah. Selain itu melalui kisah ini kita diingatkan tentang pentingnya iman yang ternyata bisa menjadi benteng bagi diri kita. “Benteng Kejiwaaan  yang sesungguhnya  adalah iman. Keimanan kepada Allah  Yang Maha Memiliki.” (hal 51).

Srobyong, 18 Mei 2018

Thursday, 6 December 2018

[Resensi] Nilai Pembelajaran dari Cerita Mitos dan Legenda

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 2 Desember 2018 



Judul               : Di Surga, Kita Dilarang Bersedih
Penulis             : Umar Affiq
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 312 halaman
ISBN               : 978-602-5783-21-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mitos merupakan sebuah kisah tentang masa lalu yang berhubungan dengan kehidupan dewa serta kisah tentang pahlawan pada zaman dahulu. Di mana kisah tersebut memiliki hubungan erat dengan sebuah asal usul sebuah tempat dan biasanya bersifat gaib.  Legenda adalah cerita-cerita yang dipercayai penduduk di suatu tempat sebagai kisah nyata. Sedangkan mimpi adalah pengalaman dibawah sadar yang membuat kita bisa melihat, mendengarkan atau merasakan hal-hal  lain secara cepat dan singkat. 

Memadukan tiga unsur tersebut dalam sebuah cerita,  buku kumpulan cerpen ini cukup menarik untuk kita baca. Terdiri dari 28 cerita, kita akan diajak berpetualang dengan berbagai mitos, legenda serta mimpi-mimpi, yang mungkin sangat dekat dalam keseharian kita. Tidak hanya itu, melalui kisah-kisah ini kita juga bisa mengambil nilai-nilai pembelajaran yang bisa kita jadikan bahan renungan.

Sebut saja kisah berjudul “Orang-Orang Karang Maling”. Kisah ini menceritakan tentang sebuah desa, yang dihuni oleh para maling.  Dalam tradisi desa tersebut, mereka tidak mempercayai bahwa manusia tertua yang pernah ada di jawa adalah Meganthropus Palaejojavanicus.  Karena di pojok Desa Karang Maling terdapat kompleks pemakaman yang amat luas yang di tengah-tengahnya ada cungkup panjang yang mengayomi makan yang dipercaya sebagai orang Karang Maling pertama bernama Mada Maling (hal 13).

Cerita ini pun diteruskan dari satu generasi ke generasi lain. Anak-anak selalu diajarkan untuk tidak mudah percaya dengan berita-berita yang ada. Karena bisa jadi kisah itu adalah kisah bohongan. Hingga cerita ini sampai pada Kunthari Kampret yang memiliki pemikiran kritis.

Mengambil latar kisah tentang kedatangan Nabi Adam ke bumi, kisah ini cukup menggelitik.  Belum lagi pilihan ending yang ternyata sangat menjebak.  Melalui kisah ini kita diingatkan tentang pentingnya berpikir kritis dan haus akan pengetahuan baru (hal 11).

Ada pula kisah berjudul “Sungai Darah” yang menceritakan tentang kekagetan tokoh aku, ketika tiba-tiba dia melihat sebuah sungai berdarah. Di mana air dari sungai itu benar-benar anyir, asin dan amis. Di sana tokoh aku bertemu dengan seorang perempuan, yang mengungkapkan tentang alasan kenapa sungai itu bisa tercipta.

“Sungai ini akan terus mengalir selama lelaki itu dan orang-orang sepertinya terus mengorbankan orang-orang di sekitarnya demi menambah kekayaan. Lalu orang-orang  yang dikorbankan akan terlarung dari liang roh sampai ke sini, sedang raganya telah dikuburkan atau barangkali dikremasi  oleh keluarga yang ditinggalkan.” (hal 39-40).

Si tokoh aku itu pun antara percaya dan tidak percaya. Namun ketika sosok perempuan menyebut sebuah nama, tiba-tiba dia merasakan sensasi aneh yang tidak pernah dia duga.  Kali ini memadukan antara mimpi, desas-desus pesugihan dan mitos sungai merah dari mesir kuno—yang berhubungan dengan masa Nabi Musa, penulis menghadirkan kisah yang menarik. Meski bagian akhir cukup mudah ditebak, saya suka dengan pesan tersirat yang terdapat dalam kisah ini.

Melalui kisah ini kita diingatkan tentang betapa berbahaya sikap rakus dan tamak.  Karena sikap itu akan membuat  kita menjadi pribadi yang berani menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan dan tidak segan untuk mengorbankan nyawa orang lain.

Selain dua kisah tersebut, kisah lainnya pun tidak kalah seru dan memikat. Dari semua cerita yang ada, saya paling terkesan dengan cerita  Mayat Tergeletek di Tengah Jalan, Seekor Ular yang Menggigit Ekornya Sendiri dan Bocah Rebo Wekasan. Kisahnya sederhana tapi sangat menarik dan menggelitik.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang lugas dan mudah dipahami, buku ini menarik untuk dibaca. Hanya saja ada beberapa bagian cerita yang menurut saya kurang terasa hidup dan datar. Namun lepas dari kekurangan yang ada, penulis telah berhasil menghadirkan sebuah buku yang menghibur juga memberi banyak nilai pembelajaran. Di antaranya kita diingatkan untuk tidak saling mengunjing atau berbuat ghibah, jangan diperbudah hawa nafsu dan banyak lagi.

Srobyong, 20 September 2018

Monday, 26 November 2018

[Resensi] Kritik Sosial Tentang Pemimpin Diktator

Dimuat di Kabar Madura, Senin 22 Oktober 2018


Judul               : Negeri yang Dilanda Huru-Hara
Penulis             : Ken Hanggara
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 260 halaman
ISBN               : 978-602-6651
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Sebagai pemimpin negara kita harus berusaha menyejahterakan kehidupan rakyat. Kita tidak boleh bertindak sewenang-wenang dan memanfaatkan jabatan yang kita miliki demi kebutuhan diri sendiri. Apalagi sampai menyembunyikan sejarah demi menutupi kejahatan yang telah dilakukan para petinggi.   Mengambil tema politik, novel bergenre eksperimental dan semi fantasi ini, sangat menarik untuk dibaca.  Dengan gaya bercerita yang mudah dipahami, penulis mampu menghadirkan sebuah kisah berlatar kenegaraan dengan apik.

Mugo I adalah pemimpin pertama di Negeri Fiktif Belaka. Dia memiliki peran besar dalam mencapai kemerdekaan negeri itu dari tanah penjajah. Dia memimpin dengan cukup adil dan bijaksana.  Namun ketika tambuk kepemimpinan beralih pada Mugo II, aturan-aturan sedikit diubah. Dia mengerjakan tugasnya sesuka hati seakan-akan semua yang dikendalikannya hanya hiburan (hal 29). Selain itu dalam penempatan jabatan, Mugo II sengaja mengisi sebagian besar kursi pejabat istana dengan orang yang berdarah campuran, karena dirinya juga berdarah campuran.  Mugo II hanya suka menghabiskan berbagai makanan dan segala hiburan, tanpa memedulikan kesejahteraan rakyat.

Kemudian ketika kepempimpinan berganti pada Mugo III Negara Fiktif Belaka semakin kacau balau. Apalagi sikap Mugo III ini tidak selembut ayahnya, Mugo II dan memiliki ambisi-ambisi dan sifat yang tidak stabil. Sebagaimana ayahnya dia juga menyukai sastra, dengan plot-plot rekayasa dalam berbagai buku berlatar sejarah Negeri Fiktif Belaka. Dia akan marah dan tidak segan membunuh siapa saja yang berani menulis atau membicarakan  sejarah negerinya. Karena dia khawatir kekejaman yang pernah dia lakukan bisa terbongkar.

Keadaan itulah, yang  membut Popo Gusnaldi ingin menulis sebuah novel dengan latar belakang sejarah negaranya sendiri.  Dia ingin mengungkapkan sebuah kebenaran yang telah dikubur rapat oleh para petinggi negerinya.  Yaitu tentang pembantaian masal  di kota Kalodora, hingga menewaskan banyak penduduk.  Sayangnya perjuangan Popo tidaklah mudah. Apalagi saat ini, agar bisa menerbitkan novel, seorang penulis harus berhubungan langsung dengan kerajaan.

Di mana penerbitan buku milik raja memiliki aturan, bahwa isi naskah yang ingin diterbitkan haruslah bermanfaat bagi siapa pun yang akan membacanya. Akan ada sanski-sanksi yang diberlakukan bagi para pelanggar (hal 31-32).  Namun Popo Gusnaldi tidak pernah menyerah. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, dia menyelidiki jejak-jejak sejarah sambil terus menulis buku.   Menurutnya, “Memelihara sejarah sendiri sama halnya dengan memelihara peradaban yang akan membuat kehidupan rakyat di Negeri Fiktif Belaka semakin baik.” (hal 144).

Dia juga meyakini bahwa keberadaan sebuah buku akan memiliki pengaruh besar dalam sebuah perjuangan. “Tidak ada pedang  atau tombak yang lebih tajam ketimbang hasil pekerjaan dalam menulis, maka angkatlah senjata lewat pena dan guncanglah dunia dengan senjata itu sampai mati.” (hal 145).

Maka ketika dia sudah menyelesaikan tulisannya, Popo Gusnaldi segera pergi ke istana untuk menyerahkan tulisannya. Menurut ayahnya, di sana dia akan dibantu sahabat ayanya, Hady Hamza untuk menerbitkan bukunya, tanpa adanya pencekalan. Tapi dia salah. Begitu dia menyerahkan tulisannya, Popo Gusnaldi langsung diringkus dan ditangkap. Dia mendapat berbagai siksaan yang menyakitkan.

Akan tepati siksaan itu tidak menyurutkan  keinginan Popo Gusnaldi untuk mengungkap kekejaman Mugo III. Dia ingin warga bisa terlepas dari kepemimpinan yang diktator dan kejam. Bersama Ben Asmara—paman Hady Hamza dan Guru Blewah, mereka saling bahu membahu untuk menjatuhkan Mugo III. Di sisi lain mereka juga menyelidiki apa yang sebenarnya telah terjadi pada sosok Hady Hamza yang dulu dikenal sebagai sosok ambisius ingin meruntuhkan kepemimpinan Mugo II.  Novel ini sangat menarik dan menegangkan. Penulis sukses membuat pembaca terkejut dengan akhir cerita yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Melalui novel ini kita bisa mengambil pembelajaran tentang pentingnya menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Jangan menjadi pemimpin zalim dan memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki demi kepentingan pribadi. Serta kita diajak untuk menjadi pribadi yang mencintai tanah air dan berani berjuang demi kebenaran.

Selain itu dalam buku ini ada pesan-pesan tersirat tentang keagamaan. Sebagaimana tentang kebiasaan berbohong.  “Kebohongan tidak akan membawamu ke surga. Kebohongan adalah jalan mudah untuk siapa pun menjadi lebih dekat dengan neraka.” (hal 111). Tidak ketinggalan buku ini juga membuka mata kita tentang pentingnya bergelut dengan dunia literasi. 

Srobyong, 21 Juli 2018

Monday, 6 August 2018

[Resensi] Manfaat Gemar Menolong Orang Lain

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 22 Juli 2018


Judul               : Tolonglah Orang Lain, Maka Allah Akan Menolongmu
Penulis             : Dwi Suwiknyo, dkk
Penerbit           : Noktah, Diva Press
 Cetakan          : Pertama,  April 2018
Tebal               : 324 halaman
ISBN               : 978-602-5781-00-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Allah menganjurkan kita selalu gemar membantu dan menolong orang lain. Mungkin kita bertanya-tanya, kenapa kita harus  membantu atau menolong orang lain? Apa manfaat yang akan kita dapat dari sikap tersebut? Buku ini dengan bahasa yang mudah dicerna dan tidak terkesan menggurui, akan mengajak kita memahami tentang pentingnya menolong dan atau membantu orang lain. Bahwa Allah sudah berjanji bahwa perbuatan baik akan dibalas kebaikan pula. Artinya ketika kita mau menolong orang lain, maka Allah pun tidak segan untuk menolong kita. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada surat Ar-Rahman ayat 60.  Tapi tetap perlu kita catat, dalam berbuat baik atau membantu dan menolong orang lain,  kita harus melakukannya dengan ikhlas karena Allah.

Imam Muslim juga menjaskan, bahwa siapa saja yang melapangkan satu kesusahan di dunia, Allah akan melapangkan dari salah satu kesusahan di akhirat. Dan barang siapa meringankan penderitaan seseorang, Allah akan meringankan penderitaaannya di dunia dan akhirat.Allah akan menolong seorang hamba yang mau menolong saudaranya (hal 75). Dan Allah pun sudah menjelaskan bahwa sedikit bantuan, ternyata bisa melipatgandakan pahala yang kita dapat. Maka tidakkan kita ingin rahmat dan berkah dari Allah dengan sikap gemar menolong?

Buku ini sendiri merupakan kisah nyata dari orang-orang yang sudah mempraktikkan tentang keutamaan membantu dan menolong orang lain. Mereka menanam kebaikan yang tidak kentara, namun di balas Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Misalnya saja kisah yang dituturkan Annisa Pratiwi “Balasan Indah Pada Waktunya” kisah ini menceritakan tentang Annisa yang  kadang suka membantu Nenek Ipon, meski hanya bantuan yang sangat sederhana.  Dia kerap memberikan sedikit rezeki pada Nenek Ipon dengan memberi makan atau memberi lauk pauk. Ketika Nenek Ipon  terkena stroke, Annisa kerap mengunjungi dan memberikan sedikit uang untuk membeli obat (hal 34).  Sungguh kala itu Annisa sama sekali tidak mengharap imbalan dari kebaikannya itu.

Suatu hari Annisa mengalami masalah cukup pelik dengan keuangannya. Dia sungguh binggung bagaimana untuk mengatasinya. Namun siapa sangka, Allah memudah jalannya, lewat sahabatnya.  Seketika itu Annisa teringat dengan apa yang diucapkan Nenek Ipon, “Ibu mendoakan,  mudah-mudahan Allah  selalu menolong kamu saat kamu kesusahan, selalu ada saja yang menolong.” (hal 40).

Ada pula kisah yang dialami Isti Syarifah berjudul “Perempuan dari Masa Lalu  dan Receipt Kosong” Kala itu Isti yang tengah bekerja TKW Hongkong. Di sana dia bertemu teman-teman seperjuangan dan sepenanggungan. Hal itulah yang membuat Isti tidak bisa menolak, ketika dua temannya dalam waktu yang berbeda, minta tolong untuk diberi pinjaman uang.  Isti ikhlas dan percaya, bahwa dua sahabatanya tidak akan pernah lari dari tanggung jawab (hal 55).

Namun dugaan Isti salah. Ketika waktu jatuh tempo pengemabalian uang, kedua sahabatnya tidak pernah muncul. Sedang saat itu, Isti sendiri sedang butuh uang untuk pengobatan kakeknya. Marah dan kecewa pun sempat menerpa Isti. Akan tetapi janji Allah itu pasti, tiba-tiba salah satu temannya yang pernah menghilang dan tidak berkabar, mendadak muncul, mengembalikan uang yang pernah dipinjam dari Isti (hal 73).
\
Selain dua  kisah tersebut masih ada 13 kisah lainnya yang tidak kalah menarik dan sangat inspiratif.  Di sini kita disadarkan bahwa, kebaikan meski hanya berupa hal kecil, pasti dicatat oleh  Allah. Dan  kadang,  meski bukan dari orangnya langsung yang membelas, Allah memiliki cara untuk membalas kebaikan itu. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, dijelaskan, “Sesungguhnya Allah  akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya.” (hal 96).

Srobyong, 25 Mei 2018 

Saturday, 7 July 2018

[Resensi] Cinta, Impian dan Bakti pada Orangtua

Dimuat di Kabar Madura, Selasa 26 Juni 2018


Judul               : Kami Yang Tersesat pada Seribu Pulau
Penulis             : Andaru Intan
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Mei 2018
Tebal               : 184 halaman
ISBN               : 978-602-5783-09-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Cinta bisa tumbuh di mana saja dan kapan saja. Karena cinta memang selalu banyak kejutan yang tidak pernah terduga. Namun bagaimana ketika cinta itu  membuat   kita  harus memilih? Tetap mempertahankan cinta, atau memilih mengerjar mimpi dan bakti pada orangtua?

Berbeda dari novel sebelumnya, “33 Senja di Halmahera” yang mengkat isu adat, budaya, dan agama, kali ini Andaru Intan kembali menyapa dengan novel apik yang membahas tentang masalah keluarga. Uniknya jika kebanyakan penulis lebih dominan memilih membahas masalah dengan ibu, maka tidak dengan penulis yang juga merupakan seorang dokter ini. Dia memilih membahas hubungan antara seorang anak perempuan dan ayah, yang kemudian dipadukan dengan masalah cinta juga sebuah mimpi.

Tia terlahir sebagai anak piatu. Ibunya sudah meninggal ketika melahirkan dirinya. Dengan alasan itu, dia kemudian dirawat oleh nenek dari pihak ibu. Meski diberi limpahan kasih sayang oleh neneknya,  namun Tia merasa bukan menjadi dirinya sendiri.  Karena neneknya hanya melihat sosoknya sebagai  memori dari putrinya yang sudah meninggal. Hal itulah yang membuat Tia merasa sedih, karena tidak bisa bebas.

Lalu suatu hari, ayahnya datang memberi tawaran untuk tinggal bersama. Bagi Tia itu adalah kabar yang menyenangkan. Dia akhirnya bisa hidup dengan ayah yang selama ini dia rindukan. Meski dia tidak tahu bagaimana perangai sang ayah. Setidaknya dengan keluar dari rumah nenek, dia bisa menjadi diri sendiri. Namun ternyata tinggal bersama ayahnya tidak seindah yang dia bayangnya. Dia merasa ada sebuah jarak tak kasat mata yang membentengi mereka.

Meski begitu, Tia tetaplah seorang anak yang memiliki impain sederhana. Dia ingin membahagiaan ayahnya yang sudah bekerja keras demi dirinya. Oleh karena itu dia belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa masuk ke sekolah favorit. Namun siapa sangka tamu bernama cinta itu merusak segalanya. Bahkan hingga membuat Tia hampir melakukan kesalahan yang fatal (hal 32).

Setelah kegagalannya  masuk perguruan tinggi, menyebarangi pulau Jawa, menjadi pilihan Tia. Untuk melupakan segala kesedihan hatinya dan persiapan tahun depan untuk ikut seleksi perguruan tinggi, Tia diajak ayahnya untuk tinggal bersama di Ternate.  Di sinilah sebuah kisah terduga itu dimulai. Pertemuan tidak sengaja dengan Alang, membuat hidup Tia berubah. Di sisi lain, di sana dia juga harus menerima kenyataan bahwa pelan-pelan ayahnya diserang dimensia (hal 102).

Pada titik itu, Tia harus mengambil pilihan. Apakah dia tetap berada di Ternate dan melanjutkan hubungannya dengan Alang, atau kembali ke Surabaya untuk perawatan ayahnya dan persiapan masuk perguruan tinggi.

Kisahnya sederhana dan tidak terlalu rumit. Gaya bahasa penulis juga renyah dan lugas, membuat kita nyaman saat membaca. Membaca novel ini kita akan diajak menjelajahi empat tempat. Dari Yogyakarta, Surabaya, Papua hingga Ternate. Memang tidak semua dieksplore secara gamblang. Hanya Ternate yang kemudian dipaparkan lebih detail, mulai dari tempat-tempat liburan, hingga beberapa budayanya serta makanan khas daerah di sana.

Secara keseluruhan novel ini cukup menghibur.  Hanya saja pilihan sudut pandang orang pertama dalam bercerita, membuat kisah ini kurang hidup dan lebih terasa storytelling.  Namun lepas dari kekurangannya, novel ini cukup menarik untuk dibaca. Melalui buku ini ada pelajaran tentang pentingnya pola asuh yang baik pada anak, serta belajar arti kesabaran, keikhlasan, tidak mudah menyerah dan bakti kepada orangtua.

Srobyong, 2 Juni 2018

Saturday, 28 April 2018

[Resensi] Agar Terbebas dari Praktik Riba

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu 22 April 2018


Judul               : Hidup Tenang Tanpa Riba
Penulis             : Dwi Suwiknyo dkk
Penerbit           : Diva Press
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 252 halaman
ISBN               : 978-602-391-524-8
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Riba adalah penetapan bunga atau menambah jumlah uang pinjamaan saat pengembalian, berdasarkan presentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok. Dalam Islam riba sangat dilarang keras. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 130.  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertawakalah kamu kepada Allah supa kamu mendapat keberuntungan.”

Dijelaskan pula bahwa Allah melaknat siapa saja yang berhubungan dengan riba—baik bagi orang yang meminjam atau orang yang dipinjami. Itulah kenapa sebelum kita terjebak pada praktik riba, maka kita harus mulai membentengi diri.  Buku ini dengan paparan yang lugas, menarik dan inspiratif mengajak kita untuk belajar dari pengalaman para penulis tentang bahaya riba, agar kita bisa mengambil ibrah dari sana.

Memang benar, setiap orang sudah pasti ingin menikmati hidup yang nyaman dan kecukupan. Namun perlu kita ingat, jangan sampai hanya karena ingin hidup enak, kita sampai menghalalkan berbagai cara, termasuk dengan melakukan praktik riba bahkan memakan harta riba.  Awalnya tentu saja nikmat, namun berjalannya waktu, kita pasti sadar bahwa hidup sederhana tanpa riba itu jauh lebih menenangkan dibanding kaya raya dengan utang riba di mana-mana (hal 10).

Sebagaimana kisah yang dipaparkan Annisa Pratiwi.  Sebelumnya hidupnya baik-baik saja. Meski pasca pernikahan  Annisa dan suaminya, mereka masih menumpang  di rumah mertua. Sampai suatu hari mereka dihadapkan pada dilema tentang harapan memiliki sebuah rumah sendiri. Di sinilah semua masalah berakar. Ambisi memiliki rumah sendiri inilah yang membuat Annisa dan suaminya nekat mengambil pinjaman di bank. Awalnya mereka bisa membayar cicilan setiap bulan dengan lancar. Namur berjalannya waktu, mereka mulai kesulitan dalam membayar cicilan.  Apalagi  jumlah cicilan terus merambat naik setiap tahunnya, mengikuti suku bunga yang juga naik setiap tahun.

Pada titik ini mereka menyadari bahwa jalan yang selama mereka lakukan adalah salah. Namun nasi sudah menjadi bubur. Mereka sudah terlanjut terjebak pada praktik riba. Lalu bagaimana mereka menghadapi masalah tersebut? Berhasilkah mereka menyelesaikan masalah dan lepas dari pusaran riba?

Selain kisah tersebut, masih banyak kisah lain yang tidak kalah menginspirasi. Seperti Hidup Berkah Tanpa Riba, Insaf dari Riba, Selagi Masih ada Napas dan banyak lagi. Dari kisah-kisah ini dapat kita saya simpulkan, bahwa agar kita terbebas dari praktik riba, maka kita harus menjauhi melakukan utang piutang  yang mengandung riba dalam bentuk apa pun. Kemudian dari diri sendiri, kita harus memiliki niat kuat untuk menghindari riba.  Buku ini sangat patut kita baca sebagai bahan renungan. Beberapa kekurangan yang ada tidak mengurangi esensi buku.

Srobyong, 9 Maret 2018 

Thursday, 22 March 2018

[Resensi] Bahaya Pusaran Riba dan Cara Menjauhinya

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 18 Maret 2018 



Judul               : Hidup Tenang Tanpa Riba
Penulis             : Dwi Suwiknyo dkk
Penerbit           : Diva Press
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 252 halaman
ISBN               : 978-602-391-524-8
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transasi riba, sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (hal 21).

Membahas tentang masalah riba sebenarnya tidak akan ada habisnya. Karena saat ini memang semakin banyak praktik riba baik yang kecil atau yang besar. Dimulai dari pembelian dengan cara kredit hingga pinjaman besar di bank. Yang menjadi masalahnya, kebiasaan riba ini seperti dilegalkan dan dianggap boleh. Padahal dalam Islam praktik riba ini sangat dilarang. Karena riba lebih banyak madaratnya daripada  kemaslahatannya.

Sering kita mendengar kajian bahwa siapa saja yang melakukan praktik riba, maka mereka akan dilaknat oleh Allah. Baik itu orang yang melakukan atau memberi kesempatan riba. Bahkan dari apa yang pernah saya dengar, telah  dijelaskan bahwa memakan harta riba bisa membuat hati kita keras dan tidak mudah dinasihati.  Padahal semua orang pasti tidak ingin hati mereka tertutup dari cahaya Allah.

Riba sendiri itu berhubungan dengan penetapan bunga atau  penambahan jumlah uang pinjamaan saat pengembalian, berdasarkan presentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok. Misalnya saja ketika kita berhutang satu juta, kita harus mengembalikan sebanyak dua juta dengan melakukan cicilan dua puluh ribu sebanyak sepuluh kali.   Oleh karena itu sejak dini kita harus menghindari riba. Kita harus memantapkan niat agar tidak sampai terjerat pada pusaran riba. Karena riba itu selain bahaya di dunia juga bahaya di akhirat. Melalui buku ini kita akan dikenalkan dengan berbagai bahaya riba dan cara agar kita bisa menjauhi riba sedini mungkin.

Buku ini sendiri terdiri dari 15 kisah inspiratif dalam upaya melepaskan diri dari jerat riba. Semua dipaparkan dengan bahasa yang lugas, renyah dan menarik, membuat kita tidak bosan saat membaca. Sebaliknya kita malah akan terhanyut dalam kisah, membuat kita akan berpikir ulang jika kita harus berhadapan dengan riba.

Misalnya saja kisah Nur Ahwat “Melepas Jerat Benang Hitam”.  Bermula dari keinginan ingin memiliki motor, Nur dan suaminya nekat mengambil kredit motor. Namun berjalanya waktu mereka menyadari motor saja tidak akan cukup jika satu keluarga harus pergi bersama. akhirnya mereka membeli mobil. Pada awalnya semua terlihat berjalan lancar. Namun lambat laun, mereka mulai menyadari betapa beratnya membayar dua cicilan—motor dan mobil. Hidup mereka yang awalnya  damai dan nyaman berubah menjadi  penuh kebingungan dan kekhawatiran.

“Berhati-hatilah kamu dalam berutang, sesungguhnya utang itu mendatangkan kerisauan pada malam hari dan menyebabkan kehinaan pada siang hari.” (hal 9).

Pada titik itu, penulis akhirnya menyadari mungkin kehidupannya berubah gersang karena dia sudah terjebak dengan pusaran praktik riba. Menyadari hal itu penulis pun dengan berbagai upaya mulai memperbaiki diri agar tidak terus terjerat riba.


Ada pula kisah Oky E. Noovasari “Insaf dari Riba, Selagi Masih Ada Napas” semua dimulai dari  kebiasaan penulis yang tidak bisa mengendalikan diri dalam menggunakan uang dan kartu kredit yang dimiliki. Jika ada diskon atau barang-barang yang disukai—meski bukan prioritas langsung dibeli. Keadaan itu pun terus berlanjut, hingga akhirnya berbagai tagihan mulai menghantui penulis.  Kerjadian itu pun menyadarkan penulis untuk mulai menata diri dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Selain dua kisah tersebut, masih banyak kisah lain yang tidak kalah menarik dan menginspirasi. Secara keseluruhan buku ini sangat patut dibaca untuk dijadikan pembelajaran. Dapat kita simpulkan riba yang awalnya terlihat menyenangkan itu pada akhirnya akan membuat kita kebingungan. Kita dibuat bingung bagaimana membayar cicilan yang bunganya selangit.  Riba juga membuat tidur kita tidak nyenyak karena terus dihantui rasa bersalah pada diri sendiri juga kepada Allah.  Karena riba juga hati kita jadi tidak tenang dan selalu dirundung ketakutan.

Oleh karena itu kita harus menjauhi riba. Dimulai dengan menghindari utang, tidak membeli  barang apa pun secara kredit hingga melakukan pinjaman di bank. Lebih baik kita menabung untuk digunakan sewaktu-waktu, daripada melakukan riba, namun berakhir derita di kemudian hari.  Sebuah buku yang menarik dan menginspirasi. Banyak pelajaran yang bisa kita teladani dari kisah-kisah yang termatub di buku ini.

Srobyong, 9 Maret 2018 

Tuesday, 6 March 2018

[Resensi] Selalu Bersyukur Agar Hidup Bahagia

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 25 Februari 2018


Judul               : Jalani, Nikmati, Syukuri
Penulis             : Dwi Suwiknyo
Penerbit           : Noktah (Diva Press Group)
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 260 halaman
ISBN               : 978-602-50754-5-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Bahagia itu tidak tergantung dari sosial tinggi, uang berlimpah atau pekerjaan yang bergengsi. Melainkan bahagia itu dilihat bagaimana kita menjalani, menikmati dan mensyukuri hidup yang kita miliki. Buku ini dengan pemaparan yang lugas dan tidak menggurui memuat 52 hal yang mengajak kita untuk memahami konsep bahagia, lewat sudut pandang yang berbeda.

Untuk mencapai kebahagiaan kita harus memiliki keyakinan yang kuat. Yakin bahwa Allah selalu bersama kita, sehingga kita tidak perlu khawatir apalagi menggugat kehendak-Nya. Yakin bahwa setiap cobaan yang Allah berikan pasti akan ada hikmahnya. Meski  cobaan itu kadang datang bertubi-tubi, kita harus tetap menjalaninya dengan sabar dan mensyukurinya.

Kita harus belajar menerima berbagai keadaan yang mungkin tidak sesuai dengan harapan. Sabar dan ikhlaskan. Ada kalanya apa yang baik menurut kita belum tentu baik di mata Allah. Dan apa yang buruk bagi kita ternyata baik di mata Allah. Di sinilah kita belajar menerima. Manusia bisa berencana dan berusaha, namun Allah-lah yang paling berkuasa untuk mewujudkan atau tidak. Maka perlu kesabaran bagi kita jika apa yang kita harapkan belum terwujud.

Kita juga harus belajar merelakan. Dalam artian, ketika apa yang kita sukai tidak menjadi rezeki kita, maka sudah sepantasnya kita merelakan. Kita harus yakin, Allah akan memberi ganti yang lebih baik dan yang tidak pernah kita duga. “Apa-apa yang bukan hak kita akan kembali kepada kita. Dan apa-apa yang bukan hak kita, dikejar-kejar sampai kapan pun, tidak akan pernah kita dapatkan.” (hal 38).

Perlu kita ketahui, kaya itu belum tentu enak.  Uang berlimpah belum tentu membuat kita tidur nyeyak. Karena kita akan dihantui ketakutan akan adanya para pencuri yang mungkin mengincar uang kita. Sebaliknya menjadi orang yang sederhana dan tidak punya, belum tentu sengsara. Bisa jadi kekurangan itu malah membuat mereka lebih banyak bersyukur dan hidup tenang.

Inilah kenapa agar kita merasa bahagia, kita perlu membiasakan berpikir positif. Karena pikiran positif akan memberi energi positif juga. “Apa yang kita kerjakan sangat dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita pikirkan sangat dipengaruhi oleh kata-kata yang tersimpan (tertanam) di dalam pikiran.” (hal 101).

Selanjutnya agar hidup lebih bahagia, jangan sampai kita diperbudak kebencian apalagi sampai menjadi iri, dengki bahkan dendam. Karena sifat-sifat tersebut hanya akan membuat kita menjadi orang yang mudah resah, memikirkan bagaimana cara kita menyaingi atau menjatuhkan orang lain demi kepuasan batin kita.

Kita harus berdamai dengan diri sendiri. Karena hal itu akan membuat kita lebih memahami apa yang kita butuhkan dan apa yang perlu kita tinggalkan. Di sini kunci yang harus kita pegang teguh adalah kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani semua yang sudah ditakdirkan Allah. Sabar dan ikhlas akan membuat kita lebih bisa mengontrol diri dan tidak mudah terpancing kemarahan.

Yang tidak kalah penting selalu bersyukur dalam keadaan apa pun. Saat mendapat nikmat bahkan saat mendapat cobaan. Karena dengan bersyukur hati kita akan lebih lapang dan tenang. Dengan bersyukur kita akan lebih menghargai apa yang  kita miliki. Setelah bersyukur kita harus bertahan dalam segala situasi. Baik itu dalam masalah jodoh, rezeki, karir, kesehatan, bisnis atau keluarga.  Orang yang mau bersyukur ketika mendapat ujian dan menerimnya dengan ikhlas, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Buku ini sangat memotivasi, menunjukkan bahwa bahagia bukan hanya karena uang berlimpah atau jabatan tinggi. Namun rasa syukur, sabar dan ikhlas yang menunjukkan kualitas diri. Kita memang tidak bisa memilih bagaimana cara kita memulai hidup ini, tetapi kita masih diberi kesempatan untuk memikirkan bagaimana cara kita menikmati hidup ini, dan bagaimana cara kita menyikapi hasilnya (hal 10).

Srobyong, 28 Januari 2018