Showing posts with label Qanita. Show all posts
Showing posts with label Qanita. Show all posts

Saturday, 19 January 2019

[Resensi] Kisah Tentang Kehilangan dan Kesabaran

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 23 Desember 2018



Judul               : The Motion of Puppets
Penulis             : Keith Donuhue
Penerjemah      : Linda Boentaram
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Juni 2018
Tebal               : 408 halaman
ISBN               : 978-602-402-119-1
Peresensi         : Ratnani Latifah.  Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mengambil tema horor psikologi, novel ini cukup menarik dan mencekam. Sejak awal kita akan digiring penulis untuk memecahkan sebuah kasus misteri yang penuh teka-teki. Kita akan dibuat penasaran tentang kebenaran apa yang ada di balik kasus misteri tersebut.  Tidak ada pertanda, tidak ada jejak, seolah sosok yang hilang itu, tidak pernah ada sebelumnya.  Selain harus berjibaku dengan rasa kehilangan, novel ini juga mengungkap tentang kesabaran, saat menerima ujian. 

Novel ini menceritan tentang pasangan suami-istri—Theo  dan Kay Harper yang datang ke Quebeck untuk bekerja.  Di mana Theo sedang menyelesaikan projek menerjemahkan biografi seorang fotografer. Dan Kay Harper menjadi pemain akrobat di pertunjukan sirkus.  Pada awalnya mereka sangat menikmati perjalanan tersebut. Mereka menyempatkan  mengelilingi kota tua Quebeck yang  indah. Di antara tempat yang paling Kay sukai adalah ketika mereka melihat toko mainan—Quatre Mains. Di sana Kay akan berlama-lama menandangi sebuah boneka rupawan yang berdiri di tudung kaca (hal 11).

Namun dalam sekejap mata, kebahagiaan pasangan pengantin baru itu, berubah menjadi tragedi. Kay Harper yang kala itu berpamitan untuk melakukan pertunjukan akrobat bersama teman-teman sirkusnya, tidak pernah kembali. Theo hanya mengetahui bahwa, kala itu Kay Herpen terakhir pergi bersama teman-temannya untuk pesta dan pulang sendirian, karena tidak mau diantar salah satu temannya, Reance yang terkenal mata keranjang.  Dan ketika Theo melaporkan kejadian itu,  dia malah dianggap telah membunuh istrinya sendiri (hal 77).

Di sisi lain, kita akan dihadapkan pada kehidupan Kay yang baru yang tidak terduga dan menegangkan. Karena tiba-tiba kita akan dihadapkan dengan kehidupan sekumpulan boneka yang hidup. Mereka berbicara laiknya manusia biasa. Hanya saja waktu kehidupan mereka yang berbeba. Mereka hanya bisa bergerak bebas di malam hari, agar tak ada seorang pun yang terlihat. Dan di salah Kay Harper berada. Dia menjadi sosok baru yang tidak pernah dia bayangkan.

Jika Kay mencoba beradaptasi dengan kehidupan barunya, Theo masih berusaha mencari keberadaan istrinya.  Dia merasa tidak bisa berdiam diri tanpa mengetahui bagaimana nasib istrinya. Hingga suatu hari, Egon, salah satu kenalan di Qubeck hadir membawa sebuah informasi yang janggal tentang Quatre Mains, namun menarik untuk diselidiki. Dibantu oleh  Mitchel—salah satu teman dosen Theo di kampus, mereka mencoba menyelidiki tentang boneka-boneka yang bergerak. 

Apalagi ketika tanpa sengaja mereka melihat sebuah pertunjukan yang memperlihatkan sebuah boneka yang sangat mirip dengan Kay. Namun yang jadi pertanyaan berhasilkah Theo menemukan boneka itu? Dan mungkinkah  Kay bisa berubah kembali menjadi manusia?

Sebuah kisah yang tidak terduga sampai akhir dan akan membuat kita sesak napas, karena rasa penasaran yang menggebu. Dengan gaya penulisan yang apik dan menarik, penulis berhasil mengeksekusi kisahnya dengan baik. Di mana penulis berhasil membuat pembaca, gregetan dan terkagum-kagum. Baik tentang kesetiaan Theo juga mitos boneka yang berbicara dan bergerak.  Ini tentang kisah cinta juga mitos kuno.

Hanya saja untuk ending kisah, saya merasa kurang puas. Bagaimana pun setelah perjuangan yang sangat panjang kita akan dihadapkan dengan sebuah kenyataan yang tidak pernah kita bayangkan. Namun lepas dari kekurangannya, buku ini tetap menarik dibaca. Apalagi bari para penikmat kisah misteri. Saya suka dengan tampilan cover yang bikin merinding. Sedih tapi juga menakutkan.

Selain itu, banyak kejutan yang akan kita temukan dari novel ini.  Misalnya berbagai kejutan yang tidak pernah kita duga dengan para tokoh pendamping di sini. Lalu sebuah kejadian yang sama, yang terjadi dialami seorang petugas polisi, tentang kasus kehilangan.  Dari novel ini kita bisa belajar tentang sikap tidak mudah menyerah, serta perlunya menghadapi ujian dengan penuh kesabaran.  Di sisi lain, kisah ini  juga menuntut kita untuk selalu waspada dan hati-hati dalam segala situasi.

Srobyong, 17 Agustus 2018

Friday, 7 December 2018

[Resensi] Kisah Dokter Ahli Ginjal Meluruskan Takdir

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 3 Desember 2018

Judul               : Change Your Destiny
Penulis             : Rully Roesli
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-402-124-5
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Dalam melawan setiap tantangan, kita harus memiliki mental baja dan saraf besi! Artinya, kita benar-benar harus sangat yakin bisa menang dan siap berjuang luar biasa kerasnya. Pikiran dan keyakinan harus terus positif dan optimis. Dengan  sikap tersebut, badan kita secara alami akan menyesuaikan sehingga kemungkinan berhasil kita semakin tinggi.” (hal 14-15).

Takdir manusia memang sudah ditetapkan oleh Allah. Akan tetapi, takdir itu bisa kita rubah, jika kita mau berusaha. Sebagaimana kita ketahui takdir manusia dibagi dua. Pertama takdir mubram dan mualaq. Takdir mubram  adalah takdir yang tidak bisa dirubah, karena sudah ditentukan dan ditulis di Lauhul Mahfud. Seperti kematian dan kapan kita lahir. Sedangkan takdir muallaq adalah takdir yang bisa dirubah, jika kita berusaha. Seperti rezeki, sembuh dari sakit dan banyak lagi.

Buku ini dengan paparan yang lugas dan mudah dipahami, menjelaskan tentang bagaimana kita bisa meluruskan takdir. Di mana kisah ini merupakan kisah nyata dari seorang dokter ahli ginjal dalam menyikapi berbagai permasalahan hidupnya dengan bijak untuk meluruskan tadir.

Siapa yang menyangka bahwa  Roesli kecil yang sebelumnya tumbuh dengan sehat tiba-tiba, pada usianya yang kelima tahun,  kaki kirinya mengalami polio, sehingga tidak bisa digerakkan.  Keadaan itu tentu cukup mengejutkan. Berbagai alternatif pengobatan sudah dilakukan orangtua Roesli untuk menyembuhkan kakinya. Akan tetapi, ternyata Allah berkehendak lain.

Melihat keadaan itu, akhirnya orangtua Roesli memilih berupaya untuk menyelamatkan mental putranya. Dalam artian, mereka berusaha bersikap wajar dan tidak memperlakukan Roesli selayaknya orang cacat. Dan cara ini sepertinya sangat berhasil. Karena pada kenyataannya, meski terlahir dengan kekurangan, Roesli mampu bersaing dengan teman-temannya lainnya dan berhasil menjadi seorang dokter ahli ginjal. Bahkan dia berhasil mendirikan sebuah rumah sakit khusus ginjal.

Namun ternyata cobaan yang dialami Roesli tidak berhenti di sana saja.  Ketika dia tengah mengisi acara ilmiah di Bali, dia mengalami serangan stroke. Dari hasil CT Scan, para dokter berkesimpulan telah terjadi pendarahan otak pada dokter Roesli akibat hipertensi. Di mana menurut paparan istrinya, tekanan darahnya saat itu mencapai 198/125 mmHg (hal 176).

Berbagai upaya kembali dilakukan untuk memulihkan keadaan Roesli. Berbagai terapi rehabilitasi secara intensif telah dia lakukan. Dari Fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara ditambah tusuk jarum secara rutin. Bahkan dia juga menjalani terapi di kolam renang (hidroterapi) di Ciater Spa Resort, serta menjalani cara rehabilitasi stroke mutakhir yaitu TSM (Transcephalic Magnetic Stimulation) dan DSA  (Digital Subtraction Angiography). Semua ini dijalini Roeli dengan tekun, karena dia ingin sembuh (hal 180).

Hingga akhirnya kelumpuhan di lengan dan tungkainya lambat laun sudah membaik, meski memang tidak seratus persen.  Namun kesembuhan itu sangat disyukuri Roesli. Bahkan dia kembali membuka praktek, karena menurutnya dengan kembali beraktifitas dan bisa berguna bagi orang lain, juga merupakan cara pengobatan tersendiri bagi Roesli.  Tidak hanya itu, dia juga mendapat tawaran dari sahabatnya, dr. Augusta untuk menjadi pembicara ilmiah, meski dalam keadaan tidak sempurna dengan duduk di kursi roda.

Kisah yang dialami Roesli benar-benar sangat menginspirasi. Dengan segala keterbatasannya dia tetap berjuang untuk bangkit dan bisa berguna bagi orang lain. Menurut Roesli dalam menyikapi hidup dan agar bisa meluruskan takdir maka pertama-tama adalah  selalu berpikir positif. Kita harus mau berusaha dengan gigih dalam upaya meraih kesuksesan atau mimpi yang kita miliki. Tidak lupa kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah setelahnya kita harus bertawakal.  Kemudian ketika kita mengalami sebuah ujian, jangan jadikan hal itu menjadi alasan untuk menyerah. Namun jadikan kegagalan sebagai epifani untuk bangkit dan terus berusaha.

“Kadang kehidupan dapat   menumbangkan kita. Kitalah yang memutuskan untuk tetap jatuh atau kembali bangkit.” (hal 61).

Buku ini sangat patut kita baca dan renungkan. Dilengkapi dengan kisah-kisah ketaladan yang lain, serta pembasahan yang menggabungkan  pendekatakn ilmian dan kajian keagamaan, buku ini akan sangat membantu kita untuk membangunkan motivasi dan semangat untuk berjuang.

Srobyong, 16 November 2018

Saturday, 1 December 2018

[Resensi] Berdamai dengan Rasa Takut

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 18 November 2018 


Judul               : Turtles All The Way Down
Penulis             :  John Green
Penerjemah      : Prisca Primasari
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : 344 halaman
ISBN               : 978-602-402-115-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Buku ini ditulis oleh John Green, penulis yang sebelumnya telah melahirkan buku best seller “The Fault in Our Stars” dan “Looking for Alasaka”. Sebagaimana buku sebelumnya, karya John Green ini pun telah mendapat banyak perhatian dan telah dinanti-nantikan oleh pembaca. Maka tidak salah jika kemudian buku terbarunya kembali mendulang sukses. Bahkan buku ini telah menyabet beberapa penghargaan bergengsi. John Green telah berhasil mengharu birukan para pembacanya lewat kisah yang romantis, humanis dan filosifis.  Lewat buku ini secara tidak langsung juga telah menunjukkan, bahwa John Green identik suka menulis kisah dengan latar tokoh yang berpenyakit.

Menceritakan tentang kehidupan Aza Holmes, gadis yang jika terlihat dari luar nampak biasa dan tidak memiliki masalah. Akan tetapi ketika kita mengenalnya lebih dekat, maka kita akan tahu, bahwa dia memiliki kecenderungan  suka gugup dan khawatir. Dia memiliki penyakit OCD—obsessive compulsive disorder. Mengutip dari  artikel karya Novita Josep, di web hello sehat, OCD adalah sebuah gangguan psikologi yang dapat mempengaruhi pikiran (obsesif) dan perilaku (kompulsif) manusia.  Kelainan ini akan menaganggu pikiran penderitanya dengan menghasilkan rasa gelisah, cemas, khawatir, takut dan menuntut hal yang sama berulang kali.

Aza selalu memiliki kekhawatiran berlebih, sehingga sering kali memunculkan berbagai pikiran di kelapa seperti, berbahayanya tentang gejala infeksi bakteri Clostridium difficile,  yang bisa berakibat fatal pada dirinya, mikroba manusia dan banyak lagi. Sehingga dia perlu membersihkan diri lagi dan lagi.  Meski berbeda, Aza tetaplah remaja biasa yang tetap bersekolah dan bergaul, meski harus berperang dengan pikirannya sendiri.  Aza memiliki sahabat terdekat bernama Daisy, yang telah mengenal berbagai tindakan aneh yang kerap terjadi pada Aza.

Kehidupan dua remaja itu awalnya berjalan normal, hingga suatau hari Daisy mengajak Aza untuk menyelidiki hilangnya seorang miliarder—Russell Pickett—yang berhadiah seratus ribu dolar. Untuk itulah mereka perlu mendekati putra sang miliarder untuk mengorek keterangan. Namun siapa sangka, putra miliarder tersebut, ternyata teman lama Daisy di masa kecilnya dulu, Davis  Pickett.

Dan di sinilah masalahnya, dalam upaya menyelidiki keberadaan Russell Pickett, Aza malah terjebak dalam zona cinta dengan  Davis. Keadaan yang kemudian membuat Aza kembali mengamali dilema berat terhadap pikirannya sendiri. Aza sangat menyadari bagaimana takutnya dirinya jika harus berdekatan dengan orang lain, saling bergesekan, jika di dalam pikirannya sering tumbuh ketakutan dan kekhawatiran tentang bakteri yang  tiba-tiba bisa menyerang dirinya.  Meskipun Aza melakukan pengobatan dengan sesi konseling, hal itu tidak mengurangi kekhawatiran dan ketakutan yang sering bersarang di kepalanya.

Belum lagi masalah lain yang muncul, yang membuat Aza harus berpikir ulang dalam menetukan keputusan  terbaik. Karena hal itu bisa memengaruhi kehidupan orang lain. Fakta menarik yang tidak sengaja dia temukan, ternyata bisa jadi akan menimbulkan kesengsaraan bagi Davis dan adiknya.

Membaca kisah ini, kita akan dihadapkan pada petualangan gadis remaja yang cukup menarik. kecerdasan menganalisa situasi patut untuk diacungi jempol. Dan lagi, meski Aza memiliki ketakutan tersendiri dalam hidupnya, dia tetap berusaha menjalaninya dengan baik. Novel ini menggagas tentang keuletan hidup yang dipadukan dengan kisah kekuatan persahabatan serta ketulusan cinta. Membuat kita seperti melihat langsung kisah tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya saja bagi saya sendiri, novel ini belum sepenuhnya membuat saya jatuh cinta. Pada beberapa bagian, saya merasa ada  alur cerita,  yang cukup membosankan. Saya juga kurang suka dengan gaya bahasa penulis yang menurut hemat saya kurang lugas dan cukup sulit untuk dicerna. Memang benar kesuksesan sebuah buku tidak menjamin sebuah buku bisa dibaca dan disukai semua orang. Karena pada dasarnya semua kembali pada selera masing-masing pembaca.

Namun lepas dari kekurangannya novel ini banyak mengajarkan untuk berdamai dengan rasa takut. Bahwa kita harus berani menghadapi hidup. Tidak apa-apa kadang kita jatuh dan sedih, namun kita harus kuat dna terus melangkah. 

Srobyong, 11 November 2018

Thursday, 29 November 2018

[Resensi] Spirit Penyandang Disabilitas Meraih Kesuksesan

Dimuat di Koran Jakarta, Kamis 1 November 2018


Judul               : Change Your Destiny
Penulis             : Rully Roesli
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-402-124-5
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Terlahir sebagai seorang  disabilitas, hal itu tidak menghalangi Rully Roesli untuk berjuang meraih cita-citanya menjadi dokter.  Dengan ketekunan, semangat juang tinggi dan tidak mudah putus asa, dia akhirnya berhasil menjadi dokter ginjal terkemuka di Indonesia. Bahkan dia berhasil mendirikan RS khusus Ginjal Ny. R.A Habibie.

Buku ini memberikan energi positif kepada siapa saja yang membacanya. Menginspirasi dan sangat memotivasi. Memaparkan tentang semangat merubah takdir yang kita miliki dengan  mengenal  dan meningkatkan potensi diri sendiri. “Kadang kehidupan dapat   menumbangkan kita. Kitalah yang memutuskan untuk tetap jatuh atau kembali bangkit.” (hal 61).

Pada usia lima tahun, Rully tiba-tiba terserang penyakit polio, yang menyebabkan kelumpuhan permanen pada kaki kirinya. Keadaan itu tentu saja mengubah jalan hidup Rully. Akan tetapi dia berani melawan takdir tersebut. Alih-alih merasa terpuruk, Rully memilih bangkit dan mengembangkan potensi yang dia miliki.  Dia menyakini bahwa seseorang yang telah dilahirkan dengan kondisi yang “kurang beruntung”, sebenarnya diberi kesempatan untuk mengubah nasibnya (hal 35).

Dia juga menyadari bahwa setiap manusia  itu memiliki kedudukan sama. Baik penyandang disabilitas atau tidak, masing-masing memiliki hak untuk berprestasi dan  meraih kesuksesan.  Kunci untuk meraih kesuksesan itu adalah  mau berusaha  dengan gigih, berdoa dengan sungguh-sungguh dan tawakal kepada Allah.

Selain Rully, dipaparkan juga tentang pengalaman-pengalaman menarik dari para penyandang disabilitas lain, yang telah berani untuk merubah takdir mereka. Keterbatasan yang dimiliki, tidak menghalangi mereka untuk berprestasi dan mengejar mimpi hingga meraih kesuksesan.

Adalah Jessica Cox. Dia terlahir tanpa lengan. Keadaan itu sempat membuat dia marah sedih, karena kekurangan fisiknya itu telah membuat dia kesulitan dalam melakukan berbagai aktivitas. Akan tetapi pada usia empat tahun. Jessica berhasil mengatasi kekurangannya dan mulai percaya diri.  Lalu pada usia 10 tahun dia ikut pelatihan taekwondo di sekolahnya, dan berhasil meraih sabuk hitamnya pada usia 14 tahun.

Prestasi lain yang diperolahnya adalah berhasil menyabet gelar juara pertandingan Arizona State Champion dalam peserta umum, bukan khusus penyandang difabel. Tidak hanya menggeluti taekwondo, dia juga aktif dalam olahraga renang, selam dan selancar. Yang lebih menakjubkan adalah dia berhasil mengantongi lisensi pilot. Dia memperoleh pernghargaan “Guinness World Record : The Only Pilot to Fly with Their Feet—satu-satunya pilot yang terbang menggunakan kakinya—dan US Inspiration Awards for Woman 2012”. Dia telah menjadi pembicara motivasi dan berbagi pengalaman hidupnya di 20 negara yang berbeda. Tahun 2015 dia telah menerbitkan buku autobiografi dengan judul Disarm Your Limits (Lucuti Keterbatasan Anda). (hal 116-117).

Dari negeri sendiri, ada Untung, yang merupakan seorang guru yang lahir di Madura.  Sebagaimana Jessica Cox, dia juga terlahir tanpa tangan. Namun keadaan itu tidak membuatnya sedih berkepanjangan. Menurutnya masih banyak hal yang patut disyukuri. Tidak ada tangan, masih ada kaki.  Meski dia kerap diganggu dan harus berjuang lebih keras saat menempuh pendidikan di sekolah umum, Untung tetap menjalani dengan  kuat dan tegar.

Dan meski menjadi penyandang cacat permanen, hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi seorang guru. Karena baginya guru adalah panggilan jiwanya.  Dia memiliki etos kerja yang sangat baik, sehingga  meskipun  statusnya sebagai guru honorer, oleh teman-temannya dia diangkat sebagai Wakil Kepala Sekolah. Selain menjadi guru, untuk menafkahi keluarganya dia juga beternak ayam di kampung (hal 118).

Selain dua tersebut masih ada kisah-kisah lain penyandang disabilitas yang telah berhasil meraih kesuksesan. Seperti  Helen Keller, Albert Einstein, Ludwig Van Beethoven, Louis Braille, Stephen William Hawking dan banyak lagi.  Merekalah orang-orang yang telah menjadikan kecatatan tubuhnya sebagai epinafi atau titik balik kehidupan.  Sebuah titik balik yang mengarahkan mereka pada jalan yang lebih baik.  

Melalui buku ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa dalam menghadapi berbagai masalah, kita harus percaya dengan kemampuan diri sendiri, gigih dalam berjuang dan tidak mudah putus ada dengan keadaan yang menimpa kita.  Keunggulan lain dari buku ini adalah penulis menggabungkan dasar ilmiah dengan kajian agama yang selaras dan mudah dicerna.

Srobyong, 19 Oktober 2018

Tuesday, 20 November 2018

[Resensi] Pengaruh Kesehatan Gigi Terhadap Kesehatan Tubuh

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 14 Oktober 2018


Judul               : Tubuh Sehat, Giginya?
Penulis             : drg. Pramono Rendro Pangarso, M. Kes
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Okotober 2017
Tebal               : xii + 148 halaman
ISBN               : 978-602-402-088-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Selama ini doktrin yang kita terima, menganggap bahwa pergi ke dokter gigi itu menyeramkan—gigi kita akan dicabut dan sederet mitos lainnya.  Hal inilah yang membuat kita kerap kali menghindari pergi ke dokter gigi. Kita selalu ketakutan sebelum kita membuktikan tentang keseraman yang sering kita dengar. Padahal menjaga kesehatan gigi itu sangat penting. Karena kesehatan gigi  memiliki pengaruh terhadap kesehatan tubuh.

Buku ini dengan paparan yang lugas dan mudah dicerna, mencoba mematahkan mitos yang sering kita dengar dalam masyarakat, juga memaparkan dengan jelas tentang pengaruh kesehatan gigi terhadap kesehatan tubuh.

Pada bagian pertama penulis menegaskan tentang pentingnya menjaga rongga mulut. Mengingat bahwa kesehatan rongga mulut itu cerminan dari kesehatan diri secara utuh. Artinya, gambaran penyakit pada tubuh bisa terlihat dari rongga mulut seseorang. Misalnya saja ketika orang yang memiliki penyakti diabetes melitus atau kencing manis biasanya akan memiliki aroma napas  seperti bau aseton—seperti bau tiner penghilang kuteks.

Perlu kita ketahui pada penderita diabetes, fungsi beberapa sel yang berperan dalam respons peradangan mengalami perubahan. Sel-sel tersebut merupakan lini awal pertahanan tubuh sehingga menghambat fungsinya dalam melawan bakteri pada saku gusi dan meningkatkan kerusakan jaringan pendukung gigi (hal 7). Selain diabetes beberapa penyakit yang sering kita temui pada rongga mulut adalah bau mulut, sariawan, dan herpes simpleks pada mulut.

Saat kita memiliki bau mulut tidak sedap pasti hal itu secara psikologi akan membuat kita merasa minder dan tidak percaya diri.  Bau mulut biasanya disebabkan oleh bakteru mati dalam rongga mulut yang menghasilakn sulfur, bakteri sisa makanan yang berkumpul pada lidah yang kasar, akumulasi plak yang menempel pada gigi, gigi berlubang, sisa akar dan karang gigi (hal 17).

Namun yang lebih mengejutkan ternyata masalah  pada gigi juga memiliki dampak terhadap munculnya penyatik kanker mulut. Oleh karena itu kita harus secara runtin ke dokter gigi untuk memeriksa seluruh bagian rongga mulut dan melihat apakah terdapat tanda-tanda penyakit tertentu atau tidak (hal 33). Lebih jelasnya bisa membaca langsung buku ini.

Pada bab lain kita dijelaskan tentang cara menjaga gigi yang baik dan benar. Karena yang terjadi di masyarakat, kita sering menjaga kesehatan gigi dengan cara yang salah. Misalnya dalam cara menggosok gigi—di mana kebanyakan orang suka menyikat gigi dengan keras agar gigi bersih, padahal yang benar adalah menyikat gigi secara lembut dengan teknik BASF—dari merah ke putih (artinya dari arah gusi ke gigi). Saat menyikat gigi, kondisikan sikat gigi dalam keadaan kering, karena bakteri sangat menyukai lingkungan lembab.

Gigi manusia sangatlah sensitif. Gangguang sedikit saja pada gigi dan mulut dapat membawa dampak yang besar bagi kesehatan tubu. Berikut beberapa penyakit yang kemungkinan berhubungan dengan kesehatan gigi. Mata tegang, penyakit sendiri temporomandibular, sakit kepala kronis, leher kaku, sakit pinggang, demam, insomnia dan depresi (hal 68).

Selain beberapa hal yang sudah dipaparkan, masih banyak lagi berbagai info mengenai cara menjaga kesehatan gigi. Di sini kita diingatkan tentang pentingnya menjaga kondisi gigi agar selalu sehat dan kuat. Memang benar tidak sepenuhnya kesehatan manusia tergantung pada kesehatan gigi. Namun dengan memiliki gigi sehat, secara tidak langsung membuat kita menghindari berbagai penyakit yang merugikan diri sendiri.  Sebuah buku yang mencerahkan membuka cakrawala khususya tentang kesehatan gigi.

Srobyong, 4 Februari 2018 

Wednesday, 3 October 2018

[Resensi Kiprah Bung Hatta dalam Pergerakan Nasional

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 26 Agustus 2018 


Judul               : Hatta : Aku Datang Karena Sejarah
Penulis             : Sergius Susanto
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 364 halaman
ISBN               : 978-602-402-096-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Univeritas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Salah satu tokoh proklamator Indonesia adalah Mohammad Hatta. Dia lahir di Aur Tajungkang, Bukittinggi, 12 Agustus 1902.  Dia adalah sosok sederhana,  nasioanalis dan  memiliki prinsip yang kuat. Meski sering dibujuk rayu  Belanda dan Jepang  untuk bekerjasama, atau diajak melakukan hal-hal yang menyimpang dari demokrasi dan asas pancasila, Hatta selalu menolak dengan tegas.

Sayangnya tidak banyak buku yang membahas tentang wakil presiden pertama Indonesia, yang kerap disebut sebagai Gandhi of Indonesia.  Hal itulah yang kemudian mendorong  Sergius Sutanto,  mencoba  mengenalkan lebih dalam  tentang sosok Hatta, lewat buku ini.  Dengan paparan yang apik, lugas dan aktual, penulis memaparkan kisah hidup Hatta yang sangat menginspirasi. Serta kiprahnya dalam pergerakan nasional.

Masa kecil Hatta dihabiskan di tanah kelahirannya dengan bekal pendidikan agama yang kuat. Pada 1921, ketika mengenyam pendidikan di Handels Hoge Schol di Rotterdam, Belanda, Hatta bergabung dengan Indonesische Vereeniging—yang kemudian dikenal sebagai Perhimpunan Indonesia—PI. Tahun 1926 ketika Hatta terpilih menjadi ketua PI, dia langsung menggencarkan aksi propaganda luar negeri dalam bidang politik. Tujuannya  untuk memperkenalkan nama ‘Indonesia’ kepada dunia internasional (hal 100).  Selain itu dia juga menerbitkan  Gedenkboek yang bertujuan  untuk membuka telinga pemerintah Hindia mendengarkan suara perjuangan para pemuda Indonesia.

Namun karena hal itu, Bung Hatta dimasukkan ke penjara di Casuaristraat. Dia didakwa  tiga tuduhan, yaitu :  menjadi anggota perhimpunan terlarang, terlibat dalam pemberontakan dan penghasutan  untuk menentang kerajaan Belanda (hal 102).  Akan tetapi, kejadian itu tidak pernah menyurutkan niat perjuangan Hatta dalam upaya membebaskan Indonesia dari penjajahan.

Setelah bebas dan kembali ke Indonesia bersama Syahrir—sahabat dekatnya,  Hatta  membangun organisasi bernama Pendidikan Nasional Indonesia—PNI. Di mana organisasi ini lebih menekankan pada pendidikan kader. Menurut Hatta, “Bukan hanya pemimpin yang harus berjuang, rakyat pun mesti turut berjuang. Ada suatu kebenaran yang sering dilupakan, kemerdekaan Indonesia tidak dapat dicapai oleh para pemimpinnya saja, melainkan oleh usaha dan keyakinan rakyak banyak. Nasib rakyat Indonesia dalam genggaman tangan rakyat sendiri.” (hal 163).

Namun lagi-lagi jalan perjuangan yang dia lalui tidak mudah. Dia dan Syahrir ditangkap tentara Belanda dan dibuang di  Digul, kemudian dipindah ke Banda Neira, lalu Penjara Glodok hingga  Pulau Bangka. Pada masa itu Belanda gencar mengajak Hatta bekerjasama, agar masa pengasingannya dikurangi. Namun Hatta dengan  tegas menolak tawaran tersebut.

Meski berkali-kali diasingkan, Hatta tidak pernah gentar. Dia tetap menyuarakan pendapatnya agar warga Indonesia tidak memihak kepada Belanda atau Jepang.  Menurutnya para penjajah itu tidak ada yang bisa dipercaya.

Salah satu tokoh pergerakan yang dekat dengan Hatta selain Syahrir adalah Soekarno. Meski kerap berseberangan pendapat, mereka sering berdiskusi tentang  berbagai hal termasuk jalan untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan. Dan perjuangan mereka akhirnya terbayar ketika tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan. 

Tapi setelah 11 tahun menjadi wakil presiden, pada 1 Desember 1956,  Hatta memutuskan  mundur dari jabatannya.  Hatta mengaku, karena ‘kemanusiaan’-lah dia memilih mundur. Menolak segala bentuk penyelewengan, penyimpangan, keserakahan, dan kesombongan sebagai akibat ketidaktahuan. Terlebih, pada satu setan yang mengambil rupa : korupsi (hal 25).

Kala itu Hatta memang sudah tidak sejalan dengan cara kepemimpinan Soekarno yang mulai mendekat pada komunis dan terlalu otoriter. “Penderitaan seharusnya membukakan mata pada makna kemanusiaan. Tapi mengapa orang-orang istana justru gemar menciptakan kesakitan pada rakyat banyak?” (hal 23).

Ketika Hatta berusaha mengingatkan, Soekarno tidak pernah memedulikan nasihat sahabatnya tersebut.  Yang ada Hatta malah mulai tersingkir, tidak boleh mengajar di Universitas  Gajah Madah, karena dia  berseberangan dengan  kebijakan Demokrasi Terpimpin (hal 284).  Meski begitu Hatta tidak pernah membenci Soekarno. Dialah pemimpin dengan jiwa welas asih dan pemaaf. Buku ini membuat kita semakin mengenal sosok Hatta yang sederhana, bersahaja, teguh dalam prinsip dan  tidak mudah digoyahkan.

Srobyong, 8 Maret 2018

Saturday, 1 September 2018

[Resensi] Efek Berbahaya dari Asupan Karbohidrat yang Berlebihan

Dimuat di Kabar Madura, Selasa 21 Agustus 2018 


Judul               : Mitos Jahat Karbohiodrat
Penulis             : dr. Toru Mizoguchi
Penerjemah      : Dian Kusuma Wardhani
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Mei 2018
Tebal               : 172 halaman
ISBN               : 978-602-402-121-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Agar tubuh menjadi sehat kita memerlukan berbagai asupan gizi. Di mana asupan gizi itu bisa kita peroleh dari zat-zat makanan berupa, protein, mineral, vitamin, air, lemak dan karbohidrat. Enam zat tersebut memiliki fungsi sebagai penghasil energi, membangun dan memperbaiki jaringan rusak dan melindungi tubuh.

Karbohidrat merupakan salah satu zat makanan yang berguna untuk menghasilkan energi. Jika kita kekurangan karbohidrat, maka tubuh kita menjadi lemas dan tidak bertenaga. Namun di sisi lain, jika kita terlalu banyak mengkonsumis karbohidrat, maka akan timbul pula efek negatif pada kesehatan tubuh. Untuk itu, dalam mengkonsumsi karbohidrat kita harus membatasinya agar sesuai porsi dan tidak belebihan. Buku ini akan membahas tentang rangkuman bagaimana mendapat nutrisi dan metode membatasi karbohidrat dengan benar, berdasarkan terapi yang dilakukan oleh dr. Toru Mizoguchi (hal 12).

Dalam keseharian, kita pasti sering menikmati hidangan manis, baik makanan atau minuman. Kita juga sering melahap nasi yang baru matang. Secara kasat mata, hidangan itu nampak lezat. Namun siapa sangka, jika kita terlalu sering mengonsumsinya, maka hal itu bisa mengakibatkan penuan dini dan timbulnya berbagai penyakit pada tubuh. Di antara makanan yang banyak mengandung karbohidrat adalah nasi, makanan manis, roti putih,  kentang, sayuran berumbi, dan banyak lagi.

Berikut ini adalah penyakit yang bisa terjangkit jika kita terlalu banyak mengonsmusi zat gula :  diabetes, stroke, jantung,  dyslipidemia—kelainan metabolisme lipid yang ditandai oleh peningkatan maupun fraksi lipid dalam plasma, hipertensi, obesitas, alergi, atopi, depresi,  dan kanker.

Seyogyanya kita harus mulai mengurangi mengkonsumsi karbohidrat. Karena dengan mengurangi karbohidrat, dan mengutamakan mengonsumsi protein dan lemak, akan mengembalikan kondisi tubuh seperti semula (hal 18). Menstabilkan kadar gula  juga berfungsi untuk meningkatkan semua fungsi tubuh. Sedang pola makan dengan banyak karbohidrat akan membuat fluktuasi kadar gula naik turun secara kacau.

Mungkin kita akan bertanya-tanya kenapa  karbohidrat bisa merugikan kesehatan? Padahal karbohidrat merupakan salah satu  sumber energi.  Perlu kita ketahui, saat masuk ke dalam tubuh, karbohidrat akan diserap sebagai glukosa dari lambung melewati usus kecil. Kemudian, oleh cairan darah akan diangkut ke seluruh tubuh melalui saraf-saraf pengangkut.   Sedang kadar glukosa yang terkandung dalam cairah darah adalah kadar karbohidrat atau zat gula dalam tubuh.

Biasanya kadar gula darah akan naik ketika makan dan akan turun setelah beberapa waktu. Saat kondisi sehat, apa pun yang dimana  biasanya kadar gula akan tetap stabil. Akan tetapi, ketika terus- meneris makan makanan yang dapat menaikan kadar gula darah secara signifikan, akan mulai muncul gangguan pada fungsi pengaturan tubuh, sehingga fungsi pengaturan berangsur-angsur akan kacau. Dan pada akhirnya akan terjadi kondisi yang disebut penyakit hipoglikemia (gula darah rendah) (hal 19-20).

Dipaparkan juga bahwa mengkonsumsi karbohidrat berlebihan akan membuat kadar gula darah meningkat secara drastis, insulin akan keluar dalam jumalh besar, kelebihan gula darah akan terakumulasi sebagai viseral. Akibtanya, insulin akan tersu dikeluarkan dalam jumlah yang lebih besar lagi. Hal ini akan terus terjadi berulang-ulang, hingga menyebabkan “sirukulasi insulisn dan lemak viseral yang buruk.” (hal 37). Dan hal ini bisa memicu terjadinya obesitas.

Selain sedikit pembahasan yang sudah dipaparkan di sini, masih banyak lagi pembahasan yang tidak kalah menarik, yang akan menyadarkan kepada kita tentang pentingnya menjaga asupan karbohidrat yang tepat. Di antaranya adalah pembahasan lebih terperinci tentang bebagai penyakit yag disebut di atas, pengaruh apa yang dimiliki ketika terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat serta penjelasan yang detail tentang hal-hal yang perlu kita lakukan jika ingin memulai hidup sehat.

Tentu saja kehadiran buku bukan berarti melarang kita untuk mengonsusmi karbohidrat, namun kita diingatkan untuk tidak mengonsuminya secara berlebihan. Semoga adanya buku ini bisa membuka wacana yang lebih luas pada kita yang selalu ingin  hidup dengan pola yang sehat.

Srobyong, 3 Agustus 2018 

Thursday, 24 May 2018

[Resensi] Mengenal Kehidupan Bung Hatta yang Menginspirasi

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 11 Mei 2018


Judul               : Hatta : Aku Datang Karena Sejarah
Penulis             : Sergius Susanto
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 364 halaman
ISBN               : 978-602-402-096-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Univeritas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“..., setelah DPR yang dipilih rakyat mulai bekerja dan konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Segera, sesudah konstituante dilantik, saya akan meletakkan  jabatan itu secara resemi.” (hal 13).

Dibuka dengan prolog yang menarik, buku yang membahas tentang kehidupan salah satu proklamator Indonesia—Mohammad Hatta, buku ini sangat patut dibaca bagi semua kalangan. Sergius Susanto menghidupkan kisah perjalanan kehidupan Hatta lewat jalinan  kata yang lugas,  renyah dan aktual. Kita diajak mengenal lebih dekat sosok yang kerap disebut sebagai Gandhi of Indonesia, karena gaya berpolitik Hatta itu selalu mengedepankan perdamaian.

“Penderitaan seharusnya membukakan mata pada makna kemanusiaan. Tapi mengapa orang-orang istana justru gemar menciptakan kesakitan pada rakyat banyak?” (hal 23).

Sedari awal terjun dalam organisasi politik, Hatta sudah siap dengan berbagai konsekuensi yang akan dia dapat. Termasuk ketika dia dijebloskan di penjara Belanda. Lalu tidak berselang lama, dia dibuang di Digul, Banda Niera, Penjara Glodok hingga Pulau Bangka. Namun semua perlakuan jahat yang dilakukan Belanda, tidak membuat semangat juang Hatta surut. Dia malah semakin terpacu untuk melakukan pergerakan.

Bersama Syahrir, Hatta bahkan membangun sebuah organisasi yang diberi nama Pendidikan Nasional Indonesia—PNI  yang bertujuan mengumpulkan kekuatan baru  lewat pikiran dan mental anggotanya. Dia yakin dengan pendidikan akan mampu membukakan mata hati terhadap banyak aspek dalam kehidupan ini (hal 163).

 “Rakyat kita tertalu lama ‘dididik’ tentang cita-cita umum dan dendang persatuan. Cara didik yang keliru mengajarkan asas mana yang harus dipakai. Karenanya, kita wajib memajukan pendidikan baru dengan asas yang terang.” (hal  214).

Pandangan ini sangat berbeda dengan  Soekarno yang lebih mengedepankan pada mobilisasi masa.  Namun begitu, karena memiliki tujuan yang sama untuk lepas dari penjajah, mereka pun saling bahu membahu dalam pergerakan. Hingga akhirnya mereka berdiri bersama untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka pun kemudian ditunjuk sebagai presiden—Soekarno dan wakil presiden—Mohammad Hatta.

Hanya saja, setelah  menjabat sebagai wakil presiden selama sebelas tahun, tiba-tiba Hatta memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Dia memilih menjadi rakyat biasa. Dia sudah tidak kuasa lagi melihat berbagai penyelewengan wewenang di istana.

“Kita selalu menggembar-gemborkan, bahwa negara kita berdasarkan pancasila, tetapi di mana keadilan, perikemanusiaan dan demokrasi yang sebenarnya. Apa  yang terjadi? Di masa lalu orang-orang pergerakan berjuang untuk mematahkan penindasan dan kezaliman kolonial Belanda. Kini, pemerintah yang merdeka justru mengunci ranah kekebesan rakyatnya. Adakah demokrasi, kalau orang merasa takut, harus tutup mulut, kritik tidak diperbolehkan, sehingga berbagai hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan berlaku leluasa?” (hal 296).

Membaca buku ini seperti memasuki langsung masa lalu, tentang perjalanan Bung Hatta selama masa pergerakan. Semangat juang Bung Hatta nampak jelas terpancar melalui kisah ini. Dialah sosok pahlawan yang bersahaja,  adil, peduli dengan pendidikan rakyatnya juga menghargai kedamaian. 
Buku ini secara tidak langung menjawab berbagai rasa penasaran saya tentang kehidupan Bung Hatta, yang memang dalam berbagai literatur jarang dibahas. Bahkan dalam buku materi sejarah. Berbanding terbalik dengan Soeharto yang mana sudah sangat banyak buku yang membahas kisah hidup, perjuangan juga pemikiran dari berbagai sisi.

Secara keseluruhan buku ini memang sangat asyik dinikmati. Bahasa renyah dan tidak sukar dipahami. Hanya saja saya merasa ada bagian yang tidak runtut, bahkan terkesan loncat-loncat, sehingga membuat saya cukup kaget dengan pergantian lokasi atau cerita yang tiba-tiba. Namun lepas dari kekurangannya buku ini tetap rekomendasi untuk dibaca.

Melalui kisah ini, kita dapat meneladi sikap hidup Bung Hatta yang sangat menginsprisai. Kita diajak menjadi pribadi yang tidak mudah putus asa, juga gemar membaca. Kita juga diajak untuk bersatu dan berjuang bersama untuk mencapai satu tujuan.

 “Karena itu, setiap perpecahan, dalam bentuk apa pun, sangat ditentang. Hanya melalui persatuan putra-putra Indonesia kita dapat mencapai tujuan.” (213).

Srobyong, 8 Maret 2018