Showing posts with label Non Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Non Fiksi. Show all posts

Monday, 13 January 2025

Resensi Digital Minimalis - [Memegang Kendali Diri di Tengah Gempuran Teknologi]

 

Judul               : Digital Minimalism; Mempertahankan Fokus di Tengah Dunia yang Gaduh

Penulis             : Cal Newport

Penerjemah      : Agnes Cynthia

Penerbit           : Gramedia

Cetakan           : Pertama, 2024

Tebal               : 360 halaman

ISBN               : 978-602-06-4469-1

Peresensi         : Ratnani Latifah, Penulis tinggal di Jepara


Seharusnya, kita  adalah orang yang memegang kendali kehidupan di dunia ini. Kita yang menentukan cara menjalani kehidupan,  juga cara menghadapi dunia yang serba cepat.  Akan tetapi, faktanya saat ini teknologi-lah yang mulai memegang kendali atas diri kita. Gempuran teknologi yang semakin hari semakin pesat membuat kita  menjadi kewalahan. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu dengan ponsel pintar, dibandingkan membangun relasi secara nyata dengan komunikasi terbuka tanpa gangguan gadget.


Lalu bagaimana kita menghadapi gempuran teknologi, agar tetap bijak dalam memanfaatkan fasilitas tersebut? Buku Digital Minimalism ini akan membantu kita menemukan cara mengendalikan diri agar tidak lagi terjebak di dunia digital, cara tetap fokus di tengah dunia yang gaduh.


Disadari atau tidak, saat ini kita memang tengah terjebak di dunia digital yang membuat kita selalu fokus pada layar handpohone. Setiap hari, setiap waktu kita akan berkutat dengan ponsel pintar sejak bangun tidur hingga bersiap tidur kembali. Kita menghabiskan waktu untuk mengecek surel, mengecek notifikasi media sosial yang kita miliki. Bahkan di saat  sedang makan, kita masih berkutat dengan ponsel untuk hal-hal kecil, seperti melihat status teman dunia maya kita, melihat jumlah like postingan kita, atau untuk menonton drama.


Tanpa kita sadari, ketika kita jauh dari ponsel, ada perasaan tertinggal dan tidak nyaman karena tidak mengetahui seputar info terbaru. Dan sering kali kita menjadi tidak tenang dan penasaran mengintip jumlah like, share atau komen di posingan kita. Apakah postingan kita diminati, menarik dan disukai?


Fenomena ini,  membuat Bill Maher mengungkapkan kegelisahannya. Apa yang ia lihat dan rasakan saat ini, mengingatkannya tentang perusahaan tembakau yang merekayasa rokok mereka agar  menjadi lebih candu.  Sehingga ia menyimpulkan seperti ini.


“Mengecek  berapa jumlah ’like’ yang kita terima  saat ini adalah  nikotin jenis baru.”

 (hal. 11)


Jika kita memikirkannya kembali, rasanya kita memang sering melakukannya, bukan? Media sosial itu seperti candu yang membuat kita kadang sulit untuk berbalik arah dan cenderung menggunakan banyak waktu untuk berselancar di sana.


Apa itu kecanduan? Dalam buku ini dijelaskan,


“Kecanduan adalah kondisi ketika seseorang mengonsumi zat tertentu atau memiliki perilaku tertentu karena ganjaran yang diterimanya memberikan intensif yang menarik untuk mengulangi perilakunya meskipun konsekuensinya bersifat merusak.”

(hal. 19)


Rasa-rasanya bukankah kadang kita seolah telah berada di jalan persimpangan ini? Kita sadar terlalu fokus di media sosial itu kadang dampaknya tidak baik, tetapi kita masih terus mengulanginya lagi, bukan?  (Membaca buku ini jadi menatap diri sendiri, semoga pelan-pelan dapat berubah dan lebih bijak menggunakan media sosial. Hisk)


Dunia digital pelan-pelan  telah mengalihkan dunia nyata kita, hingga kita seolah abai dengan keadaan sekitar. Saat berkumpul bersama teman, saudara atau keluarga,  raga kita memang berada di sana, tetapi jiwa kita tidak fokus di sana. Kita lebih sering mengecek gadget, kita asyik berselancar sendiri, atau kita tidak fokus saat diajak berbicara.


Ketika bersama anak atau momen berkumpul dengan keluarga,  kita tidak lagi fokus menikmati momen kebersamaan yang menyenangkan, kadang kita lebih fokus untuk merekam segala kegiatan itu guna untuk dishare di media sosialnya. Sehingga kita jadi sulit menikmati sebuah momen yang indah dan berkesan karena sibuk membuat dokumentasi.


“Teknologi-teknologi ini semakin lama semakin mendikte cara kita dalam berperilaku serta apa yang kita rasakan. sehingga entah mengapa kita sering memaksakan diri menggunakan ia lebih dalam daripada melakukan kegiatan lain yang lebih bernilai.”

(hal. 9)


Terlepas dari pengaruh negatif dalam perkembangan teknologi, kita pun tahu bahwa teknologi sebenarnya tidak selalu buruk—ia memiliki banyak manfaat dan kegunaan, ia memudahkan dan meringankan, tetapi bagaimana kita  menggunakannya akan membawa pengaruh besar  dalam kehidupan kita. Agar kita dapat mengendalikan diri di tengah gempuran teknologi dan bahaya kecanduan teknologi, ada baiknya kita mencoba menerapkan kiat yang dipaparkan penulis ini.


Salah satunya kita dapat memulainya dengan menerapkan  minimalisme digital; yaitu membangun kebiasaan  menggunakan teknologi hanya untuk hal-hal yang penting, dengan melihat manfaat dan dampaknya bagi diri kita. Kita tidak perlu memiliki media sosial, tetapi gunakan yang memang kita butuhkan dan perlukan.  


“Filosofi tentang pemanfaatan teknologi, ketika Anda memfokuskan waktu dari Anda pada sejumlah kecik kegiatan yang telah dipilih dengan saksama dan dioptimalkan, yang menunjang hal-hal yang menurut Anda penting, dan membuat Anda dengan gembira dapat melewatkan semua kegiatan daring lain.”

(hal. 35)


Untuk mewujudkannya, kita harus belajar menerapkan prinsip-prinsip minimalisme digital, yang sudah dijelaskan sangat gamblang oleh penulis di buku ini.


Kemudian, cara kedua kita dapat mulai bersih-bersih digital, yaitu  mulai mengambil jeda dari sejumlah teknologi selama kurang lebih  tiga puluh hari. Kita dapat menghapus aplikasi yang tidak kita butuhkan, kita menyeting notifikasi agar tidak membuat kita kewalahan. Setelah masa jeda selesai coba kembali berkenalan dengan teknologi dan memiliki  menentukan nilai teknologi  yang akan kita gunakan. 


Penting untuk kita ketahui, berdasarkan hasil studi telah dijelaskan, bahwa kadang media sosial itu memang membuat kita terkoneksi, tetapi di sisi lain kita juga nerasa kesepian. Kita bahagian tetapi juga sedih.


“Penggunaan media sosial dan ponsel cerdas tampaknya telah menyebabkan meningkatnya isu-isu kesehatan mental di kalangan remaja.”

(hal. 135)




Secara keseluruhan buku ini sangat menarik.  Penulis melengkapi buku ini dengan kisah nyata dari para pejuang minimalisme digital yang mengungkapkan betapa hidup menjadi lebih menyenangkan dan terkendali ketika kita dapat menggunakan teknologi secara bijak. Selain itu penulis juga memberikan arahan dan tips bagaimana agar kita belajar konsisten untuk memperbaiki pola hidup yang lebih menyenangkan dengan mengurangi paparan teknologi.


Dengan menerapkan minimalisme digital kita dapat memaksimalkan waktu kita untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, lebih produktif, memiliki kualitas tidur yang baik, dan hidup lebih seimbang.


Memang benar tidak ada salahnya kita memanfaatkan tekonologi, tetapi jangan sampai karena teknologi kita kehilangan jati diri, kita menjadi asing dengan orang-orang yang kita kasihi. Seimbangkan kehidupan kita di dunia digital dan non-digital, agar hidup menjadi lebih tenteram. 


Bijak menggunakan teknologi, akan sangat membantu kita mewujudkan diri untuk lebuh dapat mengendalikan diri, untuk menikmati hidup yang telah banyak terkikis modernisasi.


Srobyong, 13 Januari 2025


 

Sunday, 22 December 2024

Resensi Buku Mendengarkan dengan Hati


Judul: Mendengarkan dengan Hati: Menciptakan Hubungan yang Tulus dan Saling Percaya 

Penulis: Patrick King 

Terjemah: Susi Purwoko

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 

Cetakan:  Pertama, 2024

ISBN: 978-602-06-7653-1


"Tanpa hati, seseorang tidak bisa terhubung di tingkat pribadi dan manusiawi yang mendalam."

(hal. 42)


Salah satu cara agar komunikasi berjalan lancar, agar komunikasi yang kita bangun dengan  siapa pun tidak membuat seseorang  merasa diabaikan adalah dengan menjadi pendengar yang baik. Ketika  kita dapat menjadi pendengar yang baik  saat berkomunikasi dengan siapa pun, maka kita  dapat membangun hubungan yang harmonis dan menyenangkan dengan siapa pun. 


Masalahnya bagaimana agar kita dapat menjadi pendengar yang baik dalam berkomunikasi? Bagaimana  agar kita tidak hanya sekedar mendengarkan, tetapi juga dapat merasakan emosi dan berempati pada teman bicara kita?  Buku ini dapat menjadi bacaan yang akan membantu kita untuk belajar seni mendengarkan dengan hati.


Melalui buku ini kita jadi paham bahwa mendengarkan adalah inti komunikasi yang benar, dan komunikasi yang benar adalah inti setiap hubungan  yang bermakna yang dapat kita miliki dengan orang lain. Karena itulah belajar mendengarkan untuk membangun komunikasi yang baik sangat dianjurkan.


Dan melalui buku ini kita diingatkan bahwa menjadi pendengar yang baik itu bukanlah sikap sosial yang mewah, atau sesuatu yang harus kita lakukan demi  orang lain, tetapi menjadi pendengar yang baik akan bermanfaat untuk diri sendiri juga untuk orang-orang di sekitar kita. 


Kita mungkin pernah mengalami saat berkomunikasi dengan pasangan, teman atau siapa pun, mereka seolah mendengarkan tetapi faktanya mereka tidak  mendengarkan secara mendalam. Sehingga kita merasa diabaikan dan diam-diam terluka.



Pada kesempatan lain ketika kita menceritakan sesuatu pada teman, tetapi teman kita itu meskipun mendengarkan, tetapi tangannya sibuk dengan gawai. Pada saat itu rasanya pasti tidak menyenangkan, bukan? 



Begitu pula ketika kita yang posisinya sebagai pendengar tetapi kita hanya mendengarkan secara sekilas,  lalu dengan santainya memberikan masukan menurut sudut pandang kita sendiri, tanpa memikirkan emosi atau perasaan teman bicara kita. Ia yang bercerita mungkin merasa tidak puas. Bisa jadi ia sebenarnya tidak ingin mendengarkan solusi, tetapi hanya ingin didengar. Jadi runyam, kan, kalau kita tidak dapat memahami lawan bicara.


Di dalam buku ini dijelaskan ada empat gaya komunikasi yang sebaiknya kita pelajari untuk membangun komunikasi yang baik, berdasarkan pilihan, kepribadian dan tujuan seseorang berbincang. Di antaranya  gaya "berorientasi pada orang" gaya mendengarkan yang memberi perhatian pada orang sebagai suatu keutuhan beserta perasaan-perasaannya.  (hal. 36)


Dari empat gaya tersebut agar kita dapat menjadi pendengar yang baik, maka kita dapat membingkai dan menggunakan pendekatan hati. Orang-orang yang melakukan pendekatan hati, biasanya terlebih dahulu mementingkan konten emosional, dan berusaha terhubung. Mereka biasanya mementingkan motivasi, nilai, perasaan dan penghargaan.


Dan agar kita dapat menerapkan seni  mendengarkan dengan hati, maka sebaiknya kita dapat memahami lima tingkatan mendengarkan. Apakah kita orang yang mendengarkan dengan acuh, pura-pura mendengarkan, memilih apa yang didengarkan, mendengarkan dengan perhatian, dan mendengarkan dengan empati.


Selanjutnya tidak kalah penting kita juga harus belajar memvalidasi apa yang dibicarakan lawan bicara kita. Validasi adalah salah satu praktik memberi dan menerima dalam komunikasi sebagai upaya membangun sikap saling menghormati antara dua orang.

 

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik. Masih banyak penjelasan lain yang dipaparkan penulis terkait cara menjadi pendengar yang baik; mendengarkan dengan hati. Dipaparkan dengan gaya bahasa yang sederhana  dan tidak membingungkan, buku ini sangat menarik untuk kita kaji secara mendalam. 


Melalui buku ini kita mendapatkan banyak sekali pemahaman baru terkait cara berkomunikasi, di antaranya: 

1. Cara menjadi pendengar yang baik yang mendengarkan dengan hati.

2. Cara membangun hubungan harmonis antara sesama.

3. Cara menciptakan hubungan dan komunikasi yang tulus.

4. Bagaimana cara memberikan validasi pada teman yang berkomunikasi dengan kita.

5. Mengetahui tipe komunikasi seperti apa yang kita miliki, apakah tipe yang narsis atau menjadi pendengar yang baik? 


Penting untuk kita pahami 


"Komunikator yang baik cenderung lebih sedikit bicara dibandingkan komunikator yang buruk." 

(hal. 16)


"Anda akan menjadi orang yang pandai bercakap-cakap dengan menjadi rendah hati, ramah, dan ingin tahu tentang betapa menariknya orang lain." 

(hal. 17)


"Menjadi komunikator yang empatetik adalah menjadi pribadi yang matang secara emosional dan nyaman dengan emosi-emosi, apa pun emosi itu."

(hal. 98-99)


Sunday, 21 October 2018

[Resensi] Bahagia dengan Belajar Memaafkan

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 7 Oktober 2018


Judul               : Chiken Soup for the Soul : Kekuatan Memaafkan
Penulis             : Amy Newmark & Anthony Anderson
Penerjemah      : Susi Purwoko
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 504 halaman
ISBN               : 978-602-03-7508-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Kebahagiaan tidak hanya diukur dengan materi. Karena kebahagiaan yang sebenarnya itu ketika kita bisa menerima dan bersyukur dengan apa yang kita miliki, merasa ikhlas dan mau berdamai dengan diri sendiri, serta mau memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan orang lain terhadap kita.  Tidak ada kemarahan atau dendam, karena kedua sikap tersebut hanya akan menghambat hidup kita.  Sedang meninggalkan kemarahan dan dendam di masa lalu, akan membuat kita bebas (hal xi).


Buku ini sendiri berisi 101 kisah tentang kekuatan memaafkan yang dijabarkan dengan bahasa yang mudah dipahami dan sangat persuasif. Kisah-kisahnya sangat  menginspirasi dan akan memotivasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kita akan disadarkan tentang pentingnya memaafkan baik kepada orangtua, diri sendiri, serta berbagai masalah lainnya.

Kita sebut saja kisah yang dipaparkan oleh Kara Sundlun. Dia memaparkan bahwa  memaafkan adalah  hadiah terbesar yang  bisa dia berikan pada diri sendiri (hal 12).  Sejak kecil Kara tidak pernah mengenal sosok ayahnya. Bahkan fotonya pun dia tidak pernah melihat. Sehingga dalam masa kanak-kanaknya itu dia hanya mengetahui dari sang ibu, bahwa ayahnya bernama Bruce Sundlun. Hingga suatu hari ketika dia berusaha 13 tahun, tanpa sengaja dia melihat sosok ayahnya yang saat itu tengah mencalonkan diri menjadi gubernur Rodhe Island.

Akan tetapi saat itu,  Kara harus menelan kekecewaan ketika sang ayah tidak pernah mau  mengakui dirinya sebagai anaknya, bahkan setelah dia melakukan tes DNA. Ayahnya juga tidak mau membalas surat yang dia kirim. Bahkan untuk membantu dirinya membayar uang kuliah pun tidak mau.   Namun di tengah kemarahan dan kekecewaan  yang dialami Kara, tiba-tiba ayahnya mengundang Kara untuk hidup bersama dan saling mengenal sebagai ayah dan anak. Saat itu Kara bisa saja menolak ajakan itu, setelah perilaku ayahnya yang jahat. akan tetapi Kara memilih memaafkan, karena dengan memaafkan hatinya lebih lapang dan dia bisa memulai hidup baru tanpa adanya kemarahan dan dendam.

Ada pula kisah yang dipaparkan oleh Kate White. Sejak kecil dia tinggal bersama seorang ibu yang kecanduan obat-obatan. Ibunya tidak pernah peduli pada dirinya, juga saudara-saudaranya. Ketika ibunya sudah di bawah pengaruh obat-obatan, maka ibunya akan lupa pada sekitarnya, lupa memberi Kate dan saudaranya makan, serta lupa menjemut mereka di sekolah.  Kenangan masa kecil itu, menumbuhkan kebencian Kate pada ibunya. Dia merasa tidak terima dengan perlakukan ibunya. Kebencian itu dia pupuk hingga delapan belas tahun.

Namun berjalannya waktu, ketika Kate akhirnya menjadi seorang ibu, dia menyadari bahwa ada yang salah pada dirinya. Dia tidak boleh menyimpan kebencian kepada ibunya yang saat itu sudah meninggal. Dia harus memaafkan semua kesalahan ibunya, agar mulai bisa mendidik anak lebih baik, dari didikan yang dia terima sebelumnya. “Ketika kau belum memaafkan mereka yang pernah melukaimu, kau memunggungi masa depanmu. Ketika kau memaafkan, kau mulai berjalan maju.” (hal 61). 

Lalu ada kisah dari Michael T. Smith.  Karena sebuah kesalahpahaman dan keangkuhannya, Michael dan adiknya tidak saling bertemu dan menyapa. Semua bermula dari surat elektronik yang dikirim, Bob, adiknya. Sebenarnya surat itu isinya biasanya saja. Namun karena saat itu hidup Michael sedang kacau dan telah mengangguk beberapa bulan, maka surat itu membuatnya marah. Kemarahan itu pun berlanjut hingga lima tahun lamanya.

Ketika adiknya berulang kali mencoba menghubingi, Michael dengan angkuh tidak pernah mau memedulikan panggilan adiknya.  Sejak saat itu dia menjalani hidup dengan rasa bersalah yang terus menghantuinya. Lalu suatu hari  dia menyadari bahwa menyimpan kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah. Dia pun mulai berusaha menghububungi adiknya untuk meminta maaf dan menjalin kembali hubungan keluarga yang pernah diputus itu. “Hidup itu terlalu singkat, dan juga terlalu lama, untuk memelihara dendam.” (hal 151).

Selain tiga kisah tersebut, kisah yang lainnya pun tidak kalah seru dan menginspirasi.  Secara keseluruhan, buku ini mengajak kita untuk menjadi pribadi yang mau memaafkan. Dengan memaafkan hidup kita akan jadi lebih baik dan bahagia. Kita tidak akan diperbudak kemarahan dan dendam. Tony Robbins memaparkan, “Memaafkan adalah hadiah yang kau berikan pada dirimu sendiri.” (hal 418).

Srobyong, 1 September 2018 

Wednesday, 17 October 2018

[Resensi] Terapi Islam agar Hidup Lebih Bermakna

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 28 September 2018


Judul               : Lepas dari Lapas Hidup
Penulis             : KH. Adrian Mafatihallah Kariem, MA
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, Maret 2017
Tebal               : xviii +446 halaman
ISBN               : 978-602-0822-242-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumi Univeristas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (hal x).

Dalam hidup ini kita tidak mungkin terhindar dari berbagai masalah.  Silih berganti berbagai masalah akan hadir dan menjadi bumbu kehidupan kita. Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Apakah kita siap untuk mengatasinya atau memilih pasrah menyerah dengan keadaan yang ada.  

Kita pasti menyadari bahwa untuk menjadi sosok yang pandai bersyukur, sabar dan ikhlas bukanlah perkara mudah. Namun, bukan berarti kita tidak bisa melakukannya. Islam sebagai ajaran suci memberikan terapi kehidupan, sarat kebahagian sejati yang menjadi dambaan setiap insan. Buku ini hadir menyajikan risalah-risalah indah agar hidup kita tak gundah, bisa lepas dari lapas masalah. Siap tampil berjuang mencari solusi tidak terisolasi dari masalah (hal xi).

Di antaranya, kita bisa memulainya dengan berlatih bersyukur.  Di sadari atau tidak banyak orang yang berbahagia tetapi belum tentu bersyukur, sebaliknya orang yang bersyukur hidupnya dijamin akan berbahagia. Syukur memilih kekuatan bagi kita dalam menghadapi berbagai masalah yang kita hadapi.   Perlu kita catat orang yang senantiasa bersyukur dengan apa yang ada akan tetap survive dalam keadaan snang dan susah sekalipun. Perjalanan hidupnya diberikan kekuatan keberanian melewati tantangan, walau batu karang kebencian dan fitnah menghadang (hal 10).

Dengan bersyukur maka kita akan tumbuh sukap qanaah (kepuasan jiwa), kemudian akan tercipta istiqamah (konsisten) dan memiliki semangat intropeksi sebagai senjata ampuh melumpuhkan musuh keserakahan dan keangkuhan. Di sisi lain sikap syukur, akan mendekatkan kita kepada Allah (hal  11). 

Penulis menjelaskan, bahwa “hamba yang bersyukur, lisannya kana bertutur teratur, pikirannya terukur, pergerakannya sesuai alur, hatinya tertanam sifat-sifat luhur. Sebaliknya, hamba yang kufur, lisannya akan ngelantur, pikirannya ngawur, hatinya takabur, tingkahnya lakunya tidak tercerminkan budi pekerti yang luhur, sudah pastinya hidupnya akan hancur lebur.” (hal 16).

Kemudian kita harus membiasakan berterima kasih. Berterima adalah ajaran mengagumkan yang menjadikan seseorang beruntung dan hidup tambah babagia, hati lega, lapang jiwa. Tahu berterima kasih menunjukkan bahwa kita termasuk pribadi yang mulia, lepas dari kata terhina, gengsi, perasaan malu. Kita tidak perlu merasa malu ketika mendapat bantuan orang lain. Sebaliknya kita harus bersyukur dengan mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang telah menolong kita.  Kita mengucapkan hamdalah atas rahmat yang Allah berikan.

Tidak kalah penting adalah berbakti kepada orangtua. Kita pasti sudah sering mendengar bahwa rida Allah terletak pada ridah orangtua dan murka Allah terletak pada kemurkaan orangtua. Maka sudah semestinya kita harus selalu berbuat baik dan jangan pernah sekali-kali membatah orangtua. Dari rida mereka-lah hidup kita bisa menjadi berkah. Sebaliknya jika kita bersikap kasar dan bahkan durhaka, maka dipastikan hidup kita pun jadi tidak berkah, rezeki sulit didapat, kehidupan penuh masalah, kesukaran selalu menghadang langkah kita.

Selain beberapa hal yang sudah dipaparkan tentu saja masih banyak risalah lain yang sangat membangun dan memotivasi. Semisal tentang pentingnya memiliki keyakinan tinggi dari motivasi diri bahwa tidak ada yang tak mungkin tercapai kalau tertanam tekad pasti bisa. Ada pula kepercayaan diri bahwa kita memiliki segudang keunggulan yang bisa diexplorasi untuk ditebar manfaatnya.  Atau adapula nasihat bagi kita untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap masalah.  Kita harus berani menghadapi masalah meskipun nanti hasilnya tidak sesuai harapan kita, dan masih banyak lagi.

“Kalah sebelum bertanding itu namanya kemalangan. Sebaliknya berani bertanding itu namanya indah meraih kemenangan.” (hal 149).

Buku ini sangat membantu kita untuk mulai berikhtiar dalam usaha memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.  Kita diajak untuk menjadi pribadi tangguh yang tidak mudah terbelenggu berbagai masalah. Dilengkapi dengan kisah-kisah inspiratif dan quote yang membangun, menjadi nilai lebih buku ini.

Srobyong, 18 Agustus 2018 

[Resensi] Mengkritisi Polemik Negeri Lewat Humor

Dimuat di Kabar Madura, Sabtu 29 September 2018


Judul               : Kelakar Madura Buat Gus Dur
Penulis             : H. Sujiwo Tejo
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-8648-25-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Humor adalah cerita pendek yang memiliki unsur kelucuan dan diharapkan  bisa menghibur pembaca. Namun di sisi lain humor juga bisa menjadi salah satu cara mengkritisi secara halus. Buku yang terdiri dari 32 kisah ini mencoba menghadirkan berbagai kritik politik dan sosial dengan cara halus dan lucu. Uniknya kisah-kisah ini mengkaitkan antara Madura dan Gus Dur. Sehingga dari kritik yang ada kita juga bisa mengenal lebih dekat tentang budaya madura dan kearifan Gus Dur, meski dengan sikap nyeleneh yang dimiliki.

Sebagaimana kita ketahui, selain dikenal sebagai Presiden, Kiai, Budayawan dan Penggerak Sosial, Gus Dur dikenal juga sebagai sosok komedian, karena sikapnya yang kadang jenaka. Sikap itu pula yang membuat Gus Dur satu-satunya presiden yang mendapat gelar Humoris Causa dari masyarakat (hal 8). 

Misalnya saja dalam humor yang berjudul “Saya Ini Gembala Sapi, Dik” (hal 49).  Kisah ini membuat kita tertawa lewat jalinan kisah yang renyah dan unik. Namun yang pasti lewat kisah ini kita akan menemukan sindiran halus tentang bagaimana tingkah pola para DRP. Di mana Gus Dur pernah memaparkan bahwa DPR itu sama saja dengan Taman Kanak-Kanak. Karena sikap mereka yang tiap kali ada beda pendapat, bukannya di selesaikan dengan musyawarah dan kepala dingin, namun diselesaikan dengan pertengkaran hingga tinju melayang.

Lalu ada pula humor berjudul “Presiden Semar atas Petunjuk dari Langit. Secara tidak langsung dalam kisah ini penulis memaparkan tentang keluhuran sikap Gus Dur yang disamakan lewat tokoh pewayangan, Semar.  Digambarkan dia memiliki sikap aneh, perpaduan lucu, nyentrik, namun juga cerdas, jujur, sederhana, dan berpengetahuan luas.  Gus Dur juga  sosok yang bersahaja, bijak, sabar, tegas dalam memberantas kedurjanaan.

Tidak kalah menarik adalah “Jabatan Rangkap” yang mana dengan gagasan yang sederhana namun menusuk, tentang kebiasaan orang-orang yang rakus, hingga memiliki jabatan rangkap.  “Lho, Bapak  ini sudah jadi anggota DPR saja masih bisa merangkap jadi anggota MPR, masa nyetir sambil mendorong tidak bisa.” (hal 87).

Ada pula humor berjudul “Carok” selain mengkritisi tentang perseteruan para pejabat tinggai demi memenangkan kursi kekuasaan dan masalah Pansus Buloggate yang konon melibatkan Gus Dur.   Dari humor ini kita akan diajak mengenal lebih dekat tentang carok.  Bahwa carok sebenarnya adalah tradisi perang orang Madura ketika harus menghadapi sebuah permasalahan yang menyangkut harga diri, yang kemudian diikuti antar kelompok atau klan. Biasanya dalam tradisi ini orang madura berperang menggunakan clurit (hal 137).

Selain humor-humor tersebut, tentu saja masih banyak humor lain yang tidak kalah menarik dan bikin penasaran hingga tertawa terpingkal-pingkal. Apalagi penulis sudah piawai dalam mengolah kata. Sederhana namun memikat, legit dan membuat ketagihan.  Misalnya saja humor “Pemilu Paling Murah” yang mengkritisi kebiasaan para caleg dalam kebiasaan bagi-bagi tanda jasa agar memiliki banyak pengikut.

“Kalau gambar-gambar di kertas suara itu nanti ditusuk sate, maka pakunya harus diikutsertakan juga. Kita tidak Cuma menyediakan satu paku untuk setiap pencoblosan. Jumlah paku harus seperti jumlah kertas suara. Bayangkan kalau seluruh Indonesia, sudah berapa paku. Mahal.” (hal 70).

Humor lainnya seperti Nasihat Secara “Sor Mejo Keh Ulane”, Kunjungan dalam Negeri dengan Bejak, Sidang Pansus Buloggate,  Juru Bicara Presiden, Sepatu Tentara, Kisah Pendorong Komedi Putar, Nyanyian Tanah Madura dan banyak lagi.

Maka tepat sekali ketika Moh, Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2011, dalam endorsnya memaparkan, “Dengan cara canda yang segar Suwijo Tejo selalu berhasil melancarkan kritik tajam kepada kita tanpa membuat kita marah. Buku Kelakar Madura Buat Gus Dur contohnya. Dia gambarkan Gus Dur menggunakan kekuasaannya dengan enteng, tampa beban dan berani. Dia gunakan setting masyarakat Madura yang lugu, menggemaskan, cerdik tapi tidak licik. Isinya kritik kanan kiri, tembak sana tembak sini.”

Buku ini patut diapresiasi. Membacanya kita akan mendapat banyak pengetahuan juga mendapat hiburan yang menyenangkan.

Srobyong, 22 Juli 2018



[Resensi] Kekuatan Berpikir Positif dan Tidak Mudah Menyerah

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 16 September 2018


Judul               : Jangan Mudah Mengeluh
Penulis             : Dwi Suwiknyo, dkk
Penerbit           : Quanta
Cetakan           : Pertama, Desember 2017
Tebal               : 260 halaman
ISBN               : 978-602-04-5363-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Univeritas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Teruslah melangkah meski terasa lelah. Teruslah berjuang meski cobaan kian menerjang. Karena kemenangan hanya milik mereka yang tak kenal putus asa.” (hal 7).

Sekali dua kali kita mengeluh mungkin tidak masalah. Mengingat hidup kadang tidak berjalan sesuai dengan rencana kita. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kita mengeluh setiap hari, bahkan setiap jam atau setiap menit. Bukankah itu namanya keterlaluan? Padahal masih banyak nikmat dan rahmat yang telah Allah bagikan kepada kita.  Yang penting kita mau berusaha dan ikhtiar.

Buku yang diambil dari kisah nyata—berasal dari sayembara menulis kisah inspriratif yang digalakkan oleh Dwi Suwinyo—akan mengingatkan kepada kita tentang pentingnya bersikap positif dan tidak mudah menyerah. Kita disadarkan bahwa sering mengeluh itu tidak akan menyelesaikan masalah. Mengeluh hanya akan membuat kita lemah dan mudah terjangkit sikap putus asa. Sebaliknya jika kita selalu berpikir positif, maka kita akan menjadi pribadi yang kuat dan terus berusaha sekuat tenaga menyelesaikan masalah atau rintangan yang menghalangi jalan kita.

Terdiri dari 20 kisah yang menarik, inspiratif dan memotivasi, kita akan dibuat hanyut dengan masing-masing kisah. Apalagi dalam setiap kisah diceritakan dengan gaya masing-masing penulis. Sehingga akan ada ciri khas tersendiri yang dan membuat kita tidak mudah bosan saat membaca buku ini. Ditambah lagi dari setiap kisah akan ada uraian menarik tentang berbagai permasalahan hidup. Meski memang dari setiap tulisan masih ada beberapa kekurangannya, tetap saja buku ini patut untuk kita baca dan renungkan. Karena banyak pembelajaran yang pastinya bisa kita dapat.

Misalnya kisah berjudul “Yang Penting Yakin”. Di mana dari kisah ini kita disadarkan bahwa pertolongan Allah itu nyata. Allah itu tidak pernah tidur. Ketika melihat hamba-Nya yang kesusahan, Allah akan membuka pintu rahmat-Nya. Tentu saja hal itu berlaku bagi orang-orang yang percaya dengan  kuasa Allah. Yang tidak mudah mengeluh, dan selalu yakin bahwa Allah selalu bersama kita. 

Siapa sih yang tidak bingung ketika uang tengah menipis, sedang berbagai kebutuhan tengah menanti? Rasanya kita pasti ingin mengeluh dan menangis. Di sini-lah tantangan  penulis yang  harus benar-benar pandai dalam memilih kebutuhan apa yang akan dia pilih. Bagaimana dia menyakipi keadaan tersebut (hal 2).

Ada pula kisah berjudul “Allah Maharomantis” yang mana dalam cerita ini penulis menjabarkan tentang suka duka dalam meraih impian. Bahwa seyogyanya, setiap manusia pasti memiliki target dalam hidupnya. Meski dalam meraih terget impian itu tidak akan mudah. Akan selalu ada kerikil yang menjadi batu sandungan di setiap kesempatan. Ada jatuh bangun yang harus dihadapi. Pada titik ini, kita akan dihadapkan pada pilihan untuk mengeluh dan menyerah jika terasa berat, atau memilih terus melangkah dengan segala suka duka yang ada.

Bisa menyelesaikan tugas akhir (skripsi) tepat waktu merupakan impian terbesar bagi beberapa mahasiswa.  Hanya saja untuk meraihnya tentu bukan perkara mudah. Perlu usaha yang keras, semangat tinggi  dan tidak mudah menyerah. Di mana kita harus berhadapan dengan dosen pembimbing yang kadang rewel, lalu beburu tanda tangan penguji yang sulit sekali ditemui. Hal inilah yang dirasakan penulis dalam usahanya meraih gelar sarjananya.  Membaca kisah ini seperti membuka lembaran saya sendiri, ketika mengejar kelulusan.  Saat itu, kesabaran kita benar-benar diuji.

Delapan belas kisah lainnya pun tidak kalah menarik dan bikin kita terhanyut. Seperti kisah berjudul “Bapak Hendak Membakar Rumah” ini kisah yang menurut saya sangat menggetarkan hati. Saya yakin, pihak-pihak yang terlibat dalam kisah ini memiliki stok kesabaran yang luar biasa.

“Hidup itu selalu tentang keseimbangan antara nyaman atau tidak nyaman. Keduanya bukan pilihan, tapi keharusan. Pemisahnya adalah kesabaran yang mestinya selalu dikuatkan. Sabar ketika di atas agar tidak jumawa dan sabar saat di bawah agar tidak putus asa.” (hal 31).

Membaca buku ini secara keseluruhan, kita dapat menyimpulkan bahwa sebagai manusia kita memang harus selalu berusaha sebaik mungkin. Kita harus berusaha, namun tidak lupa kita berdoa dan tawakal. Karena sudah pasti rencana Allah adalah yang terbaik dari rencana siapa pun di muka bumi ini.

Srobyong, 18 Agustus 2018

Thursday, 4 October 2018

[Resensi] Meraih Kesuksesan dengan Menerapkan Ikigai

Dimuat di Koran Jakarta  Rabu, 5 September 2018


Judul               : The Book of Ikigai
Penulis             : Ken Mogi, Ph.D.
Penerjemah      : Nuraini Matsura
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Juni 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-385-415-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Salah satu cara agar kita bisa meraih kesuksesan adalah dengan menerapkan ikigai dalam kehidupan sehari-hari.  Ikigai sendiri adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Secara sederhana ikigai adalah filosofi Jepang yang memberikan motivasi, semangat, gairah dan tujuan untuk menjalani hidup. Di mana dengan ikigai, kita bisa menjalani hidup yang lebih menyenangkan, bisa terhindari dari stres bahkan kita bisa meraih kesuksesan.

Dengan penjelasan yang terperinci dan mudah dipahami, Ken Mogi  dengan bukunya,  The Book of Ikigai mencoba menunjukkan tentang peran penting ikigai dalam meraih kesuksesan, dan kisah-kisah inspiratif pelaku ikigai yang patut kita teladani. Dijelaskan pula lima pilar yang harus kita lakukan ketika ingin menerapkan ikigai agar kita sukses.  

Pertama, mengawali dengan hal yang kecil.  Misalnya kebiasaan bangun pagi. Disadari atau tidak kebiasaan bangun pagi akan membuat kita selangkah lebih depan dari pada orang-orang yang terbiasa bangun siang. Sebagaimana yang dilakukan oleh Jiro Ono, pemilik Sukibayasi Jiro, restoran sushi. Dia selalu bangun pagi agar bisa pergi ke pasar untuk mendapatkan ikan terbaik. Dia juga tidak segan untuk memijit daging gurita selama satu jam, agar hasilnya lebih lezat. Dia juga tidak segan  membersihkan sisik dan usus ikan demi menghasilkan sushi yang nikmat (hal 7).

Kebiasaan sederhana itu, merupakan salah satu kunci sukses yang mengangtarkan Jiro  Ono, sebagai  chef bintang-tiga-Michelin dan restorannya menjadi yang terbaik di dunia. Ada pula Hiroki Fujita, yang berdagang tuna di pasar ikan Tsukiji yang terkenal di Tokyo.  Dia selalu bangun pagi agar bisa memperoleh tuna terbaik. Fujita menyadari  seni memilih tuna itu sangat rumit. Jika dia bangun terlambat, bisa jadi dia tidak akan mendapatkan tuna terbaik, dan tidak memperoleh keuntungan.  Di Jepang sendiri kebiasaan bangun pagi memang sudah menjadi kebiasaan sejak masa era Edo (1603-1868) ketika Jepang diperintah oleh  Keshogunan Tokugawa. Di mana hal ini dilakukan demi meraih kesuksesan dalam bidang pertanian (hal 27).

Kedua, membebaskan diri sendiri.  Artinya kita tidak memedulikan definisi sosial, baik masalah pangkat atau profesi. Menurut Mihaly Csikzentmihalyi, seorang psikolog Amerika kelahiran Hungaria, membebaskan diri sendiri berarti kita berada pada  kondisi flow (mengalir). Di mana kita tidak memerlukan pengakuan  untuk hasil kerja atau upaya yang telah kita lakukan. Kita larut dalam aktivitas  sehingga rasanya tidak ada yang lebih penting (hal 78).

Seperti  Sei Shinagon yang nyaris tidak  pernah merujuk posisinya di masyarakat dalam keseluruhan The Pillow Book. Padahal dia merupakan penulis cerita film-tersebut.  Hal itu juga berlaku bagi Jiro Ono, yang tidak memedulikan posisinya sebagai seorang chef hebat. Baginya yang terpenting adalah selalu menghasilkan sushi terbaik, agar siapa saja yang menikmatinya bisa merasakan kenikmatan dan kelezatannya.

Ketiga, keselarasan dan kesinambungan.  Yaitu kita bisa menyesuaikan diri dalam berbagai lingkungan masyarakat dan siap untuk melanjutkan kebiasaan yang sudah ada tersebut. Mengingat di Jepang memang kaya akan adat dan budaya. Seperti kebiasan dalam minum teh juga olahraga sumo. Keselarasan dan kesinambungan merupakan etos  terpenting dan unik  dari cara berpikir masyarakat Jepang.

Sikap inilah yang dipertahankan Ono dalam menjalankan restorannya. Dia melestarikan salah satu makanan khas di Jepang dengan sushinya. Dia berusaha menghasilkan sushi terbaik agar siapa saja yang menikmatinya merasa senang dan puas. Dia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, hingga masih bertahan hingga sekarang. Karena hal itu pula-lah Jiro Ono berhasil meraih kesuksesan.

Selain tiga pilar tersebut masih ada dua pilar lagi yaitu kegembiraaan dari hal-hal kecil dan hadir di tempat dan waktu sekarang. Semuanya saling melengkapi dan jika kita menerapkannya maka kita pun bisa meraih kesuksesan. Dan kita tidak perlu khawatir ikigai ini bukan hanya bisa dimiliki oleh orang Jepang. Karena setiap manusia juga bisa memiliki ikigai sendiri.  Secara keseluruhan buku ini mengajarkan kita untuk  menerima diri sendiri dalam melakukan sebuah pekerjaan.

“Rahasia terbesar ikigai adalah menerima diri sendiri, apa pun ciri-ciri unik yang mungkin kita miliki semenjak lahir.” (hal 183).

Srobyong, 24 Agustus 2018