Showing posts with label Habiburrahman El Shirazy. Show all posts
Showing posts with label Habiburrahman El Shirazy. Show all posts

Tuesday, 4 December 2018

[Resensi] Menyikapi Kejahatan dengan Kebaikan

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 23 November 2018


Judul               : Merindu Baginda Nabi
Penulis             : Habiburrahman El Zhirazy
Penerbit           :  Republika
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : iv + 176 halaman
ISBN               : 978-602-573-419-9
Persensi           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Hidup itu seperti roda yang berputar.  Kadang kita berada di atas, kadang di bawa. Jadi kita tidak boleh terlalu sombong  dengan apa yang sudah kita capai saat ini. Semestinya kita bersikap syukur dan terus menambah iman dan ilmu untuk bekal hidup di dunia dan akhirat.

Setelah sukses dengan karya-karyanya, Kang Abik ini, kembali menelurkan karyanya lagi.  Kali ini dengan pilihan tema yang tidak terlalu berat,  yang saya pikir pas dibaca untuk usia remaja. Karena dalam novel ini lebih banyak kita akan diajak melihat potret dunia remaja dengan berbagai liku kehidupan. Serta kita diajak untuk  merenungi tentang bagaimana kita menghadapi tantangan hidup yang bisa saya katakan tidak mudah.

Seperti biasanya dengan gaya bahasa yang lugas dan mudah dipahami, Kang Abik menghadirkan  kisah yang cukup menarik dan menyentuh. Tentu saja khas dari Kang Abik adalah  nilai-nilai pembelajar hidup yang banyak,  serta adanya unsur dakwa yang sangat kental,  sebagaimana sudah menjadi ciri khas dalam setiap karyanya.

Kisahnya sendiri berpusat pada kehidupan Rifa, gadis dari tong sampah atau gadis terbuang, yang kemudian mendapatkan kasih sayang berlimpah dari orangtua asuhnya.  Dia tumbuh di  Darus Sakinah, yayasan yatim piatu yang diurus oleh Pak Nur, atas wasiat Mbah Tentrem, selaku penemu pertama Rifa. Di sanalah, Rifa didik dengan nilai-nilai agama kental serta pendidikan akhlakul karimah. Sehinga dia tumbuh menjadi gadis yang bersahaja dan pintar. Berbagai prestasi telah dia raih. Bahkan dia sempat ikut pertukaran pelajar ke San jose, Amerika.

Namun ternyata ada Arum, teman sekelas Rifa, yang memiliki  rasa iri dan dengki terhadap Rifa. Apalagi dalam nilai akademisnya selalu kalah dari Rifa. Oleh karena itu dia berusaha agar Rifa bisa tinggal kelas, karena pertukaran pelajar.

“Peraturan kedisiplinan harus ditegakkan tanpa pandang bulu, Bu! Jangan ada yang jadi anak emas pihak sekolah! Nanti akan bikin suasana tidak sehat, Bu!” (hal 39).

Tidak hanya itu Arum juga berusaha mencelakakan Rifa dengan mengirim seseorang, hingga Rifa mengalami kecelakan motor.  Arum juga tidak segan menyingkirkan orang-orang yang membela dan melindungi Rifa.  Namun begitu, Rifa tetap memilih sabar dan tetap berbuat baik kepada Arum. Dia selalu ingat dengan pesan ibunya.

“Di dunia ini isinya tidak hanya orang baik, ya ada orang jahat (buruk). Jadi   orang baik atau orang jahat itu pilihan. Jadilah orang yang baik. Kalau kami dinakali orang ya biarkan saja, nggak usah dibalas.  Yang penting kamu tidak nakal dan berbuat nakal kepada orang lain. Kalau kamu dijahati orang ya biarkan saja, nggak usah dibalas. Yang penting kamu tidak jahat dan tidak menjahati orang lain. Kalau kamu difitnah orang ya biarkan saja, nggak usah dibalas. Yang penting kamu tidak memfitnah orang lain. Kalau kamu berbuat kebajikan tapi tidak dianggap oleh orang lain ya biarkan saja, tidak usah dipikir, sebab Gusti Allah itu Maha Adil. Kalau Allah bersamamu, apalagi yang kamu khawatirkan?” (hal 86).

Selain fokus pada kisah perjalanan hidup Rifa, akan disinggung pula tentang kerinduan umat kepada Rasulullah saw. Kerinduan yang mampu mengantarkan seseorang pada tempat yang tidak terduga. Serta kerinduan yang membuat seorang insan ingin selalu meneladani sikap Rasulullah.

Secara keseluruhan novel ini cukup ringan dan menarik untuk dibaca. Namun dari sekian banyak kelebihan yang ada, saya merasa novel ini juga memiliki banyak lubang kekurangan. Saya merasa ekseskusi cerita kurang memuaskan dan kisahnya cukup datar dan tidak ada gelombang yang berarti. Bahkan untuk pilihan judul, telah membuat saya terkecoh dengan isinya. Namun lepas dari kekurangannya, melalui novel ini kita bisa belajar tentang arti syukur, sabar dan ikhlas dalam menerima takdir.  Kita juga diajarkan untuk tetap berbuat baik, meski telah dijahati. Selain penulis juga menyisipkan pesan agar kita gemar membaca, menghindari narkoba, pornografi serta selalu semangat dalam mencari ilmu dan meraih cita-cita. Karena iman dan ilmu adalah kunci sukses dalam menghadapi tantangan hidup.

“Teman terbaik kalian  dalam menghadapi  tantangan hidup adalah iman dan ilmu. Ilmu adalah investasi terbaik yang akan terus mendatangkan keuntungan setiap saat.” (hal 89).

Srobyong, 18 November 2018

Tuesday, 13 February 2018

[Resensi] Belajar Memaknai Kesabaran dan Keikhlasan Melalui Novel

Dimuat di Koran Pantura, Senin 5 Februari 2018 


Judul               : Bidadari Bermata Bening
Penulis             : Habiburrman El Shirazy
Penerbit           : Republika
Terbit               : April 2017
Cetakan           : Kedua, Mei 2017
Tebal               : iv + 337 halaman
ISBN               : 978-602-0822-64-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Kalau misal nanti  kenyataannya tidak seperti yang kau bayangkan. Kamu harus sabar.” (hal 121). 

Mengambil latar dunia pesantren, novel ini mengajarkan bagaimana cara memaknai kesabaran dan keikhlasan.  Dengan gaya tutur bahasa yang halus dan renyah, Kang Abik—panggilan dari Habiburrahman El Shirazy hadir kembali menyapa  pembaca Indonesia  dengan kisah novel religi yang tidak kalah inspiratif dari karya-karya sebelumnya.

Novel ini sendiri berkisah tentang sosok Anya yang tengah menuntut ilmu  di Pesantren Kanzul Ulum, pesantren tua di Magelang, yang diasuh oleh Kyai Sobron. Selama mengais ilmu di sana, Anya merupakan khadimah—pembantu perempuan atau abdi dalem dari pondok pesantren tersebut.  Selama mondok di sana, selain mendapat kawan-kawan yang baik dan menyenangkan, Anya juga dihadapkan pada berbagai permasalahan yang cukup pelik. Baik itu dari kawannya sendiri yang memiliki kebencian juga dari keluarga dekatnya sendiri—yaitu keluarga Pakde Darsun yang merupakan saudara satu ibu dari ibunya.

Namun begitu, berbagai tekanan yang didapat Anya tak pernah membuatnya gentar. Anya adalah sosok pribadi yang kuat dan tidak mudah menyerah dalam menjalani hidup. Ketika dia dan ibunya di fitnah, Anya dengan keberaniannya mematahkan fitnah tersebut. Dan ketika dia diejek—bahwa nantinya dia hanya akan menjadi TKW seperti ibunya, Anya malah menunjukkan kepandaiannya dengan mendapatkan nilai tertinggi UN se-Jawa Tengah (hal 12-13).

Itu hanyalah awal dari perjalanan hidup Anya. Karena setelahnya, kehidupan Anya jauh lebih berliku dan penuh dengan tantangan. Sebagai gadis yang kini yatim piatu, Anya sadar bahwa tidak mungkin baginya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini-lah yang pada akhirnya membuat Anya ingin tetap tinggal di pondok. Namun sebuah tawaran dari Bu Nyai Nur Fauziyah, akhirnya membuat Anya memilih boyong.  Bu Nyai Nur Fauziyah melamar Anya untuk Kyai Yusuf Badrudduja yang saat itu sudah ditinggal mati istrinya.

Anya sangat bersyukur dengan tawaran itu, karena dia yakin pilihan yang dipilihkan Bu Nyai adalah pilihan yang terbaik bagi dirinya. Namun malang, ketika dia mendiskusikan keinginannya itu kepada  Pakde Darsun dan istrinya, mereka malah menolak pinangan itu.  (hal 135).

Di sinilah ujian berat tengah menanti Anya. Ternyata pakde-nya telah menyusun rencana tersendiri untuk menikahkan dirinya dengan Yoyok—seorang pengusaha kaya dan anggota DPRD. Jika dia menolak tawaran pakde-nya, maka tali kekeluargaan mereka akan putus. Betapa hancurnya hati Anya. Andai saja ibunya tidak memberi wasiat padanya untuk tidak memutus tali silaturrahmi, dia sudah pasti memilih menolak mati-matian perjodohan itu.

Dan ketika Anya berharap ada sebuah mukjizat—pertolongan yang bisa mengeluarkannya dari lingkaran setan itu, ternyata pertolongan yang diharapakannya datang sangat terlambat. Ketika keluarga Pak Kyai Sobron ingin meminang Anya untuk Gus Afif,  Anya sudah terlanjur menerima pernikahan itu. Perjuangan keras hidup Anya pun dimulai dari titik itu. Bagaimana di menjaga kesuciannya agar tidak direnggut paksa oleh suaminya yang kerap mabuk dan main wanita. Serta bagaimana dia berjuang menjaga diri agar tidak dijual oleh sang suami untuk menutup perbuatan Yoyok yang melakukan korupsi.

Sebuah novel yang patut dibaca untuk sebuah perenungan. Dipaparkan dengan apik dan memikat membuat novel ini tidak membosankan. Meski pada beberapa bagian ada yang mudah ditebak, Kang Abik tetap menyiapkan kejutan-kejutan kecil yang tidak terduga.

Tidak ada gading yang tidak retak. Di sini saya masih menemukan cukup banyak kesalahan salah tulis. Juga sedikit  kesalahan dalam sebuah penjabaran masalah masa Iddah. Dalam sebuah bagian dipaparkan bahwa sudah seyogyanya wanita yang habis dicerai itu harus menunggu masa iddah sebelum dipinang orang lain. Itu benar jika mereka cerai dan pernah dikumpuli. Namun berbeda jika wanita yang menikah dan dicerai dan  belum dikumpuli, maka tidak ada masa iddah bagi wanita tersebut (hal 218).

Namun lepas dari kekuarangannya, novel ini tetap memiliki banyak sisi positif yang patut dijadikan pembelajaran. Di mana kita bisa belajar tentang bagaimana  Anya dan Gus Afif yang ternyata diam-diam saling menyukai, itu menjaga cinta. Serta bagaimana Anya berjuang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan ketika berbagai cobaan selalu datang menyapanya.

Srobyong, 4 Juni 2017 

Wednesday, 4 January 2017

[Resensi] Novel Pembangun Jiwa

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 30 Desember 2016 

Judul               : Ayat-Ayat Cinta 2
Penulis             : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit           : Republika Penerbit
Tahun terbit     : November 2015
Cetakan           : Empat, Desember 2015
Halaman          : vi + 690 halaman
ISBN               : 978-602-0822-15-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


Keunggulan dalam novel religi adalah tentang pesan-pesan yang cukup banyak bisa diambil sebagai pembelajaran. Sebagaimana dalam novel ayat-ayat cinta 2 karya Kang Abik.   Dalam novel ini pesan yang tersirat atau pun tersurat benar-benar bisa menjadi pembangun jiwa-jiwa yang gersang.  Sebuah novel yang sangat inspiratif dan memikat. Tidak hanya mengungkap kisah cinta yang manis, tapi juga menyisipkan nilai-nilai moral dalam perjalanan  dakwah.

Kisah  dibuka  dengan kehidupan Fahri yang mulai berubah sejak menikah dengan Aisha.  Dia tinggal di   Edinburgh, Scotlandia dan mengajar  di University of Edinburgh. Dia tinggal bersama Paman Hulusi, asisten rumah tangganya. Sebuah kejadian yang tidak terduga, harus membuat Fahri kehilangan Aisha.

Tanggal 2 November 2007 Aisha dan Alice pergi ke Palestina. Tapi setelah tanggal 4 November Aisha hilang seperti ditelan bumi. Fahri sudah melakukan berbagai cara untuk menelusuri jejak istrinya. Namun hasilnya nihil. Dan  pada tanggal  29 Januari 2008 jasad Alicia ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan di daerah Hebron, Israel (hal 118-119).  Kenyataan ini semakin membuat Fahri sedih, memikirkan nasib Aisha.

Untuk melupakan kesedihannya, Fahri mencoba menenggelamkan diri pada penelitian, mengajar dan mengurusi bisnis yang dulu dibangun dengan Aisha.  Selain itu Fahri juga berusaha untuk memulihkan citra Islam.

[Resensi Rasa Sakit Masa Lalu dan Usaha untuk Memeluknya Novel Tentang Kamu]

Dia tidak ingin Islam dianggap sebagai setan, moster atau teroris. Sebagaimana pendapat Keira tetangganya—Keira yang entah kenapa sangat membenci Fahri. Tidak cukup Keira, bahkan Fahri juga disebut sebagai amalek—orang-orang bodoh seperti keledai—oleh Baruch dan teman-teman Yahudinya. (hal 293). Untuk memulihkan anggapan sepihak itu, Fahri melakukan diskusi terbuka membahas tentang amalek  (hal 421). Fahri juga menerima undangan debat tentang permasalah agama dari Oxford. Dia adalah pakar studi Islam sebagai wakil University of Edinburgh (hal 421).

Karir Fahri sangat gemilang kala itu. Hanya saja untuk masalah rumah tangga, dia belum bisa move on dari Aisha. Beberapa kali dia mendapat tawaran untuk menikah lagi. Namun berkali-kali pula dia menolak tawaran itu. Apalagi ada seseorang yang entah kenapa mengingatkan Fahri pada soso Aisha—Sabina, seorang tuna wisma yang pernah ditolongnya. Hanya saja Sabina itu berwajah buruk dan memiliki suara yang serak. Tentu saja sangat bertolak belakang dengan Aisha.

Sampai pada suatu ketika kehadiran Hulya berhasil mlomencairkan hati Fahri.  Di sini kesetiaan Fahri diuji. Antara tetap setiap menunggu Aisha yang tidak berkabar atau melupakan Aisha dan membuka lembaran baru.

Novel setebal  690 cukup membuat saya merasakan pergolakan batin. Antara marah, sedih, kecewa juga bahagia. Gaya bahasa, setting sangat menarik. Kecuali untuk plot yang bagi saya sudah bisa ditebak sejak awal dan karakter Fahri yang terlalu sempurna jika memang ada di dunia nyata. Ditambah novel ini cukup banyak kesalahan penulisan.

Namun lepas dari kekurangnya, novel ini memiliki sisi lain yang pastinya sangat recomended untuk dibaca.  Penulis pandai menggiring pembaca untuk menyelesaikan novel sampai tamat untuk mengungkap kebenaran yang tersamarkan.

Sebagaimana khas karya Kang Abik, novel ini  banyak bertaburan quote inspiratif. Ada banyak renungan yang pastinya bisa menjadi pembangun jiwa.  Sebagaimana pendapat yang dipaparkan Fahri.

“Kita tidak perlu memerkosa agama-agama itu untuk disama-samakan. Tidak perlu. Yang penting dan perlu, adalah membangun kedewasaan dalam beragama. Para pemeluk-pemeluk agama harus menghayati ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh, sereligus-religiusnya dan sedekat-dekatnya mereka dengan Tuhannya, sehingga jiwa mereka menjadi bersih. Lalu hendaknya mereka beragama secara dewasa! Dari situ akan tercipta toleransi yang hakiki, toleransi yang anggun. Adanya agama adalah untuk menjadi pedoman hidup  bagi manusia. Menjadi aturan, hukum dan norma bagi kehidupan manusia.” (hal 574 - 580).

Beberapa pembelajaran yang bisa dipetik setelah membaca novel ini adalah,  penulis mengingatkan pembaca tentang masalah toleransi antar umat beragam, dan selalu berbuat baik pada tetangga.  “Kita tetangga, harus saling membantu.” (hal 38). Selain itu anjuran untuk mengemban dakwah—menegakkan agama Allah. Selamat membaca.

Srobyong, 22 November 2016 

Saturday, 6 February 2016

[Resensi] Kisah Penantian Cinta Berbalut Dakwah


10 tahun lalu Ayat-Ayat Cinta  hadir memberi warna baru pada dunia literasi.  Bahkan membuat saya semakin jatuh cinta pada genre religi. Kemunculan novel tersebut memberi dampak dengan munculnya novel-novel yang hampir serupa. Memang saat itu novel yang ditawarkan Habiburrahman El Shirazy yang lebih dikenal dengan panggilan Kang Abik, memiliki keunikan tersendiri, menawarkan sebuah cinta religi yang sarat makna.  Jadi pantaslah seketika novel itu  laris manis hingga kemudian ada pihak produser yang akhirnya mengankat cerita itu dalam layar lebar. 

Flash back pada novel pertama, akhirnya Fahri bersatu dengan Aisha, gadis keturunan  Turki—Jerman  yang pintar juga cantik jelita dan hidup berbahagia. Sebuah ending yang mungkin pasti banyak disetujui pembacanya. Mengingat perjungan hidup Fahri cukup berliku.  Dia hampir dihukum mati karena fitnah dari  gadis yang pernah ditolongnya—karena cinta gadis itu tidak berbalas.  Lalu ada juga Maria—seorang Kristen Koptik juga tetangganya,  yang ternyata memendam cinta teramat banyak pada Fahri. Maria sangat beraharap bisa menikah dengan Fahri.

Dan sekarang sekarang kisah antara Fahri dan Aisha ternyata ada kelanjutannya. Ketika pertama ada kabar terbitnya novel ini, saya sungguh tidak sabar membaca kelanjutan ceritanya. Saya sungguh penasaran bagaimana kelanjutan dari kisah pasangan ini.

Pada sekuel ke dua ini, cerita dimuali dengan Fahri yang sekarang telah tinggal di  Edinburgh, Scotlandia dan mengajar  di University of Edinburgh. Pernikahannya dengan Aisha telah merubah kehidupannya dulu. Tapi meski begitu dia tetaplah sosok Fahri yang selalu peduli pada orang-orang disekitarnya. Dia hidup bersama Paman Hulusi, asisten rumah tangganya.

Sebuah kejadian yang tidak pernah terduga membuat Fahri harus kehilangan Aisha. Aisha dan Alicia pergi ke Palestina tanggal 2 November 2007. Tapi setelah tanggal 4 November Aisha hilang seperti ditelan bumi. Namun pada tanggal  29 Januari 2008 jasad Alicia ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan. (hal. 118-119) Berbagai cara telah dilakukan Fahri untuk mencari tahu keberadaan Aisha, tapi hasilnya nihil. Itulah yang kemudian membuatnya selalu terlarut dalam kesedihan ketika mengingat Aisha. Untuk menghilangkan kesedihannya dia menenggelamkan diri dengan penelitian, mengajar dan bisnis yang dulu dikelolanya dengan Aisha.

Fahri juga sibuk untuk memulihkan citra Islam. Dia tidak ingin Islam dianggap sebagai setan, moster atau teroris. Sebagaimana pendapat yang dimiliki Keira tetangganya. Gadis pemain biola itu entah kenapa sangat membenci Fahri. Tidak cukup Keira, bahkan Fahri juga disebut sebagai amalek oleh Baruch dan teman-teman Yahudinya. (hal. 293) Untuk memulihkan anggapan sepihak itu, Fahri melakukan diskusi terbuka membahas tentang amalek.  (hal. 421) Fahri juga menerima undangan debat tentang permasalah agama dari Oxford. Dia adalah pakar studi Islam sebagai wakil University of Edinburgh.  (hal. 421)

Fahri benar-benar berada pada masa gemilang karirnya. Tapi tidak dengan rumah tangganya. Dia masih terpaku pada Aisha. Beberapa kali Fahri ditawari untuk menikah lagi. Namun dia belum mantap.  Apalagi dia merasa ada seseorang yang entah kenapa selalu mengingatkannya pada Aisha—Sabina tuna wisma yang pernah ditolongnya. Hanya saja Sabina itu berwajah buruk dan memiliki suara yang serak. Sampai pada suatu ketika kehadiran Hulya berhasil mencairkan hati Fahri.  Apakah akhrinya Fahri menikah dengan Hulya atau tetap menunggu Aisha? Dan sebenarnya Aisha memang masih hidup atau sudah meninggal?  Temukan jawabannya di dalam buku ini.

Novel ini sangat menarik dan membuat saya uring-uringan sendiri. Kenapa Aisha harus memiliki nasib seperti itu? Kenapa porsi Aisha dalam buku ini sangat sedikit? Saya juga bertanya-tanya mungkinkah ada seorang perempuan yang mau merelakan suaminya untuk dimadu? Kecuali untuk orang-orang tertentu memang. Banyak kekesalan yang menyusup dalam dada. Tapi mungkin itulah kehebatan Kang Abik dalam mengaduk-aduk emosi pembacanya.

Sejak ada info akan diterbitkan Ayat-Ayat Cinta 2 saya sudah sangat penasaran sekali. Beberapa kali ikut GA mengadu keberuntungan tapi nyatanya belum beruntung, saya pun akhirnya membeli karena sudah sangat penasaran bagaimana kelanjutan kisah Fahri dan Aisah. Alhamdulillah ketika keinginan kuat, ada rezeki dari Allah. 

Alasan yang membuat novel ini sangat menarik adalah :

Cover

Kebetulan saya penikmat warna cokelat, jadi ketika melihat cover untuk pertama kalinya entah kenapa langsung terpikat. Bangunan yang memikat juga Al-Quran dan mawar merah. Menarik saja. Memang kita tidak bisa menilai dari covernya saja. Tapi cover yang cantik biasanya akan selalu menarik para pembaca untuk membeli.

Cerita yang Sudah Mengikat

Karena ini sekuel, sebagai pembaca Ayat-Ayat Cinta pertama, maka saya pun punya keinginan untuk mengetahui kisah selanjutnya. Memang dalam Novel ini kalaupun tidak membaca novel pertama tetap bisa mengikuti, tapi akan lebih baik jika membaca sejak awal sehingga tahu kenapa Fahri begitu mencinta Aisha dan sejarah panjang hingga mereka bisa bersama.

Dan novel ini memiliki kekuatan untuk mengajak pembaca untuk larut dalam cerita. Meski tergolong tebal dan mungkin membuat malas pada awalnya, tapi ketika sudah mulai membaca, maka daya magnet akan membuat kita tidak berhenti sampai menghabiskan ceritanya.

Setting

Dari pengalaman membaca karya Kang Abik, saya melihat kecenderungan mengangkat setting luar negeri dengan penjabaran yang sangat detail. Dan saya sangat suka itu, jadi ketika membaca seolah diajak berpetualangan ke tempat baru. Merasa ikut berperan serta ikut menjejakkan kaki di sana. Gaya bercerita ketika menjelaskan latar di suatu tempat sangat mudah dicerna. Membius.

Tokoh

Masalah tokoh yang diangkat, memang terkesan sangat perfect. Pintar, suka menolong dan begitu loman. Tapi entah kenapa saya tetap suka meski kadang selalu bertanya-tanya, adakah orang seperti Fahri? Mungkin ada, tapi 1 : 1000. Yah, mungkin ini adalah semacam sebuah harapan jika memang ada tokoh seperti itu, maka Indonesia pasti akan sangat hebat dan Islam bisa menjadi lebih baik lagi dengan memiliki cendiakan seperti itu. Mengharumkan nama negara dan agama.

Kang Abik memang tidak mengatakan secara langsung betapa sempurnanya tokoh yang dibuat, tapi dilihat dari penjabaran tingkah laku yang ada dan memakai percakapan tokoh, itu sangat menunjukkan betapa sempurnanya karekater yang dibuat.  Juga mengenai tokoh-tokoh yang menyebalkan yang sukses membuat kita ikut membenci karena penjabaran yang dibuat penulis sangat lihai. Seperti Paman Hulusi, melihat bagaimana sikap dan ucapannya saja kadang saya ingin sekalai memarahinya sambil berkata, “Bisa diam tidak?” pasang muka sangar, hehhheh.

Tema

Tema ke-Islaman memang tema yang sederhana, tapi dari yang sederhana itu, Kang Abik mengemasnya dengan luar biasa. Penjabaran tentang dunia Islam dalam pandangan orang-orang non-muslim juga pandangan orang Islam itu sendiri.  Kita jadi tahu bagaimana orang menilai Islam selama ini. Namun Fahri berusaha menunjukkan bahwa Islam bukanlah seperti angapan kebanyakan orang. Islam bukanlah teroris. Jika mungkin ada kejadian bom atau teror atas nama Islam, itu hanyalah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Fahri menunjukkan bahwa Islam sejatinya agama yang lemah lembut, damai, penuh kasih sayang dan memiliki toleransi tinggi. Serta merupakan agama yang dirahmati Allah. 

Selain itu Fahri juga mematahkan anggapan orang-orang Yahudi fanatik yang menganggam kaum Islam sebagai amalek—Orang-orang bodoh yang seperti keledai. Fahri menjelaskan anggapan salah itu dengan menjabarkan lewat kitab-kitab mereka sendiri yang dipahami setengah-setengah.  Juga membandingkan dengan AL-Quran. Fahri mengakui bahwa Bani Israel memang kaum yang terpilih dan istimewa, tapi jika itu memang mengikuti ajarah Allah, tapi jika mereka membangkang maka keistimewaan itu akan hilang. (hal. 437-438)

Selain itu dijelaskan pula dalam debat yang dilakukan Fahri di Oxford tentang masalah keagamaan. Salah satu Profesor bernama Mona Bravmann yang hadir mengatakan bahwa segala agama itu sama. Dia mempercayai bahwa semua agama memang sama. Jadi dia menikmati ketika ikut menjalankan ibadaha orang Muslim, juga ketika harus ikut ke gereja atau mengikuti ajaran Yahudi. Hal ini dia dasarkan dari sebuah syair karya Ibn Arabi. (hal. 564)

Jika proferos perempuan itu mengimani semua agama, maka berbeda dengan Profesor  Alex Horten mengatakan bahwa hidup akan lebih baik tanpa agama—Atheisme. Kalau tidak ada agama, baik itu Islam,  Kristen, Yahudi, Hindu atau Budha dan ribuan kepercayaan  lainnya, dunia akan terasa damai. Sebab manusia sudah otomatis tidak saling membedakan. Tidak perlu ada masjid, gereja, sinagog, kuil, candi dan sejenisnya. (hal. 568)

Inilah tantangan yang harus Fahri patahakan, dia harus menjelaskan bahwa kedua pendapat itu salah. Fahri mengatakan, “Kita tidak perlu memerkosa agama-agama itu untuk disama-samakan. Tidak perlu. Yang penting dan perlu, adalah membangun kedewasaan dalam beragama. Para pemeluk-pemeluk agama harus menghayati ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh, sereligus-religiusnya dan sedekat-dekatnya mereka dengan Tuhannya, sehingga jiwa mereka menjadi bersih. Lalu hendaknya mereka bergama secara dewasa! Dari situ akan tercipta toleransi yang hakiki, toleransi yang anggun.” (hal. 574)

Genre  dan Pesan

Rata-rata buku karya Kang Abik memang bergenre religi. Karena itus saya sebagai penikmat langsung suka saja. Karena saya yakin dari buku ini saya akan mendapat banyak ilmu baru. Dan seperti dugaan saya, seperti pada buku-buku yang digarap dulu, di sini pun bertebaran ilmu yang bisa diambil manfaatnya.  Di antaranya :

“Prinsipnya, jika bisa cepat berkualitas kenapa harus berlama-lama dan mengulur-ngulur waktu.” (hal. 23)

“Kebencian jangan kita balas dengan kebencian.” (hal. 34)

“Kita tetangga, harus saling membantu.” (hal. 38)

“Perbuatan yang masih diperselisihkan tidak boleh diingkari. Yang boleh diingkari adalah perbuatan yang telah disepakati keharamannya.” (hal. 168)

Pada dasarnya bersahabat itu jauh lebih membahagiakan daripada terus membenci dan buruk sangka. (hal. 188)

“Terkadang apa yang kita tidak sukai ternyata baik di mata Allah, dan terkadang apa yang kita sukai tidak baik di mata Allah.” (hal. 218)

“Islam tertutup oleh umat Islam. Cahaya keindahan Islam tertutupi oleh perilaku buruk umat Islam. Dan perilaku-perilaku itu sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam.  Tidak juga bagian dari ajaran Islam. (hal. 388)

“Menasihati orang lain  itu mudah, tetapi mengamalkan pada diri sendiri tidak mudah.” (hal. 401)

“Ada kalanya diam itu baik. Bahkan terbaik. Diam itu emas. Itu adalah diam di saat yang memang kita harus diam. Dan diam kita bukan sebuah kemungkaran baru, melainkan sebuah kebaikan. Tapi ada kalanya diam mengubah kita menjadi setan bisu. Itu adalah di saat seharusnya kita angkat suara dan bicara demi menjelaskan mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi kita diam saja. Saat kita diam saja di kesempatan kita harus bicara tentang kebenaran, kita telah menjelma setan bisu. Kau harus tahu kapan saatnya kau diam dan kapan kau harus bicara, bahkan tidak boleh diam sekejap pun.” (hal. 566)

“Kita tidak perlu memerkosa agama-agama itu untuk disama-samakan. Tidak perlu. Yang penting dan perlu, adalah membangun kedewasaan dalam beragama. Para pemeluk-pemeluk agama harus menghayati ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh, sereligus-religiusnya dan sedekat-dekatnya mereka dengan Tuhannya, sehingga jiwa mereka menjadi bersih. Lalu hendaknya mereka bergama secara dewasa! Dari situ akan tercipta toleransi yang hakiki, toleransi yang anggun.” (hal. 574)
Adanya agama adalah untuk menjadi pedoman hidup  bagi manusia. Menjadi aturan, hukum dan norma bagi kehidupan manusia. (hal. 580)

“Islam mengajakan kita untuk bersikap adil dan baik kepada siapa saja, apalagi tetangga.” (hal. 688)

Hanya saja dalam novel yang bersih dari tpyo ini, saya agak terganggung dengan kata sejurus yang hampir di setiap kalimat selalu ada kata itu.   

Lalu pada beberapa kalimat percakapan, ada kesalahan dalam kata sapaan. Padahal pada percakapan yang lain sapaan itu sudah sesuai kaidah. Sapaan (mas) yang biasanya ditulis memakai awalan huruf kapital—Mas. Tapi ini diawali huruf kecil (mas). Seperti yang tertera pada;

  • Halaman 73 “Benar, mas. Dan terpaksa, saya kayaknya akan pulang tanpa membawa gelar Ph. D Ekonomi Islam di UK. Mau bagaimana lagi? Saya ini diktiers, mas.”
  • Halaman 75; “Pujakesua, mas.”, “Kalau itu sejak dulu, mas.
  • Halaman 109,“Apakah yahudi-yahudi yang tadi mengucapkan kata amalek  itu juga kelompok ortodoks seperti Goldstein, mas?"
  • Halaman 162, “Sudah, mas. Naik Virgin Trains dari Stasiun Waferley Edinburgh jam 10.51 sampai di Stasiun Gwynedd Bangor jam 16.42 seharga 112 Poundsterling, mas.”
  • Halaman 166 dan “Mas, kalau dalam fiqih mu’amalah ada baiknya kita juga menyimak dengan saksama Madzhab Hanafi, bukan membatasi pada madzhaf Syafi’i, mas. ...” [dalam kalimat ini juga ada ketidakkonsistenan dalam penulisan madzhab, pertama di tulis diawali kapital yang kedua tidak]
  •  Halaman  172. “Mau bisnis apa lagi, mas? Bikin cabang Agnina?”


Saya menemukan juga ketidakkonsistenan dalam pemanggilan Fahri dari Sabina. Sejak awal Sabin selalu memangil Fahri dengan sebutan Tuan Fahri. Cek di halaman 229 Tapi pada  halaman 398 Sabina memanggil Fahri dengan sebutan Hoca. Dan pada halaman 510 Sabina kembali memanggil Fahri dengan Tuan.

Lalu pada pertemuan di rumah sakit Sabina sudah mengatakan dia ilegal pada Fahri. “Saya takut  polisi akan datang menangkapku. Saya ilegal di sini.”  (hal. 201)  Tapi pada  halaman selanjutnya  Fahri malah kembali bertanya padahal sudah diberi tahu. “Saya tidak tahu Anda di sini legal atau ilegal.” (hal. 230)

Dalam kalimat ini, “Saya takut  polisi akan datang menangkapku. Saya ilegal di sini.”  (hal. 201)   ada ketidakkonsistenan dalam pengucapak aku dan saya.

Ada pada sebuah bab disebutkan Sabina sedang shalat dalam gubuk di tengah sawah. (hal. 469) Saya rasa jika setting berada di Edinburgh sedikit tidak sinkron, kecuali setting di Indonesia dengan hamparan sawah yang luas. Dan saja juga merasa pada alur cerita terkesan lambat.

Ending cerita sejak awal sebenarnya sudah bisa ditebak, karena clue yang diberikan sangat kentara. Tapi  ada twist lain yang memang tidak saya duga, bahwa akan ada kejadian seperti itu.  Hal itu membuat saya tidak bisa berhenti membaca, Kang Abik sangat  hebat dalam menggiring pembaca untuk menamatkan bukunya.


Untuk keseluruhan cerita saya sangat terhibur dan menikmatinya. Kang Abik sangat lihai dalam mengolah cerita. Dari beberapa buku yang saya baca dari karya Kang Abik, memang selalu kental dengan unsur agamanya. Dan saya sangat suka. Setelah Ayat-Ayat Cinta dulu, saya juga membaca novelnya yaitu Ketika Cinta bertasbih, novel ini pun ada dua bagian juga sudah difilmkan. Lalu saya juga membaca Bumi Cinta dan Api Tauhid. Kesemuanya ini memiliki kesamaan, bahwa tokoh yang selalu dibuat Kang Abik, adalah para penuntut ilmu dari indonesia dengan segala kebaikan, taat pada Allah, penghafal Al-Quran dan memiliki semangat juang tinggi.  Juga merupakan para pejuang yang ingin mengenalkan Islam ke seluruh dunia.

Lepas dari segala kekurangan novel ini, tetap tidak ada alasan untuk tidak menyelesaikan cerita ini. Perpaduan antara cinta, kasih sayang, tolong menolong dan perjuangan menegakkan agama Allah. Novel yang sarat makna ini recomended untuk dibaca. Apalagi bara pembaca yang haus akan pengetahuan baru tentang Islam yang berhubungan perbandingan antar agama dan amalek. 

Spesifikasi Buku

Judul               : Ayat-Ayat Cinta 2
Penulis             : Habiburrahman El Shirazy
Editor              : Syahruddin El-Fikri
Penerbit           : Republika Penerbit
Tahun terbit     : November 2015
Cetakan           : Empat, Desember 2015
Halaman          : vi + 690 halaman
ISBN               : 978-602-0822-15-0

Monday, 18 January 2016

[Review] Mengenal Baiduzzaman Said Nursi Lewat Novel


Bagi sebagian orang mungkin masih asing dengan tokoh Baiduzzaman Said Nursi. Padahal tokoh ini sangat  luar biasa. Sejak kecil dia menjaga diri dari hal-hal syubhat, dan selalu menjaga pandangan. Tokoh yang memiliki sikap welas asih dan sangat teguh dalam memperjuangkan agama Islam. Dan perjalanan hidupnya sangatlah patut diteladani. Karena hal itu maka Kang Abik, sapaan khas Habiburrahman El Shirazy mengungkapkan kisah sejarah tentang tokoh yang menggugah jiwa ini. Namun selain mengungkapkan kisah dari tokoh Baiduzaaman, novel itu juga menceritakan  kisah cinta lain yang tidak kalah menggetarkan hati yang diramu apik oleh Kang Abik.

Novel dibuka dengan kisah Fahmi seorang mahasiswa S2 di Universitas Islam Madinah yang bernadazar untuk iktikaf dengan empat puluh kali khataman di Masjid Nabawi. Dia bersikukuh bertahan sebelum nadzarnya terlaksana. Namun, sesuatu yang dipaksakan tentu tidak baik. Dalam iktikafnya itu ..., Fahmi malah jatuh sakit. (hal.7)

Apa yang terjadi pada Fahmi sejatinya bermula dari kepulangannya dulu ke Tegalrandu, kampung halaman Fahmi. Dia menikah sirri dengan seorang gadis bernama Nuzula. Namun baru beberapa bulan kemudian ayah Nuzula, Kyai Arselan meminta Fahmi untuk menceraikan istrinya tanpa tahu alasan perceraian itu. (hal. 63)

Kejadian itu ternyata sangat memukul jiwa Fahmi. Untungnya Fahmi memiliki sahabat-sahabat yang baik yang selalu menghiburnya. Hamzah bahkan mengajak Fahmi ke Turki bersama Subkhi. Dan siapa sangka di sana, Fahmi malah bertemu dengan dua wanita Turki yang memiliki parasa cantik. Asyel, sepupu Hamzah yang dulunya termakan modernisasi yang kemudian memilih berhijab bahkan bercadar dan Emel, adik Hamzah.

Lalu perjalalan untuk menapaki sejarah Baiduzzaman Said Nursi pun dimulai.  Said Nursi adalah putra dari pasangan Mirza dan Nuriye. Kedua orangtuanya adalah hamba-hamba yang selalu menjaga diri dan hal-hal yang subkat dan menjaga pandaan. Dan sepertinya sikap kedua orangtua itu menurun pada Said Nursi. Siad Nursi juga dikaruniai kepandaian yang luar biasa.  Dia memiliki kekuatan ingatan dan keberanian yang luar biasa. (hal.154)

Sejak kecil Said Nursi sudah menunjukkan keinginan kuat untuk belajar. Dia menuntut ilmu dari satu tempat ke tempat lain, meskipun itu dengan susah payah. Pada usia lima belas tahun, dia sudah mendapat gelar “Molla Said”—sebuah gelar yang sangat prestisius di zamannya. Gelar ini didapat dari Syaikh Muhammad Cellali. Pada gelar ini dia boleh memakai jubah, namun Said Nursi tetapt memiliki pakaian darwis. Ini menunjukkan sikap sederhana yang dimilikinya. Karena kecerdasannya yang luar biasa, Said Nursi pun menjadi terkenal.  Lalu dari Hasan Fehmi Basoglu, Said Nursi mendapat gelar Baiduzzaman—Keajaiban Zaman.

Namun, bersama nama besarnya, selain banyak orang yang menyukai, banyak pula orang-orang yang membenci Said Nursi. Tapi hal itu tidak membuatnya gentar, meski berkali-kali dia harus masuk keluar penjara demi mempertahankan pemikiran yang sesuai dengan ajaran agama Allah. Menurut Said Nursi ada lima pilar menuju surga. Yaitu persatuan hati, cinta bangsa, pendidikan, memaksimalkan daya upaya manusia,dan menghentikan pemborosan dan pemubadziran. (hal. 335-336)

Kembali pada tokoh Fahmi yang begitu ternyuh ketika menapaki sejaha hidup Said Nursi. Dia merasa kesedihan yang dialaminya tidak lebih menyedihkan daripada perjalan hidup tokoh Baiduzzaman itu.  Dan siapa sangka dalam perjalanan menapaki sejarah Baiduzzaman ini, ada sebuah kejadian yang tidak disangka-sangka. Fahmi diculik bersama Asyel. Fahmi juga mendapat kejutan lainnya, Fahmi dibingungkan tentang perasaannya sendiri. tentang Asyel, Emel dan  Nuzula.

Lalu bagaimana kisah Fahmi selanjutnya. Bagimana pula  kelanjutan kisah Baiduzzaman Said Nursi? Semua bisa ditemukan dalam buku ini.

Sebuah novel sejarah yang sarat makna. Diramu dan diracik dengan sedimikian rupa sehingga memiliki kekuatan hebat untuk melebur hati pembaca. Novel yang sangat menggugah jiwa. Mengajarkan banyak hal, kesabaran, tidak pernah putus asa dan hanya kepada-Nya-lah tempat bersandar.  Untuk masalah settting, Kang Abik pun sangat detail dalam penjabarannya. Banyak quote juga  yang menggugah di sini, sehingga bisa dijadikan pembelajaran dan perbaikan diri.

Hanya saja, novel ini sangat banyak sekali typo yang bertebaran.  Misalnya penulisan nafas  yang harusnya ditulis napas. Tulisan ini bertebaran di setiap halaman. Lalu banyak juga kesalahan dalam penulisan sapaan. Sapaan yang seharusnya ditulis besar, malah ditulis kecil.  Ada ketidak konsistenan dalam penulisan saya dan aku.

Lepas dari itu semua, novel ini recomended untuk dibaca. Karena banyak hal yang bisa kita pelajari dan petik dari kisah Baiduzzaman Said Nursi juga pada kehidupan Fahmi. Semua itu termaktub dalam quote-quote yang bertebaran di novel.

  • “Keindahan sejarah itu tiada tandingannya. Karenanya salah satu muatan Al-Quran adalah      sejarah Nabi dan umat terdahulu agar kita menyelami lautan hikmah dalam keindahan.” (hal. 9)
  • “Jangan membeli rokok, mubadzir, membahayakan kesehatan.” (hal. 31)
  • “Adapun pintu rezeki biarlah Allah yang mengaturnya.” (hal. 38)
  • “Kenikmatan yang lebih mahal dari dunia seisinya, yaitu iman dan Islam.” (hal. 101)
  • “Hawa nafsu selalu mengiming-ngimingi dengan kelezatan semu. Bersabarlah, jangan turuti hawa nafsu! Bersabar melawan hawa nafsu akan menyampaikan dirimu pada tujuan sucimu.” (hal. 107)
  • “Cinta yang berakar dari kesucian selalu melahirkan keberhan.” (hal. 127)
  • “Benar bahwa harta paling berharga bagi seorang lelaki beriman sesungguhnya adalah istri yang shalihah.” (hal. 155)
  • “Jika Allah berkehendak, segala keajaiban bisa terjadi.” (hal. 183)
  • “Bersabarlah, karena sabar itu selalu manis buahnya.” (hal. 184)
  • “Agama adalah penerang hati, sedangkan ilmu pengetahuan peradaban adalah penerang akal.” (hal. 305)
  • “Dengan ilmu pengatahuan dan teknologi, kita akan berjuang melawan kebodohan, kemiskinan dan  perpecahan yang tak lain dan tak bukan adalah musuh utama dalam menegakkan kalimat Allah.” (hal. 352)
  • “Manhaj persatuan ini adalah adalah cinta. Adapun musuhnya adalah kebodohan, kemiskinan dan kemunaifikan ...” (hal. 353)
  • “Pengadilan itu sesungguhnya bukan untuk mencari dan memberikan keadilan, pengadilan itu sudah dirancang matang jauh-jauh hari untuk membersihkan sebuah sistem, demi mengganti dengan sistem yang baru. Itu pengadilan untuk memberangus sebuah mentalitas dan menggantinya dengan mentalitas baru  yang tidak mengenal Islam.” (hal. 359)
  • “Seharusnya pengadilan adalah tempat ditegakkannya keadilan, bukan kekejaman.” (hal. 365)
  • Ada enam penyakit yang membuat kita terjebak di abad pertengahan, di saat orang-orang asing, khusunya Eropa, terbang menuju masa depan. Yaitu, mewabahnya keputusasaaan, matinya kejujuran dalam kehidupan sosial dan politik, suka kepada permusuhan,  mengabaikan tali cahaya yang menyatukan sesama orang mukmin, penindasan yang menyebar seumpama penyakit menular, dan perhatian yang hanya tertuju pada kepentingan pribadi. (hal. 371)
  • “Penyakit  putus asa bisa disembuhkan dengan menghadirkan harapan.” (hal. 371)
Spesifikasi Buku 

Judul               : Api Tauhid
Penulis             : Habiburrahman El Shirazy
Editor              : Syahruddin El-Fikri
Penerbit           : Republik Penerbit
Halaman          : xxxvi + 588 hal.
Cetakan           : VIII, April 2015
ISBN               : 978-602-8997-95-9