Showing posts with label Noura Books. Show all posts
Showing posts with label Noura Books. Show all posts

Thursday, 16 December 2021

Review Buku '25 Nabi dan Rasul' -Kisah Nabi yang Tidak Membosankan dan Penuh Hikmah


Judul : 25 Nabi & Rasul
Penulis :  Noor H. Dee
Ilustrator : Bella Ansori
Penerbit :  Noura Kids
Cetakan: 4, November 2021


Tema 25  Nabi dan Rasul merupakan tema sejuta umat.  Artinya tema yang sudah pasaran tapi tetap tak lekang oleh zaman. Di grup Mizan sendiri, buku dengan tema serupa sudah ada begitu banyak. Sebut saja "Kisah 25 Nabi dan Rasul" karya Yudho Purwoko,  terbitan Dari Mizan. "Cerita Seru 25 Nabi dan Rasul" karya Ririn Astutiningrum, terbitan  Dar Mizan,  "Kisah 25 Nabi dan Rasul for Kids" karya Erna Fitrini,  terbitan Pelangi Mizan dan banyak lagi. Belum lagi  tema serupa dari berbagai penerbit di Indonesia. Hampir semua penerbit pernah  menghadirkan buku kisah para Nabi dan Rasul.

Buku tema Nabi dan Rasul di Grup Mizan


Hal ini mungkin terjadi karena tema Nabi dan Rasul memang selalu menarik untuk dikaji dan dijadikan cerita. Karena kisah-kisah ini dapat dijadikan bacaan Islam yang paling awal  bagi anak. Melalui kisah para Nabi anak dapat belajar banyak hal. Dari sejarah, keteladanan para Nabi, akidah juga ketauhidan.

Dan karena itu pula tema ini masih selalu diminati pasar. Orang tua masih memiliki minat yang sangat besar dalam upaya mengenalkan para Nabi dan Rasul melalui cerita. Apalagi dalam setiap buku tentu memiliki keunikan masing-masing. Meskipun memiliki tema yang sama, jika ditulis oleh penulis yang berbeda, hasilnya tentulah tidak sama.


Begitupula dengan buku "25 Nabi & Rasul" karya Noor H. Dee yang diterbitkan di Noura Kids. Meski memiliki tema yang biasa, sudah umum,  kisahnya tetap unik dan tidak pasaran, dan tidak kalah menarik untuk disimak dari pada buku yang lain dengan tema serupa.


Dengan penuturan yang padat penulis mampu menghadirkan kisah para Nabi dan Rasul dengan  memikat dan tidak berat untuk dipahami anak. Apalagi untuk segmentasi usia 3 tahun ke atas. Hanya dengan tiga sampai empat kalimat per halaman, penulis tetap mampu menghadirkan kisah para Nabi yang sangat menyentuh dan sudah mewakili dari bentuk kisah yang panjang.

contoh isi buku

Hemat saya buku ini memang sangat pas dijadikan bacaan awal bagi anak untuk usia dini. Karena kalimatnya pendek-pendek, dan bahasanya pun mudah dipahami. Berbeda dengan buku dengan tema serupa.

Misalnya buku "Mengenal 25 Nabi & Rasul" Terbitan Checklist. Meskipun di cover buku ini tertulis untuk my golden age, dari segi bahasa, buku ini masih terkesan panjang dan ada beberapa kalimat dan bagian yang kurang pas untuk dibacakan pada anak.

Dan jika dibandingkan dengan tiga tema serupa dari mizan, letak perbedaannya hanya pada segmentasi usia.  "Kisah 25 Nabi dan Rasul" karya Yudho Purwoko,  "Cerita Seru 25 Nabi dan Rasul" karya Ririn Astutiningrum,  dan  "Kisah 25 Nabi dan Rasul for Kids" karya Erna Fitrini, lebih pas untuk dibaca anak usia 9 tahun ke atas yang sudah mulai lancar membaca.  Jika dibacakan untuk anak usia dini, tentu anak akan masih kesulitan mencerna. 


Berbeda jika dibandingkan dengan buku "25 Nabi & Rasul" ini yang menurut saya,  penulis telah melakukan pengamatan mendalam untuk membuat sebuah kisah yang tidak hanya menarik, tapi bahasanya juga ramah anak.

Secara keseluruhan, buku ini memang bagus dan recomended untuk anak. Dengan bantuan orang tua sebagai mediator, melalui buku ini, anak dapat mencontoh sikap para Nabi yang selalu mengikuti perintah Allah, rajin belajar, sabar, tangguh, tidak mudah mengeluh juga bakti kepada orang tua. 

Buku ini sangat membantu saya mengenalkan cerita Islam pertama pada anak saya. Karena dia selalu senang ketika saya bacakan buku ini. Dia juga suka dengan gambar-gambar yang ada di buku. 

 Srobyong, 16 Desember 2021. 

Tuesday, 5 March 2019

[Resensi]Pengaruh Gadget pada Perkembangan Anak

Dimuat di Koran Jakarta Kamis 3 Januari 2019 


Judul               : Digital Parenthink
Penulis             : Mona Ratuliu
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Juli 2018
Tebal               : 202 halaman
ISBN               : 978-602-385-513-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Menjadi orangtua di masa sekarang, kita memiliki banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Keberadaan  gagdet dan internet,  yang sudah menjadi bagian keseharian anak sejak lahir, selain memberi kemudahan bagi hidup, hal itu juga membawa pisau tajam yang bisa berbahaya bagi anak.  Oleh sebab itu sebagai orangtua kita harus memberikan arahan yang tepat kepada anak dalam memanfaatkan gadget.  Karena saat ini gadget sudah menjadi magnet yang digandrungi oleh anak.

Menurut survei yang diselenggarakan oleh google pada Desember 2014 hingga Februari 2015, rata-rata orang Indonesia secara akumulatif menghabiskan waktu selama 5,5 jam sehari menatao layar smartphone-nya. Dan itu belum termasuk bermain online game, nonton YouTube di PC, main game console dan lain sebagainya (hal 29).  Jika hal ini dibiarkan terus, maka keadaan tersebut lambat laun akan merusak anak.

Buku ini  membahas tentang  pengaruh gadget pada perkembangan anak baik dari segi positif dan negatif.  Keberadaan buku ini akan membantu orangtua saat ini dalam mengasuh anak di era milenial ini. Menurut salah satu pakar psikologi, setidaknya ada delapan perkembangan anak yang akan terpengaruh oleh penggunaan gadget.

Pertama, perkembangan motorik.  Pada usia balita, diharapkan anak sudah mencapai aspek motorik halus dan kasar. Misalnya anak sudah bisa menulis nama sendiri (motorik halus), mengancingkan baju secara mandiri (motorik halus), menangkap bola (motorik kasar) dan sebagainya.  Namun, kecenderungan anak yang bermain gadget secara berlebihan membuat anak jadi kehilangan waktu untuk melakukan permainan dan melibatkan fisik. Hasilnya, banyak anak zaman now yang mengalami kesulitan pada keseimbangan tubuh dan lain-lain (hal 32).

Kedua, perkembangan fisik. Membiarkan anak terlalu sibuk dengan gadget akan membatasi aktivitas gerak anak. Padahal sejak kecil anak harus diajarkan melakukan berbagai aktivitas fisik yang menyenangkan. Karena aktivitas fisik bisa mendatangkan banyak manfaat. Di antaranya menghindarkan anak dari obesitas—yang merupakan sumber penyakit, bisa melepaskan hormon endorfin yang dapat mendatangkan perasaan senang dan nyaman sehingga anak berenergi. 

Ketiga, perkembangan moral.  Mudahnya berbagai akses yang bisa dilihat anak, maka kita harus mengarahkan anak agar tidak melihat konten seperti kekerasan fisik, perbuatan asusila yang nantinya bisa merusak moral anak. Keempat, perkembangan sosial.  Ketika anak selalu sibuk dengan gadget, hal ini berakibat anak menjadi malas bersosialisasi. Padahal bersosialisasi sangat penting dilakukan, karena bisa memengaruhi kesejahteraan serta psikis seseorang.

Kelima, perkembangan indentifikasi gender.  Derasnya arus informasi memang memudahkan kita dalam mendapat informasi,  termasuk gambaran mengenai peran gender di lingkungan kita. Sayangnya tayangan yang ada, secara tidak sadar telah menyajikan pergeseran nilai gender wanita dan pria yang sesungguhnya.  Keenam, perkembangan bahasa. Gadget bisa membantu anak saat ini dalam belajar berbagai bahasa asing. Namun di sisi lain, penggunaan gadget sejak dini pada anak bisa menyebabkan keterlambatan bicara  (speech delay). Hal ini disebabkan karena anak terlalu sering mendengar suara dan menonton gadget.

Ketujuh, perkembangan neuroligi. Ketika masih kecil anak memiliki saraf yang bisa menyerap berbagai informasi dengan cepat. Aplikasi yang ada di dalam gadget ini bisa jadi sangat membantu anak untuk  mengenalkan berbagai macam informasi edukatif. Namun perlu kita ingat, saat menstimulus anak kita harus memerhatikan waktu terbaik dan disertai bimbingan orangtua.

Kedelapan, perkembangan kognitif.  Adanya film dan aplikasi games pendidikan marak bermunculan dengan kemasan menarik.  Hal ini mampu menstimulus pola pikir anak menjadi lebih baik. Sehingga anak dapat belajar membaca, menulis, berhitung atau pun keterampilan lain dengan cara yang lebih menyenangkan. Namun tentu saja kegiatan tersebut harus dengan pendampingan dari orangtua.

Jika kita ingin mengenalkan gadget kepada anak, Ikatan Dokter Anak di Amerika Serikat mengeluarkan waktu tatap layar yang tepat. Anak di bawah 18 bulan tidak diperkenankan menggunakan gadget, kecuali untuk aplikasi video chating.  Bagi anak berusia 2-5 maksimal satu jam perhari dalam menatap layar, namun harus dengan bimbingan orangtua. Anak berusia di atas enam tahun ke atas, bisa diberikan batasan waktu yang tegas, dalam menggunakan digital, di luar waktu “wajib” seperti sekolah, mengerjakan tugas sekolah, membantu orangtua dan tidur.  

Srobyong, 21 Desember 2018

Monday, 11 February 2019

[Resensi] Agar Anak Tidak Kecanduan Gadget

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 30 Desember 2018


Judul               : Digital Parenthink
Penulis             : Mona Ratuliu
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Juli 2018
Tebal               : 202 halaman
ISBN               : 978-602-385-513-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Menjadi orangtua pada era digital memang penuh tantangan. Di mana kita dituntut untuk selalu update dengan berbagai hal dan bisa mengimbangi arus perkembangan zaman itu sendiri.  Karena melihat kondisi yang ada, perkembangan zaman sedikit banyak telah merubah cara berpikir dan tingkah laku anak. Pada masa dahulu, dengan terbatasanya teknologi, anak ditempa untuk memiliki daya juang yang cukup tinggi. Anak-anak lebih sering bermain permainan tradisional dan berkumpul untuk bersosialisasi.

Akan tetapi pada era digital,  ketika teknologi semakin canggih, kebiasaan lama itu pun mulai bergeser.  Saat ini anak-anak lebih menikmati berjibaku dengan gadget dari pada bermain permainan tradisional. Apalagi  dengan berbagai fitur menarik dan lengkap, anak merasa sudah cukup berteman dengan gadget. Dengan gadget saja, mereka sudah bisa melakukan banyak hal. Dari menonton youtube, bermain game, pesan makanan secara online, berselancar di dunia maya dan banyak lagi.

Pada beberapa hal keberadaan gadget memang telah memberikan banyak sekali manfaat. Namun di sisi lain, gadget juga memberi dampak buruk bagi pertumbuhan anak. apalagi jika dalam perizinan memakai gadget tanpa adanya bimbingan dari orangtua. Bahkan yang lebih parah, anak-anak bisa kecanduan gadget. Dalam artian waktu online anak lebih banyak daripada melakukan kegiatan lain. Anak lebih memilih bermain gagdet daripada berkumpul dengan keluarga, anak akan marah jika gadgetnya diminta.

Lalu bagaimana caranya agar anak tidak kecanduag gadget?  Buku ini sangat tepat dijadikan bahan bacaan. Di sini akan diuangkap dengan jelas dan detail tentang bagaimana caranya agar orangtua bisa meminimalis agar anak tidak kecanduan gadget.

Hal pertama yang bisa dilakukan orangtua adalah dengan memulai menjelaskan tentang dampak negatif bermain gadget. Salah satu pakar psikologi, menjelaskan ada delapan aspek perkembangan anak yang akan terpengaruh;  perkembangan motirik, fisik, moral, sosial, identifikasi gender, bahasa, neourologi dan kognitif.

Cara lain, kita bisa mulai mengenalkan kepada anak berbagai permainan yang tidak kalah seru, dari gadget.  Orangtua juga perlu membatasi pemakaian dan memberi bimbingan dalam pemakaian gadget. Namun,  jika anak sudah terlanjur kecanduan gadget, maka kita memerlukan tindakan detoks. Artinya kita perlu mengentikan  sama sekali penggunaan gadget dalam jangka waktu tertentu, sekitar 4-6 minggu (hal 82).

Selain sedikit hal ini, masih banyak penjelasan yang lebih jelas. Buku ini sangat patut dibaca bagi orangtua sebagai pedoman pola asuh anak. Dilengkapi dengan kisah nyata pengalaman dari beberapa orangtua. Hal ini akan membantu kita untuk melihat gambaran fenomen gadget yang memiliki banyak pengaruh dalam kehidupan saat ini.

Srobyong, 1 Desember 2018 

Friday, 30 November 2018

[Resensi] Ujian dalam Menemukan Cinta Sejati

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 11 November 2018


Judul               : Love for Sale
Penulis             : Endik Koeswoyo
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 266 halaman
ISBN               : 978-602-385-454-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


 “Bahagia itu bukan sekadar murah dan mewah, tapi bagaimana satu sama lain saling mengusir resah.”  (hal 254).


Masa lalu memang tidak mudah untuk dilupakan. Apalagi jika dalam urusan cinta. Namun begitu, kita tidak mungkin  selamanya hidup dalam lingkaran masa lalu.  Kita perlu move on untuk  melanjutkan hidup.  Hidup itu terus berjalan. Masa lalu boleh kita ingat dan tengok. Karena masa lalu bisa kita jadikan pembelajaran. Namun jangan sampai karena masa lalu, kita menyakiti diri sendiri.

Novel ini bercerita tentang Richard yang belum bisa move on dari kisah di masa lalunya—tepatnya dari cinta pertamanya.  Meski dia telah disakiti, nyatanya Richard masih memendam cinta kepada Maya, mantan kekasinya.  Hal itulah yang membuat Richard yang sudah hampir memasuki kepala empat tetap memilih menjadi jomlo. 

Dia tidak peduli dengan omongan orang dan merasa nyaman dengan segala aktivitasnya. Dari mengelola akun @konsultasicinta di twitter serta mengawasi kinerja pekerja di kantor percetakannya. Selain itu dia juga sesekali mengahabiskan nobar bersama teman-temannya sesama pecinta sepak bola.  Akan tetapi lambat laun, Richard mengalami kegelisahan juga. Apalagi setelah dia mendengar sindiran-sindiran halus dari teman-temannya soal ke-jomlo-annya.  Sebagai penasihat cinta kenapa Richard  tidak pernah terlihat membawa pasangannya?  (hal 46)

 Di sinilah ego Richard mulai panas. Puncaknya ketika Richard melakukan taruhan dengan teman-temannya. Dia tidak mau dianggap sebagai seseorang yang hanya pandai berbicara tanpa adanya bukti. Namun di sinilah kebingungan Richard kembali menyergap. Bagaimana dia bisa membawa pacar kalau pada kenyataannya dia tidak memiliki pacar?

Richard pun mulai mencari kontak-kontak nama wanita kenelakannya. Namun ternyata hampir semua yang dia hubungi sudah menikah bahkan punya momongan. Lalu terakhir dia bertemu temannya, Keke yang terang-terangan ingin segera dinikahi.Tentu saja Richard memilih pergi karena Keke hanya memilihnya bukan karena cinta. Namun karena dikejar usia.

Dalam kebingungannya itu, tanda sengaja Richard melihat sesuatu yang menarik.  Dia pun memutuskan membuka situs LoveInc yang ternyata menyediakan persewaan pasangan. Pilihan inilah yang akhirnya mempertemukan Richard dan Arini. Tapi siapa sangka pertemuan yang bermula dari transaksi jual jasa ini berakhir dengan kedekatan yang tidak terencana.  Richard pun merasa bingung  bagaimana harus menyikapi perasaannya. Apakah dia perlu jujur dengan Arini atau menyimpan perasaannya.  Di sisi lain Richard pun takut bagaimana jika Arini malah memilih pergi setelah tahu perasaan Richard?

“Kisah cinta bukan sejarah, tapi sebuah kepingan kisah nyata yang terjadi antara manusia. Kali ini kamu punya kesempatan untuk melupakan masa lalu kamu itu, kenapa kamu tidak mengambil kesempatan yang ada.” ( hal 201).

Novel yang merupakan adaptasi dari film dengan judul yang sama “Love for Sale” ini cukup menarik untuk dibaca. Dengan gaya bahasa sederhana dan kocak, novel ini cukup menghibur. kita akan dibuat tersenyum dan gregetan dengan sikap Richard yang maju mundur dalam urusan cinta. Keunikan lain dari novel ini adalah penulis tidak mencipatakan karakter tokoh utama cowok yang sempurna, dengan segala ketampanan, kepintaran dan kemapanan. Sebaliknya di sini penulis menghadirkan sosok yang  pria sudah dewasa yang belum juga menemukan cinta, dengan beberapa kekurangan baik masalah sifik atau sikap.

Namun inilah yang lebih terasa manusiawi. Hanya saja dalam novel ini masih ada beberapa kesalahan tulis dalam menyebut nama, serta bagian yang belum diekseskusi secara maksimal. Membaca kisah ini selain kita dihibur dengan ceritanya yang seru, kita juga bisa membaca gombalan-gombana cinta yang lucu dan menarik. Tidak ketinggalan penulis juga menyisisipinya pesan-pesan hidup yang bisa dijadikan renungan.

Misalnya soal tepat waktu, “Bahwa manusia berada dalam keadaan ‘merugi’ karena mereka lalai pada waktu. Pelajaran pertama dari shalat lima waktu adalah tepat waktu.” (hal 90).

Ada pula tentang pentingnya sedekah, “Sedekah itu tonggak perjuangan hidup. Sedekah enggak usah pilih-pilih, siapa saja yang ada di dekat kita, itulah orang yang tepat untuk kita sedekahi.” (hal 94).

Srobyong, 15 Juli 2018

Thursday, 4 October 2018

[Resensi] Meraih Kesuksesan dengan Menerapkan Ikigai

Dimuat di Koran Jakarta  Rabu, 5 September 2018


Judul               : The Book of Ikigai
Penulis             : Ken Mogi, Ph.D.
Penerjemah      : Nuraini Matsura
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Juni 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-385-415-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Salah satu cara agar kita bisa meraih kesuksesan adalah dengan menerapkan ikigai dalam kehidupan sehari-hari.  Ikigai sendiri adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Secara sederhana ikigai adalah filosofi Jepang yang memberikan motivasi, semangat, gairah dan tujuan untuk menjalani hidup. Di mana dengan ikigai, kita bisa menjalani hidup yang lebih menyenangkan, bisa terhindari dari stres bahkan kita bisa meraih kesuksesan.

Dengan penjelasan yang terperinci dan mudah dipahami, Ken Mogi  dengan bukunya,  The Book of Ikigai mencoba menunjukkan tentang peran penting ikigai dalam meraih kesuksesan, dan kisah-kisah inspiratif pelaku ikigai yang patut kita teladani. Dijelaskan pula lima pilar yang harus kita lakukan ketika ingin menerapkan ikigai agar kita sukses.  

Pertama, mengawali dengan hal yang kecil.  Misalnya kebiasaan bangun pagi. Disadari atau tidak kebiasaan bangun pagi akan membuat kita selangkah lebih depan dari pada orang-orang yang terbiasa bangun siang. Sebagaimana yang dilakukan oleh Jiro Ono, pemilik Sukibayasi Jiro, restoran sushi. Dia selalu bangun pagi agar bisa pergi ke pasar untuk mendapatkan ikan terbaik. Dia juga tidak segan untuk memijit daging gurita selama satu jam, agar hasilnya lebih lezat. Dia juga tidak segan  membersihkan sisik dan usus ikan demi menghasilkan sushi yang nikmat (hal 7).

Kebiasaan sederhana itu, merupakan salah satu kunci sukses yang mengangtarkan Jiro  Ono, sebagai  chef bintang-tiga-Michelin dan restorannya menjadi yang terbaik di dunia. Ada pula Hiroki Fujita, yang berdagang tuna di pasar ikan Tsukiji yang terkenal di Tokyo.  Dia selalu bangun pagi agar bisa memperoleh tuna terbaik. Fujita menyadari  seni memilih tuna itu sangat rumit. Jika dia bangun terlambat, bisa jadi dia tidak akan mendapatkan tuna terbaik, dan tidak memperoleh keuntungan.  Di Jepang sendiri kebiasaan bangun pagi memang sudah menjadi kebiasaan sejak masa era Edo (1603-1868) ketika Jepang diperintah oleh  Keshogunan Tokugawa. Di mana hal ini dilakukan demi meraih kesuksesan dalam bidang pertanian (hal 27).

Kedua, membebaskan diri sendiri.  Artinya kita tidak memedulikan definisi sosial, baik masalah pangkat atau profesi. Menurut Mihaly Csikzentmihalyi, seorang psikolog Amerika kelahiran Hungaria, membebaskan diri sendiri berarti kita berada pada  kondisi flow (mengalir). Di mana kita tidak memerlukan pengakuan  untuk hasil kerja atau upaya yang telah kita lakukan. Kita larut dalam aktivitas  sehingga rasanya tidak ada yang lebih penting (hal 78).

Seperti  Sei Shinagon yang nyaris tidak  pernah merujuk posisinya di masyarakat dalam keseluruhan The Pillow Book. Padahal dia merupakan penulis cerita film-tersebut.  Hal itu juga berlaku bagi Jiro Ono, yang tidak memedulikan posisinya sebagai seorang chef hebat. Baginya yang terpenting adalah selalu menghasilkan sushi terbaik, agar siapa saja yang menikmatinya bisa merasakan kenikmatan dan kelezatannya.

Ketiga, keselarasan dan kesinambungan.  Yaitu kita bisa menyesuaikan diri dalam berbagai lingkungan masyarakat dan siap untuk melanjutkan kebiasaan yang sudah ada tersebut. Mengingat di Jepang memang kaya akan adat dan budaya. Seperti kebiasan dalam minum teh juga olahraga sumo. Keselarasan dan kesinambungan merupakan etos  terpenting dan unik  dari cara berpikir masyarakat Jepang.

Sikap inilah yang dipertahankan Ono dalam menjalankan restorannya. Dia melestarikan salah satu makanan khas di Jepang dengan sushinya. Dia berusaha menghasilkan sushi terbaik agar siapa saja yang menikmatinya merasa senang dan puas. Dia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, hingga masih bertahan hingga sekarang. Karena hal itu pula-lah Jiro Ono berhasil meraih kesuksesan.

Selain tiga pilar tersebut masih ada dua pilar lagi yaitu kegembiraaan dari hal-hal kecil dan hadir di tempat dan waktu sekarang. Semuanya saling melengkapi dan jika kita menerapkannya maka kita pun bisa meraih kesuksesan. Dan kita tidak perlu khawatir ikigai ini bukan hanya bisa dimiliki oleh orang Jepang. Karena setiap manusia juga bisa memiliki ikigai sendiri.  Secara keseluruhan buku ini mengajarkan kita untuk  menerima diri sendiri dalam melakukan sebuah pekerjaan.

“Rahasia terbesar ikigai adalah menerima diri sendiri, apa pun ciri-ciri unik yang mungkin kita miliki semenjak lahir.” (hal 183).

Srobyong, 24 Agustus 2018

[Resensi] Ziarah Sebagai Jalan Perenungan Diri

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 2 September 2018


Judul               : Ziarah
Penulis             : Iwan Simatupang
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, September 2017
Tebal               : 224 halaman
ISBN               : 978-602-385-334-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Ini merupakan naskah asli ketika mengirim, sebelum dipotong oleh redaksi dan dimuat :) 

Novel ini merupakan peraih Roman ASEAN Terbaik 1977. Dengan tema yang sederhana dia mampu menghasilkan sebuah kisah yang tidak biasa. Ziarah yang kita ketahui memiliki hubungan erat dengan kebiasaan kita untuk mengunjungi makam—baik makam keluarga, tokoh agama. Di mana tujuan kunjungan itu adalah untuk  mendoakan dan memohon berkah pada tokoh-tokoh agama. selain itu ziarah juga salah satu hal yang mengingatkan kita bahwa pada akhirnya nanti kita juga akan mati. Untuk itulah kita memerlukan perisapan dan bekal yang cukup untuk menghadap Tuhan.

Namun dalam novel ini ziarah memiliki makna yang lebih mendalam dan tidak biasa.  Belum lagi dalam novel ini penulis tidak memberikan nama-nama tokoh, secara gamblang.  Sehingga kita harus siap untuk berpikir lebih dalam untuk memahami apa yang ingin disampaikan penulis lewat kisah ini.

Sejak kematian istrinya, mantan pelukis itu menjadi sosok yang berbeda.  Di pagi hari dia akan ceria layaknya manusia normal. Dia  bekerja dengan rajin, mengecat dan mengapur rumah, atau bekerja serabutan lainnya. Yang terpenting dia tidak diminta untuk menggali kuburan. Itu adalah jenis pekerjaan yang sangat dia hindari.  Sedang di malam hari, dia akan menghabiskan uangnya untuk membeli tuak. Dia akan meminumnya hingga mabuk, lalu berteriak memanggil nama istrinya, dan Tuhan sambil menangis. Namun tidak lama kemudian dia akan  tertawa keras (hal 14).

Padahal sebelum istrinya meninggal, dia adalah seorang pelukis yang sangat berbakat dan mempunyai masa depan cerah.  Tersebab kematian istrinya, dia meninggalkan pekerjaan itu dan mengubur semua lukisannya. Dia menyatakan bahwa dirinya tidak berbakat pada bidang lukisan.

Namun suatu hari, seorang opseter datang dan mengajak si mantan pelukis untuk bekerja padanya. Dia meminta si mantan pelukis untuk mengapur seluruh tembok luar perkuburan kotapraja, yang tanpa dinyana langsung disetujui si mantan pelukis. Dan inilah awal mula perubahan sikap si mantan pelukis setelah ditinggal mati istrinya. Dia tidak lagi berteriak sambil menangis atau tertawa. Tapi dia mulai bersikap sopan, yang membuat semua orang bingung.  Tidak hanya itu si mantan pelukis ini juga berhasil membuat wali kota kebingungan dan  banyak berbagai kejadian ajaib yang terjadi karena si mantan pelukis, yang membuat warga geger.

Membaca novel ini saya seperti masuk pada labirin panjang, dan tidak tahu kapan bisa keluar.  Ketika saya membaca ulasan dari para penikmat buku, mereka dominan mengatakan bahwa buku ini bagus dan menarik untuk dibaca. Hal itu pula yang melatar belakangi saya untuk membeli buku ini. Di sisi lain saya juga penasaran dengan judul novel “Ziarah” yang sangat menggelitik tersebut. Akan tetapi saya cukup kaget, ketika apa yang saya bayangkan tidak sesuai dengan isi dari novel ini.   Mungkin hal ini dikembalikan kepada masalah selera masing-masing pembaca. Saya sendiri, merasa buku ini agak berat dan perlu pendalaman yang lebih untuk memahami keseluruhan kisah.

Namun lepas  dari masa itu, saya cukup terhibur dengan kisah ini. Ada bagian yang lucu, ada juga bagian yang bikin tegang. Saya menikmati sindiran halus tentang masalah tata negara dan bagaimana ambisi seseorang untuk meraih kedudukan juga bisa kita temukan di dalam novel ini.  Melalui kisah ini penulis juga mengkritisi cara berpikir kebanyakan manusia yang hanya melihat sesuatu dari satu sisi saja. Misalnya saja tentang calon sarjana filsafat  dan merupakan anak orang yang ingin jadi opseter penjaga kuburan atau pilihan si mantan pelukis yang ingin bunuh diri dan banyak kejadian lain dalam novel ini.

Tidak ketinggalan melalui novel ini kita diajak untuk siap menerima segala takdir Tuhan dan ikhlas menerika kematian yang bisa datang sewaktu-waktu.  Karena kematian mutlak akan terjadi pada manusia.  Dan ziarah adalah jalan perenungan. Ke mana pun langkah kita teriring, kita telah melakukan ziarah.

Srobyong, 26 Agustus 2018

Monday, 9 July 2018

[Resensi] Misteri Hilangnya Wanita di Cabin 10

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 29 Juni 2018 


Judul               : The Woman in Cabin 10
Penulis             : Ruth Ware
Penerjemah      : Reni Indardini
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Desember 2017
Tebal               : 484 halaman
ISBN               : 978-602-385-284-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

The Woman in Cabin 10 merupakan one of the best mystery books and thrillers of 2016.  Ruth Ware dengan kekuatan gaya bahasanya dalam bercerita, sukses membuat kita larut dalam kisah yang menegangkan, menarik dan sukses membuat penasaran hingga akhir cerita. Bagaimana tidak dalam novel ini kita akan dibuat tegang dan frustasi dengan berbagai intrik yang terjadi di sebuah kapal pesiar mewah bernama Aurora. Kisah ini juga penuh dengan twist yang menakjubkan dan tidak terduga. 

Apa yang akan terjadi ketika hanya kita sendiri yang meyakini bahwa sebuah pembunuhan tengah terjadi di sebuah tempat? Tidak ada yang mempercayai kisah kita dan menganggap kita hanya berhalusinasi? 

Novel ini sendiri berkisah tentang perjalanan Lo Blacklock digambarkan sebagai sosok yang kuat dan gigih, meski dia memiliki klaustrofobia—ketakutan dengan tempat-tempat sempit dan terjebak. Suatu hari dia  mendapat kesempatan untuk meliput pelayaran sebuah kapal pesiar mewah selama satu minggu.  Sebuah kesempatan besar yang tidak mungkin dia lewatkan, karena bisa jadi hal itu bisa membuka peluang untuk meningkatkan jenjang karier jurnalisnya.

Namun siapa sangka, pelayaran yang awalnya dia kira menyenangkan, karena akan bertemu dengan banyak relasi yang bisa dia manfaatkan untuk melebarkan jaringan, ternyata dugaannya salah besar.  Dalam perjalanan itu dia yang memiliki fobia tempat sempit, dan karena rasa traumanya setelah menjadi korban pencurian, membuat pendengaran Lo lebih tajam.  Di sanalah dia mendengar sebuah ceburan dan goresan darah di  pembatas kaca kabin sebelah, yang dia pikir telah terjadi pembunuhan (hal 116).

Sayangnya ketika Lo menceritakan kejadian tersebut, tidak ada seorang pun yang mempercayai kisahnya. Apalagi dia memiliki sejarah tentang fobia takut tempat sempit, sering minum dan mengkonsumsi obat antidepresen. Belum lagi sebuah kenyataan bahwa kabin yang dimaksud ternyata tidak berpenghuni.

Pada titik ini, Lo harus berusaha mengungkapkan tentang  siapa sebenarnya sosok yang pernah dia temui di kabin 10—yang bahkan pernah meminjaminya maskara—yang ternyata tidak ada seorang pun yang mengenal wanita itu,  dan siapa sosok yang terjebur di tengah malam. Lo pun mulai menyelidiki kejadian itu dengan membuka percakapan dengan para penghuni kapal, untuk mencari tahu alibi masing-masing orang.  Namun ketika dia tengah menyelidiki misteri tersebut, kejadian yang tidak kalah menakutkan dan mencekam sudah menanti dirinya. 

Pertanyaan besar pun mulai menghantui Lo, apakah dia memang hanya berhalusinasi atau memang ada sosok di kapal yang menjadi dalang kejadian itu? Namun jika dia tidak berhalusinasi  bagaimana hal itu bisa terjadi? Lo sungguh dilema—dia bingung, sedih dan kalut.

Dengan plot yang apik dan bisa dibilang seperti ada rasa tulisan Agatha Christie dalam versi berbeda—khas sentuhan Ruth Ware, membuat novel ini sangat  menarik dan memikat.  Sejak awal kita akan dibuat penasaran dengan akhir kisah ini. Kita harus menebak-nebak tentang siapa sebenarnya penghuni kabin 10, siapa orang yang tercebur serta benarkah apa yang dilihat Lo itu kenyataan atau halusinasi semata.  Selingan info tentang update hilangnya Lo juga semakin menambah rasa penasaran kita. Apakah wanita itu selamat atau tidak.

Hal yang sedikit menganggu dari  novel ini adalah pemanggilan nama tokoh yang tidak konsisten. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini patut dibaca bagi para penikmat kisah misteri dan thriller. Kisah ini benar-benar hidup dan menghiponotis. Membaca novel ini kita disadarkan bahwa ketamakan hanya akan membuat kita rugi. Selain itu dari kisah ini kita akan diigatkan tentang sikap kuat, tegar dan berani dalam mengungkapkan kebenaran.

Srobyong, 14 April 2018

[Resensi] Suka Duka Menjadi Seorang Ibu

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 29 Juni 2018


Judul               : Hush Little Baby
Penulis             : Anggun Prameswari
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 340 halaman
ISBN               : 978-602-385-381-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Menjadi seorang ibu itu penuh tantangan. Pertama kita harus mengandut selama sembilan bulan dengan penuh perjuangan.  Kedua adalah waktu persalinan yang harus membuat kita siap berkoban nyawa.  Ketiga masa menyusui dan mulai merawat bayi, hingga tumbuh kembang. Hal inilah yang kadangkala membuat seorang ibu merasa takut dan khawatir. Sanggupkan mereka melewati semua fase itu atau tidak.

Keadaan inilah yang pada akhirnya akan membuat seorang ibu mengalami baby blues syndrome. Yaitu kondisi gangguan mood yang dialami ibu setelah melahirkan bayi. Kondisi ini biasa memiliki ciri-ciri kondisi emosi yang tidak stabil. Seperti mudah menangis, merasa kesal, cepat lelah dan merasa tidak percaya diri, sulit beristirahat hingga berdampak enggan untuk memerhatikan bayi.

Mengambil tema baby blue syndrome yang dibadukan dengan unsur thriller, novel ini memiliki kadar ketegangan yang membuat kita terpacu untuk menyelesaikan kisah ini hingga akhir.  Memilih alur maju mundur, membuat kita penasaran dengan puzzle-puzzle yang diciptakan penulis. Kita akan bertanya-tanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia begitu takut dan depresi?

Menceritakan tentang Ruby yang memiliki segalanya. Suami tampan, kaya raya dan sangat mencintainya. Semua begitu sempurna. Lalu kehadiran Gendhis, bayi cantik yang menjadi pelengkap dalam keluarga kecil mereka. Namun, entah kenapa hal itu tidak bisa membuat Ruby  merasa tenang. Kehadiran Gendhis malah membuat Ruby mengalami hari-hari yang berat dan melelahkan.  Ruby merasa ketakutan dan marah. Gendhis membuat masa lalu dan luka yang pernah menjajahnya, perlahan muncul dan meneror dirinya. Padahal selama ini dia sudah berusaha mengubur semua pesakitan itu dengan rapi.   “Kamu boleh berbuat salah pada masa lalu, tapi bukan pada masa depan.” (hal 17).

Ingatan tentang ibu yang sejak kecil merawatnya tumpang tindih dalam kepala Ruby. Begitu pula kisah kelam yang pernah dia alami di usia lima belas tahun, yang membuat ibunya menitipkan Ruby pada Bibi Ka. Potongan frase-frase itu membuat Ruby merasa terliliy. Setiap melihat Gendhis, Rubyi merasa ada yang salah. Kenapa dia tidak merasa bahagia dengan kehadiran bayi kecil itu? Kenapa dia benci bunyi tangis bayi yang terus meminta susu dari tubuhnya? Dia hanya ingin istirahat.

Keadaan Ruby yang seperti ini, tentu saja membuat Rajata, suaminya khawatir. Apalagi sebuah insiden yang membuat Ruby hampir menenggelamkan Gendhis. Hingga akhirrnya diputuskan bahwa Ruby butuh sebuah perawatan. Melalui perawatan itu,  kesadaran Ruby  pun mulai tertata. Namun kenapa ketika dia merasa sehat dan siap menjadi ibu, semua orang seolah tidak mempercayainya? Bunda Alana, mertuanya, Bibi Ka, hingga Rajata.

Dan kepingan masa lalu yang Ruby telusuri, ternyata membuka tabir kenyataan yang tidak pernah dia duga. Khusunya lingkungan keluarga.  “Masa lalu terkadang memang tidak seperti yang kita inginkan. Tapi selalu ada cara untuk menebusnya.” (hal 59).

Menegangkan dan menghanyutkan. Permainan psikologis para tokoh, sukses membuat saya merasakan kengerian. Sejak awal, kita sudah dibuat penasaran dengan masa lalu apa yang telah terjadi kepada Ruby. Kenapa sebagai seorang wanita, tidak ada sifat keibuan yang melekat pada dirinya. Ruby malah menjadi sosok wanita yang penuh ketakutan, yang tidak siap menjadi ibu.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang lugas dan renyah, novel ini tidak susah dipahami.  Memang dalam novel ini masih ada beberapa sedikit kesalahan ketik. Dan ada bagian yang bisa ditebak dari klimaks cerita. Namun begitu, hal itu tidak mengurangi rasa penasaran untuk melanjutkan kisah ini, untuk membuka tabir puzzle yang sesungguhnya. Dan ternyata menyiapkan sebuah twist yang tidak pernah disangka.

Novel ini menyadarkan kita tentang dampak pola asuh yang salah pada anak.  Padahal lingkungan keluarga adalah pondasi awal dalam membangun karakter anak. “Yang kita petik hari ini, adalah yang kemarin kita tanam.” (hal 241).

Srobyong, 9 Juni 2018