Showing posts with label Silvarani. Show all posts
Showing posts with label Silvarani. Show all posts

Monday, 29 January 2018

[Resensi] Pembawa Petaka

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 28 Januari 2018 



Judul               : Game of Hearts ; Love in Las Vegas
Penulis             : Silvarani
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama,  September 2017
Tebal               : 225 halaman
ISBN               : 978-602-03-6634-0
Persensi           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Mengambil tema yang tidak biasanya, saya cukup salut dengan keberanian penulis. Di mana dia  mengangkat tema tentang perjudian yang marak terjadi di mana-mana. Mengambil setting di Las Vegas yang memangnya surganya judi, semakin membuat kisah novel ini menarik. Belum lagi selain tentang perjudian, novel ini juga dibumbui dengan berbagai masalah pelik tentang kehidupan keluarga, dendam dan tidak ketinggalan masalah cinta yang selalu menjadi pemanis yang banyak disukai pembaca.

Aldhan Prasetya Aridipta tidak menyangkan kehidupannya yang sudah berantakan—akibat tumbuh dalam lingkungan broken home—korban perceraian orangtua—kini  semakin kacau ketika tiba-tiba dia diminta melakukan perjalanan ke Las Vegas. Sayangnya Aldhan tidak bisa menolak perjalanan bisnis itu. Karena hal itu bersangkutpaut dengan hutang ayahnya dan demi kelancaran bisnis keluarganya.  Belum lagi jika dia menolak, nyawa ayahnya berada dalam bahaya (hal 42).

Perjalanan  itu akhirnya mengantarkan Aldhan mengenal Ryker Preston si pemilik kasino. Di sana dia baru tahu bahwa ayahnya mulai melakukan judi sejak 1997 dan utangnya semakin menumpuk. Yang mana semua dimulai dengan tragedi yang cukup heboh tentang likuidasi bank tahun ’97—yang mana dimulai tahun itu ayahnya memang memilih hidup nonmaden (hal 46).

Lepas dari masa lalu, sejak itu Aldhan menginjakkan kaki di Las vegas,  kehidupan baru  telah dimulai. Aldhan harus melakukan perjalanan dari kasino ke kasino bersama Reika Matilda, salah satu anak buah Ryker Preston—pemilik kasino, tempat Aldhan harus membayar utang. Reika mengajarkan Aldhan cara bermain judi berdasarkan matematika, sehingga dia bisa melunasi utang ayahnya dengan cepat.

Namun semakin hari, petualangannya ke berbagai kasino di Las Vegas membuat Aldhan merasa tidak tenang. Aldhan memang bukan sosok religius, namun dia tetap ingat tentang tumpukan dosa yang akan dia dapat jika terus bersikap tidak terpuji seperti yang kerap dia lakukan—bermain perempuan juga sering meninggalkan kewajiban salatnya. Beruntung dia memiliki sopir pribadnya, Jack—yang sudah dia anggap sebagai keluarga—sering mengingatkannya tentang kebajikan dan nilai-nilai spiritual.

“Hidup adalah meyakini ketentuan Allah. Jika ingin mendapatkan, selalu berusaha, sebaliknya jika tak dapat, ikhlaskan dan tetap berprasangka baik kepada Allah.” (hal 214).

Di sisi lain, Aldhan juga jadi tidak fokus karena selalu kepikiran dengan Reika, yang benar-benar menarik perhatiannya. Tapi Aldhan tidak pernah tahu apa isi kepala Reika yang ternyata menyimpan sebuah bom yang tidak terduga. Yang menjadi pertanyaan berhasilkah Aldhan melunasi utangnya dan bagaimana kisah cintanya dengan Reika? 

“Begitulah hidup. Terkadang apa yang kamu inginkan sulit sekali digenggam. Justru yang tak terlalu kamu inginkan mengemis untuk dimiliki.”  (hal 109).

Membaca novel ini seperti menonton film-film luar tentang perjudian. Cukup seru dan menghibur. Hanya saja dalam novel ini saya merasa ada beberapa bagian yang terasa lambat dan ada beberapa logika kisah yang menurut saya kurang logis. Tapi lepas dari kekurangannya novel ini memiliki nilai lebih tentang bagaimana penulis mengeksplore ceritanya. Pemakaian gaya bahasa yang renyah juga menjadi nilai tambah sendiri.

Yang saya suka dari novel ini adalah nilai-nilai kehidupan dan pesan moral yang ingin disampaikan penulis. Kita diingatkan tentang peran orangtua dan dampak  perceraian orangtua terhadap anak.  Bahwa anak tidak hanya butuh materi saja, namun juga butuh kasih sayang. Selain itu kita diingarkan untuk tidak memelihara dendam. Karena dendam hanya akan membuat kita menjadi pribadi yang rugi.

Tidak ketinggalan poin penting dari novel ini adalah, menunjukkan bahwa judi itu meski terlihat menyenangkan dan praktis, namun juga menyimpan bahaya yang jauh lebih besar. Judi mengundang petaka bahkan bisa jadi mengatarkan nyawa kita hilang. Judi juga perbuatan dosa yang dilaknat Allah.

Srobyong, 20 Januari 2018 

Sunday, 26 November 2017

[Review Buku] Dari Judi, Dendam Hingga Cinta



Judul               : Game of Hearts ; Love in Las Vegas
Penulis             : Silvarani
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama,  September 2017
Tebal               : 225 halaman
ISBN               : 978-602-03-6634-0


“Hidup adalah meyakini ketentuan Allah. Jika ingin mendapatkan, selalu berusaha, sebaliknya jika tak dapat, ikhlaskan dan tetap berprasangka baik kepada Allah.” (hal 214).

Dibuka dengan prolog yang tegang dan menarik, hal ini sudah menjadi nilai kelebihan dari novel ini. Karena sudah pasti pembaca akan langsung penasaran dan ingin membaca kisah ini hingga selesai. Tidak jauh-jauh dari cinta, namun dipadukan dengan tema yang tidak biasa, membuat novel ini memiliki kelebihan sendiri. Yah, kali ini penulis memasukan unsur perjudian yang saya pikir jarang digarap para novelis Indonesia.  Kemudian disatu padukan pula dengan masalah keluarga dan dendam hingga membuat novel ini semakin berwarna.

“Hati-hatilah kepada gadis yang sakit hati. Caranya balas dendam selalu tidak disangka-sangka.” (hal 28).

Aldhan Prasetya Aridipta adalah pewaris dari kekayaan milik keluarganya, Aridiptha Group. Keberadaannya saat ini menjadi tumpuan dan harapan untuk semua orang dalam hal kesejahteraan dan perubahan dan perusahaan yang saat ini dia pimpin. Lalu suatu hari  sebuah proyek Las Vegas membuat Aldhan terkejut, pasalnya ternyata dialah yang ditujuk untuk melakukan bisnis ke sana. Dan yang lebih membuat Aldhan terkejut adalah alasan sebenarnya di balik proyek tersebut.  Di mana jika dia tidak mau melakukan proyek ini bisa jadi banyak investor yang akan menarik diri dari bisnis Aridipta dan bahkan nyawa sang ayah akan berada dalam bahaya (hal 42).

Aldhan meski kadang marah kepada sang ayah, pada kenyataannya di lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih sangat menyayangi ayahnya. Meski sejak krisis moneter 1997 kehidupan ayahnya berubah dan keluarga mereka berantakan. Ayah dan ibunya bercerai. Sang ibu menikah kali dan sudah bahagia dengan keluarga barunya. Sedang dia dan adiknya, Renald, hanya dimanja dengan harta berlimpah namun minim kasih sayang.  Hal inilah yang membuat adiknya sering membuat ulah untuk menarik perhatian. Sayangnya cara itu tidak berhasil, kedua orangtuanya masih sibuk dengan dunia masing-masing.  Dan Aldhan lebih fokus pada karir dan bermain-main dengan wanita. Membawa wanita dengan bebas keluar masuk di rumah bukanlah perkara asing.

Kepergiannya ke Las Vegas ini  akhirnya membuat dia mengenal Ryker Preston, pemilik Rotten Pumkin. Dan dari pria itu, Aldhan diajari untuk bermain judi dan dikenalkan dengan Reika Matilda—yang ternyata adalah lulusan Nevada University  yang menulis tesis tentang cara memenangi permainan judi berdasarkan perhitungan matematika.

Membaca novel ini seperti menikmati film-film luar yang penuh dengan permainan-permainan judi. Kita diajak melihat dan menikmati keseruan juga ketakutan tatkala tengah mengadu nasib dengan permainan judi. Karena jika tidak pintar, maka sudah pasti kita akan menjadi pecundang, karena selalu kalah secara berulang.

Selain mengajak kita menikmati dunia gemerlap kasino di Las Vegas,  Aldhan juga harus menerima teror dari Love—wanita yang pernah menemani malam-malam panjangnya yang tidak terima ditinggal begitu saja. Gadis itu masih mencinta Aldhan dan tidak ingin diputus begitu saja. Oleh karenya Love berusaha menyusul Aldhan.

Sedang Aldhan sendiri setelah menginjakkan kaki di Las Vegas, lebih fokus pada urusan utang ayahnya dan berusaha melunasi secepatnya. Dia tidak tertarik dengan urusan wanita, sebelum dia bertemu Reika Matilda yang entah kenapa membuat dia tertarik.  Namun yang mengejutkan adalah tentang sebuah titik rahasia yang Reika simpan. Tentang dia yang tidak percaya cinta juga tentang kenyataan lain yang tidak pernah Aldhan duga. Ada apa sebenarnya?

“Begitulah hidup. Terkadang apa yang kamu inginkan sulit sekali digenggam. Justru yang tak terlalu kamu inginkan mengemis untuk dimiliki.”  (hal 109).

Diceritakan dengan gaya bahasa yang mudah dicerna dan tidak jlimet, membuat buku ini asyik dibaca.  Suka dengan pengambilan tema yang tidak biasa dan keberanian penulis dalam memasukkan unsur judi, yang terasa begitu nyata. Jadi penasaran apa penulisnya juga jago judi, eh xixii. Habis eksekusinya mantap. Jika divisualisaikan pasti memang lebih seru. 

Keunggulan lainnya adalah tentang kepiawaian penulis dalam menyimpan misteri ending hingga akhir. Membuat kita penasaran apa yang sebenarnya telah terjadi? Bernarkan tebakan-tebakan yang kita buat sejak awal membaca kisah ini benar? Nah, jadi secara tidak langsung sejak awal membaca kita juga diajak bermain hati. Hhehh. Karena kita selalu menebak-nebak akhir kisah. Benarkah? Atau salahkah?

Dan yang saya sukai lagi adalah selipan-selipan motivasi keagamaan yang terasa kental dari sosok Jack—sopir pribadi Aldhan yang sudah seperti sahabat  sendiri.

“Cinta adalah kebebasan yang berkomitmen , hasrat yang bertanggung jawab, dan kasih yang tak mengenal pamrih.” (hal 16).

“Membentuk keluarga adalah ibadah dan menyempurnakan iman.” (hal 22).

“Nikahilah gadis salihah agar keturunanmu diajarinya berbagai hal yang baik. Indah” (hal 22).

Kita banyak diajarkan tentang hubungan antara manusia dan Tuhan. Tentang keimanan dan banyak lagi. Semisal tentang kebiasaan Jack yang selalu berusaha mengingatkan  Aldhan untuk selalu menjalankan salat lima waktu.

Hanya saja dari kisah ini ada beberapa bagian yang bagi saya terasa lambat. Lalu tentang keberadaan Love yang manurut saya kurang dieksplore lebih. Karena tokoh ini tiba-tiba hilang. Padahal jika Love dimasukkan lebih dalam cerita pasti akan lebih menarik. Misalnya dia jadi ke Las Vegas dan akhirnya bertemu Reika dan Aldhan, pastinya bakal seru. Kira-kira bagaimana hubungan mereka?

Namun lepas dari kekurangannya, secara keseluruhan novel ini tetap asyik dinikmati. Dari novel ini kita bisa belajar bahwa dendam hanya akan merugikan diri sendiri dan membuat hidup tidak tenang. Lalu kita juga diingatkan dalam mendidik anak yang terpenting itu bukan hanya  pemberian materi yang berlimpah, tapi juga kasih sayang. Temukan juga quote-quote inspiratifnya yang bikin kita ternyuh dan berpikir kembali. 

“Cinta itu bukan tergantung pada pasang atau surutnya hubungan dengan seseorang, tapi perasaan cinta itu ada di hati itu sendiri.” (hal162).


Srobyong, 26 November 2017

Saturday, 17 December 2016

[Tanya Penulis] Wawancara With Silvarani Penulis “Love in Kyoto”



Setelah beberapa lalu aku berksesempatan mewawancarai Mbak Arumi E dan Mbak Indah Hanaco, kali ini kita akan berkenalan dengan Mbak Silva—yang juga penulis produktif dan penulis dari seri “Around The World With Love bacth3”

Nah di kesempatan kali ini, tentu saja  saya mencoba mengulik di balik pembuatan novel terbarunya Love in Tokyo.   Sebelum ke hasil wawancara ada baiknya kita berkenalan dulu dengan penulis kece satu ini.



Silvarani lahir di Jakarta pada 6 September. Setelah menyelesaikan kuliah Sastra Prancis UI dan Magister Komunikasi UI, salah satu hal yang dilakukannya adalah melanjutkan hobi menulis novel, naskah drama dan sekalian skenarion film.

Bagi Silvarani, menulis adalah salah satu cara berkomunikasi, berbagi mimpi dan isnpirasi dengan orang-orang di luar sana, yang sudah ia kenal maupun belum.

Jika ingin berkenalan dengan penulis bisa menghubungi akun berikut ini :

Twitter            :  Silvarani
Instagram        : Nadiasilvarani/ Silvaranibooks
E-mail              : silvaranibooks@gmail.com
Facebook         : Nadia Silvarani Lubis

Kalau mau mengenal karya-karya lain dari Mbak Silva bisa cek di goodreads.

Sudah tidak sabar dengan hasil wawancara yang aku lakukan dengan Mbak Silva?  Dan jreng ... inilah hasil wawancara dengan Mbak Silva. Semoga bisa menginspirasi dan menjadi motivasi bagi siapa saja yang suka menulis.

Ratna : Pertanyaan umum nih, Mbak Silva. Bagaimana proses kreatif penulis novel Love in Kyoto? Sejak ditulis, riset sampai terbit memakan waktu beralam lama. Dan adakah kesulitan tertentu ketika menggarap novel ini?

Silva : Proses kreatif menulis Love in Kyoto sebenarnya alhamdulillah lancar, tapiiii kalau saya sudah terserang penyakit "baper" mau jalan-jalan ke Jepang dan malah liat video-video jalan-jalan di Internet atau di handycam saya waktu ngebolang ke sana tahun lalu, berhentilah sudah saya menulis. Jadi lama deh 🙈 😆 😄.

Kalau riset, kira-kira sebulan. Kesulitannya mungkin ya itu tadi.... kalau malah bukannya nulis, tapi lihat-lihat video jalan-jalan orang.

Ratna : Melihat video memang bisa membuat lupa diri Mbak. Trus adakah alasan khusus kenapa memilih Kyoto sebagai setting cerita? 

Silva : Hmm... sebenarnya awalnya saya ingin memilih setting kota di benua lain dari 2 novel saya sebelumnya di Around The World With Love ini. Akhirnya terpilihlah Jepang. Lalu karena saya ingin mengangkat budaya, saya pilih Kyoto sebagai kota yang tradisional dan masih mempertahankan suasana Jepang kuno.
Ratna : Kyoto memang keren. Lalu kalau boleh tahu apa alasan Mbak Silva menulis? Bagaimana cara membagi waktu antara menulis dan kesibukan di dunia nyata? (selain menulis)

Silva : Saya menulis karena saya ingin menuangkan apa yang ada di benak saya kepada dunia. Saya suka berkhayal menjadi orang lain, berada di tempat lain, menghadapi situasi yang tidak saya alami di dunia nyata, dan lain-lain sebagainya. Semua itu tentu saja membuka mata atas sesuatu yang terjadi di dunia ini.
Misalnya saja dalam novel Love in Kyoto. Kalau ada seorang Veli di depan mata kita, mungkin kita akan membayangkan betapa enaknya jadi dia. Veli tak hanya cantik, tapi berasal dari keluarga konglomerat, sukses mengejar karir yang sesuai dengan passion-nya, dekat pula dengan cowok yang banyak diidolakan cewek-cewek. Namun, yang harus kita maknai dan saya coba gambarkan di novel, bagaimana Veli harus survive pasca kepergian orang tuanya untuk selamanya ketika dia kecil, didikan disiplin kakeknya, mandirinya dia, kerja kerasnya mengejar passion, sikap bijaknya terhadap hubungannya dengan Mario, dan lain-lain. Semoga ada sesuatu yang dapat dipetik setelah menutup buku.
Cara saya membagi waktu sebenarnya santai saja. Setiap hari saya memang selalu meluangkan waktu untuk menulis. Misalnya sehari 5-10 halaman. Itu pun dijeda dengan kegiatan lainnya dan menulis tak sampai seharian. Kalau weekend kadang-kadang tidak menulis.
Ratna : Aamiin, semoga Mbak. Saya habis baca ini juga mendapat banyak pengetahuan dan inspirasi yang bisa dipetik. J Tips. Membagi waktunya bisa dicontoh nih. Lanjut ke pertanyaan berikutnya, Mbak. Sekalian buat promosi, Kenapa kita harus membaca Love in Kyoto? Apa keunikannya?

Silva : Love in Kyoto WAJIB dibaca untuk para pecinta novel Indonesia.

Kenapa?
Di novel ini, saya mencoba mengabungkan unsur romance dengan sejarah, budaya (Veli sebagai desainer kain nusantara, Uehara sebagai pemain gitar tradisional Jepang, Futaba sebagai koki udon), dunia tempo doeloe (kependudukan Jepang di Indonesia), hubungan kakek dengan cucunya, persahabatan yang penuh canda tawa tetapi sarat tolong-menolong, "twe way of life" beberapa tokoh yang tergambar dari kata-kata yang keluar dari mulut mereka, dan tentunya nikmat iman islam. Jadi, ada adegan romance, lucu, action, menegangkan, pokoknya "gado-gado", deh.

Mungkin bisa dilihat di blurb novel Love in Kyoto:

“Adinda Melati, satoe hari nanti, berkoendjoenglah ke Kjoto dengan kimono jang kaoe djahit dari kain sakoera ini. Akoe menoenggoemoe.” -Hidejoshi Sanada (13/11/45)

Veli, gadis yatim-piatu yang sejak kecil diasuh kakek-neneknya, adalah perancang busana yang tengah naik daun. Sepulang dari Jakarta Fashion Week, dia menemukan tumpukan surat lusuh di sela-sela koleksi kain nusantara almarhumah neneknya, Nenek Melati. Nama pengirim surat berbau Jepang itu mengusik rasa ingin tahunya, apalagi ada kaligrafi potongan ayat Al-Qur’an di dalamnya.

Bukan kebetulan, prestasi Veli sebagai desainer diganjar kesempatan tinggal beberapa bulan di Kyoto untuk mengikuti program industri budaya. Veli merasa, ini jalan yang diberikan Tuhan kepadanya untuk menambah ilmu sekaligus mencari tahu tentang Hideyoshi Sanada.

Dengan bantuan Mario, teman spesial yang sedang bertugas di Osaka, dan Rebi, kawan SMA yang sudah empat tahun menetap di Jepang, jalinan rahasia antara Hideyoshi dan Nenek pun satu per satu mulai terungkap. Penemuan ini juga membawa Veli dan Mario bertemu sosok dingin bernama Ryuhei Uehara, musisi muda shamisen, dan Futaba Akiyama, gadis pemalu penjaga kedai udon di tengah kota Kyoto. Ternyata, hubungan empat insan ini melahirkan kisah yang jauh lebih rumit dibanding cerita Hideyoshi dan Nenek Melati puluhan tahun silam...

Ratna :  Wah, novel ini memang kudu dibaca. Unsur yang disatu padukan benar-benar inspiring dan unik. Lalu Mbak, apa sih yang ingin disampaikan dari novel ini kepada pembaca?

Sebenarnya ini diserahkan lagi kepada pembaca. Saya yakin, setiap pembaca pasti punya gambaran atau hal yang didapat berbeda-beda. Intinya, semoga mereka terhibur dan mendapatkan hal positif dari novel Love in Kyoto ini.

Ratna : Insya Allah habis baca terhibur Mbk. J Terakhir, dari kacamata Mbak Silva, apa yang perlu dimiliki ketika ingin menjadi penulis? Dan bagaimana tips biar jadi penulis yang konsisten dan selalu produktif?

Silva : Sama seperti profesi-profesi lain, untuk menjadi penulis harus semangat, terus berlatih, kerja keras, tidak mudah menyerah, ikhlas melakukannya, dan jangan lupa rajin berdoa.
Lalu tips agar konsisten dan produktif adalah berpikirlah bahwa pasti ada alasan Tuhan membuat kita bisa menulis. Beberapa tujuannya mungkin agar bisa sharing dengan pembaca di luar sana. Jadi, menulislah selagi ada kesempatan.


Oke Mbak Silva, terima kasih atas waktu dan jawabannya. J Sukses selabuat Mbak Silva dan semoga bukunya laris manis disukai pembaca. J  Dan semoga sedikit wawancara ini bisa menginspirasi bagi siapa saja yang membaca. J

Dan yang penasaran bagaimana kisah Love in Kyoto, simak resensinya di sini.

[Review] Surat Misterius dan Romantika di Kyoto

Judul                : Love in Kyoto
Penulis              : Silvarani
Penerbit            : Gramedia
Cetakan           : Pertama,November 2016
Halaman           : 236 hlm
ISBN               : 978-602-03-3630-5

Hidup itu selalu penuh dengan kejutan. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Apakah selamanya merasa bahagia atau malah sedih berkepanjangan.  Semua itu misteri Ilahi.  Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Menerima dengan sabar atau tidak terima. Novel ini selain menganggat tema cinta, penulis juga menyelipinya dengan kebudayaan dan sebuah misteri.  

Karena sejak kecil sudah yatim piatu, Veli dibesarkan oleh kakek dan neneknya.  Mereka adalah sosok yang sangat diidolakan Veli dalam kehidupan rumah tangga nampak selalu harmonis dan romantis. Sampai suatu hari, tanpa sengaja Veli menemukan surat-surat bertulikan huruf kanji yang ditujukan pada neneknya—Melati. Selain itu dia juga menemukan sebuah foto hitam putih bergambar seorang pria Jepang (hal 27).  Dia pun bertanya-tanya ada hubungan apa neneknya dengan pria Jepang yang bernama Hidejoshi Sanada itu.

Bersamaan dengan itu, sebagai desainer yang berprestasi, Veli  berkesempatan tinggal beberapa bulan di Kyoto untuk mengikuti program industri budaya.  Entah kenapa momen itu sangat pas. Dan itu adalah kesempatan bagus bagi dirinya.  Selain bisa  belajar dan mengembangkan ilmunya, sekarang, dia juga memiliki misi baru untuk mencari tahu perihal  Hidejoshi Sanada.

Beruntung di sana, dia memiliki dua teman yang baik hati—Rebi dan Mario. Mereka dengn suka rela membantu.  Mario sendiri adalah sosok yang memiliki porsi lebih di hati Veli. Meski terpisah jarak dan waktu, mereka masih lancar berkomunikasi.  Kesempatan ini juga dimanfaatkan dua pasang sejoli ini untuk menikmati keindahan Kyoto. Salah satunya mereka mengunjungi Gion—di sana banyak balai-bailai seni dan bangunan-bangunan tradisional.

Dan betapa kagetnya Veli, ketika membaca surat-surat itu. Perasan Veli semakin tidak menentu membayangkan neneknya menghianati sang kakek.  Hingga akhirnya dia mendengar kalau Hidejoshi Sanada  memiliki perguruan yang mengajarkan seni bela diri samurai. Dan kebetulan tempatnya di Kyoto (hal 109).

Veli dengan semangat mengunjungi perguruannya itu dengan Mario. Di sana dia bertemu Ryuhei Uehara—pemain shamisen juga Futabah Akiyama, penjaga kedei udon. Hanya saja pertemuan itu tidak membawa hasil yang memuaskan bagi Veli. Dan itu sungguh membuatnya kecewa.  Kekecewaanya semakin berlipat ketika Mario membuat pengakuan. Kalau mereka mungkin tidak bisa melanjutkan kedekatan mereka. “Mungkin kamu sakit hati, tapi tolonglah mengerti. Tak semua cinta didukung oleh keadaan.”  (hal 108).

Sejak dulu ibu Mario tidak terlalu menyukai Veli yang katanya memiliki garis keturunan yang tidak jelas.  Meski sedih, Veli berusaha menerima dengan ikhlas. Hanya saja sejenak setelah mereka putus,  Mario malah terlihat dekat dengan Futaba. Bahkan gadis itu menembak Mario.  Belum lagi ternyata diam-diam Uehara juga bersimpati pada Veli. Veli dilema belum lagi ketika memikirkan tentang  Hidejoshi Sanada . Adakah kesempatan untuk bertemu dengan pria  Jepang itu?

Novel ini memilik prolog yang keren dan berhasil mencuri rasa penasaran untuk melanjutkan bacaan sampai akhir. Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah dan gurih. Novel ini sangat memikat.  Saya suka alurnya yang cepat hingga terus terdorong untuk membuka lembar berikutnya.

Kelebihan lainnya adalah masalah pengolahan setting yang terasa hidup dan banyaknya pengetahuan yang bisa diambil dari buku ini—khususnya tentang kesenian di Jepang dan wisata di Kyoto.

Shamisen adalah alat musik dawai tradisional Jepang yang memiliki tiga senar. Cara memainkannya dipetik seperti gitar dengan alat jenis pick gitar (hal 66).

Fushimi Inari Taisha adalah sebuah kuil, tempat ibdah para pemeluk agam Shinto (hal 146).

Selain itu ada juga quote inspiratif yang membuat kita termotivasi.  Kita diajak untuk mengingat budaya, tips menjadi orang yang sukses juga sikap yang tidak mudah menyerah.

“Budaya adalah kekayaan yang menunjukkan kepribadian kita. Kita tidak boleh melupakannya.” (hal 9).
“Menunda bukan kebiasaan orang sukses.” (hal 23).

“Orang yang mendapat kritik justru orang yang berbeda dengan kebanyakan orang. Bukan kritik yang harus kita takutkan, tetapi hati lemah yang tak kuat menerima kritikan.”(hal 68).

“Orang yang fokus pada hasil, ketika mereka tidak bisa mewujudkan mimpi, mereka akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Tapi, orang yang menghargai proses, ketika mereka tidak bisa mewujudkan mimpi, mereka akan tetap semangat maju karena proses dianggap sebagai pencapaian.” (hal 150).

Dan tentunnya masih banyak lagi yang bisa dipelajari dari novel ini. Hanya saja saya masih menemukan sedikit kesalahan tulis. Entah ini masalah pov atau karena kurang dalam memberi tanda petik.  Karena di sana dari menjelaskan soal Veli, pov berubah jadi aku. Lalu diakhiri dengan tanda petik. Padahal sebelumnya tidak ada tanda petik di awal (hal 203).    

Tapi lepas dari kekurangannya, novel ini recomended buat dibaca.   Menggabungkan tema cinta, sedikit misteri dan budaya, menjadi poin tambah dari novel ini.  Dan masing-masing diberi porsi yang pas, sehingga cerita tidak timpang.


Dan seperti biasanya setelah  ini bakal ada tanya penulis. Tunggu hasil wawancara dengan Mbak Silvarani. ^_^ 

Dan ini dia hasil nya Wawancara With Silvarani

Srobyong, 16 November 2016