Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

Thursday, 12 September 2019

[Traveling] Bukit Bejagan, Perjalanan Penuh Perjuangan



Pict. Doc. Pribadi

“Tidak ada yang mudah dalam upaya meraih mimpi dan harapan, sebagaimana ketika kau ingin menjejakkan kaki di tempat-tempat dengan pesona alam, harus ada perjuangan, jatuh bangun hingga akhirnya berhasil untuk meraih puncak. Karena hidup memang selalu butuh perjuangan, bukan?” (Ratnani Latifah)

            Selain pesona laut yang indah dan memesona, Jepara  juga memiliki pesona wisata alam yang tidak kalah memukau dan mengagumkan. Salah satunya adalah wisata Bukit Bejagan yang terletak di desa Duplak, Tempur, Keling, Jepara. Tempat ini menyuguhkan pemandangan alam yang begitu indah memesona, hingga akan mengingatkan kita akan kebesaran Allah. Yah, inilah salah satu tempat yang sudah sejak dulu ingin saya datangi. Saya sangat penasaran dengan keindahan alam yang selalu dielukan di sana-sini, khususnya bagi penikmat traveling.

 Karena itu, ketika mendengar suami  bilang ia ada jam bebas karena libur kerja, maka dengan semangat saya langsung mengusulkan untuk  melakukan perjalanan wisata ke Bukit Bejagan.  Alhamdulillah usul kali ini akhirnya diterima. Kenapa? Karena sebelumnya ketika berkali-kali mencoba mengajaknya ke Tempur, ia akan selalu menolak dengan berbagai alasan.

Hari Minggu 8 September 2019, Kami memulai perjalanan sekitar pukul 08.00 WIB.  Dari arah Mlonggo kami langsung melaju menuju jalan raya Keling- Jepara. Untuk tahap awal alhamdulillah semua berjalan lancar. Karena jalan itu sudah berkali-kali dilalui. Hehhe.  Hingga kemudian kami memasuki area wisata desa Tempur. Di sinilah perjuangan itu kami mulai. Karena jujur kami masih awam dengan daerah tersebut.

[Pemandangan yang akan sering kita lihat dalam perjalanan. Pict. Doc. Pribadi]

Di sana kami harus bersiap mengikuti arus jalan yang penuh lika-liku, naik turun dengan banyak tanjakan juga belokan. Jadi  sebagai pengingat sebelum melakukan perjalanan wisata ke Tempur, kita harus cek kesehatan motor dulu dengan baik. Karena  untuk menempuh perjalanan ke sana, kita akan menghabiskan cukup banyak waktu dengan berbagai tantangan. Mengingat letak desa ini berada di ketinggian kurang lebih 800 meter di atas permukaan laut.  Desa ini juga terletak cukup jauh dari arah kota. Kalau dihitung dari Mlonggo sendiri, kurang lebih 43,3 km untuk bisa sampai di sana. Wow banget, kan?  Jadi  untuk masuk awal ke desa Tempur, setidaknya kita harus melewati kurang lebih 25 km. Dan bertambah sekitar 18 km untuk sampai di Bukit Bejagannya.

[Pict. Doc. Pribadi . Ketika sempat berhenti sebentar di jalan menikmati pesona alam di sekeliling] 

Dalam perjalan ini sendiri, sebelum sampai ke sana, kami sempat tersasar menuju ke Desa Klepu.  Yah, perlu perjuangan panjang untuk sampai di sana. Tak sekali dua kali kami tersesat. Selain sempat tersesat dan hampir memasuki Desa Klepu, kami sempat teresat di kawasan jalan ekstrim di sana.  Asli jalannya sangat mengerikan, karena semua jalan terlihat menanjak.

[Pict. Doc. Pribadi] 

Akan tetapi yang lebih menegangkan adalah ketika kami hampir sampai di lokasi wisata, motor yang dalam keadaan menanjak tiba-tiba mati? Duch ... ngeri banget.  Namun hal itu tidak menyurutkan niat kami untuk mengunjungi desa yang memiliki pesona alam yang luar biasa ini.  Karena, di balik ketajaman jalan yang begitu menantang itu, kita akan ditemani pemandangan indah yang memanjakan mata. Asli kerena dan bikin kita betah untuk memandangnya berlama-lama.

Pict. Doc. Pribadi

Beruntung saat itu kami bertemu warga desa. Dengan cekatan beliau ini menjelaskan mungkin karena faktor motor yang lelah dan kepanasan, hingga akhirnya mesin mati. Kami diberitahu untuk tidak terlalu cemas. Kami hanya disuruh menunggu untuk istirahat agar motor kembali normal. Dan alhamdulillah tidak lama kemudian motor memang kembali normal. Fiuh ... leganya. Di sini  kami sudah sangat ketar-ketir. Apakah motor masih kuat menempuk perjalanan atau harus pulang ketika tempat wisata sudah hampir sejengkal.

Pict. Doc. Pribadi

Oh iya, untuk sampai ke desa Duplak, tempat dukuh wisata Bukit Bejagan berada, maka langkah awalnya adalah kita harus sampai terlebih dahulu di desa Tempur—yang mana jalannya sudah saya cerita dengan berbagai tanjakan, tikungan dan lain sebaginya. Di mana kurang lebih kita akan memakan waktu sekitar satu jam-an, tergantung kecepatan motor juga mungkin, ya.  Capek banget pastinya.  Namun jangan khawatir rasa capek itu akan terbayar ketika kita melihat sekeliling yang memiliki pesona yang luar biasanya.

Karena asli pemandangan dalam setiap jalan yang kita lalui itu memang sangat memesona. Jika lelah kita bisa rehat sejenak sambil penikmati aroma pedesaan yang masih asri. Boleh kok kita berswafoto di sekitar sawah atau di bebatuan sungai yang ada di sekitar jalan.  Karena hasilnya tidak kalah eksotis.

Pict. Doc. Pribadi

Lalu, ketika kita sampai di Desa Duplak, kita akan disambut penjaga yang akan meminta kita untuk melaporkan nama, alamat dan tujuan pendakian kita. Yup, dalam setiap pendakian kita diharapkan melapor terlebih dahulu. Setelah itu kita baru bisa melanjutkan perjalalan. Untuk rute jalan sejak awal sebenarnya sudah sangat bagus dan sudah diaspal licin. Hanya saja jalanan mulai ekstrim berbatu-batu dimulai ketika kita akan sampai di Bukit Bejagan. Yah, di sana jalannya masih cukup ngeri, dengan rute yang tidak kalah menanjak juga penuh kelokan.

Pict. Doc. Pribadi

Namun perjuangan itu akan terbayar ketika kita sampai di sana. Yah, setelah perjuangan panjang dan sempat ketar-ketir, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Duch ... rasanya campur aduk, antara senang, tidak menyangkan setelah perjuangan panjang dari rumah hingga lokasi.  Di sana kami disambut dengan pamandangan alam yang luar biasa. Indah dan memukau, tidak kalah dengan pemandangan alam yang kami lewati dalam perjalanan menunju tempat ini.

Pict. Doc. Pribadi

            Pilihan lokasi yang bisa dimanfaatkan untuk berswafoto pun cukup banyak. Tinggal pilih. Dari foto di gardu pandang yang ada rumah kecilnya. Atau ada pula gardu pandang berbentuk love, serta gardu pandang berbentuk segi tujuh. Itu belum seberapa. Kalau mau naik lagi ada pula gardu pandang seperti rumah burung dan banyak lagi. Tinggal kita pilih mana yang nyaman di hati.

[Pict. Doc. Pribadi]

            Wisata ini juga dilengkapi dengan kamar mandi yang bersih dan tempat shalat, serta warung-warung makan. Jadi ketika dari rumah nggak bawa bekal, kita nggak perlu khawatir kelaparan. Hehhe.

[Pict. Doc. Pribadi] 

            Oh iya untuk tiket masuk ke wisata ini juga cukup terjangkau, lho. Hanya Rp 5.000,-- per orang kita bisa menjelajahi wisata ini sepuasnya.  Namun  perlu kami ingatkan juga setelah turun dari pendakian kita, kita dianjurkan untuk menyiram rem cakram motor kita. Ada kok setelah dari tempat pendaftaran pendakian tidak lama nanti ada blung kecil tempat air, yang bisa kita manfaatka. Selamat berlibur dan semoga bermanfaat. J

Srobyong, 12 September 2019

Tuesday, 19 February 2019

[Traveling] Pesona Goa Tritip, Wisata Alam Memesona



[Dokumen pribadi]


Dialah alam, yang sahabat setia yang selalu ada,
meski kadang kita bertindak semena-mena.
Maka, mulailah untuk menghargai, rawatlah dengan sepenuh hati
~Ratnani Latifah~

            Jepara tidak hanya kaya akan pesona wisata pantai. Wisata alam pun banyak tersebar di berbagai wilayah Jepara. Misalnya Wisata Seribu Akar, Telaga Sejuta Akar, Udara Yoga, Sreni Indah, Wisata Tempur dan banyak lagi.

            Tidak ketinggalan ada pula wisata Goa Tritip yang memiliki pesona alam yang tidak kalah indah dari  wisata lainnya. Tertelak di di desa Ujungwatu, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, wisata ini juga menawarkan pesona alam yang indah.  Kalau ingin mengunjungi wisata ini, untuk akses jalannya cukup mudah. Karena masih berada di kompleks wisata Benteng Portugis. Tiket masuknya pun cukup murah. Per kepala hanya membayar Rp 5000,00.

            Kalau menurut sejarah, Goa Tritip ini awalnya tempat bertapa Mbah Joyo Kusumo. Dulu jika kita menyambangi tempat ini, kita bisa melihat sebuah perahu—yang konon dijadikan tempat bertapa Mbah Joyo Kusumo. Namun sekarang ini perahu itu sudah tidak ada karena dirusak oleh tangan-tangan jahil yang pernah ke sana.  Ketika kita berkunjung di wisata ini, kita akan disambut dengan pemandangan hijau pohon dan pegunungan yang indah. Dan bagi yang suka foto banyak banget spot-spot menarik yang bisa kita pilih.

            Keindahan alam itulah yang setidaknya membuat saya ingin menyambangi wisata Goa Tritip.  Apalagi setelah melihat foto-foto apik yang diposting di IG dengan tagar #GoaTritip yang menunjukkan pesona wisata tersebut.

            Maka setelah sempat tertunda-tunda, tanggal 20 Januari 2019, saya berkesempatan untuk melancong ke sana. Dan alhamdulillah hari itu perjalanan sangat lancar dan tanpa terhalau hujan, yang saat ini memang terus mengguyur di wilayah Jepara hampir setiap hari.

            Meski untuk menempuhnya saya harus tahan, karena lokasinya cukup jauh dari rumah saya. Yah, setidaknya untuk sampai di sana saya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam-an. Lupa hehhe.  Namun kepayahan itu terbayar ketika sudah sampai di lokasi tujuan.

            Yah, pemandangan yang disuguhkan di sana memang sangat memesona. Apalagi ketika kita sudah sampai di puncak—jadi kalau boleh jujur, saya tidak menyangkan kalau bertandang ke Goa Tritip ini laiknya melakukan pendakian.  Jadi kalau kalian barang kali setelah membaca ini juga pengen bertandang ke sana, persiapkan bekal yang cukup agar tidak ngos-ngosan ketika ke sana. J


            Oke kembali pada panorama wisata Goa Tritip, pertama-tama kita akan disambut suasana pegunungan yang menyejukkan. Di bagian paling bawah kita bisa menyapukan mata melihat pohon-pohon hijau nan tinggi. Kemudian setelah berjalan lebih jauh kita bisa menikmati pesona napak tilas Goa Tritip dan perahu. Setelah itu ada pula spot macam gardu pandang yang bisa kita gunakan untuk rehat sejenak.

[Dokumen pribadi] 



            Lebih jauh lagi nanti kita bisa bertemu dengan sebuah batu besar yang sering digunakan para wisatawan buat berselfie ria. Di sana kita sudah bisa menikmati pesona alam yang luar biasanya, lho. Tidak lama dari lokasi itu, maka puncak dari perjalanan sudah terlihat. Yah ... selaiknya yang sedang in saat ini di sana banyak sekali disediakan tempat gardu pandang yang apik dan menarik. Tinggal pilih yang kita sukai saja.  Dari atas sana kita bisa menikmati keindahan pantai yang membentang dari Pacitan Gua Manik—Bentang Portugis dan juga Pulau Mandalika. Asli adem banget.

[Dokumen pribadi] 


            Nah yang lupa tidak bawa bekal, di sana ada warung yang menyediakan jajan dan juga minuman. So, jangan sedih kalau lupa. Hheeh.

[Dokumen pribadi] 

            Setelah puas melepas dahaga di Goa tritip, maka saya tidak melewatkan untuk kembali menyambangi Benteng Portugis—meski sudah beberapa kali ke sana. Hheh. Eh... ternyata di sana sudah banyak sekali perubahan yang membuat wisata tersebut makin apik dan menarik. jadi nggak menyesal deh buat mampir. Spot-spotnya juga makin banyak untuk dipilih.

[Dokumen pribadi] 

Begitu pula ketika saya mampir ke Gua Manik Pecatu Prak, di sana juga sedikit banyak sudah dirombak dengan menghadirkan banyak sekali spot menarik yang pastinya untuk menarik para wisatawan untuk berkunjung. Untuk tikek masuknya per orang Rp5.000,00.
           
           
           
[Dokumen pribadi] 




Monday, 31 December 2018

[Traveling] Plesiran di Telaga Seribu Akar



[Dokumen Pribadi]

“Sehatkan hati dan jiwa dengan menyantu bersama alam
Karena alam ada sebagai pengingat kekuasaan Allah.”
~Ratnani Latifah~


Sudah cukup lama saya mendengar ada wisata  di daerah Bondo, Bangsri –Jepara –Jawa Tengah, selain Pantai Bondo Atau lazim disebut Pantai Ombak Mati. Namun kesempatan untuk mengunjungi wahana ini baru terealisasikan Sabtu, 29 Desember 2018.  

[Dokumen Pribadi]


Apa sih yang seru dan asyik dari wisata ini? Kenapa “Telaga Sejuta Akar” menjadi satu dari wahana wisata Jepara yang patut dikunjungi? Dan apa bedanya degan “Wisata Akar Seribu” Okelah, saya akan sedikit membahas tentang wisata ini. Siapa tahu kamu suka dan ingin mampir ke sini, jika sedang dolan di Jepara.

Memang sih keduanya memiliki nama yang sama yang berhubungan dengan akar, tapi wisata ini jelas beda. “Akar Seribu” itu terletak di Plajan, Pakis Aji-Jepara, lebih jelasnya bisa cek tautan ini. Sedangkan “Telaga Sejuta Akar” itu letaknya di Bondo-Bangsri-Jepara., sebagaimana yang sudah saya paparkan di atas.  

Wisata ini menawarkan pemandangan yang tidak kalah indah dari “Akar Seribu”. Di sana kita bisa menikmati pemandangan alam nan indah. Karena tempat ini dikelilingi jejeran pohon karet  beringin dengan jumlah akar yang sangat banyak, sehingga tempat ini disebut sebagai sejuta akar.

[Dokumen Pribadi]

Di sana kita bisa merasakan keindahan pesona alam,  tempat asri nan sejuk dan  udara segar.  Mata air laiknya telaga juga menjadi daya pesona tersendiri yang menarik.  Asyik, kan?  Tempat ini disediakan kursi-kursi strategis untuk menikmati pemandangan atau sekadar duduk santai. Bagi yang suka berswafoto, maka tempat ini memiliki spot-spot menarik yang bisa dipilih.  Untuk tiket masuk pun relatif murah. Kita hanya butuh mengelurkan Rp 2.500,-- jika ingin plesir di sini. Intip yuk, beberapa spot yang bisa dijadikan pilihan :D 

[Dokumen Pribadi]


[Dokumen Pribadi]


[Dokumen Pribadi]

[Dokumen Pribadi]


            Menurut pengelola wisata ini, konon telaga ini dulu disebut sebagai Telaga Mandirejo. Sebuah petilasan, tempat yang dulu digunakan oleh Dewi Anjani hamil dan melahirkan seorang anak berupa kera putih (hanoman). Sehingga kala itu konon banyak spesies serupa di telaga ini. Namun berjalannya waktu spesies itu sudah tidak ada lagi.

            Dan konon telaga ini sudah ada, sebelum  desa untuk ditempati warga. Di mana tempat ini pernah disakralkan—di mana dulu orang yang sedang haid dilarang masuk ke sana. Akan tetapi sekarang sudah tidak ada lagi larangan seperti itu. Sekarang siapa saja bisa masuk dan menikmati keindahan alam yang ada di sana. Apalagi dengan berbagai fasilitas yang sudah mulai disediakan di sana.  Salah satunya ada gardu pandangnya juga, lho. 

[Dokumen Pribadi]

Dan tahu nggak, telaga ini selain dijadikan tempat wisata, ternyata juga bermanfaat sebagai pengairan sawah-sawah di desa Bondo.  Mantap bukan?

            Srobyong, 31 Desember 2018 

Monday, 24 September 2018

[Traveling] Wisata Religi : Keindahan Makkah-Madinah di Firdaus Fatimah Zahra

[Dokumen pribadi bagian depan Firdaus Fatimah Zahra] 


Kota Semarang, Jawa Tengah memiliki banyak sekali destinasi wisata yang patut kita sambangi. Dari wisata alam—Pantai Marina, Geo Kreo, Curug Lawe, Curug Benowo, dll. Wisata sejarah : Lawang Sewu, Kota Tua Semarang, Musemum  MURI, Museum Mandala Bhakti, dll. Wisata keluarga, Wisata malam, Wisata belanja dan termasuk wisata religi. 

            Di antara destinasi wisata religi yang bisa kita sambangi adalah “Firdaus Fatimah Zahra” . Tempat ini dibangun oleh PT Fatimah Zahra, sebuah biro perjalanan haji dan umrah di Semarang.  Sebuah tempat yang awalnya untuk keperluan latihan manasik umrah dan haji  Fatimah Zahra. Akan tetapi saat ini telah terjadi perubahan, karena  Firdaus Fatimah Zahra juga sudah digunakan biro-biro haji lain untuk berlatih manasik. Bahkan tempat ini juga mulai dibuka untuk umum, dijadikan salah satu wahana wisata religi yang menarik.

            Bagaimana tidak, ketika kita datang ke sini, maka seolah-olah kita akan melihat potret Makkah-Madinah. Yah ... kita akan melihat tempat dan  proses yang akan kita lalui tatkala melaksanakan ibadah haji dan umrah. Tanah seluas kurang lebih 3 hektar ini, benar-benar menyajikan sebuah keindahan wisata yang menarik  dengan wawasan keagamaan.  Pokoknya kita tidak akan rugi ketika berkunjung di sana.

            Lalu apa saja yang bisa kita temukan di “Firdaus Fatimah Zahra”?

            Yuk kita mulai bahas satu persatu, tempat-tempat menarik di sana.

1.      Gerbang Utama Firdaus Fatimah Zahra

Oke, kita mulai dari yang paling luar dulu, yak! Jadi ketika kita akan mengunjungi wisata ini, maka di luar kita akan disambut oleh gerbang utama yang indah dan megah. Di mana konon keindahan dan kemegahan ini merupakan simbol eksklusif dan kenyamaan manasih di Firdaus Fatimah Zahra.

[Dokumen pribadi Gerbang Utama Firdaus Fatimah Zahra] 


2.      Hall Achmad Aidy

Tempat ini sengaja disediakan olah pendiri Firdaus Fatimah Zahra, sehingga para tamu yang mengunjungi tempat ini akan merasakan nuasana Islami yang kental. Hall (Gedung pertamuan_ ini sendiri menurut saya memang sangat cantik dan nyaman.  Dibangun dengan arsitektur bergaya Timur Tengah, semakin menambah rasa kedekatan terhadap keadaan di Makkah-Madinah.

3.      Replika Imigrasi

Jadi, sobat, di sini disediakan juga replika imigrasi yang dibuat sangat mirip dengan cuonter imigrasi, boks petugas imigrasi. Di mana diharapkan dengan kemiripan ini akan mempermudah para jamaah haji ketika imigrasi di Jeddah. Cantik banget bukan? Jadi kita di sini benar-benar akan mendapat gambaran dengan proses-proses yang akan kita lewati tatkala siap menjalankan ibdaha haji atau murah.

4.      Tempat Pengambilan  Koper

Wah ... saat masuk ke sini, saya benar-benar dibuat kagum dengan keindahan bangunannya. Setelah kita diajak melihat replika imigrasi, maka kita juga akan diperlihatkan tempat pengambilan koper.  Bahkan di sana kita akan melihat berjejer koper yang siap untuk kita ambil. Hhehe.

5.      Replika Bandara “King Abdul Aziz Jeddah”

Nah, setelah kita melihat tempat pengambilan koper, maka kita akan diantarkan masuk bandara “King Abdul Aziz Jeddah” eh ... serius? Nggaklah ini repilikanya, sob. Jadi  di Firdaus Fatimah Zahra, kita akan melihat suasana dan interior yang dibuat mirip sekali dengan bandara aslinya. Seperti dalam tata letak kursi, warna dinding yang dibuat untuk mempermudah jamaah. Tidak ketinggalan bandara ini juga dilengkapi dengan musala, toilet dan foodcourt. Menarik sekali bukan?

[Dokumen pribadi salah satu sisi dari Replika Badara "King Abdul Aziz Jeddah"] 


6.      Toilet Bandara

Ini, lho yang sempat kita singgung tadi. Toilet bandara yang didisesani mirip dengan yang ada di Bandara Jeddah. Mulai dari petunjuk toilet pria dan wanita. Tempat ini juga sangat multi fungsi karena disertai tempat wudu seperti Bandara Jeddah.  Cakep, euy!

7.      Musala

Kemudian  kita akan diajak melihat bangunan musala yang terlihat dan terkesean mewah. Kesan lainnya adalah nuasan Islami yang tercipta dari kaligragi bergaya turkey yang digunakan sang pendiri tempat ini. Saya yakin, keindahan dan kebersihan yang ditawarkan di sini, akan membuat kita merasa nyaman saat beribadaha, juga ketika melakukan rehat sejenak.  Karena saat kita mengunjungi tempat ini, kita memang harus full power, agar tidak capek untuk mengelilingi setiap tempat yang menarik dan apik. Oh iya, keistimewaan lain dari musala ini adalah keberadaan kaligarfi sebagai pemanis ruangan, yang ternyata  berupaka lukisan tangan. Ich ... wow banget, sih.

8.      Replika Jam Masjidil Haram

Tahu tidak, sob kalau di pelataran Masjidil Haram Makkah, di sana terdapar sebuah tugu jam. Tepatnya berada di depan pintu 1 “Malik Abdul Aziz”. Nggak tahu, ya? Wah ... samalah seperti saya. Maklum belum pernah ke tanah suci. Semoga suatu hari ada kesempatan dan rezeki.  Eih ... kok malah ngelantur. Hheh. Maaf.

Nah, di Firdaus Fatimah Zahra ini ternyata membuar replika Jam Masjidil Haram, yang sangat mirip, lho. Lihat, kan, dari sini kita langsung nambah pengetahuan. 


[Dokumen pribadi Replika Jam Masjidil Haram] 

9.      Replika Pintu Masjidil Haram

Satu lagi nih, yang menunjukkan bahwa Firdaus Fatimah Zahra sebagai lokasi manasi eksklusif dan lengkap. Yah, selain replika jam, ada pula replika pintu 1 Masjidil Haram “Babul Malik Abdul Aziz”. Keren, ya?  Bangunan ini konon dibuat sangat mirip. Coba kita lita detail dan warna replika ini dan kita bisa search untuk memastikan kemiripannya dengan yang asli. Wow ... kalau manasik di sini pasti jadi lebih semangat, ya.

[Dokumen pribadi Replika Pintu Masjidil Haram] 

10.  Replika Ka’bah

Dan ini, lho yang tidak mungkin tertinggal. Ya ... iyalah. Ke Makkah tanpa melihat Ka’bah, pasti sesuatu banget. Begitu pula saat di sini. Maka inilah replika ka’bah. Replika ini berukuran  9m x 8m x 9m dan berada di tengah-tengah replika masjidil Haram. Diharapkan dengan adanya replika ini akan mempermudah latiha thawaf saat berlatih manasik. Jadi ketika sudah di tanah Makkah, para jamaah sudah mandiri saat melalukan thawaf.

 [Dokumen pribadi Replika Ka'bah] 

11.  Replika Hajar Aswad

Sudah pernah dengar tentang kisah Rasulullah yang membantu para pembesar karena masalah tata letak batu hitam? Nah ... inilah batu hitam itu yang disebut dengan Hajar Aswad.  Di Firdaus Fatimah Zahra, kita akan diperlihatkan  bagaimana bentuk batu yang sempat membuat para pembesar heboh karena ingin menjadi yang pertama dalam meletakkannya Hajar Aswad.

Oke ... tidak terasa ternyata sudah 11 tempat yang sudah saya paparkan panjang kali lebar.   Dan Ternyata ini baru setengah dari tempat yang ada di sana, lho.  Yup ... masih banyak banget tempat-tempat lain yang tidak kalah seru yang bisa kita sambangi saat berkunjung ke sana.  Penasaran apa saja tempat itu? 

12.  Replika Makam Ibrahim

Kita pasti tahu dong, kalau ka’bah pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahmi dan Nabi Ismail.  Nah, di sini dibuat juga replika makan Ibrahim. Yaitu tempat pijakan Nabi Ibrahami ketika membangun ka’bah. Di replika ini, pun terdapat replika jejak telapak kaki.


[Dokumen pribadi Replika Makam Ibrahmi] 

13.  Replika Hijr Ismail

Ada yang tahu apa itu Hijr Ismali?  Yup, hijr Ismail itu sebuah tempat di sebelah utara bangunan ka’bah, yang berbentuk setengah lingkaran. Nah, di Firdaus Fatimah Zahra, dibuat juga replikanya, sehingga kita bisa mengintitp bentuk Hijr Ismail, sebelum melihat versi aslinya nanti ketika ke tanah suci. 


14.  Replika Sai

Kalau sai, sobat semua pasti sudah tahu dong? Yup, lari-lari kecil dari bukit sofa ke marwah. Nah di sini ada pula replikanya, lho.  Sebagaimana yang lain, tempat ini pun dibuat semirip mungkin.  Dinding dibuat  bercorak marmer, plafon dengan kaligrafi bahkan lampu hijau sebagai tanda lari-lari kecil.


15.  Replika Arafah

Pada tanggal 9 Dzulhijjah merupakan waktu bagi jamaah haji berkumpul di padang Arafah. Di sana-lah jamaah haji melaksanakan wukuf.  Di sini dibangun pula replika yang terapat tenda-tenda selayaknya berada di padang Arafah.

[Dokumen pribadi Padang Arafah + Kamar Mandi Arafah]


16.  Replika Jabal Rahmah

Tahu nggak, sob, kalau Jabal Rahmah itu merupakan pusat dari padang Arafah. Bukit berbatu ini, konon merupakan tempat  bertemunya Nabi Adam dengan Siti Hawa. Nah, di sini pun di bangun replikanya bahkan  kita bisa menaikinya sampai ke atas.

[Dokumen pribadi, Replika Jabal Rahmah]

17.  Replika Kamar Mandi Arafah

Sebagaimana di padang Arafah yang menyediakan kamar mandiri minimalis, maka di sini pun terdapat replika kamar mandiri, yang pastinya semakin membantu dan memudahkan kita ketika mengelilingi  wahana ini, jika sewaktu-waktu membutuhkan kamar mandi, sekaligus membantu memudahkan para calon jamaah dalam lebih mengenal padang Arafah.

18.  Replika Jamarat Mina

Melempar jamarat di Mina biasanya dilakukan pada tanggal 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah.  Di sini juga disediakan replikanya yang sama persis  dengan yang ada di tanah suci. Sebuah tempat yang bentuknya berupa lingkaran sumur. Mau mencoba melakukan jamarah mina? Bisa atuh ke sini. 

19.   Toko-toko

Di mana pun rasanya tidak akan seru jika tanpa adanya toko-toko yang menyediakan berbagai souvenir  atau buah tangan untuk dibawa pulang. Maka di sini pun disediakan berbagai toko yang menyediakan berbagai cindera mata, yang siap untuk diburu. Uniknya cindera mata di sini itu juga khas sebagaimana cindera mata yang biasanya kita temukan di Arab Saudi. Baik dari segi makanan, pakaian, dan banyak lagi.

20.  Replika Masjid Nabawi

Satu tempat yang selalu dirindukan para jamaah haji adalah mendatangi Masjid Nabawi. Nah, sebelum kita melihat secara langsung, tidak ada salahnya, kita melihat replikanya sejenak di sini. Dan wow ... baru replikanya saja terlihat sangat indah dan memikat, apalagi jika kita sudah sampai di tempat asalnya, ya? Pasti lebih indah dan memesona.

[Dokumen pribadi, Replika Masjid Nabawi dari samping] 

21.  Replika Raudhah

Selain Masjid Nabawi, ini lho tempat yang selalu dituju para jamaah haji. Karena di Raudhah inilah terdapat batas antara makam Rasulullah dan mimbar Rasulullah. Yah ... di sini kita seperti merasakan jejak keberadaan Rasulullah.  Sayangnya, saat mampir ke sini, saya nggak sempat masuk karena terlalu banyaknya pengunjung wisata. L

22.   Foodcourt.

Nah kalau foodcourt ini merupakan tempat yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman khas Arab Saudi. 


           Bagaimana? Penasaran, kan? Mau tahu lebih jelasnya,  so,  segera  kunjungi sendiri wisata ini.
 
Lokasinya sendiri berada di Jl. Muntal, Mangunsari, Gunung Pati, Semarang jawa Tengah. Tiket masuk 40K per orang.   

            Dan bagi yang suka hunting spot foto bagus, selain yang sudah saya paparkan, masih ada spot-spot lain yang tidak kalah keren buat dijadikan background foto. Di ataranya, 3 tempat ini. Hhehh :) Selamat berlibur. 


[Dokumen Pribadi ]

[Dokumen pribadi]
[Dokumen pribadi Museum Al Haramain]




Srobyong, 24 September 2018

            *Sumber : Buku Passfor dari Firdaus Fatimah Zahra.

[Dokumen pribadi, Ini lho tiket masuk yang akan kita dapat saat masuk ke Firdaus Fatimah Zahra + Bonus buku Dzikir]