Showing posts with label Analisa Medan. Show all posts
Showing posts with label Analisa Medan. Show all posts

Thursday, 29 November 2018

[Resensi] Mereguk Hikmah dan Kearifan dari Para Kiai

Dimuat di Analisa Medan, Jumat 9 November 2018


Judul               : Mereguk Kearifan Para Kiai
Penulis             : Jamal Ma’mur Asmani
Penerbit           : Quanta
Cetakan           : Pertama, 2018
Tebal               : 234 halaman
ISBN               : 978-602-04-5620-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Ulama adalah  panutan dan orang-orang yang bertakwa adalah majikan, duduk bersama mereka bisa menambah.” (hal 5).

Godaan-godaan destruktif manusia disebabkan banyak hal. Dalam bahasa agama, ada makhluk yang bertugas menggoda manusia supaya tergelincir ke lubang kehancuran. Makhluk tersebut disebut setan. Selain setan, sesuatu yang justru paling besar pengaruhnya dalam mencelakakan manusia adalah lingkungan yang merusak. Lingkungan tersebut terdiri atas teman pergaulan dan budaya masyarakat yang membawa seseorang ke jurang neraka.

Oleh sebab itu, dalam Islam seseorang dianjurkan untuk memilih tempat dan lingkungan yang membawa kepada persemaian ajaran-ajaran Islam yang suci dan agung (hal 2-3). Di antaranya kita bisa memulainya dengan berkumpul dan berteman dengan orang-orang yang teguh dalam iman serta berakhlakul karimah, dan sosok yang berada dalam naungan rida Allah, yaitu ulama atau sering disebut juga kiai.

Dengan mendekatkan diri kepada alim ulama, diharapkan kita bisa mengambil keteladanan, baik dari segi sikap juga amalan-alaman yang telah dilakukan. Karena ulama merupakan sosok yang akan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah agar mendapat rida-Nya. Ulama selalu bersikap sabar, santun dan rendah hati terhadap siapa saja. para ulama juga sangat memedulikan tentang masalah pendidikan, serta kesejahteraan kaum.

Lewat buku ini, penulis mencoba mengenalkan kepada pembaca tentang kearifan para ulama yang patut untuk kita teladani. Sehingga kita bisa mengambil ibrah—keteladana serta bermuhasabah diri.
Adalah Kiai Hasyim Asya’ari yang kerap disebut sebagai Mahaguru Kiai Nusantara, karena kiprah kepahlawanannya. Beliau merupakan sosok ulama dan negarawan yang seluruh hidupnya dicurahkan untuk membesarkan umat dan memperjuangan nasib bangsa (hal 33). Kiai Hasyim Asy’ari  tidak ingin pemimpin dan warga NU berpikiran sempti dan fanatik. Beliau mengajarkan sikap toleran, moderat yang sangat dibutuhkan bangsa di tengah pluralitas dan heterogenitas bangsa yang terdiri atas banyak agama, rasa, suku, etnos dan antar golongan (hal 38).

Ada pula Kiai Abdullah Zein Salam. Beliau merupakan wali yang sangat istikamah. Misalnya saat beliau sakit, beliau tetap menjalankan salat tahajud.  Dan ketika ada yang mengingatkan untuk berisitirahat, beliau menjawab, “Seng Pasti Ojo Kalah Karo Seng Ora Pasti.” Yang artinya yang pasti adalah mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan yang tidak pasti adalah kesembuhan, sehingga yang pasti tidak boleh dikalahkan yang tidak pasti (hal 43).

Selain selalu bersikap istikamah, beliau juga selalu menghindari tamak, selalu ikhlas mengharap rida Allah dalam segala lakunya. Beliau juga bersikap zuhud dan wara,  dermawan, rendah hati, hidup dalam kesederhanaan, dan tegas dalam mendidik guru dan anak dididiknya di pesantren. Kemudian tidak ketinggalan, beliau  merupakan pemimpin sangat cepat tanggap dalam melihat potensi kader-kader muda dan membantu kader mudah untuk berkembang dengan pesat (hal 44-45).

Kemudian, kita juga bisa mengambil keteladanan dan kearifan dari Kiai Ali Maksum, beliau merupakan sosk kiai yang lihai mengader generasi penerus. Pemikiran beliau di antaranya adalah ajakan untuk selalu membangun ukhuwah atau persaudaraan sesama muslim juga sesama manusia. kita juga diajak untuk kesadaran bernegara. Beliau menjelaskan ada beberapa hal yang bisa menjadi dasar tegaknya kemaslahatan dunia. Yaitu: agama menjadi pemodan, penguasa yang berwibawa, keadilan yang merata, keamanan semesta, kemakmuran sandang pangan dan harapn masa depan dan cita-cita yang tinggi (hal 135).

Selain beberapa ulama tersebut, maskh banyak lagi ulama atau kiai yang bisa kita teladani. Di antaranya ada Kiai Yafie yang dikenal sebagai sosok akademisi dan organisator ulung, lalu ada Kiai Mustafa Bisri, yang dikenal sebagai ulama santun dan dekat dengan umat, Kiai Said Aqil Siradj, yang dikenal sebagai ulama – orator ulung dan masih banyak lagi.

Buku membuka cakrawala bagi kita dalam bersikap di masyarakat. Kita harus mulai mengendalikan diri dan selektif dalam memilih teman dan mencari lingkungan.  Mari selalu mendekatkan diri kepada ulama, selain untuk belajar juga untuk mengambil ibrah dan keteladanan. Sebuah buku yang patut kita baca sebagai pencerah dan pengingat diri.

Srobyong, 2 November 2018

[Resensi] W.R Supratman, Pahlawan yang Berjuang Lewat Seni

Dimuat di Analisa Medan , Rabu 7 November 2018


Judul               : Sang Penggesek Biola
Penulis             : Yudhi Herwibowo
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Juni 2018
Tebal               : vi + 402 halaman
ISBN               : 978-602-7926-41-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

W.R. Supratman merupakan salah satu pahlawan nasional.  Dia dikenal sebagai pencipta lagu Indonesia Raya, yang merupakan lagu kebangsaan Indonesia.   Hanya saja, jasa kepahlawanan W.R Supratman ini tidak terlalu dikenal masyarakat. Dia hanya dikenal sebagai pencipta lagu saja. Padahal ada proses panjang dan berliku  dalam penciptaan lagu Indonesia Raya.  Bahkan dia harus mengorbankan kebebasannya, serta harus siap berhadapan dengan agen-agen PID (Dinas Intelejensi Kepolisian Hindia Belanda).

Buku ini dengan tampilan berupa novel biografi W.R Supratman, akan mengupas lebih detail tentang perjalan hidup serta seluk beluk dan proses yang harus dilalui Supratman dalam menciptakan lagu Indonesia Raya. W.R Supratman lahir di Puworejo. Akan tetapi dia tumbuh besar di Makasar.  Karena sejak ibunya meninggal dunia, dia dirawat oleh Rukiyem, kakaknya. Di sanalah dia belajar bahasa Belanda dan musik.

Namun ketika menginjak usia dewasa, Supratman memutuskan untuk pindah ke Jawa. Semua bermula dari pertemuannya dengan Mr. Schulten dan berbagai surat kabar seperti, Kaum Muda, Sin Po, Perniagaan dan lain sebagainya, yang telah menjadi bacaan sehari-hari Supratman. Dari  sana dia mengetahui tentang keadaan  pergerakan di tanah Hindia –Belada, terutama di pulau Jawa. Dia juga mulai mengenal nama-nama tokoh-tokoh pergerakan seperti, Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, Abdul Muis dan Dr. Cipto Mangunkusomo (hal 25-26).  Sejak saat itu, hati nuraninya merasa terusik dan terpanggil untuk ikut serta dalam perjuangan Indonesia.

Di Jawa—tepatnya di Bandung,  Supratman memulai karirnya sebagai wartawan di surat kabar Kaum Muda. Lalu pindah ke Batavia dan ikut bekerja di Biro Pers Alpena. Dan terakhir dia memutuskan untuk bekerja di surat kabar Sin Po. Supratman sangat menikmati pekerjaanya. Karena profesi itu membuatnya bisa  memberitakan dan menyebarkan berita-berita tentang gerakan-gerakan pemuda ke seluruh penjuru negeri (hal 140). 

Namun berlalunya waktu, Supratman ingin bisa menyumbang sesuatu yang lebih. Sebagai warga Indonesia, dia juga ingin ikut berjuang meski bukan dalam ranah politik.   Saat itulah dia tiba-tiba memiliki ide untuk membuat sebuah lagu yang sesuai dengan suasana pergerakan. Dia berharap lagu itu bisa menghibur dan memotivasi semangat pergerakan. Dan di antara lagu yang diciptakan Supratman adalah “Indonesia Raya”.

Lagu itu pertama kali dikumandangan pada  bulan Oktober 1928, saat berlangsungnya Kongres Pemuda II.  Sambutan untuk lagu ini sangat luar biasa. Bahkan sejak saat itu, lagu “Indonesia Raya” selalu dikumandangkan apabila ada kongres-kongres politik. Di mana saat mengumandangkan lagi itu, para peserta harus berdiri tegak  dan bersikap hormat. Sedang  lirik lagu Indonesia raya pertama kali disebarkan oleh surat kabar Sin Po, pada edisi Sabtu, 10 November 1928 (hal 285).

Sejak lagu “Indonesia Raya” dikenal oleh masyarakat,  sejak saat itu pula kehidupan Supratman berubah. Dia selalu merasa diikuti dan diintai oleh agen-agen PID Keadaan itu sungguh membuat Supratman tidak nyaman dan harus bersembunyi.  Akan tetapi ternyata Agen PID itu berhasil menemukan Supratman dan memukulinya hingga babak belur. Tidak hanya itu, Supratman juga harus mencicipi masuk dalam bui, karena menciptakan lagu Indonesia Raya serta karena buku karyanya yang dianggap sebagai makar.

Akan tetapi meski harus menghadapi berbagai tantangan dan kekejaman Belanda, Supratman tetap teguh dan tidak goyah.  Meski sempat diancam dan difitnah telah melakukan plagiasi, bahkan jatuh sakit, dia tetap menciptakan berbagai lagu, yang dirasanya bisa memotivasi pemuda  Indonesia untuk terus melakukan pergerakan, guna merebut kemedekaan.

Melalui seni, Supratman  mengekspresikan rasa cinta tanah airnya dan menunjukkan sikap nasionalisme yang tinggi. Dia mengobarkan semangat juang para pemudah Indonesia, lewat lirik lagu yang dia ciptakan.  Sebaimana yang dikatakan Ir. Sukarno, “Kau berjuang dengan biolamu, dengan lagu yang kaugubah, yang alunan nadanya merasuk ke telinga semua orang  dan menggelorakan sanubari.” (hal 282). 

Sayangnya, dia tidak sempat mencecap kemerdekaan, karena dia meninggal  pada tanggal 17 Agustus 1038, karena sakit. Buku ini sangat patut dibaca oleh masyarakat luas, sebagai tambahan wawasan. 

Srobyong, 29 September 2018 

Tuesday, 27 November 2018

[Resensi] Mengambil Keteladanan dari Kehidupan Khadijah

Dimuat di Analisa Medan, Jumat 26 Oktober 2018


Judul               : Khadijah Cinta Sejati Rasulullah
Penulis             : Abdul Muni’im  Muhammad Umar
Penerjemah      : Ghozi M
Cetakan           : Pertama, Maret  2017
Tebal               : viii + 322 halaman
ISBN               : 978-602-082246-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“....Demi Allah aku tidak pernah memperoleh pengganti  yang lebih  baik daripada Khadijah. Ia yang beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia yang mempercayaiku tatkala semua orang mendustakanku. Ia yang memberiku harta di saat semua orang enggan memberi. Dan darinya aku memperoleh keturunan sesuatu yang tidak kuperoleh dari istri-istriku yang lain.” (hal 269).

Kisah Khadijah binti Khuwailid, atau yang kerap disebut sebagai  Ummul Mukminin selalu meninggalkan kesan yang mendalam. Seluruh umat Islam, tak peduli sebesar apa pun perbedaan paham di antara mereka, mereka tetap menghormati dan mencintainya sepenuh hati.   Dialah wanita pertama yang masuk  Islam. Mendedikasikan dirinya untuk perjuangan Islam. Memiliki sikap sabar, ulet dan kuat, istri pertama Rasulullah yang tidak pernah dimadu. Melalui buku ini, penulis mengajak kita untuk mengenal lebih dalam tentang riwayat hidup Khadijah, serta meneladani potret kehidupannya yang sangat menginspirasi dan patut kita teladani.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, Khadijah sudah pernah menikah dua kali. Pertama dengan  Abu Halan an Nabbasy ibnu Zurah at-Taymi, dan yang kedua dengan ‘Athiq ibnu ‘Aidz al-Makhzumi.  Namun hal itu tidak membuat pesona Khadijah pudar. Di masa jahiliyah, Khadijah diberi gelar “wanita yang suci”. Bahkan di masa itu banyak lelaki yang meminangnya dengan tawaran sejumlah harta sebagai maskin. Namun dengan tegas Khadijah menolak pinangan itu. Dia lebih memilih bergelut dengan dunia perdagangan dan mengasuh anak.

Hingga suatu hari Khadijah mendengar tentang Muhammad ibnu Abdullah. Seorang pemuda yang memiliki kejujuran dan keluhuran budi. Hal itulah yang mendorong Khadijah memilih Muhammad dalam urusan perdagangan ke Syam. Meski dia tahu bahwa Muhammad belum memiliki pengalaman banyak soal perdagangan (hal 4).  Dan dugaannya tidak salah, urusan perdagangan ke Syam berjalan lancar.

Semakin mendengar kelebihan-kelebihan yang dimiliki Muhammad, entah kenapa membuat setitik rasa kagum pada diri Khadijah. Hingga akhirnya dia mulai menyelidiki tentang siapa sosok Muhammad ini. Salah satunya dari Maysarah, pelayan laki-laki yang pernah membantu Muhammad ketika melakukan perdagangan ke Syam.

Selanjutnya Khadijah juga menghubungi saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal. Dari Waraqah, seorang Nasarani yang rajin mengkaji kitab suci agama terdahulu, dia menyimpulkan, Muhammad adalah seorang nabi yang  pernah diterangkan dalam kitab terdahulu.  Kekaguman Khadjiah pun semakin tinggi. Namun yang menjadi pertanyaannya pantaskah dia bersanding dengan Muhammad? Namun setelah melakukan berbagai pertimbangan, akhirnya Khadijah melamar Muhammad.

Inilah yang dikatakan Khadijah ketika melamar Nabi Muhamamd  “Wahai anak pamanku! Aku berhasrat menikah denganmu atas dasar kekerabatan, kedudukanmu yang mulia, akhlakmu yang baik, integritas moralmu dan kejujuran perkataanmu.” (hal 13). Bahwa hal pertama yang dia pandang bukan pada paras atau harta yang dimiliki Muhamamd. Karena Muhammad sendiri memang bukan dari kalangan orang berada. Namun yang Khadijah perhatikan adalah sikap dan akhlak Muhamamd  yang memiliki perangai baik dan terpuji.  Inilah kiranya, yang patut kita teladani dai Khadijah. Dalam memilih pasangan, hendaknya kita tidak hanya melihat rupa dan harta, namun juga agama, khusunya akhlak yang dimiliki.

Selama menjadi istri  Muhammad, Khadijah selalu membaktikan diri sepenuhnya. Hingga akhirnya risalah kenabian itu tiba. Khadijah adalah orang pertama yang menerima risalah yang dibawa Nabi Muhammad. Khadijah pula yang memberi ketenangan bagi Nabi Muhammad, ketika beliau ketakutan  saat pertama kali didatangi Jibril, sang pembawa wahyu (hal 57). Tidak hanya itu, Khadijah juga merelakan harta bendanya untuk digunakan Nabi Muhammad sebagai  keperluan dakwah. Khadijah juga salah satu orang yang melindungi Nabi, ketika para pemuka Quraisy marah besar karena Nabi Muhammad membawa ajaran baru.

Maka pantaslah kiranya jika Khadijah menjadi wanita yang sangat istimewa. Hingga Allah menjanjika surga sebagai tempat berpulang. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Hatim, “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muhazim, istri Firaun.” (hal 276).

Diceritakan dengan bahasa yang sederhana, buku ini membuka gerbang cakrawala yang akan membuat kita mengenal lebih dekat tentang kehidupan Khadijah. Dari kisah hidupnya kita bisa belajar tentang arti kesabaran, keuletan, keikhlasan dan ketawadukan.

Srobyong, 2 Juni 2018 

Friday, 5 October 2018

[Cerpen] [Cerma] Insiden Sepatu

Dimuat di Analisa Medan, Minggu 9 September 2018 


*Ratnani Latifah
            Vania memperhatikan deretan sepatu yang ada di hadapannya. Sangat manis dan menggugah selera. Dia melihat dengan seksama model-model flat shoes yang membuat dia makin tergiur. Padahal sudah berpuluh sepatu yang Vania koleksi untuk memadukan dengan setiap baju yang dibeli.
            Mata itu makin mengawasi dengan jeli, melihat sepatu flat warna ungu yang selalu menjadi candu.
            Ketika dia akan mengambil sepatu itu, ternyata tangan seorang cowok mendahului dia dengan cepatnya. Vania terbengong. “Cowok ini lancang sekali.” Vania menggerutu sendiri.
            “Maaf, itu sudah mau gue ambil.” Vania meminta sepatu itu.
            “Tapi, gue yang mengambil duluan.” Cowok itu tidak mau kalah.
            Vania sebal bukan main, apalagi itu model terbaru  Flat Geearsy yang selalu dia tunggu. Dengan warna ungu yang makin membuat dia harus memilikinya.
            “Loe mengambilnya setelah gue pegang. Sini berikan!” Vania berusaha merebutnya. Tapi, cowok itu tetap tidak mau kalah untuk mempertahankannya.
            “Loe kan cowok kenapa tidak mencoba mengalah sedikit dengan cewek sih,” gerutu Vania kesal.
            “Lagipula, buat apa Loe beli sepatu cewek.” Cibir Vania. Cowok itu bukannya menjawab, malah menatapnya Vania dengan  tajam.
            “Bukan urusan Loe,” ucapnya ketus.
            Perdebatan mereka untuk mendapatkan sepatu itu membuat karyawan di toko itu turun tangan untuk memisahkan. Mereka mencoba melerai dan memberi pilihan. Namun sayang, Vania dan cowok itu sama-sama menolak. Karena yang mereka inginkan sepatu itu yang ternyata stocknya tinggal satu dengan ukuran yang sama yang mereka ingin beli. Jadi tidak mungkin diganti.
            Vania dengan muka ditekuk, mencoba mengikhlaskan sepatu flat itu untuk cowok yang menyebalkan yang tidak mau mengalah. Dia pulang dengan tangan kosong tanpa membeli apapun, karena dia sebenarnya masih mengharap sepatu itu.
            “Aaaaaaaa!!” teriak Vania sendiri. Dia meninggalkan toko dengan kecewa. Dia bersumpah tidak akan melupakan cowok brengsek yang tidak punya hati, yang tidak mau mengalah dengan cewek.
            Vania, kini melangkah untuk pulang ke rumah. Dia mau merelaxkan sebentar pikirannya yang masih panas.
            Sesampainya di rumah dia tidak mengindahkan panggilan Radit—kakaknya. Vania langsung pergi begitu saja untuk masuk ke sarangnya.
            “Va, dipanggil kok ngeloyor sih.” Radit mengingatkan adiknya.
            “Vania lagi kesal Kak, nanti aja kalau udah adem.” Vania tidak mempedulian kakaknya.
            Radit mengalah membiarkan Vania mendinginkan otak. Kalau dia mengganggu malah bisa dapat semburan pedas yang berujung adu mulut tak terelakkan.
            Ketika jam makan malam, Vania baru keluar dari persembunyian. Suara peut yang tidak mau berkompromi membuat dia harus keluar demi sesuap nasi. Rasa marah ternyata membuat kelaparan juga.
            “Kenapa Va? Dari pulang sekolah kok  uring-uringan? Lagi dapet ya? Atau ada tugas fisika? Loe kan suka stres kalau harus ngerjain fisika.” Radit mendekati adiknya, mencoba meledek. Vania mengangkat bahu.
            Dia duduk di ruang tengah menungggu panggilan Bunda untuk makan malam bersama. Radit masih berusaha membujuk, dia tahu Vania tidak akan betah menyembunykan masalah dari dia.
            Benar saja, lima menit kemudian, cerita insiden sepatu itu meluncur begitu saja dari bibir mungil Vania. Dia menceritakan semua detil kejadian yang dia lalui. Rencana awal saat ke toko untuk hunting sepatu menjadi gagal total, karena ulah cowok sableng yang merusak mood Vania hilang. Dia pulang tanpa membawa apa-apa kecuali kecewa yang berkepanjangan.
            Radit malah tertawa terbahak membuat Vania bingung dengan ulah Kakaknya.
            “Ich! Apa yang lucu coba Kak,  Vania sebal tahu,” Vania protes.
            “Kau ini Va, gara-gara masalah itu uring-uringan seharian? Lucu tahu, apalagi mendengar kalian cowok dan cewek bersitegang karena sepatu,” Radit kembali tertawa terbahak. Namun, langsung dihentikannya ketika melihat wajah Vania yang semakin lusuh saja.
            “Sudah ikhlaskan saja, nanti juga dapat gantinya.”
            Obrolan itu terhenti, ketika Bunda mereka memanggil menyuruh makan malam, segera mereka berbaur menuju ruang makan.
            “Hmm, baunya sedap sekali.” Vania mencium aroma masakan Bundanya. Segera dia melahap makan malam itu tanpa lupa memulai dengan basmalah.
            Malam itu, rasa kecewa Vania melebur dengan tawa renyah dari keluarganya.
~*~
            Vania terbelalak, dia ingat betul cowok berengsek yang berada di depannya. Pagi-pagi dia sudah harus berurusan dengan cowok menyebalkan itu. Salah apa dia kenapa dia harus melihatnya lagi. Di depan rumahnya lagi.
            “Sudah datang Lex.” Radit muncul dari dalam. Dia tersenyum menyambut Alex temannya.
            Vania melonggo, dia teman Kakaknya.
            “Kenalkan Va, dia ini disainer sepatu kenalan Kakak, karyanya keren-keren lho,” ucap Radit memperkenalkan.
            “Paling di koleksi sepatumu ada juga yang buatan tangan darinya,” Radit menambahkan.
            Vania hanya diam saja, mendengar penjelasan Radit tentang cowok bernama Alex. Disainer? Lalu kenapa dia kemarin harus berbut sepatu dengan dia? Tidak masuk akal. Vania bergelut dengan pikirannya sendiri.
            “Desainer Kakak bilang? Dia nih cowok kemarin yang buat Vania bad mood,” Vania berucap.
            “Adikmu Dit?” Alex membuka suara.
            “Dia tipe keras kepala,” ucap Alex pedas.
            “Apa? Loe tu cowok keras kepala, tak punya hati untuk sesama, egois!” Vania meladeni.
            Radit kini yang bingung, melihat dua orang di depannya yang saling adu mulut dengan ego masing-masing.
            “Bentar, bentar mungkin ada kesalah pahaman di sini,” Radit menengahi.
            Dia menatap Vania dan Alex bergantian. Dia harus mendamaikan anjing dan kucing ini.
~*~
Vania kaget ketika memasuki, Alexa shop, semua karyawan memberi hormat dengan takdim. Vania baru tahu kalau Alexa shop itu, milik Alex. Toko sepatu yang kemarin Varia datangi, bahkan sering dia datangi. Dia tidak tahu bahwa cowok yang bertengkar mulut dengannya kemarin dan tadi pagi adalah pemilih toko sepatu ini. Dia bertengkar dengan pemilik dan pembuat sepatu yang sering dia beli selalu. Hebat banget masih kuliah sudah punya usaha. Pikir Varia.
            Malu! Itu perasaan yang kini bertengger di hati Vania, mau di taruh mana mukanya sekarang. Apalagi saat ini semua mata tertuju padanya. Seharusnya tadi dia menolak untuk diajak ke sini.
            “Kak, kenapa Kak Radit tidak bilang.” Vania menyenggol kakaknya.
            “Kamu kan tidak tanya Va.” Radit membela diri.
            Mereka berjalan di belakang Alex yang mengantarkan mereka pada setiap inci  toko ini.
            “Kenapa kemarin tidak bilang kalau …,” ucapan Vania belum selesai.
            “Ini toko milik gue begitu?” Alex melanjutkan menatap Vania tajam. Vania mengangguk lemah.
            Alex kembali diam, tidak menjelaskan apapun tentang kepemilikan toko ini. Vania tidak tahu, kalau dari kemarin dia di beritahu, pasti kesalah pahaman ini tidak berujung panjang.  Di sini dia seperit mau diadili.
            “Dasar cowok Aneh!” Vania kembali menggerutu. Karena dia tidak tahu jalan pikiran Alex itu.
            Dia sendiri sekarang dianggurkan. Dia dan Radit asyik berbincang entah apa yang tidak Vania pahami. Dia perlahan mencoba menjauh dan memilih area lain untuk mencoba melihat pemandangan lain, dari pada menguntit mereka tanpa ada penjelasan.
            Namun, baru beberapa langkah Varia ingin kabur, Alex menangkap basah dia, hingga membuat Vania harus mengentikan langkah.
            “Mau ke mana Loe? Kabur? Malu?” ledek Alex.
            Cowok ini sungguh, mentang-mentang kaya, melakukan semaunya. Kenapa dia harus di hukum, dipermalukan. Dia kan tidak salah secara dia tidak tahu jati diri Alex sebelumnya. Curang!
            Mereka telah sampai di ruang kantor Alex. Mereka dipersilahkan masuk. Ruangan itu sangat luas dan penuh sepatu indah. Mata Vania berbinar. Dia melihat dengan takjub.
            “Semua buat Loe Va, juga Flat Geearsy warna ungu itu,” Alex berucap datar. Membuat Vania makin tidak mengerti maksud Alex.
            Kini mereka beradu pandang, Vania baru menyadari pesona wajah dan tatapan elang yang selalu menusuk dalam. Menatapnya dengan penuh sayang.
            Kejutan besar yang membuat Vania makin terperangah ketika semua ternyata sudah Alex rekayasa dengan Radit yang sudah tahu kalau Alex sudah jatuh cinta dengan Vania sejak dia menjadi pelanggan tetap di Alexa Shop. Semua dari insiden sepatu dan juga hari ini.
Srobyong, 25 Desember 2014 – September 2017

Wednesday, 22 August 2018

[Resensi] Islam Agama yang Mencintai Kedamaian

Dimuat di Analisa Medan, Jumat 3 Agustus 2018


Judul               : 212 Cinta Menggerakkan Segala
Penulis             : Helvy Tiana Rosa & Benny Arnas
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : x  + 262 halaman
ISBN               : 978-602-9474-14-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Aksi ini tidak ada kaitannya dengan politik. Ini adalah bukti kecintaan kita pada Al-Quran. Bagaimana cinta  karena  Allah ternyata bisa menggerakkan segala. Tentu saja dengan cara damai, bukan kekerasan. Dengan kesadaran, bukan ikut-ikutan!” (hal 67).

Mengambil tema tentang aksi damai 212, yang pernah terjadi di pengunjung tahun 2016, novel ini mengisahkan salah satu kisah nyata yang pernah terjadi dalam kejadian tersebut dengan menarik dan menghibur.  Melalui novel ini kita bisa mengambil banyak sekali pembelajaran. Di antaranya adalah bahwa Islam adalah agama yang mencintai perdamaian. Hal itulah yang membuat salah satu rumah produksi film, mengangkat kisah tersebut dalam layar lebar dan mengaplikasikan kisahnya dalam bentuk novel.

Sebagaimana kita ketahui, aksi pada 2 Desember 2016 dikenal juga dengan nama Aksi Damai 212. Sebuah peristiwa luar biasa yang telah menjadi bangian dari tonggak sejarah umat Islam di Indoensia. Pada hari itu, diperkirakan lebih dari tujuh juta orang memenuhi  kawasan Monumen Nasional (Monas) dan  sekitarnya,menyatakan sikap, dan kecintaan  kepada Allah dan Al-Quran (hal v).

Novel ini sendiri berkisah tentang  Rahmat, salah satu jurnalis berbakat dari koran besar di ibu kota. Akan tetapi Rahmat ini, meski seorang muslim, dia cukup skeptis dengan Islam.  Dia kerap membuat tulisan yang mengundang amarah dengan kritikan pedasnnya terhadap gerakan Islam. Dia meyakini bahwa aksi damai yang akan berlangsung diibukota merupakan gerakan politik yang memanfaatkan umat Islam untuk meraih kekuasaan.

“Aksi 411 adalah bentuk baru social-movement berbasis agama yang terjadi di negara demokrasi pluralistik yang ditunngangi oknum politik. Masyarakat Jakarta yang plural dari segi kekuasaan, keagamaan, dan status sosial, dipaksa menuruti kehendak mayoritas. Islam bukan lagi agama yang menyejukkan. Aksi menuntut diseretnya orang nomor satu di ibu kota itu justru menegaskan hal yang berseberangan dengan slogan ‘damai’ yang mereka usung. Citra Islam menjadi anarkis. Bahkan lebih dari itu, ia menjadi alat politik untuk memuaskan hawa nafsu oknum-oknum tertentu di panggung politik.”  (hal 13).

Tulisan Rahmat mendapat banyak protes dan hujatan dari teman-teman satu kantornya. Namun dia tetap tidak peduli dan ingin agar tulisanya tetap naik cetak. Meskipun akhirnya berbagai hujatan semakin deras dia terima. Bersamaan dengan itu, dia mendengar kabar bahwa ayahnya, Kiai Zainal, yang merupakan tokoh  ulama di Ciamis, akan ikut dalam aksi damai 212.

Rahmat pun dengan berbagai cara mencoba mencegah keinginan ayahnya. Dia tidak ingin sang ayah melakukan aksi yang sia-sia yang hanya dimanfaatkan olek oknum tertentu.  Akan tetapi untuk membujuk ayahnya bukanlah perkara gampang. Bersama sahabatnya, Adin, Rahmat terseret pada arus aksi damai dan menyaksikan berbagai kejadian yang tidak mereka duga.

Membaca kisah ini, kita akan dibuat gemas oleh sikap Rahmat yang keras kepala dan sikap skeptisnya terhadap Islam. Di sisi lain kita akan melihat semangat juang dan keikhlasan Kiai Zainal dalam mencintai Al-Quran dan Islam. Karena meski sudah sepuh, Kiai Zainal tetap teguh melakukan perjalanan jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta.  Tidak ketinggalan ada pula kekonyolan sikap Adin yang memberi warna segar dan menimbulkan tawa dalam novel ini. 

Bisa dikatakan novel ini ringan namun berbobot. Karena dalam novel ini kita bisa mengambil banyak pembelajaran. Dimulai dari cara bersikap terhadap orang tua, hubungan antara manusia dengan manusia juga hubungan manusia dengan Tuhan-nya. Kita juga disadarkan bahwa aksi 212 adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan persatuan.

Hanya saja untuk ukuran novel yang cukup menarik ini, masih banyak sekali kesalahan tulis dan kesalahan menyebut nama panggilan beberapa tokoh. Hal ini cukup menganggu konsentrasi. Namun lepas dari kekurangannya, buku ini sangat segar dibaca dan patut untuk diapresisasi.
Srobyong, 28 Juli 2018 

Monday, 6 August 2018

[Resensi] Kumpulan Cerita Akhlak Baik Sehari-hari

Dimuat di Analisa Medan, Jumat 20 Juli 2018



Judul               : Komik Sahabat Anak Muslim
Penulis             : Watiek Ideo & Riera Faaizah D
Ilustrator         : Wawan Kunkang
Penerbit           : Qibla
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : 165 halaman
ISBN               : 978-602-455-519-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Manusia adalah makluk sosial, yang  tidak bisa hidup sendirian. Manusia selalu memerlukan bantuan orang lain. Artinya dalam kehidupan bermasyarakat, kita akan berhubungan dengan banyak orang. Baik dalam lingkup keluarga, tetangga, saudara atau sahabat. Oleh karena itu, untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, kita harus menjaga silaturrahmi.  Jangan sampai kita merusak hubungan atau memutuskan tali persaudaraan.

Agar kita bisa menjaga diri dari berbagai perbuatan buruk, maka kita perlu dibekali dengan pendidikan akhlakul karimah atau akhlak terpuji. Buku ini dengan paparan yang lugas dan renyah, menghadirkan kisah-kisah menarik bertema akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari, yang pas untuk dibaca anak-anak. Sebagaimana kita ketahui, sejak dini anak harus dibekali pendidikan akhlak yang baik dan benar, agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berakhlakul karimah. Pendidikan akhlak akan membangun pondasi kuat anak, agar menjadi sosok yang bertanggung jawab di kemudian hari.

Salah satu cara terbaik dalam mengenalkan anak pada pendidikan akhlak adalah melalui media baca dan gambar. Dan saya rasa buku karya Watiek Ideo & Riera Faaizah D sangat pas untuk dijadikan pilihan.  Karena buku ini memakai format komik, yang menggabungkan antara gambar dan tulisan. Selain itu pilihan format komik juga   akan memudahkan anak dalam memahami cerita, karena bahasanya sederhana, pendek dan tidak membingungkan.

Di antaranya ada kisah berjudul “Sang Pahlawan” yang menceritakan tentang bagaimana kita harus bersikap kepada binatang. Meski kita tidak suka terhadap binatang tertentu, kita tidak boleh kasar. Kita harus tetap menyayanginya dan tidak menyakitinya. Karena setiap makhluk diciptakan Allah dengan manfaat masing-masing.

Hal ini senada dengan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, “Setiap makhluk diciptakan untuk memberi manfaat bagi kehidupan, terutama bagi manusia. Namun, kita terkadang lupa untuk mensyukurinya. Tak perlu membenci berlebihan jika kamu tidak suka kepada binatang tertentu. Biarkan binatang hidup damai dengan tidak menyakiti mereka. ketahuilah siapa yang ada di bumi, niscaya kalian dikasihi oleh yang ada di langit.” (hal 16).

Ada pula kisah berjudul “Kok, Bekas?” yang menceritakan tentang masalah bakti sosial.  Fikri awalnya semangat untuk mengikuti bakti sosial dan siap menyumbangkan barang-barang bekas miliknya yang sudah tidak terpakai. Namun ketika mendengar Najib, temannya bahwa kalau sedekah harus memberikan sesuatu yang baru, Fikri pun jadi ragu dan malas.  Dalam kisah ini kita diingat bahwa yang terpenting dari sedekah itu bukan soal barang yang diberikan. Namun  yang penting adalah keikhlasan saat melakukan sedekah dan tidak memamerkan apa yang disedekahkan.

Tidak kalah menarik ada kisah berjudul “Rapat Acara Maulid Nabi” yang mengisahkan tentang sikap Nisa ketika diberi amanah oleh gurunya.  Dia diminta gurunya untuk mengikuti rapat dalam rangka membahas persiapan acara maulid Nabi. Namun Nisa terlalu santai, dia selalu menunda-nunda pekerjaan, hingga akhirnya dia terlambat dan kebingungan. Dia takut akan dimarahi gurunya, juga malu pada teman-temannya. Lalu apa yang akan dilakukan Nisa?

Kisah ini mengingatkan kita untuk selalu bertanggung jawab dengan tugas kita. Kita tidak boleh mengingkari janji yang sudah kita buat. Menepati janji akan membawa  kebaikan.  Dalam surat Ali Imaran dijelaska, “(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang bertakwa.” (hal 80).

Selain tiga kisah itu, masih ada tujuh kisah lain yang seru dan menarik.  Masing-masing kisah memiliki kekurangan dan kelebihan.  Seperti kisah “Sahabat Suka Duka” yang mengajarkan kita untuk saling tolong menolong kepada yang membutuhkan. Atau ada pula kisah  “Minggi, Dong!” yang mengingatkan kita untuk tidak mengolok-olok orang lain dan jangan memanggil nama teman kita dengan panggilan buruk. Karena bisa jadi orang yang kita cela itu lebih baik.  Dan masih banyak lagi. Dilengkapi dengan penjelasan Al-Quran dan hadist, buku ini sangat menarik dan patut dikenalkan kepada anak. 

Srobyong, 29 Juni 2018