Showing posts with label Kanisius. Show all posts
Showing posts with label Kanisius. Show all posts

Wednesday, 21 February 2018

[Resensi] Pendidikan Budi Pekerti Anak

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 1 Februari 2018 


Judul               : Topi Warna-Warni
Penulis             : Dian Kristiani
Ilustartor         : Alvin Andhi
Penerbit           : Kanisius
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 24 halaman
ISBN               : 978-979-21-5173-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Budi pekerti berhubungan erat dengan nilai-nilai moral,  akhlak juga perangai atau watak. Dan sebagaimana kita ketahui, kita harus belajar dan mengenal tentang permasalahan budi pekerti. Karena budi pekerti yang kita miliki ini,  menunjukkan jati diri  kita.  Pendidikan budi pekerti sendiri bermakna sebuah usaha dalam mengenalkan nilai-nilai moral yang baik kepada anak agar memiliki jiwa luhur dan memiliki akhlak yang baik, baik terhadap diri sendiri, masyarakaat atau kepada Tuhan. 

Oleh karena itu sejak dini, sudah semestinya kita mengajarkan pendidikan budi pekerti kepada anak.  Karena anak adalah aset bangsa dan merupakan generasi penerus perjuangan di Indonesia. Jika penerus bangsa tidak dibekali dengan pendidikan moral yang baik, bagaimana mereka bisa berjuang untuk kemajuan bangsa? Mengingat bahwa negara yang baik adalah negara yang selalu menjunjung tinggi budi pekerti yang baik. Jika tidak memiliki budi pekerti yang baik, suatu negara pasti akan runtuh.   Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam syair Syauqie Bey yang artinya, “Suatu bangsa dikenal jaya karena akhlaknya, bila akhlaknya rusak, maka rusaklah bangsa itu.”

Kiai Nadhim Syaikh Ahmad Nawawi bin Syaikh Abdul Hamid Al-Qasimy, dalam kata pengantarnya ketika  menulis kitab “Jawahirul Adab”, memaparkan bahwa sopan satu—bisa diartikan budi pekerti itu sebagai pembeda antara manusia dan binatang. Dan adab budi pekerti itu adalah sebagian dari agama, bisa memberi ketenangan dan kententeraman. Dan  jika kita meninggalkan budi pekerti tersebut, maka hal itu berdampak pada kerusakan pada peraturan di dunia.

Dalam usaha mengenalkan budi pekerti pada anak, salah satu cara yang menarik adalah melalui kisah-kisah yang seru dan membuat anak penasaran. Mengingat pada masa anak-anak, merupakan  tahap emas. Yaitu mudah menyerap apa yang diajarkan. 

Buku berjudil “Topi Warna-warni” merupakan salah satu buku yang patut dibaca. Di mana buku ini memang memuat banyak pembelajaran yang bisa dicontoh anak-anak. Misalnya saja dalam usaha untuk bersyukur atas karunia yang dimiliki, tidak iri, saling tolong menolong,  tidak berpikiran buruk pada orang lain dan banyak lagi.

Berkisah tentang seekor siput yang selalu suka dipuji teman-temannya. Setiap hari dia selalu berharap mendapat pujian karena kecantikan yang dimiliki.  Sayannya usaha yang dia lakukan tidak berhasil. Apalagi sejak kedatangan seekor jerapah. Hewan-hewan lain lebih suka memuji si jerapah yang tinggi dan bisa melakukan apa saja (hal 5). Kenyatan ini tentu saja membuat siput sedih, iri dan marah. Dia merasa telah dilupakan. Dia pun bertekad melakukan sesuatu, agar teman-temannya kembali memujinya.

Misalnya saja saat kerbau tiba-tiba sakit, siput dengan semangat pergi menjenguk kerbau. Dia juga sudah menyiapkan hadiah terbaik.  Si siput berharap dengan memberikan hadiah bagus, maka kerbau akan memujinya. Begitu pula dengan hewan lainnya. Namun, lagi-lagi siput gagal,  teman-temanya tetap memuji Jerapah yang selalu baik hati, dan selalu tahu apa yang dibutuhkan hewan lain. (hal 15).
Dilengkapi dengan ilustrasi manis dan  bonus snail board pastinya akan membuat anak semakin tertarik dengan membaca.  Buku ini sangat ringan dibaca anak berusia 6-9 tahun. Selain mengajarkan budi pekerti, buku ini juga bisa dijadikan salah satu media untuk mengajarkan anak membaca dan bisa dimasukkan dalam gerakan literasi sekolah yang dicanangkan oleh Anies Baswedan.  Rekomended.

Srobyong, 23 September 2017 

Thursday, 15 February 2018

[Resensi] Ciptakan Keharmonisan Ibu dan Anak

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 11 Februari 2018 

Judul               : Kartu Cinta Ibu
Penulis             : Christine Lerin
Ilustrator         : Cinisowen
Penerbit           : Kanisius
Cetakan           : Pertama, Desember 2017
Tebal               : 24 halaman
ISBN               : 978-9799-21-5379-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama Jepara

Buku ini mengambil tema tentang hubungan seorang anak dan ibu yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kisah ini terasa sangat nyata dan merasuk. Apalagi penulis menceritakannya dengan apik dan mudah dicerna. Buku ini saya rasa selain baik dibaca anak-anak, buku ini layak dibaca seorang ibu. Karena nilai-nilai moral yang termaktub di sini patut dijadikan teladan.

Sebagaimana kita ketahui, menjadi seorang ibu tentu bukan perkara mudah. Banyak tantangan yang harus ditaklukkan dan dihadapi. Apalagi jika selain berperan sebagai ibu, dia juga memiliki karir. Oleh karena itu seorang ibu harus pandai-pandai mengatur waktu agar dua kehidupannya—peran seorang ibu dan wanita karir—tetap berjalan seimbang dan tidak berat sebelah.

Karena perlu kita sadari, ketika seorang ibu memiliki anak  yang masih kecil, dia harus ingat bahwa anak tetap memerlukan pantauan dan didikan dari ibu yang merupakan madrasah pertama.  Jangan sampai karena kepadatan pekerjaan, sampai melalaikan tugasnya sebagai ibu.  Sebagai madrasah pertama, ibu memiliki tugas mendidik dan mengenalkan anak pada nilai-nilai kebaikan dan pendidikan akhlak.

Mengingat pendidikan akhlak akan menjadi bekal anak hingga dewasa kelak. Dengan bekal pendidikan yang baik, maka anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mmiliki empati, menghormati orangtua dan tidak ceroboh.   Di sisi lain perlu kita sadari keberadaan ibu atau kasih sayang ibu juga memiliki peran penting dalam membangun psikologi anak. Anak yang mendapat kasih sayang utuh seorang ibu tentu akan berbeda dengan anak yang tidak mendapat kasih sayang ibu.

Di sisi lain, sebagai  anak, kita juga harus memahami posisi seorang ibu. Seorang anak tidak boleh egois dan berpikir sempit atau berpikir negatif terhadap ibu.  Anak harus menghormati ibu. Karena ibu-lah yang telah mengandung selama sembilan bulan dengan penuh perjuangan, bahkan siap berkorban nyawa.  Anak tidak boleh membenci ibunya apalagi sampai durhaka. Oleh karena itu, agar hubungan anak dan ibu bisa berjalan baik dan harmonis, diperlukan keterbukaan dan saling pengertian.  Kisah dalam buku sangat rekomendasi untuk dibaca dan dijadikan renungan untuk kita semua—baik anak atau ibu.

Kisah ini sendiri bercerita tentang hubungan antara Talia dengan ibunya. Sejujurnya Talia sangat menyayangi  ibunya. Namun di sisi lain dia juga sebal dengan ibunya. Setiap hari Talia melihat ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaannya (hal 3). Ibunya hanya bertanya ini-itu tentang kegiatannya tanpa pernah berada di sisinya. Sang ibu lebih sering bertanya lewat telepon. “Belajar apa? Ada Tugas atau tidak? Sudah makan atau belum?” Itulah yang membuat Talia sedikit kecewa (hal 6).

Di rumah dia lebih sering bersama Mbak Sri—pembatu rumah tangga di rumah.  Padahal Talia sangat ingin ibunya ada di sisinya. Dia ingin dimasakkan opor kesukannya. Saling bercerita dan bercanda seperti ibu dari teman-temannya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin, apalagi beberapa hari lalu, Talia diberi kabar kalau ibunya mau keluar kota. Hal itu pun semakin membuat Talia yakin, kalau ibunya lebih mencinta pekerjaan dari pada dirinya (hal 8).

Tapi suatu hari saat dia menceritakan kekesalannya pada Mbak Sri, soal sikap ibunya, Talia mendapati kenyataan yang mengejutkan. Dari Mbak Sri, dia akhirnya tahu kalau ibunya sangat perharian dan peduli padanya. Semua itu dia temukan pada kartu ucapan yang sering ditulis ibunya, namun tidak pernah Talia baca, karena memelihara sikap benci.  Kira-kira apa isi kartu tersebut, ya?
Membaca kisah ini benar-benar akan membuat kita sadar tentang pentingnya kasih sayang dan perhatian ibu pada seorang anak. Selain itu kita diingatkan untuk tidak membiasakan berburuk sangka. Kita juga harus meminta maaf jika melakukan kesalahan. Saya rasa buku ini cukup ringan dibaca anak, sebagai langkah awal menularkan virus baca sejak dini.

Srobyong, 20 Januari 2018

Tuesday, 9 January 2018

[Resensi] Menanamkan Nilai Kebaikan kepada Anak

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 24 Desember 2017 


Judul               : Sepatu Pilihan Ayah
Penulis             : Barbara Eni
Ilustrator         : Hanny Juwita
Penerbit           : Kanisius
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 24 halaman
ISBN               : 978-979-21-5375-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Orangtua adalah guru pertama bagi anak. Mereka-lah yang bertanggung jawab dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai kebaikan juga nilai moral pada anak. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan moral kepada anak sejak dini.  Apalagi pada zaman sekarang, di mana nilai-nilai moral dan kebaikan mulai terkikis karena pengaruh globalisasi.  

Orangtua harus menunjukkan secara langsung tingkah laku yang baik yang patut ditiru dan mengingatkan tentang sikap-sikap yang harus diajuhi. Sehingga ketika dewasa nantinya, anak sudah memiliki bekal baik yang akan bermanfaat ketika terjun dalam masyarat.  Selain dengan keteladan secara langung, salah satu cara lainnya adalah dengan mengenalkan bacaan yang menghibur namun juga mendidik bagi anak.

Misalnya saja buku berjudul “Sepatu Pilihan Ayah” karya Barbara Eni dan Hanny Juwita.  Menceritakan tentang Nino yang sangat ingin memiliki sepatu baru, seperti yang dimiliki Rendi, temannya.  Ketika melihat sepatu Rendi yang terlihat sangat bagus, Nino langsung tertarik. Dia berusaha meminta izin pada Rendi untuk mencoba sebentar (hal 3). Sayangnya, Rendi tidak memberi izin.

Oleh karena itu, Nino langsung meminta ayahnya untuk membelikan sepatu yang mirip dengan Rendi, meski baru dua bulan lalu Nino membeli sepatu baru. Mereka pun kemudian berangkat ke toko sepatu, untuk melihat-lihat. Dan Nino langsung semangat ketika melihat sepatu yang tengah dia incar. Dia pun menyetujui usul ayahnya untuk mencoba sepatu itu.

Namun yang mengejutkan, Nino tidak bisa membawa sepatu itu, karena harganya terlalu mahal. Sehingga ayahnya belum bisa membelikan sepatu itu.  Nino pun sedih. Dia merasa ayahnya tidak menyayangi dirinya. Padahal hanya sepatu tapi tidak mau membelikan.

Maka sejak itu, Nino pun bertekad untuk menabung uang sakunya. Dia yakin jika dia menabung dengan rajin dan menjumlahnya dengan uang milik ayah, dia akan berhasil memiliki sepatu itu. Tapi lagi-lagi Nino harus menelan kecewa. Ketika dia sudah menabung selama satu bulan dan diserahkan pada ayahnya, tapi ayahnya tetap tidak membelikan sepatu yang dia inginkan.  Apakah Nino berhasil membeli sepatu tersebut? Dan apa alasan sang ayah tidak menuruti permintaan Nino? Bernakah karena tidak sayang pada Nino?

Cerita dalam buku ini memang terkesan sederhana. Namun karena kesederhanaan itu, maka akan membuat anak mudah memahaminya. Karena kisah seperti ini kadang sering terjadi pada anak. Mereka kerap merasa kalau orangtua—baik ayah atau ibu tidak menyayangi karena selalu menolak permintaa mereka.  Padahal prasangka itu tidak selalu benar. Selain itu kejadian tentang anak yang kerap iri dengan apa yang dimiliki teman juga sering terjadi dalam masyarakat.  

Membaca buku ini, semestinya akan membuat anak mengingat tentang pentingnya menjaga diri dari prasangka buruk. Di mana anak tidak boleh berburuk sangka pada orang lain, termasuk pada orangtua. Selain itu, buku ini juga menanamkan sikap suka menabung. Tidak ketinggalan, agar anak selalu mensyukuri apa yang dimiliki, mau meminta maaf jika bersalah serta tidak pelit pada teman. Lalu satu lagi bahwa kasih sayang ayah itu selalu tulus dan tanpa pamrih. Diceritakan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak dan gambar yang apik, pastinya tidak membuat anak merasa bosan.

Srobyong, 9 Desember 2017

Tuesday, 7 November 2017

[Resensi] Membangun Karakter Anak Lewat Cerita

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 29 Oktober 2017 


Judul               : Topi Warna-Warni
Penulis             : Dian Kristiani
Ilustartor         : Alvin Andhi
Penerbit           : Kanisius
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 24 halaman
ISBN               : 978-979-21-5173-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Pendidikan karakter adalah sebuah usaha dalam mengenalkan tentang konsep moral—di antaranya adalah tentang sikap atau pun masalah perilaku.  Mengingat pendidikan karakter itu akan sangat berguna dalam kehidupan bermasyarakat, maka pendidikan karakter seyogyanya harus dikenalkan sejak dini. Dengan pendidikan sejak dini,  nilai-nilai moral itu akan merasuk atau terpatri dalam diri anak.

Di antara nilai-nilai karakter yang  perlu diketahui adalah religius, jujur, toleransi, suka menolong, disiplin, cinta tanah air, bertanggung jawab, kreatif,  memiliki rasa ingin tahu yang besar, pemaaf dan banyak lagi.  Dan pastinya setiap orangtua pasti ingin memiliki anak yang berkarakter baik., bukan? Karena dengan memiliki karakter baik, maka dampak yang diperoleh juga akan baik.  sebagaimana kata pepatah, “Apa yang kita panen, itu sesuai dengan apa yang kita tanam” dalam artian kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula.

Belum lagi anak merupakan aset bangsa. Merekalah yang pada akhirnya akan menjadi penerus dalam perjuangan di tanah air ini. Oleh karenaa itu pendidikan karakter itu sangat penting untuk dikenalkan anak sejak dini. Salah satu caranya adalah  melalui media bacaan.  Kita bisa membangun karakter anak lewat cerita-cerita seru yang memotivasi. Selain itu kita juga membantu anak dalam mengembangkan imajinasi. Mengingat saat ini cerita anak selalu dilengkapi dengan ilustrsi yang menarik, yang selalu mengundang minat anak.  Tidak ketinggalan dalam hal ini secara tidak langsung, kita juga mengenalkan minat baca kepada anak.

Salah satu buku yang patut dikenalkan kepada anak sebagai jembatan pendidikan anak adalah buku karya Dian Kristiani—merupakan penulis buku anak yang sudah banyak menghasilkan karya—berjudul “Topi Warna-warni”. Buku ini dikemas dengan menarik, sangat cocok dibaca anak berusia 6-9 tahun. Di mana buku ini mengisahkan tentang seekor siput yang gemar dipuji oleh teman-temannya. Namun sejak kehadiran Jerapah, tidak ada lagi yang memuji Siput. Dia merasa tersisih dan marah. Dia iri dengan Jerapah (hal 6). Kira-kira apa yang akan dilakukan Siput? Dan bagaimana tanggapan Jerapah sendiri tentang sikap Siput?

Dipaparkan dengan gaya bahasa yang pas buat anak, pastinya buku ini sangat mudah dipahami. Di sini akan dikenalkan dengan sikap peduli kepada temanya—yaitu ringan tangan atau suka menolong. Selain itu anak juga diajak untuk menjadi pribadi yang tidak sombong, selalu bersyukur dan tidak suka iri.  Sebuah buku yang patut dibaca dan mendapat aprsesiasi.

Srobyong, 22 September 2017 

Thursday, 31 August 2017

[Resensi] Potensi Bisnis dan Keuntungan Ternak Kambing

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 27 Agustus 2017


Judul               : Beternak Domba dan Kambing Pedaging
Penulis             : Bambang Cahyono
Penerbit           : Kanisius
Cetakan           : Pertama, 2016
Tebal               : 160 halaman
ISBN               : 978-979-21-4479-6
Persensi           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Salah satu usaha yang memiliki potensi tinggi meraup keuntungan besar  adalah beternak. Dan di antara ternak yang cukup menjanjikan itu adalaah ternak domba dan kambing.  Sejak dahulu, domba dan kambing telah dibudidayakan dan dikembangkan masyarakat secara luas, dengan bangsa dan jenis yang beragam. Domba dan kambing tersebut sudah dikenal sebagai ternak penghasil daging dan susu.  Daging domba dan kambing juga sudah umum dikonsumi oleh masyarakat sebagai salah satu menu makanan, di samping daging sapi, kerbau atau unggas. 

Dalam kapasitasnya sebagai bahan makanan, daging domba dan kambing dikonsumsi masyarakat dalam  berbagai bentuk aneka olahan masakan. Misalnya satai, gulai, sup, tongseng, tengkleng dan lain-lain. Dan sajian aneka masakan daging domba dan kambing bisa didapat dengan mudah di berbagai restoran sederhana, restoran besar, hotel-hotel berbintang, maupun warung tenda di perkotaan dan di daerah. Hal ini menunjukkan minat yang sangat tinggi dari masyarakat terhadap domba dan kambing (hal 12-14).

Daging dan domba selain menghasilkan daging yang baik, domba dan kambing juga menghasilkan kulit yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai macam indrusti kulit, misalnya sepatu tas, aneka kerajinan dan lain-lain. Sementara khusus domba, dapat menghasilkan bulu (wol) yang sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bahan sandang (tekstil) (hal 21).

Agar usaha ternak domba dan kambing menjadi peluang bisnis yang menjanjikan, maka  kita harus  memiliki bibit yang berkualitas serta keterampilan dan pengetahuan yang memadai tentang tata cara membudidayakannya.  Di antara hal yang perlu kita perhatikan adalah penentuan lokasi peternakan untuk domba dan kambing. Kita harus memperhatikan dan mempertimbangkan faktor lingkungan dan sumber daya alam; faktor sosial, faktor ekonomis; dan faktor hukum yang mendukung pembudidayaan domba dan kambing itu sendiri. keempat faktor tidak bisa dipisahkan karena akan menghambat proses priduksi (hal 43).

Selanjutnya adalah perkandangan. Karena bagaimana pun kadang pada akhirnya akan menjadi rumah yang melindungi domba dan kambing. Sistem perkandangan yang intensif dapat membantu domba dan kambing yang dipelihara menjadi produktif.

Agar ternak domba dan kambing menghasilkan jumlah ternak (anak) yang banyak dan bobot ternak yang tinggi, maka kita perlu melakukan pemuliabiakan atau pembibitan—serangkaian kegiatan yanh dilakukan dengan tujuan mendapatkan keturunan dalam jumlah banyak dan berkualitas baik. Tahap-tahap yang harus ditempuh yaitu, pengadaan induk (ternak bibit), peneglolaan reproduksi dan seleksi bibit ternak (hal 67).

Buku ini dengan lugas dan lengkap membahas tentang potensi binis ternak domba dan kambing yang ternyata memiliki keuntungan yang mengejutkan. Apalagi jika mendekati hari raya idul adha.  Domba dan kambing merupakan satu di antara pilihan yang akan diburu untuk dijadikan kurban. Dan itu berarti harga hewan ini bisa dibilang cukup fantastis. Namun lepas dari masalah itu, sejak awal sebenarnya ternak dan domba memang udah memiliki sisi bisnis yang sangat menguntungkan.

Di antaranya sebagaimana diketahui perkembangan domba dan kambing tergolong cepat karena dalam waktu 1,5 tahun sudah bisa bernak pinak. Selang berikutnya adalah 7-8 bulan. Dengan demikian, dalam kurun waaktu 2 thun sejak bibit (anak domba) kita bisa memperolah banyak keuntungan. Tidak hanya itu domba dan kambing selain bisa dimanfaatkan daging dan kulitnya untuk industri, kotoran domba dana kambing dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, yang berguna untuk membantu meningkatkan usaha para petani.

Jelas sekali bukan, memilih bisnis ternak domba dan kambing itu sangat menguntungkan. Dengan modal sedikit, keuntungan yang bisaa diambil berlipat ganda.  Maka siapa saja yang tertarik dalam bisnis ini buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca.

Srobyong, 18 Agustus 2017 

Wednesday, 22 February 2017

[Resensi] Mengenali dan Mengatasi Demam Berdarah

Dimuat di Kabar Madura, Senin 6 Februari 2017 


Judul               : Bijak Memahami Masalah Kesehatan Terkini
Penulis            : Profesor Zullies Ikawati, Ph.D., Apt.
Penerbit           : Kanisius
cetakan             :  Pertama, 2016
Tebal               : 204  Halaman
ISBN               : 978-979-21-4908-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


Bijak Memahami Masalah Kesehatan Terkini merupakan buku karya Profesor Zullies Ikawati, Ph.D., Apt. Seorang guru besar Farmakolagi dan Farmasi Klinis, Fakultas Farmasi, Universitas Gajah mada.  Dia menerima gelar doktornya di Ehime Universitas School of Medicine Japan di bidang farmakolagi. Buku ini mengenalkan tentang berbagai penyakit yang ada di lingkungan masyarakat, beserta gejala, pencegahan dan cara mengobatinya.

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aides aegypti betina.  Virus Dengue menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan pendarahan, yang jika parah dapat menimbulkan kematian (hal 60).

Merupakan salah satu masalah penyakit utama di Indonesia. Bahkan di beberapa daerah Indonesia dilaporkan menjadi daerah endemik sehingga warga harus meningkatkan kewaspadaan. Di musim hujan  wabah penyakit demam berdarah sangat  mudah menjangkit siapa saja.

Penyakit DBD memiliki gejala yang kadang sering tidak terduga. Namun secara umum, ciri-cirinya adalah mendadak panas tinggi selama 2-7 hari, tampak lemah lesu suhu badan antara 38-40 atau lebih. Lalu mulai tampak bintik-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang.  Kadang-kadang mengalami mimissan, muntah darah atau berak darah,  ujung tangan dan kaki berkeringat dingin. Kadang juga badan terasa pegal-pegal dan kepala pusing, tidak nafsu makan, jika makan lidah terasa pahit, berkeringat dingin dan mual (hal 61-62).

Penyakit ini sedikit banyak memiliki ciri-ciri yang sama dengan penyakit tifus. Karena itu kadang banyak orang yang merasa salah paham perihal penyakit ini.  Untuk itulah perlu kita tahu apa perbedaannya agar bisa cepat menanggulanginya. Jika DBD disebabkan virus maka penyakit tifus disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi.  

Perbedaan yang paling khas adalah pada pola demamnya. Pada  penderita DBD, gejajal panas tinggi terjadi secara mendadak, sedang pada tifus biasanya timbul pada sore atau malam hari.  Pagi  menjelang siang sudah mulai turun, lalu sore harinya kembali panas. Ciri khas lain demam dengue adalah pada hari kelima biasanya demamnya turun. Namun ini bukan pertanda semakin membaik. Ini merupakan fase berbahaya karena merupakan fase kritis. Sementara pada pasien tifus demam yang turun artinya penyakit semakin membaik (63-64).

Untuk lebih jelanya bisa melakukan cek laboratorium agar bisa mendeteksi  penyakit yang menyerang. Seperti dengan melakukan imuglobulin G (IgG) atau imuglobulin M (IgM) dengue dan NSI Ag (antigen) dengue. Pemeriksaan IgG atau IgM dengue adalah untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap virus dengue.  Sehingga tidak

Sedang langkah pertama untuk mengobati demam berdarah adalah memberi minum sebanyak-banyakknya. Airnya bisa berupa air masak yang dibubuhi garam oralit atau gula, susu, air kelapa, jus buah-buahan atau air teh.  Untuk demamnya bisa diberi obat penurun panas parasetamol. Dan untuk rasa mual bisa diberi obat antimual. Namun jika gejalanya sudah semakin parah, maka harus dirawat di rumah sakit.

Selain memaparkan tentang  ciri-ciri dan cara pengobatan demam berdarah, buku ini juga memaparkan berbagai penyakit yang sering dialami kebanyakan masyarakat. Buku ini dijelaskan dengan gaya bahasa yang akurat dan mudah dipahami. Banyak ilmu yang bisa diambil setelah membaca buku ini. Serta semakin menyadari pentingnya hidup sehat. Karena kesehatan itu memang sangat mahal.

Ada baiknya kita mencegah sebelum mengobati. Untuk mencegah wabah demam berdarah, seyogyanya kita selalu melakukan 3 M (menguras, menimbun dan membakar) tempat-tempat yang mudah digenangi air, tempat bersarangnya nyamuk Aides aegypti, menggunakan serbuk abate, memakai lotion atau obat nyamuk dan banyak lagi.

Srobyong, 5 Desember 2016 

Tuesday, 3 January 2017

[Resensi] Uraian Gangguan Penyakit Organ Dalam

Dimuat di Koran Jakarta, Kamis 22 Desember 2016 

Judul               : Bijak Memahami Masalah Kesehatan Terkini
Penulis            : Profesor Zullies Ikawati, Ph.D., Apt.
Penerbit           : Kanisius
cetakan             : Pertama, 2016
Tebal               : 204  Halaman
ISBN               : 978-979-21-4908-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Profesor Zullies Ikawati, Ph.D., Apt. adalah guru besar Farmakolagi dan Farmasi Klinis, Fakultas Farmasi, Universitas Gajah mada.  Dia menerima gelar doktornya di Ehime Universitas School of Medicine Japan di bidang farmakolagi. Buku ini mengenalkan tentang berbagai penyakit yang ada di lingkungan masyarakat, beserta gejala, pencegahan dan cara mengobatinya. 

Setiap organ pada tubuh manusia, sudah pasti memiliki peran dan fungsi masing-masing. Karena itu penting dilakukan pengecekan dan pencegahan agar organ-organ tersebut selalu sehat. Beberapa penyakit yang sering menjangkit organ dalam pada tubuh manusia adalah sindrom nefrotik—gangguan ginjal, hepatitis atau liver, overactive bladder (OAB).

Sindrom nefrotik adalah kumpulan gejala yang ditandai dengan proteiniura atau terdapatnya protein dalam air seni (lebih dari 3,5 gram per hari), kadar protein darah yang rendah, kadar kolestrol tinggi, trigliserida tinggi, dan adanya membengkakan, terutama di sekitar mata, kaki, serta tangan (hal 22).

[Resensi Rasa Sakit Masa Lalu dan Usaha untuk Memeluknya Novel Tentang Kamu]


Penyebabnya adalah sebab kerusakan pada pembuluh darah kapiler pada glomerulus ginjal yang menyaring sampah-sampah tubuh dan kelebihan air pada darah dan mengirimnya ke kandung kemih sebagai urin.  Gejalanya secara umum adalah, adanya pembengkakan, urin tampak berbuih, nafsu makan berkurang dan tekanan darah tinggi.

Hepatitis atau liver  adalah setiap  gangguang fungsi hati yang menyebabkan penyakit. Sebagaimana dijelaskan hati adalah  organ padat terbesar dalam tubuh berfungsi membuat dan mengeluarkan cairan empedu. Hati adalah satu-satunya organ dalam tubuh yang dapat dengan mudah mengganti sel rusak. Namun jika sel-sel hati cukup banyak rusak atau hilang, maka hati tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan tubuh (hal 27).  Hal ini dapat menyebabakan kerusakan yang signifikan pada tubuh.

Penyebab penyakit ini biasanya karena penyalahgunaan alkohol, penggunaan obat-obat hepatotoksik, inveksi virus hepatitis, dan beberapa penyakit lain yang bisa menyebabkan gangguan fungsi hati. Seperti perlemakan hati non-alkohol, hemachromatosis (kelebihan zat besi) dan penyakit wilson. Gejalanya  biasanya dimulai dengan mual, muntah, sakit perut pada bagian kanan atas,  jaudice (perubahan warna kuning pada kulit karena konsentrasi bilirubin meningkat dalam aliran darah).

Overactive bladder (OAB)  yaitu apabila seseorang bolak-balik buang air kecil dalam sehari sampai lebih dari 8 kali sehari.  Hal ini tergolong beser dan mungkin ada sesuatu yang salah pada sistem urinasi.  OAB terjadi jika otot destrusor terlalu sering kontraksi tanpa sengaja (involuntarily), sehingga menyebabkan perasaan “kebelet pipis”, bahkan ketika kandung kemih sebenarnya belum penuh (hal 39).

Penyebab penyakit ini tidak selalu diketahui dengan jelas, namun ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya gangguang fungsi otot destrusor sehingga memicu kejadian OAB. Beberapa penyebab yang mungkin, antara lain : pembesaran prostat (benign prostat hyperpalasia), adanya batu kandung kemih, efek samping obat-obat tertentu, gangguang neurologis lain dan kanker prostat. Gejalanya sering buang air dan tidak dapat ditahan.
Betapa pentingnya organ tubuh dalam harus dijaga agar selalu sehat dan bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Buku ini dipaparkan dengan bahasa  populer yang mudah dipahami. 

Selain membahas tentang gangguang penyakit dalam organ dalam manusia, ada juga pembahasan mengenai penyakit yang sering dialami wanita, penyakit sehari-hari yang terlihat remah namun perlu diperhatikan dengan baik.  Dan jangan khawatir dalam buku ini disertai juga bagaiaman terapi penyembuhan yang bisa ditempuh.  Dalam buku ini kita diingatkan untuk selalu menjaga kesehatan setiap waktu. Kesehatan itu sangat mahal. Sangat direkomendasikan untuk dibaca.
Srobyong, 10 Desember  2016