Showing posts with label NR Ristianti. Show all posts
Showing posts with label NR Ristianti. Show all posts

Thursday, 31 March 2016

[Review] Sekelumit Kisah Tentang Masa Lalu dan Cara Menyelesaikannya


Judul               : Yesterday in Bandung
Penulis             : Rinrin Indriani, Ariestanabirah, Delisa Novarina, Puji P. Rahayu, NR Ristianti
Editor              : Pradita Seti Rahayu
Penerbit           : Elex Media Komputindo
Cetakan           : Pertama, Januari 2016
ISBN               :  978-602-02-7861-2

Blurb
Yesterday, all my troubles seemed so far away (yesterday, the beatles)

Seperti lima nada membentuk satu harmoni lagu, mereka  memiliki masalah dan masa lalu yang bersinggungan.
Shaki, gadis Palembang dengan masalah korupsi sang ayah.
Zain, pemuda desa yang gila harta dan terjebak pergaulan hitam.
Tania, gadis riang yang masa lalunya kelam.
Dandi, pemuda  tampan yang lari dari bayang-bayang masa lalu.
Aline, pemilik kos yang menyimpan banyak misteri.

Hidup di tempat tinggal yang sama membuat mereka menyadari bahwa semua punya cerita di hari kemarin, untuk dibagi hari ini.
~*~

Setiap orang pasti memiliki masalah dan masa lalu.  Maka biarlah masalah dan masalalu itu luruh. Tidak  menjadi budak, mengingkat hingga harus selamanya terpuruk dan ketakutan.  Karena waktu itu bergerak maju. Jadikan masalalu sebagai guru yang menuntutn untuk bergerak menyongsong masa depan baru. Bukankah itu lebih menyenangkan?

Yesteday in Bandung bermula dari  outline terbaik workshop “Berbagi Cinta Lewat Kata”.  Menceritakan tentang lima tokoh yang terjebak pada masalah juga masalalu yang menjadi bayang-bayang.

Shaki adalah gadis awal Palembang yang memilih kuliah di Bandung dengan membawa sebuah rahasia. Di depan banyak orang dia mungkin terlihat bahagia dengan kepolosan yang dimiliki. Dia juga sangat loyal pada teman-temannya. Uang baginya bukan masalah, karena dengan senang hati sang ibu akan memberinya jika dia meminta. Tapi di sanalah-masalah. Karena uang itu. dia menyimpan luka. Uang memang tidak pernah bisa membeli kebahagiaan. (hal. 56) Sebuah luka yang membuatnya kerap menangis diam-diam dan mengidap histeria. (hal. 84) Menjadikan  gadis itu lemah.

Zain adalah seorang anak dari keluarga tidak mampu. Dia kuliah ke Bandung dengan membawa segudang mimpi. Berharap ketika dia nanti bisa sukses maka hal itu bisa merubah kehidupan keluarganya.  Gua harus harus berhasil dan sukses dengan cara apa pun meski mulai dari nol. (hal. 25). Tekad itulah yang kemudian malah merubahnya menjado sosok Zain yang berbeda.  

Tania, dia gadis periang. Selalu rame jika bersamanya. Namun di balik sikapnya itu ..., ternyata ada luka yang tengah dia coba sembunyikan dari orang lain. Gadis itu sangat antipati pada makhluk bernama cowok, apalagi mendengar kata pacar. Kata ‘pacar’itu tabu baginya. (hal. 44) Karena itu  jika  dengan Zain, mereka seperti kucing dan anjing.  Terkecuali Ferdian—sahabatnya sejak SMP, hanya cowok itu yang selalu menemaninya.

Dandi, cowok pendiam yang memilih bekerja daripada melanjutkan kuliah. Dia tak banyak omong dan lebih suka memendam masalahnya sendiri. Termasuk alasan di balik pilihannya itu.  Semua karena masa lalu kelam yang telah merubahnya menjadi seperti itu.

Aline, pemilik kos-kosan yang cantik, pintar dan mandiri.  Sama halnya dengan empat orang itu, Aline juga menyimpan sebuah masalahnya sendiri, yang membuatnya memilih hidup yang saat ini tengah dijalaninya. Menyendiri, memilih menutup pintu hatinya.

Mereka dipertemukan dalam satu tempat—kos-kosan milik Aline. Di sanalah kisah mereka dimulai. Pertemuan itu membuat mereka seperti keluarga. Meski mereka belum berani membagi rahasia masing.

Kebersamaan itu tenyata menimbulkan kisah lainnya juga Shaki  mengagumi Zain, cowok yang berkali-kali menghiburnya ketika sedih. Sayangnya Zain sejak awal sudah membidik seseorang. Dan tanpa mereka ketahui, Dandi mengamati kisah itu dan hanya bisa merasa getir.  Untungnya ada Tania yang mengerti kondisi Dandi dan mencoba membantu. Sayangnya, Tania sendiri pun dalam masalah ketika seseorang dalam masa lalunya tiba-tiba muncul. Keadaan menjadi kacau balau. Belum lagi tiba-tiba Zain  menghilang, Shaki yang mencoba bunuh diri.

Novel dengan pemasalahan yang cukup kompleks. Diceritakan dengan gaya bahasa renyah. Asyik untuk dinikmati. Beberapa kejutan yang disuguhkan dalam novel ini menjadi poin tambah tersendiri. Juga salut dengan gaya multipov dalam novel kolab ini.

Hanya saja, dalam porsi Dandi eksplorasinya sangat sedikit. Padahal karakter cowok ini cukup menarik  Dan soal gaya bahasa Zain yang memakai ‘Gua’. Mengingat dikatakan dia anak desa dan diceritakan memakai gua kok tidak cocok, malah terkesan anak metropolitan.  Ada beberapa ketidaksinkronan. Misalnya tentang pov dari gua, tapi  tiba-tiba memakai nama tokoh, seolah pov 3 (hal. 18).  Beberapa typo cukup bertebaran , juga tentang pemborosan kata aku.  

Tapi lepas dari itu semua, novel kolab ini memiliki keunikan tersendiri sehingga patut dibaca. Tentang masa lalu yang tak seharusnya menjadi momok, tapi buat sebuah pelajaran hidup untuk terus berjuang menyongsong masa depan.  Serta memiliki twist ending yang cukup keren.  


Aku sudah bisa menertawai masa lalu dan mengambil pelajaran berharga. Dengan pengalaman itu,  aku bisa berbagi dan menularkan semangat positif. (hal. 252) 

Wednesday, 16 March 2016

[Review] Antara Cinta, Restu dan Budaya


Judul               : Wajah Sakura di Cermin Dilla
Penulis             : NR. Ristianti
Penata Aksara : Dekik Yassir
Penerbit           : AE Publishing, Dunia Dekik Media
Cetakan           : Pertama, Agustus 2015
Halaman          : x + 226 hlm
ISBN               : 978-602-1189-55-9

Cinta itu memang sejuta rasanya, tapi ketika cinta tidak mendapatkan restu dan berbentur budaya ..., maka jalan mana yang akan kau pilih dalam melangkah?

Novel ini menceritakan tentang kisah cinta yang tak sampai karena terbentur akan budaya dan restu dari orangtua. Hingga Nadia memilih membesarkan hidup dengan caranya sendiri. Serta menyimpan rahasia besar yang entah kapan akan dibeberkan.

Dilla—itulah nama anak Nadia. Benih yang dia dapat dari laki-laki yang sangat dicintainya. Putrinya itu  tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berwawasan luas. Hanya saja Dilla merasa ibunya terlalu sibuk dan tak lagi memiliki waktu untuk dirinya.

Nadia bukannya tidak ingin memerhatikan Dilla. Hanya saja sejak dia memutuskan menangani dua perusahaan, waktunya memang banyak tersita. (hal. 22) Dan semua ini dialkukan demi Dilla. Dia tidak ingin anak gadisnya itu kekurangan. Apalagi sebentar lagi Dilla akan masuk perguruan tinggi.  (hal. 27)

Keduanya memandang permasalah dari sudut pandang masing-masing. Sehingga pertengkaran-pertengkaran kadang tidak bisa dihindari antara ibu dan anak ini.  Puncaknya terjadi ketika Nadia yang sudah janji akan datang pada penyerahan penghargaan karena Dilla memenangkan lomba design, yang ternyata lagi-lagi Nadia ingkar.

Dilla marah dan memilih kabur dengan menginap di rumah salah satu tetangganya—ibu Rara, sahabatnya Dilla.  Namun, dalam pelariannya itu dia malah mendapat kabar ibunya dalam keadaan drop. Dilla sangat khawatir bagaimana jika penyakit lupus ibunya kambuh lagi?

Dari kejadian itu mereka sebenarnya sudah mulai saling memahami satu sama lain. Tapi prahara datang lagi ketika tanpa sengaja Dilla menemukan sebuah kota kayu bercat hitam di kolong lemari. (hal. 55) Dilla menemukan foto mamanya bersama alelaki Jepang. Dan dia baru mengetahui bahwa selama ini mamanya berbohong. Dia bukan anak dari ayah yang selama ini diziarahi.  Dilla pun menuntut penjelasan.

Meski sempat ragu, Nadia akhirnya memilih menceritakan semuanya.  Masa lalu yang selama ini dia simpan. Tentang cinta di masa lalunya ketika berada di Jepang, juga tentang orangtua sang lelaki  yang tidak merestui hubungan mereka.

Karena itu-lah, Dilla akhirnya berada di Jepang. Mencari kebenaran yang selama ini ditutupi mamanya. Hanya saja mampukan Dilla mendapat apa yang diharapkannya? Sebuah kasih sayang dari ayah,  kakek dan nenek? Juga tentang sebuah kisah lain yang dia temukan ketika di Jepang. Pertemuannya dengan pemuda Jepang bernama Taka.  

Satu masalah belum selesai, Dilla kembali dihadapkan pada masalah besar lainnya. Tentang penyakit mamanya yang semakin parah juga permintaan mamanya untuk meminta maaf pada kakek dan nenek dari pihak mamanya. Entah apa lagi yang disimpan mamanya. Dan sanggupkan Dilla memenuhi permintaan mamanya?

Novel ini diceritakan dengan dua pov dari masing-masing tokoh. Membuat cerita terasa lebih hidup. Menunjukkan kepiawaian penulis dalam mengeksekusi naksahnya. Dalam penceritaan setting Jepang pun cukup detail dan hidup.

Hanya saja  dalam pembagian pov-nya terasa kurang seimbang. Masih didominasi Pov Dilla. Karena saya pernah membaca novel dengan pov seperti ini tapi dalam pembagiannya sam porsi. Jadi terasa pas.  Lalu masih banyak  ditemukan typo. Semisal dalam penulis coklat yang harusnya cokelat. Atau kata asing yang harusnya ditulis miring tapi tidak.  Juga agak kecewa ketika ada beberapa lagu Jepang yang dimasukkan tapi tidak diberi arti. Karena tidak semua orang memahami lirik bahasa Jepang. Berbeda dengan lagu Inggris. Jadi kalau dalam lagu itu diberi catatan kaki artinya pasti akan lebih membuat pembaca masuk dalam cerita karena mengeri makna lagu. 

Lepas dari itu semua, novel ini tetap asyik dibaca. Memberi banyak  pelajaran yang berharga. Seperti; bahwa kebahagiaan seorang anak bukan masalah dia diberi harta melimpah, tapi seorang anak juga membutuhkan kasih sayang orangtua.  Sikap keras kepala hanya  akan merugikan diri sendiri dan akan menyiki orang lain.


Srobyong, 16 Marte 2016