Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, 20 November 2018

[Cernak- Cerpen] Liburan ke Museum Kartini

Dimuat di Lampung Post, Minggu 14 Oktober 2018 


Ratnani Latifah

            Liburan sekolah, Rani diajak ibunya berkunjung ke rumah sepupunya, Intan. Rumah Intan terletak di kota Jepara, Jawa Tengah. Intan menyambut kedatangan Rani dengan gembira. Intan bahkan mengajak Rani menikmati liburan bersama.

            “Bener nih, aku diajak jalan-jalan?” tanya Rani.

            “Tentu saja! Kamu tidak boleh melewatkan tempat wisata ini, kalau sudah ke Jepara.”  Jelas Intan.
            “Iyakah? Aku jadi penasaran.”  Rani terlihat sangat bersemangat.

~*~

            Keesokan harinya, Intan dan Rani sudah siap untuk berangkat. Rani menurut saja dengan rencana Intan. Mereka berangkat dengan diantar Nina, kakak Intan. Selama perjalannya mereka saling bercerita dengan riang. Tapi sesampainya di tempat tujuan Rani yang asalnya sangat bersemangat tiba-tiba terlihat sedikit kecewa. Dia menatap tempat yang ada di depannya. “Museum Kartini?” lirih Rani.   

            “Kenapa, Ran? Kamu tidak suka?” tanya Intan yang menyadari perubahan wajah Rani.

            Rani mengangguk. “Maaf ..., aku tidak terlalu suka berlibur ke museum, In. Aku sering dengar, kalau mengunjungi museum itu sangat membosankan. Nggak ada yang menarik. 

            “Tidak bisakah kita ke tempat wisata lain? Mungkin ke Pantai Kartini atau Benteng Portugis? Atau ke tempat wisata lain di Jepara?” Pinta Rani penuh harap.  

            Intan sering menceritakan wisata-wisara menarik di Jepara pada Rani. Kalau pergi ke salah satu wisata itu,  pasti  dia tidak akan menolak. Tapi harapannya hilang ketika Intan dan Nila menggelengkan kepala. Mereka sudah terlanjur di sini dan membeli tiket masuk.

            “Yuk, coba dulu saja, Ran. Liburan di museum tidak sejelek yang kamu pikirkan, kok.” Bujuk Intan.

            “Aku yakin kamu akan berubah pikiran setelah kunjungan ini. Kamu pasti akan ketagihan buat mengunjungi museum lain di Indonesia. Kamu tahu, kan banyak banget museum di negeri ini? Aku saja penasaran ingin mengunjungi semua.” Intan menambahi dengan penuh semangat.

            “Iya, Ran. Presiden Sukarno pernah berkata, ‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya’.  Nah, salah satu cara mengenal sejarah Indonesia itu dengan mengunjungi museum.” Nina ikut membujuk.

            Akhirnya Rani mengikuti langkah kedua sepupunya. Dia tidak punya pilihan. Menunggu di luar di takut, apalagi harus pulang sendiri. Kalau memaksa pulang, dia juga tidak enak dengan kedua sepupunya.

 “Kita ke ruang satu dulu, ya. Kamu harus melihat foto-foto Raden Ajeng Kartini semasa hidup, Ran.” Celoteh Intan.

 “Lihat itu Ran!” tunjuk Intan. Dia menunjukkan buku-buku koleksi Ibu Kartini.

“Kalau yang ini  ada canting, alat yang digunakan Ibu Kartini untuk membatik.”

“Memangnya Ibu Kartini bisa membantik?” Rani yang tadi hanya diam mengikuti Intan, akhirnya bersuara.

“Iya dong. Ibu Kartini sudah mulai membatik sejak usia 12 tahun, lho. Kemudian Ibu Kartini juga mengenalkan budaya batik sampai ke luar negeri. Hebat kan?”

Rani mengangguk dengan antusias. “Wah aku baru tahu, In.”  Ucap Rani penuh kekaguman.

“Aku jadi malu sama kamu. Pengetahuan sejarahku sangat jelek.”

“Makanya kita harus lebih sering mengunjungi museum, Ran. Di museum banyak sejarah-sejarah yang bisa kita  ambil pelajaran.” Intan tersenyum.

“Misalnya Museum Negeri Lampung Ruwai Jurai. Di sana kita bisa mengenal lebih jauh tentang adat budaya lampung dan sejarah Indonesia. Karena di sana ada koleksi benda-benda di zaman pra sejarah, zaman Hindu-Budha, masuknya Islam ke Indonesia, zaman penjajahan dan banyak lagi.

“Trus ada pula Museum Diponegoro di Yogyakarta. Di sana ada banyak peninggalan Pangeran Diponegoro. Kemudian ada pula Museum Batik Danar Hadi, Solo, yang akan mengenalkan kepada kita tentang sejarah batik. Selain itu tentu saja masih banyak lagi.” Intan mengakhiri penjelasannya.
“Wah ... kamu paham banget, In.” Rani sangat takjub.

“Habis aku penasaran banget, Ran. Jadi aku meminta ibu untuk membelikan buku-buku yang ada pembahasannya tentang museum di Indonedia. Kadang aku searching di internet untuk menambah pengetahuan.”

“Eh ... jangan-jangan kamu mulai tertarik juga, ya soal museum dan sejarah?” Intan meledek Rani. Dia sengaja menyenggol lengan Rani.

“Iya, nih.” Rani tersenyum agak malu. “Ternyata, liburan ke museum tidak membosankan seperti yang aku pikirkan.” Ucapnya jujur.

“Apa aku bilang? Kalau begitu kamu siap mengunjungi setiap ruang di museum Kartini, kan?”

Rani mengangguk mantap.  Dengan sabar, Intan pun  mengajak Rani agar melihat hal-hal menarik lainnya di Museum Kartini. Seperti benda-benda peninggalan Ibu Kartini semasa hidup, benda-benda bersejarah  yang ditemukan di Jepara, kerajinan tangan Jepara dan banyak lagi. 

“Terima kasih, ya, In. Liburan kali ini benar-benar seru.  Lain kali kita harus mengunjungi berbagai museum di Indonesia bersama-sama.”  Ucap Rani yang langsung disetujui Intan.

Srobyong, 4 Februari 2018

Friday, 5 October 2018

[Cerpen] [Cerma] Insiden Sepatu

Dimuat di Analisa Medan, Minggu 9 September 2018 


*Ratnani Latifah
            Vania memperhatikan deretan sepatu yang ada di hadapannya. Sangat manis dan menggugah selera. Dia melihat dengan seksama model-model flat shoes yang membuat dia makin tergiur. Padahal sudah berpuluh sepatu yang Vania koleksi untuk memadukan dengan setiap baju yang dibeli.
            Mata itu makin mengawasi dengan jeli, melihat sepatu flat warna ungu yang selalu menjadi candu.
            Ketika dia akan mengambil sepatu itu, ternyata tangan seorang cowok mendahului dia dengan cepatnya. Vania terbengong. “Cowok ini lancang sekali.” Vania menggerutu sendiri.
            “Maaf, itu sudah mau gue ambil.” Vania meminta sepatu itu.
            “Tapi, gue yang mengambil duluan.” Cowok itu tidak mau kalah.
            Vania sebal bukan main, apalagi itu model terbaru  Flat Geearsy yang selalu dia tunggu. Dengan warna ungu yang makin membuat dia harus memilikinya.
            “Loe mengambilnya setelah gue pegang. Sini berikan!” Vania berusaha merebutnya. Tapi, cowok itu tetap tidak mau kalah untuk mempertahankannya.
            “Loe kan cowok kenapa tidak mencoba mengalah sedikit dengan cewek sih,” gerutu Vania kesal.
            “Lagipula, buat apa Loe beli sepatu cewek.” Cibir Vania. Cowok itu bukannya menjawab, malah menatapnya Vania dengan  tajam.
            “Bukan urusan Loe,” ucapnya ketus.
            Perdebatan mereka untuk mendapatkan sepatu itu membuat karyawan di toko itu turun tangan untuk memisahkan. Mereka mencoba melerai dan memberi pilihan. Namun sayang, Vania dan cowok itu sama-sama menolak. Karena yang mereka inginkan sepatu itu yang ternyata stocknya tinggal satu dengan ukuran yang sama yang mereka ingin beli. Jadi tidak mungkin diganti.
            Vania dengan muka ditekuk, mencoba mengikhlaskan sepatu flat itu untuk cowok yang menyebalkan yang tidak mau mengalah. Dia pulang dengan tangan kosong tanpa membeli apapun, karena dia sebenarnya masih mengharap sepatu itu.
            “Aaaaaaaa!!” teriak Vania sendiri. Dia meninggalkan toko dengan kecewa. Dia bersumpah tidak akan melupakan cowok brengsek yang tidak punya hati, yang tidak mau mengalah dengan cewek.
            Vania, kini melangkah untuk pulang ke rumah. Dia mau merelaxkan sebentar pikirannya yang masih panas.
            Sesampainya di rumah dia tidak mengindahkan panggilan Radit—kakaknya. Vania langsung pergi begitu saja untuk masuk ke sarangnya.
            “Va, dipanggil kok ngeloyor sih.” Radit mengingatkan adiknya.
            “Vania lagi kesal Kak, nanti aja kalau udah adem.” Vania tidak mempedulian kakaknya.
            Radit mengalah membiarkan Vania mendinginkan otak. Kalau dia mengganggu malah bisa dapat semburan pedas yang berujung adu mulut tak terelakkan.
            Ketika jam makan malam, Vania baru keluar dari persembunyian. Suara peut yang tidak mau berkompromi membuat dia harus keluar demi sesuap nasi. Rasa marah ternyata membuat kelaparan juga.
            “Kenapa Va? Dari pulang sekolah kok  uring-uringan? Lagi dapet ya? Atau ada tugas fisika? Loe kan suka stres kalau harus ngerjain fisika.” Radit mendekati adiknya, mencoba meledek. Vania mengangkat bahu.
            Dia duduk di ruang tengah menungggu panggilan Bunda untuk makan malam bersama. Radit masih berusaha membujuk, dia tahu Vania tidak akan betah menyembunykan masalah dari dia.
            Benar saja, lima menit kemudian, cerita insiden sepatu itu meluncur begitu saja dari bibir mungil Vania. Dia menceritakan semua detil kejadian yang dia lalui. Rencana awal saat ke toko untuk hunting sepatu menjadi gagal total, karena ulah cowok sableng yang merusak mood Vania hilang. Dia pulang tanpa membawa apa-apa kecuali kecewa yang berkepanjangan.
            Radit malah tertawa terbahak membuat Vania bingung dengan ulah Kakaknya.
            “Ich! Apa yang lucu coba Kak,  Vania sebal tahu,” Vania protes.
            “Kau ini Va, gara-gara masalah itu uring-uringan seharian? Lucu tahu, apalagi mendengar kalian cowok dan cewek bersitegang karena sepatu,” Radit kembali tertawa terbahak. Namun, langsung dihentikannya ketika melihat wajah Vania yang semakin lusuh saja.
            “Sudah ikhlaskan saja, nanti juga dapat gantinya.”
            Obrolan itu terhenti, ketika Bunda mereka memanggil menyuruh makan malam, segera mereka berbaur menuju ruang makan.
            “Hmm, baunya sedap sekali.” Vania mencium aroma masakan Bundanya. Segera dia melahap makan malam itu tanpa lupa memulai dengan basmalah.
            Malam itu, rasa kecewa Vania melebur dengan tawa renyah dari keluarganya.
~*~
            Vania terbelalak, dia ingat betul cowok berengsek yang berada di depannya. Pagi-pagi dia sudah harus berurusan dengan cowok menyebalkan itu. Salah apa dia kenapa dia harus melihatnya lagi. Di depan rumahnya lagi.
            “Sudah datang Lex.” Radit muncul dari dalam. Dia tersenyum menyambut Alex temannya.
            Vania melonggo, dia teman Kakaknya.
            “Kenalkan Va, dia ini disainer sepatu kenalan Kakak, karyanya keren-keren lho,” ucap Radit memperkenalkan.
            “Paling di koleksi sepatumu ada juga yang buatan tangan darinya,” Radit menambahkan.
            Vania hanya diam saja, mendengar penjelasan Radit tentang cowok bernama Alex. Disainer? Lalu kenapa dia kemarin harus berbut sepatu dengan dia? Tidak masuk akal. Vania bergelut dengan pikirannya sendiri.
            “Desainer Kakak bilang? Dia nih cowok kemarin yang buat Vania bad mood,” Vania berucap.
            “Adikmu Dit?” Alex membuka suara.
            “Dia tipe keras kepala,” ucap Alex pedas.
            “Apa? Loe tu cowok keras kepala, tak punya hati untuk sesama, egois!” Vania meladeni.
            Radit kini yang bingung, melihat dua orang di depannya yang saling adu mulut dengan ego masing-masing.
            “Bentar, bentar mungkin ada kesalah pahaman di sini,” Radit menengahi.
            Dia menatap Vania dan Alex bergantian. Dia harus mendamaikan anjing dan kucing ini.
~*~
Vania kaget ketika memasuki, Alexa shop, semua karyawan memberi hormat dengan takdim. Vania baru tahu kalau Alexa shop itu, milik Alex. Toko sepatu yang kemarin Varia datangi, bahkan sering dia datangi. Dia tidak tahu bahwa cowok yang bertengkar mulut dengannya kemarin dan tadi pagi adalah pemilih toko sepatu ini. Dia bertengkar dengan pemilik dan pembuat sepatu yang sering dia beli selalu. Hebat banget masih kuliah sudah punya usaha. Pikir Varia.
            Malu! Itu perasaan yang kini bertengger di hati Vania, mau di taruh mana mukanya sekarang. Apalagi saat ini semua mata tertuju padanya. Seharusnya tadi dia menolak untuk diajak ke sini.
            “Kak, kenapa Kak Radit tidak bilang.” Vania menyenggol kakaknya.
            “Kamu kan tidak tanya Va.” Radit membela diri.
            Mereka berjalan di belakang Alex yang mengantarkan mereka pada setiap inci  toko ini.
            “Kenapa kemarin tidak bilang kalau …,” ucapan Vania belum selesai.
            “Ini toko milik gue begitu?” Alex melanjutkan menatap Vania tajam. Vania mengangguk lemah.
            Alex kembali diam, tidak menjelaskan apapun tentang kepemilikan toko ini. Vania tidak tahu, kalau dari kemarin dia di beritahu, pasti kesalah pahaman ini tidak berujung panjang.  Di sini dia seperit mau diadili.
            “Dasar cowok Aneh!” Vania kembali menggerutu. Karena dia tidak tahu jalan pikiran Alex itu.
            Dia sendiri sekarang dianggurkan. Dia dan Radit asyik berbincang entah apa yang tidak Vania pahami. Dia perlahan mencoba menjauh dan memilih area lain untuk mencoba melihat pemandangan lain, dari pada menguntit mereka tanpa ada penjelasan.
            Namun, baru beberapa langkah Varia ingin kabur, Alex menangkap basah dia, hingga membuat Vania harus mengentikan langkah.
            “Mau ke mana Loe? Kabur? Malu?” ledek Alex.
            Cowok ini sungguh, mentang-mentang kaya, melakukan semaunya. Kenapa dia harus di hukum, dipermalukan. Dia kan tidak salah secara dia tidak tahu jati diri Alex sebelumnya. Curang!
            Mereka telah sampai di ruang kantor Alex. Mereka dipersilahkan masuk. Ruangan itu sangat luas dan penuh sepatu indah. Mata Vania berbinar. Dia melihat dengan takjub.
            “Semua buat Loe Va, juga Flat Geearsy warna ungu itu,” Alex berucap datar. Membuat Vania makin tidak mengerti maksud Alex.
            Kini mereka beradu pandang, Vania baru menyadari pesona wajah dan tatapan elang yang selalu menusuk dalam. Menatapnya dengan penuh sayang.
            Kejutan besar yang membuat Vania makin terperangah ketika semua ternyata sudah Alex rekayasa dengan Radit yang sudah tahu kalau Alex sudah jatuh cinta dengan Vania sejak dia menjadi pelanggan tetap di Alexa Shop. Semua dari insiden sepatu dan juga hari ini.
Srobyong, 25 Desember 2014 – September 2017

Friday, 27 July 2018

[CERNAK] Belajar Hidup Rukun

Dimuat di Lampung Post, Minggu 15 Juli 2018


Ratnani Latifah

            Sejak pagi Salma terlihat tidak tenang. Sesekali dia menatap keluar kelas. Dan sesekali dia menatap sebuah buku yang halamannya sobek.  Salma benar-benar bingung bagaimana dia bersikap pada Sifa.

            “Kira-kira, Sifa marah tidak, ya?” ucap Salma pelan, sambil sesekali melirik ke luar kelas.
            Dua hari lalu, Salma  meminjam buku cerita Sifa. Sifa pun meminjamkannya. Sifa berpesan, agar Salma menjaga dan merawat buku itu.

            “Wah ... bukunya bagus Sif. Boleh pinjam, kan?” tanya Salma ketika Sifa menunjukkan buku koleksinya yang dibawa ke sekolah.

            “Boleh, dong. Seperti biasa ... bukunya dijaga, ya. Jangan sampai lecek atau rusak.” Sifa memberikan buku ensiklopedia tumbuhan kepada Salma.

            Sifa dan Salma, memang sudah bersahabat sejak lama. Dan selama ini, Sifa memang kerap meminjamkan buku kepada Salma. Sifa tahu, Salma sangat suka membaca. Tapi karena masalah biaya, Salma tidak bisa membeli buku yang harganya relatif mahal. Oleh karena itu, Sifa yang kebetulan  punya perpustakaan pribadi yang disiapkan ibunya, dengan suka rela meminjamkan buku pada Salma.

            “Siap. Terima kasih, ya, Sif. Aku pasti akan menjaganya dengan baik.” Salma tersenyum riang. Begitu pula Sifa.

 Tapi, ternyata Salma  lalai. Dia lupa merapikan buku itu setelah dibaca, karena dipanggil ibunya untuk membantu berjualan di warung. Dan kebetulan  adiknya yang masih kecil, tanpa sengaja melihat buku itu dan  merobek sebagian buku tersebut, untuk bermain-main.

Salma menarik napas dan menunduk. Dia semakin gelisah ketika mendengar suara Salma yang menyapanya dengan riang.

“Lho, kamu kenapa pucat, Sal?” tanya Sifa setelah duduk di bangkunya.

“Kamu sakit, kok masuk sekolah.”

“Bu-bu-kan, Sif.” Salma terlihat gugup. Dia menimbang-nimbang, apakah dia akan mengatakan sekarang atau nanti.

Lalu dengan sedikit takut, Salma akhirnya memilih jujur. “Maaf, Sif, aku sungguh tidak sengaja.” Salma menunduk.

            “Kamu mau memaafkanku, kan, Sif?” ucap Salma penuh harap.

            “Nggak mau. Kamu jahat. Kamu sudah merusak bukuku.” Tolak Sifa.  Dia menatap buku barunya yang sudah rusak itu.

“Mulai sekarang aku tidak mau bermain dengan kamu lagi. Aku juga tidak akan meminjamkan buku-buku padamu lagi.” Imbuh Sifa.

            “Aku janji lain kali tidak akan ceroboh lagi, Sif, aku boleh ya, pinjam buku lagi?” Salma  memohon.

            “Kalau nanti aku punya uang, aku akan  ganti buku kamu. Bagaimana?” bujuk Salma lagi.

“Mulai sekarang aku akan menabung uang jajanku untuk membelinya.”  Salma menjelaskan.

“Kelamaan. Aku maunya kamu ganti sekarang, kamu bisa?” ucap Sifa menantang. Mendengar itu, Salma semakin menunduk.

            “Ada apa ini?  Pagi-pagi, kok sudah ribut-tibut?” tanya Bu Mila.

            Ternyata, pertengkaran mereka didengar juga oleh Bu Mila, wali kelas mereka.  Sifa dan Salma tidak sadar, kalau sejak tadi bel masuk sudah berbunyi. Dan mereka masih terus bertengkar.

Sifa dan Salma pun dipanggil Bu Mila, ke ruang guru, untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.  Padahal biasanya mereka selalu akur dan rukun. Mereka adalah dua sahabat yang selalu kompak.

“Ini salah Salma, Bu.” Tunjuk Sifa. “Dia merusak buku saya.” 

“Iya, Bu saya yang salah. Saya merusak buku Sifa tanpa sengaja, karena itu, saya ingin meminta maaf.”

“Tapi saya tidak mau memaafkannya, Bu. Saya sebal sama Salma.”

Mendengar ucapan Sifa, Bu Mila langsung menasihati Sifa.

“Tidak boleh begitu, Sifa. Kalau ada teman yang meminta maaf, maka kita harus memaafkannya.Teman yang meminta maaf itu, tandanya dia menyesal dan mau berubah.

“Dan tadi, kamu  sadar tidak ..., kalau kamu juga  sudah menyakiti perasaan Salma?” lanjut Bu Mila.

            Sifa menggeleng. Dia merasa Salma-lah yang sudah jahat padanya. Namun ketika Bu Mila mengingatkan kata kasar yang tadi sempat dia ucapkan, Sifa langsung menunduk malu. Ternyata kemarahan, bisa membuatnya bersikap jahat.

            “Maaf, Salma.” Ucap Sifa penuh penyesalan. Ternyata dia juga salah. Dia tidak bermaksud menghina keadaan Salma.  Dia sering diingatkan orangtuanya untuk tidak menghina kekurangan orang lain.
            “Tidak apa-apa, Sifa. Aku juga minta maaf.”

            Mereka akhirnya bersalaman dan berpelukan.

            “Nah ... kalau damai seperti ini, kan bagus. Mulai sekarang kalian harus selalu menjaga kerukunan. Karena sesama teman memang harus selalu rukun. Tidak boleh marahan dan dendam.” Pesan Bu Mila, yang langsung disetujui Sifa dan Salma dengan anggukan.

            Srobyong, 31 Mei 2018

Wednesday, 20 June 2018

[CERNAK] Baju Lebaran buat Putri

Dimuat di Lampung Post, Minggu 10 Juni 2018


*Ratnani Latifah

        Malam hari setelah pulang dari tarawih, Sari mendekati ibunya yang sedang asyik membaca buku, di ruang keluarga.

            “Bu, belikan baju baru, lagi, ya,” rengek Sari.

            “Lagi ...?” ibunya meletakkan buku dan menatap Sari.

            “Iya, kan kemarin baru dibelikan satu. Teman-teman Sari punya baju baru banyak,” cerita Sari.
            “Ratih punya tiga baju baru, Sisil juga punya tiga. Luna punya dua. Masak ... Sari hanya punya satu, kan malu, Bu.” Sari menjelaskan panjang lebar.

            “Belikan, ya, Bu. Ya ... ya,” Sari terus memohon.

            “Kalau punya beberapa baju baru, kan bisa buat gonta-ganti, Bu.”

            “Coba ibu bayangkan ... masak, Sari harus memaki baju satu itu terus menerus. Ke rumah Nenek dan Bude pakai baju itu. Besoknya ke rumah Eyang masih baju itu.” Sari menggeleng-gelengkan kepala.

            “Sari nggak mau, ah. Malu.” Ucapnya lagi.

            “Kan, kamu masih ada baju lama, Sayang. Bisa dibuat gantian.” Ibunya menjelaskan.

            “Misalnya hari pertama kamu pakai baju baru, untuk ke rumah nenek dan Bude. Esok harinya bisa memakai baju lebaran kemarin.”

            “Tapi itu baju lama, Bu. Masak lebaran tidak memakai baju baru.” Sari masih ngotot.

            “Kalau ibu tidak mau membelikan baju baru, Sari nggak mau puasa lagi. Bukankah, ibu berjanji kalau Sari puasa tanpa bolong akan mengabulkan keinginan Sari?” Sari mengerucutkan bibirnya.

            Sang ibu pun akhirnya mengalah. Karena memang pernah menjanjikan. Dan selama ini Sari belum pernah bolong puasa. Dia selalu puasa sampai Maghrib.

            Keesokan harinya, yang bertepatan dengan hari Minggu, Sari pergi dengan ibunya ke swalayan untuk membeli baju baru. Sekalian  membeli persiapan lebaran lainnya.  Di sana tanpa sengaja, Sari bertemu dengan Putri, teman satu kelasnya dan sang ibu yang sedang berbelanja juga. Di sana Sari melihat, kalau Putri tidak ribut meminta baju baru. Putri hanya mengikuti ibunya, membantu mengambil barang-barang yang diperlukan.

            Diam-diam Sari penasaran dengan sikap temannya itu. Dia jadi teringat, kalau di sekolah, ketika teman-temannya membicarakan baju baru, Putri sama sekali tidak ikut bicara. Putri lebih suka duduk sambil membaca buku pelajaran, atau buku cerita yang dipinjam dari perpustakaan.

            Karena penasaran, keesokan harinya saat di sekolah, Sari mendekati Putri. Temannya itu seperti biasanya selalu fokus pada buku.

“Put, kemarin kamu ke swalayan tidak beli baju baru, ya?”

            “Iya, Sar.  Aku hanya menemani ibu belanja,” jelas Putri sambil tersenyum.

            “Lagi pula, baju lebaran tahun lalu, masih bagus dan bisa dipakai lagi,” lanjut Putri.

            “Kamu bener nggak ingin baju baru?” Sari kaget.

            “Pengen sih, tapi aku tahu, ibu belum punya uang untuk membeli baju baru saat ini,  jadi aku tidak berani minta.” Ucap Putri  sambil terseyum tersenyum.

            “Kan hanya satu tahu sekali, Put, buat beli baju lebaran baru.  Apa ibu kamu tidak menjanjikan dibelikan baju baru jika bisa puasa 30 hari penuh?” Sari bertanya lagi.

            Putri pun langsung menggeleng. “Memang hanya satu tahun sekali, Sar. Tapi kata ibu, merayakan idul fitri tidak harus memiliki baju baru, yang penting hati baru untuk saling memaafkan.”

“Dan  ibu selalu mengajarkan padaku, agar puasa dengan ikhlas karena Allah, bukan karena akan dapat hadiah atau alasan lainnya.”

             Mendengar jawaban Putri, tiba-tiba Sari merasa sangat malu. Selama ini dia berpuasa belum ikhlas karena Allah. Dia puasa karena ibunya menjanjikan hadiah, dibelikan baju dan sandal baru.  Selain itu selama ini dia juga tidak pernah bersyukur dengan nikmat yang diberikan padanya.  Sari selalu iri dengan milik orang lain.  Dia merasa belum puas dengan apa yang dimiliki.

            Tiba-tiba Sari memiliki ide bagus. Ketika pulang sekolah, dia segera menemui ibunya. Dia membisikkan sesuatu.

        “Kamu yakin, Sayang?” tanya ibunya agak bingung.  Entah kenapa tiba-tiba putri kesayangannya itu berubah. Padahal kemarin Sari memaksa sekali untuk dibelikan baju baru.

            “Yakin, Bu. Kan kata ibu, baju Sari masih banyak.  Masih bagus dan bisa dipakai lagi. Memberi satu ke teman yang membutuhkan tidak apa-apa, Kan? Kata Pak Guru,  sedekah membawa banyak berkah.” Sari tersenyum.

              Mendengar cerita Putri, Sari jadi ingin menghadiahkan satu baju baru miliknya agar dipakai Putri. Lagi pula ukuran tubuh mereka sama, pasti sangat pas.  Itu yang tadi dipikirkan Sari.

            “Tentu saja boleh, Sayang. Ibu bangga sama kamu.” Sang ibu memeluk Sari.  

            “Kalau begitu, aku pamit dulu, ya, Bu. Mau mangantarkan baju ke rumah Putri.”  Sari mencium punggung tangan ibunya dan mengucapkan salam. Nanti dia juga mau berterima kasih pada Putri yang sudah mengingatkannya, tentang pentingnya arti bersyukur dan beribadah dengan ikhlas.

            Srobyong, 12 Juni 2017