Showing posts with label Padang Ekspres. Show all posts
Showing posts with label Padang Ekspres. Show all posts

Thursday, 13 February 2020

[Resensi] Pentingnya Menjaga Kelestarian Ekosistem Laut


Tiga  picture book ini merupakan dua seri karya Mbak Ruri Irawati, salah satunya adalah “Seri Dongeng Plus Aktivitas” sedangkan dua buku lainnya termasuk “Seri Lindungi Lautku” ketiga buku ini diterbitkan di Penerbit Ananda, Tiga Serangkai.

Pertama mari kita berkenalan dengan “Seri Dongeng Plus Aktivitas” bertajuk “Rahasia Harta Terpendam."

Menanamkan Sikap Rajin dan Kerja Keras
Judul               : Rahasia Harta Terpendam
Penulis             : Ruri Irawati
Ilustrator         : Gage Studio
Penerbit           : Tiga Ananda
Cetakan           : Pertama, Mei 2019
Tebal               : 32 halaman
ISBN               : 978-623-206-160-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Menanamkan pendidikan karakter kepada anak harus dilakukan sedini mungkin.  Karena pendidikan karakter merupakan salah satu dasar penting dalam membangun sikap tanggung jawab anak. Selain guru, orangtua juga memiliki peran penting dalam membangun karakter  baik kepada anak. Apalagi orangtua sebagai madrasah pertama juga role mode bagi anak.

Salah satu metode yang bisa dipilih dalam menanamkan pendidikan karakter adalah melalui media membaca dan mendengarkan.  Di sini orangtua bisa memulainya dengan  mengajak anak untuk menyukai buku dengan membacakan  dongeng-dongeng seru di sekitar kita. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia kaya akan dongeng-dongeng seru yang memiliki banyak contoh keteladanan. Misalnya dongeng Malin Kundang, Timun Emas, Tangkuban Perahu,  Sangkurian, Batu Menangis dan banyak lagi.

Ketika orangtua membacakan sebuah cerita kepada anak, maka anak akan merekam dan mengingat-ingat setiap kisah yang dipaparkan. Membacakan kisah dongeng bisa membantu daya ingat anak lebih tajam, juga mengasah rasa ingin tahu anak.  Lalu bagaimana cara memilih kisah dongeng yang pas bagi kebutuhan anak?  Mengingat banyak sekali buku-buku bertemakan dongeng nusantara di toko buku.

Hampir semua penerbit besar, pernah menerbitkan buku-buku dongeng yang menarik. Bisa dibilang tema dongeng sudah sangat pasaran. Namun pada fakta di lapangan, tema dongeng tetap selalu diminati dan tetap laris manis dipasaran. Hal itu terjadi karena  masing-masing penulis pasti memiliki keunikan tersendiri dalam menghadirkan dongeng tersebut. Sebagaimana buku bertajuk “Rahasia Harta Terpendam” karya terbaru dari Ruri Irawati.

Secara umum, buku ini menceritakan kembali dongeng  dari Bali. Namun dengan tambahan aktivitas seru yang dihadirkan penulis, buku ini  menjadi berbeda dari dongeng kebanyakan. Apalagi buku ini juga disertai fakta unik tentang budaya Bali yang akan menambah pengetahuan anak.

Menceritakan tentang kisah hidup seorang  bapak yang tinggal bersama lima anaknya.  Bapak itu memiliki ladang yang amat luas. Namun sayang sekali, kelima anaknya itu tidak memiliki sikap rajin dan kerja keras sebagaiamana ayahnya. Kelima anaknya sangat malas. Mereka tidak pernah mau membantu bapakanya.

Padahal kelima anaknya mau menikmati hasil dari kerja keras bapaknya. Bahkan ketika bapaknya sudah mulai sakit-sakitan, mereka tetap tidak peduli dan tetap hidup boros. Hingga lambat laun, harta mereka  mulai berkurang.    Dan sakit bapak mereka semakin marah. Di sana sang bapak memberi wasiat agar kelima anak itu menggali harta yang konon katanya dia pendam dalam ladang. 
“Anak-anakku, galilah harta yang kupendam di ladang. Bagilah rata untuk kemakmuran kelak” (hal 11).

Setelah bapak mereka meninggal, mereka tidak sabar untuk menggali harta terpendam itu. Namun setiap kali mereka berusaha menunaikan wasiat bapaknya, yang mereka temukan bukanlah harta karun.  Misalnya si sulung, I  Wayan setelah menggali, ia menemukan salura air terseumbat, anak ketiga, I Nyoman  menemukan sisa-sisa benih tanaman, anak keempat, I Ketut hanya menemukan cacing yang menempel di cangkul dan anak kelima,  I Putu hanya menemukan pupuk yang belum terpakai. Namun dari semua penemuan itu mereka menyadari sesuatu yang sangat penting di balik wasiat bapaknya.

Buku yang  diperuntukkan untuk anak tingkat TK dan SD ini akan sangat mudah dipahami anak. Bahasanya sederhana dan disertai gambar, pastinya akan membuat anak betah saat membacanya.  Membaca buku ini kita bisa belajar tentang arti penting sikap rajin. Yaitu sikap  suka bekerja dan selalu sungguh-sungguh. Sikap ini kebalikan dari sikap malas yang lebih sering membuang waktu.  Selain itu melalui kisah ini kita bisa belajar tentang sikap kerja keras. 

Srobyong, 4 Agustus 2019

Dimuat di Radar Madura 24 Agustus 2019 



Kedua  ada  “Seri Lindungi Lautku” yang bertajuk “Rumah Baru Mola”

Pentingnya Menjaga Kelestarian Ekosistem Laut

Judul               : Rumah Baru Mola
Penulis             : Ruri Irawati
Ilustrator         : Chatarina Hayu P.
Penerbit           : Tiga Ananda
Cetakan           : Pertama, Juni 2019
Tebal               : 32 halaman
ISBN               : 978-623-206-177-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Indonesia terletak di antara dua samudera besar, yaitu Samudera Hindia dan  Samudera Pasifik. Maka tidak heran jika wilayah Indonesia terdiri dari banyak perairan laut  daripada daerah daratan. Karena alasan itulah  Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Laut di Indonesia memiliki banyak sekali manfaat bagi kehidupan manusia. Misalnya sebagai pembangkit listrik tenaga air,  tempat budidaya serta membantu membersihkan polusi udara. Karena tanpa kita sadari laut bisa menyerap karbon dioksida kurang lebih 43,6 persen kadar karbon dunia. 

Tidak hanya itu laut juga bermanfaat sebagai  wahana wisata. Karena di dalam kedalaman laut kita bisa menemukan keindahan alam yang luar biasa. Di sana terdapat kecantikan terumbu karang yang memukai, ada pula barisan kehidupan ikan-ikan yang tidak kalah menawan. Namun sangat disayangkan, saat ini laut sudah semakin rusak karena ulah manusia sendiri.

Kebiasaan manusia yang suka membuang sampah sembarangan, berdampak pada kerusakan laut. Tidak hanya itu kebiasaan menangkap ikan dengan cantrang, bom atau pukat laut, telah menghancurkan populasi ikan dan merusak ekosistem laut dan terumbu karang. Begitu pula dengan wisatawan bahwa laut yang suka bertindak sesuka hati dan mengganngu tanaman dan hewan laut.   Padahal sebagaimana kita ketahui ekosistem laut memiliki banyak sekali manfaatnya terhadat manusia. Oleh sebab itu, kita harus melindungi dan  melestarikan  ekosistem laut. 

Kesadaran akan kepedulian terhadap laut ini harus kita tanamkan kepada anak sejak kecil. Dengan begitu anak akan terbiasa untuk mencintai dan peduli dengan kelestarian ekosistem laut. Salah satunya adalah dengan mengenalkan buku “Seri Lindungi Lautku, Rumah  Baru Mola” karya Ruri Irawati. Dengan gaya bahasa sederhana dan pendek-pendek, buku ini sangat pas untuk dikenalkan kepada anak. Apalagi dengan tambahan ilustrasi yang menarik, pastinya akan membuat anak tidak bosan selama membaca. 

Buku ini sendiri mengisahkan tentang Mola, si ikan mola-mola yang kehilangan rumah karena menjadi jalur lalu lintas kapal. Karena itu, Mola pun mencari tempat tinggal baru untuk berlindungan. Setelah mencari-cari tempat yang paling nyaman, akhirya Mola menemukan semua rumah baru yang di sekelilingnya terdapat banyak pemandangan yang cantik.

Setelah membersihkan rumahnya, Mola berniat berjalan-jalan di permukaan laut. Namun betapa kagetnya Mola, ketika dia tengah asyik berenang, dia melihat ada dua wisatwan yang terus mengikutinya. Awalnya Mola senang, karena mengira bahwa manusia itu menyukai keelokan dirinya. Namun, lama-lama Mola terganggu, karena wisatawan itu mulai ingin menyentuh tubuh Mola.

Saat berusaha menghindari kejaran dari wisatawan, Mola tersesat di sebuah tempat yang asing. Di mana di tempat itu banyak sekali terumbu karang yang telah mati. Di sana Mola diingatkan ikan buntal untuk hati-hati, karena tempat itu adalah tempat yang sering didatangai para wisatawan laut dan  merekalah yang merusakan tempat itu. Lalu bagaimana dengan nasib Mola yang sedang dikejar para wisatawan? Selengkapnya bisa dibaca di buku ini.

Mengambil tema yang masih jarang ditulis penulis lain, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Selain mengajarkan rasa cinta dan peduli pada kelestarian ekosistem laut, buku ini juga akan menambah banyak pengetahuan kepada anak tentang  hewan langka di laut. Misalnya tentang ikan mola-mola, salah satu ikan raksasa yang tinggal di perairan hangat termasuk di Indonesia, memiliki nama lain sunfish, karena ikan ini suka berjemur,  makanan kesukaan mola-mola adalah ubur-ubur, kepiting, zooplankton, dan alga. Serta masih banyak lagi pengetahuan yang dirangkum penulis dalam buku ini.Kemudian tidak kalah penting buku ini juga mengingatkan kepada kita tentang selalu bersikap baik dan peduli, saat melakukan wisata laut.

Srobyong, 9 Agustus 2019 

Dimuat di Padang Ekspres , Minggu 15 September 2019 



Dan terakhir masih dari “Seri Lindungi Lautku” ada kisah bertajuk “Mencari Si Monster Cantrang” 

Melindungi Biota Laut dari Cantrang

Judul               : Mencari Si Monster Cantrang
Penulis             : Ruwi Irawati                                                      
 Ilustrator        : Chatarina Hayu P
Penerbit           : Tiga Ananda
Cetakan           : Pertama, Juni 2019
Tebal               : 32 halaman
ISBN               : 978-623-206-176-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Indonesia dikenal sebagai negara  maritim. Alasannya karena Indonesia adalah negara yang berada atau  dikelilingi oleh samudra yang sangat luas. Dari sebagian besar wilayah yang ada, wilayah perairan di Indonesia itu lebih luas daripada daratan. Maka tidak heran jika kemudian kita ketahui, bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman biota laut yang sangat banyak. Dari 6000 spesies ikan yang ada di dunia, setidaknya 2500  yang di antaranya berada di wilayah Indonesia.

Oleh sebab itu perlu dilakukan pelestarian biota laut untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut.  Apalagi saat ini berbagai biota laut mulai terancam punah,  karena ulah manusia sendiri, yang suka bertindak semena-mena dan tidak memedulikan kelestarian lingkungan dan kehidupan di laut.  Salah satu caranya adalah dengan mengajak anak membaca buku ini. Melalui buku ini, anak akan diajak untuk peduli dan siap menjaga ekosistem laut.

Di sadari atau tidak semakin banyak perburuan liar yang dilakukan manusia guna menangkap hewan-hewan laut, seperti penyu, terumbu karang, ikan-ikan langkah dan banyak lagi.  Di mana dalam perburuan ikan banyak yang  memanfaatkan bom, pukat harimau juga  cantrang—alat menangkap ikan yang berukuran besar dan dioperasikan hingga menyentuh dasar laut. Selain terumbu karang yang ikut rusak terseret cantrang, banyak pula ikan-ikan yang tertangkap namun hanya sekitar yang bisa dikonsumsi. Akibatnya berdampak pada rusaknya  populasi ikan di lautan.

Karena itu penting bagi kita untuk mulai peduli dan menjaga laut agar terhindar dari berbagai kejahatan tersebut. Salah satu caranya adalah dengan melindungi laut dari sampah juga tidak melakukan lagi perburuan liar atau menangkap ikan dengan pukat haraimau atau cantrang.  Kita harus menyadari sebagaimana manusia, ikan juga ingin hidup damai dan sejahtera.

Buku ini  menceritakan tentang rasa penasaran Ole,  si ikan coecalanth kecil, tentang keganasakan Monster Cantrang,  yang pernah diceritakan neneknya.  Sang nenek meminta Ole agar bersembunyi di gua, agar tidak ditangkap oleh Cantrang. Namun Ole bandel. Diam-diam dia mencoba mencari tahu tentang Monster Cantrang. Dia tidak tahu bahwa bahaya besar telah mengintainya. Kira-kira apa yang akan terjadi?

Mengambil tema tentang kepedulian ekosistem laut. Melalui buku ini, kita akan mengajak anak untuk mengenal ikan purbakala yang hampir punah, serta menumbuhkan rasa cinta  dan sikap siap untuk  melindungi biota laut.  Dilengkapi dengan fakta-fakta seru tentang binatang laut, buku ini sangat pas untuk dibaca anak.  Tidak hanya itu melalui kisah yang dikisahkan, anak belajar untuk menjadi anak yang mau mendengar nasihat dari orangtua.

Srobyong, 3 Agustus 2019 

Wednesday, 6 March 2019

[Resensi] Mengenalkan Fikih Sehari-hari Pada Anak

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 6 Januari 2019


Judul               : Cerita Fikih untuk Anak Shaleh
Penulis             : Syarif Ali
Ilustrator         : Supriyanto, dkk
Penerbit           : Qibla
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 120 halaman
ISBN               : 978-602-455-693-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Fiqih merupakan salah satu ilmu dalam syariat Islam yang membahas tentang  tata cara beribadah, muamalah serta bagaimana menjalin hubungan terhadap masyarakat luas, yang disertai dengan dalil-dalil yang jelas.  Fiqih merupakan cabang ilmu yang sangat penting untuk dipahami oleh umat Islam. Karena dalam berbagai aspek aktivitas kita akan selalu membutuhkan hukum fiqih.

Oleh sebab itu, penting sekali bagi orangtua untuk mulai memperkenalkan fiqih kepada anak dini. Sehingga ketika dewasa nanti, anak sudah terbiasa dan tidak kaget dengan berbagai aturan yang harus dilakukan dalam beribadah atau berhubungan dengan masyarakat. Anak akan tumbuh sebagai anak yang sudah bisa menunaikan perbuatan yang mencerminkan nilai Islam.

Buku “Cerita Fikih untuk Anak Shaleh” karya Syarif Ali ini akan sangat pas untuk dibacakan kepada anak. terdiri dari sepulu kisah, buku ini memuat berbagai aktivitas sehari-hari yang sering dialami anak. Buku ini juga dilengkapi dengan aktivitas seru, yang pastinya akan menunjang pengetahuan baru bagi anak. 

Di antaranya penulis membahas tentang pentingnya buang air kecil pada tempatnya. Disadari atau tidak di masyarakat, kita sering melihat anak-anak yang tidak diajarkan sejak dini untuk buang air  kecil di wc. Banyak anak kecil yang dibiarkan orangtuanya untuk buang air kecil sembarang. Baik di bawah pohon, di pojokan rumah dan di tempat-tempat lain.  Padahal perbuatan itu tentu saja sangat salah. 

Belum lagi kebiasaan itu didukung dengan tidak melakukan  cebok, sehingga najis masih menempel di celana.  Sedang Allah selalu memerintahkan umatnya untuk membersihkan diri. Cara yang benar dalam buang air kecil adalah di kamar mandi. Setelah itu anak harus diajarkan untuk membersihkan najis dari kotoran itu.  Dengan begitu najis atau kotoran akan hilang.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan Imam Tirmidzi, “Sesungguhnya Allah itu baik, menyukai kebaikan. Allah itu bersih, menyukai kebersihan. Allah itu mulia, menyukai kemuliaan. Allah itu dermawan, menyukai kedermawanan. Maka, bersihkanlah tempat-tempatmu.” (hal 11).

Dijelaskan pula tentang apa saja yang membatalkan wudhu dan  perbuatan-perbuatan  yang boleh dilakukan ketika dalam keadaan wudhu. Diceritakan Rizka  sudah siap untuk melakukan shalat Magrib. Dia sudah memakai mukena. Akan tetapi kue cubit  di atas menggoda sangat menggodanya. Dia ingin makan itu sebelum shalat.  Rizka pun ragu. Bolehkan dia memakan kue cubit itu dulu atau dia harus menunggu melakukan shalat dulu.

Pada kesempatan lain, Rizki tanpa sengaja menginjak air  kencing kucingnya, padahal dia sudah berwudhu.  Kemudian ada pula kejadian Rizka yang marah karena dicubit kakak laki-lakinya. Dia takut kalau wudhunya batal.

Melalui buku ini dengan cara yang menyenangkan dan tidak menggurui, penulis mencoba menjelaskan bahwa makan  tidaklah membatalkan wudhu. Kita bisa tetap makan, namun harus berkumur setelah makan.  Ketika tanpa sengaja menginjak air kencing kucing, maka kita hanya perlu mencuci kaki. Jika bersentuhan dengan saudara yang masih mahram, maka tidaklah membatlkan wudhu. Kecuali jika tertidur, maka kita harus mengulangi wudhu (hal 32).

Kemudian ada pula penjelasan tentang kewajiban saat puasa. Seringkali kita melakukan puasa hanya dengan menahan diri dari rasa lapar dan haus. Padahal selain harus menahan lapar dan haus , kita juga harus menahan diri dari berbuatan keji dan perbuatan yang sia-sia. Seperti menguncing, berbuat riya’ dan banyak lagi.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah menjelaskan, “Puasa tidak hanya menahan diri  dari makan dan minum (semata), tetapi menahan diri dari perbuatan keji dan sia-sia.” (hal 83).
Selain tiga pembahasan tersebut, akan dibahasa juga tentang pentingnya menjalakna shalat lima waktu, shalat tumakninah, pentingnya bersedekah dan banyak lagi. Diceritakan dengan mode picture book, anak  pasti akan suka. Karena bahasanya singkat yang disertai gambaran langsung kejadian. Buku ini sangat bermanfaat.

Srobyong, 25 Oktober 2018

Saturday, 19 January 2019

[Resensi] Kisah Roman dan Persaingan Paham Agama

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 30 Desember 2018


Judul               : Kambing dan Hujan
Penulis             : Mahfud Ikhwan
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : viii + 380 halaman
ISBN               : 978-602-291-470-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

 “Tidak tepat menebar permusuhan di antara sesama Muslim, apalagi dalam satu desa.” (hal 107).

Novel “Kambing dan Hujan” selain terpilih sebagai Pemenang Sayembara Novel DKJ 2014, pada tahun 2015, novel ini juga menjadi Karya Sastra Terbaik versi Jakartabeat dan Buku Terbaik versi Mojok.co. Maka tidak heran jika buku ini kemudian dicetak ulang  dengan cover baru, karena masih diminati pasar. Apalagi dengan desain cover baru yang menurut saya lebih menarik daripada cover edisi pertama.

Mengangkat tema roman dan dipadukan dengan unsur kehidupan sosial politik, sebuah sejarah kampung serta tradisi keagamaan, membuat novel ini sangat menarik. Dengan gaya bercerita yang lugas, tidak rumit dan  mudah dipahami,  membuat novel ini memiliki nilai kelebihan tersendiri. Karena sebagaimana kita ketahui, novel yang diceritakan dengan gaya bahasa yang terlalu rumit, kadang hanya akan membuat pembaca bingung dan bosan.

Menceritakan tentang roman cinta antara Miftahul Abrar dan Nurul Fauzia yang terlahir dalam latar keluarga yang berbeda, meski pun sama-sama memeluk agama Islam dan tinggal di Tegal Centong.   Mif tumbuh di lingkungan keluarga dalam tradisi Islam modern, atau lebih dikenal dengan sebutan Muhammadiyah dan Fauzia lahir dan tumbuh dalam lingkungan  Islam tradisional, atau lebih sering disebut Nahdlatul Ulama (NU).   Tersebab perbedaan itu-lah, hubungan mereka terancam pupus.

Ada sebuah sejarah panjang kenapa kedua paham agama itu tidak bisa berdamai meskipun tinggal di tanah yang sama.  Bahkan ada garis pemisah bagi kedua paham itu. Jika penganut paham Muhammadiyah maka  tinggalya  di Centong Utara. Sedangkan   penganut paham Nahdliyin tinggalnya di Centong Selatan.  Keadaan itulah yang kemudian membuat Mif dan Fauzia pelan-pelan membuka sebuah tabir di masa lalu, untuk mengetahui dari mana akar ketegangan itu dimulai.  Yang ternyata sejarah panjang itu memiliki kaitan erat dengan Moek atau Fauzan, ayah Fauzia dan Is atau Kandar ayah Mif.

Pada awalnya Moek dan Is adalah dua sahabat yang tidak terpisahkan. Mereka sering mengembala kambing  dan belajar bersama.  Tempat favorit mereka saat bersama adalah Gumuk Genjik (hal 62).  Di sana mereka akan saling becerita apa saja.  Selain itu Is juga memiliki kebiasaan meminjam berbagai buku dari Moek. Bahkan ketika Moek melanjutkan pendidikan di pesantren, dia masih sering membawakan kitab agar bisa dibaca Is, yang kebetulan tidak bisa melanjutkan pendidikan, karena masalah biaya.

Namun suatu hari kemunculan Cak Ali, ternyata membawa perubahan besar pada Is. Hingga akhirnya kedekatannya itu telah membuat Is dan Moek tidak berada pada satu kubu. Is merupakan salah satu tokoh islam pembaharu bersma Cak Ali dan teman-temannya. Sedangkan Moek sejak awal dididik untuk melanjutkan perjuangan Islam tradisional di Centong.   Meski awalnya persahabatan mereka tetap seperti dulu, bahkan diam-diam saling mengagumi, namun lambat laun, keadaan lain telah menimbulkan kesalahpahaman yang berkepanjangan, hingga membuat mereka enggan berkomunikasi lagi.

Kenyataan itu tentu saja membuat Mif dan Fauzia bingung. Bagaimana mereka bisa bersatu jika kedua orangtuanya memiliki sejarah panjang seperti itu?  Sedangkan mereka memahami, kebiasaan di desa Centong. “Orang tua di Centong tidak akan memberika nakanya kepada orangtua atau keluarga yang tidak disukainya. Lebih-lebih yang tidak menyukainya.” (hal 26).

Di sinilah kesabaran dan kekuatan Mif dan Fauzia diuji. Mereka harus berjuang agar ayah mereka bisa berdamai. Karena dengan cara itulah hubungan mereka bisa disetujui.  Selain tokoh Moek dan Is, ada pula tokoh lain yang juga akan menghidupkan kisah novel ini bahkan akan membuat kita ikut emosi dan gemas.

Salut dengan penulis yang berani mengangkat tema tentang perbedaan paham agama antara Muhammadiyah dan Nu, yang memang sering terjadi di dalam masyarakat.  Secara keseluruhan novel ini benar-benar menarik dan memikat. Baik dari segi bercerita, penokohan, percakapan, sudut pandang adan alur cerita. Ending cerita yang dipilih penulis pun saya rasa sangat manusiai dan sangat pasa dengan segala probelamatika yang dihadapi.

Dan yang paling saya suka dari novel ini adalah nilai-nilai kehidupan serta nilai-nilai pembalajaran agama yang sangat banyak ditemukan dalam kisah ini. Kita diingatkan untuk menjadi pribadi yang saling memaafkan, cinta damai, rukun dan banyak lagi. Berbagai perbedaan paham agama dijabarkan dengan luar oleh penulis yang membuat wawasan wacana saya bertambah.

Srobyong, 6 Oktober 2018


Friday, 18 January 2019

[Resensi] Transplantasi Jantung dan Kisah Tentang Kemanusiaan

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 16 Desember 2018 


Judul               : The Boy Who Gave His Heart Away
Penulis             : Cole  Moreton
Penerjemah      : Indriani Gratika
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : x + 307 halaman
ISBN               : 978-602-947-414-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Diambil dari kisah nyata, novel ini benar-benar syarat akan makna.  Kasih sayang orangtua, kesabaran, keikhlasan dan kemanusiaan, merupakan beberapa bagian yang bisa kita petik melalui kisah ini. Selain itu novel ini merupakan  pemenang “New York Festival Wordl’s Best Radion Award” kategori Penulisan, Medis dan Isu sosial. 

Orang tua mana yang tidak sedih, ketika mendapati kenyataan bahwa putranya tengah berada diambang kematian? Inilah kisah Marc dan Martin serta Linda dan Sue. Mereka tidak tinggal berada pada muara yang sama. Tempat tinggal mereka terpisah jarak beberapa ratus mil. Dari Scotlandia hingga Inggris. Namun ternyata takdir telah mendekatkan mereka dengan salah satu organ tubuh mereka.

Marc awalnya adalah pemuda berusia 15 tahun yang sangat sehat dan bugar. Dia sangat mecintai sepak bola, serta salah satu pemain bintang dalam tim sepakbola di setempat. Namun suatu hari mendadak dia ditemukan dalam keadaan tidak sehat dan divonis mengalami gagal hati. Tidak hanya itu organ-organ tubuh yang lain juga mengalami gangguan. Oleh karena itu, Marc harus dirujuk ke Royal Infirmary of Edinburgh (hal 8). Kenyataan itu tentu saja membuat Linda limbung.

Dijelaskan bahwa, Jantung Marc tidak sehat dan bengkak, serta hanya bisa bersenyut lemah hingga darahnya tidak bersirkulasi secara normal. Organ-organ tubuhnya kekurangan oksigen yang dibutuhkan sehingga mengalami kondisi gagal organ—hatinya mengering, kedua paru-parunya kondisi banyak darah. Marc benar-benar kritis (hal 17-18).  Dan salah satu cara agar bisa menyelematkan Marc adalah dengan transaplantasi jantung. Hanya saja kadang sangat sulit menemukan donor yang cocok.

Di sisi lain, tiga ratus mil ke selatan, Martin yang juga sama-sama penikmat sepak bola,  terlihat bugar dan  menikmati masa rejamanya dengan wajar. Akan tetapi pada suatu malam dia ditemukan tidak sadarkan diri, dan membuat ibunya, Sue kalang kabur.  Di mana disinyalir Martin mengalami pendarahan di otaknya, hingga  harus dibawa ke Nottingham, untuk menemui dokter spesialis (hal 35).

Di mana setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter yang menangani Martin—Harish Vyas menjelaskan, “Hasil  dari semua tes yang digabungkan bersamaan menunjukkan bawa batang otaknya telah berhenti berfungsi secara efektif. Dengan kata lain, Martin sudah mati otak.” (hal 73).  Dalam hukum Amerika jika semua fungsi otak sudah berhenti, maka seseorang dianggap sudah meninggal. Begitu juga di Inggris.  Lalu keluar korban memiliki dua pilihan, mendonorkan organ tubuh  untuk menolong orang lain atau tidak.

Hal itu juga yang berlaku bagi Sue. Di saat dia harus mengalami kesedihan karena harus menerima kematian anaknya yang sangat mendadak, dia harus berpikir jernih demi kemanusian—dalam artian peduli dengan  pasien lain yang mungkin membutuhkan donor tubuh dari anaknya.  Dan ternyata Marc adalah satu dari sekian orang yang menunggu donor dari Martin.

Kisah ini sangat menggetarkan hati. Penulis berhasil menghidupkan  kisah ini hingga seperti melihat secara nyata bagaimana kehidupan yang dialami Marc dan Linda, serta Martin dan Sue.  Pilihan sudut pandang yang diambil penulis juga menjadi nilai tambah tersendiri dalam kisah ini.  Sudut pandang orang ketiga bergantian masing-masing tokoh  di sini, membuat kita mengenal masing-masing tokoh lebih dekat.

Dalam novel ini saya dapat merasakan kesedihan, kebingungan, keputusasaan seorang ibu. di sisi lain saya juga dapat merasakan kesabaran dan keikhlasan yang harus mereka terima ketika melihat keadaan putra masing-masing.  Ini benar-benar kisah yang penuh haru. Belum lagi ketika takdir ternyata membuka peluang untuk saling bertemu dan berkenalan. Ini adalah momen yang sangat jarang terjadi  antara pendonor dan penerima donor.

Sedikit kesalahan tulis dalam novel ini tidak mengurangi keseruan cerita. Membaca kisah ini saya belajar tentang pentingnya usaha dan doa dalam setiap situasi. Selain itu kita diajak menjadi pribadi yang selalu ikhlas, sabar dan syukur.  Tidak ketinggalan adalah sikap saling tolong menolong dan peduli pada sesama.

Srobyong, 7 September 2018

Thursday, 29 November 2018

[Resensi] Mengasuh Anak Tanpa Kekerasan


Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 11 November 2018


Judul               : Happy Parenting Without Spanking or Yelling
Penulis             : Novita Tandry
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 236 halaman
ISBN               : 978-602-394-632-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Sadar atau tidak, sebagai orang tua, kita kadang merasa berkuasa dengan mengendalikan anak. Apa yang dilakukan anak harus sesuai dengan keinginan kita. Dan ketika anak melakukan kesalahan, kita tidak segan untuk berteriak marah atau lebih fatal menggunakan kekerasan. Padahal pola asuh tersebut merupakan cara yang salah.

Membesarkan anak merupakan tantangan dan tanggung jawab yang sangat besar. Dalam masa perkembangan anak, mungkin akan ditemukan ketidakpatuhan, kemarahan, bahkan  pada suatu waktu terjadi pemaksaan keinginan. Buku ini ditulis untuk membantu kita menyelesaikan masalah tersebut dengan pendekatan paling efektif dan tanpa melakukan kekerasan (xix).

Di antaranya kita bisa memulainya dengan memahami disiplin. Sangat disayangkan, saat ini kata disipilin sering dikonotasikan  sebagai sesuatu yang negatif dan otoriter. Padahal jika kita menelaah lebih lanjut, disiplin memiliki arti mengajar, yang tentunya bersifat positif dan konsturktif. Sebagai orangtua kita harus berani mengatakan “ya” atau “tidak” kepada anak. Dengan begitu anak akan mengatahui batasan-batasan perilaku yang boleh dilakukan atau tidak. Namun dengan catatan dalam menerapkan kedisiplinan orangtua harus melakukannya dengan kasih sayang dan harus  memahami sikap masing-masing anak. Mengingat setiap anak itu unik dan beda.

Orangtua juga harus paham, anak-anak tidak dilahirkan dengan kemampuan pengendalian diri dan kemampuan ini tidak akan berkembang kecuali kita memberikan disiplin yang tegas dan penuh kasih sayang sejak dini (hal 22).

Kemudian kita juga harus memahami tentang tantrums dan kemarahan.  Mungkin banyak dari kita merasa senang jika anak kita jarang marah, jarang rewel dan tidak pernah memperlihatkan tantrum atau ledakan emosi.  Padahal fase ini sangat normal terjadi pada anak. Dan bahkan fase ini memiliki banyak manfaat bagi anak itu sendiri. Oleh sebab itu, kita harus waspada jika anak tidak menunjukkan ledakan emosi dan kemarahan. Di sisi lain kita juga harus mengetahui tentang berbagai faktor dan penyebab kemarahan  anak.  Di mana dengan mengetahui pemahaman tentang faktor kemarahan anak, hal itu akan   sangat membantu  orangtua  dalam memberikan penanganan yang tepat bagi anak.

Selanjutkan kita juga harus siap untuk menangani perilaku buruk anak. Sebagaimana kita ketahui setiap anak itu memiliki pribadi yang berbeda-beda. Anak memiliki cara unik dalam berperilaku atau membuat masalah. Untuk itulah dibutuhkan disiplin yang berbeda untuk menanginya. Di antaranya kita harus memahami dulu kepribadian anak. Misalnya dalam menghadapi anak yang sensitif. Kita tidak perlu meninggikan suara. Jika kita terlalu ketat, maka anak akan menjadi sangat marah.  Sedangkan bagi anak yang tidak sensitif, maka  diperlukan displin yang tegas dan jelas. Karena kekurangjelasan dan tidak adanya keputusan dari orangtua justri dianggap  bahwa ia bebas perperilaku (hal 72).

Selain beberapa hal yang sudah dijelaskan di atas, tentu saja masih banyak tips dan trik menarik tentang bagaimana cara mengasuh anak tanpa kekerasan.  Buku ini sangat pas dibaca bagi semua lapisan masyarakat. Dengan paparan bahasa yang lugas dan tidak bertele-tele, buku ini akan sangat membantu kita dalam upaya mengenal cara asuk yang baik.

Melalui buku ini secara keseluruhan, kita sebagai orangtua diingatkan untuk menjadi pribadi yang  sabar dan tak gegabah. Di sini tidak hanya anak yang diharuskan belajar namun orangtua juga wajib belajar, agar bisa memahami kebutuhan anak. orangtua juga wajib memahami dengan baik setiap karakter anak, karena itu akan sangat membantu dalam memilih metode cara asuh yang pas.  Beberapa kekurangan yang ada dalam buku, tidak menutupi nilai-nilai kemanfaatan yang disampaikan penulis.

Srobyong, 21 September 2018

Thursday, 6 September 2018

[Resensi] Orang Tua Harus Mendidik Anak dengan Benar

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 2 September 2018


Judul               : Home Learning : Belajar Seru Tanpa Batas
Penulis             : Natalia Ridwan, Ning Nathan, Yulia Hendra
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, 1 Januari 2018
Tebal               : 224 halaman
ISBN               : 978-602-03-8086-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Education is the way to move mountains, to build bridges, to change teh world. Education is the path to the future. I belive that education is indeed freedom.” (hal 32).

Menjadi orangtua merupakan tantangan besar.  Selain memiliki tanggung jawab dalam merawat anak dari bayi hingga dewasa, kita juga memiliki tanggung jawab dalam memilihkan konsep pendidikan yang baik pada anak.  Namun perlu kita catat dalam masalah pilihan soal pendidikan,  kita tidak boleh menekan atau memaksakan kehendak pada anak. Kita tetap harus berbicara dari hati ke hati, agar masing-masing pihak—orangtua dan anak bisa enjoy dan tidak  merasa terpaksa.

Akan tetapi, saat ini upaya memilihkan pendidikan bagi anak itu gampang-gampang susah. Untuk itulah orangtua kini dituntut lebih kritis dan kreatif dalam menyikapi berbagai ragam pilihan pendidikan yang ada. Di antara metode pendidikan yang bisa kita pilih adalah, membiarkan anak memperoleh pendidikan di luar rumah—dalam artian bisa masuk sekolah  nasional sekolah pendidikan kerja sama (SPK), sekolah internasional, sekolah alam, dan madrasah.

Pilihan lain adalah orangtua bisa memilih home learning. Yaitu sebuah konsep mendidik anak berbasis rumah atau keluarga—di mana metode ini memiliki kebebasan dalam berlajar. Anak bisa belajar dengan bebas, di mana saja, kapan, saja dan dengan siapa saja. Buku ini sendiri mencoba mengungkap sisi menarik dan fleksibel dalam pilihan metode pendidikan home learning.  Tentu saja hadirnya buku ini bukan berarti memengaruhi pilihan orangtua dan mengesampingkan tugas guru dalam sekolah. Akan tetapi buku ini bisa menjadi wacana yang mungkin bisa kita pertimbangkan tanpa lupa memikirkan tentang bibit, bebet dan bobot serta dampak yang akan diperoleh anak.

Saat ini disadari atau tidak, kegiatan  mengajar sering dilakukan semata-mata untuk mengejar target kurikulum. Padahal membuat anak senang belajar jauh lebih penting.  Sir Ken Robinson mengatakan, “Tugas kita adalah mendidik anak-anak agar mereka bisa menghadapi masa depan. Kita mungkin tidak bisa melihat masa depan, tapi merekalah yang akan menghadapinya dan tugas kita adalah membantu mereka mewujudkannya.”

Perlu kita pahami tiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda. Ada yang cepat tanggap, namun ada juga yang memerlukan waktu lebih lama untuk mempelajari sesuatu. Ada yang bisa belajar di mana saja, ada pula yang membutuhkan suasan tenang dalam kesendirian. Dengan demikian, pendekatan belajar yang tepat bukanlah standardisasi, tetapi pemelajaran individual (hal 8-9).

Jika anak adalah subyek, yang mereka butuhkan sebenarnya bukanlah guru super yang menguasai segala-galanya, namun pembimbing yang bisa menciptakan atmosfer yang merangsang minat dan rasa ingin tahu mereka dalam belajar, berpikir, mengajukan pertanyaan dan membandingkan berbagai pandangan.  Galileo Galilie pernah berkata, “Anda tidak bisa mengajari seseorang tentang sesuatu, Anda hanya bisa membantuknya menemukan diri sendiri.” (hal 30).

Sedangkan home learning  sedikit banyak akan membuat anak memiliki kebebasan dalam belajar. Artinya mereka bisa belajar di mana saja, bisa belajar dengan cara apa saja, baik lewat keseharian, saat traveling atau dengan cara-cara yang tidak konvensional.  Anak tidak dituntut untuk mengejar materi sebagaimana yang kerap terjadi dalam sekolah formal. Yang terpenting adalah kenyamanan anak dalam belajar.  

Home learning dianggap sebagai salah satu  metode pendidikan bijak yang bisa membantu anak untuk menambah pengetahuan juga dalam pembelajaran pendidikan moral secara langsung.  Mahatma Gandhi berkata, “There is no school equal to a decent home and no teacher equal to avirtuous parent.” (hal 121). Namun perlu kita catat meskipun home learning mewarkan berbagai kebebasan,  kita juga harus memahami berbagai persiapan materi bagi anak.

Dilengkapi dengan berbagai kisah menarik dari pengalaman para orangtua pelaku home learning, di sini kita akan mendapat gambaran nyata tentang bagaimana cara memilih pendidikan yang terbaik bagi anak. Buku ini akan sangat membantu orangtua dalam mengarahkan anak menekuni bidang sesuai minat dan bakat anak. kesimpulan saya, apa pun pilihan kita dalam menerapkan pendidikan, yang terpenting adalah orangtua tetap menjadi pendamping yang baik, memberikan pengarahan dan tidak memaksakan kehendak pada anak. Karena bagaimana pun orangtua adalah madrasah pertama bagi anak.

Srobyong, 29 Juli 2018