Showing posts with label Padang Ekspres. Show all posts
Showing posts with label Padang Ekspres. Show all posts
Thursday, 13 February 2020
[Resensi] Pentingnya Menjaga Kelestarian Ekosistem Laut
Label:
Imprint of Tiga Serangkai,
Padang Ekspres,
Radar Madura,
Review buku,
Ruri Irawati,
Tiga Adanda
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Wednesday, 6 March 2019
[Resensi] Mengenalkan Fikih Sehari-hari Pada Anak
Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 6 Januari 2019
Judul :
Cerita Fikih untuk Anak Shaleh
Penulis :
Syarif Ali
Ilustrator :
Supriyanto, dkk
Penerbit :
Qibla
Cetakan :
Pertama, Agustus 2018
Tebal :
120 halaman
ISBN :
978-602-455-693-8
Peresensi :
Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara
Fiqih merupakan salah satu ilmu dalam syariat Islam
yang membahas tentang tata cara
beribadah, muamalah serta bagaimana menjalin hubungan terhadap masyarakat luas,
yang disertai dengan dalil-dalil yang jelas.
Fiqih merupakan cabang ilmu yang sangat penting untuk dipahami oleh umat
Islam. Karena dalam berbagai aspek aktivitas kita akan selalu membutuhkan hukum
fiqih.
Oleh sebab itu, penting sekali bagi orangtua untuk
mulai memperkenalkan fiqih kepada anak dini. Sehingga ketika dewasa nanti, anak
sudah terbiasa dan tidak kaget dengan berbagai aturan yang harus dilakukan
dalam beribadah atau berhubungan dengan masyarakat. Anak akan tumbuh sebagai
anak yang sudah bisa menunaikan perbuatan yang mencerminkan nilai Islam.
Buku “Cerita Fikih untuk Anak Shaleh” karya Syarif
Ali ini akan sangat pas untuk dibacakan kepada anak. terdiri dari sepulu kisah,
buku ini memuat berbagai aktivitas sehari-hari yang sering dialami anak. Buku
ini juga dilengkapi dengan aktivitas seru, yang pastinya akan menunjang
pengetahuan baru bagi anak.
Di antaranya penulis membahas tentang pentingnya
buang air kecil pada tempatnya. Disadari atau tidak di masyarakat, kita sering
melihat anak-anak yang tidak diajarkan sejak dini untuk buang air kecil di wc. Banyak anak kecil yang dibiarkan
orangtuanya untuk buang air kecil sembarang. Baik di bawah pohon, di pojokan
rumah dan di tempat-tempat lain. Padahal
perbuatan itu tentu saja sangat salah.
Belum lagi kebiasaan itu didukung dengan tidak melakukan cebok, sehingga najis masih menempel di
celana. Sedang Allah selalu
memerintahkan umatnya untuk membersihkan diri. Cara yang benar dalam buang air
kecil adalah di kamar mandi. Setelah itu anak harus diajarkan untuk
membersihkan najis dari kotoran itu.
Dengan begitu najis atau kotoran akan hilang.
Dalam sebuah hadis diriwayatkan Imam Tirmidzi, “Sesungguhnya
Allah itu baik, menyukai kebaikan. Allah itu bersih, menyukai kebersihan. Allah
itu mulia, menyukai kemuliaan. Allah itu dermawan, menyukai kedermawanan. Maka,
bersihkanlah tempat-tempatmu.” (hal 11).
Dijelaskan pula tentang apa saja yang membatalkan
wudhu dan perbuatan-perbuatan yang boleh dilakukan ketika dalam keadaan
wudhu. Diceritakan Rizka sudah siap
untuk melakukan shalat Magrib. Dia sudah memakai mukena. Akan tetapi kue
cubit di atas menggoda sangat
menggodanya. Dia ingin makan itu sebelum shalat. Rizka pun ragu. Bolehkan dia memakan kue
cubit itu dulu atau dia harus menunggu melakukan shalat dulu.
Pada kesempatan lain, Rizki tanpa sengaja menginjak
air kencing kucingnya, padahal dia sudah
berwudhu. Kemudian ada pula kejadian
Rizka yang marah karena dicubit kakak laki-lakinya. Dia takut kalau wudhunya batal.
Melalui buku ini dengan cara yang menyenangkan dan
tidak menggurui, penulis mencoba menjelaskan bahwa makan tidaklah membatalkan wudhu. Kita bisa tetap
makan, namun harus berkumur setelah makan.
Ketika tanpa sengaja menginjak air kencing kucing, maka kita hanya perlu
mencuci kaki. Jika bersentuhan dengan saudara yang masih mahram, maka tidaklah
membatlkan wudhu. Kecuali jika tertidur, maka kita harus mengulangi wudhu (hal
32).
Kemudian ada pula penjelasan tentang kewajiban saat
puasa. Seringkali kita melakukan puasa hanya dengan menahan diri dari rasa
lapar dan haus. Padahal selain harus menahan lapar dan haus , kita juga harus
menahan diri dari berbuatan keji dan perbuatan yang sia-sia. Seperti
menguncing, berbuat riya’ dan banyak lagi.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah
menjelaskan, “Puasa tidak hanya menahan diri
dari makan dan minum (semata), tetapi menahan diri dari perbuatan keji
dan sia-sia.” (hal 83).
Selain tiga pembahasan tersebut, akan dibahasa juga
tentang pentingnya menjalakna shalat lima waktu, shalat tumakninah, pentingnya
bersedekah dan banyak lagi. Diceritakan dengan mode picture book,
anak pasti akan suka. Karena bahasanya
singkat yang disertai gambaran langsung kejadian. Buku ini sangat bermanfaat.
Srobyong, 25 Oktober 2018
Label:
Bhuana Ilmu Populer,
Padang Ekspres,
Qibla,
Review buku,
Syarif Ali
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Saturday, 19 January 2019
[Resensi] Kisah Roman dan Persaingan Paham Agama
Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 30 Desember 2018
Judul : Kambing dan Hujan
Penulis : Mahfud Ikhwan
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Pertama, April 2018
Tebal : viii + 380 halaman
ISBN : 978-602-291-470-9
Peresensi : Ratnani Latifah. Alumni Universitas
Islam Nahdlatul Ulama, Jepara
“Tidak tepat
menebar permusuhan di antara sesama Muslim, apalagi dalam satu desa.”
(hal 107).
Novel “Kambing dan Hujan” selain terpilih sebagai Pemenang
Sayembara Novel DKJ 2014, pada tahun 2015, novel ini juga menjadi Karya
Sastra Terbaik versi Jakartabeat dan Buku Terbaik versi Mojok.co. Maka
tidak heran jika buku ini kemudian dicetak ulang dengan cover baru, karena masih diminati
pasar. Apalagi dengan desain cover baru yang menurut saya lebih menarik
daripada cover edisi pertama.
Mengangkat tema roman dan dipadukan dengan unsur
kehidupan sosial politik, sebuah sejarah kampung serta tradisi keagamaan,
membuat novel ini sangat menarik. Dengan gaya bercerita yang lugas, tidak rumit
dan mudah dipahami, membuat novel ini memiliki nilai kelebihan
tersendiri. Karena sebagaimana kita ketahui, novel yang diceritakan dengan gaya
bahasa yang terlalu rumit, kadang hanya akan membuat pembaca bingung dan bosan.
Menceritakan tentang roman cinta antara Miftahul
Abrar dan Nurul Fauzia yang terlahir dalam latar keluarga yang berbeda, meski
pun sama-sama memeluk agama Islam dan tinggal di Tegal Centong. Mif tumbuh di lingkungan keluarga dalam
tradisi Islam modern, atau lebih dikenal dengan sebutan Muhammadiyah dan Fauzia
lahir dan tumbuh dalam lingkungan Islam
tradisional, atau lebih sering disebut Nahdlatul Ulama (NU). Tersebab perbedaan itu-lah, hubungan mereka
terancam pupus.
Ada sebuah sejarah panjang kenapa kedua paham agama
itu tidak bisa berdamai meskipun tinggal di tanah yang sama. Bahkan ada garis pemisah bagi kedua paham
itu. Jika penganut paham Muhammadiyah maka
tinggalya di Centong Utara.
Sedangkan penganut paham Nahdliyin
tinggalnya di Centong Selatan. Keadaan
itulah yang kemudian membuat Mif dan Fauzia pelan-pelan membuka sebuah tabir di
masa lalu, untuk mengetahui dari mana akar ketegangan itu dimulai. Yang ternyata sejarah panjang itu memiliki
kaitan erat dengan Moek atau Fauzan, ayah Fauzia dan Is atau Kandar ayah Mif.
Pada awalnya Moek dan Is adalah dua sahabat yang tidak
terpisahkan. Mereka sering mengembala kambing
dan belajar bersama. Tempat
favorit mereka saat bersama adalah Gumuk Genjik (hal 62). Di sana mereka akan saling becerita apa
saja. Selain itu Is juga memiliki
kebiasaan meminjam berbagai buku dari Moek. Bahkan ketika Moek melanjutkan
pendidikan di pesantren, dia masih sering membawakan kitab agar bisa dibaca Is,
yang kebetulan tidak bisa melanjutkan pendidikan, karena masalah biaya.
Namun suatu hari kemunculan Cak Ali, ternyata
membawa perubahan besar pada Is. Hingga akhirnya kedekatannya itu telah membuat
Is dan Moek tidak berada pada satu kubu. Is merupakan salah satu tokoh islam
pembaharu bersma Cak Ali dan teman-temannya. Sedangkan Moek sejak awal dididik
untuk melanjutkan perjuangan Islam tradisional di Centong. Meski awalnya persahabatan mereka tetap
seperti dulu, bahkan diam-diam saling mengagumi, namun lambat laun, keadaan
lain telah menimbulkan kesalahpahaman yang berkepanjangan, hingga membuat
mereka enggan berkomunikasi lagi.
Kenyataan itu tentu saja membuat Mif dan Fauzia
bingung. Bagaimana mereka bisa bersatu jika kedua orangtuanya memiliki sejarah
panjang seperti itu? Sedangkan mereka
memahami, kebiasaan di desa Centong. “Orang tua di Centong tidak akan
memberika nakanya kepada orangtua atau keluarga yang tidak disukainya.
Lebih-lebih yang tidak menyukainya.” (hal 26).
Di sinilah kesabaran dan kekuatan Mif dan Fauzia
diuji. Mereka harus berjuang agar ayah mereka bisa berdamai. Karena dengan cara
itulah hubungan mereka bisa disetujui.
Selain tokoh Moek dan Is, ada pula tokoh lain yang juga akan
menghidupkan kisah novel ini bahkan akan membuat kita ikut emosi dan gemas.
Salut dengan penulis yang berani mengangkat tema
tentang perbedaan paham agama antara Muhammadiyah dan Nu, yang memang sering
terjadi di dalam masyarakat. Secara
keseluruhan novel ini benar-benar menarik dan memikat. Baik dari segi
bercerita, penokohan, percakapan, sudut pandang adan alur cerita. Ending
cerita yang dipilih penulis pun saya rasa sangat manusiai dan sangat pasa
dengan segala probelamatika yang dihadapi.
Dan yang paling saya suka dari novel ini adalah
nilai-nilai kehidupan serta nilai-nilai pembalajaran agama yang sangat banyak
ditemukan dalam kisah ini. Kita diingatkan untuk menjadi pribadi yang saling
memaafkan, cinta damai, rukun dan banyak lagi. Berbagai perbedaan paham agama
dijabarkan dengan luar oleh penulis yang membuat wawasan wacana saya bertambah.
Srobyong, 6 Oktober 2018
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Friday, 18 January 2019
[Resensi] Transplantasi Jantung dan Kisah Tentang Kemanusiaan
Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 16 Desember 2018
Judul : The Boy Who Gave His Heart Away
Penulis : Cole Moreton
Penerjemah : Indriani Gratika
Cetakan : Pertama, Maret 2018
Tebal : x + 307 halaman
ISBN : 978-602-947-414-5
Peresensi : Ratnani Latifah. Alumni Universitas
Islam Nahdlatul Ulama, Jepara
Diambil dari kisah nyata, novel ini benar-benar
syarat akan makna. Kasih sayang
orangtua, kesabaran, keikhlasan dan kemanusiaan, merupakan beberapa bagian yang
bisa kita petik melalui kisah ini. Selain itu novel ini merupakan pemenang “New York Festival Wordl’s Best
Radion Award” kategori Penulisan, Medis dan Isu sosial.
Orang tua mana yang tidak sedih, ketika mendapati
kenyataan bahwa putranya tengah berada diambang kematian? Inilah kisah Marc dan
Martin serta Linda dan Sue. Mereka tidak tinggal berada pada muara yang sama.
Tempat tinggal mereka terpisah jarak beberapa ratus mil. Dari Scotlandia hingga
Inggris. Namun ternyata takdir telah mendekatkan mereka dengan salah satu organ
tubuh mereka.
Marc awalnya adalah pemuda berusia 15 tahun yang
sangat sehat dan bugar. Dia sangat mecintai sepak bola, serta salah satu pemain
bintang dalam tim sepakbola di setempat. Namun suatu hari mendadak dia
ditemukan dalam keadaan tidak sehat dan divonis mengalami gagal hati. Tidak
hanya itu organ-organ tubuh yang lain juga mengalami gangguan. Oleh karena itu,
Marc harus dirujuk ke Royal Infirmary of Edinburgh (hal 8). Kenyataan itu tentu
saja membuat Linda limbung.
Dijelaskan bahwa, Jantung Marc tidak sehat dan bengkak,
serta hanya bisa bersenyut lemah hingga darahnya tidak bersirkulasi secara
normal. Organ-organ tubuhnya kekurangan oksigen yang dibutuhkan sehingga
mengalami kondisi gagal organ—hatinya mengering, kedua paru-parunya kondisi
banyak darah. Marc benar-benar kritis (hal 17-18). Dan salah satu cara agar bisa menyelematkan
Marc adalah dengan transaplantasi jantung. Hanya saja kadang sangat sulit
menemukan donor yang cocok.
Di sisi lain, tiga ratus mil ke selatan, Martin yang
juga sama-sama penikmat sepak bola,
terlihat bugar dan menikmati masa
rejamanya dengan wajar. Akan tetapi pada suatu malam dia ditemukan tidak
sadarkan diri, dan membuat ibunya, Sue kalang kabur. Di mana disinyalir Martin mengalami
pendarahan di otaknya, hingga harus
dibawa ke Nottingham, untuk menemui dokter spesialis (hal 35).
Di mana setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter
yang menangani Martin—Harish Vyas menjelaskan, “Hasil dari semua tes yang digabungkan bersamaan
menunjukkan bawa batang otaknya telah berhenti berfungsi secara efektif. Dengan
kata lain, Martin sudah mati otak.” (hal 73). Dalam hukum Amerika jika semua fungsi otak
sudah berhenti, maka seseorang dianggap sudah meninggal. Begitu juga di
Inggris. Lalu keluar korban memiliki dua
pilihan, mendonorkan organ tubuh untuk
menolong orang lain atau tidak.
Hal itu juga yang berlaku bagi Sue. Di saat dia
harus mengalami kesedihan karena harus menerima kematian anaknya yang sangat
mendadak, dia harus berpikir jernih demi kemanusian—dalam artian peduli
dengan pasien lain yang mungkin
membutuhkan donor tubuh dari anaknya.
Dan ternyata Marc adalah satu dari sekian orang yang menunggu donor dari
Martin.
Kisah ini sangat menggetarkan hati. Penulis berhasil
menghidupkan kisah ini hingga seperti
melihat secara nyata bagaimana kehidupan yang dialami Marc dan Linda, serta
Martin dan Sue. Pilihan sudut pandang
yang diambil penulis juga menjadi nilai tambah tersendiri dalam kisah ini. Sudut pandang orang ketiga bergantian
masing-masing tokoh di sini, membuat
kita mengenal masing-masing tokoh lebih dekat.
Dalam novel ini saya dapat merasakan kesedihan,
kebingungan, keputusasaan seorang ibu. di sisi lain saya juga dapat merasakan
kesabaran dan keikhlasan yang harus mereka terima ketika melihat keadaan putra
masing-masing. Ini benar-benar kisah
yang penuh haru. Belum lagi ketika takdir ternyata membuka peluang untuk saling
bertemu dan berkenalan. Ini adalah momen yang sangat jarang terjadi antara pendonor dan penerima donor.
Sedikit kesalahan tulis dalam novel ini tidak
mengurangi keseruan cerita. Membaca kisah ini saya belajar tentang pentingnya
usaha dan doa dalam setiap situasi. Selain itu kita diajak menjadi pribadi yang
selalu ikhlas, sabar dan syukur. Tidak
ketinggalan adalah sikap saling tolong menolong dan peduli pada sesama.
Srobyong, 7 September 2018
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Thursday, 29 November 2018
[Resensi] Mengasuh Anak Tanpa Kekerasan
Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 11 November 2018
Judul : Happy Parenting Without
Spanking or Yelling
Penulis : Novita Tandry
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan : Pertama, 2017
Tebal : 236 halaman
ISBN : 978-602-394-632-7
Peresensi : Ratnani Latifah. Alumna Universitas
Islam Nahdlatul Ulama, Jepara
Sadar atau tidak, sebagai orang tua, kita kadang
merasa berkuasa dengan mengendalikan anak. Apa yang dilakukan anak harus sesuai
dengan keinginan kita. Dan ketika anak melakukan kesalahan, kita tidak segan
untuk berteriak marah atau lebih fatal menggunakan kekerasan. Padahal pola asuh
tersebut merupakan cara yang salah.
Membesarkan anak merupakan tantangan dan tanggung
jawab yang sangat besar. Dalam masa perkembangan anak, mungkin akan ditemukan
ketidakpatuhan, kemarahan, bahkan pada
suatu waktu terjadi pemaksaan keinginan. Buku ini ditulis untuk membantu kita
menyelesaikan masalah tersebut dengan pendekatan paling efektif dan tanpa
melakukan kekerasan (xix).
Di antaranya kita bisa memulainya dengan memahami
disiplin. Sangat disayangkan, saat ini kata disipilin sering dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif dan otoriter.
Padahal jika kita menelaah lebih lanjut, disiplin memiliki arti mengajar, yang
tentunya bersifat positif dan konsturktif. Sebagai orangtua kita harus berani
mengatakan “ya” atau “tidak” kepada anak. Dengan begitu anak akan mengatahui
batasan-batasan perilaku yang boleh dilakukan atau tidak. Namun dengan catatan
dalam menerapkan kedisiplinan orangtua harus melakukannya dengan kasih sayang
dan harus memahami sikap masing-masing
anak. Mengingat setiap anak itu unik dan beda.
Orangtua juga harus paham, anak-anak tidak
dilahirkan dengan kemampuan pengendalian diri dan kemampuan ini tidak akan
berkembang kecuali kita memberikan disiplin yang tegas dan penuh kasih sayang
sejak dini (hal 22).
Kemudian kita juga harus memahami tentang tantrums
dan kemarahan. Mungkin banyak dari kita
merasa senang jika anak kita jarang marah, jarang rewel dan tidak pernah
memperlihatkan tantrum atau ledakan emosi.
Padahal fase ini sangat normal terjadi pada anak. Dan bahkan fase ini
memiliki banyak manfaat bagi anak itu sendiri. Oleh sebab itu, kita harus
waspada jika anak tidak menunjukkan ledakan emosi dan kemarahan. Di sisi lain
kita juga harus mengetahui tentang berbagai faktor dan penyebab kemarahan anak.
Di mana dengan mengetahui pemahaman tentang faktor kemarahan anak, hal
itu akan sangat membantu orangtua
dalam memberikan penanganan yang tepat bagi anak.
Selanjutkan kita juga harus siap untuk menangani
perilaku buruk anak. Sebagaimana kita ketahui setiap anak itu memiliki pribadi
yang berbeda-beda. Anak memiliki cara unik dalam berperilaku atau membuat
masalah. Untuk itulah dibutuhkan disiplin yang berbeda untuk menanginya. Di
antaranya kita harus memahami dulu kepribadian anak. Misalnya dalam menghadapi
anak yang sensitif. Kita tidak perlu meninggikan suara. Jika kita terlalu
ketat, maka anak akan menjadi sangat marah.
Sedangkan bagi anak yang tidak sensitif, maka diperlukan displin yang tegas dan jelas.
Karena kekurangjelasan dan tidak adanya keputusan dari orangtua justri
dianggap bahwa ia bebas perperilaku (hal
72).
Selain beberapa hal yang sudah dijelaskan di atas,
tentu saja masih banyak tips dan trik menarik tentang bagaimana cara mengasuh
anak tanpa kekerasan. Buku ini sangat
pas dibaca bagi semua lapisan masyarakat. Dengan paparan bahasa yang lugas dan
tidak bertele-tele, buku ini akan sangat membantu kita dalam upaya mengenal
cara asuk yang baik.
Melalui buku ini secara keseluruhan, kita sebagai
orangtua diingatkan untuk menjadi pribadi yang
sabar dan tak gegabah. Di sini tidak hanya anak yang diharuskan belajar
namun orangtua juga wajib belajar, agar bisa memahami kebutuhan anak. orangtua
juga wajib memahami dengan baik setiap karakter anak, karena itu akan sangat
membantu dalam memilih metode cara asuh yang pas. Beberapa kekurangan yang ada dalam buku,
tidak menutupi nilai-nilai kemanfaatan yang disampaikan penulis.
Srobyong, 21 September 2018
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Thursday, 6 September 2018
[Resensi] Orang Tua Harus Mendidik Anak dengan Benar
Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 2 September 2018
Judul :
Home Learning : Belajar Seru Tanpa Batas
Penulis :
Natalia Ridwan, Ning Nathan, Yulia Hendra
Penerbit :
Gramedia
Cetakan :
Pertama, 1 Januari 2018
Tebal :
224 halaman
ISBN :
978-602-03-8086-5
Peresensi :
Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara
“Education is the way to move mountains, to build
bridges, to change teh world. Education is the path to the future. I belive
that education is indeed freedom.” (hal 32).
Menjadi orangtua merupakan tantangan besar. Selain memiliki tanggung jawab dalam merawat
anak dari bayi hingga dewasa, kita juga memiliki tanggung jawab dalam
memilihkan konsep pendidikan yang baik pada anak. Namun perlu kita catat dalam masalah pilihan
soal pendidikan, kita tidak boleh
menekan atau memaksakan kehendak pada anak. Kita tetap harus berbicara dari
hati ke hati, agar masing-masing pihak—orangtua dan anak bisa enjoy dan
tidak merasa terpaksa.
Akan tetapi, saat ini upaya memilihkan pendidikan
bagi anak itu gampang-gampang susah. Untuk itulah orangtua kini dituntut lebih
kritis dan kreatif dalam menyikapi berbagai ragam pilihan pendidikan yang ada.
Di antara metode pendidikan yang bisa kita pilih adalah, membiarkan anak memperoleh
pendidikan di luar rumah—dalam artian bisa masuk sekolah nasional sekolah pendidikan kerja sama (SPK),
sekolah internasional, sekolah alam, dan madrasah.
Pilihan lain adalah orangtua bisa memilih home
learning. Yaitu sebuah konsep mendidik anak berbasis rumah atau keluarga—di
mana metode ini memiliki kebebasan dalam berlajar. Anak bisa belajar dengan
bebas, di mana saja, kapan, saja dan dengan siapa saja. Buku ini sendiri
mencoba mengungkap sisi menarik dan fleksibel dalam pilihan metode pendidikan home
learning. Tentu saja hadirnya buku
ini bukan berarti memengaruhi pilihan orangtua dan mengesampingkan tugas guru
dalam sekolah. Akan tetapi buku ini bisa menjadi wacana yang mungkin bisa kita
pertimbangkan tanpa lupa memikirkan tentang bibit, bebet dan bobot serta dampak
yang akan diperoleh anak.
Saat ini disadari atau tidak, kegiatan mengajar sering dilakukan semata-mata untuk
mengejar target kurikulum. Padahal membuat anak senang belajar jauh lebih
penting. Sir Ken Robinson mengatakan, “Tugas
kita adalah mendidik anak-anak agar mereka bisa menghadapi masa depan. Kita
mungkin tidak bisa melihat masa depan, tapi merekalah yang akan menghadapinya
dan tugas kita adalah membantu mereka mewujudkannya.”
Perlu kita pahami tiap anak memiliki kecepatan
belajar yang berbeda-beda. Ada yang cepat tanggap, namun ada juga yang
memerlukan waktu lebih lama untuk mempelajari sesuatu. Ada yang bisa belajar di
mana saja, ada pula yang membutuhkan suasan tenang dalam kesendirian. Dengan
demikian, pendekatan belajar yang tepat bukanlah standardisasi, tetapi
pemelajaran individual (hal 8-9).
Jika anak adalah subyek, yang mereka butuhkan
sebenarnya bukanlah guru super yang menguasai segala-galanya, namun pembimbing
yang bisa menciptakan atmosfer yang merangsang minat dan rasa ingin tahu mereka
dalam belajar, berpikir, mengajukan pertanyaan dan membandingkan berbagai
pandangan. Galileo Galilie pernah
berkata, “Anda tidak bisa mengajari seseorang tentang sesuatu, Anda hanya
bisa membantuknya menemukan diri sendiri.” (hal 30).
Sedangkan home learning sedikit banyak akan membuat anak memiliki
kebebasan dalam belajar. Artinya mereka bisa belajar di mana saja, bisa belajar
dengan cara apa saja, baik lewat keseharian, saat traveling atau dengan
cara-cara yang tidak konvensional. Anak
tidak dituntut untuk mengejar materi sebagaimana yang kerap terjadi dalam
sekolah formal. Yang terpenting adalah kenyamanan anak dalam belajar.
Home learning dianggap sebagai
salah satu metode pendidikan bijak yang
bisa membantu anak untuk menambah pengetahuan juga dalam pembelajaran
pendidikan moral secara langsung. Mahatma
Gandhi berkata, “There is no school equal to a decent home and no teacher
equal to avirtuous parent.” (hal 121). Namun perlu kita catat meskipun home
learning mewarkan berbagai kebebasan,
kita juga harus memahami berbagai persiapan materi bagi anak.
Dilengkapi dengan berbagai kisah menarik dari
pengalaman para orangtua pelaku home learning, di sini kita akan
mendapat gambaran nyata tentang bagaimana cara memilih pendidikan yang terbaik
bagi anak. Buku ini akan sangat membantu orangtua dalam mengarahkan anak
menekuni bidang sesuai minat dan bakat anak. kesimpulan saya, apa pun pilihan
kita dalam menerapkan pendidikan, yang terpenting adalah orangtua tetap menjadi
pendamping yang baik, memberikan pengarahan dan tidak memaksakan kehendak pada
anak. Karena bagaimana pun orangtua adalah madrasah pertama bagi anak.
Srobyong, 29 Juli 2018
Label:
Gramedia Pustaka Utama,
Natalia Ridwan,
Ning Nathan,
Padang Ekspres,
Review buku,
Yulia Hendra
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)














