Showing posts with label Grasindo. Show all posts
Showing posts with label Grasindo. Show all posts

Monday, 1 January 2018

[Review Buku] Sebuah Usaha Melupakan Masa Lalu



Judul               : Sakura di Langit Osaka
Penulis             : Arizu Kazura
Penerbit           : Grasindo
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : 242 halaman
ISBN               : 978-602-452-409-8

“Aku janji, Bu, apa pun yang terjadi di masa lalu, tidak akan pernah terulang lagi dalam hidupku. Karena segala hal yang sudah hilang, sudah sepantasnya aku lupakan. Dan, segala hal yang sudah kulupkaan, tidak akan pernah lagi kuharapkan.” (hal 5).

Cinta dan masa lalu rasanya tidak pernah habis untuk dijadikan tema dalam sebuah novel.  Namun begitu, jangan khawatir meski mengangkat tema yang sudah pasaran, bukan berarti cerita itu tidak menarik apalagi membosankan. Karena sebagaimana kita ketahui, setiap orang itu unik. Setiap individu memiliki cara pandang yang berbeda dalam mengeksekusi ide. Jadi meski tema sama, akan selalu ada perbedaan pada setiap karya.

Begitupula dalam novel ini.  Meski tema yang diangkat bisa dibilang cukup kerap digunakan, dengan  eksekusi yang rapi dan menarik, membuat cerita ini tetap asyik dibaca. Apalagi dengan sentuhan kehidupan Osaka—Jepang, yang menjadi latar novel ini. 

Menceritakan tentang dua tokoh yang sama-sama pernah tersakiti oleh cinta di masa lalu. Naya Wijaya yang ditinggalkan sang kekasih demi menikah dengan gadis pilihan orangtuanya, dan Nishimura Tetsuya yang harus menelan kekecewaan ketika pernikahan sudah di depan mata, namun ditinggalkan begitu saja oleh kekasihnya demi menikah dengan lelaki lain. Masa lalu itu pun kemudian menjadi benteng bagi mereka untuk selalu berhati-hati dalam membahas soal cinta.

Sampai kemudian tanpa sengaja keduanya dipertemukan dalam keadaan yang tidak terduga di bawah langit musim semi di Osaka. Dari tragedi kopi, kesalahan pahaman tentang usaha bunuh diri, hingga di Osaka  Castle. Tapi yang paling membuat Naya terkejut adalah kenyataan bahwa sosok yang sejak kali pertama membuatnya kelas itu adalah tetangga apartemennya juga bos tempa dia bekerja.
“Senang berkenalan denganmu, Naya~San. Selamat bergabung dengan tim kontruksi Alfa Beta cabang Osaka. Kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik ke depannya.” (hal 68).

Jika sejak awal Naya terkesan  sangat tidak suka dengan Tetsuya, maka sebaliknya dengan Tetsuya.   Sejak awal pertemuan mereka, diam-diam Tetsuya telah memiliki ketertarikan terhadap gadis itu. Hanya saja dia berusaha menutupinya dengan bersikap sarkasme.

Namun lambat laun, Tetsuya menyadari dia tidak mau kehilangan kesempatan. Oleh karena itu dia mulai mendekati Naya dengan satu tujuan yang jelas—menikah.  Bahkan demi mencapai tujuannya Tetsuya sudah meminta izin pada keluarga Naya di Indonesia.

“Kalau kamu ingin memenangkan hati seseorang, maka menangkan dulu hati kedua orangtuanya. Seharusnya begitu.” (hal 108).

Semua nampak terlihat sempurna, dan mereka tinggal melangkah pada mimpi menyatukan jiwa, sampai kemudian sosok dari masing-masing masa lalu mereka muncul, memporak-porandakan rencana itu.  Apa yang akan dilakukan Naya dan Tetsuya?  Sanggupkah mereka menghadapi semua masalah itu, atau akhirnya memilih saling melepaskan?

“Bila hanya sakit yang akhirnya kau berikan, harusnya kau tak perlu datang.” (hal 196).

Menarik dan menghibur.  Secara keseluruhan novel ini asyik buat diikuti. Meski tema sudah sering diangkat, namun dengan ekseskusi yang berbeda, jadi ceritanya tetap teras fresh. Apalagi  penulis memakai  gaya bahasa yang renyah dan diceritakan dengan runtut.

Keunggulan lainnya adalah terletak pada setting kisah. Di mana dengan cuku rapi penulis mampu membangun kehidupan Osaka di musim semi yang indah.  Penggambarannya  cukup memikat. Sukses membuat saya seperti berada di Osaka. Dan bisa dibilang novel ini cukup bersih dari salah tulis.

Hanya saja saya agak gimana dengan cukup sering para tokoh yang mengumpat. Hehehe. But, lepas dari masalah itu, novel ini asyik dibaca. Dari novel ini kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yang kuat dan tidak mudah menyerah.  Kita harus percaya, jodoh tidak akan tertukar.  Jadikan masa lalu sebagai pengingat untuk menjadi pribadi lebih baik dan kuat. Jangan malah terjebak di dalamnya, karena hanya akan berakhir sia-sia.


Srobyong, 31 Desember 2017 

Sunday, 31 December 2017

[Review Buku] Teror Mencekam dan Misteri Bilik Korek Api



Judul               : Misteri Bilik Korek Api
Penulis             : Ruwi Meita
Penerbit           : Grasindo
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : 240 halaman
ISBN               : 978-602-452-350-3


“Jangan meratapi apa yang tidak kamu miliki. Kamu memiliki banyak orang yang menyayangimu.” (hal 87).

Kita tidak pernah tahu takdir apa yang telah digariskan Tuhan sejak kita diciptakan. Setiap orang pastinya  memiliki skenario masing-masing. Tinggal bagaimana mereka menyikapinya. Menerima dengan lapang dada atau merutuki nasib hingga menggugat pada Tuhan.  Tentang bagaimana proses kita dilahirkan dan tinggal di mana, semua pasti hikmah yang bisa dijadikan renungan.

Menceritakan tentang Sunday yang sudah sejak bayi, tinggal di panti asuhan. Dia sama sekali tidak mengetahui sejarah hidupnya. Siapa nama orangtua bahkan nama asli dirinya sendiri. Dia hanya tahu bahwa dia berasal dari Ambon.  Meski itu tidak membantu, karena tak ada ingatan apa pun tentang Ambon di kepalanya.  

Namun begitu, dia tetap mensyukuri kehidupannya. Di panti dia memiliki adik-adik manis yang sangat dia sayangi.  Dia juga punya sahabat yang  baik—Nugi dan kepala panti—Bu Marta. Hanya satu orang saja yang membuat Sunday merasa sebal dan marah. Dialah Bu Nasti, yang entah kenapa selalu membenci dan mencari masalah dengan dirinya juga anak-anak panti lainnya.

“Kamu pasti senang sekali hari ini, seperti burung kecil yang terbang untuk pertama kali. Tapi ingat, kamu bisa jatuh. Selamat tinggal di tempat baru. Namun, itu tidak membuat statusmu berubah. Kamu tetap yatim piatu.” (hal 2-4).

Beruntung Sunday harus pindah, sehingga dia tidak perlu lagi berurusan dengan Bu Nasti yang menyebalkan itu. Di tempat baru, Sunday mengenal Emola, yang ternyata beradal dari daerah yang sama. Hal itu awalnya cukup membuat Sunday semangat. Mungkin dia bisa mencari tahu masa lalu hidupnya lewat Emola. Tapi semangat itu luntur ketika dia menyadari bahwa Emola tidak sama seperti dirinya. Teman barunya itu sangat aneh.

Bagaimana tidak aneh, Emola tidak pernah mau berkomunikasi dengan teman-temannya.  Dia selalu menyendiri. Satu kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan Emola adalah selalu memegang bandul kalung yang dibungkus kain putih miliknya. Dan kerap kali dia bergumam akan sebuah lagu khas Ambon yang tidak begitu Sunday pahami.

Satu buji ketumbar, dua biji gardamu
Siapa yang pegang batu, dia jadi semut
Cabu ruku rukuku
Cabu ruku rukuku (hal 67)

Konon kata Bu Marta, Emola memiliki trauma pasca kepergian orangtua dan neneknya. Tapi meski Sunday tidak terlalu suka dan nyaman dengan Emola, nyatanya dia harus terima kalau mereka akan tinggal sekamar, bersama teman-teman panti lainnya—ada Linda, Cika, Kiki,  dan Berli.  Di tempat baru, meski kadang tidak nyaman, mereka tetap menjalani aktivitas masing-masing.

Sampai sebuah kejadian membuat kehangatan itu perlahan lenyap. Di mana suatu hari, Sunday dan kawan-kawan kecilnya menemukan sebuah kamar yang penuh dengan korek api. Dan sejak itu kehidupan mereka berubah. Satu persatu teman kecil Sunday mengalami kecelakaan yang aneh. Di mana Sunday meyakini kalau Emola memiliki kaitan yang erat dengan rentetan kejadian itu. Oleh karena itu, Sunday mulai menyelidiki jati diri Emola yang sebenarnya.

Menegangkan, menarik dan bikin penasaran. Itulah yang menggambarkan keseluruhan kisah ini. Pemilihan pov Sunday dan pov dari Emola sebagai narator, membuat kita bisa membaca bagaimana cara pandang masing-masing tokoh ini.  Kita jadi tahu rentetan kejadian yang kerap membuat Sunday kadang sedih dan merasa dirinya tidak berguna, serta mengetahui apa yang dipikirkan Emola, terkait dengan berbagai kejadian yang menimpanya.  Dan dari sisi Emola pula kengerian dan sisi horor terasa sangat kental. Novel ini, sukses bikin merinding dari awal hingga akhir.  

Belum lagi layout buku dalam pergantian pov yang semakin mendukung keseraman dari isi buku ini.  Pun dengan tingkah Emola yang sangat absurd dan aneh. Bagaimana dia memanggil teman-temannya dan hal-hal yang dia lihat namun tak mungkin ditangkap oleh panca indra biasa.
“Busu melihatnya. Ganjaran ketiga akan segera tiba.” (hal 165).

Hanya saja ada bagian di mana yang tidak diekslpore sampai tuntas. Misalnya tentang keluarga Sunday, alasan kenapa dia diberi nama yang artinya busuk—itulah yang dia tahu dari Emola, ketika sempat bertanya.  Serta alasan Bu Nasti yang entah kenapa begitu benci dengan anak-anak panti. Namun mungkin ada  pertimbangan sendiri dari penulis perihal masalah ini.

Tapi lepas dari itu, novel ini sangat asyik buat dinikmati. Saya selalu suka dengan cerita-cerita horor Mbak Ruwi yang menarik dan bikin penasaran.  Dari buku ini kita diingatkan untuk selalu mensyukuri apa yang kita miliki.

“Kalau kamu nggak punya orangtua, lalu kenapa? Toh, dunia ini masih menyedihkan sekaligus menyenangkan seperti dulu. Sunday, setiap hari bahkan setiap detik orang-orang berhenti untuk menyayangi karena beban atau bahkan tanpa sebab. Namun, kamu harus percata bahwa tiap detik banyak orang-orang yang bersyukur karena memiliki orang-orang yang mereka sayangi dan menyayangi mereka. Jadi, jangan meratapi apa yang tidak kamu miliki. Kamu memiliki banyak orang yang menyayangimu.” (hal 86-87).

Dan dari sisi religi kita diingatkan untuk selalu berbaik sangka kepada Tuhan. “Saat permintaanmu tidak dikabulkan Tuhan, bukan berarti Dia tidak mendengarmu. Aku yakin ada hal yang lebih baik yang sedang dipesiapkan-Nya untukmu. Sesuatu yang bahkan lebih indah daripada apa yang kamu inginkan.” (hal 140).

Selain itu dari novel ini kita juga belajar tentang indahnya kasih sayang dan saling percaya. Jangan suka berprasangka buruk dan menilai orang lain tanpa memiliki bukti kuat.

Srobyong, 31 Desember 2017


Sunday, 30 July 2017

[Review Buku] Cara Sandi dalam Mengekspresikan Cinta



Judul               : Sandi’s Style
Penulis             : Sirhayani
Penerbit           : Grasindo
Cetakana         : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 264 halaman
ISBN               :978-602-375-919-4


Blurb
“Lo tahu percepatana gravitasi bumi berapa? Sembilan koma delapan meter per sekon kuadrat. Dan gue butuh lebih dari angka itu di diri gue, supaya elo lebih tertarik ke gue.”

Namanya Sandi. Siswa SMA yang suka membuat kerusukan bersama enam teman akrabnya di sekolah. Dia benci mata pelajaran Biologi dan dia merupakan salah satu siswa yang mengikuti olimpiade Fisika. Arti namanya kode, tetapi kata orang dia tidak suka memberi kode.

Sandi terkenal konyol. Terkadang ia suka mengombali Safa—siswi olimpiade Biologi—dengan memakai istilah-istilah yang berbau sains. Tidak ada tujuan khusus Sandi melakukan itu selain karena dia iseng. Tetapi keisengan itu ternyata berubah menjadi keseriusan, sejak Sandi mulai jatuh hati pada Safa

~*~

Mengambil latar sekolah dengan tema khasa remaja SMA pada umumnya, novel ini terasa dekat dengan keseharian kita.  Karena bisa jadi tokoh-tokoh yang berada dalam kisah ini memang benar-benar ada dalam kisah nyata. Misalnya saja siswa yang suka bikin onar, konyol, siswa yang suka tawuran, siswa yang pintar dan banyak lagi.

Novel ini dengan menilik dari kacamata dunia SMA mengisahkan tentang kisah persahabat dan juga cinta dari sosok Sandi—siswa SMA yang bisa dibilang unik. Karena meski dia konyol dan suka semaunya sendiri, sejatinya dia adalah siswa yang cukup berprestasi—bahkan ikut olimpiade Fisika.

Akibat kekonyolan yang dilakukan Sandi, yang pada akhirnya  hal itulah yang membuat Sandi mengenal Safa. Saat itu kelas Sandi sedang kosong, jadi mereka mengisi waktu kosong dengan bermain. Salah satunya adalah menerima tantangan teman Sandi untuk bermain peswat kertas. Sandi yang terkenal usil kemudian membuat sebuah taruhan. Jika nanti saat dia melempar pesawat kertas itu dan mengenai murid cowok, maka akan dia jadikan sahabat. Namun jika yang terkena lemparan pesawat itu murid  cewek, maka dia akan menjadikannya pacar (hal 12).

Maka sejak saat itu, Sandi mulai melancarkan aski gombal yang unik agar menarik hati Safa yang pendiam. Padahal bagi Safa sejak awal diaa berharap tidak terlibat masalah dengan Sandi. Karena Safa hanya ingin menikmati masa SMA-nya dengan damai dan tenang. Sayangnya harapan Safa tidak terkabul. Pada kenyataanya Sandi kini sudah mercuni hidupnya.

“Lo tahu nggak, kenapa natrium punya ion positif dan klorin punya ion negatif? Karena NaCl sudah ditakdirkan untuk bersama. NaCl adalah dua unsur yang bersatu membentuk senyawa baru. Ibarat manusia kalau lp ngelihat perempuan dan laki-laki yag bersanding di pelaminan, mereka adalah sepasang manusia yang sudah ditakdirkan untuk bersama.”  (hal 43).

“Lo tahu, nggak? Kenapa natrium mempunyai satu elektron valensi sedangkan klorin mempunya tujuh elektron valensi? Karena delapan adalah kelengkapan bagi mereka. Ibarat pasangan. Perbedaam dalam sebuah hubungan itu wajar, karena gue tahunya rata-rata pasangan punya kekurangan dan kelebihan yang saling melengkapi.” (hal 44).

“Gue mau bilang, kalau gue suka sama lo. Gue juga mau bilang, kalau gue bakalan ngebuat lo suka sama gue. Itu aja, kok.” ( hal 51).

Itu adalah beberapa gombalan Sandi yang bisa dibilang lucu tapi berkelas.  Di mana gombalan yang dia berikan berisi petikan ilmu yang bisa diambil pelajaran. Dan selain itu masih banyak lagi gombalan Sandi yang tidaka kalah bikin mengocok perut.

Safa sendiri awalnya risih dan taakut, namun sebagaimana batu jika terus dihujani pasti akan luluh. Begitu pula Safa yang akhirnya sedikit memiliki simpati dan nyaman dengan Sandi. Karena Sandi itu ternyata siswa yang unik. Hanya saja, saat kedekatan mereka sudah terjadi, Gilang musuh bebuyutan Sandi muncul dengan membawa masa lalu mereka. Selain itu ada Mira—orang dari masa lalu Sandi yang semakin membuat masalah runyam.

Membaca novel ini serasa masuk kembali pada masa-masa SMA.  Kisah dipaparkan dengan gaya bahasa yang menarik dan memikat, membuat kita selalu penasaran dengan cerita itu sendiri. Bagaimana nasib cinta Sandi dan Safa, lalu apa yang terjadi dengan Mira dan Gilang ... juga bagaimana keputusan Kakak Safa yang mengjutkan.

Penulis menghidupkan tokoh utama dengan baik. Jadi kisah mereka kerasa banget. Dan keunggulan lain dari novel ini adalah kelihaian penulis dalam membumbui sense humor yang pas dan apik. Asli membaca novel ini sukses membuat saya tersenyum lucu hingga ngakak. Yah, saya  menikmati novel ini dan terhibur.

Hanya saja untuk perpindahan plot cerita  kurang halus, masih terasa kaku dan terkesan loncat-loncat. Dan cukup banyak typo yang saya temukan saat membaca novel ini.

“Iya, Pak guru, iya. Pelan-pelan dong nariknya.” —ini tanda petiknya harusnya di bawah.
Jawab!”  (hal 8).

Jualannnya—harusnya jualannya, n-nya lebih satu (hal 29).

Ke rumahn—haruanya ke rumahnya (kurang ya) hal 92).

Aku biasanya bikin gue—mungkin maksudnya kue (hal 185).

sSalah satunya—harusnya Salah satunya—kelebihan s (hal 250).

Selain itu beberapa masalah tidak dieksplore secara tuntas. Seperti tentang Safa dan Sandi yang merupakan siswa olimpiadi, namun tidak ada gambaran mereka mengikuti olimpiade pada salah satu scene kisah ini. Padahal jika ada sedikit digambarkan, pasti akan lebih menarik. 

Tapi lepas dari kekurangannya novel ini tetap asyik diikuti. Menyenangkan dan sangat menghibur. Catatan satu lagi membaca novel ini jadi teringat sosok Dilan yang juga usil dan kocak. Juga memiliki cara tersendiri dalam mengungkapkan cinta.  Membaca novel ini mengingatkan kita untuk selalu menjadi diri sendiri.


Srobyong, 30 Juli 2017 

Tuesday, 28 February 2017

[Resensi] Fokus pada Pekerjaan Jadi Kunci Sukses

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 12 Februari 2017 

Judul               : 77 Mantra Meningkatkan Produktivitas Diri Ala  Miliarder
Penulis             :  Erlita Pratiwi
Penebit             : Grasindo
Cetakan           : Pertama, Juni 2016
Halaman          : viii + 311 hlm
ISBN               : 978-602-37552-3-3
Persensi           :  Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Meningkatkan produktivitas berarti kita bisa semakin efisien dalam bekerja.  Produktivitas sendiri bisa diartikan sebagai suatu ukuran yang menyatakan, bagaimana seseorang bisa memanfaatkan waktu untuk  mencapai hasil kerja secara optimal. Mampu mengatur waktu yang efektif dan efisien. Sehingga setiap pekerjaan bisa selesai sesuai target, tanpa membuang waktu secara percuma.

Dalam buku ini penulis berbagi cara bagaimana agar kita bisa menjadi pribadi yang selalu produktif. Setidaknya ada 77 cara atau mantra yang bisa dipelajari dan dipraktikkan. Sebuah buku yang sangat inspiratif dan memotivasi.

Hal pertama yang perlu diperhatikan ketika ingin menjadi seorang yang produktif adala selalu selalu fokus.  Sebagaimana yang dipaparkan Andrew Carnegie, salah satu miliarder di Amerika. Dia percaya bahwa kesuksesan dapat dicapai ketika setiap orang memusatkan semua pikiran dan energi mereka pada tugasnya. Fokuslah pada satu hal dan selesaikanlah dengan baik (hal 1).

Selain itu, jangan menghadapi pekerjaan dengan tekanan. Tapi pekerjaan itu harus dinikmati. Bersenang-senang dengan pekerjaan akan memberi dampak baik. Karena hati yang senang akan mempengaruhi produktivitas dan membuat semangat (hal 27). 

Cara ketiga adalah selalu berpikir terbuka.  Orang yang berpikir terbuka cenderung lebih maju dan produktif dalam bekerja. Mereka tidak membatasi diri terhadap satu pemahaman tertentu.  Cara berpikir inilah yang harus ditiru. Jangan hanya melihat apa yang ada di masa sekarang. Berpikirlah jauh ke masa depan (hal 55).

Selanjutnya hindari multitasting. Kurang lebihnya inilah pendapat Steve Jobs—pemilik Apple  dan banyak miliarder lainnya.  Menurut mereka , multitasting justru membunuh produktivitas terbesar.  Karena saat kita mencoba melakukan banyak hal secara bersamaan, kita tidak dapat memberikan perhatian yang dibutuhkan pada semua hal dan itu akan berefek pada kualitas kerja (hal 120). Bahkan dari sejumlah penelitian menyimpukan kegiatan  multitasting justru mengurangi produktivitas.

Kesimpulan dalam buku ini adalah, untuk bisa menjadi pribadi yang selalu produktif dalah dengan memiliki niat kuat, disiplin dan tanggungjawab. Tidak lupa selalu belajar, menyerap bergagai ilmu dan tidak mudah putus asa. 

Selain beberapa cara yang telah dipaparkan, tentu saja masih banyak cara-cara lain yang bisa ditiru agar bisa meningkatkan produktivitas.  Buku ini dipaparkan dengan gaya bahasa yang memikat dan mudah dipahami. Selain itu dalam setiap cara, penulis juga memberikan kisah inspiratif bagaimana para miliarder meningkatkan produkfitvitas.

Srobyong, 2 Januari 2017 

Thursday, 3 November 2016

[Resensi] Belajar Bangkit dari Kegagalan para Triliuner Dunia

Dimuat di Koran Jakarta, Selasa 1 November 2016

Judul               : Perbedaan Cara Bangkit dari Kegagalan Miliarder Vs Orang Biasa
Penulis             : Monica Anggen & Erlita Pratiwi
Penerbit           : Grasindo
Cetakan           : Pertama, April 2016
Halaman          : 316 hlm
ISBN               : 978-602-37-5419-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Setiap  orang pernah gagal. Hidup seperti roda berputar. Ada masanya jaya. Ada pula surut. Buku ini mengungkap, kiat para miliarder bangkit  lagi setelah jatuh. JK Rowling, sebelum sukses pernah gagal. Buku pertamanya, Harry Potter, 12 kali ditolak penerbit. Namun dia tidak menyerah.  JK Rowling gigih memperjuangkan karyanya. Dia terus menawarkan naskahnya sampai akhirnya terbit dan menjadi buku paling laris sepanjang masa.
Dia pernah berkata, “Tidak mungkin hidup, tanpa gagal, kecuali kita sangat berhati-hati dalam menjalani hidup sehingga bisa diartikan belum memiliki kehidupan sama sekali. Dalam hal ini, kita sudah gagal,”  (hal 2).  Jadi, kegagalan bukanlah akhir segalanya. Kalau ingin sukses,  harus gigih dan berani memperjuangkan nasib.  Tanamkan pola pikir positif. Selama memiliki semangat untuk mencoba lagi dan tetap gigih, kesempatan mencapai kesuksesan selalu ada (hal 7).
Kisah inspiratif lain bisa diambil  dari Elton John, penyanyi dan pencipta lagu asal Inggris. Dia peraih Grammy Award.  John pernah gagal karena kesalahan sendiri. Dia tidak menyerah.  Dia sadar boros telah mendorongnya ke jurang kemiskinan. John pun  segera menyadari kesalahannya, memperbaiki dan bangkit dari kegagalan. Akhirnya pada November 2002, dia bisa bangkit dengan meluncurkan album greatest-hits yang laris manis (hal 33).

Ada juga kisah Bill Bartman, pengusaha, pendiri dan mantan CEO perusahaan jasa penagih utang bernama Commercial Financial Service (CFS). Dia juga penulis buku. CFS ditutup dan dinyatakan bangkrut.  Saat itu  dia dituduh curang dalam meningkatkan perusahaan dengan memanipulasi laporan keuangan,  bersama rekan bisnisnya, Jay Jones.
Setelah diselidiki, ternyata hanya Jones yang melakukan tindak kejahatan itu.  Bill dinyatakan tidak bersalah.  Meski sudah bangkrut, dia tidak mau berhenti begitu saja. Dia tahu kegagalan merupakan peringatan, agar lebih berhati-hati dalam melangkah. Kegagalan merupakan pendorong agar mencari cara lain yang lebih baik agar mendorong kesuksesan (hal 36).  Benar saja pada  tahun 2005, ketika menuliskan pengalaman hidupnya berjudul Billionaire Secret to Success, buku itu menjadi bestseller. Begitu pun dengan buku lainnya Bailout Richess yang ditulis tahun 2009 paling laris di Amazon.

Tidak kalah inspiratifnya kisah Donald Trump menghadapi kegagalan. Pengusaha real estate sukses dengan kekayaaan mencapai satu miliar dolar Amerika ini harga saham propertinya jatuh pada akhir 1990. Dia menanggung utang 900 juta dolar. Belum lagi dia harus membayar tuntutan ganti rugi dari perceraian dengan mantan istrinya (hal 178).

Tapi Trump yang memiliki pola pikir positif dalam menghadapi segala masalah yang membelitnya. Dia percaya kegagalan merupakan kesempatan mengubah hidup secara keseluruhan. Dia bisa kembali bangkit dan sukses sampai sekarang.
Masih banyak lagi kisah inspiratif para miliarder lain yang bisa diambil pembelajaran. Sebut saja Mc Hammer, Kelcy Warren, Bill Gates,  Jan Koum, dan Mark Zuckerberg.  Buku mengajarkan, kegagalan adalah kesempatan untuk memulai kembali dengan lebih pintar (hal 223).
Srobyong, 30 Oktober 2016 


Friday, 12 August 2016

[Resensi] Cara Mengelola Waktu Para Miliarder


Judul               : 99 Perbedaan Cara Mengelola Waktu  Miliarader Vs Orang Biasa
Penulis             : Monica Anggen & Erlita Pratiwi
Editor              : Mira S

Penerbit           :  PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)

Cetakan           : Pertama, November 2015

Halaman          : vi + 306 halaman

ISBN               : 978-602-3752-62-1

Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan penyuka literasi, alumni Unisnu Jepara


 “Kunci kesuksesan terletak bukan pada bagaimana kita menghabiskan waktu, namun bagaimana kita menginvestasikan waktu yang kita miliki secara tepat.” (hal. 15)

Menjadi seorang yang sukses—milarder  itu bukan hal yang mudah. Tapi harus ada kemuan dan usaha keras untuk mewujudkannya. Salah satunya  dengan management waktu yang baik. Banyak anggapan dari orang-orang yang belum tahu bahwa miliarder itu hanya bisa hidup santai dan bermewah-mewahan. Padahal  anggapan itu keliru. Dari buku ini akan  diungkap bagaimana para milarder mengelola waktu yang baik.

Selalu Bangun Lebih Pagi.  Dengan bangun lebih pagi, para miliarder  memiliki waktu yang lebih banyak.  Bisa memulai hari lebih awal daripada orang biasa, bisa berolahraga, menyusun daftar pekerjaan yang harus selesai dan sebagainya. (hal. 3)  

Melipatgandakan Waktu. Artinya  tidak pernah menyia-nyiakan atau menghemat waktu. (hal. 15) Ketika orang biasa terpaksa menghemat waktu kerja demi bisa mengerjakan hal lain, para miliarder melipatgandakan waktu dengan mempekerjakan orang yang bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ingin mereka lalukan. Mereka tidak takut tersaingai atau berbagi peluang usaha berbanding terbalik dengan orang biasa.

Memilih Menghabiskan Waktu dengan membaca. Ini adalah salah satu kebiasan milarder yang bisa diteladani. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu hanya dengan bersantai saja. Santai sambil belajar—itulah membaca. Karena dari membaca bisa menyerap banyak informasi. Membaca akan menuntun untuk memperluas pengetahuan, dalam banyak bidang. Hal ini seperti yang dilakukan Mark Zuckerberg—pemilik dan pendiri Facebook ini, mengampanyekan gerakan membaca.  (hal. 22)  Ini adalah cara terbaik dalam memanfaatkan waktu luang.

Memiliki disiplin yang tinggi.  Mereka beranggapan bahwa waktu itu sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan. “Time is money” begitulah semboyan mereka. Jadi mereka selalu bertanggungjawab penuh atas waktu yang dimiliki.  Shoppenhour berkata, “Orang biasa tidak terlalu memedulikan waktu yang mereka miliki, sementara orang bijak tahu bahwa waktu harus digunakan dengan sebaik-baiknya.” (hal. 29) 

Membiarkan Hasil yang Berbicara.  Para miliarder tidak perlu berbicara banyak kepada orang lain betapa pekerjaan yang harus mereka kerjakan dalam sehari melebihi pekerjaan yang bisa dilakukan oleh orang biasa. Daripada banyak bicara, mereka lebih senang menunjukkan hasil pekerjaan mereka secara langsung. (hal. 67)

Selalu Tepat Waktu.  Dalam kamus para miliarder, mereka selalu berusaha datang tepat waktu. Disiplin yang tinggi terhadap waktu, membuat para miliarder mampu menyelesaikan banyak pekerjan dalam satu hari hingga mereka masih memiliki waktu untuk kesibukan lainnya. (hal. 146)

Membuat Rencana Sekaligus Mewujudkannya. Para miliarder selalu bergerak cepat. Mereka tidak hanya membuat banyak rencana tanpa mengaplikasikannya. Namun dalam sekali waktu mereka membuat rencana juga mewujudkannya. Napoleon Hill berpendapat, “Jangan menunggu karena tak akan pernah ada waktu yang tepat. Mulailah dari sekarang dan berusahalah dengan segala yang ada. Seiring waktu, akan ada banyak cara yang lebih baik asalkan mau tetep berusaha.”  (hal. 204)


Selain tujuh cara mengelola waktu yang sudah dipaparkan masih sembilan puluh dua lagi, cara mengelola waktu yang baik. Serta dilengkapi quote-quote inspiratif dan kisah-kisah dari para miliarder itu sendiri.  Buku ini dipaparkan dengan bahasa yang mudah dipahami. Membuka cara pandang  tentang pentingnya mengatur waktu. Hanya saja sekilas buku ini terlalu memandang sebelah pada orang biasa. Tapi lepas dari kekuranganan itu buku ini patut untuk dibaca. Apa lagi banyak kutipan-kutipan yang memotivasi untuk menghargai waktu. Dari beberapa quote, saya sangat suka quote ini, “Anda tidak membuang-buang waktu jika Anda menghabiskan waktu Anda dengan bijak.” (hal. 149) 

Dimuat di Koran Pantura, Rabu 10 Agustus 2016 


Friday, 29 April 2016

[Review] Tentang Pertemuan dan Pelajaran Hidup


Judul               : 17:17
Penulis             : Sheva
Editor              : Septi Ws
Ilustrasi Isi      : Cynthia
Penerbit           : Grasindo
Cetakan           : pertama, Maret 2016
Halaman          : vi + 184
ISBN               : 978-602-375-377-2

“Ini benar-benar menjadi hari yang melelahkan. Namun,  sulit untuk tidak memikirkan tentang pertemuan hari ini.” (hal. 176)

Hari esok memang tidak bisa ditebak. Dengan siapa kita bertemu dan kejutan apa yang menanti. Apakah itu kabar gembira atau malah kabar buruk.  Tapi siapa sangka dari pertemuan itu malah bisa memahami tentang perjalanan hidup.

Novel ini menceritakan tentang dua orang asing yang semula tidak pernah saling kenal yang kemudian bertemu pada waktu dan cuaca yang tidak tepat. Raka dan Sara sebenarnya hari itu, mereka tengah mengikuti tes wawancara sebagai business development executive.

Dari rumah Raka sebenarnya sudah tidak terlalu tertarik dengan wawancara itu.  Dia gugup dan sediki merasa mual. Hanya saja dia berusaha berpikir positif mungkin ini adalah kesempatannya bisa mendapat pekerjaan setelah empat bulan menganggur.

Sama halnya dengan Sara. Dia bertanya pada ibunya bagaimana jika nanti dia gagal. Namun sang ibu dengan bijak memberikan kekuatan positif pada anaknya. “Ya, bangkit lagi, dong. Jangan cepat putus asa, ibarat makanan belum matang, apinya keburu dimatikan hanya karena takut pancai panas.” 
(hal. 7)
Rasa  pesimis Sara semakin terasa ketika sampai di tempat wawancara. Di mana para peserta tenyata bukan hanya dirinya dan lagi dia harus melakukan tes psikotes. Hal yang sangat tidak sukainya, dan menurutnya psikotes hanya tipuan luar biasa yang membuatnya gagal berulang-ulang dalam wawancara pekerjaan. (hal. 15) Itulah alasan yang kemudian membuat Sara lebih memilih meninggalkan wawancara begitu saja ketika tahu ada psikotes. Dia memilih  makan di McDonald’s yang kemudian terjebak hujan deras.

Saat itulah Raka datang dengan tubuh yang sudak basah kuyup karena menerjang hujan. Dan entah kenapa dari sekian banyak ruang kosong, Raka memilih duduk di meja di samping Sara dan menyapa.  (hal. 25)

Sara tidak ada pilihan hujan, membuatnya terjebak di sana. Meski dia menyimpan banyak kecurigaan, dia tetap memilih di dalam.  Lagipula di sana adalah tempat paling aman untuk berteduh. Kalau pun dia memutuskan pulang, juga masih sulit.

Dua orang yang tidak saling kenal, terjebak pada satu tempat. Namun siapa sangka, pertemua itu membuat mereka mendapat pelajaran hidup yang cukup bermakna. Dari obrolan ringan, canda tawa bahkan pertengkaran. Lalu mendengarkan musik juga memutuskan menuju stasiun bersama.

Uniknya mereka memutuskan kepergian itu tepat pukul 17:17, waktu yang terasa ganjil. Hanya saja waktu itu kemudian memiliki kejutan yang tidak terduga. Menimbulkan sebuah pertanyaan besar apakah bisa mereka bisa kembali dipertemukan di waktu yang sama?

Sebuah novel yang cukup unik dengan gaya bahasa yang dipakai. Sempat mengernyitkan dahi, tapi perlahan gaya bahasa yang dipilih membuatku benar-benar tertarik untuk menyelesaikan kisah ini—penasaran sekali dengan apa yang akan terjadi selanjutnya natara Raka dan Sara. Banyak kejutan yang sungguh membuaku berdecak kagum. Bagaimana penulis bisa menceritakan kisah ini dengan sangat runtut.

Bermula dari pertemuan tak terduga hingga mereka harus berpisah dengan perasaan yang sama-sama tidak menentu. Hari yang sebelumnya dirasakan ingin cepat diakhir, malah membuat mereka ingin memperpanjang lagi waktu agar bisa saling bercakap. Padahal mereka sudah diingatkan alarm untuk pulang.

Memakai gaya alur maju mundur membuat kisah ini semakin membuatku terjebak pada labirin, karena harus menebak-nebak apa yang dulu telah terjadi? Ada juga ilustrasi Raka dan Sara yang semakin membuat novel ini unik. Hanya saja masih ada beberapa typo dan kesalahan tanda baca di sana. Juga ada ketidakkonsiten dalam penggunan pov pada bagian Sara. (hal. 123)

Tapi lepas dari itu, novel ini sungguh menarik untuk dibaca. Bagaimana seseorang memadang kehidupan dan mengatasi berbagai permasalahan yang harus dihadapi. Percakapan yang terjadi antara Raka dan Sara, meski sederhana sungguh sangat sarat makna dan saling mengingatkan mereka tentang kehidupan.

Beberapa quote yang menyentil  adalah

~Kesulitan itulah yang membuat diri kita semakin dewasa setiap harinya. (hal. 75)

~Sejelek-jelek perkataan, gue lebih memilih kata-kata yang jujur. (hal. 91)

~Dapat pekerjaan itu memang masalah kesempatan. (hal. 111)

~Fiksi adalah salah satu bentuk kenikmatan untuk menenangkan diri. (hal. 119)

~Hidup orang juga sama kompleksnya dengan hidup kita. Punya kesalahan dan punya hal-hal yang mengejutkan. (hal. 125)

Secara keseluruhan novel ini mengajarkan agar kita menjalani hidup dengan baik. Jangan mudah berputus asa. Ambil sisi positifnya saja. Bahwa dalam setiap kehidupan itu selalu ada sisi baik dan buruk.  Dan kadang kehidupan yang kita rasa rumit itu bisa menjadi lebih mudah jika kita bisa berpikir secara sederhana. Hanya saja kita kadang mengabaikannya.

Srobyong,  29 April 2016