Showing posts with label Tanjungpinang Pos. Show all posts
Showing posts with label Tanjungpinang Pos. Show all posts

Saturday, 10 September 2016

[Cerpen] Lidah Bertuah

*Kazuhana El Ratna Mida

 Sepertinya kamu termakan rasa cemburu berlebih, hingga menggerogoti hati. Kamu tak suka. Kamu marah dan tidak terima. Kenapa bukan kamu yang meraih kesuksesan? Kenapa harus kamu yang menelan kegetiran bahkan pengkhianatan?  Yah, sepertinya memang begitu. Hatimu sudah dijajah iri hingga lubang putih tak bisa dijamah lagi. Berubah hitam—semakin pekat. Begitulah.  Jika tidak kamu tak mungkin melakukan hal gila yang membuat semua menjadi kacau balau. Pertikaian hingga kerusakan.    Membuatmu menjadi pribadi   gila tak lagi bisa terkendali.

Kebencian yang bersarang di hati, menuntun langkahmu ke gunung Siguntang. Satu tahun lamanya, kamu bertapa—meminta kekuatan pada penunggu gunung—Dewa Mahameru. Kamu percaya dengan pergi ke sana kamu bisa dapat kekuatan dan mengalahkan rifalmu—Aryo. Lelaki yang paling kamu benci di jagad raya. Lelaki yang merebut harta juga istri yang kamu cinta—Martini.
~*~


Friday, 29 July 2016

[Cerpen] Menjual Kenangan

Dimuat di Tanjungpinang Pos, Minggu 24 Juli 2016 


Kazuhana El Ratna Mida

Entah kali keberapa aku beradu mulut dengan ibu. Tunggu jangan berpikir aku beradu mulut karena aku tidak sayang pada ibu. Aku bukan kacang yang lupa dengan kulitnya. Bukan! Malah sebaliknya aku sangat menyayangi perempuan yang berbagi nyawa denganku. Aku ingin ibu tinggal bersamaku. Hidup dengan damai tanpa perlu kerja keras. Aku hanya ingin ibu bahagia.  Itu saja. Makanya aku sangat berharap ibu mau memahami keinginanku. Aku tak ingin ibu tinggal sendirian setelah aku menikah dan bapak juga telah berpulang.

“Ayolah, Bu. Kali ini saja.” kugenggam tangannya sambil bersimpuh. Tapi sampai detik ini, ibu tetap  pada pendiriannya. Tidak. Ibu menggeleng kuat.

“Ibu tidak bisa meninggalkan rumah ini, Ris. Ini adalah nyawa ibu juga.” Begitulah alasan yang selalu dikemukakan ibu.

“Tapi, Bu,  bapak sudah meninggal. Aku ingin ibu hidup lebih baik.”

“Kamu tahu, Ris. Tinggal di rumah sendiri adalah pilihan yang terbaik. Ibu tidak apa-apa. Ibu suka.” Ibu menatapku dengan lembut. Senyumnya ranum membuatku ingin menangis.

“Tapi bagaimana dengan warga—,” aku menarik napas, “mereka pasti menganggap aku anak tidak berbakti yang tega meninggalkan ibunya sendiri di rumah ini. Padahal aku sudah memiliki rumah lain yang cukup besar yang bisa menampung kita semua.”

“Sudah tidak usah memikirkan pendapat orang lain.”

Aku menggigit bibir. Lagi-lagi aku gagal membujuk ibu.

~*~


Wednesday, 15 June 2016

[Cerpen] Macan Putih di Depan Rumah

Dimuat di Tanjungpinang Pos, Minggu 12 Juni 2016

Kazuhana El Ratna Mida


            Entah bermula dari mana cerita itu. Saat ini warga di desa Kantil  tengah sibuk membicarakan tentang munculnya macan putih. Katanya ada beberapa warga yang pernah melihatnya. Macan itu duduk perkasa di atas lincak. Matanya nyalang memandang dengan tajam. Tentu saja warga yang melihat lari tunggang-langgang. Mereka ketakutan. Bukan tidak berarti macan itu malah akan menerkam jika mereka mendekat? Mereka masih waras untuk tidak cari perkara dengan mencoba mencari tahu makhluk apa sebenarnya macan itu? Karena kedatangannya itu hanya ketika malam mulai larut. Bukankah itu mencurigakan?

Kasak-kasuk itu dari hari ke hari pun semakin santer terdengar. Warga mengatakan bahwa macan putih sering muncul tidak terduga. Namun yang paling sering ketika malam Jumat Kliwon. Begitulah gosip yang beredar. Kemunculannya itu sering membuat  warga kaget dan ketakutan. 

Kata warga lagi, macan itu hanya muncul di depan rumahku. Aku sungguh terperangah. Jadi itukah alasan beberapa warga yang beronda mulai takut ketika  menyambangi rumahku?

~*~


Friday, 1 April 2016

[Cerpen] Marni

[Dimuat di Tanjungpinang Pos. Edisi; Minggu, 27 Maret 2016]



            Dulu Surti mengira kalau gosip yang beredar itu hanyalah bualan orang-orang yang benci dengan Marni atau malah iri. Mengingat sejak Marni datang ke kota tempat tinggalnya, perempuan itu langsung sukses dalam prestasi kerjanya.  Mengatakan bahwa Marni memiliki hobi memakan daging temannya sendiri.

Tapi, siang itu Surti melihatnya secara langsung. Marni, perempuan cantik  itu,  ternyata memang memiliki hobi memakan bangkai temannya sendiri. Mulutnya tak pernah berhenti memamah dengan senyum mengembang tanpa rasa bersalah. Selama ini, Surti memang memang tidak terlalu akrab dengan Marni, meski berada satu kantor juga lewatan rumah.

~*~