Showing posts with label Dian Kristiani. Show all posts
Showing posts with label Dian Kristiani. Show all posts

Tuesday, 2 October 2018

[Resensi] Dongeng yang Mengajarkan Bahaya Lisan

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 9 September 2018 


Judul               : Si Pahit Lidah
Penulis             : Dian K.
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan           : Pertama, Maret 2017
Tebal               : 32 halaman
ISBN               : 978-602-394-621-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Dongeng merupakan salah satu media belajar yang baik untuk anak. Dengan mengenalkan dongeng pada anak, selain bisa sebagai sarana membangun  imajinasi anak, dongeng juga bisa menjadi bagian sebagai alat bantu mengenalkan anak nilai-nilai moral dan akhlak yang baik.  Dalah satu buku dongeng yang patut kita kenalkan pada anak adalah  dongeng asal Sumatera Selatan, berjudul “Si Pahit Lidah”. Di mana dalam dongeng ini, kita diingatkan untuk selalu menjaga ucapan.

Kita pasti sering mendengar ungkapan bahwa lidah itu lebih tajam daripada pedang. Yang artinya sebuah ucapan itu mampu menyakiti seseorang lebih dari rasa sakit ketika terkena senjata tajam. Oleh karena itu kita sering dinasihati untuk menjaga lisan atau ucapan. Jika kita takut menyakiti orang lain dengan ucapan kita, maka lebih baik jika kita hanya diam.

Dalam sebuah syair yang diambil dari kitab karya Muhammad Ibnu Ahmad Sohan dijelaskan “Seseorang itu tidak mati karena terpeleset kakinya, tapi dia meninggal karena terpeleset lidahnya. Karena terpeleset kaki itu lama-kelamaan bisa pulih kembali. Sedang terpeleset lisannya akan mendatangkan balak (cobaan ) hingga kelak di akhirat.”

Bahkan dalam Al-Quran surat Al-Isra’ ayat 53, Allah juga menyinggung anjuran untuk menjaga lisan kita. “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-ku, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata.”

Dalam buku ini sendiri, penulis mengisahkan tentang Serunting yang iri dengan Aria Tebing—adik ipranya yang mana Aria Tebing ini memiliki jamur emas di kebunnya. Sedangkan di kebun Serunting sangatlah tandus dan tidak pernah ada jamur emas yang tumbuh di sana. Karena rasa iri yang bersarang di harinya, Serunting curiga, jangan-jangan Aria Tebing telah melakukan kecurangan (hal 6). Namun Aria Tebing menolak tuduhan yang dilontarkan Serunting.

Akhirnya Serunting menantang Aria Tebing untuk adu kekuatan, dengan syarat siapa yang kalah harus menyerahkan  kebun kepada yang menang. Tidak punya pilihan, Aria Tebing pun menerima tantangan tersebut. Meski sejujurnya dia sangat khawatir, karena dia tahu Serunting memiliki ilmu bela diri yang hebat.

Untuk mencegak kekalahannya, Aria Tebing pun mendatangi Siti—kakak sekaligus istri Serunting. Dia meminta bantuan kakaknya untuk menunjukkan kelemahan Serunting. Karena sudah mengetahui kekurangan Serunting akhirnya Aria Tebing pun menang. Sedang  Serunting yang kalah sangat marah. dia merasa dikhianti istrinya. Kekalahan itu menuntun jalan Serunting ke Bukit Siguntang dekat Gunung Mahameru (hal 13).

Dari sana dia mendapat sebuah kesaktian berupa apa pun yang dia ucapkan akan menjadi kenyataan. Namun kesaktian itu dia gunakan untuk  mengutuk apa pun yang dia temui. Karena perbuatannya itu, dia kemudian dijuliki “Si Pahit Lidah”. Serunting sama sekali tidak merasa bersalah dengan perbuatannya, bahkan dia bertekad akan membalas dendam Aria Tebing dengan kekuatannya itu.

Tapi pada suatu hari, saat kelelahan dia istrihat, dia menemukan tanah gersang yang tidak ada pohon satu pun. Padahal kala itu dia butuh pohon-pohon yang membawa kesejukan dan berlindung dari panas, akhirnya dia pun berucap, agar pohon-pohon tumbuh di sana.  Lalu bagaimana akhir perjalanan Serunting? Apakah dia akan tetap balas dendam atau memanfaatkan kekuatannya untuk kebaikan?

Dongeng bilingual—dua bahasa ini, selain mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga lisan atau ucapan, buku ini juga mengajak kita untuk mensyukuri nikmat dan tidak iri. Tidak ketinggalan, penulis juga mengingatkan bahwa membantu orang lain itu lebih menyenangkan daripada memelihara dendam. Karena perbuatan jahat hanya akan membuat kita dibenci dan diajuhi.

Lebih dari itu dari buku dongeng ini, adik-adik bisa juga belajar bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan. Apalagi bahasanya memang mudah dicerna dan cocok untuk selera anak.

Srobyong, 16 Maret 2018

Monday, 14 May 2018

[Resensi] Cerita dan Aktivitas Penuntun Akhlak Islami

Dimuat di Harian Analisa Medan, Jumat 27 April 2018



Judul               : 365 Cerita dan Aktivitas  Penuntun Akhlak Islami
Penulis             : Dian K & Tethy Ezokanzo
Ilustrasi           : Doni Rakhman
Penerbit           : Qibla
Cetakan           : Pertama, 29 Januari 2018
Tebal               : 978-602-455-293-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Pendidikan akhlak sudah semestinya dikenalkan kepada anak sejak dini. Karena akhlak adalah pondasi utama bagi sikap yang dimiliki seseorang. Dengan memiliki akhlak yang baik, maka hal itu akan menjadi bekal anak dalam bergaul dan menempatkan diri di lingkungan. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk mengenalkan dan memberi teladan akhlakul kharimah pada anak.  

Memang proses dalam pengenalan akhlak itu tidak akan mudah, oleh karena itu perlu ada pembelajaran secara bertahap dan  terus- menerus, agar anak terbiasa. Selain itu penting diketahui orangtua, dalam mengenalkan anak kita perlu melakukannya dengan cara yang menyenangkan, ramah dan mudah dipahami, ehingga anak tidak  cepat bosan atau malah tertekan.

Buku “365 Cerita dan Aktivitas  Penuntun Akhlak Islami” saya pikir akan sangat cocok dibaca bagi anak dengan orangtua sebagai pendamping. Karena di dalam buku ini terdapat berbagai kegiatan yang  bisa dijadikan teladan selama satu tahun penuh. Buku ini dilengkapi dengan kisah seru,  ilustrasi menarik,  pantun, hadis dan doa yang bisa dihafal anak.  dipaparkan dengan bahasa sederhana, dan tidak terkesan menggurui membuat buku ini sangat layak dibaca.

Misalnya saja pada bulan Januari anak diajak mengenal akhlak baik.  Misalnya dalam suatu kisah,  
ada Ade yang kesulitan dalam pelajaran matematika. Suatu hari dia bersempatan menyontek, karena melihat  soal ujian matematika yang sedang di foto kopi. Ade bahkan sempat mengambil kertas ujian tersebut. Namun Ade sadar, menyontek adalah perbuatan tercela. Lebih baik dia jujur dan belajar lebih giat daripada melakukan kecurangan (hal 3).

Atau dalam kisah lain yang dialami Zahra.  Tanpa sengaja Ali merusak  kolase buat Zahra. Padahal Zahra sudah berusaha membuat kolases itu seharian.  Karena takut dapat amarah dan amukan dari Zahra, Ali memilih sembunyi di kamar. Tapi ketika tanpa sengaja dia mendengarkan percakapan Zahra dan ibunya, ketika melihat kolasenya rusak, Ali akhirnya merasa bersalah dan meminta maaf (hal 15).

Kemudian di bulan Februari, anak diajak belajar tentang keimanan.  Dalam sebuah kisah berjudul “Percaya pada Allah” di sini akan dikenalkan dengan sikap berserah dan tawakal kepada Allah. Tapi tentu saja setelah melakukan usaha. Diceritakan Papa Haifa di-PHK karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut.  Akan tetapi ketika mencoba mencari pekerjaan baru, Papa Haifa tidak kunjung dapat pekerjaan baru. Akhirnya Papa Haifa memilih berjualan roti bakar. Sayangnya bukannya untung, jualan itu lebih sering rugi. Haifa pun jadi sedih. Akan tetapi Papa Haifa tidak menyerah, akhirnya lambat laun usaha itu mulai berkemnang (hal 35).

Dan di bulan Maret, anak diajak belajar saling menyayangi. Seperti yang dilakukan Dino ketika memiliki adik baru. Awalnya tentu saja Dino sebal dan takut. Dia khawatir kalau ada adik baru, maka perhartian ibu dan ayahnya akan berkurang. Tapi anggapan itu ternyata salah. Dino pun tidak lagi benci pada adiknya. Di malah merasa sayang, karena adiknya sangat lucu.

Selain beberapa kisah tersebut tentu saja masih banyak kisah lain yang tidak kalah seru dan menarik.  Misalnya di bulan April anak akan dikenalkan dengan masalah ibadah, selanjutnya di bulan  Mei, berbakti kepada orangtua, bulan Juni, sedekah, bulan Juli Dakwah dan Jihad, dan banyak lagi.

Keunikan lainnya,  dalam buku ini juga dilengkapi kisah sejarah nabi dan sahabat yang patut dijadikan renungan.  Anak jadi mengenal sejarah  kepemimpina  Abu Ubdaiha—pemimpin yang rendah hati, Salman Al-Farisi gubernuh yang sangat sederhana, masuknya Bilal pada agama Islam dan banyak lagi.

Dalam buku ini kita juga diajari bersikap amanah, selalu bersyukur, menyayangi binatang, memiliki sikap empati, rajin beribadah, hormat peada orangtua dan sikap-sikap terpuji lainnya. Dilengkapi dengan aktivitas seru yang menididik anak, rasanya sangat rugi jika tidak memiliki dan membaca buku ini.

Srobyong, 22 April 2018

Sunday, 1 April 2018

[Resensi] Mengenal Asababun Nuzul dan kandungan Al-Quran

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 15 Februari 1018 


Judul               : Juz Amma for Kids
Penulis             : Tethy Ezokanzo & Dian K
Penerbit           : Qibla
Cetakan           : Pertama, 2016
Tebal               : 192 halaman
ISBN               : 978-602-394-137-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas lslam Nahdlatu Ulama, Jepara


Al-Quran merupakan kitab terakhir yang diturunkan Allah sebagai penyempurna kitab-kitab terdahulu.  Tidak sebagaimana kitab-kitab sebelunya, Al-Quran itu memiliki banyak keistimewaan. Salah satunya adalah mudah dipelajari dan siapa saja yang mempelajarinya akan memperoleh pahala berlipat ganda. Apalagi jika berkenan menghafalkannya. Dalam sebuah hadis dipaparkan bahwa siapa saja yang menghafalkan Al-Quran maka mereka akan mendapat tiket masuk ke surga.

Buku ini dengan kemasan yang menarik, mengajak anak untuk belajar mengenal asbabun nuzul—kisah di balik turunnya ayat dan memahami kandungan Al-Quran—khususnya juz amma—agar anak mudah menghafalkannya dan dapat meneladani nilai-nilai kebaikan yang ada di sana.  Dan  selain terdapat juz amma beserta terjemahnya, penulis juga menyisipkan dongeng akhlakul kharimah, yang pastinya bisa dijadikan teladan bagi anak.

Misalnya saja dalam Surat An-Naas. Yang mana surat ini turun ketika Rasulullah Saw     sedang sakit yang amat parah. Di mana penyakit itu terlihat aneh karena tidak seperti penyakit pada umumnya. Kemudian dua malaikat mengunjungi Rasulullah. Akhirnya di hari tersebut mereka mengetahui bahwa sakit Nabi ini diakibatkan sihir atau tenun dari Labid Ibnul A’sham (hal 7).

Untuk menyembuhkan Rasulullah, Ammar bin Yasir serta beberapa sahabat diminta untuk mendatangi sumur—yang merupakan tempat asal muasal sihir itu ada. Di sumur itu mereka menemukan sebuah kotak. Kotak itu pun langsung dibakar. Namun setelah dibakar, di sana terlihat tali dengan 11 simpul dari dalam kotak.

Dan setelah itu Allah pun menurunkan surat An-Naas agar dibaca oleh Rasulullah.  Setiap kali Rasulullah membaca surat An-Naas, maka lepaslah satu buah simpul tali. Dan setelah membaca 11 kali surat An-Naas Nabi pun akhirnya sembuh. Jadi dapat kita simpulkan dari surat ini, Allah mengingatkan kita agar selalu berserah diri kepada Allah—baik dari kejahatan manusia juga dari kejahatan setan dan sihir yang jahat. Hanya Allah yang memiliki kekuasaan dan Maha Mengetahui. 
Sedang asababun  nuzul dari surat Al-Ikhlas  itu berhubungan erat dengan masalah ke-esaan dan sifat-sifat Allah, yang pernah ditanyakan oleh orang-orang musyrik.  Diriwayatkan oleh Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Khuzaimah, dari Abu Aliyah dari Ubay bin Ka’ab bahwa pada suatu hari orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah saw, “Gambarkan kepada kami bagaimana Tuhan engkau!”. Maka kemudian Rasulullah menjawabnya dalam surat Al-Ikhlas. Di mana dipaparkan bahwa Allah itu satu—Maha Esa. Tempat semua umat bergantung.

Jadi surat Al-Ikhlas ini mengingatkan kita bahwa hanya Allah yang patut disembah. Dia-lah dzat yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Allah. Dia-lah pencipta langit dan bumi juga seluruh hal di dunia. Jangan sampai kita merasa ragu dan mengingkari adanya Tuhan. 

Dalam sebuah kisah teladan, pernah menceritakan tentang Bilal Al-Habsyi yang meski sudah disiksa sangat oleh kafir Quraisy, dia tetap berpegang teguh tentang kebenaran bahwa Allah itu satu. Dia tidak takut mati ketika memilih Islam sebagai agamanya (hal 20).

Lalu ababun nuzul dari surat Al-Ma’un yang ditunkan berkenaan dengan sikap-sikap orang munafik—yaitu orang-orang yang ketika berada di dekat Nabi atau orang muslim mereka mengaku beriman dan melakukan shalat. Namun ketika tidak berada di dekat orang muslim, mereka akan kembali pada kebiasaan lamanya, yaitu mengingkari adanya Allah. Selain itu dipaparkan juga orang-orang munafik ini pelit dan tidak suka bersedekah.

Surat ini mengingatkan kepada kita agar selalu ikhlas ketika beribadah kepada Allah. Jangan menjadi orang yang riya—memamerkan apa yang kita lakukan, mendustakan agama, bersikap kasar kepada anak-anak yatim. Dan kita juga diingatkan untuk suka menolong orang  lain, gemar sedekah sebagai bekal di akhirat nanti.

Selain tiga surat ini tentu saja masih banyak surat-surat lain yang pastinya bisa kita ambil pelajaran dari asbabun nuzul sebuah surat juga kandungannya. Di sisi lain kisah-kisah akhlakul karimah yang termaktub di dalamnya juga bisa dijadikan renungan. Buku ini selain patut dibaca anak-anak juga sangat bagus dibaca oleh orangtua sebagai pendamping anak ketika belajar membaca dan menghafal Al-Quran.

Srobyong, 30 Desember 2017 

Wednesday, 21 February 2018

[Resensi] Pendidikan Budi Pekerti Anak

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 1 Februari 2018 


Judul               : Topi Warna-Warni
Penulis             : Dian Kristiani
Ilustartor         : Alvin Andhi
Penerbit           : Kanisius
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 24 halaman
ISBN               : 978-979-21-5173-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Budi pekerti berhubungan erat dengan nilai-nilai moral,  akhlak juga perangai atau watak. Dan sebagaimana kita ketahui, kita harus belajar dan mengenal tentang permasalahan budi pekerti. Karena budi pekerti yang kita miliki ini,  menunjukkan jati diri  kita.  Pendidikan budi pekerti sendiri bermakna sebuah usaha dalam mengenalkan nilai-nilai moral yang baik kepada anak agar memiliki jiwa luhur dan memiliki akhlak yang baik, baik terhadap diri sendiri, masyarakaat atau kepada Tuhan. 

Oleh karena itu sejak dini, sudah semestinya kita mengajarkan pendidikan budi pekerti kepada anak.  Karena anak adalah aset bangsa dan merupakan generasi penerus perjuangan di Indonesia. Jika penerus bangsa tidak dibekali dengan pendidikan moral yang baik, bagaimana mereka bisa berjuang untuk kemajuan bangsa? Mengingat bahwa negara yang baik adalah negara yang selalu menjunjung tinggi budi pekerti yang baik. Jika tidak memiliki budi pekerti yang baik, suatu negara pasti akan runtuh.   Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam syair Syauqie Bey yang artinya, “Suatu bangsa dikenal jaya karena akhlaknya, bila akhlaknya rusak, maka rusaklah bangsa itu.”

Kiai Nadhim Syaikh Ahmad Nawawi bin Syaikh Abdul Hamid Al-Qasimy, dalam kata pengantarnya ketika  menulis kitab “Jawahirul Adab”, memaparkan bahwa sopan satu—bisa diartikan budi pekerti itu sebagai pembeda antara manusia dan binatang. Dan adab budi pekerti itu adalah sebagian dari agama, bisa memberi ketenangan dan kententeraman. Dan  jika kita meninggalkan budi pekerti tersebut, maka hal itu berdampak pada kerusakan pada peraturan di dunia.

Dalam usaha mengenalkan budi pekerti pada anak, salah satu cara yang menarik adalah melalui kisah-kisah yang seru dan membuat anak penasaran. Mengingat pada masa anak-anak, merupakan  tahap emas. Yaitu mudah menyerap apa yang diajarkan. 

Buku berjudil “Topi Warna-warni” merupakan salah satu buku yang patut dibaca. Di mana buku ini memang memuat banyak pembelajaran yang bisa dicontoh anak-anak. Misalnya saja dalam usaha untuk bersyukur atas karunia yang dimiliki, tidak iri, saling tolong menolong,  tidak berpikiran buruk pada orang lain dan banyak lagi.

Berkisah tentang seekor siput yang selalu suka dipuji teman-temannya. Setiap hari dia selalu berharap mendapat pujian karena kecantikan yang dimiliki.  Sayannya usaha yang dia lakukan tidak berhasil. Apalagi sejak kedatangan seekor jerapah. Hewan-hewan lain lebih suka memuji si jerapah yang tinggi dan bisa melakukan apa saja (hal 5). Kenyatan ini tentu saja membuat siput sedih, iri dan marah. Dia merasa telah dilupakan. Dia pun bertekad melakukan sesuatu, agar teman-temannya kembali memujinya.

Misalnya saja saat kerbau tiba-tiba sakit, siput dengan semangat pergi menjenguk kerbau. Dia juga sudah menyiapkan hadiah terbaik.  Si siput berharap dengan memberikan hadiah bagus, maka kerbau akan memujinya. Begitu pula dengan hewan lainnya. Namun, lagi-lagi siput gagal,  teman-temanya tetap memuji Jerapah yang selalu baik hati, dan selalu tahu apa yang dibutuhkan hewan lain. (hal 15).
Dilengkapi dengan ilustrasi manis dan  bonus snail board pastinya akan membuat anak semakin tertarik dengan membaca.  Buku ini sangat ringan dibaca anak berusia 6-9 tahun. Selain mengajarkan budi pekerti, buku ini juga bisa dijadikan salah satu media untuk mengajarkan anak membaca dan bisa dimasukkan dalam gerakan literasi sekolah yang dicanangkan oleh Anies Baswedan.  Rekomended.

Srobyong, 23 September 2017 

Tuesday, 7 November 2017

[Resensi] Membangun Karakter Anak Lewat Cerita

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 29 Oktober 2017 


Judul               : Topi Warna-Warni
Penulis             : Dian Kristiani
Ilustartor         : Alvin Andhi
Penerbit           : Kanisius
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 24 halaman
ISBN               : 978-979-21-5173-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Pendidikan karakter adalah sebuah usaha dalam mengenalkan tentang konsep moral—di antaranya adalah tentang sikap atau pun masalah perilaku.  Mengingat pendidikan karakter itu akan sangat berguna dalam kehidupan bermasyarakat, maka pendidikan karakter seyogyanya harus dikenalkan sejak dini. Dengan pendidikan sejak dini,  nilai-nilai moral itu akan merasuk atau terpatri dalam diri anak.

Di antara nilai-nilai karakter yang  perlu diketahui adalah religius, jujur, toleransi, suka menolong, disiplin, cinta tanah air, bertanggung jawab, kreatif,  memiliki rasa ingin tahu yang besar, pemaaf dan banyak lagi.  Dan pastinya setiap orangtua pasti ingin memiliki anak yang berkarakter baik., bukan? Karena dengan memiliki karakter baik, maka dampak yang diperoleh juga akan baik.  sebagaimana kata pepatah, “Apa yang kita panen, itu sesuai dengan apa yang kita tanam” dalam artian kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula.

Belum lagi anak merupakan aset bangsa. Merekalah yang pada akhirnya akan menjadi penerus dalam perjuangan di tanah air ini. Oleh karenaa itu pendidikan karakter itu sangat penting untuk dikenalkan anak sejak dini. Salah satu caranya adalah  melalui media bacaan.  Kita bisa membangun karakter anak lewat cerita-cerita seru yang memotivasi. Selain itu kita juga membantu anak dalam mengembangkan imajinasi. Mengingat saat ini cerita anak selalu dilengkapi dengan ilustrsi yang menarik, yang selalu mengundang minat anak.  Tidak ketinggalan dalam hal ini secara tidak langsung, kita juga mengenalkan minat baca kepada anak.

Salah satu buku yang patut dikenalkan kepada anak sebagai jembatan pendidikan anak adalah buku karya Dian Kristiani—merupakan penulis buku anak yang sudah banyak menghasilkan karya—berjudul “Topi Warna-warni”. Buku ini dikemas dengan menarik, sangat cocok dibaca anak berusia 6-9 tahun. Di mana buku ini mengisahkan tentang seekor siput yang gemar dipuji oleh teman-temannya. Namun sejak kehadiran Jerapah, tidak ada lagi yang memuji Siput. Dia merasa tersisih dan marah. Dia iri dengan Jerapah (hal 6). Kira-kira apa yang akan dilakukan Siput? Dan bagaimana tanggapan Jerapah sendiri tentang sikap Siput?

Dipaparkan dengan gaya bahasa yang pas buat anak, pastinya buku ini sangat mudah dipahami. Di sini akan dikenalkan dengan sikap peduli kepada temanya—yaitu ringan tangan atau suka menolong. Selain itu anak juga diajak untuk menjadi pribadi yang tidak sombong, selalu bersyukur dan tidak suka iri.  Sebuah buku yang patut dibaca dan mendapat aprsesiasi.

Srobyong, 22 September 2017 

Wednesday, 20 September 2017

[Resensi] Berguru dari Kisah Bulu Tengon

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu  17 September 2017 


Judul               : Kisah Bulu Tengon
Penulis             : Dian K
Ilustrator         : R. Herningtyas
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 32 halaman
ISBN               :978-602-394-691-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama Jepara.

Indonesia kerap kali disebut sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi—yang mana menggambarkan sebagai negara yang memiliki kekayaan alam. Namun ternyata selain kaya akan alam, Indonesia juga negara yang kaya akan adat dan budaya. Mengingat di Indonesia memang terdiri dari berbagai suku yang berbeda dari Sabang sampai Merauke. Namun begitu, sebagaimana semboyan kita, Bhinneka Tunggal Ika—meskipun berbeda-beda tetap kita satu jua.

Inilah keunikan Indonesia. Dan sebagai warga yang  baik, sepantasnya kita menghargai berbagai kekayaan yang ada di tanah air ini. Salah satunya dengan mengenal cerita- rakyat di Indonesia. Karena sadar atau tidak sadar, dari kisah-kisah rakyaat di Indonesia, kita bisa mengambil banyak pelajaran dari kisah tersebut.  Salah satunya adalah “Kisah Bulu Tengon” sebuah kisah rakyat yang berasal dari Kalimantan Utara. Kisah ini patut dijadikan guru dalam berperilaku.

Mengisahkan tentang Ku Anyi yang hidup bahagaia dengan istrinya. Ku Anyi merupakan kepala suku Dayak yang sangat disayangi dan dihormati oleh penduduk. Mengingat Ku Anyi ini memang sangat ramah dan tidak segan membantu. Ku Anyi kerap membagikan hasil buruanya kepada penduduk (hal 4). Hanya satu hal yang kerap membuat Ku Anyi dan istrinya sedih.  Mereka belum juga dianugerai anak oleh Yang Maha Kuasa. Namun begitu, mereka tetap bersabar dan berdoa kepada Allah. “Sabar. Dan teruslah berdoa. Suatu saat Tuhan akan mengabulkan doa kita.” (hal 7). 

Selain bersabar dan berdoa, mereka juga terus berbuat kebaikan. Mereka percaya Kebaikan akan berbuah kebaikan (hal 8).  Hingga pada suatu hari, Ku Anyi bekerja seperti biasa, dia pergi berburu ditemani anjing setianya.  Anehnya, anjing itu tiba-tiba menyalak. Pada awalnya Ku Anyi menduga kalau anjingnya melihat rusa atau kelinci. Tapi ternyata dia salah. Saat itu mereka berada di antara  bambu betung. Dan entah kenapa ada bisikan-bisikan aneh yang membuat Ku Anyi mendekatinya.

Di sana dia menemukan sebuah telur besar, yang akhirnya dia bawa pulang. Mungkin terlur itu bisa dimasak dan dijadikan lauknya.  Selain membawa telur, Ku Anyi juga membawa bambu betung yang juga bisa dijadikan sayur. Sayangnya, ketika Ku Anyi meminta istrinya untuk memask telur dan sayur itu, sang istri menolak, karena mereka sudah memiliki lauk yang lebih cukup. Akhirnya Ku Anyi pun setuju dan berencana memasak telur itu untuk esok hari. Hanya saja ketika pagi tiba, mereka dikejutkan dengan keberadaan dua bayi yang sangat menggemaskan.  Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?

Sebuah kisah yang menarik dan dipaparkan dengan asyik juga. Dilengkapi ilustrasi yang cantik, semakin membuat kisah ini enak untuk dibaca. Membaca kisah ini kita bisa belajar bahwa orang yang suka berbuat kebaikan akan mendapat balasan kebaikan juga.  Dan kita juga belajar, bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan.  Selain itu dalam buku ini kita juga bisa belajar tentang sejarah tentang cikal bakal Kesultanan Bulungan.

Menarik bukan? Rasanya sayang jika tidak mengoleksinya. Membaca buku ini selain mendapat pelajaran moral, kita juga belajar sejarah mengenai keunikan-keunikan kisah rakyat di setiap daerah.  Tidak ketinggalan, mengingat buku ini bilingual book, maka kita juga bisa belajar bahasa Inggris lewat buku ini.

Srobyong, 10 Agustus 2017

Monday, 24 July 2017

[Resensi] Menjadi Remaja anti Galau

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 23 Juli 2017


Judul               : Komik No Galau but Gaul
Penulis             : Dian K & Tethy Ezokanzo
Ilustrasi           :Lanting Studio
Penerbit           : Bhuana  Ilmu Populer
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 164 halaman
ISBN               : 978-602-394-623-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.


Memasuki fase remaja memang masa-masa yang paling menyenangkan. Pada masa itu banyak hal yang akan kita jumpai. Pengalaman baru juga siap menanti. Namun perlu dicatat, ketika semua  masa itu terjadi, jangan sampai kita menjadi remaja yang sering galau. Boleh saja, menikmati masa remaja, tapi tentu kita harus bisa memilah-milah mana yang baik. Jangan sampai jika kita salah jalan, dan berakhir penyesalan hingga akhirnya galau berkepanjangan.

Buku ini dengan pendekatan gambar atau komik, memberi arahan bagaimana cara menikmati masa remaja yang tetap gaul tanpa galau. Ada 13 cerita berserta tips dan trik yang perlu kita lakukan ketika menghadapi masalah tersebut.

Misalnya saja masalah kepercayaan diri. Disadari atau tidak, kadang kadang kita suka minder dan merasa malu dengan penampilan diri sendiri. Kita merasa kuper dan ketinggalan zaman. Hal itulah yang tengah dialami Mia. Gadis remaja itu merasa tidak cantik. Dia pun merasa minder. Sampai kemudian dia berteman dengan tetangga barunya yang cantik bernama Wendi (hal 9).  Bersama Wendi mereka melakukan banyak hal. Bahkan pada akhirnya Wendi mengajak Mia untuk mengikut semua gayanya. Dari model rambut dan cara  berpakain.

Namun, lambat laun Mia merasa hal itu salah. Mia menyadari bahwa dengan berpenampilan seperti Wendi itu, bukan seperti dirinya.  Dia merasa tidak nyaman. Akhirnya Mia pun memilih menjadi diri sendiri, seperti sedia kala.  Dari kisah ini, dapat diambil kesimpulan, bahwa kita sebaiknya menjadi diri sendiri. Tidak usah malu kalau dibilang tidak cantik. Karena cantik tidak harus tentang wajah, namun yang terpenting ada budi pekerti selalu ramah.

Ada juga masalah bullying—yaitu tindakan di mana ada seseorang yang ingin atau suka menyakiti orang lain.  Ada tiga jenis bullying; pertama adalah fisik—seperti menendang, memukul atau menjamak. Kedua verbal—misalnya dengan mengejek, memfitnah atau memaki. Ketiga psikologis—misalnya mendiskriminasi, mengasikan, mengintimidasi dan mengabaikan (hal 29).

Dalam proses bullying, biasanya ada tipe yang suka melakukan keroyokan, tapi tidak berani sendiri. Ada juga yang hanya berani mengejek dari jauh. Dan yang paling berbahaya adalah jagoan—suka mem-bully secara suka-suka dan tidak segan-segan untuk memukul.  Lalu supaya kita tidak menjadi korban penindasan, maka kita harus berani melawan—dalam artian, kita tidak boleh merasa lemah. Kita harus menunjukkan bahwa kita memiliki keberanian. 

Kemudian, perlu kita catat, jangan sampai kita sendiri menjadi orang yang suka mem-bully. Karena hal itu  bukan perilaku yang baik. Di mana di sana lebih banyak kerugian dari pada manfaat yang akan kita dapat.

Tidak ketinggalan, pada masa remaja biasanya identik dengan hal-hal yang berbau cinta. karena pada fase remaja ini kita mengalami pubertas—yaitu masa di mana, kita mulai matang baik dalam biologis, psikologis, sosial dan mental.  Kita mulai merasakan rasa suka antara lawan jenis. Apakah itu salah? Tentu saja tidak, ketertarikan itu wajar dan memang sudah menjadi kodrat manusia.

Tapi perlu kita ketahui, rasa tertarik  itu tetap harus kita tempatkan pada tempatnya. Tidak perlu susah apalagi galau, jika tidak berpacaran. Karena sejatinya jomblo itu lebih mulia dan bebas, karena bisa melakukan banyak hal. Kita bisa mengisi hari dengan berbagai kegiatan positif yang pastinya akan bermanfaat bagi diri sendiri.

Selain beberapa masalah yang sudah dipaparkan, tentu saja masih banyak problematika lain yang kerap dihadapi para remaja. Di antaranya tentang bagaimana cara mengatur waktu,  pentingnya menghargai kesehatan, berani bertanggung jawab dan banyak lagi. Semua dibahas dengan sangat menyenangkan. Buku ini mengajak para remaja untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi remaja anti galau, remaja yang punya segudang prestasi.

Srobyong, 15 Juli 2017