Showing posts with label Aku dan Buku. Show all posts
Showing posts with label Aku dan Buku. Show all posts

Tuesday, 13 April 2021

Mengubah Mindset Agar Lebih Berani dan Bahagia

 

Sumber gambar : pinterest, edit by photogrid.

            Masa pandemi merupakan  masa yang penuh kejutan juga penuh cerita. Karena di masa ini kita dituntut untuk beradaptasi dalam segala hal. Dari harus memakai masker, menjaga jarak, menjaga daya tahan tubuh, serta siap melakukan aktivitas secara terbatas. Artinya kita tidak dapat pergi ke berbagai tempat sesuka hati. Bahkan untuk bekerja pun dilakukan dari rumah.

            Kita harus mulai terbiasa dengan kehidupan baru, tersebut. Kita tidak dapat protes, karena dunia tengah terguncang karena pandemi. Untuk waktu yang tidak terbatas kita diharapkan untuk menghindari kerumunan. Masa-masa bebas seperti  dulu, tentu akan menjadi masa yang akan kita rindukan. Berkumpul dengan teman-teman, bebas mengunjungi toko buku, berlibur, bersekolah dan kegiatn lainnya.

Bagi saya sendiri, masa pandemi adalah masa penuh tantangan. Selain harus mulai beradaptasi dengan kebiasan baru, pada saat itu, Allah tengah memberikan anugerah yang luar biasa di rahim saya. Kebahagiaan dalam menjaga kesehatan dan mempersiapkan segala keperluan di masa kehamilan pun menjadi tumpang tindih dengan berbagai kekhawatiran karena pandemi.

            Jujur saat itu saya merasa takut dan kalut. Berbagai pertanyaan menggema di kepala. Mengingat sejak adanya pandemi cara pemeriksan—baik di bidan, klinik atau rumah sakit mulai berubah.  Belum lagi proses persalinan konon katanya dipersulit. Di mana   saya melihat dan mendengar  dari tetangga serta saudara yang kebetulan mengalaminya sendiri. Misalnya saja pengalaman tetangga saya. Meski ia seorang petugas medis, ketika ia reaktif terhadap virus corona, ia mendapat perlakuan yang kurang baik dari salah satu rumah sakit besar di daerah saya.   

Ada juga sepupunya saya. Ia sempat divonis harus melalukan cesar, karena masalah pertumbuhan bayi. Sepupu saya meski kaget dan terkejut tetap menyiapkan diri dan menjalani periksaan sesuai prosedur dokter kandungan. Namun, ketika hasil tes rapid telah keluar, dan ia reaktif, perlakuan dokter yang mulanya baik pun berubah. Bahkan dalam menangani  konsultasi sang dokter menjawab via telepon. Dan sepupu saya sempat dioper ke sana ke mari untuk melakukan operasi cesar.  Astagfirullah hal adzim, perasaan saya semakin tidak menentu.

Beruntung saya memiliki buku-buku gramedia, yang sedikit banyak membantu saya dalam memahami tentang masalah kandungan juga membuat pikiran saya lebih rileks. Andai saya tidak menyalurkan kekhwatiran saya pada hal-hal lain, tentu ketakutan saya akan berdampak pada kehamilan saya, dapat membuat depresi hingga keguguran. Padahal sudah cukup lama saya menanti kehadiran buah hati setelah mengalami miskram.

Buku “9 Bulan Menjalani Kehamilan dan Persalinan yang Sehat” karya  dr. Irfan  Rahmatullah, Sp.OG dan dr. Nurcholid Umam Kurniawa, M.So.Sc, benar-benar membantu saya selama masa kehamilan. Buku ini dapat menjawab berbagai pertanyaan seputar kehamilan dan persalinan dengan detail. Bahkan tentang hal-hal yang mungkin tidak akan dijelaskan oleh dokter kandungan atau pun bidan. Melalui buku tersebut saya dapat mengetahui  bagaimana perkembangan bayi dalan kandungan,  rumus dalama mengetahui perkiraan jenis kelamin dalam kandungan, mamahami hal-hal dasar dalam kehamilan, bagaimana menjalani pola hidup sehat, masalah persalinan dan apa saja yang perlu disiapkan, masalah nifas dan banyak lagi.

Sumber gambar : Ratnani Latifah

Selain buku ini  saya juga sangat terbantu dengan membaca buku “Chiken Soup fot for the Soul; Think Positive” karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen dan Amy Newmark. Melalui buku ini saya banyak menemukan nilai-nilai positif dalam kehidupan. Apa pun masalah yang kita hadapi, ketakutan yang  datang silih berganti, dapat diatasi jika kita selalu berpikis positif dan selalu bersyukur dengan apa pun kondisi kita.

Sumber gambar : Ratnani Latifah 


Jujur saja ketika pandemi datang, banyak ketakutan yang mulai meneror isi kepala saya. Banyak pertanyaan bagaimana ... bagaimana yang menggema di kepala. Bagaimana kalau nanti virus covid-19 menyerang saya atau keluarga? Apalagi saat itu, adik saya posisinya tengah merantau di Jakarta dan Semarang—di mana dua kota tersebut cukup banyak yang terpapar covid.

Tidak hanya ketakutan soal masalah covid, saya pun merasa cemas dengan keadaan janin juga bagaimana proses melahirkan kelak. Karena jujur saja sejak pandemi menyerang, proses medis di daerah saya entah kenapa menjadi sangat sulit. Banyak cerita tentang ibu hamil yang terlantar karena kurang sigapnya penangananan dari tim medis. Ada ibu hamil yang sudah dirujuk ke rumah sakit, tetapi di sana tidak dirawat dan malah pulang. Ada pula ibu hamil yang karena tidak segera ditangani, ia melahirkan di lorong rumah sakit. Astagfirullah hal adzim... hati saya begitu miris setiap kali mendengar berita-berita semacam itu.

Siapa yang tidak takut dan merasa cemas ketika posisi saya sendiri hampir sama dengan mereka? Ya Allah, rasanya sungguh nano-nano. Maka buku “Chiken Soup fot for the Soul; Think Positive” sangat membantu saya untuk belajar memiliki pikiran yang lebih positif.

Ada dua quote yang saya sukai ketika membaca buku ini.

Pertama, “Ubahlah pikiran, maka kita akan mengubah dunia kita.” quote ini seolah berpesan, agar saya selalu memiliki mindset yang baik.

Kedua, “Pikiran positif apa pun akan lebih baik daripada pikiran negatif.” Sedangkan quote ini secara terbuka mengingatkan tentang pentingnya selalu berpikir positif dalam keadaan apa pun.

Melalui buku ini saya juga belajar untuk mengurangi ketakutan dengan mengalihkannya pada kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Saya pun memilih tenggelam dalam dunia buku dan menulis. Karena memang itulah dua dunia yang saya geluti. Membaca adalah candu yang tidak tergantikan. Karena bagi saya dengan membaca gerbang pengetahuan akan terbuka lebar, kegelapan akan mendapat sinar dan jiwa yang kerontang akan mekar.

Alhamdulillah di masa pandemi saya berhasil mengkhatamkan banyak buku terbitan gramedia. Buku-buku itu menjadi teman yang begitu menyenangkan dan sedikit banyak membuat saya lupa akan berbagai kekhawatiran yang terus bergelantung di dada.

Begitu pula dalam menulis. Terapi menulis cukup membuat fokus saya teralihkan. Meski di sini, saya pun harus menghadapi tantangan baru. Mengapa? Karena dunia tulis menulis pun mendapat dampak yang cukup signifikan dari adanya pandemi.  Salah satunya cukup banyak media yang mulai tumbang. Tidak hanya itu banyak penerbit yang mulai menunda menerbitkan buku cetak akibat imbas pandemi.

Beruntung ada buku “Jangan Mudah Menyerah; Kumpulan Inspiratif dari Jack Ma, Pendiri Alibaba” yang disunting Suk Lee & Bob Song dan buku “The Path Made Clear” karya  Oprah Winfrey. Meski kedua buku ini tidak membahas tentang motivasi menulis, tetapi kedua buku ini banyak memberikan energi positif bagi saya untuk tetap teguh dalam dunia tulis menulis. Kedua buku ini mengajarkan banyak hal agar saya tidak mudah menyerah karena keadaan. Saya belajar tentang pentingnya menjalani dan nikmati setiap proses yang kreatif dalam menulis. Saya juga belajar untuk menentukan tujuan hidup dan  berusaha yang terbaik untuk  meraihnya.

Sumber gambar : Ratnani Latifah 

Dalam dialog dengan Kazuo Inamori, pada 28 Oktober 2008, Jack Ma pernah berkata, “Saya bukan orang yang paling berbakat. Penampilan, kemampuan, dan pendidikan saya jauh dari yang terbaik secara umum. Namun, saya memahami sifat dasar manusia. Anda harus mengendalikan yang negatif dan membangun yang positif agar meraih kesuksesan. Saya berusaha melakukannya melalui semangat berkelompok dan misi bersama.”

            Apa yang diungkapkan pendiri Alibaba ini sungguh mencegangkan. Ia mengingatkan bawah sukses itu tidak hanya soal bakat, tetapi juga adanya usaha dan ketekunan. Kemudian tidak kalah penting selalu berpikir positif. Dan saya rasa semua itu benar sekali. Selama menekuni dunia menulis, saya melihat orang-orang yang tekun dan tidak mudah menyerah cenderung akan berhasil dibandingkan mereka yang memiliki bakat tapi tidak punya semangat juang.  Kalimat itu memotivasi saya untuk terus menulis dan menulis. Karena di sanalah memang panggilan jiwa saya.

            Selain buku-buku non-fiksi. Selama pandemi saya juga ditemani dengan buku-buku fiksi terbitan Gramedia yang menarik dan menyenangkan. Di antaranya Selena dan Nebula karya Tere Liye, yang seperti biasa ceritanya selalu seru, penuh makna dan bikin ketagihan. Membaca novel karya sang maestro sangat membantu meringankan beban selama menghadapi pandemi juga masa-masa kehamilan. Membaca membuat pikiran jadi lebih rileks dan tenang.


Sumber gambar : Ratnani Latifah 

            Maka tidak salah jika bagi saya membaca itu semacam terapi jiwa, agar jiwa tetap sehat dan waras. Membaca itu adalah vitamin, yang mampu memberikan suntikan semangat untuk berbebah, menjadi pribadi yang lebih baik.

            Terlepas dari masalah kehamilan, membaca buku-buku gramedia ini mengajarkan saya tentang pentingnya mengubah mindset di masa pandemi. Jangan pernah berbikir negatif, takut ini dan itu, takut mencoba sesuatu atau takut melakukan hal-hal di luar zona nyaman kita. Akan tetapi beranilah! Selalu berpikir positif dan yakin mampu. Maka dunia bisa kita taklukkan.

            Begitulah. Masa Pandemi tidak membuat saya berhenti membaca dan menulis. Meski di masa pandemi, mulai banyak perubahan yang harus kita hadapi—khususnya pada bidang penerbitan. Karena setahu saya beberapa penerbit ada yang mulai mengurangi menerbitkan buku cetak dan beralih ke ebook.

            Namun di masa pandemi pula, saya menemukan jalur baru tentang penulisan buku. Apa itu? Menulis buku pengayaan, yaitu  buku penunjang  atau pendamping yang digunakan siswa untuk belajar, selain mengacu pada buku utama.  Di mana dengan membaca buku pengayaan anak akan mendapat lebih banyak pengetahuan dan wawasan dengan cara yang lebih menyenangkan.  Bukankah menyenangkan sekali bisa berkontribusi melahirkan karya dan dibaca oleh anak bangsa di seluruh negeri?  Saya sendiri sangat bersyukur, selama berkesempatan belajar mengenal buku pengayaan—bagaimana cara pengiriman dan prosesnya—alhamdulillah ada beberapa naskah,  yang saya ajukan telah diacc dan tinggal menunggu untuk dinilaikan.

            Untuk proses penulisan buku pengayaan ini tidaklah mudah. Ada banyak hal yang perlu kita perhatikan ketika menulis buku pengayaan, salah satunya harus sesuai dengan kompetensi dasar (KD) sesuai jenjang—dari SD, SMP dan SMA/SMK.  Selain itu ketika menulis buku pengayaan kita harus sabar menunggu penilaian dari PUSKURBUK (Pusat Kurikulum dan Perbukuan).  Dan tidak ketinggalan memiliki sertifikat menulis lebih diutamakan, ketika menulis buku pengayaan.

            Yah, masalah sertifikasi penulis ini sempat menjadi perdebatan di jagat media sosial. Ada pro dan kontra. Dan itu sangat wajar. Tapi bagi saya yang kebetulan sedang menulis buku pengayaan, maka saya harus siap untuk melengkapi persyaratan penilaian, khususnya untuk buku pengayaan nonfiksi.

            Jujur awalnya saya takut dan tidak pede dengan kemampuan saya. Siapa sih, saya ini? Soal kepenulisan pengalaman saya masih sedikit. Buku-buku karya saya pun belum cukup banyak. Saya sempat maju mundur untuk mengikuti ujian sertifikasi penulis. Takut hasilnya tidak kompeten.

            Namun karena membaca buku-buku di atas—khususnya buku Chiken Soup fot for the Soul; Think Positive, buku Jangan Mudah Menyerah; Kumpulan Inspiratif dari Jack Ma, Pendiri Alibaba, dan  buku The Path Made Clear, saya mulai berpikir ulang. Kalau tidak sekarang kapan kamu berani? Bagaimana mau maju jika terus terkurung dalam rasa takut dan tidak percaya diri? Bukankah kalau gagal dapat mencoba lagi?

“Ada banyak hal yang harus aku buktikan kepada diriku sendiri. Salah satunya adalah bahwa aku bisa menghidupi hidupku tanpa takut.”

Itu adalah salah satu quote yang saya sukai dalam buku  The Path Made Clear. Ia seolah memberikan semangat dan dorongan untuk menjadi pribadi yang berani.

            Akhirnya saya pun menguatkan niat dan mengikuti ujian sertifikasi, apa pun hasilnya. Jika dulu ujian ini dilakukan via luring atau tatap muka secara langsung, maka di masa pandemi ujian dilakukan via daring. Meski begitu, tetap saja ada rasa tegang dan takut. Apalagi saya juga harus mengamankan dedek bayi, agar fokus selama melakukan ujian.

            Dan puji syukur kepada Allah, yang telah  memudahkan saya. Dedek tidak rewel, dan  meski sempat ada drama mati lampu, Allah telah memudahkan saya dalam menjawab pertanyaan yang diajukan asesor. Bu asesornya  sangat baik dan bersahabat. Alhamdulillah ternyata saya diganjar kompeten. Rasanya sungguh bersyukur. Meski saya tahu, hasil itu bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya dari sana saya harus terus belajar  untuk menulis yang lebih baik lagi.

Sumber gambar : Ratnani Latifah 

            Pokoknya terima kasih banyak Gramedia, yang telah menghadirkan buku-buku apik, yang sangat bermanfaat, memberikan banyak motivasi dan inspirasi untuk terus memperbaiki diri di masa pandemi.  Sehingga saya bisa keluar dari zona nyaman dan berani mencoba hal-hal baru. Dapat beradaptasi dengan baik di masa yang penuh tantangan. 

             Terima kasih karena dengan membaca buku gramedia, saya  belajar mengelola mindset agar selalu berpikir positif. Sembilan bulan perasaan saya campur aduk ketika hamil—takut akan berbagai hal, tetapi saya selalu berusaha berpikir positif.

Saya ingat sekali, ketika  usia tujuh bulan posisi bayi masih melintang, lalu sempat sunsang dan plasenta berada di posisi yang hampir menghalangi jalan lahir. Jika posisi bayi tidak berubah, bisa jadi saya harus melakukan operasi. Namun saya selalu berpikir positif, bahwa saya dapat melahirkan dengan normal dan lancar.

 Dan meski sempat ada drama ditolak di puskesmas ketika melakukan pemeriksaan—padahal kondisi saya sudah sangat payah—tetapi proses persalinan berjalan lancar. Allah telah menyiapkan tempat terbaik, dapat melakukan  persalinan dengan porses yang dimudahkan di tempat seorang bidan yang baik hati. Kekuatan pikiran positif membawa kita pada jalan yang positif juga. 

Sumber gambar : Ratnani Latifah. Sehat selalu ya, Dek.


Srobyong, 13 April 2021.

           

           

           

           

             

 

Sunday, 6 November 2016

Buku : Godaan yang Tak Bisa Dihindari



“Hidup tanpa buku seperti ruang gelap tak berlampu” 
~Titon Rahmawan~ [1]

Melihat buku entah kenapa selalu memberi sensasi yang berbeda. Bahkan saking istimewanya buku selalu menjadi prioritas utama untuk dibeli daripada kebutuhan sekunder lainnya.  Saya rela tidak membeli tas, atau sepatu baru yang penting ada buku baru. J

Karena buku seperti emas yang selalu nampak berkilau di mata. Seperti bunga yang selalu menerbar harum serta sedap dipandang mata.

Laksana sebuah jendela. Terbuka lebar menawarkan banyak pemandangan baru yang tak terduga, tumpukan pengetahuan yang tersimpan bisa selami kapan pun dan di mana pun. Laksana teman yang setia menemani dalam suka dan duka.  Memberi hiburan tatkala saya sedih. Dia menerima saya apa adanya.

Menjadi vitamin menyehatkan jiwa. Laksana lilin yang siap menjadi penerang hati dengan petuah-petuah yang tersimpan rapi. Juga menjadi guru yang tak pernah marah. Melihat tumpukan buku sungguh serasa mendapat tenaga baru. Jadilah berbagai buku menjadi santapan lezat yang tak ingin terlewatkan. Buku adalah godaan yang tak bisa dihindari.  Dia melekat, menempel dengan kuat. Sulit rasanya jika harus berjauhan dengan buku.

Kenapa saya bilang begitu? Maka saya akan mencoba mengulas sedikit bagaimana hubungan yang tercipta antara saya dan buku.

~*~
Awal Perjumpaan

Membicarakan buku itu selalu menarik di mata saya. Dia seolah memiliki magnet yang mampu menarik saya  untuk menempel padanya.  Saya sangat ingat bagaimana awal perkenalan saya dengan buku.

Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu minat baca saya sedang meningkat. Buku-buku kisah Nabi, wali songo dan dongeng menjadi bacaan favorit saya kala itu. Beruntung di rumah kakek saya, buku-buku itu bertebaran di sana. Jadilah saya suka menghabiskan waktu di sana.

Sampai kemudian, kakak saya mulai mengenalkan saya pada kisah-kisah lain—dongeng moderen dan cerpen dari majalah bobo dan fantasi.  Di sini minat baca dan minat buku saya semakin meningkat. Tanpa sadar sejak itu saya sudah jatuh cinta dengan buku.  Dan saya selalu tergoda untuk membelinya.

Di zaman Madrasah Tsanawiyah, saya rela tidak menghabiskan uang saku di kantin. Saya menyisihkannya demi melegakan dahaga saya pada buku.  Berpuluh-puluh majalah dan tabloid menjadi teman setia saya. Saat itu untuk buku seperti novel saya belum mampu membelinya. Saya hanya bisa mengandalkan perpustakaan di sekolah. Mengingat saya tinggal di desa yang belum memiliki toko buku lengkap—bahkan hingga sekarang tidak ada Gramedia di kota saya. Poor me.  :( Apalagi di daerah terpencil tempat saya tinggal. Atau entah karena saya yang terlalu cupu, sehingga tidak tahu di mana ada toko buku.  Dan pastinya belum marak juga penjulana buku secara online.

Beruntungnya di masa Aliyah sudah ada sebuah toko buku di bangun. Di sinilah, saya semakin menggila. Saya berpikir itu adalah kesempatan. Jadi uang tabungan saya habiskan untuk menambah buku saya. Dan kalau pergi ziarah ke Kajen, maka prioritas pertama setelah berziarah adalah berburu buku.  Buku telah mengikat saya begitu erat.

~*~

Alasan Kenapa Tergoda dengan Buku

Kenapa saya bisa tergoda dengan buku? Karena saya meyakini  dengan bersahabat dengan buku saya akan mendapat banyak manfaat. Dan inilah beberapa manfaat yang saya rasakan. Dan pastinya hal ini semakin menggoda saya untuk bisa merengkuh buku sebanyak-banyaknya.

1.             Buku Adalah Sumber Berbagai Ilmu Pengetahuan

Saya sangat percaya, dari buku tersimpan banyak sekali ilmu.  Berbagai macam pengetahuan bisa diserap siapa saja yang mau membaca buku. Bagaimana tidak, jika di dunia ini tak ada buku? Bagaimana ilmu pengetahuan bisa disalurkan? Bagaimana orang menjadi pintar tanpa adanya buku? Media buku adalah sarana yang paling diperlukan di dunia ini.  Menyalurkan berbagai ilmu baik ilmu. Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata : “Semua penulis akan meninggal, dan karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakanmu di akhirat nanti.”

Perkataan ini selain merujuk kita agar menulis juga menyimpan kesimpulan bahwa buku itu akan abadi dan bisa terus disalurkan pengetahuannya untuk orang banyak. Berbeda dengan penulisnya—manusia yang bisa meninggalkan kapan saja.  Coba kita pikir bagaimana ilmu bisa tetap disalurkan tanpa seorang cendekiawan? Maka buku adalah salah satu solusinya. Dia menyimpan ilmu-ilmu yang selalu dibutuhkan di berbagai zaman dari pengetahuan yang dikuiasai penulis.

2.             Buku Sebagai Jendela Dunia

Buku memang laksana jendela yang membuka berbagai bentang dunia di depan mata. Hanya dengan membaca jejak para penulis kita seolah diajak menyusuri setiap lekuk dunia. Keindahan, panorama semua termaktub dan bisa kita akses melalui buku. Dan buku bisa menjadi panduan yang menarik jika kita benar-benar ingin mengunjungi tempat-tempat yang telah dipamerkan pada kita.  sebagaimana yang dikatakan Henry Ward Beecher “Buku adalah jendela Sukma kita melihat dunia luar lewat jendela ini. Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tak berjendela.” [2] 

3.             Buku Adalah Sumber Imanjinasi

Degan membaca banyak buku bisa merangsang pembaca untuk menciptakan imajinasi-imajinasi yang tidak terduga. Bagaimana tidak, kenyataan saat ini banyak sekali penulis yang terinspirasi dari sebuah buku bacaan lalu menuangkannya lagi dan sebuah tulisan lain hingga menjadi buku baru. Tentu dalam artian bukan menjiplak, namun memberi rangsangan agar menciptakan sesuatu yang baru dengan sentuhan eksekusi yang berbeda. Karena toh, setiap orang itu memiliki keunikan sendiri dalam menulis. Tema boleh sama tapi cara penyajian baik dari gaya bahasa, plot dan karakter saya yakin beda.  Inilah gunanya membaca.

4.             Memiliki Pancingan untuk Menemukan Ide-Ide Baru

Sebagaimana buku bisa merangsang imajinasi, berbagai ide baru juga bisa didapatkan di sini. Yah, saya merasakannya sendiri. Sebagai seorang yang suka membaca buku, membuat saya juga mencintai dunia kepenulisan. Dan Buku bagi saya adalah tumpukan ide yang bisa digali kapan saja. Setiap kali membaca buku, banyak ide berseliweran yang kemudian bisa saya jadikan cerita menurut versi saya. Dan mungkin di tempat lain banyak orang yang memiliki pemikiran serupa dengan saya.

5.             Menambah Kosa Kata Baru

Ini salah satu kenapa buku menjadi godaan terbesar bagi saya. Dengan menambah koleksi buku dan membaca, saya bisa menyerap berbagai kosa kata baru yang mungkin tidak saya kenal sebelumnya. Yah, mengingat penulis itu terlahir dengan latar belakaang berbeda dan pastinya mereka memiliki keunikan tersendiri sehingga bisa menciptakan hal-hal baru yang kemudian menginspirasi pembaca.

6.             Menghibur

Ini sudah pasti. Buku adalah penghibur yang paling menyenangkan. Alasan inilah yang semakin membuat saya tergoda untuk menjadi pemburu dan pecinta buku. Membaca buku membuat saya bisa melepaskan penat. Dia bisa membuat saya tertawa ketika kesedihan kadang mendera.  

7.             Menjadi Salah Satu Sarana Memperbaiki Diri

Betapa buku memiliki banyak khasiat yang membuat siapa saja tergoda untuk memilikinya.  Termasuk saya. Memiliki dan membaca buku-buku motivasi sudah pasti akan membawa dampak baik. Yaitu mensugesti pembaca untuk meniru dan memperbaiki diri. Kisah inspiratif yang ditawarkan bisa memberi dorongan dan motivasi untuk menjadi seseorang yang terus memperbaiki diri.

Tujuh alasan ini setidaknya memberi saya dorongan untuk selalu mencintai buku. Membuat saya selalu tergoda untuk memilikinya.  Keberadaan buku sungguh berarti bagi yang belum mumpuni dalam berbagai ilmu pengetahuan. Sedang saya sangat ingin menambah wawasan agar otak saya tidak mudah karatan.

Genre Buku yang Menggoda

Jika saya ditanya genre buku apa yang bisa menggoda saya untuk segera membeli dan mengoleksinya?

Maka jujur saya harus mengaku, saya termasuk pecinta buku dengan berbagai jenis genre buku. Bahkan bisa dibilang semua genre. Kecuali yang agak berat—sastra tertentu. Kembali pada selera tentang berat yang saya maksud.

Kenapa saya bisa suka membaca berbagai genre? Oh itu simple karena saya memadang setiap buku sudah pasti menyimpan pesan-pesan tersendiri dan pastinnya bisa memberi saya inspirasi.  Inilah beberapa koleksi buku saya dengan berbagai genre yang campur aduk. Baik itu romance, horor, misteri, non-fiksi, keagamaan, manga , religi  dan buku anak. Semua ini selalu menggoda membuatku ingin memeluk mereka. Menimbun dan berselancar dalam lautan ilmu yang dibentangkan. 

Romance 

Horor & Misteri











Non-fiksi & Motvasi


Buku Anak


Manga Detective & Petualangan


Manga Romance


Andai Hidup Tanpa Buku

Membayangkan jika hidup tanpa buku, maka dunia saya akan gelap. Karena buku itu seperti cahaya. Dia menjadi lilin yang menerangi jiwa. Selain itu buku itu seperti napas yang harus saya hirup agar bisa bertahan hidup. Dan buku laksana makanan yang harus saya makan akan bisa menambah gizi pengetahuan.  Maaf jika agak lebai, hehhh. Tapi inilah yang memang saya rasakan. 

Hal Gila Jika Sudah Menyangkut Buku

Membicarakan hal gila yang pernah saya lakukan sehubungan dengan buku? Saya tidak yakin enntah ini bisa disebut gila atau tidak. Karena ini hanya saya lihat dari kacamata saya sendiri.  Tapi saya tetap akan menceritakannya. J Jujur menjadi orang yang mudah tergoda dengan buku juga membuat saya lebih posesif terhadap buku.  Bagaimana tidak? Buku bagi saya itu seperti harta karun, jadi harus selalu saya jaga sedemikian rupa agar tetap dalam keadan baik dan segar di mata saya.  Ketika habis membeli buku saya langsung menyampulnya dengan rapi. Memberi tanda kepemilikan.

Saya tipe orang yang tidak suka jika melihat buku berantakan. Dalam artian ada lipatan dalam buku untuk dibuat pembatasan buku atau tangan yang kotor menyentuh buku. Pembatasan buku dilipat-lipat. Atau malah tekena tumpahan minyak, teh atau kopi. Aih, jujur saya tidak tahan.  

Alasan-alasan itu menutut saya menjadi orang yang sangat cerewet jika berhubungan dengan buku. Terkhusus bagi mereka yang ingin meminjam buku saya. Bisa jadi orang mungkin akan malas juga. Tapi mau bagaimana lagi?  

Jujur saya kadang ada rasa enggan meminjamkan buku pada orang lain. Karena dalam istana pikiran saya, akan ada banyak pertanyaan-pertanyaan gila mengenai kekhawatiran saya.

“Bagaimana jika mereka tidak merawat buku saya dengan baik?”
“Saya takut buku saya nanti rusak. Padahal selama ini saya selalu menjaganya dengan baik.”
“Bagaimana kalau mereka lupa mengembalikan buku saya?”
“Saya selalu mengembalikan buku pinjama tepat waktu.”
“Bagimana kalau buku saya nanti dilipat-lipat?”
“Saya tidak suka buku dilipat. Karena itu membuat buku terlihat berantakan dan tidak sedap dipandang mata.”

Dan masih banyak pertanyaan dan penyetaan  lain menggema di kepala.   Sehingga ketika ada teman atau saudara yang meminjam saya akan menjelaskan dengan detail bagaimana cara perawatan buku menurut versi saya. Saya akan mewanti-wanti agar buku itu jangan sampai kenapa-napa. Menjelaskan apa yang boleh dilakukan dan tidak bolek dilakukan dengan koleksi buku saya. Lebai, kan?  L Tapi mau bagimana lagi itu demi melindungi buku-buku kesayangan saya.

Lagi pula memang ada kejadian teman yang kalau suka meminjam buku malas  mengembalikannya. Atau kalau dikembalikan,  sampulnya rusak, buku ada lipatan atau bahkan terkena hujan. Duh rasanya mangkel banget. Pengen nangis. Padahal selama ini saya selalu menjaga buku dengan sepenuh hati.  Hal ini membuat saya kadang harus menagih agar segera dikembalikan. Tidak enak, sih harus meminta-minta, tapi salah dia sendiri meminjam kok tidak bertanggungjawab.  Padahal jika saya meminjam saya akan menjaga buku pinjaman dengan baik dan mengembalikannya tepat waktu. L

~*~

Kisah lainnya adalah masalah saya dalam memanage uang jika berhubungan dengan buku.  Jangan tanya seberapa saya ini terlalu boros jika menyangkut buku. Hal ini-lah yang kadang menjadi pemicu bagi saya dimarahi orangtua. Saya dianggap boros dan buang-buang uang L Duh salah lagi.

Karena seberapa pun uang yang saya pegang jika ke toko buku atau bazar sudah dipastikan akan habis. Bahkan kadang mengambil jatah uang lain demi menuntaskan rasa haus dengan buku.  Ini sungguh di luar kendali. Melihat buku di rak-rak  itu seolah memanggil saya untuk segera membelinya.  Mata saya langsung hijau dan ingin memborong semuanya. Hhheh.  Duh, buku kenapa kau selalu menggodaku? 

Yah, saya tidak peduli, meskipun di rumah sudah banyak buku menumpuk dan antri dibaca, jika memang ada buku baru yang menggoda iman, pastinya akan saya beli.  Kalau tidak beli itu bisa membuat saya gelisah dan kepikiran terus. Jadi lebih baik beli dulu saja. Masalah baca nanti bisa diatur waktunya. J Yang penting buku sudah di tangan dulu. Hhehh.

Buku memang selalu menjadi godaan yang paling sulit dihindari.  Tapi selain itu,  buku adalah  teman suka duka, teman paling setia.  

“Buku adalah teman yang paling tenang dan konstan; mereka adalah konselor paling mudah dan bijaksana, serta guru yang paling bijak.”


Srobyong, 6 November 2016 

Ket
[3] Kumpulan Kutipan Tokoh


Alhamdulillah menjadi juara 3 dari Giveaway Kisah Antara Aku dan Buku

Tuesday, 31 May 2016

Berkah di Balik Memiliki Hobi Membaca

Beberapa koleksi tumpukan buku di rumah
“Hidup tanpa buku seperti ruang gelap tak berlampu” 
~Titon Rahmawan~  [1]

Jika ditanya kenikmatan apa yang paling saya gemari? Tanpa pikir panjang maka saya akan menjawab  membaca. Yah, membaca adalah  kegiatan paling asyik dan nikmat.  Tanpa ke-mana-mana kita bisa berselancar ke negeri manapun yang kita inginkan.  Dan dengan membaca sejuta pengetahuan bisa kita genggam. Bukankah sudah menjadi rahasia umum, bahwa dengan membaca kita bisa membuka jendela dunia? Rasanya sangat sayang jika tidak memiliki  kegemaran yang satu ini.

Membaca itu benar-benar asupan gizi yang baik otak.  Membaca bisa mengurangi tingkat stres. Dan saya rasa ini sangat benar.  Ketika saya merasa sumpek atau sedang butuh ketenangan, membaca menjadi obat mujarab untuk menghilangkan kesumpekan itu.  Itulah kenapa buku selalu saya anggap sebagai teman juga guru terbaik yang pernah ada. Sebagaimana yang dipaparkan Charles William Eliot, “Buku adalah teman yang paling tenang dan konstan; mereka adalah konselor paling mudah dan bijaksana, serta guru yang paling bijak.” [2] 

Dan karena alasan itu pula saya selalu antusias jika sesuatu yang berhubungan dengan buku. Saya akan selalu rela mengeluarkan uang lebih jika itu untuk membeli buku. Tidak apalah jika tak membeli sepatu baru dulu yang penting buku baru walaupun dengan jumlah terbatas juga. Lalu ketika ada pameran buku dengan semangat saya akan mendatangi. Melihat buku itu seperti melihat timbunan harta karun yang harus segera didapatkan.

Seperti ketika melihat postingan lomba di blog Mbak @anneadzkia21, saya langsung suka dan ingin mengikuti lomba dengan tema menarik ini—aku dan buku. Rasanya cocok banget dengan saya yang memang penikmat buku. Yuk, ikutan Giveaway for Booklovers di blognyaAnne Adzkia juga.

Buku dengan sejuta ilmu buka dengan sejuta kenikmatan lain yang mungkin luput dari perhatian orang.  Kenapa saya berkata seperti itu? Karena dari hobi membaca dan suka berjibaku dengan buku, saya mendapatkan sesuatu yang lebih. Sebuah momen di mana saya sangat senang dan tidak ingin berpaling dari buku.

Bagaimana tidak? Saya yang sangat suka membaca membuat saya ingin mempromosikan buku-buku tersebut pada khalayak umum. Tentu saja dengan harapan orang-orang  akan tertarik dan ikut membeli dan membaca. Alasan itulah yang kemudian membuat saya mulai meresensi. Sebuah momen yang kemudian menjadi hal yang paling berkesan sejak saya suka membaca dan berjibaku dengan buku.  Alasan kenapa meresensi menjadi momen yang sangat berkesan semua akan saya jelaskan dalam pembahasan di bawah ini.

Manfaat di balik hobi membaca menurut versi saya

1.          Mendapat  fee dari pemuatan naskah di media

Ketika naskah saya dimuat di sebuah media, saya mendapat fee yang lumayan untuk digunakan jajan buku lagi.  Bukankah itu mengasyikkan?  Dari buku menjadi buku lagi. :) 

2.         Diajak kerjasama dengan penerbit dalam mengadakan giveaway—sebagai host.

Sejak memiliki kebiasaan meresensi setelah membaca buku, saya juga semakin rajin mengisi blog dengan hasil resensi berbagai jenis genre buku. Baik itu buku lama atau buku baru. Baik yang dimuat di media atau tidak. Nah pada, suatu hari ada pencarian untuk kerjasama menjadi host untuk giveway sebuah penerbit. Saya pun mencoba ikut peruntungan dan alhamdulillah bisa terpilih. Meski jujur saya saya baru dipercaya menjadi host dua kali. Tapi itu pengalaman berharga karena hobi membaca buku.  

Pernah Menjadi Host  GA dari Dua Buku Ini 

3.    Kerjasama dengan penulis dalam promosi buku

Beberapa kali saya berkesempatan membantu penulis dalam promosi buku mereka. Salah satunya dengan program baca bareng dalam jejaring sosial twitter. Saya mengulas tentang isi buku baik dari segi kelebihan dan kekurangan.  Beberapa yang lainnya  dengan meresensi buku baik lewat media blog atau media koran.

Beberapa Buku dari Penulis Langsung 

Begitulah kira-kira momen berkesan saya dengan buku.  Rasanya menjadikan buku sebagai teman bukanlah hal yang salah.  Buku memberi banyak sekali manfaat. J


Srobyong, 31 Mei 2016