Showing posts with label Penerbit Imania. Show all posts
Showing posts with label Penerbit Imania. Show all posts

Saturday, 22 June 2019

[Resensi] Perjuangan dan Pemikiran Sosrokartono, Kakak Kartini


Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 13 Januari 2019


Judul               : Sosrokartono
Penulis             : Aguk Irawan M.N
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, September 2018
Tebal               : 370 halaman
ISBN               : 978-602-7926-42-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Dalam sejarah kita lebih sering mendengar nama besar R.A Kartini, pejuang emansipasi wanita. Kita tidak tahu, bahwa di balik semangat juang Kartini, ada  Sosrokartono, kakak Kartini, yang ternyata merupakan inspirator dan  guru  bagi Kartini. Pria kelahiran Jepara, 10 April 1877, merupakan sosok jenius. Sosrokartono adalah seorang poliglot yang menguasai 26 bahasa asing dan 10 bahasa Nusantara.

Buku ini dengan pembahasan yang lugas dan mudah dicerna, mengajak kita untuk  mengenal lebih dalam tentang sosok Sostokartono, seorang tokoh yang juga memiliki sumbangsih terhadap tanah air Indonesia. Dia memiliki jiwa patriotisme yang tinggi, yang memiliki kepedulian terhadapan pendidikan rakyat Hindia. Hal itu terbutki nyata dari usahanya yang mencoba melobi salah satu petinggi Hindia Belanda, Tuan Rooseboom yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda.

Tanpa rasa gentar Sosrokartono mengungkapkan tentang ketidakadilan pemerintah Hindia Belanda yang membatasi pendidikan kaum pribumi dan meminta kelonggaran agar kaum pribumi bisa mengenyam pendidikan. “Dengan sepenuh jiwa, dari seorang pemuda Hindia yang selalu rindu dan haus akan pengetahuan, saya, sekali lagi memohon Tuan yang bijaksana, untuk memerhatikan pendidikan rakyat Jawa.” (hal 180).

Dia juga memanfaaatkan momen di Kongres Bahasa dan Sastra Belanda, untuk mengemukakan ide dan gagasan tentang pentingnya mempelajari bahasa Belanda bagi kaum pribumi, agar bisa memahami sistem-sistem yang dilakukan para penjajah.  Sehingga tidak ada salah paham antara pemerintah Hindia Belanda dengan rakyat pribumi. Di mana kerap sekali karena kesalahpahaman berbahasa banyak pribumi yang mendapat hukuman tanpa tahu kesalahan mereka.  Tidak hanya itu Sosrokartono juga menggemborkan tentang sikap perdamaian dan kasih sayang bangsa penjajah  dan tidak bertindak semena-mena (hal 200).

Bagi sebagian kaum cendekiawan Belanda sangat salut dengan gagasan Sosrokartono. Akan tetapi bagi para elit cendekiawan yang memiliki mental penjajah sangat marah dengan keberanian pidato yang disampaikan Sosrokartono.  “Untuk mencapai kemajuan, diperlukan usaha yang lebih keras, Tuan. Untuk mencapai kemajuan pula, selalu ada pihak-pihak yang menentang.” (hal 241).

Di antaranya adalah Prof. Dr. Snouck Hurgronje. Di mana menurut pendapatnya jika, sampai pemerintah Hindia Belanda memenuhi harapan Sosrokartono, maka dikhawarikan rakyat pribumi akan menjadi pribadi yang lebih cerdas dan bisa merongrong kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.
Mereka ingin kaum pribumi tetap bodoh. Karena dengan begitu, mereka akan mudah mengendalikannya. Oleh sebab itu, melihat kepintaran dan luasnya pergaulan Sosrokartono, Dr. Snouck sangat khawatir dan mulai mencari kelemahan Sosrokartono untuk dipermalukan dan tidak berani melawan pemerintah Hindia Belanda.

Sosrokartono juga bersumbangsih dalam berdirinya, sebuah organisasi yang bernama Indische Vereegining atau Perhimpunan Hindia, yang awalnya membahas tentang kehidupan para pelajar mahasiswa Hindia di Belanda namun kemudian berubah menjadi organisasi politik yang bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Meskipun  puluhan tahun Sosrokartono bersekolah di Belanda dan mengembara ke Eropa, dia tetap mencitai bangsanya dan tidak mau menghempaskan nilai-nilai pribumi. Di mana dia tegaskan pada saat berpidato di Kongres Bahasa dan Sastra Belandan ke-25 di Gent, Belgia, pada September 1899, “Dengan  tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selamat matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang.”

Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Apalagi memang jarang sekali buku yang membahasa tentang biografi Sosrokartono. Pria jenius dengan segudang prestasinya ini adalah sosok yang patut kita teladani. Karena dia merupakan sosok yang luar biasa. Selain sangat mencintai tanah airnya, dia adalah pemuda yang selalu taat kepada ibu dan ayahnya. Tidak hanya itu dia merupakan sosok yang memiliki spritual tinggi. Di mana karena kemampuannya itu dia bisa mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang lain dan bisa menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dunia medis. Meskipun sedikit banyak masih ada beberapa kekurangan dalam buku ini, hal itu tidak mengurangi esensi yang ditawarkan penulis.

Srobyong, 1 November 2018

Thursday, 29 November 2018

[Resensi] W.R Supratman, Pahlawan yang Berjuang Lewat Seni

Dimuat di Analisa Medan , Rabu 7 November 2018


Judul               : Sang Penggesek Biola
Penulis             : Yudhi Herwibowo
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Juni 2018
Tebal               : vi + 402 halaman
ISBN               : 978-602-7926-41-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

W.R. Supratman merupakan salah satu pahlawan nasional.  Dia dikenal sebagai pencipta lagu Indonesia Raya, yang merupakan lagu kebangsaan Indonesia.   Hanya saja, jasa kepahlawanan W.R Supratman ini tidak terlalu dikenal masyarakat. Dia hanya dikenal sebagai pencipta lagu saja. Padahal ada proses panjang dan berliku  dalam penciptaan lagu Indonesia Raya.  Bahkan dia harus mengorbankan kebebasannya, serta harus siap berhadapan dengan agen-agen PID (Dinas Intelejensi Kepolisian Hindia Belanda).

Buku ini dengan tampilan berupa novel biografi W.R Supratman, akan mengupas lebih detail tentang perjalan hidup serta seluk beluk dan proses yang harus dilalui Supratman dalam menciptakan lagu Indonesia Raya. W.R Supratman lahir di Puworejo. Akan tetapi dia tumbuh besar di Makasar.  Karena sejak ibunya meninggal dunia, dia dirawat oleh Rukiyem, kakaknya. Di sanalah dia belajar bahasa Belanda dan musik.

Namun ketika menginjak usia dewasa, Supratman memutuskan untuk pindah ke Jawa. Semua bermula dari pertemuannya dengan Mr. Schulten dan berbagai surat kabar seperti, Kaum Muda, Sin Po, Perniagaan dan lain sebagainya, yang telah menjadi bacaan sehari-hari Supratman. Dari  sana dia mengetahui tentang keadaan  pergerakan di tanah Hindia –Belada, terutama di pulau Jawa. Dia juga mulai mengenal nama-nama tokoh-tokoh pergerakan seperti, Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, Abdul Muis dan Dr. Cipto Mangunkusomo (hal 25-26).  Sejak saat itu, hati nuraninya merasa terusik dan terpanggil untuk ikut serta dalam perjuangan Indonesia.

Di Jawa—tepatnya di Bandung,  Supratman memulai karirnya sebagai wartawan di surat kabar Kaum Muda. Lalu pindah ke Batavia dan ikut bekerja di Biro Pers Alpena. Dan terakhir dia memutuskan untuk bekerja di surat kabar Sin Po. Supratman sangat menikmati pekerjaanya. Karena profesi itu membuatnya bisa  memberitakan dan menyebarkan berita-berita tentang gerakan-gerakan pemuda ke seluruh penjuru negeri (hal 140). 

Namun berlalunya waktu, Supratman ingin bisa menyumbang sesuatu yang lebih. Sebagai warga Indonesia, dia juga ingin ikut berjuang meski bukan dalam ranah politik.   Saat itulah dia tiba-tiba memiliki ide untuk membuat sebuah lagu yang sesuai dengan suasana pergerakan. Dia berharap lagu itu bisa menghibur dan memotivasi semangat pergerakan. Dan di antara lagu yang diciptakan Supratman adalah “Indonesia Raya”.

Lagu itu pertama kali dikumandangan pada  bulan Oktober 1928, saat berlangsungnya Kongres Pemuda II.  Sambutan untuk lagu ini sangat luar biasa. Bahkan sejak saat itu, lagu “Indonesia Raya” selalu dikumandangkan apabila ada kongres-kongres politik. Di mana saat mengumandangkan lagi itu, para peserta harus berdiri tegak  dan bersikap hormat. Sedang  lirik lagu Indonesia raya pertama kali disebarkan oleh surat kabar Sin Po, pada edisi Sabtu, 10 November 1928 (hal 285).

Sejak lagu “Indonesia Raya” dikenal oleh masyarakat,  sejak saat itu pula kehidupan Supratman berubah. Dia selalu merasa diikuti dan diintai oleh agen-agen PID Keadaan itu sungguh membuat Supratman tidak nyaman dan harus bersembunyi.  Akan tetapi ternyata Agen PID itu berhasil menemukan Supratman dan memukulinya hingga babak belur. Tidak hanya itu, Supratman juga harus mencicipi masuk dalam bui, karena menciptakan lagu Indonesia Raya serta karena buku karyanya yang dianggap sebagai makar.

Akan tetapi meski harus menghadapi berbagai tantangan dan kekejaman Belanda, Supratman tetap teguh dan tidak goyah.  Meski sempat diancam dan difitnah telah melakukan plagiasi, bahkan jatuh sakit, dia tetap menciptakan berbagai lagu, yang dirasanya bisa memotivasi pemuda  Indonesia untuk terus melakukan pergerakan, guna merebut kemedekaan.

Melalui seni, Supratman  mengekspresikan rasa cinta tanah airnya dan menunjukkan sikap nasionalisme yang tinggi. Dia mengobarkan semangat juang para pemudah Indonesia, lewat lirik lagu yang dia ciptakan.  Sebaimana yang dikatakan Ir. Sukarno, “Kau berjuang dengan biolamu, dengan lagu yang kaugubah, yang alunan nadanya merasuk ke telinga semua orang  dan menggelorakan sanubari.” (hal 282). 

Sayangnya, dia tidak sempat mencecap kemerdekaan, karena dia meninggal  pada tanggal 17 Agustus 1038, karena sakit. Buku ini sangat patut dibaca oleh masyarakat luas, sebagai tambahan wawasan. 

Srobyong, 29 September 2018 

Wednesday, 17 October 2018

[Resensi] Mengkritisi Polemik Negeri Lewat Humor

Dimuat di Kabar Madura, Sabtu 29 September 2018


Judul               : Kelakar Madura Buat Gus Dur
Penulis             : H. Sujiwo Tejo
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-8648-25-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Humor adalah cerita pendek yang memiliki unsur kelucuan dan diharapkan  bisa menghibur pembaca. Namun di sisi lain humor juga bisa menjadi salah satu cara mengkritisi secara halus. Buku yang terdiri dari 32 kisah ini mencoba menghadirkan berbagai kritik politik dan sosial dengan cara halus dan lucu. Uniknya kisah-kisah ini mengkaitkan antara Madura dan Gus Dur. Sehingga dari kritik yang ada kita juga bisa mengenal lebih dekat tentang budaya madura dan kearifan Gus Dur, meski dengan sikap nyeleneh yang dimiliki.

Sebagaimana kita ketahui, selain dikenal sebagai Presiden, Kiai, Budayawan dan Penggerak Sosial, Gus Dur dikenal juga sebagai sosok komedian, karena sikapnya yang kadang jenaka. Sikap itu pula yang membuat Gus Dur satu-satunya presiden yang mendapat gelar Humoris Causa dari masyarakat (hal 8). 

Misalnya saja dalam humor yang berjudul “Saya Ini Gembala Sapi, Dik” (hal 49).  Kisah ini membuat kita tertawa lewat jalinan kisah yang renyah dan unik. Namun yang pasti lewat kisah ini kita akan menemukan sindiran halus tentang bagaimana tingkah pola para DRP. Di mana Gus Dur pernah memaparkan bahwa DPR itu sama saja dengan Taman Kanak-Kanak. Karena sikap mereka yang tiap kali ada beda pendapat, bukannya di selesaikan dengan musyawarah dan kepala dingin, namun diselesaikan dengan pertengkaran hingga tinju melayang.

Lalu ada pula humor berjudul “Presiden Semar atas Petunjuk dari Langit. Secara tidak langsung dalam kisah ini penulis memaparkan tentang keluhuran sikap Gus Dur yang disamakan lewat tokoh pewayangan, Semar.  Digambarkan dia memiliki sikap aneh, perpaduan lucu, nyentrik, namun juga cerdas, jujur, sederhana, dan berpengetahuan luas.  Gus Dur juga  sosok yang bersahaja, bijak, sabar, tegas dalam memberantas kedurjanaan.

Tidak kalah menarik adalah “Jabatan Rangkap” yang mana dengan gagasan yang sederhana namun menusuk, tentang kebiasaan orang-orang yang rakus, hingga memiliki jabatan rangkap.  “Lho, Bapak  ini sudah jadi anggota DPR saja masih bisa merangkap jadi anggota MPR, masa nyetir sambil mendorong tidak bisa.” (hal 87).

Ada pula humor berjudul “Carok” selain mengkritisi tentang perseteruan para pejabat tinggai demi memenangkan kursi kekuasaan dan masalah Pansus Buloggate yang konon melibatkan Gus Dur.   Dari humor ini kita akan diajak mengenal lebih dekat tentang carok.  Bahwa carok sebenarnya adalah tradisi perang orang Madura ketika harus menghadapi sebuah permasalahan yang menyangkut harga diri, yang kemudian diikuti antar kelompok atau klan. Biasanya dalam tradisi ini orang madura berperang menggunakan clurit (hal 137).

Selain humor-humor tersebut, tentu saja masih banyak humor lain yang tidak kalah menarik dan bikin penasaran hingga tertawa terpingkal-pingkal. Apalagi penulis sudah piawai dalam mengolah kata. Sederhana namun memikat, legit dan membuat ketagihan.  Misalnya saja humor “Pemilu Paling Murah” yang mengkritisi kebiasaan para caleg dalam kebiasaan bagi-bagi tanda jasa agar memiliki banyak pengikut.

“Kalau gambar-gambar di kertas suara itu nanti ditusuk sate, maka pakunya harus diikutsertakan juga. Kita tidak Cuma menyediakan satu paku untuk setiap pencoblosan. Jumlah paku harus seperti jumlah kertas suara. Bayangkan kalau seluruh Indonesia, sudah berapa paku. Mahal.” (hal 70).

Humor lainnya seperti Nasihat Secara “Sor Mejo Keh Ulane”, Kunjungan dalam Negeri dengan Bejak, Sidang Pansus Buloggate,  Juru Bicara Presiden, Sepatu Tentara, Kisah Pendorong Komedi Putar, Nyanyian Tanah Madura dan banyak lagi.

Maka tepat sekali ketika Moh, Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2011, dalam endorsnya memaparkan, “Dengan cara canda yang segar Suwijo Tejo selalu berhasil melancarkan kritik tajam kepada kita tanpa membuat kita marah. Buku Kelakar Madura Buat Gus Dur contohnya. Dia gambarkan Gus Dur menggunakan kekuasaannya dengan enteng, tampa beban dan berani. Dia gunakan setting masyarakat Madura yang lugu, menggemaskan, cerdik tapi tidak licik. Isinya kritik kanan kiri, tembak sana tembak sini.”

Buku ini patut diapresiasi. Membacanya kita akan mendapat banyak pengetahuan juga mendapat hiburan yang menyenangkan.

Srobyong, 22 Juli 2018



Wednesday, 12 September 2018

[Resensi] Revolusi Mental Sebagai Jalan Membangun Karakter Bangsa

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 24 Agustus 2018


Judul               : Bung Karno dan Revolusi Mental
Penulis             : Sigit Aris Prasetyo
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, November 2017
Tebal               : 380 halaman
ISBN               : 978-602-7926-37-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Revolusi mental dalam konteks historis jelas tidak dapat dipisahkan dengan sang konseptor, Bung Karno. Pada tahun  1950-an, dia telah melihat berbagai bibit penyakit mentalis yang menggerogoti mentalitas anak bangsa, baik di masyarakat dan pemerintahan yang dianggapnya kontra revolusi (hal 11). Oleh karena itu dalam pidato di hari kemerdekaan,  tanggal 17 Agustus 1957 Bung Karno mengajak segenap warga Indonesia untuk melakukan  revolusi mental.

“National building membutuhkan bantuannya Revolusi Mental! Karena itu, adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah.” (hal 18).

Di mana maksud revolusi mental adalah sebuah ajakan untuk melakukan perubahan dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Kita diharapkan meninggalkan sikap-sikap buruk yang akan merugikan diri sendiri juga bangsa. Dan konon gasasan Bung Karno tentang “Revolusi Mental” saat ini, tengah disemaikan dalam program Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Menilik dari sebab musabab tersebut, Sigit Aris Prasetyo mencoba menguraikan secara sederhana perihal “Revolusi Mental” melalui potret perkataan, tindakan, karakter dan kehidupan sehari-hari dari Bung Karno. Dengan harapan kita bisa meneladani dan mengimplementasikan nilai-nilai positif yang masih relevan dalam konteks kekinian sebagai upaya membangun bangsa negara yang memiliki karakter unggul.

Di antaranya Bung Karno selalu menggemborkan semangat nasionalisme kepada seluruh rakyat. Karena semangat nasionalisme-lah  yang akan menjadikan warga negara selalu mencintai dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa.  Tanpa nasionalisme sebuah bangsa seperti hidup tanpa roh. Tanpa nasionalisme sangatlah mustahil suatu bangsa dapat tumbuh sebagai bangsa besar. Bahkan sebaliknya, dapat menjadi bangsa lemah, rapuh dan mudah terombang-ambing dalam percaturan politik global (hal 26).

Kita juga harus membina kebhinekaan. Mengingat Indonesia, merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku, budaya, agama dan bahasa. Oleh karenanya kita harus menjaga  persatuan tanpa membedakan perbedaan yang ada. Bung Karno pernah berkata, “Kebhinekaan harus terus kita bina, karena justru kebhinekaan inilah unsur menjadikan Ekaan. Bhineka tunggal ika harus kita pahami sebagai satu kesatuan dialektis.” (hal 36). Dengan membina dan menjaga ke-Bhineka Tunggal Ika-an, bangsa Indonesia dapat terus bersatu dan tidak mudah terpecah belah seperti beberapa bangsa lain. 

Tidak ketinggalan, Bung Karno mengingatkan kita untuk  selalu memiliki toleransi beragama. Dia berkata, “Bhineka Tunggal Ika sudah jelas mengatur hidup soal toleransi beragama. Walau kita berbeda agama, suku hingga warna kulit tapi kita tetap satu.” (hal 47). Hal ini ditunjukkan dengan lokasi  Masjid Istiqlal yang dibangun tepat berhadapan dengan  Gereja Katedral. Inilah simbol toleransi bergama yang ingin ditunjukkan Bung Karno. Sikap Bung Karno itu kemudian mengantarkannya sebagai pemimpin negara paling toleran terhadap keberagamaan.

Selanjutnya Bung Karno mengkritisi para pelaku koruptor. Di mana dia menganggap para koruptor sebagai pengkhianat negara. Perilaku tersebut lebih buruk dan hina daripada kejahatan lainnya. Korupsi bukan kejahatan biasa, namun sebagai kejahatan luar biasa. Menurutnya seorang koruptor harus diposisikan ke dalam kasta sosial paling rendah di masyarakat, lebih rendah dari kasta sudra sekalipun (hal 56).

Dalam  pidatonya di depan Kongres Persatuan Pamong Desa, tanggal 12 Mei 1964 di Jakarta, dengan gambalang Bung Karno menista para pelaku koruptor. Bung Karno juga mewanti-wanti rakyatnya untuk tidak melakukan praktik perilaku buruk tersebut.

Selain beberapa hal tersebut, masih ada sikap-sikap yang perlu kita miliki. Seperti anjuran untuk selalu mengayomi orang kecil, selalu mandiri, meningatkan minat baca, tidak melupakan sejarah, selalu bergotong royong, berani bermimpi  dan berimajinasi serta  banyak lagi. Lalu kita juga diingatkan untuk meninggalkan sikap-sikap, seperti ketamakan, kemasalan, kemesuman, keinlanderan—selalu rendah diri, individualisme, dan ego-sentrisme. Kita dituntut untuk menjadi warga Indonesia seutuhnya, menjadi manusia pembina. Sebuah buku yang patut dibaca semua lapisan masyarakat sebagai renungan dan perbaikan diri demi mewujudkan masyarakat unggul dan berkarakter.

Srobyong, 7 Desember 2017

Wednesday, 18 April 2018

[Resensi] Penegak Hukum Harus Adil dan Berintegritas

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 13 April 2018 


Judul               : Sogok Aku Kau Kutanggkap
Penulis             : Haidar Musyafa
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : ix + 434 halaman
ISBN               : 978-602-7926-36-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Buku ini membahas tentang biografi Artidjo Alkostar.  Seorang penegak hukum yang sangat memegang keadilan dan berintegritas tinggi. Dia tidak mudah disuap dan dipengaruhi. Mahfud MD—guru besar Fakultas Hukum UII, berkata, “Jangan pernah berpikir, siapa pun bisa mempengaruhi Artidjo untuk melenceng dari  penegakkan hukum dan keadilan. Artidjo tak takut pada ancaman fisik, tak risau dengan gertakan satet, tak mempan dengan uang dan tidak peduli dengan persahabat, jika integritasnya sebagai penegak hukum ternodai.”

Hal ini bisa dilihat dari sepak terjang Artidjo yang sejak menempuh pendidikan hukum di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Dengan sikap tegas dan menjunjung tinggi keadilan, dia selalu berusaha meluruskan hal-hal yang dia rasa menyimpang dan tidak sesuai dengan hukum. Pernah ketika dia sudah menjabat sebagai hakim, seorang teman lamanya yang merupakan seorang pengacara datang bermaksud menyuap Artidjo, agar  memudahkannya dalam sebuah kasus. Tentu saja permintaan itu langsung ditolak mentah-mentah olehnya (hal 11). 

Saat masih menjadi mahasiswa, Artidjo juga tidak segan-segan memberi kritik pedas pada pihak kampus tempatnya menuntut ilmu, karena merasa apa yang diajarkan para dosen, sangat jauh berbeda dengan praktik di lapangan.  Artidjo berkata, “Jelas-jelas kita melihat bahwa hukum masih banyak diselewengkan di negeri kita ini? Tidakkah kita memiliki untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, sebagaimana cita-cita luhur bangsa kita ini?” (hal 194).

Ketika sudah menyelesaikan pendidikan hukumnya, selain menjadi dosen di UII, Artidjo juga menjadi pengacara di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) cabang Yogyakarta yang dibangun oleh  Adnan Buyung Nasution. Dengan sikapnya yang tegas dan selalu menjunjung tinggi keadilan, dia berperan aktif membantu rakyat miskin memperjuangkan hak-haknya (hal 293).

Artidjo juga berperan aktif berusaha menyelesaikan masalah “Tebu Rakyat” yang dialami petani miskin di daerah Sumenep. Di mana program yang dirancang pemerintah ini, justru merugikan para petani.  Selain itu Artidjo juga menangani berbagai macam kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia. Dia mengabdikan diri untuk kepentingan bangsa dan negara, dengan cara berusaha menegakkan kebenaran dan keadilan. Namun meski tidak selalu berhasil memenangkan perkara yang ditanganinya, Artidjo tetap berkomitmen menjadi penegak hukum yang bersih.

Dia sangat menyayangkan, ketika hukum belum bisa bekerja secara maksimal untuk menciptakan keamaan, keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Hukum akan menjadi tajam, jika yang melakukan pelanggaran adalah orang-orang kecil. Tapi hukum akan menjadi sangat tumpul jika yang melakukan pelanggaran itu adalah orang-orang yang memiliki uang dan kekuasaan.

Bahkan hukum sama sekali tidak akan berguna ketika aparat penegak hukum ikut terlibat dalam satu perkara. Artinya hukum hanya ditegakkan pada orang-orang yang lemah, kaum miskin dan rakyat kecil. Sementara kaum elite hukum bisa dibeli dengan uang, karena mereka bisa memanipulasi hukum (hal 197).

Dalam usahanya menjadi penegak hukum yang bersih tentu tidak mudah. Karena dari berbagai sisi banyak orang-orang yang tidak menyukai tindakan Artidjo dan berusaha menjatuhkan dirinya. Namun begitu Artidjo tetap berdikir tegak menjunjung keadilan yang dia yakin. 

Beruntung dia memiliki seorang istri, ayah dan ibu  yang selalu mendukungnya. Memberi kekuatan jika dia merasa lemah dan lelah. Karena sebagai manusia biasanya, ada kalanya dia merasa ragu dan takut. Merekalah tempat Artidjo berbagi pemikiran dan kadangkala dia juga berdiskusi dengan para kiai untuk memperoleh ketenangan hati, agar semakin yakin dalam perjuangan yang dilakukan.

Buku ini memaparkan keteguhan Artidjo dalam mempertahankan prinsip keadilan dalam masalah hukum. Sebuah buku yang patut diapresiasi dan diteladani. Kita diingatkan tentang pentingnya berjuang menegakkan keadilan dengan sepenuh hati.

Srobyong, 18 Januari 2018 

Sunday, 12 November 2017

[Resensi] Jalan Dakwah Sunan Kalijaga di Tanah Jawa

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 5 November 2017 


Judul               : Islam Mencintai Nusantara : Jalan Dakwah Sunan Kalijaga
Penulis             : B. Wiwoho
Penerbit           : Pustaka Iman
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 306 halaman
ISBN               : 978-602- 8648-20-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Para sarjana berbeda pendapat mengenai kedatangan Islam di Indonesia. Kebanyakan sarjana Orientalis berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke -13 Masehi dari Gujarat (bukan dari Arab langsung). Sedangkan kebanyakan sarjana Muslim berpendapat bahwa Islam sudah sampai ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah—sekitar abad ke -7 sampai abad ke -8 Masehi, langsung dari Arab (hal 13).

Akan tetapi ada satu kenyataan yang disepakati bahwa kedatangan Islam ke Indonesia dilakukan secara damai. Islam, dalam batas-batas tertentu, disebarkan oleh pedagang, bersama atau kemudian dilanjutkan oleh para guru dan pengembara sufi.  Kemudian terjadi perkawinan campuran antara penyebar agama dengan penduduk setempat yang merupakan anak bangsawan Indonesia, sehingga kedudukan sosial mereka meningkat lebih tinggi.

Setelah  para pedagang dan penyebar agama itu memiliki kedudukan yang  cukup kuat, mereka membangun pusat-pusat pendidikan yang lebih dikenal dengan sebutan pesantren. Di Tanah Jawa sendiri kedatangan Islam tidak bisa terpisah dengan sentuhan dari para wali yang lebih dikenal dengan sebutan Wali Sanga (Wali Sembilan)—sebuah dewan wali yang memiliki otoritas tertinggi dalam keagamaan dan penyebaran agama pada zamannya. Sebagaimana sebutannya Wali Sanga itu terdiri dari sembilan wali. Mereka memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di nusantara.

Dan Sunan Kalijaga merupakan salah satu tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Dalam pendekatan untuk mengenalkan agama Islam, Sunan Kalijaga ini memiliki cara yang unik.  Sunan Kalijaga melihat bahwa masyarakat masih kental dengan tradisi Hindu, Budha dan kepercayaan-kepercayaan lama. Oleh karena itu dia mencoba menyerap budaya dan tradisi yang sudah ada untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam.   Menurut Sunan Kalijaga menyampaikan ajaran Islam perlu disesuaikan dengan keadaan setempat, sedikit demi sedikit. Kepercayaan, ada istiadat, dan kebudayaan lama tidak harus dihapus. Bahkan diisi dengan unsur dan roh keislamaan.

Salah satu pendekatan yang dilakukan Sunan Kalijaga adalah menjadikan wayang kulit sebagai media pendidikan atau dakwah. Di mana dia menampilkan tokoh-tokoh favorit rakyat dalam kisah dialog tentang tasawuf dan akhlakul karimah. Selain itu Sunan Kalijaga juga mengenalkan Islam melalui puisi berbahasa jawa—yang biasanya disebut tembang macapat—yang sampai saat ini masih banyak dipelajari. Salah satunya adalah Suluk Kidung Kawedar, yang terdiri dari 46 bait. Keberadaan Suluk Kidung Kawedar ini, membuat masyarakat senang. Karena Sunan Kalijaga tidak mengecam kepercayaan sudah ada dalam masyarakat.

Misalnya saja dalam bait pertama Suluk Kidung Kawedar dipaparkan,  “Ana kidung rumeksa ing wengi/ teguh ayu luputa ing lara/ luputa bilahe kaleh/ jim setan datan purun/ peneluhan tan ana wani/ miwah penggawe ala/ guna ning wong luput, geni temahan tirta/ maling adoh tan wani ngarah ing mami/ tuju duduk pan sarah.”

Bait ini bermakna, “Ada tembang pujian menjaga malam/ membuat kita selamat dan jauh dari segala penyakit/ terbebas dari segala mara bahaya/ jin dan setan tidak berani/ guna-guna (atau teluh) tidak mempan/ juga perbuatan buruk, dari orang-orang jahat/  api menjadi dingin bagaikan air/ pencuri menjauh tiada yang berani mengincar saya/ segala mara bahaya sirna.” (hal 65-66).

Lalu pada bait-bait berikutnya Sunan Kalijaga mengenalkan tentang sejarah para nabi, sahabat dan keluarganya. Ada pula dipaparkan para malaikat yang mendampingi kita, pentingnya zikir, keutamaan surat Al-Ikhlas dan ayat kursi. Tidak ketinggalan dijelaskan juga tentang ulama-ulama  tasawuf  yang memiliki peran dalam mengislamkan jawa,  serta menganti sesajen dengan sedekah.

Namun dalam dakwahnya,  Sunan Kalijaga tidak langsung  mengecam dan membuang nilai-nilai agama dan kepercayaan lama yang sudah dianut masyarakat. Yang dilakukan Sunan  Kalijaga adalah menyusupkan nilai-niali baru ke dalam agama, kepercayaan dan tata cara dan adat kebiasaan hidup yang sudah ada sebelumnya. Dengan metode dakwah ini, maka Nusantara—khususnya pulau Jawa, diislamkan, sehingga sekarang  menjadi negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia (hal 80).

Buku ini membuktikan bahwa Islam merupakan rahmatan lil alamin dan berwajah ramah. Cara dakwah Sunan Kalijaga menunjukkan kalau tidak ada pertumpahan darah atau paksaan, namun dengan taktik modifiksi budaya yang tidak menyakiti siapapun.

Srobyong, 23 September 2017 

Tuesday, 10 October 2017

[Resensi] Kisah-kisah Romantis dan Perjuangan Jendral Soedirman

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 8 Oktober 2017 


Judul               : Soedirman & Alfiah
Penulis             : E. Rokajat Asura
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : xxiv + 440 halaman
ISBN               : 978-602-7926-35-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Selama ini kita mengenal  Jendral Soedirman sebagai sosok yang pendiam, keras dan teguh dalam pendirian. Dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia, Soedirman tidak pernah ragu dan terus melangkah dengan penuh keberanian. Dia-lah yang mengenalkan siasat perang gerilya yang sukses membuat pasukan Belanda ketakutan.

Namun siapa sangka, di balik sifat keras yang dimiliki, Soedirman memiliki sisi lembut. Dia akan menjadi sosok romantis jika sudah berhadapan dengan Siti Alfiah, istrinya. Dia juga sosok ayah yang selalu mengayomi anak-anak dan seorang panglima yang selalu peduli pada pasukannya. Buku ini dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat, mengajak kita mengenal perjuangan Jendral Soedirman melalui catatan kisah percintaan yang manis dan keseharian Seodirman dalam memanusiakan manusia.

Kisah cinta Jendral Soedirman dimulai ketika mereka sama-sama bersekolah di MULO Wiworotomo. Saat itu Soedirman menjadi sekretaris himpunan siswa dan Alfiah sebagai bendahara. Hanya saja hubungan mereka sempat tidak direstui keluarga besar Alfiah.  Namun berkat kegigihan Soedirman, akhirnya dia bisa meluluhkan Sastroatmojo, ayah Alfiah, sehinga hubungan mereka direstui dan diizinkan menikah.

Sebagai seorang suami, Jendral Soedirman  selalu memerhatikan keperluan Alfiah.  Pernah suatu hari, setalah pulang dari rutinitas kerja—sebelum isu perang akan terjadi, dia pulang dengan membawa banyak bedak dan baju untuk Alfiah.  Ketika istrinya bertanya untuk apa semua barang itu, dengan manis Jendral Soedirman menjawab, “Baju dan bedak, Bu. Soalnya kalau ada serangan udara, semua toko bakal tutup.  Biar bagaimanapun, ibu harus tetap terlihat cantik.” (hal 51).

Atau pada suatu waktu, di sela kesibukan Soedirman saat berkunjung ke Gumilir, dia masih sempat membelikan baju untuk Alfiah. Dan setiap ada sesuatu—baik tentang masalah mengajar atau tugas kententaraan,  Soedirman tidak segan-segan bercerita kepada Alfiah.  Mereka adalah pasangan yang hangat dan selalu terbuka.

Kepada tujuh anaknya, Soedirman selalu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang. Dia menekankan nilai-nila moral agama sebagai dasar nilai-nilai kehidupan. Dia juga selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk selalu bersikap jujur dan hidup dalam kesederhanaan. Soedirman pernah berpesan pada anak-anaknya, “aja reang, aja gegoh, sing guyub, sing rukun—jangan bertengkar, jangan saling benci, yang rekat, yang jujur.” Dan kepada para anak buahnya, Soedirman selalu memperlakukan mereka seperti layaknya keluarga.

Dan untuk tanah airnya, Soedirman selalu berada di baris paling depan untuk berjuang. Dia tidak pernah gentar dalam memerangi para penjajah.  Dalam konfersensi TKR—Tentara Keamanan Rakyat—Soedirman pernah menjelaskan tentang sikap yang harus dimiliki tentara. Di mana dipaparkan tentara mempunyai kewajiban untuk mempertahankan kedaulatan negara (hal 177).

Oleh karena itu ketika Belanda berkali-kali melanggar janji—misalnya dalam perjanjian Renville dan Linggarjati—hal itu benar-benar membuat Soedirman geram. “Perundingan itu tak lebih cara Belanda untuk mengulur-ulur waktu dan mencuri kesempatan menyerang.” Itulah yang pendapat Soedirman (hal 228).

Dan ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta, Soedirman beserta kelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perlawanan  gerilya selama tujuh bulan. Padahal kala itu Soedirman baru saja sembuh dari penyakitnya. Namun rasa sakit itu sama sekali tidak membuatnya gentar. Dia tetap gigih dalam usaha mempertahankan kedaulatan Indonesia, yang saat itu memang sudah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Soedirman berkata, “Tubuhku memang semakin lemah, tapi aku tak menyerah.” (hal 337).

Sampai akhir hanyatnya, Soedirman terus mendikasikan dirinya untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.  Sebuah novel biografi yang patut mendapat apresiasi dari semua kalangan. Di sini kita diajak membaca sejarah lewat kisah manis yang tidak monoton  dan kaku. Belum lagi dari buku ini kita juga mengenal sisi lain Jendral Soedirman.   Selain selalu mencintai tanah airnya, dia juga sangat mengayomi keluarga dan selalu memanusiakan manusia—selalu menghormati tanpa membedakan pangkat atau derajat.


Srobyong, 28 Agustus 2017