Showing posts with label Duta Masyarakat. Show all posts
Showing posts with label Duta Masyarakat. Show all posts

Saturday, 22 December 2018

[Resensi] Perjuangan Ahmad Dahlan dalam Pembaharuan

Dimuat di Duta Masyarakat, Sabtu 8 Desember 2018


Judul               : Jejak Sang Pencerah
Penulis             : Didik L Hariri
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, 1 Juni 2018
Tebal               : iv + 187 halaman
ISBN               : 978-602-573-429-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Selain dikenal sebagai tokoh pendiri ormas Islam di Indonesia,  Ahmad Dahlan juga dikenal sebagai pahlawan nasional.  Dia lahir pada tanggal 1 Agustus 1868 dengan nama aslinyanya Muhammad Darwis. Namun dalam perkembangannya, dia lebih dikenal dengan nama Ahmad Dahlan. Selama masa perjuangan dan pembaharuan, banyak sumbangsih yang telah diberikan Ahmad Dahlan untuk kemajuan bangsa Indonesia.  Dengan sikap teguh, luwes dan tidak mudah menyerah, dia  berjuang demi kemaslahatan umat.

Ahmad Dahlan mencoba meluruskan pehamanan yang kurang benar, yang banyak dianut oleh masyarakat Kauman. Misalnya tentang kebiasaan melakukan sesajen di kuburan atau di pohon-pohon besar dan laku umat yang masih meniru unsur kebiasaan lama adat Jawa. Karena takutnya, kebiasaan itu bisa menyerat masyarakat kembali kepada kesyirikan. Semestinya umat Islam harus selalu berpegang teguh pada Al-Quran dan hadis.

“Inti sari Al-Quran adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat. Iman harus didasari ilmu yang benar, karena  kebodohan terhadap selubung keimanan sangat membahayakan. Dan ditegaskan kembali bahwa iman yang taklid tidak saha menurut beberapa ulama muhaqiqin.” (hal 37).

Selain itu, Ahmad Dahlan juga mencoba memperkenalkan ilmu falak sebagai cara untuk mentapkan hari dimulainya puasa atau hari raya dan juga tentang penetapan tata letak kiblat yang semestinya. Karena dari beberapa mushala, langgar atau Masjid yang berada di Kauman, Dahlan melihat penetapan kiblat belum tepat. Akan tetapi pemikiran Ahmad Dahlan ini banyak ditentang oleh banyak tokoh-tokoh ulama di Kauman dan keraton, apalagi dari Kanjeng Penghulu Muhammad Khalil Kamaludiningrat.

Ahmad Dahlan dianggap sudah sesat dan keluar dari Islam. Bahkan Kanjeng Penghulu menghancurkan masjid yang dibangun Ahmad Dahlan, agar tidak menyalahi adat yang sudah berlaku di Kauman sejak lama. Keadaan itu sempat membuat Ahmad Dahlan marah dan meninggalkan tempat kelahirannya dan berjuang di dearah lain. Namun setelah dibujuk istri dan sudara-saudaranya, Ahmad Dahlan mencoba untuk lebih sabar dan berdakwah.

Bersamaan dengan itu, Ahmad Dahlan mulai tertarik untuk ikut bergabung dengan organisasi “Boedi Oetomo” yang berpikiran moderen, yang sekaligus membuka matanya  dalam melihat kondisi memprihatinkan masyarakat Jawa di tangan kolinial (hal 127).

Setelah bergabung dengan Boedi Oetomo, kemudian Ahmad Dahlan mendirikan perserikatan Muhammadiyah  yang bergerak dalam ranah agama dan pendidikan. Dia  menyuarakan tentang pentingnya kembali pada Islam yang kaffah dan  mendapat pendidikan. Hal itu pula yang kemudian membuat Ahmad Dahlan membuat sebuah sekolah.

Namun tentu saja perjuangan Ahmad Dahlan tidak berhenti di sana. Dalam jalan perjuangannya, masih banyak aral melintang yang kerap menyapanya. Dia dicibir dan dihujat. Akan tetapi hal itu tidak membuat Ahmad Dahlan menyerah. Dia tetap berjuang dengan  jiwa yang kuat, hingga ajal menyemputnya.

Melalui kisah ini kita bisa melihat tentang keteladan sosok Ahmad Dahlan yang sangat menginspirasi. Perjuangannya dalam perbaharuan Islam dan mencerdaskan bangsa patut kita lanjutkan. Buku ini sangat menarik dan banyak menambah wawasan sejarah bagi pembaca. Hanya saja buku ini kurang lues dalam menceritakan kisah “Sang Pencerah”. Namun lepas dari kekurangnnya buku ini sangat rekomended untuk dikenalkan pada khalayal ramai.  Perjalanan kisah hidup Ahmad Dahlan, mengajarkan kepada kita tentang usaha keras dan tidak mudah menyerah dalam berjuang, baik untuk memperbaiki tatatan Islam serta mencerdaskan bangsa.

 “Problem hidup baginya adalah pembelajaran diri.  Semakin tahun, popularitasnya semakin diuji, begitu pula dengan kesabaran dan sikap tawakal terhadap hal-hal yang dia rencanakan, ia harap semua menjadi amal sosial yang diridhai Allah swt.” (hal 99).

Srobyong, 4 November 2018

Tuesday, 19 December 2017

[Resensi] Peran H.O.S Tjokroaminoto dalam Pergerakan

Dimuat di Duta Masyarakat, Sabtu 9 Desember 2017 


Judul               : Tjokroaminoto
Penulis             : Tim Tempo
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : xvi + 162 halaman
ISBN               : 978-602-424-402-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Diangkat dari edisi khusus Majalah Berita Mingguan Tempo, buku yang membahas tentang  peran Tjokroaminoto  dalam pergerakan ini dipaparkan dengan apik dan menarik.   Tokoh yang  lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 18 Agustus 1882 ini dengan  kemampuannya dalam berorasi dan tulisannya yang telah tersebar di berbagai media,  telah memberi inspirasi puluhan ribu orang dan menumbuhkan semangat kebangsaan.

Meski berdarah bangsawan, sejak awal Tjokro ini sangat menentang keras feodalisme. Dia berjuang untuk meretas jalan kesetaraan. Hal ini terlihat jelas dalam salah satu tulisannya berupa sajak yang dimuat di Doenia  Bergerak tahun 1914. Dia  mengkritisi penindasan dan perbedaan derajat manusia.  Begitu pula dalam berbagi pidato yang dia suarakan. Oleh karena itu dia dijuluki sebagai “Gatotkoco Serikat Islam” (hal 7).

Karir perjuangannya semakin melesat ketika dia mulai bergabung di Organisasi Sarekat Islam Mei 1912—sebuah Organisasi yang didirikan oleh Haji Samanhoedi, seorang saudagar batik. Di mana organisasi ini didirikan ketika ada persaingan dagang antara Pribumi dan Cina.  Dan berkat tangan dingin Tjokro, organisasi itu menjadi gerakan politik yang besar dan kuat.   Dalam kepemimpinannya di Sarekat Islam, sejarawan Bonnie Triyana menilai salah satu keunggulan Tjokro adalah sikap egaliter. Dia tidak memandang usia, status atau jabatan. Yang terpenting para anggota beragama sama (hal 36).

Upaya yang dilakuakan Tjokro untuk membawa Sarekat ke level nasional yaitu  merancang delapan program untuk memperjuangkan hak rakyat. Di antaranya menghapus kerja sama, mengizinkan pedidikan. Sarekat juga mendesak penghapusan peraturan yang menghambat penyebaran Islam. Itulah sebabnya Sarekat Islam semakin mendapat dukungan besar.  Mengingat dia memperjuang kepentingan rakyat dan umat Islam pada khususnya. Selain mengurus pergerakan Sarekat Islam, Tjokro juga rutin menuangkan ide-idenya di surat kabar, Oetoesan Hindia. Dia menulis dengan topik yang beragam. Mulai dari politik, hukum hingga perbedabatan antara paham sosialisme dan Islam.

Selama bergerak dalam perjuangan Tjokro berpegang pada beberapa prinspi yang pernah dia tulis dan diterbitkan dalam Sendjata Pemoeda, surat kabar PSSI. Dia mengaskan : keutamaan, kebesaran, kemuliaan, dan kebernaian bisa tercapai lewat ilmu tauhid, ilmu tentang ketuhanan (hal 30).  Tjokro memang amat meyakini Islam mengandung banyak nilai sosialisme. Oleh karena itu dia  ingin membumikan perjuangan  yang bersandar pada Islam sebagai basis ideologi.

Selain berjuang dalam ranah politik, Tjokro juga memiliki kepedulian dalam pendidikan.  Pada tahun 1930-an, banyak berdiri sekolah Tjokroaminoto yang dibangun di cabang-cabang PSII—Partai Sarikat Islam Indonesia di semua wilayah. Silabus dan kurikulumnya didasari buku Moeslim National Onderwijis yang ditulis Tjokro 1925. Sekolah-sekolah itu mengajarkan soal arti kemerdekaan, budi pekerti, ilmu umum dan ilmu keislaman. Menurut Tjokro, asas-asas Islam sejalan dengan demokrasi dan sosialisme. Maka kamu muslimin harus dididik menjadi muslim sejati untuk mencapaai kemerdekaan umat.

Kiprah Tjokroaminoto ini pada akhirnya membuat dirinya disebut-sebut sebagai guru para pendiri bangsa. Karena lewat didikannya, lahirlah para bumiputra  yang akhirnya memulai gebrakan dalam pergerakan. Sebut saja Tan Malam, Sukarno, Musso, Semaoen, Alimin hingga Kartosoewiryo.

Reportase ulang tentang Tjokroaminoto ini telah membuka wawasan kita tentang kehidupan pendiri republika yang inspiratif, tapi juga  penuh intrik pemikiran dan petualangan. Disusun dengan bahasa yang mudah dipahami, menjadi sisi positif ketika membaca buku ini. Dilengkapi dengan foto-foto dukementasi, semakin menambah rasa  perjuangan yang terjadi di masa lalu. Hanya saja karena buku ini tidak  ditulis penulis tunggal—merupakan kumpulan tulisan bergaya jurnalistik dari beberapa penulis, maka kita harus pandai-pandai menyusun rangkain kisah yang ada.     

Srobyong, 22 Oktober 2017

Friday, 10 November 2017

[Resensi] Peran dan Kedudukan Wanita dalam Islam

Dimuat di Harian Duta Masyarakat, Sabtu 4 November 2017


Judul               : My Soul is a Woman : Aspek Feminin dalam Spiritual Islam
Penulis             : Annemarie Schimmel
Penerbit           : Mizan
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               :  292 halaman
ISBN               : 978-979-433-984-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Jumlah buku yang membicarkan kaum wanita dalam Islam, berkembangan  sangat cepat. Telaah-telaah sosiologi dikerjakan, masalah-masalah medis diteliti, dan aspek-aspek positif maupun negatif diselidiki. Pendeknya topik mengenai “wanita dalam Islam” ini sedang mode dan tidak ada habisnya (hal 41).   Salah satu buku yang membahas kaum wanita adalah My Soul is a Woman karya Annemarie Schimmel—penerima “Peace Prize 1995” dari Geman Book Trade. Dengan mencari pendekatan yang baru, dia berharap dapat menimbulkan pemahaman yang lebih baik tentang kedudukan dan peranan wanita.

Dalam buku ini Schimmel mencoba menampik tentang pendapat yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang secara terang-terangan memusuhi kaum wanita. Padahal Nabi Muhammad sendiri pernah berkata, “Allah telah membuatku menyayangi dari duniamu, kaum wanita dan wewangian, dan kebahagiaan bagi mataku adalah ketika shalat”. Kaum wanita itu harum : “baik” dan “wangi” (hal 55-56).

Sebut saja,  istri pertama Nabi Muhammad, Siti Khadijah.  Dia adalah wanita yang memiliki sifat welas asih dan dermawan. Ketika Nabi Muhammad mendapat wahyu pertama dan merasa ketakutan, Khadijah dengan lemah lembut menenteramkan hati dan mendukung Nabi Muhammad. Khadijah meyakinkan bahwa wahyu-wahyu yang diterimanya di gua Hira, ketika dia ber-khalwat, bukanlah ulah setan, melainkan berasal dari Tuhan.

Selain itu, Khadijah juga berperan sebagai penyumbang dana untuk kemajuan dakwah Nabi Muhammad.  Sehingga karena perannya itu, Khadijah mendapat gelar sebagai Ibu kaum Beriman dan Wanita Terbaik—khair an-nisa’ (hal 62).  Khadijah merupakan salah satu wanita yang sudah ditetapkan Allah sebagai ahli surga.

Ada juga Aisyah. Istri termuda Nabi Muhammad. Dalam masa hidupnya, Aisyah termasuk wanita cerdas. Kecerdasan yang dimilikinya itu, dia gunakan  membantu  Nabi Muhammad dalam penyebaran Islam. Selain itu Aisyah memiliki sumber banyak hadis, terutama yang berkaitan dengan kehidupan Nabi.  Aisyah juga dipilih Allah sebagai ahli surga, karena ketaatan yang dimiliki.

Tidak ketinggalan adalah Fatimah—putri tercinta Nabi. Dia adalah seorang putri yang sangat berbakti kepada orangtuanya. Dia tidak pernah takut menentang para kafir Quraisy yang berani mencelakai ayahnya.  Fatimah juga seorang yang sangat dermawan. Bahkan demi membantu orang lain, dia rela menahan lapar. Fatimah adalah teladan wanita dari para wanita lainnya. Dia adalah wanita yang sangat dicintai Rasulullah dan Allah.

Dari sisi sufi, ada Rabiah  Al-Adawiyah, wanita yang berasal dari Basrah. Dia adalah wanita yang menandai awal gerakan mistik yang sesungguhnya dalam Islam. Dia  diyakini telah mengubah asketisme yang  suram menjadi mistisisme cinta kasih yang murni.  Setiap orang mengenal kisah bagaimana tokoh asketik yang saleh itu berlari melintasi Basrah dengan seember air di satu tangan dan obor yang menyala di tangan lain.

Dan ketika ditanya kenapa dia melakukan itu, Rabiah  berkata, “Aku ingin menuangkan air ke neraka dan mengobarkan api di surga, sehingga keduanya ini lenyap dan tak seorang pun akan menyembah Tuhan karena takut akan neraka atau mengharap surga, melainkan semata-mata demi keindahan-Nya yang abadi.” (hal 71-72). Hal inilah yang kemudian mengantarkan Rabiah sebagai kekasih Allah.

Kemudian  ada Maryam, wanita pilihan yang dipaparkan dalam Al-Quran. Dia adalah wanita perawan yang kemudian menjadi ibu dari Nabi Isa. Dia sangat dihormati dalam Islam. Seperti yang dikemukakan dalam sebuah hadis, dialah yang pertama akan masuk surga. Sebelum dipilih menjadi ibu dari Nabi Isa, Maryam adalah wanita yang hanya mendedikasikan dirinya untuk beribadah kepada Allah.

Sedang untuk kedudukan wanita secara keseluruhan, maka kita bisa menilik sosok seorang ibu. Dalam Al-Quran telah dipaparkan bagi kaum beriman untuk memuliakan ibu. Kita juga dilarang membentak ibu.  Karena surga berada di telapak kaki ibu. Ibu adalah wanita yang sangat berjasa, karena dari seorang ibu, lahir-lah para anak-anak yang saleh dan salehah. Dan Ibu yang salehah itulah yang mendapat  rahmat Allah dan mendapat kemuliaan yang tinggi.  Kesimpulannya adalah, Islam adalah agama yang memuliakan wanita. Wanita memiliki kedudukaan dan peranan yang sama dengan laki-laki dalam Islam.

Srobyong, 14 Juli 2017 

Friday, 20 October 2017

[Resensi] Kemuliaan Berbakti kepada Orangtua

Dimuat di Duta Masyarakat, Sabtu 14 Oktober 2017 

Judul               : Mutiara Hikmah Islam
Penulis             : Syamsul Rijal Hamid
Penerbit           : Qibla
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : xii + 324 halaman
ISBN               : 978-602-394-661-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

Berbakti kepada orangtua merupakan amal yang utama. Dalam surat Al-Isra’ ayat 23 dijelaskan, “Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya, ‘ah’, jangan kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan mulia.”  Hal ini sangat jelas bahwa kita sebagai anak diwajibkan untuk berbakti kepada orangtua.

Buku ini mencoba mengulas lebih dalam tentang kemulian bagi siapa saja yang berbakti kepada orangtua.  Allah pernah memberi wahyu kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa, berbuatlah baik kepada orangtuamu karena sesungguhnya orang yang berbuat baik kepada ibu dan bapaknya akan dipanjangkan umurnya dan akan dianugerahi anak yang berbuat baik kepadanya. Sebaliknya barangsiapa durhaka kepada orangtuanya maka akan dikurangi umurnya dan akan diberi anak yang durhaka kepadanya.” (hal 4).

Kewajiban berbakti kepada kedua orangtua ini berlaku bagi siapa saja—termasuk berlaku bagi setiap muslim yang kedua orangtuanya menganut agama lain. Alasannya adalah, meskipun ibu dan bapak kita tidak seiman, harus diakui bahwa merekalah yang telah memelihara dan membesarkan kita. Jadi, kita tetap wajib menghormati dan menyayangi mereka (hal 5).

Perlu diketahui alasan lain kenapa Allah memerintahkan kita berbakti kepada orangtua adalah karena surga berada di telapak kaki ibu. Dan perlu disadari juga bahwa dengan mendapat rida Allah, sama halnya kita mendapat rida dari Allah—tentu saja dalam hal ini menyangkut hal-hal kebaikan.

Ada sebuah kisah tentang betapa berbakti kepada orangtua itu akan membawa kemulian bagi anak. Misalnya kisah Uwais bin Amir. Dikisahkan dia merupakan seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Oleh karena itu Allah memberi kemuliaan, berupa doa yang makbul—doanya dikabulkan oleh Allah. sehingga banyak orang berbondong-bondong datang untuk meminta didoakan. Itu merupakan cara Allah mengangkat derjat hambanya.

Ada pila kisah seorang ahli ibadah bernama Juraij. Pada suatu kali Juraij tengah khusuk salat. Lalu ibunya memanggil namanya berkali-kali. Merasa salat lebih penting, Juraij pun mengabaikan panggilan ibunya. Namun ternyata perbuatan Juraij itu mengundang amarah ibunya. Bahkan ibunya  mendoakan Juraij agar mendapat musibah. Benar saja beberapa kemudian, dia terjebak masalah dengan seorang pelacur yang mengaku telah melahirkan anak Juraij.

Kejadian itu membuatnya teringat dengan kemarahan ibunya. Sehingga dengan cepat Juraij meminta ampunan. Setelah itu akhirnya atas kuasa Allah, bayi itu itu bisa berbicara dan menyelamatkannya dari fitnah yang keji.  Selain itu ada pula kisah Abdullah bin Salam yang sehari-harinya ahli ibadah dan selalu bersedekah, namun karena dia telah menyakiti ibunya, dia kesulitan saat sakaratul maut (hal 24).

Maka sudah jelas, betapa berbakti kepada orangtua merupakan kewajiban bagi setiap anak dan tidak boleh disepelekan. Di mana Allah pun telah menjanjikan bahwa barangsiapa yang berbakti kepada orangtua, kita akan dimuliakan, mendapat berkah berlimpat ganda. Dan Allah juga telah memperingatkan jika kita durhakan kepada orangtua, pintu neraka dan azab Allah siap menimpa kita.

Sebuah buku yang sangat memotivasi dan menginspirasi. Mengajarkan kita untuk berbakti kepada orangtua. Selain itu dalam buku ini kita juga dikenalkan dengan berbagai hikmah islami yang bisa dijadikan jalan muhasabah. Di sini kita juga ingatkan bahwa apa yang kita petik adalah hasil dari apa yang kita tanam. Dipaparkan dengan bahasa yang renyah dan memikat membuat buku ini sangat asyik untuk dinikmati.

Srobyong, 28 Juni 2017 

Friday, 7 April 2017

[Resensi] Sejarah Indonesia di Mata Empat Perempuan Belanda

Dimuat di Duta Masyarakat, Minggu 26 Maret 2017 


Judul               : Tanah Air Baru, Indonesia
Penulis             : Hilde Janssen
Penerjemah      : Meggy Soedajmiko
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, November 2016
Tebal               : 336 hlm
ISBN               : 978-602-03-3541-4
Persensi           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama. Jepara

Hilde Janssen adalah  jurnalis dan ahli antropologi dari Belanda.  Tanpa sengaja dia menemukan sebuah foto yang bertuliskan “Wanita-Wanita Belanda dalam Perjalanan menuju Republika 1947” saat berkunjung menyaksikan eksposisi peringat “65 Tahun Republik Indonesia”.  Gambar itu terdiri dari Miny sambil memegang ukulele dan Annie dalam perjalanan kereta api dari pelabuhan Jakarta ke Yogyakarta, di perbatasan Kranji, Januari 1947. Di atara mereka berdiri suami Annie—Djabir dan militer Belanda (hal 6).

Hal itu kemudian menumbuhkan rasa penasaran pada Hilde yang menjadi latar belakang terbitnya buku ini.  Hilde lalu mencari tahu siapa saja wanita-wanita yang berada ada di foto dan alasan apa yang membuat mereka mendatangi Indonesia di tengah kecamuk perang antara Indoenesi dan Belanda dan kisruh politik yang penuh polemik.

Berbekal  foto itu akhirnya Hilde bertemu dengan Dolly Zegerius. Dan dari Dolly Hilde akhirnya mengenal keluarga Kobus—Miny, Annie dan Betsy. Pada usia yang masih mudah mereka memilih Indonesia sebagai tanah air baru dengan melakukan emigrasi pada tanggal 6  Desember 1946 dan sampai di pelabuhan Jakarta tanggal 1 Januari 1947 (hal 20).

Dolly menikah dengan Soetarjo Soerjosoemarno—dikenal dengan nama Tarjo yang masih keturan ningrat kesultanan Mangkunegara di Solo.  Mereka bertemu saat Tarjo menyelesaikan pendidikan topografi di Sekolah Tinggi Teknik di Delft (hal 43). Sedang tiga saudara Kobus itu menikah dengan laki-laki pribumi biasa. Miny menikah dengan Amarie—kelasi kelas barang,  Annie dengan Djabir—pekerja asal Madura dan Betsy dengan Djoemiran—buruh pelabuhan di Belanda.

Sebelum mereka memutuskan ber-emigrasi, di Belanda mereka juga tengah kisruh pasukan Jerman yang meringkus semua keturuan Yahudi di Belanda—termasuk ayah Dolly yang merupakan keturunan Yahudi.  Tapi meski akhirnya kisuruh selesai Dolly tetap memilik ber-emigrasi ke Indonesia, meski tahu di sana tengah ada polemik yang rumit. Begitupula tiga saudara Kobus. Ketika mereka memutuskan menikah dengan para pribumi, mereka akan ikut dengan suami mereka.  

Di Indonesia sendiri, ternyata hidup mereka tidak bisa dibilang menyenangkan. Mereka mengalami banyak kejadian pasang surut dan melihat dengan mata kepala sendiri tentang pergolakan kisruh politik dan usaha pemerintah dalam mempertahankan kemeredekaan Indonesia.  Belum lagi masalah penampilan mereka yang kadang dianggap sebagai mata-mata Belanda.

Pada tanggal 21 Juli 1947 mereka harus menyaksikan Agresi Militer I. Di mana Belanda telah mengingkari perjanjian Linggarjati yang sudah disetujui di mana Belanda akan mengakuis secara de facto kemerdekaan Indonesia.   Jadilah keadaan Indonesia masih kacau balau. Lalu Dolly dan tiga saudara Kobus juga harus terlibat pada Agresmi Militer II pada tanggal 9 Desember 1048.  

Mereka juga dihadapkan pada  masalah pembebasan Irian Barat, gerakan Gerakan 30 September—kudeta 1965. Pada saat itu terjadi pembantaian pada keluarga Jendral Nasution di mana memakan korban putrinya—Ade Irma Suyani. Hal ini tentu saja membuat Dolly sangat bersedih.  Sedang Miny sendiri harus menerima kenyataan suaminya, Nanang—suami kedua setelah Miny bercerai dengan Amarie dijebloskan ke penjara—Nanang dianggap sebagai tahanan politik kategori C. Nanang  disinyalir ada  hubungan dengan PKI.  (hal 202).

Tidak hanya itu mereka juga menyaksikan bagaimana jatuhnya Orde Lama, Timor-Timor dan peristiwa Mei 1988. Namun begitu berbagai kejadian yang menjadi warna kehidupan mereka, tidak menyurutkan rasa cinta mereka pada Indonesia.  Memang baik Annie, Betsy, Miny dan Dolly, mereka sempat diliputi ketakutan dan kekhawatiran juga kekecewaan. Namun itu tidak mengubah bahwa mereka tetap memilih Indonesia sebagai tanah air yang memberi banyak kisah.

Membaca novel ini, kita akan mengetahui sejarah Indonesia dari kacamata perempuan Belanda.  Dan semua perempuan itu sampai sekarang tetap bertahan di Indonesia—tepatnya di Jakarta Selatan. Menikmati masa tua bersama putra-putri dan cucu-cucu mereka. Diambil dari kisah nyata dan menggunakan tutur bahasa yang renyah, novel ini  sangat menarik dan memikat.  Banyak pembelajaran hidup juga belajar memakian rasa cinta pada tanah air.

Srobyong, 12 Maret 2017 

Tuesday, 28 March 2017

[Resensi] Konflik Politik, Kritik Sosial dan Minat Baca

Dimuat di Duta Masyarakat, Minggu 12 Maret 2017 


Judul               : Tanah Merah Surga
Penulis             : Arafat Nur
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Januari 2017
Tebal               :  312 hlm
ISBN               : 978-602-03-3335-9
Persensi           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


Bisa dibilang novel ‘Tanah Merah Surga’— yang merupakan  pemenang unggulan “Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016”  merupakan novel yang sangat berani. Bagaimana tidak?  Dalam buku ini pembaca akan dikejutkan dengan setiap kalimat  yang menyentak dan membuat kita mengangguk setuju. Karena memang begitulah keadaan yang sebenarnya telah terjadi.  Di sini  penulis menjadikan konflik politik di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) sebagai latar cerita yang penuh kejutan dan perenungan. Selain mengangkat isu politik, penulis juga mengemasnya dengan ide lain yang tidak kalah segar—tentang kritik sosial juga  tentang minat baca yang rendah. 

Kisahnya sendiri dimulai dengan kembalinya Murad –mantan tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) juga mantan anggota Partai Merah  yang sudah lima tahun dijadikan buronan karena telah membunuh Jumadil, anggota dewan dan tokoh penting Partai Merah (hal 24).  Kerinduan yang memuncak pada tanah kelahirannya, membuat Murad nekat untuk pulang kampung.  Bagaimana pun hidup di tanah sendiri lebih menyenangkan dari pada harus hidup dalam pelarian.

Hanya saja meski sebisa mungkin Murad sudah menyamarkan diri, ternyata masih banyak anggota Partai Merah yang mengenalinya. Beruntung Murad masih bisa berkelit. Dia bersembunyi di rumah sahabatnya, Abduh.  Di sini  Murad jadi mengetahui masalah minat baca yang rendah masih terus menghantui warga Aceh.

“Tolong jangan paksa aku membaca buku. Aku ini orang Aceh yang tidak suka baca buku. Jangan paksa aku. Membaca buku bisa membuatku mati. Suruh saja aku lari seribu meter, aku akan lari seribu meter daripada membaca satu halaman buku.” (hal 98-99).

Murad sungguh miris. Padahal dalam Al-Quran sendiri para umat dianjurkan untuk membaca. Tapi sepertinya warga Aceh sudah tidak terlalu peduli dengan kandungan Al-Quran. Di sisi lain, ketika dia mengunjungi sahabat-sahabat seperjungannya dulu, Murad dikejutkan dengan banyaknya perubahan yang tidak pernah dia duga.

“Tiba-tiba saja aku merasa asing pada tanah kelahiranku yang pulang ke rumah sendiri pun harus diam-diam dan sembunyi-sembunyi seperti pencuri. Orang-orang dekat dan sahabat karib kini menjadi musuh, bahkan mereka hendak membunuhku. Sementara aku harus menjauhi keluarga dan teman-teman dekat yang tidak terlibat politik. Sungguh asing negeri ini. Tanah ini rumahku, surgaku; tanah merah surga.” (hal 129).

Dan yang lebih membuat Murad merasa sedih adalah bagaimana roda pemerintah yang ada di Aceh saat itu. Aceh yang katanya digadang-gadang sebagai Serambi Mekah yang menetapkan   hukum Islam dalam segala peradilan, namun kenyataan tidak sesuai dengan pernyataan.

“Tampaknya pemberlakukan hukum ini gagal total dan tidak ada yang peduli. Sekalipun dicambuk, hubungan terlarang—pacaran terus saja terulang. Lagi pula hukuman keras ini hanya bisa diberlakukan untuk rakyat jelata yang lemah, sedangkan pejabat yang berzina sama sekali luput dari hukuman. Bahkan yang terbukti korupsi akan segera dibebaskan setelah menemukan kesepakatan bersama, dan hakim pun dengan senang hati menerima bagian hasil jarahan daripada sibuk menghukum orang-orang jahat yang punya banyak uang.” (hal 66-67).

Dan kisah semakin seru dengan keberadaan Murad yang mulai tercium aparat. Di mana dia semakin dijadikan kambing hitam dalam kisruh pemilu yang saat itu akan dilaksanakn dua  bulan lagi.

Membaca novel ini kita akan dikenalkan tentang dunia politik yang keras dan penuh intrik. Di mana kita tidak tahu siapa kawan siapa lawan. Bahkan kadang jalan kotor bisa dijadikan jalan asal membantu untuk mewujudkan ambisi yang dimiliki. Selain itu kita juga diajak menyelami masalah kritik sosial. Di mana pemerintah gagal dalam menjaga amanah yang dibebankan pada mereka. Banyak dana-dana yang tidak diberikan pada tempatnya, juga perilah korupis hukum, menganut paham uang adalah raja, yang bisa membeli apa saja. termasuk kebebasan dari jerat hukum.  

Dipaparkan dengan gaya bahasa yang tidak monoton membuat novel ini nyaman dibaca. Untuk kesalahan tulisan pun sangat minim. Hanya saja untuk beberapa bagian saya merasa kurang konflik yang membuat tegang dan terkejut. Tapi lepas dari itu, novel ini patut dibaca. Karena novel ini memberi banyak pembelajaran yang bisa dijadikan renungan. Termasuk masalah keagamaan yang kadang masih disepelekan.

Srobyong, 2 Maret 2017 

Monday, 26 December 2016

[Resensi] Memaknai Hakikat Pulang

Dimuat di Koran Duta Masyarakat, Minggu 18 Desember 2016 



Judul               : Pulang
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Republika Penerbit
cetakan            : 1, September 2015
Halaman          : iv+ 400 halaman
ISBN               : 978-602-082-212-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


Pulang memiliki berbagai makna dilihat dari konteksnya.  Ada kalanya pulang berarti kembali ke sisi Tuhan. Bisa juga berarti pulang kembali pada jalan yang benar. Atau bermakna pulang—kembali ke rumah, tempat asal.  Pada waktunya, semua orang akan pulang pada tempatnya masing-masing. Itulah hakikatnya. Begitu pula dengan Bujang atau lebih dikenal sebagai si Babi Hutan. Dia harus pulang ketika waktu yang ditentukan telah datang.

Sebuah novel yang memikat dengan gaya bahasa yang  renyah. Mengisahkan tentang Bujang yang pada satuan waktu harus meninggalkan Talang, Sumatra dan ikut ke kota bersama Tauke Muda.  Tepatnya dia diadopsi oleh keluarga Tong.  Salah satu keluarga besar dunia hitam.

Keputusan ini sejatinya sangat ditentang oleh Midah, Mamak Bujang. Bagaimanapun dia tahu pekerjaan apa yang dilakukan Tauke Muda di kota. Dia khawatir  akan jadi apa putrnya itu nanti. Namun, suaminya terus berusa mendesak Midah. Karena dulunya dia pernah membuat sebuah janji dengan Taukde Muda. Merasa tidak ada pilihan, Midah hanya bisa berpesan pada Bujang.

“Pergilah, anakku. Temukan masa depanmu. Sungguh, besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada dalam dirimu. Dan apa pun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah kau tidak akan makan daging babi dan anjing, juga menyentuh tuak. Jagalah perutmu dari makanan haram.” (hal 24).

Selama ikut Tauke Muda, Bujang diberikan pendidikan yang paling baik. Ini sangat tidak terduga sebagaimana persepsi Bujang yang mengira dia akan dijadikan tukang jagal.  Keputusan itu sempat membuat Bujang ingin menolak. Namun Tauke menasihatinya, “Masa depan Keluarga Tong bukan di tangan orang-orang yang pandai berkelahi. Masa depan keluarga ini ada di tangan orang yang pintar.” (hal. 55). 




Selain bersekolah, ternyata Bujang juga dibekali berbagai ilmu bela diri, menembak bahkan tehnik ninja seperti, menggunakan shuriken yang telah dimodifikasi sesuai zaman saat ini. Hal inilah yang kemudian membuat Bujang berbeda dan mendapat julukan si Babi Hutan. Dia sangat pintar dalam menjalankan bisnis hitam, bersiasat juga perkelahian.

Perlahan kekuasaan keluarga Tong semakin kuat. Namun sebuah pengkhianatan dari dalam meluluh lantakkan kejayan keluarga Tong. Belum lagi ditambah rong-rongan keluarga Lin yang sejak awal tidak suka dengan keluarga Tong. Pertikaian pun tidak dapat dihindari.  Banyak hal yang harus dia relakan dari kejadian ini

Bujang sangat kekecewaan dan sedih. Namun dia  menyadari bahwa memang beginilah hidup. Seperti yang terjadi dengan bapaknya. Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus yang diperlukan adalah kesabaran (hal262). Dari kejadian itu, Bujang dipertemukan dengan pamannya—Tuanku Imam. Pertemuan itu mengingatkan padanya untuk pulang ke tempat asalnya, setelah mengetahui sejarah hidup kedua orangtuanya.  Ada dua makna pulang yang dipilih Bujang. Kembali pada pelukan kedua orangtuanya juga memulai hidup baru pada jalan yang telah lama ditinggalkan.

Novel ini memiliki tema unik namun tetap sarat makna. Sebuah novel yang menceritakan sindikat keluarga yang berkecimpung di dunia hitam. Tapi tetap mengajarkan nila-nilai kehidupan. Bahwa setiap orang selalu punya masalah masing-masing—tidak ada yang sempurna. Novel ini juga menyadarkan akan pentingnya sebuah pendidikan.
Selain itu ada juga sisi religi yang bisa ditangkap dalam novel ini. Bahwa menjauhi makan dan minum yang haram bisa memanggil jiwa yang masih terjaga jiwanya, meskipun sudah banyak kejahatan yang dilakukan.  Lalu mengajarkan tentang kesabaran. Bersabarlah, maka gunung-gunung akan luruh dengan sendirinya, lautan akan kering. Biarlah waktu menghabisi semuanya (hal 288).

Dan ada pula sebuah nasihat yang mengingatkan bahwa jikalau setiap orang punya masa lalu, manusia tetap bisa berubah. (hal. 341).

Srobyong, 22 November 2016