Showing posts with label Penerbit KPG. Show all posts
Showing posts with label Penerbit KPG. Show all posts

Sunday, 10 February 2019

[Resensi] Roman Pemanjat Tebing dan Spiritualisme Kritis




[Sumber gambar : Pixiz] 


Judul               : Bilangan Fu
Penulis             : Ayu Utami
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal               : 572 halaman
Cetakan           : Kedua, Oktober 2018
ISBN               : 978-602-424-397-5

Setelah mendulang sukses dalam debut karyanya berjudul “Saman”—yang merupakan pemenang Sayembara Roman DKJ 1998—Ayu Utami kembali melahirkan sebuah karya tidak kalah menarik.    Di mana novel ini merupakan peraih “Khatulistiwa Literary Award 2008” .  Dan di tahun yang sama novel ini juga mendapat penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera).  Mengambil tema dasar tentang kisah roman pemanjat tebing yang dipadukan dengan tema spiritualisme kritis, kisah  yang ditawarkan penulis ini cukup menarik untuk dibaca.  

Sandi Yuda adalah seorang pemanjat tebing.  Baginya menjadi  pemanjat tebing adalah sebuah dorongan yang menunjukkan  bahwa dia adalah seorang yang unggul—lelaki yang tidak menyerah pada kegenitan, kecemasan, ketakutan ataupun bujuk-manja kemewahan kota.  Lelaki yang kuat dan merdeka.  Bersama teman-temannya dia mendaki  petebingan di desa Sewugunung dekat lereng watugunung.   Agar  pendakiannya berhasil, maka dia harus bisa membuka jalur pendakian dengan  memaku dan mengebor batu-batuan di tebing dengan penuh kehati-hatian. Dia memiliki kebiasaan bertaruh dengan hal-hal yang tidak biasa.

Ada pula Parang jati, seorang mahasiswa geologi yang juga suka memanjat tebing. Dan kebetulan dia tinggal di desa Sewugunung. Berbeda dengan Yuda yang memanjat dengan mengebor tebing, maka tidak dengan Parang Jati. Menurutnya dalam memanjat tebing, kita tidak boleh menyakiti bebatuan tebing dengan memaku dan mengebor. Karena itu akan merusak  keindahan alam itu sendiri. Parang Jati khawatir kebiasaan memanjat dengan cara itu lama kelamaan akan merusak dan bahkan memusnahkan bukit itu sebagaimana yang terjadi pada bukit citatah. Namun meski berbeda cara, mereka yang bertemu secara tidak sengaja malah mencari teman.

Marja adalah kekasih Yuda. Mereka memiliki hubungan unik namun saling memahami dan pengertian.  Hal itulah yang membuat hubungan mereka awet. Namun bagaimana ketika tiba-tiba Parang Jati hadir di antara mereka? Selain membahas tentang percintaan dua pemanjat tebing, novel ini juga mengulik perihal masalah keagamaan di tanah air secara  menarik dan menggelitik. Kemudian ada pula  kritik terhadap masalah masalah gerakan militer yang ada di pemerintahan.

Hemat saya secara garis besar melalui buku ini, Ayu Utami mencoba mengkritisi berbagai permasalahan yang ada di masa orde baru. Seperti sikap intoleran yang dan cara beragama yang terkesan formalitas—maksudnya agama yang dianut warga mengikuti apa yang diikuti oleh orang-orang kebanyakan atau orang-orang yang memiliki kuasa.  

Hanya saja dari segi bercerita dan gaya bahasa, buku ini cukup sulit untuk dicerna. Kita harus membaca beberapa kali agar memahami esensi yang disampaikan penulis. Karena dari segi cerita selain roman antara Yuda, Parang Jati dan Marja, novel ini lebih banyak memunculkan fragmen-fragmen yang berhubungan dengan masalah mitos, adat dan budaya  yang cukup detail ulasannya, di banding kisah itu sendiri.  Semisalnya masalah kisah Nyi Rorokidul dan atau pewayangan yang menggambarkan sosok Drupadi.

Jadi selama membaca novel ini, saya seperti membaca sejarah dan dongeng dari fragmen yang dimunculkan penulis. Namun lepas dari kekurangan yang ada, saya sangat salut dengan penulis yang mana demi menyelesaikan naskah ini, dia melakukan banyak riset bahkan ikut berlatih panjat tebing dan masuk sekolah panjat Tebing Skygers. Setidaknya dalam usaha menuntaskan novel yang konon idenya berasal dari kekasihnya (bernama Erik yang seorang pemanjat tebing) Ayu membutuhkan waktu 4 tahun untuk pencarian dan sembilan bulan untuk menuntaskan cerita.

Hal ini adalah bukti nyata dalam totalitas Ayu dalam membuat sebuah karya. Bahwa dia tidak main-main demi menghasilkan sebuah cerita yang bisa jadi akan memberi inspirasi bagi pembaca serta renungan yang mendalam. Misalnya kritik menarik tentang persamaan pemanjat tebing—khusunya penganut dirty climbing—dengan para pemeluk agama. Di mana pemanjat tebing ketika memiliki ambisi untuk berhasil, mereka akan berjuang keras agar bisa meraih ambisinya,  meski itu dia harus memaku dan mengebor tepian tebing sehingga merusak alam. Yang terpenting mereka berhasil sampai di atas.

Begitu pula seorang penganut agama. Agar agama yang dianutnya itu bisa tersiar ke semua orang, kadang ada oknum-oknum yang melakukan berbagai cara meski itu dengan kekerasan agar agamanya diterima. Padahal tentu saja cara itu merupakan cara yang salah.

Tapi ada juga  pemanjat tebing yang lebih memilih menyatu dan bersahabat dengan alam serta penganut agama yang dalam syiarnya memakai cara damai dan bersahabat.  Dan saya rasa kejadian semacam itu sampai sekarang pun masih bisa kita lihat dan memang berada di sekitar kita.

Yang saya sukai dari novel ini adalah nilai-nilai kehidupan yang cukup banyak bisa kita ambil pembelajaran. Misalnya dalam memanfaatkan teknologi, serta ajakan untuk lebih menghargai alam dengan merawat dan tidak merusaknya.

Srobyong, 10 Februari 2019


Wednesday, 26 December 2018

[Resensi] Dari Hobi Menjadi Usaha Bisnis

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 9 Desember 2018


Judul               : Homesick for Seoul
Penulis             : Fiona Natalia
Penerbit           : Pop, Imprin KPG
Cetakan           : Pertama, Juli 2018
Tebal               : 136 halaman
ISBN               : 978-602-424-848-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Fiona tidak pernah menyangka dari kunjungannya ke Korea di tahun 2013,  kini dia telah berhasil membangun sebuah usaha bisnis. Di mana bisnis yang dijalankan tidak jauh dari hobinya, yaitu traveling.  Hanya saja dalam usahanya dia fokus pada destinasi wisata di Korea. Karena sejak kunjungannya ke Korea, Fiona merasa jatuh cinta dengan negeri gingseng tersebut. Dia selalu rindu, dan mengungkapkan kerinduannya dengan membuat bisnis ini.

Bisnis itu dia beri nama “dearestJINHE”. Di mana, Fiona mencoba membantu beberapa temannya menyusun itinerary (rencana perjalanan) ke Korea. Dan ternyata usaha kecil itu cukup membuat teman-temannya puas dengan itinerary dan direction yang telah dia buat. Maka sejak itu, dia mencoba menawarkan jasa itu melalui beberapa media sosial. Pertama kali dia memilih mengenalkan bisnisnya di ask.fm (hal 35).  Awal-awalnya banyak pelanggan yang berasal dari folowers  ask.fm, hingga kemudian Fional mulai melirik Instagram sebagai media yang mengenalkan  dearestJINHEE, dengan akun @dearestjinhee.

Di luar dugaan banyak sekali yang tertarik dengan jasa yang dia tawarkan, karena mereka bisa atur itinerary fsn bebas menentukan waktu untuk belanja atau bahkan fangirling. Jasa ini snagat berbeda dengan tur umum yang membatasi waktu berkunjung ke suatu tempat. Sejak tahun 2015, dearestJINHEE terus berkembang dan kini sudah bekerjasama dengan local guide, sopir, pemilik apartemen, pemilik gusthouse, fotografer bahkan rumah sakit (hal 37).

Suka duka yang pernah dialami Fiona selama mengembangkan bisnis travelnya adalah itinerary dan  paket tur yang diabuat dijiplak oleh agen lain dengan memasang harga yang lebih murah. Pernah juga ada akun travel online yang mem-follow seluruh folowers di instagram personalnya dan kemudian menghujat Fiona di ask.fm. Namun dari pengalaman itu, dia menyadari bahwa bisnis online memang sangat menghasilkan profit sehingga banyak orang yang berlomba-lomba mengejar keuntungan.  Tapi bagi Fiona, meski dia sempat terbawa arus, dia kemudian memilih fokus pada tujuan awalnya dalam membangun bisnis. Karena bagaimana pun bisnis ini memang didasari akan rasa suka Fiona terhadap Korea. Dia ingin mengenalkan keindahan kota negeri gingseng kepada banyak orang.

Oleh sebab itu, dia tidak pernah lelah untuk mencari informasi terkait tempat-tempat indah yang disukai para traveler, yang kebanyakan memang merupakan pecinta K-Pop dan K-Drama. Sehingga tempat yang dia tawarkan dalam liburan  pun tidak monoton, namun berbeda dan menarik. Sehingga dia bisa memuaskan pelanggannya.  Berkat kesuksesannya ini, dia pernah menjadi pembicara di Fakultas Ilmu Bahasa UI dalam Talkshow Korean Culture 2016 dengan tema Travel dan Livinf ini Korea, sekaligus membahas sisi entrepreurship usaha travel. Dan tulisan Fiona tentang Bisnis Travel Consultant juga pernah dimuat di Harian Cetak Jawa Pos, Februari 2018.

Penasaran dengan paket tour yang ada di dearestJINHEE, bisa cek langsung di akun Instagramnya. Buku ini sangat menarik untuk dibaca, baik sebagai panduang wisata juga untuk mengambil inspirasi dari perjuangan penulis dalam membangun bisnis.

Srobyong, 1 Desember 2018 

Tuesday, 7 August 2018

[Resensi] Membangkitkan Kembali Semangat Jurnalisme

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 29 Juli 2018 


Judul               : Koran Kami with Lucy in the Sky
Penulis             : Bre Redana
Penerbit           : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan           : Pertama, November 2017
Tebal               : vi + 194 halaman
ISBN               : 978-602-424-708-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Disadari atau tidak, saat ini industri koran sudah mulai tergeser oleh media digital. Fakta yang ada di lapangan, satu persatu  koran dan majalah di Indonesia mulai tumbang.  Misalnya saja Harian Bernas, Surat Kabar Sinar Harapan, Harian Bola, Tabloid Cempaka, Tabloid Keren Beken, Tabloid Gaul, Majalah Aneka Yes, Majalah Kawanku, Majalah Ummi dan banyak lagi.

Kemudahan dalam mengakses media digital, cenderung membuat masyarakat mengubah gaya membacanya. Dan fakta yang ada  saat ini, masyarakat mulai menyukai hal-hal yang praktis dan mudah diakses. Sehingga lambat laun, industri koran semakin tersingkirkan. Dan itulah tantangan bagi koran-koran yang saat ini masih berdiri, untuk menyajikan berita yang lebih menarik dan aktual.

Novel ini sendiri berkisah tentang SS (Santoso Santiana) yang diajak sahabatnya, Nindityo untuk mendirikan koran saat industri media koran mulai terdesak oleh media digital. “Aku hanya kepikiran untuk menafaatkan wartawan-wartawan lama yang beberapa telah pensiun. Ini semacam spekulasi, katanya spirit media hilang. Yang memikirkan spirit adalah orang-orang lama itu.” (hal 39).

Mereka pun kemudian mulai mengumpulkan teman-teman yang bisa diajak kerjasama. Di antaranya adalah Nardoyo, Iskandae, Darmanto, Lucy, Frans, Edy dan Monique.  Mereka sepakat untuk memberi nama  koran itu “Koran Kami”  (hal 62).   Mereka berpendapat bahwa media cetak, tetap memiliki kemungkinan hidup di tengah pergeseran kepercayaan orang terhadap  sesuatu yang bersifat virtual di mana yang nyata dan tidak nyata kabur batasnya. “Pasti ada kebutuhan masyarakat untuk mendapat pegangan dan itu peran media cetak.” (hal 49).

Sayangnya masyarakat kurang paham,  bahwa media cetak selama ribuan tahun telah memberi banyak sumbangsih pada peradaban manusia. “Sejarah bukan sekadar kronologi kejadian, melainkan kronologi kesadaran. Kronologi kesadaran jauh lebih utama dibanding urut-urutan kejadian menyangkut tanggal, tahun, peristiwa, dan lain sebagainya. Kronologi kejadian mudah diutak-atik, kalau perlu dikarang-karang.” (hal 24).

Akan tetapi kenyataan itu tidak membuat niat mereka surut untuk mendirikan koran. Mereka yakin usaha  yang berhasil adalah usaha yang dilakukan tanpa keberatan menanggung beban (hal 42).  Mereka harus bisa menciptakan koran juga menciptakan manusia koran. Sebagaimana media digital yang telah melahirkan anak-anaknya manusia digital. Kebiasan, cara hidup, tradisi manusia digital tidak lagi sama dengan manusia koran.

Krisis besar pada zaman ini adalah kita bangsa  yang mewarisi suatu pemerintahan yang menganggap memori adalah musuh. Ratusan ribu orang dimusnahkan, dibunuh dibantai dan lain sebaginya. Tapi pembunuhan dihilangkan dari memori, dianggap tidak pernah ada. Intelektualitas telah ditumpas. Sebelum terpikir untuk membangkitkan kecerdasan bangsa. Kebenaran makin sulit dicari pada yang dimaknakan fakta.  Ketika fakta sakit, fiksi jadi obatnya (hal 113).

Buku ini memang tidak se-kompleks yang kita pikirkan. Karena di sini tidak ada siapa tokoh protagonis atau antagoni. Novel ini kurang lebih seperti percakapan para wartawan yang tengah membahas gejolak masalah dalam dunia jurnalistik, media digital dan industri koran.   Bagi penulis sendiri, sebenarnya tidak ada masalah dengan tumbuh kembangnya media digital. Karena keberadaan media digital juga memiliki banyak manfaat bagi masyarakat.

Novel ini hadir untuk membangkitkan kembali semangat jurnalisme yang harus selalu memiliki banyak pertanyaan untuk membuat berita, berpikir kreatif dan inovati, untuk mengasilkan berita menarik untuk memancing pembaca. Karena menurut Bre Redana yang sudah 35 tahun berkarier sebagai wartawan kompas, melihat banyak nilai-nilai jurnalisme yang mulai terkikis. Buktinya dari berbagai koran yang saat ini masih terbit, headline yang muncul memiliki  sering memiliki keseragaman  berita, sehingga tidak ada sesuatu yang menarik bagi pembaca. Padahal untuk menghasilkan rasa penasaran pembaca, seorang jurnalis harus pandai melihat peluang dan mencari berita yang unik dan menarik.

Diceritakan dengan gaya percakapan yang sederhana, membuat kisah ini terasa menyenangkan.   Meski pada beberapa bagian, ada yang terasa monoton. Tapi lepas dari kekurangnnya, novel ini cukup menarik.

Srobyong, 27 Mei 2018 

Monday, 14 May 2018

[Resensi] Penculikan Para Aktivis Pada Tragedi 1998

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 27 April 2018 



Judul                : Laut Bercerita
Penulis              : Leila S. Chudori
Penerbit            : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal                : x + 379 halaman
ISBN               : 978-602-424-694-5
Peresensi          : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Tragedi penculikan yang terjadi pada para aktivis di 1998, sampai saat ini masih menyimpan banyak kedukaan dan misteri. Khususnya bagi para keluarga korban penculikan. Karena sebagaimana fakta yang ada, dalam penculikan itu ada 1 korban meninggal, 9 korban dikembalikan dan 13 korban lainnya yang tidak diketahui nasibnya sampai sekarang. 

Mengambil latar kisah tersebut, Leila S. Chudori mampu membuat kita seperti melihat visualisasi kejadian yang benar-benar terjadi di masa itu. Kekejaman dan kebiadaban yang dilakukan oleh dalang penculikan itu, sungguh membuat kita miris.  Selain itu melalui buku ini kita juga dihadapkan tentang bagaimana keadaan keluarga korban, yang harus merasakan kepedihan yang tidak kalah menggetirkan. Tidak ada kepastian keadaan korban, tidak ada makam dan pencarian yang sia-sia.

Novel ini sendiri berkisah tentang Biru Laut yang berbagung dan aktif dalam organisasi Winarta dan Wirasena. Bersama teman-teman seperjuangannya; Sunu, Daniel, Alex, Dana, Widi, Naratama, Gusti, Kinan, Bram, Gala, Julius, Narendra, Coki dan banyak lagi, dia  mengecam kepemimpinan di orde baru karena sangat diktator.  Di mana berbagai kekejaman terjadi membuat rakyat makin sengsara. Pemerintah melarang beredarnya buku-buku, majalah dan surat kabar yang berani mengkritisi pemerintahan atau berhaluan  kiri untuk diterbitkan.  Untuk itulah mereka berjuang untuk mendapatkan kembali,  hak berserikat, berkumpul dan berpendapat dibatasi bahkan dirampas secara paksa. 

Dimulai dari kegiatan berkumpul dan diskusi, mereka kemudian melakukan aksi pemberontakan di Blanguan. Akan tetapi ternyata kegiatan mereka terciduk olen intel, hingga mereka kemudian diburu dan disiksa.  Di tahun 1996 sendiri, organisasi Winarta dan Wirasena dianggap sebagai organisasi terlarang. Namun begitu, mereka tidak gentar dan terus melanjutkan perjuangan.

“Kita tak ingin selama-lamanya berada di bawah pemerintahan satu orang selama puluhan tahun. Hanya di negara diktatorial satu orang bisa memerintah begitu lama ...seluruh Indonesia dianggap milik keluarga dan kroninya. Mungkin kita hanya nyamuk-nyamuk pengganggu bagi mereka. Kerikil dalam sepatu mereka. Tapi aku tahu satu hal : kita harus mengguncang mereka. Kita harus mengguncang masyarakat yang pasif, malas dan putus asa agar mereka ikut memperbaiki negeri yang sungguh korup dan berantakan ini, yang sangat tidak menghargai kemanusiaan ini.” (hal 182).

Namun pergerakan mereka mulai pudar, ketika satu persatu anggota Winarta dan Wirasena pada bulan Maret diculik dan dikurung di bawah tanah. Setiap hari mereka diinterogasi agar mau membuka mulut tentang siapa dalang di balik gerakan mereka. Jika tidak mau menjawab atau memberi jawaban salah, mereka harus merasakan berbagai siksaan. Dari diinjak, dipukul, ditendang, disundut, diikat terbalik,  distreum, digantung hingga diletakkan di atas balok es dan direndam dalam bak (hal 254).

Meski begitu kekejaman mereka tidak membuat para aktivis takut.“Jangan sampai kita tenggelam pada kekelaman. Kelam adalah lambang kepahitan, keputus-asaan, dan rasa sia-sia. Jangan pernah membiarkan kekelaman menguasai kita, apalagi menguasai Indonesia.” (hal 225).

Selain membahas penculikan para aktivis, penulis juga memaparkan tentang bagaimana kondisi keluarga korban aktivis yang diculik. Mereka harus merasakan kesedihan yang berkepanjangan tanpa kepastian tentang keadaan anak atau suadaranya dan pencarian yang tidak pernah berujung.

Bersama Aswin, Asmara Jati—adik Laut, membangun Komisi Orang Hilang (hal 245). Mereka  mencoba mengingatkan pemerintah untuk sadar dan bertanggungjawab dengan kejadian itu. Salah satunya  melakukan aksi kamisan di depan Istana Negara. Novel ini adalah potret kekejaman yang pernah terjadi di Indonesia. Tentang perjuangan para aktivis yang ingin membebaskan Indonesia dari kekejaman pemerintah diktator untuk menjadi negera demokrasi. Juga usaha untuk memperjuangakan hak asasi manusia—baik untuk berpendapat, berkumpul dan berserikat.

Sebuah buku yang sangat menarik dan patut diapresiasi. Meski ada beberapa bagian yang kurang konsisten dalam penggunaan kata sapaan (hal 220),  serta penulisan aku dan saya (hal  274), novel yang memakai alur maju mundur ini sangat menarik untuk diikuti.  Buku ini menyadarkan kita tentang pentingnya perjuangan dan tidak mudah putus asa, serta sabar dan tabah dalam menghadapi berbagai cobaan.

Srobyong, 2 April 2018 

Tuesday, 17 April 2018

[Resensi] Dedikasi Haji Agus Salim Terhadap Indonesia

Dimuat di Koran Pantura, Selasa 27 Maret 2018 


Judul               : Agus Salim
Penulis             : Tim Tempo
Penerbit           : KPG
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : xiv + 203 halaman
ISBN               : 978-602-424-391-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Aluma Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Tercapainya kemerdekaan Indonesia, tidak luput  dari usaha para tokoh pergerakan nasional. Mereka adalah pahlawan yang memiliki keberanian dan sikap nasionalisme yang tinggi. Tanpa mengenal rasa takut, mereka terus berjuang. Untuk menghormati perjuangan mereka, maka tanggal 10 November diperingati sebagai hari pahlawan. Salah satu tokoh pergerakan nasional yang memiliki banyak peranan dalam meraih kemerdekaan adalah Haji Agus Salim.

Pemilik nama  asli Masyhudul Haq yang berarti ‘Pembela Kebenaran’, mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan. Pria kelahiran Koto Gadang, Sumatra Barat, 8 Oktober 1844 ini, dengan semangat tinggi dan keberanian yang besar, dia terus melangkah tanpa rasa takut. Tidak peduli pemikirannya selalu dikritik dan dibuang,  Haji Agus Salim terus berjuang tanpa henti.   Buku ini dengan menarik memaparkan tentang peranan yang dilakukan Haji Agus Salim untuk Kemerdekaan Indonesia.

Pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Mesir misalnya. Hal ini tidak lepas dari tangan dingin Haji Agus Salim. Pengakuan de jure pertama dunia internasional terhadap proklamasi 17 Agustus 1945. Dan setelah Mesir, sejumlah negara Arab berturut-turut mendukung. Misalnya Libanon, Suriah, Irak, Arab Saudi dan Yaman.  Keberhasilannya ini membuatnya diberi julukan sebagai “The Grand Old Man” karena kepiawaiannya dalam berpolitik (hal 13).

Keberhasilannya ini membuat Belanda gagal untuk menguasai kembali Indonesia. Karena pada saat perjanjian Linggarjati, salah satu isinya berbunyi, Belanda dan Indonesia sepakat membuat Republika Indonesia Serikat—di mana Indonesia harus bergabung dalam persemakmuran Indonesia-Belanda dengan Belanda sebagai kepala. Namun dengan adanya pengakuan de facto dan de jure, posisi Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat semakin kokoh.

Sedang sebelum  proklamasi, Haji Agus Salim ikut berperan aktif dalam persiapan kemerdekaan. Dia merupakan salah satu anggota BPUPKI. Dia juga termasuk bagian dari panitia sembilan. Tim yang melahirkan Piagam Jakarta, yang kelak menjadi rancangan preambul atau pembukaan Undang-Undangn Dasar (hal 19).  Dialah tokoh yang menjadi penghubung ketika terjadi perbedatan antara golongan Islam dan nasionalis.  Tidak hanya duduk di pantia perancang hukum dasar dan panitia sembilan, Haji Agus Salim juga duduk sebagai anggota panitia penghalus bahasa dalam rancangan undang-undang, bersama Soepomo dan Prof Dr P.A.H. Djajadiningrat.

Pria yang dijuluki sebagai poliglot—karena dia menguasai banyak bahasa asing, dia antaranya; Belanda, Inggris, Perancis, Arab, Jerman, Jepang dan Turki, merupakan anggota delegasi dalam perjanjian Renville. Dengan sikap tenang dia menghadapi tekanan dari Belanda. Bahkan Haji Agus Salim berani mengungkapkan argumen tentang kelicikan Belanda dalam perjanjian Linggarjati.

Sikap keras yang dimiliki Haji Agus Salim kemudian, membuatnya sering dimusuhi pemerintah Belanda. Bersama Sukarno, Mohammad Roem, Ali Sastroamidjojo, mereka dibuang dan diasingkan di  Wisma Ranggam, yang berdiri tidak jauh dari Pelabuna Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Bangka Belitung (hal 32).  Selain di sana Haji Agus Salim juga sempat dibuang ke Berastagi dan Parapat, Sumatra Utara.

Namun begitu, jiwa nasionalisme tidak mati. Ketika akhirnya bebas, Haji Agus Salim kembali berjuang mengusir penjajah. Dan selama masa pergerakan Haji Agus Salim  ikut andil membesarkan Sarekat Islam—yang kemudian berganti  menjadi Partai Sarekat Islam. Bersama HOS. Tjokroaminoto, mereka bahu membahu melawan penindasan dan penjajahan yang dilakukan Hindia-Belanda.  Tidak hanya itu Haji Agus Salim juga kerap kali mengecam tindakan pemerintah Belanda melalui tulisan-tulisannya yang tajam.  Hal inilah yang membuat Haji Agus Salim kerap ditegur dan dianjurkan untuk melunakkan kritikannya kepada pemerintah Belanda.

Sayangnya sikap keras Haji Agus Salim tidak bisa dipatahkan. Dia berkata, “Keyakinan saya  tentang peri kehidupan; dan pendapat saya tentang pemerintah Hindia-Belanda serta kebijakannya, saya tidak bisa tawar menawar.” (hal 104).  Inilah alasan yang membuatnya memilih mundur dari jabatan Pemimpin Redaksi Hindia Baroe yang membesarkan namanya. Begitu pula ketika sempat menjadi redaksi Koran Nerajta. Karena tidak lagi satu misi dan tidak mau dimanfaatkan pemerintah Belanda, Haji Agus Salim memilih mundur.

Sepak terjang Haji Agus Salim ini patut kita teladani. Dengan sikap gigih dan kepandaiannya dalam  berdiplomasi telah merintis jalan kemerdekaan Indonesia. Dia adalah sosok sederhana yang demi bangsa, tidak takut miskin dan hidup susah. Yang terpenting adalah berjuang meraih kemerdekaan Indonesia. Buku yang patut dibaca semua kalangan.

Srobyong, 4 November 2017


Thursday, 18 January 2018

[Resensi] Perseteruan Prabhangkara dengan Mahapatih Gajah Mada

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 5 Januari 2018 


Judul               : Sungging
Penulis             : Alan TH
Penerbit           : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : ix + 626 halaman
ISBN               : 978-602-424-414-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Tahta memang membuka jalan kebesaran bangsa, tapi dia juga bisa mengundang pengkhianatan paling keji.” (hal 185).

Mengambil latar sejarah tentang peralihan dari keruntuhan  kerajaan Singhasari dan berdirinya kerajaan Majapahit, novel Sungging menghadirkan sebuah kisah yang tidak biasa. Dalam buku ini penulis mencoba menceritakan tentang peran seorang prabhangkara (seniman—perupa) sekaligus pendekar yang bernama Sungging.

Sejak kecil Sungging tinggal bersama kakek—yang tidak dia ketahui namanya,  yang merupakan seorang pelarian yang diburu kerajaan Mapahit.  Suatu hari, ketika dirasa Sungging sudah mampu,  sang kakek memerintahkannya untuk melakukan pengembaraan sendiri selama dua ribu hari.  Kakeknya berharap dalam kurun waktu itu bisa mendidik Sungging untuk mengenal kehidupan masyarakat umum khususnya  yang tidak dia dapat ketika tinggal di hutan.  

Perjalanan itu akhirnya membuat Sungging tanpa sengaja bertemu dengan Rsi Sanghika—abdi setia kerajaan Singhasri dalam masa kepemimpinan Sri Kartanegara. Namun yang mengejutkan bagi Sungging adalah, kenyataan bahwa Rsi Sanghika ternyata juga diburu oleh perkumpulan dari Majapahit—Kasajaten Kalamura perkumpulan rahasia yang dipimpin Gajah Mada—yang selama ini juga memburu kakeknya (hal 29).  

Rsi Sanghika dicurigai memiliki Kitab Begawan Kstaria yang pernah ditulis Sri Kartanegara.   Di mana kitab itu harus dimusnahkan beserta orang-orang yang pernah membaca dan mempelajari isinya. Agar tidak ada lagi lawan tangguh yang bisa mengalahkannya dalam jagat persilatan, juga membungkam jejak sejarah tentang riwayat dirinya sendiri yang merupakan putra Gajah Pangon—salah satu satria setia Raden Nararya, serta agar dia tetap bisa mengontrol Majapahit.

“Bukankah keserakahan adalah biang dari segala perang? Dulu, sekarang, juga nanti! Di sini, negeri leluhurmu atau di mana saja!” (hal 378).

Bersama Rsi Sanghika, Sungging kemudian melakukan perjalanan menuju Majapahit untuk menemui   Gajah Mada. Selama perjalanan itu Rsi Sanghika memaparkan sejarah kejayaan kerajaan Singhasari di masa Sri Kartanegara hingga masa runtuh dan berdiri kerajaan Majapahit—hingga saat itu dipimpin oleh Ratu Tribuwana.  Di mana dari sejarah panjang itu, akhirnya Sungging tahu bahwa dia masih memiliki darah keturunan  Negeri Atap Langit—sekarang Cina—dari salah satu jendrela besar yang sangat kuat—Jenderal Kau Hsing.

Kenyataan itu sekaligus membuka tabir tentang kekejaman perang. Dimulai dari pemberontakan Jayakatwang—bupati Gelang-gelang, persekutuan antara Raden Nararya—yang nantinya berubah menjadi Raden Wijaya dengan pasukan Khubila Khan dari Mongol dan penghianatan Raden Nararya terhadap Mongol.

Selain itu Sungging juga akhirnya tahu bahwa selama ini, kakeknya telah mengajarkan laku ilmu dari Kitab Begawan Ksatria. Hal inilah yang membuat Rsi Sanghika mewanti-wanti Sungging agar tidak memperlihatkan jurus silatnya secara sembarangan. Karena jika sampai diketahui, maka dia pun bisa dalam bahaya dan menjadi buruan dari Majapahit. Namun sayangnya, Sungging melupakan pesan gurunya. Dia pernah memperlihatkan jurus silatnya tanpa sengaja.

Pada titik ini, akhirnya Rsi Sanghika dan Sungging tidak bisa menghindari pertempuran. Ketika Rsi Sanghika mulai melawan Gajah Mada, Sungging sendiri harus berhadapan dengan orang-orang yang telah membunuh kakeknya. “Kuasa tak lebih dari sumber kesengsaraan dan petaka.” (hal 418).

Pertempuran itu juga menjadi titik awal perpisahan Sungging dan Rsi Sanghika. Serta  awal perjalanan  Sungging secara mandiri dalam usahanya menjatuhkan Gajah Mada, agar tidak lagi bertindak semana-mena atas nama agama dan tahta Majapahit (hal 552).  Namun berhasilkan Sungging  mengalahkan Gajah Mada? Dan bagaimana nasib Rsi Sanghika?

Sebagai novel pertama dari dwilog yang direncakan penulis tentang kisah Sungging ini, novel ini patut diperhitungkan untuk dibaca. Cara pemaparan penulis dalam menjabarkan antara sejarah dan sastra sangat menarik. Penuh intrik pengkhianatan, korup dan penindasan. Di sini kita bisa diajak menyelami makna kesetiaan juga arti penting memiliki kekuasaan. Bahwa seseorang yang memiliki kekuasaan tidak semestinya menjadi penindas,  peperangan selalu menimbulkan kesengsaraan.

Dan kita juga diingatkan pentingnya memiliki wawasan agar tidak mudah terjebak pada kebohongan. “Wawasan berguna agar kita bisa menempatkan segala perkara dengan benar. Ingatan agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dan bisa meneruskan kebaikan yang sudah ada.” (hal 393).

Srobyong, 16 Desember 2017 

Tuesday, 19 December 2017

[Resensi] Peran H.O.S Tjokroaminoto dalam Pergerakan

Dimuat di Duta Masyarakat, Sabtu 9 Desember 2017 


Judul               : Tjokroaminoto
Penulis             : Tim Tempo
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : xvi + 162 halaman
ISBN               : 978-602-424-402-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Diangkat dari edisi khusus Majalah Berita Mingguan Tempo, buku yang membahas tentang  peran Tjokroaminoto  dalam pergerakan ini dipaparkan dengan apik dan menarik.   Tokoh yang  lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 18 Agustus 1882 ini dengan  kemampuannya dalam berorasi dan tulisannya yang telah tersebar di berbagai media,  telah memberi inspirasi puluhan ribu orang dan menumbuhkan semangat kebangsaan.

Meski berdarah bangsawan, sejak awal Tjokro ini sangat menentang keras feodalisme. Dia berjuang untuk meretas jalan kesetaraan. Hal ini terlihat jelas dalam salah satu tulisannya berupa sajak yang dimuat di Doenia  Bergerak tahun 1914. Dia  mengkritisi penindasan dan perbedaan derajat manusia.  Begitu pula dalam berbagi pidato yang dia suarakan. Oleh karena itu dia dijuluki sebagai “Gatotkoco Serikat Islam” (hal 7).

Karir perjuangannya semakin melesat ketika dia mulai bergabung di Organisasi Sarekat Islam Mei 1912—sebuah Organisasi yang didirikan oleh Haji Samanhoedi, seorang saudagar batik. Di mana organisasi ini didirikan ketika ada persaingan dagang antara Pribumi dan Cina.  Dan berkat tangan dingin Tjokro, organisasi itu menjadi gerakan politik yang besar dan kuat.   Dalam kepemimpinannya di Sarekat Islam, sejarawan Bonnie Triyana menilai salah satu keunggulan Tjokro adalah sikap egaliter. Dia tidak memandang usia, status atau jabatan. Yang terpenting para anggota beragama sama (hal 36).

Upaya yang dilakuakan Tjokro untuk membawa Sarekat ke level nasional yaitu  merancang delapan program untuk memperjuangkan hak rakyat. Di antaranya menghapus kerja sama, mengizinkan pedidikan. Sarekat juga mendesak penghapusan peraturan yang menghambat penyebaran Islam. Itulah sebabnya Sarekat Islam semakin mendapat dukungan besar.  Mengingat dia memperjuang kepentingan rakyat dan umat Islam pada khususnya. Selain mengurus pergerakan Sarekat Islam, Tjokro juga rutin menuangkan ide-idenya di surat kabar, Oetoesan Hindia. Dia menulis dengan topik yang beragam. Mulai dari politik, hukum hingga perbedabatan antara paham sosialisme dan Islam.

Selama bergerak dalam perjuangan Tjokro berpegang pada beberapa prinspi yang pernah dia tulis dan diterbitkan dalam Sendjata Pemoeda, surat kabar PSSI. Dia mengaskan : keutamaan, kebesaran, kemuliaan, dan kebernaian bisa tercapai lewat ilmu tauhid, ilmu tentang ketuhanan (hal 30).  Tjokro memang amat meyakini Islam mengandung banyak nilai sosialisme. Oleh karena itu dia  ingin membumikan perjuangan  yang bersandar pada Islam sebagai basis ideologi.

Selain berjuang dalam ranah politik, Tjokro juga memiliki kepedulian dalam pendidikan.  Pada tahun 1930-an, banyak berdiri sekolah Tjokroaminoto yang dibangun di cabang-cabang PSII—Partai Sarikat Islam Indonesia di semua wilayah. Silabus dan kurikulumnya didasari buku Moeslim National Onderwijis yang ditulis Tjokro 1925. Sekolah-sekolah itu mengajarkan soal arti kemerdekaan, budi pekerti, ilmu umum dan ilmu keislaman. Menurut Tjokro, asas-asas Islam sejalan dengan demokrasi dan sosialisme. Maka kamu muslimin harus dididik menjadi muslim sejati untuk mencapaai kemerdekaan umat.

Kiprah Tjokroaminoto ini pada akhirnya membuat dirinya disebut-sebut sebagai guru para pendiri bangsa. Karena lewat didikannya, lahirlah para bumiputra  yang akhirnya memulai gebrakan dalam pergerakan. Sebut saja Tan Malam, Sukarno, Musso, Semaoen, Alimin hingga Kartosoewiryo.

Reportase ulang tentang Tjokroaminoto ini telah membuka wawasan kita tentang kehidupan pendiri republika yang inspiratif, tapi juga  penuh intrik pemikiran dan petualangan. Disusun dengan bahasa yang mudah dipahami, menjadi sisi positif ketika membaca buku ini. Dilengkapi dengan foto-foto dukementasi, semakin menambah rasa  perjuangan yang terjadi di masa lalu. Hanya saja karena buku ini tidak  ditulis penulis tunggal—merupakan kumpulan tulisan bergaya jurnalistik dari beberapa penulis, maka kita harus pandai-pandai menyusun rangkain kisah yang ada.     

Srobyong, 22 Oktober 2017

Sunday, 29 October 2017

[Resensi] Perjuangan Douwes Dekker Mendorong Kemerdekaan

Dimuat di Koran Jakarta, Kamis 26 Oktober 2017 


Judul               : Douwes Dekker
Penulis             : Tim Tempo
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : xii + 188 halaman
ISBN               : 978-602-424-395-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Selain para pribumi yang menjadi tokoh pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, ternyata ada pula beberapa nama Belanda yang ikut bersumbangsi berjuang demi meraih kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Douwes Dekker, yang memiliki nama  lengkap Ernest Francois Eugene Douwes Dekker. Dia lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 8 Oktober 1879.  Dia memiliki darah campuran Belanda, Prancis, Jerman dan Jawa.

Namun meski bukan penduduk Indonesia tulen, tapi semangat nasionalismenya lebih menggelora daripada penduduk bumiputra. Dalam pergerakan  revolusi, Douwes Dekker memiliki pemikiran dan gagasan yang melampaui zaman. Buku ini memaparkan tentang semangat perjuangan Douwes Dekker dalam meruntuhkan pemerintah Hindia-Belanda.

Dengan sifat kritis dan penuh keberanian, dia mengkritisi kekejaman pemerintahan Hindia-Belanda dan berani menolak diskriminasi. Hal inilah yang pada akhirnya membuat pemerintah Belanda berang dan menganggap Douwes Dekker sebagai  agitator berbahaya.  

Bersama  Tcipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker mendirikan partai politik pertama di Indonesia, bernama Indische Partij. Di mana partai ini didirikan dengan tujuan untuk membangkitkan rasa patriotisme orang Hindia untuk tanah yang memberikan kehidupan, yang mendorong untuk bekerjasama atas dasar persamaan hak politik nasional untuk mengembangkan tanah air Hindia ini, dan untuk mempersiapkan sebuah kehidupan bangsa yang merdeka (hal 26).

Hadirnya partai ini meniupkan roh  di awal masa pergerakan dan merupakana pondasi penting bagi nasionalisme Hindia. Douwes Dekker adalah sosok organisator yang tidak pernah lelah berjuang. Dia mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk kemerdekaan Indonesia. Douwes Dekker yang ternyata masih  satu keturunan  dengan Eduard Douwes Dekker—penulis buku Max Havelaar yang memiliki nama pena Multatuli—ini menyerukan ide pentingnya warga Hindia menjadi satu bangsa, yang membangun kekuatan sendiri.

Dia sama sekali tidak gentar meski berkali-kali keluar masuk penjara bahkan diasingkan untuk beberapa waktu yang cukup lama. Memang sejak dia menunjukkan sikap anti penjajah, Belanda sudah mengawasi dan menganggap Douwes Dekker adalah salah satu tokoh yang berbahaya, yang  bisa mengkompori bumiputra untuk melawan pemerintah Hindia-Belanda sewaktu-waktu.  Oleh karena itu ketika Douwes Dekker mendaftarkan perjininan berdirinya partai Indische Partij, dengan tegas Beladan menolaknya, karena partai itu  dianggap berbahaya, mengancam kemananan dan  ketertiban umum. 

Tapi bukan Douwes Dekker jika langsung menyerah. Dengan kemampuannya jurnalistiknya, kerap kali Douwes Dekker menantang pemerintah Hindia-Belanda lewat tulisan-tulisan yang tajam, memojokkan dan pedas di berbagai media.  Dia mengkritisi politik etis yang memecah belah penduduk pribumi, indo dan priyayi.  Akibat keberaniannya itu, Douwes Dekker di mata tokoh-tokoh politik Belanda dianggap sebagai avonturir, oportunis bahkan schoelje atau “si bangsat” (hal 38). Di mana akibat dari tulisannya yang kerap kali menggugat, dan mengecam Belanda dan terus membangkitkan nasionalisme, dia mendapat lima gugatan hukum.

Dia pernah menjalani hukuman penjara di beberapa negara. Lalu bersama  Tcipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker dibuang ke Belanda. Kemudian mereka memanfaatkan waktu ada untuk melanjutkan sekolah.  Selain itu Douwes Dekker juga pernah  dituduh menjadi kaki tangan Jepang dan ditahan di Jakarta, kemudian dibawa ke  Ngawi, Magelang dan Jawa Timur. Di juga pernah diasingkan di Suriname.  Namun semua kejadian itu tetap tidak membuatnya gentar berjuang meraih kemerdekaan Indonesia.

Ketika akhirnya dia kembali ke Indonesia,  dia kemudian memilih berjuang lewar jalur pendidikan. Dia menjadi guru mengajar di Ksatrian Institut, sebuah sekolah yang dia bangun bersama beberapa tokoh pentolan Indische Partij. Dalam sekolah ini Douwes Dekker dengan serius mengajarkan pentingnya  bangsa merdeka dan mandiri (hal 64). Hal ini tentu saja membuat pemerintah Hindia-Belanda semakin membenci Douwes Dekker.

Kiprah Douwes Dekker ini akhirnya memberi inspirasi bagi  para pejuang muda. Seperti Tjokroaminoto dengan Serikat Islam, juga Sukarno dalam mendirikan Partai Nasional Indonesia.  Sebelum wafat Douwes Dekker ini menjadi mualaf dan mengganti nama menjadi Danudirja Setiabudi. Dia meninggal tanggal 28 Agustus 1950 karena sakit. Sebuah buku yang patut dibaca dan diapresiasi. Mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah dalam berjuang dan selalu mencintai Indonesia.


Srobyong, 21 Oktober 2017