Showing posts with label Mizania. Show all posts
Showing posts with label Mizania. Show all posts

Sunday, 25 November 2018

[Resensi] Renungan Penuh Hikmah dari Barat

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 18 Oktober 2018 


Judul               : Sebentang Kearifan dari Barat
Penulis             : Oki Setiana Dewi
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : xxvi + 256 halaman
ISBN               : 978-602-418-173-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Orang yang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.  Merantaulah, engkau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah perjuangan.” (hal xxvi).

Mengikuti kalimat bijak yang pernah dipaparkan Imam Syafi’i, maka Oki Setiana Dewi, tidak menyia-nyiakan kesempatan ketika dirinya terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa Australia-Indonesia Instute (AII) memalui program Muslim Exchange Program (MEP) dan The Goethe Institute (Lembaga Budaya Republika Federal Jerman) melalui program Kehidupan Kaum Muslim di Jerman, yang bekerjasama dengan Universitas Paramdina. Dari sana dia bisa mengenal lebih dalam tentang kehidupan masyarakat di Australia dan Jerman. Selain itu dia juga mendapat kesempatan untuk menjelajahi bumi Andalusia (Spanyo) dalam sebuah program pembangunan masjid di Sevilla, A Tile for Sevilla.

Pengalaman itu pun kemudian dia himpun dalam sebuah yang kini kita baca—“Sebantang Kearifan dari Barat”. Menurut Oki sebuah pengalaman dan ilmu akan lebih baik jika dibagikan kepada khalayak umum. Karena bisa jadi dari pengalaman itu akan menjadi inspirasi dan memicu semangat banyak orang untuk belajar dan terus memperbaiki diri. Al-Hasan bin Ali pernah berkata, “Jika engkau mendapatkan kebaikan atau melakukan kebaikan, maka sebutkanlah dan ceritakanlah di depan saudaramu yang kamu percayai bahwa ia akan mengikuti jejak yang baik tersebut.”

Diceritakan dengan gaya bahasa santai, renyah dan memikat, akan membuat kita betah dalam membacanya. Kisah-kisahnya menggetarkan hati, menyadarkan kita bahwa kita tidak bisa menilai sesuatu hanya dari luarnya saja.  Kita juga diingatkan bahwa  kita  bisa belajar di mana dan dari mana saja.  Serta perbedaan bukanlah halangan untuk bersahabat, saling menghormati dan menyayangi. 

Islam di negara Barat, tidaklah sama dengan Islam di Indonesia, yang memang mayoritas penduduknya Muslim. Apalagi setelah Islamphobia mulai menjangkit banyak masyarakat luar, akibat  ulah para oknum, yang mencoba merusak citra Islam yang mencintai perdamaian.  Kesalahpahaman pun akhirnya terjadi. Di mana kita sering menyangka banyak orang Barat yang kemudian antipati dan tidak menyukai umat Muslim.  Mereka bersikap rasis, radikal bahkan bersikap diskriminasi kepada kaum muslim di negara Barat.

Namun ternyata dugaan kita keliru. Di Australia penduduknya memiliki rasa toleransi yang sangat tinggi. Mereka saling menghormati kepercayaan masing-masing penduduk tanpa bersikap rasis apalagi mendiskriminasi agama lain. Meskipun Australia adalah negara sekuler, mereka tetap menanamkan pendidikan akhlak di setiap sekolah.  mereka tidak pernah mengabaikan nilai-nilai kebaikan.

“Jika ada teman kalian melakukan kejelakan atau keburukan, maka jangan benci orangnya, tapi bencilah perbuatannya. Sama halnya jika ada orang Islam atau agama apa pun itu melakukan kesalahan, maka jangan salahkan Islamnya atau agamanya. Karena pada dasarnya semua agama mengajarkan untuk berbuat baik, untuk menciptakan kedamaian, untuk menebarkan cinta kasih kepada sesamanya.” (hal 44).

Di Jerman, kita bisa melihat bahwa negara itu sangat ramah. Mereka menerima para pengungsi dengan terbuka tanpa memedulikan agama yang dianut. Mereka memiliki empati yang sangat tinggi untuk membantu banyak orang. Dan mereka melakukan itu tanpa adanya motif tertentu. Tidak ada motif agama, politik, atau kepentingan pribadi. Mereka tulus menolong murni karena rasa kemanusiaa (hal 113).

Buku ini sangat menarik dan menginspirasi. Kita diajak mengenal lebih dekat tentang Islam di negara Barat dengan masing-masing kebiasan, adat dan  budaya yang berbeda. Misalnya alasan pemakaian scarf di Spanyol, Imam Gay di Melbourne dan banyak lagi. Melalui buku ini pula kita bisa melihat dan menyaksikan bahwa Islam selalu diterima di mana saja. Maka sudah semestinya kita berusaha memperkuat ukhwah dan selalu membangun hubungan baik, di mana pun berada. Saling menjaga, mendoakan dan saling menyayangi. 

Sebuah buku menarik yang patut kita baca dan renungkan.  Beberapa kekurangan yang ada, tidak mengurangi  makna yang ingin disampaikan penulis. 

Srobyong, 3 Agustus 2018

Tuesday, 20 November 2018

[Resensi] Islam dan Kearifan dari Barat

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 14 Oktober 2018


Judul               : Sebentang Kearifan dari Barat
Penulis             : Oki Setiana Dewi
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : xxvi + 256 halaman
ISBN               : 978-602-418-173-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Jika ada teman kalian melakukan kejelakan atau keburukan, maka jangan benci orangnya, tapi bencilah perbuatannya. Sama halnya jika ada orang Islam atau agama apa pun itu melakukan kesalahan, maka jangan salahkan Islamnya atau agamanya. Karena pada dasarnya semua agama mengajarkan untuk berbuat baik, untuk menciptakan kedamaian, untuk menebarkan cinta kasih kepada sesamanya.” (hal 44).

Islam adalah agama yang mencintai kedamaian. Namun karena adanya oknum tertentu, Islam dianggap sebagai agama yang penuh dengan kekerasan. Terorisme selalu dikaitkan dengan Islam. Padahal tidak semua tindak kejahatan itu ulah orang Islam.  Kesalahpahaman inilah yang kemudian membuat banyak orang mengalami Islamphobia. Khususnya di beberapa negara minoritas Islam.

Berkesempatan mengunjungi beberapa negara di benua Eropa—Australia, Jerman dan Spanyol, Oki memanfaatkan kesempatan itu untuk mengenal lebih dalam tentang Islam di negara Barat. Melalui dialog lintas negara inilah, Oki berharap bisa memperkuat ukhuwah, dan hubungan persahabatan  antara Islam dan dunia Barat.  Buku ini memaparkan bagaimana perjalanan Oki yang tidak hanya berupa traveling, namun juga perjalanan spiritual untuk  mengenal Islam lebih dekat.

Dari perjalannya itu dia bisa melihat potret Islam di negara minoritas. Bagaimana mereka mempertahkankan Iman  dan Islam, serta tanggapan pemerintah atau warga terhadap pemeluk Islam. Misalnya saja ketika dia mengunjungi Australia. Di sana dia memahami bahwa sikap toleransi sangat dijunjung tinggi oleh warga Australia. Mereka saling menghormati kepercayaan masing-masing, tanpa bersikap rasis atau menghakimi.  Bahkan ketika isu terorisme yang terus memojokkan Islam, kaum non-muslim di Australia tidak serta mempercayaianya. Mereka tetap mengormati pemeluk Islam di sana. Karena apa yang dinilai dari seseorang itu bukan  agamanya, namun perilakunya.

“Australia ini adalah negara sekuler. Agama dipisah-pisahkan dari kehidupan. Tapi, bukan berarti nilai-nilai kebaikan diabaikan. Pembelajaran mengenai akhlak diajarkan di setiap sekolah.” (hal 45).

Di Australia Oki juga diberi kesempatan melakukan dialog lintas agama yang sangat membantunya dalam memahami pola pikir masyarakat Australia yang belum bertauhid. Dengan gampalng Oki mencoba menjelaskan tentang keagamaan.

Banyaknya suku, bangsa, aliran, kepercayaan dan agama menimbulkan banyaknya konsepsi akan ketuhanan dari masing-masing komunitas. Untuk melakukan pendekatan pengetahuan mengenai Tuhan yang hakiki, kita perlu mengenal karakteristik dari Tuhan yang bisa diakuis secara objektif, sebagai kebenaran universal. Hal ini kemudian diistilahkan dengan agama yang di dalamnya ada aturan yang mengajarkan manusia bagaimana aturan beribadah, berinteraksi satu sama lain dan lain sebagainya. Benar bahwa untuk memiliki akhlak yang baik tidak hanya diajarkan dalam agama, tapi apakah kehampaan, kekosongan, dan kealpaan jiwa manusia itu dapat disejukkan agama? Agama yang diyakini oleh masing-masing penganutnya dapat memberikan kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian dalam hidup. (hal 47).

Begitu pula ketika berada di Jerman, yang ternyata begitu terbuka kepada imigran baik yang seorang muslim atau non-muslim. Oki mengalami banyak kejadian yang menginspirasi, yang membuatnya memahami, kearifan Islam bisa datang dari mana pun atau di belahan bumi di mana saja.  Dan sebagai seorang muslim atau muslimah, sangat baik jika kita melakukan perjalanan ke berbagai belahan bumi untuk mencari ilmu. Dengan catatan kita harus memiliki iman yang kokoh, agar tidak mudah terjerat oleh arus global.

 Profesor Abdullah Saeed pernah berkata, “Pastikan kokoh dulu akidahnya, kembalikan segala sesuatu kepada Al-Quran dan hadis, sehingga berbagai macam llmu yang masuk, serta lingkungan yang ada di sekitar, membantumu semakin saleh, bukan justru menjerumuskanmu.” (hal 123).

Selain hal itu, kisah-kisah menarik perjalanan dari Australia, Jerman hingga Spanyol juga membuka peluang belajar sejarah Islam lebih berdasarkan catatan sejarah di masa lalu. Buku yang sangat menarik dan patut dikaji. Melalui buku ini kita juga diingatkan tentang pentingnya menuntut ilmu.

Srobyong, 5 Juni 2018 

Monday, 27 August 2018

[Resensi] Menyucikan Hati dengan Mengkaji Al-Quran

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 12 Agustus 2018


Judul               : Revive Your Heart
Penulis             : Nouman Ali Khan
Penerjemah      : Rini Nurul Badariah
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : 176 halaman
ISBN               : 978-602-418-175-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Hati memiliki pengaruh besar dalam kehidupan kita. Rasulullah pernah berkata bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika dia baik, maka seluruh tubuh pun baik. Namun jika dia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh.  Dan perlu kita ketahui, segumpal daging itu maksudnya adalah hati.

Bisa dibilang hati adalah pangkal segala perbuatan kita. Misalnya saja ketika terjadi berbagai tindakan amoral; seperti meneror, pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, korupsi dan lain sebagaianya. Jika kita melihat lebih dalam, terjadinya tindakan tersebut adalah karena hati yang kotor. Ketika hati kotor, kita cenderung melakukan perbuatan tercela atau jahat. Sebaliknya jika hati kita bersih, maka kita cenderung untuk melakukan kebaikan. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga hati dan mengobatinya agar tetap bersih dan sehat.  Di antara cara mengobati hati agar tetap sehat dan bersih adalah dengan mengkaji Al-Quran.

Buku ini dengan paparan yang cerdas, lugas  dan kritis, akan mengajak kita untuk mengkaji Al-Quran secara mendalam. Diambil dari kumpulan ceramah yang pernah dilakukan oleh Nouman Ali Khan, kita bisa memetik hikmah dan inspirasi tentang bagaimana cara memurnikan hati melalui terapi Al-Quran agar selalu sehat dan bersih.

Agar hati tenteram, bersih, sehat dan tidak mudah berkarat, maka kita harus selalu berpikir positif. Artinya jangan berburuk sangka kepada orang lain. Karena memiliki pikiran negatif hanya akan membuat kita sakit hati dan benci kepada orang lain. Padahal membenci orang lain adalah perbuatan tercela.  Dalam surat Al-Hujurat ayat 12 dijelaskan, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain  (hal 43).

Dalam ayat ini kita ditekankan untuk tidak memiliki prasangka buruk  baik kepada Allah atau manusia biasa. Kita juga tidak boleh  suka mencela, mencari kesalahan, mematai-matai, mengintai serta membicarakan keburukan orang lain. Sikap-sikap tersebut adalah tanda penyakit hati. Oleh karena itu penting bagi kita untuk  mengubah cara berpikir kita.  Yaitu dengan berpikir positif kepada siapa saja. Hal itu lebih aman dan bermanfaat.

Kemudian, jangan bersikap takabur. Yaitu sikap merasa lebih besar daripada orang lain. Apa pun kapasitas kita, kita semua dianugerahi posisi pemimpin.  Baik ketika menjadi pemimpin keluarga, manajer kantor,   menjadi pemimpin suatu daerah atau negara dan lain sebagainya.  Akan tetapi ketika menjadi pemimpin kita tidak boleh bersikap takabur. Kita harus bersikap lemah lembut dalam bersikap, baik dalam ekpresi wajah dan emosi. Kita tidak boleh merasa lebih hebat karena memiliki posisi yang lebih tinggi.  Anjuran bersikap lemah lembut sesuai dengan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 159, “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (hal 59).

Selanjutnya adalah jangan bersikap batil. Yaitu mencurangi orang lain dalam mengumpulkan harta. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari surat Al-Baqarah ayat  188. “Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan batil dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”  (hal 70-7).

Kita hidup memerlukan uang. Namun perlu kita catat, dalam mengumpulkan uang atau harta kita tidak boleh melakukannya dengan cara yang batil atau salah. Seperti dengan mempraktikkan riba,  melakukan penipuan, korupsi atau menyogok pemerintah untuk kepentingan diri sendiri, agar harta yang kita peroleh bisa bertambah.  Kita harus mengetahui bahwa harta yang baik itu disertai berkah, sedangkan harta yang kotor itu disertai laknat.  Oleh karean itu, agar harta yang kita peroleh itu berkah, maka kita harus memcarinya dengan cara yang baik.

Selain sikap-sikap tersebut, masih banyak sikap lain yang dipaparkan dalam buku ini.  Seperti putus asa, lalai, cinta dunia dan banyak lagi.  Buku ini sangat patut dibaca dan diamalkan.

Srobyong, 13 Juli 2018

Tuesday, 17 July 2018

[Resensi] Terapi Al-Quran untuk Menyucikan Hati

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu 8 Juli 2018


Judul               : Revive Your Heart
Penulis             : Nouman Ali Khan
Penerjemah      : Rini Nurul Badariah
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : 176 halaman
ISBN               : 978-602-418-175-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Al-quran adalah kitab suci umat Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad yang berisi petunjuk untuk semua umat dan membacanya bernilai ibadah.  Di antara kandungan Al-Quran  adalah adiqah, sejarah, ibadah, akhlak, muamalah dan berbagai ilmu pengetahuan—baik pengetahuan agama juga masalah sains. Di mana semua kandungan itu tidak pernah lekang oleh waktu. Karena Allah telah menjamin dan menjaga kemurian Al-Quran. Di mana pun dan kapan pun kita bisa mengambil pembelajaran dari Al-Quran.

Dan sebagaimana kita ketahui, hati adalah pangkal segala perbuatan kita. Jika hati baik, maka baik pula akhlaknya. Sebaliknya jika hati itu kotor, maka akhlak pun menjadi tercemar. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, hati itu diperumpamakan seperti pancir air yang mendidih—selalu bolak balik. Mengingat betapa rentannya hati, maka sudah semestinya kita membentengi hati dan jiwa kita agar tidak mudah bolak balik dan berkarat. Salah satunya dengan melakukan terapi hati melalui Al-Quran.

Begitu banyaknya kandungan Al-Quran, maka kita bisa mengambil saripati dan mengambil pelajaran dari pesan-pesan yang termaktub di dalamnya.  Buku karya Nouman Ali Khan ini sangat patut dibaca, untuk memahami lebih dalam bagaimana cara menyucikan hati. Dengan paparan yang mendalam dan kritis, kita akan disadarkan betapa pentingnya mengkaji Al-Quran dengan sepenuh hati, mendorong kita agar lebih memedulikan tugas kita kepada Allah dan mendesak kita untuk membenahi perpesktif hidup.

Di antaranya adalah pembahasan tentang doa.  Bagaimana kita bisa terhubungan dengan Allah melalui doa?  Sering kali kita bertanya-tanya, Apakah doa kita di dengar oleh Allah? Kenapa Allah belum mengabulkan doa kita? Di sini kita diingatkan untuk menjadi pribadi yang mawas diri—kita harus berpikir positif terhadap Allah dan tidak boleh putus asa.  Kita memang dianjurkan berdoa, namun kita tidak boleh menuntut kepada Allah. Kita harus sabar dengan segala ketentuan Allah.  Dia-lah sebaik-baik pemelihara.

 “Ketika kau merasa bahwa Allah tidak mendengarkan doamu, itulah kesuksesan tertinggi bagi setan. Dia sangat ingin meyakinkan seseorang bahwa Allah telah mengabaikan hamba-Nya karena dosa-dosa yang telah dilakukannya. Sedangkan Allah sama sekali tidak pernah mengabaikan hamba-Nya. Jadi, kita tidak boleh putus asa dengan Allah atau berpikir karena dosa-dosa kita, Allah berhenti mendengarkan kita.” (hal 2).

Selain pembahasan tentang doa,  masih banyak pembahasan lain, yang akan sangat membantu kita dalam usaha menjaga hati baik dalam urusan dunia atau akhirat.  Dengan analogi yang mudah dipahami, penulis mampu menggetarkan hati pembaca, menyadarkan kita untuk terus mendekatkan diri kepada Allah.

Srobyong, 1 Juli 2018

Tuesday, 9 January 2018

[Resensi] Memilih Pasangan Sesuai Kriteria Hati

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 10 Desember 2017


Judul               : Jodoh Pilihan Hati
Penulis             : Ikhsanun Kamil & Foezi Citra Cuaca
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, Maret 2017
Tebal               : 240  halaman
ISBN               : 978-602-418-099-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Dalam sinopsis buku dipaparkan, pernikahan adalah sebuah keputusan besar dalam hidup, menjalaninya tentu harus dengan pasangan yang tepat. Bukan hanya sekadar bahagia menjadi tujuan, melainkan keberkahana dari Allah. Ikhtiarnya diawali dengan memilih pasangan idaman, yang tepat sesuai dengan kebutuhan diri.   Buku ini dengan gaya bahasa yang menarik dan memikat mengajak kita  untuk mengetahui bagaimana cara memilih jodoh atau pasangan tepat sesuai kriteria hati.

Hal pertama yang biasa kita lakukan adalah melakukan mirroring—yaitu proses bercermin atau mengenali diri sendiri. Sebelum mencari pasangan yang diidamkan, kita harus benar-benar mengenal siapa diri kita; dari segi kebutuhan, kelebihan juga masalah kekurangan. Bagaimana mungkin kita bisa memilih pasangan hidup jika kita tidak mengenal diri sendiri? Bagaimana mungkin kita  bisa dengan ‘ideal’ menentukan kriteria pasangan idaman, bila kita saja belum sepenuhnya memantaskan diri sendiri.(hal 11).

Mengingat janji Allah adalah jodoh itu cerminan diri sendiri. Jika kita ingin memiliki pasangan yang baik, tentu kita seyogyanya memperbaiki diri terlebih dahulu. Perlu kita cacat, “Pernikahan itu bukan hanya urusan ‘aku’ dan ‘kamu’, melainkan utamanya dengan Sang Mahacinta. Jangan pernah berharap kepada manusia karena potensi kecewa, berharaplah penuh hanya kepada-Nya.” (hal  80).  Dengan melakukan mirroring akan sangat membantu kita dalam mengenal diri sendiri juga apa yang kita inginkan dari pasangan.  

Selanjutnya adalah kita harus melakukan Matching—proses mencocokkan atau proses mengenali pasangan. Dengan melakukan matching, kita akan tahu apa saja seberapa kita saling cocok dengan pasangan dan bagaaimana saling melengkapi kekurangan dari kita masing-masing.  Fufu Elmart berkata, “Karena pernikahan itu adalah langkah awal membangun peradaban, karena cinta dalam pernikahan itu haruslah dapat tumbuh dan menumbuhkan. Maka pilihlah ia yang akan jadi  ladang  menyuburkan.” (hal 141).

Sebagaimana kita ketahui  secara umum banyak pasangan yang kerap kali memilih  kriteria pasangan berdasarkan penampilan atau harta.  Padahal seyogyanya dalam tuntunan Islam, kita telah diberi petunjuk, kita boleh menikahi pasangan berdasarkan empat kriteria : harta, kecantikan atau ketampanan, nasab dan agama. Namun yang paling baik adalah memilih agamanya yang baik.  “Menikah itu untuk membangun peradaban bersama, diperlukan komitemn yang setia, agar dunia bahagia, akhirat surga.” (hal 167).

Tidak ketinggalan kita perlu melakukan Completing—yaitu tahap penyelesaian, untuk saling melengkapi antara kita dan calon pasangan. Nasihat Fufu, “Menikah dengan orang yang kita cintai adalah kemungkinan, tetaapi mencintai orang yang kita nikahi adalah kewajiban. Maka pilihlah ia yang kan mengutuhkan.” (hal 189).

Di sini kita diingatkan ketika kita sudah membuat keputusan dalam memilih pasangan, maka sudah seyogyanya kita saling menerima  dan melengkapi. Semoga Allah membersamai kita, ketika kita saling mengenal saling menuntun satu sama lainnya. Agar bukan ego yang berbicara, tetapi nurani kita yang sebenarnya.

Dan penting untuk selalu kita ingat. Setelah melakukan berbagai usaha di atas. Kita harus tetap bertawakal kepada Allah. Karena Dia adalah sebaik-baiknya Dzat yang Maha Tahu. Berdoa dan bertawakal semoga pernikahan yang kita ikrarkan, diberi rahmat dan berkah hingga langgeng hingga akhir hayat.

Sebuah buku yang sangat membantu kita dalam usaha mencari pasangan yang tepat. Di sini selain memaparkan cara-cara bagaimana memilih pasangan sesuai kriteria hati,  penulis juga melengkapi dengan kisah-kisah nyata yang bisa kita jadikan ibrah dan pelajaran. Dan lebih menarik lagi buku ini juga dilengkapi tes kepribadian diri sehingga bisa membantu kita untuk lebih mengenal diri sendiri. Secara keseluruhan buku ini sangat membantu kita. Beberpa kesalahan yang ada di dalam buku ini, tidak mengurangi manfaat yang akan kita peroleh dari buku ini.

Srobyong, 14 Oktober 2017 

Monday, 11 September 2017

[Resensi] Tuntunan Gaya Busana Muslimah

Dimuat di Majalah Aulee, edisi September 2017 


Judul               : 99 Notes for Muslimah
Penulis             : Satria Nova
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, 1 April 2017
Tebal               : 194 halaman
ISBN               : 978-602-418-157-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


Muslimah yang baik adalah muslimah yang bisa menjaga diri—menjaga aurat dengan baik agar tidak menimbulkan fitnah apalagi bencana.  Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim dijelaskan, “Ada dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihatnya. Pertama, golongan yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang dengan cambuk tersebut mereka mencambuki orang-orang. Kedua, golongan perempuan yang berpakaian tapi telanjang, yang  cenderung (tidak taat kepada Allah) dan mengajarkan orang lain untuk meniru perbuatan mereka.” (hal 66).

Buku ini dengan gaya bahasa yang renyah dan gurih, memaparkan tentang nasihat-nasihat untuk muslimah. Salah satunya adalah tentang  bagaimana seharusnya seorang muslimah memakai busana. Sedari kecil kita tentu sudah dijelaskan tentang batas-batas aurat seorang muslimah. Yaitu seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Dan kita pun dianjurkan memakai jilbab. Hanya saat ini tidak semua muslimah tergerak untuk memakainya.  Padahal perintah ini sudah dijelaskan dalam surat Al-Azhab ayat 59. “Hendaklah mereka menjulurkan  jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (hal 68).

Di antara alasan yang sering dipaparkan para muslimah ketika tidak segera memperbaiki gaya busana—khususnya mengenakan jilbab yaitu,  merasa belum siap dan beranggapan yang terpenting adalah memiliki hati baik. Padahal berjilbab dan  harus memiliki hati baik itu sama-sama perintah Allah yang harus dilaksanakan, kita tidak boleh memilih salah satu.

Kemudian kali kita juga merasa jilbab dan pakaian lebar akan mengangggu aktivitas dan membuat kita kepanasan. Padahal panas di dunia tidak sebanding dengan panas yang akan kita terima di neraka kelak. Selain itu perlu kita ketahui,  jilbab dan pakaian muslimah sama sekali tidak membatasi ruang gerak dan aktivitas kita. Banyak saat ini para muslimah yang tetap bisa bersekolah tinggi, traveling, keliling dunia, bekerja, berbisnis dan melakukan hobi mereka, meski memakai pakai syar’i (hal 70-71).

Kerap kali kita juga berpikir dengan memakai jilbab dan baju tertutup akan membuat diri mereka tidak menarik. Dan pendapat  dengan memakai baju dan jilbab lebar kita akan  kesulitan dalam mendapat jodoh dan pekerjaan. Ini sungguh pemikiran yang bodoh. Masalah jodoh itu ketetapan Allah. dan jika kita tidak diterima dalam sebuah instansi perusahaaan karena jilbab, itu tanda perusahaan tersebut kurang baik, karena tidak menghargai keyakinan karyawannya. Tidak ketinggalan kita sering berasalan bahwa kita belum dapat hidayah untuk berjilbab. Padahal kenyataanya kita sendiri yang kadang menghalangi hidayah itu sendiri.  perlu kita ketahui hidayah itu bukan ditunggu, melaikan diusahakan. Kita harus paksa diri untuk berjilbab dan memakai baju syar’i, maka lama-lama hati kita akan merasa nyaman.

Ada alasan tersendiri kenapa Allah memerintahkan para muslimah untuk berjilbab dan menutup aurat. Di mana ternyata hal itu memiliki banyak manfaat. Di antaranya bisa melindungi diri dari kejahatan seksual yang saat ini marak terjadi, hati menjadi tenang serta menunjukkan jati diri sebagai seorang muslimah itu sendiri.

Perlu diingat dalam menjaga aurat kita tidak sekadar memakai jilbab, tetapi benar-benar memperhatikan apakah pakaian yang dikenakan itu sudah syar’i atau belum. Yang mana ciri-cirinya adalah pakaian muslimah seyogyanya tidak ketat—di mana masih memperlihatkan lekuk tubuh muslimah itu sendiri,   tidak transparan, sehingga bagian tubuh muslimah bisa dilihat dari luar,  tidak menyerupai pakaian laki-laki, tidak memakai pakaian yang menyerupai pakaian wanita kafir, tidak boleh memperlihatkan perhiasan kepada selain mahramnya, tidak bermegah-megahan saat mengenakan pakaian dan jilbab yang dipakai harus menjulur sampai dada. Selain itu cara berpakain itu harus diterapkan di mana saja. Bukan hanya ketika sedang bepergian, namun juga di lingkungan sekitar rumah.

Kita harus selalu menjaga sikap baik dengan tidak berbicara buruk, mencintai kebersihan, berani melakukan perubahan dan mandiri.  Dengan melakukan semua itu, bukankah sama saja kita menghargai diri sendiri? Jangan sampai kita menjadi seorang muslim yang rugi karena bertindak tidak sesuai norma agama dan ujungnya merugikan diri sendiri.

Buku ini sangat patut dibaca bagi para muslimah. Karena selain memaparkan tentang masalah gaya busana, di sini dipaparkan juga tentang pesan-pesan bijak yang harus diketahui para muslimah, dimulai dari pentingnya menuntut ilmu, hingga masalah aktivitas, ibadah juga menjemput jodoh.

Srobyong, 1 Juli 2017 – 16 Agustus 2017 

Monday, 17 July 2017

[Resensi] Mengelola Cinta dengan Bijak

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Selasa 4 Juli 2017


Judul               : Cinta yang Seharusnya
Penulis             : Agus Susanto
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, Februari 2017
Tebal               :144 hal
ISBN               : 978-602-418-140-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama. Jepara.


Cinta merupakan sebuah fenomena dunia yang banyak memengaruhi kehidupan manusia. Cinta selalu menjadi bagian dari hidup yang akan selalu hadir menemani dalam setiap embusan napas kita. Oleh karena itu, kita harus mampu memanfaatkan cinta demi mewujudkan kualitas kehidupan yang lebih baik dan indah.  Di mana kita harus tahu bagaimana cara mengelola cinta secara bijak agar tidak terjerumus pada cinta yang salah.

Sadar atau tidak saat ini banyak sekali orang yang belum bisa menempatkan cinta pada tempatnya. Hal ini bisa dilihat dari perkembangan pergaulan para remaja. Untuk itu buku ini bisa menjadi solusi yang tepat, sebagai jembatan yang akan membuka pengetahuan baru. Penulis menghadirkan berbagai pemahaman tentang cinta dan dinamikanya.

Tentu kita masih ingat dengan kisah Layla Majnun. Qais, pria tampan, cerdas dan memiliki bakat luar biasa dalam bidang seni perang, musik, syair dan lukis, tiba-tiba mendapat julukan sebagai orang gila (majnun) karena cintanya pada Layla tidak tersampaikan. Hubungan mereka ditentang hingga Qais tidak  bisa bertemu kekasihnya.  Hal inilah yang kemudian membuat Qais merana hingga berujung gila (hal 17).

Tentu kita tidak ingin mengenal cinta yang seperti itu bukan? Karena cinta seperti itu bukanlah cinta terpuji.  Cinta yang terpuji adalah cinta yang berlandaskan dengan rida Allah.  Sebagaimana yang dicontohkan dengan kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah.

Oleh karena itu ketika cinta mulai menyapa, kita harus tahu rambu-rambu yang perlu ditaati agar tidak salah jalan. Pertama, jadikan cinta itu sebagai motivasi. Dan di sini cinta itu hanya bisa tercapai melalui pernikahan. Jadi intinya ketika kita sudah siap mencintai, itu akhirnya kita juga siap untuk menuju gerbang pernikahan. Karena lewat jalan itu Allah menghalalkan sebuah hubungan. Cinta seperti ini yang akan menebarkan banyak motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kedua adalah menahan pandangan. Ini jika kita belum siap menikah, maka hal utama yang perlu dilakukan adalah menahan pandangan. Dengan begitu kita akan terjauh dari fitnah.  Perlu dikatahui bahwa dengan menahan pandangan itu berarti kita menahan syahwat dan keinginan hati. Dan terkahir, yakinlah cinta itu akan indah pada waktunya. Jadi jangan khawatir jika saat ini belum nenemukan tambatan hati. Karena pasti Allah menyiapkan pasangan masing-masing jika tiba saatnya nanti (105-106).

Sebuah buku yang memikat dan memotivasi yang bisa dijadikan untuk muhasabah diri. dipaparkan dengan renyah dan gurih buku ini patut untuk dikonsumi agar bisa menjaga cinta dengan baik, menempatkannya pada jalan yang seharusnya.

Srobyong, 7 Mei 2017 

Thursday, 13 July 2017

[Resensi] Memperbanyak Sedekah saat Ramadhan

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 18 Juni 2017

Judul               : Tukang Singkong Naik Haji
Penulis             : Satria Nova
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, Februari 2017
Tebal               : 194 halaman
ISBN               : 978-602-418-083-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Ini adalah naskah asli ketika mengirim naskah, namun dari pihak redaksi akhirnya ada banyak pemotongan. 

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Allah membuka lebar pintu maaf bagi siapa saja yang memohon ampunan dan berusaha memperbaiki diri. Selain itu pada bulan Ramadhan Allah juga  melipat gandakan bagi siapa saja yang melakukan ibadah. Di antara ibadah yang dianjurkan adalah sedekah.  Mungkin sebagian orang akan bertanya-tanya, kenapa kita harus mengeluarkan sedekah? Bukankah sedekah akan mengurangi harta yang kita miliki?  Dan bukankah kita sudah mengeluarkan zakat? Kenapa harus bersedekah lagi?


Dalam buku ini penulis akan menjabarkan apa saja manfaat sedekah dan apa yang membuat kita harus melakukan sedekah. Selain itu dalam buku ini penulis juga memberikan kajiah kisah teladan dari orang-orang yang memperoleh fadilah sedekah.

Perlu disadari bahwa semua yang kita miliki sesungguhnya semua berasal dari Allah. Semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah.  Barangsiapa yang bersyukur dan mampu menjaga titipan itu dengan semestinya, sungguh ia akan beruntung. Namun sebaliknya, jika ia ingkar, ia akan merugi (hal 27).

Lalu salah satu  cara menjalankan amanah itu adalah dengan bersedekah. Yaitu  memberikan sesuatu kepada orang lain, baik berupa barang atau pun hal lainnya yang bermanfaat. Jika menilik saat ini bulan Ramadhan, maka sedekah itu bisa berupa ikut bersumbangsih memberikan makanan berbuka atau takjil  kepada anak yatim atau memberi takjil  di panti asuhan,  musala atau  masjid.   Perlu diketahui bahwa pahala memberi makan kepada orang yang berpuasa itu sama dengan pahala orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.

Dalam firman surat Al-Baqarah ayat 254 dijelaskan, “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak da lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang itulah yang zalim”  Jadi sudah jelas, bahwa Allah telah menyuruh kita untuk membelanjakan harta di jalan Allah. Baik dalam keadaan luang maupun sempit.

Dalam setiap sedekah itu terdapat banyak manfaat yang Allah janjikan pada kita. Di antaranya adalah, dengan bersedekah kita akan mendapat pahala yang besar. Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam surat Al-Hadid ayat 18. “Barang siapa meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan ia akan memperoleh pahala yang mulia.” (hal 32).  Dalam sebuah hadis pun disebutkan pahala orang yang menafkahkan harta dijalan Allah, akan diberi pahala tujuh ratus kali lipat.

Sungguh besar bukan? Rasanya sangat sayang untuk ditinggalkan. Tidak hanya mendapat pahala berlipat ganda, jika mau mengeluarkan sedekah, Allah juga menjanjikan rezeki kita akan bertambah. Rasulullah pernah berkata, “Tidaklah seseorang yang membuka pintu pemberian dengan sedekah atau menyambung tali silaturahim, melaikan Allah akan menamabah hartanya.”

Tidak kalah menarik bersedekah adalah jalan untuk menghapus dosa-dosa kecil yang pernah kita lakukan, mencegah dari azab neraka,  mendapat naungan di Padang Mahsyar hingga pahala terus mengalir. Betapa banyak sekali manfaat sedekah jika kita mau melakukan dengan ikhlas.  Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim,  pernah dipaparkan, bahwa Rasulullah adalah orang yang paling gemar bersedekah, apalagi di bulan Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan pintu keutamaan dan keberhakan dibukan dengan sangat lebar.  Maka masihkah kita ragu dalam bersedekah? Padahal bersedekah adalah salah satu pintu untuk mendapat rahmat dari Allah. Apalagi di bulan suci ini.

Srobyong, 11 Juni 2017