Showing posts with label Quanta. Show all posts
Showing posts with label Quanta. Show all posts

Wednesday, 4 September 2019

[Resensi] Rumus Meraih Kebahagiaan


Picture by Ratnani Latifah 
Judul               : Hanya Cinta-Nya, Tujuan Jiwa Ini Terlahir
Penulis             : Riawani Elyta & Risa Mutia
Penerbit           : Quanta
Cetakan           : Pertama, Agustus 2019
Tebal               : 234 halaman
ISBN               : 978-623-00-0386-8

“Cukup Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang agung.” (hal v).

Siapa sih yang tidak meraih kebahagiaan dalam hidupnya? Bohong jika kita mengatakan tidak. Karena kebahagiaan  adalah satu dari tujuan yang diinginkan setiap orang dalam hidup ini. Tidak ada seorang pun yang ingin hidup dalam kesusahan atau kesedihan. Bahkan ketika baru sebentar diganjar kesulitan, kita akan cepat mengeluh kepada Allah. Kita merasa menjadi pribadi yang paling malang dan lain sebagainya. Padahal masih banyak orang lain yang keadaannya lebih memprihatinkan dari pada kita.

Lalu bagaimana cara meraih kebahagiaan? Apakah dengan memiliki kekayaan berlimpah,  berhasil meraih impian, menjadi orang sukses, punya jabatan tinggi atau sederet keindahan dunia yang mudah untuk didapatkan?   Melalui buku ini kita akan menemukan tentang makna  kebahagiaan yang sebenarnya. Bahwa kebahagiaan itu tidak melulu tentang keindahan dunia.  Namun kebahagiaan adalah ketika kita mau bersyukur dalam keadaan apa pun dan selalu berserah kepada Allah.

Buku bertajuk “Hanya Cinta-Nya, Tujuan Jiwa Ini Terlahir” akan memuat beragam motivasi hidup, yang membuat kita memiliki pikiran yang lebih  terbuka,  menjadi pribadi yang lebih baik, serta memahami tentang arti syukur dan bahagia. Tidak hanya itu melalui buku ini kita bisa menemukan berbagai solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Kita akan diajarkan untuk menjadi pribadi yang tidak mudah mengeluh dan selalu ingat kepada Allah.

Pada bab pertama ada pembahasan menarik tentang Tidak Ada Kebaikan yang Sia-sia.  Di sini penulis menuturkan bahwa sebagai makhluk sosial kita dianjurkan untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja. Namun dengan catatan dalam berbuat baik,  harus kita iringi dengan keikhlasan. Perbuat baik yang disertai sifat ikhlas akan membuat kita lebih dekat kepada Allah. Selain itu, meskipun ketika kita telah berbuat baik, tapi orang lain tidak peduli dan bahkan mencemooh, kita harus selalu yakin bahwa kebaikan yang kita lakukan tidak akan berakhir sia-sia. Selalu ada balasan yang Allah berikan bagi hamba-Nya yang mau berbuat baik kepada sesama. Ustaz Hanan Attaki, Lc memaparkan, “Teruslah berbuat baik meski itu melelahkan, karena lelahnya akan hilang sedangkan pahalanya, insya Allah akan terus ada.” (hal 5).

Kebaikan atau kepedulian  mengajarkan kita untuk tidak selalu melihat seseorang yang di atas saja, tapi kita juga diajak untuk melihat orang yang berada di bawah kita. Dengan begitu, maka akan timbul rasa syukur dan tidak besar kepala. Hasan Al Bashri berkata, “Lakukanlah sebaik sekecil apa pun karena kau tak pernah tahu kebaikan apa yang akan membawamu ke surga.” (hal 9). 



Pada bab kedua dipaparkan dengan lugas tentang Waktu adalah Kehidupan yang Terus Melaju. Pada bab ini kita diingatkan pentingnya mengelola waktu dengan baik agar tidak menjadi orang yang rugi. Jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebaliknya kita harus memanfaatkan waktu untuk ibadah kepada Allah dan agar terhindar dari hidup yang sia-sia.
“Waktu adalah sesuatu yang tak akan pernah kembali. Ambillah pelajaran dari masa lalu untuk membuatmu bijak dalam menjalanai kehidupanmu saat ini.” (hal 71).



Kita tidak boleh terlena dengan waktu luang. Boleh saja kita memikirkan masalah dunia, tapi jangan sampai kita lupa mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat. Keduanya sama-sama penting. Jadi kita harus menempatkannya sesuai poris masing-masing. Jangan sampai karena sibuk dunia, kita menjadi terlena. Sehingga Allah berpaling dari kita dan menjauhkan kita dari rahmat-Nya.

Meraih Kebahagiaan Hakiki  bab ketiga yang menuturkan tentang cara kita dalam meraih kebahagiaan yang sebenarnya.  Agar kita meraih kebahagiaan maka kita diajurkan untuk menjadi pribadi yang pemaaf, karena sifat pemaaf akan menjauhkan kita dari rasa dendam yang bisa mengotori hati. Kemudian kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan.  Syukur akan membuat kita selalu mengingat Allah dalam setiap saat—baik saat susah atau senang. Tidak kalah menarik di sini kita dijelaskan bahwa kebahagiaan juga bisa hadir dari kebiasaan senang berbagi dan selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Yang terakhir Optimis adalah Bingkai Cinta memuat tentang berbagai motivasi kehidupan dalam keseharian kita. Di mana kita diajak untuk menjadi pribadi yang memiliki semangat juang—baik dalam upaya meraih impian di dunia juga dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah.  Jika kita ingin menjadi orang sukses maka kita harus menjadi pribadi yang fokus, percaya diri,  dan tidak mudah putus asa.

Secara keseluruhan, buku ini mencoba menunjukkan bahwa dengan mendekatkan diri kepada Allah, maka kita akan merasakan kebahagiaan. Allah adalah  sebaik-baiknya  tempat untuk berserah dan bersandar.  Boleh kita berusaha meraih kebahagiaan di dunia, namun jangan lupa untuk memperbanyak amalan yang berhubungan dengan urusan akhirat. Ketika kita hanya bersandar kepada Allah, maka Allah akan memudahkan kita dalam setiap langkah.  

Buku ini merupakan buku nonfiksi ketiga karya Mbak Ria yang sudah saya baca. Dan sebagaimana buku sebelumnya, Kitab Sakti Remadja Oenggoel dan Waspada Jejak Haram yang Mengingtai saya menikmati setiap lembar ketika membaca buku ini.  Apalagi buku ini dipaparkan dengan bahasa sederhana yang mudah dicerna dan tidak jlimet. Buku ini memuat banyak sekali pembelajaran yang disertai dengan quote-quote yang menginspirasi. Melalui buku ini saya belajar bahwa untuk meraih kebahagiaan dan cinta dari Allah, maka kita harus banyak melakukan perbuatan baik dan memiliki sikap optimis.

Berikut adalah beberapa quote yang sangat menginspirasi yang bisa dijadikan renungan : 






Video ini berisi review singkat yang disertai quote-quote dalam buku “Hanya Cinta-Nya, Tujuan Jiwa Ini Terlahir”





Srobyong, 4 September 2019




Thursday, 29 November 2018

[Resensi] Mereguk Hikmah dan Kearifan dari Para Kiai

Dimuat di Analisa Medan, Jumat 9 November 2018


Judul               : Mereguk Kearifan Para Kiai
Penulis             : Jamal Ma’mur Asmani
Penerbit           : Quanta
Cetakan           : Pertama, 2018
Tebal               : 234 halaman
ISBN               : 978-602-04-5620-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Ulama adalah  panutan dan orang-orang yang bertakwa adalah majikan, duduk bersama mereka bisa menambah.” (hal 5).

Godaan-godaan destruktif manusia disebabkan banyak hal. Dalam bahasa agama, ada makhluk yang bertugas menggoda manusia supaya tergelincir ke lubang kehancuran. Makhluk tersebut disebut setan. Selain setan, sesuatu yang justru paling besar pengaruhnya dalam mencelakakan manusia adalah lingkungan yang merusak. Lingkungan tersebut terdiri atas teman pergaulan dan budaya masyarakat yang membawa seseorang ke jurang neraka.

Oleh sebab itu, dalam Islam seseorang dianjurkan untuk memilih tempat dan lingkungan yang membawa kepada persemaian ajaran-ajaran Islam yang suci dan agung (hal 2-3). Di antaranya kita bisa memulainya dengan berkumpul dan berteman dengan orang-orang yang teguh dalam iman serta berakhlakul karimah, dan sosok yang berada dalam naungan rida Allah, yaitu ulama atau sering disebut juga kiai.

Dengan mendekatkan diri kepada alim ulama, diharapkan kita bisa mengambil keteladanan, baik dari segi sikap juga amalan-alaman yang telah dilakukan. Karena ulama merupakan sosok yang akan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah agar mendapat rida-Nya. Ulama selalu bersikap sabar, santun dan rendah hati terhadap siapa saja. para ulama juga sangat memedulikan tentang masalah pendidikan, serta kesejahteraan kaum.

Lewat buku ini, penulis mencoba mengenalkan kepada pembaca tentang kearifan para ulama yang patut untuk kita teladani. Sehingga kita bisa mengambil ibrah—keteladana serta bermuhasabah diri.
Adalah Kiai Hasyim Asya’ari yang kerap disebut sebagai Mahaguru Kiai Nusantara, karena kiprah kepahlawanannya. Beliau merupakan sosok ulama dan negarawan yang seluruh hidupnya dicurahkan untuk membesarkan umat dan memperjuangan nasib bangsa (hal 33). Kiai Hasyim Asy’ari  tidak ingin pemimpin dan warga NU berpikiran sempti dan fanatik. Beliau mengajarkan sikap toleran, moderat yang sangat dibutuhkan bangsa di tengah pluralitas dan heterogenitas bangsa yang terdiri atas banyak agama, rasa, suku, etnos dan antar golongan (hal 38).

Ada pula Kiai Abdullah Zein Salam. Beliau merupakan wali yang sangat istikamah. Misalnya saat beliau sakit, beliau tetap menjalankan salat tahajud.  Dan ketika ada yang mengingatkan untuk berisitirahat, beliau menjawab, “Seng Pasti Ojo Kalah Karo Seng Ora Pasti.” Yang artinya yang pasti adalah mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan yang tidak pasti adalah kesembuhan, sehingga yang pasti tidak boleh dikalahkan yang tidak pasti (hal 43).

Selain selalu bersikap istikamah, beliau juga selalu menghindari tamak, selalu ikhlas mengharap rida Allah dalam segala lakunya. Beliau juga bersikap zuhud dan wara,  dermawan, rendah hati, hidup dalam kesederhanaan, dan tegas dalam mendidik guru dan anak dididiknya di pesantren. Kemudian tidak ketinggalan, beliau  merupakan pemimpin sangat cepat tanggap dalam melihat potensi kader-kader muda dan membantu kader mudah untuk berkembang dengan pesat (hal 44-45).

Kemudian, kita juga bisa mengambil keteladanan dan kearifan dari Kiai Ali Maksum, beliau merupakan sosk kiai yang lihai mengader generasi penerus. Pemikiran beliau di antaranya adalah ajakan untuk selalu membangun ukhuwah atau persaudaraan sesama muslim juga sesama manusia. kita juga diajak untuk kesadaran bernegara. Beliau menjelaskan ada beberapa hal yang bisa menjadi dasar tegaknya kemaslahatan dunia. Yaitu: agama menjadi pemodan, penguasa yang berwibawa, keadilan yang merata, keamanan semesta, kemakmuran sandang pangan dan harapn masa depan dan cita-cita yang tinggi (hal 135).

Selain beberapa ulama tersebut, maskh banyak lagi ulama atau kiai yang bisa kita teladani. Di antaranya ada Kiai Yafie yang dikenal sebagai sosok akademisi dan organisator ulung, lalu ada Kiai Mustafa Bisri, yang dikenal sebagai ulama santun dan dekat dengan umat, Kiai Said Aqil Siradj, yang dikenal sebagai ulama – orator ulung dan masih banyak lagi.

Buku membuka cakrawala bagi kita dalam bersikap di masyarakat. Kita harus mulai mengendalikan diri dan selektif dalam memilih teman dan mencari lingkungan.  Mari selalu mendekatkan diri kepada ulama, selain untuk belajar juga untuk mengambil ibrah dan keteladanan. Sebuah buku yang patut kita baca sebagai pencerah dan pengingat diri.

Srobyong, 2 November 2018

Wednesday, 17 October 2018

[Resensi] Kekuatan Berpikir Positif dan Tidak Mudah Menyerah

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 16 September 2018


Judul               : Jangan Mudah Mengeluh
Penulis             : Dwi Suwiknyo, dkk
Penerbit           : Quanta
Cetakan           : Pertama, Desember 2017
Tebal               : 260 halaman
ISBN               : 978-602-04-5363-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Univeritas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Teruslah melangkah meski terasa lelah. Teruslah berjuang meski cobaan kian menerjang. Karena kemenangan hanya milik mereka yang tak kenal putus asa.” (hal 7).

Sekali dua kali kita mengeluh mungkin tidak masalah. Mengingat hidup kadang tidak berjalan sesuai dengan rencana kita. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kita mengeluh setiap hari, bahkan setiap jam atau setiap menit. Bukankah itu namanya keterlaluan? Padahal masih banyak nikmat dan rahmat yang telah Allah bagikan kepada kita.  Yang penting kita mau berusaha dan ikhtiar.

Buku yang diambil dari kisah nyata—berasal dari sayembara menulis kisah inspriratif yang digalakkan oleh Dwi Suwinyo—akan mengingatkan kepada kita tentang pentingnya bersikap positif dan tidak mudah menyerah. Kita disadarkan bahwa sering mengeluh itu tidak akan menyelesaikan masalah. Mengeluh hanya akan membuat kita lemah dan mudah terjangkit sikap putus asa. Sebaliknya jika kita selalu berpikir positif, maka kita akan menjadi pribadi yang kuat dan terus berusaha sekuat tenaga menyelesaikan masalah atau rintangan yang menghalangi jalan kita.

Terdiri dari 20 kisah yang menarik, inspiratif dan memotivasi, kita akan dibuat hanyut dengan masing-masing kisah. Apalagi dalam setiap kisah diceritakan dengan gaya masing-masing penulis. Sehingga akan ada ciri khas tersendiri yang dan membuat kita tidak mudah bosan saat membaca buku ini. Ditambah lagi dari setiap kisah akan ada uraian menarik tentang berbagai permasalahan hidup. Meski memang dari setiap tulisan masih ada beberapa kekurangannya, tetap saja buku ini patut untuk kita baca dan renungkan. Karena banyak pembelajaran yang pastinya bisa kita dapat.

Misalnya kisah berjudul “Yang Penting Yakin”. Di mana dari kisah ini kita disadarkan bahwa pertolongan Allah itu nyata. Allah itu tidak pernah tidur. Ketika melihat hamba-Nya yang kesusahan, Allah akan membuka pintu rahmat-Nya. Tentu saja hal itu berlaku bagi orang-orang yang percaya dengan  kuasa Allah. Yang tidak mudah mengeluh, dan selalu yakin bahwa Allah selalu bersama kita. 

Siapa sih yang tidak bingung ketika uang tengah menipis, sedang berbagai kebutuhan tengah menanti? Rasanya kita pasti ingin mengeluh dan menangis. Di sini-lah tantangan  penulis yang  harus benar-benar pandai dalam memilih kebutuhan apa yang akan dia pilih. Bagaimana dia menyakipi keadaan tersebut (hal 2).

Ada pula kisah berjudul “Allah Maharomantis” yang mana dalam cerita ini penulis menjabarkan tentang suka duka dalam meraih impian. Bahwa seyogyanya, setiap manusia pasti memiliki target dalam hidupnya. Meski dalam meraih terget impian itu tidak akan mudah. Akan selalu ada kerikil yang menjadi batu sandungan di setiap kesempatan. Ada jatuh bangun yang harus dihadapi. Pada titik ini, kita akan dihadapkan pada pilihan untuk mengeluh dan menyerah jika terasa berat, atau memilih terus melangkah dengan segala suka duka yang ada.

Bisa menyelesaikan tugas akhir (skripsi) tepat waktu merupakan impian terbesar bagi beberapa mahasiswa.  Hanya saja untuk meraihnya tentu bukan perkara mudah. Perlu usaha yang keras, semangat tinggi  dan tidak mudah menyerah. Di mana kita harus berhadapan dengan dosen pembimbing yang kadang rewel, lalu beburu tanda tangan penguji yang sulit sekali ditemui. Hal inilah yang dirasakan penulis dalam usahanya meraih gelar sarjananya.  Membaca kisah ini seperti membuka lembaran saya sendiri, ketika mengejar kelulusan.  Saat itu, kesabaran kita benar-benar diuji.

Delapan belas kisah lainnya pun tidak kalah menarik dan bikin kita terhanyut. Seperti kisah berjudul “Bapak Hendak Membakar Rumah” ini kisah yang menurut saya sangat menggetarkan hati. Saya yakin, pihak-pihak yang terlibat dalam kisah ini memiliki stok kesabaran yang luar biasa.

“Hidup itu selalu tentang keseimbangan antara nyaman atau tidak nyaman. Keduanya bukan pilihan, tapi keharusan. Pemisahnya adalah kesabaran yang mestinya selalu dikuatkan. Sabar ketika di atas agar tidak jumawa dan sabar saat di bawah agar tidak putus asa.” (hal 31).

Membaca buku ini secara keseluruhan, kita dapat menyimpulkan bahwa sebagai manusia kita memang harus selalu berusaha sebaik mungkin. Kita harus berusaha, namun tidak lupa kita berdoa dan tawakal. Karena sudah pasti rencana Allah adalah yang terbaik dari rencana siapa pun di muka bumi ini.

Srobyong, 18 Agustus 2018

Wednesday, 5 April 2017

[Resensi] Menghadapi Patah Hati dengan Sikap Positif

Dimuat di Koran Pantura, Kamis 23 Februari 2017 

Judul               : Ubah Patah Hati Jadi Prestasi
Penulis             : Dwi Suwiknyo
Penerbit           : Quanta, Elex Medi Komputindo
Cetakan           : Pertama, Oktober 2016
Halaman          : xiii + 266
ISBN               : 978-602-02-9393-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Setiap orang sudah pasti pernah merasakan patah hati—baik itu memang karena urusan hati ditinggal kekasih, merasakan cinta bertepuk sebelah tangan, atau karena dihina orang lain.    Namun perlu kita sadari, jangan sampai hanya karena patah hati,  membuat kita merasa putus asa atau bahkan merencakan tindakan gila. Jadikan patah hati sebagai ajang perbaikan diri,  menjadi pribadi yang lebih baik. Menghadapi patah hati dengan sikap positif—bangkit dan mencoba meraih prestasi. Tapi bagaimana cara bangkit? Buku ini akan sangat cocok dibaca untuk diambil ibrah dan muhasabah diri.
Sebuah buku yang mengungkap dengan baik perihal bagaimana menghadapi patah hati yang kerap dialami oleh sebagian orang.  Bahwa patah hati itu bukan sebuah kegagalan. Namun sebuah awal dalam menunju kualitas baik jika bisa menghadapinya dengan lapang. Apa saja langkah yang perlu diambil?

Pertama, menyakini bahwa patah hati itu rezeki. Perlu disadari kehidupan itu selalu berputar. Ada masa sakit ada masanya sehat. Karenanya apa pun keadaan yang menimpa, sebaiknya selalu disyukuri dianggap sebagai rezeki. Karena dengan memiliki pemikiran tersebut akan membuat tenang.  Dalam hidup kita memiliki pilihan—meratapi atau bangkit. Kualitas diri akan tampak ketika sedang terpuruk. Sebab bagaimana sikap kita menghadapi keterpurukan itu yang mencerminkan kualitas diri kita (hal 38).

Kedua, dari pada terkunkung dengan sakit hati yang mendalam lebih baik mencoba mengembangkan potensi diri. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan dengan menyesali nasib.   Setiap orang diciptakan Allah dengan kecerdasan masing-masing. Karena itu sangat perlu bagi kita untuk mengetahui potensi apa yang  dimiliki. Ketika bisa mengenali diri sendiri, maka akan mudah mengoptimalkan  potensi yang ada untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Bahkan bisa tampil menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain (hal 59).

Ketiga, menjalani  hidup dengan kualitas. Jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu dan jangan mengulangi kesalahan yang sama.  Karena mengulangi kesalahan hanya akan merugikan diri sendiri.
Rasulullah saw bersabda,  “Seorang yang beriman tidak terperosok di satu lubang yang sama.”  Sebab jelas bawa orang-orang yang mengulangi kesalahan yang sama, adalah orang yang merugi. Tidak bisa melepaskan diri dari kejahilan dirinya sendiri, dan tidak mau bangkit dari keterpurukan. Meski dosa-dosa yang dikerjakan terhitung kecil, tetapi bukankah tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus? (hal 111). 

Keempat, encoba mendekatkan diri dengan Allah.  Dengan dekat dan berserah kepada Allah, hati akan terasa tenang dan hidup pun menjadi tenteram.  Kita harus selalu ingat bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Karenanya perlu sikap positif agar bisa bangkit dengan cepat dari sakit hati yang  berkepanjangan. Dan ingat selalu pemenang melihat potensi yang bisa dikembangkan, sedangkan pecundang hanya sibuk meratapi kegagalan (hal 159).

Kelima, mencoba menjalani kehidupan baru dengan penuh syukur.  Dalam segala cobaan hidup, sebaiknya harus dijalani dengan baik. Meski kadang jatuh terpuruk. Hal itu tetap harus disyukuri. Karena dari keterpurukan itu,  banyak pembelajaran yang bisa dijadikan pencerahan diri. Kita hanya perlu ikhlas dan bersyukur agar apa yang terjadi nantinya bisa menjadi berkah di masa depan.

Di sini kita diajarkan untuk menerima segalanya dengan lapang dan sikap positif. Mengambil pembelajaran dari patah hati untuk menjadi pribadi yang lebih  tegar.

Selain lima yang telah dipaparkan, masih banyak lagi kiat  yang sangat bermanfaat untuk diterapkan.  Belum lagi dalam setiap pembasan penulis menyelipkan keteladanan langsung dari kisah-kisah nyata yang pernah terjadi. Ditulis dengan gaya bahasa yang renyah menjadi nilai tambah buku ini. Sebuah buku yang sangat memikat dan menginspirasi.

“Keberhasilan adalah kemapuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.” (hal 171).

Srobyong, 16 Januari 2017 

Saturday, 4 March 2017

[Resensi] Mengubah Patah Hati Menjadi Prestasi

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 19 Februari 2017 

Judul               :  Ubah Patah Hati Jadi Prestasi
Penulis             : Dwi Suwiknyo
Penerbit           : Quanta, Elex Medi Komputindo
Cetakan           : Pertama, Oktober 2016
Halaman          : xiii + 266
ISBN               : 978-602-02-9393-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


“Keberhasilan adalah kemapuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.” (hal 171).

Patah hati bukanlah akhir dari segalanya. Jangan sampai hanya karena patah hati, sampai  harus membuat kita merasa putus asa atau bahkan merencakan tindakan gila. Harus kita ingat, bahwa di balik berbagai kejadian yang menimpa kita, pastinya akan ada hikmah yang bisa dipetik.  Jadikan patah hati sebagai ajang perbaikan diri,  menjadi pribadi yang lebih baik.  Tapi bagaimana cara merubah patah hati menjadi prestasi?

Buku ini akan sangat cocok untuk dibaca. Sedikit banyak buku ini akan mengupas bagaimana cara bangkit dari rasa sakit hati bernama patah hati, baik karena ditinggal kekasih, merasakan cinta bertepuk sebelah tangan, atau karena dihina orang lain. Pembaca diajak menyikapi rasa sakit dengan melakukan berbagai aktivitas bermanfaat dan bisa mengukir prestasi.

Pertama, jadikan rasa sakit hati menjadi rezeki. Sebagaimana kisah Chow Yun Fat. Ketika banyak hinaan yang menerpanya, karena kemiskinan yang melekat pada dirinya, dia mengubah kesedihannya sebagai semangat untuk terus berjuang. Sampai kemudian dia menjadi orang yang sukses seperti sekarang (hal 32).  

Kedua, segera keluar dari keterpurukan.  Harus selalu diingat bahwa dalam kondisi sesulit apa pun, Allah swt m selalu bersama hamba-Nya.  Jadi jangan hanya karena sedang terpuruk, membuat kita mudah putus asa,  bahkan menggadaikan agama. Seyogyanya jika sedang dalam keadaan terpuruk, sebaiknya tetap berpikir jernih dan bertindak dengan hati-hati (hal 37).

Ketiga, mengembangkan potensi diri.  Setiap orang diciptakan Allah dengan kecerdasan masing-masing. Karena itu sangat perlu bagi kita untuk mengetahui potensi apa yang  dimiliki. Ketika bisa mengenali diri sendiri, maka akan mudah mengoptimalkan  potensi yang ada untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Bahkan bisa tampil menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain (hal 59).

Keempat, temukan passion hidup. Mengetahui passion yang diminati,  sudah pasti akan membuat semangat ketika mengerjakan apa yang disukai tersebut.   Namun tentu saja tidak cukup hanya tahu passion. Namun perlu tindakan untuk mewujudkannya.  Yaitu dengan cara mulai belajar dan action. Tidak lupa selalu bertanggung jawab. 

Kelima, bersiap menjalani hidup yang berkualitas, jangan sia-siakan waktu.  Waktu itu sangat penting. Sekali saja melewatinya tanpa aktivitas yang berarti, akan membuang waktu dan penyesalan.  Jadi jangan hanya karena patah hati, malah membuat kita membuang waktu percuma, dengan meratapi nasib. Terus-menerus sedih dan tidak segera move on dengan melakukan hal yang bermanfaat.

Keenam, jangan mengulangi kesalahan.  Rasulullah saw bersabda,  “Seorang yang beriman tidak terperosok di satu lubang yang sama.”  Sebab jelas bawa orang-orang yang mengulangi kesalahan yang sama, adalah orang yang merugi. Tidak bisa melepaskan diri dari kejahilan dirinya sendiri, dan tidak mau bangkit dari keterpurukan. Meski dosa-dosa yang dikerjakan terhitung kecil, tetapi bukankah tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus? (hal 111).

Ketujuh, menjalani dan bersyukur. Dalam segala cobaan hidup, sebaiknya harus dijalani dengan baik. Meski kadang jatuh terpuruk. Hal itu tetap harus disyukuri. Karena dari keterpurukan itu,  banyak pembelajaran yang bisa dijadikan pencerahan diri. Kita hanya perlu ikhlas dan bersyukur agar apa yang terjadi nantinya bisa menjadi berkah di masa depan.

Selain tujuh cara ini, masih banyak lagi kiat yang dipaparkan dalam usaha mengubah patah hati menjadi prestasi.  Gaya bahasanya renyah dan mudah dipahami. Buku ini dilengkapi dengan kisah inspiratif yang memotivasi, juga beberapa tes untuk mengenali potensi diri.

Mengajarkan  untuk selalu berpikir positif dalam menghadapi rasa sakit hati. “Alllah selalu memberikan jalan selama kita memikirkan hal-hal baik. (hal 132).   Juga mengajarkan untuk mengenal potensi diri agar bisa meraih prestasi meski kerap jatuh berkali-kali. “Pemenang melihat potensi yang bisa dikembangkan, sedangkan pecundang hanya sibuk meratapi kegagalan.” dan 159).

Srobyong, 21 November 2016 

Wednesday, 14 December 2016

[Review] Menciptakan Rumah Tangga yang Dirahmati

Judul               : Rumah yang Dirahmati
Penulis             : El Nurien
Penerbit           : Quanta, Elex Media Komputindo
Cetakan           : Pertama, 2016
Halaman          :  xix + 176 hlm
ISBN               : 978-602-02-9236-6

Asal tahu saja rumah yang memberikan kenyamanan akan memberikan semangat hidup, semangat untuk belajar, dan semangat untuk bekerja. Bahkan banyak membutikan, rumah yang di dalamnya ada suasana nyaman, akan terus mengilhamkan banyak ide unuk menyelesaikan berbagai macam masalah-masalah yang dihadapi di luar rumah. Mereka yang mendapatkan kebagahagiaan di rumah, biasanya lebih produktif dibanding mereka yang tidak mendapatkan kebahagiaan di rumah (hal xvii).

Setiap orang sudah pasti mendambakan memiliki rumah yang dirahmati. Rumah yang terasa menyenangkan, penuh ketenteraman dan kebaikan yang menyelimutinya. Bukan rumah yang terasa panas, karena terus diisini dengan berbagai pertengkaran dan petaka.  Hanya saja bagaimana agar kita bisa mewujudkan  rumah yang seperti itu? Buku ini akan sangat bermanfaat dan bisa menjawab perihal bagaimana menciptakan rumah tangga yang dirahmati.

Dalam buku ini penulis membagi dua bagian dalam tahap untuk mencapai rumah yang dirahmati dengan sub bab yang saling melengkapi.

Pada bagian pertama, untuk menciptakan rumah yang dirahmati, maka seyogyanya  kita mengeluarkan kemungkaran dan menjauhkan kelalaian. Di sini kita dianjurkan tidak menerima tamu laki-laki semabarangan.   Tidak kalah penting yang harus diperhatikan adalah, di era globalisasi, kita juga harus pandai dalam menyikapi berbagai tekhnologi. Seperti halnya masalah pemakaian telepon, internet dan televisi.

Kita memang boleh memakai semua fasilitas itu, namun kita juga harus berhati-hati  agar dalam pemakaiannya tidak menimbulkan madarat yang pada akhirnya merugikan kita.

Pada bagian kedua, kita diharuskan untuk menghiasai rumah dengan cahaya iman. Penulis pemaparkan kurang lebih 29 cara yang harus ditempuh untuk mewaujudkan agar rumah dirahmati.

Pertama, adalah masalah pemilihan makanan yang seyogyanya harus diperhatikan dengan baik—yaitu masalah halal-haram. Karena makanan itu membentuk perilaku, watak dan sikap seseorang yang akhirnya akan mempengaruhi kebahagiaan seseorang (hal 53).

Kedua membiasakan menutup aurat, agar menghindari fitnah yang tidak diinginkan. Ketiga adalah selalu membiasakan rumah selalu bersih dan rapi.  Rumah yang bersih, suci dan tertata akan memberikan kenyamanan, jauh dari berbagai penyakit dan menumbuhkan kasih sayang antara anggota keluarga. Sebaliknya, rumah yang kotor dan jorok akan  mendatangkan kesan yang tidak baik dan menumbuhkan kejenuhan bahkan kebencian (hal 64).

Seturusnya agar rumah selalu bercahaya dan dirahmati adalah, selalu mengerjakan shalat. mengingat shalat akan membentuk pribadi yang disiplin, kuat, pandai bersyukur, peduli dan dermawan. Alasan lainnya kenapa dianjurkan shalat adalah untuk melindungi seseorang dari perbuatan keji dan mungkar (hal 79).

Dan amalan lain yang harus diistiqomakan adalah membaca Al-Quran. Rumah yang penuh berkah adalah rumah yang di dalamnya selalu dibacakan ayat-ayat Al-Quran.  Rumah yang tidak dibacakan ayat Al-Quran itu seperti halnya kuburan, bahkan di dalamnya akan menjadi sarang setan dan beranak pinak (hal 89).

Selain semua yang sudah disebutkan masih banyak lagi amalan yang harus dilakukan. Di antaranya adalah mengetahui adab-adab tidur yang baik, memperbanyak zikir, shalawat, istigfar dan doa-doa.  Atau membiasakan berpuasa,  membersihkan harta dengan zakat dan banyak lagi.

Buku ini dipaparkan dengan baik oleh penulis. Dilengkapi dengan berbagai dalil yang menembah khasanah ilmu. Hanya saja saya merasa antara penjelasan dan  dalil yang ada,  lebih dominan dalil. Sehingga terasa tidak seimbang.  Misalnya saja pada  beberapa sub bab hanya memaparkan  dalil tanpa ada penjelasan sama sekali, kecuali arti itu sendiri.

Padahal jika antara narasi dan dalil seimbang dan gaya bahasa yang lebih santai, mungkin akan semakin menambah nilai poin dari buku ini.

Namun lepas dari itu, buku yang  minim salah kepenulisan ini, bisa dijadikan rujukan jika ingin menggapai rumah yang dirahmati. Selamat membaca.

Srobyong, 14 Desember 2016