Showing posts with label AE Publishing. Show all posts
Showing posts with label AE Publishing. Show all posts

Friday, 19 May 2017

[Review Buku] Asyiknya Membaca dan Menghafalkan Al-Quran


Judul               : Kado untuk Penghafal Al-Quran
Penulis             : Ahmad Rais El Hafizh
Penerbit           : AE Publishing
Cetakan           : Ketiga, Juli 2016
Tebal               : xiv + 198 halaman
ISBN               : 978-602-6325-00-6

Apakah Anda masih takut atau ragu untuk menghafal Al-Quran?Benarkah sulit menghafal Al-Quran atau karena belum tahu caranya? Tahukah Anda bekal yang harus disiapkan dalam menghafal Al-Quran? Sudahkah Anda menemukan solusi terhadap kesulitan atau kesalahan ketika menghafal Al-Quran dan mengulang hafalan Al-Quran? Tahukah bagaimana agar putra-putri Anda bisa hafal Al-Quran pada usia dini?

Buku yang ada di tangan Anda ini akan menjawab semua pertanyaan di atas. Akan tetapi, buku ini tidak dapat mengubah Anda. Andalah yang mampu mengubah diri sendiri. buku ini hanya memberikan bekal kepada Anda untuk mengubah diri Anda menjadi jiwa yang tegar, tenang, dan kuat untuk menghafal dan menjaga hafalan Al-Quran.

~*~
            Testimoni 

Inilah sosok pemuda Ahmad Rais- yang telah diberi taufik oleh Allah sehingga mampu menghafal kalam-Nya dalam waktu yang singkat. Melalui buku ini, beliau memberikan solusi dan cara mudah untuk bisa menghafal Al-Quran dalam waktu yang singkat. (Ahmad Taufik; Santri Hadramaut, Tarim, Yaman).

Saat Anda sekalian membaca subbab Seteguk Air Sejuk Untuk Penghafal Al-Quran niscaya dapat disimpulkan bahwa buku ini benar-benar ditulis dan dibutuhkan bagi setiap hati. (Cicik Azzahra; Alumni Mahasiswi Pascasarjana UGM).

Buku Kado Untuk Penghafal Al-Quran ini adalah paket lengkap bagi para pecinta Kalamullah yang tak diragukan lagi kebenarannya. Bertabur kisah, kaya hikmah, dan berlinang motivasi penuh inspirasi. (Fitri Annisa Hayati; Perintis Semaan Al-Quran mahasiswa Se-Malang Raya).

Ucapan terima kasih pada penulis. Alhamdulillah melalui buku ini, saya menemukan solusi terhadap kekeliruan yang sering saya alami ketika mengulang hafalan Al-Quran. (R. Muhammad; Santri Apik Kauman Kaliwungu Jateng).

~*~

Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya (HR. Bukhari) (hal 15).

Al-Quran adalah kitab akhir zaman yang diturunkan Allah sebagai mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw. Keberadaannya adalah anugerah. Karena Al-Quran tidaklah sama dengan kitab-kitab terdahulu. Al-Quran adalah pelengkap, dia memiliki banyak keistimewaan yang mana jika kita mau mempelajari bahkan menghafal berjuta fadilah bisa kita dapatkan.  Dalam  buku ini akan diulas dengan lengkap dan detail tentang keistimewaan yang akan didapat jika kita menghormati-Nya.

Buku ini sendiri terdiri dari 15 Bab.

·         Keistimewaan Al-Quran
·         Keistimewaan Hidup Bersama Al-Quran
·         Kenapa Harus Menghafal Al-Quram
·         Menjadi Ayat-Ayat yang Berjalan
·         Nasihat untuk Penghafal Al-Quran
·         Menghiasai Hafalan dengan Tadabbur
·         Adab Bagi Penghafal A-Quran
·         Sentuhan Kisah Motivasi Para Penghafal Al-Quran
·         Pesan Disertai Bekal untuk Penghafal Al-Quran
·         Kunci Sukses Menghafal Al-Quran
·         Metode Menghafal Al-Quran
·         Menjaga Hafalan Al-Quran Seumur Hidup dengan Muraja’ah
·         Solusi Menghadapi Mutasyabihat (Ayat yang Mirip) Dalam Al-Quran
·         Teguran Bagi yang Meninggalkan Al-Quran
·         Janji Al-Quran kepada Penghafal Al-Quran

Menarik bukan? Apa yang disampiakan pun dipaparkan dengan bahasa yang enak dan lugas, sehingga sangat mudah dipahami.   Dan yang menarik adalah pada setiap permulaan bab, penulis juga memberikan motivasi-motivasi yang menggugah jiwa.

Seseorang yang menyibukkan lidahnya dengan Al-Quran, niscaya lidahnya tidak akan sibuk untuk berbicara kotor (hal 12).

Sebagaimana kita ketahui lidah adalah senjata yang jika bisa kita pelihara dengan baik pasti akan membawa manfaat. Dan sebaliknya jika kita tidak bisa memeliharanya, maka sudah pasti ada celaka yang akan menanti kita.

Dalam sebuah Kitab Ala-ala, dipaparkan “Terpeseletnya lidah bisa menimbulkan bencana, berbeda dengan terpelesetnya kaki yang lama-kelamaan bisa sembuh, bisa berjalan lagi”

Maka menghiasai perkataam—menggunakan lidah dengan ucapak baik insya Allah akan membawa manfaat. Salah satunya dengan melafalkan ayat-ayat Allah. kenapa kita harus membaca Al-Quran?
Pada bab kedua akan  dibahas tentang keistimewan Al-Quran. Di sini dijelaskan setidaknya ada 7 keistimewaan yang bisa kita dapat ketika kita mau membacanya. Di antaranya yaitu, perniagaan tidak akan pernah rugi. Hal ini sebagaimana yang sudah difirmankan Allah :

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkakan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (QS. Fatir : 29).

Kedua, Allah akan melipatgandakan pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Quran. Di sini bukan dihitung perkata, tapi per huruf—di mana setiap huruf menyimpan sepuluh kebaikan.  Ada lagi yaitu para pembaca Al-Quran akan selalu dinaungi berkah dari para Malaikat. Para Malaikat akan turun dan ikut mendengarkan orang-orang yang membaca Al-Quran. Karena di sadarai atau tidak Al-Quran adalah zikir yang mulia.  Dan yang lebih utama, membaca Al-Quran adalah salah satu cara untuk menyembuhkan penyakit hati.

Bagaimana bisa? Tentu saja bisa, karena Al-Quran memang diturunkan Allah sebagai penawar, petuah-petuah yang termaktub di dalamnya dalah binar cahaya yang memberi kesejukan bagi siapa saja yang mendengarkan ayat-ayatnya. Tentu kita tidak lupa dengan kisah Umar bin Khatab yang terpesona dengan isi Al-Quran hingga akhirnya memutuskan masuk Islam, bukan? Dalam firman Allah pun dijelaskan :

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Isra’ : 82).

Nah, bagi orang-orang yang baru membaca Al-Quran saja keistimewaannya saja sudah luar biasa. Apalagi bagi mereka yang mau menghafal Al-Quran.  Pada buku ini pun dipaparkan dengan lengkap dan menarik.   Selain itu di sini kita juga akan dikenalkan dengan kiat-kiat menarik agar mudah dalam menghafal Al-Quran.  Kita jangan pernah takut dan ragu dalam menghafal Al-Quran.  Karena Allah sudah menjanjikan kemudahan bagi siapa saja yang menghafal Al-Quran.

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran. Maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. Al-Qamar : 22).

Namun catatan yang paling penting kita pegang adalah niat kuat dan usaha dalam menghafalkannya. Dan jangan sampai lupa untuk selalu mengulang-ulang agar hafalan kita tidak keteteran.  Karena, bagi siapa saja yang lalai dalam menghafal Allah pun akan memberi ganjaran yang pantas.  Tapi jangan khawatir, pada buku ini akan dibahas dengan tuntas bagaimana metode agar tidak cepat lupa dalam hafalan. Serta dipaparkan bagaimana beberapa metode hafalan yang pastinya akan membantu kita jika ingin menghafal Al-Quran.

Dan yang lebih menarik adalah pada bab delapan yang memberikan sentuhan motivasi bagi para penghafal Al-Quran (hal 96). Di antaranya ada kisah seorang kakek yang bekerja sebagai sopir tapi tetap bisa hafal Al-Quran, ada pula kisah dokter cilik umur 7 tahun yang hafal Al-Quran dan banyak lagi.

Buku ini sungguh memberi banyak motivasi agar kita lebih mencintai Al-Quran dengan memperbanyak membaca dan menghafalkannya. Meski masih ditemukan beberapa salah tulis, namun buku ini sangat bermanfaat dan menambah khazanah pengetahuan tentang Al-Quran. Apalagi bagi yang ingin menghafal Al-Quran.

“Umur sudah dewasa atau tua bukanlah penghalang untuk menghafal Al-Quran. akan tetapi, tidak semangat dan tidak bersungguh-sungguh itulah sebenarnya penghalang besar dalam menghafal Al-Quran.” (hal 170).

Srobyong, 19 Mei 2017
           



Saturday, 7 May 2016

[Review] Pentingnya Memiliki Harapan





Judul               : Hope, Terapi Terindah
Penulis             : Indri Listya R
Editor              : Dekik Yassir
Penerbit           : AE, Publishing
Cetakan           : Pertama,  Agustus 2015
Halaman          : viii + 164 hlm
ISBN               : 978-602-1189-59-7

Jika sesuatu yang buruk menghampiri, mengingat Allah adalah yang terbaik untuk menghindarinya. (hal. 149)

Mengingat Allah memang akan membuat hati menjadi tenang.  Dan salah satu agar selalu mengingat Allah adalah dengan melafalkan ayat-ayat-Nya. Al-Quran bisa dikatakan sebagai obat paling mujarab dari berbagai macam obat di dunia juga sebagai sarana berdoa.  Dan harapan adalah sebuah jalan menuju perbaikan. Karena dengan memiliki harapan orang akan terus berjuang untuk mencoba menggapainya. Keduanya adalah dua hal yang harus saling dipadukan agar bisa mewujudkan impian. Namun, bagaimana jika seseorang itu tak memiliki harapan bahkan putus asa hingga memilih jalan salah?

Novel ini menceritakan tentang Claris. Dia mungkin tercukupi dalam urusan materi, tapi untuk kasih sayang, gadis itu merasa ditelantarkan. Ayah dan ibunya terlalu sibuk dengan bisnis keluarga.  Padahal bagi Claris yang terpenting itu bukan masalah materi yang dia dapat tapi mereka bisa berkumpul.

Lalu suatu hari dia bertemu Darrel, sosok yang memiliki nasib sama yang kemudian membuat mereka dekat.  Dari kedekatan itulah kemudian mereka menjalin hubungan. Semula tentu saja semua baik-baik saja. dari Darrel,  Claris merasa mendapat perhatian yang selama ini dicarinya. Dia tidak peduli pada nasihat temannya—Tara, kalau Darrel tidak sebaik perkirannya. (hal.  28)

Tapi siapa sangka, kecurigaan Tara benar, tapi semua telah terlambat. Rasa cinta Claris yang terlampau tinggi telah membuat logikanya tidak berjalan baik. Dia tetap memilih bersama Darrel. Mengikuti segala tindakan yang dilakukan kekasinya itu—mengkonsumis narkoba. Toh, Claris mengakui dengan meminum obat laknat itu dia jadi bisa merasakan kebahagian meski hanya sesaat.
Tapi sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga. Begitupun dengan Claris. Selama ini dia memang menyembunyikan kenyatan bahwa dia menjadi pecandu. Ayah dan ibunya melihat dirinya sedang sakau. (hal.  67) Mereka memaksa Claris untuk masuk rehabilitasi.

Meski berat Claris terus mencoba bertahan demi sebuah harapan yang dipupuknya. Kembali seperti dulu dan berkumpul dengan keluarga. Tapi harapan itu tinggalah harapan ketika sebuah kenyataan yang tidak pernah terduga malah menamparnya. Tapi apakah dia harus kembali hilang harapan?

Mereka mulai sadar, atas kecintaannya pada harta, telah  menjerumuskan cinta yang seharusnya ada. Mengubah yang seharusnya hangat  menjadi dingin. Yang seharusnya terang menjadi kelam. (hal. 67)

Novel ini sangat sarat makna. Diceritakan dengan gaya bahasa yang ringan dan renyah. Sebuah novel yang mengingatkan tentang pentingnya memiliki harapan. Dan betapa pentingnya keluarga sebagai madrasah pertama. Bahwa sebuah kasih sayang itu tidak hanya diukur dengan materi tapi kasih sayang itu sendiri.  

Ada juga bagian tentang spiritual yang membuat kita memahami konsep bahwa hanya pada Allah-lah kita harus bersandar.  Betapa kekuatan iman itu selalu diperlukan agar terhindar dari jalan yang tidak diridhai.

Ingatlah kepada Allah
Dalam keadaan senang atau pun susah
Dalam keadaan sehat atau sesakit apa pun
Allah pasti memberikan yang terbaik. (hal. 125)

Dan kelebihan lainnya adalah tentang masalah ending yang cukup mengehentak. Pada awalnya memang ada bagian yang bisa ditebak, tapi pada babak akhir, ternyata ....

Hanya saja sebagaimana yang diturukan penulisnya masih banyak kesalahan kepenulisan di sini. Tapi lepas dari itu sebagai buku perdana, novel ini segar untuk dinikmati.

Srobyong, 7 Mei 2016


Wednesday, 16 March 2016

[Review] Antara Cinta, Restu dan Budaya


Judul               : Wajah Sakura di Cermin Dilla
Penulis             : NR. Ristianti
Penata Aksara : Dekik Yassir
Penerbit           : AE Publishing, Dunia Dekik Media
Cetakan           : Pertama, Agustus 2015
Halaman          : x + 226 hlm
ISBN               : 978-602-1189-55-9

Cinta itu memang sejuta rasanya, tapi ketika cinta tidak mendapatkan restu dan berbentur budaya ..., maka jalan mana yang akan kau pilih dalam melangkah?

Novel ini menceritakan tentang kisah cinta yang tak sampai karena terbentur akan budaya dan restu dari orangtua. Hingga Nadia memilih membesarkan hidup dengan caranya sendiri. Serta menyimpan rahasia besar yang entah kapan akan dibeberkan.

Dilla—itulah nama anak Nadia. Benih yang dia dapat dari laki-laki yang sangat dicintainya. Putrinya itu  tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berwawasan luas. Hanya saja Dilla merasa ibunya terlalu sibuk dan tak lagi memiliki waktu untuk dirinya.

Nadia bukannya tidak ingin memerhatikan Dilla. Hanya saja sejak dia memutuskan menangani dua perusahaan, waktunya memang banyak tersita. (hal. 22) Dan semua ini dialkukan demi Dilla. Dia tidak ingin anak gadisnya itu kekurangan. Apalagi sebentar lagi Dilla akan masuk perguruan tinggi.  (hal. 27)

Keduanya memandang permasalah dari sudut pandang masing-masing. Sehingga pertengkaran-pertengkaran kadang tidak bisa dihindari antara ibu dan anak ini.  Puncaknya terjadi ketika Nadia yang sudah janji akan datang pada penyerahan penghargaan karena Dilla memenangkan lomba design, yang ternyata lagi-lagi Nadia ingkar.

Dilla marah dan memilih kabur dengan menginap di rumah salah satu tetangganya—ibu Rara, sahabatnya Dilla.  Namun, dalam pelariannya itu dia malah mendapat kabar ibunya dalam keadaan drop. Dilla sangat khawatir bagaimana jika penyakit lupus ibunya kambuh lagi?

Dari kejadian itu mereka sebenarnya sudah mulai saling memahami satu sama lain. Tapi prahara datang lagi ketika tanpa sengaja Dilla menemukan sebuah kota kayu bercat hitam di kolong lemari. (hal. 55) Dilla menemukan foto mamanya bersama alelaki Jepang. Dan dia baru mengetahui bahwa selama ini mamanya berbohong. Dia bukan anak dari ayah yang selama ini diziarahi.  Dilla pun menuntut penjelasan.

Meski sempat ragu, Nadia akhirnya memilih menceritakan semuanya.  Masa lalu yang selama ini dia simpan. Tentang cinta di masa lalunya ketika berada di Jepang, juga tentang orangtua sang lelaki  yang tidak merestui hubungan mereka.

Karena itu-lah, Dilla akhirnya berada di Jepang. Mencari kebenaran yang selama ini ditutupi mamanya. Hanya saja mampukan Dilla mendapat apa yang diharapkannya? Sebuah kasih sayang dari ayah,  kakek dan nenek? Juga tentang sebuah kisah lain yang dia temukan ketika di Jepang. Pertemuannya dengan pemuda Jepang bernama Taka.  

Satu masalah belum selesai, Dilla kembali dihadapkan pada masalah besar lainnya. Tentang penyakit mamanya yang semakin parah juga permintaan mamanya untuk meminta maaf pada kakek dan nenek dari pihak mamanya. Entah apa lagi yang disimpan mamanya. Dan sanggupkan Dilla memenuhi permintaan mamanya?

Novel ini diceritakan dengan dua pov dari masing-masing tokoh. Membuat cerita terasa lebih hidup. Menunjukkan kepiawaian penulis dalam mengeksekusi naksahnya. Dalam penceritaan setting Jepang pun cukup detail dan hidup.

Hanya saja  dalam pembagian pov-nya terasa kurang seimbang. Masih didominasi Pov Dilla. Karena saya pernah membaca novel dengan pov seperti ini tapi dalam pembagiannya sam porsi. Jadi terasa pas.  Lalu masih banyak  ditemukan typo. Semisal dalam penulis coklat yang harusnya cokelat. Atau kata asing yang harusnya ditulis miring tapi tidak.  Juga agak kecewa ketika ada beberapa lagu Jepang yang dimasukkan tapi tidak diberi arti. Karena tidak semua orang memahami lirik bahasa Jepang. Berbeda dengan lagu Inggris. Jadi kalau dalam lagu itu diberi catatan kaki artinya pasti akan lebih membuat pembaca masuk dalam cerita karena mengeri makna lagu. 

Lepas dari itu semua, novel ini tetap asyik dibaca. Memberi banyak  pelajaran yang berharga. Seperti; bahwa kebahagiaan seorang anak bukan masalah dia diberi harta melimpah, tapi seorang anak juga membutuhkan kasih sayang orangtua.  Sikap keras kepala hanya  akan merugikan diri sendiri dan akan menyiki orang lain.


Srobyong, 16 Marte 2016