Showing posts with label Kuis Give Away. Show all posts
Showing posts with label Kuis Give Away. Show all posts

Wednesday, 17 May 2017

[Blog Tour- Giveaway] No Place Like Home—Rumah Sebagai Sumber Kebahagiaan



Judul               : No Place Like Home
Penulis             : Alma Aridatha
Penerbit           : Ikon
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               : 289 halaman
ISBN               : 978-602-74653-7-4

~*~

Ganda tahu, kehidupan yang disebut sempurna tak sepenuhnya ada. Dia baru tahu siapa ayah kandungnya di usia sepuluh tahun. Sosok itu datang, mencoba mendekat, membuat ayah tiri yang juga disayanginya sedari kecil menjauh tanpa alasan yang pasti.

Ada banyak anak lain yang harus tumbuh tanpa orangtua di luar sana, tapi Ganda memiliki dua pasang orang tua sekaligus. Di saat anak-anak lain bisa berdamai sekaligus menikmati ‘keberuntungan’ yang ada dalam hidup mereka, Ganda justru merasa kosong di antara semua yang seharusnya pantas disebut ‘keberuntungan.’

Keinginan Ganda sederhana. Dia mencoba mengisi hal-hal yang hampa itu dengan mencari tempat berteduh—yang memang tersedia untuknya. Yang kelak bisa dia sebut rumah. Meskipun, dia sendiri tidak sepenuhnya yakin.

~*~

Meminta maaf itu gampang. Memberi maaf itu sedikit lebih sulit, tapi masih bisa dilakukan. Namun, melupakan semua kejadian itu yang mustahil (hal 115).

Memiliki keluarga sempurna dan harmonis adalah harapan setiap orang. Namun ketika takdir berkata lain, bisakah kita protes atau menuntut kepada Tuhan? Novel ini mengisahkan kisah keluarga yang menarik dan memikat. 

Karena sebuah alasan yang pribadi, Ganda akhirnya memilih tinggal bersama ayahnya—Gio  yang baru dia kenal ketika berusia sepuluh tahun.  Keputusan ini tentu saja membuat ibunya—Tara kaget. Kenapa Ganda yang awalnya enggan mengenal ayahnya, tiba-tiba tertarik untuk tinggal bersama?

“Kenapa kamu tiba-tiba mau tinggal sama Papa Gio?”
“Cuma mau lebih dekat.” (hal 8).

Meski  tidak yakin dengan jawaban Ganda, Tara lebih memilih mengalah dan tidak memaksa. Dan meski sebenarnya tidak rela, pada akhirnya Tara memberikan izin pada Ganda untuk tinggal di Jakarta. Di mana itu adalah pilihan yang cukup berat bagi seorang ibu untuk melepas anak yang sudah empat belas tahun dia rawat dengan penuh perjuangan.

Pada titik inilah kehidupan baru menanti Ganda. Dia sangat tahu konsekuensi apa yang akan dia dapat ketika meninggalkan ibunya. Namun di sisi lain, Ganda juga ingin merasakan tinggal bersama ayah kandungnya. Juga mencari suasana baru—menemukan rumah yang sesungguhnya—rumah yang memberi ketenangan juga sumber kebahagiaan.

Hanya saja ketika di  rumah ayahnya, Ganda kembali harus menelan kekecewaan. Ternyata Gio sama saja dengan ibunya. Selalu mengedepankan segala fasilitas yang berlebih kepadanya, tanpa mengetahui apa yang sejatinya sangat ingin Ganda dapatkan.

Ganda tidak menginginkan sepeda gunung mahal atau motor sport terbaru atau rekening yang penuh dengan nominal angka. Dia hanyaa ingin lebih diperhatikan. Apakah keinginannya terlalu berlebihan? (hal 15).

Dan kesedihan Ganda semakin memuncak ketika mendengar ucapan orangtua Mama Jess—istri Gio (hal 113). Ganda terluka. Dia tidak tahu kenapa kesalahan masa lalu orangtuanya harus dilemparkan padanya. Kenapa semua orang membenci dirinya? Apakah dia dilahirkan untuk dibenci?

Di sisi lain Ganda cukup menikmati masa putih abu-abunya karena seseorang.  Perkenalannya dengan Nadya—teman satu kelasnya yang super cerewet namun cukup manis itu, membuat kehidupannya di sekolah sedikit berwarna. Ganda yang menutup diri dan tidak banyak bicara, namun pada akhirnya bersahabat dengan Nadya—karena sebuah insiden yang lucu.

Namun siapa sangka ketentraman yang baru secuil didapatkan, berubah seketika karena dia harus berhadapan dengan trouble maker di sekolah—Tommy. Di mana Ganda ditemukan hampir tewas, karena dipukuli Tommy dan genk-nya.

Membaca novel ini kita seperti dihadapkan pada potret kehidupan yang kerap terjadi di kehidupan nyata. Bagaimana nasib anak yang lahir karena sebuah kecelakaan. Iya kalau ayah dan ibunya kemudian menikah. Namun bagaimana jika baik ayah dan ibunya kemudian sudah memiliki keluarga masing-masing? Inilah yang dirasakan Ganda. Ketika dia harus menerima, bahwa dia memiliki dua ayah juga dua ibu.

Ini adalah kali pertama membaca karya Alma Aridatha. Dan saya sangat menikmati setiap lembar kisah yang dipaparkan. Memikat dan menarik. Saya suka gaya bahasanya yang lugas dan tetap renyah. membaca novel ini ada sisi romance, lucu dan mengharukan. Bahkan jujur ketika membaca novel ini sampai berkaca-kaca, ketika membayangkan menjadi sosok Ganda.

Penulis sangat piawai dalam mengemas kisahnya, hingga membuat saya larut ketika membacanya.  Apalagi dalam permainan alur maju mundur yang membuat saya ikut bertanya-tanya ... ada masalah apa antara Ganda dan Dimas hingga membuat dua orang yang saling peduli akhirnya bentrok dan saling melukai?  Tidak ketinggalan adalah bagaimana menggambarkan tentang persahabatan Ganda dan Nadya yang lucu dan menggemaskan. Keunggulan lain dari novel ini adalah layout yang manis dan menambah semangat buat membaca.

Hanya saja dalam novel ini masih ditemukan beberapa kesalahan ketik dan tulisan kurang jelas karena layout yang saling tumpang tindih. Lepas dari kekurangannya novel ini recomended buat dibaca.

Dari novel ini kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yang selalu menjaga diri agar tidak sampai lepas kontrol dalam menjalin hubungan. Kita juga bisa belajar bagaimana cara yang baik dalam memperlakukan dan mendidik  anak. Bahwa materi bukanlah cara terbaik untuk memberi perhatian anak, tapi perhatian dan bimbingan itulah yang diinginkan anak.

Tidak ketinggalan kita juga diingatkan untuk selalu jujur dan tidak memelihara dendam. “Dendam-dendam terus nggak akan kelar. Kayak lingkaran setan nanti.” (hal 275).

~*~

Giveaway Time


Alhamdulillah saya diberi kesempatan sebagai pembuka dari rangkaian Blog Tour “No Place Like Home” Kak Alma Aridatha. Kali ini Kak Alma dan Penerbit Icon akan membagikan satu novel No Place Like Home + tumbler bagi satu pemenang yang beruntung. Untuk syaratkan gampang banget.

1.      Memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2.      Follow media sosial kami :


-          Follow blog ini 
-          Twitter : @Ratnani_El_Kazuhana, @kinky_geek dan  @penerbit_ikon
-          Instagram: @kazuhana_el_ratna  @almaridatha dan @penerbitikon 

3.      Share info Giveaway ini di salah satu media sosial yang kalian miliki :

-          Jika lewat twitter, mention @Ratnani_El_Kazuhana@kinky_geek dan  @penerbit_ikon dengan hastag #NoPlaceLikeHome.
-          Jika lewat Instagram, repost/regran postingan info Giveaway yang saya posting dengan mention  @kazuhana_el_ratna @almaridatha dan @penerbitikon dengan hastag #NoPlaceLikeHome.

4.      Jawab pertanyaan berikut ini :

Kita tahu rumah adalah surga buat kita sendiri (dalam artian karena di sana tempat kita tumbuh kembang dan menyimpan banyak memori—baik suka atau duka) Dan seberapa jauh kita pergi, pastinya kita akan selalu merindukan suasan rumah kita.

Nah, apa yang  selalu membuat kamu merindukan rumah? Apakah kebersamaan dengan keluarga? Omelan ayah atau ibu? Masakan ibu? Atau karena alasan lain? Ceritakan dan kasih alasannya, ya. J


Jangan lupa tulis nama asli, akun Twitter/ IG, domisili, link share dan jawaban kamu.

5.      Giveaway berlangsung sejak hari ini 17-21 Mei 2017.

6.      Pengumuman insya Allah dilakukan 3 hari setelah giveaway selesai.
Semoga beruntung.  



Penampakan  hadiah bagi yang beruntung :) 




~~~~~~Winner~~~~~~

Saatnya menentukan siapa yang beruntung mendapatkan novel "No Place Like Home" karya Kak Alma Aridatha.

Sebelumnya terima kasih atas keikutsertaannya dalam giveway kali ini.  Dan saya memilih : 

Cahyati Rizky H 

Silahkan DM saya di akun Twitter ; Nama, Alamat lengkap dan Nomor Hp untuk pengiriman hadiah. 

Dan bagi yang belum beruntung tetap semangat. Masih ada kesempatan buat ikutan giveway di blog Kak Rizky Mirgawanti dan Kak Asri Rahayu MS



Sunday, 6 November 2016

Buku : Godaan yang Tak Bisa Dihindari



“Hidup tanpa buku seperti ruang gelap tak berlampu” 
~Titon Rahmawan~ [1]

Melihat buku entah kenapa selalu memberi sensasi yang berbeda. Bahkan saking istimewanya buku selalu menjadi prioritas utama untuk dibeli daripada kebutuhan sekunder lainnya.  Saya rela tidak membeli tas, atau sepatu baru yang penting ada buku baru. J

Karena buku seperti emas yang selalu nampak berkilau di mata. Seperti bunga yang selalu menerbar harum serta sedap dipandang mata.

Laksana sebuah jendela. Terbuka lebar menawarkan banyak pemandangan baru yang tak terduga, tumpukan pengetahuan yang tersimpan bisa selami kapan pun dan di mana pun. Laksana teman yang setia menemani dalam suka dan duka.  Memberi hiburan tatkala saya sedih. Dia menerima saya apa adanya.

Menjadi vitamin menyehatkan jiwa. Laksana lilin yang siap menjadi penerang hati dengan petuah-petuah yang tersimpan rapi. Juga menjadi guru yang tak pernah marah. Melihat tumpukan buku sungguh serasa mendapat tenaga baru. Jadilah berbagai buku menjadi santapan lezat yang tak ingin terlewatkan. Buku adalah godaan yang tak bisa dihindari.  Dia melekat, menempel dengan kuat. Sulit rasanya jika harus berjauhan dengan buku.

Kenapa saya bilang begitu? Maka saya akan mencoba mengulas sedikit bagaimana hubungan yang tercipta antara saya dan buku.

~*~
Awal Perjumpaan

Membicarakan buku itu selalu menarik di mata saya. Dia seolah memiliki magnet yang mampu menarik saya  untuk menempel padanya.  Saya sangat ingat bagaimana awal perkenalan saya dengan buku.

Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu minat baca saya sedang meningkat. Buku-buku kisah Nabi, wali songo dan dongeng menjadi bacaan favorit saya kala itu. Beruntung di rumah kakek saya, buku-buku itu bertebaran di sana. Jadilah saya suka menghabiskan waktu di sana.

Sampai kemudian, kakak saya mulai mengenalkan saya pada kisah-kisah lain—dongeng moderen dan cerpen dari majalah bobo dan fantasi.  Di sini minat baca dan minat buku saya semakin meningkat. Tanpa sadar sejak itu saya sudah jatuh cinta dengan buku.  Dan saya selalu tergoda untuk membelinya.

Di zaman Madrasah Tsanawiyah, saya rela tidak menghabiskan uang saku di kantin. Saya menyisihkannya demi melegakan dahaga saya pada buku.  Berpuluh-puluh majalah dan tabloid menjadi teman setia saya. Saat itu untuk buku seperti novel saya belum mampu membelinya. Saya hanya bisa mengandalkan perpustakaan di sekolah. Mengingat saya tinggal di desa yang belum memiliki toko buku lengkap—bahkan hingga sekarang tidak ada Gramedia di kota saya. Poor me.  :( Apalagi di daerah terpencil tempat saya tinggal. Atau entah karena saya yang terlalu cupu, sehingga tidak tahu di mana ada toko buku.  Dan pastinya belum marak juga penjulana buku secara online.

Beruntungnya di masa Aliyah sudah ada sebuah toko buku di bangun. Di sinilah, saya semakin menggila. Saya berpikir itu adalah kesempatan. Jadi uang tabungan saya habiskan untuk menambah buku saya. Dan kalau pergi ziarah ke Kajen, maka prioritas pertama setelah berziarah adalah berburu buku.  Buku telah mengikat saya begitu erat.

~*~

Alasan Kenapa Tergoda dengan Buku

Kenapa saya bisa tergoda dengan buku? Karena saya meyakini  dengan bersahabat dengan buku saya akan mendapat banyak manfaat. Dan inilah beberapa manfaat yang saya rasakan. Dan pastinya hal ini semakin menggoda saya untuk bisa merengkuh buku sebanyak-banyaknya.

1.             Buku Adalah Sumber Berbagai Ilmu Pengetahuan

Saya sangat percaya, dari buku tersimpan banyak sekali ilmu.  Berbagai macam pengetahuan bisa diserap siapa saja yang mau membaca buku. Bagaimana tidak, jika di dunia ini tak ada buku? Bagaimana ilmu pengetahuan bisa disalurkan? Bagaimana orang menjadi pintar tanpa adanya buku? Media buku adalah sarana yang paling diperlukan di dunia ini.  Menyalurkan berbagai ilmu baik ilmu. Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata : “Semua penulis akan meninggal, dan karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakanmu di akhirat nanti.”

Perkataan ini selain merujuk kita agar menulis juga menyimpan kesimpulan bahwa buku itu akan abadi dan bisa terus disalurkan pengetahuannya untuk orang banyak. Berbeda dengan penulisnya—manusia yang bisa meninggalkan kapan saja.  Coba kita pikir bagaimana ilmu bisa tetap disalurkan tanpa seorang cendekiawan? Maka buku adalah salah satu solusinya. Dia menyimpan ilmu-ilmu yang selalu dibutuhkan di berbagai zaman dari pengetahuan yang dikuiasai penulis.

2.             Buku Sebagai Jendela Dunia

Buku memang laksana jendela yang membuka berbagai bentang dunia di depan mata. Hanya dengan membaca jejak para penulis kita seolah diajak menyusuri setiap lekuk dunia. Keindahan, panorama semua termaktub dan bisa kita akses melalui buku. Dan buku bisa menjadi panduan yang menarik jika kita benar-benar ingin mengunjungi tempat-tempat yang telah dipamerkan pada kita.  sebagaimana yang dikatakan Henry Ward Beecher “Buku adalah jendela Sukma kita melihat dunia luar lewat jendela ini. Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tak berjendela.” [2] 

3.             Buku Adalah Sumber Imanjinasi

Degan membaca banyak buku bisa merangsang pembaca untuk menciptakan imajinasi-imajinasi yang tidak terduga. Bagaimana tidak, kenyataan saat ini banyak sekali penulis yang terinspirasi dari sebuah buku bacaan lalu menuangkannya lagi dan sebuah tulisan lain hingga menjadi buku baru. Tentu dalam artian bukan menjiplak, namun memberi rangsangan agar menciptakan sesuatu yang baru dengan sentuhan eksekusi yang berbeda. Karena toh, setiap orang itu memiliki keunikan sendiri dalam menulis. Tema boleh sama tapi cara penyajian baik dari gaya bahasa, plot dan karakter saya yakin beda.  Inilah gunanya membaca.

4.             Memiliki Pancingan untuk Menemukan Ide-Ide Baru

Sebagaimana buku bisa merangsang imajinasi, berbagai ide baru juga bisa didapatkan di sini. Yah, saya merasakannya sendiri. Sebagai seorang yang suka membaca buku, membuat saya juga mencintai dunia kepenulisan. Dan Buku bagi saya adalah tumpukan ide yang bisa digali kapan saja. Setiap kali membaca buku, banyak ide berseliweran yang kemudian bisa saya jadikan cerita menurut versi saya. Dan mungkin di tempat lain banyak orang yang memiliki pemikiran serupa dengan saya.

5.             Menambah Kosa Kata Baru

Ini salah satu kenapa buku menjadi godaan terbesar bagi saya. Dengan menambah koleksi buku dan membaca, saya bisa menyerap berbagai kosa kata baru yang mungkin tidak saya kenal sebelumnya. Yah, mengingat penulis itu terlahir dengan latar belakaang berbeda dan pastinya mereka memiliki keunikan tersendiri sehingga bisa menciptakan hal-hal baru yang kemudian menginspirasi pembaca.

6.             Menghibur

Ini sudah pasti. Buku adalah penghibur yang paling menyenangkan. Alasan inilah yang semakin membuat saya tergoda untuk menjadi pemburu dan pecinta buku. Membaca buku membuat saya bisa melepaskan penat. Dia bisa membuat saya tertawa ketika kesedihan kadang mendera.  

7.             Menjadi Salah Satu Sarana Memperbaiki Diri

Betapa buku memiliki banyak khasiat yang membuat siapa saja tergoda untuk memilikinya.  Termasuk saya. Memiliki dan membaca buku-buku motivasi sudah pasti akan membawa dampak baik. Yaitu mensugesti pembaca untuk meniru dan memperbaiki diri. Kisah inspiratif yang ditawarkan bisa memberi dorongan dan motivasi untuk menjadi seseorang yang terus memperbaiki diri.

Tujuh alasan ini setidaknya memberi saya dorongan untuk selalu mencintai buku. Membuat saya selalu tergoda untuk memilikinya.  Keberadaan buku sungguh berarti bagi yang belum mumpuni dalam berbagai ilmu pengetahuan. Sedang saya sangat ingin menambah wawasan agar otak saya tidak mudah karatan.

Genre Buku yang Menggoda

Jika saya ditanya genre buku apa yang bisa menggoda saya untuk segera membeli dan mengoleksinya?

Maka jujur saya harus mengaku, saya termasuk pecinta buku dengan berbagai jenis genre buku. Bahkan bisa dibilang semua genre. Kecuali yang agak berat—sastra tertentu. Kembali pada selera tentang berat yang saya maksud.

Kenapa saya bisa suka membaca berbagai genre? Oh itu simple karena saya memadang setiap buku sudah pasti menyimpan pesan-pesan tersendiri dan pastinnya bisa memberi saya inspirasi.  Inilah beberapa koleksi buku saya dengan berbagai genre yang campur aduk. Baik itu romance, horor, misteri, non-fiksi, keagamaan, manga , religi  dan buku anak. Semua ini selalu menggoda membuatku ingin memeluk mereka. Menimbun dan berselancar dalam lautan ilmu yang dibentangkan. 

Romance 

Horor & Misteri











Non-fiksi & Motvasi


Buku Anak


Manga Detective & Petualangan


Manga Romance


Andai Hidup Tanpa Buku

Membayangkan jika hidup tanpa buku, maka dunia saya akan gelap. Karena buku itu seperti cahaya. Dia menjadi lilin yang menerangi jiwa. Selain itu buku itu seperti napas yang harus saya hirup agar bisa bertahan hidup. Dan buku laksana makanan yang harus saya makan akan bisa menambah gizi pengetahuan.  Maaf jika agak lebai, hehhh. Tapi inilah yang memang saya rasakan. 

Hal Gila Jika Sudah Menyangkut Buku

Membicarakan hal gila yang pernah saya lakukan sehubungan dengan buku? Saya tidak yakin enntah ini bisa disebut gila atau tidak. Karena ini hanya saya lihat dari kacamata saya sendiri.  Tapi saya tetap akan menceritakannya. J Jujur menjadi orang yang mudah tergoda dengan buku juga membuat saya lebih posesif terhadap buku.  Bagaimana tidak? Buku bagi saya itu seperti harta karun, jadi harus selalu saya jaga sedemikian rupa agar tetap dalam keadan baik dan segar di mata saya.  Ketika habis membeli buku saya langsung menyampulnya dengan rapi. Memberi tanda kepemilikan.

Saya tipe orang yang tidak suka jika melihat buku berantakan. Dalam artian ada lipatan dalam buku untuk dibuat pembatasan buku atau tangan yang kotor menyentuh buku. Pembatasan buku dilipat-lipat. Atau malah tekena tumpahan minyak, teh atau kopi. Aih, jujur saya tidak tahan.  

Alasan-alasan itu menutut saya menjadi orang yang sangat cerewet jika berhubungan dengan buku. Terkhusus bagi mereka yang ingin meminjam buku saya. Bisa jadi orang mungkin akan malas juga. Tapi mau bagaimana lagi?  

Jujur saya kadang ada rasa enggan meminjamkan buku pada orang lain. Karena dalam istana pikiran saya, akan ada banyak pertanyaan-pertanyaan gila mengenai kekhawatiran saya.

“Bagaimana jika mereka tidak merawat buku saya dengan baik?”
“Saya takut buku saya nanti rusak. Padahal selama ini saya selalu menjaganya dengan baik.”
“Bagaimana kalau mereka lupa mengembalikan buku saya?”
“Saya selalu mengembalikan buku pinjama tepat waktu.”
“Bagimana kalau buku saya nanti dilipat-lipat?”
“Saya tidak suka buku dilipat. Karena itu membuat buku terlihat berantakan dan tidak sedap dipandang mata.”

Dan masih banyak pertanyaan dan penyetaan  lain menggema di kepala.   Sehingga ketika ada teman atau saudara yang meminjam saya akan menjelaskan dengan detail bagaimana cara perawatan buku menurut versi saya. Saya akan mewanti-wanti agar buku itu jangan sampai kenapa-napa. Menjelaskan apa yang boleh dilakukan dan tidak bolek dilakukan dengan koleksi buku saya. Lebai, kan?  L Tapi mau bagimana lagi itu demi melindungi buku-buku kesayangan saya.

Lagi pula memang ada kejadian teman yang kalau suka meminjam buku malas  mengembalikannya. Atau kalau dikembalikan,  sampulnya rusak, buku ada lipatan atau bahkan terkena hujan. Duh rasanya mangkel banget. Pengen nangis. Padahal selama ini saya selalu menjaga buku dengan sepenuh hati.  Hal ini membuat saya kadang harus menagih agar segera dikembalikan. Tidak enak, sih harus meminta-minta, tapi salah dia sendiri meminjam kok tidak bertanggungjawab.  Padahal jika saya meminjam saya akan menjaga buku pinjaman dengan baik dan mengembalikannya tepat waktu. L

~*~

Kisah lainnya adalah masalah saya dalam memanage uang jika berhubungan dengan buku.  Jangan tanya seberapa saya ini terlalu boros jika menyangkut buku. Hal ini-lah yang kadang menjadi pemicu bagi saya dimarahi orangtua. Saya dianggap boros dan buang-buang uang L Duh salah lagi.

Karena seberapa pun uang yang saya pegang jika ke toko buku atau bazar sudah dipastikan akan habis. Bahkan kadang mengambil jatah uang lain demi menuntaskan rasa haus dengan buku.  Ini sungguh di luar kendali. Melihat buku di rak-rak  itu seolah memanggil saya untuk segera membelinya.  Mata saya langsung hijau dan ingin memborong semuanya. Hhheh.  Duh, buku kenapa kau selalu menggodaku? 

Yah, saya tidak peduli, meskipun di rumah sudah banyak buku menumpuk dan antri dibaca, jika memang ada buku baru yang menggoda iman, pastinya akan saya beli.  Kalau tidak beli itu bisa membuat saya gelisah dan kepikiran terus. Jadi lebih baik beli dulu saja. Masalah baca nanti bisa diatur waktunya. J Yang penting buku sudah di tangan dulu. Hhehh.

Buku memang selalu menjadi godaan yang paling sulit dihindari.  Tapi selain itu,  buku adalah  teman suka duka, teman paling setia.  

“Buku adalah teman yang paling tenang dan konstan; mereka adalah konselor paling mudah dan bijaksana, serta guru yang paling bijak.”


Srobyong, 6 November 2016 

Ket
[3] Kumpulan Kutipan Tokoh


Alhamdulillah menjadi juara 3 dari Giveaway Kisah Antara Aku dan Buku