Showing posts with label Basabasi. Show all posts
Showing posts with label Basabasi. Show all posts

Thursday, 6 December 2018

[Resensi] Nilai Pembelajaran dari Cerita Mitos dan Legenda

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 2 Desember 2018 



Judul               : Di Surga, Kita Dilarang Bersedih
Penulis             : Umar Affiq
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 312 halaman
ISBN               : 978-602-5783-21-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mitos merupakan sebuah kisah tentang masa lalu yang berhubungan dengan kehidupan dewa serta kisah tentang pahlawan pada zaman dahulu. Di mana kisah tersebut memiliki hubungan erat dengan sebuah asal usul sebuah tempat dan biasanya bersifat gaib.  Legenda adalah cerita-cerita yang dipercayai penduduk di suatu tempat sebagai kisah nyata. Sedangkan mimpi adalah pengalaman dibawah sadar yang membuat kita bisa melihat, mendengarkan atau merasakan hal-hal  lain secara cepat dan singkat. 

Memadukan tiga unsur tersebut dalam sebuah cerita,  buku kumpulan cerpen ini cukup menarik untuk kita baca. Terdiri dari 28 cerita, kita akan diajak berpetualang dengan berbagai mitos, legenda serta mimpi-mimpi, yang mungkin sangat dekat dalam keseharian kita. Tidak hanya itu, melalui kisah-kisah ini kita juga bisa mengambil nilai-nilai pembelajaran yang bisa kita jadikan bahan renungan.

Sebut saja kisah berjudul “Orang-Orang Karang Maling”. Kisah ini menceritakan tentang sebuah desa, yang dihuni oleh para maling.  Dalam tradisi desa tersebut, mereka tidak mempercayai bahwa manusia tertua yang pernah ada di jawa adalah Meganthropus Palaejojavanicus.  Karena di pojok Desa Karang Maling terdapat kompleks pemakaman yang amat luas yang di tengah-tengahnya ada cungkup panjang yang mengayomi makan yang dipercaya sebagai orang Karang Maling pertama bernama Mada Maling (hal 13).

Cerita ini pun diteruskan dari satu generasi ke generasi lain. Anak-anak selalu diajarkan untuk tidak mudah percaya dengan berita-berita yang ada. Karena bisa jadi kisah itu adalah kisah bohongan. Hingga cerita ini sampai pada Kunthari Kampret yang memiliki pemikiran kritis.

Mengambil latar kisah tentang kedatangan Nabi Adam ke bumi, kisah ini cukup menggelitik.  Belum lagi pilihan ending yang ternyata sangat menjebak.  Melalui kisah ini kita diingatkan tentang pentingnya berpikir kritis dan haus akan pengetahuan baru (hal 11).

Ada pula kisah berjudul “Sungai Darah” yang menceritakan tentang kekagetan tokoh aku, ketika tiba-tiba dia melihat sebuah sungai berdarah. Di mana air dari sungai itu benar-benar anyir, asin dan amis. Di sana tokoh aku bertemu dengan seorang perempuan, yang mengungkapkan tentang alasan kenapa sungai itu bisa tercipta.

“Sungai ini akan terus mengalir selama lelaki itu dan orang-orang sepertinya terus mengorbankan orang-orang di sekitarnya demi menambah kekayaan. Lalu orang-orang  yang dikorbankan akan terlarung dari liang roh sampai ke sini, sedang raganya telah dikuburkan atau barangkali dikremasi  oleh keluarga yang ditinggalkan.” (hal 39-40).

Si tokoh aku itu pun antara percaya dan tidak percaya. Namun ketika sosok perempuan menyebut sebuah nama, tiba-tiba dia merasakan sensasi aneh yang tidak pernah dia duga.  Kali ini memadukan antara mimpi, desas-desus pesugihan dan mitos sungai merah dari mesir kuno—yang berhubungan dengan masa Nabi Musa, penulis menghadirkan kisah yang menarik. Meski bagian akhir cukup mudah ditebak, saya suka dengan pesan tersirat yang terdapat dalam kisah ini.

Melalui kisah ini kita diingatkan tentang betapa berbahaya sikap rakus dan tamak.  Karena sikap itu akan membuat  kita menjadi pribadi yang berani menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan dan tidak segan untuk mengorbankan nyawa orang lain.

Selain dua kisah tersebut, kisah lainnya pun tidak kalah seru dan memikat. Dari semua cerita yang ada, saya paling terkesan dengan cerita  Mayat Tergeletek di Tengah Jalan, Seekor Ular yang Menggigit Ekornya Sendiri dan Bocah Rebo Wekasan. Kisahnya sederhana tapi sangat menarik dan menggelitik.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang lugas dan mudah dipahami, buku ini menarik untuk dibaca. Hanya saja ada beberapa bagian cerita yang menurut saya kurang terasa hidup dan datar. Namun lepas dari kekurangan yang ada, penulis telah berhasil menghadirkan sebuah buku yang menghibur juga memberi banyak nilai pembelajaran. Di antaranya kita diingatkan untuk tidak saling mengunjing atau berbuat ghibah, jangan diperbudah hawa nafsu dan banyak lagi.

Srobyong, 20 September 2018

Monday, 26 November 2018

[Resensi] Kritik Sosial Tentang Pemimpin Diktator

Dimuat di Kabar Madura, Senin 22 Oktober 2018


Judul               : Negeri yang Dilanda Huru-Hara
Penulis             : Ken Hanggara
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 260 halaman
ISBN               : 978-602-6651
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Sebagai pemimpin negara kita harus berusaha menyejahterakan kehidupan rakyat. Kita tidak boleh bertindak sewenang-wenang dan memanfaatkan jabatan yang kita miliki demi kebutuhan diri sendiri. Apalagi sampai menyembunyikan sejarah demi menutupi kejahatan yang telah dilakukan para petinggi.   Mengambil tema politik, novel bergenre eksperimental dan semi fantasi ini, sangat menarik untuk dibaca.  Dengan gaya bercerita yang mudah dipahami, penulis mampu menghadirkan sebuah kisah berlatar kenegaraan dengan apik.

Mugo I adalah pemimpin pertama di Negeri Fiktif Belaka. Dia memiliki peran besar dalam mencapai kemerdekaan negeri itu dari tanah penjajah. Dia memimpin dengan cukup adil dan bijaksana.  Namun ketika tambuk kepemimpinan beralih pada Mugo II, aturan-aturan sedikit diubah. Dia mengerjakan tugasnya sesuka hati seakan-akan semua yang dikendalikannya hanya hiburan (hal 29). Selain itu dalam penempatan jabatan, Mugo II sengaja mengisi sebagian besar kursi pejabat istana dengan orang yang berdarah campuran, karena dirinya juga berdarah campuran.  Mugo II hanya suka menghabiskan berbagai makanan dan segala hiburan, tanpa memedulikan kesejahteraan rakyat.

Kemudian ketika kepempimpinan berganti pada Mugo III Negara Fiktif Belaka semakin kacau balau. Apalagi sikap Mugo III ini tidak selembut ayahnya, Mugo II dan memiliki ambisi-ambisi dan sifat yang tidak stabil. Sebagaimana ayahnya dia juga menyukai sastra, dengan plot-plot rekayasa dalam berbagai buku berlatar sejarah Negeri Fiktif Belaka. Dia akan marah dan tidak segan membunuh siapa saja yang berani menulis atau membicarakan  sejarah negerinya. Karena dia khawatir kekejaman yang pernah dia lakukan bisa terbongkar.

Keadaan itulah, yang  membut Popo Gusnaldi ingin menulis sebuah novel dengan latar belakang sejarah negaranya sendiri.  Dia ingin mengungkapkan sebuah kebenaran yang telah dikubur rapat oleh para petinggi negerinya.  Yaitu tentang pembantaian masal  di kota Kalodora, hingga menewaskan banyak penduduk.  Sayangnya perjuangan Popo tidaklah mudah. Apalagi saat ini, agar bisa menerbitkan novel, seorang penulis harus berhubungan langsung dengan kerajaan.

Di mana penerbitan buku milik raja memiliki aturan, bahwa isi naskah yang ingin diterbitkan haruslah bermanfaat bagi siapa pun yang akan membacanya. Akan ada sanski-sanksi yang diberlakukan bagi para pelanggar (hal 31-32).  Namun Popo Gusnaldi tidak pernah menyerah. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, dia menyelidiki jejak-jejak sejarah sambil terus menulis buku.   Menurutnya, “Memelihara sejarah sendiri sama halnya dengan memelihara peradaban yang akan membuat kehidupan rakyat di Negeri Fiktif Belaka semakin baik.” (hal 144).

Dia juga meyakini bahwa keberadaan sebuah buku akan memiliki pengaruh besar dalam sebuah perjuangan. “Tidak ada pedang  atau tombak yang lebih tajam ketimbang hasil pekerjaan dalam menulis, maka angkatlah senjata lewat pena dan guncanglah dunia dengan senjata itu sampai mati.” (hal 145).

Maka ketika dia sudah menyelesaikan tulisannya, Popo Gusnaldi segera pergi ke istana untuk menyerahkan tulisannya. Menurut ayahnya, di sana dia akan dibantu sahabat ayanya, Hady Hamza untuk menerbitkan bukunya, tanpa adanya pencekalan. Tapi dia salah. Begitu dia menyerahkan tulisannya, Popo Gusnaldi langsung diringkus dan ditangkap. Dia mendapat berbagai siksaan yang menyakitkan.

Akan tepati siksaan itu tidak menyurutkan  keinginan Popo Gusnaldi untuk mengungkap kekejaman Mugo III. Dia ingin warga bisa terlepas dari kepemimpinan yang diktator dan kejam. Bersama Ben Asmara—paman Hady Hamza dan Guru Blewah, mereka saling bahu membahu untuk menjatuhkan Mugo III. Di sisi lain mereka juga menyelidiki apa yang sebenarnya telah terjadi pada sosok Hady Hamza yang dulu dikenal sebagai sosok ambisius ingin meruntuhkan kepemimpinan Mugo II.  Novel ini sangat menarik dan menegangkan. Penulis sukses membuat pembaca terkejut dengan akhir cerita yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Melalui novel ini kita bisa mengambil pembelajaran tentang pentingnya menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Jangan menjadi pemimpin zalim dan memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki demi kepentingan pribadi. Serta kita diajak untuk menjadi pribadi yang mencintai tanah air dan berani berjuang demi kebenaran.

Selain itu dalam buku ini ada pesan-pesan tersirat tentang keagamaan. Sebagaimana tentang kebiasaan berbohong.  “Kebohongan tidak akan membawamu ke surga. Kebohongan adalah jalan mudah untuk siapa pun menjadi lebih dekat dengan neraka.” (hal 111). Tidak ketinggalan buku ini juga membuka mata kita tentang pentingnya bergelut dengan dunia literasi. 

Srobyong, 21 Juli 2018

Saturday, 7 July 2018

[Resensi] Cinta, Impian dan Bakti pada Orangtua

Dimuat di Kabar Madura, Selasa 26 Juni 2018


Judul               : Kami Yang Tersesat pada Seribu Pulau
Penulis             : Andaru Intan
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Mei 2018
Tebal               : 184 halaman
ISBN               : 978-602-5783-09-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Cinta bisa tumbuh di mana saja dan kapan saja. Karena cinta memang selalu banyak kejutan yang tidak pernah terduga. Namun bagaimana ketika cinta itu  membuat   kita  harus memilih? Tetap mempertahankan cinta, atau memilih mengerjar mimpi dan bakti pada orangtua?

Berbeda dari novel sebelumnya, “33 Senja di Halmahera” yang mengkat isu adat, budaya, dan agama, kali ini Andaru Intan kembali menyapa dengan novel apik yang membahas tentang masalah keluarga. Uniknya jika kebanyakan penulis lebih dominan memilih membahas masalah dengan ibu, maka tidak dengan penulis yang juga merupakan seorang dokter ini. Dia memilih membahas hubungan antara seorang anak perempuan dan ayah, yang kemudian dipadukan dengan masalah cinta juga sebuah mimpi.

Tia terlahir sebagai anak piatu. Ibunya sudah meninggal ketika melahirkan dirinya. Dengan alasan itu, dia kemudian dirawat oleh nenek dari pihak ibu. Meski diberi limpahan kasih sayang oleh neneknya,  namun Tia merasa bukan menjadi dirinya sendiri.  Karena neneknya hanya melihat sosoknya sebagai  memori dari putrinya yang sudah meninggal. Hal itulah yang membuat Tia merasa sedih, karena tidak bisa bebas.

Lalu suatu hari, ayahnya datang memberi tawaran untuk tinggal bersama. Bagi Tia itu adalah kabar yang menyenangkan. Dia akhirnya bisa hidup dengan ayah yang selama ini dia rindukan. Meski dia tidak tahu bagaimana perangai sang ayah. Setidaknya dengan keluar dari rumah nenek, dia bisa menjadi diri sendiri. Namun ternyata tinggal bersama ayahnya tidak seindah yang dia bayangnya. Dia merasa ada sebuah jarak tak kasat mata yang membentengi mereka.

Meski begitu, Tia tetaplah seorang anak yang memiliki impain sederhana. Dia ingin membahagiaan ayahnya yang sudah bekerja keras demi dirinya. Oleh karena itu dia belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa masuk ke sekolah favorit. Namun siapa sangka tamu bernama cinta itu merusak segalanya. Bahkan hingga membuat Tia hampir melakukan kesalahan yang fatal (hal 32).

Setelah kegagalannya  masuk perguruan tinggi, menyebarangi pulau Jawa, menjadi pilihan Tia. Untuk melupakan segala kesedihan hatinya dan persiapan tahun depan untuk ikut seleksi perguruan tinggi, Tia diajak ayahnya untuk tinggal bersama di Ternate.  Di sinilah sebuah kisah terduga itu dimulai. Pertemuan tidak sengaja dengan Alang, membuat hidup Tia berubah. Di sisi lain, di sana dia juga harus menerima kenyataan bahwa pelan-pelan ayahnya diserang dimensia (hal 102).

Pada titik itu, Tia harus mengambil pilihan. Apakah dia tetap berada di Ternate dan melanjutkan hubungannya dengan Alang, atau kembali ke Surabaya untuk perawatan ayahnya dan persiapan masuk perguruan tinggi.

Kisahnya sederhana dan tidak terlalu rumit. Gaya bahasa penulis juga renyah dan lugas, membuat kita nyaman saat membaca. Membaca novel ini kita akan diajak menjelajahi empat tempat. Dari Yogyakarta, Surabaya, Papua hingga Ternate. Memang tidak semua dieksplore secara gamblang. Hanya Ternate yang kemudian dipaparkan lebih detail, mulai dari tempat-tempat liburan, hingga beberapa budayanya serta makanan khas daerah di sana.

Secara keseluruhan novel ini cukup menghibur.  Hanya saja pilihan sudut pandang orang pertama dalam bercerita, membuat kisah ini kurang hidup dan lebih terasa storytelling.  Namun lepas dari kekurangannya, novel ini cukup menarik untuk dibaca. Melalui buku ini ada pelajaran tentang pentingnya pola asuh yang baik pada anak, serta belajar arti kesabaran, keikhlasan, tidak mudah menyerah dan bakti kepada orangtua.

Srobyong, 2 Juni 2018

Friday, 2 February 2018

[Resensi] Bayang-bayang Prasangka dan Kepercayaan

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 21 Januari 2018 


Judul               : Kejujuran Seorang Maling
Penulis             : Fyodor Dostoyevsky
Penerjemah      : Noa Dhegaska
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : 232 halaman
ISBN               : 978-602-6651-43-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Naskah asli sebelum ada editing dari redaksi Tribun  Jateng 

Kumpulan cerpen ini ditulis oleh Fyodor Dostoyevsky—merupakan penulis asal Rusia yang cukup berpengaruh di masanya. Dalam setiap karyanya dia memiliki ciri khas mengeksplore aspek-aspek psikologi dengan tokoh cerita yang cenderung berasal dari kelas menengah-bawah.  Selain membahas aspek psikologis, penulis juga kerap menggarap cerpennya dengan pembahasan yang pendalam perihal politik, sosial juga spiritual.  Tidak ketinggalan dalam setiap cerita yang diangkat penulis memiliki kecenderungan bermain misteri. Terdiri dari enam cerita,  buku ini cukup menarik dan membuat kita penasarannya. 

Sebut saja cerpen berjudul “Sebuah Kisah dalam Sembilan Surat” ketika membaca cerita ini kita harus sabar mengurai percakapan  antara Pyotr Ivanitch dengan Ivan Pertovitch melalui surat. Mengungkap apa yang  mereka perdebatkan dan kenapa mereka harus saling  mengirim surat.  Tapi yang lebih menarik adalah mengungkap siapa sebenarnya yang melakukan kebohongan dan kelicikan dalam kisah mereka.

Mengingat sebenarnya mereka dulunya adalah sepasang sahabat. Namun karena sebuah masalah, mereka melaukan perbebatan panjang melalui surat yang jujur saya bulang cukup pelik dan membingungkan.

“Aku tak tahu  sampai selama ini apa yang menahanku untuk menyatakan kebenarannya. Sekarang dengan gamblang kubilang bahwa sepertinya kau menelan ludahmu sendiri atas kesepatakan-kesepakatan kita mengenai perjanjian itu.” (hal 15).

Ada pula kisah berjudul “Istri Pria lain atau Sesosok Suami di Bawah Ranjang”  sebuah kisah yang cukup pelik tapi menarik untuk kita cari kebenarannya. Di mana suatu hari ada seorang pemuda sederhana bertemu dengan pria bermantel bulu rakun—di sini memang tidak dijelaskan secara gamblang nama-nama pria tersebut—si pria bermantel bulu rakun sedang mencari seorang wanita yang konon adalah istri dari temannya. Sedang si pemuda ini tengah menunggu pacarnya.  Yang menjadi pertanyaan apakah mungkin mereka sedang menunggu wanita yang sama?  Mungkinkah ini tentang sebuah perselingkuhan?

“Maafkan, maksudku, apakah kau sempat melihat seorang wanita dengan mantel bulu rubah, dengan tudung beludru gelap dan kerudung hitam?” (hal 35).

Tidak kalah menarik adalah cerpen “Kejujuran Seorang Maling”. Mendengar judul itu pasti kita akan bertanya-tanya. Bernakah seorang maling bisa jujur? Mengingat kebiasaan para maling adalah melakukan tipudaya dan tidak ingin tertangkap basah. Di sinilah menariknya.  Dengan bahasa yang tidak rumit, penulis sukses memebuat kita terperangah dengan sebuah kisah sederhana ini.  Kisah tentang Astavy Ivanovitch dengan pemilik rumah kosnya juga dengan teman lamanya Emelyan Ilyitch.

Dari kisah-kisah yang termatub di sini, penulis mengkritisi tentang rendahnya tingkat kepercayaan yang terbangun antara individu,  betapa manusia kerap kali diperbudak kerakusan akan uang, sehingga berani melakukan tindakan licik dan jahat, lalu banyak manusia yang gila kehormatan dan jabatan. Di sisi lain dari buku ini kita bisa mengambil pembelajaran bahwa kita harus menjauhi prasangka, cemburu buta dan dendam, kita juga harus membiasakan bersikap jujur. Karena ketidakjujuran hanya akan membuat kita dihantui rasa bersalah sampai kapan pun. 

Srobyong, 30 Desember 2017 

Tuesday, 12 December 2017

[Resensi] Membongkar Ketimpangan Realita Hidup Lewat Cerita

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 24 November 2017 


Judul               : Cemong
Penulis             : Ida Fitri
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, September 2017
Tebal               : 184 halaman
ISBN               : 978-602-61246-2-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Meski kita kerap kali membaca berbagai cerpen dengan tema-tema yang hampir serupa, namun pada kenyataannya kita tidak pernah bosan dengan sajian cerpen yang hadir setiap pekan di berbagai media. Kita tetap haus dengan kisah-kisah menarik yang disajikan dari berbagai latar dan pendidikan penulis. Karena setiap penulis memiliki sisi unik tersendiri dalam mengemas sebuah cerita. Hal itulah yang membuat perbukuan kumpulan cerpen tetap  tumbuh dan berkembang.

Berbagai penerbit masih menerbitkan kumpulan cerpen yang kebanyakannya pun sudah pernah tersiar di berbagai media. Dan realitas di pasar buku-buku tersebut tetap diterima para pembaca dengan baik. Misalnya saja “Cemong” karya Ida Fitri, penulis asal Aceh, yang diterbitkan di Basabasi.  Terdiri dari 22 cerpen, buku ini mencoba membongkar  ketimpangan yang kerap kali terjadi dalam realitas masyarakat kita.

Misalnya saja cerpen berjudul “Lelakiku  Tertawaan Gunung”. Di mana cerpen ini mengisahkan tentang Cut Meulu yang tidak pernah berhenti menunggu dan setia kepada sang suami—Yid Ahmad yang mengabdi sebagai guru di kaki gunung. Detik demi detik waktu dia gunakan untuk menyiapkan makanan kesukaan sang suami. Dia memasak sayur Plik U—sayuran yang terbuat dari kelapa busuk yang diambil minyaaknya dan dikeringkan, di mana proses pembuatannya hampir memakan waktu seminggu (hal 21).

Selain itu Cut Meulu juga harus menyiapkan ikan asin, salah satu menu favorit lain suaminya. Mungkin saja sewaktu-waktu suaminya akan pulang dan ingin makan. Namun malangnya setiap kali selesai memasak, dia menyadari suaminya tidak  kunjung kembali. Hingga akhirnya masakan itu berakhir untuk dibagi-bagikan kepada tetangga.

Kejadian itu terus terjadi hingga akhirnya membuat Cut Meulu pasrah. Dia meyakini cinta pasti akan menemukan jalannya. Namun di suatu siang yang panas, dia mendapati sebuah kabar yang sungguh menyayat hatinya. Dikhianati dan diduakan? Itukah balasan dari kesetiannya?

Cerpen ini ditutup dengan ending yang tidak terduga, tanpa meninggalkan kesan kesedihan yang menyakitkan bagi tokoh juga pembaca sendiri..   Kisah ini seolah menjawab realitas yang memang kerap terjadi dalam masyarakat. Di mana seorang pria  tidak bisa lepas dari perempuan dan kesepian. Hal itulah yang pada akhirnya memicu terjadinya perselingkuhan, ketika jarak menjadi pemisah sepasang suami-istri.

Selain itu ada pula cerpen berjudul “Kota Tanpa Kenangan”. Bercerita tentang sebuah daerah yang tiba-tiba jadi asing bagi semua orang. Sam memutuskan mengunjungi tanah kelahirannya—Jentaka.  Dia sudah tidak sabar bercumbu dengan masa lalu. Menikmati keindahan desa, bertemu teman dan sauadara. Nanun ketika dia akhirnya sampai di tempat itu, Sam hanya melihat kesedihan yang membingungkan (hal 27).

Sam mendapati kabar yang menyatakan kalau warga mulai hilang ingat. Itulah yang melatar belakangi berbagai pemandangan yang membuaat Sam bingung. Seperti saat melihat seorang ibu yang meninggalkan anaknya.  Dan anehnya perlahan-lahan memori yang dia miliki pun mulai menghilang. Dia lupa alasan pergi ke Jentaka.

Dalam cerpen ini, kita diperlihatkan tentang realitas hidup, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dan uang banyak, selalu menghalalkan segala cara untuk melindungi diri dari perbuatan jahat yang dia miliki.  Baik itu dengan menyuap atau memakai perantara orang pintar.

Tidak kalah menarik adalah cerpen berjudul “Kematian Seekor Tikus”. Cerpen ini adalah contoh nyata bagaimana pola hukum di Indonesia berjalan. Bagaimana hukum yang berusaha menutupi kejahatan karena bantuan orang dalam yang memiliki pangkat kuat. Namun uniknya cerpen ini, penulis memberikan kejutan menarik di akhir cerita.

Selain beberapa cerpen itu, masih ada pula cerpen lain yang juga sangat menarik. Seperti Seraut Wajah Berbingkai Pohon, Mamawa Ya Tambora, Bukan Sulaiman, Buntalan Mikail, Kanibal Linge dan banyak lagi. Dipaparakan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan tidak berat, membuat buku ini sangat asyik untuk dinikmati.  Keunggulan lainnya adalah  bagaimana penulis memilih judul-judul yang menarik dan pembukaan alenia yang membuat kita penasaran untuk menuntaskan kisah sampai akhir.

Hanya saja dalam buku ini ada ketidakkonsistenan dalam memberikan catatan kaki di akhir setiap cerpen.  Begitupula dalam pemberian catatan kaki tentang bahasa daerah yang menurut saya kurang jelas dalam penulisannya. Namun lepas dari kekurangannya, rasa lokalitas dalam buku ini menjadi nilai tambah yang menarik.

Srobyong, 28 Oktober 2017 

Friday, 3 November 2017

[Resensi] Karya Peraih Nobel Sastra yang Mengkritisi Sosial Budaya

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 27 Oktober 2017 


Judul               : Maut Lebih Kejam daripada Cinta
 Penulis            : Orhan Pamuk, dkk
Penyusun         : Anton Kurnia
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : 280 halaman
ISBN               : 978-602-6651-04-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Dalam setiap bidang  industri kreatif kita akan dikenalkan dengan berbagai penghargaan sebagai bukti prestasi luar biasa yang telah dicapai.  Misalnya saja Academy Award—atau disebut juga Piala Oskar, yang merupakan pengharagaan film Amerika untuk menghargai industri film.  Ada pula Grammy Award—yaitu penghargaan bergengsi yang diberikan guna menghargai prestasi luar biasa dalam industri musik. Sedang dalam dunia literasi, pengharaan yang paling prestisus adalah Penghargaan Nobel Sastra. Dan menurut data terbaru, peraih penghargaan Nobel Sastra 2017 ini diraih oleh Kazuo Ishiguro, penulis Inggris berdarah Jepang.

Sebagaimana kita ketahui, sastra memang hadir, tidak hanya hadir sebagai hiburan semata. Dengan kekuatan kata yang tajam, sastra juga hadir sebagai salah satu media yang kerap mengkritisi berbagai masalah sosial budaya masyarakat bahkaan masalah politik. Baik itu dengan prosa liris atau satire. Jadi secara tidak langsung keberadaan sastra semakin menunjukkan  eksistensinya.

Buku ini, yang merupakan hasil pengumpulan dan diterjemaahkan oleh Anton Kurnia—sastrawan Indonesia—di mana sudah banyak karya cerpen, esais atau hasil terjemahannya di muat diberbagai media, merupakaan kumpulan karya para peraih nobel dari berbagai dunia. Anton Kurrnia memilih 25 kisah yang sedikit banyak mengangkat tema cinta, keluarga dan berbagai kritisk sosial budaya.

Misalnya saja cerpen berjudul “Ayah dan Anak” karya Bjornstjerne Bjornson. Cerpen ini menyadarkan kita bahwa seorang ayah tidak memedulikan apa pun, yang terpenting adalah anaknya bahagia. Bahkan jika itu harus menghabiskan banyak biaya. “Aku punya sesuatu yang ingin aku dermakan kepada orang-orang miskin. Aku ingin menjadikan itu sedekah atas nama putraku.” (hal 13).

Dalam cerpen ini diceritakan ada seorang lelaki berpengaruh dan paling kaya di desanya. Namanya Thord Overaas. Dia rela melakukan apa saja untuk anaknya—Finn. Dimuali dari pembabtisan yang dilakukan secara khusus, kemudian doa untuk kelulusan Finn, hingga akhir di mana Finn menikah. Namun sebuah kejadian membuat Thord Overass sangat sedih.

Ada pula kisah  berjudul “Hantu Kekasih” karya Rudyar Kipling. Cerpen ini membuat kita memahami bahwa kita tidak boleh bersikap kejam pada seseorang.  Kita juga harus menjaga ucapan agar tidak membuat orang lain tersakiti. Selain itu ceritaa ini juga mengingatkan agar tidak membenci seseorang secara berlebihan. Karenaa batas benci dan cinta itu setipis benang.

Menceritakan tentang laki-laki bernama Pansay yang kerap kali bergonta-ganti pasaangan. Dia terbiasa memutuskaan hubungan dengan wanaita yang dikencaninya jika bosan. Namun suatu hari ada salah satu wanita bernama Nyonya Wessington yang tidak rela jika harus putus dengan Pansay. Hal itulah yang pada akhirnya membuat Pansay berlaku agak keras agar Nyonya Wessington mau pergi. Hanya saja akibat perbuatannyaa itu Pansay harus menerima kenyataan yang lebih kejam dari apa yang telah dilakukananyaa kepada Nyonya Wessington (hal 15).

Tidak kalah menarik ada cerpen berjudul “Tukang Sepatu”  karya John Galsworthy. Di sini penulis mengkritisi para pelaku bisnis yang kerap melakukan tindakan kotor demi meraih banyak keuntungan. Mereka menjual iklan tanpa memedulikan dengan kualitas karya. Hal ini tergambar jelas dari kisah yang dipaparkan tentang Gesser bersaudara—tukang sepatu. Ketika tukang sepatu lain sudah mulai lalai dan kerap berlaku curang, mereka tetap memilih berjalan pada jalan kebenaran dengan menghasilkan karya terbaik, meski harus terseok-seok dalam bertahan hidup.

Lalu cerpen “Maut Lebih Kejam daripada Cinta” karya Gabriel Garcia Marquez. Sebuah cerpen yang mengkritisi sikap pejabat yang kerap kali mudah tergoda dengan wanita.  Juga tentang kebohongan publik yang kerap dilakukan pejabat—di mana orasi yang dilakukan ketika mencalonkan diri hanya kebohongan, karena setelah terpilih kebanyakan akan ingkar janji. Adalah Senator Onesimo Sanchez yang awalnya selalu menolak membantu Nelson, namun ketika dia menyodorkan putrinya, seketika itu pertahanan sang senator runtuh (hal 133).

Selain itu tentu saja masih banyaak cerita lain yang tidak kalah menarik. Seperti Idiot yang mengkritisi masalah adat, Gelang Emas yang mengiritisi tentang halal dan haram, Bila Dara Jatuh Cinta dan banyak lagi. Semua dipaparkan dengan terjemahan yang lugas dan mudah dimengerti.  Buku ini juga dilengkapi sejarah masalah Penghargaan Nobel Sastra yang pastinya bisa menambah wawasan kita.


Srobyong, 19 Oktober 2017

Saturday, 28 October 2017

[Resensi] Menikmati Kisah Peraih Nobel Sastra

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin 23 Oktober 2017 


Judul               : Maut Lebih Kejam daripada Cinta
Penulis             : Orhan Pamuk, dkk
Penyusun         : Anton Kurnia
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : 280 halaman
ISBN               : 978-602-6651-04-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Karya sastra sendiri merupakan sebuah ciptaan yang dibuat dengan tujuan estetika. Di mana biasanya karya-karya yang diciptakan berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat  dengan tema beragam dan satun waktu yang bergama pula.  Dan Hadiah Nobel Sastra adalah salah satu puncak tertinggi seorang sastrawan melalui karyanya di pentas sastra dunia. Di mana penghargaan itu secara tidak langsung akan menunjukkan tentang kepiawaian penulis juga akan mengangkat nama penulis itu sendiri.

Dalam hal ini, para peraih nobel sastra adalah penulis-penulis luar yang memang sudah tidak diragukan lagi kemampuan mereka dalam mengolak sebuah cerita. Seperti Orhan Pamuk,  Camilo Jose Cela, Albert Camus,  Toni Morrison dan banyak lagi.   Hanya saja tidak semua penulis sastra masih hidup dan terus mengenalkan karya-karyanya.

Oleh karena itu, buku ini hadir untuk mengenalkan  karya-karya sastra menarik dari peraih nobel sastra. Buku ini sendiri terdiri dari 25 kisah yang menarik dan menggelitik.  Di mana tema yang diangkat pun sangat luas. Dari cinta kasih keluarga hingga kritik sosial budaya.

Misalnya saja sebuah cerpen berjudul “Hantu Kekasih” karya Rudyard Kippling—penulis yang mendapat Nobel Sastra di tahun 1970. Dalam kisah ini penulis menyinggung tema cinta yang menarik dan menggemaskan. Ada Pansay  yang  kerap bergonta-ganti pasangan. Dia bahkan tidak segan-segan memutuskan pasangannya jika sudah bosa berhubungan. Namun suatu hari akhirnya dia memutuskan bertunangan dengan Kitty. Keputusannya itu tentu saja membuang salah satu mantan pacar Pansay marah, mengingat Nyonya Wessington masih sangat mencintai Pansay dan tidak mau diputus. Berkali-kali dia mengiba untuk berbaikan. Namun berkali-kali pula Pansay menolak.  Lalu di suatu hari yang tidak terduga tiba-tiba, entah kenapa Pansay menjadi laki-laki aneh hanya karena melihat angkong berwana kuning dan Nyonya Wessington (hal 15).

Selain itu ada pula “Tukang Sepatu” karya John Glasworthy—pemenang nobel sastra tahun 1932.  Cerpen ini penulis mengisahkan tentang tokoh yang selalu memegang teguh ideoliginya ketika berbisnis. Dia tidak mau berbuat curang dan selalu membuat sepatu dengan kualitas terbaik dan penuh kehati-hatian (hal 61).

Selain itu tentu saja masih ada  cerpen-cerpen yang tidak kalah menarik dan menggelitik. Seperti Maut Lebih Kejam daripada Cinta karya Gabriel Garcia Marquez, Gelang Emas karya Naguib Mahfouz, Idiot karya Camilo Jose Cela dan banyak lagi. Sebuah kumpulan cerpen yang menarik. Di sini kita bisa belajar untuk selalau jujur, mau bersedekah serta tidak sombong dan egos. Selain itu kita bisa menambah pengetahuan tentang sejarah penghargaan nobel sastra.

Srobyong, 5 Oktober 2017 

Friday, 20 October 2017

[Resensi] Tukang Sepatu Mengkritik Pebisnis karena Selalu Curang

Dimuat di Koran Jakarta, Selasa 10 Oktober 2017 


Judul               : Maut Lebih Kejam daripada Cinta
 Penulis            : Orhan Pamuk, dkk
Penyusun         : Anton Kurnia
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : 280 halaman
ISBN               : 978-602-6651-04-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Buku ini merupakan kumpulan cerpen  karya para penulis peraih Nobel Sastra—sebuah  penghargan sastra paling prestesius di dunia yang diberikan kepada penulis.  Dan baru-baru ini telah diumumkan  bahwa pemenang Nobel Sastra 2017 adalah penulis Inggris berdarah Jepang—Kazuo Ishiguro.

Penghargaan ini menunjukkan kemampuan seorang penulis juga seberapa berpengaruhnya tulisaan yang dibuat di mata dunia. Mengingat sastra memang dibuat dengan tujuan esetika.  Namun selain  hadir sebagai hiburan, sastra  juga menjadi jembatan untuk mendiskripsikan berbagai peristiwa, masalah psikologis, hingga  dinamika penyelesaian masalah.

Dari cerita sastra kita bisa mengambil inspirasi atau merenungkan tentang suatu kejadian yang mungkin sering terjadi dalam kehidupan  sosial masyarakat pada waktu tertentu. Dan sastra kadang-kadang juga menjadi pisau tajam dalam mengkritisi masalah politik.  Dalam buku ini terdapat 25 cerita yang menarik dan memikat dengan berbagai tema—ada cinta kasih keluarga hingga kritik sosial budaya.  

Misalnya saja cerpen berjudul “Tukang Sepatu” karya  John Galsworthy. Dia mengkritisi para pebisnis, tentang persaiangan bisnis yang lebih sering memakai kecurangan untuk melariskan produk  yang dimiliki.  Dalam cerpen ini diceritakan, para tukang sepatu tidak memikirkan kenyamana pemakai sepatu, hanya memikirkan keuntungan yang nantinya akan diperoleh. Berbeda dengan Gessler bersaudara yang tetap memegang ideologi, untuk menjadi tukang sepatu yang bertanggung jawab. Gessler selalu berusaha membuat sepatu dengan kualiatas baik.   “Mereka mencari pelanggan  dengan iklan, bukan dengan karya.” (hal 67).

Adapula cerpen berjudul “Maut Lebih Kejam daripada Cinta” karya Gabriel Garcia Marquez. Dalam cerita ini, penulis menyindir seorang senator  yang mudah disuap ketika disuguhi wanita cantik.  Diceritakan Senator Onesimo Sanchez telah divonis akan segera meninggal. Namun karena malu mengakui kenyataan itu dia berusaha mati-matian merahasiakan batas hidupnya.  Dia tetap melakukan kampanye pemilu dan melayani masyarakat yang meminta bantuan kepada dirinya.

Hanya satu orang yang selalu dia tolak, ketika meminta bantuan. Namanya Nelson Farina. Dia meminta tolong pada Senator Onesimo untuk membuat KTP palsu agar tidak bisa lolos dari jangkaun hukum (hal 138). Namun dengan tegas Senator Onesimo menolak permintaan Nelson. Hingga di suati hari, Nelson mengenalkan putrinya—Laura Farina yang sangat rupawan, hingga membuat Senator Onesimo bertekuk lutut, dan tidak bisa lagi menolak keinginan Nelson.

Tidak kalah menarik adalah cerpen berjudul “Gelang Emas” karya  Naguib Mahfouz. Dalam cerita ini, penulis menunjukkan krisis moral yang kerap terjadi di dalam sosial masyarakat.  halal dan haram sudah tidak dipedulikan, bahkan kejujuran pun digadaikan. Diceritakan  Hussein akhirnya diterima menjadi juru tulis di sekolah menengah di Tanta. Kabar itu tentu saja sangat membuat Hussein sangat senang dan antusias. Dengan memperoleh pekerjaan dia bisa membantu keuangan keluarganya.

Tapi di sisi lain, Hussein menyadari untuk pergi ke Tanta dia memerlukan banyak biaya. Sedangkan dia saat itu tidak memiliki uang. Oleh karena itu, dia mencari saudaranya Hassan untuk meminta bantuan. Dan betapa terkejutnya Hussein ketika melihat keadaan Hassan, yang ternyata tidak jauh berbeda dengan dirinya.   Namun yang lebih mengejutkan adalah ketika Hassan tiba-tiba memberikan sebuah gelang emas milik orang lain kepada Hussein untuk dijual (hal 154). Di sinilah dilema Hussein. Dia bingung antara harus menerima gelang emas itu atau menolaknya.   Tapi Hussein akhirnya menerima gelang itu demi bertahan hidup.

Selain cerpen-cerpen tersebut, masih banyak lagi kisah lain yang tidak kalah menarik dan menggelitik. Seperti Idiot karya Camilo Jose Cela, Perempuan Tak Setia karya Albert Camus, Ketika Dara Jatuh Cinta karya Ernest Hemingway,  Namu Hitam karya Orhan Pamuk dan banyak lagi. Semua diceritakan dengan alur menarik dan memikat, membuat kita tidak bosan dalam membaca. Selain itu dalam buku ini juga dilengkapi sejarah perihal Hadiah Nobel Sastra, juga daftar para penulis yang pernah menerima penghargaan sejak tahun 1901- 2016. 

Srobyong, 6 Oktober 2017