Showing posts with label Irene Dyah. Show all posts
Showing posts with label Irene Dyah. Show all posts

Friday, 17 November 2017

[Review Buku] Antara Memilih Mempertahankan Pernikahan atau Melepasnya



Judul               : (im) Perfect Serenade; Love In Verona
Penulis             : Irene Dyah
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, September 2017
Tebal               : 244 halaman
ISBN               : 978-602-03-6104-8

“Semua wanita mengharapkan kisah cinta sempurna, pasangan yang tanpa cacat, kehidupan yang happy ever after tanpa perjuangan setitik pun. Mana bisa? Perjalanan hidup kita kan bukan cerita film atau novel. Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.” (hal 59).

Memiliki keluarga yang  bahagia pasti menjadi harapan setiap orang. Memiliki suami yang tampan, sukses pengertian dan tidak neko-neko. Namun bagaimana jika suatu hari rumah tangga yang  awalnya begitu indah dalam sekejam mata porak poranda?  Hal itulah yang tengah dialami Serenada Sukma.  Biduk rumah tangga tengah digoncang badai. Dia tidak pernah menyangkan Bansar—suami yang sangat dia percaya berani bermain api di belakangnya. 

Selingkuh dan perang rumah tangga, jelas tidak masuk rancangan pernikahan sempurna yang dia cita-citakan. Apalagi perceraian. Membayangkannya saja membuat Seres nyaris pingsan. Tidak mungkin dia rela status “jande cerai” ditatokan di dahinya dan bertahan di situ seumur hidup (hal 47).

Dibuka dengan quote dan prolog yang menarik, kita akan digiring pada kisah Seren dan Bastar yang menggemaskan.

“Setiap perjalanan pasti butuh kata pulang. Dan pulang bagimu saat ini adalah kepadaku. Kepada rumah kita. Kepada yang kita bangun bersama enam tahun terakhir.” (hal 132).

Bagi Seren sejak dia memergoki affair antara Bansar dan Ayang—sekretarisnya,  kehidupan mereka telah berubah. Oleh karena itu project  Wisata Kota Cinta yang awalnya ditolak Seren, karena muak dengan hal-hal yang berbau cinta, kini dia terima.  Setidaknya perjalanan ke Verona akan membuatnya rileks sejenak dari hubungan aneh dan kaku yang dia rasakan sekarang.  Selain itu dia juga beruntung karena bisa sekalian melakukan riset terhadap novel yang tengah digarapnya.

Selama di sana Seren  menjadi sekretaris di Juliet Club—sebuah tempat yang menerima surat cinta atau surat apa saja dari berbagai negeri. Dan tugas Seren dan teman-temannya—Giovanna dan Saima adalah untuk membalas surat-surat tersebut.  Ternyata benar suana baru sedikit banyak telah membuat Seren lupa dengan masalah di rumahnya. Namun ternyata  hal itu tidak bertahan lama. Sejak kehadiran Aris  Zanetti kehidupan Seren berubah (hal 15).

Lebih mengejutkan adalah profesi Aris yang ternyata sama dengan dirinya. Padahal jika dilihat dari sikapnya, Seren tidak menyangka kalau dia adalah penulis. “Seren, tentang janjiku memperkenalkan penulis lokal, ini dia penulis yang kuceritakan. Yang kenbetulan adikku. Maafkan kelakuannya yang seperti anak umur lima tahun. Tapi dia sudah menerbitkan beberapa buku, dan agennya cukup menyukainya. Sebagai penulis dia cukup lumayan.” (hal 24).

Namun karena memiliki profesi yang sama dan Seren memang butuh penulis lokal untuk diwawancarai dan dimasukkan di website-nya, maka mereka pun perlahan dekat. Bahkan jika memungkinkan penulis Indonesia dan Itali biasa berkolaborasi menghasilkan karya yang menarik.
Sayangnya kedekatan itu ternyata mengundang bahaya yang lebih besar yang tidak pernah Seren duga. Terlalu sering menghabiskan waktu dengan Aris menikmati keindahan Verona dan berbagai kejadian tidak terduga, ternyata membuat sesuatu bergejolak di hati Seren.  Bertepatan dengan itu ... Bansar tiba-tiba muncul di Verona (hal 154).

Membaca novel ini kita akan dibuat penasaran dengan kisahnya sampai akhir. Selain mengungkap tentang kemelut rumah tangga antara Bansar dan Seren, ada pula kisah-kisah tidak terduga tentang beberapa surat yang diterima di Juliet Club. Salah satunya adalah surat yang entah mengapa sangat menyentuh Seren. Karena kisah itu membuatnya teringat dengan dirinya sendiri.

“Setiap orang memiliki perjuangan perangnya sendiri-sendiri. Dan kita semua punya pilihan cara untuk memenangi perang itu.” (hal 116-117).

Kita juga akan dibuat penasaran dengan keindahan Verona yang membius. Lalu tidak kalah menarik adalah  tentang dunia kepenulisan yang disisipkan Mbak Irene, perihal kritik saran bagi penulis dan laris tidaknya penjualan buku. Asli argumen Seren itu jleb banget. Dan saya  sangat setuju.

“Begini ... terlepas dari profesi saya sebagai penulis, saya selalu merawa bahwa tulisan, buku, novel, itu semua adalah semacam karya seni. Tidak bisa mutlak dihakimi bagus-jelek atau benar-salah. Yang ada adalah suka atau kurang suka. Jadi ini masalah selera. Tugas kita sebagai penulis adalah menulis sebaik mungkin, tapi ya tentu saja tidak pernah ada jaminan bahwa semua pembaca akan menyukai hasil karya kita. Yang terpenting adalah terus berlatih dan terus berkarya. Best seller atau tidak, secak ulang atau tidak, semua rahasia Ilahi ...,” (hal 35).

Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah dan tidak jlimet, membuat kita tidak bosan membaca. Saya juga suka dengan alur maju mundur, yang membuat kita menebak-nebak akhir kisah ini. Karena ternyata di bagian-bagian akhir Mbak Irene menyiapkan sebuah kejutan yang tidak terduga. Meski ada beberapa bagian yang aku bisa tebak. (Berasa baca apa sih kok tebak-tebakan? Hhehh).  Untuk penokohan, saya pikir sudah maksimal. Mbak Iren konsisten dengan sikap masing-masing tokoh.  Sayangnya masih ada sedikit typo yang terlewat. Sura-surat lain (hal 112).

Suka dengan gaya bercerita Mbak Iren yang gurih. Pendek tapi bisa bikin ketawa ngakak. Mbak Iren punya khas khusus dalam membangun percakapan yang bikin hidup.Salut. Secara keseluruhan novel ini menarik dan memikat. Saya jadi mengenal tentang sejarah Julia Club dan tempat-tempat menarik lainnya. Selain itu banyak hal pesan moral yang bisa kita jadikan renungan.

Bahwa kita harus kuat dan tidak mudah putus ada. Jadikan kesalahan dan masa lalu sebagai jalan memperbaiki diri.

 “Berhenti menghujat diri sendiri, kamu mesti bangkit  mengatasi masalah, dengan rasa percaya diri.” (hal 98).

Jika kita mau berusaha pasti kita bisa meraih apa yang kita inginkan. “Selalu ada cara untuk mengusahakannya. Kalau sudah tidak ada pilihan yang baik tersedia, dia harus membuatnya. Setiap pilihan punya risiko.” (hal 119).

“Al-Quran selalu punya jawaban untuk setiap perkara. Cuma manusia sering kali lupa itu. Mereka memilih mengadu kepada orang lain, yang  belum tentu bisa memecahkan masalah.” (hal 212).

“Jadi benar, ya, memang tidak ada pria yang sempurna. Bisa jomblo sampai akhir zaman kalau mau menunggu datangnya pria yang tanpa kekurangan. Semua pria yang terlihat dari luar sebagai suami idaman pun, sebetulnya menyimpan cacat. Tinggal pintar-pintarnya kita menyikapi kekurangannya atau kekhilafan pasangan, ya. Yoh, kita sendiri bukan wanita sempurna.” (hal 205-206).

Rumah tangga memang tidak bisa berjalan lurus terus. Akan selalu ada kerikil atau jurang dan jaring yang siap menjadi lawan kita. Tinggal kita mampu menghadapi atau memilih menyerah.


Srobyong, 14 November 2017 

Monday, 2 October 2017

[Resensi] Sebuah Usaha dalam Menemukan Jodoh Terbaik

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 1 Oktober 2017

Judul               : Complicated Thing Called Love
Penulis             : Irene Dyah
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Februari 2016
Tebal               : 256 halaman
ISBN               : 978-602-03-2557-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Adilkah sebuah hubungan jika salah satunya begitu mantap, sementara seorang lainnya masih terbata-bata menetapkan hati?” (hal 140).

Setiap orang sudah pasti ingin mendapatkan jodoh sesuai pilihan hati. Seseorang yang memiliki standar kriteria yang kita harapkan dan pastinya juga kita cintai.  Begitu pula dengan Nabila. Dia berpendapat pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Dan dia berharap apa yang dia putuskan nanti adalah pilihan yang tepat. Memilih sosok yang nantinya akan menjadi imam, kekasih, sahabat dan  ayah dari putra dan putrinya tentu harus selektif.

Novel ini dengan mengambil tema utama cinta yang memaparkan dengan apik tentang dilema yang sering dihadapi kaum perempuan. Apalagi kalau bukan jodoh. Membicarkan jodoh itu sama halnya dengan membicarakn cinta—tidak akan pernah habis. Selalu menarik dan asyik untuk diikuti.

Mengisahkan tentang Nabila yang tengah dilema dalam menentukan siapa calon pendamping paling baik dalam hidupnya.  Selama ini,  hidup Nabila sudah terbiasa diarahkan oleh ibunya. Apa saja yang dilakukan Nabila selalu atas  saran dan masukan ibunya. Bahkan ketika dia akhirnya memutuskan melajutkan pendidikan sekolahnya di Jepang. Begitu pula kali ini. Ibunya dengan gencar menjodohkan Nabila dengan Bagas—anak dari salah satu kenalannya.  Memang benar Bagas sangat baik dan memiliki karir cemerlang. Namun apakah itu cukup jika hati Nadia belum sepenuhnya terpatri di dalamnya?

Di sinilah masalahnya. Akhirnya Bagas benar-benar melamarnya. “Semua berjalan seperti yang kita inginkan. Jadi kupikir, sudah waktunya aku menyerahkan cincin pertunangan ini. ibumu juga menyetujuinya .... Restu dari beliau sama pentingnya dengan pendapatmu.” (hal 95).  Belum lagi Bagas juga mengajak Nabila untuk pulang bersama ke Yogyakarta untuk mempersiapkan lebih lanjut tentang pertunangan mereka.

Merasa bingung dan tidak tahu harus bagaimana, Nabila kemudian meminta saran kepada empat sahabat yang dia miliki. Ada Sora, Aalika, Dania dan Dewi. Dia pun dengan jujur menceritakan bahwa masih ada bayang-bayang masa lalu—cinta monyet Nabila yang masih bersarang kuat di hatinya. Bayu itulah laki-laki yang masih memenuhi ruang di hati Nabila.

“Menikah tidak mungkin hanya pakai cinta. Cinta kan bisa dipelajari, bisa dipupuk. Apalagi untuk pasangan nikah. Yang penting pilih calon yang oke dulu, meyakinkan sebagai suami dan bapak. Pilih dulu dengan logika. Urusan hati berikutnya saja menyusul. Belajar mencintai pelan-pelan pasti bisa dilakukan. Pepatah ‘witing tresno jalaran saka kulino itu bukan omong kosong.” Dania memberi saran (hal 108).

Namun nyatanya Nabila masih bingung. Bahkan ketika ketiga temannya masing-masing memberi saran, Nabila tetap masih ragu dalam menentukan pilihan. Antara mempertahankan ego memilih Bayu atau menerima Bagas yang tak sepenuhnya dia cintai.

Ini bukan kali pertama membaca karya Irene Dyah.  Dan selama ini saya selalu menikmati kisah-kisah yang disajikannya. Begitupula dengan novel ini.  Meski ada rasa berbeda dari novel-novelnya yang terdahulu, novel ini tetap sangat menghibur dan memuat banyak pesan moral. Di sini penulis memaparkan kisah dengan bahasa yang renyah dan mudah dipahami.

Membaca novel ini seperti melihat potret kehidupan nyata yang kerap terjadi di sekeliling kita. Bagaimana seorang wanita merasa dilema ketika harus menetukan jodoh terbaik untuk menjadi pasangan seumur hidupnya. Juga tentang sosok ibu yang selalu berusaha mengatur kehidupan sang anak. Memang benar  itu baik. Namun kadang kala sebuah paksaan itu tidak patut dilakukan. Semestinya orangtua harus memberi kesempatan anaknya dan saling berdiskusi untuk jalan yang terbaik.

Dari novel ini kita bisa belajar bahwa dalam memilih pasangan hidup kita harus memikirkan dengan baik dan selektif.  Selain cinta kita juga harus melihat tentang akhlaknya. Karena laki-laki yang baik biasanya akan membawa pasangannya pada jalan yang baik pula. Dan antara anak dan ibu harus ada komunikasi yang baik agar tidak terjadi salah paham.

Srobyong, 2 September 2017 

Monday, 17 July 2017

[Resensi] Wisata Edukatif Bersama Anak di Bangkok

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 16 Juli 2017 


Judul               : Bangkok Rasa Lokal
Penulis             : Irene Dyah, Decita Tutyasri dan Pungky Utami
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Juni 2017
Tebal               : xiv +  209 halaman
ISBN               : 978-602-03-3886-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


Pergi berwisata bersama keluarga pasti menyenangkan. Apalagi jika wisata ke luar negeri. Khususnya berwisata ke Bangkok, yang saat ini merupakan salah satu tujuan favorit warga Indonesia. Di antara alasan kenapa ibu kota Negeri Gajah Putih ini menjadi pilihan adalah, lokasinya tidak terlalu jauh—hanya 3,5 jam penerbangan dari Jakarta  dan dapat dicapai dengan banyak penerbangan langsung. Cuaca dan kulinernya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, sehingga adaptasinya pun menjadi lebih mudah. Bangkok ternyata cukup bersahabat bagi wisatawan muslim; di mana di sana mudah menemukan makanan halal dan fasilitas ibadah mudah ditemukan.

Namun tidak kalah menarik, di kota yang  mendapat gelar the longest name of a place dari Guinness World Records ini, ternyata menyuguhkan wisata edukatif yang pastinya sangat cocok bagi anak-anak.  Buku ini dengan sangat detail memaparkan tentang bagaimana menikmaati liburan yang tidak sekadar liburan.  Karena di sini penulis mengajak para traveler untuk menikmati liburan yang menyenangkan namun juga menambah pengetahuan.

Bagi orangtua, ketika berlibur dengan anak-anak sudah pasti ingin menikmati tempat yang ramah, yang tidak membawa energi negatif. Bicara tentang fasilitas ramah anak, Bangkok memiliki koleksi yang lengkap. Di sana banyak perpustakaan dan museum yang didesain ramah untuk pengunjung anak. Karena di sana juga dilengkap dengan sarana permainan anak (hal 57).

TK Park atau Thailand Knowledge Park, adalah salah satu pilihan yang pas untuk dikunjungi.  Tempat ini merupakan perpustakaan online dan ofline yang terbuka bagi umum. Lokasinya berada di lantai depan pusat pertokoan CentralWorld dan buka setiap Selasa – Minggu dari pukul 10.00 – 20.00. Pengunjung hanya dikenakan tiket masuk 20 bath ditambah deposito 50 bath untuk membaca buku sepuasnya.Dalam perpustakaan ini, selain memiliki koleksi buku yang banyak dan menarik, tempatnya juga dilengkapi dengan ruang baca yang nyaman dan unik (hal 58-59).

Children Discovery Museum, yang berada tidak jauh dari Chatuchak Weekend Market, ini juga cocok untuk dikunjungi. Di sana banyak aktivitas yang dijamin membuat anak senang. Sebut saja sains, arkeolog, dan arena bermain yang dikategorikan berdasarkan usia anak. Selain itu di bagian luar terdapat wahana taman air, rumah pohon dan media panjat-memanjat lainnya untuk menyalurkan energi anak yang memang selalu semangat.  Lebih menyenangkan memasuki museum ini, kita tidak dipungu biaya. Museum buka setiap Selasa – Minggu dari pukul 10.00 – 16.00.

Tidak kalah menarik adalah mengunjungi NSM Science Square. Science Square ini merupakan bagian dari National Science Museum. Tempat ini juga bisa kunjungi tanpa dipungut biaya. Di bukan setiap hari  dari pukul 10.30 – 19.30.  Di sana tersedia fun science exhibition, special exhibition, presschool science corner, dan science library yang berlokasi di lantai empat (hal 65). Dan di lantai lima terdapat science show, science hands-on laboratory, dan Dialogue in the Drak exhibition.

Selain tiga tempat ini, kita juga bisa mengunjungi, Bangkok Doll Museum and Thai Doll Maker—yang juga tempat pembuatan bonek di Thailand. Lalu ada Bangkok Art & Culture Centre, Museum Siam,  Bankok Butterfly Garden and Insectarium, Bangkok Planetarium and Science Center for Education dan banyak lagi.

Sebuah wisata yang menyenangkan bukan? Jadi selain menikmati keindahan dan keunikan negeri gajah putih ini, kita juga menambah pengetahuan budaya sebagai bekala pengetahuan anak.  Catatan lain, selain membahas wisata edukatif, buku ini juga menawarkan wisata halal dan pengetahuan tentang berbagai festival yang ada di Bangkok.

Srobyong, 11 Juli 2017 

Friday, 23 December 2016

[Tanya Penulis] Wawancara With Irene Dyah Penulis "Love in City of Angels"


Haloha, bertemu lagi dalam sesi Tanya Penulis. Masih tentang para penulis dari seri "Around The World With Love bacth3”

Kali ini siapa yang akan aku ke-poin?

Dan ... jreng ... inilah penulis yang aku ke-poin. Mbak Irene Dyah.  Karena sebelumnya, kan aku sudah menyapa  Mbak Arumi E, Mbak Indah Hanaco dan Mbak Silvarani. J

Nah sebelum ke sesi tanya penulis. Rasanya tidak afdol kalau belum mengenal sepak terjang dari penulis yang satu ini.

Biografi Penulis


Irene Dyah Respati, nomadik sejak SMU. Besar di Solo, tinggal berpindah ke Yogyakarta, Jakarta, Tokyo, Shizuoka, Bangkok;  koleksi daerah jajahan itu terus bertambah seiring kesukaannya berkelana bersama keluarga. Punya (terlalu) banyak hobi, tapi hanya sedikit yang konsisten : membaca, menulis, menari dan kucing—bila itu dapat disebut hobi.
Setelah melepas masa karier sebagai humas perusahaan otomotif terbesar di Indonesia,  hingga kini Irene (dibaca Airin) adalah ibu rumah tanggal purnawaktu dengan 1001 jenis pekerjaan, termasuk sebagai penjinak dua bocah menggemaskan, dan menjadi kawan bermain seekor kucing labil yang takut kesepian. Di dunia literas, selain menulis buku dan artikel untuk majalah, Irene juga aktif menjadi writing coach dewasa dan kanak-kanak.

Novel Irene yang sudah beredar adalah Tiga  Cara Mencintai, Dua Cinta Negeri Sakura, Wheels and Heels, Love in Marrakech, Complicated Thing Called Love, Love in Blue City, dan Wander Woman. Selain itu, kumpulan kisah inspiratif Meniti Cahaya (2015) dan photo essay Jejak Sujud Pengelana (2016). Dia berharap suatu saat bukunya akan difilmkan, agar  suaminya (yang tidak suka membaca tapi maniak film) bisa menikmati kisah-kisah yang dia tulis.

Jika ingin berkenalan dengan penulis bisa disapa di sini :

Twitter : @aikairin
IG        : @aikairin

Mau intip karya-karyanya bisa cek di goodreads

Dan inilah hasil wawancara dengan penulis keren ini J langsung disimak, yuk!

Ratna : Pertanyaan umum nih, Mbak Irene. Bagaimana proses kreatif penulis novel Love in City of Angels. Sejak ditulis, riset sampai terbit memakan waktu beralam lama. Dan adakah kesulitan tertentu ketika menggarap novel ini?

Irene :  Penulisan novel ini alhamdulillah relatif lancar. Pertama karena karakter utama sudah 'tercipta' yaitu Ajeng -- yang character traits-nya sudah matang melalui 2 novel saya dulu. Kedua, karena saya pernah menetap hampir 4 tahun di Bangkok. Jadi tidak perlu lagi riset tentang latar tempat, insya Allah masih ingat ... terutama karena saya memang hanya menggunakan tempat/waktu/event/makanan dll yang pernah saya alami sendiri..

Waktu penulisannya sekitar 1,5 - 2 bulan.

Tantangannya adalah justru karena saya punya banyak sekali memori tentang Bangkok, jadi terlalu banyak hal yg ingin saya sampaikan pada penbaca. Akibatnya, saya mesti lihai dan 'tega' memilah bagian mana saja yg akan digunakan untuk mendukung alur ceritanya.

 Ratna : Alhamdulillah Mbak. Keren aih. Termasuk cepat sekali dalam menyelesaikan novel. Lalu adakah alasan khusus kenapa memilih City of Angels atau Bangkok sebagai setting cerita?

Irene : Alasan khusus adalah karena Bangkok adalah kota yg berkesan bagi saya. Keunikan Bangkok saya angkat juga dalam novel ini; yaitu bahwa Bangkok ini City of Angels sekaligus kota yang 'penuh dosa'. Semua kembali pada kita, ingin menjadi putih atau hitam di Bangkok.

Ada puluhan (ratusan?) tempat ibadah di sana, dan masyarakat secara rutin beribadah, melakukan ritual sesuai kepercayaan mereka. Di sisi lain, free sex secara terbuka, tempat maksiat bisa ditemukan di mana saja (bahkan di dekat sekolah 😁 ), kehidupan malamnya juga sangat bebas..
Dan kedua hal yg bertolak belakang itu bisa berjalan seiring.

Di luar itu, Bangkok memang cantik. Suasana tradisional masih terasa kuat meski kotanya lebih modern dari Jakarta dan dihuni berbagai macam warga negara.

Ratna : Kota yang berkesan ternyata. Pertanyaan selanjutnya, kalau boleh tahu apa alasan Mbak Irene menulis? Bagaimana cara membagi waktu antara menulis dan keperluan keluarga? 

Irene : Saya menulis karena suka berbagi, dan suka bila ada orang yang mau 'mendengarkan' percakapan2 yang ada dalam benak saya. Dan dengan membukukannya, saya jadi punya 'legacy' atas hasil karya saya :)

Saya biasa menulis saat anak-anak  di sekolah. Jam 8-12. Atau saat mereka sudah tidur, yaitu mulai dari jam 9 malam. Nah, kalau anak2 libur sekolah begini, saya jadi nggak nulis deh hehehe

Ratna : Wah alasan menulis dan bagaimana membagi waktunya patut diacungi jempol. J. Sekalian buat promosi, Kenapa kita harus membaca Love in City of Angels. ? Apa keunikannya?

Irene : Keunikan kan buku ini :

-Renyah dan ringan, tapi tetap ada konflik emosional yang jelas. Renyah, ringan, lucu, percakapan dan gaya bertutur yg mengalir alhamdulillah adalah kekuatan utama tulisan saya. Hampir seluruh review biasanya menyebutkan hal ini. Dan saya rasa, tidak semua penulis punya ciri khas seperti ini.

-Karakternya riil. Misal Ajeng. Saya YAKIN banget, ada beneran wanita seperti Ajeng ini. Yang jujur, agak bitchy, punya ketakutan dan harapan; sosok tidak sempurna dan dekat di hati pembaca.

-Buku ini kuat dari segi latar, karena penulis pernah menetap di sana dan berinteraksi langsung dgn masyarakatnya. Jadi ada detil-detil menarik di sana berdasarkan pengetahuan saya akan kearifan lokal setempat, nggak cuma sekedar nyebutin tempat wisata atau hal-hal  yang umum. Misal : kebiasaan orang Thai bikin nick name unik (nama buah, nama benda, bahkan nama cabang olah raga!) sebagai pengganti nama asli mereka yg panjang dan relatif sulit diucapkan lidah asing.
Ratna :  Sip, semga bukunya nanti laris manis Mbak. Setuju banget ada ciri khusus dalam tulisan Mbak Irene. Lalu apa sih yang ingin disampaikan dari novel ini kepada pembaca?

Irene : Yang ingin disampaikan : Saya tidak ingin mengunci tujuan penulisan novel ini dalam poin-poin  tertentu. Tiap pembaca pasti bisa menarik inspirasi atau pesan atau justru pertanyaan yg berbeda-beda dari novel ini.. 😊 Karena saya menulis bukan untuk menggurui :)

Tapi payung utama novel ini adalah : 1. manusia tidak akan pernah bisa jadi hakim yg sempurna atas manusia lain, maupun diri sendiri. 2. mau jadi baik atau buruk, sepenuhnya pilihan ada di tangan kita. Kita tidak bisa menjadikan lingkunan/masa lalu/ keluarga/ dll sebagai alibi atas pilihan yg kita ambil

Ratna : Duh, pesannya mengena banget.  Terakhir, dari kacamata Mbak Irene, apa yang perlu dimiliki ketika ingin menjadi penulis? Dan bagaimana tips biar jadi penulis yang konsisten dan selalu produktif?
Irene : Yang perlu dimiliki utk jadi seorang penulis?

-Mesti tekun. Menulis itu adalah skill, ketrampilan. Makin sering diasah, insha Allah akan makin bagus hasilnya. (Kecuali kamu seorang penulis jenius sih hehehe)

-Mesti konsisten Khususnya menulis novel, menulis itu pekerjaan yg membutuhkan komitmen jangka panjang. Dari bab pembuka sampai ending, semua mesti dikerjakan huruf demi huruf hingga selesai. Nggak bisa instan.

Tips menjadi penulis yg konsisten dan produktif .. Hmmm.. saya belum pada posisi utk kasih tips nih.. Beneran deh. Gimana dong 🙊 🙈

Ratna : Terima kasih jawabannya. ^_^ Aduh ayolah Mbak, bagi tips dikit, lho maksa hehh 😂 Kalau diganti bagaimana mengatasi kemalasan versi Mbak Irene?

Irene : Okeh mengatasi rasa malas nulis aja yaa.
-Bikin writing habit. Jadi kita jadwalkan pada jam tertentu tiap hari mesti duduk di depan laptop dan nulis. Kayak orang kantoran aja.. Nggak mesti panjang waktunya, tapi rutin. Walaupun lagi mentok nggak ada ide, tetap harus duduk dan nulis. Utk membiasakan tubuh dan otak.

-Biasanya pas mau nulis novel saya bikin imagination board yang seru dan ditempel di depan laptop. Isinya foto dan keterangan tentang karakter, gambar mapping cerita, foto tempat yang jadi latar adegan-adegan  tertentu. Bentuk visual semacam ini bisa jadi suntikan mood nulis kalau pas lagi kandas-kandasnya.


 Punya outline cerita dan tabungan ide. Jadi kalau pas mentok bgt ga tau mau nulis apa, bisa intip-intip  di situ utk memancing gairah nulis lagi ((gairah! 😝))

Oke Mbak,  terima kasih atas jawaban-jawaban yang sangat inspiratif dan memotivasi. Semoga sukses selalu untuk Mbak Irene dan semua karyanya laris manis dan diterima pembaca dengan baik. J


Yang penasaran dengan novel terbarunya Mbak Irene, bisa intip resensinya dulu di sini . Kalau penasaran bisa langsung dijemput di toko buku atau pesan langsung sama penulisnya. J

Thursday, 22 December 2016

[Review] Ketika Cinta dan Masa Lalu Saling Tumpang Tindih


Judul               : Love in City of Angels
Penulis             : Irene Dyah
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, November 2016
Halaman          : 212 hlm
ISBN               : 978-602-03-3491-2

Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk berubah. Jangan jadikan alasan masa lalu membuat kita semakin terjebak pada kubangan gelap itu. Masa lalu bukan untuk ditangisi, tapi dijadikan pembelajaran untuk memperbaiki diri. 

Cinta dan trauma, masih menjadi tema yang asyik dinikmati. Yang terpenting adalah bagaimana penulis mengola kisah dengan unik sehingga berbeda dengan kebanyakan novel dengan tema serupa. Sebagaimana novel Love in City of Angels, memadukan kisah cinta yang tidak terduga, juga masa lalu serta trauma yang pada akhirnya membimbing sang tokoh pada jalan yang salah.

Masa lalu membuat Ajeng memiliki  persepsi yang salah tentang cinta. Bahwa cinta itu hanya omong kosong—cinta adalah mitos. Hal ini yang kemudian membuat Ajeng lebih memilih menjalin hubungan tanpa status dengan berbagai pria yang membuatnya nyaman. Lagi pula dia memang tidak memiliki keinginan untuk menikah. Ajeng punya pandangan tersendiri perihah pernikahan.

Seremonial akan mengubah manusia menjadi sepasangan individu  asing, berevolusi menjadi satu tim (yang seharusnya) solid bernama keluarga. Tapi harusnya orang yang berilmu tahu, evolusi tidak selamanya berjalan mulus. Ada cacat genetika, kegagalan, berkurangnya fungsi, dan hal-hal mengerikan lainnya. Jadi tidak heran, dalam pernikahan pun muncul perceraian, perselingkuhan, ribut-ribut urusan anak dana harta, berantem sama mertua, kehilangan privasi, juga para bapak yang kabur meninggalkan keluarga, tapi tiba-tiba memohon maaf (hal 4).

Lepas dari pernikahan, Ajeng menikmati kehidupan bebasnya di Krung Thep, nama lain dari Bangkok. Sampai kemudian, dia menyadari ada yang salah pada dirinya—dia terlambat datang bulan—dalam keadaan ini Ajeng sedikit merasa menyesal karena meneguk minuman beralkohol.  Belum lagi dia lupa siapa laki-laki itu.  

Hingga pada sebuah acara di kantor—perkenalan Presdir baru, Ajeng bertemu dengan  Earth—pria tampan yang ternyata mengingat bagaimana dirinya mabuk malam itu dan mengatakan sesuatu yang membuat Ajeng melilit.  Ajeng pun bergegas ingin membeli test pack.  Lucunya Ajeng entah kenapa terjebak pergi dengan pria yang tidak dia kenal Yazan yang mengaku tahu rumahnya (hal 31).

Tapi dari pertemuan itu, Ajeng malah menjadi dekat dengan Yazan. Meski Ajeng menyadari Yazan bukanlah seperti pria yang dia kencani selama ini. Yazan terlalu serius dan jarang sekali menunjukkan ekspresi.  Mereka sempat menghabiskan waktu bersama dalam rangka mengunjungi Masjid Jawa (hal 55).

Tidak hanya itu Yazan juga pernah melakukan sesuatu yang romantis dan membuat Ajeng seperi hilang kendali.  Sesuatu yang entah kenapa jarang Ajeng dapatkan dari orang lain. Hanya saja  setiap kali mengingat masa lalu yang dilakukan ayahnya, Ajeng langsung membuat jarak. Dia tidak boleh tunduk pada pria.

“Aku tidak bisa melarangmu kamu tergila-gila padaku. Terserah. Tapi, aku juga tidak bisa menjanjikan apa pun kepadamu. Jadi, mari kitaa berteman saja seperti sekarang, dan kita lihat perkembangannya nanti. Tidak ada ikatan. Dan, kamu juga tidak punya hak melarang-larang atau mengguruiku. Dalam hal apa pun.” (hal 112).

Lalu bagaimana tanggapan Yazan perihal penolakan Ajeng? Apakah Ajeng benar-benar hamil? Selain dua pertanyaan ini sejatinya masih banyak lagi kepingan-kepingan misteri yang membuat kisah ini semakin menarik. Seperti rahasia yang disimpan rapat oleh sang ibu hingga membuat Ajeng Syok.

Ini kali kedua membaca karya Mbak Irene dalam seri Around The World With Love.  Sebelumnya saya membaca Love in Blue City.   Saya suka pemilihan judulnya yang unik karena tidak menjabakan nama kotanya langsung. Selain  Love in Blue City dan  Love in City of Angels, ada juga  Love in Marrakech.  Ketiganya adalah seri Around The World With Love karya Mbak Irene yang bisa diburu.

Novel ini dipaparkan dengan gaya bahasa renyah, lugas, asyik dan gurih. Penulis memiliki ciri khas dalam bercerita. Selain itu kepingan-kepingan misteri yang diselipkan penulis juga sukses membuat saya penasaran. Penulis pandai menggiring pembaca untuk tidak berhenti membaca sampai pada tahap akhir.   

Penokohan juga terasa hidup, membuat kisah terasa semakin seru. Yazan yang selalu cuek tapi keras kepala dan Ajeng yang jinak-jikan merpati. Masalah setting, mengingat penulisnya memang penah bermukim di sana, membuat penjabarannya terasa hidup. Menyatu dengan cerita.

Kelebihan lainnya adalah pengetahuan yang ditawarkan penulis perihal kehidupan di Bangkok. 

“Masjid Jawa itu masjid tertua di Bangkok. didirikan oleh perantau Jawa, Haji Muhammad Saleh di tanah wakaf. Dalam penyebaran Islam di Bangkok  ulama-ulama Indonesia memilih peran yang cukup besar. Irfan Dahlan—putra KH. Ahmad Dahlan merantau ke India dan Pakistan, lalu menetap di Thailand dan menikah dengan Zahrah, seorang putri imam Masjid Jawa, yang ternyata cucu dari H Mahmud Saleh.” (hal 64).

Atau perihal nama lain Bangkong yang ternyata begitu sulit untuk diucapkan Krung Thep Mahanakhon Amon Rattanakosin .... (lanjutannya bisa diintip dihalaman 2). Panjang banget J   atau makna Krung Thep—nama pendek Bangkok yang memiliki arti City of Angels (hal 202).  Dan masih banyak lagi.

Hanya saja saya merasa tokoh selain Ajeng dan Yazan itu, hanya numpang lewat. Entah kenapa saya merasa porsi mereka kurang. Misalnya  pria Jepang—Jun Miyamoto, kalau saja dia memiliki porsi yang lebih pasti cerita akan lebih seru.  Atau Earth, pria yang membuat Ajeng jungkir balik. Karena di sini Ajeng diceritakan memiliki banyak teman pria. Jadi keberdaan mereka bisa membuat kisah lebih menarik dan membuat jantung berdebar-debar.

Tapi lepas dari kekurangnnya. Novel ini sarat makna. Selain mendapat  pelajaran sejarah, ada juga pembelajaran tentang arti keluarga. Bahwa orangtua memiliki peran penting yang mempengaruhi sikap anak. Pendidikan yang salah akan membawa dampak buruk pada psikologi anak. Sebagaimana yang dialami Ajeng, tumbuh dari keluarga broken home, membuatnya  membenci dan tidak mempercayai cinta.

Tidak ketinggalan, di sini kita juga belajar, bahwa setiap manusia itu memiliki kesempatan untuk berubah. Memilih menjadi orang yang baik atau buruk adalah pilihan kita sendiri. Dan jangan menjadikan masa lalu sebagai kedok kita untuk melakukan kesalahan lain yang tidak diridai. Seharunsya kita belajar dari masa lalu untuk memperbaiki diri.

Manusia bisa khilaf. Dan setiap manusia punya kesempatan untuk menyadari kekeliruannya, bertobat, berusaha menjadi sosok yang lebih baik. Jangan biarkan dirimu terpenjara masa lalu (hal 148).


Srobyong, 22 Desember 2016 

Dan untuk wawancara dengan penulisnya bisa dibaca di sini