Showing posts with label Dar Mizan. Show all posts
Showing posts with label Dar Mizan. Show all posts

Sunday, 25 November 2018

[Resensi] Menumbuhkan Sikap Berani pada Anak

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 21 Oktober 2018


Judul               : Penyihir Cilik
Penulis             :  Rizka Syarifa H, dkk
Penerbit           : Dar Mizan
Cetakan           : Pertama,  Agustus 2018
Tebal               : 88 halaman
ISBN               : 978-602-420-670-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mendidik anak sejak dini merupakan tugas orangtua. Mengingat orangtua merupakan madrasah pertama bagi anak. Dengan pendidikan yang baik anak,  akan tumbuh menjadi sosok yang berbudi luhur, memiliki akhlak yang baik  dan taat agama. Dalam upaya mendidik anak salah, selain dengan memberikan nasihat-nasihat serta contoh-contoh teladan dalam kehidupan sehari, salah satu metode yang bisa kita kenalkan pada anak adalah  metode membaca. Di mana secara tidak langsung, melalui metode ini kita juga telah mengenalkan minat baca terhadap anak. 

Namun perlu kita catat, dalam mengenalkan buku bacaan, orangtua juga harus selektif memilih bacaan yang sehat dan sesuai dengan usia anak. Di antaranya adalah buku  antolongi  terbaru karya Rizkia Syarifa, Ukasyah Ammar Robbnani, Naura Reva Aulia, Effie Alisa dan Mutiara Sya’bani. Buku ini sendiri, merupakan kumpulan kisah menarik yang ditulis oleh anak-anak bangsa yang masih duduk di bangku Sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Sehingga  saya pikir gaya bahasanya akan mudah dipahami oleh anak.  Dalam buku ini para penulis yang masih berusia belia itu, mencoba mengajak  kita untuk menumbuhkan sikap berani. Selain hal itu, ada pula nilai-nilai moral yang juga dikenalkan seperti ajakan bersikap jujur, rajin belajar, tidak bersikap malas, dermawan, saling membantu  dan banyak lagi.

Di antaranya ada kisah berjudul “Penyihir Cilik.” Kisah ini menceritakan tentang kakak beradik yang tersesat di sebuah gua. Mereka takut dan cemas.  Mereka saling bahu membahu untuk mencari jalan pulang. Akan tetapi saat mereka melewati  sebuah jalan, tiba-tiba mereka mendengar langkah kaki lain yang mendekati mereka. Otomatis kedua kakak beradi itu langsung bersembunyi. Takutnya suara langkah itu milik hewan buas (hal 43).

Tetapi ternyata mereka salah. Langkah yang mereka dengar merupakan langkah kaki orang-orang berbaju hitam yang terlihat mencurigakan.  Mereka  sedang berdiskusi tentang bagaimana menemukan harta karun.  Tidak mau terlibat, dua bersaudara itu memilih pergi.  Namun, tanpa sengaja dua bersaudara ini malah menemukan harta karun yang yang sedang diinjar orang berbau hitam.  Dan yang mengejutkan orang-orang itu sejak awal ternyata sengaja mengikuti mereka.  Bagiaman nasih dua bersaudara tadi? Temukan jawabannya dalam buku ini.

Ada juga kisah berjudul “Misteri Gubuk Tua”  karena sebuah urusan ayah dan ibunya harus pergi ke luar kota.  Rara dan Riri pun diamanahi untuk menjaga rumah.  Dengan riang mereka mengaku berani untuk di rumah tanpa ayah dan ibu.  Awalnya  semua berjalan lancar. Hingga kemudian, tiba-tiba  Rani mendengar bunyi aneh  arah belakang rumah. Rani pun mengajak Riri untuk mengecek asal suara aneh tersebut (hal 59).

Melalui dua kisah di atas, kita diajak untuk menjadi anak yang berani dalam menghadapi berbagai situasi.  Kita tidak perlu takut jika tidak melakukan kesalahan. Selain dua kisah tersebut ada pula cerita lain yang seru dan pas untuk dibaca anak sebagai renungan. Adalah kisah berjudul “Alfa Suka Alpa” yang mana dalam kisah ini anak diajak menjadi seseorang yang selalu rajin pergi sekolah dan tidak suka membolos.  Karena membolos pada akhirnya hanya akan merugikan sendiri.

Ada juga kisah berjudil Holiday in Malaysia dan Rahasia Tazri. Masing-masing cerita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun semuanya memuat banyak pembelajaran yang pas diketahui anak.  dengan konsep  berupa buku bergambar, dan disusun dengan bahasa yang mudah dipahami, membuat buku ini tidak membosankan saat membaca. Karena anak biasanya menyukai cerita dengan bantuan ilustrasi sebagai gambaran kisah yang terjadi.

Srobyong, 5 Oktober 2018

Tuesday, 20 November 2018

[Resensi] Mengenalkan Rukun Iman kepada Anak

Dimuat di Kabar Madura, Selasa 9 Oktober 2018 


Penulis             : Ayo, Mengenal Rukun Iman!
Penulis             : Nelfi Syafrina
Penerbit           : Dar Mizan
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 108 halaman
ISBN               : 978-602-420-062-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Anak adalah aset bangsa. Oleh karena itu, sudah semestinya kita sebagai orangtua atau para pendidik, memberikan pemahaman yang kuat tentang pendidikan agama. Mengingat dengan pondasi kuat dalam beragama, akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Salah satu pendidikan agama yang patut ditanamkan kepada anak sejak dini adalah rukun iman.

Sebagaimana kita tahu rukun iman berjumlah enam perkara. Yaitu iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, Iman kepada Nabi dan Rasul, iman kepada Kitab Allah, Iman kepada hari akhir dan iman kepada qada dan qadar.  Maka di sinilah tantangan kita sebagai orangtua atau pendidik. Dalam mengenalkan pondasi agama—khususnya perilah rukun iman, kita harus memikirkan cara unik dan tidak biasa, agar anak tidak bosan, apalagi merasa diceramahi. Kita harus membuat anak merasa nyaman ketika mengenal rukun iman.

Buku  “Ayo, Mengenal Rukun Iman!” karya Nelfi Syafrina bisa menjadi salah satu rujukan orangtua atau guru untuk mengenalkan rukun iman kepada anak dengan cara asyik dan menyenangkan. Di mana penulis memaparkan tentang rukun iman dengan cara yang tidak biasanya. Selain memberi penjabaran tentang rukun iman dengan perpaduan ilustrasi yang menarik dan memikat,  penulis juga menghadirkan kisah-kisah sehari-hari yang berhubungan langsung dengan rukun iman. Hal ini pastinya akan semakin menambah kemudahan anak dalam memahami rukun iman.

Misalnya saja saat mengenalkan iman kepada Allah. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak, penulis menerangkan tentang pengertian iman kepada Allah, yaitu membenarkan dengan hati bahwa itu ada, juga mengimani sifat keagungan dan kesempurnaan Allah. Kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan perbuatan secara nyata (hal 8).
  
Hal itu kemudian disambung dengan cerita yang berhubungan dengan keimanan kepada Allah. sebut saja kisah berjudul “Bapak Seribu Kunci” yang mengisahkan tentang kekhawatiran Kiara terhadap Pak Deri, petugas pengambil celengan infak dari yayasan zakat. Dia takut Pak Deri tidak jujur dan mengambil uang itu untuk kepentingannya sendiri (hal 37). Dalam kisah ini kita dapat mengambil pelajaran, bahwa kita harus percaya kalau Allah itu Maha Segalanya, Maha Melihat dan Mengetahui. 

Atau kisah berjudul “Allah Sang Pencipta” di sini kita bisa belajar bahwa beriman kepada Allah, berarti kita harus mengimani segala ciptaannya baik yang terlihat atau tidak. Sebuah buku yang patut dibaca dan dikenalkan kepada anak. Banyak nilai-nilai moral juga dalam kisah yang dipaparkan. Misalnya tentang kejujuran dan menyayangi kedua orangtua. Selain itu buku ini dilengkapi aktivitas seru yang sangat bermanfaat bagi anak.

Srobyong, 10 Agustus 2017 

Tuesday, 13 November 2018

[Resensi] Hidup Jangan Memelihara Dendam

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 7 Oktober 2018 


Judul               : Memories In The Eyes
Penulis             : Naiva Urfi
Penerbit           : Dar Mizan
Terbit               : Juli 2017
Tebal               : 176 halaman
ISBN               : 978-602-420-300-9
Penerbit           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Nahdlatul Ulama, Jepara

Dendam merupakan sikap yang harus kita hindari. Karena dendam hanya akan membuat hati kita tidak pernah tenang. Kita akan diliputi kemarahan yang tidak berkesudahan dan kita akan selalu menyimpan kebencian.  Daripada memelihara dendam, kita dianjurkan untuk memaafkan. Karena dengan memaafkan, hati kita jadi lapang dan hidup pun menjadi lebih tenang.

Mengambil tema sederhana tentang kehidupan di dunia remaja dan masalah keluarga, novel ini cukup menarik untuk dibaca. Apalagi dalam kisah ini ada  tambahan unsur misteri dan magic yang unik dan tidak biasa. Di mana hal itu berhubungan dengan kemampuan bisa membaca pikiran orang lain.

Shaina adalah  tokoh sentral dalam kisah ini. Sampai detik ini Shaina masih merasa sedih dan kadang  marah dengan takdir yang telah terjadi dalam hidupnya. Kepergian ibunya ternyata telah meninggalkan kesedihan yang sangat dalam. Apalagi setiap dia ingat dengan kecelakan yang merenggut ibunya. Dan kenyataan bahwa sosok yang menyebabkan kecelakan itu tidak mendapat hukuman yang setimpal (hal 21). Belum lagi mimpi buruk yang akhir-akhir ini selalu menghantuinya. Membuat Shaina bingung bahkan kerap hilang ingatan.  Shaina kerap lupa hari hingga sering salah dalam membuat jadwal bahkan jadi langganan dihukum para guru.

Lebih aneh lagi adalah kemampuan Shaina yang bisa membaca  pikiran orang lain, tiba-tiba tidak berfungsi ketika berhadapan dengan Fahrez. Shaina tidak paham kenapa dia tidak bisa membaca pikiran teman barunya di sekolah itu. Keadaan itu sungguh membuat Shaina kalut. Dia bingung dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya.  

Kemudian Shaina menyadari bahwa bisa jadi hal-hal yang kerap terjadi pada dirinya adalah karena ulah seseorang yang tidak menyukainya. Ada orang yang sedang mengendalikan pikirannya. Hanya saja Shaina bingung, siapa orang yang tega melakukan hal itu padanya?  Mungkinkah itu ulah Fahrez? Tapi apa salah Shaina pada teman barunya itu? Berbagai pertanyaan pun mulai menghantui Shaina. Membuat dia berpikir ulang dan mencoba mengingat kembali kilasan memorinya yang mungkin telah dia lupakan.

Ide dari novel semi fantasi ini sebenarnya cukup menarik. Hanya saja penulis mengadirkan terlalu banyak tokoh, sehingga membuat kisahnya kurang fokus. Selain itu eksekusi cerita juga kurang menarik, sehingga membuat kisah ini terasa datar dan biasa.  

Namun lepas dari kekurangan yang ada, novel ini cukup bersih dari kesalahan tulis. Dan kisah ini memiliki banyak pembelajaran yang bisa kita renungkan. Kisah ini mengingatkan kita untuk tidak hidup dalam kubangan dendam. Kita harus saling memaafkan dan ikhlas dengan apa yang sudah terjadi. Karena di balik sebuah cobaan pasti ada hikmah yang bisa kita dapatkan.   Masih dari novel ini kita juga bisa belajar untuk menerima setiap takdir yang ditentukan Tuhan. Karena bisa jadi apa yang ditetapkan Tuhan itu adalah yang terbaik.

“Aku memaafkan masa laluku. Aku menerimanya. Semua adalah takdir. Sekeras apa pun kita berusaha mencegah, kuasa Allah jauh lebih besar. Tak ada yang bisa menghalangi. Penyesalan, cuma ujian untuk mengukur keimanan kita. Seberapa kuat kita bisa bangkit kembali. Seberapa ingat kita kepada-Nya.” (hal 142-143).

Kita juga diingatkan untuk menjadi pribadi yang  selalu berpikir positif dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai masalah.  Semangat dan hadapi semua dengan pikiran terbuka. “Berpikir positif saja. Kalau takdirmu begitu, enggak ada yang bisa menghalangi. Sekarang pikirkan yang sekarang. Jangan patah semangat hanya karena ketidakpastian itu.” (hal 116). Karena dengan begitu kita bisa lepas dari masalah. Tidak ketinggalan, novel ini membahas tentang suka duka sebuah persahabatan yang apik dan menarik.

Srobyong, 25 Agustus 2018

Monday, 1 January 2018

[Resensi] Mengenalkan Manfaat Sayuran pada Anak Lewat Cerita

Dimuat di Kabar Madura, Senin 18 Desember 2017


Judul               : Kesatria Bayam dan Monster Lemak
Penulis             : Gamal Komandoko
Penerbit           : Dar Mizan
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               :136 halaman
ISBN               : 978-602-420-192-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

Setiap orangtua sudah pasti ingin memiliki anak yang sehat dan kuat. Dan salah satu caranya adalah dengan mengajak anak untuk mengkonsumi banyak sayuran. Mengingat sayuran memiliki banyak manfaat pada tubuh. Seperti menjaga kesehatan tulang,  menjaga kesehatan mata, meningkatkan cadangan zat besi dan sel darah merah. Sayuran juga membantu pencernaan, sumber vitamin,  mineral dan gizi tubuh. Maka penting bagi orangtua untuk mengenalkan manfaat sayuran kepada anak, agar anak tidak membenci dan menghindari sayuran-sayuran tertentu.

Buku Kesatria Bayam dan Monster Lemak karya Gamal Kamandoko ini bisa dijadikan salah satu alternatif pengenalan manfaat sayuran kepada anak dengan cara yang bersahabat. Yaitu kita mengenalkan manfaat sayuran lewat metode cerita.  Dengan metode ini, anak tidak akan mudah bosan apalagi merasa digurui. Apalagi dalam buku ini juga dilengkapi ilustrasi yang semakin membuat anak betah saat membaca. Anak kita ajak membaca bersama dan dibimbing untuk mengambil kesimpulan sendiri dari kisah-kisah yang ada dalam buku. 

Misalnya saja cerita berjudul “Monster Lemak” yang mengisahkan tentang serangan yang dilakukan monster lemak di sebuah desa. Monster lemak dan anak buanya menangkap sayur-mayur dan mengurungnya di gua di tengah hutan.   Dia ingin menguasai anak-anak desa agar tidak sehat dan lemah. Rencana itu pun berhasil. Sejak  sayur-mayur dikurung, monster lemak menyebarkan makanan berlemak kepada anak-anak. Makanan itu sangat disukai anak-anak, sehingga mereka tidak mau makan yang lain selain makanan berlemak.

Akibatnya anak-anak di desa pun menjadi gemuk. Tubuh mereka lemah karena malas bergerak. Sampai kemudian datang pengembara sakti yang sangat prihatin dengan keadaan anak-anak. Dia mencoba mengembalikan sayur-mayur dan mengajak anak-anak untuk mengkonsusmi sayur-mayur itu (hal 16). Dari kisah ini kita bisa menunjukkan kepada anak, bahwa sayur-mayur sangat penting untuk dikonsumsi. Dengan memakan sayur-mayur akan membuat tubuh sehat dan kuat.

Ada juga kisah berjudul “Si Dokter Hijau”. Mengisahkan tentang Broki si Brokoli yang tidak terlalu disukai keluarga besarnya—ada Kalaru si Kubis Kepala Runcing, Sai-sai si Petsai, Satih si Sawi Putih dan Sajau si Sawi Hijau.  Padahal Paman Kubis sudah mengajurkan mereka untuk menerima Broki. “Ingat, jangan bertengkar. Kalian itu satu keluarga, harus saling membantu dan tidak bermusuhan.” (hal 22).

Namun Kalaru dan teman-temannya ingkar janji.  Mereka menjauhi Broki dan tidak mau bermain dengannya. Mereka  menganggap Broki adalah sayuran yang tidak memiliki manfaat bagi manusia. Mereka berkata, “Kami ini keluarga Paman Kubis yang sangat bermanfaat bagi manusia. Dan kamu kurasa   tidak berguna bagi manusia. tubuhmu sangat berbeda dibanding kami.” (hal 23).

Mendengar hal itu, Broki menjadi sangat sedih. Dia pun akhirnya memilih menyendiri. Sampai pada suatu hari seorang ibu datang ke kebun Paman Kubis dan melihat-lihat anggota keluarga Paman Kubis. Ibu itu memilih saayur mana yang akan dia beli untuk diolah di rumahnya.  Kisah ini mengenalkan kepada kita tentang manfaat brokoli yang sangat luar biasa.  Kandungan gizi brokoli ternyata sangat melimpah. Brokoli ternyata mengandung serat, aktioksidan, vitamin A, B, C dan Ka, serta mengandung banyak mineral.

Tidak kalah menarik adalah “Si Wajah Sayur”. Menceritakan tentang Tasya yang tidak terlalu suka sayur. Tapi suatu hari ibunya menyiapkan sebuah masakan yang istimewa buat Tasya.  Sayuran itu ternyata dibuat ibunya menjadi wajah orang.  Hal itu tentu saja membuat Taysa tertarik. Akhirnya meski sempat ragu, Tasya kemudian mencoba mencicipi masakan ibunya.  Di sampingnya Bu Rita, ibu Tasya menjelaskan pelan-pelaan manfaaat sayuran yang diambil Tasya.

Kisah ini banyak memberi penjelasan tentang manfaat sayuran. Di antaranya adalah manfaat kentang yang sangat baik untuk kesehatan otak, jantung dan tulang.  Bayam berguna  untuk kesehatan mata dan melancarkan pencernaan, kankung mengurangi kolesterol, menjaga kekebalan tubuh dan banyak lagi (hal 36).

Buku yang terdiri dari 32 cerita menarik tentang manfaat sayur-mayur ini sangat patut dibaca untuk orangtua dan anak. Selain memaparkaan masalah sayuran, di sini juga dilengkapi pesan moral yang bisa dijadikan keteladanan untuk pengembangan karakter anak. Seperti ajakan untuk selalu rukun pada keluarga, jangan suka iri, tidak boleh bertengkar dan saling memaafkan.

Srobyong, 19 Agustus 2017 

Wednesday, 27 September 2017

[Resensi] Romantika Kehidupan di Pesantren

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 24 September 2017 


Judul               : Habibie Ya Nour El Ain
Penulis             :  Maya Lestari GF
Penerbit           : Dar Mizan
Cetakan           : Pertama, Desember 2016
Tebal               : 240 hlm
ISBN               : 978-602-420-298-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

“Hidup adalah refleksi diri kita. Apa yang kamu keluarkan untuk dunia, itulah yang akan dipantulkan balik kepadamu. Kamulah yang memilih, akankah memberi kebaikan atau keburukan.” (hal 16).

Membaca novel ini kita akan diajak mengenal lebih dalam dengan romantika kehidupan dunia pesantren. Bagaimana cara pergaulan yang baik antara laki-laki dan perempuan. Bagaimana menyikapi perasaan suka jika tengah jatuh cinta. Balasan apa yang kita dapat dari perbuatan kita. Metode pendidikan yang digunakan. Tentang peraturan pondok pesantren. Dan masih banyak lagi.

Maya Lestari—penulis produktif yang berasal dari Padang—Sumatra Barat ini sangat lihai dalam mengolah konflik, membuat pembaca seolah ikut masuk dalam cerita. Sebagaimana yang dipaparkan M Irfan Hidayatullah—penulis dan Dosen Fakultas Sastra  Universitas Padjajaran, “Tidak mudah menulis novel yang seimbang antara bentuk dan bobotnya. Bentuk ringan dan populer, tetapi bobot filosofis dan pesannya dalam. Novel semacam ini hanya bisa ditulis oleh seorang penulis dengan jam terbang tinggi seperti Maya Lesatri GF.”

Novel ini sendiri berkisah tentang Barra Sadewa yang mengaku tidak percaya dengan Tuhan dan mendapat label anak nakal di sekolah, yang kemudian membuat dirinya terjebak pada romantika kehidupan di pesantren. Dia dipaksa kepala sekolahnya untuk mondok selama dua minggu di Pesantren Nurul Ilmi, untuk merenungkan segak perbuatan yang selama ini telah dilakukan. Di mana dalam bayangan Barra, pesantren adalah penjara (hal 44).  Karena di pesantren dia tidak bisa bebas melakukan apa saja. Ketika dia datang, dia diharuskan memotong rambut, lalu  harus tidur sesuai jadwal—tidak boleh bergadang, harus bangun pagi untuk shalat berjamaaah.

Lalu tanpa sengaja Barra bertemu dengan Nilam, putri pemilik pesantren—Buya yang sejak kecil dididik dengan etika pergaulan yang ketat-khususnya dalam berhubungan antara laki-laki dan perempuan—di gerbang pesantren di bawah pohon mahoni.  Siapa sangka pertemuan singkat itu menyisakan sejumput rasa yang mendalam di hati Barra.  Tidak terkecuali bagi Nilam sendiri. Cinta kedunya tumbuh tidak bisa dicegah.

“Kita mungkin bisa memilih dengan siapa kita akan menikah, tapi kita tidak bisa memilih dengan siapa jatuh cinta. keduanya ada di wilayah yang berbeda. Cinta itu tidak rasional, sementara pernikahan serasional perhitungan.” (hal 183).

Tapi Nilam sadar dia tidak boleh terbujuk perasaan itu. Di sini keteguhan hati Nilam dipertaruhkan. Sedang bagi Barra, keberadaan Nilam kemudian sedikit banyak membuatnya mencoba bertahan. Selain karena Nilam, keberadaan ayah Nilam—Buya, semakin membuat Barra merasa betah dan merasa dihargai sebagai manusia. Tidak seperti kebanyakan orang yang suka memarahi, memaksa atau bahkan menghinanya karena statusnya,  Buya selalu mempelakukan Barra dengan baik. “Ayahmu serupa Al Hikam, Nilam. Lembut di perkataan, menyentuh di perbuatan.” (hal 111).  Juga para guru dan santri yang selalu memperlakukannya layaknya keluarga.  

Di sinilah titik balik kehidupan Barra. Dia mulai menata kehidupannya agar lebih baik. Hanya saja untuk masalah hati ... entah kenapa masih terpaut dengan Nilam.  Dan ketika dia hendak merengkuh hati Nilam, ternyata gadis itu telah melakukan ta’aruf dengan seseorang yang telah dipilihkan keluarga.  (hal 188).

Novel ini dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat. Sejak awal penulis sudah membuat penasaran dengan akhir kisah cerita ini.  Pemelihan alur dan sudut pandangnya menambah keunggulan novel ini. Mengambil latar Padang semakin membuat novel ini terasa lokalitasnya.

Di sisi lain,  yang membuat novel ini semakin lengkap adalah banyaknya petuah bijak yang bisa dipetik pembelajaran. Tokoh Buya sungguh sangat inspiratif. Mengajarkan bahwa dalam berdakwah diperlukan metode lemah lembut penuh kasih sayang. Karena memang kita tidak bisa memaksa seseorang hidup sebagaimana cara kita hidup.

“Kadang orang tak memerlukan banyak nasihat. Mereka Cuma butuh melihat, bahwa mereka diterima dan disayangi. Kasih sayang adalah nasihat yang paling baik.” (hal 155).

Di sini kita juga diajak untuk menjaga hati sesuai dengan syariat, menjauhi prasangka buruk dan melakukan kebaikan-kebaikan yang insyah Allah bisa dipetik di kemudian hari. Hanya saja masih ditemukan beberapa kesalahan tulis dan bagian yang masih kurang terasa logis. Tapi lepas dari kekuarangnnya novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Memikat dan bermanfaat.

Srobyong, 25 Februari 2017


Tuesday, 11 July 2017

[Resensi] Kisah Cinta dari Tembok Pesantren

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 4 Juni 2017 

Judul               : Habibie Ya Nour El Ain
Penulis             :  Maya Lestari GF
Penerbit           : Dar Mizan
Cetakan           : Pertama, Desember 2016
Tebal               : 240 hlm
ISBN               : 978-602-420-298-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Novel ini mencoba memperlihatkan protret kehidupan dunia pesantren yang sampai saat ini masih sering dinilai sebagai tempat yang penuh aturan, seperti penjara yang selalu terkurung dalam sangkar. Di mana para santri harus tidur tepat waktu, bangun pada sepertiga malam untuk sahalat malam dan ikut berjamaah subuh. Kalau melanggar peraturan, para santri akan mendapat takziran atau hukuman, bahkan tidak jarang dikeluarkan.

Padahal di balik ketatnya peraturan pesantren, banyak manfaat yang akan dipetik kemudian.  Perlu digaris bawahi, bahwa sejatinya, pesantren adalah tempat belajar yang menyenangkan dan penuh rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Kehidupan di pesantren mendidik para santri untuk menjadi pribadi yang disiplin dan memiliki tanggungjawab. Nilai-nilai akhlak dan moral pun dikenalkan dengan baik sebagai bekal ketika terjun di dalam masyarakat.

Kisah dimulai dengan kedatangan Barra yang dihukum kepala sekolahnya untuk mondok selama dua minggu,  di Pesantren Nurul Ilmi, untuk merenungkan kesalahannya.  Barra adalah murid nakal yang suka membangkang pada guru bahkan berkata dia tidak percaya kalau Tuhan itu ada akibat masa lalunya yang kelam (hal 44).

Ketika sampai di pesantren, Barra merasa tidak betah, karena banyak aturan yang harus dia lakukan. Dia merasa tidak terbiasa.  Bahkan Barra sempat berusaha kabur. Tapi yang mengejutkan, meski dia pernah melakukan kesalahan, para santri  tetap memperlakukannya dengan baik—tidak menghakimi atau menjauhinya. Mereka menerima Barra apa adanya. Berbeda jika di lingkungan sekolahnya sudah pasti Barra akan dihujat dan dijauhi.  (hal 63).

Begitu pula dengan sikap para guru. Mereka mengajak Barra melakukan kegiatan-kegiatan yang sederhana yang entah kenapa malah sangat menyentuhnya. Tidak ketinggalan adalah Buya—pemimpin pesantren yang selalu arif dan bijaksana, mengajarkan hal-hal yang tidak pernah Barra temukan di tempat lain.  Di pesantren Barra merasa diperlakukan sebagai manusia.  Tidak ketinggalan  Barra menemukan cinta yang tidak terduga. Pertemuan tanpa sengaja dengan Nilam, membuat Barra berdebar.  Tapi beranikah dia mengejar cinta itu jika dia merasa tidak pantas mencinta Nilam yang merupakan putri Buya? Lalu bagaimana dia menghalau rasa itu?  Belum Lagi Nilam kala itu juga tengah melakukan ta’aruf dengan laki-laki pilihan keluarga.

Novel ini sangat sarat makna. Banyak nasihat inspiratif yang bisa dipetik pembelajaran. Dia nataranya tentang potret kehidupan di pesantren, bagaimana menjaga hati yang baik sesuai anjuran agama, berjuang melepas masa lalu dan usaha berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

 Dipaparkan dengan gaya bahasa yang lugas dan renyah. Baik alur, pemilihan pov juga latar cerita sudah digarap dengan porsi yang pas. Meski masih ditemukan beberapa kesalahan, tidak mengurangi kenikmatan dalam membaca buku ini yang memang sudah memikat sejak bab pertama.

Dalam kisah ini kita diajarkan untuk selalu menebar kebaikan. “Hidup adalah refleksi diri kita. Apa yang kamu keluarkan untuk dunia, itulah yang akan dipantulkan balik kepadamu. Kamulah yang memilih, akankah memberi kebaikan atau keburukan.” (hal 16).  Juga sikap welas asih dalam metode pendidikan.

Srobyong, 25 Februari 2017 

Friday, 16 December 2016

[Resensi] Meneladani Nabi dan Rasul

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Sabtu 10 Desember 2016 


Judul               : Cerita Seru 25 Nabi dan Rasul
Penulis             : Ririn Astutiningrum (Ummu Rumaisha)
Penerbit           : Dar Mizan
Cetakan           : Pertama, Oktober 2016
Halaman          : 120 hlm
ISBN               : 978-602-420-194-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Penikmat buku dan literasi. Alumni Unisnu Jepara.

Nabi dan Rasul adalah yang diutus Allah untuk menyampaikan wahyu dan mengamalkannya. Ada 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui umat Islam.  Mengetahui kisah sejarah mereka, merupakan salah satu pengetahuan dasar yang harus diketahui sebagai umat Islam. Dan sebaiknya dikenalkan sejak dini pada anak. Karena dari kisah tersebut,  anak bisa mengambil banyak pelajaran. Di antaranya adalah tentang pendidikan karakter,  menambah iman dan meneladani kesalihan-kesalihan yang dimiliki para nabi.

Misalnya dalam kisah Nabi Nuh. Di sini ada pesan, bahwa Islam adalah agama yang lunak, penuh kasih sayang dan tidak suka membeda-bedakan. Semua makhluk memiliki derajat yang sama.  (hal 17).  Atau dalam kisah Nabi Ismail yang selalu taat pada orangtua dan perintah Allah. Serta Nabi Ayyub yang memiliki kesabaran yang luas. Meski berkali-kali dicoba dengan cobaan yang berat, Nabi Ayyub tetap sabar dan ikhlas. Dia tidak mudah berpaling meski berkali-kali digoda oleh setan. Di sini anak akan belajar tentang keteguhan hati.

Banyak keteladanan adalah kisah Nabi Muhammad SAW yang merupakan nabi terakhir.  Beliau lahir tanggal 12 rabi’ul awal tahun gajah.  Sejak kecil kehidupan Nabi Muhammad sudah penuh liku namun selalu bersabar. Beliau tumbuh menjadi seorang yang tanggung jawab dan bisa dipercaya. Hal itu yang kemudian membuat Nabi Muhammad mendapat gelar ‘al-amin’ (hal 111).

Saat ini, memang sudah banyak buku dengan tema yang sama diterbitkan. Namun buku ini memiliki keunikan tersendiri dari kebanyakan buku lain. Di mana dalam buku ini selain menjabarkan kisah para nabi dan rasul, anak juga akan dikenalkan ayat-ayat Al-Quran yang masih berhubungan dengan kisah yang diceritakan.  Ditambah lagi buku ini dilengkapi dengan berbagai permainan anak yang memiliki tujuan, mengasah otak dan kreativitas anak, serta meminimalisir kebosanan anak jika hanya terpaku pada bacaan.  Semua kisah di sini diceritakan dengan gaya bahasa yang lugas, sudah pasti akan memudahkan anak untuk memahaminya.

Srobyong, 2 Desember 2016 

Sunday, 26 July 2015

[Review] Menjadi Bintang Sejati





Judul Buku : Bintang Jindo
Penulis: Susanti Hara Jv
Penerbit: Dar Mizan, Bandung
Cetakan I: September 2014
Halaman: 132
ISBN: 978-602-242-443-7

Hyo Ra, Youra dan Eun Hee yang sedang menikmati Jindo Yengdeung Festifal. Mereka tidak sabar menyeberangi laut Jindo yang terbelah karena fenomena alam, sambil berfoto dan bercanda.

Lalu sebuah pertemuan yang tidak disengaja membuat Hyo Ra mengenal Paman Yong Gun yang ternyata seorang sutradara. Dari pertemuan itu kehidupan Hyo Ra menjadi berubah.  Dia tiba-tiba ditawari untuk menjadi seorang artis yang sama sekali tidak pernah Hyo Ra inginkan.

Mengetahui itu,  Youra bertanya-tanya, kenapa harus Hyo Ra yang ditawari bukan  dia yang sangat ingin menjadi artis. Youra merasa tidak puas. Ada juga Eun Hee yang sebenarnya sudah tahu sejak awal tentang siapa Pama Yong Gun karena dia telah membaca di blog. Tapi entah kenapa dia tidak ingin memberi tahu Hyo Ra.

Lalu bagaimana kelanjutan kisah persahabatan mereka. Apakah Hyo Ra nanti menerima tawaran itu ... atau tidak? Bagaimana nasib Youra, dan kenapa Eun Hee harus merahasiakan siapa sebenarnya Paman Yong Gun pada Hyo Ra?

Novel ini selain menceritakan tentang persahabatan yang unik juga menjelaskan dengan baik tentang informasi Pulau Jindo. Seolah kita diajak untuk berlibur dan melihat Jindo Yengdeung Festifal. Hikmah yang bisa diambil dari novel ini adalah bahwa persahabatan yang tulus itu lebih indah dari apapun.

Srobyong, 12 Juni 2015.