Showing posts with label Maya Lestari Gf. Show all posts
Showing posts with label Maya Lestari Gf. Show all posts

Monday, 15 February 2021

Resensi - Novel yang Mengajak Anak Menjadi Pemberani dan Saling Menolong

 



Judul                : Kereta Malam Menuju Harlok

Penulis             : Maya Lestari Gf

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, Januari 2021

Tebal               : 144 halaman

ISBN                 : 978-623-253-017-1

Harga              : 45.000

Peresensi         : Ratnani Latifah

“Kita sama-sama sengsara, karena itu  kita saling membantu. Jika kita hanya memikirkan diri sendiri, keadaan akan bertambah sulit.” (hal 97).

Mengambil tema yang antimainstream, unik, berbeda dan bahkan mungkin jarang diangkat oleh penulis lain, tidak heran jika  novel ini menjadi juara 2 dalam Kompetisi Menulis Novel Anak Indiva 2019. Belum lagi ceritanya memang seru, bikin penasaran juga syarat akan inspirasi dan  motivasi.  Sejak awal membaca kita akan langsung dibuat penasaran dan dibuat bertanya-tanya. Cerita anak macam apa yang ditawarkan Mbak Maya? Kenapa Mbak Maya mengangkat tokoh cerita  tentang anak cacat?

Jika kita memerhatikan cover buku kita pasti langsung menyadari bahwa novel ini berbeda. Jika kebanyakan penulis suka memakai tokoh utama yang sehat memiliki kelengkapan jasmani dan rohani, maka novel ini tidak. Tamir, tokoh cerita ini dikisahkan memiliki kekurangan yang pastinya akan membuat siapa pun orang yang melihat akan meremehkannya. Namun siapa yang menyangka di balik kekurangan yang dimiliki kita bisa belajar banyak hal dari tokoh Tamir.  

(Bayangan saya ketika Tamir tiba-tiba berada di kereta. Pixabay/ArtTower)


Novel ini menceritakan tentang petualangan aneh yang dialami Tamir. Anak yang tinggal di Panti Asuhan Kulila, tempat yang memang menampung anak-anak cacat ini, entah kenapa tiba-tiba berada di sebuah tempat aneh bernama Harlok. Bahkan yang lebih parah, di sana Tamir harus bekerja di sebagai penggali tambang batu seruni, bersama anak-anak lain yang sudah berada di sana lebih dahulu—mereka sering disebut anak tambang. Jika Tamir tidak mau bekerja dan hasil tambangnya tidak sesuai dengan target yang diberikan Vled, sang pemiliki tambang, maka ia akan dikurung di ceruk hukuman.

(Mungkin seperti ini ceruk hukuman yang akan ditempati Tamir, dkk. Pixabay/barnarbaspiper)

Padahal sebelum Tamir terdampar di Harlok, ia tengah menanti takbir lebaran yang akan segera menggema. Memberikan kebahagiaan bagi keluarga kecil di panti asuhan, meski di malam itu sang pengasuh panti memilih kabur.

(Tempat penambangan. Pixabay/griepsma)

“Ada sebuah cerita tentang kereta yang khusus menjemput anak-anak yatim piatu di seluruh dunia. Kereta itu datang tidak terduga, menembus kabut gelap, mengambil energi dari gemuruh guntur dan cahaya kilat. Langit yang luas adalah batas perjalanannya. Harapan yang diterbangkan angin adalah awal perjalanannya. “(hal 3).

Sebagai pendatang baru Tamir tentu kaget dengan tugas berat yang harus ia lakukan. Padahal dulu di panti ia hanya melakukan tugas-tugas biasa, seperti masak atau bersih-bersih. Yang membuat Tamir semakin tidak nyaman dengan Harlok adalah menu makanan di sana yang sungguh aneh dan tidak enak di lidah.

Tamir pun bertanya-tanya, kenapa semua anak tambang, juga Baz yang merupakan mandor mereka, tidak pernah berusaha kabur dari tempat aneh itu? Tamir baru tahu jawabannya ketika ia pelan-pelan menjalani rutinitas di tempat baru tersebut, meski dalam hati,  ia tetap memiliki harapan untuk kembali ke dunia asalnya.  Petualangan lengkap Tamir di Harlok, bisa langsung kita baca di novel ini.  Upaya apa yang dilakukan Tamir dan berhasilkan ia melakukan misinya.

Kisah ini sangat seru dan mendebarkan. Saya gemas banget dengan tokoh Vled yang sok berkuasa dan suka menipu. Kenapa ada orang jahat seperti itu? Memanfaatkan keadaan untuk kepentingannya sendiri. Gemas juga dengan tokoh-tokoh lain, khususnya Mo, salah satu anak tambang yang nampak cuek tetapi sebenarnya peduli pada Tamir dan tidak segan menolong.

Secara keseluruhan novel anak ini sangat menarik. Sejak awal membaca bab pertama kita akan dibuat penasaran bagaimana dengan akhir petualangan aneh Tamir. Rasanya kita tidak ingin  bisa berhenti membaca sebelum menemukan ending cerita.

Dari segi tema,  novel ini memang sudah menunjukkan keunikan tersendiri. Out of the box. Dari beberapa novel penulis yang sama baca—meski bukan novel anak—tema-temanya memang menarik. Seperti  Novel “17 Tahun itu Bikin Pusing” atau “Habibie: ya noue elain” atau “Cinta Segala Musim”—semuanya itu memiliki cerita-cerita menarik dan seru untuk dibaca. Pun dengan novel anak ini.  Karena penulis  bisa menceritakan permasalahan di masyarakat dengan cara pandang yang berbeda.  

Keunggulan lain dari novel ini adalah gaya bahasanya yang ringan dan lugas. Jadi anak tidak akan kesulitan ketika membaca novel ini.  Novel yang konon proses penyelesaiannya hanya satu minggu ini, memang sangat sayang untuk dilewatkan.  Apalagi dalam novel ini banyak bertabur pelajaran hidup, motivasi dan inspirasi.  Tidak ketinggalan, anak pun akan menambah banyak kosa kata baru. Misalnya kata ceruk, turbulensi, balincong dan banyak lagi.

Melalui novel ini kita akan diajarkan untuk hidup dengan jujur, bukan menipu sebagaimana tokoh Vled, yang rakus, demi kesenangannya ia tega berbuat jahat dengan memanfaatkan tenaga anak kecil dan mengancam orang lain.

“Vled menahan separuh anak tambang di gua. Kalau kita melapor, anak-anak tambang yang tinggal akan dilempar ke hutan kabut.” (hal 64).

Kita juga diajarkan untuk menjadi anak yang pemberani. Jangan pernah takut dalam melawan kejahatan. Kita harus yakin bahwa kita bisa melawan orang-orang curang agar mereka sadar dan kapok dengan perbuatannya. Hal itu bisa kita lihat dari tokoh Tamir bagaimana cara Tamir melawan Vled dari kesombongannya.

Tak hanya itu melalui kisah ini kita diingatkan tentang kebiasaan untuk saling tolong-menolong. Mungkin nampaknya anak tambang saling tidak peduli. Tapi di sana mereka menunjukkan sikap saling peduli, saling menolong juga kompak.  Kemudian tidak kalah penting, di sini kita akan dibuat sadar, meski  Tamir anak catat ia tetaplah seorang anak yang luar biasa. Ia berani, jujur,  tulus, suka menolong, setia kawan dan banyak lagi.  Kekurangan yang dimiliki tidak membuatnya menjadi anak manja. Ia tetap mau bekerja keras dan selalu rajin. Jadi kita tidak boleh memandang rendah orang lain hanya lewat fisik.

Sedikit kekurangan dari novel ini mungkin masih ditemukan sedikit salah ketik. Meski sejatinya kesalahan ini tidak terlalu menganggu.

“JelastidakadakesalahandalamberkasTamir.” (hal 38) tulisannya tidak berspasi.

“Tidak. Dia bekerja jadi pengasuh Sora, anak Baz.” (hal 46) รจ mungkin maksudnya anak Vled?

Terlepas dari semuanya,   kalau boleh jujur, novel ini cukup berbeda dari novel-novel anak  yang pernah diterbitkan Indiva. Jika mengingat kembali novel anak Indiva lebih pure pada kehidupan, misteri atau petualangan yang terselesaikan dengan baik berdasarkan fakta yang sudah terkonfimasi. Berbeda dengan novel ini yang masih membuat kita bertanya-tanya atau membuat kisah sendiri setelah membaca akhir novel. “Apa yang sebenarnya terjadi” Ending kisahnya sungguh tidak terduga.

Meski begitu, novel ini tetap saya rekomendasikan untuk dibaca.  Karena buku ini sarat makna dan menyimpan banyak sekali nilai-nilai karakter baik bagi anak.  Dari sikap rajin, peduli pada sesama, tulus, gigih, tidak mudah menyerah, saling tolong menolong, selalu bersyukur, berjiwa pemberani, cerdas dan banyak lagi.

Srobyong, 14 Februari 2021

 Alhamdulillah resensi ini menjadi salah satu pemenang lomba resensi favorit yang diadakan Penerbit Indiva Media Kreasi, 2021.




Friday, 8 June 2018

[Resensi] Potret Remaja yang Tidak Mudah Menyerah Meraih Mimpi

Dimuat di Kabar Madura, Rabu 30 Mei 2018



Judul               : 17 Tahun Itu Bikin Pusing!
Penulis             : Maya Lestari GF
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 220 halaman
ISBN               : 978-602-6716-08-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mengambil tema remaja, novel ini termasuk kategori ringan. Gaya bahasanya sederhana, sehingga asyik dibaca tanpa perlu berpikir keras. Eksekusi cerita pun tidak diragukan lagi. Manis dan menghentak. Penulis asal Padang yang memang sudah memiliki jam terbang tinggi dalam karir menulisnya, menghadirkan kisah yang sederhana, namun sangat menyentuh dari berbagai sisi. Dalam buku ini kita akan dihibur dengan kisah perjuangan para remaja yang ingin diakui kemampuannya. Tentang mimpi, persaingan, jurnalistik, persahabatan, dan tidak ketinggalan bumbu cinta yang semakin membuat kisah ini seru.

Bagi Andriana Tasanee—atau kerap dipanggil Nana—menjadi pemred Majalah Finia di sekolahnya, Visi Andalas adalah mimpinya sejak SMP. Karena dengan menduduki jabatan itu berbagai kesempatan emas akan dia dapat. Dari acara bergengsi  seperti festival film, sastra, sampai aneka kegiatan remaja berprestasi. Bisa mengikuti forum editor di Sumbar. Serta tidak ketinggalan adalah jabatan itu bisa membuka pintu masuk Perguruan Tinggi terkemuka di negeri ini (hal 11).

Untuk mendapat jabatan itu, dia harus bersaing dengan Amanda Rusli. Sosok yang sejak awal tidak pernah dia sukai, karena gadis itu selalu menempel pada Sani, sahabatnya—yang diam-diam Nana sukai. Nana yang awalnya sudah sangat yakin bahwa dirinya akan menjadi pemenang, ternyata kenyataan yang ada malah sebaliknya.  Dia kalah. Amanda-lah yang terpilih sebagai pemred Majalah Finia.

Kenyataan itu tentu saja membuat Nana kecewa. Apalagi dia tahu bahwa sahabatnya, Sani ternyata lebih memilih memberikan hak suaranya pada Amanda dibanding dirinya. Di sini Nana merasa dikhianati. Tapi tetap saja dia tidak bisa mengubah keputusan yang ada.

Tidak hanya gagal menjadi pemred, karena kejadian yang tidak terduga, Nana harus menerima detensi membersihkan toilet, dan bahkan masuk di Finia sebagai siswi paling malang dan berakhir dimusuhi seantero sekolah.  Dia dinggap sebagai orang yang tidak bisa menerima kekalahan dan iri dengan prestasi Amanada.

Beruntung dia memiliki sahabat seperti Sonia, yang selalu setia dan terus memberi dukungan pada Nana. “Orang-orang hebat selalu menemui masa-masa gelap dalam hidupnya. Dikalahkan. Ditinggalkan. Tapi, yang bikin mereka beda adalah enggak berhenti. Mereka tetap berjuang mencapai cita-cita. Semakin kuat dijatuhkan ke lantai, semakin tinggi pantulannya. Enggak usah pikiran kata orang. Fokus saja ke impianmu.” (hal 60).

Selain itu ada pula kakaknya, Rifat yang tidak segan memberi nasihat pada adiknya agar mau intropeksi diri. Belajar dari berbagai kejadian yang telah menimpanya dan  mulai memperbaiki diri.

“Satu-satunya cara untuk berhasil adalah dengan menaklukkan diri sendiri. Buatlah prestasi setinggi mungkin, tapi tetaplah rendah hati! Jangan harap kamu bisa sukses suatu hari nanti, jika kamu selalu keras kepala. Bagaimanapun, orang-orang berhasil selalu punya ciri khusus : rendah hati dan enggak kenal kata menyerah.” (hal 87-88).

Pada titik itu, akhirnya Nana mulai membuka pikirannya. Dia mulai berdamai dengan diri sendiri dan siap berjuang lagi demi meriah impiannya—tetap menulis dan bergelut dalam dunia jurnalistik. Meski tanpa Finia dia masih bisa menunjukkan kemampuanya. Meski pada jalan itu, Nana masih harus berhadapan dengan Amanda. Karena entah kenapa gadis itu selalu berusaha menghalang-halangi jalan Nana.  

Apik, menarik dan menginspirasi. Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, membuat saya ikut merasakan bagaimana posisi dan perasaan Nana. Settingnya pun apik dengan latar sekolah Visi Andalan yang luar biasa. Dan bisa saya bilang novel ini sangat manusiawi. Karena dalam kisah ini penulis tidak membuat tokoh utama sebagai sosok yang sempurna.  Dan untuk bumbu cinta di sini, meski sangat  standar tapi tetap  bikin gregetan.

Membaca novel ini saya banyak belajar tentang dunia jurnalistik. Selain itu saya belajar untuk menjadi pribadi yang sabar dan bisa menahan diri. “Orang hebat  adalah orang yang bisa menahan amarah. Orang yang tetap bisa berpikir jernih saat keadaan tidak berjalan seperti yang diharapkan.” (hal 129).  Selain itu dari kisah ini, kita diajari untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita. Kita harus yakin selalu ada jalan untuk meraihnya, jika kita mau berjuang.

Srobyong, 20 Februari 2018 

Wednesday, 27 September 2017

[Resensi] Romantika Kehidupan di Pesantren

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 24 September 2017 


Judul               : Habibie Ya Nour El Ain
Penulis             :  Maya Lestari GF
Penerbit           : Dar Mizan
Cetakan           : Pertama, Desember 2016
Tebal               : 240 hlm
ISBN               : 978-602-420-298-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

“Hidup adalah refleksi diri kita. Apa yang kamu keluarkan untuk dunia, itulah yang akan dipantulkan balik kepadamu. Kamulah yang memilih, akankah memberi kebaikan atau keburukan.” (hal 16).

Membaca novel ini kita akan diajak mengenal lebih dalam dengan romantika kehidupan dunia pesantren. Bagaimana cara pergaulan yang baik antara laki-laki dan perempuan. Bagaimana menyikapi perasaan suka jika tengah jatuh cinta. Balasan apa yang kita dapat dari perbuatan kita. Metode pendidikan yang digunakan. Tentang peraturan pondok pesantren. Dan masih banyak lagi.

Maya Lestari—penulis produktif yang berasal dari Padang—Sumatra Barat ini sangat lihai dalam mengolah konflik, membuat pembaca seolah ikut masuk dalam cerita. Sebagaimana yang dipaparkan M Irfan Hidayatullah—penulis dan Dosen Fakultas Sastra  Universitas Padjajaran, “Tidak mudah menulis novel yang seimbang antara bentuk dan bobotnya. Bentuk ringan dan populer, tetapi bobot filosofis dan pesannya dalam. Novel semacam ini hanya bisa ditulis oleh seorang penulis dengan jam terbang tinggi seperti Maya Lesatri GF.”

Novel ini sendiri berkisah tentang Barra Sadewa yang mengaku tidak percaya dengan Tuhan dan mendapat label anak nakal di sekolah, yang kemudian membuat dirinya terjebak pada romantika kehidupan di pesantren. Dia dipaksa kepala sekolahnya untuk mondok selama dua minggu di Pesantren Nurul Ilmi, untuk merenungkan segak perbuatan yang selama ini telah dilakukan. Di mana dalam bayangan Barra, pesantren adalah penjara (hal 44).  Karena di pesantren dia tidak bisa bebas melakukan apa saja. Ketika dia datang, dia diharuskan memotong rambut, lalu  harus tidur sesuai jadwal—tidak boleh bergadang, harus bangun pagi untuk shalat berjamaaah.

Lalu tanpa sengaja Barra bertemu dengan Nilam, putri pemilik pesantren—Buya yang sejak kecil dididik dengan etika pergaulan yang ketat-khususnya dalam berhubungan antara laki-laki dan perempuan—di gerbang pesantren di bawah pohon mahoni.  Siapa sangka pertemuan singkat itu menyisakan sejumput rasa yang mendalam di hati Barra.  Tidak terkecuali bagi Nilam sendiri. Cinta kedunya tumbuh tidak bisa dicegah.

“Kita mungkin bisa memilih dengan siapa kita akan menikah, tapi kita tidak bisa memilih dengan siapa jatuh cinta. keduanya ada di wilayah yang berbeda. Cinta itu tidak rasional, sementara pernikahan serasional perhitungan.” (hal 183).

Tapi Nilam sadar dia tidak boleh terbujuk perasaan itu. Di sini keteguhan hati Nilam dipertaruhkan. Sedang bagi Barra, keberadaan Nilam kemudian sedikit banyak membuatnya mencoba bertahan. Selain karena Nilam, keberadaan ayah Nilam—Buya, semakin membuat Barra merasa betah dan merasa dihargai sebagai manusia. Tidak seperti kebanyakan orang yang suka memarahi, memaksa atau bahkan menghinanya karena statusnya,  Buya selalu mempelakukan Barra dengan baik. “Ayahmu serupa Al Hikam, Nilam. Lembut di perkataan, menyentuh di perbuatan.” (hal 111).  Juga para guru dan santri yang selalu memperlakukannya layaknya keluarga.  

Di sinilah titik balik kehidupan Barra. Dia mulai menata kehidupannya agar lebih baik. Hanya saja untuk masalah hati ... entah kenapa masih terpaut dengan Nilam.  Dan ketika dia hendak merengkuh hati Nilam, ternyata gadis itu telah melakukan ta’aruf dengan seseorang yang telah dipilihkan keluarga.  (hal 188).

Novel ini dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat. Sejak awal penulis sudah membuat penasaran dengan akhir kisah cerita ini.  Pemelihan alur dan sudut pandangnya menambah keunggulan novel ini. Mengambil latar Padang semakin membuat novel ini terasa lokalitasnya.

Di sisi lain,  yang membuat novel ini semakin lengkap adalah banyaknya petuah bijak yang bisa dipetik pembelajaran. Tokoh Buya sungguh sangat inspiratif. Mengajarkan bahwa dalam berdakwah diperlukan metode lemah lembut penuh kasih sayang. Karena memang kita tidak bisa memaksa seseorang hidup sebagaimana cara kita hidup.

“Kadang orang tak memerlukan banyak nasihat. Mereka Cuma butuh melihat, bahwa mereka diterima dan disayangi. Kasih sayang adalah nasihat yang paling baik.” (hal 155).

Di sini kita juga diajak untuk menjaga hati sesuai dengan syariat, menjauhi prasangka buruk dan melakukan kebaikan-kebaikan yang insyah Allah bisa dipetik di kemudian hari. Hanya saja masih ditemukan beberapa kesalahan tulis dan bagian yang masih kurang terasa logis. Tapi lepas dari kekuarangnnya novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Memikat dan bermanfaat.

Srobyong, 25 Februari 2017


Tuesday, 11 July 2017

[Resensi] Kisah Cinta dari Tembok Pesantren

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 4 Juni 2017 

Judul               : Habibie Ya Nour El Ain
Penulis             :  Maya Lestari GF
Penerbit           : Dar Mizan
Cetakan           : Pertama, Desember 2016
Tebal               : 240 hlm
ISBN               : 978-602-420-298-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Novel ini mencoba memperlihatkan protret kehidupan dunia pesantren yang sampai saat ini masih sering dinilai sebagai tempat yang penuh aturan, seperti penjara yang selalu terkurung dalam sangkar. Di mana para santri harus tidur tepat waktu, bangun pada sepertiga malam untuk sahalat malam dan ikut berjamaah subuh. Kalau melanggar peraturan, para santri akan mendapat takziran atau hukuman, bahkan tidak jarang dikeluarkan.

Padahal di balik ketatnya peraturan pesantren, banyak manfaat yang akan dipetik kemudian.  Perlu digaris bawahi, bahwa sejatinya, pesantren adalah tempat belajar yang menyenangkan dan penuh rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Kehidupan di pesantren mendidik para santri untuk menjadi pribadi yang disiplin dan memiliki tanggungjawab. Nilai-nilai akhlak dan moral pun dikenalkan dengan baik sebagai bekal ketika terjun di dalam masyarakat.

Kisah dimulai dengan kedatangan Barra yang dihukum kepala sekolahnya untuk mondok selama dua minggu,  di Pesantren Nurul Ilmi, untuk merenungkan kesalahannya.  Barra adalah murid nakal yang suka membangkang pada guru bahkan berkata dia tidak percaya kalau Tuhan itu ada akibat masa lalunya yang kelam (hal 44).

Ketika sampai di pesantren, Barra merasa tidak betah, karena banyak aturan yang harus dia lakukan. Dia merasa tidak terbiasa.  Bahkan Barra sempat berusaha kabur. Tapi yang mengejutkan, meski dia pernah melakukan kesalahan, para santri  tetap memperlakukannya dengan baik—tidak menghakimi atau menjauhinya. Mereka menerima Barra apa adanya. Berbeda jika di lingkungan sekolahnya sudah pasti Barra akan dihujat dan dijauhi.  (hal 63).

Begitu pula dengan sikap para guru. Mereka mengajak Barra melakukan kegiatan-kegiatan yang sederhana yang entah kenapa malah sangat menyentuhnya. Tidak ketinggalan adalah Buya—pemimpin pesantren yang selalu arif dan bijaksana, mengajarkan hal-hal yang tidak pernah Barra temukan di tempat lain.  Di pesantren Barra merasa diperlakukan sebagai manusia.  Tidak ketinggalan  Barra menemukan cinta yang tidak terduga. Pertemuan tanpa sengaja dengan Nilam, membuat Barra berdebar.  Tapi beranikah dia mengejar cinta itu jika dia merasa tidak pantas mencinta Nilam yang merupakan putri Buya? Lalu bagaimana dia menghalau rasa itu?  Belum Lagi Nilam kala itu juga tengah melakukan ta’aruf dengan laki-laki pilihan keluarga.

Novel ini sangat sarat makna. Banyak nasihat inspiratif yang bisa dipetik pembelajaran. Dia nataranya tentang potret kehidupan di pesantren, bagaimana menjaga hati yang baik sesuai anjuran agama, berjuang melepas masa lalu dan usaha berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

 Dipaparkan dengan gaya bahasa yang lugas dan renyah. Baik alur, pemilihan pov juga latar cerita sudah digarap dengan porsi yang pas. Meski masih ditemukan beberapa kesalahan, tidak mengurangi kenikmatan dalam membaca buku ini yang memang sudah memikat sejak bab pertama.

Dalam kisah ini kita diajarkan untuk selalu menebar kebaikan. “Hidup adalah refleksi diri kita. Apa yang kamu keluarkan untuk dunia, itulah yang akan dipantulkan balik kepadamu. Kamulah yang memilih, akankah memberi kebaikan atau keburukan.” (hal 16).  Juga sikap welas asih dalam metode pendidikan.

Srobyong, 25 Februari 2017 

Tuesday, 25 October 2016

[Resensi] Suka Duka dalam Membangun Rumah Tangg

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 23 Oktober 


Judul               : Cinta Segala Musim
Penulis             : Maya Lestari Gf
Penerbit           : Indiva
Cetakana         : Pertama, Juni 2016
Halaman          : 224 hlm
ISBN               : 978-602-1614-59-4
Peresensi         : Ratnani Latifah



Setiap orang sudah pasti mendambakan memiliki rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah.  Dalam artian  rumah tangga itu bahagia dalam segi finansial, jasmani dan  rohani.  Namun tentu saja hidup tidak akan seindah dongeng cinderella. Bahagia selemanya setelah melakukan ikrar janji setia. Hidup akan berputar. Mengalami pasang surut. Ada cobaan untuk belajar saling menguatkan. Hanya saja, mampukan pasangan itu tetap saling bersisian mewujudkan mimpi rumah tangga yang diidamkan?

Novel ‘Cinta Segala Musim’ ini, merupakan pemenang harapan pada Lomba Menulis Indiva (LMNI) 2014. Mengisahkan tentang suka duka dalam membangun rumah tangga.  Pada awalnya pernikahan Rae dan Rampak begitu sempurna.  Rampak sangat sukses dengan pekerjaanya sebagai developer. Rae menjadi seorang istri yang sangat bahagia. Namun ternyata sebuah badai tiba-tiba menyerang rumah tanggah indah mereka.

Perusahaan Rampak dilaporkan masyarakat ke polisi karena dianggap merusak lingkungan. Berita tentang dirinya dipampang di berbagai surat kabar Sumatra Barat. Dia dianggap sebagai penipu karena membangun kompleks perumahan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. (hal. 16).  Dia dituntut untuk mengganti rugi pada semua pihak, yang kemudian membuat harta bendanya habis. Karirnya hancur.

Di sinilah kehidupan rumah tangga mereka diuji. Rampak sangat terpukul dengan kehancuran yang menimpanya. Dia menolak menggantungkan nasib dengan bantuan ayah atau ayah mertuanya, karena masalah harga diri.  Namun begitu dia tetap berusaha yang terbaik untuk memperbaiki ekonominya. Rampak berusaha menghubungi teman-temannya. Hanya saja, tak seorang pun yang berani mempekerjakan Rampak setelah insiden itu.

Meski merasa sedih dengan keadaan mereka saat itu, ada sebuah kabar bahagia yang membuat mereka bertahan dan terus berusaha. Kehamilan yang sejak dulu dirindukan Rampak dan Rae akhirnya terwujud (hal. 64).  Namun, siapa sangka kebahagiaan itu hanya sebentar. Cobaan kembali datang. Rae mengalami keguguran (hal. 105)

 Di sinilah, hubungan Rae dan Rampak dipertaruhkan. Keguguran membuat Rae sangat terpukul. Dia marah pada keadaan juga pada Rampak yang terlalu keras kepala. Dan ketika Rampak memberi pilihan, Rae  menyuruh laki-laki itu pergi.  Benarkah hanya sampai ini kesetiaan Rae? Dan mampukah Rampak bangkit dari keterpurukan dan mengembalikan kepercayaan Rae? 

Selain dua pertanyaan ini sejatinya masih banyak misteri yang membuat novel ini sangat menarik. Pada novel ini nanti akan ditemukan nama  Rampak kembali diberitakan di berbagai koran besar di Padang.

Novel ini dipaparkan dengan gaya bahasa yang enak dan mengalir.  Penulis yang berasal dari Padang—Sumatra Barat, ini memang sudah tidak diragukan lagi dalam karya-karyanya. Banyak penghargaan yang telah diraih dan coretannya bisa ditemukan di berbagai media.

Membaca novel ini, seolah diajak mengenal lebih jauh tentang pekerjaan seorang arsitek dan filosofi-filosifi yang inspiratif, tentang pemaknan rumah di mata Rampak. “Rumah bukan hanya sekadar tempat berteduh saja. Rumah adalah sebuah konsep tentang kehidupan yang manusiawi.” (hal. 28).  Hal yang sering dilupakan orang saat membangun rumah adalah, tidak membuatnya sedekat mungkin dengan kehidupan si pemilik rumah. Mengapa orang merasa bahagia bisa tinggal di  resort bergaya tradisional? Itu karena mereka merasa dekat dengan semua unsur pembuatannya. (hal. 185-186)

Keunggulan lain dari novel ini adalah penokohan yang kuat, sehingga kisah teras hidup. Dan penjabaran settingnya pun, tertata dengan rapi. Karena penulis mengambil setting asal daerah sendiri
Hanya saja untuk beberapa bagian ada yang terasa agak membosankan, masih ditemukan beberapa typo.  Serta konfliknya terasa agak datar. Tapi  lepas dari itu, penulis berhasil meramu dan mengeksekusi cerita dengan sangat apik. Membuat pembaca enggan melepaskan kisah ini sebelum tamat. Mengesankan.

Setelah membaca novel ini, dapat disimpulkan bahwa selalu ada badai dalam rumah tangga. Dan untuk mempertahankan harus dilakukan oleh kedua pihak untuk saling memahami dan berbagi baik suka atau duka. Selain itu novel ini juga mengajarkan banyak hal. Di antaranya kegagalan bukan akhir dari segalanya. Jangan mudah menyerah dan terus berusaha.

 “Selalu ada jalan keluar dari setiap masalah, selama yakin dan bertahan untuk sabar. Selalu ada hikmah dari setiap musibah.” (hal. 222)


Srobyong, 16 Oktober 2016