Showing posts with label Bentang Pustaka. Show all posts
Showing posts with label Bentang Pustaka. Show all posts

Saturday, 18 December 2021

[Review Buku] Mengenalkan Nilai-nilai Islam dengan Cara yang Menyenangkan


 

Judul :  Islamic Montessori Inspired Activity
Penulis : Zahra Zahira
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Keempat, Februari 2021
Tebal : x + 234 halaman


Apa itu  Montessori? Jujur saja, saya baru mengenal istilah ini ketika sedang sibuk mencari cara bagaimana mengenalkan nilai-nilai Islam pada anak saya, dengan cara yang menyenangkan. Secara tidak sengaja saya menemukan pembahasan tentang metode Montessori. Ketika membaca review tentang metode Montessori inilah, akhirnya saya  menjadi penasaran, lalu mulai mencari buku dengan tema tersebut. Dan alhamdulillah saya menemukan buku ini.


Buku ini  hadir dari kegelisahan pada orang tua juga pendidikan karena keterbatasan material Montessori, sehingga Zahra Zahira, founder of Indonesia Islamis Montessori Community mengenalkan bagaimana menyiasati masalah tersebut dengan memanfaatkan peralatan sederhana di sekitar kita. Sehingga kita tidak perlu resah, jika ingin menerapkan metode Montessori baik di rumah atau di sekolah.

Di dalam buku ini, penulis tidak membahas teori  atau sejarah tentang metode tersebut secara panjang lebar.  Meskipun ada materi, itu pun hanya dijelaskan sebagai pengantar singkat untuk mengenalkan pembaca tentang apa itu metode montessori. Selebihnya buku ini lebih membahas tentang aktivitas yang dapat dilakukan anak yang dibagi dalam beberapa tema.


Tentang Montessori

Montessori sendiri adalah sebuah metode pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori, yang mana fokus pendekatannya itu berpusat pada anak.  Ada lima aspek dalam Montessori, yaitu Pratical life, Sensorial, Language, Matematics, dan Culture.


Islamic Montessori

Sedangkan Islamic Montessori sendiri adalah pendekatan pendidikan yang menggunakan lima aspek Montessori dengan fokus pada aspek perkembangan spiritual agama Islam pada setiap kegiatan.  Jika dalam Montessori ada lima aspek, di dalam Islamic Montessori penulis memberikan tambahan 2 aspek lagi, yaitu Islamic Studies dan Art & Craft.

Lalu apa maksud dari tujuh aspek tersebut?

Islamic studies di dalam buku ini adalah  cakup tentang pengenalan  rukun  Islam, rukun Iman, Asmaul Husna kisah para Nabi berdasarkan masing-masing materi. Di mana dalam Islamic studies ini juga bisa  diaplikasikan pada setiap kegiatan lain seperti  Pratical life, Sensorial, Language, Matematics, dan Culture.

Pratical Life yaitu bagaimana kita mengenalkan kepada anak tentang benda-benda di sekitar. Di mana kegiatan ini bertujuan untuk melatih keteraturan, konsentrasi, koordinasi dan kemandirian.

Sensorial kegiatan ini bertujuan untuk menstimulasi panca indera anak, yaitu perasaan, penciuman, pendengaran, pengecapan, dan penglihatan.

Language di sini bahasa yang diajarkan kepada anak itu berupa mendengar cerita, menulis dan membaca. Hal ini bisa dilakukan dengan storytelling, large picture, card atau membacakan buku.

Matematics kegiatan ini tidak hanya bagaimana mengenalkan angka dan cara berhitung, tetapi juga memahami kalender, mengenalkan waktu, juga jumlah hari pada bulan Ramadhan.

Culture maksud dari culture adalah upaya mengenalkan alam semesta kepasa anak. Misalnya mengenalkan tentang diri sendiri, keluarga, lingkungan, kebudayaan dan banyak lagi.

Art & Culture kegiatan ini bertujuan untuk menstimulasi estetika dan motorik halus. Kegiatan ini tidak hanya tentang menggambar dan mewarnai, tetapi juga menyobek, menggunting dan banyak lagi.


Membaca buku ini kita akan menemukan 200+ kegiatan Islamic Montessori yang menarik dan inspiratif. 30 tema yang disiapkan penulis insya Allah akan memberikan kita banyak pengalaman baru dan cara mengenalkan Islami dengan menyenangkan. Karena dalam metode ini kita akan dijejali teori saja, kita akan diajak langsung praktik dan beraktivitas.


Tema pertama misalnya, My Self
Di sini nilai-nilai keislaman yang dikenalkan adalah  adanya malaikat  Raqib dan Atid, keutamaan menjaga kebersihan dan kerapian, anjuran bersyukur. Sedangkan dari aspek lainnya anak jadi bisa melipat pakaian sendiri, bisa mencetak tangan dengan cara warna, membuat stempel nama, mengurutkan angka 1-10, mengetahui proses tumbuhnya anak, anak dapat menulis namanya dengan cat warna dan luas.



Selain tema itu, masih ada 29 tema menarik yang dapat disimak di dalam buku ini.




Namun perlu diingatkan untuk menerapkan metode Montessori, baik guru atau orang tua harus benar-benar menyiapkan segala keperluan dan alat yang dibutuhkan dengan cermat. Karena tentu tidak mungkin memulai pembelajaran tanpa adanya bahan-bahan yang dibutuhkan. Inilah tantangan orang tua, agar selalu aktif dan kreatif dalam menyiapkan tema setiap harinya.


Selain itu orang tua juga harus pandai mengkondisikan anak, karena di masa usia awal anak lebih tertarik untuk bermain, jadi saat menerapkan metode ini orang tua harus sabar. Karenanya orang tua harus kreatif untuk menarik perhatian anak, agar selama belajar tapi juga seperti bermain, sehingga anak tidak bosan selama materi diajarkan.

Secara keseluruhan buku ini bisa menjadi bahan inspirasi bagi orang tua untuk menerapkan metode belajar mengenalkan nilai-nilai Islam kepada anak dengan cara yang menyenangkan. Dan saya sangat terbantu untuk mengenalkan nilai-nilai Islam kepada anak melalui buku ini. Meski bertahap anak cukup respek, dan memang harus sabar agar anak tidak mudah bosan saat belajar.

Srobyong, 18 Desember 2021


(Alhamdulillah naskah review ini terpilih sebagai pemenang pertama,
Kompetisi Review Buku Mizan 2021)

Saturday, 19 January 2019

[Resensi] Kisah Roman dan Persaingan Paham Agama

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 30 Desember 2018


Judul               : Kambing dan Hujan
Penulis             : Mahfud Ikhwan
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : viii + 380 halaman
ISBN               : 978-602-291-470-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

 “Tidak tepat menebar permusuhan di antara sesama Muslim, apalagi dalam satu desa.” (hal 107).

Novel “Kambing dan Hujan” selain terpilih sebagai Pemenang Sayembara Novel DKJ 2014, pada tahun 2015, novel ini juga menjadi Karya Sastra Terbaik versi Jakartabeat dan Buku Terbaik versi Mojok.co. Maka tidak heran jika buku ini kemudian dicetak ulang  dengan cover baru, karena masih diminati pasar. Apalagi dengan desain cover baru yang menurut saya lebih menarik daripada cover edisi pertama.

Mengangkat tema roman dan dipadukan dengan unsur kehidupan sosial politik, sebuah sejarah kampung serta tradisi keagamaan, membuat novel ini sangat menarik. Dengan gaya bercerita yang lugas, tidak rumit dan  mudah dipahami,  membuat novel ini memiliki nilai kelebihan tersendiri. Karena sebagaimana kita ketahui, novel yang diceritakan dengan gaya bahasa yang terlalu rumit, kadang hanya akan membuat pembaca bingung dan bosan.

Menceritakan tentang roman cinta antara Miftahul Abrar dan Nurul Fauzia yang terlahir dalam latar keluarga yang berbeda, meski pun sama-sama memeluk agama Islam dan tinggal di Tegal Centong.   Mif tumbuh di lingkungan keluarga dalam tradisi Islam modern, atau lebih dikenal dengan sebutan Muhammadiyah dan Fauzia lahir dan tumbuh dalam lingkungan  Islam tradisional, atau lebih sering disebut Nahdlatul Ulama (NU).   Tersebab perbedaan itu-lah, hubungan mereka terancam pupus.

Ada sebuah sejarah panjang kenapa kedua paham agama itu tidak bisa berdamai meskipun tinggal di tanah yang sama.  Bahkan ada garis pemisah bagi kedua paham itu. Jika penganut paham Muhammadiyah maka  tinggalya  di Centong Utara. Sedangkan   penganut paham Nahdliyin tinggalnya di Centong Selatan.  Keadaan itulah yang kemudian membuat Mif dan Fauzia pelan-pelan membuka sebuah tabir di masa lalu, untuk mengetahui dari mana akar ketegangan itu dimulai.  Yang ternyata sejarah panjang itu memiliki kaitan erat dengan Moek atau Fauzan, ayah Fauzia dan Is atau Kandar ayah Mif.

Pada awalnya Moek dan Is adalah dua sahabat yang tidak terpisahkan. Mereka sering mengembala kambing  dan belajar bersama.  Tempat favorit mereka saat bersama adalah Gumuk Genjik (hal 62).  Di sana mereka akan saling becerita apa saja.  Selain itu Is juga memiliki kebiasaan meminjam berbagai buku dari Moek. Bahkan ketika Moek melanjutkan pendidikan di pesantren, dia masih sering membawakan kitab agar bisa dibaca Is, yang kebetulan tidak bisa melanjutkan pendidikan, karena masalah biaya.

Namun suatu hari kemunculan Cak Ali, ternyata membawa perubahan besar pada Is. Hingga akhirnya kedekatannya itu telah membuat Is dan Moek tidak berada pada satu kubu. Is merupakan salah satu tokoh islam pembaharu bersma Cak Ali dan teman-temannya. Sedangkan Moek sejak awal dididik untuk melanjutkan perjuangan Islam tradisional di Centong.   Meski awalnya persahabatan mereka tetap seperti dulu, bahkan diam-diam saling mengagumi, namun lambat laun, keadaan lain telah menimbulkan kesalahpahaman yang berkepanjangan, hingga membuat mereka enggan berkomunikasi lagi.

Kenyataan itu tentu saja membuat Mif dan Fauzia bingung. Bagaimana mereka bisa bersatu jika kedua orangtuanya memiliki sejarah panjang seperti itu?  Sedangkan mereka memahami, kebiasaan di desa Centong. “Orang tua di Centong tidak akan memberika nakanya kepada orangtua atau keluarga yang tidak disukainya. Lebih-lebih yang tidak menyukainya.” (hal 26).

Di sinilah kesabaran dan kekuatan Mif dan Fauzia diuji. Mereka harus berjuang agar ayah mereka bisa berdamai. Karena dengan cara itulah hubungan mereka bisa disetujui.  Selain tokoh Moek dan Is, ada pula tokoh lain yang juga akan menghidupkan kisah novel ini bahkan akan membuat kita ikut emosi dan gemas.

Salut dengan penulis yang berani mengangkat tema tentang perbedaan paham agama antara Muhammadiyah dan Nu, yang memang sering terjadi di dalam masyarakat.  Secara keseluruhan novel ini benar-benar menarik dan memikat. Baik dari segi bercerita, penokohan, percakapan, sudut pandang adan alur cerita. Ending cerita yang dipilih penulis pun saya rasa sangat manusiai dan sangat pasa dengan segala probelamatika yang dihadapi.

Dan yang paling saya suka dari novel ini adalah nilai-nilai kehidupan serta nilai-nilai pembalajaran agama yang sangat banyak ditemukan dalam kisah ini. Kita diingatkan untuk menjadi pribadi yang saling memaafkan, cinta damai, rukun dan banyak lagi. Berbagai perbedaan paham agama dijabarkan dengan luar oleh penulis yang membuat wawasan wacana saya bertambah.

Srobyong, 6 Oktober 2018


Tuesday, 20 November 2018

[Resensi] Hijrah untuk Meraih Cinta-Nya

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 14 Oktober 2018 


Judul               : Hijrah itu Cinta
Penulis             : Abay Adhitya
Penerbit           : Penerbit Bunyan imprint of Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Mei 2018
Tebal               : viii +276 halaman
ISBN               : 978-602-291-478-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Hijrah merupakan usaha yang dilakukan seseorang  untuk meraih jalan yang lebih baik.  Misalnya dari yang malas beribadah, menjadi rajin beribadah. Dari mengumbar aurat menjadi menutup aurat dan masih banyak lagi contoh lainnya.  Proses ini bisa terjadi kepada siapa saja yang dikehendaki oleh Allah. Tidak peduli latar keluarga atau pendidikan, jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada yang bisa menghalanginya. 

“Ingat setiap orang suci punya masa lalu, dan setiap orang yang berdosa punya masa depan. Setiap orang bisa berubah setiap waktu kalau Allah berkehendak.” (hal 100).

Allah adalah sebaik-baik sutradara bagi seluruh manusia. Dia-lah yang paling tahu apa yang terbaik untuk hamban-Nya. Jangan karena amarah dan dendam, kita malah menjauh dari nikmat Allah.  Seyogyanya kita harus sabar, ikhlas dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Membaca novel ini kita bisa mengambil banyak sekali pembelajaran hidup. Dari ajakan untuk selalu berserah kepada Allah, sabar ketika mendapat ujian, juga  seruan untuk terus memperbaiki diri di mana pun dan kapaun berada. Tidak ketinggalan adalah larangan bagi kita untuk tidak menilai seseorang hanya dari luarnya saja.

Novel ini sendiri berkisah tentang  Senja yang selama hidupnya harus memeluk luka, karena  ayahnya. Kepergian ayahnya meninggalkan sang ibu, membuat hidup mereka tidak keruan. Dimulai dari mendapat panggilan ‘jaddah’ hingga berbagai masalah pelik lainnya.  Akan tetapi, ketika kebencian Senja makin menggunung pada ayahnya, tiba-tiba dia mendapat sebuah hidayah yang membuatnya berniat untuk hijrah.  Apalagi setelah pertemuannya dengan Fajar, teman di masa lalunya, memberi banyak warna dalam perjalanannya menjadi muslimah yang lebih baik.

Ada pula Satria yang tidak pernah mendapat kasih sayang dari orangtuanya, yang selalu sibuk bekerja, membuat dirinya melampiaskan dengan bermain banyak wanita. Hingga suatu hari sebuah ketukan membuat Satria ingin meninggalkan masa kelamnya.  Yang menjadi pertanyaannya,  berhasilkan usaha mereka menunju jalan kebaikan? Atau mereka malah kembali terjebak pada jalan persimpangan?

Selain menggagas masalah hijrah, dalam novel ini ada pula bumbu cinta yang akan semakin membuat kisah ini menarik. Kisah cinta segitiga   antara Fajar, Senja dan Satria yang tidak terduga.  Kira-kira pada siapa cinta itu akan berlabuh?

Sebuah novel religi yang cukup menarik. Hanya saja saya tidak terlalu suka dengan gaya bercerita penulis yang masih terasa monoton, bahkan seringkali mirip non-fiksi. Hal ini pula yang saya rasakan pada novel sebelumnya “Cinta dalam Ikhlas”. namun lepas dari kekurangannya, nilai-nilai pembalajaran bertaburan dalam kisah ini. Di antaranya kita diajak untuk tidak suka mencela dan memaki orang. Karena bisa jadi orang yang kita caci atau cela itu lebih baik dari kita.

“Hijrah itu proses, slow but sure. Kalau belum bisa semua, sebagian dulu lakukan. Jadi jangan pernah kita nge-judge, orang yang sedang berproses untuk berhijrah. Jangan pernah mencerca. Jangan pernah memaki. Melainkan kita harus saling mendoakan terus-menerus agar lebih banyak kebaikan yang kita lakukan dibanding keburukan.” (hal 100).

KIta juga diingatkan tentang pentingnya niat. Karena dengan niat yang akan menumbuhkan kebaikan lainnya. Sebaliknya niat buruk, juga akan menimbulkan keburukan yang tidak terduga. Kita harus niat hanya karena Allah. “Hijrah itu niatnya harus karena Allah, bukan karena manusia. So, jadikan lelah kita dalam, berhijrah sebagai lillah, insya Allah bakal nikmat kita jalaninya.”  (hal 100).

Srobyong, 7 September 2018 

Wednesday, 3 October 2018

[Resensi] Orangtua Tidak Boleh Pilih Kasih

Dimuat di Kabar Madura, Senin 17 September 2018


Judul               : Still into You
Penulis             : Yenny Marissa
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : x + 330 halaman
ISBN               : 978-602-430-156-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara



Pola asuh orangtua terhadap anak memiliki dampak yang besar dalam tumbuh kembang anak. Ketika anak diasuh dengan sikap demokratis, maka hal itu bisa membangun anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Jika anak diasuh dengan sikap otoriter, maka anak akan tumbuh menjadi seorang disiplin, namun memiliki kecenderungan suka memberontah. Dan ketika diasuh dengan cara permisif—atau memberi kebebasan anak secara berlebihan—hal ini akan mendidik anak menjadi sosok yang tidak bisa dikendalikan.

Selain itu perlu kita ingat juga dalam mengasuh anak, orangtua sebisa mungkin tidak boleh bersikap pilih kasih. Orangtua harus bersikap adil kepada anak. Jangan karena anak memiliki kekurangan, orangtua lebih memanjakan anak lain yang berprestasi. Karena hal ini bisa menimbulkan sikap iri dan rendah diri kepada anak.

Novel karya Yenny Marissa ini selain mengusung tema umum—cinta—novel ini juga memadukannya dengan masalah pelik keluarga, khususnya tentang cara asuh orangtua pada anak.  Sebuah kisah yang cukup menarik dan membuat kita berpikir ulang tentang pentingnya pola asuh yang benar. Orangtua tidak boleh egois dan hanya mementingkan pemikiran sendiri, tanpa memikirkan perasaan anak.

Novel ini berkisah tentang kisah cinta remaja yang penuh intrik serta tantangan. Bagi Arkan, masa lalu sudah semestinya dihapus atau lebih kejamnya dibuang. Tidak perlu diingat-ingat apalagi sampai mengulang kisah yang sama (hal 1). Akan tetapi pemikirannya itu berubah ketika dia harus bertemu lagi dengan Revi, mantan pacarnya semasa SMP. Pertemuan kembalinya dengan sang mantan, memicu semangat Arkan untuk berusaha merebut kembali hati, cewek yang sudah pernah dia sakiti sebelumnya.

Namun pertanyaanya, berhasilkan Arkan dengan misinya, ketika Revi yang sekarang sangat berbeda dengan sosok yang dikenalnya di masa lalu? Belum lagi sikap Revi yang jutek, cuek dan galak pada Arkan.   Di sini kesabaran Arkan benar-benar diuji. Apakah dia akan tahan dengan sikap Revi  atau memilih menyerah dan melepaskan masa lalunya.

Di sisi lain, Revi yang saat itu tengah dikejar-kejar Arkan, malah sering jalan bareng dengan Nathan, sahabat Arkan, karena mereka kebetulan berada pada satu klub yang sama. Siapa sih yang bisa menjamin ketika cowok dan cewek sering jalan berdua? Inilah hal yang paling Arkan takutnya.  Keduanya adalah sosok yang sangat penting bagi dirinya.

Sedang bagi Revi sendiri, saat itu dia tidak ingin diganggu dengan urusan cinta. Satu luka yang saat ini tengah dia hadapi lebih dari cukup. Dia tidak mau menambah lagi, jika nantinya dia kembali disakiti. Revi seolah merasa trauma, akibat sikap orang-orang yang paling dekat dengan dirinya. Dia tidak pernah menyangka, pilihannya untuk tinggal bersama orangtuanya, ternyata malah menyakitinya.

Sejak dulu Revi hanya ingin keberadaanya diakui oleh orangtuanya. Dia ingin mendapat perhatian yang sama sebagaimana Shevi, kakaknya. Sayangnya harapan itu tidak pernah dia dapat bahkan ketika mereka tinggal bersama. Shevi tetap satu-satunya orang yang diperhatikan orangtuanya. Yang lebih menyakitkan adalah, ketika tanpa sengaja dia mengetahui alasan  orangtuanya, kenapa tiba-tiba dia diminta tinggal bersama mereka, setelah bertahun-tahun dititipkan di rumah neneknya. (hal 117-118).  Kadang Revi  berpikir apakah dia harus sakit dulu baru orangtunya peduli padanya.

Cukup seru dan bikin penasaran  dengan akhir kisahnya. Hanya saja, pada beberapa bagian novel ini terasa cukup lambat. Selain itu ada beberapa kata-kata yang menurut saya terlalu kasar diucapkan remaja. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini cukup bersih dari salah ketik. Penulis lihai dalam bermain kata. Secara keseluruhan, bagi penikmat kisah romance, novel ini bisa dijadikan salah satu pilihan.

dari kisah ini, selain kita bisa belajar tentang masalah pola asuh yang sudah saya paparkan di atas, di sini kita juga belajar pentingnya merasakan kebahagiaan dengan mensyukir apa yang kita miliki. “Sederhana saja, jika ingin bahagia, buatlah kebahagiaan itu. Jangan pernah menunggu keadaan karena keadaan itu sesuatu yang tidak pasti. Sesuatu itu abu-abau. Intinya, bahagia itu pilihan.” (hal 78).

Srobyong, 11 Agustus 2018

[Resensi] Kisah Inspiratif Perjalanan di Tanah Suci

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu 2 September 2018


Judul               : Patah Hati di Tanah Suci
Penulis             : Tasaro GK
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Juli 2018
Tebal               : viii + 332 halaman
ISBN               : 978-602-291-411-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Salah satu impian  besar dari banyak umat Islam  adalah beribadah di tanah suci. Karena di sanalah kita bisa menggenapkan rukun Islam. Kita juga bisa merasakan jejak perjuangan Nabi Muhammad ketika menyebarkan Islam.   Berkesempatan beribadah di sana, merupakan anugerah yang luar biasa. Karena Makkah dan Madinah,  merupakan rumah Allah. Tempat suci yang menyimpan banyak berkah.

Akan tetapi saat ini untuk bisa berhaji kita perlu menunggu puluhan  tahun. Hal ini terjadi karenanya melonjaknya peminat haji, sedang daya tampung di Makkah dan Madinah tidak memadahi. Dan hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, di berbagai negara atau benua lain juga mengalami keadaan yang sama. Untuk mengakali lamanya penantian masa haji, maka sebagian umat Islam memilih melakukan umrah. Karena prosesnya tidak terlalu lama dan kita tetap bisa berbidah ke tanah suci. 

Buku karya Tasaro GK ini merupakan kisah perjalan yang dia alami ketika menjejakkan di tanah suci untuk menjalankan ibadah umrah. Kisah-kisah inspiratif yang tersemat baik ketika mengunjungi Madinah juga Makkah. Berbagai pengalaman menarik yang dia alami dipaparkan dengan apik dan menarik.  Di sisi lain buku ini juga merupakan curhat penulis dalam mengenang kisah ayahnya dan luapan rindu kepada Baginda Nabi Muhammad saw.  Melalui buku ini kita bisa menikmati kisah inspiratif penulis dalam banyak aspek.

Penulis berkata, “Bagiku, seburuk apa pun keadaan di Tanah Suci. Jika itu membuat seseorang menemukan  momentum spiritualnya, masih jauh lebih bagus dibandingkan sebaliknya.” (hal 51). 

Ada kisah yang menurut saya sangat menarik, tentang suara-suara anak kecil yang membuat penulis akhirnya terbangun dan menjalankan shalat malam di Masjid Nabawi. Ada pula, kejadian tidak terduga, di mana penulis mendapat kucuran dana dari para sahabatnya, setelah dia sempat menyedekahkan uangnya demi menolong orang lain, sebelum berangkat bahkan ketika sudah di Makkah-Madinah. Tidak kalah menarik, ada juga peringatan tegas yang didapat penulis, ketika hatinya merasa kurang kyusuk saat beribadah.

Kisah-kisah ini menjadi penanda, bahwa Allah selalu memerhatikan umat-Nya. Allah membalas langsung apa yang kita niatkan dan apa yang sudah kita perbuat.  Selain beberapa kisah tersebut, tentu saja masih banyak cerita lain yang tidak kalah menarik dan menggugah.  Di sisi lain kita juga dibuat terharu akan curhatan penulis dalam mengungkap rindu juga mengungkap maaf bagi sang ayah.

Penasaran bagaimana curhatan Tasaro terhadap ayahnya? Buku ini akan menjawab semuanya. Meski sedikit banyak saya kurang suka dengan gaya bahasa bercerita penulis,  yang kurang lugas, saya terhibur dengan pesan-pesan moral yang dipaparkan penulis. Indah dan penuh hikmah.

Srobyong, 10 Agustus 2018

[Resensi] Kisah Oedipus dan Kehidupan Seorang Penggali Sumur

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 30 Agustus 2018

Judul               : The Red-Haired Woman
Penulis             : Orhan Pamuk
Penerjemah      : Rahmani Astuti
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Febaruari 2018
Tebal               :  viii + 344 halaman
ISBN               : 978-602-291-449-5
Persensi           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Memadukan kisah antara mitologi Oedipus Rex dan Hikayat Rostam dan Sohram, Pamuk menggambarkan kisah hubungan antara seorang ayah dan  anak, serta berbagai permasalahan pelik tentang negara dan kebebasan individu.  Dengan bahasa yang sederhana, kita akan digiring dengan kisah yang mendebarkan. Membuat kita tidak bisa berhenti sampai halaman buku ini habis.

Cem pada mulanya memiliki cita-cita menjadi penulis.  Namun karena satu  lain hal, Cem kemudian malah belajar  teknik geologi dan menjadi kontraktor bangunan. Semua dimulai ketika ayahnya tiba-tiba menghilang, dan ibunya berkata mereka sudah tidak bisa mengandalkan uang ayahnya. Mereka pun  pindah dari Istanbul ke Gebze.  Di sana Cem bekerja, membantu pamannya menjaga kebuh buah ceri dan persik (hal 9).

Kepindahannya itu-lah yang membuka pertemuan antara Cem dan Tuan Mahmut, seorang pengggali sumur. Cem ditawari Tuan Mahmut untuk menjadi asistennya, dengan tawaran gaji empat kali lebih banyak  daripada menjadi pengawas kebun buah. Dan pekerjaan itu hanya memerlukan waktu sepuluh hari. Mendengar tawaran itu, tentu saja Cem langsung tertarik. Meski awalnya sang ibu menolak gagasan Cem, pada akhirnya dia diizinkan pergi dengan Tuan Mahmut.

Di tempat penggalian sumur itu-lah, sebuah kisah tidak terduga terjadi dan kemudian merubah kehidupan Cem. Banyak menghabiskan waktu dengan Tuah Mahmut, membuat dia merasakan emosi yang lebih dekat dengan pria itu—laiknya seorang ayah dan anak.  Apalagi Cem memang merasa kurang dapat perhatian dari ayahnya di kala dulu. Tuan Mahmut memiliki cara tersendiri dalam mengingatkan Cem. Di antaranya dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Quran. Cem cukup menikmati semua kedekatan itu. Hingga suatu hari Cem melihat seorang wanita berambut merah—wanita yang ternyata memiliki sejarah panjang dengan kehidupan Cem.

Sejak melihat Cem yang memiliki ketertarikan pada primadona teater keliling,  sebenarnya Tuan Mahmut sudah memberikan nasihat.  “Perusak akhlak itu sudah ada di sana sejak kita datang di sini. Yang mereka lakukan hanya menari dengan menggoda dan mengucapkan lelucon-lelucon kotor untuk para prajurit. Itu tidak ada bedanya dengan rumah bordil. Jangan dekari tempat itu!” (hal 57).

Namun bukannya menurut, Cem malah semakin penasaran. Diam-diam dia kerap mengikuti perempuan berambut merah. Apalagi perempuan yang meskipun sudah memiliki suami itu nampak membuka jalan bagi Cem untuk mendekat. Lalu sebuah masalah lain muncul. Penggalian sumur yang dia lakukan dengan Tuah Mahmut ternyata belum membuahkan hasil. Dan pemilik tanah sudah semakin mendesak. Jika air tidak segera muncul mereka harus segera pergi dan bonus yang dijanjikan tidak akan diberikan. Kecuali air itu muncul.

Lalu kejadian tidak terduga muncul, membuatCem memilih pergi dengan ketakutan, karena mengira telah melakukan pembunuhan terhadap Tuan Mahmut. Dan sejak itu pula, Cem tertarik untuk  belajar teknik geologi dan mendalami kisah tentang Oedipus serta Kisah Rostam dan Sohrab—di mana berkisah tentang hubungan seorang ayah dan anak dengan nasib tragis. Cem benar-benar takut dia telah melakukan sesuatu yang kejam.

Cem hidup dalam ketakutan, mungkin suatu hari perbuatannya akan terungkap dan dia akan ditangkap karena telah membunuh Tuan Mahmut. Mungkin nasibnya akan sama seperti kisah-kisah yang pernah dia dengar—tentang Oedipus dan Kisah Rostam dan Sohrab—meski dalam versi berbeda.  Dan ketakutannya semakin memuncak, ketika tiba-tiba muncul seseorang yang mengaku sebagai anaknya.

Orhan Pamuk novelis Turki terkemuka dalam sastra pascamodern, sukses membuat kisah ini benar-benar hidup. Kisah ini dikemas dengan apik dan menarik. Kita akan dibuat menebak-nebak, apa hubungan antara Oedipus, Kisah Rostam dan Sohrab dengan kehidupan Cem.  Selain itu kita harus menebak-nebak bagaimana nasib Cem, juga bagaimana nasib Tuan Mahmut yang sebenarnya.

Tidak hanya menggabungkan kisah klasik masa lalu,  kita juga diantarkan pada polemik politik yang cukup pelik di Turki di masa itu—tentang hak setiap individu dalam berpendapat dan menentukan pilihan, juga tentang kelompok sayap kiri. Membaca kisah ini saya belajar bahwa masalah itu bukan untuk dihindari tapi dihadapi.

Srobyong, 30 Maret 2018

Thursday, 5 July 2018

[Resensi] Ketika Seorang Preman Memilih Hijrah

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 24 Juni 2018


Judul               : Hijrah Bang Tato
Penulis             : Fahd Pahdepie
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : x + 246 halaman
ISBN               : 978-602-291-433-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


“Setiap orang baik  punya  masa lalu dan setiap pendosa punya masa depan. Karenanya, semua orang berkah atas kesempatan kedua dalam hidupnya.” (hal 36).

Dalam hidup ini, setiap orang pernah melakukan kesalahan. Sekali, dua kali atau lebih. Hal itu lumrah terjadi pada manusia. Karena memang manusia tempatnya salah dan berdosa. Hanya saja, ketika kita melakukan kesalahan, akankah kita tetap memilih terjebak pada kesalahan dan terus mengulanginya?  Atau memilih hijrah, bertaubat dan memulai dari awal, membersihkan hati dan pikiran, kembali pada jalan yang benar?

Diambil dari kisah nyata, novel berjudul “Hijrah Bang Tato” ini sangat menarik dan menginspirasi.  Fahd Pahdepie, dengan gaya bercerita yang renyah, sederhana dan lugas, akan membuat kita terhanyut dalam kisah ini. Ada kesan jenaka, serius juga emosi. Kisahnya sendiri tentang bertaubatnya seorang preman. Dialah Lalan, yang kemudian lebih dikenal sebagai Bang Tato, karena tubuhnya dipenuhi tato.

Sebelumnya Lalan adalah seorang preman yang ditakuti. Namun karena melihat kematian kakeknya, dia akhirnya memilih hijrah. Dia meninggalkan segala sikap buruk yang dulu pernah dilakukan dengan memperbaiki diri. Setelah itu, dia menikah dengan Nurmah, putri seorang kiai.  Di sinilah masalahnya. Ketika dia masih menjadi preman, Lalan hidup berkecukupan. Berbeda saat ini, ketika dia bertaubat kehidupannya berada dalam kubangan kemiskinan.  Padahal dia harus menghidupi anak dan istrinya.  Beruntung dia bertemu penulis, yang sedikit banyak membantu Lalan dalam proses hijrah dan mendapat pekerjaan yang baik. Lalan mendapat kesempatan menjadi percaik kopi.

Tantangan lain yang harus dia terima adalah, pandangan masyarakat terhadap dirinya. Ketika dia mengaku bertaubat, orang-orang tidak mempercayainya. Bahkan ketika dia berniat untuk shalat di masjid, warga mencegah dia untuk masuk ke masjid. “Percuma kamu shalat karena  kalaupun kamu shalat, nggak akan diterima sama Allah lantaran badan kamu penuh tato.” (hal 69).

Keadan itu menuntut Lalan untuk mencari kebenaran, benarkah taubatnya tidak bisa diterima karena tato? Hingga akhirnya dia bertemu seorang ustad fiqih di  daerah Leuwiliang. Di mana ustad tersebut menjelaskan, “Allah mengampuni hamba-hambanya yang mau tobat.” (hal 73). Lalan pun semakin semangat untuk berubah.

Akan tetapi dalam perjalannya memperbaiki diri, kematian ibunya, membuat Lalan kembali terpuruk. Dia marah dan kecewa. Lalan kembali melarikan diri pada jalan lama.  “Saya nggak perlu jadi orang baik. Hidup saya di sini. Sejak lama hidup saya di sini. Tuhan nggak pernah mendengar doa-doa saya. Hidup ini nggak adil sama saya. Semua yang saya lakukan selama ini percuma.” (hal 199). Kejadian itu membuat Lalan mencerna kembali apa itu makna hijrah yang sebenarnya. Apakah untuk mengapus masa lalu, mengubah persepsi orang atau demi masa depan, demi kebaikan diri sendiri di mata Allah.

Saya sangat menikmati membaca kisah ini dari awal hingga akhir.  Penulis menceritakannya dengan gaya bahasa yang  sederhana dan unik. Keterlibatan penulis dalam cerita ini, menjadi warna tersendiri. Seru, membuat penasaran dan kadang membuat tertawa. Karena ide-ide yang sering ditawarkan Lalan itu sangat unik dan berbeda. Seperti ketika dia mau menggelar  sebuah konser. Di mana konsep yang dia gunakan adalah gabungan musik metal religi dengan dakwah yang apik.

Buku ini menyadarkan kepada kita, bahwa setiap orang berhak memperoleh kesempatan kedua.  Selain itu ada sindiran halus tentang keutamaan shalat yang harus dilakukan umat Islam. “Shalat harus menjadi kesadaran  bersama.  Hidup harus dijalankan dengan shalat. Ketundukan kepada Yang Maha Menguasai Segala Sesuatu harus dibuktikan dengan dua hal. Pertama, pengangungan dan ketundukan kepada Allah sebagai upaya untuk menyucikan diri. kita menyebutnya takbiratul ikhram. Kedua, komitmen untuk menyebarkan kasih sayang dan perdamaian kepada seluruh semesta, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” (hal 126).

Dan anjuran untuk tidak berburuk sangka, hanya melihat dari cover saja. “Dunia ini memang kadang-kadang tak seperti yang kita lihat di permukaannya. Pada beberapa kasus, apa yang kita sangka suci, sering kalu justru keruh dan kotor. Sebaliknya apa yang kita sangka brengsek, sering kali terasa biasa saja dibandingkan bajingan lain yang memakai topeng-topeng  kebenaran dan keadilan.” (hal 139).

Srobyong, 26 Mei 2018 

Tuesday, 22 May 2018

[Resensi] Petualangan Memburu Puspa Karsa

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 6 Mei 2018 


Judul               : Aroma Karsa
Penulis             : Dee Lestari
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : xiv + 710 halaman
ISBN               : 978-602-291-463-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Siapa yang tidak tertarik ketika mendapat informasi tentang kehebatan sebuah bunga misterius—puspa karsa—yang konon  tiap pemunculannya  bisa mengubah tata Nusantara?  Semua bermula ketika Janirah meninggalkan sebuah peti yang berisi lontar kuno. Di mana lontar itu menunjukkan fakta menarik tentang puspa karsa, yang awalnya Raras pikir hanya ada dalam dongeng, ternyata bunga itu benar-benar ada dan berada di suatu tempat yang tersembunyi.

Menariknya lagi bunga ini memiliki kegunaaan yang luar biasa. “Prosi pertama akan mengubah nasibmu. Porsi kedua akan mengubah nasib keturunanmu. Porsi ketiga akan mengubah dunia sebagaimana keinginanmu.” (hal 9).  Hal itulah yang mendorong Raras ingin membuktikan kebenaran cerita Janirah. Dia ingin memburu dan menemukan Puspa Karsa.

Maka Raras pun membuat sebuah ekspedisi yang didanai Kemara—pabrik milik Janirah yang diakuisisi olehnya. Dan dengan  tangan dinginnya itu dia berhasil membuat Kemara—pabrik yang didirikan Jarinah yang sempat diambang pailit, akibat dikelola oleh Romo—ayah Raras kembali bangkit dan semakin sukses. Ekspedisi tersebut diketuai Profesor Sudjatmiko. Sayangnya pada ekspedisi ini dia harus menelan kegagalan.  Meski begitu, Raras bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia kembali menyusun rencana baru agar bisa  menemukan puspa karsa. Apalagi dalam ekspedisi pertama, dia menemukan sebuah jalan yang mungkin bisa dia gunakan untuk menemukan puspa karsa.

Dan perjalanannya dalam upaya menemukan puspa karsa semakin lengkap ketika dia  tanpa sengaja mengenal Jati Wesi. Pria sederhana yang tinggal di TPA Bantar Gebang. Dia tidak menyangka kalau Jati memiliki indra penciuman yang sangat tajam, melebihi kemampuan putrinya—Tanaya Suma.  Bahkan karena kemampuannya itu Jati dijuluki si Hidung Tikus.

Kehidupan Jati yang awalnya penuh perjuangan, karena harus bekerja dari satu tempat ke tempat yang lain, pun berubah total ketika dia dibawa Raras ke kediamannya dan bahkan disekolahkan ke Paris. Meski dia harus membayar kemudahan itu dengan kebencian dari Tanaya Suma, yang merasa tersaing karena keahliannya dalam meracik parfum juga penciumannya yang tajam.

Namun semakin lama tinggal dengan keluarga Raras,  Jati mulai menemukan misteri tentang siapa dirinya sendiri dan masa lalu yang tidak pernah dia ketahui.  Dan semua terungkap ketika dia ikut andil dalam ekspedisi perburuan puspa karsa. Ekspedisi yang sejak awal banyak ditentang, karena memang menyimpan bahaya—mengingat dalam ekspedisi ini, para anggotanya tidak hanya berhubungan dengan manusia tapi  harus menghadapi makhluk dari lingkung lain yang tidak terlihat dan berbeda.

Namun karena keegoisan Raras, tidak ada  siapa pun yang bisa membantah.  Dan di sana-lah Jati menemkukan sebuah kenyataan yang cukup mengejutkan dan tidak pernah dia sangka sebelumnya.
Dee Lestari hadir dengan kisah yang unik—karena berani mengambil tema aroma, yang saya pikir jarang diangkat penulis. Belum lagi novel semi fantasi ini  dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan gurih. Sehingga kisah ini sukses membuat saya  terpana dan terhibur. Menegangkan dan membuat penasaran, sejak awal saya  membacanya. Rasanya saya tidak ingin berhenti sebelum mencapai finish

Dipadukan dengan masalah cinta, yang menjadi bumbu menarik dalam sebuah kisah, novel ini semakin menarik untuk diikuti. Saya suka dengan kejutan-kejutan yang ditawarkan Dee dalam mengungkap kelebat misteri yang sejak awal dia bangun.  Mengejutkan dan tidak terduga.  

Kisah ini seperti membuka kenyataan tentang sikap manusia yang selalu rakus dan ingin menguasai hal-hal yang menguntungkan. Manusia kerap egois, tidak memedulikan makhluk lain, asal dirinya bisa sukses.  Dari kisah ini juga saya belajar untuk  menjadi pribadi yang lebih menghargai pendapat orang lain.  Selain itu dari kisah ini kita diingatkan tentang bahaya sikap tamak dan egois—yang pada akhirnya akan membawa kerugian pada diri sendiri.

Srobyong, 21 April 2018