Showing posts with label Harian Bhirawa. Show all posts
Showing posts with label Harian Bhirawa. Show all posts

Thursday, 4 April 2019

[Resensi] Kisah di Tanah Seberang dan Nasionalisme

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 11 Januari 2019 


Judul               :  Tanah Seberang
Penulis             : Kurnia Gusti Sawiji
Penerbit           : Mojok
Cetakan           : Pertama, Juli 2018
Tebal               : 270 halaman
ISBN               : 978-602-1318-68-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Hidup itu seperti sungai. Sungai itu berkelok-kelok dan cabangnya, membuat kita harus memilih jalan mana yang kita tempuh dengan harus tahu bahwa kita ingin menuju satu tempat yang sama.” (hal 116).
\
Adanya masalah dalam kehidupan ini memang sudah lumrah. Karena hidup tidak mungkin selalu berjalan mulus. Ada kalanya krikil atau bantu sandungan yang menghadang.  Di mana kita disuruh memilih tentang bagaimana cara menyelesaikannya. Setidaknya itulah tema yang diangkat penulis, selain tema masalah dan konfilk keluarga yang begitu kental terasa di sini, serta tentang jati diri—masalah kebangsaan dan nasionalisme.

Dibagi dalam tiga bagian cerita, novel ini mengiring pembaca pada kisah yang seru dan menarik. Di mana kita akan dihadapkan pada cerita-cerita yang menggugah dan menginspirasi. Apalagi ketika melihat bagaimana cara mereka mencoba menyelesaikan setiap masalah yang tengah dihadapi.

Pada kisah pertama, ada Amran, Imran dan Umar yang memiliki tekad kuat untuk menyambangi Dunia Ufuk Barat yang konon menyajikan suasan yang lebih indah dari pada Dunia Ufuk Timur—tepatnya di Raja Alang—tempat tinggal mereka.  Kisah-kisah yang didongengkan Tok Mus, telah membuat mereka begitu terpesona dengan tempat itu. Tapi masalanya, sang ibu—Nur Halimah—wanita asal tanah Jawa itu, selalu melarang keinginan mereka. Ibunya akan marah besar jika ketiga putranya membahas tentang Dunia Ufuk Barat. Tentu saja ada alasan di balik larangan itu.

Pada kisah kedua berhubungan dengan masalah yang harus dihadapi pemuda bangsa yang hidup di tanah rantau. Sejak kecil Nusa memang tinggal dan tumbuh di Malaysia. Akan tetapi sejak kecil dia tetap didik untuk mencintai tanah airnya Indonesia, oleh orangtuanya. Mengingat kedua orangtuanya memang berasal dari Indonesia dan memilih merantau di Malaysia.  Dan Nusa memang tumbuh sebagai pribadi yang memiliki sikap nasionalisme.

Namun sebuah kenyataan tidak terduga yang disampaikan orangtuanya suatu hari, benar-benar mengoyak hatinya. Dia bingung dan bimbang.  Orangtuanya mengabarkan bahwa mereka ingin merubah kewarganegaraan sebagai jalan keluar dari polemik kesehatan tengah dihadapi. Mengingat tunjangan yang diberikan  pemerintah akan sangat membantu dalam upaya penyembuhan penyakit diabetes yang diderita ayahnya.

Sedang cerita yang ketiga adalah kisah Langgam  yang harus menghadapi hidup dengan penuh tantangan. Di usianya yang masih muda, dia tidak bisa menjalaninya layaknya remaja lainnya.  Karena dia harus merawat ayahnya yang mengalami  stroke, yang harus selalu melakukan cuci darah. Tidak hanya masalah itu, dia juga harus mendengar kemarahan ibunya setiap hari. Bagaimana sang ibu selalu menyalahkan ayahnya yang mulai sakit-sakitan. Puncaknya adalah ketika ayahnya tidak akan mendapat asuransi lagi dari perusahaan.

Di sini Langgam dihadapkan pada dua pilihan. Tetap memilih tinggal di Malaysia namun dengan keterbatasan setelah tidak ada topangan biaya dari ayahnya atau kembali ke Indonesia dan memulai semua dari awal. Bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah yang dihadapi? lebih lengkapnya bisa kita baca dalam buku ini.

Benang merah yang disusun penulis dalam kisah ini, membuka mata kita bahwa dalam hidup ini kita tidak bisa  hidup sendirian. Sebagai makhluk sosial kita memerlukan bantuan orang lain. Oleh sebab itu kita harus saling tolong menolong di mana pun berada.  Hal ini ditunjukkan dengan sikap Tok Mus—tokoh penting yang menurut saya menjadi benang merah dari kisah ini.

Secara keseluruhan novel ini cukup menarik untuk dibaca. gambaran kehidupan orang-orang yang hidup di perantauan dengan berbagai polemik yang harus diselesaikan, dieksekusi dengan apik dan menarik oleh penulis. Hanya saja saya kurang sreg dengan adanya bahasa melayu yang tidak ada penjelasan dalam bahasa Indonesia. Sehingga saat membaca saya harus mengira-mengira artinya. Namun lepas dari kekurangannya saya menyukai pesan tersirat dari novel ini. bahwa dalam hidup kita harus saling tolong menolong, jangan menilai seseorang dari luarnya saja dan nasionalisme tidak akan terhapus meski hidup di tanah seberang.

Srobyong, 4 Januari 2019


Friday, 4 January 2019

[Resensi] Akhlak Mulia Rasulullah yang Patut Diteladani

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 14 Desember 2018 


Judul               : Ayo Ikut Nabi Muhammad
Penulis             : Tethy Ezokanzo
Ilustrator         : Mantox Studio
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Mei 2018
Tebal               : 132 halaman
ISBN               : 978-602-03-8085-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Membahas tentang Nabi Muhammad memang tidak akan ada habisnya. Mengingat beliau merupakan suri tauladan seluruh umat Islam di dunia. Kisah hidupnya sangat menggugah. Perjuangan dakwahnya meski penuh liku dan jatuh bangun, tidak pernah membuat Nabi lelah dan putus asa. Sebaliknya beliau semakin semangat untuk berusaha mengajak orang-orang untuk menyembah Allah dan mengenalkan Islam. Belum lagi akhlak mulia Rasulullah yang patut kita teladani, agar kita menjadi mukmin yang sejati.

Buku ini dengan sudut pandang menarik, akan mengulas kembali tentang perjuangan dakwah Nabi Muhammad. Dimulai dari masa kelahiran hingga beliau kembali ke Rahmatuullah.  Selain itu akan dipaparkan juga nilai-nilai keteladanan dari akhlak mulia yang dimiliki Rasulullah. Buku yang diperuntukkan untuk anak-anak ini, saya rasa memiliki cara penyampaian yang mudah dipahami.  Di mana penulis menghadirkan kisahnya dengan  susunan kalimat yang pendek dan tidak jlimet. Kemudian tambahan adanya ilsutrasi yang cantik, yang pastinya akan membuat anak semakin semangat untuk membaca.

Akhlak mulia yang dimiliki Rasulullah itu sudah terlihat sejak muda. Hal itu bisa kita lihat dari sikapnya yang sangat jujur dan dapat dipercaya. Pada usia 12 tahun, Rasulullah sudah ikut belajar berdagang.  Karena sikapnya yang jujur, amanah dan tidak pernah curang atau berbohong, membuat banyak pedagang yang mempercayakan dagangannya untuk dibawa Nabi Muhammad saw. Hal itu pula yang akhirnya membuat beliau mendapat gelar  sebagai Al-Amiin (hal 16). Tidak hanya itu pada saat pembesar Quraisy saling bersitegang guna berlomba meletakkan Hajar Aswad, Rasulullah hadir sebagai penegah untuk memberikan solusi terbaik yang bisa diterima semua pihak.

Rasulullah adalah sosok yang sangat penyayang.  Hal ini bisa kita lihat dari sikap keseharian Rasulullah. Di mana beliau selalu memperlakukan keluarga dengan baik. Kepada putra-putrinya Rasulullah tidak segan dalam menunjukkan cinta kasihnya. Pun ke pada cucu-cucunya. Hasan dan Husein. Pernah suatu hari Rasulullah menjadi imam shalat. Saat itu para makmum heran karena sujud beliau jauh lebih lama daripada biasanya. Mereka mengira tengah terjadi sesuatu kepada Rasulullah , ternyata alasan beliau tidak segera menyudahi sujudnya itu karena keberadaan salah satu cucunya di punggung Rasulullah. Beliau tidak menurunkan atau menyingkirkannya, tapi justru membiarkan sang cucu mau turun sendiri (hal 31).

Maka tidak heran ketika Anas bin Malik ra. pernah berkata, “Tidak pernah kutemukan seorang pun yang lebih menyayangi keluarga dibanding Rasulullah.” (hal 21).   Selain selalu menyayangi keluarga, Rasulullah juga sangat menyayangi umatnya. Buktinya beliau tetap mendoakan umatnya yang tersesat yang bahkan selalu menyakitinya setiap waktu.

Akhkal mulia lain yang dimiliki Rasulullah, di antaranya adalah beliau bukanlah sosok yang tamak.  Kita pasti mengetahui bahwa Rasulullah menikah dengan Khadijah, saudagar yang kaya raya pada masa itu.  Di mana harta itu kemudian Khadijah berikan pada Rasulullah untuk dikelola. Akan tetapi meski sudah menjadi sosok yang kaya. Rasulullah tetap rajin dan tekun bekerja. Beliau mengelola  harta khadijah dengan sebaik-baiknya hingga berkembang pesat. Beliau tidak pernah menggunakan harta itu untuk berfoya-foya atau melakukan hal yang merugikan (hal 39).

Rasulullah juga memiliki jiwa penolong yang tinggi.  Ketika beliau melihat orang lain kesulitan, Rassulullah akan cepat-cepat membantunya.  Diceritakan, suatu hari Rasulullah pergi ke pasar dengan membawa delapan dirham. Tiba-tiba di sudut pasar beliau melihat seorang wanita sedang menangis, karena kehilangan uang. Maka tanpa sengan Rasulullah pun memberikan dua dirham uangnya untuk menolong wanita tersebut (hal 53).

Selain beberapa sikap yang sudah dipaparkan,  tentu saja masih banyak akhlak mulia Rasulullah  yang patut kita teladani. Seperti akhkal Rasulullah yang selalu pemaaf, selalu sabar dalam berdakwah, selalu bersikap adil dan lain sebagainya. Buku ini sangat cocok dibacakan untuk anak-anak juga semua usia. Melalui buku ini kita selain diajak menyimak sejarah hidup dan perjuangan dakwah Rasulullah, kita juga belajar tentang pendidikan akhlakul kharimah.

Srobyong, 8 September 2018

Tuesday, 4 December 2018

[Resensi] Menyikapi Kejahatan dengan Kebaikan

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 23 November 2018


Judul               : Merindu Baginda Nabi
Penulis             : Habiburrahman El Zhirazy
Penerbit           :  Republika
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : iv + 176 halaman
ISBN               : 978-602-573-419-9
Persensi           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Hidup itu seperti roda yang berputar.  Kadang kita berada di atas, kadang di bawa. Jadi kita tidak boleh terlalu sombong  dengan apa yang sudah kita capai saat ini. Semestinya kita bersikap syukur dan terus menambah iman dan ilmu untuk bekal hidup di dunia dan akhirat.

Setelah sukses dengan karya-karyanya, Kang Abik ini, kembali menelurkan karyanya lagi.  Kali ini dengan pilihan tema yang tidak terlalu berat,  yang saya pikir pas dibaca untuk usia remaja. Karena dalam novel ini lebih banyak kita akan diajak melihat potret dunia remaja dengan berbagai liku kehidupan. Serta kita diajak untuk  merenungi tentang bagaimana kita menghadapi tantangan hidup yang bisa saya katakan tidak mudah.

Seperti biasanya dengan gaya bahasa yang lugas dan mudah dipahami, Kang Abik menghadirkan  kisah yang cukup menarik dan menyentuh. Tentu saja khas dari Kang Abik adalah  nilai-nilai pembelajar hidup yang banyak,  serta adanya unsur dakwa yang sangat kental,  sebagaimana sudah menjadi ciri khas dalam setiap karyanya.

Kisahnya sendiri berpusat pada kehidupan Rifa, gadis dari tong sampah atau gadis terbuang, yang kemudian mendapatkan kasih sayang berlimpah dari orangtua asuhnya.  Dia tumbuh di  Darus Sakinah, yayasan yatim piatu yang diurus oleh Pak Nur, atas wasiat Mbah Tentrem, selaku penemu pertama Rifa. Di sanalah, Rifa didik dengan nilai-nilai agama kental serta pendidikan akhlakul karimah. Sehinga dia tumbuh menjadi gadis yang bersahaja dan pintar. Berbagai prestasi telah dia raih. Bahkan dia sempat ikut pertukaran pelajar ke San jose, Amerika.

Namun ternyata ada Arum, teman sekelas Rifa, yang memiliki  rasa iri dan dengki terhadap Rifa. Apalagi dalam nilai akademisnya selalu kalah dari Rifa. Oleh karena itu dia berusaha agar Rifa bisa tinggal kelas, karena pertukaran pelajar.

“Peraturan kedisiplinan harus ditegakkan tanpa pandang bulu, Bu! Jangan ada yang jadi anak emas pihak sekolah! Nanti akan bikin suasana tidak sehat, Bu!” (hal 39).

Tidak hanya itu Arum juga berusaha mencelakakan Rifa dengan mengirim seseorang, hingga Rifa mengalami kecelakan motor.  Arum juga tidak segan menyingkirkan orang-orang yang membela dan melindungi Rifa.  Namun begitu, Rifa tetap memilih sabar dan tetap berbuat baik kepada Arum. Dia selalu ingat dengan pesan ibunya.

“Di dunia ini isinya tidak hanya orang baik, ya ada orang jahat (buruk). Jadi   orang baik atau orang jahat itu pilihan. Jadilah orang yang baik. Kalau kami dinakali orang ya biarkan saja, nggak usah dibalas.  Yang penting kamu tidak nakal dan berbuat nakal kepada orang lain. Kalau kamu dijahati orang ya biarkan saja, nggak usah dibalas. Yang penting kamu tidak jahat dan tidak menjahati orang lain. Kalau kamu difitnah orang ya biarkan saja, nggak usah dibalas. Yang penting kamu tidak memfitnah orang lain. Kalau kamu berbuat kebajikan tapi tidak dianggap oleh orang lain ya biarkan saja, tidak usah dipikir, sebab Gusti Allah itu Maha Adil. Kalau Allah bersamamu, apalagi yang kamu khawatirkan?” (hal 86).

Selain fokus pada kisah perjalanan hidup Rifa, akan disinggung pula tentang kerinduan umat kepada Rasulullah saw. Kerinduan yang mampu mengantarkan seseorang pada tempat yang tidak terduga. Serta kerinduan yang membuat seorang insan ingin selalu meneladani sikap Rasulullah.

Secara keseluruhan novel ini cukup ringan dan menarik untuk dibaca. Namun dari sekian banyak kelebihan yang ada, saya merasa novel ini juga memiliki banyak lubang kekurangan. Saya merasa ekseskusi cerita kurang memuaskan dan kisahnya cukup datar dan tidak ada gelombang yang berarti. Bahkan untuk pilihan judul, telah membuat saya terkecoh dengan isinya. Namun lepas dari kekurangannya, melalui novel ini kita bisa belajar tentang arti syukur, sabar dan ikhlas dalam menerima takdir.  Kita juga diajarkan untuk tetap berbuat baik, meski telah dijahati. Selain penulis juga menyisipkan pesan agar kita gemar membaca, menghindari narkoba, pornografi serta selalu semangat dalam mencari ilmu dan meraih cita-cita. Karena iman dan ilmu adalah kunci sukses dalam menghadapi tantangan hidup.

“Teman terbaik kalian  dalam menghadapi  tantangan hidup adalah iman dan ilmu. Ilmu adalah investasi terbaik yang akan terus mendatangkan keuntungan setiap saat.” (hal 89).

Srobyong, 18 November 2018

Wednesday, 17 October 2018

[Resensi] Terapi Islam agar Hidup Lebih Bermakna

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 28 September 2018


Judul               : Lepas dari Lapas Hidup
Penulis             : KH. Adrian Mafatihallah Kariem, MA
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, Maret 2017
Tebal               : xviii +446 halaman
ISBN               : 978-602-0822-242-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumi Univeristas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (hal x).

Dalam hidup ini kita tidak mungkin terhindar dari berbagai masalah.  Silih berganti berbagai masalah akan hadir dan menjadi bumbu kehidupan kita. Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Apakah kita siap untuk mengatasinya atau memilih pasrah menyerah dengan keadaan yang ada.  

Kita pasti menyadari bahwa untuk menjadi sosok yang pandai bersyukur, sabar dan ikhlas bukanlah perkara mudah. Namun, bukan berarti kita tidak bisa melakukannya. Islam sebagai ajaran suci memberikan terapi kehidupan, sarat kebahagian sejati yang menjadi dambaan setiap insan. Buku ini hadir menyajikan risalah-risalah indah agar hidup kita tak gundah, bisa lepas dari lapas masalah. Siap tampil berjuang mencari solusi tidak terisolasi dari masalah (hal xi).

Di antaranya, kita bisa memulainya dengan berlatih bersyukur.  Di sadari atau tidak banyak orang yang berbahagia tetapi belum tentu bersyukur, sebaliknya orang yang bersyukur hidupnya dijamin akan berbahagia. Syukur memilih kekuatan bagi kita dalam menghadapi berbagai masalah yang kita hadapi.   Perlu kita catat orang yang senantiasa bersyukur dengan apa yang ada akan tetap survive dalam keadaan snang dan susah sekalipun. Perjalanan hidupnya diberikan kekuatan keberanian melewati tantangan, walau batu karang kebencian dan fitnah menghadang (hal 10).

Dengan bersyukur maka kita akan tumbuh sukap qanaah (kepuasan jiwa), kemudian akan tercipta istiqamah (konsisten) dan memiliki semangat intropeksi sebagai senjata ampuh melumpuhkan musuh keserakahan dan keangkuhan. Di sisi lain sikap syukur, akan mendekatkan kita kepada Allah (hal  11). 

Penulis menjelaskan, bahwa “hamba yang bersyukur, lisannya kana bertutur teratur, pikirannya terukur, pergerakannya sesuai alur, hatinya tertanam sifat-sifat luhur. Sebaliknya, hamba yang kufur, lisannya akan ngelantur, pikirannya ngawur, hatinya takabur, tingkahnya lakunya tidak tercerminkan budi pekerti yang luhur, sudah pastinya hidupnya akan hancur lebur.” (hal 16).

Kemudian kita harus membiasakan berterima kasih. Berterima adalah ajaran mengagumkan yang menjadikan seseorang beruntung dan hidup tambah babagia, hati lega, lapang jiwa. Tahu berterima kasih menunjukkan bahwa kita termasuk pribadi yang mulia, lepas dari kata terhina, gengsi, perasaan malu. Kita tidak perlu merasa malu ketika mendapat bantuan orang lain. Sebaliknya kita harus bersyukur dengan mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang telah menolong kita.  Kita mengucapkan hamdalah atas rahmat yang Allah berikan.

Tidak kalah penting adalah berbakti kepada orangtua. Kita pasti sudah sering mendengar bahwa rida Allah terletak pada ridah orangtua dan murka Allah terletak pada kemurkaan orangtua. Maka sudah semestinya kita harus selalu berbuat baik dan jangan pernah sekali-kali membatah orangtua. Dari rida mereka-lah hidup kita bisa menjadi berkah. Sebaliknya jika kita bersikap kasar dan bahkan durhaka, maka dipastikan hidup kita pun jadi tidak berkah, rezeki sulit didapat, kehidupan penuh masalah, kesukaran selalu menghadang langkah kita.

Selain beberapa hal yang sudah dipaparkan tentu saja masih banyak risalah lain yang sangat membangun dan memotivasi. Semisal tentang pentingnya memiliki keyakinan tinggi dari motivasi diri bahwa tidak ada yang tak mungkin tercapai kalau tertanam tekad pasti bisa. Ada pula kepercayaan diri bahwa kita memiliki segudang keunggulan yang bisa diexplorasi untuk ditebar manfaatnya.  Atau adapula nasihat bagi kita untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap masalah.  Kita harus berani menghadapi masalah meskipun nanti hasilnya tidak sesuai harapan kita, dan masih banyak lagi.

“Kalah sebelum bertanding itu namanya kemalangan. Sebaliknya berani bertanding itu namanya indah meraih kemenangan.” (hal 149).

Buku ini sangat membantu kita untuk mulai berikhtiar dalam usaha memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.  Kita diajak untuk menjadi pribadi tangguh yang tidak mudah terbelenggu berbagai masalah. Dilengkapi dengan kisah-kisah inspiratif dan quote yang membangun, menjadi nilai lebih buku ini.

Srobyong, 18 Agustus 2018 

Wednesday, 12 September 2018

[Resensi] Revolusi Mental Sebagai Jalan Membangun Karakter Bangsa

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 24 Agustus 2018


Judul               : Bung Karno dan Revolusi Mental
Penulis             : Sigit Aris Prasetyo
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, November 2017
Tebal               : 380 halaman
ISBN               : 978-602-7926-37-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Revolusi mental dalam konteks historis jelas tidak dapat dipisahkan dengan sang konseptor, Bung Karno. Pada tahun  1950-an, dia telah melihat berbagai bibit penyakit mentalis yang menggerogoti mentalitas anak bangsa, baik di masyarakat dan pemerintahan yang dianggapnya kontra revolusi (hal 11). Oleh karena itu dalam pidato di hari kemerdekaan,  tanggal 17 Agustus 1957 Bung Karno mengajak segenap warga Indonesia untuk melakukan  revolusi mental.

“National building membutuhkan bantuannya Revolusi Mental! Karena itu, adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah.” (hal 18).

Di mana maksud revolusi mental adalah sebuah ajakan untuk melakukan perubahan dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Kita diharapkan meninggalkan sikap-sikap buruk yang akan merugikan diri sendiri juga bangsa. Dan konon gasasan Bung Karno tentang “Revolusi Mental” saat ini, tengah disemaikan dalam program Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Menilik dari sebab musabab tersebut, Sigit Aris Prasetyo mencoba menguraikan secara sederhana perihal “Revolusi Mental” melalui potret perkataan, tindakan, karakter dan kehidupan sehari-hari dari Bung Karno. Dengan harapan kita bisa meneladani dan mengimplementasikan nilai-nilai positif yang masih relevan dalam konteks kekinian sebagai upaya membangun bangsa negara yang memiliki karakter unggul.

Di antaranya Bung Karno selalu menggemborkan semangat nasionalisme kepada seluruh rakyat. Karena semangat nasionalisme-lah  yang akan menjadikan warga negara selalu mencintai dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa.  Tanpa nasionalisme sebuah bangsa seperti hidup tanpa roh. Tanpa nasionalisme sangatlah mustahil suatu bangsa dapat tumbuh sebagai bangsa besar. Bahkan sebaliknya, dapat menjadi bangsa lemah, rapuh dan mudah terombang-ambing dalam percaturan politik global (hal 26).

Kita juga harus membina kebhinekaan. Mengingat Indonesia, merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku, budaya, agama dan bahasa. Oleh karenanya kita harus menjaga  persatuan tanpa membedakan perbedaan yang ada. Bung Karno pernah berkata, “Kebhinekaan harus terus kita bina, karena justru kebhinekaan inilah unsur menjadikan Ekaan. Bhineka tunggal ika harus kita pahami sebagai satu kesatuan dialektis.” (hal 36). Dengan membina dan menjaga ke-Bhineka Tunggal Ika-an, bangsa Indonesia dapat terus bersatu dan tidak mudah terpecah belah seperti beberapa bangsa lain. 

Tidak ketinggalan, Bung Karno mengingatkan kita untuk  selalu memiliki toleransi beragama. Dia berkata, “Bhineka Tunggal Ika sudah jelas mengatur hidup soal toleransi beragama. Walau kita berbeda agama, suku hingga warna kulit tapi kita tetap satu.” (hal 47). Hal ini ditunjukkan dengan lokasi  Masjid Istiqlal yang dibangun tepat berhadapan dengan  Gereja Katedral. Inilah simbol toleransi bergama yang ingin ditunjukkan Bung Karno. Sikap Bung Karno itu kemudian mengantarkannya sebagai pemimpin negara paling toleran terhadap keberagamaan.

Selanjutnya Bung Karno mengkritisi para pelaku koruptor. Di mana dia menganggap para koruptor sebagai pengkhianat negara. Perilaku tersebut lebih buruk dan hina daripada kejahatan lainnya. Korupsi bukan kejahatan biasa, namun sebagai kejahatan luar biasa. Menurutnya seorang koruptor harus diposisikan ke dalam kasta sosial paling rendah di masyarakat, lebih rendah dari kasta sudra sekalipun (hal 56).

Dalam  pidatonya di depan Kongres Persatuan Pamong Desa, tanggal 12 Mei 1964 di Jakarta, dengan gambalang Bung Karno menista para pelaku koruptor. Bung Karno juga mewanti-wanti rakyatnya untuk tidak melakukan praktik perilaku buruk tersebut.

Selain beberapa hal tersebut, masih ada sikap-sikap yang perlu kita miliki. Seperti anjuran untuk selalu mengayomi orang kecil, selalu mandiri, meningatkan minat baca, tidak melupakan sejarah, selalu bergotong royong, berani bermimpi  dan berimajinasi serta  banyak lagi. Lalu kita juga diingatkan untuk meninggalkan sikap-sikap, seperti ketamakan, kemasalan, kemesuman, keinlanderan—selalu rendah diri, individualisme, dan ego-sentrisme. Kita dituntut untuk menjadi warga Indonesia seutuhnya, menjadi manusia pembina. Sebuah buku yang patut dibaca semua lapisan masyarakat sebagai renungan dan perbaikan diri demi mewujudkan masyarakat unggul dan berkarakter.

Srobyong, 7 Desember 2017

Friday, 24 August 2018

[Resensi] Asrama Hailsham dan Kehidupan Manusia Kloning

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 10 Agustus 2018


Judul               : Never Let Me Go
Penulis             : Kazuo Ishiguro
Penerjemah      : Gita Yulia K
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 360 halaman
ISBN               : 978-979-227-493-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Novel ini ditulis oleh Kazuo Ishiguro, pemenang nobel sastra 2017. Mengambil tema tentang masalah kloning, novel ini mengajak itu menyelami kehidupan di sebuah  asrama bernama Hailsham yang terlihat menyenangkan dari luar, namun ternyata menyimpan duri yang menyakitkan. Bagaimana tidak, meskipun di sana mereka diperlakukan dengan baik; diajari seni, olahraga dan ilmu pengetahuan, anehnya mereka tidak pernah dibiarkan untuk berhubungan langsung dengan dunia di luar asrama.

“Mungkin semua ini kedengarannya konyol, tapi kau perlu ingat, bahwa bagi kami, pada tahap itu  dalam kehidupan kami, semua tempat di luar Hailsham bagaikan negeri khayal; kami hanya punya bayangan kabur tentang dunia di luar sana dan tentang apa yang mungkin dan tidak mungkin di sana.” (hal 88).

Bisa dibilang Haisham adalah tempat untuk mengisolasi para murid di asrama tersebut.  di antaranya adalah Kathy, Ruth dan Tommy.  Mereka disiapkan untuk memberikan organ-organ tubuh kepada warga yang membutuhkan yang berada di dunia luar.  Alasan kenapa mereka diperlakukan seperti itu, adalah karena mereka ternyata manusia hasil kloning. Di mana kehidupan mereka telah diatur dan dibatasi.

Melalui ingatan Kathy yang saat ini telah berusia 31, kita akan diantarkan pada kehidupan manusia-manusia kloning, dimulai dari kelahiran, masak kanak-kanak, remaja, hingga dewasa dan meninggal. Para manusia kloning memang tidak diberi kebebasan hidup. Mereka  hidup tanpa melalui fase balita.  Dan mereka tidak bisa hidup  sampai tua, selayaknya manusia biasa. Karena mereka memiliki tanggungan untuk memberikan donor tubuh kepada orang lain. Dan hal itu hanya bisa diakukan 3 sampai 4 kali. Setelah itu mereka harus merelakan nyawa.

Selain melihat kehidupan para manusia kloning, dalam novel ini, kita juga akan dihibur dengan kisah persahabatan Kathy, Ruth dan Tommy yang berujung menjadi cinta segitiga.  Meski takdir lagi-lagi membuat kehidupan mereka penuh kejutan.  Yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana akhir kisah perjalanan tiga sahabat itu serta manusia kloning lainnya?

Novel ini cukup mengundang rasa penasaran dan membuat gregetan. Ketika mendengar pertama kali kalau novel “Never Let me Go” karya Kazuo Ishiguro akan diterbitkan di Indonesia, jujur saya merasa sangat penasaran. Karena konon di tahun 2005  majalah time menjadikannya sebagai 100 novel bahasa Inggris  terbaik.

Selain itu berbagai prestasi yang telah dicapai penulis, juga menjadi daya tarik tersendiri untuk mengenal karyanya.  Namun, kalau boleh jujur ketika akhirnya membaca buku ini saya cukup bingung dengan cerita yang ingin disampikan. Dan bisa dibilang novel ini agak membosankan. Alurnya lambat dan bertele-tele.  Karena kita hanya mengikuti perjalan masa lalu hidup Kathy hingga kembali ke kehidupannya di masa kini.

Tapi bukan berarti buku ini tidak bagus. Karena saya menyadari setiap manusia memiliki selera tersendiri dalam memilih sebuah genre buku.  Jika bagi saya kurang memuaskan, namun bagi pembaca lain buku ini bisa jadi  sangat bangus. Misalnya ketika saya menengok situs goodreas—salah satu tempat khusus bagi para penikmat buku untuk melihat berbagai buku, serta tempat para penikmati buku bisa memberi peringkat buku juga review—buku ini termasuk buku yang disukai dan mendapat banyak peringkat dari pembaca. Sebagai tambahan buku ini juga sudah diangkat ke layar lebar tahun. Dan dari beberapa tanggapan pembaca dan penikmat film, versi filmnya lebih menarik dan jelas daripada versi buku.

Namun lepas dari kekurangannya, buku ini bisa menjadi pengingat bahwa manusia semestinya memiliki hati nurani dan tidak bertindak sewenang-wenang. Kecanggihan teknologi tidak seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan diri sendiri atau demi memuaskan kesombongan.  Kecanggihan teknologi sebaiknya dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama.

Srobyong, 21 Juli 2018

Monday, 16 July 2018

[Resensi] Perlu Kesabaran dalam Merawat Penderita Skizofrenia

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 6 Juli 2018


Judul               : Cinta Suci Adinda
Penulis             : Afifah Afra
Penerbit           : Indiva Media Kreasi
Cetakan           : Pertama, Februari 2018
Tebal               : 368 halaman
ISBN               : 978-602-6334-56-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang membuat penderita mengalami halusinasi, delusi, pikiran kacau bahkan perubahan perilaku yang berbahaya. Hal ini bisa terjadi karena adanya unsur genetik, masalah psikologi, neurobilogi dalam masalah sosial.  Mengambil tema tentang kejiwaan, Afifah Afrah hadir dengan kisah yang bertutur tentang loyalitas, totalitas dan kesederhanaan.

Dalam novel ini kita akan diajak mengenal lebih dekat tentang profesi dokter jiwa. Bagaimana cara mereka menanggapi para pasien, dan bagaimana pula perasaan mereka (dokter dan perawat) ketika harus berhadapan dengan pasien-pasien gila. Melalui proses panjang dan kematangan dalam melakukan riset, penulis berhasil menghidupkan kisah ini. Kita seperti diajaka memasuki RSJ dengan segala suka dukanya.

Adinda adalah salah satu perawat di rumah sakit jiwa di Surakarta.  Kesehariannya dia harus bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang kurang waras. Ada pula dokter Irhamudin Prasetya yang tampan, pintar—bahkan mendapat gelar sebagai “Man of the Year”  hanya saja, dokter Irham ini terkenal  dingin dan menjaga jarak dengan orang-orang biasa.

Selain menjadi perawat di rumah sakit, Adinda juga merawat Brata Kusuma yang menderita skizofrenia. Meski sejujurnya apa yang dia lakukan itu sudah tidak lagi mendapat izin dari putra-putri Brata Kusuma, setelah dia dipecat karena dianggap tidak berkomepeten dalam merawat Brata Kusuma.   Tapi tetap saja Adinda nekat, dia tidak bisa membiarkan mantan majikan yang memiliki banyak jasa terhadap hidupnya itu menderita. Dia percaya jika Brata Kusuma dirawat dengan intensif pasti bisa sembuh (hal 59).

Masalah Brata Kusuma ini-lah, yang membuat Adinda nekat meminta bantuan dari dokter Irham, yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Hanya saja, setiap kali Adinda berusaha meminta bantuan, dokter Irham selalu sibuk dan tidak bisa diganggu. Dan ketika akhirnya bertemu, Adinda malah kena amukan kemarahan dari dokter itu, hingga berakhir kesalahpahaman.

Sampai sebuah kejadian  tidak terduga, membuat Adinda dan dokter Irham menyelesaikan kesalah fahaman itu. Dan karena kejadian itu pula yang akhirnya membuat dokter Irham salut dengan ketelatenan Adinda dalam merawat Brata Kusuma.  Padahal putra-putri Brata Kusuma, sendiri malah tidak peduli dengan kesehatan ayah mereka.

Akan tetapi, beberapa hari kemudian, terdengar kabar bahwa Adinda dituduh sebagai dalang penculikan Brata Kusuma. Dia ditangkap polisi dan dijebloskan ke penjara. “Adinda, lelaki itu bernama Bejo. Dia mengaku dibayar kamu untuk menculik Pak Brata dan membawanya ke indekosmu.” (hal 242).

Novel yang menarik dan mendebarkan. Sejak awal kita akan dibuat penasaran bagaimana akhir dari kisah ini.  Karena dalam novel ini cukup banyak puzzle-puzzle yang perlu kita susun untuk menemukan jawabannya.  Mengingat dalam novel ini tidak hanya tentang perjuangan Adinda dalam merawat Brata Kusuma. Namun ada hubungan apa di antara mereka, serta alasan apa yang sampai membuat Brata bisa menderetia waham paranoid dan gejala skizofrenia.

Selain itu kita juga akan dibuat penasaran kisah cinta  Irham yang cukup pelik. Dimulai dari ditinggal kekasihnya menikah, lalu tunangannya yang lebih memilih karir dan pertemuannya dengan Adinda yang sederhana dan penyabar. Penulis berhasil membuat kisah yang tidak membosankan untuk diikuti sampai akhir.

Yang menarik lagi dari novel ini adalah adanya muatan positif dan nilai-nilai hidup yang sangat membangun. Bahwa kesehatan itu sejatinya bisa kita miliki jika kita mau menjaga tiga unsur; qalbu, aqliyah dan jasadiyah. Qalbu adalah hati, jiwa aliar ruhani. Kita harus senantiasa memberi asupan qalbu dengan banyak dzikir, doa, membaca Al-Quran, shalat dan sebagainya. Aqliyah adalah akal, otak alias segala  bentuk pemikiran. Di mana otak bisa dijaga dengan memperbanyak membaca dan menulis. Kemudian jasadiyah, yaitu fisik kita.  Untuk cara menjaganya, kita harus rajin berolahraga. (hal 158-159).

Tidak hanya itu ada pula sindiran-sindir halus yang perlu kita renungkan. Kita juga diajak untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah, jangan ceroboh dan selalu sabar dalam setiap mendapat musibah. Hanya saja saya masih menemukan beberapa kesalahan tulis, serta tidak konsisten dalam pemakaian kata aku dan saya. Namun lepas dari kekurangan yang ada, novel ini bisa menjadi bahasa bacaan yang menarik untuk dibaca.

Srobyong, 2 Juni 2018 

Monday, 9 July 2018

[Resensi] Suka Duka Menjadi Seorang Ibu

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 29 Juni 2018


Judul               : Hush Little Baby
Penulis             : Anggun Prameswari
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 340 halaman
ISBN               : 978-602-385-381-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Menjadi seorang ibu itu penuh tantangan. Pertama kita harus mengandut selama sembilan bulan dengan penuh perjuangan.  Kedua adalah waktu persalinan yang harus membuat kita siap berkoban nyawa.  Ketiga masa menyusui dan mulai merawat bayi, hingga tumbuh kembang. Hal inilah yang kadangkala membuat seorang ibu merasa takut dan khawatir. Sanggupkan mereka melewati semua fase itu atau tidak.

Keadaan inilah yang pada akhirnya akan membuat seorang ibu mengalami baby blues syndrome. Yaitu kondisi gangguan mood yang dialami ibu setelah melahirkan bayi. Kondisi ini biasa memiliki ciri-ciri kondisi emosi yang tidak stabil. Seperti mudah menangis, merasa kesal, cepat lelah dan merasa tidak percaya diri, sulit beristirahat hingga berdampak enggan untuk memerhatikan bayi.

Mengambil tema baby blue syndrome yang dibadukan dengan unsur thriller, novel ini memiliki kadar ketegangan yang membuat kita terpacu untuk menyelesaikan kisah ini hingga akhir.  Memilih alur maju mundur, membuat kita penasaran dengan puzzle-puzzle yang diciptakan penulis. Kita akan bertanya-tanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia begitu takut dan depresi?

Menceritakan tentang Ruby yang memiliki segalanya. Suami tampan, kaya raya dan sangat mencintainya. Semua begitu sempurna. Lalu kehadiran Gendhis, bayi cantik yang menjadi pelengkap dalam keluarga kecil mereka. Namun, entah kenapa hal itu tidak bisa membuat Ruby  merasa tenang. Kehadiran Gendhis malah membuat Ruby mengalami hari-hari yang berat dan melelahkan.  Ruby merasa ketakutan dan marah. Gendhis membuat masa lalu dan luka yang pernah menjajahnya, perlahan muncul dan meneror dirinya. Padahal selama ini dia sudah berusaha mengubur semua pesakitan itu dengan rapi.   “Kamu boleh berbuat salah pada masa lalu, tapi bukan pada masa depan.” (hal 17).

Ingatan tentang ibu yang sejak kecil merawatnya tumpang tindih dalam kepala Ruby. Begitu pula kisah kelam yang pernah dia alami di usia lima belas tahun, yang membuat ibunya menitipkan Ruby pada Bibi Ka. Potongan frase-frase itu membuat Ruby merasa terliliy. Setiap melihat Gendhis, Rubyi merasa ada yang salah. Kenapa dia tidak merasa bahagia dengan kehadiran bayi kecil itu? Kenapa dia benci bunyi tangis bayi yang terus meminta susu dari tubuhnya? Dia hanya ingin istirahat.

Keadaan Ruby yang seperti ini, tentu saja membuat Rajata, suaminya khawatir. Apalagi sebuah insiden yang membuat Ruby hampir menenggelamkan Gendhis. Hingga akhirrnya diputuskan bahwa Ruby butuh sebuah perawatan. Melalui perawatan itu,  kesadaran Ruby  pun mulai tertata. Namun kenapa ketika dia merasa sehat dan siap menjadi ibu, semua orang seolah tidak mempercayainya? Bunda Alana, mertuanya, Bibi Ka, hingga Rajata.

Dan kepingan masa lalu yang Ruby telusuri, ternyata membuka tabir kenyataan yang tidak pernah dia duga. Khusunya lingkungan keluarga.  “Masa lalu terkadang memang tidak seperti yang kita inginkan. Tapi selalu ada cara untuk menebusnya.” (hal 59).

Menegangkan dan menghanyutkan. Permainan psikologis para tokoh, sukses membuat saya merasakan kengerian. Sejak awal, kita sudah dibuat penasaran dengan masa lalu apa yang telah terjadi kepada Ruby. Kenapa sebagai seorang wanita, tidak ada sifat keibuan yang melekat pada dirinya. Ruby malah menjadi sosok wanita yang penuh ketakutan, yang tidak siap menjadi ibu.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang lugas dan renyah, novel ini tidak susah dipahami.  Memang dalam novel ini masih ada beberapa sedikit kesalahan ketik. Dan ada bagian yang bisa ditebak dari klimaks cerita. Namun begitu, hal itu tidak mengurangi rasa penasaran untuk melanjutkan kisah ini, untuk membuka tabir puzzle yang sesungguhnya. Dan ternyata menyiapkan sebuah twist yang tidak pernah disangka.

Novel ini menyadarkan kita tentang dampak pola asuh yang salah pada anak.  Padahal lingkungan keluarga adalah pondasi awal dalam membangun karakter anak. “Yang kita petik hari ini, adalah yang kemarin kita tanam.” (hal 241).

Srobyong, 9 Juni 2018