Showing posts with label UNSA Press. Show all posts
Showing posts with label UNSA Press. Show all posts

Thursday, 30 March 2017

[Resensi] Memetik Inspirasi dari Cerpen Horor Kontemporer

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 12 Maret 2017 

Judul               : Museum Anomali
Penulis             : Kena Hanggara
Penerbit           : Unsa Press
Cetakan           : Pertama, September 2016
Halaman          : viii + 171 hlm
ISBN               : 978-602-74393-1-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


Musem Anomali merupakan karya arek Surabaya—Ken Hanggara yang kerap mendapat julukan”pabrik cerpen”—mengingat penulis ini selalu produktif dalam menulis. Dan di setiap minggu cerpen-cerpennya  tayang di media cetak atau online.    Selain itu penulis ternyata juga menulis skenario untu FTV.   Beberapa prestasi lainnya adalah, pernah menjuarai UNSA Ambasador 2015, serta peraih juara 2 kategori bahasa Indonesia di ASEAN Young Writers Award 2014.

Kegemarannya pada kisah horor dan konon sering merasakan keberadaan makhluk tak kasat mata tersebut, mendorongnya menuangkan kisah-kisah itu dalam bentuk cerpen. Kisahnya diramu dengan sentuhan sastra kontemporer— yang dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti, sastra yang hidup pada masa kini atau dalam waktu yang sama. Atau bisa dikatakan sebagai   sastra yang berusaha bergerak mendahului keadaan zamannya.  

Kumpulan cerpen ini terdiri dari 17 cerpen. Kisah-kisah dalam buku ini diramu dengan gaya khas bertutur yang unik dan memukau. Pembaca diajakan mengenal berbagai hantu yang unik beserta inspirasi yang bisa dipetik dalam kumpulan cerpen ini.

Sebagaimana kisah dalam cerpen berjudul “Dilarang Mencuri di Alam Mimpi” di sini seolah penulis mencoba mengingatkan bahwa tindakan pencuri baik dunia—di alam nyata hanya bahkan itu mimpi, selamanya merupakaan larangan. Karena mencuri adalah perbuatan salah dan tercela.  Dan pastinya setiap kejahatan akan mendapat balasan yang setimpal (hal 21).

Atau cerpen “Rahasia Perempuan Pemelihara Hantu” dalam cerpen sedikit banyak menyingung tentang  bagaimana membangun hubungan yang baik bagi pasanga. Di antaranya adalah menjaga pandangan mata agar tidak mudah terlena dalam godaan setan. Serta mengingatkan bahwa dalam sebuah hubungan kepercayaan adalah pondasi utama yang perlu dimiliki (hal 41).

Sedang pada cerpen “Kunjungan Mantan Pacar yang Menjadi Hantu”, memiliki pesan tersirat bahwa memilih jalan bunuh diri hanya karena masalah cinnta itu adalah berbuatan yang bodoh dan salah.  Kematian mungkin membawaku jauh dari rasa sakit hati, tetapi ia tidak bisa membuatku lepas dari rasa bersalah akibat berbuat bodoh (hal 59).

Tidak kalah menarik adalah “Apartemen Malaikat”  dalam kisah ini penulis mencoba menggambarkan bagaimana kehidupan akhirat. Di mana setiap manusia nantinya akan dimintai pertanggung jawaban atas segala tingkah lakunya ketika berada di bumi. Seperti hukuman bagi orang yang tidak menjaga lisannya, akan diberi makanan busuk. Selain itu wajah-wajah manusia akan sesuai dengan perilaku yang dilakukan dibumi, berdasarkan wujud binatang. Mengingat dalam ilmu mantiq (ilmu logika) manusia adalah hewan yang bisa berpikir (hal 84-86).

Lalu “Lelaki di Halte yang Memberiku Hadiah.”  Memakai sudut pandang pertama dengan tokoh utama anak kecil, membuat cerpen ini sangat asyik dinikmati. Selain itu pesan yang tersirat dan ending yang tidak terduga sangat menghibur. Di sini penulis mencoba menguraikan bahwa anak yang baik selalu dijaga oleh malaikat. 

Cerpen yang menjadi judul sampul buku, “Museum Anomali” pun tidak kalah memikat dari kisah yang lain. Dalam cerpen ini seolah penulis mewanti-wanti dalam memilik pekerjaan itu harus jelas. Jangan sampai pekerjaan yang dipilih malah merugikan bahwa bisa berujung kehilangan nyawa.  Sebagaimana yang dialami Sapono—tokoh dalam cerpen ini.

Yang menarik dari cerpen-cerpen ini adalah, pemilihan judul yang memikat dan ending yang kadang sulit ditebak.  Sehingga ada rasaya tidak rela menutup buku sebelum menyelesaikan sampai akhir.  Selain itu cover bukunya ini,  juga menambah rasa horor yang ingin ditampilkan.  Meski rasa horor  yang ditawarkan dalam buku ini akan berbeda dari cerpen horor lainnya. Tapi tetap menarik. Baca dan temukan keunikan dari karya Ken Hanggara ini.

Srobyong, 21 November 2016 

Thursday, 2 March 2017

[Resensi] Perilaku Manusia dalam Metafora Binatang

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 19 Februari 2017

Judul               : Laba-Laba yang Terus Merajut Sarangnya
Penulis             : Adi Zam Zam
Penerbit           : UNSA Press
Cetakan           : Pertama, Juli 2016
Halaman          : viii + 174 hlm
ISBN               : 978-602-74393-0-6
Peresensi         : Ratnani Latifah.


Dalam ilmu mantiq (ilmu logika) manusia dikatakan sebagai, al insanu hayawanun natiq, yang artinya manusia adalah binatang yang berakal atau bisa berpikir.  Dalam Al-quran juga disinggung, perihal orang-orang yang  zalim, kurang bersykur digambarkan setara atau lebih rendah dari binatang.

Hanya akal atau pikiran-lah yang menjadi pembeda antara manusia dan binatang. Melalui konsep ini, Adi Zam Zam penulis asal Jepara, mencoba menuangkan ide yang menggambarkan perilaku manusia melalui metafora binatang. Penulis berharap dengan adanya buku ini bisa dijadikan perenungan diri. Kumpulan cerpen ini terdiri dari 17 cerita ini sangat memikat dan penuh perenungan yang inspiratif. 

Cerpen “Laba-laba yang Terus Merajut Sarangnya” Menggambarkan persamaan nasib  perempuan yang selalu mengalah, pemaaf dan pejuang sejati.  Laksana laba-laba. Meski berkali-kali sarangnya dihancurkan, dia masih saja selalu merajut sarangnya kembali. Seperti tidak pernah merasa lelah dan sakit hati (hal 9).

Sedangkan perempuan yang dikekang suaminya, digambarkan sebagai burung  yang tekurung dalam sangkar. Mereka sama-sama terkurung dan tidak bisa terbang dengan bebas. Kisah ini bisa ditemukan dalam cerpen “Sangkar di Atas Leher.” (hal 11).

Tidak kalah menarik adalah “Lolongan Tengah Malam”. Dalam kisah ini penulis menggambarkan kesamaan nasib anjing dan perempuan pelacur di sebuah stasiun. Mereka sama-sama menunggu. Berharap sebuah pertolongan. Namun tidak seorang pun yang mau menolong.

Ada sindiran halus mengenai kebiasaan manusia yang hanya melihat seseorang dari penampilan saja. Ketika  orang memiliki jabatan, maka mereka dihormati. Berbeda jika orang itu memiliki strata rendah. Mereka hanya dianggap sampah, tidak berguna.

Atau  “Kepala Tikus”. Cerpen ini mengambarkan para koruptor sebagai seekor tikus yang selalu mengambil apa-apa yang bukan miliknya. Kisah ini dijabarkan dengan baik melalui tokoh Pak Brojo dan tokoh ‘aku’ (hal 39). 

Selain menggunakan metafora tipe manusia lewat binatang, penulis juga menggugah jiwa lewat cerpen yang sangat kental dengan unsur  religius.  Mengajarkan pembaca agar selalu menjaga lisan. “Karena prasangka buruk dan lisan yang tak terjaga hanya akan membuat kita seperti memakan daging saudara, menelan bau busuk di sepanjang masa” (hal 139).

Gaya bahasanya halus namun sangat menyentil.  Pemilihan sudut pandang, plot dan alur juga dieksekusi dengan sangat baik. Judul-judul cerpen yang memikat, mengundang rasa penasaran dan ditutup dengan twist ending yang memukau. Sebuah buku yang recomended untuk dibaca. Pesan-pesan yang tersirat dan  tersurat  dari buku ini bisa dijadikan renungan untuk memperbaiki diri.  Beberapa kelemhannya tidak mengurangi keunikan buku ini.

Srobyong, 11 November 2016 

Tuesday, 13 December 2016

[Review] Manusia, Metafora Binatang dan Sufisme

Judul               : Laba-Laba yang Terus Merajut Sarangnya
Penulis             : Adi Zam Zam
Penerbit           : UNSA Press
Cetakan           : Pertama, Juli 2016
Halaman          : viii + 174 hlm
ISBN               : 978-602-74393-0-6

Disadari atau tidak, saat ini manusia sudah mulai menunjukkan sikap-sikap yang bisa dibilang jauh dari sifat manusiawi. Ketamakan membuat manusia lupa memakai akal sehat. Saling sikut menjadi hal wajar. Bahkan bisa dibilang hukum rimba bisa jadi kembali diterapkan.   

Mengurai dari fenomena itu. Kumpulan cerpen ini hadir dengan ide unik. Mengemas cerpen dengan bumbu yang tidak biasa.  Tentang manusia, metafora binatang juga sufisme (religius). Kumpulan cerpen yang terdiri dari 17 cerita ini sangat memikat dan penuh perenungan yang inspiratif.  

Sebut saja cerpen yang berjudul “Laba-laba yang Terus Merajut Sarangnya”. Di sini digambarkan perempuan itu sama seperti laba-laba yang memiliki kesabaran yang tinggi. Tokoh perempuan dalam cerita ini berharap bisa seperti laba-laba. Di mana meski rumah rajutannya berkali-kali dirusak manusia, dia masih saja selalu merajut sarangnya kembali. Seperti tidak pernah merasa lelah dan sakit hati (hal 9). Hanya saja mampukah jika itu seorang manusia? Harus bertahan setelah digilas pengkhianatan, diabaikan setelah perjuangan keras mendidik anak-anaknya menjadi orang-orang berguna.

Berbeda lagi dengan cerpen yang berjudul “Lolongan Tengah Malam” (hal 31).  Pada cerpen ini penulis menyamakan tokoh anjing sebagai pelacur.  Dan ada sindiran halus mengenai kebiasaan manusia yang hanya melihat seseorang dari penampilan saja. Ketika  orang itu berpakaian rapi dan memiliki jabatan, maka segera saja didekati. Berbeda jika orang itu kumal tak memiliki apa-apa. Mereka hanya dianggap sampah, tidak berguna.

Sebagaimana yang kerap didapati seekor anjing ketika mencoba mencari sesuap nasi. Kebanyakan orang akan mengusir bahkan memukul. Padahal berbagi rezeki sedikit tidakalah salah atau haram dilakukan—meski anjing binatang najis.  Bukankah dulu ada seorang sahabat masuk surga karena memberi minum pada anjing?  Kita manusia seyogyanya tidak membedakan kedudukan manusia  berdasarkan tingkat sosialnya. Juga jangan sampai menyakiti binatang, karena binatang sama-sama ciptaan Tuhan.

“Kepala Tikus”. Cerpen ini juga cukup menarik.  Bahwa koruptor itu layaknya tikus. Menjabarkan kebiasaan para pemuka yang gemar mengambil sesuatu yang bukan haknya—korupsi. Juga melakukan perbuatan tak terpuji untuk bisa meraih kedudukan tinggi atau untuk mewujudkan ambisinya. Berbagai jalan dilakukan tidak peduli itu melanggar aturan.   Kisah ini dijabarkan dengan baik melalui tokoh Pak Brojo dan tokoh ‘aku’ (hal 39).

Selain menggunakan metafora tipe manusia lewat binatang, penulis juga menggugah jiwa lewat cerpen-cerpenya yang sangat kental dengan unsur  religius.   “Sang Penjinak Angin”, dalam cerpen ini termaktub pesan tentang menjadi pribadi yang bersyukur dan jangan serakah. Ketika memiliki harta lebih ada baiknya untuk berbagi pada sesama. “Kita cari secukupnya saja. Jangan sampai angin menenggelamkan kita sehingga tak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi” (hal 105).

Dan tidak kalah menarik adalah pesan tersirat dari cerpen “Lelaki yang Selalu Mencuci Hatinya dari Dendam”.  Manusia diingatkan untuk selalu menjaga lisan dan segala prasangka yang membuat hati buta.  Karena prasangka buruk dan lisan yang tak terjaga hanya akan membuat kita seperti memakan daging saudara, menelan bau busuk di sepanjang masa (hal 139).

Kumpulan cerpen ini menggambarkan realita yang sering terjadi pada masyarakat luas lewat sastra. Kesombongan, kegoisan dan kerakusan menjadi santapan sikap manusia saat ini. Memikat. Belum lagi  pilihan katanya halus namun sangat menyentil.  Pemilihan sudut pandang, plot dan alur juga dieksekusi dengan sangat baik.  Lalu judul-judul cerpen yang memikat, mengundang rasa penasaran dan ditutup dengan twist ending yang memukau, membuat pembaca akan larut dalam cerita.

Sebuah buku yang recomended untuk dibaca. Pesan-pesan yang tersirat dan  tersurat  dari buku ini bisa dijadikan renungan untuk memperbaiki diri.  


Srobyong, 7 November 2016 

Saturday, 18 June 2016

[Review] Mengungkap Perjalanan Kisah Cinta yang Terpendam

Judul             : Cinta dalam Diam yang Ingin Diceritakan
Penulis      : Dedul Faithful, Eni NN, Dedek Fidelis Sinabutar, Iken Vidya
Penerbit          : Unsa Press
Cetakan          : Pertama, Februari 2016
Halaman         : iv + 220 hlm
ISBN              : 978-602-71176-9-3

Di sebuah ruang tamu yang cukup luas, tujuh perempuan duduk di kursi yang telah disusun membentuk sebuah lingkaran. Dan di kursi paling tengah dari lingkaran, Vina Aulia duduk sambil menegakkan badannya, berdeham kecil, memastikan suara, tubuh, dan hatinya cukup kuat untuk menceritakan kisah masa lalu yang telah lama dikuburnya dengan label: cinta dalam diam.

Mereka bertujuh menamai perkumpulan kecil itu: klub penyimpan cinta dalam hati. Tempat di mana para perempuan yang pernah memiliki cinta-cinta dalam diam, cinta-cinta yang tidak pernah terucapkan, cinta-cinta yang sedih, berkumpul, lalu menjadi rahasia dan kesedihan mereka bersama. 

Bukankah setiap orang memang memiliki hati yang tidak mampu menampung semua hal yang tidak terucapkan dan terpendam sekaligus dalam waktu terlampau lama untuk dirinya sendiri?

~*~
Buku ini dikatakan sebuah kumpulan cerpan. Namun saya pribadi lebih merasa membaca sebuah novel dengan potongan kisah yang saling terkait dengan benang merah yang kental.  Apalagi tokoh dalam novel ini sama. Dan dari satu bagian memiliki kaitan.

Menceritakan tentang kisah cinta Vina Aulia. Dimulai dengan pertamuannya dengan Adreas—tetangga barunya.  Mereka berkenalan dengan cara lucu dan  kemudian menjadi dekat, karena keduanya sama-sama suka membca ‘The History of Love’. (hal. 13)  Namun, ketika Adreas lulus SMA, Andreas harus pergi. Dia mendapat beasiswa ke Australia. Hal ini tentu saja membuat Vina sedih. Sebelum dia mengungkapkan perasaan sukanya, laki-laki itu telah pergi.

Kehidupan Vina pun berlanjut. Menjalani hari-hari dengan menyimpan kenangan tentang Adreas.  Tapi tentu saja, kenangan hanyalah sebuah potret yang tidak bisa dijamah. Kenangan hanya bisa Vina simpan dalam sudut hati terdalam. Tentang Adreas dan kisah mereka yang dulu sempat ada.

Pada masa SMA, sepeninggalnya Andreas, Vina didekati Niko—sang kakak kelas.  Tapi siapa sangka, ada udang di balik batu di balik semua kedekatan itu. (hal. 37)  Dan waktu terus berjalan, yang kemudian mempertemukan Vina dengan Fidel. Namun sosok itu tiba-tiba menghilang ketika mereka sudah mengikat janji untuk saling menjadi kekasih. Sampai kemudian sebuah jawaban yang akhirnnya Vina temukan, membuat gadis itu tidak percaya.

Selain dengan Niko dan Fidel, Vina bertemu dengan berbagai macam laki-laki yang kemudian mengisi hari-harinya.   Ada Alit—si Jaket Biru. Sosok yang sangat ini Vina rengkuh untuk menapai hidup bersama. Namun perbedaan yang begitu mencolok dan larangan dari orangtua membuat mereka tak mampu membantah.

Ada pula Ihsan, lelaki religius yang sempat membuat Vina merasakan deburan jantungnya melompat-lompat. Sayangnya, cara pandang berbeda yang dimiliki Ihsan, membuat cinta itu kembali kandas.  Tentu saja semua itu membuat Vina bersedih. Kenapa setiap lelaki yang berada di sisinya, satu persatu pergi.

Padahal sebagai wanita pada  umumnya, dia pun mendamakan kekasih yang benar-benar bisa mengikrarkan janji setia dalam ikatan pernihakan.  Tapi semua itu terasa masih sangat jauh darinya. Bahkan ketika dia menerima sebuah perjodohan yang diatur kedua orangtuanya, ending yang tidak terduga kembali membuat Vina merasa nelangsa.  Lalu bagaimana kisah Vina selanjutkan? Pada siapa akhirnya hati itu akan berlabuh?

Kisah ini diturukan dengan gaya bahasa ringan sehingga mudah dicerna. Kejutan-kejutan yang ada di setiap bagian bab membuat rasa penasaran yang cukup tinggi untuk melanjutkan untuk membaca.  Dan akan ada pula kejutan di endingnya kisah.

Hanya saja saya merasa saat membaca kisah ini, belum menemukan kisah yang benar-benar membahas tentang  cinta dalam diam yang sesungguhnya. Karena  tokoh dalam kisah ini, selalu memiliki kisah berganti-ganti dengan pasangan.  Dugaan awal saya ketika melihat judulnya adalah tentang cinta dalam diam yang sangat terjaga dan bergenre religi. Ternyata saya salah. Lepas dari itu. Buku ini cukup menghibur  untuk dibaca saat bersantai.


Srobyong, 18 Juni 2016 

Wednesday, 17 February 2016

[Review] Melihat Sisi Lain Pikiran Anak dalam Kumpulan Cerpen

Judul               : Alona Ingin Menjadi Serangga
Penulis             : Masdhar Zainal
Penerbit           : UNSA press
Cetakan           : Pertama, November 2015
Halaman          : x + 145 halaman
ISBN               : 978-602-71176-5-5

Dunia anak itu selalu penuh dengan daya imajinasi yang kadang tidak pernah terbayang oleh orang-orang dewasa. J  Sejatinya menelusuri jejak dunia anak itu mengasyikkan, banyak hal-hal yang akan membuat kita tercengang dengan pemikiran-pemikiran mereka. Dalam dunia anak, mereka seolah mengajak bepetualangan dengan pemikiran-pemikiran yang absurd tapi sungguh mengejutkan.

Dan inilah sebuah kumpulan cerpen yang mencoba mengulik imajinasi anak yang mungkin tidak pernah terduga. Kumcer ini terdiri dari 14 cerpen. Di mana 13 cerpen itu sudah pernah dimuat di media cetak dan satu cerpen baru. Ditulis oleh Mashdar Zainal dengan bahasa yang renyah sehingga asyik untuk diikuti.  Serta cerita-cerita yang penuh kejutan yang menambah kenikmatan dari buku ini.

Dibuka dengan sebuah cerpen yang berjudul Alona Ingin Menjadi Serangga (hal. 1). Menceritakan tentang  gadis kecil bernama Alona. Ketika melihat Serangga tanpa sengaja di mana hujan turun, Alona terlihat begitu terkesima dengan Serangga. Betapa menyenangkannya menjadi serangga yang bisa terbang ke mana pun dan tidak akan kedinginan. Dalam kekagumannya itu, akhinya Alona pun memutuskan menjadi serangga yang bebas dengan mantap. Dia tidak lagi memedulikan mamanya. Tapi bebas seperti apa yang sebenarnya dimaksud Alona, bagaimana dia menjadi Serangga?  

Yang kedua, cerpen ini pernah dimuat di Kompas. Berjudul Laron. (hal. 9) Judul yang terlihat singkat dan tidak disangka bisa mendapatkan cerita dari hewan kecil yang kebanyakan orang dianggap sebagai binatang pengganggu.  Ada percakapan antara tokoh anak dan laron yang cukup menggugah. Hal mungkin tidak pernah kita pikirkan. Percakapan apa yang dilakukan mereka?

Lalu ada cerpen berjudul Ulat Bulu dan Kupu-Kupu (hal. 21) Cerpen yang menarik dan membuat kesan yang baik.  Diceritakan ada sepasang suami istri yang sudah memiliki bayi kecil yang lucu. Ketika sang ibu senang melihat banyak kupu-kupu di tanaman bungan, sang anak malah bersorak, “Ulat buyu! Ulat buyu!”  Hal itu tentu saja membuat suami istri itu kaget. Entah  apa alasan si kecil sehingga bersorak seperti itu.  

Ada pula cerpen berjudul Dalam Kamar Mandi (hal. 33) Bagaimana pikiran anak yang pastinya tidak pernah dibayangkan orang-orang dewasa. Ada seorang gadis kecil bernama Mira yang sengaja mengurung di kamar mandi. Dia terlalu takut ketika keluar dari kamar mandi akan membuat malu dirinnya sendiri. Takut jika dijauhi temannya, takut dimarahi gurunya dan takut jika mamanya marah. Agar hal itu tidak terjadi gadis kecil itu berharap bisa mencuci. Sebenarnya apa yang tengah dihadapi Mira itu? Kenapa dia bersikap seperti itu dan akhirnya bernapas lega ketika Bik Sari muncul?

Selain empat cerpen yang sudah dipaparkan masih ada lagi kisah-kisah yang penuh imajinasi yang tidak biasa. Menarik dan tidak terduga. Membuat berdecak karena kaget dan takjub. Bagaimana kisah-kisahnya, bisa ditemukan langsung dalam kumcer ini.

Sebuah buku yang insipiratif dan asyik untuk dibaca. Membuka gerbang imajinasi yang lain, mengantarkan pada sisi lain imajinasi anak. Buku ini juga sarat makna seperti  beberapa quote, “Yang harus kita lakukan adalah memberi ia pengajaran, bahwa di dunia ini ada beberapa hal yang tidak perlu disembunyikan. Uban bukanlah aib yang harus ditutupi. Kalau kita membelikanya cat rambut, sama artinya kita mengajarinya menyembunyikan masalah, dan bukan menyelesaikan masalah.” (hal. 62) “Rasa lapar itu lebih mengerikan dari apa pun. Rasa lapar datang dari perut. Dan perut adalah ibu dari segala kelaliman.” (hal. 66) “Manusia hidup itu tak luput dari khilaf.”(hal. 91) “Kata mama mencuri itu dosa dan bisa membuatmu masuk neraka. (hal. 114)

Beberapa kesalahan penulisan  tidak mengurangi kenikmatan dalam membaca. Recomended. Selamat membaca. 

[Review] Mengenal Mitos Lewat Kumpulan Cerpen


Judul               : Orang Bunian
Penulis             : Vendo Olvando, dkk
Penerbit           : UNSA Press
Cetakan           : Pertama, Januari 2016
Halaman          : vi + 144 halaman
ISBN               : 978-602-71176-8-6

Buku  ini merupakan kumpulan cerpen pilihan UNSA 2015.  Di mana seleksi dimulai dari Januari hingga Agustus 2015 dengan persaingan yang sangat ketat. Hingga akhirnya  bersisa 11 cerpen dengan mengambil tema  mitos  dan dongeng kontemporer yang dibukukan ini.  Dari 11 cerpen ini  ada yang merupakan  cerpen  pemenang utama dari pemilihann UNSA 2015, ada yang sebagai kategori cerpen favorit pembaca dan tata bahasa terbaik, cerpen dengan penokohan terbaik, dan cerpen dengan setting terbaik.

Inilah cerpen-cerpen pilihan yang masing-masing memiliki keunikan masing-masing; Orang Bunian, Sajak-Sajak Bulan, Lelaki yang Bertemu Kupu-Kupu Thanatos, Perempuan yang Menikahi Belik, Tuan Deputi Kincung, Bocah Rebo Wekasan. Seekor Kuda yang Melesat di Angkasa, Janin Kayu, Laki-Laki yang Terkenang Sebagai Anjing, Malaikat-Malaikat peminang dan Hantu Peminum Kopi.

Orang Bunian ini merupakan cerpen pemenang utama. Sebuah cerpen karya Vendo Olvando. Bercerita tentang seorang warga yang melihat sebuah pusaran air disungai Jambu yang terbuka lebar. Di sana dia melihat bidadari yang seolah telah menunggunya. Tempat itu sangat  indah seperti taman surga.  Dia juga disuguhi makan enak. Ketika ditawari untuk tinggal di sana dan menjadi kaum mereka, —Orang Buniandia, dia pun mengangguk. Ternyata semua yang dikatakan Warni benar, tapi ada satu hal yang tidak pernah Warni ceritakan. Entah apa yang tidak diceritakan Warni—orang yang pernah dibawa Orang Bunian. Dan siapa sebenarnya Orang Bunian itu?  (hal. 1)

Perempuan yang Menikahi Belik karya Andaru Intan. (hal. 43)  Diceritakan konon ada desa di salah satu kabupaten di Pulau Jawa yang hilang. Dulu di sana ada seorang anak ditemukan dari perempuan yang tidak bersuami. Konon katanya perempuan itu telah menikah dengan belik. Apakah masuk akal? Tentu tidak. Tapi pada kenyataannya perempuan itu setelah berkali-kali mandi di belik yang katanya pantang digunakan—kutukan, terlihat lebih cantik dan kemudian perutnya membuncit. Benarkan perempuan itu menikahi belik? Atau ada rahasia lain di balik belik?

Bocah Rebo Wekasan karya Umar Affiq (hal. 65) Pertema membaca cerita ini langsung tertarik, karena jujur mengingatkan tentang arti di balik kata rebo wekasan itu sendiri. Cerpen ini bercerita tentang seorang anak yang lahir pada hari yang kata orang merupakan waktu turunnya mala petaka di alam semesta—rebo wekasan (hal. 67) Sejak kelahiran anak itu ada saja mala petaka yang datang.  

Membaca cerpen-cerpen pilihan ini membuat saya mengingat kembali tentang mitos-mitos yang kerap mewarnai kehidupan saya sendiri. Khusunya tentang masalah rebo wekasan dan hantu peminum kopi. Lalu saya dikenalkan dengan  banyak lagi mitos yang ada di berbagai tempat. Dan ketika dituangkan dalam sebuah cerpen ternyata sangat asyik dinikmati. Apalagi jika dikemas dengan bahasa yang ringan dan ada twist endingnya.

Hanya saja saya masih menemukan beberapa kesalahan penulisan dan cetakan tulisan agak buram. Tapi lepas dari kekurangannya buku kumpulan cerpen ini recomended untuk dibaca. Temukan banyak cerita seru dan mengenal kembali berbagai mitos lewat cerpen.

Beberapa quote yang saya dapat dari membaca kumpulan cerpen ini cukup mengingatkan kita akan hakikat kematian.

  • Kematian selalu hadir dengan berbagai cara, tapi mengejutkan. Kematian serupa layang-layang yang mudah dikendalikan, tapi jadwalnya sulit ditebak. (hal. 10) [Dari cepen Sajak-Sajak Bulan_Zhaennal Fanani]
  • Keabadian hanya milik Allah (hal .11)  [Dari cepen Sajak-Sajak Bulan_Zhaennal Fanani]
  • Bagiku  kematian adalah seorang kawan laman. Sebelum dilahirkan, manusia adalah ketiadaan; wujud lain kematian. Maka ketika seseorang mati, sesungguhnya mereka hanyalah kembali kepada bentuk ala mereka; ketiadaan! (hal. 38)  [Dari cerpen Lelaki yang Bertemu Kupu-Kupu Thanatos] 

Wednesday, 29 July 2015

[Review] Menjelajahi Mitos Yang Membalikkan Realita






Judul buku      : Bumi Kuntilanak
Penulis             : Denny Herdy dan Sandza
Penerbit           : UNSA Press
Tahun Terbit    : Agustus 2014
ISBN               : 978-602-711-760-0
Halaman            : 138 (viii + 130 hal)
Harga              : 36.000

Blurb
Konflik cerita dalam kumcer ini seolah sengaja membenturkan antara kebaikan dan kejahatan, antara obsesi dan kegagalan, yang kemudian membuat tokoh-tokohnya bermetaformosa menjadi seseorang yang kalah (Yetti A.KA)
Dongeng-dongeng yang direkontruksi, mitos-mitos yang seolah-olah “diledek” dan diubah menjadi tragedi yang ceritanya cenderung “terang”.(Danu Wahyono)
Ulasan
Kumpulan cerpen ditulis dua penulis yaitu Denny Herdy dan Sandza.
Cepen Denny Herdy
Lunatic, Lulu Samak, Memelihara Burung Koreak, Dunia Setelah Senja, Kuntilanak, Dongeng Luna, Pelet Marongge.
Cepen Sandza
Membunuh Angka, Hikayat Guru Semut, Ustaz Maya,  Iblis Penolong, Bumi, Ritual Hari Buruh,  Teruntuk:  Budi di Buku Kelas Satu.

Semua cerpen di sini,  memiliki keunikan masing-masing. Menyuguhkan kisah yang tidak pernah terduga, sedari awal hingga akhir. Penulis mampu mengacak-acak emosi pembaca dari kisah yang diangkatnya. Marah, kaget, hingga geleng-geleng kepala.
Misal Lunatic; Berkisah tentang wanita paling cantik bernama Luna di Negeri Azogh. Kecantikannya membuat semua orang tunduk dan suka. Namun, entah kenapa dia malah dieksekusi—dibakar hidup-hidup bersama kucing hitam peliharaannya. Dia menjadi momok yang ditakuti warga ketika bulan purnama tiba. Entah apa yang salah dengan Luna. (Hal. 1)
Ada juga kisah lain yang tak kalah mendebarkan. Dunia Setelah Senja; cerpen ini menuturkan hilangnya anak perempuan menjelang waktu Magrib tiba. Anehnya itu bukan karena dia diculik oleh makhluk dunia lain yang sering disebut Kelong Wewe—hantu wanita yang sangat suka anak-anak.  Dia datang sendiri ke Kuta Gandok tempat tinggal para demit. Dia tidak seperti kebanyak anak-anak yang akan ketakutan pada para hantu. Dia sangat tenang dan biasa saja.  Baginya dunia setelah senja di Kuta Gandok adalah kebahagiaan yang tiada tara. Anak perempuan itu senang di sana. Kehangatan dan kasih sayang dia dapatkan di sana, bersama para hantu yang tak terkira. Entah kenapa anak perempuan itu memiliki kelainan seperti itu. Kelainan yang sebenarnya Terjadi. (Hal. 33).
Lalu tentang Kuntilanak; ini tentang kisah Si Enok. Sosok yang dulunya cantik jelita, mendadak aneh bahkan suka bertelanjang. Si Enok suka berteriak-teriak sendiri tidak bisa dikendalikan. Sesekali dia bersikap wajar namun selebihnya dia seperti orang gila yang tak dapat dikendalikan, kecantikannya berangsung hilang, dia semakin kurus. Berbagai cara sudah dilakukan untuk penyembuhannya, namun sampai harta orang tuanya mau habis Si Enok tak juga sembuh. Dia malah makin parah, tubunya itu seolah tidak hanya dia tempati sendiri tapi berbagi dengan sosok lain yang tak pernah terduga. Siapakah sosok lain itu? Kenapa harus tubuh Si Enok. Bagaimana nasib Si Enok selanjutnya. (Hal. 43)
Bumi; perjuangan suami istri yang sangat menginginkan memecahkan bumi, dengan tangis bayi dalam rahimnya. Segala cara ditempuh agar cita-cita itu terwujud nyata. Bahkan sempat terbesit oleh si wanita agar sang pria untuk mencari perempuan lain untuk memukimkan bumi di rahimnya.  Namun, sang pria tak setuju. Dia tetap berharap hanya si wanita yang akan menjadi tempat bumi yang mereka inginkan. Mereka bahkan selalu berkonsultasi dengan dokter kandungan, namun masih nihil. Sampai suatu ketika ada keanehan dalam tubuhnya. Dia merasa aneh lalu setelah diperiksa ternyata .... (Hal. 107)
“Kandungan ibu tidak sehat. Kista Ovarium dengan nama Kista Endomertium telah menghuni rahim ibu. Kista ini ...”  (Hal 110)
Ditengah keputusaaan Tuhan berkehendak lain, Rahimnya telah dihuni janin. Si wanita tak sabar menunggu buminya lahir, meski dia tahu dalam keempat purnam kista itu telah melahap sang janin. Tapi, dia tetap menunggu dan menunggu. Tak tahu kapan akan berakhir. 
Itulah sedikit tentang beberapa cerpen yang ada dalam Bumi Kuntilanak. Setiap cerpen ini memiliki keistimewaan masing-masing. Baik dari segi penyampain, isi dan kandungan yang tersirat. Semua dikemas apik hingga tak bosan untuk melanjutkan setiap pergantian halaman.  Semua memiliki kejutan yang tak pernah disangka-sangka. Menegangkan, apik, dan setiap membaca ending membuat berdecak “Oh, ternyata.”

Walau masih ada sedikit tentang kesalahan penulisan yang ada, serta sedikit kalimat-kalimat yang terkesan bulet dan perlu dibaca berulang-ulang, namun tidak mengurangi nikmat cerita yang disajikan. Buku ini patut dibaca dan dijadikan koleksi. Apalagi bagi pecinta cerita mitos dan dongeng kontemporer.
Srobyong, 2015