Showing posts with label Ririn Astutiningrum. Show all posts
Showing posts with label Ririn Astutiningrum. Show all posts

Wednesday, 18 April 2018

[Resensi] Menjadi Muslimah Tangguh dan Berdedikasi

Dimuat di Analisa Medan, Jumat 13 April 2018 



Judul               : Bismillah be  Muslimah
Penulis             : Ririn Astutiningrum
Penerbit           : Gentah Hidayah
Cetakan           : Pertama, Desember 2017
Tebal               : xiv + 362 halaman
ISBN               : 978-602-6359-97-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Siapa pun kita, kita berhak untuk berkontribusi, kita berhak berperan dalam memajukan diri dan bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baik insan adalah yang paling besar manfaatnya bagi manusia lainnya.” (hal 343).

Kemajuan zaman sadar tidak sadar telah menggeser pola pikir kita. Bahkan saat ini selain pola pikir berbagai dampak perkembangan zaman lambat laun juga mulai menggerus budaya timur yang selama ini kita pegang teguh. Oleh sebab itu, kita sebagai muslimah harus tetap teguh dalam jalan yang sudah ditentukan syariat. Boleh saja kita mengikuti perkembangan zaman, namun tentu saja dengan adanya batasan yang tidak sampai membuat kita lupa diri. 

Keprihatian akan pengaruh perkembangan zaman itulah yang akhirnya membuat penulis menyuarakan isi hatinya lewat buku ini. Di mana besar harapan penulis, para muslimah tetap teguh dan tangguh dalam memperjuangkan jati diri sebagai muslimah. Selain itu tidak lupa sebagai muslimah kita harus terus belajar untuk mengembangkan diri, agar bisa menjadi sosok yang berguna baik untuk diri sendiri juga masyarakat umum.

Buku di dengan gaya bahasa yang rapi, renyah dan lugas, membuat kita tidak cepat bosa dalam membaca. Apalagi penulis kerap kali menyisipkan kisah-kisah inspirasi yang menarik dan sangat membuka wawasan  dan bisa dijadikan teladan juga renungan untuk muhasabah diri. Sebuah buku yang menurut saya sangat patut dibaca bagi setiap muslimah, agar bisa menjadi muslimah yang tangguh juga berdedikasi tinggi. Untuk  mewujudkannya, maka kita harus mengamalkan tiga kunci yang dikenalkan penulis—yaitu keep trying, pray more dan keep smile.

Keep trying di sini berarti kita harus berani mencoba mewujudkan cita-cita yang kita miliki. Jangan pernah takut gagal.  Karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kita harua bangkit dan terus berusaha.  Jadilah pelopor sehingga bisa dijadikan teladan dan inspirasi, bahkan pahala pun ikut mengalir. “Seseorang yang menjadi pelopor atau perintis dari sebuah kebaikan, lalu banyak orang mengikuti, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala dari setiap kebaikan yang diamalkan orang yang mengikuti kebaikannya.” (hal 3).  Sebut saja Siti Khadijah—istri pertama Rasulullah—yang hingga sampai sekarang kita ketahui dan kita teladani. Atau ada juga Abu Bakar—seorang yang masuk Islam pertama kali. Ada pula Ir. Soekarno—presiden pertama kita—yang mengobarkan semangat nasionalisme.

Perlu kita ketahui, “Kesuksesan akan diraih oleh pribadi yang aktif, kreatif, dan inovatif. Mereka mampu melihat peluang, meraihnya, lalu menjadikannya sayap untuk terbang lebih tinggi.” (hal 15).  Dalam usaha meraih impian yang perlu kita tanamkan adalah sikap positif. Karena saat kita berpikir positif dan bersikap baik, maka sungguh hari-hari kita akan terasa lebih indah dan menyenangkan (hal 146).

Selanjutnya Pray More di sini kita diingatkan bahwa selain melakukan usaha, kita tidak boleh lupa berdoa. Karena berdoa tanpa usaha itu akan sia-sia dan usaha tanpa doa adalah sombong.  “Ikhtiar, doa, dan tawakalh jangan dipisahkan dalam upaya mencapai kesuksesan. Meninggalkan ikhtiar adalah alasan seorang pemalas, meninggalkan doa adalah perilaku orang sombong, dan meninggalkan tawakal adalah perilaku sok tahu.” (hal 149).

Sedangkan keep smile berarti apa pun yang terjadi dalam usaha kita ketika ingin meraih mimpi, jangan sampai kita lupa bahagia.  Yang artinya apa pun hasil yang nantinya kita raih, maka kita harus menerimanya dengan ikhlas.  Karena tugas kita adalah berusaha dan berdoa. Selanjutknya Allah-lah yang berkah memberi keputusan (hal 263).

Buku ini sangat membantu bagi kita—khususnya para muslimah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena selain tiga hal yang sudah disebutkan di atas, masih banyak pembahasan lain yang sangat memotivasi bagi para muslimah. Baik untuk pengembangan diri sendiri atau juga dalam rangka membahagiakan keluarga juga agar lebih dekat dengan Allah.

Terlebih banyak quote-quote inspratif yang sangat menggugah yang bisa dijadikan renungan. Di antaranya “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Kegagalan tidaklah menghancurkan sebab ianya memberikan banyak pelajaran berharga. Kegagalan yang sebenarnya adalah matinya keinginan untuk mencoba.” (hal 273).

Srobyong, 7 April 2018 

Sunday, 6 August 2017

[Resensi] Perjalanan Dua Hati dalam Mencari Kebenaran-Nya

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin 31 Juli 2017

Judul               : Lintang Langit pada Senja
Penulis             : Ririn Astutiningrum
Penerbit           : Laiqa, Elex Media Komputindo
Cetakan           : Pertama, Juni 2017
Tebal               : 248 halaman
ISBN               : 978-602-04-2528-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Allah itu Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Ketika kita diganjar hidup dalam lingakaran kesusahan, sudah sepantasnya kita bersabar, ikhlas dan tawakal.   Dan jika kita diganjar menjadi orang yang berada, maka seyogyanya kita harus bersyukur dan tidak terlena dengan nikmat dunia.

Membaca novel ini, kita diajarkan untuk selalu mensyukuri bagaimana pun keadaan hidup kita.  Jangan pernah kita menggungat Allah atau menyalahkan-Nya. Selain itu dalam novel ini kita juga diingatkan untuk selalu sabar dan tabah dalam menghadapi berbagai persoalaan dan rintangan hidup.  Jadikan cobaan sebagai penguat iman. Karena di balik cobaan selalu ada hikmah yang tertanam.
“Harga kehidupan kita bergantung dari kemampuan kita menerima kehidupan itu sendiri. Semakin kita bisa ikhlas dan lapang, semakin berhargalah hidup yang kita miliki.” ( hal 97).

Tidak ketinggalan dalam novel ini, penulis juga memaparkan bagaimana seharusnya orangtua yang baik dalam mendidik putra-putrinya. Bahwa dalam mendidik anak, selain memberikan materi, kasih sayang dan bimbingan orangtua itu sangat diperlukan. Mengingat orangtua adalah madrasah pertama bagi anak.  

Novel ini sendiri berkisah tentang Lintang yang merasa kesepian, karena merasa tidak dipedulikan orangtuanya, yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Hal itu-lah yang akhirnya membuat Lintang, menyalurkan kesepiannya dengan minum-minum, clubbing dan meninggalkan salat.  Ada juga Langit, terlahir menjadi orang yang tidak mampu, membuat Langit marah pada Allah. Dia merasa Allah tidak adil pada dirinya. Belum lagi cobaan berat berkali-kali menerpanya, hingga Langit semakin benci Allah.

Namun, ketika kebencian Langit semakin menggunung, dia pertemukan dengan Senja yang mengajarinya tentang hakikat cinta kepada Allah.  

“Kebencian dalam akan membuat sungai mandul tanpa aliran. Ia pun bisa menelan lautan dan membuatnya ringkai kerontang. Namun, cinta seperti gerimis yang menumbuhkan benih-benih. Hati yang basah oleh cinta kepada Allah akan mudah menumbuhkan rasa syukur atas hikmah yang senantiasa Allah kirimkan bersama musibah dan ujian.” (hal 101).

Dan Lintang, karena sebuah cobaan tidak terduga, akhirnya menuntunnya untuk mencoba memperbaiki diri.  Namun berhasilkah kedunya mempertahankan iman yang baru setitik itu, ketika tiba-tiba keduanya kembali mendapat cobaan yang mencoreng nama baik mereka?

Sebuah novel religi yang menarik. Selain memuat banyak hikmah kehidupan, novel ini juga diselipi berbagai sejarah yang menambah wawasan kita. Beberapa kesalahannya tidak mengurangi esensi dari kisah itu sendiri.

 Srobyong, 24 Juli 2017 

Friday, 2 June 2017

[Resensi] Mengenalkan Rukun Islam dengan Cara Menyenangkan

Dimuat di Analisa Medan, Jumat 12 Mei 2017 


Judul               : Yuk, Mengenal 5 Rukun Islam
Penulis             : Ririn Astutiningrum
Penerbit           : Mizania Kids
Cetakan           : Pertama, Maret 2017
Tebal               : 88 halaman
ISBN               : 978-602- 61064-07
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universits Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

Orangtua sebagai madrasah pertama, wajib mengenalkan pendidikan agama kepada anak sejak kecil. Karena pendidikan agama itu sangat penting dan akan menjadi bekal selamanya. Menjadi panduan hidup  untuk ke depannya. Di samping itu dengan mengenalkan pendidikan agama, maka seorang anak akan mengetahui tentang keutamaan berbuat baik dan meninggalkan perbuatan tercela. Karena mereka tahu Allah selalu mengawasi hamba-hamba-Nya.

Di antara dasar pengetahuan agama yang perlu diketahui anak adalah tentang rukun Islam. Di mana dengan mengenalkan rukun Islam, berarti orangtua mengenalkan anak tentang Tuhan dan kewajiban sebagai seorang muslim atau muslimah. Namun perlu dicatat dalam mengenalkannya, orangtua juga harus jeli dalam memilih metode, sehingga anak tidak merasa bosan apalagi merasa digurui. Karena anak suka belajar dengan bebas dan menyenangkan, yang mana malah akan memberi potensi mudah menyerapnya.

Maka buku “Yuk, Mengenal 5 Rukun Islam” karya Ririn Astutiningrum ini sangat cocok dijadikan rujukan bagi orangtua  yang ingin mengenalkan tentang rukun Islam. Karena dalam buku ini penulis mengenalkan tentang rukun Islam dengan cara yang unik dan menyenangkan. Memilih pendekatan infografis. Ketika anak membaca pasti akan suka dan mudah paham. Mengingat di sini selain berupa pemaparan tentang materi, buku ini juga dilengkapi gambar yang seru.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa rukun Islam adalah  adalah fondasi dasar kehidupan seorang muslim. Jika Islam ibarat rumah, rukun Islam adalah fondasinya. Semakin kuat fondasinya, semakin kuat rumah itu berdiri. Dan jika Islam seumpama sebatang pohon, rukun Islam adalah akar-akarnya. Semakin kuat akar pohon, pohon itu tak mudah tumbang (hal 10).

Lalu dipaparkan juga tentang keutamaan kalimat tauhid bagi umat Islam. Yaitu melindungi dari api, kunci dari delapan surga, merupakan zikir yang utama, dan pelindung dari godaan setan.  Selanjutnya dijelaskan juga tentang syarat-syarat syahadat baik syahadat tauhid juga syahadat rasul.  Tidak ketinggalan dijelaskan juga apa yang membatalkan syahadat dan kapan syahadat itu harus diucapkan (hal 20).

Kemudian rukun Islam ketiga yaitu shalat. Sebagaimana diketahui, salat adalah ibadah yang paling penting. Ibadah ini adalah tiang dari agamanya. Jadi sangat patut dikenalkan dan diajarkan pada anak. Dalam buku dengan sangat detail penulis menjelaskan cara beribadah. Dimulai dari syarat salat hingga gerakan shalat. Tidak ketinggalan adalah apa saja yang membatalkan shalat.

Dan yang lebih menarik adalah penulis juga menghadirkan kisah-kisah teladan yang menginspirasi juga tambahan pengetahuan baru tentang fadilah gerakan shalat, keajaiban waktu shalat dan banyak lagi.

Buku ini sangat baik dikenalkan pada anak. Namun tidak menutup kemungkinan buku ini juga bisa dibaca orang dewasa. Karena selain untuk menambah pengetahuan juga bisa dijadikan renungan untuk menilai sudahkan kita menjalankan semua rukun Islam tersebut dengan baik dan benar.

Srobyong, 8 Mei 2017 

Friday, 16 December 2016

[Resensi] Meneladani Nabi dan Rasul

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Sabtu 10 Desember 2016 


Judul               : Cerita Seru 25 Nabi dan Rasul
Penulis             : Ririn Astutiningrum (Ummu Rumaisha)
Penerbit           : Dar Mizan
Cetakan           : Pertama, Oktober 2016
Halaman          : 120 hlm
ISBN               : 978-602-420-194-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Penikmat buku dan literasi. Alumni Unisnu Jepara.

Nabi dan Rasul adalah yang diutus Allah untuk menyampaikan wahyu dan mengamalkannya. Ada 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui umat Islam.  Mengetahui kisah sejarah mereka, merupakan salah satu pengetahuan dasar yang harus diketahui sebagai umat Islam. Dan sebaiknya dikenalkan sejak dini pada anak. Karena dari kisah tersebut,  anak bisa mengambil banyak pelajaran. Di antaranya adalah tentang pendidikan karakter,  menambah iman dan meneladani kesalihan-kesalihan yang dimiliki para nabi.

Misalnya dalam kisah Nabi Nuh. Di sini ada pesan, bahwa Islam adalah agama yang lunak, penuh kasih sayang dan tidak suka membeda-bedakan. Semua makhluk memiliki derajat yang sama.  (hal 17).  Atau dalam kisah Nabi Ismail yang selalu taat pada orangtua dan perintah Allah. Serta Nabi Ayyub yang memiliki kesabaran yang luas. Meski berkali-kali dicoba dengan cobaan yang berat, Nabi Ayyub tetap sabar dan ikhlas. Dia tidak mudah berpaling meski berkali-kali digoda oleh setan. Di sini anak akan belajar tentang keteguhan hati.

Banyak keteladanan adalah kisah Nabi Muhammad SAW yang merupakan nabi terakhir.  Beliau lahir tanggal 12 rabi’ul awal tahun gajah.  Sejak kecil kehidupan Nabi Muhammad sudah penuh liku namun selalu bersabar. Beliau tumbuh menjadi seorang yang tanggung jawab dan bisa dipercaya. Hal itu yang kemudian membuat Nabi Muhammad mendapat gelar ‘al-amin’ (hal 111).

Saat ini, memang sudah banyak buku dengan tema yang sama diterbitkan. Namun buku ini memiliki keunikan tersendiri dari kebanyakan buku lain. Di mana dalam buku ini selain menjabarkan kisah para nabi dan rasul, anak juga akan dikenalkan ayat-ayat Al-Quran yang masih berhubungan dengan kisah yang diceritakan.  Ditambah lagi buku ini dilengkapi dengan berbagai permainan anak yang memiliki tujuan, mengasah otak dan kreativitas anak, serta meminimalisir kebosanan anak jika hanya terpaku pada bacaan.  Semua kisah di sini diceritakan dengan gaya bahasa yang lugas, sudah pasti akan memudahkan anak untuk memahaminya.

Srobyong, 2 Desember 2016 

Monday, 26 September 2016

[Resensi] Menjaga Cinta dengan Jalan Hijrah


Judul               : Ku Cinta Kau dan Dia
Penulis             : @DuniaJilbab & Ririn Astutiningrum
Penyunting      : Rarindra Rahman
Penerbit           : Wahyu Qalbu
Cetakan           : Pertama, Juli 2016
Halaman          : 204 hlm
ISBN               : 978-602-74138-9-4
Peresensi         : Ratnani Latifah,penikmat buku dan penyuka literasai alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Membahas cinta memang tidak akan ada habisnya. Karena cinta bagi manusia itu memang sebuah fitrah. Allah menciptakan manusia dengan menanamkan sikap cinta—welas asih. Hanya saja yang menjadi pertanyaan bagaimana menjaga cinta agar berbuah surga? Karena sejatinya cinta itu tidak mudah dipelihara.  Ada adab dan batas-batas yang harus dipatuhi ketika cinta itu datang.  Dan cinta yang paling hakiki adalah cinta pada-Nya. Menyandarkan segala cinta pada Sang Pencipta.

Berdasarkan itu, penulis mencoba mengurai cara menjaga cinta agar berbuah jalan menuju jannah—surga.  Lazim diketahui cinta itu tentang kecondongan hati yang membuat seseorang selalu ingin dekat dan bertemu orang yang dicintai.  Namun hal itu tidak bisa dilakukan jika kunci halal bernama pernikahan belum disahkan.  Di sini adalah tantangan bagi kita dalam menjaga cinta.

Dan agar cinta itu bisa berbuah surga, maka yang perlu dilakukan adalah hijrah. Dalam artian meninggalkan cinta yang belum halal itu dengan berserah pada Allah. Karena hijrah berarti   meninggalkan kekasih hati yang selama ini mengisi, mencintai, menyayangi, melengkapi dan memenuhi ruang hati dan kehidupan kita.  (hal. 27)

Dengan berhijrah kita bisa menjaga hati agar cinta yang kita miliki tidak membawa pada jalan yang salah jika memang belum disahkan—menikah. Memang berhijrah membutuhkan pengorbanan. Itu pasti. Pengorbanan yang harus kita lakukan demi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar, yakni cinta-Nya yang kelak mengantarkan kita memasuki janah al-ma’wa.  (hal. 31)  Selain itu buku ini mengingatkan bahwa jodoh itu misteri—hanya Allah yang tahu. Sebelum jodoh datang alangkah baiknya sambil menunggu adalah selalu memperbaiki diri. Karena jodoh adalah cerminan diri sendiri.  (hal. 49)

Membaca buku ini mengajarkan arti kesabaran dan keikhlas. Bahwa dalam setiap rencana Allah adalah jalan terbaik yang diberikan. Kita diajarkan untuk tidak mudah putus asa dan menjaga diri agar terhindar dari zina. Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah, tidak berkesan menggurui menambah poin keunggulan buku ini. Selain itu dalam buku ini juga dilengkapi dengan tips  dalam istiqomah dalam hijrah pada Allah. Ada  pula kisah-kisah isnpiratif para sahabat yang berjuang dalam hijrah dan menjaga diri dari

Srobyong, 24 Agustus 2016 

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Sabtu 24 September 2016



Wednesday, 15 June 2016

[Resensi] Mengenalkan Ayat-Ayat Kauniyah pada Anak Lewat Cerita

Judul               : Jejak-Jejak Misterius
Penulis             : Ririn Astutiningrum
Editor              : Hariyadi
Ilustrator         : Sisca Anggreany
Penerbit           : Tiga Adanda, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Cetakan           :Pertama Februari, 2016
Halaman          : 112 hlm                  
ISBN               : 978-602-366-128-2
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Unisnu Jepara.
Ayat kauniyah adalah ayat yang menunjukkan tentang apa yang diciptakan Allah yang terjadi di alam. Baik itu melalui peristiwa atau benda. Ayat-ayat Kauniyah perlu dikenalkan anak sejak dini. Karena jika sudah dikenalkan sejak kecil, akan mengenalkan pada anak tentang segala keagungan dan apa-apa yang diciptakan Allah.

Hal itu bisa dijadikan pendidikan awal. Pendidikan ketauhid-an. Mengenalkan pada Tuhan. Dengan mengenalkan kekuasaan Allah  sejak dini anak-anak bisa memupuk rasa cinta pada Allah dan ketaatan. Mengenalkan kekuasaan Tuhan sejak awal akan membuat pondasi yang kuat bagi tauhid anak. 

Melalui buku cerita ini, penulis ingin mengenalkan ayat-ayat kauniyah agar mudah diterima anak. Mereka bisa bermain sambil belajar. Buku ini terdiri dari  enam belas cerita anak dengan berbagai peristiwa.

Salah satunya adalah Jejak-Jejak Misterius. (hal. 5) Menceritakan tentang Irsyad dan Zahra yang sangat penasaran dengan jejak-jejak aneh yang mereka lihat di rumah nenek. Jejak itu sangat banyak dan meliuk-liuk tidak beraturan.  Mereka menduga kalau jejak itu milik anak-anak ular. Hal itu tentu saja membuat Irsyad dan Zahra khawatir dengan sang nenek. Bagaimana kalau neneknya dipatuk ular? Itulah yang mereka pikiran. Namun ketika mereka menunjukkan tentang jejak-jejak misterius itu, baik sang nenek, umi dan abinya malah tersenyum saja. Sebenarnya jejak apa yang dilihat Irsyad dan Zahra?

Dalam  kisah ini penulis menjelaskan tentang ayat kauniyah tentang keagungan Allah yang bisa menciptakan berbagai jenis hewan. Ada yang dicptakan bisa berjalan dengan melata atau dengan perut atau bisa juga berjalan dengan kaki. Selain mengandung ayat kauniyah, cerita ini juga mengajarkan tentang sikap kasih sayang pada keluarga.

Ada pula kisah Rahasia Kebun Pak Soleh. (hal. 12) Menceritakan tentang Fahri dan teman-temannya yang merasa penasaran dengan kebun Pak Soleh. Kebun Pak Soleh itu dipagari bambu, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa melihat ke kebun itu. Selain memasang pagar, kebun itu juga ditempeli tulisan “Dilarang Masuk/Berbahaya”

Keanehan itu malah mengundang rasa ingin tahu Fahri, Ervan dan Dino. Sehingga mereka memutuskan untuk melihat langsung  kebun itu. Setelah waktu Magrib, mereka benar-benar berkumpul tidak lupa membawa senter. Mereka berjalan memasuki kebun dengan hati berdebar-debar. Di sana mereka melihat banyak sekali balok-balok kayu yang ditata rapi. Ada pula batang-batang pohon kelapa pendek yang digantung di ranting pohon di kebun.

Karena sangat penasaran, Ervan mengambil sebatang kayu lalu mengorek-ngorek lubang pada salah satu balok kayu.  Tiba-tiba  sesuatu muncul dari lubang itu dan membuat mereka lari ketakutan. Mereka sungguh menyesal telah berani bertindak lancang tanpa minta persetujuan Pak Soleh dulu. Tapi sebenarnya apa yang muncul dari balok kayu itu?

Kisah ini mengenalkan tentang kekuasan Allah yang bisa menciptakan binatang yang memiliki banyak manfaat bagi manusia. Misalnya bisa menjadi obat. Dan mengajarkan agar tidak menjadi anak yang berburuk sangka pada orang lain.

Tidak kalah menarik adalah kisah Misteri Hilangnya Papa. (hal. 39)  Zelda sebal sekali karena memiliki adik laki-laki. Padahal dia membayangkan dulu memiliki adik perempuan yang lucu, imut dan tangisanya tidak keras.  Zelda beranggapan bahwa anak laki-laki itu selalu nakal seperti teman-temannya.

Suatu hari, Pasa Zelda tidak  pulang sehingga membuat Zelda sedikti repot. Dia harus membantu ibunya menjaga adik. Karena ibunya memang  sangat sibuk.  Ibunya selain mengerjakan tugas memasak dan membersihkan rumah, ibunya juga harus mengerjakan tugas papanya yang tidak pulang juga.  Zelda baru menyadari kalau tidak apa papa, dia sangat kerepotan. Tapi sebenarnya kemana perginya Papa Zelda dan Kenapa Papa Zelda pergi?

Dalam cerita ini menjelaskan tentang ayat kauniyah, bahwa Allah  memiliki kuasa untuk menciptakan apa yang dikehendaki. Memberi anak laki-laki atau perempuan adalah kekuasaanya. Selain itu cerita ini mengingatkan agar selalu bersyukur dengan apa yang diberikan Allah.

Selain tiga kisah ini masih ada tiga belas kisah lain yang tidak kalah menarik dan memiliki banyak pesan akhlak baik yang bisa diteladani.  Seperti Penyesalan Charlie Turtle,  Berjumpa Peri Naklah,  dan Misteri Taing Gaib. Setiap cerita dalam buku ini memang sangat sarat makna.


Srobyong, 24 April 2016

Dimuat di Tribun Timur Makasar, Minggu 12 Juni 2016 


Wednesday, 11 May 2016

[Resensi] Kisah Inspiratif Tentang Keikhlasan

Judul               : Selamat Berpisah Calon Imamku
Penulis             : Ririn Astutiningrum
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, Februari 2016
Halaman          : 162 hlm
ISBN               : 978-602-1337-99-8
Peresensi         : [Ratnani Latifah, penikmat buku dan penyukai literasi, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara]

Ikhlas adalah sikap menerima segala ketentuan yang diberikan Allah dengan perasaan ridha. Hanya saja untuk menjadi pribadi yang selalu ikhlas,  kadangkala tidaklah mudah. Butuh perjuangan keras serta memiliki kesabaran yang luas untuk mewujudkannya.  Dan buku ini mengajarkan tentang arti keikhlasan, lewat kisah nyata yang inspiratif. Tentang cinta, perpisahan dan kematian—khususnya bagaimana menghadapi situasi harus berpisah dengan calon imam yang sangat dicintai dan diharapkan. Dan berani mengatakan ‘selamat berpisah calon imamku’ dengan hati lapang.

Setiap orang pasti ingin selalu berada di sisi orang yang dicintainya. Namun ketika Allah belum mengizinkan dua hati saling bertaut apakah manusia bisa menuntut? Di sinilah tantangannya. Apakah orang yang mendapat cobaan itu bisa bersikap ikhlas dan sabar, atau malah menggungat bahkan bisa jadi berputus asa memilih jalan yang salah, seperti bunuh diri atau bermain dukun. Padahal Allah selalu mengingatkan bahwa ujian itu selalu disesuaikan dengan kadar kemampuan iman seseorang. (hal. 15)

Poin penting dalam menghadapi cobaan yang diberikan Allah adalah harus  memiliki pemikiran yang positif. Karena berpikir positif akan mengajak seseorang berjalan pada keikhlasan. Begitulah kisah-kisah yang diuraikan di sini. Mereka yang sudah begitu yakin dengan perasaan hati menuju pelaminan, namun ternyata ada jalan terjal yang membuat mereka harus berpisah.  Baik karena kematian,  pengkhianatan atau tidak direstui keluarga. Tapi mereka dengan sikap ikhlas menerima semua pilihan dengan hati lapang dan terus melangkah ke depan.

Memang banyak hal yang bisa terjadi pada saat seseorang ingin menuju pelaminan. Namun perlu diketahui bahwa cobaan adalah bukti sayang Allah pada hamba-Nya. Juga mengingatkan bahwa setiap orang memang acap kali akan merasakan sebuah kehilangan. Perlu dicatat bahwa cinta, pertemuan dan kehilangan adalah keniscayaan. Kehilangan akan selalu dialamai setiap insan. Dan wajar jika bersedih, tapi tentu jangan sampai berlebihan. Perlu disadari juga, bahwa selain berani menerima pertemuan juga harus berani  kehilangan, karena keduanya itu ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. (hal. 33)

Kisah-kisah dalam buku ini dipaparkan dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna. Banyak motivasi yang bisa diambil pembelajaran agar bisa menjadi sosok yang selalu ikhlas dan sabar. Mengingatkan bahwa dalam kehidupan kadangkala apa yang diharapkan memang tidak selalu sesuai dengan rencana yang ditetapkan Allah. Boleh jadi apa yang kamu benci itu baik untukmu, dan boleh jadi apa yang kamu suka itu malah buruk untukmu. Hanya Allah yang paling mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. (hal. 76)


Srobyong, 26 April 2016

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Sabtu, 7 Mei 2016 



Sunday, 24 April 2016

[Review] Mengenalkan Kekuasan Allah pada Anak Melalui Cerita


Judul               : Jejak-Jejak Misterius
Penulis             : Ririn Astutiningrum
Editor              : Hariyadi
Ilustrator         : Sisca Anggreany
Penerbit           : Tiga Adanda, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Cetakan           :Pertama Februari, 2016
Halaman          : 112 hlm

Mengenalkan Kekuasaan Allah pada anak termasuk pendidikan ketauhidan yang memang sudah diharuskan dikenalkan sejak dini. Agar nantinya anak-anak mengetahui kebesaran Allah dengan baik dan sudah mengakar.

Salah satu cara mudah yang bisa dilakukan untuk mengenalkan kekuasaan Allah pada anak adalah melalui buku cerita. Karena  selain tidak berat, anak tetap bisa bermain sambil belajar. Buku ini sangat cocok dijadikan referensi. Selain mengenalkan kisah-kisah yang menyimpan pengetahuan tentang kekuasan Allah juga memiliki pesan akhlakul karimah yang patut diteladani. Buku ini terdiri dari enam belas cerita yang sangat sarat makna.

Ada kisah Windy Si Pengantar Hujan. (hal. 19)  Menceritakan tentang Livy, yaitu sebatang pohon nangka.  Daun-daunnya menunduk ke bumi karena tidak tahan dengan sengatan sinar matahari. Daunnya juga berguguran di tanah. Hal itu membuat Livy sangat sedih.

Kesedihan Livy diketahui oleh Grassy, si rumput liar. Keadaannya sebenarnya juga tidak kalah menyedihkan dari Livy. Badannya mulai menguning dan sebagian kecokelatan. Grassy tidak kuat berdiri karena kekuarangan makan dan minuman. Tapi Grassy selalu berprasangka baik dan percaya Allah menyayangi mereka. Sangat berbeda dengan Livy yang malah marah. Dia benci kenapa harus ada musim kemarau yang membuat dirinya lemah.  

Cerita ini menjelaskan bahwa Allah memiliki kekuasaan untuk mengirim angin dan menggerakkan awan. Dan memiliki kekuasaan untuk menurunkan hujan. Selain itu mengingatkan agar selalu berbaik sangka pada Allah dan bersyukur dengan pemberian Allah. Bahwa setiap hal diciptakan itu memiliki manfaat masing-masing.

Ada juga cerita berjudul Teka-Teki Dzubab. (hal. 25) Mengisahkan tentang Kayla. Dia kaget ketika Roby, kakaknya meminum susu yang di dalamnya ada lalatnya. Tentu saja hal itu membuat Kayla kaget. Selama ini dia meyakini kalau lalat itu binatang yang menyebarkan penaykit.  Tapi Kakaknya malah mengatakan yang sebaliknya. Kakaknya bilang Lalat itu binatang istimewa dan tanda kebesaran.  Lalu memberikan teka-teki agar Kayla bisa menemukan kenapa Lalat disebut binatang istimewa.

Kayla disuruh mencari kata Dzubab dalam Al-Quran. Dengan pentunjuk tujuh kali putaran yang dilakukan sekali dalam satu tahun.  Kira-kira apakah Kayla bisa memecahkan teka-teki itu dan menemukan maksud kakaknya?

Dalam kisah ini menjelaskan bahwa  tidak ada yang bisa menciptakan sesuatu seperti apa yang diciptakan Allah,  meski bersatu dengan yang lain. Karena Allah adalah Maha Adidaya. Serta menjelaskan bahwa setiap apa yang diciptakan Allah itu pasti memiliki sisi baik dan buruk.

Tidak kalah seru adalah cerita Penyesalan Charlie Turtle. (hal. 46) Diceritakan kedamaian di tepi Florance lake akhir-akhir ini teranggu karena sikap  Charlie Turtle.  Charlie sekarang dikenal nakal dan sombong. Dia menyombongkan dirinya karena bisa berada di dua dunia. Darat dan laut.

Para warga sangat resah dengan sikap Charlie, padahal mereka sejatinya sangat sayang dengan Charlie. Lalu muncul Marco, burung pelican. Dia menawarkan diri untuk menyadarkan Charlie. Dia sudah memikirkan cara yang tepat agar Charlie tidak lagi sombong. Kira-kira cara apa yang akan dilakukan Marco?

Kisah ini menjelaskan bahwa Allah itu bisa memberikan petunjuk pada siapapun yang dikehendaki. Menerima hidayah atau menyemitkan dadanya. Karena Allah memang Maha Kuasa. Selain itu juga mengingatkan agar tidak memiliki sikap sombong pada makhluk lain.

Cerita-cerita dalam buku ini memang sarat makna. Selain tiga kisah itu masih banyak lagi cerita yang tidak kalah seru dan pastinya penuh pesan akhlakul karimah yang bisa dijadikan pelajaran.  Seperti Jejak-Jejak Misterius, Berjumpa dengan Peri Naklah dan banyak lagi.


Srobyong, 24 April 2016.

Thursday, 10 December 2015

[Review] Cinta Suci di Madinah


Judul Buku                  : 77 Cahaya Cinta di Madinah
Penulis                        Penulis                         : Ummu Rumaisha
Penerbit                       : Al-Qudwah Publishing
Cetakan,                      : 1, 2015
ISBN                           : 978-602-317-023-4
Harga                          : Rp. 49.000,-
Halaman                      : vii+256 halaman

Umat terdahulu adalah suri tauladan yang seharusnya kita contoh—mengidolakan kelebihan-kelebihan yang dimiliki mereka—khususnya para sahabat. Tidak dipungkiri saat ini rasa cinta terhadap sahabat-sahabat nabi mulai tergeser karena kita lebih suka mengidolakn selebritis. Selebritis terlihat lebih hebat. Kita melupakan kehebatan pada sahabat yang rela menjadi syuhada demi kemakmuran Islam. Dengan adanya buku ini penulis memaparkan harapannya agar orang-orang saat ini mulai mencoba meneladani kisah sahabat.

Buku ini akan membahas tentang kisah-kisah sahabat berdasarkan kisah nyata. Kisah yang jika kita membacanya akan membuat kita tahu tentang nikmat cinta yang paling tinggi. Cinta yang  membuat tidak bisa berpaling, ketika sudah mengetahui nikmat cinta suci.  Cinta itu akan membuat dampak ingin selalu berada didekat-Nya. Setiap detik setiap waktu. Bahkan siap mengorbankan jiwa jika memang itu perlu. Begitulah yang dirasakan para sahabat Nabi Muhammad saw. di Madinah. Ketika cinta yang dimiliki hanya disandarkan pada Allah, maka apa pun yang dilakukan itu murni untuk mengharapkan ridha-Nya.  Kecintaan yang berlimpah itu menjadikan Madinah layaknya kota suci yang disinari cahaya terang.

Cinta yang begitu dahsyat itu  terangkum dalam buku 77 Cahaya Cinta di Madinah. Buku ini memaparkan kisah-kisah para pecinta yang luar biasa. Selain memaparkan cinta kepada Allah juga mengisahkan cinta pada sesama manusia dan Rasul. Keikhlasan dan keberanian yang dimiliki sungguh patut diteladani.

Seperti kisah cinta Zainab dan Abu al-Ash bin Rabi’. (hal. 9) Mereka adalah pasangan suami istri yang saling mencintai. Namun setelah kenabian Nabi Muhammad, Zainab memilih ikhlas mengimani  agama yang dibawa ayahnya—Rasulullah saw. Berbeda dengan suaminya yang masih meempertahankan agama lamanya. Meski cinta yang ada di antara mereka tidak pernah sedikit pun berubah. Namun apa mau dikata Rasulullah meminta Abu al-Ash untuk membiarkan Zainab  ke Madinah. Mereka harus berpisah karena perbedaan keyakinan. Zainab sungguh sedih dengan perpisahan itu, apalagi dia dalam keadaan hamil. Tapi perintah Allah adalah yang utama.

Ada pula kisah cinta yang  dialami Zaid bin Haritsah. (hal. 22). Dia dulunya adalah budak Siti Khadijah, namun setelah Khadijah menikah dengan Rasulullah Zaid dibebaskan daan kemudian memeluk Islaam. Dia terkenal sebagai seorang yang rajin membaca Al-Quran, shalat malam dan puasa. Karena keimanan dan cintanya yang luar biasa itu, Zaid mendapatkan sesuatu yang tidak pernah diduga.

Kisah lainnya bisa kita baca tentang Julaibab yang menjadi rebutan bidadari. Dia bukanlah seorang yang tampan—malah lebih tepatnya dikenal dengan seorang yang buruk rupa. Lalu apa yang sebebarnya dimiliki Julaibab hingga dia bisa menjadi rebutan bidadari? Bahkan Julaibab bisa menikahi putri pemimpin Anshar yang cantik jelita.  (hal. 37)

Tak tertinggal kisah Amr bin  Uqaisy ‘Masuk Surga Tanpa Shalat’. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi. Allah memang Maha Besar. Memiliki cara tersendiri untuk mengangkat derajat hamba yang dipilih. Keburukan yang pernah dimiliki di masa lalu, bisa terhapus dengan cahaya terang yang sudah menyapa qalbu. Subhanallah. (hal. 158) Dan tidak kalah apik kisah-kisah lain yang bisa ditemukan dalam buku ini.

Kisah-kisah yang terurai di sini sungguh memancarkan sinar terang, menggetarkan hati dan bisa menjadi cambuk penambah keimanan. Banyak dari kisah yang jarang diuraikan dalam buku-buku sejarah nabi yang hampir serupa.  Apalagi yang dibahas di sini adalah utamanya cinta dari sahabat yang menyinari kota Madinah. Keunikan dari buku ini dari yang lain adalah selain memaparkan cerita-cerita yang jarang diangkat juga mengikutsertakan gambar-gambar yang disesuaikan dengan isi cerita.  Walaupun dalam pemberian gambar terkesan tidak konsisten. Karena sebagian cerita ada yang bergambar ada yang tidak.

Lepas dari kekurangan yang ada, buku ini tetap asyik untuk dinikmati. Dengan menggunakan  gaya bahasa yang mudah dipahami, penulis menceritakan kembali kisah-kisah yang begitu mengharukan. Buku ini sangat sarat makna.  Misalnya mengajarkan kepada kita untuk selalu ingat  pada Allah dan Rasul-Nya, membuat keimanan kita terpupuk dan semakin kokoh, mengajarkan keikhlasan dalam mencintai Allah, serta pada apun yang kita kerjakan. Jika cinta yang kita miliki bersandar pada Allah dan Rasul-Nya. Insya Allah, keberkahan akan selalu menyertainya. Sebuah renungan untuk  bermuhasabah diri. Menyadarkan kepada kita bahwa seyogyanya umat terdahulu adalah suri tauladan yang baik.