Showing posts with label Kabar Madura. Show all posts
Showing posts with label Kabar Madura. Show all posts

Wednesday, 17 February 2021

Resensi - Memaknai Hidup Lewat Pendakian

Dimuat di Kabar Madura, 30 Oktober 2019

Judul               : Altitude 3159 Miquelli

Penulis             : Azzura Dayana

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, September 2019

Tebal               : 288 halaman

ISBN               : 978-602-495-252-5

Peresensi         : Ratnani Latifah. Penulis dan penikmat buku asal Jepara


Hidup itu seperti jalur pendakian. Kadang mulus, kadang juga penuh jalan terjal dan tantangan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Jika ingin sukses dan berhasil meraih puncaknya, kita harus siap untuk terus bergerak  dan berjuang. Karena  ketika kita memilih stagnan, maka kita akan terus berada di jalur aman dan tidak akan berkembang, apalagi sekadar mencicipi keberhasilan.


(Biasa setelah membaca novel Mbak Azzura Dayana, tuh langsung pengen selancar mencari lokasi traveling yang dikunjungi. Salah satunya Gunung Prau. Pixcabay/ Mas Fajar) 

Bisa dibilang novel ini sedikit banyak tidak jauh berbeda dari dua novel sebelumnya—Altitude 3676; Tahta Mahameru atau  Altitude 3088; Rengganis—di mana keduanya sama-sama menawarkan tentang perjalanan pendakian. Namun jangan khwatir meski mengusung tema yang serupa, kisah yang dihadirkan penulis ini sangat berbeda.  Apalagi dengan bumbu kisah cinta yang tidak kalah seru dari pendakian itu sendiri. Novel terbaru karya penulis asal Palembang ini, sangat menarik untuk kita baca. Membaca novel ini selain kita bisa melihat dan menikmati asam manis perjuangan meraih cinta dan meraih puncak Gunung Dempo, lewat kisah ini, kita juga bisa menemukan makna kehidupan yang kadang sering kita lupakan.

(Kalau ini kawah putih di Gunung Patuha. Pixabay/Abietams) 

Fathan dan Hilda, sudah bersahabat sejak kecil. Sejak dulu mereka selalu berada di sekolah yang sama, dan tinggal di daerah yang sama. Namun perjalanan waktu, membuat kehidupan mereka berubah. Hilda yang dulunya bak putri jelita, kini berubah menjadi gadis gunung yang tangguh dan gemar bertualang. Tidak tanggung-tanggung Hilda bertualang mendaki satu gunung ke gunung yang lain.


(Kalau ini Gunung Dempo. Travelingyuk/ Wildan Carbon) 

Sebaliknya Fathan yang dulu dianggap dekil karena terlahir dari keluarga yang kurang mampu, kini tumbuh menjadi sosok yang elit yang sukses. Meski memiliki kegemaran yang sama dalam urusan traveling, tapi Fathan lebih mencintai keindahan bangunan-bangunan klasik nan megah di negara-negara yang dipenuhi bangunan tinggi dan gemerlap teknologi. Dalam kamusnya tidak ada enaknya pergi bersusah payah mendaki gunung. Namun janji lama yang pernah ia ucapkan pada Hilda serta kesadaran yang terlambat tentang perasaannya sendiri, menuntun Fathan untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini ia nikmati. Fathan  yang awam dan belum pernah sekalipun mendaki gunung, nekat ikut bergabung dengan tim Hilda, demi ingin mendapat perhatian gadis itu.


(Dan ini Danau Thebat Gheban. Tangkap Layar Pinterest/KSMTour) 

Bersama Lukman sang ketua, Hilda, Doni, Zen dan juga Rifhan, Fathan memulai babak baru dari perjalanan yang jauh dari kebiasannya. Ia harus siap dengan trek-trek  pendakian di Gunung Dempo, yang bisa dibilang sangat mendebarkan.


“Trek pendakian  termasuk cukup sulit, terjal, dipenuhi akar dan juga kadang bebatuan. Hanya ada satu bonus yaitu ketika mendekati puncak pertama. Untuk membantu memanjat trek, bisa berpegangan pada sisa batang pohon mati yang ada di kiri kanan.” (hal  96).


Secara keseluruhan novel ini sangat menarik dan seru.  Penulis berhasil menghadirkan ruh petualangan yang benar-benar nyata. Membaca buku ini kita seperti ikut terlibat langsung dalam perjalanan panjang dalam pendakian. Kita akan ikut merasakan ketegangan, ketakutan juga kebahagiaan setiap kali para tokoh berhasil menyelesaikan satu trek ke trek lainnya.


Dengan gaya bertutur yang lugas dan mudah dipahami, ia berhasil menyihir pembaca agar tidak berhenti sebelum menyelesaikan novel ini. Dan sebagaimana novel sebelumnya untuk urusan setting lokasi,  penulis yang juga memiliki kegemaran traveling, berhasil menghadirkan latar cerita yang benar-benar hidup. Dan dipadukan dengan alur campuran kita akan dibuat penasaran dengan bagaimana akhir kisah perjalanan Fathan. Apalagi dengan kehadiran bidadari lain yang berhasil mencuri perhatiannya.


Membaca kisah ini kita akan menemukan banyak sekali nilai-nilai kehidupan. Di antaranya kita diingatkan untuk selalu waspada dan tidak sombong di mana pun kiat berada.


“Tolong diingat untuk menjaga semangat, hindari sifat egois dan sombong, banyak berzikir, tidak mengeluh selama pendakian.” (hal 96-97).


Kemudian melalui pendakian ini, kita diajarkan tentang arti penting rasa syukur, setia kawan, saling tolong menolong, menghormati lingkungan dan banyak lagi. Pendakian adalah satu cara untuk memahami bahwa dalam hidup kita harus terus berjuang tak kenal lelah, jangan mudah menyerah apalagi kalah, karena jika tidak kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Beberapa kekurangan yang ada tidak mengurangi keseruan cerita.

Srobyong, 11 Oktober 2019


 

Thursday, 29 November 2018

[Resensi] Petualangan, Persahabatan dan Sejarah Masa Lalu

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 1 November 2018


Judul               : Ceros dan Batozar
Penulis             : Tere Liye
Co-Author       : Diena Yashinta
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Mei 2018
Tebal               : 376 halaman
ISBN               : 978-602-038-591-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Ketahuilah, bukan tehnik bertarung, bukan menghancurkan gunung-gunung kekuatan terbaik dunia paralel, melainkan persahabatan.” (hal 124).

Masih tentang petualangan seru tiga sahabat; Raib, Seli dan Ali dengan kekuatan masing-masing. Jika pada seri sebelumnya—(baca novel Bintang)—kita diajak menemukan pasak bumi, maka pada seri ini kita diajak bernostalgia sejenak.  Karena pada seri ini, akan hadir beberapa tokoh di masa lalu, yang nantinya akan memiliki peran penting pada seri selanjutnya, yaitu Komet. Di mana mereka akan diajarkan beberapa teknik baru yang tidak pernah mereka duga.

Novel ini sendiri terbagi akan dua cerita. Pertama tentang pertemuan Raib, Ali dan Seli dengan Ceros. Dan bagian kedua, adalah pertemuan mereka dengan Batozar.  Yang jadi pertanyaan siapa itu Ceros dan Batozar? Maka di sinilah kita bisa menemukan jawabannya.

Dikisahkan pada awalnya Raib, Seli dan Ali tengah mengikuti karyawisata sekolah. Akan tiba-tiba, karena Ali, mereka harus berpisah dari rombongan dan melakukan petualangan sendiri ke tempat tidak terduga dan penuh tantangan. Ali memang tidak pernah bisa diam dan selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Meski sudah diingatkan berkali-kali oleh Miss Selena, Seli dan Raib untuk tidak menggunakan teknologi klan lain di bumi, Ali tetap bandel.

Seperti kali ini dengan sensor dunia paralel yang dia buat, dia menemukan aktivitas dunia paralel di sekitar bangunan kuno. Kenyataan itu tentu saja membuat Ali yang selalu penasaran sangat bersemangat untuk menyelidikinya (hal 16).

Tidak punya pilihan, akhirnya Seli dan Raib pun ikut serta dengan perjalanan itu. Awalnya mereka sangat terkagum-kagum dengan sebuah tempat yang begitu indah di dasar laut. Namun tidak lama kemudian, mereka dikejutkan dengan sebuah  serangan mendadak dari dua monster. Dua monster itu terus memburu Ily, kapsul terbang yang diciptakan Ali. Berbagai upaya sudah mereka lakukan untuk mengalahkan dua monsters tersebut. Namun hasilnya nihil. Mereka tetap kewalahan dan tidak bisa berkutik di dalam kapsul. Akhirnya mereka memutuskan melawan secara terbuka dengan keluar dari kapsul. Tapi lagi-lagi mereka harus menerima kenyataan kekuatan dua  monster tersebut tidak sebanding dengan kekuatan mereka.  Mereka terpojok.

Beralih pada bagian kedua. Raib, Seli dan Ali mendengar berita bahwa ada seorang buronan  paling berbahaya dari Klan Bulan yang melarikan diri dari penjara. Dialah Batozar, yang dinyatakan telah membantai  seluruh keluarga salah satu anggota Komite Klan Bulan. Miss Selena sudah memperingatkan mereka untuk tidak berurusan dengan Batozar. Namun ternyata takdir berkata lain. Ketidaksengajaan membuat mereka mau tidak mau berhubungan dengan Batozar. 

Namun karena ketidaksengajaan itu telah membuat Raib, Seli dan Ali menyakini bahwa Batozar bukanlah seorang yang jahat. Mungkin telah ada kesalahpahaman yang membuat Batozar dicap sebagai penjahat.

Membaca novel ini kita akan dibuat penasaran dengan jalan cerita yang agar berbeda dari seri  lain  dari “Bumi”. Dan ini menjadi warna segar yang membuat saya semangat ketika membacanya. Penulis mampu menggiring pembaca untuk menyelesaikan bacaan sampai akhir.  Tentang bagaimana akhir pertualangan ketiga tokoh yang terjebak di bawah laut bersama Ceros,  atau bagaiamana Raib bisa membantu Batozar agar tidak diadili dengan salah. Tidak ketinggalan adalah sejarah tidak terduga tentang dunia paralel, yang menjadi kunci kenapa Ceros berada di bawah laut.  Menarik dan membuat penasaran.

Hanya saja ada bagian yang hemat saya tidak dijelaskan penulis lebih mendalam. Misalnya tentang bangunan kuno, yang tidak disebutkan dengan jelas namanya. Namun terlihat mengarah pada sejarah Candi Borobudur, meski ada sedikit perubahan yang dilakukan penulis.  Tapi lepas dari kekurangannya, kisah yang dituturkan tetap asyik untuk dinikmati. Fakta bahwa Tere Liye kembali mengandeng co-author, ternyata tidak mengurangi khas bahasa penulis yang mudah dipahami dan tidak jlimet.

Sindiran-sindiran halus tentang sikap manusia dan masalah politik sosial dalam novel ini sungguh patut kita renungkan dan sebagai bahan pencerahan.  Pelajaran yang bisa kita dapat dari novel ini adalah ajakan untuk  tidak mudah menyerah, selalu tulus dalam berteman, menjunjung tinggi persahabat dan tidak berburuk sangka. “Kamu tidak bisa  menilai seseorang  hanya dari  wajahnya, hanya dari penampilannya. Itu tidak adil.” (hal  180).

Srobyong, 25 Agustus 2018

Monday, 26 November 2018

[Resensi] Kritik Sosial Tentang Pemimpin Diktator

Dimuat di Kabar Madura, Senin 22 Oktober 2018


Judul               : Negeri yang Dilanda Huru-Hara
Penulis             : Ken Hanggara
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 260 halaman
ISBN               : 978-602-6651
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Sebagai pemimpin negara kita harus berusaha menyejahterakan kehidupan rakyat. Kita tidak boleh bertindak sewenang-wenang dan memanfaatkan jabatan yang kita miliki demi kebutuhan diri sendiri. Apalagi sampai menyembunyikan sejarah demi menutupi kejahatan yang telah dilakukan para petinggi.   Mengambil tema politik, novel bergenre eksperimental dan semi fantasi ini, sangat menarik untuk dibaca.  Dengan gaya bercerita yang mudah dipahami, penulis mampu menghadirkan sebuah kisah berlatar kenegaraan dengan apik.

Mugo I adalah pemimpin pertama di Negeri Fiktif Belaka. Dia memiliki peran besar dalam mencapai kemerdekaan negeri itu dari tanah penjajah. Dia memimpin dengan cukup adil dan bijaksana.  Namun ketika tambuk kepemimpinan beralih pada Mugo II, aturan-aturan sedikit diubah. Dia mengerjakan tugasnya sesuka hati seakan-akan semua yang dikendalikannya hanya hiburan (hal 29). Selain itu dalam penempatan jabatan, Mugo II sengaja mengisi sebagian besar kursi pejabat istana dengan orang yang berdarah campuran, karena dirinya juga berdarah campuran.  Mugo II hanya suka menghabiskan berbagai makanan dan segala hiburan, tanpa memedulikan kesejahteraan rakyat.

Kemudian ketika kepempimpinan berganti pada Mugo III Negara Fiktif Belaka semakin kacau balau. Apalagi sikap Mugo III ini tidak selembut ayahnya, Mugo II dan memiliki ambisi-ambisi dan sifat yang tidak stabil. Sebagaimana ayahnya dia juga menyukai sastra, dengan plot-plot rekayasa dalam berbagai buku berlatar sejarah Negeri Fiktif Belaka. Dia akan marah dan tidak segan membunuh siapa saja yang berani menulis atau membicarakan  sejarah negerinya. Karena dia khawatir kekejaman yang pernah dia lakukan bisa terbongkar.

Keadaan itulah, yang  membut Popo Gusnaldi ingin menulis sebuah novel dengan latar belakang sejarah negaranya sendiri.  Dia ingin mengungkapkan sebuah kebenaran yang telah dikubur rapat oleh para petinggi negerinya.  Yaitu tentang pembantaian masal  di kota Kalodora, hingga menewaskan banyak penduduk.  Sayangnya perjuangan Popo tidaklah mudah. Apalagi saat ini, agar bisa menerbitkan novel, seorang penulis harus berhubungan langsung dengan kerajaan.

Di mana penerbitan buku milik raja memiliki aturan, bahwa isi naskah yang ingin diterbitkan haruslah bermanfaat bagi siapa pun yang akan membacanya. Akan ada sanski-sanksi yang diberlakukan bagi para pelanggar (hal 31-32).  Namun Popo Gusnaldi tidak pernah menyerah. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, dia menyelidiki jejak-jejak sejarah sambil terus menulis buku.   Menurutnya, “Memelihara sejarah sendiri sama halnya dengan memelihara peradaban yang akan membuat kehidupan rakyat di Negeri Fiktif Belaka semakin baik.” (hal 144).

Dia juga meyakini bahwa keberadaan sebuah buku akan memiliki pengaruh besar dalam sebuah perjuangan. “Tidak ada pedang  atau tombak yang lebih tajam ketimbang hasil pekerjaan dalam menulis, maka angkatlah senjata lewat pena dan guncanglah dunia dengan senjata itu sampai mati.” (hal 145).

Maka ketika dia sudah menyelesaikan tulisannya, Popo Gusnaldi segera pergi ke istana untuk menyerahkan tulisannya. Menurut ayahnya, di sana dia akan dibantu sahabat ayanya, Hady Hamza untuk menerbitkan bukunya, tanpa adanya pencekalan. Tapi dia salah. Begitu dia menyerahkan tulisannya, Popo Gusnaldi langsung diringkus dan ditangkap. Dia mendapat berbagai siksaan yang menyakitkan.

Akan tepati siksaan itu tidak menyurutkan  keinginan Popo Gusnaldi untuk mengungkap kekejaman Mugo III. Dia ingin warga bisa terlepas dari kepemimpinan yang diktator dan kejam. Bersama Ben Asmara—paman Hady Hamza dan Guru Blewah, mereka saling bahu membahu untuk menjatuhkan Mugo III. Di sisi lain mereka juga menyelidiki apa yang sebenarnya telah terjadi pada sosok Hady Hamza yang dulu dikenal sebagai sosok ambisius ingin meruntuhkan kepemimpinan Mugo II.  Novel ini sangat menarik dan menegangkan. Penulis sukses membuat pembaca terkejut dengan akhir cerita yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Melalui novel ini kita bisa mengambil pembelajaran tentang pentingnya menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Jangan menjadi pemimpin zalim dan memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki demi kepentingan pribadi. Serta kita diajak untuk menjadi pribadi yang mencintai tanah air dan berani berjuang demi kebenaran.

Selain itu dalam buku ini ada pesan-pesan tersirat tentang keagamaan. Sebagaimana tentang kebiasaan berbohong.  “Kebohongan tidak akan membawamu ke surga. Kebohongan adalah jalan mudah untuk siapa pun menjadi lebih dekat dengan neraka.” (hal 111). Tidak ketinggalan buku ini juga membuka mata kita tentang pentingnya bergelut dengan dunia literasi. 

Srobyong, 21 Juli 2018

Sunday, 25 November 2018

[Resensi] Renungan Penuh Hikmah dari Barat

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 18 Oktober 2018 


Judul               : Sebentang Kearifan dari Barat
Penulis             : Oki Setiana Dewi
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : xxvi + 256 halaman
ISBN               : 978-602-418-173-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Orang yang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.  Merantaulah, engkau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah perjuangan.” (hal xxvi).

Mengikuti kalimat bijak yang pernah dipaparkan Imam Syafi’i, maka Oki Setiana Dewi, tidak menyia-nyiakan kesempatan ketika dirinya terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa Australia-Indonesia Instute (AII) memalui program Muslim Exchange Program (MEP) dan The Goethe Institute (Lembaga Budaya Republika Federal Jerman) melalui program Kehidupan Kaum Muslim di Jerman, yang bekerjasama dengan Universitas Paramdina. Dari sana dia bisa mengenal lebih dalam tentang kehidupan masyarakat di Australia dan Jerman. Selain itu dia juga mendapat kesempatan untuk menjelajahi bumi Andalusia (Spanyo) dalam sebuah program pembangunan masjid di Sevilla, A Tile for Sevilla.

Pengalaman itu pun kemudian dia himpun dalam sebuah yang kini kita baca—“Sebantang Kearifan dari Barat”. Menurut Oki sebuah pengalaman dan ilmu akan lebih baik jika dibagikan kepada khalayak umum. Karena bisa jadi dari pengalaman itu akan menjadi inspirasi dan memicu semangat banyak orang untuk belajar dan terus memperbaiki diri. Al-Hasan bin Ali pernah berkata, “Jika engkau mendapatkan kebaikan atau melakukan kebaikan, maka sebutkanlah dan ceritakanlah di depan saudaramu yang kamu percayai bahwa ia akan mengikuti jejak yang baik tersebut.”

Diceritakan dengan gaya bahasa santai, renyah dan memikat, akan membuat kita betah dalam membacanya. Kisah-kisahnya menggetarkan hati, menyadarkan kita bahwa kita tidak bisa menilai sesuatu hanya dari luarnya saja.  Kita juga diingatkan bahwa  kita  bisa belajar di mana dan dari mana saja.  Serta perbedaan bukanlah halangan untuk bersahabat, saling menghormati dan menyayangi. 

Islam di negara Barat, tidaklah sama dengan Islam di Indonesia, yang memang mayoritas penduduknya Muslim. Apalagi setelah Islamphobia mulai menjangkit banyak masyarakat luar, akibat  ulah para oknum, yang mencoba merusak citra Islam yang mencintai perdamaian.  Kesalahpahaman pun akhirnya terjadi. Di mana kita sering menyangka banyak orang Barat yang kemudian antipati dan tidak menyukai umat Muslim.  Mereka bersikap rasis, radikal bahkan bersikap diskriminasi kepada kaum muslim di negara Barat.

Namun ternyata dugaan kita keliru. Di Australia penduduknya memiliki rasa toleransi yang sangat tinggi. Mereka saling menghormati kepercayaan masing-masing penduduk tanpa bersikap rasis apalagi mendiskriminasi agama lain. Meskipun Australia adalah negara sekuler, mereka tetap menanamkan pendidikan akhlak di setiap sekolah.  mereka tidak pernah mengabaikan nilai-nilai kebaikan.

“Jika ada teman kalian melakukan kejelakan atau keburukan, maka jangan benci orangnya, tapi bencilah perbuatannya. Sama halnya jika ada orang Islam atau agama apa pun itu melakukan kesalahan, maka jangan salahkan Islamnya atau agamanya. Karena pada dasarnya semua agama mengajarkan untuk berbuat baik, untuk menciptakan kedamaian, untuk menebarkan cinta kasih kepada sesamanya.” (hal 44).

Di Jerman, kita bisa melihat bahwa negara itu sangat ramah. Mereka menerima para pengungsi dengan terbuka tanpa memedulikan agama yang dianut. Mereka memiliki empati yang sangat tinggi untuk membantu banyak orang. Dan mereka melakukan itu tanpa adanya motif tertentu. Tidak ada motif agama, politik, atau kepentingan pribadi. Mereka tulus menolong murni karena rasa kemanusiaa (hal 113).

Buku ini sangat menarik dan menginspirasi. Kita diajak mengenal lebih dekat tentang Islam di negara Barat dengan masing-masing kebiasan, adat dan  budaya yang berbeda. Misalnya alasan pemakaian scarf di Spanyol, Imam Gay di Melbourne dan banyak lagi. Melalui buku ini pula kita bisa melihat dan menyaksikan bahwa Islam selalu diterima di mana saja. Maka sudah semestinya kita berusaha memperkuat ukhwah dan selalu membangun hubungan baik, di mana pun berada. Saling menjaga, mendoakan dan saling menyayangi. 

Sebuah buku menarik yang patut kita baca dan renungkan.  Beberapa kekurangan yang ada, tidak mengurangi  makna yang ingin disampaikan penulis. 

Srobyong, 3 Agustus 2018

[Resensi] Menumbuhkan Sikap Berani pada Anak

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 21 Oktober 2018


Judul               : Penyihir Cilik
Penulis             :  Rizka Syarifa H, dkk
Penerbit           : Dar Mizan
Cetakan           : Pertama,  Agustus 2018
Tebal               : 88 halaman
ISBN               : 978-602-420-670-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mendidik anak sejak dini merupakan tugas orangtua. Mengingat orangtua merupakan madrasah pertama bagi anak. Dengan pendidikan yang baik anak,  akan tumbuh menjadi sosok yang berbudi luhur, memiliki akhlak yang baik  dan taat agama. Dalam upaya mendidik anak salah, selain dengan memberikan nasihat-nasihat serta contoh-contoh teladan dalam kehidupan sehari, salah satu metode yang bisa kita kenalkan pada anak adalah  metode membaca. Di mana secara tidak langsung, melalui metode ini kita juga telah mengenalkan minat baca terhadap anak. 

Namun perlu kita catat, dalam mengenalkan buku bacaan, orangtua juga harus selektif memilih bacaan yang sehat dan sesuai dengan usia anak. Di antaranya adalah buku  antolongi  terbaru karya Rizkia Syarifa, Ukasyah Ammar Robbnani, Naura Reva Aulia, Effie Alisa dan Mutiara Sya’bani. Buku ini sendiri, merupakan kumpulan kisah menarik yang ditulis oleh anak-anak bangsa yang masih duduk di bangku Sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Sehingga  saya pikir gaya bahasanya akan mudah dipahami oleh anak.  Dalam buku ini para penulis yang masih berusia belia itu, mencoba mengajak  kita untuk menumbuhkan sikap berani. Selain hal itu, ada pula nilai-nilai moral yang juga dikenalkan seperti ajakan bersikap jujur, rajin belajar, tidak bersikap malas, dermawan, saling membantu  dan banyak lagi.

Di antaranya ada kisah berjudul “Penyihir Cilik.” Kisah ini menceritakan tentang kakak beradik yang tersesat di sebuah gua. Mereka takut dan cemas.  Mereka saling bahu membahu untuk mencari jalan pulang. Akan tetapi saat mereka melewati  sebuah jalan, tiba-tiba mereka mendengar langkah kaki lain yang mendekati mereka. Otomatis kedua kakak beradi itu langsung bersembunyi. Takutnya suara langkah itu milik hewan buas (hal 43).

Tetapi ternyata mereka salah. Langkah yang mereka dengar merupakan langkah kaki orang-orang berbaju hitam yang terlihat mencurigakan.  Mereka  sedang berdiskusi tentang bagaimana menemukan harta karun.  Tidak mau terlibat, dua bersaudara itu memilih pergi.  Namun, tanpa sengaja dua bersaudara ini malah menemukan harta karun yang yang sedang diinjar orang berbau hitam.  Dan yang mengejutkan orang-orang itu sejak awal ternyata sengaja mengikuti mereka.  Bagiaman nasih dua bersaudara tadi? Temukan jawabannya dalam buku ini.

Ada juga kisah berjudul “Misteri Gubuk Tua”  karena sebuah urusan ayah dan ibunya harus pergi ke luar kota.  Rara dan Riri pun diamanahi untuk menjaga rumah.  Dengan riang mereka mengaku berani untuk di rumah tanpa ayah dan ibu.  Awalnya  semua berjalan lancar. Hingga kemudian, tiba-tiba  Rani mendengar bunyi aneh  arah belakang rumah. Rani pun mengajak Riri untuk mengecek asal suara aneh tersebut (hal 59).

Melalui dua kisah di atas, kita diajak untuk menjadi anak yang berani dalam menghadapi berbagai situasi.  Kita tidak perlu takut jika tidak melakukan kesalahan. Selain dua kisah tersebut ada pula cerita lain yang seru dan pas untuk dibaca anak sebagai renungan. Adalah kisah berjudul “Alfa Suka Alpa” yang mana dalam kisah ini anak diajak menjadi seseorang yang selalu rajin pergi sekolah dan tidak suka membolos.  Karena membolos pada akhirnya hanya akan merugikan sendiri.

Ada juga kisah berjudil Holiday in Malaysia dan Rahasia Tazri. Masing-masing cerita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun semuanya memuat banyak pembelajaran yang pas diketahui anak.  dengan konsep  berupa buku bergambar, dan disusun dengan bahasa yang mudah dipahami, membuat buku ini tidak membosankan saat membaca. Karena anak biasanya menyukai cerita dengan bantuan ilustrasi sebagai gambaran kisah yang terjadi.

Srobyong, 5 Oktober 2018

Tuesday, 20 November 2018

[Resensi] Mengenalkan Rukun Iman kepada Anak

Dimuat di Kabar Madura, Selasa 9 Oktober 2018 


Penulis             : Ayo, Mengenal Rukun Iman!
Penulis             : Nelfi Syafrina
Penerbit           : Dar Mizan
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 108 halaman
ISBN               : 978-602-420-062-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Anak adalah aset bangsa. Oleh karena itu, sudah semestinya kita sebagai orangtua atau para pendidik, memberikan pemahaman yang kuat tentang pendidikan agama. Mengingat dengan pondasi kuat dalam beragama, akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Salah satu pendidikan agama yang patut ditanamkan kepada anak sejak dini adalah rukun iman.

Sebagaimana kita tahu rukun iman berjumlah enam perkara. Yaitu iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, Iman kepada Nabi dan Rasul, iman kepada Kitab Allah, Iman kepada hari akhir dan iman kepada qada dan qadar.  Maka di sinilah tantangan kita sebagai orangtua atau pendidik. Dalam mengenalkan pondasi agama—khususnya perilah rukun iman, kita harus memikirkan cara unik dan tidak biasa, agar anak tidak bosan, apalagi merasa diceramahi. Kita harus membuat anak merasa nyaman ketika mengenal rukun iman.

Buku  “Ayo, Mengenal Rukun Iman!” karya Nelfi Syafrina bisa menjadi salah satu rujukan orangtua atau guru untuk mengenalkan rukun iman kepada anak dengan cara asyik dan menyenangkan. Di mana penulis memaparkan tentang rukun iman dengan cara yang tidak biasanya. Selain memberi penjabaran tentang rukun iman dengan perpaduan ilustrasi yang menarik dan memikat,  penulis juga menghadirkan kisah-kisah sehari-hari yang berhubungan langsung dengan rukun iman. Hal ini pastinya akan semakin menambah kemudahan anak dalam memahami rukun iman.

Misalnya saja saat mengenalkan iman kepada Allah. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak, penulis menerangkan tentang pengertian iman kepada Allah, yaitu membenarkan dengan hati bahwa itu ada, juga mengimani sifat keagungan dan kesempurnaan Allah. Kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan perbuatan secara nyata (hal 8).
  
Hal itu kemudian disambung dengan cerita yang berhubungan dengan keimanan kepada Allah. sebut saja kisah berjudul “Bapak Seribu Kunci” yang mengisahkan tentang kekhawatiran Kiara terhadap Pak Deri, petugas pengambil celengan infak dari yayasan zakat. Dia takut Pak Deri tidak jujur dan mengambil uang itu untuk kepentingannya sendiri (hal 37). Dalam kisah ini kita dapat mengambil pelajaran, bahwa kita harus percaya kalau Allah itu Maha Segalanya, Maha Melihat dan Mengetahui. 

Atau kisah berjudul “Allah Sang Pencipta” di sini kita bisa belajar bahwa beriman kepada Allah, berarti kita harus mengimani segala ciptaannya baik yang terlihat atau tidak. Sebuah buku yang patut dibaca dan dikenalkan kepada anak. Banyak nilai-nilai moral juga dalam kisah yang dipaparkan. Misalnya tentang kejujuran dan menyayangi kedua orangtua. Selain itu buku ini dilengkapi aktivitas seru yang sangat bermanfaat bagi anak.

Srobyong, 10 Agustus 2017 

Wednesday, 17 October 2018

[Resensi] Mengkritisi Polemik Negeri Lewat Humor

Dimuat di Kabar Madura, Sabtu 29 September 2018


Judul               : Kelakar Madura Buat Gus Dur
Penulis             : H. Sujiwo Tejo
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-8648-25-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Humor adalah cerita pendek yang memiliki unsur kelucuan dan diharapkan  bisa menghibur pembaca. Namun di sisi lain humor juga bisa menjadi salah satu cara mengkritisi secara halus. Buku yang terdiri dari 32 kisah ini mencoba menghadirkan berbagai kritik politik dan sosial dengan cara halus dan lucu. Uniknya kisah-kisah ini mengkaitkan antara Madura dan Gus Dur. Sehingga dari kritik yang ada kita juga bisa mengenal lebih dekat tentang budaya madura dan kearifan Gus Dur, meski dengan sikap nyeleneh yang dimiliki.

Sebagaimana kita ketahui, selain dikenal sebagai Presiden, Kiai, Budayawan dan Penggerak Sosial, Gus Dur dikenal juga sebagai sosok komedian, karena sikapnya yang kadang jenaka. Sikap itu pula yang membuat Gus Dur satu-satunya presiden yang mendapat gelar Humoris Causa dari masyarakat (hal 8). 

Misalnya saja dalam humor yang berjudul “Saya Ini Gembala Sapi, Dik” (hal 49).  Kisah ini membuat kita tertawa lewat jalinan kisah yang renyah dan unik. Namun yang pasti lewat kisah ini kita akan menemukan sindiran halus tentang bagaimana tingkah pola para DRP. Di mana Gus Dur pernah memaparkan bahwa DPR itu sama saja dengan Taman Kanak-Kanak. Karena sikap mereka yang tiap kali ada beda pendapat, bukannya di selesaikan dengan musyawarah dan kepala dingin, namun diselesaikan dengan pertengkaran hingga tinju melayang.

Lalu ada pula humor berjudul “Presiden Semar atas Petunjuk dari Langit. Secara tidak langsung dalam kisah ini penulis memaparkan tentang keluhuran sikap Gus Dur yang disamakan lewat tokoh pewayangan, Semar.  Digambarkan dia memiliki sikap aneh, perpaduan lucu, nyentrik, namun juga cerdas, jujur, sederhana, dan berpengetahuan luas.  Gus Dur juga  sosok yang bersahaja, bijak, sabar, tegas dalam memberantas kedurjanaan.

Tidak kalah menarik adalah “Jabatan Rangkap” yang mana dengan gagasan yang sederhana namun menusuk, tentang kebiasaan orang-orang yang rakus, hingga memiliki jabatan rangkap.  “Lho, Bapak  ini sudah jadi anggota DPR saja masih bisa merangkap jadi anggota MPR, masa nyetir sambil mendorong tidak bisa.” (hal 87).

Ada pula humor berjudul “Carok” selain mengkritisi tentang perseteruan para pejabat tinggai demi memenangkan kursi kekuasaan dan masalah Pansus Buloggate yang konon melibatkan Gus Dur.   Dari humor ini kita akan diajak mengenal lebih dekat tentang carok.  Bahwa carok sebenarnya adalah tradisi perang orang Madura ketika harus menghadapi sebuah permasalahan yang menyangkut harga diri, yang kemudian diikuti antar kelompok atau klan. Biasanya dalam tradisi ini orang madura berperang menggunakan clurit (hal 137).

Selain humor-humor tersebut, tentu saja masih banyak humor lain yang tidak kalah menarik dan bikin penasaran hingga tertawa terpingkal-pingkal. Apalagi penulis sudah piawai dalam mengolah kata. Sederhana namun memikat, legit dan membuat ketagihan.  Misalnya saja humor “Pemilu Paling Murah” yang mengkritisi kebiasaan para caleg dalam kebiasaan bagi-bagi tanda jasa agar memiliki banyak pengikut.

“Kalau gambar-gambar di kertas suara itu nanti ditusuk sate, maka pakunya harus diikutsertakan juga. Kita tidak Cuma menyediakan satu paku untuk setiap pencoblosan. Jumlah paku harus seperti jumlah kertas suara. Bayangkan kalau seluruh Indonesia, sudah berapa paku. Mahal.” (hal 70).

Humor lainnya seperti Nasihat Secara “Sor Mejo Keh Ulane”, Kunjungan dalam Negeri dengan Bejak, Sidang Pansus Buloggate,  Juru Bicara Presiden, Sepatu Tentara, Kisah Pendorong Komedi Putar, Nyanyian Tanah Madura dan banyak lagi.

Maka tepat sekali ketika Moh, Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2011, dalam endorsnya memaparkan, “Dengan cara canda yang segar Suwijo Tejo selalu berhasil melancarkan kritik tajam kepada kita tanpa membuat kita marah. Buku Kelakar Madura Buat Gus Dur contohnya. Dia gambarkan Gus Dur menggunakan kekuasaannya dengan enteng, tampa beban dan berani. Dia gunakan setting masyarakat Madura yang lugu, menggemaskan, cerdik tapi tidak licik. Isinya kritik kanan kiri, tembak sana tembak sini.”

Buku ini patut diapresiasi. Membacanya kita akan mendapat banyak pengetahuan juga mendapat hiburan yang menyenangkan.

Srobyong, 22 Juli 2018