Showing posts with label Haidar Musyafa. Show all posts
Showing posts with label Haidar Musyafa. Show all posts

Wednesday, 18 April 2018

[Resensi] Penegak Hukum Harus Adil dan Berintegritas

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 13 April 2018 


Judul               : Sogok Aku Kau Kutanggkap
Penulis             : Haidar Musyafa
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : ix + 434 halaman
ISBN               : 978-602-7926-36-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Buku ini membahas tentang biografi Artidjo Alkostar.  Seorang penegak hukum yang sangat memegang keadilan dan berintegritas tinggi. Dia tidak mudah disuap dan dipengaruhi. Mahfud MD—guru besar Fakultas Hukum UII, berkata, “Jangan pernah berpikir, siapa pun bisa mempengaruhi Artidjo untuk melenceng dari  penegakkan hukum dan keadilan. Artidjo tak takut pada ancaman fisik, tak risau dengan gertakan satet, tak mempan dengan uang dan tidak peduli dengan persahabat, jika integritasnya sebagai penegak hukum ternodai.”

Hal ini bisa dilihat dari sepak terjang Artidjo yang sejak menempuh pendidikan hukum di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Dengan sikap tegas dan menjunjung tinggi keadilan, dia selalu berusaha meluruskan hal-hal yang dia rasa menyimpang dan tidak sesuai dengan hukum. Pernah ketika dia sudah menjabat sebagai hakim, seorang teman lamanya yang merupakan seorang pengacara datang bermaksud menyuap Artidjo, agar  memudahkannya dalam sebuah kasus. Tentu saja permintaan itu langsung ditolak mentah-mentah olehnya (hal 11). 

Saat masih menjadi mahasiswa, Artidjo juga tidak segan-segan memberi kritik pedas pada pihak kampus tempatnya menuntut ilmu, karena merasa apa yang diajarkan para dosen, sangat jauh berbeda dengan praktik di lapangan.  Artidjo berkata, “Jelas-jelas kita melihat bahwa hukum masih banyak diselewengkan di negeri kita ini? Tidakkah kita memiliki untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, sebagaimana cita-cita luhur bangsa kita ini?” (hal 194).

Ketika sudah menyelesaikan pendidikan hukumnya, selain menjadi dosen di UII, Artidjo juga menjadi pengacara di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) cabang Yogyakarta yang dibangun oleh  Adnan Buyung Nasution. Dengan sikapnya yang tegas dan selalu menjunjung tinggi keadilan, dia berperan aktif membantu rakyat miskin memperjuangkan hak-haknya (hal 293).

Artidjo juga berperan aktif berusaha menyelesaikan masalah “Tebu Rakyat” yang dialami petani miskin di daerah Sumenep. Di mana program yang dirancang pemerintah ini, justru merugikan para petani.  Selain itu Artidjo juga menangani berbagai macam kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia. Dia mengabdikan diri untuk kepentingan bangsa dan negara, dengan cara berusaha menegakkan kebenaran dan keadilan. Namun meski tidak selalu berhasil memenangkan perkara yang ditanganinya, Artidjo tetap berkomitmen menjadi penegak hukum yang bersih.

Dia sangat menyayangkan, ketika hukum belum bisa bekerja secara maksimal untuk menciptakan keamaan, keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Hukum akan menjadi tajam, jika yang melakukan pelanggaran adalah orang-orang kecil. Tapi hukum akan menjadi sangat tumpul jika yang melakukan pelanggaran itu adalah orang-orang yang memiliki uang dan kekuasaan.

Bahkan hukum sama sekali tidak akan berguna ketika aparat penegak hukum ikut terlibat dalam satu perkara. Artinya hukum hanya ditegakkan pada orang-orang yang lemah, kaum miskin dan rakyat kecil. Sementara kaum elite hukum bisa dibeli dengan uang, karena mereka bisa memanipulasi hukum (hal 197).

Dalam usahanya menjadi penegak hukum yang bersih tentu tidak mudah. Karena dari berbagai sisi banyak orang-orang yang tidak menyukai tindakan Artidjo dan berusaha menjatuhkan dirinya. Namun begitu Artidjo tetap berdikir tegak menjunjung keadilan yang dia yakin. 

Beruntung dia memiliki seorang istri, ayah dan ibu  yang selalu mendukungnya. Memberi kekuatan jika dia merasa lemah dan lelah. Karena sebagai manusia biasanya, ada kalanya dia merasa ragu dan takut. Merekalah tempat Artidjo berbagi pemikiran dan kadangkala dia juga berdiskusi dengan para kiai untuk memperoleh ketenangan hati, agar semakin yakin dalam perjuangan yang dilakukan.

Buku ini memaparkan keteguhan Artidjo dalam mempertahankan prinsip keadilan dalam masalah hukum. Sebuah buku yang patut diapresiasi dan diteladani. Kita diingatkan tentang pentingnya berjuang menegakkan keadilan dengan sepenuh hati.

Srobyong, 18 Januari 2018 

Monday, 17 July 2017

[Resensi] Kisah Hidup dan Perjuangan Buya Hamka

Dimuat di Haluan Padang, Minggu 9 Juli 2017 

Judul               : Jalan Cinta Buya
Penulis             : Haidar Musyafa
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Januari 2017
Tebal               : xxii + 524 halaman
ISBN               : 978-602-7926-32-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Buya Hamka atau sosok yang memiliki nama lengkap Abdul Malik Karim Amrullah ini merupakan seorang putra bangsa yang memiliki banyak prestasi. Selain disebut sebagai ulama, Buya Hamka juga dikenal sebagai seorang sastrawan, jurnalis, juga politisi.  Mengingat kiprahnya memang tidak hanya ikut terjun dalam dakwah Islam. Namun juga memberi sumbangsi dalam sentuhan sastra dengan karya-karya yang luar biasa—seperti tafsir Al-Azhar,  Tenggelamnya Kapal Van  der Wijck, Falsafa Hidup dan banyak lagi.  Tidak ketinggalan di tengah kesibukannya itu, Buya Hamka juga ikut andil dalam usaha meraih kemerdekaan Indonesia.

Haidar Musyafa dengan riset sejarah ini memaparkan dengan apik bagaimana kisah hidup dan  perjuangan Buya Hamka. Buku ini sangat memikat dan memberi banyak inspirasi bagi siapa saja yang membaca. Di sini seolah kita bisa melihat potret hidup bagaimana Buya Hamka dalam berjuang secara sungguh-sungguh, tanpa kenal takut apalagi putus asa.

12 Februari 1942 Jepang mendaratkan pasukan Rikugun—Pasukan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang—di Pelembang. Pada masa ini Belanda harus menerima kekalahannya, sehingga tambuk kekuasan yang dulu dalam genggaman, harus rela dilepas dan diberikan kepada Pemerintah Dai Nippon—Jepang. 

Pergantihan kekuasaan pun berpengaruh besar dalam kehidupan rakyat Indonesia. Termasuk salah satunya di Sumatra, tempat Buya Hamka mendedikasikan diri dalam perjuangan mengembangkan  penerbitan majalah Pemodan Masyarakat.    Kala itu Dai Nippon memberi perintah untuk membekukan perkumpulan-kumpulan yang didirikan Bumi Putra juga melarang penerbitan majalah dan surat kabar, baik yang diterbitkan oleh Gonvernemen Hindia Belanda ataupun yang dimiliki oleh kaum pribumi (hal 18).

Disinyalir pembekuan ini terjadi akibat ketakutan Dai Nippon jikalau para pribumi berjuang mencoba menggulingkan  pemerintahan mereka. Dan salah satu perkumpulan yang dibekukan adalah persyerikatan Muhammadiyah. Pun dengan majalah Pemodan Masyarakat. Hal ini tentu saja membuat Hamka sedih. Karena dengan berhentinya penerbitan berarti sama saja jalan dakwah melalui media itu terputus.  Namun larut dalam kesedihan bukanlah jalan terbaik.

Buya Hamka lalu menyusun strategi melalui jalur kooperatif—yaitu menjalin kerja sama dengan Pemerintah Dai Nippon sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan perjuangan (hal 20).  Hamka kemudian menjalin hubungan dengan Letnan Jenderal  T. Nakashima, selaku pemangku kepentingan Pemerintah Dai Nippon di Sumatra. Tujuannya agar keberadaan orang-orang Jepang itu bisa memberi keuntungan besar bagi kaum pribumi di pulau Sumatra.

Pendekatannya pun berhasil. Hamka  mendapat izin untuk menerbitkan majalah Seruan Islam dan kegiatan-kegiatan Perserikatan Muhammadiyah juga tidak dibekukan.   Dengan begitu maka Hamka tetap bisa berdakwa dan berjuang mencari celah untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Kemudian pada 9 September 1944  tiba-tiba Pemerintah Dai Nippon mengumumkan akan membantu rakyat Indonesi untuk meraih kemerdekaan. Mendengar itu Hamka senang namun juga waswas. Karena bisa jadi itu hanya tipu muslihat untuk menarik simpati rakyat Indonesia agar bersedia mewujudkan keinginan dan tujuan yang ingin diraih oran-orang penyembah matahari itu.

Oleh karena itu, Hamka tetap selalu waspada. Bersama pada pejuang lainnya Hamka tetap menjalankan misi-misi rahasia untuk meningkatkan semangat juang rakyat di Sumatra, bekerja sama untuk meraih kemerdekaan secara mandiri.   

Selain itu, Buya Hamka juga ikut terlibat dalam perjuangan Agresi Militer Belanda pada Juli 1947, juga pernah menjabat sebagai pegawai Kantor Kementrian Agama RI. Namun tentu saja perjuangannya itu tidak berjalan mulus. Hamka kerap menjadi sasaran fitnah keji, bahkan akhirnya mengantarkan Hamka dimasukkan dalam penjara.  Tapi semua itu tidak lantas membuat Hamka menjadi seorang yang putus asa dan demdam. Hamka menghadapinya dengan penuh keberanian.  Karena dia percaya setiap kejadian sudah pasti ada hikmahnya. Mengingat dalam penjara itulah akhirnya Hamka menulis Tafsir Al-Azhar yang sampai saat ini masih menjadi kajian buku yang selalu dicari dan dibaca.

Buku ini sangat menginspirasi dan memberi banyak motivasi. Mengajarkan kita untuk memiliki sikap pemberani, tidak mudah menyerah dan memelihara dendam. “Memelihara dendam sama dengan menghancurkan diri sendiri.” (hal 433).

Srobyong, 28 Mei 2017 

Tuesday, 11 July 2017

[Resensi] Ahmad Dahlan dalam Pembaruan - Pergerakan

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Sabtu 3 Juni 2017 


Judul               : Dahlan
Penulis             : Haidar Musyafa
Penerbit           : Javanica
Cetakana         : Pertama, Januari 2017
Tebal               : 416 hlm
ISBN               : 978-602-6799-20-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


Siap yang tidak mengenal sosok berkharisma Haji Ahmad Dahlan? Dia termasuk pahlawan nasional  juga ulama yang memiliki sikap teguh dan tidak mudah menyerah.  Dia sangat tekun dan ulet dalam usaha pembaruan Islam—yang dalam pendangannya telah melenceng jauh dari ajaran sebenarnya dari Nabi Muhammad saw.

Dalam pandangannya Islam adalah agama yang menganut Al-Quran dan sunnah Nabi. Tidak bercampur dengan adat atau budaya Jawa yang jauh dari ajaran-ajaran Islam, sebagaimana yang sering dia lihat dalam masyarakat di sekitarnya.  Di mana masyarakat masih sering melakukan praktik sesajen di kuburan dan di pohon-pohon besar pada hari tertentu.

Hanya saja, apa yang diyakini Dahlan itu tidak mendapat dukungan dari masyarakat setempat. Apa yang diajarkannya dianggap sebagai penyimpangan. Sehingga dia lebih sering mendapat gugatan dan cacian.  Bahkan dianggap ulama yang tersesat dan dianggap gila serta kafir. Namun berbagai cacian itu tidak membuatnya patah arang untuk terus berjuang. Dia tetap ingin merangkul semua masyarakat agar kembali pada Islam yang kaffah.

Karena itu-lah untuk mengembangkan dakwahnya, Dahlan kemudian membangun sebuah perkumpulan yang diberi nama Muhammadiyah, yang diharapkan bisa menjadi suluh penerang bagi umat Islam. Menjadi cahaya yang akan menuntun umat agar kembali pada ajaran Islam yang sebenar-benarnya (hal 312).

Membaca buku ini kita akan diajak mengenal lebih dekat dengan  ulama dan pahlawan nasional ini dengan gaya bahasa yang memikat. Kita diajarkan tentang nilai-nilai keimanan,  perjuangan, keikhlasan dan keberanian.  Buku ini sangat patut dibaca dan diapresiasikan. Karena buku ini menyimpan banyak selali pengetahuan sejarah yang sering tidak kita ketahui secara gamblang.
Selain menjadi tokoh pembaruan Islam, Dahlan juga memberi sumbangsi dalam kemerdekaan dan pendidikan.  Di mana dia juga ikut membangun sekolah untuk menghilangkan kebodohan. Karena dengan begitu, rakyat Indonesia tidak akan mudah dibodohi oleh para Kolonial. Sebuah buku yang sangat inspiratif yang menggugah jiwa.


Srobyong,  25 Maret 2017 

Thursday, 20 April 2017

[Resensi] Perjuangan Haji Ahmad Dahlan

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 26 Maret 2017 

Judul               : Dahlan
Penulis             : Haidar Musyafa
Penerbit           : Javanica
Cetakana         : Pertama, Januari 2017
Tebal               : 416 hlm
ISBN               : 978-602-6799-20-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Haji Ahmad Dahlan merupakan salah satu tokoh Islam, yang juga termasuk pahlawan nasional. Dia memilik sumbangsih dalam kemajuan pembaharuan Islam yang bersifat terbuka, modern dan rasional, juga dalam  pendidikan di Indonesia. Islam adalah agama yang menganut Al-Quran dan sunnah Nabi. Tidak bercampur dengan adat atau budaya Jawa yang jauh dari ajaran-ajaran Islam.  Dan pendidikan—baik agama atau umum, harus sama-sama dipelajari agar seimbang, antara bekal di dunia dan di akhirat.

Ahmad Dahlan  lahir di Kauman, 1 Agustus 1868  dengan nama asli Muhammad Darwis.  Sejak kecil dia dididik ayahnya  dengan budaya Jawa yang kental. Namun begitu, dia juga dididik soal ajaran Islam dengan sangat ketat (hal 11).  Hanya saja dia tidak mendapat pendidikan formal.

Menurut ayahnya, dengan belajar di sekolah yang didirikan Belanda itu, sama saja kafir dan murtad. Inilah pandangan yang tidak disetujui Dahlan. Karena menurutnya dengan bersekolah orang bisa menambah pengetahuan. Selain masalah itu, Dahlan juga kurang setuju dengan kebiasaan masyarakat  yang suka melakukan ritual-ritual yang menurutnya  jauh dari ajaran-ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad.

Keresahan hatinya itu mendorong Dahlan untuk belajar setinggi-tingginya. Dia ingin mengembalikan ajaran Islam yang benar-benar murni yang tidak dikaitkan dengan adat Jawa yang kadangkala lebih menjurus pada ajaran syirik. Pada akhirnya takdir membawanya belajar ke Mekah. Di sana dia belajar pada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy dan beberapa ulama tersohor lainnya (hal 121).
Setelah dari Mekah, Dahlan pun mulai menyuarakan dakwahnya tentang  pembaharuan Islam.  Yang mana Islam itu berpegang teguh pada ajaran Al-Quran dan bertumpu pada hadis-hadis Nabi. Tanpa ada campur aduk dengan budaya-budaya dan adat istiadat yang cenderung menyesatkan masyarakat dari jalan Islam (hal 122).

Hanya saja pemahaman yang dipaparkan Dahlan, tidak begitu saja dipercayai oleh masyarakat di Kauman. Berbagai tuduhan dilimpahkan padanya. Dianggap sebagai ulama palsu, sudah sesat bahkan dianggap kafir. Tapi dia tetap sabar dan berjuang dengan semangat dan ikhlas. Dan untuk mengembangkan dakwahnya, Dahlan bergabung dengan sebuah organisasi yang bernama Jami’atul Khoir yang didirikan para Habib keturuan Arab yang merasa peduli dengan pendidikan di Hindia Belanda.

Alasan lainnya bergabung pada organisasi itu adalah karena memiliki visi dan misi yang sama, yaitu masalah pendidikan. Bahwa ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus berjalan beriringan, bersinergi dan saling melengkapi. Dasar ilmu pendidikan modern  adalah sunatullah, sementara dasar Islam adalah wahyu Allah yang diabadikan dalam Al-Quran, sehingga umat Islam wajib menguasainya  (hal 251).

Selain organisasi itu, untuk mengembangkan dakwah agar lebih luas lagi, dia juga bergabung dengan Budi Utomo yang juga peduli dengan nasib pendidikan dan kesehatan orang-orang pribumi.  Apalagi oraganisasi tersebut dibangun para priyayi Jawa terpelajar yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah Belanda. Mereka memanfaatkan ilmu untuk kepentingan Tanah Air.  Di sana Dahlan didaulat sebagai guru agama Islam yang menyebarkan tentang pembaharuan Islam.

Di sinilah titik yang akhirnya membuat Dahlan ingin mendirikan sekolah sendiri. Dia ingin santri-santrinya yang masih memiliki paham liar tentang sekolah,  dapat lebih terbuka pikiran dan wawasannya. Sekolah itu diberi nama Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah.   Dan untuk semakin mengembangkan dakwahnya, Dahlan kemudian membangun sebuah perkumpulan yang bersifat sosial, bergerak pada bidang pendidikan (hal 295).

Nama perkumpulan itu adalah  Muhammadiyah, yang diharapkan bisa menjadi suluh penerang bagi umat Islam. Menjadi cahaya yang akan menuntun umat agar kembali pada ajaran Islam yang sebenar-benarnya (hal 312). Hingga menjelang tutup usia, Dahlan masih berjuang keras untuk mengembangkan dakwahnya tentang pembaharuan Islam, agar masyarakat kembali pada Islam yang kaffah.

Novel ini sangat sarat makna. Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat. Mengenalkan kegigihan Haji Ahmad Dahlan dalam perjungannya mengenalkan pembaharuan Islam dan pentingnya mendapat pendidikan—baik ilmu agama juga ilmu umum. Serta mengingatkan tentang pentingnya sifat ikhlas dan tidak mudah menyerah.

Srobyong, 19 Februari 2017

Sunday, 15 January 2017

[Resensi] Mereguk Inspirasi dari Kehidupan Hamka

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 8 Januari 2017

Judul               : Hamka
Penulis             : Haidar Musyafa
Penerbit           : Penerbit Imania
Cetakan           : Pertama, Oktober 2016
Halaman          :  464 hlm
ISBN               : 978-602-7926-28-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama. Jepara.


Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa dipanggil  Buya Hamka, merupakan satu di antara putra Indonesia yang memiliki segudang prestasi.  Baik itu dilihat dari perannya sebagai ulama, pejuang, sastrawan, wartawan, politisi, juga kiprahnya dalam membangun peradaban bangsa Indonesia (hal 7).

Buku ini menyajikan sejarah kehidupan, pemikiran dan perjuangan Hamka secara lengkap. Memberi motivasi, inspirasi dan spirit juang tinggi.  Sejak kecil, Hamka sudah menunjukkan sikap ulet dalam belajar dan pantang menyerah dalam usaha mewujudkan harapannya.

Dia senang belajar ilmu agama dan tidak keberatan belajar  tentang ilmu umum. Berbagai  buku telah dia baca. Dia berpendapat, “Ilmu agama itu memang sangat penting. Namun belajar ilmu umum juga diperlukan agar bisa  menambah wawasan.” (hal 50).

Demi memuaskan dahaganya akan ilmu pengetahuan, pada usia 16 tahun, Hamka  pergi ke Tanah Jawa, untuk mengasi ilmu dari para tokoh Sarekat Islam. Di antaranya dia belajar pada HOS. Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto,  Ki Bagoes Hadikoesoemo, dan K.H Fachruddin. Setelah itu, melanjutkan mendalami ilmu agama di Tanah Suci Makkah pada Februari 1972. Sepulangnya dari Makkah, dia langsung ditunjuk sebagai  Ketua Cabang Muhamadiyah di Padangpajang.

Di sinilah perjuangan Hamka dimulai. Dia berjuang dengn ikhlas. Selain aktif dalam mengembangkan organisasi Islam dan dakwah, Hamka juga terjun dalam dunia pendidikan. Dia ikut mengajar di Tabligh School.  Dalam praktik mengajarnya, Hamka tidak ingin mengajar anak didiknya dengan metode yang keras dan kaku. Pendidikan itu harus disampaikan dengan lembut dan kasih sayang.

Dan untuk  mengembangkan perjuangannya dalam dakwah, dia menerbitkan majalah bulanan yang diberi nama Kemauan Zaman. Dengan alasan, semoga dengan adanya media tulisan, dia bisa memberikan pencerahan dan wawasan keislaman kepada banyak orang melalui tulisan (hal 326).

Tidak hanya menulis dalam majalah saja, Hamka juga  mulai menerbitkan karya-karyanya dalam wujud buku cetak. Hampir semua karyanya  selalu disambut hangat oleh masyarakat. Baik itu buku agama, tasawuf, cerpen dan roman.  Sayangnya ketika buku-buku agama karya Hamka sedang laris manisnya, polisi Governemen Hindia Belanda melarang buku itu diedarkan lagi.  Belanda takut materi tulisan Hamka itu akan mempengaruhi pola pikir para pribumi dan sehingga nantinya berani menentang Belanda.

Meski sedih, Hamka tetap menulis. Berharap semoga karya-karya lainnya  bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk menegakkan panji Islam setinggi-tingginya. Juga mengobarkan semangat perjuangan melawan penjajah.

Selain berjuang di Sumatera Barat, Hamka juga mendedikasikan dirinya untuk berjuang di Makassar. Hamka tidak tahan melihat Pemerintah Belanda yang selalu melakukan tindakan semena-mena pada kaum  pribumi. Untuk itu dia bertekad untuk membebaskan tanah airnya dari cengkrama penjajah. Langkah awalnya adalah dengan mengamalkan ilmu yang dimiliki untuk mencerdaskan kaum pribumi. Mengingat pendidikan merupakan sarana dari membebaskan rakyat dari kebodohan.

Penulis buku berpendapat, meski banyak yang menganggap Hamka  sebagai muslim yang kaku dan kolot. Nyatanya, Hamka adalah sosok yang santun, memiliki hati lembut, dan teduh dalam dakwahnya. Dia seorang ulama perangkul  bukan pemukul.  Pengaruh dan keilmuannya  berhasil menyentuh semua golongan. Baik religius maupun nasionalis, masyarakat dalam negeri  maupun luar negeri.

Hamka pernah  berkata, “Jika hidup ini hanya diisi dengan berburuk sangka atas perbuatan yang akan dilakukan orang pada kita, tentu hal itu akan membuat kita gamang melangkah. Padahal Allah akan memberi pahala dan dosa sesuai dengan apa yang kita niatkan (hal 384).

Buku ini sangat inspiratif dan sarat makna. Mengingatkan untuk menjadi pribadi yang selalu ikhlas, tabah, tidak pendendam dan tidak mudah menyerah dalam berjuang.  Serta mengajak untuk mencintai tanah air dan buku yang merupakan jendela ilmu.

Srobyong, 30 November 2016 


Wednesday, 4 May 2016

[Resensi] Pemikiran dan Perjuangan Pahlawan dalam Pendidikan

Judul               : Sang Guru; Novel Biografi Ki Hajar Dewantara
Penulis             : Haidar Musyafa
Penerbit           : Penerbit Imania
Cetakan           : 1, November 2015
Halaman          : 420 hlm
ISBN               :978-602-7926-24-0
Peresensi         : [Ratnani Latifah, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama  Jepara]

Ini naskah asli sebelum di edit redaktur, 

Raden Mas Seowardi  atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara adalah satu dari Pahlawan Nasional yang ikut berjuang keras demi kemajuan bangsa Indonesia. Khususnya dalam kancah pendidikan. Menurutnya pendidikan itu sangat penting dalam kehidupan semua orang.
Karena itu,  dia berjuang keras agar para inlander juga bisa mendapat pendidikan yang layak. Dan untuk menghormati perjuangannya bertepatan dengan kelahiran Ki Hajar Dewantara—2 Mei diperingati sebagai ‘Hari Pendidikan Nasional.’
Sejak kecil Ki Hajar Dewantara  dididik dengan pendidikan agama olah orangtuanya. Bahwa sesama manusia itu memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan hanyalah iman dan takwa dihadapan Tuhan.  (hal. 36) Inilah yang membuat Ki Hajar Dewantara tidak pernah membeda-bedakan kasta dalam menjalin pertemanan.  Selain itu sejak kecil ternyata dia sudah sangat peduli dengan pendidikan. 
Melihat banyak teman-temannya dari inlander yang tidak bisa menuntut ilmu  membuatnya  sedih dan bertekad berbagi ilmu pada  mereka.  Sejak saat itulah Ki Hajar Dewantara memiliki impian dan cita-cita agar kelak bisa membangun sekolahan. (hal. 61)

Namun sebelum benar-benar terjun pada kancah pendidikan, Ki Hajar Dewantara pernah berjuang dibidang politik. Bersama Douwes Dekker dan  Tjipto Mangoenkoesoemo mereka mendirikan IP (Indische Partij) yang pada perkembangannya menjadi NIP (National Indische Partij).  Selain perjuang pada bidang politik, Ki Hajar Dewantara juga aktif dalam dunia  jurnalistik. Banyak tulisan-tulisannya yang mengecam ketidakadilan yang dilakukan Governemen Hindia Belanda dimuat di surat kabar.

Baru pada 1921 Ki Hajar Dewantara memutuskan keluar dari NIP dan memilih fokus berjuang pada pendidikan. (hal. 241)  Dia memilih membantu kakaknya, Kangmas Soerjopranoto yang saat itu sedang merintis taman belajar bagi anak-anak di istana Kadipaten Puro Pakualam.
Lalu berjalannya waktu, Ki Hajar Dewantara ingin membuka sekolah sendiri yang sesuai dengan keinginan dan impian yang dimiliki. Yaitu menjalankan sistem pendidikan yang sesuai dengan kondisi anak-anak inlander saat itu. Agar kelak mereka menjadi manusia-manusia yang mandiri, cerdas, cermat, serta menjadi pribadi yang handal secara lahir dan batin. (hal. 260)

Maka pada tanggal 3 Juli 1922 Ki Hajar Dewantara berhasil mendirikan sekolah sendiri, yang diberi nama “National Onderwijs Instituut Tamansiswa” dengan memiliki tujuh asas dan tujuan. (hal. 266-267) Untuk mengenang peristiwa itu, Ki Hajar Dewantara membuat tetenger—pertanda yang berbunyi. “Lawan sastra Ngesti Mulyo.” Artinya “Dengan menguasai ilmu akan mendatangkan kemuliaan, dan melawan segala bentuk kebiadaban.” (hal. 268) Ki Hajar Dewanatara juga berpendapat, “bahwa pendidikan merupakan sarana yang paling utama untuk membebaskan negeri kita dari kebodohan.”(hal. 278)

Dalam menerapkan sistem pendidikan, Ki Hajar Dewantara meyakini, kalau pendidikan itu tidak boleh diberikan dengan paksaan. Tapi dengan sikap penuh kasih sayang, cinta damai, penuh kejujuran dan sopan santun. (hal. 287)  Peserta didik harus ditempatkan sebagai subjek bukan objek, sehingga bisa seenaknya dipaksa dengan berbagai aturan.

Para peserta didik harus diberi ruang seluas-luasnya untuk meningkatkan potensi diri dengan cara kreatif dan bertanggungjawab sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik.

Karena itu, Ki Hajar Dewantara menerapkan tiga semboyan dalam pendidikan di sekolah Tamansiswa; Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. (hal. 288)

Selain mengembangkan daya pikir dan nalar, Ki Hajar Dewantara juga menekankan pendidikan budi pekerti. Agar karakter anak dapat terbentuk secara baik dan tumbuh berkembang menjadi manusia yang memiliki budi pekerti yang mulia. Ki Hajar Dewantara benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan pendidikan. Perjuangan yang dlakukan Ki Hajar Dewantara terus berlanjut bahkan ketika kemerdekaan Indonesia sudah tercapai.

Sebuah novel biografi yang sarat makna dan inspiratif. Dipaparkan dengan bahasa yang mudah dicerna. Buku ini patut dibaca semua kalangan. Kisah tokoh yang yang disebut sebagai bapak pendidikan nasioanl ini, mengajarkan tentang arti pendidikan yang memang bisa mengubah suatu dunia dengan kepandaian yang dimiliki. Meski ada beberapa kesalahan kepenulisan tetap tidak mengurangi kenikmatan membaca buku ini.


Srobyong, 29 April 2016 
Dimuat di Koran Jakarta, Edisi; Senin, 2 Mei 2016 

Kalau mau baca setelah di editi, bisa cek di sini Korjak [Pemikiran dan Perjuangan Pahlawan Pendidikan]


Friday, 22 April 2016

[Resensi] Kiprah Haji Agus Salim dalam Pergerakan

Meneladani Kiprah Haji Agus Salim, Tokoh Pergerakan Nasional

Judul               : Cahaya dari Koto Gadang
Penulis             : Haidar Musyafa
Penerbit           : Sprit & Grow
Cetakan           : Pertama, April 2015
Halaman          : xiv + 466 hlm
ISBN               : 978-602-72438-0-4

Ini naskah asli resensi sebelum ada perubahan dari pihak Koran JakartaVersi revisi bisa dilihat
di web Koran Jakarta. Alhamdulillah ini resensi kedua yang bisa dimuat di media tersebut. Yang saya tahu memang sulit untuk menembusnya. 

Indonesia berdiri hingga sekarang adalah karena adanya sejarah panjang. Perjuangan dari para pahlawan yang berjuang keras dengan tenaga dan pikiran.  Mereka adalah para tokoh pergerakan nasional yang patut diteladani. Berkat usaha keras mereka Indonesia tidak lagi terjerat dari penjajahan. 

Diantaranya adalah  Haji Agus Salim. Tokoh  yang memiliki  nama asli Masyhudul Haq yang berarti ‘Pembela Kebenaran’.  Kiprahnya dalam meraih kemerdekaan dilakukan dengan penuh semangat, penuh keberanian dan tidak mudah menyerah.

Sejak kecil Haji Agus Salim sudah memperlihatkan kecakapannya. Belum genap belajar di Europeesche Lagere School (ELS), beliau sudah menguasai bahasa Belanda. (hal. 9) Setelah tamat dari ELS lalu melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) dan menjadi lulusan terbaik menyandang gelar ‘juara umum’ pada tiga cabang HBS sekaligus yaitu, Batavia, Semarang dan Surabaya. (hal. 66)

Sayangnya setelah itu, Haji Agus Salim harus menelan pahit tidak bisa mewujudkan mimpi yang selama ini diiinginkan—melanjutkan sekolah agar bisa menjadi dokter, karena masalah biaya. Meski sempat sedih, tapi akhirnya memilih bangkit dan menerima apa yang sudah digariskan Tuhan—mulai berpikir positif. “Takdir barangkali  memang tak  mengizinkan saya untuk menjadi seorang dokter. Tapi saya yakin ada takdir lain yang menjadikan saya sebagai seorang bumi putra yang berguna.” (hal. 92)

Haji Agus Salim akhirnya bekerja sebagai penerjamah dan pembantu Notaris pada  Kongsi Pertambangan Batu Bara milik Governemen Hindia Belanda. Lalu setelah setahun dipindahkan  di kantor Konsulat Belanda yang berada di Jeddah, Arab selama lima tahun dengan suka duka yang cukup pelik. Di sana, Haji Agus Salim sempat terlibat konflik dengan pihak konsulat karena lebih membela jamaah haji dari Inlander yang selalu dilakukan tidak adil di Tanah Suci.

Haji Agus Salim mulai terjun ke dunia politik  ketika mengenal  H.O.S Tjokroaminoto dan Organisasi bernama Sarekat Islam (SI) lalu memutuskan bergabung dengan organisasi tersebut (hal. 276)  yang pada perkembangannya, berubah menjadi  Partai Sarekat Islam (PSI).

Alasan bergabung Sarekat Islam adalah karena memiliki asas pemahaman yang sama dengannya.  “Menjalankan ajaran agama dengan seluas-luasnya, sehingga masyarakat akan mendapat wawasan dunia keislaman yang sebenar-benarnya. Dapat menerapkan aturan-aturan keislaman dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat berjihad melawan penjajah sebagaimana yang telah diajarkan dalam Islam.” (hal. 281)

Bersama H.O.S Tjokroaminoto, mereka bahu membahu untuk menentang segala penjajahan dan penindasan yang dilakukan Pemerintahan Hindia Belanda. Selain bergabung dengan SI, Haji Agus Salim juga bekerja di Koran Netaraja sebagai pemimpin redaksi. Namun karena visi yang dimiliki tak sama—mengajak rakyat untuk berjuang dan membentuk pemerintahan sendiri, lepas dari bayang-bayang kolonial,  akhirnya  memilih mundur.  (hal. 288)

Haji Agus Salim diberi gelar “The Grand Old Man”—mengingat banyaknya pengalaman politik yang sudah dijalaninya. Menjadi petinggi Partai Sarekat Islam (PSI) serta  aktif  di kantor Penerbitan Hindia Baroe sebagai redaktur.  Anggota BPUPKI (Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Salah satu anggota panitia sembilan yang bertugas membuat rumusan pembukaan Undang-Undang Dasar. (hal. 402).  Serta menjadi dipolomat pertama di Indonesia. Atas jasanya  kedaulatan Indonesia paska proklamasi mendapat banyak dukungan dari kancah internasional.

Haji Agus Salim terus berjuang dengan gigih tanpa kenal lelah. Ketika  usianya  mulai senja, dia  dipilih sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri. Selain itu  Haji Agus Salim juga mendedikasian dirinya dalam dunia pendidikan.  Haji Agus Salim menyerahkan seluruh hidupnya demi kemerdekaan dan kemajuan Indonesia.

Novel Cahaya dari Koto Gadang adalah bacaan yang sangat direkomendasikan untuk dijadikan bacaan sehat bagi  semua kalangan.  Mengingat novel sejarah ini sangat sarat makna dan inspiratif. Banyak keteladanan yang bisa diambil dari kisah ini. Tentang patriotimse, nasionalisme,  semangat juang meraih cita-cita, selalu bersyukur pada Allah dan selalu berpikir positif. Kehidupan dan perjuangan Haji Agus Salim memberikan suntikan semangat bagi siapa saja yang membaca kisah ini. Dipaparkan dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna, sehingga tidak membosankan. Beberapa keselahan penulis tidak mengurangi kenikmatan membaca buku ini.

Srobyong, 16 April 2016 

[Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara]

Dimuat di Koran Jakarta, Edisi Rabu 20 April 2016