Showing posts with label Fan Ficton. Show all posts
Showing posts with label Fan Ficton. Show all posts

Friday, 6 March 2015

[Fan Fiction] Sayap-Sayap Cinta


Sayap-Sayap Cinta

Kazuhana El Ratna Mida

Genre              : Romance, Action (Just Little)

Cast                 : Monkey D Luffi, Kru Topi Jerami, Boa Hanchok, Doflaminggo




Beberapa bulan lalu

Perang besar tengah terjadi. Peperangan antara Luffi dan Doflaminggo—Shichibukai dengan kekuatan aneh yang mampu menggerakkan tubuh orang lain hanya dengan jari.

Kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki membuat banyak para bajak laut benci tapi tak mampu berbuat apa-apa. Dia terlampau kuat dan sangat sulit dikalahkan.

Namun, saat ini orang yang suka menyebut dirinya adalah calon penguasa laut—tepatnya raja bajak laut—tengah menantang Doflaminggo untuk adu duel demi kemaslahatan umat bersama.

Ya, negeri dalam bahaya jika Doflaminggo tak segera dilenyapkan. Peradapan akan hancur dan kejahatan akan bertebaran. Menakutkan! Bahkan seorang Shichibukai macam Trafalgar Law juga telah terkapar.

~*~

“Hati-hatilah Luffi, dia adalah pemakan buah  Iblis ‘Ito Ito no Mi’, tipe Paramecia.” Robin mengingatkan.

Luffi hanya mengiyakan padahal tak tahu maksudnya dia hanya tahu Dofalminggo sangat kuat, bahkan tadi dia sempat terpelanting dan tersabet hingga berdarah-darah.

“Kamu mengerti, kan?” Robin memastikan.

Luffi mengacungkan jempol.

“Apa iya? Aku meragukannya Robin. Luffi kan sangat bodoh, tidak mungkin dia paham,” bisik Nami.

Robin hanya tersenyum sambil menatap Luffi yang sudah mulai mengambil aba-aba untuk mulai menyerang dengan segera.

Nami pun ikut memerhatikan. Melihat Luffi dan Robin segera bergantian.

“Baka!—bodoh!” gerutu Nami. Dia sedikit menjauh dari arena.

Pertarungan sangat pelik pun terjadi. Luffi dan Doflaminggo saling menjatuhkan.

“Gomu Gomu no Pistol.” Luffi mulai menyerang.

Doflaminggo masih santai dan tersenyum mengejek. Dia berhasil menghindar dan memukul balik Luffi terus-terusan.

“Gomu Gomu No Gigant Jet Shell.”

Dofalminggo terpental. Tanpa ba-bi-bu Luffi segera menggunkan jurus lagi agar bisa cepat menyelesaikan perang ini.

Bug!

Doflaminggo terjatuh karena pukulan telak dari Luffi yang menggunakan gabungan haki dan kekuatannnya.

Doflaminggo yang sudah berdarah-darah kembali bangun, pun dengan Luffi.

Mengalahkan pemakan buah ito itu no Mi, memang sangat sulit. Buah itu adalah salah satu buah terkuat yang ada di  bumi.

“Gomu Gomu no Gigant Pistol.”

“Hybrid.”[1]

Semua kekuatan Luffi kerahkan hingga babak belur.

Dua bulan kemudian

“Onaka ga suita.”

Begitu bangun Luffi langsung merasa perutnya kerocongan. Dia ke luar dari kamar masih dengan beberapa perban yang membungkus tubuhnya.

“Ohaiyou, Luffi.” Sambut Robin dengan ramah. Seperti kebiasaannya setiap pagi dia sudah membaca koran sambil menikmati kopi dan memandang laut luas.

“Apa kau sudah baikan?”

“Em, tapi aku lapar.” Suara cacing di perutnya sudah meronta membuat Robin tertawa.

Boa Hanchok tiba-tiba muncul di kapalnya.

“Kau ada di sini juga?” Luffi takjub. Boa Hanchok memeluk erat Luffi. Lama tak bertemu sungguh membuatnya rindu.

Nami hanya menatap dari jauh. Dasar kenapa Shichibukai itu harus ikut liburan kru topi jerami, gerutunya sendiri.  Dia yang tadinya mau ke bawah, jadi mengurungkan niatnya. Nami kembali ke kamar dan mulai menggambar peta sambil memerhatikan kompasnya.

Suasan kapal jadi rame, ya kedatangan Boa Hanchoklah sebabnya. Dia disambut sangat ramah oleh makhluk-makhluk bernama pria. Kecuali satu Roroana Zoro. Entah apa yang bisa membuat dia tertarik pada wanita. Selama ini hal yang digilai hanya pedang saja.

Sedari tadi dia hanya melihat teman-temannya—Ussop, Chopper, Brook, dan Franky yang sedang asyik bernyanyi bercengkrama.

Sanji? Oh dia sedang memasak makanan istimewa. Ya, katanya untuk menyambut Boa Hanchok Shichibukai paling cantik. (Semua wanita menurut Sanji memang selalu cantik) Tapi di hatinya cuma ada Nami. Itu katanya.

“Taraaaa ... sarapan dengan menu spesial sudah siap dihidangkan.”

Meja sudah penuh dengan masakan aneka makanan yang membuat Luffi tak tahan. Matanya penuh bintang-bintang kecil melihat hidangan itu. Dia sudah kelaparan setelah perang lalu dia lupa sudah makan atau belum.

“Nami sayang!” panggilnya ketika melihat Nami yang akhirnya memutuskan turun dari sarang untuk ikut sarapan.

            “Tadaima—selamat makan.”

~*~
            Ya, setelah keberhasilan Luffi mengalahkan Doflaminggo mereka memutuskan untuk berlibur sejenak di sebuah pulau cantik yang hampir mirip dengan Pulau Langit Skypie.

            Mereka merasa butuh istirahat sejenak dari segala pertarungan. Sebenarnya Luffi juga mengajak Trafalgar law. Tapi Shichibukai itu memilih kembali ke wilayahnya. Yang ada malah Boa Hanchok yang ikut serta.

            “Berapa lama lagi kita sampai, Nami?” tanya Luffi tiba-tiba.

            “Sebentar lagi,” jawab Nami sambil menatap langit.

            “Asyik liburan!” teriak Luffi dengan polosnya. Dia itu selalu seperti itu. Bertindak konyol sesuka hati, tapi akan serius jika sudah memasuki arena pertandingan.

            Angin menerpa wajah Luffi yang tengah memejamkan mata menikmati suara pulau yang kini didatanginya.

            Tiba-tiba Boa Hanchok memeluknya dari belakang. Berbisik lembut padanya.

            “Boleh,” ucap Luffi seketika. berdua mereka meninggalkan kru lain yang baru turun mengeluarkan segala perlengkapan untuk istirahat di darat.

            “Ada apa denganmu, Nami? Hari ini kau nampak lebih pendiam,” komentar Robin.

            “Ah, mungkin perasaanmu saja, Robin. Saatnya belanja,” ucap Nami mencoba riang.

            Robin tersenyum dam mengikuti langkah Nami. Berdua mereka menikmati acara shopping yang telah lama tidak mereka lakukan. Saat seperti ini harus dimanfaatkan dengan baik. Membeli banyak baju buat perjalanan yang sudah menunggu.

            Saat sedang asyik memilih baju, ternyata Luffi dan Boa Hanchok juga ada di sana. Dia memilihkan baju untuk Luffi yang suka baju model itu-itu saja.
            “Luffi, kau mau beli baju juga?” Robin menyapa.

            “Nami, dan Robin.?!” Luffi menatap krunya bergantian .

            “Iya, Hanchok terus saja memaksa. Padahal aku tak suka beli baju yang aneh-aneh,” ucap Luffi jujur.

            “Tapi tak ada salahnya, kan di coba?” Boa Hanchok masih mencoba meyakinkan Luffi.

            “Dicoba saja. Aku jadi penasaran Luffi jika memakai baju resmi.” Nami ikut nimbrung dan tersenyum cekikikan.

            “Aku setuju.” Robin mengakat jempol.

            Satu lawan  tiga, Luffi kalah dia akhirnya mencoba setelah baju yang telah dipilihkan Boa Hanchok.

            “Wow!” Robin mengerling nakal.

            “Ketua kita keren juga.” Robin menyenggol Nami yang sedari tadi diam.

            “Eh ... iya, Robin. Padahal biasanya selalu terlihat bodoh.”

            Luffi melotot. Nami bersembunyi di belakang Robin.

            Selesai belanja, Boa Hanchok langsung mengapit lengan Luffi dan mengajaknya ke tempat lain. Nami hanya bisa menggerutu dalam hati.

            Dia sungguh mengganggu, jerit hati Nami.

            “Sekarang kita ke mana?” Robin membuyarkan lamunan Nami.

            Setelah puas belanja buku mereka memutuskan ke toko buku. Dua kru topi jerami ini memang para maniak buku. Tapi setelah dari sana mereka berpisah. Nami masih mau pergi ke suatu tempat. Itu yang dia bilang pada Robin.

            Sedang robin memilih kembali untuk menikmati kopi buatan Sanji di petang hari.

            “Sampai ketemu di tenda, ya.” Mereka saling melambaikan tangan.

~*~

            Namai berjalan tak tentu arah. Jujur dia tak tahu harus ke mana untuk melangkah. Tapi dia malas kembali ke tenda. Apalagi dengan adanya Boa Hanchok yang begitu menyebalkan mata.

            “Luffi, baka!” umpatnya sambil menedang kerikil di depannya.

            Lelah berjalan tanpa tujuan Nami duduk di sebuah batu dekat pantai. Tapi pastinya jauh dari kapalnya berhenti. Lumayana atau malah sangat jauh.
            Ya, saat ini dia ingin sendiri dulu. Menenangkan perasaannya yang kacau tak menentu.

            Rasanya percuma liburan kalau seperti ini. Bayangan indah yang dia harapkan musnah. Rasanya dia ingin berteriak keras lalu menangis sejadi-jadinya.

            “Kimochi warui—aku membencimu. Baka!”

            Nami menutup matanya. Tak lama kemudian membenamkannya pada kedua kakinya yang ditekuk.

            Di tenda, saat ini teman-teman Nami tengah asyik menikmati pesta makan malam.

            “Hoi, Robin! Nami mana? Bukankah seharian kalian bersama?” tanya Sanji yang menyadari tak ada kehadiran Nami. Gadis galak yang suka marah dan mengatur tapi punya otak encer dibanding Luffi. Dia menyukainya, sangat.

            “Entahlah, tadi kami memang bersama. Tapi setelah dari toko buku kami berpisah. Katanya ada keperluan yang harus dia selesaikan.”

            “Anak itu ke mana? Malam sudah larut.”  Sanji menatap langit malam penuh kerlip bintang. Begitupun dengan Luffi dia mendengar semuanya.

            Sepanjang hari ini Boa Hanchok  terus menempel pada Luffi, hingga dia tak bisa bergerak bebas.

            “Aku mau mencari Nami dulu,” ucap Sanji sudah mau beranjak.

            “Biar aku saja.” Luffi langsung bangkit meninggalkan Bao Hanchok yang masih merajuk.

            Luffi tetap melangkah. Saat itu dia berpapasan dengan Zorro yang baru pulang. Dia ini memang paling suka telat. Pasti dia tadi tersesat.

            Tapi saat mau masuk dia membisikkan sesuatu pada Luffi. Bagaimanapun dari sekian banyak kru yang ada Zorro memang yang paling dekat dengan Luffi.

            ~*~

            “Menyebalkan ...!” teriak Nami kencang.

            “Dasar, awas saja aku akan membuat pembalasan.”

            Sedari tadi Nami terus mengoceh. Dia sangat sebal tapi tak tahu harus bagaimana. Dia tak mau membuat kerusuhan dengan memulai pertengkaran. Ah, itu bukan tipenya.

            Tapi, gara-gara itu dia harus merasa terasing dan tersingkir.

            Huft!

            Nami menghela napas.

            “Sudahlah!”

            “Tapi, aku sedih dan tidak tahan.” Curhatnya pada pasir-pasir. Saat Nami berjongkok menggambar, mencorat-coret pasir dengan.

            “Luffi, bodoh. Kau ini sungguh keterlaluan.” Marahnya pada gambar yang tadi dia buat.

            “Apa kau tak mau menemaniku? Menikmati malah yang penuh bintang. Berdua saja. Aku sangat rindu,” ucap Nami masih memandang gambarnya.

            “Bukankah sudah lama kita tak melakukannya. Kita selalu sibuk dengan pelayaran dan berkumpul dengan teman-teman.” Lagi-lagi Nami menghela napas.

            “Seharusnya hari ini akan menyenangkan. Aku sudah menantikannya, tapi ...,”

            Nami seolah ingin menangis lagi mengingat Boa Hanchok yang mendadak ikut dan memonopoli Luffi.

~*~


           “Gomen!”

            Pelukan dan bisikan halus  dari belakang  membuat Nami kaget.

            “Luffi.”

            “Percayalah meski seharian aku bersama Hanchok kau yang selalu terlintas dala pikiranku."

            “Hountou ne?—sungguhkah?”

            Luffi mengangguk. Lalu menatap Nami penuh kasih.

            “Dia memang berjasa pernah menolong—menyelamatkan nyawaku—tapi kau tetap satu yang ada di hati selalu.”

            Luffi mengecup kening Nami. Mereka berpelukan cukup lama. Lalu menikmati kerlip bintang bersama.

            Nami merasa sangat senang seolah bisa terbang bersama sayap-sayap rahasia yang dimilikinya, ya sayap-sayap cinta dari Luffi seorang.

            Tanpa sepengetahuan mereka sedari tadi semua teman-temannya melihat kejadian itu. Ya, diam-diam mereka membututi Luffi. Tak menyangka mereka akan melihat pemandangan itu.

            Sanji dan Boa Hanchok yang paling terlihat sakit hati. Cinta mereka ternyata tak sampai ke hati, hanya bertepuk tampak tak akan kembali. Mereka pergi dengan langkah gontai. Berbeda dengan Ussop, chopper dan Franki yang ikut bahagia dengan pilihan Luffi.

            Pun dengan Zorro dan Robin. Mereka sangat mendukung hubungan dua sejoli itu.

            “Kita cari tempat lain.” Zorro menggandeng tangan Robin dengan erat.

            Mereka meninggalkan Luffi dan Nami yang sedang larut dalam percikan cinta. Saling bertatap mesrah lalu berciuman, meleburkan segala rindu yang sempat membuncah.


Srobyong, 6 Februari 2015  


[1] Gabungan dari Gear Second dan Gear Third

dedicate ; 

 Penyair hebat Mbak Hermini  yang juga penggila One Piece. Lalu ditambah dari  Abang Bang Jak Oi. Semoga menikmati meski ceritanya agak amburadul. ^_^

[Fan Fiction] My Love








Fan Ficton


Genre : Romance

Cats : Monkey D Luffi, Nami,

Figuran : Nojiko, Boa Hanchok

Cerita ini hanya fiktif belaka jika ada nama tokoh dan lokasi yang sama itu hanyalah kebetulan semata.

Enjoy Reading. Mungkin seritanya aneh bin ajaib ^_^

Judul : My Love

Oleh : Kazuhana El Ratna Mida

Dia sudah berbeda dari pertama kali kami berjumpa. Dia sudah tumbuh menjadi sosok yang luar biasa. Ya, tanpa aku sadari ternyata hanya dia yang ada di pelupuk mata. Hanya dia dan dia. Merongrong membunuh hati ini dengan sempurna. Aku terpaku, tak bisa berpaling hingga sesak di dada terasa membunuh.

Sungguh aku tak tahu bagaimana semua ini dimulai. Rasa yang menjalar dalam diri berkembang cepat layaknya parasit yang kelaparan menjari inang untuk ditempati.

Ya,  dia mau menerimaku. Memegang pundak dan berkata, “Semangatlah, kau bisa.”

Padahal berkali-kali aku membohonginya, meninggalkan dia tanpa kata pamit malah membawa hartanya. Aih, betapa jahatnya aku ini.

Tapi, dia tetap mengulurkan tangan menerimaku dengan suka cita. “Domo arigatou,” ucapku lirih.

Kutatap langit malam yang untuk kesekian kalinya. dia tak pernah muncul kembali setelah kepergiannya. Doko ni imasuka? Kamu di mana?

~*~

“Kau baik-baik saja?” Nojiko--kakakkudi menatap penuh selidik dan kekhawatiran.

Ya, beberapa bulan ini aku selalu murung dan lebih suka mengurung diri. Atau kalupun keluar aku hanya duduk di atas balkon rumah. Menatap bintang sambil berharap cemas menunggu kalau-kalau kau  pulang.

Kau bilang kota Orange juga kampung halaman untuk dikunjungi sewaktu-waktu.

“Tadaima—aku pulang!”

Segera aku berlari dengan tergesa menyambutmu dengan suka cita, memelukku  dengan mesrah.

“Kau kenapa lama sekali?” tanyaku dengan manja.

“Kau merindukanku ya?” Kau menjetikk hidungku.

“Ya, tentu saja. Sudah beberapa bulan kau tak datang,” protesku padamu sambil menunduk malu.

Segera tanpa banyak kata kau langsung mendekapku. Membenamkanku pada tubuh kekarmu.

Wangi tubuhmu langsung menyergap hidungku, detak jantungmu pun bisa kudengar ketika aku dalam dekapmu.

Namun ketika aku membuka mata semua hanya fatamorgana. Aku pun menangis sejadi-jadinya, menahan sedih dan rindu yang tak bertepi.


~*~

“Hei! Apa yang kau lakukan!” Luffi mendekap tanpa permisi membuatku protes seketika.

“Ikutlah denganku.”

“Tidak mau. Aku mau tinggal di sini dengan kakak dan ibu.”

“Ayolah. Kau harus ikut.” Luffi menarik tangaku dengan paksa.

“Aku bilang tidak mau!” Aku menantang menatap Luffi dengan tajam.

“Dasar, kau masih marah?”

Aku membuang muka. Entah bagaimana perasaanku saat ini. Aku marah, benci dan sedih. Semua bercampur menjadi satu tanpa bisa aku kendalikan hingga memutuskan  pulang tak lagi berlayar.

Kejadian hari itu. ah, aku malas untuk mengingatnya.

“Kau tak percaya padaku?” tiba-tiba Luffi mendekapku dari belakang.

“Bukan begitu, Luffi. Aku ...,” ucapku tercekat.

“Ya, kalau begitu ayo kita berangkat” Luffi langsung menarik tanganku.

“Percayalah padaku.” Luffi mendongkakkan wajahku yang menunduku. Lalu perlahan dia mulai menciumku dengan berapi-api. Ya, dia mungkin sangat merindukanku setelah menghilang dari kepal berhari-hari.

“Kau harus menemaniku,” bisik Luffi ditelingaku.

Aku belum bisa memutuskan saat ini. Aku masih bingung dan juga gamang. Akhirnya aku memutuskan jalan-jalan sebentar ke pantai untuk menikmati deburan ombak malam melepaskan segala penat yang membelenggu.


Kilasan masa lalu tentang aku dan Luffi, kini tumpang tindih tak terbendung lagi.

~*~

“Nami, ikutlah denganku.”

“Apa?”

“Kita berlayar bersama menjadi bajak laut.”

“Tidak!”

“Ayolah! Bukankah kau memiliki cita-cita menggambar peta dunia?”

Nami terdiam menatap cowok aneh yang selalu membuntutinya sedari kemarin. Dia tak lelah membujuk Nami untuk ikut berlayar dan berpetualang.

“Em ... baiklah. Aku mau,” putus Nami akhirnya.

Lalu petualangan mereka pun dimulai, ada suka juga duka yang mereka lewati. Kadang mereka akur atau saling mencela. Suka bercanda bersama layaknya keluarga.

Luffi juga selalu melindunginya. Dia yang paling khawatir ketika dia jatuh sakit.

Ya, Nami masih ingat jelas, ketika Luffi membawanya untuk menemui dokter agar bisa merawat dan menyembuhkannya.

Dia berusaha sangat keras.

            Lalu tanpa Nami sadari rasa itu muncul dengan sendirinya. Dia merasa nyaman jika berada didekat Luffi. Jantungnya berdetak kencang ketika bertatap muka dengan Luffi. Atau kadang merasa kesal ketika Luffi dengan dengan wanita lain.

            Perasaan itu berkembang dengan sendirinya. Nami tak bisa mengontrol karena selalu bersama Luffi setiap hari.

            Hal yang paling memalukan adalah ketika dia mencuri ciuman Luffi yang sedang tertidur pulas di sisinya ketika selesai pesta pora.

            Nami tak bisa mengendalikan diri. Melihat wajah seseorang yang selalu menemani mimpi-mimpinya.

            “Maaf, sekali saja,” lirih Nami. Dia manatap lama Luffi. Dengan seganap keberanian dia mendekatkan wajahnya pada Luffi. Jantungnya berdetak tak karuan. Dia menutup mata tak mengira akan melakukan hal gila ini.

            “Nami!”

            Siapa sangka Luffi terbangun ketika Nami sudah semakin dekat menyetuh wajah Luffi. Dia gugup merasa malu sekali.

            Segera dia ingin menarik wajahnya segera berlari, namun sebelum sempat dia melakukannya, Luffi sudah lebih dulu menarik tubuhnya mendekap dan memberinya ciuman hangat padanya berkali-kali.

            ~*~

            “Aku menyukaimu, Nami,” ucap Luffi sambil memeluk Nami dari belakaang.

            Nami segera memutar tubuhnya menatap mata Luffi mencari kebenaran yang terpancar di sana.

            “Benarkah?” Nami sungguh bahagia.

            Dia langsung memeluk Luffi saking senangnya. Lalu menghadiahkan ciuman hangat pada Luffi.

            Luffi pun menerimanya dengan senang hati dan membalas ciuman itu berkali-kali. Ya, diam-diam dia sudah lama menantikan hari ini.

            Sudah sejak dulu dia memiliki rasa pada Nami.

            Dia ingin Nami selalu ada memerhatikannya dan menemaninya dalam setiap langkah mengarungi samudera.


~*~
            Aku menyukainya sejak kala jumpa pertama. Ketika melihatnya menangis karena dijadikan budak Arlong. Entah kenapa aku tak tahan dan langsung memutuskan untuk membantunya. Aku ingin melindunginya.

            Lalu aku mengajaknya berlayar bersama. Meski dia terus menolak dan pergi menghindar, aku tetap bersikukuh.

            Siang dan malam akau mencoba mengetuk hatinya agar mau ikut bersamaku. Dia ternyata sama keras kepalanya denganku. Kami selalu bertengkar dan adu mulut. Kadang saling pukul karena mempertahan ego masing-masing.

            Aku ingin dia ikut, dan dia tidak mau.

            “Berhentilah mengajakku. Aku mau di kota Orange” jeritnya padaku.

            “Hai, kau akan menyesal ketika tak ikut denganku.”

            “Benarkah?”

            “Ya, tentu saja banyak petualangan dan harta yang kita dapat nanti. Kau juga bisa menggambar petamu sendiri.”

            Kulihat matanya langsung berbinar mendengar tentang menggambar peta. Lalu dia mengangguk setuju begitu saja dan bilang akan ikut denganku.

            Aku tersenyum menang.

~*~
            Kenapa aku lari? Kenapa aku tak ingin kembali? Ya, semua karena hadirnya satu nama yang membuatku kesal tiada tara. Dia selalu mengambil kesempatan berduaan dengan Luffi ketika ada pertemuan para bajak laut di dunia.

            Aku benci, tak hanya itu dia berani mencium Luffi di depan mataku. Aku sakit dan rendah diri.

            Ya, dia sangat cantik. Memiliki postur tubuh ideal dan banyak digemari kaum lelaki. Dia sempurna. Selain itu dia kuat. Tak seperti aku yang lemah dan harus berdiri di belang Luffi setiap saat.

            Ya, karena itu aku pergi. Aku ingin melupakan semua meski kutahu pasti sangat sulit untuk melakukannya.

            Boa Hanchok dia sangat menyukai Luffi hingga ingin menyingkirkanku dari muka bumi.

~*~

Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang. Dia membuyaran segala memori yang bergelantungan di kepala.

 “Kau, akan ikut kembali, kan?”

“Aku tidak bisa, maafkan aku Luffi.”

“Baiklah kalau itu pilihanmu.”

Luffi meninggalkan aku sendiri di tepi pantai. Dia pasti kecewa bahkan sangat marah padaku.

Maaf, sungguh. Mungkin ini adalah jalan terbaik yang harus kita lalui.

Setelah hari itu aku tak pernah melihat Luffi lagi. Dia telah kembali berlayar dan meninggalkan aku sendiri.

Sedang aku dirundung pilu, serta sesal yang tak kunjung sembuh.

~*~

“Sudahlah, Nami. Bukankah dulu itu keputusanmu?” Nojiko menghiburku.

“Aku sangat menyesal, Kak. Aku sangat merindukannya sekarang.” Aku menangis sesenggukan.

Berbulan-bulan kami tak saling sapa, tapi rasaku bukannya mati malah tambah membuncah. Aku rindu padanya.

“Kalau kau sangat menyukainya, kenapa dulu kau tak memilih tetap di sisinya?”

“Aku rendah diri, Kak. Aku merasa tak pantas bersanding dengan raja baja laut yang hebat. Luffi ...,” ucapku terhenti.

“Dasar, kau ini. Sudah semua akan baik-baik saja.” Nojiko memelukku memberi semangat.

“Baiklah, karena sekarang kamu sudah bisa tersenyum. Aku mau pergi dulu. Ada hal yang harus aku urus.” Nojiko dengan cepat sudah hilang dari balik pandanganku.

Kembali aku berbincang dengan para bintang. Menyampaikan risalah hati yang sedang merindu. Rindu sosok yang mungkin telah melupakanku.

“Ya, kau pasti telah melupakanku. Benarkan Luffi?” tanyaku pada bintang di langit.

“Siapa bilang? Aku tak pernah melupakanmu, Nami.”

Aku terperanjat, kubalikkan badan dan kulihat Luffi sudah ada di hadapanku. Mungkinkah aku mimpi?  Aku masih tak percaya.

“Kau tidak bermimpi,” bisik Luffi.

Dia memelukkuerat di bawah sinar bintang yang menjadi saksi.

Saksi dua hati yang akhirnya saling berikrar janji untuk saling mencinta, hidup dalam bingkai kasih dalam pernikahan yang diberkahi.

“Luffi, ma ...,” belum sempat aku melanjutkan ucapankku. Dia sudah melumat bibirku. Kami pun bersatu di malam indah menikmati kehangatan dalam tidur panjang.


---The End---

Srobyong, 8 Februari 2015.

Monday, 10 November 2014

[Fan Fiction] Love is Never Die



Love is Never Die

Judul : Love is Never Die
Author : Ratna Hana Matsura/Kazuhana El Ratna Mida
Genre : Romance , Action, Fantasi.(But, still just a little)
Disclaimer : My favorite film: The Lord of The Ring, Harry Potter, The Chronicle of Narnia, Naruto.
Author's note : Be my self. Just do the best for your live. Because this is my choice.
Code Name : Hanael Elf




            Di kerjaan Elfforia hiduplah dengan tenang para peri yang bahagia. Rajanya berwibawa, sangat mencintai rakyatnya. Tanah mereka yang subur dengan indahnya panorama membuat penduduk tak perlu mengadu nasib ke kota. Semua bahan pangan sudah tersedia di sana.
            Pangeran Legolas, dia peri tampan yang selalu baik pada siapa saja. Dia tidak memandang kasta dan kedudukannya sebagai pewaris raja. Dengan sikapnya yang begitu merakyat, dia pun menjadi pangeran yang diidolakan. Sifatnya memang mirip dengan ayahnya Lord Morder Elf.
            Suatu malam di bulan purnama, Pangeran Legolas bertemu dengan Putri Arwen yang cantik jelita. Dia wanita sempurna yang tengah merenggut hati Pangeran Legolas dalam pandangan pertama.
            Di hutan terlarang mereka sering bertemu dan memaduk kasih melepas rindu. Dua insane yang tengah mabuk cinta ini terlarut dalam cinta syahdu secara diam-diam. Mau bagaimana lagi, jika sampai Aragorn tahu Putri Arwen berhubungan dengan pangera Legolas, maka amarahnya bisa membahayakan rakyat. Maklumlah Aragorn sangat peduli dengan putrinya, dia tidak ingin putrid Arwen menikah dengan sembarangan pria.
            Aragorn sudah mempunyai pandangan siapa yang cocok untuk dijadikan menantunya. Siapa lagi kalau bukan Pangeran Caspian yang tangguh dalam menaklukan para hewan yang merajai kerjaan Narnia.
            “Aku tidak mau Ayah,” ucap Putri Arwen menolak mentah-mentah perjodohan itu.
            “Putriku sayang, dia itu pangeran hebat yang sangat kuat, kenapa kau menolaknya?” tanya ayahnya—Aragorn dengan lembut.
            Putri Arwen menunduk, dia bisu tidak berani mengatakan kalau dia sudah jatuh cinta dengan Pangeran Legolas. Peri yang bersahabat dengan para penyihir kelas atas di Hongwarts. Dan Aragont sangat benci penyihir macam itu. dia hanya mau bersekutu dengan penyihir tertentu, macam Saruman.
            “Pokoknya Arwen tidak mau.” Dia berlari meninggalkan Ayahnya dengan perasaan sedih.
            Di jendela kamar dia mentap bulan yang begitu indah. seandainya Legolas ada disampingnya pasti akan sangat menyenangkan.
            “Kau merindukan aku putri?” Pengeran Legolas mendadak sudah dihadapannya.
            “Pangeran, bagaimana kau bisa?” Putri arwen terkejut. Secara benteng dijaga ketat agar kerajaan Biru ini tidak mudah dimasuki penyusup.
            Pangeran Legolas menunjukkan pada Harry Potter yang ternyata juga ada di kamarnya. Dia yang mengantar Pangeran Legolas dengan sapu terbangnya.
            “Tapi masuk di sini juga berbahaya,” ucap Arwen sedikit pelan.
            Harry dan Pangeran Legolas tersenyum, dia memperlihatkan cincin milik Frodo yang bisa membuat dia tidak terlihat, juga jubah hitam milik Harry warisan dari ayahnya.
            Putri Arwen mengangguk mengerti, dia tersenyum bangga pada orang yang dicintainya ini. Ketika mereka asik melapas rindu, Harry berjaga-jaga jika Raja Aragorn yang nanti bisa datang mendadak.
            “Pangeran kita harus pergi, aku merasakan langkah kaki yang semakin mendekat ke kamar ini,” Harry memperingatkan.
            Segera mereka bersiap pergi, agar tidak ketahuan.
            Wusshhh!
            Mereka sudah terbang dengan sapu terbang Harry menebus bulan.
            Ternyata bukan Raja Aragont yang muncul, tapi Lucy Pevesive saudara sepupu Arwen yang selalu ricuh.
            “Tadi sepertinya aku mendengar ada seseorang di sini,” ucapnya penuh selidik.
            “Tidak ada cantik,” ucap Putri arwen meyakinkan.
            “Berarti aku salah dengar, ya sudah aku mau main ke dunia Narnia dulu ya,” gadis kecil itu sudah hilang melalui lemari kamar Putri Arwen.
            Putrid Arwen bernafas lega. Dia tidak ketahuan.
            Dia mengintip Lucy yang tengah bermain di sungai dengan para kurcaci dengan penuh riang. Sedang asiknya mengintip dia dikagetkan dengan panggilan dari Ibunya. Ratu Elisabet.
            Dia diberitahu, bahwa pertunangan dia dengan  pangeran Caspian tetap berlanjut. Sedih itu yang dirasakan Putri Arwen. Diam-diam dia kabur dari istana dan menemui sahabat lamanya para hobbit, dia memilih tinggal dengan Sam—teman Frodo.
            Pangeran Legolas kaget ketika mengetahui kebar ini, dia dibantu Snape untuk melajak keberadaan Putri, namun gagal.  Maklum saat itu istana hobbit dilapisi kekai yang dipasang Naruto dan para Hokage. Sehingga pandangan mereka tidak tembus sampai sana.
            Raja Aragont juga bingung mencari jejak putrinya, dia memarahi Voldemort yang ditugaskan menjaga Putri, yang malah kecolongan.
            “Itulah aku benci dengan Penyihir dari Hongwarts, kalau bukan karena Saruman yang memintaku.” Ucapnya denga ketus dan meninggalkan Voldemort yang ketakutan.
            Putri Arwen sendiri, asik menimati hidup dipersmbunyiannya dengan para hobbit. Dia memang tidak sempat mengabari Pangeran Legolas, hingga pangeran dirundung pilu.
            Entah dari kebar burung mana, dikabarkan kalau Putri Arwen diculik oleh Pangeran Legolas. Tentu saja Raja Aragont murka. Segera dia menyiapkan bala tentara untu menyerbu dan menyelamatkan putrinya.
            Pasuka Orc disiapkan untuk menyerbu kerajan Elfforia.
            Selama dua bulan perang itu terus berlangsung tanpa ada jeda. Raja Aragorn membunuh dengan membabi buta. Harry dengan sigap dan dibantu Malvoy melawan Penyihir Saruman yang luar biasa.

            Avada Kedavra!” Harry mengacungkan tongkatnya.

            Saruman mundur beberapa langkah. Tidak dia sangka, penyihir muda ini sangat berbakat. Namun, dia dengan segera mencoba dengan cara licik mengalahkan Harry. Untung Sirius Black datang membantu.

            Di saat mereka terus berperang, ternyata Pangeran Caspian malah memanfaatkan kejadian itu dengan menculik Putri Arwen yang tidak sengaja dia temukan saat dia mampir di kota hobbit. Dia marah karena Putri Arwen berkali-kali menolaknya.

            Dia memaksa Purti Arwen untuk menikah denganya. Tentu saja Putri Arwen menolak mentah-mentah dia berteriak memanggil Pangeran Legolas yang memilki pendengar tajam untuk menyelamatkannya.

            Benar saja, dalam hitungan menit Pangeran Legolas sudah berada di sana. Dia bertarung melawan Pangeran Caspian yang terkenal sebagai penakluk para hewan dan peri. Namun, dengan tekad bulat Pangeran Legolas terus melawan. Dia juga seorang peri tapi dia tidak mau mengalah begitu saja. Dia memainkan pedang dengan penuh kekuatan.

            Ciat ciat ciat

            Tring tring tring

            Pedang mereka saling bergesekan. Saling mempertahankan diri. Putri Arwen melihat dengan miris. Dia takut terjadi sesuatu dengan Pangeran Legolas. Haruskah dia minta bantuan para hobbit?

            Untung saja Pangeran Legolas berhasil mengalahkan Pangeran Caspian. Mereka berpelukan penuh haru.

            Di lain pihak, sepertinya kerajaan Elfforia berhasil menundukkan pasukan Orc dan Raja Aragorn. Dengan lemah  Raja Aragorn, mundur ke belakang. Dia sedih putrinya tidak ditemukan, dia juga kalah berperang. Tidak terasanya air matanya jatuh membasahi pipi. Disaat dia melewati hutang terlarang, dia sungguh kaget melihat Putri arwen malah asik masgul berkencan dengan Pangeran Legolas.

            “Dasar Putri tidak tahu diri.” Runtuknya marah.

            Darahnya mendidih. Dengan pedang Khusanagi pinjaman dari Orochimaru, segera dia menghunuskannya pada dua kekasih yang tengah bermesraan itu.

            Jress!

            Darah mengalir deras. Mereka menatap Raja Aragorn penuh tanya. Sungguh ayah yang sangat kejam tega membunuh darah dagingnya.

            Dua kekasih ini akhirnya terbang ke langit menjadi kupu-kupu cantik berwarna ungu. Meninggalkan Raja Aragorn yang terpekur karena rasa sesal membunuh tanpa ba-bi-bu.

            “Ayah, aku ikhlas. Terima kasih.” Ucap Putri Arwen di detik kematiannya. Senyum mengembang di wajah mereka.

            Karena setelah ini, dia bisa berpasangan dengan Pangera n Legolas tanpa ada dinding penghalang yang selalu membuat mereka berjauhan.

            Di istana langit mereka disambut ramah, dan hidup abadi bersama.

Srobyong, 2 November 2014

---The End----