Showing posts with label Koran Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Koran Jakarta. Show all posts

Thursday, 4 April 2019

[Resensi] Membangun Mental Juara untuk Meraih Mimpi



Dimuat di Koran Jakarta, Selasa, 8 Januari 2019 


Judul               : Raih Impian dengan Berpikir Seperti Juara
Penulis             : Gabriela Gonzalez & Ruben Gonzalez
Penerjemah      : Agnes Cynthia
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, September 2018
Tebal               : 278 halaman
ISBN               : 978-602-03-8805-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Menjadi yang terbaik—menjadi juara—merupakan harapan atau impian bagi setiap orang.  Mimpi itu tidak hanya dimiliki oleh pelajar, mahasiswa, karyawan ataupun para pengusaha. Karena dalam hidup kita memang selalu berkompetisi untuk meraih yang terbaik dan teratas. Hanya saja, tidak semua orang mengetahui tentang bagaimana caranya dalam meraih impian tersebut.

Buku ini merupakan kumpulan kisah nyata dari para peraih medali olimpiade dalam menghadapi suka duka,  saat berusaha mewujudkan mimpi mereka. Dengan membaca kisah ini, kita bisa belajar tentang bagaimana cara mereka dalam meraih kesuksesan yang telah lama mereka impikan. Kita juga belajar tentang bagaimana cara membangun mental juara, serta bagaimana membangkitkan kepercayaan diri.

Robert Benitez,  atlet tinju, melalui  kisahnya dia mengingatkan kepada kita bahwa agar berhasil meraih mimpi,  kita harus percaya dengan mimpi itu sendiri dan yakin bahwa kita mampu meraihnya.
Tahun 2000 dia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tes kualifikasi olimpiade. Hal itu tentu saja sangat membuat Robert semangat. Namun sayangnya sekali, dia harus menelan kegagalan. Sedih, kecewa dan marah, tentu saja dirasakan Robert. Namun daripada memelihara kesedihan berkepanjangan, dia memilih bangkit dengan berlatih untuk mempersiapkan diri pada kejuaraan olimpiade 2004 (hal 23).

Hanya saja pada titik itu tantangan yang harus dihadapinya lebih besar dan menantang.  Belum lagi banyak orang yang menganggap bahwa dia tidak akan mampu dalam menyelesaikan misi itu. Namun hal itu tidak mengendorkan mental Robert. Dengan mental yang kuat dan semangat tinggi, Robert membuktikan bahwa dirinya mampu (hal 24).

Khadevis Robinson, atlet lari. Dia menunjukkan bahwa untuk sukses meraih mimpi,  kita harus membuat rencana-rencana ke depan.  Pada tahun 2000, dia mengikuti ajang Kualifikasi Olimpiade Olahraga Luar Ruang AS sebagai salah satu favorit untuk masuk tim olimpiade. Akan tetapi perkiraan itu salah. Khadev gagal dalam kualifikasi tersebut.  Kenyataan itu tentu sangat memukulnya. Tapi dia memilih bangkit, menyusun rencana dan fokus untuk berlatih lagi. Pengalamannya di masa lalu,  mengajarinya untuk selalu berpikir positif.  Membangun pikiran negatif hanya akan membuat dirinya down.

Eddie Liddie, atlet judo, lewat pengalamannya menyadarkan kepada kita bahwa mimpi bisa kita raih jika kita bersikap gigih dan memiliki komitmen. Bagi Eddie olahraga judo awalnya hanya sebuah kebiasaan, karena  setiap hari dia dilatih judo oleh ayahnya. Mengingat kedua orangtuanya merupakan pemegang sabuk hitam dalam judo. Namun ketika dia duduk di bangku kuliah,  dia menyadari bahwa dirinya  sangat menyukai olahraga ini dan ingin mengikuti olimpiade. Di sanalah dia sadar bahwa untuk meraih impiannya mengikuti olimpiade, dia harus berjuang keras. Dia harus gigih dan pantang menyerah.

Janet Evans, atlet renang, menurutnya agar kita bisa meraih impian, maka kita harus siap mengambil tindakan dan menunjukkan kesungguhan kita. Pertama kali dia memimpikan olimpiade adalah setelah setelah menghadiri Seremoni Pembukaan Olimpiade 1984 sebagai penonton. Sejak hari itu dia bertekad bahwa nantinya dia akan ikut olimpiade cabang renang. Untuk mewujudkannya dia mulai rajin berlatih renang dan rela bangun pagi setiap hari, agar bisa melatih kemampuannya.

Shannon Miller, atlet senam, memaparkan jika kita ingin meraih sebuah impian, maka kita tidak boleh menyerah.  Dalam perjalanan menunju olimpiade, dia mengalami cedera, kelelahan fisik, emosional, perubahan dalam ukuran dan bentuk tubuh, serta tekanan  dari diri sendiri untuk meraih kesempurnaan. Masa itu merupakan masa yang cukup berat. Namun dengan semangat yang tidak mudah menyerah, dia berhasil mengatasi ketakutannya dan tetap tampil terbaik saat mengikuti olimpiade.

Secara keseluruhan melalui buku ini kita belajar bahwa dalam meraih mimpi kita harus memegang lima prinsip. Yaitu  mempercayai mimpi, menyusun rencana ke depan, berkomitmen pada impian, siap mengambil tindakan dan  tidak mudah menyerah.

Bruce Jenner, atlet Dasalomba Atletik memaparkan, “Satu-satunya cara untuk mencapai tujuan dalam hidup ini ialah dengan  bekerja keras. Entah kita seorang pemusik, penulis, atlet, entah pebisnis, tidak ada jalan pintas untuk mencapainya. Jika kita melakukannya, kita akan menang. Jika tidak kita tidak akan menang.” (hal 153).

Srobyong, 4 Desember 2018

Tuesday, 5 March 2019

[Resensi]Pengaruh Gadget pada Perkembangan Anak

Dimuat di Koran Jakarta Kamis 3 Januari 2019 


Judul               : Digital Parenthink
Penulis             : Mona Ratuliu
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Juli 2018
Tebal               : 202 halaman
ISBN               : 978-602-385-513-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Menjadi orangtua di masa sekarang, kita memiliki banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Keberadaan  gagdet dan internet,  yang sudah menjadi bagian keseharian anak sejak lahir, selain memberi kemudahan bagi hidup, hal itu juga membawa pisau tajam yang bisa berbahaya bagi anak.  Oleh sebab itu sebagai orangtua kita harus memberikan arahan yang tepat kepada anak dalam memanfaatkan gadget.  Karena saat ini gadget sudah menjadi magnet yang digandrungi oleh anak.

Menurut survei yang diselenggarakan oleh google pada Desember 2014 hingga Februari 2015, rata-rata orang Indonesia secara akumulatif menghabiskan waktu selama 5,5 jam sehari menatao layar smartphone-nya. Dan itu belum termasuk bermain online game, nonton YouTube di PC, main game console dan lain sebagainya (hal 29).  Jika hal ini dibiarkan terus, maka keadaan tersebut lambat laun akan merusak anak.

Buku ini  membahas tentang  pengaruh gadget pada perkembangan anak baik dari segi positif dan negatif.  Keberadaan buku ini akan membantu orangtua saat ini dalam mengasuh anak di era milenial ini. Menurut salah satu pakar psikologi, setidaknya ada delapan perkembangan anak yang akan terpengaruh oleh penggunaan gadget.

Pertama, perkembangan motorik.  Pada usia balita, diharapkan anak sudah mencapai aspek motorik halus dan kasar. Misalnya anak sudah bisa menulis nama sendiri (motorik halus), mengancingkan baju secara mandiri (motorik halus), menangkap bola (motorik kasar) dan sebagainya.  Namun, kecenderungan anak yang bermain gadget secara berlebihan membuat anak jadi kehilangan waktu untuk melakukan permainan dan melibatkan fisik. Hasilnya, banyak anak zaman now yang mengalami kesulitan pada keseimbangan tubuh dan lain-lain (hal 32).

Kedua, perkembangan fisik. Membiarkan anak terlalu sibuk dengan gadget akan membatasi aktivitas gerak anak. Padahal sejak kecil anak harus diajarkan melakukan berbagai aktivitas fisik yang menyenangkan. Karena aktivitas fisik bisa mendatangkan banyak manfaat. Di antaranya menghindarkan anak dari obesitas—yang merupakan sumber penyakit, bisa melepaskan hormon endorfin yang dapat mendatangkan perasaan senang dan nyaman sehingga anak berenergi. 

Ketiga, perkembangan moral.  Mudahnya berbagai akses yang bisa dilihat anak, maka kita harus mengarahkan anak agar tidak melihat konten seperti kekerasan fisik, perbuatan asusila yang nantinya bisa merusak moral anak. Keempat, perkembangan sosial.  Ketika anak selalu sibuk dengan gadget, hal ini berakibat anak menjadi malas bersosialisasi. Padahal bersosialisasi sangat penting dilakukan, karena bisa memengaruhi kesejahteraan serta psikis seseorang.

Kelima, perkembangan indentifikasi gender.  Derasnya arus informasi memang memudahkan kita dalam mendapat informasi,  termasuk gambaran mengenai peran gender di lingkungan kita. Sayangnya tayangan yang ada, secara tidak sadar telah menyajikan pergeseran nilai gender wanita dan pria yang sesungguhnya.  Keenam, perkembangan bahasa. Gadget bisa membantu anak saat ini dalam belajar berbagai bahasa asing. Namun di sisi lain, penggunaan gadget sejak dini pada anak bisa menyebabkan keterlambatan bicara  (speech delay). Hal ini disebabkan karena anak terlalu sering mendengar suara dan menonton gadget.

Ketujuh, perkembangan neuroligi. Ketika masih kecil anak memiliki saraf yang bisa menyerap berbagai informasi dengan cepat. Aplikasi yang ada di dalam gadget ini bisa jadi sangat membantu anak untuk  mengenalkan berbagai macam informasi edukatif. Namun perlu kita ingat, saat menstimulus anak kita harus memerhatikan waktu terbaik dan disertai bimbingan orangtua.

Kedelapan, perkembangan kognitif.  Adanya film dan aplikasi games pendidikan marak bermunculan dengan kemasan menarik.  Hal ini mampu menstimulus pola pikir anak menjadi lebih baik. Sehingga anak dapat belajar membaca, menulis, berhitung atau pun keterampilan lain dengan cara yang lebih menyenangkan. Namun tentu saja kegiatan tersebut harus dengan pendampingan dari orangtua.

Jika kita ingin mengenalkan gadget kepada anak, Ikatan Dokter Anak di Amerika Serikat mengeluarkan waktu tatap layar yang tepat. Anak di bawah 18 bulan tidak diperkenankan menggunakan gadget, kecuali untuk aplikasi video chating.  Bagi anak berusia 2-5 maksimal satu jam perhari dalam menatap layar, namun harus dengan bimbingan orangtua. Anak berusia di atas enam tahun ke atas, bisa diberikan batasan waktu yang tegas, dalam menggunakan digital, di luar waktu “wajib” seperti sekolah, mengerjakan tugas sekolah, membantu orangtua dan tidur.  

Srobyong, 21 Desember 2018

Saturday, 1 December 2018

[Resensi] Pendidikan Keuangan untuk Meraup Kekayaan

Dimuat di Koran Jakarta, Rabu 21 November 2018


Judul               : Why the Rich are Getting Richer
Penulis             : Robert T. Kiyosaki & Tom Wheelwright
Penerjemah      : Fairano Ilyas
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Februari 2018
Tebal               : 306 halaman
ISBN               : 978-602-03-8107-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Jika kita ingin menjadi seorang jutawan, maka kita memerlukan pendidikan keuangan. Dengan pendidikan keuangan, kita bisa mengelola uang yang kita miliki dengan baik, sehingga kita bisa memperoleh banyak keuntungan.  Buku yang ditulis Robert T. Kiyosaki dan Tom Wheelwright ini sangat cocok untuk kita baca.  Dengan sudut pandang baru dan cara berpikir yang berbeda, Robert mengajarkan tentang konsep keuangan yang baik dan akurat.  Buku ini dengan lugas dan jelas, akan memaparkan tentang apa itu pendidikan keuangan dan pengaruhnya dalam memperoleh kekayaan. 

Jika dulu menabung merupakan cara pintar dalam mengumpulkan uang, maka saat ini penabung dianggap sebagai pecundang.  Dahulu kala, menjalani hidup di bawah  kemampuan dan banyak menabung adalah sesuatu yang masuk akal. Kita bisa memperoleh jaminan keuangan, mungkin bahkan menjadi kaya, dengan hidup berhemat dan menabung untuk masa depan. Namun setelah 1971, tahun ketika Presiden Nixon melepaskan dolar dari standar emas dan membuka pintu bagi bank serta pemerintah untuk mencetak uang, hidup di bawah kemampuan dan menabung menjadi tidak masuk akal.

Lebih jelasnya dipaparkan oleh penulis, pada 1976 tabungan sebesar $ 1juta X bunga 15% = $150.00 setahun. Pada masa dulu kita akan sejahtera dengan %150.000 dari hasil tabungan kita. Akan tetapi pada masa sekarang, tabungan $ 1juta X bunga 2% = $20.000 setahun. Ini menunjukkan bahwa bunga tabungan mulai meninggi. Kemudian mari kita lihat suku bunga dibandingkan dengan inflasi, yang terjadi karena pemerintah terus mencetak uang. Jika tingkat inflasi 5%, berarti kita telah kehilangan 3% uang yang kita tabung per tahun.

Maka tidak salah ketika Warren Buffet memberikan pesan bagi penabung, “Satu hal yang akan saya katakan pada Anda adalah bahwa investasi terburuk yang Anda lakukan adalah investasi tunai. Semua orang mengatakan uang tunai adalah yang terpenting dan segala sesuatu seperti itu. Dalam beberapa waktu, uang tunai tidak akan ada nilainya.” (hal 36).

Kemudian permasalahan pajak, yaitu pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara yang digunakan kembali untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.  Bagi sebagian orang akan menganggap bahwa pajak, sedikit banyak akan mengurangi kekayaan kita. Padahal jika kita mengetahui pendidikan keuangan, maka kita bisa menyiasati pembayaran pajak lebih kecil secara legal. Sehingga keyayaan kita bukannya berkurang namun bertambah.

Kita bisa melihat siapa yang membayar pajak paling  besar atau sedikit lewat kuadran. Pertama E—employee (pegawai) membayar pajak 40%. B—big business owner (pengusaha besar) membayar pajak 20%. S—Self-employed (bekerja sendiri), small businers, atau spesial dokter, pengacara dan lain sebagainya membayar sebanyak 60%. Dan I—investor aktif membayar 0%.

Misalnya saja Gubernur Mitt Rommey membayar pajak 13% sedangkan Presiden Barack Ombama membayar 30%.  Ini terjadi karena Rommey beroperasi dari kuadran B—big business owner (pengusaha besar) dan sebagai I—investor aktif. Sedangkan Obama beroperasi  sebagai E—employee (pegawai) dan S—Self-employed (bekerja sendiri), small businers, atau spesial dokter, pengacara dan lain sebagainya (hal 55).

Oleh sebab itu Tom Wheelwright, memaparkan “Seseorang harus menempatkan diri dalam situasi yang tepat untuk memperoleh manfaat pajak. Bila kita melakukannya, tidak peduli kaya atau tidak, kita akan memperoleh manfaat pajak.” (hal 57).

Selain yang sudah dijelaskan di atas, penulis juga membahas tentang manfaat utang yang ternyata juga memiliki potensi untuk membuat orang kaya semakin kaya. Salah satunya karena adanya  bunga pinjaman dan utang ternyata bebas pajak. Tom Wheelwright memaparkan, “Aturan umumnya semua pendapatan dikenakan pajak. Pendapat sendiri adalah uang yang Anda terima yang boleh  digunakan sesuka hati tanpa terikat apa-apa. Dan utang bukanlah pendapatan. Anda harus membayar kembali. Jadi, bila Anda meminjam uang untuk diinvestasikan, itu adalah bebas pajak. Hal itu membuat utang menjadi lebih murah daripada ekuitas (uang yang sudah dipajaki). Jadi, meskipun Anda dikenakan bunga 5-6%, utang jauh lebih murah daripada bila Anda menggunakan ekuitas yang dikenakan pajak 40%.” (hal 101).

Buku ini sangat pas dan patut dibaca bagi siapa saja yang ingin bisa mengelola uang dengan baik dan meraup kekayaan.

Srobyong, 18 November 2018

Thursday, 29 November 2018

[Resensi] Spirit Penyandang Disabilitas Meraih Kesuksesan

Dimuat di Koran Jakarta, Kamis 1 November 2018


Judul               : Change Your Destiny
Penulis             : Rully Roesli
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-402-124-5
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Terlahir sebagai seorang  disabilitas, hal itu tidak menghalangi Rully Roesli untuk berjuang meraih cita-citanya menjadi dokter.  Dengan ketekunan, semangat juang tinggi dan tidak mudah putus asa, dia akhirnya berhasil menjadi dokter ginjal terkemuka di Indonesia. Bahkan dia berhasil mendirikan RS khusus Ginjal Ny. R.A Habibie.

Buku ini memberikan energi positif kepada siapa saja yang membacanya. Menginspirasi dan sangat memotivasi. Memaparkan tentang semangat merubah takdir yang kita miliki dengan  mengenal  dan meningkatkan potensi diri sendiri. “Kadang kehidupan dapat   menumbangkan kita. Kitalah yang memutuskan untuk tetap jatuh atau kembali bangkit.” (hal 61).

Pada usia lima tahun, Rully tiba-tiba terserang penyakit polio, yang menyebabkan kelumpuhan permanen pada kaki kirinya. Keadaan itu tentu saja mengubah jalan hidup Rully. Akan tetapi dia berani melawan takdir tersebut. Alih-alih merasa terpuruk, Rully memilih bangkit dan mengembangkan potensi yang dia miliki.  Dia menyakini bahwa seseorang yang telah dilahirkan dengan kondisi yang “kurang beruntung”, sebenarnya diberi kesempatan untuk mengubah nasibnya (hal 35).

Dia juga menyadari bahwa setiap manusia  itu memiliki kedudukan sama. Baik penyandang disabilitas atau tidak, masing-masing memiliki hak untuk berprestasi dan  meraih kesuksesan.  Kunci untuk meraih kesuksesan itu adalah  mau berusaha  dengan gigih, berdoa dengan sungguh-sungguh dan tawakal kepada Allah.

Selain Rully, dipaparkan juga tentang pengalaman-pengalaman menarik dari para penyandang disabilitas lain, yang telah berani untuk merubah takdir mereka. Keterbatasan yang dimiliki, tidak menghalangi mereka untuk berprestasi dan mengejar mimpi hingga meraih kesuksesan.

Adalah Jessica Cox. Dia terlahir tanpa lengan. Keadaan itu sempat membuat dia marah sedih, karena kekurangan fisiknya itu telah membuat dia kesulitan dalam melakukan berbagai aktivitas. Akan tetapi pada usia empat tahun. Jessica berhasil mengatasi kekurangannya dan mulai percaya diri.  Lalu pada usia 10 tahun dia ikut pelatihan taekwondo di sekolahnya, dan berhasil meraih sabuk hitamnya pada usia 14 tahun.

Prestasi lain yang diperolahnya adalah berhasil menyabet gelar juara pertandingan Arizona State Champion dalam peserta umum, bukan khusus penyandang difabel. Tidak hanya menggeluti taekwondo, dia juga aktif dalam olahraga renang, selam dan selancar. Yang lebih menakjubkan adalah dia berhasil mengantongi lisensi pilot. Dia memperoleh pernghargaan “Guinness World Record : The Only Pilot to Fly with Their Feet—satu-satunya pilot yang terbang menggunakan kakinya—dan US Inspiration Awards for Woman 2012”. Dia telah menjadi pembicara motivasi dan berbagi pengalaman hidupnya di 20 negara yang berbeda. Tahun 2015 dia telah menerbitkan buku autobiografi dengan judul Disarm Your Limits (Lucuti Keterbatasan Anda). (hal 116-117).

Dari negeri sendiri, ada Untung, yang merupakan seorang guru yang lahir di Madura.  Sebagaimana Jessica Cox, dia juga terlahir tanpa tangan. Namun keadaan itu tidak membuatnya sedih berkepanjangan. Menurutnya masih banyak hal yang patut disyukuri. Tidak ada tangan, masih ada kaki.  Meski dia kerap diganggu dan harus berjuang lebih keras saat menempuh pendidikan di sekolah umum, Untung tetap menjalani dengan  kuat dan tegar.

Dan meski menjadi penyandang cacat permanen, hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi seorang guru. Karena baginya guru adalah panggilan jiwanya.  Dia memiliki etos kerja yang sangat baik, sehingga  meskipun  statusnya sebagai guru honorer, oleh teman-temannya dia diangkat sebagai Wakil Kepala Sekolah. Selain menjadi guru, untuk menafkahi keluarganya dia juga beternak ayam di kampung (hal 118).

Selain dua tersebut masih ada kisah-kisah lain penyandang disabilitas yang telah berhasil meraih kesuksesan. Seperti  Helen Keller, Albert Einstein, Ludwig Van Beethoven, Louis Braille, Stephen William Hawking dan banyak lagi.  Merekalah orang-orang yang telah menjadikan kecatatan tubuhnya sebagai epinafi atau titik balik kehidupan.  Sebuah titik balik yang mengarahkan mereka pada jalan yang lebih baik.  

Melalui buku ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa dalam menghadapi berbagai masalah, kita harus percaya dengan kemampuan diri sendiri, gigih dalam berjuang dan tidak mudah putus ada dengan keadaan yang menimpa kita.  Keunggulan lain dari buku ini adalah penulis menggabungkan dasar ilmiah dengan kajian agama yang selaras dan mudah dicerna.

Srobyong, 19 Oktober 2018

Tuesday, 20 November 2018

[Resensi] Sukses Membangun "Kerajaan" Bisnis Cendol

Dimuat di Koran Jakarta , Rabu 17 Oktober 2018


Judul               : Madesu : Masa Depan Sukses!
Penulis             : Danu Sofwan
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Februari 2018
Tebal               : 216 halaman
ISBN               : 978-602-6716-20-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Dulu Danu Sofwan bukan siapa-siapa. Namun dengan kemauan keras dan tidak pantang menyerah, sekarang dia terdaftar sebagai salah satu pengusaha muda sukses di Indonesia.  Dialah pendiri Randol—bisnis minuman cendol yang banyak meraup keuntungan.  Lebih dari 700 outlet tersebar di seluru Indonesia. Buku ini dengan bahasa yang lugas, persuasif dan mudah dipahami, akan mengajak kita untuk mengetahui lebih jelas tentang tips dan trik yang dilakukan Danu hingga dia, bisa sukses menjadi seorang pebisnis.

Pertama adalah dengan mempraktikkan  rumus MLM (Multi- Level Motivation).  Sebagaimana kita ketahui motivasi adalah kekuatan tersembunyi.  Motivasi memiliki dorongan yang bisa membangkitkan, mengarahkan, merangsang, dan mendongkrak gairah seseorang melakukan berbagai tindakan untuk mencapai tujuan. Sebagaimana yang dipaparkan Danu bahwa, “The best motivation is yourself.” (hal 25).

Sebelum Danu meraih kesuksesan, dia pernah berada pada titik yang paling rendah. Setelah usahanya ayahnya bangkrut, Danu harus menjadi kepala keluarga dan mengumpulkan uang untuk bertahan hidup.  Sepuluh kali dia berusaha membangun bisnis meski dengan modal sedikit, atau bahkan tanpa modal. Tetapi berkali-kali itu juga, dia  gagal dan bahkan sempat menjadi korban penipuan. Akan tetapi Danu tidak menyerah. Dia terus merangkak dan memotivasi dirinya sendiri untuk bangkit.  Tagline  madesu—masa depan suram, yang kerap menghantui pikirannya, dia jadikan motivasi tertinggi untuk mengalahkannya. Di mana dia mengganti kata suram menjadi sukses.

Kedua, jangan pernah takut gagal. Dalam membangun sebuah bisnis, kegagalan itu akan selalu adan sangat dekat. Tidak mungkin sebuah usaha dimulai dan langsung melejit sukses. Bahkan Thomas Alva Edison gagal berkali-kali sebelum akhirnya dia sukses menciptakan lampu bohlam pertama di dunia.  Hal itu pula yang pernah dialami Danu.  Dia gagal berkali-kali dalam membangun bisnis. Namun kegagalan itu tidak pernah membuat semangatnya surut. Dia mempraktikkan tiga hal, agar dia terus melangkah maju.  Dia menyingkatkanya  POC, yaitu : Passion (hasrat), Oppurtunity (peluang) dan Chance (kesempatan).

Di sini Danu sangat menyadari bahwa dia memiliki passion yang kuat untuk membangun sebuah bisnis cendol. Dia ingin menjadi seorang entrepreneur. Oleh sebab itu dia selalu semangat. Karena dia menyukai dan menikmati apa yang tengah dia kerjakan. Sebagaimana yang sering Steve Jobs katakan, “Satu-satunya jalan untuk menghasilkan karya yang hebat adalah dengan mencintai apa yang kamu kerjakan.” (hal 41).

Selain passion, Danu juga memanfaatkan peluang yang ada. Danu selalu meyakini bahwa selalu ada kesempatan bagi siapa saja untuk meraih kesuksesan. Untuk itulah dia terus berusaha  melakukan yang terbaik dalam membangun bisnis.  Dia tidak peduli ketika ide berbisnis cendol yang sempat dipandang sebelah mata dan ditertawakan teman-temannya. Danu lebih memiliki tetap bergerak untuk mewujudkan impiannya itu. Tentu saja Danu melakukan berbagai riset data sebelum akhirnya benar-benar memulai usahanya. Dan hasilnya bisa kita lihat sekarang. Bisnisnya maju dan mengantarkannya menjadi pengusaha muda yang sukses.

Terakhir adalah peluang.  Banyak yang punya kemampuan, tapi banyak juga yang tidak punya kesempatan.  Yang pasti orang-orang berhasil adalah mereka yang tidak pernah sekali pun menunggu kesempatan datang, tapi mencoba mencari bahkan menciptakannya. Seperti quote klasik, “Seorang pesimis selalu melihat banyak kesulitan di setiap kesempatan. Tapi sebaliknya, seorang optimis selalu melihat banyak kesempatan dalam kesulitan.” (hal 46).

Inilah yang dilakukan Danu. Dia menyadari bisnis jualan cendol sudah banyak di mana-mana.  Bahkan mirisnya cendol kerap hanya dikenal sebagai minuman pinggiran. Oleh karena itu Danu perlu membuat sesuatu yang unik dan berbeda dari minuman cendol sudah pernah ada. Setidaknya dia harus mengangkat minuman cendol  ke pasar modern Indonesia.  Dia pun mulai melakukan konsep, mulai dari membuat nama brand yang ear catchy, membuat packaging yang fresh, membuat logo yang menarik, fleksibel dan futuristik (hal 110).

Selain yang sudah dipaparkan, dalam buku ini dijelaskan juga agar kita membuka mindset dan membangun aset. Di mana pada fase ini kita akan dihadapkan pada empat tahap yaitu, fase memulai, fase membangun, fase  sabaran dan fase  bangkit. Inilah di antara tips dan trik yang pernah dilakukan Danu dalam meraih kesuksesan. Buku ini akan sangat membantu dan memotivasi bagi siapa saja yang ingin meraih kesuksesan.

Srobyong, 10 Oktober 2018 

Thursday, 4 October 2018

[Resensi] Meraih Kesuksesan dengan Menerapkan Ikigai

Dimuat di Koran Jakarta  Rabu, 5 September 2018


Judul               : The Book of Ikigai
Penulis             : Ken Mogi, Ph.D.
Penerjemah      : Nuraini Matsura
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Juni 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-385-415-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Salah satu cara agar kita bisa meraih kesuksesan adalah dengan menerapkan ikigai dalam kehidupan sehari-hari.  Ikigai sendiri adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Secara sederhana ikigai adalah filosofi Jepang yang memberikan motivasi, semangat, gairah dan tujuan untuk menjalani hidup. Di mana dengan ikigai, kita bisa menjalani hidup yang lebih menyenangkan, bisa terhindari dari stres bahkan kita bisa meraih kesuksesan.

Dengan penjelasan yang terperinci dan mudah dipahami, Ken Mogi  dengan bukunya,  The Book of Ikigai mencoba menunjukkan tentang peran penting ikigai dalam meraih kesuksesan, dan kisah-kisah inspiratif pelaku ikigai yang patut kita teladani. Dijelaskan pula lima pilar yang harus kita lakukan ketika ingin menerapkan ikigai agar kita sukses.  

Pertama, mengawali dengan hal yang kecil.  Misalnya kebiasaan bangun pagi. Disadari atau tidak kebiasaan bangun pagi akan membuat kita selangkah lebih depan dari pada orang-orang yang terbiasa bangun siang. Sebagaimana yang dilakukan oleh Jiro Ono, pemilik Sukibayasi Jiro, restoran sushi. Dia selalu bangun pagi agar bisa pergi ke pasar untuk mendapatkan ikan terbaik. Dia juga tidak segan untuk memijit daging gurita selama satu jam, agar hasilnya lebih lezat. Dia juga tidak segan  membersihkan sisik dan usus ikan demi menghasilkan sushi yang nikmat (hal 7).

Kebiasaan sederhana itu, merupakan salah satu kunci sukses yang mengangtarkan Jiro  Ono, sebagai  chef bintang-tiga-Michelin dan restorannya menjadi yang terbaik di dunia. Ada pula Hiroki Fujita, yang berdagang tuna di pasar ikan Tsukiji yang terkenal di Tokyo.  Dia selalu bangun pagi agar bisa memperoleh tuna terbaik. Fujita menyadari  seni memilih tuna itu sangat rumit. Jika dia bangun terlambat, bisa jadi dia tidak akan mendapatkan tuna terbaik, dan tidak memperoleh keuntungan.  Di Jepang sendiri kebiasaan bangun pagi memang sudah menjadi kebiasaan sejak masa era Edo (1603-1868) ketika Jepang diperintah oleh  Keshogunan Tokugawa. Di mana hal ini dilakukan demi meraih kesuksesan dalam bidang pertanian (hal 27).

Kedua, membebaskan diri sendiri.  Artinya kita tidak memedulikan definisi sosial, baik masalah pangkat atau profesi. Menurut Mihaly Csikzentmihalyi, seorang psikolog Amerika kelahiran Hungaria, membebaskan diri sendiri berarti kita berada pada  kondisi flow (mengalir). Di mana kita tidak memerlukan pengakuan  untuk hasil kerja atau upaya yang telah kita lakukan. Kita larut dalam aktivitas  sehingga rasanya tidak ada yang lebih penting (hal 78).

Seperti  Sei Shinagon yang nyaris tidak  pernah merujuk posisinya di masyarakat dalam keseluruhan The Pillow Book. Padahal dia merupakan penulis cerita film-tersebut.  Hal itu juga berlaku bagi Jiro Ono, yang tidak memedulikan posisinya sebagai seorang chef hebat. Baginya yang terpenting adalah selalu menghasilkan sushi terbaik, agar siapa saja yang menikmatinya bisa merasakan kenikmatan dan kelezatannya.

Ketiga, keselarasan dan kesinambungan.  Yaitu kita bisa menyesuaikan diri dalam berbagai lingkungan masyarakat dan siap untuk melanjutkan kebiasaan yang sudah ada tersebut. Mengingat di Jepang memang kaya akan adat dan budaya. Seperti kebiasan dalam minum teh juga olahraga sumo. Keselarasan dan kesinambungan merupakan etos  terpenting dan unik  dari cara berpikir masyarakat Jepang.

Sikap inilah yang dipertahankan Ono dalam menjalankan restorannya. Dia melestarikan salah satu makanan khas di Jepang dengan sushinya. Dia berusaha menghasilkan sushi terbaik agar siapa saja yang menikmatinya merasa senang dan puas. Dia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, hingga masih bertahan hingga sekarang. Karena hal itu pula-lah Jiro Ono berhasil meraih kesuksesan.

Selain tiga pilar tersebut masih ada dua pilar lagi yaitu kegembiraaan dari hal-hal kecil dan hadir di tempat dan waktu sekarang. Semuanya saling melengkapi dan jika kita menerapkannya maka kita pun bisa meraih kesuksesan. Dan kita tidak perlu khawatir ikigai ini bukan hanya bisa dimiliki oleh orang Jepang. Karena setiap manusia juga bisa memiliki ikigai sendiri.  Secara keseluruhan buku ini mengajarkan kita untuk  menerima diri sendiri dalam melakukan sebuah pekerjaan.

“Rahasia terbesar ikigai adalah menerima diri sendiri, apa pun ciri-ciri unik yang mungkin kita miliki semenjak lahir.” (hal 183).

Srobyong, 24 Agustus 2018

Thursday, 23 August 2018

[Resensi] Nasihat Terbaik Tentang Upaya Meraih Kesuksesan

Dimuat di Koran Jakarta, Rabu 8 Agustus 2018


Judul               : Road to Success
Penulis             : Napoleon Hill
Penerjemah      : Sandra Imelda
Terbit               : Juli 2018
Tebal               : 244 halaman
ISBN               : 978-602-03-5644-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Bisa meraih kesuksesan adalah mimpi semua orang. Terlahir dari keluarga sederhana dan tinggal di daerah pegunungan terpencil, Napoleon Hill memiliki semangat tinggi dalam usaha mewujudkan impiannya. Ketika akhirnya mimpinya berhasil terwujud, Hill menuliskan tentang rambu-rambu atau jalan yang bisa ditempuh semua orang yang ingin meraih kesuksesan. 

Hill memaparkan bahwa ada 15 jalan yang harus kita miliki jika ingin menjadi orang yang sukses. Dipaparkan dengan gaya bahasa yang sederhana dan persuasif, buku ini mengingatkan kita, bahwa dalam upaya meraih kesuksesan, kita tidak boleh menyepelekan hal-hal kecil. Karena sesuatu yang kecil jika kita asah, pada akhirnya akan membuahkan sesuatu yang besar. 

Pertama, kita harus memiliki keinginan sebagai tujuan utama dalam hidup. Perlu kita ketahui pelopor seluruh keberhasilan manusia adalah keinginan. Keinginan yang kuat adalah kekuatan misterius  sosok genius yang sedang tidur dalam otak manusia yang mulai bangkit dan bekerja, keinginan adalah bara yang meletup menjadi lidah api di tungku upaya manusia dan menghasilkan uap yang menghasilkan tindakan (hal 18). Ketika kita memiliki keinginan yang kuat, maka sudah pasti kita akan memiliki semangat tinggi untuk bertindak, berusaha mewujudkan.

Kedua adalah percaya diri. Untuk meraih kesuksesan kita harus percaya pada diri sendiri. Karena kepercayaan diri memiliki peran penting bagi kita untuk membuka jaringan. Jika kita tidak mempercayai dan menghargai diri sendiri, bagaimana orang lain mau menghargai kita?  Kita harus memperlakukan diri sendiri sebagai sosok berharga. Kita harus menjadi seorang pemberi kerja keras bagi diri sendiri. Kita harus bernai mencoba dan jangan takut gagal. Shakespeare pernah berkata, “Keraguan adalah sang pengkhianat, sering kali kita kehilangan kebaikan yang mungkin kita menangkan ketika takut untuk mencoba.” (hal 28-29).

Ketiga adalah inisiatif artinya kita berani melakukan sesuatu tanpa campur tangan  orang lain. Kita tidak menunggu saran atau perintah seseorang atau tidak meniru perbuatan orang lain dalam melalukan sesuatu atau membuka bisnis. Namun kita berani mengambil langkah terlebih dahulu untuk membuka kesempatan bagi diri kita sendiri, guna membuka jalan kesuksesan yang kita cari.

Keempat adalah imajinasi. Imajinasi telihat sederhana, namun jika kita bisa memanfaatkan dengan baik, maka imajinasi bisa mengantarkan kita pada jalan kesuksesan.  Karena dengan berimajinasi kita bisa mendapat banyak gagasan-gagasan menarik yang bisa kita gunakan untuk mengembangkan usaha atau bisnis yang sedang kita rintis.  Kita pasti pernah mendengar nama Christopher Columbus. Dengan memanfaatkan imajinasinya, Columbus—pelaut muda yang miskin berhasil menemukan sebuah negara baru, yang saat ini menjadi negara adidaya—Amerika.

Kelima adalah tindakan. Ketika kita ingin meraih kesuksesan maka kita harus berani bertindak. Jika kita tidak mau bertindak, maka kita tidak akan memperoleh kemajuan bahkan rugi. Kita pasti ingat dengan Thomas Edison, untuk menciptakan lampu pijar, dia menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari filamen terbaik. Itulah hasil tindakan yang mengantarkannya pada kesuksesan. Kesuksesan tidak mungkin datang tanpa usaha. Sedangkan sepanjang hidup kita akan terus bertemu dengan rintangan. Namun perlu kita ingat, selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil dari rintangan yang ada. Di mana kita semakin kuat dan semakin berani melangkah.

Selain lima hal yang sudah dipaparkan penulis, tentu saja masih banyak rambu-rambu lain yang perlu kita pahami. Seperti kontrol diri, yang akan melatih kita untuk bertindak setelah berpikir pantang, bukan karena keegoisan semata. Ada pula antusiasme, kepribadian yang aktraktif, pikiran akurat, konsentrasi, kegigihan, belajar dari kegagalan, toleransi dan banyak lagi.

Buku ini sangat tepat dibaca bagia siapa saja yang ingin mengenal jalan kesuksesan dan agar tidak tersesat.  Sebuah buku yang sangat inspiratif dan memotivasi diri menjadi pribadi yang lebih baik.  Selain itu berbagai pemaparan yang diterangkan penulis, mengingatkan kepada kita semua untuk menghargai diri sendiri,  dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai rintangan ketika ingin meraih kesuksesan.

“Kita tidak mungkin sukses dalam usaha apa pun, kecil atau besar, penting atau tidak, jika kita hanya berpikir tentang apa yang ingin kita capai, duduk diam, dan menunggu sampai hal itu terwujud tanpa kesabaran serta upaya keras.” (hal 124).

Srobyong, 2 Agustus 2018