Showing posts with label Cerita Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Cerita Inspiratif. Show all posts

Saturday, 15 August 2015

[Artikel] Kisah Tsa’labah: Lena dan Kikir Membawa Sengsara

By : Kazuhana El Ratna Mida


Tsa’labah adalah salah satu sahabat di zaman Rasulullah SAW. Sahabat itu adalah seorang yang terkenal rajin berjamaah bersama Rasul dan para sahabat lainnya.

Namun entah kenapa setelah salat jamaah dengan cepat Tsa’labah akan segera pamit untuk kembali ke rumah. Kebiasaannya itu pun menjadi tanda tanya bagi para sabahat juga Rasul sendiri.

Lalu pada suatu hari setelah jamaah Rasulullah yang melihat Ts’labah buru-buru untuk pulang segera memanggilnya. Tsa’laba pun menghadap Rasulullah. Di sana Rasulullah bertanya pada Tsa’labah.

“Wahai, Tsa’labah kenapa kamu selalu terburu-buru ketika selesai jamaah?” 

Dengan takzim Tsa’labah pun menjawab pertanyaan Rasulullah, “Sesunggunya saat ini di rumah ada seorang yang menungguku ya, Rasul. Dia menunggu untuk bergantian memakai baju untuk melaksanakan salat.”

“Saya hanya memiliki sehelai kain untu dipakai secara bergantian. Ketika saya salat, maka istri saya akan bersembunyi hingga saya datang untuk kembali.” Tsa’labah menjelaskan dengan sebenar-benarnya.

Rasulullah sangat terkesan dengan Tsa’labah lalu mengizinkannya untuk segera pulang.

Selang beberapa hari kemudian Tsa’laba meminta tolong kepada Rasulullah untuk mendoakan dia agar bisa merubah nasib sedikit saja, agar memiliki harta benda. Tsa’labah merasa sangat lelah selama ini menjadi orang yang miskin dan hidup menderita.

“Wahai Tsa’laba bersyukurlah dengan apa yang kau miliki saat ini,” nasihat Rasulullah. Beliau takut ketika Tsa’labah memiliki harta benda akan menjadi lupa pada agamanya.

Tsa’labah pun pamit undur diri, meski sesungguhnya dia belum puas. Dia ingin memperbaiki hidupnya. Keesokan harinya dia kembali datang dan meminta tolong Rasulullah untuk tetap mendoakannya.

Dia berjanji setelah akan menjaga apa yang nanti dia dapatkan dan menggunakannya untuk jalan kebaikan.
Rasulullah pun akhirnya mendoakan Tsa’labah agar memiliki harta dan bisa hidup dalam kemewahan. Dia nampak begitu senang lalu kembali pulang untuk memberi tahu istrinya dengan membawa dua ekor kambing pemberian Rasulullah.

Sejak saat itu Tsa’labah rajin merawat dua ekor kambingnya. Menernaknya sehingga memiliki banyak anak hingga bertambahlah kambingnya.

Kini, dia pun sudah hidup berkecukupan. Namun, sejak dia sibuk mengurusi ternak kambingnya dia jadi jarang berjamaah. Bahkan dia sering mengakhirkan salat. Dia terlalu sibuk dengan kambing daripada harus bertemu dengan pencipta Alam Semesta.

Jarangnya Tsa’labah yang tak lagi pernah muncul pun membuat Rasul bertanya-tanya. Ada apa gerangan dengan Tsa’labah?

Lalu Rasulullah pun mengutus sahabat untuk ketempat Tsa’laba bertepatan dengan perintah zakat untuk kaum yang mampu.

Tsa’labah yang saat ini sudah menjadai saudagar kaya diharapkan mau menzakatkan harta dari ternak kambingnya.

Namun siapa sangka dengan gaya seperti orang bodoh dia berpura-pura tak mengerti tentang zakat atau pajak yang diajukan sahabat. Dia menolak berzakat.

Sahabat yang ditugaskan pun kembali dan langsung meghadap Rasulullah. Sahabat itu menceritakan semua perilaku Tsa’labah.

“Celakalah, engkau wahai Tsa’labah.” Itulah kalimat yang Rasulullah katakan. Beliau marah dan kecewa pada Tsa’labah yang katanya akan tetap berjuang dalam agama islam sesuai janjinya.Tapi nyatanya dia terlena dan berani menolak perintahnya. 

Setelah kejadian menolak perintah zakat dari Rasulullah, Tsa’labah merasa resah. Dia merasa bersalah karena telah mengingkari janjinya.

Lalu dia memutuskan untuk ke kediaman Rasulullah. Dia ingin meminta maaf sekaligus memberikan zakat dari ternak kambingnya.

Namun, Rasulullah langsung menjawab: “Allah telah melarangku menerima zakatmu.”

Betapa sedihnya Tsa’labah. Sifat kikir dan lalai telah membuatnya sengsara. Dia tidak menyerah ketika Nabi Muhammad sawa wafat dia bermaksud memberikan zakat pada Abu Bakar yang saat itu menjadi Khalifah. Tapi Abu Bakar juga tidak berani menerima sampai pada kepemimpinan Usman bin Affan juga tidak berani menerima.

Akhirnya sampai mati Tsa’labah tidak bisa menzakatkan hartanya. Dia telah di laknat Allah dan Rasululllah sejak berani menolak perintah zakat.

Itu adalah balasan bagi seorang yang telah lalai pada agama dan janji yang dibuatnya sendiri juga akibat dari kikir serta tamak yang dimiliki.

Marilah kita belajar dari kisah ini agar bisa menjaga harta menempatkannya dengan tepat.

Ingatlah firman Allah :

“Dan di antara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah: ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih.’ Maka, setelah Allah mem-berikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS. At-Taubah 75-76)

Semoga kita terhindar dari sifat lena dan kikir. Aamiin.

Berbagai sumber 

Re-Post dari artikel saya yang pernah dimuat di web bersamadakwah. Atau bisa dibaca di http://bersamadakwah.net/kisah-tsalabah-lena-dan-kikir-membawa-sengsara/.
 

Srobyong, 5 Februari 2015

Sunday, 26 July 2015

Unforgettable






Kazuhana El Ratna Mida

            Lebaran bagiku, merupakan momen sakral yang sarat akan kebahagiaan. Karena ketika jarak pemisah yang membentang, saat itu semua bisa disatukan dalam tali silaturrahmi yang tengah menyapa. Saling melepas rindu juga halal bi halal. Yah, bukankah semua keluarga akan berkumpul? Mereka yang pergi akan kembali menyapa. Membayar segala rindu yang tersimpan dalam tautan waktu.

            Ah, betapa bahagian saat itu. Namun siapa sangka, lebaran yang kupikir akan begitu indah nan syahdu yang telah kususun, seketika porak poranda. 

            Hari itu ..., tepatnya lebaran tahun lalu. Aku sekeluarga besar dari pihak ibu tengah berkumpul di Jepara. Menyambung tali silaturrahmi dari berbagai generasi yang ada. Yah, sebuah kebiasaan yang dilakukan ketika lebaran ke 3 untuk berkumpul; makan-makan lalu halal bi halal.

            Semua nampak baik-baik saja. Senyum ceria tertoreh bersama canda tawa.  Apalagi juga ada kabar baik lain yang disampaikan di sana. Tentang sebuah pernikahan yang akan digelar nanti tepat ketika lebaran ketupat—seminggu setelah lebaran. Pernikahan kakakku yang akan dilangsungkan. 

            Namun sore itu, setelah pulang dan santai sejenak, sebuah berita datang membuat jantungku berdebar. Aku seolah tidak percaya dengan pendengaranku sendiri. Mungkinkah? Itu pasti salah, aku berspekulasi dalam hati. Bagaimana mungkin itu terjadi? Aku menggigit bibir mencoba menguasai hati. Sedang ibu, nenek dan bude sudah menangis tak karuan.

            Kesibukan mereka yang tadi dikerjakan langsung dihetikan. 

            “Ya, Allah. Semoga berita itu salah,” lirih suara budeku.

            Menantu bude yang kebetulan membawa berita hanya mengangguk. Mengatakan pun saat ini masih menunggu konfirmasi akan kevalidan berita yang begitu mendadak yang mengurut kalbu. Mendengar itu sebuah harapan tentu kami bangun. Namun dengan cepat harapan itu pupus karena sebuah konfirmasi telah menegaskan bahwa berita itu benar adanya. Dan saat ini bulek berkali-kali jatuh pingsan karena mendengar berita yang begitu mengejutkan. Astagfirullah hal adzim.

            Seketika kami lemas. Segala rasa berkecamuk dalam raga. Tetes-tetes air mata tak mampu lagi terbendung. Ibu, bude, dan nenek pun segera kerumah bulek yang saat ini ditimpah musibah. Lebaran yang kuprediksi akan penuh tawa mendadak kelabu dalam sekejap mata. 

            Tanpa menunggu waktu, aku pun ikut serta, tak lupa aku juga segera menghubungi saudara lain tentang berita lelayu ini. Perginya adik sepupuku yang begitu mendadak sungguh membuat ngilu. Bagaimana tidak? Sudah dua tahun adik sepupuku itu yang merantau ke luar jawa itu tidak pulang. Rencanya dia akan pulang tahun depan setelah menyelesaikan segala urusan. Dan tadi pagi dia masih menelepon keluarga. Mengobrol sebentar melepas kengen melalui udara. Tak tampak tanda-tanda dia akan pergi selamanya. 

            Tapi Allah tetaplah sutradara. Kata teman yang dikunjunginya, selepas Zuhur, sekitar jam dua siang, sang teman membangunkannya untuk makan siang. Di sanalah diketahui bahwa dia telah berpulang. 

            Ya Allah, apakah ini nyata? Aku tak tahu harus bagaimana. Ketika sampai di rumah bulek. Beliau masih telihat kuyu. Matanya hitam karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Pun dengan adik perempuannya yang tak kalah sedih. Saat itu aku bersama saudara-saudara yang lain hanya bisa menitip doa dengan membacakan khatmil quran sambil menunggu jenazahnya datang. Yah, kami harus menunggu sekitar empat hari sebelum bisa menguburkannya. 

            Ya Allah, cobaan apa ini? Di hari lebaran yang harusnya penuh ceria, kini  dilanda duka. Sebuah momentum yang notabene juga mengingatkanku, bahwa kematian itu rahasia Ilahi. Suatu saat aku pun akan menyusulnya.

            Dan lebaran tahun ini, momen itu masih jelas terpatri di hatiku.  Masih menyimpan duka dan cerita tersendiri. Meski aku tahu bahwa aku harus Ikhlas. Dia mungkin yang terpilih. Dia pergi karena Allah menyayanginya. Dia seorang anak berbakti yang juga gemar bersedekah setiap gaji yang dimiliki. Selalu dia memberikan sebagian uangnya pada anak yatim dan atau piatu setiap bulan suci. Dan mungkin karena itulah sebuah keajaiban terjadi ketika orang-orang mengantarkan jenazahanya untuk dikebumikan. Yah, jenazah itu terasa ringan hingga kaki seolah terseret dengan sendirinya, sandal-sandal yang dipakai para pengiring lepas tanpa bisa dicegah. Mungkin itu karena ingin cepat bertemu Allah. Wallahu a’lam.
 
            Untuknya, pada lebaran kali ini, di mana kesedihan kadang masih menemani. Aku beserta keluarga besar memperingatinya dengan mengirimkan kembali bacaan ayat-ayat suci semoga bisa melebur segala dosa yang dimiliki. Semoga dia tenang di sisi-Nya. Aamiin. 

Puisi ini kudedikasikan untuknya. 

Pulang

Ketika nyawa tak lagi ada
Melayang tak bersatu dengan raga
Ketika kepergianmu menimbulkan sejuta tanya
Meninggalkan sedih dalam keluarga

Kau pergi tanpa sebuah kata
Berpulang tenang menghadapNya
Tidak tahu di balik kabar duka
Semoga ini menjadi pelajaran dan renungan doa

Manusia pasti akan berpulang
Tanpa tahu kapan dia datang
Siapkan diri dengan banyak ibadah kepada pemilik jagat Raya
Tuhan semesta Alam

Tuhan ikhlaskan jiwa
Jangan jadikan kepergiannya dalam sedih berkepanjangan
Meski Rinduku masih ingin beradu


Kematian

Kematian tidak pernah tahu kapan dia datang
Dia penuh kejutan tanpa pandang usia sang korban
Itulah kuasa Tuhan
Yang paling Hak untuk mengambil keputusan

Diri ini masih berlumur dosa
Masih harus bersiap diri mencari bekal untuk mati
Ketika aku melihatmu pergi
Hati ini sedih tak menyangka ini terjadi
Kau pergi terlalu cepat dengan segala tabir misteri
Meninggalkan duka bagi kami keluarga di sini

Namun,
Melihat kau pergi
Sadarkan aku semua akan berpulang pada Ilahi
Di hari nan firti
Kau memilih bertemu Ilahi
Meninggalkan kami dalam tarian tangis ini

Itulah takdir Allah yang harus kami lewati
Menerima dengan sabar cobaan yang menerjang
Kau berpulang tanpa berpamitan
Aku berdoa semoga engaku tenang disisi-Nya
Diterima segala amal ibadah
Dan diampuni segala dosa

Srobyong, 26 Juli 2015.

            Terima kasih Exchange, Publisihing Your Idea. Karena dengan ini aku bisa berbagi. Sebuah petaka di hari lebaran yang tak bisa terlupa namun syarat makna untuk memperbaiki diri.

Tuesday, 5 May 2015

[Artikel] Saat Disiksa Suaminya, Allah Perlihatkan Rumah Surga bagi Wanita Ini








ilustrasi @aisyafra
Pernah mendengar nama Asiah? Beliau adalah istri Raja Fir’aun—Raja zalim yang mengaku Tuhan, bersikap sombong dan tanpa ampun menganiaya anak negerinya.


Namun, beliau tidaklah sama dengan sang suami. Beliau adalah salah satu wanita hebat yang memegang teguh keimanan meski harus berhadapan dengan kekejian suaminya.


Saat itu ada sebuah ramalan akan lahirnya bayi laki-laki dari Bani Israil yang akan menjadi Nabi. Tentu saja, hal itu mengkhawatirkan bagi Raja Fir’aun. Lalu dengan dalih mencegah kerusakan negerinya, dia mulai membuat aturan akan membunuh anak laki-laki yang baru lahir dan membiarkan hidup bagi anak perempuan.
Keputusan itu tentu sangat meresahkan warga. Ketika berjaung sembilan bulan, lalu mendapati anak mereka laki-laki, maka harus rela kehilangan buah hati.


Namun, siapa yang menyangka, ketika Raja Fir’aun sibuk berusaha menolak kelahiran anak laki-laki, Asiah sang istri malah tertarik dengan seorang anak yang ditemukan mengapung dalam sebuah peti di sungai.


Pertama kali melihat bayi itu, Asiah langsung menyukainya. Beliau ingin merawat dan membesarkannya. Maka segera saja dia mengadukan kejadian itu pada suamina. Dengan tegas, Raja Fir’aun ingin membunuh anak itu. Bagaimana kalau dia adalah laki-laki yang dimaksud dalam ramalan sebagai sosok yang akan menghancurkan kekuasaannya?


Namun, dengan lemah lembut, Asiah menjelaskan pada sang suami. Asiah berkata, “Barangkali anak ini kelak akan berguna bagi kita. Oleh karena itu, janganlah kanda bunuh anak ini. Boleh jadi, ia juga menjadi penyejuk mata kita berdua.”



Kalimat ini sebagaimana diterangkan dalam surat al-Qashash[28]: 9,


“Dan berkatalah istri Fir’aun, ‘(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak,'”


Pada akhirnya, Nabi Musa menjadi bagian dari keluarga Fir’aun. Kelembutan sikap Asiah mampu melunakkan kekejaman suaminya itu. Yah, sebagaimana diketahui, Raja Firuan memang terkenal sangat menyayangi Asiah. Karena sikap dan budi pekertinya.



Namun rasa kasih itu hilang ketika Raja Fir’aun mengetahui kenyataan bahwa Asiah lebih memilih mengikuti ajaran Nabi Musa dengan beriman, daripada mengakui dirinya sebagai Tuhan. Tentu saja Raja Fir’aun marah dan kecewa. Dia tidak mau lagi bergaul dengan Asiah yang telah mengkhianatinya.


Lalu terjadilah penyiksaan itu. Raja Firuan sudah memberi peringatan. Namun Asiah lebih siap disiksa daripada mengingkari ajaran Nabi Musa. Beliau beriman kepada Allah Ta’ala dan tidak gentar untuk mempertahankan keimanannya.


Tentang penyiksaan yang dilakukan pada Asiah, ada bermacam-macam keterangan yang didapatkan dari ahli-ahli tafsir.


“Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman ketika ia berkata, ‘Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.'”(Qs. at-Tahrim[66]: 11)


Ia berharap, sekalipun istri seorang kafir, apabila menganut ajaran Allah, ia berharap agar dimasukkan Allah ke dalam jannah.

Keterangan dari Tafsir Jalalain

Istri Fir’aun beriman kepada Nabi Musa. Ia bernama Asiah. Lalu Fir’aun menyiksanya dengan cara mengikat kedua tangan dan kakinya. Di dadanya diletakkan kincir yang besar. Kemudian dihadapkan pada sinar matahari yang terik. Bilamana orang yang diperintahkan oleh Fir’aun untuk menjaganya pergi, maka malaikat menanunginya dari sengatan sinar matahari. Ketika Asiah meminta tolong pada Allah Ta’ala saat disiksa, Dia pun menampakkan rumahnya yang di surga hingga ia dapat melihatnya. Maka siksaan yang dialaminya terasa ringan baginya.



Disebutkan dalam Shahih Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah bersabda, “Yang sempurna dari kalangan kaum lelaki itu banyak. Sedang tiada yang sempurna dari kalangaan kaum wanita, kecuali Asiah istri Firaun dan Maryam binti Imran.”



Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik wanita surga adalah empat orang; Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwalid, Fathimah binti Muhammad, dan Asiah binti Muzahim.”
  (Shahih Muslim, 2/243-Musnad Ahmad, 3/136) 


 [Kazuhana El Ratna Mida/Bersamadakwah]


Srobyong, 25 April 2015.
Editor: Pirman Bahagia


Re-Post dari artikel saya yang pernah dimuat di web bersamadakwah. Atau bisa dilihat di