Showing posts with label Metamind. Show all posts
Showing posts with label Metamind. Show all posts

Friday, 29 September 2017

[Review Buku] Pentingnya Menjaga Kelestarian Hutan dan Binatang

Judul               : Kapten Bhukal, The Battle of Alas Tua
Penulis             : Arul Chandrana
Penerbit           : Metamind, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Cetakana         : Pertama, Agustus 2016
Tebal               : xviii + 382 hlm
ISBN               : 978-602-9251-32-6


Membaca novel bergenre fantasi ini,  kita akan diingatkan tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan dan binatang. Bahwa manusia itu tidak boleh egois, menguasai semua alam dan melupakan keberdaan binatang. Bagaimana pun binatang juga berhak hidup dan  berhak mendapat kebebasan dalam mencari pangan, layaknya manusia. 

Menceritakan tentang Bukhal, pendatang baru di Kampung Gunong Bengko, di hutan Bawean. Kehadirannya sempat membuat kampung gempar. Karena dia memiliki bentuk yang berbeda dari para monyet biasa. Bukhal bertubuh hitam pekat dan tidak memiliki ekor. Karena dia memang bukan monyet, tapi simpanse. Dia juga sering berbicara dengan kosakata aneh yang tidak pernah di dengar oleh para binatang (hal 20). 

Meskipun Ketua Mengmang sudah resmi menerima kehadiran  Bukhal, tapi tidak semua warga mau menerima Bhukal layaknya anggota masyarakat lainnya (hal 32). Banyak yang menatap tidak suka padanya. Mereka menganggap Bukhal aneh, mencurigakan dan terlihat berbahaya. Bukhal pun mencari cara agar dirinya bisa diterima oleh semua warga.  Dari Jarok dan Bocol—warga setempat yang langsung mengagumi Bukhal, dia akhirnya tahu bagaimana caranya agar bisa diterima dan dihormati di hutan itu.

“Jika ingin menjadi monyet yang bermartabat di sini, dihargai dan dihormati, didengar kata-katanya, dipertimbangkan usulnya, caranya hanya satu, menerobos ladang manusia, mengambil tanamannya dan kembali dengang selamat ke perkampungan.” (hal 45).

Bukhal pun langsung beraksi. Dia menyusun rencana agar bisa menerobos ladang manusia dan kembali dengan selamat. Dengan kepandaiannya dalam membuat strategi,  Bukhal berhasil melakukan aksinya. Kehebatannya pun langsung tersebar ke seluruh pelosok hutan. Para monyet  yang dulunya membenci dia, berbalik menghormatinya. Dan para binatang di hutan percaya kalau kedatangan Bukhal akan membawa anugerah. Karena Bukhal berhasil mengalahkan manusia yang kerap menindas para binatang, merusak hutan, sehingga sering kali mereka kekurangan makanan dan kehilangan keluarga. Di sinilah mereka bertanya-tanya, “Sebenarnya binatang dan manusia adalah dua jenis yang saling membutuhkan atau untuk saling menguasai?” (hal 121).

Bukhal  pun kemudian didaulat sebagai kapten yang memimpin para binatang untuk menyerang manusia. Mereka sudah tidak tahan lagi dengan sikap manusia. Mereka selalu bertindak semena-mena. Para manusia datang dengan senjata menebangi pohon, membuat para binatang tidak memiliki tempat tinggal. Tidak hanya itu manusia juga memburu para babi—membunuh, mengusir para babi ke hutan  kering dan mengambil tanah subur mereka untuk diolah sebagai perkebunan dan ladang. Para manusia juga memburu para rusa untuk diambil tanduknya.

Di sisi lain, para  petani yang menjadi korban perusakan yang dilakukan Bukhal bersama teman-temannya, sangat marah. Mereka tidak terima dengan apa yang dilakukan para binatang tersebut. Mereka juga melakukan rapat untuk menindaklanjuti kejadian itu. Mereka berencana untuk memburu dan membunuh para binatang.  Perang pun tidak bisa dihindari. Namun lebih dari itu ternyata Bukhal sendiri menyimpan  sebuah rahasia yang tidak pernh terduga dan membuat para binatang kaget dan tidak percaya. 

Novel  dengan gaya bahasa yang renyah ini,  menghadirkan sisi lain tentang kehidupan binatang yang kerap kali menjadi korban akan  keserahakahan manusia. Jadi tidak salah jika suatu saat para hewan akan marah dan menuntut hak mereka untuk memperoleh kebebasan. Sebagaimana yang pernah terjadi, ada konflik binatang dan manusia karena masalah pangan di Riau. Bahwa apa yang dilakukan para binatang adalah sebagai akibat dari apa yang dilakukan manusia (hal 241).  

Jadi perlu kita ingat bahwa seyogyanya sebagai manusia, kita harus menjaga kelestarian hutan dan binatang.  Tidak boleh bertindak semena-mena demi memuaskan keegoisan diri.



Srobyong, 26 Februari 2017 

Tuesday, 31 May 2016

[Resensi] Mengenal Kerajinan Tenun Alor sebagai Kearifan Leluhur

Judul               : Swarna Alor
Penulis             : Dyah Prameswarie
Penerbit           : Metamind, Imprint of Tiga Serangkai
Cetakan           : Pertama, Mei 2015
Halaman          : vi + 282 hlm.
ISBN               : 978-602-72097-4
Peresensi         : Ratnani Latifah (Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara)

Swarna Alor,  bisa dikatakan sebagai  novel  budaya yang cukup kental. Sehingga pantas menjadi salah satu juara harapan dari lomba ‘Seberapa Indonesiakah Dirimu?’, yang diadakan Penerbit Tiga Serangkai.

Mengenalkan  tentang  budaya kerajinan tenun Alor dengan memakai pewarna alami, sebagai kearifan leluhur yang hingga kini masih dilestarikan. Sehingga tenun-tenun yang dihasilkan seolah sangat indah, alami, membaur dengan lingkungan bawah laut dan menyimpan energi alam. Mengingat saat ini, para anak bangsa masih belum banyak  yang menyadari tentang keindahan tenun Alor itu dan alasan melakukan pewarnaan secara alami.

Novel ini menceritakan tentang dua gadis remaja—Lilo yang ingin menjadi seorang desainer dan Mbarep yang ingin menjadi seorang model. Mereka menjadi peserta magang di majalah Cantik, yang kemudian mengantarkan mereka ke Kampung Hula, Desa Alor Besar, Nusa Tenggara Barat.

Namun bukannya senang, mereka malah merasa berada di Alor itu merupakan pilihan yang salah. (hal.  6) Tidak ada hubungannya dunia desainer dan modeling dengan desa terpencil itu. Belum lagi, ketika di Alor, Lilo diajak Mama Sariat memburu teripang dan buah tongke, yang menurut Lilo termasuk perbuatan merusak lingkungan.  Dan Mbarep tidak diberi kesempatan ikut pemotretan di bawah laut karena dianggap amatiran. (hal. 38)

Lilo dan Mbarep pun mencoba protes dengan pemilihan lokasi yang menurut mereka aneh. Sayangnya protes  mereka tidak dianggap, dan malah memperkeruh keadaan.  Jika Mbarep tetap berusaha ikhlas dan mengambil sisi positif,  tidak dengan Lilo. Dia  masih tidak setuju dengan pemilihan tempat  magang dan masalah pemburuan teripang yang dilakukan Mama Sariat. Lilo menyakini tindakan itu salah dan harus diluruskan. Lilo kemudian menghubungi temannya, Samara—ketua Green World, agar bisa menindak lanjuti perbuatan Mama Sariat yang menurutnya merusak alam.

Kemudian masalah pun timbul. Pak Libana, suami Mama Sariat diculik Samara.  Dan  acara Swarna Festival yang rencananya akan dilakukan untuk memperkenalkan tenun Alor ke masyarakat  terancam gagal. Karena acara itu harus melibatkan Pak Libana. (hal. 140)  Padahal dalam acara itulah, nantinya mimpi mereka akan terwujud. Desain baju Lilo akan dipamerkan dengan Mbarep sebagai modelnya.  

Lilo sungguh merasa bingung. Setelah membaca sebuah artikel, dia baru menyadari bahwa apa yang dipikirkannya selama ini salah. Sejatinya, kenapa tenun diwarnai secara alami adalah karena warna-warni alami kain tenun Alor itu memiliki hubungan magis dengan alam sekitar yang dibangun leluhur dan terus dipertahankan. (hal. 142)

Kegiatan memburu teripang dan buah tongke  yang dilakukan Mama Sariat adalah untuk pewarnaan kain tenun dan sangat jauh dari niat merusak lingkungan. Mama Sariat dan Pak Libana bahkan memilih bahan alami agar tidak menimbulkan limbah. (hal. 147)

Karena jika Mama Sariat memakai pewarna kimia, sisa pewarnan harus dibuang dan bisa merusak lingkungan.  Berbeda jika menggunakan teripang. Air rebusan dari teripang  yang merupakan limbah akan digunakan untuk pewarna kain tenun. Sedang teripangnya sendiri akan dikirim  ke seorang pengumpul  untuk dibawa ke Surabaya.  

Apa yang dilakukan Mama Sariat adalah upaya untuk melestarikan kearifan leluhur.  “Kain-kain itu tidak  sekadar benang yang ditenun. Tapi sebuah  peninggalan leluhur. Memang dulu beberapa perajian pernah memakai pewarna kimia, tapi hasilnya tidak sebagus memakai pewarna alami. Dengan memakai pewarna alami, akan membuat benang dan  warna tahan lama.” (hal. 176-177) 

Merasa bersalah pada semua orang, Lilo mencoba mencari jejak Pak Libana.  Pencarian Lilo akhirnya berhasil, meski dengan perjuangan keras. Dan akhirnya Swarna Festifal berhasil di gelar.  Kejadian itu menyadarkan Lilo dan Mbarep bahwa dalam menilai sesuatu tidak hanya dilihat dari luarnya saja. Dan menyadari bahwa pengetahuan mereka tentang budaya Indonesia masih sangat minim.  Mereka pun jadi sangat mengagumi  Mama Sariat dan para perajin tenun yang sangat gigih mempertahankan warisan leluhur. (hal. 199)  

Novel ini sangat sarat makna dan dipaparkan dengan bahasa yang renyah. Mengingatkan betapa pentingnya anak bangsa itu  mengenal kebudayaan Indonesia yang beragam. Salah satunya kerajian tenun Alor. Bagaimana cara pembuatan kain tenun, motif-motifnya dan alasan di balik pewarnaannya yang lebih memilih menggunakan cara alami. Meski ada beberapa kesalahan dalam penulisannya, tetapi tidak mengurangi kenikmatan saat membaca.

Srobyong, 18 Mei 2016 

Naskah resensi ini merupakan naskah asli sebelum diedit oleh pihak redaksi Koran Jakarta. Serta ada editan judul dengan tambahan kata ‘sebagai.’ Hasil editannya bisa dilihat di web Koran Jakarta atau pada gambar di bawah ini. :) 

Dimuat di Koran Jakarta, Kamis 26 Mei 2016 




Monday, 29 February 2016

[Resensi] Mengenal Budaya Permainan Tradisional Lewat Novel


Judul Buku                  : Karena Aku Tak Buta
Penulis                         : Redy Kuswanto
Penerbit                       : Metamind, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Editor                          : Antik
Cetakan                       : Januari 2015
Halaman                      :  xii + 332 hlm
ISBN                           : 978-602-257-107-0

Karena Aku Tak Buta meraih juara pertama dari sebuah event lomba menulis novel dengan tema ‘Seberapa Indonesiakah dirimu?’ yang diadakan Penerbit Tiga Serangkai.  Novel  ini  mengambil setting di Jogjakarta, mengenalkan sebuah komunitas bernama Kolong Tangga—museum permainan tradisional yang digagas oleh seorang Belgia. Novel ini mengingatkan kembali  budaya permainan tradisional yang sekarang ini sudah semakin terkikis karena perkembangan zaman dan tentang rasa nasionalisme.

Menceritakan tentang tokoh yang bernama Zad—seorang anak metropolitan yang harus kuliah di Jogjakarta dan kemudian mengenal Gendis. Dari gadis itu dia mengenal desa di pedalaman Muntilan dan berkenalan dengan Mas Gendro dan Pak Gio, dua tokoh  yang gigih memperjuangkan tradisional dan budaya lokal.

Gendis  juga mengenalkan berbagai macam permainan tradisional pada Zad yang sering dilakukan anak-anak di desanya. Seperti gobak sodor, kasti, petak umpet, dakon dan lain sebagainya.  Namun laki-laki itu  sama sekali tak tahu. Karena sejak kecil dia hanya mengenal game online. (hal. 45)  Zad pun tertohok, ketika salah satu anak bertanya padanya. “Emangnya Mas Zad, bukan orang Indonesia?” (hal. 56)

Sejak itu Zad bertekad untuk lebih mengenal tentang budaya permainan tradisional, dia ingin ikut berjuang membudidayakan permainan tradisional yang sudah hampir punah. Salah satunya dengan ikutserta dalam rencana mewujudkan Festival Dolanan Bocah (hal.149) Zad sangat terinspirasi oleh Pak Rudi, warga Belgia yang menggagas Museum Kolong Tangga. Pak Rudi sungguh peduli dengan tradisional dan budaya Indonesia. Dimana Pak Rudi takut  permainan tradisional mulai menghilang dan menyebabkan anak zaman sekarang yang tidak banyak mengenal sama sekali.

Namun dalam upayanya untuk menjadi anak negeri yang peduli akan budaya tersebut, keinginannya sempat ditentang oleh ketiga sahabatnya—Yod, Fya dan Rhean. Tapi Zad berhasil meyakinkan mereka bahwa memang sudah seharusnya sebagai anak bangsa itu harus ikut melestrikan budayanya sendiri. Festival itu harus dilaksanakan agar orang-orang tahu tentang permainan tradisional.  “Permainan tradisional merupakan kekayaan tradisi bangsa Indonesia warisan nenek moyang yang patut dilestarikan.” (hal. 137)


Novel ini dipaparkan dengan bahasa yang mudah dipahami. Banyak kejutan dan setting dijabarkan dengan baik sehingga tidak terkesan tempalan. Dan pastinya novel ini sarat makna. Mengingatkan kembali pada budaya permainan tradisional yang sudah terkikis dengan arus globalisasi. Saat ini anak-anak lebih mengenal permainan moderen—game online dari pada permainan tradisional. Dan banyak orang dewasa yang tidak lagi mengenalkan semua itu. Seolah pergeseran zaman mulai menghapus jejak-jejak sejarah. Padahal permainan tradional merupakan permainan yang telah diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, mengandung nilai kemanusiaan yang baik, positif, luhur dan bukan merupakan hasil dari budaya industri. Permainan tradisional dapat meningkatkan berbagai ospek pengembangan anak. Permainan anak harus dilestarikan sebagai bekal membangun anak Indonesia yang berkarakter. (hal. 323-234)

Diresensi Ratnani Latifah, lulusan Unisnu Jepara


Dimuat di Koran Jakarta, Edisi; Jumat, 26 Februari 2016

Yang di atas naskha asli sebelum diedit.  ^_^ . Kalau mau baca versi yang media, bisa dibaca di Koran Jakarta 

Wednesday, 10 February 2016

[Resensi] Mengenal Tradisi China Lotus Feet Lewat Novel


Pada zaman dulu di China, ada sebuah tradisi Lotus Feet (kaki seroja). Di mana seorang wanita akan terlihat cantik dan seksi jika kakinya dipatahkan lalu ditekuk, dibebat sehingga muat untuk memakai sepatu kecil. Karena konon, dipercayai semakin kecil kaki seorang wanita, maka semakin cantiklah dia karena cara berjalannya akan seperti bebek berlenggak-lenggok.

Bertajuk dari tradisi kuno di China itu, Wiwid Prasetyo meramu novel ini dengan latar sejarah yang mengharu biru.  Menceritakan  tentang Wu Ying gadis kecil yang pada mulanya hanyalah seorang  rakyat jelata yang harus bekerja keras untuk bisa bertahan hidup dengan ibunya.  Namun kehidupannya berubah ketika suatu hari dia memasuki istana, menjadi calon istri Gubernur Tang.

Wu Ying menyangka ketika dia memasuki istana, kehidupannya akan berubah lebih baik. Namun, ternyata dia salah. Istana adalah sumber awal dari segala penderitaannya. (hal. 38) Dia baru menyadari bahwa segala macam kemewahan itu tidak lagi berguna jika dia tidak memiliki kebebasan.  “Dan seungguhnya harta bukanlah penyebab kebahagiaan. Kebahagiaan itu terletak di hati.” (hal. 57) Apalagi di istana ternyata penuh dengan intrik yang sangat menakutkan. Saling sikut untuk mempertahankan diri.

Di istana, Wu Ying baru mengerti, di balik segala kemewahan yang dimiliki para putri, ternyata mereka menderita, berteriak kesakitan karena harus memakai sepatu kecil. Akan tetapi, mereka tidak punya pilihan selain harus mengikuti adat dan tradisi yang telah turun temurun. Begitupula dengan Wu Ying. Dia mengikuti perintah ritual basuh kaki dari Ibu Suri Seroja, kuku-kukunya dicabut dari akar dagingnya, setelah itu tulang-tulang kakinya dipatahkan dua kali, lalu ditekuk jarinya hingga menempel tumit. Kaki itu kemudian dibebat dengan kain putih yang sangat kuat hingga tekukannya tidak bergeser sedikitpun. Baru setelah itu, sebuah kaus kaki cokelat disematkan di kakinya sebelum nanti akan disempurnakan oleh sepatu kecil berhias bunga seroja. (hal. 69)

Wu Ying sungguh tidak mengerti dengan adat itu. Tradisi yang keseluruhannya hanya ditangai Ibu Suri Seroja. Ketika semua orang berpikir keindahan wanita berasal dari wajah, orang China kuno meganggap keindahan wanita berasala dari cara jalannya yang berlenggang-lenggok. Padahal cara jalan seperti itu berasal dari penderitaan, harus menahan sakit karena kakinya yang mengenakan sepatu kecil dan jari jemarinya ditekuk sampai patah. (hal. 75)

Wu Ying sungguh tidak tahan dengan keadaan itu. Dia ingin pergi jauh dari penderitaan yang ada di istana. Untungnya ada seorang pemuda yang telah jatuh cinta padanya, yang siap melakukan apapun untuk dirinya. Namun bisakah pemuda itu menerobos kokohnya istana?

Sebuah novel sejarah yang menggiris jiwa. Betapa pandangan kecantikan yang aneh pada zaman kuno itu, telah membuat para wanita menderita. Namun para pembesar tidak melakukan apapun untuk menghilangkan penderitaan itu. Tapi malah menghukum bagi siapa saja yang menolak tradisi itu. Untungnya  setelah pergantian dinasti  hingga revolusi Mau Tse Tung, tradisi itu akhirnya dilarang, karena menyakiti wanita dan tidak sesuai dengan asas keadilan dan persamaan, bahkan mencederai hak asasi manusia. (hal. 293) Sehingga wanita China tidak harus menderita lagi.

Selain membahas tentang sejarah, novel ini juga menggambarkan tentang sindiran pada gubernur. “Aku memang gubernur, tetapi aku tidak berdiri sendiri. Di belakangku ada sekian pasal peraturan istana yang harus kutaati.” (hal. 145) Dalam kutipan ini menyiratkan bahwa, meski dia seorang gubernur, dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Tapi malah diatur oleh para menterinya. Dia menjadi boneka Ibu Suri. Apa yang diputuskan bukan untuk kesejahteraan rakyat, namun hanya untuk kepentingan istana.

Dikemas dengan bahasa yang renyah sehingga asyik untuk dinikmati. Banyak kata-kata yang bisa dipetik pelajaran dari kisah yang dipaparkan dalam novel ini. Lalu Twist ending yang tidak terduga, mengokohkan kelihaian penulisnya dalam mengemas cerita. Hanya saja masih ada beberapa kesalahan kepenulisan. Lepas dari kekurangan yang ada, novel ini recomended untuk dibaca. 


Spesifisikasi Buku


Judul               : Lotus Feet Girl
Penulis             : Wiwid Prasetyo
Editor              : Cahyadi H. Prabowo
Penerbit           : Metamind, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Cetakan           : Pertama, Februari 2015
Halaman          : viii + 296 halaman

ISBN               : 978-602-72097-1-8
[Ratnani Latifah, Penikmat buku dan literasi, tinggal di Jepara]

[Dimuat di Radar Sampit. Edisi, Minggu, 7 Februari 2016]

Thursday, 3 December 2015

[Resensi] Ketika Subardjo Menjadi Caleg



Judul               : Namaku Subardjo
Penulis             : Hapsari Hanggarani
Penerbit           : Metamind, Imprint of Tiga Serangkai
cetakan            : 1, Juli 2015
Halaman          :  viii+ 240 halaman
ISBN               : 978-602-72834-0-4

            Sebegitu pentingkah sebuah nama yang moderen itu? Sehingga Jojo alias Subarjdo kehilangan pacar dengan alasan tidak masuk akal. Padahal Jojo memiliki wajah yang lumayan tampan dan tidak pelit kalau masalah traktir mentraktir. “Sori, Jo, aku jadi ilfil kalo ... mmm ... kukira ‘Jojo’ nama asli kamu.” (hal. 15). Ternyata kejadian semacam itu tidak hanya sekali dialami Jojo. Diputus gara-gara namanya tidak keren.

            Kaget dan sedih tentu saja Jojo rasakan. Apalagi ditambah dengan masalah kuliahnya yang tidak juga kelar dan masih berkutat di bab awal dalam tugas akhirnya. Hidup Jojo sungguh suram. Tapi di balik kesuraman hidup itu ..., ada juga sisi keren dari Jojo. Dia adalah pemuda yang berhasil dalam usaha wiraswasta telur asin. Usaha warisan keluarga.

            Dalam masa suramnya ini tiba-tiba saja fenoma caleg merubah hidupnya. Semua gara-gara usul dari Rudy anak buahnya. Terdampar pada dunia caleg, membuatnya memahami bagaimana cara kerja dunia politik di negerinya dan sedikit melupakan patah hati karena memiliki nama yang tidak moderen. Bersama Rudy dan Dina—adik Jojo, mereka mulai berjalan pada jalan yang tidak biasa.

            Jojo sejak awal sebenarnya tidak terlalu tahu politik—bisa dibilang gaptek. Tapi karena sudah menjeburkan diri ..., mau tidak mau dia harus belajar. Belajar membuka jaringan; mengenal dunia politik lebih jauh. Sebagaimana yang dikatakan Rudy. “Membuka jaringan politik itu nggak semudah membalikkan tangan.” “... seperti buang mangga. Boleh saja kulitnya berwana hijau, tapi kalau sudah dikupas ternyata isinya berwarna kuning atau oranye. Atau apel, luarnya merah tapi dalamnya berwarna putih. Atau semangka, berkulit hijau ternyata dalamnya merah .... Jadi dunia politik, sesuatu dan orang-orang di dalamnya nggak selalu sama dengan penampakan luar mereka. Boleh saja bajunya hijau, tapi sebenarnya hatinya kuning dan seterusnya ...” (hal. 79-80)

Untungnya keikutsertaan Jojo buat nyaleg mendapat restu dari orangtuanya. Meskipun  ibunya sempat sangki juga. Apakah menjadi caleg partai Peduli Amat bisa menjamin masa depan cerah. Tepatnya apakah menjadi caleg bisa mendatangkan uang? Bisa biki kaya? (hal. 99)

Karena memang sudah terlanjur ..., mau tidak mau Jojo harus terjun juga. Memulai kampanye untuk menjaring pendukung. Seperti yang digembar-gemborkan Rudy setiap waktu. Meski pada dasarnya Jojo tidak terlalu senang dengan cara yang dipakai. “Kita menolong orang kan biar dapat pahala, kenapa mengharapkan suara? Salah niat, tahu!” (hal. 161) “Rud, apa nggak ada cara lain untuk menarik simpati orang lain selain memanfaatkan musibah orang lain?” (hal. 197)

Lalu pertanyaan yang mengusik Jojo ketika berkampanye. “Memangnya masyarakat kita terlalu matrealistis hingga harus selalu meminta uang dari pada caleg? Atau si caleg yang kegeeran dikira kalau sudah memberi uang, terus bakalan dipilih?” (hal.207)

Jojo sungguh tidak menyangka dengan barbagai jalan yang telah dilakukan demi mensukseskan misi kampanyenya. Walaupun dia memang tidak terlalu ngoyo untuk dipilih. Yang jadi perhatiannya itu ..., malah keadaan ibunya yang tiba-tiba memekik dan  jatuh pingsan. Entah apa yang terjadi. Dan tentang nasib Jojo sebagai caleg ..., kelanjutannya bisa langsung menuntaskan sendiri.


Novel yang unik dengan mengambil tema yang jarang diambil. Hawa segar untuk bacaan yang biasanya lebih sering mengusung tema cinta. Recomended untuk dibaca. Meski ada kesan kurang dalam cerita ini. Tentang arti sebuah nama yang disinggung tapi pada kelanjutannya cerita lebih fokus pada Jojo yang menjadi caleg. Juga tentang karakter Dina yang kurang kuat. Tapi tetap tidak mengurangi keasyikan dalam membaca. Banyak pesan yang sebenarnya dalam di ambil. Tentang seseorang tidaklah harus diukur melalui nama. Dan bagaimana politik di mata masyarakat juga caleg itu sendiri.  [Ratnani Latifah, tinggal di Desa Srobyong-Mlonggo, Jepara]

[Dimuat di Radar Sampit, Edisi; Minggu, 29 November 2015] 


Wednesday, 4 November 2015

[Review] Antara Nama dan Jadi Caleg



Judul               : Namaku Subardjo
Penulis             : Hapsari Hanggarani
Penerbit           : Metamind, Imprint of Tiga Serangkai
cetakan            : 1, Juli 2015
Halaman          :  viii+ 240 halaman
ISBN               : 978-602-72834-0-4

Hanya karena nama tidak moderen, Subardjo alias Jojo diputus pacarnya. Padahal wajah jojo tidak jelek-jelek amat. Malah bisa dibilang dia itu cukup tamban dan royal. Maklum selain sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk mengurusi skripsi, Jojo yang merupakan persilangan orang Brebes dan Sidoarjo ini sudah menjadi bos muda. Yah, dia menekuni bisnis telur asin yang sukses mewarisi usaha dari bapaknya. Tapi tetap saja entah kenapa masalah percintaannya tidak mulus dan selalu tersandung pada nama.

Nah, karena putus cinta itu. tiba-tiba Jojo malah terdampar pada masalah caleg. Entah dapat ilham darimana sehingga dia memutuskan mengikuti saran Rudy anak buahnya untuk nyaleg. Padahal Jojo sama sekali buta dengan masalah politik.

Tapi karena sudah terlanjur kecebur sekalian saja menenggelamkan diri. Jojo yang pada mulanya tidak begitu tertarik membaca kini mau membeli koran. Dan kalau biasanya pasa baca koran lebih suka membaca koran masalah kriminal kini beralih membaca masalah politik. (hal. 74) Untungnya keluarga besar mendukung keinginan Jojo yang nyaleg. Meski ibunya sempat ragu. Karena memang bisa ya, menjadi caleg itu sebagai jaminan masa depan cerah. Tepatnya apakah menjadi caleg bisa mendatangkan uang? Bisa biki kaya? (hal. 99)

Lalu perjuangan pun dimulai untuk mengambil hati warga agar bisa mendukungnya. Meski kebanyakan cara yang dipakai berdasarkan saran Rudy itu tidak bijak. Malah terkesan memanfaatkan kesusahan warga. Ini, kan tidak dibenarkan dalam agama. “Kita menolong orang kan biar dapat pahala, kenapa mengharapkan suara? Salah niat, tahu!” (hal. 161) “Rud, apa nggak ada cara lain untuk menarik simpati orang lain selain memanfaatkan musibah orang lain?” (hal. 197)

Belum lagi banyak hal yang dilihat Jojo ketika kampanye yang sungguh tidak sesuai dengan kata hatinya. Kenapa harus seperti ini dan seperti itu. “Memangnya masyarakat kita terlalu matrealistis hingga harus selalu meminta uang dari pada caleg? Atau si caleg yang kegeeran dikira kalau sudah memberi uang, terus bakalan dipilih?” (hal.207)

Masalah kampanye memang cukup menguras perhatian Jojo, namun keadaan sang ibu yang tiba-tiba berteriak histeris dan kemudian tidak sadarkan diri lebih membuatnya miris. Lalu bagaimana nasib jojo dan ibunya? Kenapa sang ibu malah pingsan. Langsung baca saja deh buku ini.

Novel yang mengangkat tema unik yang jarang diambil. Merupakan hawa segar dan patut dibaca. Mengajari bahwa keberhasilan seseorang itu bukan terletak karena nama, tapi usaha dan kerja keras. Serta bagaimana masalah caleg yang ada di sekitar kita.  Meski ada yang berasa kurang. Karena awalnya menyinggung nama namun tiba-tiba lebih fokus pada masalah caleg. Tapi tetap asyik diikuti.

Kalimat ini sepertinya cocok untuk menyinggung masalah politik “Membuka jaringan politik itu nggak semudah membalikkan tangan.” “... seperti buang mangga. Boleh saja kulitnya berwana hijau, tapi kalau sudah dikupas ternyata isinya berwarna kuning atau oranye. Atau apel, luarnya merah tapi dalamnya berwarna putih. Atau semangka, berkulit hijau ternyata dalamnya merah .... Jadi dunia politik, sesuatu dan orang-orang di dalamnya nggak selalu sama dengan penampakan luar mereka. Boleh saja bajunya hijau, tapi sebenarnya hatinya kuning dan seterusnya ...” (hal. 79-80). Recomenden untuk dibaca.

Srobyong, 4 November 2015.



[Review] Jalan Menggapai Impian



Judul               : Swarna Alor
Penulis             : Dyah Prameswarie
Penerbit           : Metamind—Tiga Serangkai
Cetakan           : Pertama, Mei, 2015
Halaman          : vi + 282 hlm.
Harga              : Rp. 49.000,-
ISBN               : 978-602-72097-4

Mendapati kenyataan tidak sesuai dengan harapan membuat Lilo dan Mbarep cukup syok. Bayangan Paris pudar ketika mereka sampai di Bandar Udara Seokarno Hatta dan baru diberitahu bahwa mereka akan pergi ke Alor. Tempat yang menurut mereka tidak wah sama sekali. Memang apa yang bisa dipelajari dari daerah terpencil yang jauh dari peradaban. Jauh dari hiruk piruk fashion dan Bayangkan untuk mencari sinyal internet saja susahnya minta ampun.

Lilo merasa sangat kecewa. Apalagi ketika datang dia langung diajak berburu binatang invertebrata; teripang dan mengumpulkan buah tongke. Dia ini bukan calon pemburu tapi calon perancang busana.( hal. 3) Setelah berburu Teripang, hewan itu direbus, dan airnya digunakan untuk mewarnai. Dan ini betolak belakang dengan Lilo yang seorang anggota Green World. Dia tidak mau merusak ekosistem laut. Kenapa tidak memakai cara moderen saja. dari pada memakai cara lama yang merusak peradapan makhluk lain.

Mbarep pun punya perasaan yang sama dengan Lilo. Kecewa. Apalagi sejak datang dia belum diberitahu apa tugasnya. Dan ketika ada pemotretan, dirinya bahkan dianggap profesional. Keinginannya untuk ikut pemotretan di bawah laut saja dilarang dengan berbagai alasan. (hal. 37)

Namun kejadian demi kejadian yang mereka alami sedikit banyak telah membuka pikiran Lilo dan Mbarep. Bahwa Alor meski desa terpencil tapi memiliki keindahan yang luar biasa. menyadari bahwa jangan melihat sesuatu hanya dari luarnya saja. Dan mengingatkan bahwa Indonesia itu memang indah dengan segala keindahan dan kekayaannya. Selain itu juga mengajarkan akan sebuah usaha ketika ingin mencapai mimpi. Nahasnya di saat mereka menyadari itu, sebuah bencana besar datang. Pak Libana hilang, itu berarti festival swarna Alor terancam gagal.

Novel yang syarat makna. Tentang persahabatan dan perjuangan dalam meraih impian. Bahwa untuk mencapai mimpi itu memang tidak mudah dan butuh perjuangan dan kesabaran. Recomended untuk dinikamti. Juga mengingatkan seberapa kita mengenal budaya asli negeri sendiri. Mengajarkan untuk mencintai tanah air.

 Dari novel ini banyak kata-kata yang bagus dan nyetil dan menebar semangat.

-Sebaiknya kamu belajar membuka mata lebih lebar, mendengar lebih sabar, dan berbicara dengan hati, bukan dengan mulut. (hal. 47)

-Bahwa dalam mencapai impian itu butuh kesabaran (hal. 216).

-Bahwa manusia tak pernah berhenti bermimpi. Yang membedakan adalah apakah kita mau bekerja keras mewujudkannya atau sekedar mimpi tentang sukses. (halaman 276)

-What important is not teh destination, but what dan whom we find along the way. [Perjalanan bukan lagi tentang tempat yang kita tuju, tapi apa dan siapa yang akan kita temukan sepanjang perjalanan.] (hal. 277)

Srobyong, 4 November 2015.

Friday, 28 August 2015

[Review] Mengukur Jiwa Nasionalisme





Kazuhana El Ratna Mida

Judul Buku                  : Karena Aku Tak Buta
Penulis                         : Redy Kuswanto
Penerbit                       : Metamind, Creativ Imprint of Tiga Serangkai
Editor                          : Antik
Cetakan                       : Januari 2015
Halaman                      : 332 + xii
ISBN                           : 978-602-257-107-0

Sebuah buku yang menjadi juara pertama dalam sebuah event lomba menulis novel ‘Seberapa Indonesiakan dirimu?’. Novel apik yang membuat siapa pun yang membaca akan tersentil dan mulai berpikir ulang tentang jiwa ke-Indonesiaanya. “Sudahkan aku menjadi warga baik yang mencintai kebudayaannya negerinya sendiri? Atau aku malah terkunkung dengan budaya barat yang mulai mengkontaminasi” Mungkin itulah pertanyaan yang akan dipertanyakan setelah membaca novel ini.
Novel ini menceritakan tentang tokoh Zad. Anak mertopolitan yang selama ini kurang kasih sayang orangtua, hingga terjerumus pada pergaulan bebas tanpa kendali. Tawuran, menjadi ketua genk remaja dan berbagai kenakalan lainnya. Hal itu membuatnya harus berurusan dengan polisi. Hingga orangtuanya menyadari kekeliruan mereka dan memindahkannya ke Jogja. Yah, katanya untuk sebuah perubahan. Walau ternyata di Jogja pun Zad masih-lah sebebas di Jakarta meski tidak se-ekstrim dulu.  Namun pertemuannya dengan Gendis—gadis sederhana di kampusnya,  dan kunjungannya ke sebuah desa bernama  Ngargomulyo, telah merubah dunianya.

Di desa itu Zad juga bertemu  Mas Gendra dan pak Gio. Dia menemukan sesuatu yang membuatnya terkagum-kagum, tapi juga membuatnya sedih. Merasa kerdil karena karena selama ini dia telah membuang waktunya  dengan sia-sia. Hanya bermain dan nongkrong menghabsikan uang kiriman ayahnya. Ketika Gendis mengenalkan berbagai macam permainan tradisional dia sama sekali tak tahu apa pun. Apalagi tentang festival dolanan di Yogyakarta.

Dia merasa buta. Bagaimana mungkin dia yang anak Indonesia sama sekali tidak tahu akan permaina  tradisional? Gobak sodor, kasti, petak umpet, dakon dan lain sebagainya. Sebagai adak yang besar di kota besar, hal itu sama sekali tidak dikenalkan di sana. Sejak kecil dia hanya mengenal game online. (Halaman 45)

Karena ketidaktahuannya itu, ketika anak-anak kecil di desa Ngargomulyo mengajaknya bermain, dengan sopan Zad menolaknya. Dia harus tersenyum kecut ketika banyak pertanyaan dilontarkan padanya. Bahkan menerirma tatapan aneh anaka-anak yang seolah berkata “Emangnya Mas Zad, bukan orang Indonesia?” Dia sungguh tertohok.

Zad sungguh tersentak. Di desa ini dia sungguh merasa seperti alien.  Masalah permainan tradisional ini sungguh baru baginya. Belum lepas kekegetannya, anak-anak mmenyinggung tentang Museum permainan yang ada di Yogyakarta. Dan parahanya, selama dia kuliah di sana, dia tidak tahu menahu tentang Museum itu. Dia hanya bisa terkagum-kagum ketika Gendis menjelaskan semuanya dengan detail mengenai Museum itu. Dan semakin menyadari bahwa dia sangat buta dengan budaya sendiri sebagai identitas bangsa. (Halaman 60).

Lebih miris lagi ketika dia tahu bahwa penggagas dari Museum itu adalah seorang pria berkebangsaan Belgia. Pria yang bernama Pak Rudi sungguh peduli dengan tradisional dan budaya Indonesia. Dia takut  permainan tradisional mulai menghilang dan menyebabkan anak zaman sekarang yang tidak banyak mengenal sama sekali, (halaman 122)

Zad merasa malu. Dia pun bertekad untuk melakukan sesuatu. Dia tidak mau menutup mata terhadap perjuangan orang-orang yang ingin melestarikan budaya bangsa. Tapi niatnya itu tidak sejalan dengan tiga sahabatnya—Yod, Fya dan Rhean yang lebih suka hidup bermewah-mewah.  Mereka  merasa Zad hanyalah dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu yang berkedok tentang keinginan masalah melestarikan budaya. Bukankah mereka baru kenal? Kenapa Zad harus ikut repot, akan sesuatu yang bukan urusannya. Begitulah pendapat teman-temannya.

Zad merasa terasing. Belum lagi kisah asmaranya dengan Gendis yang terancam bubar karena ulah papanya. Tidak hanya itu, bersamaan waktu, teror kini menghantuinya. Begitu banyak masalah yang harus dihadapinya. Zad tertekan, merasa lelah dan putus harapan. Entah dia sanggup melanjutkan semua janji untuk membantu para relawan itu ..., atau malah angkat tangan.

Novel yang asyik untuk dibaca dan syarat makna. Mengingatkan kita bahwa saat ini masalah budaya apalagi permainan tradisional sudah semakin terkikis, bersama dengan hadirnya permainan game online yang saat ini telah mewabah. Apalagi pas nih di bulan Agustus, ketika negara kita tengah merayakan pesta negara.

Kenyataannya, saat ini anak-anak lebih suka bermain plays stasion, game onlien dari pada main petak umpet atau gobak sodor. Atau bahkan mungkin sudah tidak banyak yang tahu akan permainan itu. Bahkan untuk kalangan remaja hingga dewasa, pun sudah jarang mengenalkan permainan itu. yang disuguhkan memang gadget dan segala permainan moderen.

Novel ini cukup menyentil saya sendiri, menyindir secara halus melalui rentetan ceritanya. Ketika membaca ini, saya hanya bisa tersenyum dan mulai menyadari bahwa saya masih jauh dari jiwa nasionalisme.

Srobyong, 14 Agustus 2015