Showing posts with label Mizan. Show all posts
Showing posts with label Mizan. Show all posts

Saturday, 18 December 2021

[Review Buku] Mengenalkan Nilai-nilai Islam dengan Cara yang Menyenangkan


 

Judul :  Islamic Montessori Inspired Activity
Penulis : Zahra Zahira
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Keempat, Februari 2021
Tebal : x + 234 halaman


Apa itu  Montessori? Jujur saja, saya baru mengenal istilah ini ketika sedang sibuk mencari cara bagaimana mengenalkan nilai-nilai Islam pada anak saya, dengan cara yang menyenangkan. Secara tidak sengaja saya menemukan pembahasan tentang metode Montessori. Ketika membaca review tentang metode Montessori inilah, akhirnya saya  menjadi penasaran, lalu mulai mencari buku dengan tema tersebut. Dan alhamdulillah saya menemukan buku ini.


Buku ini  hadir dari kegelisahan pada orang tua juga pendidikan karena keterbatasan material Montessori, sehingga Zahra Zahira, founder of Indonesia Islamis Montessori Community mengenalkan bagaimana menyiasati masalah tersebut dengan memanfaatkan peralatan sederhana di sekitar kita. Sehingga kita tidak perlu resah, jika ingin menerapkan metode Montessori baik di rumah atau di sekolah.

Di dalam buku ini, penulis tidak membahas teori  atau sejarah tentang metode tersebut secara panjang lebar.  Meskipun ada materi, itu pun hanya dijelaskan sebagai pengantar singkat untuk mengenalkan pembaca tentang apa itu metode montessori. Selebihnya buku ini lebih membahas tentang aktivitas yang dapat dilakukan anak yang dibagi dalam beberapa tema.


Tentang Montessori

Montessori sendiri adalah sebuah metode pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori, yang mana fokus pendekatannya itu berpusat pada anak.  Ada lima aspek dalam Montessori, yaitu Pratical life, Sensorial, Language, Matematics, dan Culture.


Islamic Montessori

Sedangkan Islamic Montessori sendiri adalah pendekatan pendidikan yang menggunakan lima aspek Montessori dengan fokus pada aspek perkembangan spiritual agama Islam pada setiap kegiatan.  Jika dalam Montessori ada lima aspek, di dalam Islamic Montessori penulis memberikan tambahan 2 aspek lagi, yaitu Islamic Studies dan Art & Craft.

Lalu apa maksud dari tujuh aspek tersebut?

Islamic studies di dalam buku ini adalah  cakup tentang pengenalan  rukun  Islam, rukun Iman, Asmaul Husna kisah para Nabi berdasarkan masing-masing materi. Di mana dalam Islamic studies ini juga bisa  diaplikasikan pada setiap kegiatan lain seperti  Pratical life, Sensorial, Language, Matematics, dan Culture.

Pratical Life yaitu bagaimana kita mengenalkan kepada anak tentang benda-benda di sekitar. Di mana kegiatan ini bertujuan untuk melatih keteraturan, konsentrasi, koordinasi dan kemandirian.

Sensorial kegiatan ini bertujuan untuk menstimulasi panca indera anak, yaitu perasaan, penciuman, pendengaran, pengecapan, dan penglihatan.

Language di sini bahasa yang diajarkan kepada anak itu berupa mendengar cerita, menulis dan membaca. Hal ini bisa dilakukan dengan storytelling, large picture, card atau membacakan buku.

Matematics kegiatan ini tidak hanya bagaimana mengenalkan angka dan cara berhitung, tetapi juga memahami kalender, mengenalkan waktu, juga jumlah hari pada bulan Ramadhan.

Culture maksud dari culture adalah upaya mengenalkan alam semesta kepasa anak. Misalnya mengenalkan tentang diri sendiri, keluarga, lingkungan, kebudayaan dan banyak lagi.

Art & Culture kegiatan ini bertujuan untuk menstimulasi estetika dan motorik halus. Kegiatan ini tidak hanya tentang menggambar dan mewarnai, tetapi juga menyobek, menggunting dan banyak lagi.


Membaca buku ini kita akan menemukan 200+ kegiatan Islamic Montessori yang menarik dan inspiratif. 30 tema yang disiapkan penulis insya Allah akan memberikan kita banyak pengalaman baru dan cara mengenalkan Islami dengan menyenangkan. Karena dalam metode ini kita akan dijejali teori saja, kita akan diajak langsung praktik dan beraktivitas.


Tema pertama misalnya, My Self
Di sini nilai-nilai keislaman yang dikenalkan adalah  adanya malaikat  Raqib dan Atid, keutamaan menjaga kebersihan dan kerapian, anjuran bersyukur. Sedangkan dari aspek lainnya anak jadi bisa melipat pakaian sendiri, bisa mencetak tangan dengan cara warna, membuat stempel nama, mengurutkan angka 1-10, mengetahui proses tumbuhnya anak, anak dapat menulis namanya dengan cat warna dan luas.



Selain tema itu, masih ada 29 tema menarik yang dapat disimak di dalam buku ini.




Namun perlu diingatkan untuk menerapkan metode Montessori, baik guru atau orang tua harus benar-benar menyiapkan segala keperluan dan alat yang dibutuhkan dengan cermat. Karena tentu tidak mungkin memulai pembelajaran tanpa adanya bahan-bahan yang dibutuhkan. Inilah tantangan orang tua, agar selalu aktif dan kreatif dalam menyiapkan tema setiap harinya.


Selain itu orang tua juga harus pandai mengkondisikan anak, karena di masa usia awal anak lebih tertarik untuk bermain, jadi saat menerapkan metode ini orang tua harus sabar. Karenanya orang tua harus kreatif untuk menarik perhatian anak, agar selama belajar tapi juga seperti bermain, sehingga anak tidak bosan selama materi diajarkan.

Secara keseluruhan buku ini bisa menjadi bahan inspirasi bagi orang tua untuk menerapkan metode belajar mengenalkan nilai-nilai Islam kepada anak dengan cara yang menyenangkan. Dan saya sangat terbantu untuk mengenalkan nilai-nilai Islam kepada anak melalui buku ini. Meski bertahap anak cukup respek, dan memang harus sabar agar anak tidak mudah bosan saat belajar.

Srobyong, 18 Desember 2021


(Alhamdulillah naskah review ini terpilih sebagai pemenang pertama,
Kompetisi Review Buku Mizan 2021)

Thursday, 16 December 2021

Review Buku '25 Nabi dan Rasul' -Kisah Nabi yang Tidak Membosankan dan Penuh Hikmah


Judul : 25 Nabi & Rasul
Penulis :  Noor H. Dee
Ilustrator : Bella Ansori
Penerbit :  Noura Kids
Cetakan: 4, November 2021


Tema 25  Nabi dan Rasul merupakan tema sejuta umat.  Artinya tema yang sudah pasaran tapi tetap tak lekang oleh zaman. Di grup Mizan sendiri, buku dengan tema serupa sudah ada begitu banyak. Sebut saja "Kisah 25 Nabi dan Rasul" karya Yudho Purwoko,  terbitan Dari Mizan. "Cerita Seru 25 Nabi dan Rasul" karya Ririn Astutiningrum, terbitan  Dar Mizan,  "Kisah 25 Nabi dan Rasul for Kids" karya Erna Fitrini,  terbitan Pelangi Mizan dan banyak lagi. Belum lagi  tema serupa dari berbagai penerbit di Indonesia. Hampir semua penerbit pernah  menghadirkan buku kisah para Nabi dan Rasul.

Buku tema Nabi dan Rasul di Grup Mizan


Hal ini mungkin terjadi karena tema Nabi dan Rasul memang selalu menarik untuk dikaji dan dijadikan cerita. Karena kisah-kisah ini dapat dijadikan bacaan Islam yang paling awal  bagi anak. Melalui kisah para Nabi anak dapat belajar banyak hal. Dari sejarah, keteladanan para Nabi, akidah juga ketauhidan.

Dan karena itu pula tema ini masih selalu diminati pasar. Orang tua masih memiliki minat yang sangat besar dalam upaya mengenalkan para Nabi dan Rasul melalui cerita. Apalagi dalam setiap buku tentu memiliki keunikan masing-masing. Meskipun memiliki tema yang sama, jika ditulis oleh penulis yang berbeda, hasilnya tentulah tidak sama.


Begitupula dengan buku "25 Nabi & Rasul" karya Noor H. Dee yang diterbitkan di Noura Kids. Meski memiliki tema yang biasa, sudah umum,  kisahnya tetap unik dan tidak pasaran, dan tidak kalah menarik untuk disimak dari pada buku yang lain dengan tema serupa.


Dengan penuturan yang padat penulis mampu menghadirkan kisah para Nabi dan Rasul dengan  memikat dan tidak berat untuk dipahami anak. Apalagi untuk segmentasi usia 3 tahun ke atas. Hanya dengan tiga sampai empat kalimat per halaman, penulis tetap mampu menghadirkan kisah para Nabi yang sangat menyentuh dan sudah mewakili dari bentuk kisah yang panjang.

contoh isi buku

Hemat saya buku ini memang sangat pas dijadikan bacaan awal bagi anak untuk usia dini. Karena kalimatnya pendek-pendek, dan bahasanya pun mudah dipahami. Berbeda dengan buku dengan tema serupa.

Misalnya buku "Mengenal 25 Nabi & Rasul" Terbitan Checklist. Meskipun di cover buku ini tertulis untuk my golden age, dari segi bahasa, buku ini masih terkesan panjang dan ada beberapa kalimat dan bagian yang kurang pas untuk dibacakan pada anak.

Dan jika dibandingkan dengan tiga tema serupa dari mizan, letak perbedaannya hanya pada segmentasi usia.  "Kisah 25 Nabi dan Rasul" karya Yudho Purwoko,  "Cerita Seru 25 Nabi dan Rasul" karya Ririn Astutiningrum,  dan  "Kisah 25 Nabi dan Rasul for Kids" karya Erna Fitrini, lebih pas untuk dibaca anak usia 9 tahun ke atas yang sudah mulai lancar membaca.  Jika dibacakan untuk anak usia dini, tentu anak akan masih kesulitan mencerna. 


Berbeda jika dibandingkan dengan buku "25 Nabi & Rasul" ini yang menurut saya,  penulis telah melakukan pengamatan mendalam untuk membuat sebuah kisah yang tidak hanya menarik, tapi bahasanya juga ramah anak.

Secara keseluruhan, buku ini memang bagus dan recomended untuk anak. Dengan bantuan orang tua sebagai mediator, melalui buku ini, anak dapat mencontoh sikap para Nabi yang selalu mengikuti perintah Allah, rajin belajar, sabar, tangguh, tidak mudah mengeluh juga bakti kepada orang tua. 

Buku ini sangat membantu saya mengenalkan cerita Islam pertama pada anak saya. Karena dia selalu senang ketika saya bacakan buku ini. Dia juga suka dengan gambar-gambar yang ada di buku. 

 Srobyong, 16 Desember 2021. 

Saturday, 22 June 2019

[Resensi] Meredakan Islamofobia di Dunia Barat

Dimuat di Jateng Pos, Minggu  13 Januari 2019 

Judul               : Islamofobia
Penulis             : Karen Armstrong, dkk
Penerjemah      : Pilar Muhammad P
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 352 halaman
ISBN               : 978-602-441-055-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Sejak serangan-serangan  terorisme yang mengerikan, seperti kejadian di Amerika (11 September 2001) serta serangan di Paris (13 November 2015) oleh para ekstremis yang mengatasnamakan Islam, sejak itu timbul-lah prasangka, permusuhan,  ketakutan  dan kebencian terhadap sebagian besar umat Islam.  Gejala inilah yang kemudian lazim disebut dengan Islamofobia.

Dan karena sikap para oknum yang mengatasnamakan Islam dalam perbuatan kejinya, kini Islam dianggap sebagai agama yang monolitik (tunggal-kaku tanpa variasi) dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan realitas-realitas baru. Islam dianggap tidak memiliki nilai-nilai yang sama dengan yang diajarkan agama-agama besar lainnya. Islam adalah agama inferior dalam pandangan Barat, yaitu agama yang kuno, biadab dan tidak rasional. Islam merupakan agama kekerasan dan mendukung terorisme. Dan Islam adalah ideoligi politik yang buas (hal 13).

Dari sebagian kecil umat Islam yang bertindak telah bertindak jahat, kini semua muslim disamaratakan sebagai sosok terorisme dan esktrimisme. Padahal jika boleh jujur, dari sekian banyak korban terorisme  adalah umat Islam itu sendiri.  Kenyataan itu tentu saja cukup membingungkan.  Buku ini hadir dalam upaya untuk menemukan alasan dari mana akar kemunculan Islamofobia di Dunia Barat. Namun lebih dari itu, buku ini juga mengajak kita untuk mencoba meredakan islamofobia agar mengembalikan sikap welas asih antar agama dan antar sesama.

Dibuka dengan artikel karya Karen Amstong, di sini kita akan mendapati fakta bahwa sebenarnya islamofobia sudah muncul  cukup lama di dunia Barat. Pada 2013, Uni Eropa menyatakan bahwa Wahabisme adalah sumber utama terorisme global. Namun, mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa semptinya visi Wahabi merupakan lahan subur bagi berkembangnya ekstremisme. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, para kepala suku beraliran Wahabi memang benar-benar melakukan serentetan ekspedisi militer penuh kekerasan terhadap kaum Syi’ah (hal 19-20).

John L. Espposito, dalam artikelnya memaparkan bahwa dari berbagai penelitian yang ada  islamfobia meningkat secara siginifikan tidak hanya dengan terjadinya insiden terorisme domestik, tetapi juga pada saat pemilu, seperti yang terlihat pada pemilu presiden tahun 2008 dan 2012 dan pemilu kongres tahun 2010. Selama kampanye, Newt Gingrich, Rick Santorum, Herman Cain dan lainnnya berusaha untuk mendapatkan perhatian dengan membuat pernyataan sembrono tentang orang Islam (hal 87).

Sedangkan sejak awal Islam merupakan agama yang mencintai kedamaian. Hal ini bisa kita lihat dari padangan Nabi Muhammad selama mengajarkan Islam. Nabi Muhammad  mengajarkan umatnya untuk selalu mengasihi manusia agar Allah pun mengasihi mereka. Islam melarang membunuh tawanan, membunuh masyarakar sipil. Islam harus menegakkan hukum dan ketertiban, memerdekan budak, melarang pemerkosaan, mewujudkan perdamaian, melarang membakar hidup-hidup makhluk hidup, dan melarang menyebut orang Muslim sebagai orang kafir.
Dan semua sikap itu berbanding terbalik dengan ajaran para terorisme yang tidak memiliki belas kasih terhadap sesama manusia, tega membunuh masyarakat sipil dan melegalkan perbudakan dan menyukai aksi-aksi kekerasan.

Oleh sebab itu penting sekali bagi kita untuk mulai meredakan islamofobia di dunia Barat. Sehingga dalam hubungan keagamaan dan antar sesama, akan tercipta sikap welas asih juga saling menghormati.  Di antaranya kita bisa memulainya dengan menghormati instrumen-instrumen semua agama, baik itu berupa bangunan yang menaungi penganut agam, ayat-ayat suci atau kitab suci yang dianggap merupakan wahyu Tuhan dan sifat kenabian, meluangkan waktu dengan orang-orang Islam di komunitas, berpikiran terbuka dan banyak lagi.

Imam Abdul Malik Mujahid dalam artikelnya memaparkan 14 cara dalam melawan islamofobia.  Di antaranya kita harus mengingat Nabi. Nabi didera penghinaan mengerikan dan kejahatan kebencian dalam masa hidupnya. Dia tetap teguh, sabar dan toleran menghadapi islamofobia ini.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan anatara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia.” (hal 133).

Buku ini sangat patut dibaca sebagai wacana dalam mengenal sejarah tumbuh kembangnya islamofobia dan di Barat dan bagaimana cara kita melawan dan atau merdakan Islamofobia.

Srobyong, 8 Desember 2018

Saturday, 19 January 2019

[Resensi] Kisah Tentang Kehilangan dan Kesabaran

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 23 Desember 2018



Judul               : The Motion of Puppets
Penulis             : Keith Donuhue
Penerjemah      : Linda Boentaram
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Juni 2018
Tebal               : 408 halaman
ISBN               : 978-602-402-119-1
Peresensi         : Ratnani Latifah.  Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mengambil tema horor psikologi, novel ini cukup menarik dan mencekam. Sejak awal kita akan digiring penulis untuk memecahkan sebuah kasus misteri yang penuh teka-teki. Kita akan dibuat penasaran tentang kebenaran apa yang ada di balik kasus misteri tersebut.  Tidak ada pertanda, tidak ada jejak, seolah sosok yang hilang itu, tidak pernah ada sebelumnya.  Selain harus berjibaku dengan rasa kehilangan, novel ini juga mengungkap tentang kesabaran, saat menerima ujian. 

Novel ini menceritan tentang pasangan suami-istri—Theo  dan Kay Harper yang datang ke Quebeck untuk bekerja.  Di mana Theo sedang menyelesaikan projek menerjemahkan biografi seorang fotografer. Dan Kay Harper menjadi pemain akrobat di pertunjukan sirkus.  Pada awalnya mereka sangat menikmati perjalanan tersebut. Mereka menyempatkan  mengelilingi kota tua Quebeck yang  indah. Di antara tempat yang paling Kay sukai adalah ketika mereka melihat toko mainan—Quatre Mains. Di sana Kay akan berlama-lama menandangi sebuah boneka rupawan yang berdiri di tudung kaca (hal 11).

Namun dalam sekejap mata, kebahagiaan pasangan pengantin baru itu, berubah menjadi tragedi. Kay Harper yang kala itu berpamitan untuk melakukan pertunjukan akrobat bersama teman-teman sirkusnya, tidak pernah kembali. Theo hanya mengetahui bahwa, kala itu Kay Herpen terakhir pergi bersama teman-temannya untuk pesta dan pulang sendirian, karena tidak mau diantar salah satu temannya, Reance yang terkenal mata keranjang.  Dan ketika Theo melaporkan kejadian itu,  dia malah dianggap telah membunuh istrinya sendiri (hal 77).

Di sisi lain, kita akan dihadapkan pada kehidupan Kay yang baru yang tidak terduga dan menegangkan. Karena tiba-tiba kita akan dihadapkan dengan kehidupan sekumpulan boneka yang hidup. Mereka berbicara laiknya manusia biasa. Hanya saja waktu kehidupan mereka yang berbeba. Mereka hanya bisa bergerak bebas di malam hari, agar tak ada seorang pun yang terlihat. Dan di salah Kay Harper berada. Dia menjadi sosok baru yang tidak pernah dia bayangkan.

Jika Kay mencoba beradaptasi dengan kehidupan barunya, Theo masih berusaha mencari keberadaan istrinya.  Dia merasa tidak bisa berdiam diri tanpa mengetahui bagaimana nasib istrinya. Hingga suatu hari, Egon, salah satu kenalan di Qubeck hadir membawa sebuah informasi yang janggal tentang Quatre Mains, namun menarik untuk diselidiki. Dibantu oleh  Mitchel—salah satu teman dosen Theo di kampus, mereka mencoba menyelidiki tentang boneka-boneka yang bergerak. 

Apalagi ketika tanpa sengaja mereka melihat sebuah pertunjukan yang memperlihatkan sebuah boneka yang sangat mirip dengan Kay. Namun yang jadi pertanyaan berhasilkah Theo menemukan boneka itu? Dan mungkinkah  Kay bisa berubah kembali menjadi manusia?

Sebuah kisah yang tidak terduga sampai akhir dan akan membuat kita sesak napas, karena rasa penasaran yang menggebu. Dengan gaya penulisan yang apik dan menarik, penulis berhasil mengeksekusi kisahnya dengan baik. Di mana penulis berhasil membuat pembaca, gregetan dan terkagum-kagum. Baik tentang kesetiaan Theo juga mitos boneka yang berbicara dan bergerak.  Ini tentang kisah cinta juga mitos kuno.

Hanya saja untuk ending kisah, saya merasa kurang puas. Bagaimana pun setelah perjuangan yang sangat panjang kita akan dihadapkan dengan sebuah kenyataan yang tidak pernah kita bayangkan. Namun lepas dari kekurangannya, buku ini tetap menarik dibaca. Apalagi bari para penikmat kisah misteri. Saya suka dengan tampilan cover yang bikin merinding. Sedih tapi juga menakutkan.

Selain itu, banyak kejutan yang akan kita temukan dari novel ini.  Misalnya berbagai kejutan yang tidak pernah kita duga dengan para tokoh pendamping di sini. Lalu sebuah kejadian yang sama, yang terjadi dialami seorang petugas polisi, tentang kasus kehilangan.  Dari novel ini kita bisa belajar tentang sikap tidak mudah menyerah, serta perlunya menghadapi ujian dengan penuh kesabaran.  Di sisi lain, kisah ini  juga menuntut kita untuk selalu waspada dan hati-hati dalam segala situasi.

Srobyong, 17 Agustus 2018

Friday, 7 December 2018

[Resensi] Kisah Dokter Ahli Ginjal Meluruskan Takdir

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 3 Desember 2018

Judul               : Change Your Destiny
Penulis             : Rully Roesli
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-402-124-5
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Dalam melawan setiap tantangan, kita harus memiliki mental baja dan saraf besi! Artinya, kita benar-benar harus sangat yakin bisa menang dan siap berjuang luar biasa kerasnya. Pikiran dan keyakinan harus terus positif dan optimis. Dengan  sikap tersebut, badan kita secara alami akan menyesuaikan sehingga kemungkinan berhasil kita semakin tinggi.” (hal 14-15).

Takdir manusia memang sudah ditetapkan oleh Allah. Akan tetapi, takdir itu bisa kita rubah, jika kita mau berusaha. Sebagaimana kita ketahui takdir manusia dibagi dua. Pertama takdir mubram dan mualaq. Takdir mubram  adalah takdir yang tidak bisa dirubah, karena sudah ditentukan dan ditulis di Lauhul Mahfud. Seperti kematian dan kapan kita lahir. Sedangkan takdir muallaq adalah takdir yang bisa dirubah, jika kita berusaha. Seperti rezeki, sembuh dari sakit dan banyak lagi.

Buku ini dengan paparan yang lugas dan mudah dipahami, menjelaskan tentang bagaimana kita bisa meluruskan takdir. Di mana kisah ini merupakan kisah nyata dari seorang dokter ahli ginjal dalam menyikapi berbagai permasalahan hidupnya dengan bijak untuk meluruskan tadir.

Siapa yang menyangka bahwa  Roesli kecil yang sebelumnya tumbuh dengan sehat tiba-tiba, pada usianya yang kelima tahun,  kaki kirinya mengalami polio, sehingga tidak bisa digerakkan.  Keadaan itu tentu cukup mengejutkan. Berbagai alternatif pengobatan sudah dilakukan orangtua Roesli untuk menyembuhkan kakinya. Akan tetapi, ternyata Allah berkehendak lain.

Melihat keadaan itu, akhirnya orangtua Roesli memilih berupaya untuk menyelamatkan mental putranya. Dalam artian, mereka berusaha bersikap wajar dan tidak memperlakukan Roesli selayaknya orang cacat. Dan cara ini sepertinya sangat berhasil. Karena pada kenyataannya, meski terlahir dengan kekurangan, Roesli mampu bersaing dengan teman-temannya lainnya dan berhasil menjadi seorang dokter ahli ginjal. Bahkan dia berhasil mendirikan sebuah rumah sakit khusus ginjal.

Namun ternyata cobaan yang dialami Roesli tidak berhenti di sana saja.  Ketika dia tengah mengisi acara ilmiah di Bali, dia mengalami serangan stroke. Dari hasil CT Scan, para dokter berkesimpulan telah terjadi pendarahan otak pada dokter Roesli akibat hipertensi. Di mana menurut paparan istrinya, tekanan darahnya saat itu mencapai 198/125 mmHg (hal 176).

Berbagai upaya kembali dilakukan untuk memulihkan keadaan Roesli. Berbagai terapi rehabilitasi secara intensif telah dia lakukan. Dari Fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara ditambah tusuk jarum secara rutin. Bahkan dia juga menjalani terapi di kolam renang (hidroterapi) di Ciater Spa Resort, serta menjalani cara rehabilitasi stroke mutakhir yaitu TSM (Transcephalic Magnetic Stimulation) dan DSA  (Digital Subtraction Angiography). Semua ini dijalini Roeli dengan tekun, karena dia ingin sembuh (hal 180).

Hingga akhirnya kelumpuhan di lengan dan tungkainya lambat laun sudah membaik, meski memang tidak seratus persen.  Namun kesembuhan itu sangat disyukuri Roesli. Bahkan dia kembali membuka praktek, karena menurutnya dengan kembali beraktifitas dan bisa berguna bagi orang lain, juga merupakan cara pengobatan tersendiri bagi Roesli.  Tidak hanya itu, dia juga mendapat tawaran dari sahabatnya, dr. Augusta untuk menjadi pembicara ilmiah, meski dalam keadaan tidak sempurna dengan duduk di kursi roda.

Kisah yang dialami Roesli benar-benar sangat menginspirasi. Dengan segala keterbatasannya dia tetap berjuang untuk bangkit dan bisa berguna bagi orang lain. Menurut Roesli dalam menyikapi hidup dan agar bisa meluruskan takdir maka pertama-tama adalah  selalu berpikir positif. Kita harus mau berusaha dengan gigih dalam upaya meraih kesuksesan atau mimpi yang kita miliki. Tidak lupa kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah setelahnya kita harus bertawakal.  Kemudian ketika kita mengalami sebuah ujian, jangan jadikan hal itu menjadi alasan untuk menyerah. Namun jadikan kegagalan sebagai epifani untuk bangkit dan terus berusaha.

“Kadang kehidupan dapat   menumbangkan kita. Kitalah yang memutuskan untuk tetap jatuh atau kembali bangkit.” (hal 61).

Buku ini sangat patut kita baca dan renungkan. Dilengkapi dengan kisah-kisah ketaladan yang lain, serta pembasahan yang menggabungkan  pendekatakn ilmian dan kajian keagamaan, buku ini akan sangat membantu kita untuk membangunkan motivasi dan semangat untuk berjuang.

Srobyong, 16 November 2018

Saturday, 1 December 2018

[Resensi] Berdamai dengan Rasa Takut

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 18 November 2018 


Judul               : Turtles All The Way Down
Penulis             :  John Green
Penerjemah      : Prisca Primasari
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : 344 halaman
ISBN               : 978-602-402-115-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Buku ini ditulis oleh John Green, penulis yang sebelumnya telah melahirkan buku best seller “The Fault in Our Stars” dan “Looking for Alasaka”. Sebagaimana buku sebelumnya, karya John Green ini pun telah mendapat banyak perhatian dan telah dinanti-nantikan oleh pembaca. Maka tidak salah jika kemudian buku terbarunya kembali mendulang sukses. Bahkan buku ini telah menyabet beberapa penghargaan bergengsi. John Green telah berhasil mengharu birukan para pembacanya lewat kisah yang romantis, humanis dan filosifis.  Lewat buku ini secara tidak langsung juga telah menunjukkan, bahwa John Green identik suka menulis kisah dengan latar tokoh yang berpenyakit.

Menceritakan tentang kehidupan Aza Holmes, gadis yang jika terlihat dari luar nampak biasa dan tidak memiliki masalah. Akan tetapi ketika kita mengenalnya lebih dekat, maka kita akan tahu, bahwa dia memiliki kecenderungan  suka gugup dan khawatir. Dia memiliki penyakit OCD—obsessive compulsive disorder. Mengutip dari  artikel karya Novita Josep, di web hello sehat, OCD adalah sebuah gangguan psikologi yang dapat mempengaruhi pikiran (obsesif) dan perilaku (kompulsif) manusia.  Kelainan ini akan menaganggu pikiran penderitanya dengan menghasilkan rasa gelisah, cemas, khawatir, takut dan menuntut hal yang sama berulang kali.

Aza selalu memiliki kekhawatiran berlebih, sehingga sering kali memunculkan berbagai pikiran di kelapa seperti, berbahayanya tentang gejala infeksi bakteri Clostridium difficile,  yang bisa berakibat fatal pada dirinya, mikroba manusia dan banyak lagi. Sehingga dia perlu membersihkan diri lagi dan lagi.  Meski berbeda, Aza tetaplah remaja biasa yang tetap bersekolah dan bergaul, meski harus berperang dengan pikirannya sendiri.  Aza memiliki sahabat terdekat bernama Daisy, yang telah mengenal berbagai tindakan aneh yang kerap terjadi pada Aza.

Kehidupan dua remaja itu awalnya berjalan normal, hingga suatau hari Daisy mengajak Aza untuk menyelidiki hilangnya seorang miliarder—Russell Pickett—yang berhadiah seratus ribu dolar. Untuk itulah mereka perlu mendekati putra sang miliarder untuk mengorek keterangan. Namun siapa sangka, putra miliarder tersebut, ternyata teman lama Daisy di masa kecilnya dulu, Davis  Pickett.

Dan di sinilah masalahnya, dalam upaya menyelidiki keberadaan Russell Pickett, Aza malah terjebak dalam zona cinta dengan  Davis. Keadaan yang kemudian membuat Aza kembali mengamali dilema berat terhadap pikirannya sendiri. Aza sangat menyadari bagaimana takutnya dirinya jika harus berdekatan dengan orang lain, saling bergesekan, jika di dalam pikirannya sering tumbuh ketakutan dan kekhawatiran tentang bakteri yang  tiba-tiba bisa menyerang dirinya.  Meskipun Aza melakukan pengobatan dengan sesi konseling, hal itu tidak mengurangi kekhawatiran dan ketakutan yang sering bersarang di kepalanya.

Belum lagi masalah lain yang muncul, yang membuat Aza harus berpikir ulang dalam menetukan keputusan  terbaik. Karena hal itu bisa memengaruhi kehidupan orang lain. Fakta menarik yang tidak sengaja dia temukan, ternyata bisa jadi akan menimbulkan kesengsaraan bagi Davis dan adiknya.

Membaca kisah ini, kita akan dihadapkan pada petualangan gadis remaja yang cukup menarik. kecerdasan menganalisa situasi patut untuk diacungi jempol. Dan lagi, meski Aza memiliki ketakutan tersendiri dalam hidupnya, dia tetap berusaha menjalaninya dengan baik. Novel ini menggagas tentang keuletan hidup yang dipadukan dengan kisah kekuatan persahabatan serta ketulusan cinta. Membuat kita seperti melihat langsung kisah tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya saja bagi saya sendiri, novel ini belum sepenuhnya membuat saya jatuh cinta. Pada beberapa bagian, saya merasa ada  alur cerita,  yang cukup membosankan. Saya juga kurang suka dengan gaya bahasa penulis yang menurut hemat saya kurang lugas dan cukup sulit untuk dicerna. Memang benar kesuksesan sebuah buku tidak menjamin sebuah buku bisa dibaca dan disukai semua orang. Karena pada dasarnya semua kembali pada selera masing-masing pembaca.

Namun lepas dari kekurangannya novel ini banyak mengajarkan untuk berdamai dengan rasa takut. Bahwa kita harus berani menghadapi hidup. Tidak apa-apa kadang kita jatuh dan sedih, namun kita harus kuat dna terus melangkah. 

Srobyong, 11 November 2018

Friday, 30 November 2018

[Resensi] Kiat Meraih Kesuksesan dalam Membangun Bisnis

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 18 November 2018 


Judul               : Madesu : Masa Depan Sukses!
Penulis             : Danu Sofwan
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Februari 2018
Tebal               : 216 halaman
ISBN               : 978-602-6716-20-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Fall in love  with the process and the result will come. Bukan hasil akhir, tapi dengan menyabari proses, akhirnya akan berhasil.” (hal 9).

Menjadi orang sukses itu mimpi setiap orang. Kesuksesan akan membuat kita mudah dalam memenuhi berbagai kebutuhan dalam hidup. Akan tetapi, perlu kita cacat meraih kesuksesan  itu mudah. Perlu perjuangan keras, ketekunan, keulutan yang tangguh  serta tidak mudah putus asa.

Buku ini dengan gaya bahasa yang ringan, persuasif, lugas dan menarik, akan mengajak kita belajar tentang kiat sukses dalam berbisnis. Di sini kita akan belajar langsung dari  seorang  Founder dan CEO Randol—bisnis cendol yang sudah melebarkan sayapnya di berbagai kota di Indonesia. Ketekunan dan keuletan yang dilakukan Danu, telah menempatkannya menjadi salah satu pengusaha muda yang sukses di Indonesia.

“Keberhasilan sering datang bukan karena selalu melakukan hal benar, tapi dari rasa berani melakukan kesalahan untuk belajar! Jangan pernah berpikir untuk berhenti melakukan apa yang kita yakini. Karena di saat kita mampu mengendalikan pikiran, kita sedang diarahkan menuju keberhasilan.” (hal 21).

Langkah awal yang perlu kita miliki adalah dengan menemukan motivasi. Kalau dalam rumus Danu disebut rumus  MLM (multiple –Level Motivation). Di mana perlu kita sadari bahwa motivasi itu sesungguhnya memiliki kekuatan yang tersembunyi. Motivasi memiliki kekuatan untuk mendorong, membangkitkan, mengarahkan dan merangsang gairah seseorang untuk melakukan sebuah tindakan untuk mencapai sebuah tujuan. 

Motivasi Danu ketika ingin meriah kesuksesan adalah bisa membahagiaan ibu dan saudara-saudaranya. Sebagai anak laki-laki dia merasa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, setelah bisnis ayahnya bangkrut dan sang ayah meninggal dunia. Tentu saja saat itu Danu hanyalah seorang anak ingusan yang belum berpengalaman. Dalam upayanya memulai bisnis, tidak sekali dua kali Danu gagal dan bahkan menjadi korban penipuan. Namun karena semangat juang dan motivasinya yang tinggi, dia berhasil meraih tujuan yang ingin dia capai.

Selanjutnya adalah percaya dengan kemampuan diri sendiri dan berani mengambil resiko. Membangun bisnis memang tidak mudah. Oleh sebab itu kita harus berani menciptakan peluang agar ide yang kita miliki bisa dikenal dan diminati banyak orang. Kita harus berani melangkah, untuk mengenalkan ide bisnis atau produk yang ingin kita pasarkan.  Ini pula yang pernah dilakukan Danu. Ketika dia berinisiatif membuka usaha cendol, dia sempat ditertawakan teman-temannya. Karena bisnis cendol sudah banyak dilakukan orang lain dan dianggap biasa saja.

Ketiga adalah tidak mudah putus asa. Kita pasti paham, bahwa dalam upaya membangun sebuah bisnis, tidak mungkin kita langsung meraih kesuksesan dalam sekali jalan.  Pasti ada masa jatuh bangun yang harus kita rasakan terlebih dahulu, hingga akhirnya kita bisa mencecap keberhasilan.  Begitu pula yang dihadapi Danu dan para pengusaha lainnya. Di sinilah sikap tidak mudah putus asa, sangatlah kita butuhkan.  Meski gagal, kita tetap bangkit dan tidak menyerah.

Tidak kalah penting adalah kita harus berani membuka mindset.  Sadar tidak sadar cara berpikir kita ini memiliki peran penting dalam meraih kesuskesan. Ketika kita memiliki pikiran yang positif, yakin bahwa kita mampu maka  itulah yang kita raih. Sebaliknya jika kita berpikir negatif, merasa tidak berhasil, maka kegagalan itulah yang akan kita raih. Oleh sebab itu dalam membangun sebuah bisnis, Danu memaparkan ada empat fase yang harus kita lalui.

Pertama fase memulai; artinya kita berani mengeluarkan ide kita kepada khalayak dan memulai bisnis itu sendiri. Kedua fase membangun; di sini kita dituntut untuk memiliki menjadi pribadi yang tidak mudah menyerag dan tidak kapok mencoba, meski pernah gagal. Selanjutnya fase sabar; saat menghadapi berbagai rintangan dalam membangun bisnis, maka kita harus sabar dan berjiwa besar. Dan terakhir fase bangkit; di sini kita berani mencipatakan sesuatu yang baru yang bisa bermanfaat untuk orang lain juga diri sendiri.

Dilengkapi dengan kisah-kisah inspriatif dari penulis juga pengusaha lainnya, buku ini sangat menarik dan menginspirasi.  Buku ini sangat patut dibaca bagi siapa saja yang ingin memulai berbisnis, agar bisa mengambil pengalaman dari Danu. Apalagi dengan qoute-quote positif yang akan membakar semngat kita. Salah satunya,  “Seorang pesimis selalu melihat banyak kesulitan di setiap kesempatan. Tapi sebaliknya, seorang optimis selalu melihat banyak kesempatan dalam kesulitan.” (hal 46).

Srobyong, 20 Oktober 2018

Thursday, 29 November 2018

[Resensi] Spirit Penyandang Disabilitas Meraih Kesuksesan

Dimuat di Koran Jakarta, Kamis 1 November 2018


Judul               : Change Your Destiny
Penulis             : Rully Roesli
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-402-124-5
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Terlahir sebagai seorang  disabilitas, hal itu tidak menghalangi Rully Roesli untuk berjuang meraih cita-citanya menjadi dokter.  Dengan ketekunan, semangat juang tinggi dan tidak mudah putus asa, dia akhirnya berhasil menjadi dokter ginjal terkemuka di Indonesia. Bahkan dia berhasil mendirikan RS khusus Ginjal Ny. R.A Habibie.

Buku ini memberikan energi positif kepada siapa saja yang membacanya. Menginspirasi dan sangat memotivasi. Memaparkan tentang semangat merubah takdir yang kita miliki dengan  mengenal  dan meningkatkan potensi diri sendiri. “Kadang kehidupan dapat   menumbangkan kita. Kitalah yang memutuskan untuk tetap jatuh atau kembali bangkit.” (hal 61).

Pada usia lima tahun, Rully tiba-tiba terserang penyakit polio, yang menyebabkan kelumpuhan permanen pada kaki kirinya. Keadaan itu tentu saja mengubah jalan hidup Rully. Akan tetapi dia berani melawan takdir tersebut. Alih-alih merasa terpuruk, Rully memilih bangkit dan mengembangkan potensi yang dia miliki.  Dia menyakini bahwa seseorang yang telah dilahirkan dengan kondisi yang “kurang beruntung”, sebenarnya diberi kesempatan untuk mengubah nasibnya (hal 35).

Dia juga menyadari bahwa setiap manusia  itu memiliki kedudukan sama. Baik penyandang disabilitas atau tidak, masing-masing memiliki hak untuk berprestasi dan  meraih kesuksesan.  Kunci untuk meraih kesuksesan itu adalah  mau berusaha  dengan gigih, berdoa dengan sungguh-sungguh dan tawakal kepada Allah.

Selain Rully, dipaparkan juga tentang pengalaman-pengalaman menarik dari para penyandang disabilitas lain, yang telah berani untuk merubah takdir mereka. Keterbatasan yang dimiliki, tidak menghalangi mereka untuk berprestasi dan mengejar mimpi hingga meraih kesuksesan.

Adalah Jessica Cox. Dia terlahir tanpa lengan. Keadaan itu sempat membuat dia marah sedih, karena kekurangan fisiknya itu telah membuat dia kesulitan dalam melakukan berbagai aktivitas. Akan tetapi pada usia empat tahun. Jessica berhasil mengatasi kekurangannya dan mulai percaya diri.  Lalu pada usia 10 tahun dia ikut pelatihan taekwondo di sekolahnya, dan berhasil meraih sabuk hitamnya pada usia 14 tahun.

Prestasi lain yang diperolahnya adalah berhasil menyabet gelar juara pertandingan Arizona State Champion dalam peserta umum, bukan khusus penyandang difabel. Tidak hanya menggeluti taekwondo, dia juga aktif dalam olahraga renang, selam dan selancar. Yang lebih menakjubkan adalah dia berhasil mengantongi lisensi pilot. Dia memperoleh pernghargaan “Guinness World Record : The Only Pilot to Fly with Their Feet—satu-satunya pilot yang terbang menggunakan kakinya—dan US Inspiration Awards for Woman 2012”. Dia telah menjadi pembicara motivasi dan berbagi pengalaman hidupnya di 20 negara yang berbeda. Tahun 2015 dia telah menerbitkan buku autobiografi dengan judul Disarm Your Limits (Lucuti Keterbatasan Anda). (hal 116-117).

Dari negeri sendiri, ada Untung, yang merupakan seorang guru yang lahir di Madura.  Sebagaimana Jessica Cox, dia juga terlahir tanpa tangan. Namun keadaan itu tidak membuatnya sedih berkepanjangan. Menurutnya masih banyak hal yang patut disyukuri. Tidak ada tangan, masih ada kaki.  Meski dia kerap diganggu dan harus berjuang lebih keras saat menempuh pendidikan di sekolah umum, Untung tetap menjalani dengan  kuat dan tegar.

Dan meski menjadi penyandang cacat permanen, hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi seorang guru. Karena baginya guru adalah panggilan jiwanya.  Dia memiliki etos kerja yang sangat baik, sehingga  meskipun  statusnya sebagai guru honorer, oleh teman-temannya dia diangkat sebagai Wakil Kepala Sekolah. Selain menjadi guru, untuk menafkahi keluarganya dia juga beternak ayam di kampung (hal 118).

Selain dua tersebut masih ada kisah-kisah lain penyandang disabilitas yang telah berhasil meraih kesuksesan. Seperti  Helen Keller, Albert Einstein, Ludwig Van Beethoven, Louis Braille, Stephen William Hawking dan banyak lagi.  Merekalah orang-orang yang telah menjadikan kecatatan tubuhnya sebagai epinafi atau titik balik kehidupan.  Sebuah titik balik yang mengarahkan mereka pada jalan yang lebih baik.  

Melalui buku ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa dalam menghadapi berbagai masalah, kita harus percaya dengan kemampuan diri sendiri, gigih dalam berjuang dan tidak mudah putus ada dengan keadaan yang menimpa kita.  Keunggulan lain dari buku ini adalah penulis menggabungkan dasar ilmiah dengan kajian agama yang selaras dan mudah dicerna.

Srobyong, 19 Oktober 2018