Showing posts with label Samarinda Pos. Show all posts
Showing posts with label Samarinda Pos. Show all posts

Monday, 17 July 2017

[Resensi] Wawas Diri Jadi Kunci Sukses

Dimuat di Samarinda Pos, Sabtu 15 Juli 2017 


Judul               : Sukses Wawas Diri
Penulis             : Eileen Rachman
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, September 2016
Tebal               : 580 halaman
ISBN               : 978-602-03-3028-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Sudah menjadi berita umum, bahwa setiap orang  pasti ingin meraih kesuksesan. Hanya saja, keinginan itu tidak didampingi dengan sikap wawas diri yang akan membantu dalam pewujudannya. Padahal memiliki sikap wawas diri  itu sangat penting. Wawas diri adalah sikap di mana kita mau memeriksa diri sendiri secara jujur.  Mau melakukan intropeksi  jika memang melakukan kesalahan agar tidak mengulang kejadian yang sama.  Wawas diri akan  menjadi pondasi dalam membangun integritas, membangun kekuatan diri dan bisa menguatkan hubungan dengan orang lain.

Dalam buku ini dipaparkan dengan jelas tentang sikap-sikap yang berhubungan dengan wawas diri yang memang harus dimiliki. Di antaranya adalah yakin terhadap diri sendiri bahwa kita bisa melakukannya. Dengan memiliki sikap positif dalam menghadapi berbagai hal, itu akan sangat membantu dalam membangun mental. “If you dream it, you can do it. If you believe you can, you probably can. If you believe you won’t, you most assuredly won’t.” (hal 14).

Selanjutnya selalu membiasakan berkata jujur. Karena kejujuran adalah dasar dari pengembangan diri seseorang.  Kepemimpinan yang efektif sudah pasti berlandaskan kejujuran. Integritas menjadi nilai penting yang dianut hampir semua organisasi atau perusahaan, sehingga individu yang menegakkan integritas semestinya diutamakan untuk dipromosikan. Dengan menegakkan integritas, seseorang akan lebih dihormati, bisa melangkah dengan bangga, sekaligus bisa melakukan pekerjaan dengan lancar.

Antusiasme juga perlu dimiliki. Dengan memiliki antusiasme, kita akan selalu memiliki semangat untuk bekerja dengan baik. Selain itu antusiasme itu juga bisa menyebarkan energi positif bagi rekan-rekan yang lain.  Tidak kalah penting adalah mengaktifkan EQ—Emotional Quotienst. Memang benar dalam beberapa hal IQ—intelligence Quotienst itu perlu dan sangat dibutuhkan.

Namun tetap saja kita tidak bisa mengesampingkan EQ, karena keduanya sama-sama penting dan saling berkontribusi. Perlu dicatat faktor kepribadian itu  tidak terlalu tergantung pada kecerdasan, tapi lebih pada sistem emosional yang beroperasi dalam kepribadian manusia. “Sebanyak 85% kesuksesan individu ditentukan oleh faktor-faktor human engineering, sedangkan sisanya, yaitu 15%, berasal dari keterampilan, dan bukan semata kecerdasan umum.” (hal 55).

Lalu tanamkan juga behaviour intelligence. Di mana setiap individu harus bertindak dengan cerdas dalam segala situasi. Behaviour intelligence sendiri adalah sekumpulan keterampilan dan kemampuan untuk menyeleksi, mengeksekusi dan memilih tindakan yang tepat untuk mengelola suatu situasi, baik sosial maupun yang bersifat  proyek non-manusia (hal 59). Orang yang behaviour intelligence tinggi tahu cara menyelesaikan tugas. Baik yang melibatkan orang atau tidak.

Agar usaha meraih kesuksesan bisa  berjalan lancar, setiap orang juga membutuhkan ilmu. dalam artian kita harus selalu belajar di mana pun berada. Apalagi saat ini berbagai pengetahuan dapat diakses dengan mudah. Dan membaca merupakan salah satu cara dalaam menambah ilmu pengetahuan.  Kita bisa semakin jauh dari sikap ilmiah bila tidak membiasakan diri membaca dan mengambil keputusan berdasarkan analisis data (hal 135).  Disadari atau tidak jika melakukan sesuaatu tanpa ilmu yang benar sudah pasti banyak kerugian yang akan didapatkan.

Motivasi juga harus dimiliki. Dengan memiliki motivasi yang tinggi akan membuat siapa saja memiliki semangat juang tinggi dalam bekerja semaksimal mungkin. Sulit dibayangkan bila individu, tim dan perusahaan hanya mengandalkan kekuatan pikir dan fisik. Karena kreativitas dan value adding mustahil berkembang jika tidak didukung motivasi individu dalam kelompok atau organisasi (hal 394). Oleh karena itu dalam sebuah perusahaan mulai memperhitungkan motivasi pegawai negeri dalam pengembangan sumber dayanya.

Dalam perekrutan tenaga kerja, biasanya orang-orang yang lebih utama dipilih adalah para individu yang memiliki sikap jujur, selalu berpikir positif, memiliki EQ tinggi,  behaviour intelligence yang tinggi, berilmu dan memiliki motivasi.  Selain itu sikap-sikap tersebut juga akan menuntun untuk lebih mudah dalam meningkatkan jenjang karir bahkan jika ingin memulai usaha sendiri. Sebuah buku yang patut dibaca. Buku ini sangat menginspirasi mengingatkan untuk selalu wawas diri  jika ingin meraih kesuksesan.

Srobyong, 21 Mei 2017 

Saturday, 3 June 2017

[Resensi] Menjadi Guru Profesional dan Menyenangkan

Dimuat di Samarinda Pos, Sabtu 13 Mei 2017


Judul               : Gurunya Manusia
Penulis             : Munif Chatib
Penerbit           : Kaifa
Terbit               : Mei, 2016
Cetakan           : Kedua, September 2016
Tebal               : xx + 260 hal
ISBN               : 978-602-0851-45-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Pendidikan adalah kunci  kemajuan bangsa. Dan  guru adalah salah satu pondasi yang memiliki peran kuat pada keberhasilan pendidikan. Bobbi De Porter berkata, “Salah satu unsur penting dalam kemajuan siswa adalah guru yang betul-betul peduli terhadap anak didiknya dan terampil  merangkul serta berhubungan dengan semua pembelajar—yaitu guru yang menciptakan lingkungan yang nyaman sehingga anak didiknya senang belajar.”

Hanya saja,  yang terjadi saat ini, banyak guru yang belum bisa menerapkan apa  yang telah dipaparkan Bobbi De Porter.  Pada praktik lapangan, guru saat ini kadang terlalu kaku dan  tidak peduli dengan kemajuan atau kenyamanan siswa, yang terpenting adalah telah menyampaikan materi. Dan masalah para murid sudah paham atau tidak, para guru mengembalikan semuanya kepada siswa. Padahal tentu saja cara itu tidak benar.

Buku ini mencoba mengupas bagaimana cara menjadi seorang guru yang profesional dan tetap menyenangkan. Karena saat ini disadari atau tidak peran guru akan sangat berpengaruh dengan kemajuan siswa juga kemajuan bangsa.  Sebagaimana diketahui langkah awal yang harus diterapkan guru adalah guru harus memiliki  empat kompetensi yang harus  dipraktikkan. Yaitu kompetensi pedagogi, kompetensi kepribadian kompetensi profesinoanlisme dan kompetensi sosial.

Kompetensi pedagogi berarti guru memiliki kemampuan untuk mengelola pembelajaran siswa. Di mana guru harus memahami karakter siswa, kadar kemampuan siswa dalam menerima materi, dan bisa merancang pembelajaran yang menyenangkan. Sedangkan kompetensi kepribadian adalah guru harus memiliki pribadi yang mantap, stabil, arif dan bijaksana untuk menjadi teladan siswa. Dalam sebuah pepatah jawa dipaparkan, guru digugu dan ditiru.

Selanjutnya  kompetensi profesional, berarti guru menguasai materi secara mendalam, sehingga guru dapat membimbing siswa sesuai  kurikulum dan mengembangkan cara ajar yang kreatif dan inovatif. Terakhir kompetensi sosial yaitu kemampuan guru dalam bergaul secara luas dalam bermasyarakat sehingga  guru bisa bergaul secara baik pada para siswa, tenaga pengajar lain, guru dan masyarakat luas (hal 28-29).

Keempat kompetensi  ini harus dipegang erat oleh para guru. Ketika guru sudah memahami dengan benar tentang pentingnya empat kompetensi ini, maka mereka akan menjadi sosok guru yang profesional, yang bisa menerapkan tugas dan fungsi guru dengan baik. Namun selain harus memiliki empat kompetensi ini, guru juga harus memahami tentang bagaimana agar guru tidak hanya menjadi guru profesional saja, tapi seorang guru yang menyenangkan yang bisa mengemong dan membuat para siswa merasa nyaman, tidak merasa terintimidasi.

Sadar atau tidak  guru kadang bersikap menuntut dan menghakimi para siswa. Ketika siswa belum memahami pembelajaran yang diajarkan, guru akan menyalahkan siswa yang dianggap tidak memperhatikan apa yang disampaikan guru. Menganggap siswa malas belajar dan sebutan lain yang kadang membuat siswa merasa semakin rendah diri. Padahal, ketika siswa belum paham, tentang suatu materi, bisa jadi itu terjadi karena metode yang diterapkan guru dalam mengajar tidak sesuai dengan karakter siswa. Monoton dan membosankan.

Munif Chatib dalam bukunya ini mencoba memaparkan tentang bagaimana menjadi guru yang menyenangkan tanpa meninggalkan sisi profesinalisme guru.  Dalam mengajar, seyogyanya guru pandai mengambil hati siswa, sehingga siswa terarik dan semangat dalam belajar (hal 81).

Selain itu untuk bisa mengenal setiap siswa dengan baik, ada bagusnya jika guru menerapkan strtegi multiple intelegences yaitu gaya mengajar guru disesuiakan dengan gaya belajar siswa. Dengan itu akan mempermudah guru dalam memilih metode apa yang ingin disajikan kepada siswa-siswanya (hal 141).

Sebuah buku yang menarik dan inspiratif. Buku ini mengajak para guru untuk lebih aktif dan peduli dengan kebutuhan siswa. Bahwa guru tidak hanya menjadi panutan yang kadang menakutkan, tapi juga membimbing dengan penuh kasih, hingga membuat siswa mereasa nyaman dalam belajar.

Srobyong, 9 April 2017 

Saturday, 29 April 2017

[Resensi] Kiat Mencapai Kehidupan yang Bahagia

Dimuat di Samrinda Pos, Sabtu 15 April 2017

Judul               : Kebahagiaan yang Kutahu
Penulis             : Datuk Stella Chin
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan           : Pertama, Agustus 2016
Tebal               : 208 hlm
ISBN               : 978-602-394-231-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

Kebahagiaan yang Kutahu merupakan saripati dari pengalaman hidup Datuk Stella Chin.  Berisi tentang cara menemukan konsep kebahagiaan yang hakiki, dan melakukan transformasi diri menuju masa depan yang cerah.  Sebuah buku yang sangat inspiratif dan memotivasi. Menunjukkan bahwa wanita itu berhak untuk bahagia.

Menurut sudut pandang Stella, Wanita sebenarnya tidak perlu bertanya, mana yang lebih penting, keluarga atau pekerjaan. Bagi Stella, menjadi wanita karier tidak harus menjadi wanita keras yang kaku, baik dalam pekerjaan kantor maupun rumah tangga. Ibu rumah tangga pun tidak seharusnya menjadi wanita sentimental yang emosinya terbawa hingga ke tempat kerja.

Menurutnya selama memahami posisi jelas, wanita dapat memaikan peran dengan hebat di dua tempat.  Saat di rumah, wanita adalah istri dan ibu. Maka perannya adalah mencintai dan mendukung suami, juga menyayangi anak.  Demikian juga saat sedang bekerja, maka wanita adalah sosok profesional yang cekatan, taktis dan tegas (hal 23-24).

Lahir dari keluarga miskin membuat Stella  tumbuh sebagai anak yang nyaris tidak berani bermimpi. Meski begitu, Stella adalah sosok yang mau bekerja keras. Dia berkerja sambil melanjutkan pendidikan.  Meski lelah dia tetap melakukan perkerjaan dan belajar dengan baik. Dia memiliki prinsip bahwa rasa lelah bukanlah alasan untuk melakukan segala sesuatu yang asal-asalan. Dia meyakini, jika ingin melakukan sesuatu, maka harus dilakukan dengan baik. Prinsip inilah yang kemudian membuat Stella sukses. (hal 42).

Setelah menikah dia ikut suaminya ke Thailand. Pada titik ini, Stella dituntut menjadi seorang istri, ibu juga pembisnis. Sebuah tugas yang bisa dibilang tidak ringan. Namun karena kegigihannya dia berhasil melakukan semua itu dengan baik. Stella sangat tahu apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan.

Sikapnya ini membuat Stella menjadi sosok yang sangat inspiratif. Dia sukses menjadi  istri dan ibu yang baik. Selain itu Stella juga sukses dengan bisnis yang dikembangkan. Dia juga mendirikan StarLadies, organisasi pengembangan diri kaum wanita di Malaysia—bahkan sekarang sudah memiliki beberapa cabang di berbagai negara termasuk Indonesia.

Kesuksesannya ini membuat Stella mendapat gelar Datuk di negeri Malaysia. Sebuah gelar kehormatan yang ditujukan pada individu yang dianggap berkonstribusi besar bagi bangsa dan negar. Uniknya gelar ini biasanya diberikan pada kaum pria. Hanya sedikit wanita yang pernah memperolehnya.

Dalam dunia kerja Stella merumuskan tiga hal yang perlu dimiliki agar selalu bahagia ketika bekerja. Yaitu, memiliki perencanaan kerja agar bisa mencapai kesuksesan, mengetahui posisi diri yang artinya, kita harus mengetahui titik kelebihan dan kelemahan. Ketika mengetahui titik kelemahan kita bisa memperbaiki diri dan jika mengetahui potensi diri, maka ada kesempatan untuk mengembangkannya. Dan terakhir adalah kemampuan.  Dengan mengasah kemampuan, kita akan mampu menghadapi berbagai tantangan dalam dunia karier (hal 55).

Sedang agar diri sendiri selalu merasa bahagia, Stella memaparkan lima hal yang perlu dilakukan.  Pertama adalah keyakinan yaitu  meyakini diri sendiri dan selalu berpikir positif.  Kedua antusias. Dengan antusias akan menumbuhkan semangat dan kegembiraan. Ketiga mau berbagai. Orang yang suka menolong orang lain akan mendapatkan kelimpahan dalam hidup. Keempat bersyukur. Dengan selalu bersyukur akan menjauhkan dari sifat kecewa dan tidak puas.  Kelima merelakan (hal 109).

Dan untuk kebahagiaan dalam keluarga, Stella meyakini komunikasi yang baik akan membuat sebuah keluarga akan selalu harmonis.  Tidak ketinggalan adalah tips bagaimana cara mendidik anak sejak usia dini hingga remaja.  Di mana  meski sangat sibuk Stella pasti akan meluangkan waktu untuk menemani anak. Agar anak tidak merasa dilupakan dan tetap mendapat limpahan kasih sayang.

Buku ini sangat sarat makna. Banyak hal yang bisa diambil pembelajar dari buku ini. Tentang usaha keras, tidak mudah menyerah, tanggungjawab dan kejujuran. Stella juga  mengingatkan bahagia itu bukan hanya karena memiliki kekayaan yang melimpah saja. Namun juga kehangatan keluarga, hubungan yang baik dengan masyarakat juga selalu dekat dengan Tuhan.