Showing posts with label Review buku. Show all posts
Showing posts with label Review buku. Show all posts

Wednesday, 29 January 2025

Resensi Buku Rumus Bahagia [Mempelajari Rumus Bahagia]



Judul               : Rumus Bahagia

Penulis             : Mo Gawdat

Penerjemah      : Alex Tri Kantjono Widodo

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Cetakana         : Pertama, 2020

Tebal               : 382 halaman

ISBN               : 978-602-06- 2430-3

Peresensi         : Ratnani Latifah

 



Hampir setiap orang mendambakan kebahagiaan dalam kehidupannya. Meskipun dalam mewujudkan kebahagiaan itu kadang kita akan bertemu dengan tembok penghalang—misalnya kehilangan, kerentanan dan berbagai rasa lain yang tidak baik—bertemu banyak kejutan yang tidak terduga dan berbagai tantangan lainnya. Akan tetapi jika kita dapat mengatur ulang diri ini, dapat menemukan jalan kembali untuk penyesuaian diri dengan apa yang kita alami, sejatinya kita dapat menumbuhkan kebahagiaan lagi.

Buku “Rumus Bahagia” karya Mo Gawdat ini dapat menjadi panduan bagi kita untuk menumbuhkan dan menciptakan kebahagiaan yang kita inginkan. Terlebih buku ini hadir dari pengalaman penulis setelah mengalami berbagai kepedihan; dimulai dari kehilangan Ali, putranya  dan saudara lelakinya, gagal dalam kesepakatan bisnis serta berbagai kejadian buruk lainnya.

Pasca kejadian yang ia alami, penulis  berusaha menguji sistem alogaritma yang telah ia kembangkan dan pelan-pelan dirinya dapat menikmati perjalanan hidupnya yang naik turun, penuh tantangan dengan Rumus Bahagia yang ia kembangkan. Seperti apakah Rumus Bahagia yang ditawarkan Mo Gawdat ini?

“Kebahagiaan  dalam  dunia modern dikelilingi mitos. Sebagian besar pemahaman kita tentang apa itu kebahagiaan dan dari mana kita dapat menemukannya mengalami distorsi. Ketika Anda tahu yang sedang Anda cari, pencarian menjadi mudah. Mungkin perlu waktu untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan lama, tetapi selama Anda bertahan di jalan yang benar, Anda akan meraihnya.”

(Mo Gawdat, Rumus Bahagia. hal. 1)

Pada bagian pertama kita akan diajak untuk menyusun persamaan. Di sini kita diajak untuk mengenal diri sendiri, siapa kita, bagaimana status sosial kita hingga tragedi apa yang pernah kita alami. Dari semua itu, faktanya siapa pun kita diri ini memang mendambakan kebahagiaan.

“Keinginan untuk merasakan kebahagiaan merupakan keinginan dasar manusia seperti dorongan bagi kita untuk bernapas.”

Dalam upaya meraih kebahagian, ada yang memperjuangkannya dengan mengukir prestasi, meraih keberhasilan, mengumpulkan kekayaan atau meraih ketenaran. Namun, faktanya semua itu tidak selalu menjadi faktor kebahagiaan, ada banyak orang yang telah sukses, tetapi mereka masih merasa tidak puas dan masih mendambakan kebahagiaan.

Di sini kita dapat menyimpulkan bahwa kesuksesan itu bukan syarat utama dalam meraih kebahagiaan. Akan tetapi dengan bahagia kita dapat meraih keberhasilan. Di sini penulis mengungkapkan bahwa ada sumber-sumber lain yang dapat membuat rasa bahagia itu lebih menenangkan. Bahkan jika itu hal-hal yang sederhana. Misal kita merasa bahagia ketika melihat langit cerah, merasa bahagia dengan secangkir kopi dan buku,  atau membuat daftar kebahagian yang kita alami dalam sehari-hari. Dan faktanya hal ini memang sangat membantu. Saya pun pelan-pelan mencoba melakukan hal ini untuk menumbuhkan rasa bahagia dari hal-hal kecil yang saya alami. 


Kemudian, dijelaskan pula bahwa pikiran kita memiliki kekuatan dalam menumbuhkan kebahagiaan yang kita harapkan. Dan rasa sakit yang kita rasakan, meskipun rasanya tidak selalu menyenangkan, tetapi rasa sakit itu pada dasarnya memberikan kita banyak manfaat. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Hal ini memang ada benarnya, ketika kita lebih sering berpikir positif, maka hal baik itulah yang terjadi. Sebaliknya jika kita sering berpikiran buruk, resah dan tidak tenang itulah yang kita dapatkan. 

Penulis juga memaparkan  macam-macam pikiran yang secara keseluruhan dapat memberikan pengaruh bagaimana kita dapat menghadapi suatu masalah dan dalam menyikapi apa yang kita alami. Setidaknya ada lima kondisi pikiran kita,

Kondisi bingung, kondisi menderita, kondisi pelarian, kondisi bahagia, kondisi sukacita

Ketika kita memahami lima kondisi pikiran kita, maka hal itu akan memudahkan kita dalam membangun model kebahagiaan versi kita.

Misalnya dalam kondisi bingung kita rentan mengalami ilusi yang membuat kita pikiran menjadi tidak tenang. Kita membayangkan hal-hal yang tidak baik, kita merasa kehabisan waktu, merasa tertinggal, hingga perasaan bingung semakin lekat dalam diri kita. Kita seolah berada di labirin panjang yang tidak tahu jalan keluarnya.

Sedangkan ketika kita berada pada kondisi suka cita,  pikiran kita lebih memahami dan menerima kehidupan memang seperti ini. Kadang ada riak dan tantangan, tetapi ketika kita paham memang seperti itulah kehidupan, maka kita lebih mudah berdamai dengan keadaan dan tidak mudah terjebak pada kondisi kebingungan yang rentan.

Pada bagian dua kita diajak untuk menyelami lebih dalam tentang bagaimana memaknai kebahagiaan, yaitu tentang 6 Ilusi Besar; yaitu hal-hal yang dapat memengaruhi kita dalam memaknai kebahagiaan.

Seringkali tanpa kita sadari, diri ini masih sering terjebak pada suara kecil yang ada di pikiran kita. Suara yang terus berisik yang kadang ia membawa pengaruh buruk, kadang juga membawa pengaruh yang baik.  Agar kita lebih mudah dalam menemukan titik kebahagiaan, penulis menganjurkan kita untuk pelan-pelan mengelola suara berisik tersebut.

Secara sederhana, pelan-pelan singkirkan pikiran negatif yang menggema, kuasai diri dan pikirkan hal-hal baik yang membawa pengaruh positif pada diri.

Kalau kata Mo Gawdat, ia menuturkan,

“Kebahagiaan selalu ditemukan di sisi positif setiap konsep.”

(hal. 58)

Kemudian kita diajak untuk mengenal siapakah diri kita yang sebenarnya. Di mana secara keseluruhan kita diajak untul belajar menjadi diri sendiri, apa pun kata orang. Menjadi diri sendiri akan membuat kita lebih menghargai dan mencintai diri sendiri. Menghargai diri dapat menumbuhkan rasa bahagia dan ketenangan hati. Nyatanya memang benar. Ketika kita fokus menerima diri, kita jadi lebih mudah untuk berdamai dengan diri sendiri dan tidak lagi ingin membandingkan diri. 

“Tidak ada baik atau buruk, tetapi pikiranlah yang membuatnya demikian.”

(hal. 121)

Tidak hanya itu kita juga diajak berdamai dengan keadaan di masa lalu dan menghargai masa kini.

“Jika Anda ingin bahagia, hayatilah hidup pada detik ini juga.”

(hal. 141)

Secara ringkas bagian tiga akan membahas tentang 7 Titik Buta yang kerap membuat kita kesulitan menemukan kebahagiaan. Misalnya kebiasaan kita yang sering mengkritik diri sendiri.

“Otak kita cenderung lebih sering mengkritik, mencela, dan mengeluh daripada sebaliknya.”

(hal. 200)

Dan bagian keempat akan membahas tentang  5 Kebenaran, tentang kebahagiaan. Pada bagian ini kita diharapkan dapat menyadari pola kehidupan. Bahwa sesekali kita mungkin akan bertemu hal-hal yang tidak menyenangkan, kesedihan atau kegagalan. Akan tetapi ketika kita siap dan maun menerimanya, belajar bersyukur pada hal-hal kecil, menumbuhkan cinta pada orang lain, maka di sana pelan-pelan kita akan menemukan kebahagiaan yang kita ingini.

“Bersyukur adalah jalan pasti menuju kebahagiaan.”

(hal. 264)

Bahwa hidup bahagia itu, bukan berarti kehidupan ini selalu berjalan lancar sesuai apa yang kita harapan. Akan tetapi ketika kita dapat mengelola hati dan pikiran, dapat menghargai setiap perjalanan hidup dan menerima takdir yang telah Allah tetapkan.

Buku ini banyak memberikan gambaran baru tentang bagaimana memaknai kebahagiaan. Membaca buku ini saya seperti diajak menyelami diri, guna memahami bagaimana kita dapat menumbuhkan bahagia yang sebenarnya alih-alih terpaku pada bahagia semu yang kerap kita anggap sebagai kebahagiaan sejati.



Membaca buku ini setidaknya saya memahami, bahwa:

  1. Bahagia itu hadir dari dalam diri sendiri
  2. Bahagia hadir bukan hanya karena prestasi atau kesuksesan dan kekayaan.
  3. Bahagia dapat hadir dengan penerimaan diri
  4. Bahagia tumbuh dari pikiran positif
  5. Belajar menghentikan kebiasaan mengeluh dan mengkritik diri dapat membuat kita lebih tenang dan bahagia
  6. Bahagia itu belajar berdamai dengan keadaan
  7. Berhenti overthinking agar lebih menikmati hidup
  8. Bahagia hadir dengan rasa syukur
  9. Bahagia tumbuh dari rasa cinta kasih
  10. Berbagai masalah yang hadir memang kadang membuat kita sedih, tetapi kepedihan juga membawa manfaat baik bagi kehidupan.
  11. Bahagia tumbuh ketika kita lebih fokus pada saat ini, daripada terjebak masa lalu
  12. Boleh memikirkan masa depan, tetapi jangan lupa menikmati masa sekarang ini.

Saya rekomendasikan buku ini untuk siapa pun yang sedang berusaha menemukan jati diri dan berjuang untuk menjadi pribadi yang lebih baik,  menghargai proses hidup yang dimiliki dan menemukan bahagia versi dirinya sendiri.

Srobyong, 29 Januari 2025

 













 

 

Saturday, 18 December 2021

[Review Buku] Mengenalkan Nilai-nilai Islam dengan Cara yang Menyenangkan


 

Judul :  Islamic Montessori Inspired Activity
Penulis : Zahra Zahira
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Keempat, Februari 2021
Tebal : x + 234 halaman


Apa itu  Montessori? Jujur saja, saya baru mengenal istilah ini ketika sedang sibuk mencari cara bagaimana mengenalkan nilai-nilai Islam pada anak saya, dengan cara yang menyenangkan. Secara tidak sengaja saya menemukan pembahasan tentang metode Montessori. Ketika membaca review tentang metode Montessori inilah, akhirnya saya  menjadi penasaran, lalu mulai mencari buku dengan tema tersebut. Dan alhamdulillah saya menemukan buku ini.


Buku ini  hadir dari kegelisahan pada orang tua juga pendidikan karena keterbatasan material Montessori, sehingga Zahra Zahira, founder of Indonesia Islamis Montessori Community mengenalkan bagaimana menyiasati masalah tersebut dengan memanfaatkan peralatan sederhana di sekitar kita. Sehingga kita tidak perlu resah, jika ingin menerapkan metode Montessori baik di rumah atau di sekolah.

Di dalam buku ini, penulis tidak membahas teori  atau sejarah tentang metode tersebut secara panjang lebar.  Meskipun ada materi, itu pun hanya dijelaskan sebagai pengantar singkat untuk mengenalkan pembaca tentang apa itu metode montessori. Selebihnya buku ini lebih membahas tentang aktivitas yang dapat dilakukan anak yang dibagi dalam beberapa tema.


Tentang Montessori

Montessori sendiri adalah sebuah metode pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori, yang mana fokus pendekatannya itu berpusat pada anak.  Ada lima aspek dalam Montessori, yaitu Pratical life, Sensorial, Language, Matematics, dan Culture.


Islamic Montessori

Sedangkan Islamic Montessori sendiri adalah pendekatan pendidikan yang menggunakan lima aspek Montessori dengan fokus pada aspek perkembangan spiritual agama Islam pada setiap kegiatan.  Jika dalam Montessori ada lima aspek, di dalam Islamic Montessori penulis memberikan tambahan 2 aspek lagi, yaitu Islamic Studies dan Art & Craft.

Lalu apa maksud dari tujuh aspek tersebut?

Islamic studies di dalam buku ini adalah  cakup tentang pengenalan  rukun  Islam, rukun Iman, Asmaul Husna kisah para Nabi berdasarkan masing-masing materi. Di mana dalam Islamic studies ini juga bisa  diaplikasikan pada setiap kegiatan lain seperti  Pratical life, Sensorial, Language, Matematics, dan Culture.

Pratical Life yaitu bagaimana kita mengenalkan kepada anak tentang benda-benda di sekitar. Di mana kegiatan ini bertujuan untuk melatih keteraturan, konsentrasi, koordinasi dan kemandirian.

Sensorial kegiatan ini bertujuan untuk menstimulasi panca indera anak, yaitu perasaan, penciuman, pendengaran, pengecapan, dan penglihatan.

Language di sini bahasa yang diajarkan kepada anak itu berupa mendengar cerita, menulis dan membaca. Hal ini bisa dilakukan dengan storytelling, large picture, card atau membacakan buku.

Matematics kegiatan ini tidak hanya bagaimana mengenalkan angka dan cara berhitung, tetapi juga memahami kalender, mengenalkan waktu, juga jumlah hari pada bulan Ramadhan.

Culture maksud dari culture adalah upaya mengenalkan alam semesta kepasa anak. Misalnya mengenalkan tentang diri sendiri, keluarga, lingkungan, kebudayaan dan banyak lagi.

Art & Culture kegiatan ini bertujuan untuk menstimulasi estetika dan motorik halus. Kegiatan ini tidak hanya tentang menggambar dan mewarnai, tetapi juga menyobek, menggunting dan banyak lagi.


Membaca buku ini kita akan menemukan 200+ kegiatan Islamic Montessori yang menarik dan inspiratif. 30 tema yang disiapkan penulis insya Allah akan memberikan kita banyak pengalaman baru dan cara mengenalkan Islami dengan menyenangkan. Karena dalam metode ini kita akan dijejali teori saja, kita akan diajak langsung praktik dan beraktivitas.


Tema pertama misalnya, My Self
Di sini nilai-nilai keislaman yang dikenalkan adalah  adanya malaikat  Raqib dan Atid, keutamaan menjaga kebersihan dan kerapian, anjuran bersyukur. Sedangkan dari aspek lainnya anak jadi bisa melipat pakaian sendiri, bisa mencetak tangan dengan cara warna, membuat stempel nama, mengurutkan angka 1-10, mengetahui proses tumbuhnya anak, anak dapat menulis namanya dengan cat warna dan luas.



Selain tema itu, masih ada 29 tema menarik yang dapat disimak di dalam buku ini.




Namun perlu diingatkan untuk menerapkan metode Montessori, baik guru atau orang tua harus benar-benar menyiapkan segala keperluan dan alat yang dibutuhkan dengan cermat. Karena tentu tidak mungkin memulai pembelajaran tanpa adanya bahan-bahan yang dibutuhkan. Inilah tantangan orang tua, agar selalu aktif dan kreatif dalam menyiapkan tema setiap harinya.


Selain itu orang tua juga harus pandai mengkondisikan anak, karena di masa usia awal anak lebih tertarik untuk bermain, jadi saat menerapkan metode ini orang tua harus sabar. Karenanya orang tua harus kreatif untuk menarik perhatian anak, agar selama belajar tapi juga seperti bermain, sehingga anak tidak bosan selama materi diajarkan.

Secara keseluruhan buku ini bisa menjadi bahan inspirasi bagi orang tua untuk menerapkan metode belajar mengenalkan nilai-nilai Islam kepada anak dengan cara yang menyenangkan. Dan saya sangat terbantu untuk mengenalkan nilai-nilai Islam kepada anak melalui buku ini. Meski bertahap anak cukup respek, dan memang harus sabar agar anak tidak mudah bosan saat belajar.

Srobyong, 18 Desember 2021


(Alhamdulillah naskah review ini terpilih sebagai pemenang pertama,
Kompetisi Review Buku Mizan 2021)

Thursday, 16 December 2021

Review Buku '25 Nabi dan Rasul' -Kisah Nabi yang Tidak Membosankan dan Penuh Hikmah


Judul : 25 Nabi & Rasul
Penulis :  Noor H. Dee
Ilustrator : Bella Ansori
Penerbit :  Noura Kids
Cetakan: 4, November 2021


Tema 25  Nabi dan Rasul merupakan tema sejuta umat.  Artinya tema yang sudah pasaran tapi tetap tak lekang oleh zaman. Di grup Mizan sendiri, buku dengan tema serupa sudah ada begitu banyak. Sebut saja "Kisah 25 Nabi dan Rasul" karya Yudho Purwoko,  terbitan Dari Mizan. "Cerita Seru 25 Nabi dan Rasul" karya Ririn Astutiningrum, terbitan  Dar Mizan,  "Kisah 25 Nabi dan Rasul for Kids" karya Erna Fitrini,  terbitan Pelangi Mizan dan banyak lagi. Belum lagi  tema serupa dari berbagai penerbit di Indonesia. Hampir semua penerbit pernah  menghadirkan buku kisah para Nabi dan Rasul.

Buku tema Nabi dan Rasul di Grup Mizan


Hal ini mungkin terjadi karena tema Nabi dan Rasul memang selalu menarik untuk dikaji dan dijadikan cerita. Karena kisah-kisah ini dapat dijadikan bacaan Islam yang paling awal  bagi anak. Melalui kisah para Nabi anak dapat belajar banyak hal. Dari sejarah, keteladanan para Nabi, akidah juga ketauhidan.

Dan karena itu pula tema ini masih selalu diminati pasar. Orang tua masih memiliki minat yang sangat besar dalam upaya mengenalkan para Nabi dan Rasul melalui cerita. Apalagi dalam setiap buku tentu memiliki keunikan masing-masing. Meskipun memiliki tema yang sama, jika ditulis oleh penulis yang berbeda, hasilnya tentulah tidak sama.


Begitupula dengan buku "25 Nabi & Rasul" karya Noor H. Dee yang diterbitkan di Noura Kids. Meski memiliki tema yang biasa, sudah umum,  kisahnya tetap unik dan tidak pasaran, dan tidak kalah menarik untuk disimak dari pada buku yang lain dengan tema serupa.


Dengan penuturan yang padat penulis mampu menghadirkan kisah para Nabi dan Rasul dengan  memikat dan tidak berat untuk dipahami anak. Apalagi untuk segmentasi usia 3 tahun ke atas. Hanya dengan tiga sampai empat kalimat per halaman, penulis tetap mampu menghadirkan kisah para Nabi yang sangat menyentuh dan sudah mewakili dari bentuk kisah yang panjang.

contoh isi buku

Hemat saya buku ini memang sangat pas dijadikan bacaan awal bagi anak untuk usia dini. Karena kalimatnya pendek-pendek, dan bahasanya pun mudah dipahami. Berbeda dengan buku dengan tema serupa.

Misalnya buku "Mengenal 25 Nabi & Rasul" Terbitan Checklist. Meskipun di cover buku ini tertulis untuk my golden age, dari segi bahasa, buku ini masih terkesan panjang dan ada beberapa kalimat dan bagian yang kurang pas untuk dibacakan pada anak.

Dan jika dibandingkan dengan tiga tema serupa dari mizan, letak perbedaannya hanya pada segmentasi usia.  "Kisah 25 Nabi dan Rasul" karya Yudho Purwoko,  "Cerita Seru 25 Nabi dan Rasul" karya Ririn Astutiningrum,  dan  "Kisah 25 Nabi dan Rasul for Kids" karya Erna Fitrini, lebih pas untuk dibaca anak usia 9 tahun ke atas yang sudah mulai lancar membaca.  Jika dibacakan untuk anak usia dini, tentu anak akan masih kesulitan mencerna. 


Berbeda jika dibandingkan dengan buku "25 Nabi & Rasul" ini yang menurut saya,  penulis telah melakukan pengamatan mendalam untuk membuat sebuah kisah yang tidak hanya menarik, tapi bahasanya juga ramah anak.

Secara keseluruhan, buku ini memang bagus dan recomended untuk anak. Dengan bantuan orang tua sebagai mediator, melalui buku ini, anak dapat mencontoh sikap para Nabi yang selalu mengikuti perintah Allah, rajin belajar, sabar, tangguh, tidak mudah mengeluh juga bakti kepada orang tua. 

Buku ini sangat membantu saya mengenalkan cerita Islam pertama pada anak saya. Karena dia selalu senang ketika saya bacakan buku ini. Dia juga suka dengan gambar-gambar yang ada di buku. 

 Srobyong, 16 Desember 2021. 

Sunday, 31 October 2021

Resensi Buku - Kisah Inspiratif Seorang Ibu


Judul               : Sibu Suwarti ; Sebuah Memoar

Penulis             : Nening K. Khasbullah

Penerbit           : WIN (Media Literama)

Cetakan           : Pertama, Oktober 2021

Tebal               : xxvi + 197 halaman

ISBN               : 978-623-97979-4-2

“Anak-anak adalah ujian tersendiri. Bagaimana mengatasi mereka ketika sakit, ada konflik, pertengkaran, cemburu dan iri. Semua itu dijalaninya dengan tegar, sabar dan ikhlas.”

(hal 35)

Ibu adalah sosok yang luar biasa. Ia memiliki peran yang luar biasa, dimulai dari masa kehamilan hingga anak tumbuh dewasa. Memiliki ibu yang luar biasa seperti Sibu Suwarti tentu anugerah yang luar biasa. Maka tidak heran jika kemudian Bu Nening, sekalu penulis dan menantu Sibu, memiliki keinginan kuat untuk membuat memoar dari sang ibu. Karena sikap dan semangat sibu dalam menjadi seorang istri, ibu dan nenek,  memang patut untuk diceritakan kepada khalayak.  Ini adalah sebuah memoar yang menarik, menginspirasi sekaligus memotivasi.

Sebelumnya, saya ucapkan selamat pada Bu Nening atas kelahiran buku memoarnya yang hemat saya sangat luar biasa.

Siapakah Sosok Sibu itu? Jika dilihat dari latar belakang, ia hanyalah seorang perempuan biasa yang selalu sederhana. Namun kehidupan telah menempanya menjadi sosok yang luar biasa. Menjadi istri dari seorang duda beranak lima tentu bukan pilihan yang mudah, tetapi ia menerima takdir itu dengan penuh keikhlasan. Dan tantangan lainnya, ia tak hanya harus menjadi istri, ibu dari anak sang suami, tetapi ia juga harus menjadi ibu bagi masyarakat. Karena kebetulan sang suami, RM. Wirjosoegito adalah lurah di Kaliwungu.

Namun  Sibu adalah sosok yang luar biasa. Ia mampu mengemban perannya dengan baik. Ia menjadi istri yang gemati, ia menjadi ibu yang selalu welas asih meskipun lima anak itu bukan dari rahimnya. Ia juga selalu welcome dan siap membantu menyelesaikan masalah warga sekitar. Maka tidak heran kehadiannya  pun disambut ramah dan begitu dicintai.

Hingga di suatu masa, Sibu kehilangan sang suami. Ia menjadi single parent, yang harus membesarkan dan mendidik tiga belas putra-putrinya dengan segala keterbatasan. Namun Sibu adalah sosok yang hebat. Ia tegar, memiliki tekad kuat, tidak mudah menyerah dan selalu berpikir luas. Sehingga ia mampu mengantarkan putra dan putrinya menjadi orang-orang yang hebat. Ia adalah ibu, pendidik, sahabat dan guru spiritual yang luar biasa. Kita dapat membaca kiah selengkapnya di dalam buku ini.

Sungguh membaca buku ini membuat saya ternyuh dan sangat salut dengan sosok Sibu. Meskipun ia bukan seorang yang berpendidikan—karena ia memang tidak bisa baca dan tulis—tapi hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi ibu hebat yang berkualitas. Ia selalu mendorong anak-anaknya untuk memperoleh pendidikan terbaik sesuai impian mereka.

“Tidak ada yang tahu apa yang kamu makan kalau kamu tidak bercerita. Yang penting sekolah, sebab kalau kamu bodoh semua orang akan  mengetahuinya walaupun kamu tidak cerita.” (hal 36)

Sibu juga sosok yang memiliki pola pikir yang tidak ketinggalan zaman. Jika kebanyakan orang tua sering menganggap bahwa perempuan harus selalu berurusan dengan masalah rumah tangga, maka Sibu berbeda.

“Bagi Sibu, pekerjaan perempuan mencuci, memasak, dan mengurus anak itu bukan pekerjaan. Perempuan harus pintar, maju, mandiri, jangan manja, jangan tergantung pada suami.” (hal 39)

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik untuk kita baca. Banyak pengetahuan tentang bagaimana membangun rumah tangga yang baik, ada pula masalah  parenting yang dapat kita peroleh dari sosok Sibu. Tak ketinggalan pesan-pesan yang Sibu berikan pada putra-putrinya, anak mantu hingga cucu-cucunya itu sangat menginspirasi. Di mana Sibu selalu mengajarkan kepada keluarganya untuk selalu bersikap syukur, selalu mengingat Allah, jujur, bertanggung jawab,  cermas,  punya kemauan keras dan banyak lagi. Dari pesan yang disampaikan Sibu kita akan tahu betapa sosok Sibu itu adalah sosok yan begitu bijak.

 Salut dengan penulis yang mampu menghadirkan roh cerita dengan sangat kuat. Jadi ketika membaca buku ini saya seperti melihat rekam film sosok Sibu, dan merasakan ketegaran, kelembutan, kesabaran, keikhlasan dan welas asih yang dimiliki Sibu. Masya Allah. Pantas sekali jika Sibu selalu dikenang dan disayang.

Saya juga suka dengan kutipan-kutipan baik dari hadis atau Al-Quran yang diletakkan penulis dalam memulai setiap babnya. Kesan religius jadi terasa kental. Dituturkan dengan gaya bahasa yang renyah dan tidak jlimet, membuat saya nyaman saat membaca. Jujur saya suka dengan adanya pemakaian bahasa jawa—baik dalam kalimat langsung Sibu atau dalam kalimat tak langsung—yang digunakan penulis dalam menggambarkan sosok sibu. Lokalitas terasa sangat kental.

Beberapa pesan Sibu yang sangat saya sukai :

Pesan ini mengingatkan kita tentang betapa pentingnya sikap berani meminta maaf dan luhurkan saling memaafkan.  

 “Memaafkan janganlah merasa bangga. Meminta maaf janganlah merasa hina. Saling memaafkan, itulah perintah agama. (hal 46)

Kemudian, tentang parenting, di mana anak akan tumbuh sebagaimana cara orang tua mendidiknya.

“Seandainya anak diibaratkan tanamana, maka apabila tanah dikelola dengan baik dan benar, tanaman yang berada di atasnya akan tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang bermanfaat.” (hal 49).

 Sungguh ini buku yang inspiratif sekali. Senang dapat mengenal Sibu dari buku ini.

Srobyong, 31 Oktober 2021

 

 

 


Monday, 4 October 2021

Review Buku - Mengenal Dua Ratu dari Dinasti Abbasiyah

 




Judul               : Two Queens of Baghdad

Penulis             : Nabia Abbott

Penerjemah      : Juslich Hanafi

Penerbit           : Buku Republika

Cetakan           : Pertama, Juli 2021

Tebal               : vii + 301 halaman

ISBN               : 978-623-791-084

Peresensi         : Ratnanmi Latifah




Selama ini mungkin kita hanya mengenal nama-nama besar dari khalifah pada Dinasti Abbasiyah. Misalnya Khalifah Al-Saffah, Al-Mansur, Al-Mahdi,  Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, Al-Amin atau Al-Makmun. Nama-nama mereka telah terukir dengan sangat gamblang dalam sejarah Islam. Kisah dan keteneran mereka banyak menarik pada sejarawan, penulis biografi atau pihal lain yang memang menggemari literatur.  Namun seringakali kita lupa, bahwa di balik kesuksesan seorang pria, selalu ada wanita yang memiliki peran penting dalam pencapaian tersebut.

Hal itu juga berlaku bagi tokoh-tokoh besar di masa kepemimpinan Dinasti Abbasiyah.  Sayangnya kisah yang berhubungan dengan peran wanita tersebut, tidak banyak dibahasa dalam literatur sejarah Islam. Dan hemat saya, ketika mempelajari pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, selain para Khalifah yang dibahas secara luar, tokoh dan peran wanita tidak disebutkan secara spesifik.

Maka beruntung sekali jika kita membaca buku karya Nabia Abbott, yang akan membahas tentang sejarah dua  ratu yang memiliki peran penting  selama Dinasti Abbasiyah tengah berjaya. Karena tanpa adanya campur tangan mereka, bisa jadi para Khalifah yang selama ini kita kenal mungkin tidak ada dalam catatan sejarah.  Dua ratu yang dimaksud penulis adalah Ratu Khaizuran dan Ratu Zubaidah. Dengan cukup detail penulis mecoba mengungkapkan  tentang fakta-fakta menarik yang belum banyak kita ketahui.

Sebagaimana kita ketahui, di masa lampau perbudakan masih marak terjadi negeri Arab. Tak terkecuali pada masa Dinasti Abbasiyah. Namun siapa yang menyangka dari rahim seorang budak itulah terlahir tokoh-tokoh fenomenal yang akhirnya memberikan banyak kontribusi pada perkembangan Islam.  Ratu Khaizuran merupakan gadis budak dari seorang Arab dari Bani Thagafi. Memiliki pesona yang memikat, gadis itu akhirnya dapat meluluhkan  hati Khalifah Mansur yang kemudian membuatnya menjadi menantunya. Di mana pernikahannya dengan Al-Mahdi maka lahirlah dua calon khalifah besar yaitu Al-Hadi juga Harun Ar-Rasyid. Namun pencapaian itu tidaklah diperoleh Khaizuran dengan mudah. Ia harus bersusah payah dan tentu harus memiliki kecerdasan dalam dunia politik, juga memiliki tekad kuat untuk mewujudkan impiannya. Termasuk upaya besarnya menjadikan Harun ar-Rasyid sebagai seorang Khalifah.


“Matahari yang menakutkan telah melarikan diri, Dan menyembunyikan wajahnya yang bercahaya di malam hari; Dunia yang suram tidak ceria. Tapi Harun datang dan semua baik-baik saja. Kembali matahari memancarkan sinarnya; Alam dihiasi jubah kecantikan: Karena goyangan tongkat harun yang perkasa, Dan tangan Yahya menopang dunia.” (hal 129)


Berbeda dengan Khaizuran yang merupakan budak, Zubaidah isri Harun ar-Rasyid merupakan wanita terhormat dari keluarga Dinasti Ustmaniyah dari Juras. Hanya saja ketika menjadi ratu bagi sang Khalifah, Zubaidah tak kunjung memiliki keturunan. Karena sebelum ia memiliki anak, lahirlah Abdullah—yang kemudian dikenal sebagai Al-Makmun—yang lahir dari seorang budak.


Sebagai seorang pasangan sah dari Khalifah, Ratu Zubaidah adalah sosok yang luar biasa. Karena jika tidak, sudah pasti ia tidak akan bertahan dengan posisi tersebut. Karena seorang Ratu harus memiliki hati seluas samudera juga harus selalu bijak dalam bertindak. Dan itulah yang ia lakukan. Sampai kemudian ia memiliki putra bernama Al-Amin yang akan membuatnya harus berpikir berkali-kali antara membantu putranya sendiri atau putra tiri yang sejak awal ia asuh, karena sang ibu telah mangkat.

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik. Jika biasanya saat membaca buku-buku sejarah kita merasa malas dan mengantuk, tetapi tidak untuk buku ini. Semakin kita menyelami isinya, maka kita akan dibuat semakin penasaran untuk membalik lembar berikutnya.  Tak hanya tentang dua ratu tersebut, melalui buku ini pula kita dapat menemukan syair-syair apik juga nasihat-nasihat bijak yang patut untuk direnungkan.

Misalnya quote tentang anjuran untuk tidak menunda pekerjaan dan selalu sigap, 


“Jangan menunda pekerjaan hari ini, hingga esok; hadirilah urusan negara secara langsung; dan jangan tidur (di posisi yang dijabat) karena ayahmu belum tidur sejak dia memasuki masa kekhalifahan, karena ketika dia tidur menutup mata, jiwanya tetap terjaga.” (hal 5)


Ada pula quote tentang  bagaimana cara mencintai dan menghormati wanita; 


“Wanita itu seperti tulang rusuk (dari mana dia diciptakan). Jika kau meluruskannya, kau justru menghancurkannya; jika kau menyukainya, kau harus menerima sifatnya yang ‘bengkon’.” (hal 50-51)


Kemudian, quote cara yang benar dalam menuntut ilmu.


“Sudah sepatunya pengetahuan harus dicari dengan rendah hati.” (hal 65)


Dan perlunya bersikap keras jika selama menuntut ilmu ia suka bermalas-malasa dan tidak bisa dinasihati, 


“Jangan terlalu lunak dalam memaafkannya sehingga membuat dia mengganggap kemalasan itu manis dan karena itu berusaha melakukannya. (hal 204).


Tidak ketinggalan sebuah puisi menarik yang pernah disyairkan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid,


“Biarkan dia sendiri menguasai negara, Yang pikirannya kokoh, yang hatinya murni; Hindari orang bodoh yang bimbang, Yang pikiran dan ucapannya tidak pernah pasti.” (hal 206-207)


Dan melalui buku ini pula kita akan mengetahui sepak terjang dua ratu yang sangat menginspirasi. Karena meskipun mereka harus terjun dalam dunia politik—mereka adalah tokoh yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi pada sesama, dan tidak segan untuk membantu untuk kemaslahatan umat, juga menjadi pelopor dalam beberapa bidang. Ada catatan  Ratu Khaizuran membangun berbagai fasilitas yang berkaitan dengan air—seperti air mancur, kolam renang, sumur, kanal dan saluran air. Di mana perjuangannya tersebut kemudian diteruskan oleh Ratu Zubaidah. Selamat membaca.

Srobyong, 4 Oktober 2021


Tuesday, 13 April 2021

Mengubah Mindset Agar Lebih Berani dan Bahagia

 

Sumber gambar : pinterest, edit by photogrid.

            Masa pandemi merupakan  masa yang penuh kejutan juga penuh cerita. Karena di masa ini kita dituntut untuk beradaptasi dalam segala hal. Dari harus memakai masker, menjaga jarak, menjaga daya tahan tubuh, serta siap melakukan aktivitas secara terbatas. Artinya kita tidak dapat pergi ke berbagai tempat sesuka hati. Bahkan untuk bekerja pun dilakukan dari rumah.

            Kita harus mulai terbiasa dengan kehidupan baru, tersebut. Kita tidak dapat protes, karena dunia tengah terguncang karena pandemi. Untuk waktu yang tidak terbatas kita diharapkan untuk menghindari kerumunan. Masa-masa bebas seperti  dulu, tentu akan menjadi masa yang akan kita rindukan. Berkumpul dengan teman-teman, bebas mengunjungi toko buku, berlibur, bersekolah dan kegiatn lainnya.

Bagi saya sendiri, masa pandemi adalah masa penuh tantangan. Selain harus mulai beradaptasi dengan kebiasan baru, pada saat itu, Allah tengah memberikan anugerah yang luar biasa di rahim saya. Kebahagiaan dalam menjaga kesehatan dan mempersiapkan segala keperluan di masa kehamilan pun menjadi tumpang tindih dengan berbagai kekhawatiran karena pandemi.

            Jujur saat itu saya merasa takut dan kalut. Berbagai pertanyaan menggema di kepala. Mengingat sejak adanya pandemi cara pemeriksan—baik di bidan, klinik atau rumah sakit mulai berubah.  Belum lagi proses persalinan konon katanya dipersulit. Di mana   saya melihat dan mendengar  dari tetangga serta saudara yang kebetulan mengalaminya sendiri. Misalnya saja pengalaman tetangga saya. Meski ia seorang petugas medis, ketika ia reaktif terhadap virus corona, ia mendapat perlakuan yang kurang baik dari salah satu rumah sakit besar di daerah saya.   

Ada juga sepupunya saya. Ia sempat divonis harus melalukan cesar, karena masalah pertumbuhan bayi. Sepupu saya meski kaget dan terkejut tetap menyiapkan diri dan menjalani periksaan sesuai prosedur dokter kandungan. Namun, ketika hasil tes rapid telah keluar, dan ia reaktif, perlakuan dokter yang mulanya baik pun berubah. Bahkan dalam menangani  konsultasi sang dokter menjawab via telepon. Dan sepupu saya sempat dioper ke sana ke mari untuk melakukan operasi cesar.  Astagfirullah hal adzim, perasaan saya semakin tidak menentu.

Beruntung saya memiliki buku-buku gramedia, yang sedikit banyak membantu saya dalam memahami tentang masalah kandungan juga membuat pikiran saya lebih rileks. Andai saya tidak menyalurkan kekhwatiran saya pada hal-hal lain, tentu ketakutan saya akan berdampak pada kehamilan saya, dapat membuat depresi hingga keguguran. Padahal sudah cukup lama saya menanti kehadiran buah hati setelah mengalami miskram.

Buku “9 Bulan Menjalani Kehamilan dan Persalinan yang Sehat” karya  dr. Irfan  Rahmatullah, Sp.OG dan dr. Nurcholid Umam Kurniawa, M.So.Sc, benar-benar membantu saya selama masa kehamilan. Buku ini dapat menjawab berbagai pertanyaan seputar kehamilan dan persalinan dengan detail. Bahkan tentang hal-hal yang mungkin tidak akan dijelaskan oleh dokter kandungan atau pun bidan. Melalui buku tersebut saya dapat mengetahui  bagaimana perkembangan bayi dalan kandungan,  rumus dalama mengetahui perkiraan jenis kelamin dalam kandungan, mamahami hal-hal dasar dalam kehamilan, bagaimana menjalani pola hidup sehat, masalah persalinan dan apa saja yang perlu disiapkan, masalah nifas dan banyak lagi.

Sumber gambar : Ratnani Latifah

Selain buku ini  saya juga sangat terbantu dengan membaca buku “Chiken Soup fot for the Soul; Think Positive” karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen dan Amy Newmark. Melalui buku ini saya banyak menemukan nilai-nilai positif dalam kehidupan. Apa pun masalah yang kita hadapi, ketakutan yang  datang silih berganti, dapat diatasi jika kita selalu berpikis positif dan selalu bersyukur dengan apa pun kondisi kita.

Sumber gambar : Ratnani Latifah 


Jujur saja ketika pandemi datang, banyak ketakutan yang mulai meneror isi kepala saya. Banyak pertanyaan bagaimana ... bagaimana yang menggema di kepala. Bagaimana kalau nanti virus covid-19 menyerang saya atau keluarga? Apalagi saat itu, adik saya posisinya tengah merantau di Jakarta dan Semarang—di mana dua kota tersebut cukup banyak yang terpapar covid.

Tidak hanya ketakutan soal masalah covid, saya pun merasa cemas dengan keadaan janin juga bagaimana proses melahirkan kelak. Karena jujur saja sejak pandemi menyerang, proses medis di daerah saya entah kenapa menjadi sangat sulit. Banyak cerita tentang ibu hamil yang terlantar karena kurang sigapnya penangananan dari tim medis. Ada ibu hamil yang sudah dirujuk ke rumah sakit, tetapi di sana tidak dirawat dan malah pulang. Ada pula ibu hamil yang karena tidak segera ditangani, ia melahirkan di lorong rumah sakit. Astagfirullah hal adzim... hati saya begitu miris setiap kali mendengar berita-berita semacam itu.

Siapa yang tidak takut dan merasa cemas ketika posisi saya sendiri hampir sama dengan mereka? Ya Allah, rasanya sungguh nano-nano. Maka buku “Chiken Soup fot for the Soul; Think Positive” sangat membantu saya untuk belajar memiliki pikiran yang lebih positif.

Ada dua quote yang saya sukai ketika membaca buku ini.

Pertama, “Ubahlah pikiran, maka kita akan mengubah dunia kita.” quote ini seolah berpesan, agar saya selalu memiliki mindset yang baik.

Kedua, “Pikiran positif apa pun akan lebih baik daripada pikiran negatif.” Sedangkan quote ini secara terbuka mengingatkan tentang pentingnya selalu berpikir positif dalam keadaan apa pun.

Melalui buku ini saya juga belajar untuk mengurangi ketakutan dengan mengalihkannya pada kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Saya pun memilih tenggelam dalam dunia buku dan menulis. Karena memang itulah dua dunia yang saya geluti. Membaca adalah candu yang tidak tergantikan. Karena bagi saya dengan membaca gerbang pengetahuan akan terbuka lebar, kegelapan akan mendapat sinar dan jiwa yang kerontang akan mekar.

Alhamdulillah di masa pandemi saya berhasil mengkhatamkan banyak buku terbitan gramedia. Buku-buku itu menjadi teman yang begitu menyenangkan dan sedikit banyak membuat saya lupa akan berbagai kekhawatiran yang terus bergelantung di dada.

Begitu pula dalam menulis. Terapi menulis cukup membuat fokus saya teralihkan. Meski di sini, saya pun harus menghadapi tantangan baru. Mengapa? Karena dunia tulis menulis pun mendapat dampak yang cukup signifikan dari adanya pandemi.  Salah satunya cukup banyak media yang mulai tumbang. Tidak hanya itu banyak penerbit yang mulai menunda menerbitkan buku cetak akibat imbas pandemi.

Beruntung ada buku “Jangan Mudah Menyerah; Kumpulan Inspiratif dari Jack Ma, Pendiri Alibaba” yang disunting Suk Lee & Bob Song dan buku “The Path Made Clear” karya  Oprah Winfrey. Meski kedua buku ini tidak membahas tentang motivasi menulis, tetapi kedua buku ini banyak memberikan energi positif bagi saya untuk tetap teguh dalam dunia tulis menulis. Kedua buku ini mengajarkan banyak hal agar saya tidak mudah menyerah karena keadaan. Saya belajar tentang pentingnya menjalani dan nikmati setiap proses yang kreatif dalam menulis. Saya juga belajar untuk menentukan tujuan hidup dan  berusaha yang terbaik untuk  meraihnya.

Sumber gambar : Ratnani Latifah 

Dalam dialog dengan Kazuo Inamori, pada 28 Oktober 2008, Jack Ma pernah berkata, “Saya bukan orang yang paling berbakat. Penampilan, kemampuan, dan pendidikan saya jauh dari yang terbaik secara umum. Namun, saya memahami sifat dasar manusia. Anda harus mengendalikan yang negatif dan membangun yang positif agar meraih kesuksesan. Saya berusaha melakukannya melalui semangat berkelompok dan misi bersama.”

            Apa yang diungkapkan pendiri Alibaba ini sungguh mencegangkan. Ia mengingatkan bawah sukses itu tidak hanya soal bakat, tetapi juga adanya usaha dan ketekunan. Kemudian tidak kalah penting selalu berpikir positif. Dan saya rasa semua itu benar sekali. Selama menekuni dunia menulis, saya melihat orang-orang yang tekun dan tidak mudah menyerah cenderung akan berhasil dibandingkan mereka yang memiliki bakat tapi tidak punya semangat juang.  Kalimat itu memotivasi saya untuk terus menulis dan menulis. Karena di sanalah memang panggilan jiwa saya.

            Selain buku-buku non-fiksi. Selama pandemi saya juga ditemani dengan buku-buku fiksi terbitan Gramedia yang menarik dan menyenangkan. Di antaranya Selena dan Nebula karya Tere Liye, yang seperti biasa ceritanya selalu seru, penuh makna dan bikin ketagihan. Membaca novel karya sang maestro sangat membantu meringankan beban selama menghadapi pandemi juga masa-masa kehamilan. Membaca membuat pikiran jadi lebih rileks dan tenang.


Sumber gambar : Ratnani Latifah 

            Maka tidak salah jika bagi saya membaca itu semacam terapi jiwa, agar jiwa tetap sehat dan waras. Membaca itu adalah vitamin, yang mampu memberikan suntikan semangat untuk berbebah, menjadi pribadi yang lebih baik.

            Terlepas dari masalah kehamilan, membaca buku-buku gramedia ini mengajarkan saya tentang pentingnya mengubah mindset di masa pandemi. Jangan pernah berbikir negatif, takut ini dan itu, takut mencoba sesuatu atau takut melakukan hal-hal di luar zona nyaman kita. Akan tetapi beranilah! Selalu berpikir positif dan yakin mampu. Maka dunia bisa kita taklukkan.

            Begitulah. Masa Pandemi tidak membuat saya berhenti membaca dan menulis. Meski di masa pandemi, mulai banyak perubahan yang harus kita hadapi—khususnya pada bidang penerbitan. Karena setahu saya beberapa penerbit ada yang mulai mengurangi menerbitkan buku cetak dan beralih ke ebook.

            Namun di masa pandemi pula, saya menemukan jalur baru tentang penulisan buku. Apa itu? Menulis buku pengayaan, yaitu  buku penunjang  atau pendamping yang digunakan siswa untuk belajar, selain mengacu pada buku utama.  Di mana dengan membaca buku pengayaan anak akan mendapat lebih banyak pengetahuan dan wawasan dengan cara yang lebih menyenangkan.  Bukankah menyenangkan sekali bisa berkontribusi melahirkan karya dan dibaca oleh anak bangsa di seluruh negeri?  Saya sendiri sangat bersyukur, selama berkesempatan belajar mengenal buku pengayaan—bagaimana cara pengiriman dan prosesnya—alhamdulillah ada beberapa naskah,  yang saya ajukan telah diacc dan tinggal menunggu untuk dinilaikan.

            Untuk proses penulisan buku pengayaan ini tidaklah mudah. Ada banyak hal yang perlu kita perhatikan ketika menulis buku pengayaan, salah satunya harus sesuai dengan kompetensi dasar (KD) sesuai jenjang—dari SD, SMP dan SMA/SMK.  Selain itu ketika menulis buku pengayaan kita harus sabar menunggu penilaian dari PUSKURBUK (Pusat Kurikulum dan Perbukuan).  Dan tidak ketinggalan memiliki sertifikat menulis lebih diutamakan, ketika menulis buku pengayaan.

            Yah, masalah sertifikasi penulis ini sempat menjadi perdebatan di jagat media sosial. Ada pro dan kontra. Dan itu sangat wajar. Tapi bagi saya yang kebetulan sedang menulis buku pengayaan, maka saya harus siap untuk melengkapi persyaratan penilaian, khususnya untuk buku pengayaan nonfiksi.

            Jujur awalnya saya takut dan tidak pede dengan kemampuan saya. Siapa sih, saya ini? Soal kepenulisan pengalaman saya masih sedikit. Buku-buku karya saya pun belum cukup banyak. Saya sempat maju mundur untuk mengikuti ujian sertifikasi penulis. Takut hasilnya tidak kompeten.

            Namun karena membaca buku-buku di atas—khususnya buku Chiken Soup fot for the Soul; Think Positive, buku Jangan Mudah Menyerah; Kumpulan Inspiratif dari Jack Ma, Pendiri Alibaba, dan  buku The Path Made Clear, saya mulai berpikir ulang. Kalau tidak sekarang kapan kamu berani? Bagaimana mau maju jika terus terkurung dalam rasa takut dan tidak percaya diri? Bukankah kalau gagal dapat mencoba lagi?

“Ada banyak hal yang harus aku buktikan kepada diriku sendiri. Salah satunya adalah bahwa aku bisa menghidupi hidupku tanpa takut.”

Itu adalah salah satu quote yang saya sukai dalam buku  The Path Made Clear. Ia seolah memberikan semangat dan dorongan untuk menjadi pribadi yang berani.

            Akhirnya saya pun menguatkan niat dan mengikuti ujian sertifikasi, apa pun hasilnya. Jika dulu ujian ini dilakukan via luring atau tatap muka secara langsung, maka di masa pandemi ujian dilakukan via daring. Meski begitu, tetap saja ada rasa tegang dan takut. Apalagi saya juga harus mengamankan dedek bayi, agar fokus selama melakukan ujian.

            Dan puji syukur kepada Allah, yang telah  memudahkan saya. Dedek tidak rewel, dan  meski sempat ada drama mati lampu, Allah telah memudahkan saya dalam menjawab pertanyaan yang diajukan asesor. Bu asesornya  sangat baik dan bersahabat. Alhamdulillah ternyata saya diganjar kompeten. Rasanya sungguh bersyukur. Meski saya tahu, hasil itu bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya dari sana saya harus terus belajar  untuk menulis yang lebih baik lagi.

Sumber gambar : Ratnani Latifah 

            Pokoknya terima kasih banyak Gramedia, yang telah menghadirkan buku-buku apik, yang sangat bermanfaat, memberikan banyak motivasi dan inspirasi untuk terus memperbaiki diri di masa pandemi.  Sehingga saya bisa keluar dari zona nyaman dan berani mencoba hal-hal baru. Dapat beradaptasi dengan baik di masa yang penuh tantangan. 

             Terima kasih karena dengan membaca buku gramedia, saya  belajar mengelola mindset agar selalu berpikir positif. Sembilan bulan perasaan saya campur aduk ketika hamil—takut akan berbagai hal, tetapi saya selalu berusaha berpikir positif.

Saya ingat sekali, ketika  usia tujuh bulan posisi bayi masih melintang, lalu sempat sunsang dan plasenta berada di posisi yang hampir menghalangi jalan lahir. Jika posisi bayi tidak berubah, bisa jadi saya harus melakukan operasi. Namun saya selalu berpikir positif, bahwa saya dapat melahirkan dengan normal dan lancar.

 Dan meski sempat ada drama ditolak di puskesmas ketika melakukan pemeriksaan—padahal kondisi saya sudah sangat payah—tetapi proses persalinan berjalan lancar. Allah telah menyiapkan tempat terbaik, dapat melakukan  persalinan dengan porses yang dimudahkan di tempat seorang bidan yang baik hati. Kekuatan pikiran positif membawa kita pada jalan yang positif juga. 

Sumber gambar : Ratnani Latifah. Sehat selalu ya, Dek.


Srobyong, 13 April 2021.