Showing posts with label Tere Liye. Show all posts
Showing posts with label Tere Liye. Show all posts

Wednesday, 2 October 2019

[Resensi] Keberanian dan Kegigihan Anak Kampung Melindungi Tanah Kelahiran


Doc. pribadi 

Judul               : Si Anak Badai
Penulis             : Tere Liye
Co-author        : Sarippudin
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, Agustus 2019
Tebal               :  322 halaman
ISBN               : 978-602-5734-93-9

Sumber : Republika
Si Anak Badai merupakan seri terbaru dari “Serial Anak Nusantara”. Di mana sebelumnya penulis kawakan asal Sumatra Selatan ini, telah lebih dulu menerbitkan Si Anak Cahaya—yang mengisahkan tentang Petualangan Nurmas—ibu dari Amelia, Pukat, Eliana dan Burlian. Kemudian ada pula Si Anak Spesial (Republish dari Burlian), Si Anak Kuat (Republish dari Amelia), Si Anak Pintar (Republish Pukat) dan Si Anak Pemberani (Republish dari Eliana).

Akan tetapi, meskipun kita belum membaca seri sebelumnya,  kita tetap bisa menikmati novel “Si Anak Badai” secara mandiri.  Karena pada seri terbaru ini, Tere Liye menghadirkan kisah dengan tokoh baru yang tidak memiliki benang merah sebagaimana kisah sebelumnya. Namun jangan khawatir meskipun berbeda, kisah Si Anak Badai ini, tidak kalah menarik dari kisah-kisah sebelumnya. Bahkan bisa jadi, setelah membaca novel ini kita malah akan ketagihan dan penasaran dengan seri-seri yang sudah lebih dahulu terbit.  Sebagaimana saya sendiri,  setelah khatam novel ini,  saya langsung mengkhatamkan Si Anak Cahaya dan bersiap untuk membaca dua seri lainnya.

Kali ini Tere Liye, mengajak pembaca bertualang bersama empat sahabat; Zaenal—atau kerap dipanggil Za,  Ode, Malim dan Awang dalam suasana kehidupan di Kampung Muara Manowa. Sebuah daerah yang berada di muara sungai yang menjadi perlintasan kapal-kapal berhaluan menuju desa atau kota-kota berikutnya. Dengan berbagai problematika khas anak-anak yang juga diselingi masalah keluarga, politik dan sosial budaya yang ada, kisah menjadi sangat seru dan menarik.

Kehidupan empat sekawan ini tentu saja awalnya sangat menyenangkan. Setiap hari Minggu sore atau ketika setiap tanggal merah tiba, sambil bermain-main mereka akan menunggu kapal-kapal—baik dari laut ke hulu atau dari hulu yang berlayar menuju lautan.  Di sana mereka memiliki kebiasaan unik—ketika kapal tiba, mereka akan berlomba-lomba menyelam untuk memperebutkan uang logam yang dilempar oleh para penumpang. Siapa cepat dia dapat. Kebiasaan unik lainnya adalah kebiasaan anak-anak yang selalu mengiringi kedatangan para tamu ke Muara Manowa, serta kebiasaan warga yang suka saling membalas pantun. Pagi hari mereka bersekolah meski dengan segala keterbatasan yang ada dan malam harinya, selepas salat Magrib mereka akan akan mengaji di rumah Guru Rudi, yang rumahnya tidak jauh dari  jembatan menuju masjid.

Namun kebahagiaan itu berubah menjadi mimpi buruk, ketika tiba-tiba Pak Alex datang mengunjungi Muara Manowa. Pria yang menurut Za mirip bajak laut itu dengan dalih menawarkan kemajuan di tempat tinggal mereka, tetapi pada kenyatannya Pak Alex datang untuk mengancurkan tanah kelahiran mereka—kampung Muara Manowa.

“Sudah saatnya tempat ini dibuat maju, mengejar ketertinggalan dari daerah lain. Sudah saatnya  bapak-bapak menjadi lebih kaya, lebih sejahtera. Karena itu kami ingin membangun pelabuhan di Kampung Manowa.” (hal 84-85).

Visi dan misi yang ia lontarkan hanyalah basa-basi. Karena ketika pelabuhan dibangun, maka sudah pasti warga akan kehilangan tempat tinggal juga kehilangan mata pencaharian.  Karena itulah Sakai bin Manaf atau yang dikenal dengan sebutan Pak Kapten, langsung menolak rencana yang dipaparkan Pak Alex.

“Kami tidak mau dipindah-pindah. Lebih bagus kalau pelabuhan yang dipindah. Terserah di mana asal tidak di tempat kami.” (hal 86).

Akan tetapi siapa yang bisa mengalahkan uang dan kekuasaan? Pak Alex dengan kekuasaannya, dengan keji memfitnah Pak Kapten terlibat dalam meledaknya kapal Maju Sejatera. Selain itu, Pak Kapten juga dianggap sebagai penghasut warga—karena Pak Kapten-lah orang pertama yang menolak rencana itu dan kemudian memengaruhi pikiran warga dengan memutar film di layar tancap. Karena alasan itulah akhirnya Pak Kapten ditangkap.

Kejadian itu tentu saja membuat semua warga sangat sedih, termasuk Za, Ode, Manaf dan Awang. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Pak Kapten. Satu-satunya harapan mereka adalah  bantuan dari Adnan Buyung, seorang pengacara di ibu kota,  yang kebetulan merupakan Kakak Wak Sidik—salah satu warga.  Dan kesedihan itu semakin menumpuk ketika Pak Alex dan orang-orang dari ibu kota itu benar-benar datang membawa berbagai alat berat untuk mulai pembuatan pelabuhan.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang lugas, renyah dan tidak bertele-tele, novel ini sangat menarik untuk dibaca. Kita akan dihibur melihat keseharian Za, Ode, Malim dan Awang, yang lugu, pemberani, setia kawan dan memiliki tekad kuat. Banyak kejadian seru yang menghibur, membangun dan bahkan memotivasi dari berbagai petualangan yang dialami empat sekawan tersebut.

Misalnya ketika Za dan dua adiknya, Fatah dan Thiyah mendapat tugas dari ibunya untuk mengukur beberapa warga Muara Manowa yang ingin dijahitkan baju.  Atau ketika Malim merasa tidak lagi memiliki motivasi untuk melanjutkan sekolah. Za dengan sikap teguh, berusaha semaksimal mungkin untuk membujuk sahabatnya agar tidak putus sekolah. Padahal berkali-kali Malim menolak dan bahkan bersikap kasar, tetapi Za tetap seteguh karang. “Mau jadi apa pun, sekolah tetap penting. Jadi pedagang juga butuh sekolah.” (hal 189).

Ada pula kejadian mendebarkan, ketika mereka harus menghadapi badai besar, saat empat sekawan itu ikut memancing cangkalan bersama Paman Deham. Di mana kejadian itu merupakan cikal bakal lahirnya nama “Si Anak Badai”. Tidak hanya itu, ada pula kejadian mendebarkan yang berhubungan tentang bagaimana usaha keras empat sekawan dalam upaya menggagalkan pembangunan pelabuhan. Berbagai kejadian dan petualangan yang dialami Za, Ode, Malim dan Awang sedikit banyak selalu memberi pencerahan dan akan menggugah pembaca. Mereka adalah anak-anak pemberani yang siap berjuang demi mempertahankan hak yang mereka miliki.

Dari segi tema, Tere Liye sudah sudah menunjukkan keunikan cerita, yang memang jarang dieksekusi oleh penulis Indonesia lainnya. Di sini ia kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam memunculkan ide-ide segar yang tidak pasaran. Sebagaimana novel “Pulang” dan “Pergi” yang mengangkat tema shadow Economy,  atau seri “Serial Bumi” yang mengangkat  tema fantasi yang dipadukan dengan science fiction—di mana kita sadari tema semacam itu cukup jarang dieksekusi.  Inilah daya tarik tersendiri yang membuat buku-buku Tere Liye selalu digemari dari semua kalangan usia. Karena dia selalu menyajikan kisah-kisah yang segar dan memikat.

Begitu pula dengan setting lokasi cerita yang ia pilih. Ketika banyak penulis mengambil kota besar sebagai setting cerita, maka tidak dengan Tere Liye.  Di sini ia berani mengambil langkah maju dengan mengambil setting di daerah terpencil, yang  jarang diangkat oleh penulis lain—ia memilih Kampung Muara Manowa, sebuah desa yang terletak di sekitar muara sungai  yang kemudian dipadukan dengan kisah petualangan yang mendebarkan.  Dan yang menarik kualitas bagaimana mengambarkan setting lokasi benar-benar hidup dan tidak terasa tempelen. Karena ketika membaca novel ini saya langsung membayangkan bagaimana tata letak rumah warga juga bagaimana kegiatan pasar apung atau kegiatan sehari-hari yang membuat anak-anak terbiasana menggunakan perahu untuk melakukan aktivitasnya.

Bayangan saya soal setting lokasi cerita. Sumber:  google 

Pasar apung. Sumber : google 

Tidak kalah menarik adalah bagaimana penulis menyisipkan kritik politik dan atau  sosial budaya dalam kisah ini. Baik secara tersirat atau tersurat, Tere Liye mencoba menyuarakan bagaimana kegelisahan orang-orang yang tinggal di daerah pedalaman, yang harus rela meninggalkan tanah kelahiran demi proyek pembangunan pelabuhan—yang sebenarnya sangat merugikan warga.  Bagaimana tidak,  karena adanya  proyek tersebut, mereka harus rela meninggalkan kampung halaman, kehilangan pekerjaan, kehilangan tempat menuntut ilmu dan banyak lagi.

“Sekarang orang-orang pintar itu akan membuat pelabuhan di sini. Mereka tidak tahu apa dampaknya bagi kita. Lebih celakanya lagi, mereka tidak peduli apa akibatnya bagi kita. Yang penting pelabuhan itu jadi, yang penting mereka mendapat uang banyak dari pembangunan pelabuhan.” (hal 98).

Dan yang lebih miris, pembangunan pelabuhan itu hanya sebuah akal-akalan para pembesar untuk merengkuh keuntungan lebih besar  dengan praktik korupsi.

“Sepanjang kau bisa diandalkan, proyek pelabuhan selesai, dana cair, kau akan liburan ke luar negeri. Kariermu juga akan menanjak cepat.” (hal 308).

Sedangkan untuk penokohan cerita, satu kata untuk penulis buku ini “keren” tokoh-tokoh dalam novel ini, benar-benar hidup—baik melaui gambaran fisik,  sikap juga percakapan-percakapan  dalam cerita. Kemudian soal alur dan plot cerita secara keseluruhan sudah sangat rapi dan menarik.  Sejak awal penulis berhasil menyihir  pembaca untuk menyelesaikan kisah ini hingga akhir.  Hanya saja ada beberapa konflik cerita dalam novel ini,  yang jujur ada beberapa bagian yang terasa datar dan kurang menegangkan. Hal ini sangat berbalik dari novel Si Anak Cahaya, yang sejak awal kisah sudah menunjukkan berlapis-lapis masalah yang membuat saya penasaran. 

Kemudian soal porsi Pak Kapten dalam novel ini. Sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran cukup penting,  porsi kisah hidup Pak Kapten kurang dijelaskan lebih detail dan gamblang.  Padahal jika ada penelusuran lebih lanjut sudah pasti kisah ini akan terasa lebih seru dan semakin menarik. Saya penasaran kenapa nama asli Pak Kapten baru diketahui di bagian-bagian akhir. Kemudian tidak ada penjelasan kenapa hampir semua warga segan dan anak-anak selalu takut pada sosok tersebut, serta kenapa ia dipanggil Pak Kapten.   Sebenarnya apa kedudukun Pak Kapten ini di Kampung Muara Manowa?  

Namun secara keseluruhan, saya benar-benar kagum dengan bank ide Tere Liye, yang bisa menghadirkan kisah-kisah menarik dan  selalu memberi inspirasi dan renungan.  Dan untuk masalah kesalahan menulis, novel ini cukup bersih,  saya hanya menemukan satu kata, yang sebenarnya itu sama sekali tidak mengganggu.

Kali ini  mereka tidak sibuk mengolokku, melalinkan ikut ...,” ==  Kali ini  mereka tidak sibuk mengolokki, melainkan ikut ...,” (hal 229).

Lepas dari kekurangannya,   novel ini tetap menarik untuk dibaca. Banyak nilai-nilai pembelajaran yang diikutsertakan penulis dalam kisahnya. Dan seperti biasanya Tere Liye hadir dengan ilmu-ilmu baru yang akan menambah wawasan kita.  Di sini penulis menunjukkan tentang manfaat kayu ulin yang kokoh dan awet. Karena itu dermaga di sana juga jembatan masjid, dibangun dengan memanfaatkan kayu ulin.

Gambar 1 Pohon Ulin || Gambar 2 :  Kayu Ulin || Gambar 3 : Dermaga yang dibuat dari kayu ulin. || Sumber : Google 

“Tidak usah khawatir. Dermaga ini terbuat dari  kayu ulin yang kokoh. Jangankan ambruk, bergeser sedikit pun tidak.” (hal 259).

Kemudian ada disinggung sedikit perilah masalah struktur tanah di Kampung Muara Manowa—yang berhubungan dengan cocok tidaknya struktur tanah itu digunakan untuk membangun proyek pelabuhan.

Sumber : Frisco



Dan meskipun kali ini tere liye kembali mengagandeng co-author, sebagaimana dalam novel “Pergi” hal itu tidak mengurangi rasa khas tulisan Tere Liye dan keseruan cerita yang ada.  Membaca novel ini kita akan menemukan banyak sekali pembelajaran-pembejalaran positif.  Ada pelajaran agar kita belajar dari kesalahan yang pernah lalu. “Setiap orang melakukan kesalahan. Yang membedakan antara orang yang melakukan kesalahan itu adalah ada yang belajar  dari kesalahannya, ada yang juga tidak mengambil pelajaran apa-apa.” (hal 72).

Di sini kita juga bisa melihat sikap setia kawan yang ditunjukkan oleh Za, Ode, Awang dan Malim. 

“Seorang teman tidak akan meninggalkan temannya sendiri.” (hal 191).

Kemudian kita pun diajarkan untuk menjadi pribadi yang sabar ketika ada masalah atau ujian. 

“Manusia mendapat ujian bukan karena dia  telah berbuat kesalahan, Rahma. Ujian itu kadang untuk lebih menguatkan.” (hal 221).

Dan tidak kalah menarik saya juga suka selipan-selipan nilai-nilai religi yang kerap dilakukan penulis kondang ini. 

“Ilmu milik Allah itu sangat luas. Bayangkan kalian mencelupkan telunjuk di laut, kalian angkat telunjuk itu, maka air yang menempel di telunjuk kalian itulah ilmu lautan yang tak terhingga banyaknya, itulah ilmu Allah. Ada yang kita tahu, ada juga yang tidak tahu.” (hal 58).

Selain itu masih banyak nilai-nilai pembelajaran yang bisa kita petik. Misalnya  tentang kebiasaan gotong royong, pentingnya bersikap hormat serta berbakti kepada orangtua, pentingnya belajar tanggung jawab,  pentingnya bersekolah, taat dan rajin beribadah kepada Allah, bersikap jujur, sabar dan tidak melakukan tindak korupsi.

Srobyong, 2 Oktober 2019


Alhamdulilallah resensi ini menjadi salah satu dari 10 resensi pilihan Republika
(Tere Liye, Si Anak Badai)



Saturday, 27 April 2019

[Resensi] Petualangan Tiga Sahabat Ke Dunia Paralel dan Inspirasinya






Judul               : Ceros dan Batozar  // Komet //  Komet Minor
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Co –Author     : Diena Yashinta
Cetakan           : Dua, Mei 2018 // Tiga, Juli 2018 // Tiga, April 2019
Tebal               : 376 hal // 384 hal // 376 hal
ISBN               : 978-602-038-591-4 //  978-602-038-593-8 // 978-602-062-339-9


Masih ingat dengan serial “BUMI”?  Buku bergenre fantasi dan science fiction yang dipaparkan dengan apik oleh Tere Liye, salah satu penulis Indonesia yang sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam menulis. Mengingat hampir semua bukunya yang terbit—baik di Gramedia atau Republika, semuanya masuk jajaran buku-buku best seller. Ketiga buku ini —Ceros dan Batozar, Komet dan Komet Minor—merupakan seri kelanjutan serial “Bumi” yang sudah banyak ditunggu oleh para penikmatnya.

Kisah ini sendiri masih fokus dengan petualangan tiga sahabat—Raib, Seli dan Ali—yang menarik dan banyak menyimpan nilai-nilai kehidupan. Raib sendiri merupakan keturunan Klan Bulan, yang punya kekuatan menghilang juga penyembuhan. Sedangkan Seli adalah keturunan dari Klan Matahari yang bisa mengeluarkan petir. Dan terakhir ada Ali, cowok cuek, suka bikin onar,  namun sangat jenius yang berasal dari Klan Bumi dan bisa berubah menjadi beruang.

Pada buku “Ceros & Batozar” seri ke-4,5 serial “BUMI”, kita akan diajak keluar sejenak dari masalah genting yang tengah terjadi—sebagai pengingat, pada seri sebelumnya (baca novel Bintang) ketiga sahabat itu tengah fokus mencari pasak bumi untuk menyelamatkan kehidupan seluruh Klan yang ada. Namun siapa sangka di balik keberhasilan mereka menemukan pasak bumi, sebuah bencana yang lebih besar telah menanti, di mana Si Tanpa Mahkota berhasil lolos dari  Penjara Bayangan di Bawah Bayangan,  yang sudah mengurungnya selama ini.

Ceros dan Batozar akan menghadirkan kisah  yang tidak kalah menarik perihal  dunia paralel  yang sudah pernah dialami oleh Raib, Seli dan Ali. Di mana sedikit banyak kisahnya akan membuat kita mundur ke masa lampau dan membuka sebuah tabir kebenaran yang selama ini tertutup rapat dan punya peran penting pada seri lanjutnya Komet.

Raib, Seli dan Ali bertemu dengan  Ngglanggeran dan Ngglanggeram,  si kembar ahli memasak yang juga  bisa berubah menjadi  moster badak yang mengerikan—Ceros yang  berasal dari Klan Aldebaran yang bisa memanipulasi ruang dan waktu (hal 72 – Ceros dan Batozar).   Mereka tinggal di Bor-O-Bdur—sebuah tempat yang terletak jauh di perut bumi—karena sebuah alasan yang tidak terduga.  Salah satu alasannya berkenaan dengan sarung tangan yang kini dikenalan Ali.  

Lepas dari pertemuan dengan Ceros, mereka bertemu dengan  Batozar sang penjagal—seorang buronan paling berbahaya dari Klan Bulan yang telah melarikan diri dari penjara.  Di mana dia dinyatakan telah membunuh seluruh keluarga dari salah satu anggota Komite Klan.   Batozar sendiri sengaja melarikan diri untuk misi tertentu untuk menemukan ingatannya kembali.

Pertemuan dengan dua petarung  hebat itu sedikit banyak telah menambah banyak pengetahuan Raib, Seli dan Ali. Dari  sejarah hidup Ceros dan Batozar yang tidak terduga, masalah dunia paralel yang ternyata sangat luas,  serta teknik-teknik pertarungan yang menakjubkan.

Komet  seri ke-5, memaparkan tentang petualangan Raib, Seli dan Ali yang akhirnya berhasil masuk ke portal menuju Klan Komet.  Mereka tengah berusaha mengejar Si Tanpa Mahkota yang sebelumnya sudah berhasil masuk portal tersebut. Si Tanpa Mahkota berambisi menemukan pusaka paling hebat di dunia Paralel, yang konon terletak di Klan Komet.

Baik Raib, Seli, Ali serta para petinggi setiap klan, tidak bisa membayangkan jika Si Tanpa Mahkota berhasil dengan misinya, maka dunia paralel akan mengalami masalah besar. Karena bisa dipastikan akan ada kekacauan yang sangat mengerikan. Namun sayangnya, mereka terdampat di tempat yang aneh.  Di tempat tersebut, semua benda elektronik tidak bisa digunakan. Hal itu tentu saja sangat menghambat pencarian tiga sahabat yang terbiasa menggunakan berbagai alat canggih dalam berbagai hal.

Beruntung mereka bertemu Paman Kay dan Bibi Nay yang sedikit banyak membantu mereka. Ternyata mereka mendarat di salah satu gugusan pulau di samudra luas, yang memiliki tujuh pulau.  Dengan petunjuk itu mereka mencoba menjari jalan untuk menuju Klan Komet dan sekaligus mencari Si Tanpa Mahkota. Tapi petualangan itu tidak semudah yang mereka bayangkan. Banyak ujian yang harus mereka lewati untuk menemukan pulau dengan tumbuhan aneh yang bisa mengantarkan mereka ke tempat tujuan selanjutnya.

Komet Minor merupakan seri ke-6 atau  seri pamungkas petualangan Raib, Seli dan Ali menghadapi Si Tanpa Mahkota. Raib, Seli dan Ali akhirnya berhasil masuk ke portal menuju Klan Komet Minor.  Namun keberhasilan itu  merupakan  awal  petualangan yang sangat mendebarkan.  Berbeda dari seri sebelumnya,  di mana mereka hanya bertualang sendiri, kali ini petualangan  mereka  dipandu Batazor.

Terpojok karena ulah Si Tanpa Mahkota yang berhasil memodohi mereka saat bertualang di pulau komet, dan mengikat mereka dengan jaring perak.   Ali berhasil memanggil Batozar untuk mendapat bala bantuan.  Bersama Batozar meraka mendapat pengalaman sebagai pengintai  dengan teknik berperang yang hebat.  Mereka berusaha menggagalkan misi Si Tanpa Mahkota yang ingin memburu senjata paling hebat di dunia paralel,  yang menurut Tuan Entre sudah dipecah menjadi tiga bagian. Masing-masing potongan itu dijaga oleh Arci, Nyonya Kulture dan Finale.

Akan tetapi, kekuatan mereka ternyata tidak sepadan dengan Si Tanpa Mahkota. Meski sudah mengeluarkan kekuatan semaksimal mungkin, mereka tidak bisa mengalahkan Si Tanpa Mahkota. Berkali-kali Raib, Ali, Seli dan Batozar harus merelakan potongan senjata yang sudah berhasil mereka dapatkan dengan susah payah. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Si Tanpa Mahkota berhasil menggabungkan tiga potongan tersebut.

Secara keseluruhan ketiga novel ini sangat menarik, mendebarkan dan menginspirasi. Dengan lihai penulis berhasil menyajikan kisah yang membuat kita penasaran sejak awal membaca serial ini. Kita akan dibuat bertanya-tanya bagaimana akhir kisah petualangan Raib, Seli dan Ali, juga kejutan apa yang akan dihadirkan oleh penulis pada setiap seri.

Salut dengan bank ide yang dimiliki Tere Liye, yang bisa menciptakan kisah  unik dan jarang digarap penulis lain.  Petualangan Dunia Paralel yang digarapnya berhasil  memikat banyak orang dari berbagai usia  dan berbagai latar profesi.   Padahal genre fantasi dan science fiction memiliki kadar kesulitan yang lebih tinggi dari genre kisah lainnya.  Untuk mengasilkan kisah bergenre  semi fantasi dan science fiction, penulis membutuhkan riset yang mendalam. Karena penulis harus pintar dalam menggabungkan kisah fiksi dengan data ilmiah  secara tepat dan akurat, agar kisahnya tidak terkesan fiktif belaka atau bohong besar dan tidak berdasar. Melalui serial “Bumi” ini setidaknya  mengukuhkan bahwa Tere Liye merupakan penulis mulitalenta yang berhasil menggarap novel dalam berbagai genre.

Keunggulan dari buku-buku ini adalah penulis menceritakan kisahnya dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami.  Dari segi penokohan pun, penulis  berhasil menggambarkan setiap tokoh dengan sikap yang khas dan konsisten dari setiap seri. Pun dengan sudut pandang cerita yang sejak awal konsisten menggunakan sudut pandang orang pertama dari tokoh Raib. Meski pada kisah “Komet” ada sedikit bagian yang tiba-tiba menggunakan sudut padang orang ketiga (hal 120 – Komet). 

Untuk setting cerita juga digarap dengan apik dan menarik, seolah kita merasa berada di tempat kejadian, membuat saya ikut membayangkan hewan-hewan raksasa di dunia Paralel yang menarik tapi juga pastinya mengerikan. Hanya saja pada kisah “Ceros dan Batozar”  ada beberapa bagian yang tidak dijelaskan secara mendetail tentang bagunan kuno, yang sejarahnya mengarah pada Candi Borobudur, meski dengan beberapa perubahan  yang disesuaikan dengan cerita.

Perbedaan dari seri sebelumnya yang ditulis sendiri, ketiga novel ini ditulis dengan menggunakan co-author.  Namun jangan khawatir untuk gaya bercerita masih terasa kental khas Tere Liye. Meski ada sedikit perbedaan, di mana quote inspiratif yang sering memenuhi buku-buku Tere Liye sedikit berkurang.

Beberapa kekurangan dalam novel ini adalah adanya beberapa kesalahan dalam menyebutkan nama pada seri “Komet” di mana banyak sekali tokoh bernama Kay. Di Pulau Hari Rabu panggilan yang benar adalah Petani Kay, bukan Kakek Kay. Panggilan Kakek Kay seharusnya dipakai ketika berada di Pulau Hari Selasa (hal 200 – Komet).  Kemudian  pada “Komet Minor” saya merasa porsi Raib hanya sedikit dibanding Seli. Karena biasanya dari semua seri, Raib kerap memiliki porsi cerita lebih banyak dari yang lainnya.

Membaca tiga seri ini,  saya merasa sedang membaca gabungan kisah dari Harry Potter, Komik One Piece dan Komik Naruto.  Bagaimana tidak untuk tokoh utamanya sendiri, sudah mengingatkan saya akan persahabatan dan petualangan menarik ala Harry Potter, Ron Weasley dan Hermione Grenger meski dengan formasi berbeda. 


Atau Av yang  mengingatkan saya dengan Profesor Albus Dumbledore



Dan Si Tanpa Mahkota yang mirip tokoh Lord Voldemort, meski Si Tanpa Mahkota ini digambarkan memiliki wajah yang memesona :) 



Rasa One Piece saya rasakan ketika membaca petualangan dari satu pulau ke pulau lain (di novel Komet—bagian perompak di Pulau Hari Kamis) guna mencari pulau yang memiliki tumbuhan aneh. Di mana kisah itu seperti perjalanan Ruffi dan teman-temannya yang harus bertualangan ke berbagai pulau untuk menemukan harta karun bernama “One Piece” peninggalan Gol D. Roger. Tak hanya itu ada pula jaring perak (Novel Komet dan Komet Minor)  yang mengingatkan tentang jaring batu laut yang digukanan untuk menangkap orang-orang pemakan buah iblis. Karena di sini ada bagian Raib, Seli dan Ali langsung lemah ketika dikurung di jaring perak (hal 5 – Komet Minor).

[Episode di mana Ruffi, Zorro dan tema-temannya mengejar Crocodile namun mereka ditangkap dengan jaring batu laut]

Satu lagi adalah kekuatan Si Tanpa Mahkota yang bisa menutupi tubuhnya dengan cahaya hitam pekat, yang mengingatkan akan kekuatan  Marshall D. Teach atau dikenal dengan sebutan Kurohige yang bisa melingkupi dirinya dengan asap hitam (hal 350 – Komet Minor).


Kemudian kekuatan Batozar  (Novel Komet Minor) yang bisa membelah diri menjadi enam belas ini seperti jurus dalam Komik Naruto, yaitu jurus seribu bayangan atau kage bunsin no jutsu (hal 75-76 – Komet Minor).



Lepas dari kelebihan dan kekurangan yang ada, seri novel ini sangat menarik untuk dibaca,  karena banyak pengetahuan yang bisa kita dapatkan.

ü  “Balon-balon dengan tenaga gas bisa terbang hingga 10.00-12.000 meter dan membahayakan pesawat terbang.” (hal 29 – Ceros dan Batozar).

ü  “Kalian tahu burung albatros di dunia kita? Nah, burung itu bahkan terbang sambil tidur.” (hal 48- Komet Minor).

ü  “Kamu tahu  wombat?  Hewan berkantong dengan tubuh gendut itu kotorannya berbentuk kubus.” (hal 236-237- Komet Minor).

 Kemudian ada  juga nilai-nilai hidup yang bisa kita jadikan renungan.  Seperti kisah “Ceros dan Batozar”  yang mengajarkan tentang arti penting persahabatan dan keberanian,  “Ketahuilah, bukan tehnik bertarung, bukan menghancurkan gunung-gunung kekuatan terbaik dunia paralel, melainkan persahabatan. Selalu menjadi orang  baik dan berani” (hal 124 – Ceros dan Batozar).

Atau nasihat untuk tidak menilai seseorang hanya dari luarnya saja.  “Kamu tidak bisa  menilai seseorang  hanya dari  wajahnya, hanya dari penampilannya. Itu tidak adil.” (hal  180 – Ceros dan Batozar).

 “Komet” mengajarkan kita tentang pentingnya memiliki sikap baik dan selalu berbuat baik kepada sesama, mau saling menolong. “Ada banyak sekali kekuatan di dunia paralel. Tapi ketahuilah, salah satu yang paling hebat adalah  perbuatan baik.” (hal 87 – Komet).

Dan melalui “Komet Minor”   kita diajarkan tentang setia kawan, kasih sayang dan kebijaksanaan.  “Kita tidak bisa memilih akan terlahir seperti apa,  tapi kita bisa memilih mau menjadi teman-teman terbaik atau tidak.” (hal 141 – Komet Minor).

Secara keseluruhan ketiga novel ini mengajarkan  banyak nilai-nilai kehidupan. Bahwa di mana pun kita tinggal kita harus menjaga perdamaian, jangan ragu untuk berbuat baik dan menolong orang lain, selalu bersikap tulus terhadap teman, serta bijak menyikapi masalah.

Sebagai penutup saya terkesan dengan sindiran halus dari penulis tentang sikap manusia atau masalah politik sosial yang dipaparkan secara tersirat.

ü  “Pengetahuan digunakan untuk  membuat senjata, lupa bahwa senjata itu akan mengerogoti akal sehat dan membuat ketergatungan. Bumi dipenuhi peperangan besar.”  (hal 123 – Ceros dan Batozar).

ü  “Semua pertikaian antar pemilik kekuatan dan  orang-orang biasa hanyalah kedok, topeng. Sejatinya  itu hanyalah perebutan kekuasaan. Politik. Ambisi  orang-orang yang ingin  berkuasa.  Kebencian, prasangka antara pemilik kekuatan dan  orang-orang biasa sengaja mereka jadikan alat agar mereka bisa berkuasa. Penuh pencitraan, penuh kebohongan.” (hal273 – Ceros dan Batozar).

ü  “Tidak mudah lagi  mengajarkan budaya leluhur di zaman berbeda. Generasi sekarang semua serba instan. Apalagi sejarah mereka tidak peduli.” (hal 274-275)

Srobyong. 26-27  April 2019

Thursday, 29 November 2018

[Resensi] Petualangan, Persahabatan dan Sejarah Masa Lalu

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 1 November 2018


Judul               : Ceros dan Batozar
Penulis             : Tere Liye
Co-Author       : Diena Yashinta
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Mei 2018
Tebal               : 376 halaman
ISBN               : 978-602-038-591-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Ketahuilah, bukan tehnik bertarung, bukan menghancurkan gunung-gunung kekuatan terbaik dunia paralel, melainkan persahabatan.” (hal 124).

Masih tentang petualangan seru tiga sahabat; Raib, Seli dan Ali dengan kekuatan masing-masing. Jika pada seri sebelumnya—(baca novel Bintang)—kita diajak menemukan pasak bumi, maka pada seri ini kita diajak bernostalgia sejenak.  Karena pada seri ini, akan hadir beberapa tokoh di masa lalu, yang nantinya akan memiliki peran penting pada seri selanjutnya, yaitu Komet. Di mana mereka akan diajarkan beberapa teknik baru yang tidak pernah mereka duga.

Novel ini sendiri terbagi akan dua cerita. Pertama tentang pertemuan Raib, Ali dan Seli dengan Ceros. Dan bagian kedua, adalah pertemuan mereka dengan Batozar.  Yang jadi pertanyaan siapa itu Ceros dan Batozar? Maka di sinilah kita bisa menemukan jawabannya.

Dikisahkan pada awalnya Raib, Seli dan Ali tengah mengikuti karyawisata sekolah. Akan tiba-tiba, karena Ali, mereka harus berpisah dari rombongan dan melakukan petualangan sendiri ke tempat tidak terduga dan penuh tantangan. Ali memang tidak pernah bisa diam dan selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Meski sudah diingatkan berkali-kali oleh Miss Selena, Seli dan Raib untuk tidak menggunakan teknologi klan lain di bumi, Ali tetap bandel.

Seperti kali ini dengan sensor dunia paralel yang dia buat, dia menemukan aktivitas dunia paralel di sekitar bangunan kuno. Kenyataan itu tentu saja membuat Ali yang selalu penasaran sangat bersemangat untuk menyelidikinya (hal 16).

Tidak punya pilihan, akhirnya Seli dan Raib pun ikut serta dengan perjalanan itu. Awalnya mereka sangat terkagum-kagum dengan sebuah tempat yang begitu indah di dasar laut. Namun tidak lama kemudian, mereka dikejutkan dengan sebuah  serangan mendadak dari dua monster. Dua monster itu terus memburu Ily, kapsul terbang yang diciptakan Ali. Berbagai upaya sudah mereka lakukan untuk mengalahkan dua monsters tersebut. Namun hasilnya nihil. Mereka tetap kewalahan dan tidak bisa berkutik di dalam kapsul. Akhirnya mereka memutuskan melawan secara terbuka dengan keluar dari kapsul. Tapi lagi-lagi mereka harus menerima kenyataan kekuatan dua  monster tersebut tidak sebanding dengan kekuatan mereka.  Mereka terpojok.

Beralih pada bagian kedua. Raib, Seli dan Ali mendengar berita bahwa ada seorang buronan  paling berbahaya dari Klan Bulan yang melarikan diri dari penjara. Dialah Batozar, yang dinyatakan telah membantai  seluruh keluarga salah satu anggota Komite Klan Bulan. Miss Selena sudah memperingatkan mereka untuk tidak berurusan dengan Batozar. Namun ternyata takdir berkata lain. Ketidaksengajaan membuat mereka mau tidak mau berhubungan dengan Batozar. 

Namun karena ketidaksengajaan itu telah membuat Raib, Seli dan Ali menyakini bahwa Batozar bukanlah seorang yang jahat. Mungkin telah ada kesalahpahaman yang membuat Batozar dicap sebagai penjahat.

Membaca novel ini kita akan dibuat penasaran dengan jalan cerita yang agar berbeda dari seri  lain  dari “Bumi”. Dan ini menjadi warna segar yang membuat saya semangat ketika membacanya. Penulis mampu menggiring pembaca untuk menyelesaikan bacaan sampai akhir.  Tentang bagaimana akhir pertualangan ketiga tokoh yang terjebak di bawah laut bersama Ceros,  atau bagaiamana Raib bisa membantu Batozar agar tidak diadili dengan salah. Tidak ketinggalan adalah sejarah tidak terduga tentang dunia paralel, yang menjadi kunci kenapa Ceros berada di bawah laut.  Menarik dan membuat penasaran.

Hanya saja ada bagian yang hemat saya tidak dijelaskan penulis lebih mendalam. Misalnya tentang bangunan kuno, yang tidak disebutkan dengan jelas namanya. Namun terlihat mengarah pada sejarah Candi Borobudur, meski ada sedikit perubahan yang dilakukan penulis.  Tapi lepas dari kekurangannya, kisah yang dituturkan tetap asyik untuk dinikmati. Fakta bahwa Tere Liye kembali mengandeng co-author, ternyata tidak mengurangi khas bahasa penulis yang mudah dipahami dan tidak jlimet.

Sindiran-sindiran halus tentang sikap manusia dan masalah politik sosial dalam novel ini sungguh patut kita renungkan dan sebagai bahan pencerahan.  Pelajaran yang bisa kita dapat dari novel ini adalah ajakan untuk  tidak mudah menyerah, selalu tulus dalam berteman, menjunjung tinggi persahabat dan tidak berburuk sangka. “Kamu tidak bisa  menilai seseorang  hanya dari  wajahnya, hanya dari penampilannya. Itu tidak adil.” (hal  180).

Srobyong, 25 Agustus 2018