Showing posts with label Radar Mojokerto. Show all posts
Showing posts with label Radar Mojokerto. Show all posts

Monday, 16 July 2018

[Resensi] Mengenalkan Akhlak Mulia Melalui Dongeng

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 8 Juli 2018


Judul               : Dongeng Sebelum Tidur #1
Penulis             : Dini W. Tamam
Ilustrator         : Ferlina Gunawan
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 128 halaman
ISBN               : 978-602-03-5695-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Sebagai orangtua kita harus paham, bahwa anak sejak dini sudah harus dikenalkan dengan sikap terpuji atau akhlak mulia untuk membentuk karakter Islami pada anak. Dan salah satu cara pendidikan yang menarik dan disukai anak adalah dengan metode bercerita. Di antaranya kita bisa membacakan dongeng sebelum tidur.

Buku ini terdiri dari 25 kisah dongeng  yang bisa dijadikan referensi dalam memilih kisah-kisah yang tidak hanya menarik dan juga penuh pesan-pesan moral, pendidikan akhlak mulia yang bisa diteladani anak. Selain itu secara tidak langsung  melalui membaca dongeng, akan menumbuhkan minat baca pada anak.  dengan membaca dongen sebelum tidur juga akan mendekatkan hubungan anak dengan orangtua. Tidak ketinggalan, kisah dongeng akan merangsang otak anak menjadi seorang yang kritis.

Sebut saja kisah berjudul “Angsa Bertelur Emas dan Penyihir Jahat”. Menceritakan tentang seorang gadis kecil yang memiliki seekor angsa mungil peninggalan orangtuanya. Ketika angsa itu sudah besar dan mulai bertelur, gadis kecil itu sangat terkejut. Bagaimana tidak ternyata angsanya menghasilkan telur emas. Dia pun menjual terlur emas itu untuk memenuhi segala keputuhannya.

Suatu hari, ketika si gadis kecil ingin menjual telur emasnya, dia bertemu seorang pengimis. Keadaan pengemis itu sungguh membuat gadis kecil itu ibu. akhirnya dia memberikan telur emasnya agar bisa dimanfaatkan pengemis itu. Di lain hari dia juga melakukan hal sama, memberikan telur emas kepada kakek tua (hal 2). Kisah tentang dirinya yang memiliki telur emas pun langsung menyebar. Hal itulah yang membuat seorang peri jahat ingin mencuri telur emas milik gadis kecil itu. Kira-kira berhasilkan rencana si penyihir jahat?

Dongeng ini mengajarkan pada kita untuk menjadi seorang yang dermawan, suka berbagi dengan sesama dan tidak kikir. Selain itu dari kisah ini kita juga dapat mengambil teladan bahwa mencuri itu bukan perbuatan baik dan harus kita jauhi.

Ada pula kisah berjudul “Ayam Hutan yang Pandai”.  Di mana dongeng ini berkisah tentang seeokor ayam yang ingin mencarikan makan anak-anaknya. Namun dalam perjalanannya, dia harus menyeberangi sungai yang airnya sangat deras, yang juga dijaga seekor buaya. Melihat hal itu, si induk ayam pun berpikir keras, tentang bagaimana dia bisa lewat jika ada buaya yang siap menerkamnya kapan saja?

Kisah ini mengajarkan paa kita untuk menjadi seseorang yang cerdas dan sikap saling tolong menolong kepada sesama. Bahwa sebagai sesama ciptaan Allah, kita harus menghormatinya dan tidak berbuat jahat pada orang lain, meski berbeda suku dan budaya.

Tidak kalah menarik ada kisah “Beruang dan Ibunya”. Diceritakan ada seekor beruang yang tinggal di hutan dengan keadaan yang sedikit berbeda dengan beruang lainnya. Beruang ini terlahir dengan keadaan yang tidak sempurna. Jika kebanyakan beruang memiliki kedua tangan untuk mencakar, maka tidak dengan beruang ini. Dia tidak memiliki telapak tangan. 

Tersebab oleh keadaan itu, beruang ini selalu terlihat bersama ibunya. Dia juga kerap diejek binatang lain karena kekurangannya. Hingga suatu hari si beruang menemukan pisau yang ditinggal seorang pemburu. Dia mendapat ide untuk mengingat pisau tersebut pada tangannya.

Kisah ini mengajak kita untuk menjadi pribadi yang saling menghormati kekurangan dan kelebihan orang lain. Kita tidak boleh menghina kekurangan fisik yang dimiliki orang lain. Tidak hanya itu dari kisah ini kita belajar tentang sikap pemaaf yang begitu besar.

Selain dua kisah itu masih ada kisah lain yang tidak kalah menarik. seperti;  Bujang Kaya, Asal Mula Anjing dan Kucing Bermusuhan, Buaya dan Burung Plover, Harimau Ompong dan banyak lagi.
Diceritakan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami anak dan ditambah adanya ilustrasi yang apik, pastinya tidak akan membuat anak bosan saat membaca.  Buku ini memuta banyak sekali pesan moral dan akhlakul karimah.

Srobyong, 21 Februari 2018

Sunday, 24 June 2018

[Resensi] Cara Menyikapi Sebuah Masalah

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 24 Juni 2018



Judul               : Carisa dan Kiana
Penulis             : Nisa Rahmah
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               : 208 halaman
ISBN               : 978-602-03-3957-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Masalah akan selalu ada dalam hidup ini. Karena itu adalah bumbu kehidupan. Tinggal bagaimana kita menyikapi.  “Setiap orang punya masalah. Cara menyelesaikan masalah adalah dengan menghadapinya, bukan dengan menghindarinya lalu memutuskan untuk mengakhiri nyawa.” (hal 135).

Diambil dari Gramedia Writing Project, novel perdana Nisa Rahmah ini menarik dan sangat menghibur. Penulis dengan lues membuat pembaca penasaran dengan kisahnya, hingga sukses menggiring pembaca untuk menamatkan buku ini.  Menceritakan tentang dua tokoh—Carisa dan Kiana yang ternyata memiliki hubungan lebih dari yang mereka duga. Sebuah kenyataan yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya, membuat mereka marah, takut dan bahkan tidak terima.

Carisa adalah gadis yang pintar berorganisasi, yang diam-diam memiliki bakat bermusik serta memiliki kisah kelam tentang keluarga yang selama ini dia simpan sendiri. Dia memiliki sahabat bernama Rama. Kiana adalah siswa yang jago sains, yang bersahabat dengan Stella—si cewek pupuler,  dan sangat menyayangi papanya.

Kehidupan mereka awalnya berjalan seperti biasa—lancar  dan tenteram.  Sampai sebuah kejadian merubah kisah hidup mereka.  Kala itu di SMA Pelita Bangsa sedang ada perebutan jabatan ketua OSIS antara Rico dan Rama. Carisa adalah tim sukses Rama. Dia berusaha kerasa agar sahabatnya itu berhasil jadi ketua OSIS. Namun siapa sangka, Stella—yang merupakan pacar dan tim sukses Rico melakukan tindakan yang membuat Carisa marah besar—dia menyebarkan gosip tentang kedekatan antara Carisa dan Rama (hal 30).

Carisa yang memang memiliki sikap sedikit temperamen, langsung mencari Stella. Sayangnya di sana dia tak menemukan gadis tersebut. Kemarahan Carisa tanpa sadar dialihkan pada Kiana, sahabat Stella, yang berakhir panggilan dari BK—baik itu untuk Carisa, Kiana dan orangtua mereka.

Di sinilah sebuah rahasia lama terkuak. Tentang siapa jati diri Carisa dan hubungan apa yang dimilikinya dengan ayah Kiana. Siapa sangka mereka adalah saudara satu ayah. Itulah kenyataan yang cukup mengejutkan bagi Carisa dan Kiana. Dan mereka belum belum bisa menerima kenyataan itu.

Apalagi bagi Carisa semua begitu tiba-tiba. Sejak kecil dia sudah merasa, kalau dirinya adalah anak yang tidak diinginkan. Ibunya lebih serius dengan karirnya daripada memerhatikannya. Dia hampir jadi korban seksual dari ayah tirinya. Dan kini tiba-tiba muncul orang yang mengaku ayahnya?
Dan bagi Kiana, kenyataan ayahnya pernah melakukan setitik noda di masa lalu, cukup membuatnya syok. Dia tidak menyangka orang yang sangat dia sayangi dan hormati, tega melakukan hal seperti itu.

Masalah lainnya adalah keduanya ternyata menyukai cowok yang sama—Rama. Inilah salah satu alasan yang semakin membuat Carisa dan Kiana belum bisa berdamai dengan keadaan. Carisa lalu menyalurkan kekesalannya lewat musik.  Bersama Rico mereka membuat proyek bersama. Sedang Kiana  lebih banyak menghabiskan waktu dengan Rama.

“Orang yang berpikir bunuh diri itu sama aja dengan pengecut. Menganggap kehidupan setelah kematian seolah nggak ada. Menganggap dengan lari dari masalah yang ada di dunia lantas segala sesuatunya jadi selesai.” (hal 134).

Khas gaya remaja, novel ini membuat saya ikut merasakan apa yang dialami Carisa. Tentang beratnya berbagai masalah yang harus dihadapi olehnya yang masih berseragam abu-abu, juga berbagai ketakutan dan kebingungan yang selama ini menghantui hidupnya.  Hebatnya Carisa ini tipe yang kuat dan tahan banting, meski dia sempat down juga.

Secara keseluruhan, novel ini rekomendasi untuk dibaca. Meski dari segi penokohan, saya merasa penulis lebih banyak mengeksplore tentang Carisa dibanding Kiana, jadi berasa kurang imbang, mengingat novel ini mengkisahkan keduanya. Namun lepas dari beberapa kekurangan yang ada, hal itu tidak menutupi keseruan novel ini.

Membaca novel ini, saya belajar tentang arti pentingnya seorang keluarga. Selain itu dalam menghadapi berbagai masalah, kita tidak boleh mudah menyerah pada keadaan. Hadapi dan cari solusi, jika gagal, maka bisa diperbaiki lagi. Karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.

“Tidak ada yang namanya gagal kalau mereka terus belajar dan memperbaiki diri setelah melakukan kesalahan.” (hal 185).


Srobyong, 11 Maret 2018

Monday, 14 May 2018

[Resensi] Menjadi Muslim Gaul dengan Bersikap Santun

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 29 April 2018 


Judul               : Komik Anak Shaleh, Yuk, Jadi Anak Muslim Gaul
Penulis             : Nagiga Nur Ayati
Ilustrator         : Msfstudio7
Penerbit           : Qibla
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               : 124 halaman
ISBN               : 978-602-394-517-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam  Nahdlatu Ulama, Jepara

Sekarang ini kita pasti sering mendengar kata ‘gaul’ yang kerap didegungkan anak-anak. Mereka selalu berusaha menjadi sosok gaul melalui kacamata mereka sendiri. Sayangnya pengertian gaul di mata anak seringkali salah.  Mereka berpikir gaul berarti mereka melakukan hal-hal menantang, bersikap sangar, memiliki gadget terbaru atau memakai berbagai pernak-pernik yang mencolok. Padahal jika ditilik dari arti kbbi, gaul merupakan hidup berteman atau bersahabat. Yang artinya dalam berteman harus saling meyayangi dan menghargai. 

Oleh karena itu anak harus diarahkan untuk mengetahui makna gaul yang sebenarnya. Salah satunya dengan membaca buku “Komik Anak Shaleh, Yuk, Jadi Anak Muslim Gaul” karya Nagiga Nur Ayati. Dalam buku ini anak akan dikenalkan cara gaul yang baik sesuai dengan tuntunan akhlak Rasulullah saw. Bahwa gaul yang baik adalah gaul yang mematuhi tata krama, yang membuat kita saling berkasih sayang bukan bermusuhan.

Misal saja tentang anjuran untuk berkata lembut.  Dikisahkan ada seorang anak yang tiba-tiba bersikap tidak sopan. Dia memarahi temannya hanya karena tanpa sengaja menghalangi jalannya. Padahal dia bisa menegur dengan baik-baik.  Bukankah ketika kita dikasari juga tidak mau?

Setiap orang pastinya tidak ingin diperlakukan kasar oleh orang lain. Oleh karena itu kita harus menghindari berkata kasar yang bisa menimbulkan sakit hati. Tunjukkan rasa kasih sayang, melalu perkataan yang lembut. Apalagi berkata lembut ternyata bisa menjaga kita dari api neraka. Rasulullah bersabda, “Jagalah dirimu dari api neraka, walau dengan sedekah separuh biji kurma. Dan jika tidak mendapatkanya, maka cukup dengan kata-kata yang lembut.” (hal  20).

Selanjutnya, menjadi gaul itu dengan bersikap setia kawan. Dikisahkan ada lima anak yang membuat janji untuk bertualang bersama. Dalam perjalanan, ada salah satu anak yang tergiur dengan buah mangga yang ada di kebun, yang mereka lewati. Anak yang tertarik itu mengajak teman-temannya untuk mengambil mangga. Namun teman lainnya mengingatkan bahwa mengambil milik orang lain perbuatan tercela. 

Lalu saat mereka melanjutkan perjalan lagi, salah satu anak terjatuh dan mengalami luka. Mereka pun memutuskan menunda perjalanan. Mereka membawa temannya ke rumah sakit dan menunggu temannya sembuh agar bisa bertualang bersama. itulah yang dinamakan setia kawan.

Setia kawan itu harus dalam wadah kebaikan. Jika teman mengajak mencuri, maka kita harus menolak dengan tegas. Setia kawan yang baik adalah dengan melakukan kebaikan bersama-sama. Karena orang mukmin dengan mukmin yang lain seperti satu bagunan, satu dengan yang lainnya saling mengokohkan (hal 44).

Kisah lainnya  adalah tentang ajakan untuk selalu menepat janji. Di mana dikisahkan ada seorang teman meminjam buku. Dia berjanji akan segera mengembalikan setelah membaca buku tersebut. Namun ternyata dia tidak menepati janji. Ketika pemilik buku meminta bukunya, dia selalu menghindar dan menunda-nunda dengan berbagai asalan.

Padahal ketika kita berjanji, kita harus menepati janji tersebut. Rasulullah pernah menerangkan, bahwa ciri-ciri orang munafik itu ada tiga. Yaitu jika  berbicara dusta, jika berjanji ingkar dan jika dipercaya berkhianat.  Pasti kita semua tidak mau disebut sebagai orang munafik, bukan? Oleh karena itu kita harus selalu menepati janji (hal 48).

Selain itu sikap gaul yang perlu kita miliki adalah selalu berkata jujur, saling menasihati,  menjaga rahasia, rendah hati, ikhlas, saling menolong, berprasangka baik, saling memaafkan, tidak kiri, selalu rukun dan banyak lagi.

Perpaduan gambar yang menarik dengan gaya bahasa yang mudah dicerna,  buku ini sangat rekomended dikenalkan kepada anak. Dengan membaca buku ini akan menumbuhkan sikap bertanggung jawab dan saling meyayangi sesama teman. Di sisi lain anak juga belajar tentang tata krama islami yang memang merupakan fondasi kuat bagi anak yang sangat perlu dikenalkan sejak dini.


Srobyong, 12 November 2017 

Tuesday, 20 February 2018

[Resensi] Amalan-Amalan Pembuka Jalan Surga

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 11 Februari 2018


Judul               : Road to Jannah
Penulis             : Robi Afrizan Saputra
Penerbit           : Genta Hidayah
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               : x +254 halaman
ISBN               : 978-602-6359-27-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Jika kita diberi pertanyaan apakah ingin masuk surga atau neraka, maka sudah pasti jawaban yang akan kita utarakan adalah surga. Semua orang, baik anak-anak, rejama, bahkan orangtua pastinya ingin masuk surga. Tidak ada yang tidak. Karena konon surga adalah tempat indah yang menghadirkan banyak nikmat bagi penghuninya kelak. Hanya saja, apakah pantas kita mengharap surga jika masih banyak dosa yang  sering kita lakukan? Kita belum memantaskan diri dan masih malas-malasan dalam melakukan ibadah dan kebaikan?

Memilih hidup di surga setelah mati adalah pilihan tepat dan harus penuh tanggung jawab. Pilihan  untuk hidup di surga adalah pilihan yang harus diusahakan dengan semaksimal mungkin. Jangan sampai kita ingin hidup di surga, tetapi tidak ada usaha untuk meraihnya. Jika masih malas-malasan dalam beribadah, tentu mendamba hidup di surga setelah kematian masih jauh sekali. Adapun orang yang ahli ibadah saja, masih perlu usaha yang maksimal untuk bisa mendapatakn surga, apalagi bagi kita yang biasa-biasa saja. Tentu kuantitas dan kualitas ibadah kita harus ditingkatakan sekarang juga (hal 11).

Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui amalan-amalan yang bisa menjadi jembatan pembuka surga. Mengingat surga memang bukan tempat biasa yang bisa dimasuki sembarang orang. Surga adalah tempat istimewa yang disiapkan untuk orang-orang pilihan Tuhan. Buku ini hadir dengan kemasan menarik, membahas tentang surga—baik dari segi kenikmatan yang akan kita temuia juga amalan-amalan yang akan mengangarkan kita ke surga. 

Jika kita ingin menjadi penghuni surga amalan pertama yang harus kita lakukan adalah ‘Taubatan Nasuha’—yaitu taubat yang sebenar-benarnya dengan tidak mengerjakan lagi dosa-dosa tersebut. Karena  sebagai hamba kita tidak pernah lepas dari kekhilafan, kesalahan dan dosa-dosa. Namun, bukan berarti kita terus-menerus berada dalam lembah nista itu. Kita harus selalu bertekad agar lebih baik lagi. Memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukan (hal 172).

Selanjutnya kita harus memperbaiki shalat  yang kita lakukan. Mengingat shalat adalah tiang agama dan amalan yang akan dihisab pertama kali. Barangsiapa mendirikan shalat, sesungguhnya ia telah mendirikan agama. Barangsiapa meruntuhkan (tidak menunaikan) shalat, maka ia telah meruntuhkan agama (hal 175).  Yang dalam mengerjakan shalat kita harus khusyuk—yaitu memusatkan hati dan pikiran kepada Allah. Tidak ada pikiran-pikiran lain selain memikirkan Allah. Tidak terpengaruh dan dipengaruhi oleh apa pun. Manusia harus benar-benar memustakan hati, perasaan dan pikirannya kepada Allah., agar  puncak kekhusyukan itu dapat digapai dengan sempurna.

Agar kita bisa mencapai kekhusyuk-an ada beberapa hal yang perlu kita lakukan. Yaitu menyiapkan hati dan diri sepenuhnya untuk shalat, memiliki niat yang kuat, tuma’ninah, memahami lafal shalat yang diucapkan, fokus melihat tempat sujud, berdoa agar dijauhkan dari godaan setan dan jangan shalat dalam keadaan mengantuk, dan menahan kentut.

Kemudian kita harus memuliakan  orangtua. Kita harus memuliakan dan berbakti kepada mereka. Mengingat rida Allah itu bergantung dengan rida orangtua kita. Amalan lain yang perlu kita lakukan adalah rajin menjalankan puasa, baik puasa wajib atau puasa sunnah. Perli kita ketahui, “Sesunguhnya di surga  ada suatu pintu yang disebut Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada Hari Kiamat.” (hal 185).

Selain itu amalan berpuasa adalah amalan yang spesial di sisi Allah. Karena jika amalan shalat langsung untuk manusia yang mengerjakannya, amalan puasa langsung untuk Allah Sang Pencipta.Allah juga mencintai orang-orang yang menyambung tali  silaturahmi—sebuah upaya untuk menjaga hubungan pertemanan atau persahabatan. Upaya ini merupakan hal baik yang harus diteladani. Jangan sampai kita menyambung tali silaturahmi, karena itu berarti kita telah memutuskan rantai kebaikan sebuah persahabatan.

Selain itu masih banyak amalan lain yang harus kita terapkan. Seperti menyantuni anak yatim,  menepati janji dan jujur, memakmurkan masjid, bersyukur kepada Allah dan banyak lagi. Buku ini patut dibaca bagi orang-orang perindu surga. Memakai gaya bahasa yang gurih dan renyah, membuat buku ini sangat menarik untuk dibaca. Beberapa kekurangan yang ada tidak mengurasi esensi buku ini.

Srobyong, 12 November 2017 

Thursday, 14 December 2017

[Resensi] Catatan Perjuangan Dakwah di Amerika

Dimuat di Radar Mojokerto, 26 November 2017 


Judul               : Kuketuk Langit dari Kota Judi Menjejak Amerika
Penulis             : Peggy Melati Sukma & Imam Shamsi Ali
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
 Tebal              : 336 halaman
ISBN               : 978-602-385-318-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara


Siapa yang tidak mengenal Peggy Melati Sukma?  Dia adalah mantan artis Indonesia  yang cukup terkenal dan sukses belasan tahun silam.  Selain menjadi artis, Peggy juga dikenal dengan  aktivitas sosialnya. Dia pernah menjadi duta Indonesia untuk berbicara di PBB guna membahas UU Perlindungan Perempuan di New York. Selain itu dia juga pernah menjadi wakil Indonesia untuk mengikuti “World  Art Performance” di Pakistan. Dia juga ditunjuk sebagai Duta Pendidikan Kesetaraan. Namun kehidupannya berubah setelah memutuskan berhijrah sebagai muslimah  yang kaffah.

Buku ini dengan gaya bahasa yang menarik memaparkan tentang kehidupan Peggy setelah dia memutuskan berhijrah.  Dia memahami bahwa orang yang berhijrah adalah yang selalu meninggalkan segala yang dilarang Allah.  Oleh karena itu dia mulai merubah cara bergaul dan cara mencari nafkah. Yang berarti dia kehilangan kontrak kerja, kehilangan karier, kehilangan usaha dan proyek-proyeknya dan lain sebagainya.  Selain itu dia juga berhenti dari pergaulan bebas dan melepas diri dari alkohol. (hal 42-43). 

Peggy benar-benar totalitas ketika sudah memutuskan memperbaiki jalan hidupnya. Dia ingin fokus berusaha membenahi diri dan hidup di dihadapan Allah.  Namun siapa sangka, jika di kemudian hari Peggy malah ikut berkontribusi dalam penyebaran Islam. Dia menjadi sosok inspiratif yang berjuang dalam lingkungan dakwah Islam. Dalam kurun waktu tiga tahun semenjak menapaki jalan hijrah, Peggy sudah melakukan dakwa kelilingi Indonesia dan Dunia sampai mencapai 20 negara (hal 50).

Dan salah satu negara yang disambangi Peggy sebagai tempat dakwahnya adalah Amerika.   Kita pasti ingat, dalam tragedi 11 September 2001, banyak negara Barat termasuk Amerika yang terjangkit Islamphobia.  Hal ini pada akhirnya mengakibatkan kerenggangan dalam hubungan Islam dan Amerika.  Bahkan sempat terdengar kabar kalau Presiden Amerika, Donald Trump membuat kebijakan perihal aturan yang melarang pendatang dari tujuh negara mayoritas Islam. Ketujuh negara itu adalah Iran, Irak, Suriah, Somalia, Yaman, Libia dan Sudan.

Melihat kenyataan itu, tentu saja Peggy sangat sedih. Karena sesungguhnya Islam adalah agama yang sangat mencintai kedamaian. Teroris itu tidak ada hubungannya dengan agama. Kekerasan bisa terjadi di mana dan oleh siapa saja. Bersama Imam Shamsi Ali, Peggy melakukan dakwah. Namun perlu diingat, dakwah Islam di sini bukan berarti kita ingin mengislamkan orang di luar Islam.

Misi keislaman ialah, kita berdiri sebagai seoorang Islam yang mengacu pada aturan Allah (hal 107). Dakwah ini maknanya menyampaikan tentang kebaikan, ketentuan, perintah, larangan, tuntunan, memperjuangkannya agar jadi sistem hidup. Dan tidak kalah penting Imam Shamsi Ali dan Peggy mencoba meluruskan salah paham atau salah persepsi tentang Islam di mata Amerika. 

Salah satu kegiatan dakwah yang dilakukan Peggy berlangsung di ruang besar di Konsulat Jenderal Republika Indonesia. Di sana dia menyampaikan materi sesi inspirasi Islami terkait hijrah selama 3 jam, yang alhamdulillah mendapat respon positif dari jamaah.  Begitu pula saat Peggy memberikan materi di Atlanta—ibu kota negara bagian Georgia, Amerika. Serta memberikan dakwah Islam di Las Vegas yang kerap disebut sebagai kota Judi.

Namun tidak selamanya perjalanan dakwah yang dilakukan Peggy berjalan lancar. Saat dia datang di sebuah forum yang membicarkan bagaimana membuat dunia menjadi tempat hidup yang lebih baik,  apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Saat salah seorang Muslim mau berbicara, audience di tengah-tengah dan kanan-kiri berteriak, “Go a way from us. Leave us, don’t kill us, you kill our family, you kill our children, we want to live our life.” (hal 202).

Di sini Peggy sadar Islamphobia ternyata masih ada. Dan inilah tantangan kaum Muslim dalam berdakwah untuk menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang seperti itu.  Kesedihan Peggy sedikit terobati dengan keberhasilan forum dakwah yang bertujuan membangun jembatan-jembatan kebersamaan, bukan untuk membangun tembok-tembok penghalang antara sesama manusia dengan latar belakang berbeda (hal 204).  Sebuah buku yang mengisnpirasi dan patut kita baca untuk perenungan diri.

Srobyong, 12 Agustus 2017 

Tuesday, 7 November 2017

[Resensi] Membangun Karakter Anak Lewat Cerita

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 29 Oktober 2017 


Judul               : Topi Warna-Warni
Penulis             : Dian Kristiani
Ilustartor         : Alvin Andhi
Penerbit           : Kanisius
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 24 halaman
ISBN               : 978-979-21-5173-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Pendidikan karakter adalah sebuah usaha dalam mengenalkan tentang konsep moral—di antaranya adalah tentang sikap atau pun masalah perilaku.  Mengingat pendidikan karakter itu akan sangat berguna dalam kehidupan bermasyarakat, maka pendidikan karakter seyogyanya harus dikenalkan sejak dini. Dengan pendidikan sejak dini,  nilai-nilai moral itu akan merasuk atau terpatri dalam diri anak.

Di antara nilai-nilai karakter yang  perlu diketahui adalah religius, jujur, toleransi, suka menolong, disiplin, cinta tanah air, bertanggung jawab, kreatif,  memiliki rasa ingin tahu yang besar, pemaaf dan banyak lagi.  Dan pastinya setiap orangtua pasti ingin memiliki anak yang berkarakter baik., bukan? Karena dengan memiliki karakter baik, maka dampak yang diperoleh juga akan baik.  sebagaimana kata pepatah, “Apa yang kita panen, itu sesuai dengan apa yang kita tanam” dalam artian kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula.

Belum lagi anak merupakan aset bangsa. Merekalah yang pada akhirnya akan menjadi penerus dalam perjuangan di tanah air ini. Oleh karenaa itu pendidikan karakter itu sangat penting untuk dikenalkan anak sejak dini. Salah satu caranya adalah  melalui media bacaan.  Kita bisa membangun karakter anak lewat cerita-cerita seru yang memotivasi. Selain itu kita juga membantu anak dalam mengembangkan imajinasi. Mengingat saat ini cerita anak selalu dilengkapi dengan ilustrsi yang menarik, yang selalu mengundang minat anak.  Tidak ketinggalan dalam hal ini secara tidak langsung, kita juga mengenalkan minat baca kepada anak.

Salah satu buku yang patut dikenalkan kepada anak sebagai jembatan pendidikan anak adalah buku karya Dian Kristiani—merupakan penulis buku anak yang sudah banyak menghasilkan karya—berjudul “Topi Warna-warni”. Buku ini dikemas dengan menarik, sangat cocok dibaca anak berusia 6-9 tahun. Di mana buku ini mengisahkan tentang seekor siput yang gemar dipuji oleh teman-temannya. Namun sejak kehadiran Jerapah, tidak ada lagi yang memuji Siput. Dia merasa tersisih dan marah. Dia iri dengan Jerapah (hal 6). Kira-kira apa yang akan dilakukan Siput? Dan bagaimana tanggapan Jerapah sendiri tentang sikap Siput?

Dipaparkan dengan gaya bahasa yang pas buat anak, pastinya buku ini sangat mudah dipahami. Di sini akan dikenalkan dengan sikap peduli kepada temanya—yaitu ringan tangan atau suka menolong. Selain itu anak juga diajak untuk menjadi pribadi yang tidak sombong, selalu bersyukur dan tidak suka iri.  Sebuah buku yang patut dibaca dan mendapat aprsesiasi.

Srobyong, 22 September 2017 

Monday, 2 October 2017

[Resensi] Sebuah Usaha dalam Menemukan Jodoh Terbaik

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 1 Oktober 2017

Judul               : Complicated Thing Called Love
Penulis             : Irene Dyah
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Februari 2016
Tebal               : 256 halaman
ISBN               : 978-602-03-2557-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Adilkah sebuah hubungan jika salah satunya begitu mantap, sementara seorang lainnya masih terbata-bata menetapkan hati?” (hal 140).

Setiap orang sudah pasti ingin mendapatkan jodoh sesuai pilihan hati. Seseorang yang memiliki standar kriteria yang kita harapkan dan pastinya juga kita cintai.  Begitu pula dengan Nabila. Dia berpendapat pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Dan dia berharap apa yang dia putuskan nanti adalah pilihan yang tepat. Memilih sosok yang nantinya akan menjadi imam, kekasih, sahabat dan  ayah dari putra dan putrinya tentu harus selektif.

Novel ini dengan mengambil tema utama cinta yang memaparkan dengan apik tentang dilema yang sering dihadapi kaum perempuan. Apalagi kalau bukan jodoh. Membicarkan jodoh itu sama halnya dengan membicarakn cinta—tidak akan pernah habis. Selalu menarik dan asyik untuk diikuti.

Mengisahkan tentang Nabila yang tengah dilema dalam menentukan siapa calon pendamping paling baik dalam hidupnya.  Selama ini,  hidup Nabila sudah terbiasa diarahkan oleh ibunya. Apa saja yang dilakukan Nabila selalu atas  saran dan masukan ibunya. Bahkan ketika dia akhirnya memutuskan melajutkan pendidikan sekolahnya di Jepang. Begitu pula kali ini. Ibunya dengan gencar menjodohkan Nabila dengan Bagas—anak dari salah satu kenalannya.  Memang benar Bagas sangat baik dan memiliki karir cemerlang. Namun apakah itu cukup jika hati Nadia belum sepenuhnya terpatri di dalamnya?

Di sinilah masalahnya. Akhirnya Bagas benar-benar melamarnya. “Semua berjalan seperti yang kita inginkan. Jadi kupikir, sudah waktunya aku menyerahkan cincin pertunangan ini. ibumu juga menyetujuinya .... Restu dari beliau sama pentingnya dengan pendapatmu.” (hal 95).  Belum lagi Bagas juga mengajak Nabila untuk pulang bersama ke Yogyakarta untuk mempersiapkan lebih lanjut tentang pertunangan mereka.

Merasa bingung dan tidak tahu harus bagaimana, Nabila kemudian meminta saran kepada empat sahabat yang dia miliki. Ada Sora, Aalika, Dania dan Dewi. Dia pun dengan jujur menceritakan bahwa masih ada bayang-bayang masa lalu—cinta monyet Nabila yang masih bersarang kuat di hatinya. Bayu itulah laki-laki yang masih memenuhi ruang di hati Nabila.

“Menikah tidak mungkin hanya pakai cinta. Cinta kan bisa dipelajari, bisa dipupuk. Apalagi untuk pasangan nikah. Yang penting pilih calon yang oke dulu, meyakinkan sebagai suami dan bapak. Pilih dulu dengan logika. Urusan hati berikutnya saja menyusul. Belajar mencintai pelan-pelan pasti bisa dilakukan. Pepatah ‘witing tresno jalaran saka kulino itu bukan omong kosong.” Dania memberi saran (hal 108).

Namun nyatanya Nabila masih bingung. Bahkan ketika ketiga temannya masing-masing memberi saran, Nabila tetap masih ragu dalam menentukan pilihan. Antara mempertahankan ego memilih Bayu atau menerima Bagas yang tak sepenuhnya dia cintai.

Ini bukan kali pertama membaca karya Irene Dyah.  Dan selama ini saya selalu menikmati kisah-kisah yang disajikannya. Begitupula dengan novel ini.  Meski ada rasa berbeda dari novel-novelnya yang terdahulu, novel ini tetap sangat menghibur dan memuat banyak pesan moral. Di sini penulis memaparkan kisah dengan bahasa yang renyah dan mudah dipahami.

Membaca novel ini seperti melihat potret kehidupan nyata yang kerap terjadi di sekeliling kita. Bagaimana seorang wanita merasa dilema ketika harus menetukan jodoh terbaik untuk menjadi pasangan seumur hidupnya. Juga tentang sosok ibu yang selalu berusaha mengatur kehidupan sang anak. Memang benar  itu baik. Namun kadang kala sebuah paksaan itu tidak patut dilakukan. Semestinya orangtua harus memberi kesempatan anaknya dan saling berdiskusi untuk jalan yang terbaik.

Dari novel ini kita bisa belajar bahwa dalam memilih pasangan hidup kita harus memikirkan dengan baik dan selektif.  Selain cinta kita juga harus melihat tentang akhlaknya. Karena laki-laki yang baik biasanya akan membawa pasangannya pada jalan yang baik pula. Dan antara anak dan ibu harus ada komunikasi yang baik agar tidak terjadi salah paham.

Srobyong, 2 September 2017