Showing posts with label Kaifa. Show all posts
Showing posts with label Kaifa. Show all posts

Wednesday, 15 August 2018

[Resensi] Menjadi Pemimpin Harus Bertanggung Jawab

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 2 Agustus 2018


Judul               : Lead Differently
Penulis             : Pambudi Sunarsihanto
Penerbit           : Kaifa
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 204  halaman
ISBN               : 978-602-0851-92-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Pemimpin adalah orang yang mengemban tugas  dan bertanggung jawab untuk memimpin sebuah organisasi atau kelompok tertentu, serta bisa mempengaruhi anggota untuk melakukan tugas dengan baik. Ketika menjadi seorang pemimpin, kita harus siap untuk melindungi dan mengayomi semua anggota dengan sebaik-baiknya.

Saat ini minat masyarakat untuk menjadi seorang pemimpin cukup banyak.  Baik itu dalam takaran pemimpin di sekolah, komunitas, perusahaan hingga menjadi pemimpin sebuah negara. Namun perlu kita sadari, menjadi pemimpin itu bukan perkara yang mudah.  Mengingat seorang pemimpin tidak hanya mengurusi tugas pribadi diri sendiri, tapi mencakup semua rakyat atau anggota yang dinaungi.

Oleh karena itu, bagi siapa saja yang ingin menjadi seorang pemipin, kita harus memerhatikan hal-hal yang perlu kita siapkan, agar ketika menjadi pemimpin, kita bisa menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan berdedikasi. Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang bertindak semena-mena, tidak bertanggung jawab dan hanya menfaatkan jabatan yang dimiliki. Buku ini dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, mengajak kita untuk memahami bagaimana caranya untuk menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab serta disukai bawahannya.

Menjadi seorang pemimpin memang bukan perkara mudah. Apalagi jika selama ini kita sudah terbiasa bekerja secara mandiri. Untuk itu, kita perlu merubah fokus, yang artinya kita harus mulai berpikir juga tentang tim yang kita miliki. Kita harus belajar menjadi pemimpin yang baik dengan mulai membaca buku-buku yang berhubungan dengan leadership. Ketika menjadi seorang pemimpin, kita harus sia dan mau mendengarkan saran dari anak buah, memberi teladan yang baik dan bisa mengelola waktu (hal 4).

Sebagai seorang pemimpin, jangan segan memberi motivasi kepada anak buah, jika memang diperlukan. Akui prestasi dan kontribusi mereka yang sudah membantu kita dan buat mereka berkembang dalam jenjang karier yang dimiliki. Misalnya dengan merekomendasikan pelatihan atau buku-buku bagus yang perlu dikaji. Tidak kalah penting, ketika menjadi pemimpin, kita harus memiliki empati terhadap anak buah. Ciptakan suasan kerja yang menyenangkan, sehingga mereka betah selama bekerja dan bisa bekerja secara maksimal, sehingga hasil kerja pun sangat memuaskan.


Misalnya ketika kita dituntut untuk menjadi leader dalam sebuah tim. Tentu saja kita harus mengetahui tentang apa saja yang perlu kita lakukang agar bisa meng-handle semua anak buah, tanpa adanya sikap otoriter dan bossy. Karena hal itu akan berpengaruh pada kondisi jiwa anak buah. Perlu kita sadari, setiap orang bahkan diri kita sendiri ketika mendapat perlakuan yang tidak etis, pasti tidak suka. Oleh karena itu dalam melakukan sesuatu kita juga harus memikirkan dampak yang akan diterima oleh orang lain.

Dalam upaya mengembangkan sebuah tim agar kompak dan sukses, Bruce Tuckman membagi pengembangan tim menjadi 4 fase. Pertama,  fase forming atau mulai saling mengenal karena baru terbentu sebuah tim. Kedua, fase Stroming, yaitu keadaan kacau balau, karena mungkin kita belum bisa saling berbeda pendapat. Ketiga, fase Norming, pada fase ini anggota sudah mulai mengenal dan sudah bisa menyelesaikan soal perbedaan pendapat. Dan terakhir adalah fase performing. Pada bagian ini tim mulai menunjukkan kinerja yang maksimal. Meski ada konflik, mereka sudah bisa menyelesaikan masalah dengan baik. Nah, sebagai seorang pemimpin, kita harus mengenali semua fase tersebut agar bisa mengantispasi. (hal 37).

Selain itu, masih banyak tips dan trik lain yang menarik untuk dikaji dan pelajari lebih dalam, bagaimana cara menjadi pemimpin yang bertanggung jawab juga berdedikasi. Memang tidak mudah namun, jika ada usaha pasti bisa. Itulah sedikit gambaran yang ingin disampaikan penulis dalam memahami konsep kerja seorang pemimpin. Buku yang sangat menarik dan patut dikaji bagi siapa saja yang ingin menjadi seorang leader.

Srobyong, 25 Mei 2018

Tuesday, 17 July 2018

[Resensi] Kualifikasi Menjadi Pemimpin Sukses

Dimuat Jateng Pos, Minggu 8 Juli 2018 


Judul               : Lead Differently
Penulis             : Pambudi Sunarsihanto
Penerbit           : Kaifa
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 204  halaman
ISBN               : 978-602-0851-92-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kemampuan tersendiri agar bisa menjadi sosok yang bisa mengatur karyawan juga bertanggung jawab dengan tugasnya. Buku ini hadir, menjelaskan tentang kualifikasi menjadi pemimpi sukses. Bagaimana menjadi pemimpin yang bisa diterima oleh karyawan, bagaimana mengkoordinasi karyawan,  bagaimana menciptakan tim kerja yang baik, peran apa yang harus dilakukan agar menjadi pemimpin sukses,  dan banyak lagi.

Agar Menjadi pemimpin yang diterima dan disukai karyawan, maka kita perlu bersikap terbuka. Artinya mau mengakui pretasi dan kontribusi yang dilakukan oleh karyawan. Karena bagaimana pun, seorang karyawan sudah bekerja keras melaksakan tugas mereka. Dan sebagai pemimpin, kita harus mengharagi usaha mereka. Dengan tidak pelit memberi pujian,  karyawan pasti merasa senang karena sudah dihargai (hal 10).

Ciptakan juga suasan kerja yang menarik. Dimulai dari dekorasi ruang, latar belakang musik, suasan kerja yang ramah, suasana yang tidak resmi, kegiatan tim bersama, makan siang dan malam bersama, dan sebagainya. Hal ini pasti akan menambah semangat dan energi positif bagi karyawan dalam bekerja. Sebaliknya suasana kerja di bawah tekanan akan membuat  karyawan merasa tegang dan tidak bisa bekerja dengan rileks.

Ketika mengkoordinasi karyawan, pemimpin haruslah bersikap tegas dan adil.  Pemimpin harus mengingatkan semua orang tentang tujuan yang hendak dicapai dalam perusahaan yang dipimpin, selalu menempatkan kepentingan perusahaan di atas semuanya. Tapi di sisi lain, pemimpin juga harus mampu memberi motivasi kepada karyawan untuk bekerja dengan baik dan benar.

Kemudian untuk menciptakan tim kerja yang baik, maka pemimpin perlu memahami empat fase. Pertama  fase forming (pembentukan). Dalam fase ini pemimpin harus memperjelas tujuan yang harus dicapai tim, peran dan tanggung jawab tim, serta memberi arahan. Kedua fase storming (kacau balau). Pemimpin harus mengajak timnya untuk berdiskusi dan membicarakan masalah secara terbuka dan membimbing anggota tim untuk memecahkan topik yang sulit dipecahkan.

Ketiga fase norming (kembali normal). Di sini pemimpin harus memainkan peran sebagai fasilitator agar tim dapat mencapai tujuan bersama.  Terakhir fase performing (menunjukkan kinerja). Yang mana tugas pemimpin adalah mengevaluasi dan mencari area yang masih bisa diperbaiki dan merayakan kemenangan sebagai bentuk motivasi kepada anggota tim (hal 38-39).

Selanjutnya agar seorang pemimpin sukses, maka perlu kualifikasi sebagai berikut; memiliki sikap cataliyst, artinya  seorang pemimpin adalah seseorang yang mempercepat agar perubahan itu segera tercapai. Hal itu bisa tercapai dengan membayangkan apa yang harus dicapai, memikirkan apa yang harus dilakukan,  dan segera mengimplementasikan apa yang sudah bisa dilakukan sampai mendapati hasil nyata dan terkahir segera mengkonfirmasi ke semua orang saat hasilnya sudah tercapai.

Pemimpin harus memiliki kemampuan berkomunikasi, baik kemampuan dalam berbicara juga mendengarkan. Kita harus berani menyampaikan visi yang kita buat, kemudian mau mendengarkan masukan dan pendapat dari orang lain, serta mau berdiskusi untuk mencapai mufakat.  Pemimpin harus lihai menjalin network atau jaringan. Agar kita bisa memperoleh banyak jaringan, maka yang diperlukan adalah sikap ringan tangan, mau membantu orang lain, sebelum dibantu.

Pemimpin punya visi dan tujuan yang jelas, dilengkapi dengan implementasi dan eksekusi yang kuat. Serta siap menjadi coach (pembimbing), jika sewaktu-waktu karyawan belum siap menjalankan perubahan yang diinginkan perusahaan (hal 82-83). Jangan ragu memberi motivasi pada karyawan yang membutuhkan. Misalnya dengan memberi arahan, memberi penghargaan non-finansial dan finansial jika melakukan kinerja yang bagus, membangun kepercayaan dengan karyawan, memberi kesempatan karyawan berkembang dan banyak lagi.

Buku ini menarik dan patut dikaji, bari siapa saja yang ingin belajar tentang kepemimpinan. Apalagi buku ini ditulis oleh Pambudi Sunarsihanto, yang memang sudah lama berkecimpung sebagai leader.Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Menurut Ivan Christianto, Public Relation Manager memaparkan, “Pambudi adalah Indiana Jones-nya kepemimpinan  jaman now. Pambudi benar-benar memahami nilai pokok para pemimpin dan bagaimana konsep tersebut dapat berkembang sejalan dengan pesatnya perkebangan dunia.” (hal viii).

Srobyong, 25 Mei 2018 

Saturday, 7 July 2018

[Resensi] Mengenali Kecerdasan Anak dengan Multiple Intelligences Research

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 29 Juni 2018


Judul               : Semua Anak Bintang
Penulis             : Munif Chatib
Penerbit           : Kaifa
Cetakan           : 1, Juli 2017
Tebal               : 104  halaman
ISBN               : 978-602-0851-88-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Di sadari atau tidak kita—orangtua dan guru—kerap sekali menghakimi anak tentang ketidakmampuna mereka atau kelambatan yang dimiliki. Jika anak tidak bisa memahami pelajaran dengan cepat, maka kita akan menilai anak itu sebagai anak bodoh. Dan jika ada anak yang tidak bisa diatur karena terlalu berisik saat pelajaran dimulai, kita akan menilai anak itu sebagai anak yang bandel atau nakal.

Padahal anggapan itu belum tentu benar seratur persen. Karena sesungguhnya setiap anak memiliki kecenderungan kecerdasan yang berbeda dan unik. Setiap anak memiliki cara sendiri  dalam menyerap pengetahuan dan memiliki kecenderungan tersendiri dalam memperlihatkan kecerdasan mereka. Dan sebagai orangtua juga guru, semestinya kita bisa melihat potensi itu.

Ketika anak menghadapi kesulitan dalam beberapa hal,  bisa jadi itu bukan karen bodoh, tapi mungkin saja anak memiliki hambatan tertentu.  Misalnya masalah internal, yang sering disebabkan cedera otak. Seperti autisme, cerebal palsy dan down syndorme. Ada juga  masalah eksternal, di mana umumnya disebabkan stimulus yang tidak tepat oleh pemberi informasi kepada penerima informasi. 

Di mana hambatan belajar dari masalah internal dapat diatasi dengan gradasi keberhasilan yang beragam dengan cara terapi sesuai dengan hambatannya. Sementara pada hambatan eksternal, guru dan orangtua harus mengetahui gaya belajar anak tersebut dan harus berinteraksi dengan gaya mengajar yang sesuai dengan gaya belajar anak (hal 3).

Oleh karena itu, sebagai guru dan orangtua, jangan terburu-buru mengatakan anak kita lemah, bodoh dan tidak mampu. Ternyata setiap manusia memiliki banyak kecenderungan kecerdasan, tak hanya terbatas pada satu atau dua kecerdasan. Setiap anak berpotensi untuk  cerdas bahasa, cerdas angka, cerdas gambar, cerdas gerak, cerdas gaul, cerdas diri, cerdas musik dan cerdas alam.

Buku karya Munif  Chatib ini akan membantu kita dalam mengenali kecerdasan anak melalui Multiple Intelligences Research (MIR)—merupakan sebuah riset untuk mengetahui kecenderungan kecerdasan anak. Metode ini merupakan  hasil pengembangan teori Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh Howard Gardner—seorang psikolog modern pada tahun 1983 di Harvard University.

Howard Gardner menyatakan bahwa kecerdasan anak itu tidak dapat dilihat hanya melalui angka-angka atau hasil tes standar. Kecerdasan bersumber dari kebiasaan (habit) yaitu perilaku yang cenderung diulang-ulang (hal 5).

Masih menurut Howard Gardner, dia menyampaikan, “Sebagai orangtua dan guru, jangan terburu-buru mengatakan anak kita lemah, bodoh dan tidak mampu. Karena sebenarnya setiap anak memiliki banyak kecenderungan kecerdasan yang tidak hanya satu. Setiap anak berpotensi memiliki kecerdasan bahasa, cerdas angka, cerdas gambar, cerdas bergerak, cerdas bergaul, cerdas musik dan cerdas alam.” (hal 11).

Dengan menerapkan MIR, guru bisa mengatahui gaya belajar siswa. Yang mana itu akan membantu guru dalam menerangkan pelajaran.  Bagi pihak sekolah, merode MIR ini bisa membantu class  mapping (pembagian kelas) sesuai dengan gaya belajar siswa. Dan bagi orangtua sendiri, mereka jadi memahami tentang potensi kecerdasan anak,  bakat terpendam anak,  cara pendekatan komunikasi dengan anak dan banyak lagi. Lalu bagaimana cara menerapkan metode MIR ini? Selengkapnya bisa dibaca dalam buku ini.

Buku ini dipaparkan dengan bahasa yang lugas dan berstruktur. Mencerahkan dan memberi banyak wawasan tentang psikologi anak. Saya rasa buku ini sangat patut dibaca bagi orangtua juga para pendidik. Karena hal ini akan sangat membantu dalam mengenali potensi  kecerdasan anak.

Srobyong, 21 Januari 2018

Monday, 11 June 2018

[Resensi] Mengenalkan Ciptaan Tuhan Kepada Anak

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 3  Juni 2018


Judul               : Bertanya Kepada Alam
Penulis             : T. Djamaluddin
Penerbit           : Kaifa
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 100 halaman
ISBN               : 978-602-0851-94-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Sudah menjadi tugas orangtua untuk mendidik anak. Karena orangtua merupakan madrasah pertama bagi anak. Salah satu hal  penting, yang perlu dikenalkan kepada anak sejak dini adalah pendidikan  agama. Dengan bekal pendidikan  agama sejak dini, hal itu akan bermanfaat untuk tumbuh kembang anak dalam memahami konsep hidup beragama juga konsep moral.  Selain itu juga akan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Dalam mengenalkan pendidikan agama kepada anak,  orangtua harus cerdas dan kreatif, agar anak tidak mudah bosan. orangtua harus pandai menarik minat anak, agar mau belajar dan tertarik dengan pendidikan agama itu sendiri. Salah satunya dengan media buku. Apalagi dengan tambahan ilustrasi yang menarik, pastinya hal itu akan membuat anak semangat. Di sisi lain mengenalkan media buku pada anak, juga menjadi ajang untuk mengenalkan minat baca pada anak sejak dini.

Salah satu buku yang patut dibaca anak sebagai langkah awal mengenalkan pendidikan agama adalah buku “Bertanya Kepada Alam” karya T.Djamaluddin. Dalam buku ini dengan paparan yang sederhana dan tidak terkesan menggurui, penulis membuat anak  mengenal pendidikan agama dengan mudah dan menyenangkan.   Uniknya selain memuat pendidikan agama, dalam buku ini penulis juga menyisipkan pendidikan sains dan teknologi. Jadi dalam satu waktu, anak bisa belajar dua hal.

Misalnya saja terjadinya siang dan malam. Dalam surat Ali Imran ayat 190 dijelaskan, “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.  Di sini dijelaskan bahwa adanya siang dan malam memang diciptakan Allah untuk menjaga keseimbangan hidup manusia. Pada malam hari manusia bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk istirahat dan pada siang hari bisa digunakan untuk bekerja. Itulah kekuasaan Allah yang sudah menyiapkan sesuatu sedemikian rupa.

Dalam segi sains, diterangkan  siang dan malam terjadi karena terbit dan terbenamnya matahari. Atau lebih dikenal dengan perputaran bumi yang disebut juga rotasi bumi. Akibat rotasi bumi, tidak hanya matahari yang terbit dan terbenam, tetapi semua benda langit juga. bulan dan bintang-bintang tampak terbit dari timur dan terbenam dari barat. Sebenarnya  kedudukan bintang-bintang di langit tidak berubah. Karena rotasi bumi-lah bintang-bintang terlihat bergerak dari timur dan barat (hal 3).

Ada pula alasan kenapa matahari jadi penentu waktu.  Diterangkan dalam hadist Rasulullah, pembagian waktu shalat sebagai tanda-tanda di alam. Misalnya shalat subuh dilakukan ketika mulai muncul cahaya fajar di ufuk timur, menjelang matahari terbit. Waktu zuhur ketika matahari mulai condong ke barat. Jika panjang bayangan sebatang tongkat yang ditegakkan di tanah sama dengan panjang tongkatnya, berarti telah masuk waktu ashar. Jika matahari telah terbenam, itu waktu maghrib. Dan jika cahaya merah di ufuk barat mulai hilang, itu tanda awal waktu Isya’ (hal 11).  Intinya karena posisi matahari selalu berulang setiap hari, maka dia dijadikan alat penentu waktu.

Selain dua hal itu tentu saja masih banyak pembahasan yang tidak kalah seru dan menarik. seperti kenapa sepekan terdiri dari tujuh hari, mengapa langit biru, mengapa air laut mengalami pasang surut, dan banyak lagi. Berbagai kejadian yang terjadi itu, mengingatkan anak agar mengetahui betapa besar keagungan dan kekuasan Allah. Bahwa segala yang ada di alam ini, tidak akan ada tanpa kuasa Allah. Dan semua yang dicipatakan Allah masing-masing memiliki manfaat bagi manusia.

Tidak kalah menarik dalam buku ini dihadirkan pula, kisah menarik Nabi Ibrahmi ketika mencari Tuhan. di mana dari kisah itu kita diterangkan tentang keesaan Tuhan. Kemudian ada pula kisah Ashabul Kahfi, yang menunjukkan kebesaran Allah.  Dilengkapi dengan aktivitas seru, seperti membuat  jam matahari, membuat kalender abadi dan membuat pelangi, pasti tidak akan membuat anak merasa bosan.

Buku ini sangat cocok dibaca anak-anak juga bagi orangtua sebagai salah satu referensi jika ingin mengajak anak belajar tentang pendidikan agama juga belajar sains dan teknologi.

Srobyong, 25 Mei 2018

Wednesday, 10 January 2018

[Resensi] Berani Hidup Lebih Kreatif

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 31 Desember 2017 


Judul               : Big Magic: Perburuan Menemukan Kehidupan Kreatif
Penulis             : Elizabeth Gilbert
Penerbit           : Kaifa
Cetakan           : Pertama, Juli 2017
Tebal               : 280 halaman
ISBN               : 978-602-0851-84-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara


Ini naskah asli ketika mengirim, yang akhirnya dipotong sama redaksi Tribun Jateng :) 

Apa itu kehidupan kreatif dan perlukan kita memburunya? Hidup kreatif berarti kita berani menjalani hidup dengan lebih mengandalkan keingintahuan daripada rasa takut.  Dan kita sangat perlu untuk memburunya. Karena dengan berani hidup kreatif kita telah menunjukkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menikmati hidup yang luar biasa.

Buku karya Elizabeth Gilberth ini dengan gaya bahasa yang unik dan tidak bisanya, mecoba mengajak kita untuk mengenal lebih jauh masalah kehidupan kreatif—yang tidak melulu pada masalah seni—tapi lebih pada keberanian untuk meraih mimpi atau cita-cita. Bahwa dengan hidup kreatif kita telah menciptakan ruang yang akan mengantarkan kita pada kehidupan yang menarik dan penuh kejutan—Big Magic.

Dalam buku ini Elizabeth membagi enam bagian penting yang perlu kita ketahui jika ingin memburu hidup kreatif. Yaitu keberanian, keajaiban, izin, kegigihan, kepercayaan dan keilahian.   Di mana keberanian bisa dibilang sebagai langkah awal yang sangat penting ketika kita ingin memburu kehidupan kreatif. Ketika keberanian hilang, kreativitas akan hilang bersamanya (hal 30).

Liza memaparkan bahwa sebelum dia menemukan hidup kreativitasnya, dia dulu adalah sosok penakut dalam banyak hal. Selain itu dia juga orang peka dan mudah trauma sehingga boleh dibilang liza adalah anak cengeng. Namun lambat-laun dia menyadari ketakutan hanya membuatnya merasa lelah dan kalah. Oleh karena itu Liza bertekad degan penuh keberanian untuk berubah dan memerangi ketakutanya. Setelah dia mulai memerangi rasa ketakutannya, maka perlahan dia pun mulai menemukan keajaiban. Lambat laut ketakutan itu pun mulai memudar.

Bersamaan dengan itu keajaiban pun mulai menghampiri Liza. Dari gadis penakut, dia menjadi sosok pemberani dengan memilih terjun dalam dunia literasi yang bisa dibilang tidak memiliki masa depan yang menjanjikan, jika apa yang ditulis tidak menjadi maha karya atau terjual dengan laris.  Meski tahu risiko yang akan dia tempuh, Liza tetap teguh dengan pendiriannya.

Dia meyakini  dengan mencipatakan hidup kreatif yang dia suka maka hal itu akan membuatnya bahagia. “Aku akan meluangkan waktu sebanyak mungkin menciptakan hal-hal yang membahagiaan selama hidupku karena itulah yang membuatku merasa hidup dan alasanku hidup.” (hal 101).

Liza memandang dalam pilihan hidupnya, dia tidak membutuhkan izin siapa pun untuk melakukan apa saja yang dia suka—termasuk hidup kreatif. Dalam pandangannya setiap orang berhak berkreasi dan menentukan jalan yang akan dipilih. “Kau harus bersedia mengambil risiko jika kau ingin menjalani hidup kreatif.” (hal  114).

Keputusan ini-lah yang kemudian menuntun Liza menjadi seseorang yang sangat gigih. Karena hanya dengan kegigihan seseorang bisa meraih kesuksesan dan hidup kreatif. Ketika dia memutuskan menjadi penulis, maka sejak itu dia pun mulai membuat tulisan yang kemudian dia kirim ke berbagai majalah dan penerbit. Meski saat itu belum ada tulisannya yang lolos. Namunbegitu, Liza tidak menyerah. Dia mencoba lagi dan lagi, hingga akhirnya ada tulisannya yang berhasil terbit, dan mengantarkannya menjadi salah satu penulis yang diminati.

“Imbalan datang dari kebahagiaan menyelesaikan karya sendiri, dan dari kesadaran diri bahwa aku telah memilih jalan untuk berkarya dan aku tulus melwatinya.” (hal 121).

Satu hal yang pasti dalam usaha hidup kreatif, Liza memaparkan bahwa kita harus menjauhi segala keluh kesah yang membuat mental kita lemah. Karena mengeluh akan membuat kita kehilangan inspirasi yang sudah ada bahkan mengacaukan apa yang sudah kita kerjakan. Oleh karena itu ketika menjalani hidup kreatif, maka kita harus menikmati kreativitas itu sendiri. Menyukai apa yang kita kerjakan. Kita juga harus percaya bahwa kita mampu melakukan banyak hal besar untuk menemukan kreativitas.

Buku ini dengan detail membongkar masalah kreativitas dengan cara unik dan menarik.  Kita diajak menyelami makna hidup kreatif dari sudut pandang dan pengalaman langsung penulis yang sangat menginspirasi.

“Wujudkanlah apa pun yang kau inginkan wujudkan dan perlihatkan kepada orang lain.” (hal 127).

Srobyong, 17 Desember 2017 

Saturday, 21 October 2017

[Resensi] Menjadi Guru yang Kreatif dan Inovatif dalam Mengajar

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 15 Oktober 2017 


Judul               : Gurunya Manusia
Penulis             : Munif Chatib
Penerbit           : Kaifa
Cetakan           : September 2016
Tebal               : xx + 260 hal
ISBN               : 978-602-0851-45-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Pendidikan yang berkualitas akan mencetak generasi masa depan yang berkualitas juga. Dan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari peran guru. Guru adalah ujung tombak proses pendidikan. Tanpa guru, tidak mungkin Indonsia melek huruf, tidak mungkin program pendirian sekolah dan universitas akan berhasil dan tanpa guru tidak mungkin muncul generasi yang berkualitas.

Di sinilah tantangan para guru untuk terus belajar meningkatkan kualitas diri.  Guru harus selalu up to date dalam berbagai hal demi kemajuan pendidikan. Buku ini mengajak para guru untuk menjadi gurunya manusia—di mana mereka menjadi guru yang tidak hanya untuk materi atau tuntutan profesi, tapi demi mengemban tugas mencerdaskan bangsa. Mengedepankan proses belajar dari pada hasilnya.

Secara gamblang yang  dimaksud gurunya manusia yaitu guru yang punya keikhlasan dalam mengajar dan belajar. Guru yang mempunyai keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswa berhasil memahami materi-materi yang diajarkan. (hal 59). Untuk mmenjadi gurunya manusia, ada beberapa syarat yang harus dimiliki para guru. Yaitu, bersedia untuk belajar, secara teratur membuat rencana pembelajaran sebelum mengajar, bersedia diobservasi, selalu tertantang untuk meningkatkan kreativitas dan punya karakter yang baik (hal 66).

Ada tiga unsur penting yang harus dilakukan ketika ingin menjadi gurunya manusia. Yaitu paradigma, cara dan komitmen. Paradigma yang dimaksud di sini yaitu, setiap gurunya manusia wajib punya pandangan atau pola pikir yang menganggap setiap anak adalah juara atau setiap anak memiliki potensi kebaikan, apa pun kondisi yang dialamai anak. Jangan pernah menganggap anak itu bodoh.

Karena paradigma itu bisa mempengaruhi dalam usaha pengajaran. Ketika guru sudah menghakimi salah seorang murid dengan kebodohan, biasanya guru memiliki kecenderungan malas dalam mendidik, karena sudah berpikir anak itu pasti akan kesulitan dalam memahami pelajaran. Padahal yang sebenarnya guru harus merangkul. Mencari metode yang baik agar anak bisa paham dalam pelajaran.

Selanjunya dalam mengajar, gurunya manusia selalu mengajar dengan hati dan selalu berusaha memahami kemapuan para anak dididik secara luas. Dalam artian guru tidak hanya menilai dari segi kemampuan kognitif saja. Disadari atau tidak, kadang suka menilai siswanya hanya dari nilai kognitif.  Tapi mereka tidak tahu bisa jadi nilai sempurna yang didapat siswa itu dari hasil mencontek. Guru juga harus menilai dari segi kemampuan lain yaitu,  memahami kemampuan dari segi psikomotirk dan akfektif (hal 74).  

Dan seorang guru seyogyanya harus melakukan discovering ability, yaitu menjelajah kemampuan anak meskipun itu sekecil debu. Dan ketika guru sudah menemukan kemampuan anak, seorang  guru jangan pelit dalam  memberi semangat dan apresiasi bagi anak. Karena apresiasi itu memberi dorongan dan semangat anak. Dengan melakukan discovering ability pada siswa, ibarat menempatkan kaki-kaki positif pada konsep diri siswa bahwa dia bisa dan dia mampu mengerjakan sesuatu.

Gurunya manusia itu selalu menyenangkan. Hal ini bisa dilihat dari caranya mengajar yang selalu aktif, kreatif dan inovatif. Sehingga anak tidak cepat merasa bosan. Namun selalu nyaman dalam belajar.  Guru harus benar-benar memperhatikan sisi psikologi anak juga.  ketika seorang guru bisa merubah suana kelas menjadi menyenangkan, maka otomatis anak akan semangat. Berbeda jika dalam pengajaran guru menerapkan hanya  metode yang kaku—ceramah saja, biasanya anak akan cepat bosan.  Padahal metode itu bisa divariasi agar lebih asyik dan menyenangkan.

Sebuah buku yang sangat patut diapresiasikan. Para guru wajib membaca buku ini.  Buku ini mengajak para guru untuk menyedari posisi dan tugas mereka sebenarnya. Sebagaimana yang pernah dipaparkan Bobbi DePorter—Presiden Quantum Learning Network, “Salah satu unsur penting dalam kemajuan siswa adalah guru yang betul-betul peduli terhadap anak didiknya dan terampil  merangkul serta berhubungan dengan semua pembelajar—yaitu guru yang menciptakan lingkungan yang nyaman sehingga anak didiknya senang belajar.”

Srobyong, 9 April 2017 

Saturday, 3 June 2017

[Resensi] Menjadi Guru Profesional dan Menyenangkan

Dimuat di Samarinda Pos, Sabtu 13 Mei 2017


Judul               : Gurunya Manusia
Penulis             : Munif Chatib
Penerbit           : Kaifa
Terbit               : Mei, 2016
Cetakan           : Kedua, September 2016
Tebal               : xx + 260 hal
ISBN               : 978-602-0851-45-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Pendidikan adalah kunci  kemajuan bangsa. Dan  guru adalah salah satu pondasi yang memiliki peran kuat pada keberhasilan pendidikan. Bobbi De Porter berkata, “Salah satu unsur penting dalam kemajuan siswa adalah guru yang betul-betul peduli terhadap anak didiknya dan terampil  merangkul serta berhubungan dengan semua pembelajar—yaitu guru yang menciptakan lingkungan yang nyaman sehingga anak didiknya senang belajar.”

Hanya saja,  yang terjadi saat ini, banyak guru yang belum bisa menerapkan apa  yang telah dipaparkan Bobbi De Porter.  Pada praktik lapangan, guru saat ini kadang terlalu kaku dan  tidak peduli dengan kemajuan atau kenyamanan siswa, yang terpenting adalah telah menyampaikan materi. Dan masalah para murid sudah paham atau tidak, para guru mengembalikan semuanya kepada siswa. Padahal tentu saja cara itu tidak benar.

Buku ini mencoba mengupas bagaimana cara menjadi seorang guru yang profesional dan tetap menyenangkan. Karena saat ini disadari atau tidak peran guru akan sangat berpengaruh dengan kemajuan siswa juga kemajuan bangsa.  Sebagaimana diketahui langkah awal yang harus diterapkan guru adalah guru harus memiliki  empat kompetensi yang harus  dipraktikkan. Yaitu kompetensi pedagogi, kompetensi kepribadian kompetensi profesinoanlisme dan kompetensi sosial.

Kompetensi pedagogi berarti guru memiliki kemampuan untuk mengelola pembelajaran siswa. Di mana guru harus memahami karakter siswa, kadar kemampuan siswa dalam menerima materi, dan bisa merancang pembelajaran yang menyenangkan. Sedangkan kompetensi kepribadian adalah guru harus memiliki pribadi yang mantap, stabil, arif dan bijaksana untuk menjadi teladan siswa. Dalam sebuah pepatah jawa dipaparkan, guru digugu dan ditiru.

Selanjutnya  kompetensi profesional, berarti guru menguasai materi secara mendalam, sehingga guru dapat membimbing siswa sesuai  kurikulum dan mengembangkan cara ajar yang kreatif dan inovatif. Terakhir kompetensi sosial yaitu kemampuan guru dalam bergaul secara luas dalam bermasyarakat sehingga  guru bisa bergaul secara baik pada para siswa, tenaga pengajar lain, guru dan masyarakat luas (hal 28-29).

Keempat kompetensi  ini harus dipegang erat oleh para guru. Ketika guru sudah memahami dengan benar tentang pentingnya empat kompetensi ini, maka mereka akan menjadi sosok guru yang profesional, yang bisa menerapkan tugas dan fungsi guru dengan baik. Namun selain harus memiliki empat kompetensi ini, guru juga harus memahami tentang bagaimana agar guru tidak hanya menjadi guru profesional saja, tapi seorang guru yang menyenangkan yang bisa mengemong dan membuat para siswa merasa nyaman, tidak merasa terintimidasi.

Sadar atau tidak  guru kadang bersikap menuntut dan menghakimi para siswa. Ketika siswa belum memahami pembelajaran yang diajarkan, guru akan menyalahkan siswa yang dianggap tidak memperhatikan apa yang disampaikan guru. Menganggap siswa malas belajar dan sebutan lain yang kadang membuat siswa merasa semakin rendah diri. Padahal, ketika siswa belum paham, tentang suatu materi, bisa jadi itu terjadi karena metode yang diterapkan guru dalam mengajar tidak sesuai dengan karakter siswa. Monoton dan membosankan.

Munif Chatib dalam bukunya ini mencoba memaparkan tentang bagaimana menjadi guru yang menyenangkan tanpa meninggalkan sisi profesinalisme guru.  Dalam mengajar, seyogyanya guru pandai mengambil hati siswa, sehingga siswa terarik dan semangat dalam belajar (hal 81).

Selain itu untuk bisa mengenal setiap siswa dengan baik, ada bagusnya jika guru menerapkan strtegi multiple intelegences yaitu gaya mengajar guru disesuiakan dengan gaya belajar siswa. Dengan itu akan mempermudah guru dalam memilih metode apa yang ingin disajikan kepada siswa-siswanya (hal 141).

Sebuah buku yang menarik dan inspiratif. Buku ini mengajak para guru untuk lebih aktif dan peduli dengan kebutuhan siswa. Bahwa guru tidak hanya menjadi panutan yang kadang menakutkan, tapi juga membimbing dengan penuh kasih, hingga membuat siswa mereasa nyaman dalam belajar.

Srobyong, 9 April 2017