Showing posts with label Kompas. Show all posts
Showing posts with label Kompas. Show all posts

Tuesday, 13 March 2018

[Cernak] Teman Baru

Dimuat di Kompas Klasika, Nusantara Bertutur Minggu, 11 Maret 2018 



Ratnani Latifah

            Hari ini adalah hari pertama Ellen masuk sekolah di SDN Matahari yang terletak di kota Jepara. 

            “Apakah mereka akan menerima Ellen, Bu?” tanya Ellen pada ibunya. Gadis berambut ikal itu terlihat gugup dan khawatir.

            “Tentu saja, Sayang.”  Ibunya tersenyum, meyakinkan Ellen.

            “Tapi Bu, mereka terlihat berbeda dengan Ellen. Bagaimana kalau mereka tidak suka dengan kehadiran Ellen? Bagaimana kalau nanti Ellen dimusuhi?” Tanyanya khawatir.

            “Siapa bilang berbeda.” Ibunya menggelengkan kepala.

            “Lihat ... kalian kan sama-sama  punya tangan, mata, kaki dan hidung. Jadi tidak ada yang berbeda.”
            “Maksud Ellen  bukan itu, Bu!” Ellen cemberut.

            “Lihat kulit Ellen yang agak hitam legam ini, juga rambut Ellen yang ikal ini.  Ini sangat berbeda dengan anak-anak di kota ini.” Ellen menunduk sedih.

            “Hai, putri ibu jangan terlalu khawatir, ibu yakin teman-teman kamu  tidak akan membeda-bedakan seseorang dari warna kulit atau rambut. Percaya sama ibu.” Ibunya tetap berusaha membesarkan hati Ellen.

            “Sudah, sekarang ayuk bersiap berangkat sekolah.”

            Ellen akhirnya menurut. Dia berangkat sekolah, meski dengan perasaan yang sangat was-was. Dan sesampainya di kelas bersama Bu Tari, guru wali kelas enam,  Ellen semakin gugup.

            “Nah ... anak-anak sebelum pelajaran kita mulai, kita berkenalan dulu, yuk, dengan teman baru kita dari Papua.” Bu Tari memberi penjelasan pada semua murid.

            “Ayo Ellen, berikan salam dan perkenalkan diri kamu.” Perintah Bu Tari.

            Setelah Ellen memperkenalkan diri, Bu Tari lalu memberi pengumuman baru, tentang kegiatan belajar di luar kelas, juga tugas kelompok yang harus dilakukan para siswa.

            Ellen semakin cemas dan khawatir. Karena dia belum memiliki satu kenalan di kelas, dan sekarang harus memilih sendiri teman untuk diajak berkelompok.

Di tengah kebingungannya, dia dikejutkan dengan keberadaan beberapa teman satu kelasnya yang  mengerubunginya.

“Ayo Len, kita belajar bersama,” ucap Putri, Sari dan Nia berbarengan.

“Tidak usah malu dengan kami,  kami semua senang lho punya teman baru. Ayo!” Putri tersenyum, diikuti Sari dan Nia.

            “Iya, ayo nanti kita ketinggalan, lihat semua teman-teman sudah bersiap keluar.” Ajak Nia.

           “Kamu tidak usah merasa malu dengan warna kulit atau rambut kita yang berbeda. Karena pada dasarnya, kita sama-sama ciptaan Tuhan dan sama-sama warga Indonesia. Jadi kita harus saling menghormati. Tidak ada permusuhan, tapi persatuan. Kita adalah saudara.” Sari berucap panjang lebar. Dia seolah tahu apa yang dikhawatirkan teman barunya itu.

            “Yup, aku setuju yang diucapkan Sari. Dalam pelajar Pendidikan Kewarganegaraan, kita kan selalu diingatkan bahwa kita harus saling menghormati setiap perbedaan yang ada. Berbeda-beda, tetap satu jua.” Purti dan Nia berucap kompak.

            Seketika perasaan Ellen langsung lega. Teman-temannya benar, beda suku, ras atau warna kulit, mereka tetap satu karena mereka berada di tanah yang sama, tanah air Indonesia.

 Srobyong, 7 Maret 2018

Naskah di atas adalah naskah asli sebelum direvisi editor. Hasil editing bisa dibaca di Kompas Klasika Nubi ada juga versi audionya jika mau mendengarkannya ^_^ 

Monday, 5 March 2018

[Cerita Anak] Belajar Bersikap Adil


Dimuat di Kompas (Nusantara Bertutur) Minggu, 18 Februari 2018


by Ratnani Latifah 


 Ana dan Ani adalah saudara kembar. Mereka  tinggal di Jepara, Jawa tengah. Keduanya  duduk di kelas enam SDN Nusa Indah.  

  Di sekolah Ani terpilih sebagai ketua kelas. Dia harus mengatur berbagai urusan kelas dengan adil dan bijaksana. Misalnya dia harus memberi teguran dan  sanksi jika ada teman-temannya yang tidak mau menjalankan tugas piket.  Murid yang tidak mau menjalankan piket,  akan disuruh membersihkan kelas sepulang sekolah. Peraturan itu sudah disetujui semua murid. Karena dengan begitu, mereka juga belajar bertanggung jawab.

Hari ini kebetulan adalah tugas piket Risa, Bagus, Sari, Andi dan Ana. Risa, Sari dan Bugus sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka sudah berangkat lebih pagi dan mulai membersihkan kelas.  Tapi tidak dengan Andi dan Ana. Ketika sampai di sekolah, keduanya malah asyik mengobrol di depan kelas, tanpa berniat membantu. Ani pun langsung menegur mereka.

“Hai, kalian kok malah mengobrol di sini?” tegur Ani.

“Bukankah hari ini kalian tugas piket?”

“Santai saja, Ani. Semua sudah dikerjakan Risa, Sari dan Bagus, kok. Iya, Kan Ndi?”  Ani meminta persetujuan Andi.

“Bener banget. Tuh mereka saja tidak protes pada kami.” Andi tertawa santai.

“Tidak bisa begitu, dong ... ini kan juga tugas kalian. Lihat mereka masih sibuk membersihkan kelas. Eh ... kalian malah bersantai di sini.” Ani terlihat marah. Tapi Ana dan Andir terlihat tidak peduli.

“Baiklah, jika kalian tidak mau ikut membantu, maka sesuai perjanjian yang kita sepakati di kelas, kalian akan dapat hukuman.” Ani bersedekap sambil menatap Ana dan Andi.

“Kalian berdua harus membersihkan kelas sepulang sekolah!”

“Eh ... kok kamu gitu, An. Aku kan saudara kembarmu, masak dihukum juga.” Protes Ana.

“Memang kenapa kalau saudara? Kalau kamu melangar tentu saja tetap harus aku hukum.” Ani menjelaskan. Sepertinya Ana berani berulah, karena merasa pasti akan dibela Ani karena saudara.

“Benar, kan Ndi? Kamu pasti tidak mau kalau yang dihukum hanya kamu, sedang Ana tidak. Padahal kalian sama-sama melanggar aturan.” Kali ini Ani yang meminta persetujuan teman satu kelasnya itu. Tanpa ragu Andi pun langsung mengangguk.

            Pada akhirnya Ana pun tidak ada pilihan. Dengan Andi dia membersihkan kelas sepulang sekolah.

            Sesampainya di rumah, Ana langsung menceritakan kejadian itu pada ibunya. Dia menceritakan kalau tindakan Ani itu sama sekali tidak adil. 

            “Bukankah sesama saudara harus saling membantu? Iya, kan Bu?”  

Dia yakin Ani pasti akan ditegur ibunya, karena tidak membantu saudaranya.

            Tapi ternyata Ana salah, ibunya malah membenarkan perbuatan Ani. Apa yang dilakukan Ani telah menunjukkan sikap adil sebagai seorang ketua kelas. Dia tidak memihak pada siapa pun, meski itu saudaranya sendiri. Siapa pun yang bersalah harus dihukum.

            Ana menunduk malu. Ternyata dialah yang salah. Dia pun meminta maaf pada Ani. Dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

            Srobyong, 12 Februari 2018 

Saturday, 3 February 2018

[Resensi] Kritik Tentang Kekerasan Sosial Melalui Cerita

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 12 Januari 2018


Judul               : Malam Sepasang Lampion
Penulis             : Triyanto Triwikromo
Penerbit           : Kompas
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 192 halaman
ISBN               : 978-602-412-256-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Setiap penulis pasti memiliki keunikan masing-masing dalam mengeksekusi sebuah cerita dan pemilihan gaya bahasa. Ada yang suka menulis dengan gaya bahasa puitis, tersirat, tersurat bahkan satire.  Begitu pula dengan Triyanto Triwikromo, penulis yang juga Redaktur  Pelaksana Harian Suara Merdeka ini, memilih menulis dengan prosa liris—yaitu sebuah karya sastra yang memiliki  irama tertentu, di mana setiap kalimat mempunyai jumlah suku kata yang hampir sama. Dengan turut kata yang lembut dan menarik, penulis mencoba mengkritisi tentang berbagai kekerasan sosial yang kerap terjadi dalam masyarakat.

Kumpulan cerpen ini sendiri, terdiri dari 19 cerpen yang sebelumnya pernah ditayangkan di berbagai media. Seperti  Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka dan lain sebagainya.  Semua dikemas dengan apik dan menarik, sehingga kita akan dibuat penasaran dengan setiap cerita. Dan di sisi lain kita juga harus siap membaca kisah-kisah yang menurut saya mencekam dan mengerikan.

Misalnya saja cerpen berjudul “Ayoveva”. Cerpen ini dibuka dengan paragraf yang menarik dan membuat penasaran.  (hal 9).  Diceritakan meski Ayoveva mengetahui kenyataan tentang perihal dosa besar yang dia dapat ketika akan meninggalkan Ajjar, tetapi dia tetap bertekad untuk pergi. Ayoveva  tetap keukuh dengan pilihannya, meski dia sudah diingatkan berkali-kali.  Dia ingin membuktikan bahwa di luar Ajjar dia tetap bisa menemukan kebahagiaan, cinta dan wujud lain Tuhan yang lebih indah.  Dia pun memulai pengembarannya. Namun siapa sangka apa yang kemudian dia dapat setelah keluar dari Ajjar benar-benar di luar perkiraannya. Belum lagi ketika dia mendengar sebuah percakapan yang membuatnya menggigil. 

Cerpen ini seolah menunjukkan bahwa dalam masyarakat akan selalu ada perbedaan-perbedaan sikap dan pola pikir.  Selain itu  cerpen ini secara tidak langsung juga mengkritisi para pemimpin yang kerap kali tidak memiliki tanggungjawab—mereka suka menindas yang lemah dan melindungi yang kuat. Dan tidak ketinggalan  mereka menjadikan agama sebagai kedok untuk kejahatan.

Ada juga cerpen “Morgot” cerpen ini mengrkritisi manusia yang acap kali bersikap seperti ular. Licin dan berbisa.  Kita kerap melontarkan kata-kata berbisa untuk menyakiti orang lain juga digunakan untuk memengaruhi penduduk untuk memberontak.  Selain itu cerpen ini juga menyinggung tentang kekejaman  sekelompok orang,  yang rela membunuh demi memperkuatn kekuasaan (hal 42). Menceritakan tentang sosok Morgot dalam berbagai sisi dengan menarik dan ajaib.

Tidak kalah menarik ada juga cerpen berjudul “Pengadilan Terakhir”. Di mana cerpen ini mengkritisi sikap sebagian orang yang selalu mendewakan uang. Mereka tidak segan-segan menyuap agar bisa selamat. Dan mereka tidak takut hukum, karena hukum bisa dibeli. Oleh karena itu, kematian di mata mereka hanya sebuah keiseengan yang bisa dengan mudah diselesaikan dengan mencari kambing hitam untuk dijadikan korban.

Cerpen ini berkisah tentang Rosaria yang  tiba-tiba dia dihukum dan diadili karena dianggap telah membunuh Bapak Direktur, tempat dia bekerja. Dia dicerca dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan bahkan mengalami siksaan yang mengerikan. pakaiannya dirobek-robek, rambut dijambak, bahkan  dia diperkosa.  Namun apa yang bisa dilakukan orang kecil seperti dirinya? Karena bagi orang rendah seperti dirinya sia-sia jika melawan hukum yang mendewakan uang. Jadi jika dia tidak memiliki uang, maka sudah dipastikan dia akan kalah, meski dia tidak bersalah.  Dibukan dengan paragraf yang menarik dan ending yang diluar dugaan, membuat cerpen ini cukup menarik (hal 52).

Selain cerpen-cerpen tersebut tentu saja masih banyak cerpen-cerpen lain yang tidak kalah menarik dan mendebarkan. Seperti cerpen Bukit Cahaya,  Anak-Anak Pengasah Pisau, Malam Sepasang Lampion, Rahim Api, Ragaula dan banyak lagi.  Membaca ini kita harus siap dengan kepekatan penulis yang mengeksplore kekerasan. Hanya saja di balik keindahan gaya bahasanya, kadang saya harus membaca cerpen ini berkali-kali untuk menangkan isi cerita. Karena bagi saya gaya bercerita yang lugas bahkan satire lebih cepat dipahami dan menarik. Namun lepas dari kekurangannyaa kumpulan cerpen ini tetaplah karya yang patut dinikmati bagi penggemar prosa liris.

Srobyong,  14 Oktober 2017


Wednesday, 14 June 2017

[Cerita Anak] Kejujuran Sari

Dimuat di Klasika Kompas [Nusantara Bertutur] Minggu 21 Mei 2017 


Kazuhana El Ratna Mida

            “Assalamu’alaikum .... Sari berangkat dulu, Bu.” Sari pamit sambil mencium kedua tangan ibunya.

            “Wa’alaikum salam. Hati-hati di jalan, Sayang.” pesan ibunya.

Hari ini Sari mendapat jatah piket kelas. Karena itu, dia berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Saat ini Sari   duduk di bangku kelas empat di SDN 1 Mutiara, Jepara.  

            “Wah ... ternyata belum ada yang datang.” Sari meletakkan tasnya. Kelasnya masih sepi.

            “Baiklah sambil menunggu, aku mulai menyapu kelas saja.” Sari lalu mengambil sapu dan mulai menyapu.

            Saat sedang asyik menyapu, Sari terpaku melihat selembar uang di depannya. Sari pun segera memungutnya.

            “Lho, bukankah ini uang 100.000?” Sari  tampak kaget.

            “Tapi kira-kira ini uang siapa, ya?” Sari bertanya-tanya.

Saat masih serius memerhatikan uang itu,  tiba-tiba Sari mendengar suara Karin.

“Uang siapa Sar?  Banyak sekali?” tanya Kinan yang baru sampai.

 “Eh ... Kinan. Ini tadi aku menemukannya di kelas saat menyapu.” Jelas Sari apa adanya.

“Asyik dong, Sar. Bisa dibuat  jajan atau beli apa yang kamu suka.” Karin terlihat semangat.

“Tapi, kan ini bukan uangku, Rin.” Sari bingung.

“Tapi kan, kamu yang menemukannya, jadi uang itu jadi miliki kamu dong, Sar.” Karin meyakinkan Sari.

            “Masak seperti itu ...? Aku tidak yakin, Rin. Ya sudah, deh  nanti aku tanya sama Bu Luluk saja.” Sari akhirnya memutuskan. Dia melanjutkan menyapu lantai kelasnya.

            “Kenapa kamu harus lapor, Sar?” tanya Karin  bingung.

            “Bukankah lebih baik  uang itu kamu pakai sendiri? Kan tidak ada yang melihat kalau kamu menemukan uang itu. Lumayan buat jajan.” Karin berkata lagi.

            “Tidak, ah.” Sari menggelengkan kepala. Dia lalu memasukkan uang itu di saku bajunya.

            “Allah itu maha melihat, Rin. Aku takut. Ini, kan bukan uangku. Barangkali ada yang sedang sedih mencari uang ini.” Sari menjelaskan alasannya.

            “Itu, kan salah mereka yang teledor. Kalau aku jadi kamu pasti uangnya aku pakai sendiri.” Karin merasa tidak peduli.

            “Sudah ah, kita bahasa uangnya nanti lagi. Lebih baik kita selesaikan tugas piket ini sebelum kelas masuk.” Sari mengingatkan tugas mereka.

            “Eh, iya, sampai lupa.” Karin nyengir. Mereka pun bekerja bersama-sama dengan senang hati. 

            “Akhirnya selesai juga.” Sari dan Karin mengucapkannya bersama-sama.

            “Kalau begitu, aku ke kantor dulu, ya. Mau menyerahkan uang ini.” Sari meninggalkan Karin.
           
           Di kantor, setelah menyerahkan uang itu pada Bu Mita. Sari baru tahu kalau uang itu adalah miliki Pak Slamet, guru agama Sari.
            

          “Terima kasih, Sari. Kamu telah menolong Bapak. Uang ini sangat Bapak butuhkan untuk membeli obat bagi istri Bapak yang sedang sakit di rumah. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu yaa, Sari!” ungkap Pak Slamet yang tampak. Lega uangnya ditemukan.

         “Iya sama-sama, Bapak,” jawab Sari. Dalam hatinya, ia merasa bahagia karena dengan kejujurannya ia bisa membantu Pak Slamet, gurunya yang sedang kesulitan. Sari juga merasa bangga karena ia tak tergoda untuk memiliki uang yang bukan haknya seperti yang disarankan Karin. Sari selalu ingat pesan kedua orangtuanya bahwa kejujuran adalah pangkal dari kepercayaan. Orang jujur selalu disayang Tuhan YME.

Srobyong, 29 April 2017

[Cerita Anak] Boneka dari Ibu

Dimuat di Klasika Kompas (Nusantara Bertutur) Minggu 23 April 2017 


Kazuhana El Ratna Mida
            Sekolah Sari libur dua hari. Karena itu, Sari diajak ibunya berkunjung ke rumah sepupunya, Mita. Rumah Mita terletak tidak jauh dari Pantai Kartini, Jepara.  

            “Aku senang sekali kamu datang.” Mita menyambut sepupunya dengan riang.

            “Aku juga senang bisa ke sini lagi.” Sari tidak kalah gembira. Biasanya mereka selalu menghabiskan waktu bersama kalau sudah berkumpul.

            “Ayo, ke kamarku. Kita bermanin di sana.” Mita langsung mengapit lengan sari.

            “Siap! Aku tidak sabar melihat koleksi barbie kamu.” Sari sangat semangat.

Sesampainya di kamar Mita, Sari sungguh terbelalak.

“Wah, koleksi barbie kamu bertambah banyak sekali. Dan sangat bagus-bagus.” Sari selalu takjub, ketika melihat koleksi boneka barbie Mita.  Setiap ke rumah sepupunya, barbie Mita pasti sudah bertambah.

“Apanya yang bagus, Sar? Barbieku ini sudah ketinggalan zaman.” Mita mengerucutkan bibirnya.

“Benarkah? Menurutku ini sudah sangat bagus.” Sari mengambil salah satu barbie koleksi Sari.

“Ini masih kalah dengan punya  Lia, yang  tinggal di samping rumahku.” Mita menjelaskan.

“Lia yang kadang bermain bersama kita, kalau aku kemari? Sari bertanya.

“Iya, betul.” Mita mengangguk.

“Nah, koleksi barbie Lia itu sangat lengkap. Aku iri sekali padanya. Tapi ketika aku meminta ibu untuk membelikan barbie seperti yang dimiliki, Lia ... ibu tidak mau membelikannya.”  Lanjut Mita.
Sari hanya mengangguk-anggukan kepala, mendengar cerita Mita.

“Ibuku menyebalkan, kan? Masak minta barbie saja tidak boleh.” Mita masih cemberut.

“Jangan berkata begitu, Mit. Mana ada ibu yang menyebalkan? Setahuku setiap ibu pasti selalu menyayangi anaknya.” Jelas Sari panjang lebar.

“Kalau sayang ... ibu pasti mau membelika aku barbie, Sar.” Mita masih ngotot.

“Tidah begitu, Mit. Aku tidak pernah dibelikan ibuku barbie. Tapi aku tahu ibu selalu sayang denganku.”

Mendengar ucapan Sari, tiba-tiba Mita merasa bersalah. “Kamu tidak punya barbie?”

“Iya.  Ibu  lebih suka membelikan aku buku. Makanya aku senang sekali kalau main ke rumahmu. Aku bisa meminjam barbie kamu.” Sari  bercerita dengan riang. Tidak terdengar nada sedih dari ceritanya.

“Kupikir, aku adalah anak yang malang, karena ibu tidak mau menuruti keinginanku. Aku sungguh malu padamu, Sar. Aku tidak pernah menghargai pemberian ibu. Harusnya aku lebih banyak bersyukur.” Mita menunduk sedih.

“Yang pentingkan, sekarang sudah tahu. Yuk, kita jadi main barbie, kan? Sari dengan cepat, menghibur Mita. Mengingatkan tujuan mereka masuk ke kamar.

“Tentu saja. Yuk! Kami bebas mau pinjam yang mana saja.” Mita memberi izin. Dan mereka kemudian tertawa bersama.

Sejak saat itu, Mita pun berjanji akan lebih menghargai pemberian ibunya.  Dia akan meminta maaf pada ibunya.

Srobyong,  4April 2017 

Atau bisa dengar versi audionya  Klasika Kompas [Nusantara Bertutur]

Sunday, 24 January 2016

[Review] Pendidikan di Mata Orang Rimba



Judul               : Sokola Rimba
Penulis             : Butet Manurung
Editor              : Tim Sokola
Penerbit           : Kompas
Cetakan           : Ketiga, November 2015
Halaman          : xxviii + 384 halaman
ISBN               : 978-979-709-996-1

Kebanyakan orang sering menganggap bahwa Orang Rimba itu  primitif, bodoh dan ketinggalan zaman. Mereka tidak mengenal huruf dan tidak bisa membaca, hidup hanya bergantung pada hutan dan terkurung pada kegelapan. Namun, kadang mereka sering lupa, bahwa ketika di dunia terang Orang Rimba terlihat ketinggalan zaman, bukankah itu bisa terjadi ketika orang-orang dari dunia terang memasuki hutan? Mereka akan menjadi orang yang paling ketinggalan zaman. Tidak tahu jalan dan adat yang berlaku. Jadi manusia memang tidak bisa menilai hanya dari luarnya. Orang Rimba mungkin ketinggalan zaman tapi mereka lebih bisa memperlakukan alam dibanding orang-orang di dunia terang yang kadang memperlakukan hutan dengan sewenang-wenang.

Sokola Rimba menceritakan tentang pengalaman Butet Manurung ketika bekerja di WARSI sebagai antropolog untuk fasilitator pendidikan di hutan. (hal. 5) Dia memiliki keinginan besar agar Orang Rimba setidaknya bisa membaca dan menulis. Namun sejatinya Butet masih bingung bagaimana caranya untuk menarik Orang Rimba belajar.

Kelompok  Orang Rimba sendiri tersebar di kawasan hutan Bukit Duabelas yang luasnya lebih dari 60.000 hektar. Dan atas usaha WARSI bersama beberapa Orang Rimba, berdasarkan SK Menteri Kehutanan pada bulan Agustus tahun 2000, kawasan itu telah berubah status menjadi Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) dengan luas 60.500 hektar. (hal. 9)

Langkah awal yang dilakukan Butet tentu saja mendekati para Orang Rimba, belajar membaur dan menjadi teman. Yang pertama kali Butet kunjungi dari tiga kabupaten di TNBD adalah Rombang Sungai Tangkuyungon. Di sana dia disambut cukup baik, dia diajak mengambil  mengambil madu. Di sana Butet baru tahu bahwa pohon madu itu seperti “benda Pusaka” dan jika mau memanjat pohon untuk mengambil Orang Rimba melantunkan mantra “mengusir hantu kayu”.  Butet juga diajak menangkap ikan dan bisa balas dendam dengan pacet yang pernah menghisap darahnya ketika dulu dikejar lebah. Ada juga kejadian lucu di mana Butet dicemburui disangka mau merebut suami salah satu Orang Rimba dan disangka sakti karena bisa cepat menghapal lagu Rimba.  (hal. 31)

Inilah kesempatan menurutnya, Butet menjelaskan tentang menulis, namun tidak dengan agresif. Lalu pada suatu waktu saat anak-anak sedang bermain, Butet menggambar  dan melengkapinya dengan tulisan dan meminta mereka menyebutkan  gambar itu.  Mereka terlihat tertarik. Tentu saja Butet sangat senang namun, karena terlewat senang dia kelepasan menawari anak-anak itu sekolah. Yang hasilnya dia malah diceukin. (hal. 33)

Rombang Sungai Tangkuyungon belum ada harapan untuk mengajak sekolah, Butet  kini ke Rombang DAS Terap.  Sesuai kebijakan WARSI dia memang tidak diperbolehkan datang ke satu kelompok Orang Rimba. Pada kunjungan kali ini, Butet kembali mendapat serangan dari lebah hingga dia harus berendam lama di sungai untuk menghindari sengatan para lebah. Dan seperti di kelompok sebelumnya, masalah pendidikan juga kurang diminati  di sana. Meski beberapa anak laki-laki ada yang tertarik belajar, namun ketika  kedua Bepak, Lidapenado dan Ngelemboh mendengar Robert bertanya tentang keinginan untuk bisa membaca dan menulis, mereka dengan tegas menolak.  “Itu tidak ada dalam adat kami Orang Rimba.” (hal. 47)

Butet lalu melanjutkan kunjungannya ke Sungai Belambun Pupus, anak sungai DAS Bernai. Namun sebuah kesalahan fatal telah terjadi karena dua teman Butet, Willy dan Hadi mengatakan kedatangan mereka untuk mengajar membaca dan menulis. Dan secara otomatis pada Orang Rimba dewasa marah-marah dan mereka harus rela untuk pergi.

Namun di balik banyaknya Orang Rimba dewasa yang menolak, ternyata ada juga yang malah menunggu untuk diajarkan baca dan menulis dan mengatakan, “Baca tulis tidak mengubah agama kami atau adat kami, tetapi baca tulis membantu kami dalam bekerja.” (hal. 65) Masalahnya Orang Rimba yang menyatakan tertarik kemudian tidak muncul lagi.

Selama hampir dua tahun pencarian murid akhirnya Butet bisa membuat Orang Rimba tertarik untuk belajar baca dan menulis. Mungkin karena melihat dari berbagai peristiwa yang terjadi. Mereka kini yang malah meminta sendiri untuk belajar. Dan ternyata mereka cukup cepat tanggap dalam belajar.  Namun yang jadi masalah kemudian, bagaimana kelanjutan Orang Rimba setelah bisa belajar menulis dan membaca. Itulah yang kemudian menjadi dilema bagi Butet. Belum lagi ada masalah ketidak sinkronan atas pemikiran WARSI dan dirinya. Akhirnya pada 1 Oktober 2003, Butet mengundurkan diri.

Butet bersama Indit, Dodi, Oceu dan Willy serta teman-teman yang memiliki pemikiran yang sama berjuang membangun Sokola Rimba. Mereka mengabdikan secara total untuk kepentingan Sokola Rimba meski dengan biaya sendiri.

Rasanya membahas buku ini tidak akan selesai jika harus dijabarkan semua. Karena dari setiap cerita memiliki keunikan sendiri-sendiri. Pengalaman nyata yang dituangkan dalam buku ini sungguh luar biasa. Memberikan pencerahan dan keteladanan. Saya seperti diajak langsung ke hutan melihat secara langsung apa yang tengah terjadi di sana. Keseruan petualangan dan melihat keluguan dan ketakutan-ketakutan  dengan hal-hal baru yang dilihatnya.

Namun menilik dari apresiasinya pada orang baru, Orang Rimba itu sejatinya ramah. Mereka memiliki sikap yang polos yang kemudian suka dimanfaatkan orang terang. Karena itulah menurut Butet, Orang Rimba harus diberi bekal menulis, membaca dan menghitung agar tidak selalu dibodohi.  Belajar bukan berarti mereka harus meninggalkan hutan bukan?

Saya tidak bisa membayangkan ketika Butet dikejar lebah  dan juga harus berperang dengan para pacet-pacet yang menempel pada tubuh dan menyeodot darahnya. Atau ketika dia harus beredam di sungai dan demi menghindari lebah. Lalu disuruh makan ulat bahkan didatangi beruang.  Pengalaman seru dan mendebarkan pastinya. Membaca ini saya jadi suka senyum-senyum sendiri dan juga ikut miris dengan segala yang terjadi.  Hanya saja masih ada beberapa kesalahan penulisan. Tapi selebihnya buku ini keren dan inspiring. Banyak muatan pendidikan yang bisa dicontoh bagi para pendidik.   Buku ini bahkan sudah pernah difilmkan  tahun 2013  di mana disutradarai oleh Riri Riza. 

Beberapa quote yang menarik, inspiring dan perlu dipikirkan.

  • Intinya, memang tidak semua orang yang melek huruf akan menjadi dokter atau insinyur atau pemimpin masyarakat. Tidak harus, kan? Tetapi yang jelas, tidak mungkin bisa menjadi dokter kalau baca tulis saja tidak bisa. Baca tulis setidaknya akan memberikan mereka lebih banyak pilihan karena hanya lewat pendidikanlah (yang tidak sekadar baca tulis hitung, tapi juga peningkatan kapasitas dan jaminan habitat tempat hidup) mereka mampu memposisikan diri terhadap dunia luar dan dengan merdeka mentukan arah pembangunannya sendiri.  (hal. 17)
  • Pilih  orang yang memegang teguh kata-katanya dan abaikan orang yang melanggar janjinya.  (hal. 172)
  • Dalam mengajar, ada hal yang lebih penting daripada kepintaran, yaitu cara kita memberi pelajaran, yang membuat murid merasa bawah itu menyenangkan. Tapi yang terpenting dari semua itu adalah pemahaman mengapa pendidikan itu penting bagi Orang Rimba. Supaya alasan itu yang menjadi spirit, yang merasuki jiwa mereka bergerak ke mana-mana saat menjelajah rimba.  (hal. 180)

  • “Bu, kenapa hutan masih saja habis, padahal kami sudah sekolah?” (hal. 224)

  • “Ma, kenapa masih ada orang membunuh dan merampok, padahal sudah beragama.” (hal. 224)

  • Orang Rimba memilih memakai pakaian tradisional atau jeans, itu terserah mereka. Kita tidak berhak mengatakan mana yang lebih baik untuk mereka. (hal. 232)
  • Bahwa terkadang hidup ini memang terlihat keras. Tetapi sebenarnya itu  hal-hal yang memang layak terjadi (hal. 292)
  • Menjaga hutan memang sulit, orang pemerintah saja tidak mampu, apalagi saya yang baru bisa baca tulis?” ~Peniti Benang, salah satu kader Sokola Rimba~ (hal. 313)

  • Ranting akan tetap di pohon, rumput akan tetap tegak jika henggang (burung rangkong) atau gajah belum menapakinya. Bahwa  keadaan rimba dan penghuninya baik-baik saja sampai modernisasi tiba di dalam sana. (hal. 325)