Showing posts with label Radar Sampit. Show all posts
Showing posts with label Radar Sampit. Show all posts

Friday, 30 November 2018

[Resensi] Ujian dalam Menemukan Cinta Sejati

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 11 November 2018


Judul               : Love for Sale
Penulis             : Endik Koeswoyo
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 266 halaman
ISBN               : 978-602-385-454-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


 “Bahagia itu bukan sekadar murah dan mewah, tapi bagaimana satu sama lain saling mengusir resah.”  (hal 254).


Masa lalu memang tidak mudah untuk dilupakan. Apalagi jika dalam urusan cinta. Namun begitu, kita tidak mungkin  selamanya hidup dalam lingkaran masa lalu.  Kita perlu move on untuk  melanjutkan hidup.  Hidup itu terus berjalan. Masa lalu boleh kita ingat dan tengok. Karena masa lalu bisa kita jadikan pembelajaran. Namun jangan sampai karena masa lalu, kita menyakiti diri sendiri.

Novel ini bercerita tentang Richard yang belum bisa move on dari kisah di masa lalunya—tepatnya dari cinta pertamanya.  Meski dia telah disakiti, nyatanya Richard masih memendam cinta kepada Maya, mantan kekasinya.  Hal itulah yang membuat Richard yang sudah hampir memasuki kepala empat tetap memilih menjadi jomlo. 

Dia tidak peduli dengan omongan orang dan merasa nyaman dengan segala aktivitasnya. Dari mengelola akun @konsultasicinta di twitter serta mengawasi kinerja pekerja di kantor percetakannya. Selain itu dia juga sesekali mengahabiskan nobar bersama teman-temannya sesama pecinta sepak bola.  Akan tetapi lambat laun, Richard mengalami kegelisahan juga. Apalagi setelah dia mendengar sindiran-sindiran halus dari teman-temannya soal ke-jomlo-annya.  Sebagai penasihat cinta kenapa Richard  tidak pernah terlihat membawa pasangannya?  (hal 46)

 Di sinilah ego Richard mulai panas. Puncaknya ketika Richard melakukan taruhan dengan teman-temannya. Dia tidak mau dianggap sebagai seseorang yang hanya pandai berbicara tanpa adanya bukti. Namun di sinilah kebingungan Richard kembali menyergap. Bagaimana dia bisa membawa pacar kalau pada kenyataannya dia tidak memiliki pacar?

Richard pun mulai mencari kontak-kontak nama wanita kenelakannya. Namun ternyata hampir semua yang dia hubungi sudah menikah bahkan punya momongan. Lalu terakhir dia bertemu temannya, Keke yang terang-terangan ingin segera dinikahi.Tentu saja Richard memilih pergi karena Keke hanya memilihnya bukan karena cinta. Namun karena dikejar usia.

Dalam kebingungannya itu, tanda sengaja Richard melihat sesuatu yang menarik.  Dia pun memutuskan membuka situs LoveInc yang ternyata menyediakan persewaan pasangan. Pilihan inilah yang akhirnya mempertemukan Richard dan Arini. Tapi siapa sangka pertemuan yang bermula dari transaksi jual jasa ini berakhir dengan kedekatan yang tidak terencana.  Richard pun merasa bingung  bagaimana harus menyikapi perasaannya. Apakah dia perlu jujur dengan Arini atau menyimpan perasaannya.  Di sisi lain Richard pun takut bagaimana jika Arini malah memilih pergi setelah tahu perasaan Richard?

“Kisah cinta bukan sejarah, tapi sebuah kepingan kisah nyata yang terjadi antara manusia. Kali ini kamu punya kesempatan untuk melupakan masa lalu kamu itu, kenapa kamu tidak mengambil kesempatan yang ada.” ( hal 201).

Novel yang merupakan adaptasi dari film dengan judul yang sama “Love for Sale” ini cukup menarik untuk dibaca. Dengan gaya bahasa sederhana dan kocak, novel ini cukup menghibur. kita akan dibuat tersenyum dan gregetan dengan sikap Richard yang maju mundur dalam urusan cinta. Keunikan lain dari novel ini adalah penulis tidak mencipatakan karakter tokoh utama cowok yang sempurna, dengan segala ketampanan, kepintaran dan kemapanan. Sebaliknya di sini penulis menghadirkan sosok yang  pria sudah dewasa yang belum juga menemukan cinta, dengan beberapa kekurangan baik masalah sifik atau sikap.

Namun inilah yang lebih terasa manusiawi. Hanya saja dalam novel ini masih ada beberapa kesalahan tulis dalam menyebut nama, serta bagian yang belum diekseskusi secara maksimal. Membaca kisah ini selain kita dihibur dengan ceritanya yang seru, kita juga bisa membaca gombalan-gombana cinta yang lucu dan menarik. Tidak ketinggalan penulis juga menyisisipinya pesan-pesan hidup yang bisa dijadikan renungan.

Misalnya soal tepat waktu, “Bahwa manusia berada dalam keadaan ‘merugi’ karena mereka lalai pada waktu. Pelajaran pertama dari shalat lima waktu adalah tepat waktu.” (hal 90).

Ada pula tentang pentingnya sedekah, “Sedekah itu tonggak perjuangan hidup. Sedekah enggak usah pilih-pilih, siapa saja yang ada di dekat kita, itulah orang yang tepat untuk kita sedekahi.” (hal 94).

Srobyong, 15 Juli 2018

Wednesday, 10 October 2018

[Resensi] Rencana Perampokan di Toko Emas dan Inspirasinya

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 16 September 2018

Judul               : 24 Jam Bersama Gaspar
Penulis             : Sabda Armando
Penerbit           : Mojok
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               : xiv + 228 halaman
ISBN               : 978-602-1318-48-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

24 Jam Bersama Gaspar  merupakan salah satu novel unggulan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016.  Berbeda dari naskah unggulannya lainnya, Sabda Armando hadir dengan teknik bercerita yang tidak biasa.  “Ringan dan menyenangkan” itulah pendapat dari keseluruhan dewan juri.

Jika pada Tanah Merah Surga karya Arafat Nur, kita diajak menyelami polemik politik di Aceh. Lengking Burung Kasuari karya Nunuk Y. Kusmiana mengenalkan potret kehidupan tentara Jawa yang tinggal di Papua dan Curriculum Vitame karya Benny Arnas  mencoba mengkritisi berbagai isu-isu sosial.  Maka novel ini menawarkan ide segar tentang kisah detektive yang anti mainstream.

Bercerita tentang Gaspar yang berencana mencuri di  toko emas  milik Wan Ali, karena sebuah kotak hitam. “Sebab kotak itu berisi seluruh ilmu pengetahuan yang ada di jagat raya. Kotak itu sudah berpindah-pindah tangan, melewati lebih dari lima puluh generasi.” (hal 119). Dia dengan tingkah uniknya kemudian mengajak beberapa orang untuk diajak kerja sama. Ada Agnes, Njet, Kik, Pongo dan Pingi—bukan nama asli, tapi panggilan yang sengaja dibuat Gaspar.

Mereka yang awalnya menolak ide gila Gaspar, tapi pada akhirnya memilih setuju karena terprovokasi Gaspar. Padahal mereka tidak tahu ternyata ada misi lain yang tengah disembunyikan Gaspar mengenai alasan sebenarnya tentang keinginannya merampok toko emas Wan Ali.  Di mana hal ini juga masih berhubungan dengan kotak juga anak perempuan Wan Ali.  Lalu berhasilkan niat Gaspar dan ada rahasia apa antara  Gaspar dan Wan Ali?

Selain menceritakan rencana Gaspar  yang ingin merampok, buku ini juga diselingi dengan tanya jawab antara seorang polisi dengan dengan wanita tua yang selalu menjawab pertanyaan dengan aneh dan membingungkan. Namun ternyata dari jawabnnya itulah, kota-kotak poin kisah sesungguhnya bisa ditemukan. Dan lagi kita akan dikejutkan dengan twist ending yang tidak pernah kita duga.

Diceritakan dengan cara yang tidak biasa dan menarik, membuat novel ini terasa segar. Penulis memberi wacana berbeda dengan kebanyakan novel yang ada. Kiranya tepat jika juri sayembara Dewan Kesenian Jakarta, menganggap  novel ini mengandung kritik atas konvensi cerita detektive. 

Membaca buku ini kita diajak menyelami tentang sikap manusia itu sendiri. Bahwa sadar atau tidak sadar, selalu ada sisi jahat atau negatif dari setiap insan—siapa saja bisa berbuat jahat.  “Semua orang terlahir  untuk menjadi keparat dan siapa pun yang berkata sebaliknya pastilah delusional atau kalau tidak, ya pendusta berat.” (hal 170). Oleh karena itu, kita perlu  membentengi hati dengan benteng iman dan takwa.  Selain itu ada sindiran halus mengenai sikap manusia, yang rentah mencari pemberanan dalam segala pola tingkah yang dilakukan.

Hanya saja untuk membaca novel ini, kita harus ekstra sabar agar bisa memahami keseluruhan cerita. Karen cerita ini sedikit absurb dan gila.   Tidak ketinggalan kita juga harus sabar menghadapi kegilaan para tokoh, yang kadang menjengkelkan juga kadang mengundang rasa iba.  Namun lepas dari kekurangannya itu, novel ini sedikit menghibur lewat kelucuan dialog dan eksekusi para tokoh.

Srobyong, 28 Oktober 2017 

Tuesday, 2 October 2018

[Resensi] Dongeng yang Mengajarkan Bahaya Lisan

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 9 September 2018 


Judul               : Si Pahit Lidah
Penulis             : Dian K.
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan           : Pertama, Maret 2017
Tebal               : 32 halaman
ISBN               : 978-602-394-621-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Dongeng merupakan salah satu media belajar yang baik untuk anak. Dengan mengenalkan dongeng pada anak, selain bisa sebagai sarana membangun  imajinasi anak, dongeng juga bisa menjadi bagian sebagai alat bantu mengenalkan anak nilai-nilai moral dan akhlak yang baik.  Dalah satu buku dongeng yang patut kita kenalkan pada anak adalah  dongeng asal Sumatera Selatan, berjudul “Si Pahit Lidah”. Di mana dalam dongeng ini, kita diingatkan untuk selalu menjaga ucapan.

Kita pasti sering mendengar ungkapan bahwa lidah itu lebih tajam daripada pedang. Yang artinya sebuah ucapan itu mampu menyakiti seseorang lebih dari rasa sakit ketika terkena senjata tajam. Oleh karena itu kita sering dinasihati untuk menjaga lisan atau ucapan. Jika kita takut menyakiti orang lain dengan ucapan kita, maka lebih baik jika kita hanya diam.

Dalam sebuah syair yang diambil dari kitab karya Muhammad Ibnu Ahmad Sohan dijelaskan “Seseorang itu tidak mati karena terpeleset kakinya, tapi dia meninggal karena terpeleset lidahnya. Karena terpeleset kaki itu lama-kelamaan bisa pulih kembali. Sedang terpeleset lisannya akan mendatangkan balak (cobaan ) hingga kelak di akhirat.”

Bahkan dalam Al-Quran surat Al-Isra’ ayat 53, Allah juga menyinggung anjuran untuk menjaga lisan kita. “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-ku, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata.”

Dalam buku ini sendiri, penulis mengisahkan tentang Serunting yang iri dengan Aria Tebing—adik ipranya yang mana Aria Tebing ini memiliki jamur emas di kebunnya. Sedangkan di kebun Serunting sangatlah tandus dan tidak pernah ada jamur emas yang tumbuh di sana. Karena rasa iri yang bersarang di harinya, Serunting curiga, jangan-jangan Aria Tebing telah melakukan kecurangan (hal 6). Namun Aria Tebing menolak tuduhan yang dilontarkan Serunting.

Akhirnya Serunting menantang Aria Tebing untuk adu kekuatan, dengan syarat siapa yang kalah harus menyerahkan  kebun kepada yang menang. Tidak punya pilihan, Aria Tebing pun menerima tantangan tersebut. Meski sejujurnya dia sangat khawatir, karena dia tahu Serunting memiliki ilmu bela diri yang hebat.

Untuk mencegak kekalahannya, Aria Tebing pun mendatangi Siti—kakak sekaligus istri Serunting. Dia meminta bantuan kakaknya untuk menunjukkan kelemahan Serunting. Karena sudah mengetahui kekurangan Serunting akhirnya Aria Tebing pun menang. Sedang  Serunting yang kalah sangat marah. dia merasa dikhianti istrinya. Kekalahan itu menuntun jalan Serunting ke Bukit Siguntang dekat Gunung Mahameru (hal 13).

Dari sana dia mendapat sebuah kesaktian berupa apa pun yang dia ucapkan akan menjadi kenyataan. Namun kesaktian itu dia gunakan untuk  mengutuk apa pun yang dia temui. Karena perbuatannya itu, dia kemudian dijuliki “Si Pahit Lidah”. Serunting sama sekali tidak merasa bersalah dengan perbuatannya, bahkan dia bertekad akan membalas dendam Aria Tebing dengan kekuatannya itu.

Tapi pada suatu hari, saat kelelahan dia istrihat, dia menemukan tanah gersang yang tidak ada pohon satu pun. Padahal kala itu dia butuh pohon-pohon yang membawa kesejukan dan berlindung dari panas, akhirnya dia pun berucap, agar pohon-pohon tumbuh di sana.  Lalu bagaimana akhir perjalanan Serunting? Apakah dia akan tetap balas dendam atau memanfaatkan kekuatannya untuk kebaikan?

Dongeng bilingual—dua bahasa ini, selain mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga lisan atau ucapan, buku ini juga mengajak kita untuk mensyukuri nikmat dan tidak iri. Tidak ketinggalan, penulis juga mengingatkan bahwa membantu orang lain itu lebih menyenangkan daripada memelihara dendam. Karena perbuatan jahat hanya akan membuat kita dibenci dan diajuhi.

Lebih dari itu dari buku dongeng ini, adik-adik bisa juga belajar bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan. Apalagi bahasanya memang mudah dicerna dan cocok untuk selera anak.

Srobyong, 16 Maret 2018

Friday, 6 April 2018

[Resensi] Mengungkap Misteri Kolam Penenggelaman

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 1 April 2018 


Judul               : Into The Water
Penulis             : Paula Hawkins
Penerjemah      : Ingrid Nimpoeno
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, 1 September 2018
Tebal               : 480 halaman
ISBN               : 978-602-385-336-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Beckford bukan tempat bunuh diri. Beckford adalah tempat untuk menyingkirkan perempuan yang merepotkan.”  (hal 119).

Memadukan antara mitos, thriller dan misteri, novel ini menarik untuk dibaca dan diikuti. Sejak awal kita akan dibuat penasaran tentang kebenaran dari kolam pengenggelaman. Di mana kebanyakan korbannya adalah para perempuan. Yang jadi pertanyaan ... benarkah tempat itu memakan korban? Misteri apakah yang tersimpan di sana?

Mengisahkan tentang sebuah sungai  yang indah namun memiliki sejarah kelam karena telah merengut banyak nyawa—khususnya para perempuan. Dan  Nel Abbott adalah wanita yang bertekad untuk menyingkap rahasia sungai—kolam penenggelaman. Dia ingin mempublikasikan kisah tersebut agar bisa diketahui semua orang. Bahwa sejarah lama tentang kematian para wanita—ada  Libby Seeton, Marry Marsh, Anne Ward, Kattie Whittaker, Ginny Thomas, Lauren Slater dan banyak lagi—yang ditemukan di kolam itu, bukan terjadi karena hal-hal mistis atau gaib. Kematian itu pasti ada alasannya. Bisa jadi bunuh diri atau pembunuhan. 

Namun siapa sangka dalam usahanya mengungkap kebenaran tentang kolam itu, Nel juga ditemukan meninggal di sana. Kematian Nel ini akhirnya membuka gerbang untuk menyelidiki kematian-kematian yang ada di sana. Nel sendiri dianggap melakukan bunuh diri. karena tidak ada jejak apa pun yang menunjukkan kekerasan pada dirinya. Akan tetapi menurut Jules—adiknya,  Nel  tidak mungkin melakukan bunuh diri.  Apalagi gelang yang sering dia pakai tidak ditemukan di lokasi kejadian. Menurutnya itu sangat mencurigakan.

Akhirnya Inspektur Detektif Sean Townsend bersama Erin pun mencoba menyelidiki lebih jauh tentang misteri kematian Nel. Di mana dari penyelidikan itu, kejadian-kejadian lain baik di masa sekarang yang tersembunyi dan kejadian di masa lalu yang tidak terekspos mulai terkuak.

Misalnya dalam misteri kematian Nel Abbott di mana banyak tokoh yang memiliki motif untuk membunuhnya.  Lena, putri kandungnya, Nickie, seorang peramal yang pernah berbagi informasi perihal misteri kolam penenggelaman, Mark, guru Lena dan Kattie, yang ternyata Nel mengetahui sesuatu yang disembunyikan Mark. Lalu ada  Josh, adik Kattie yang bisa jadi memiliki dendam pada Nel, karena mengira Nel-lah yang membunuh Kattie. Louise, ibu Kattie yang terang-terangan sangat membenci Nel dan ingin membunuhnya.

Kemudian Patrick,  ayah Sean—yang mengetahui perselingkuhan antara  Nel dengan Sean. Sean yang merasa bersalah karena mengkhianati istrinya. Dan Helen, istri Nel yang mengetahui tentang perselingkuhan itu juga.  Serta tidak ketinggalan Jules, adik kandung korban yang juga memiliki kebencian pada sang kakak karena masa lalu kelamnya di masa kecil. Selain kematian Nel, dari penyelidikan ini kematian Kattie dan  Lauren—istri Patrick pun akhirnya terungkap.

Diceritakan lewat sudut padang masing-masing tokoh membuat kisah ini menarik dan membuat penasaran sejak awal membaca. Untuk gaya bahasa terjemahannya pun mudah dipahami dan buku ini pun cukup minim kesalahan tulis, sehingga saat membaca terasa sangat nyaman.

Keunikan lain dari novel ini adalah, penulis membuat para tokohnya tidak ada yang pure protagonis. Masing-masing tokoh memiliki masa lalu yang kelam dan pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Memang untuk segi misteri kita tidak akan menemukan gaya penyelidikan semacam Hercule Poirot, Detective Conan atau Sherlock Holmes. Di sini Paula memiliki cara tersendiri yang saya pikir cukup menarik setelah kita dibuat penasaran sejak awal membaca. Melalui buku ini kita bisa belajar tentang pentingnya latar pendidikan orangtua,  kasih sayang sesama saudara dan pentingnya komunikasi.

Srobyong, 2 Maret 2018


Friday, 2 February 2018

[Resensi] Ketika Menjadi Korban Bullying di Sekolah

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 28 Januari 2018 

Judul               : Trisula Mentari
Penulis             : Shandy Tan
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 256 halaman
ISBN               : 978-602-03-3913-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

“Jika ada yang terus memperlakukanmu dengan buruk, bukan kamu yang bermasalah, melaikan orang itu. Manusia normal nggak berkeliaran dengan misi menyakiti orang lain.” (hal 117).

Novel ini  mengungkap tentang  pem-bully-an yang masih sering terjadi di sekolah. Sebagaimana kita ketahui, bullying adalah upaya penindasan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain. Di mana penindasan itu biasanya hanya berupa gertakan, tekanan psikologi—dilakukan dengan mengejek kelemahan dan yang paling parah adalah dengan kekerasan—bisa dengan dipukul, ditendang dan lain sebagainya.

Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Trisula Mentari. Gadis itu sudah di bully sejak duduk di bangku SMP, karena dia  mempunyai kemampuan clairaudience—mendengar suara orang yang sudah meninggal dan bisa berbicara dengan mereka (hal 148).  Dia dianggap aneh dan nakal.  Mengingat Trisula memang tidak pernah takut dengan pem-bully-an yang dilakukan padanya. Dia selalu berani melawan. Oleh karena itu,  dia semakin diajauhi teman-temannya.

Selain diajuhi teman-temannya, di mata guru, Trisula juga dianggap sebagai trouble maker, padahal apa yang dilakukan Trisula hanya sekadar untuk membela diri dari pem-bully-an yang dilakukan teman-temannya. Sayangnya, Bu Anita—guru BK Trisula sama sekali tidak percaya dengan pembelaaannya. Trisula selalu ditekan untuk mengalah dan tidak menanggapi berbagai keusilan teman-temannya, yang sesungguhnya membuat Trisula sedih.

“Perbaiki sikapmu, atau kamu mendapat sanksi berat berupa skors hingga dikeluarkan, dan ibu menyayangkan jika itu saampai terjadi. Kamu anak  pintar, nilai-nilaimu selama SMP di atas rata-rata. Alangkah  senangnya jika nilai bagusmu dilengkapi kelakukan bagus juga.” (hal 13).

Beruntung Trisula memiliki sahabat bernama Mikaela yang selalu memahaminya. Lalu suatu hari, ada Alfa murid baru yang terlihat lebih suka berdekatan dengan Trisula. Alfa menganggap Trisula adalah pribadi yang unik dan menarik. Karena itu dia senang jika berteman dengan Trisula, dari pada dengan Kristal, siswi paling cantik di sekolah, juga yang paling suka mencari masalah dengan Trisula. 

Trisula sungguh bingung dengan situasi itu. Karena selama ini dia sudah terbiasa dijauhi  di sekolah. Di satu sisi dia senang bisa memiliki teman baru. Tapi di sisi lain dia takut, kalau Alfa pada akhirnya akan takut jika mengetahui siapa Trisula yang sebenarnya. Seoraang siswi yang kerap dipanggil tukang sihir dan dukun santet, karena kelebihan yang dimiliki.   Namun, Mikaela meyakinkan Trisula, bahwa tidak ada salahnya kali ini dia membuka diri dengan berteman dengan Alfa. “Tidak ada larangan untuk memiliki teman lebih dari stu orang. Jangan berpikir negatif.” (hal 63).

Hanya saja saat Trisula sudah mulai merasa nyaman berteman dengan Alfa, sebuah kejadian tidak terduga terjadi. Saat dia dan Mikaela bermain di rumah Alfa dan mengunjungi perpustakaan Alfa, di sana dia mendengar suara roh  jahat yang mengusir mereka. Dan yang lebih parah, roh itu melempar komik-komik di perpustakaan dua kali (hal 95).

Entah bagaimana Trisula menjelaskan kejadian itu pada Alfa. Apakah teman barunya itu lebih mempercayainya atau lebih percaya pada Kristal. Belum lagi di satu sisi, Trisula menyadari ada bahaya yang amat besar yang berada di rumah Alfa.

Sebuah novel yang cukup menarik. Novel ini memadukan kisah persahabat remaja dengan misteri dan horor.  Dipaparkan dengan cukup lues, membuat kisah ini asyik dibaca. Hanya saja untuk eksekusi akhir dari novel ini cukup membuat saya terkejut. Antara suka dan tidak suka. Kemudian soal pem-bully-an, penulis mencoba menunjukkan bahwa saat ini, perbedaan yang dimiliki seseorang kerap kali dipandang sebelah mata, dan membuat orang lain memandang rendah. Padahal seharusnya jika ada perbedaan, kita harus saling menghormati.

Membaca ini membuka cakrawala baru tentang bagaimana kita harus menghadapi sebuah perbedaan. Selain itu dari novel ini kita juga diajarkan untuk mensyukuri apa yang sudah digariskan Tuhan untuk kita. “Kebahagiaan dan perasaan cukup tidak datang dari benda-benda dan hal-hal duniawi, melainkan dari seberapa mampu kita bersyukur ketika kebutuhan dasar kita tercukupi.” (hal 49).

Srobyong, 5 Agustus 2017 

Friday, 26 January 2018

[Resensi] Ekspedisi Modigliani di Nias Selatan Tahun 1886

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 21 Januari 2018 


Judul               : Tanah Para Pendekar
Penulis             : Vanni Puccioni
Terjemah         :  Nurcahyani Evi, dkk
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Desember 2016
Tebal               : 376 halaman
ISBN               : 978-602-03-3164-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

Membicarakan tentang Nias, hal pertama yang akan kita ingat adalah tentang fahombo, hombo batu  atau “lompat batu” yang dulu pernah dijadikan gambar pada uang seribu rupiah.   Dulu hombo batu merupakan sebua ritual yang dilakukan oleh penduduk laki-laki di Nias, Sumatra Utara sebagai bentuk kedewasaan diri. Dan sekarang kegiatan itu dikenal sebagai olahraga khas suku Nias.  

Sebagaimana pulau-pulau lain yang berada di Indonesia, pulau Nias juga memiliki adat dan kebiasaan sendiri—khususnya penduduk pedalaman Nias. Hanya saja selama ini kita belum mengetahui secara jelas bagaimana kebiasaan dan adat pulau tersebut yang ternyata menyimpan banyak sekali cerita. Termasuk sejarah etnografi manusia pada masa itu. kenyataan tentang betapa beringas dan menakutkannya para penduduk Nias, tapi juga kenyataan bahwa mereka sejatinya adalah orang-orang yang  baik hati dan terhormat.

Melalui buku ini, Vanni Puciano mencoba memaparkan kembali tentang perjalanan pria berkebangsaan Italia—Elio Modigliani.  Dia menetap di Nias dari April – September 1886, mengekplorasi Nias Selatan yang merupakan daerah kekuasaan suku para pemburu kepala manusia. Dan para pemburu itu tidak pernah berhasil ditundukkan pasukan Belanda.  

Kepergiannya dikawal empat pemburu asal Jawa dengan membawa berbagai barang—salah satunya tembakau—untuk menarik perhatian penduduk Nias. Modigliani berkata kepada ahli hutan bahwa ia berniat mencari dan mengoleksi berbagai jenis burung, tanaman dan kupu-kupu. Tapi sesungguhnya Modigliani memiliki alasan lain yang sungguh menakutkan. Sebuah alasan yang konon membuat dia harus siap mengantarkan nyawa jika tidak cerdas dalam ekspedisinya.

Mengingat penduduk Nias Selatan sangat suka berperang, dan memiliki tradisi unik yaitu memburu kepala manusia. Sebuah tradisi yang memiliki nilai dan arti yang tinggi dalam masyarakat Nias tersebut (hal 25).

Tapi bukan Modigliani jika merasa gentar. Dia sama sekali tidak takut dan terus menelusir setiap jengkal tempat di Nias Selatan. Dia mengeksplorasi satu desa ke desa lain. Dimulai dari Desa Bawolowalani yang mempertemukannya dengan tokoh unik, Faosi Aro—raja Bawolowalani.  Lelaki licik yang mencoba memanfaatkan Modigliani dan mengambil keuntungan dari sikap Modigliani yang dermawan.

Kemudian Modigliani juga mengunjungi Desa Hilizihono, Hilisimaetono, Hilizihono, Hilisimaetono dan  Hilisondrekha—tempat yang akhirnya membuat Modigliani dapat menyaksikan lompat batu untuk pertama kalinya (hal 195) dan banyak tempat lagi yang masih dia eksplore.   Perjalanan menyeberangi sungai dan keluar masuk hutan dengan taruhan nyawa menjadi perjalanan sehari-hari bagi Modigliaano  dengan anggotanya.

Namun pada akhirnya, Modigliani berhasil menuntaskan eksplorasinya di Nias Selatan. Sebuah kenyataan yang tidak terduga, karena pada akhir-akhir perjalanan, konon Modigliano sempat bersitegang dengan rasa dari salah satu suku, dia juga sempat sakit Malaria. Namun nyata Modigliano bisa kembali ke Florence dengan membawa berbagai temuan yang nantikan akan dipajang di Museum Nasional Antropologi dan Etnografi di Florence.

Buku ini sangat mendebarkan dan menarik. Membacanya membuat saya teringat dengan film-film petualangan yang penuh lika-liku dan pembantaian.  Dari buku ini kita bisa mengatahui tentang adat dan kebiasaan suku Nias di zaman dulu. Di mana pada masa itu budaya Nias masih didominasi kekuatan gaib—yang mana jika penduduk sakit, penduduk akan menyerahkan proses pengobatan kepada  dukun (ere), karena dukun adalah satu-satunya perantara dengan dunia gaib (hal 69).  Dan  penduduk Nias memiliki kebiasaan memburu kepala manusia untuk beberapa alasan (hal 177).

Selain memiliki kebiasaan yang bisa dibilang menakutkan, sejatinya masyarakat Nias sebenarnya bangsa yang demokratis dan bebas dari tingkat sosial. Sebuah buku yang menarik dan menambah wawasan, hanya saja dalam buku ini  ada ketidakkonsisten penulis dalam memanggil Modigliani, yang kadang ditulis Elio, terkadang Modigliani.  Namun lepas dari kekurangannya, buku ini patut dibaca untuk semua kalangan.

Srobyong, 29 Juli 2017 

Saturday, 9 December 2017

[Resensi] Cita-Cita, Cinta dan Restu Orangtua

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 19 November 2017 

Judul               : Alang
Penulis             : Desi Puspita Sari
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Juni 2016
Tebal               : iv + 235 hlm
ISBN               : 978-602-9474-09-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

“Kau hanya perlu bersungguh-sungguh. Bukan untuk membuktikan  pada orangtua atau pada siapa pun. Tapi buktikan pada dirimu sendiri, bahwa kau bisa.” (hal 205).

Novel ini mengisahkan tentang perjuangan dalam meraih mimpi. Apa yang terjadi ketika mimpi itu ditentang—tak diresutui orangtua dan disepelekan. Pilihan apa yang akan dilakukan ketika harus memilih maju demi cita-cita atau mengalah demi bakti kepada orangtua.  Membaca  novel ini kita disadarkan, bahwa untuk menjadi dewasa ada hal-hal yang harus diputuskan dan menanggung resiko yang telah dipilih.

April percaya bahwa bakat itu ada. Tapi tidak semua keberhasilan terwujud karena bakat. April lebih percaya kalau pandai dan sukses itu diraih karena tekun dan bekerja keras, ketimbang melulu menggantungkan diri pada bakat (hal 40). Inilah paham yang dipegang erat oleh April. Karena itu dia berusaha keras dalam mewujudkan mimpinya sebagai seorang penyair. Meski itu harus melawan keinginan orangtua yang selalu menyepelekan mimpinya.

“Menjadi penulis tidak akan pernah membuatmu kaya. Kau akan hidup terlunta-lunta.” (hal 147).
Begitu juga dengan Alang.  Sejak duduk dibangku sekolah dasar, dia sudah sangat menyukai musik.  Diam-diam dia belajar bermain gitar dari guru seninya—Pak Gunawan. Dan agar dia bisa memiliki gitar, Alang bekerja keras sambil bekerja. Hanya saja ayah Alang sama sekali tidak menyukai cita-cita anaknya. Karena di desa mereka pun sudah ada teladan kalau seni itu hanya omong kosong. Tidak ada masa depan bagi penggiat seni.

“Hidup di dunia nyata mengajarkan bahwa yang dibutuhkan dalam hidup ini sesungguhnya hanya duit! Dan duit tidak bisa kau dapat dengan bergelut di bidang seni. Seni itu omong kosong. Seni itu tak bisa menghidupi yang ada malah membuatmu mati lebih dini.” (hal 26).

Kesamaan nasib, membuat April dan Alang menjadi dekat. Hubungan yang semula hanya sebatas sahabat, lambat laun berubah menjadi sesuatu yang spesial.  Setelah meenyelesaikan SMA, Alang mengambil peruntungan untuk melanjutkan sekolah musik di Jakarta. Apalagi dia berkesempatan mendapatkan beasiswa.  

Sedangkan April melanjutkan  kuliah di kedokteran. Hanya saja rasa cintanya pada seni, membuat April tidak terlalu serius belajar. Di sinilah masalah timbul. Dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk nongkrong bersama teman-teman seniman. April juga mengajak serta Alang, yang demi rasa sayang akhirnya ikut terbawa pada arus itu. Alang ikut meninggalkan bangku kuliah demi bisa bersama dengan April.  Mereka saling berjanji untuk merengkuh impian bersama-sama.

Hanya saja  itu kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Kenakalan April diketahui orangtuanya sehingga April dijemput orangtua untuk kembali ke Madiun. Pada kenyataanya April merasa tidak bisa apa-apa tanpa dukungan materi dari orangtuanya. Di sinilah titik paling rendah bagi Alang. Dia merasa pengorbanannya pada April sia-sia. Dia sudah melepas kuliah demi gadis itu.  Tapi pada kenyataannya ... janji-janji yang mereka buat tidak satu pun menjadi kenyataan.

Di sinilah dia memahami, “Mimpi itu hanya untuk seorang pemenang, bukan  pecundang. Pemenang itu artinya dia yang tidak mogol atau berhenti di tengah jalan—pada apa pun pilihannya. Pemenang itu juga tidak cengeng. Meski cita-cita dan cintanya kandas, ia akan segera bangkit dan pulih.” (hal 195).  
Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat, membuat novel ini asyik untuk dinikmati.  Apalagi teman yang dianggkat itu cukup dekat dengan dunia literasi serta isu-isu yang kerap menyelimuti. Bahwa seni bukanlah sebuah pekerjaan yang menjanjikan. Meski pada beberapa bagian ada yang terasa lompat-lompat. Namun lepas dari kekurangannya novel ini cukup menghibur. Banyak pesan tersirat yang bisa dijadikan pembelajaran. Seperti sikap tidak mudah menyerah, kekuatan sabar, mau berusaha serta tidak takut dalam mengambil pilihan.

“Kesuksesan itu bukan jalan singkat. Kecuali kamu adalah anak seorang yang sangat kaya, selebihnya kamu harus jatuh bangun berdarah-darah menempuh jalan seni yang terjal.” (hal 217).

Srobyong, 19 Maret 2017