Showing posts with label Kumpulan Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Cerpen. Show all posts

Sunday, 25 March 2018

[Resensi] Menjelajahi Indonesia Timur Lewat Sajak dan Cerita

Dimuat di Lampung Post, Minggu 25 Maret 2018 


Judul               : Dari Timur
Penulis             : MIWF
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               :  112 halaman
ISBN               : 978-602-03-5536-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama Jepara

Buku ini ditulis oleh  Makassar International Writers Festival—MIWF.  Sebuah ajang festival yang sengaja dibuat dan sudah dimulai sejak tahun 2011 guna menemukan bakat-bakat baru di wilayah timur.  Dalam buku ini sendiri—yang merupakan volume pertama hasil dari festival tersebut terdiri dari sebelas penulis ; Ama Achmad, Cicilia Oday, Deasy Tiroyah, Dicky Senda, Emil Amir, Erni Aladjai, Faisal Oddang, Ibe S. Palogai, Irma Agrayanti, Jamil Massa dan Mario F. Lawi—yang menawarkan puisi dan cerita.

Buku yang diberi judul Dari Timur—mencoba mengenalkan karya sastra dari wilayah Indonesia di bagian timur, wilayah yang dalam indikator pencapaian pembangunan infrastuktur, ekonomi dan kultural, tertinggal dibandingkan wilayah barat—namun disebut sebagai wilayah yang mengandung potensi besar.  Dan karya yang terpilih ini telah menunjukkan kekhasan dalam tema dan kematangan dalam pengungkapan.  Beberapa di antaranya di antaranya bahkan sangat berhasil dalam estetika. Di mana kebanyakan ide tulisan ini mencoba mengungkap isu-isu sosial, identitas dan adat budaya.

Sebut saja kisah berjudul “Air” karya Erni Aladjai  yang mana mencoba mengungkapkan tentang isu air yang akan dijadikan komoditas.  Di mana dipaparkan Zon tiba-tiba terbangun dalam keadaan yang tidak pernah dia duga. Keadan di mana dia harus kesulitan mencari air. Bahkan satu galon air dia harus membayar sebanyak satu juta (hal 17).  Kesulitan air membuat keadaan kacau. Terjadi pertengkaran dalam usaha mendapat air itu sudah biasa.  Dan ketiga Zon mengingat sesuatu dia merasa tertampar.  Apalagi ketika dia melihat para demonstran menulis “Air bukan komoditas. Pasang keran-keran air di ruang publik.

Lalu sebuah sajak karya  Ibe S. Palogai berjudul “Konkusinador” yang menggagas tentang pertempuran yang menelan banyak korban—baik dari pihak sendiri juga pihak musuh. Bahwa peperangan itu selalu mengerikan entah itu kalah atau menang. Karena selalu meninggalkan kesedihan bagi siapa saja yang ditinggal.

Karaeng karunrung, pertaruhan untuk rumahmu// dari rimbun pohon di pantai itu// asap di pucuk pandan dan batang manusia// berjaga sepanjang benteng, karena pasang laut// menghirup wangi gulita// hanyulah kamu// ratusan pasukan asing dan sedarah// antara Binga dan Ujung Tanah// kekalahan kami berbaris sebagai tuan rumah (hal 41).

Tidak kalah menarik adalah cerpen karya Emil Amir  “Silariang” yang mengangkat tema adat  budaya—tentang cinta tidak direstui. Kisah ini tentang cinta segi empat antara Saeba, Andi Jamaluddin, Halimah dan La Saddang. Saeba  dan La Saddang saling mencintai, namun tak ada restu dari orangtuanya, karena menganggap La Saddang dianggap tidak sederajat—kenyataan ibunya yang menikah dengan lelaki biasa, hingga mereka dicoret dari silsilah keluarga (hal 65).  Begitu pula Halimah dan Andi Jamaluddin, mereka saling mencintai namun terputus karena berbagai alasan. Kini Saeba akan menikah dengan Andi Jamaluddin.

Ada pula cerpen karya Faisal Oddang berjudul “Orang-orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu” dalam kisah ini kita akan diajak melihat  isu perihal agama. Di mana masyarakat dipaksa menganut agama resmi, mencantumkannya di KTP dan dipaksa menjauhi Tuhan Dewata Sewwae. “Uwak harus memilih, atau hak sebagai warga negara  tidak kalian dapatkan, bisa saja diusir, bisa saja ada yang bertindak di luar  kendali, Uwak sudah  tahu  sendiri,  bukan, apa yang akan terjadi?” (hal 103).

Inilah dilema yang tengah dialami Isuri dan uwaknya. Mereka harus memilih salah satu. Isuki memohon agar Uwaknya mengalah namun bisakah dia membujuk orang yang sangat taan dan ajaran Tolotang?

“Lebih baik ditembaki tentara  daripada dibunuh orang-orang di kampung ini. Lebih baik  menodai aturan pemerintah daripada menodai agama orang lain.” (hal 109).

Selain beberapa yang sudah dipaparkan tentu saja kisah dan sajak yang ada  dalam buku ini, tidak kalah menarik dan memikat. Seperti Anak Penjaga Sekolah, Di Sebuah Biara, Purnama di Atas Rumah dan lain sebagainya. Semua memiliki cara khas dalam bertutur yang membuatnya menarik untuk dinikmati. Keunikan lain dari buku ini adalah kekentalan dalam unsur mistis dan mitos. Dan adanya ilustrasi yang cantik.

Srobyong, 11 Februari 2017 

Wednesday, 14 February 2018

[Resensi] Cerpen dan Kritik Sosial yang Ingin Disampaikan

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 9 Februari 2018 


Judul               : Kiai Amplop
Penulis             : Sam Edy Yuswanto
Penerbit           : LovRinz Publishing
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : 123 halaman
ISBN               : 978-602-6652-96-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Terdiri dari 15 cerita, kumpulan cerpen ini selain memberi hiburan yang menyenangkan juga memberi tambahan wawasan  bagi kita semua. Dengan tutur bahasa lugas juga satire, penulis mencoba mengkritisi kehidupan sosial yang kerap terjadi di dalam masyarakat negeri ini.  Tentang berbagai ketimpangan sosial, tentang adat dan  budaya jawa yang sudah mengakar hingga masalah politik juga agama.

Misalnya saja cerpen berjudul “Kiai Amplop” di mana cerpen ini menceritakan tentang seorang kiai bernama Bahaudin yang sedang naik daun.  Selain memiliki wajah yang enak dipandang dan memang kharismatik, Kiai Baha ini juga memiliki cara penyampaian pengajian yang mudah diterima masyarakat. Hal inilah yang membuat Kiai Baha langsung disukai masyarakat (hal 5).

Dan sejak itu pula, pamor Kiai Baha semakin melesat. Dia tidak lagi hanya menjadi kiai kampung, tapi juga mulai mendapat job untuk memberikan ceramah di televisi. Hal inilah yang kemudian membuat Kiai Baha pindah ke kota.  Pada titik itulah masalah timbul. Dulu sebelum nama Kiai Baha meroket, dia selalu menyangupi permintaan warga untuk memberi ceramah di mana saja. Namun di masa sekarang, Kiai Baha sangat sulit dihubungi. Dengan alasan kepadatan jadwal syuting di televisi  atau jam bentrok dengan ceramah di tempat lain.

Namun sesungguhnya bukan itu alasan Kiai Baha. Ketika kenyamanan sudah menjadi raja, maka uang pun menggilas keikhlasan seseorang. Itulah yang terjadi pada Kiai Baha, berjalannya waktu dia lebih sering membandingkan isi amplop yang dia terima.  Dia tidak pernah menyadari bahwa di balik perbuatannya itu sebuah peringatan tengah mengetuknya, membuat dia langsung terbakar. Yang mana dalam cerpen ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sebagai seorang yang memahami agama, kita tidak boleh menjual agama demi memperoleh uang.  

Ada pula cerpen berjudul “Korupsi”  bisa dibilang cerpen ini benar-benar sesuai realita yang ada. Menyentak dan benar-bener membuat kita yang membaca akan tersindir. Di mana dari kisah ini kita telah ditunjukkan tentang maraknya sikap korupsi yang sudah tidak mewabah di masyarat. Terlihat sepela namun sesungguhnya cukup rumit bagi sebagian orang. Mengingat tidak semua orang setuju dengan perbuatan tersebut.

Kita pasti pernah mengalami kejadian ini. Ketika membeli sesuatu dan saat kita mendapat pengembalian, bukan uang yang kita dapat namun sebuah permen.  Bagi sebagian orang mungkin bisa menerima hal itu dengan lapang. Tapi ada pula yang merasa tidak terima.  Di mana jika kita berpikir ulang, permen yang diberikan pada pembeli, pada kenyataan tidak bisa dipakai untuk membeli jika kita kekurangan uang bukan?  Di sini kita diingatkan untuk membiasakan berbuat korupsi meski hanya seujung kuku.

Kemudian tidak kalah menarik ada sebuah cerpen berjudul “Kiai Jarkoni” dalam cerita ini kita akan dihadapkan pada sebuah episode keimanan. Di mana tiba-tiba tersiar kabar tentang sikap Kiai Jarkoni yang dianggap tercela karena berani membawa gadis muda di sebuah rumah di pinggir jalan. Kiai Jarkoni dianggap sebagai sosok yang sudah tersesat dan tidak patut dihormati lagi, karena dianggap telah berbuat zina (hal 35). Warga kemudian lebih sering menggunjungi dan menjelek-jelekkan Kia Jarkoni.

Dalam cerpen ini kita diingatkan untuk tidak mudah menuduh seseorang sebelum ada buktinya. Karena ketika ucapan tanpa bukti, itu bisa menjadi ghibah. Dan ghibah adalah perbuatan yang tidak disukai Allah, karena sama saja dengan memakan daging teman sendiri.

Selain tiga cerpen itu tentu saja masih banyak cerpen-cerpen lain yang penuh dengan wawasan dan kritik sosial yang benar-benar akan membuat kita tertohok. Misalnya cerpen “Pelayat Amplop”, yang melakukan sesuatu tidak ikhlas karena Allah.  “Pilkades” yang mengkritisi tindak kecurangan selama adanya pemilu.  Lalu “Demi Baju Lebaran” dalam cerpen ini kita diajak untuk menjadi sosok jujur yang tidak mudah terbujuk rayu setan dan banyak lagi.

Keunggulan dari buku ini adalah tema-tema yang benar-benar memasyarakat dan sesuai dengan keadaan zaman sekarang. Belum lagi dengan bahasa yang mudah dicerna, penulis membuat kisah ini hidup. Hanya saja untuk ending masih terasa biasa dan  tidak terlalu mengejutkan. Namun hal itu tidak mengurangi esensi dari isi buku ini.

Srobyong, 24 Desember 2017 

Saturday, 3 February 2018

[Resensi] Kritik Tentang Kekerasan Sosial Melalui Cerita

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 12 Januari 2018


Judul               : Malam Sepasang Lampion
Penulis             : Triyanto Triwikromo
Penerbit           : Kompas
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 192 halaman
ISBN               : 978-602-412-256-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Setiap penulis pasti memiliki keunikan masing-masing dalam mengeksekusi sebuah cerita dan pemilihan gaya bahasa. Ada yang suka menulis dengan gaya bahasa puitis, tersirat, tersurat bahkan satire.  Begitu pula dengan Triyanto Triwikromo, penulis yang juga Redaktur  Pelaksana Harian Suara Merdeka ini, memilih menulis dengan prosa liris—yaitu sebuah karya sastra yang memiliki  irama tertentu, di mana setiap kalimat mempunyai jumlah suku kata yang hampir sama. Dengan turut kata yang lembut dan menarik, penulis mencoba mengkritisi tentang berbagai kekerasan sosial yang kerap terjadi dalam masyarakat.

Kumpulan cerpen ini sendiri, terdiri dari 19 cerpen yang sebelumnya pernah ditayangkan di berbagai media. Seperti  Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka dan lain sebagainya.  Semua dikemas dengan apik dan menarik, sehingga kita akan dibuat penasaran dengan setiap cerita. Dan di sisi lain kita juga harus siap membaca kisah-kisah yang menurut saya mencekam dan mengerikan.

Misalnya saja cerpen berjudul “Ayoveva”. Cerpen ini dibuka dengan paragraf yang menarik dan membuat penasaran.  (hal 9).  Diceritakan meski Ayoveva mengetahui kenyataan tentang perihal dosa besar yang dia dapat ketika akan meninggalkan Ajjar, tetapi dia tetap bertekad untuk pergi. Ayoveva  tetap keukuh dengan pilihannya, meski dia sudah diingatkan berkali-kali.  Dia ingin membuktikan bahwa di luar Ajjar dia tetap bisa menemukan kebahagiaan, cinta dan wujud lain Tuhan yang lebih indah.  Dia pun memulai pengembarannya. Namun siapa sangka apa yang kemudian dia dapat setelah keluar dari Ajjar benar-benar di luar perkiraannya. Belum lagi ketika dia mendengar sebuah percakapan yang membuatnya menggigil. 

Cerpen ini seolah menunjukkan bahwa dalam masyarakat akan selalu ada perbedaan-perbedaan sikap dan pola pikir.  Selain itu  cerpen ini secara tidak langsung juga mengkritisi para pemimpin yang kerap kali tidak memiliki tanggungjawab—mereka suka menindas yang lemah dan melindungi yang kuat. Dan tidak ketinggalan  mereka menjadikan agama sebagai kedok untuk kejahatan.

Ada juga cerpen “Morgot” cerpen ini mengrkritisi manusia yang acap kali bersikap seperti ular. Licin dan berbisa.  Kita kerap melontarkan kata-kata berbisa untuk menyakiti orang lain juga digunakan untuk memengaruhi penduduk untuk memberontak.  Selain itu cerpen ini juga menyinggung tentang kekejaman  sekelompok orang,  yang rela membunuh demi memperkuatn kekuasaan (hal 42). Menceritakan tentang sosok Morgot dalam berbagai sisi dengan menarik dan ajaib.

Tidak kalah menarik ada juga cerpen berjudul “Pengadilan Terakhir”. Di mana cerpen ini mengkritisi sikap sebagian orang yang selalu mendewakan uang. Mereka tidak segan-segan menyuap agar bisa selamat. Dan mereka tidak takut hukum, karena hukum bisa dibeli. Oleh karena itu, kematian di mata mereka hanya sebuah keiseengan yang bisa dengan mudah diselesaikan dengan mencari kambing hitam untuk dijadikan korban.

Cerpen ini berkisah tentang Rosaria yang  tiba-tiba dia dihukum dan diadili karena dianggap telah membunuh Bapak Direktur, tempat dia bekerja. Dia dicerca dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan bahkan mengalami siksaan yang mengerikan. pakaiannya dirobek-robek, rambut dijambak, bahkan  dia diperkosa.  Namun apa yang bisa dilakukan orang kecil seperti dirinya? Karena bagi orang rendah seperti dirinya sia-sia jika melawan hukum yang mendewakan uang. Jadi jika dia tidak memiliki uang, maka sudah dipastikan dia akan kalah, meski dia tidak bersalah.  Dibukan dengan paragraf yang menarik dan ending yang diluar dugaan, membuat cerpen ini cukup menarik (hal 52).

Selain cerpen-cerpen tersebut tentu saja masih banyak cerpen-cerpen lain yang tidak kalah menarik dan mendebarkan. Seperti cerpen Bukit Cahaya,  Anak-Anak Pengasah Pisau, Malam Sepasang Lampion, Rahim Api, Ragaula dan banyak lagi.  Membaca ini kita harus siap dengan kepekatan penulis yang mengeksplore kekerasan. Hanya saja di balik keindahan gaya bahasanya, kadang saya harus membaca cerpen ini berkali-kali untuk menangkan isi cerita. Karena bagi saya gaya bercerita yang lugas bahkan satire lebih cepat dipahami dan menarik. Namun lepas dari kekurangannyaa kumpulan cerpen ini tetaplah karya yang patut dinikmati bagi penggemar prosa liris.

Srobyong,  14 Oktober 2017


Friday, 2 February 2018

[Resensi] Bayang-bayang Prasangka dan Kepercayaan

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 21 Januari 2018 


Judul               : Kejujuran Seorang Maling
Penulis             : Fyodor Dostoyevsky
Penerjemah      : Noa Dhegaska
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : 232 halaman
ISBN               : 978-602-6651-43-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Naskah asli sebelum ada editing dari redaksi Tribun  Jateng 

Kumpulan cerpen ini ditulis oleh Fyodor Dostoyevsky—merupakan penulis asal Rusia yang cukup berpengaruh di masanya. Dalam setiap karyanya dia memiliki ciri khas mengeksplore aspek-aspek psikologi dengan tokoh cerita yang cenderung berasal dari kelas menengah-bawah.  Selain membahas aspek psikologis, penulis juga kerap menggarap cerpennya dengan pembahasan yang pendalam perihal politik, sosial juga spiritual.  Tidak ketinggalan dalam setiap cerita yang diangkat penulis memiliki kecenderungan bermain misteri. Terdiri dari enam cerita,  buku ini cukup menarik dan membuat kita penasarannya. 

Sebut saja cerpen berjudul “Sebuah Kisah dalam Sembilan Surat” ketika membaca cerita ini kita harus sabar mengurai percakapan  antara Pyotr Ivanitch dengan Ivan Pertovitch melalui surat. Mengungkap apa yang  mereka perdebatkan dan kenapa mereka harus saling  mengirim surat.  Tapi yang lebih menarik adalah mengungkap siapa sebenarnya yang melakukan kebohongan dan kelicikan dalam kisah mereka.

Mengingat sebenarnya mereka dulunya adalah sepasang sahabat. Namun karena sebuah masalah, mereka melaukan perbebatan panjang melalui surat yang jujur saya bulang cukup pelik dan membingungkan.

“Aku tak tahu  sampai selama ini apa yang menahanku untuk menyatakan kebenarannya. Sekarang dengan gamblang kubilang bahwa sepertinya kau menelan ludahmu sendiri atas kesepatakan-kesepakatan kita mengenai perjanjian itu.” (hal 15).

Ada pula kisah berjudul “Istri Pria lain atau Sesosok Suami di Bawah Ranjang”  sebuah kisah yang cukup pelik tapi menarik untuk kita cari kebenarannya. Di mana suatu hari ada seorang pemuda sederhana bertemu dengan pria bermantel bulu rakun—di sini memang tidak dijelaskan secara gamblang nama-nama pria tersebut—si pria bermantel bulu rakun sedang mencari seorang wanita yang konon adalah istri dari temannya. Sedang si pemuda ini tengah menunggu pacarnya.  Yang menjadi pertanyaan apakah mungkin mereka sedang menunggu wanita yang sama?  Mungkinkah ini tentang sebuah perselingkuhan?

“Maafkan, maksudku, apakah kau sempat melihat seorang wanita dengan mantel bulu rubah, dengan tudung beludru gelap dan kerudung hitam?” (hal 35).

Tidak kalah menarik adalah cerpen “Kejujuran Seorang Maling”. Mendengar judul itu pasti kita akan bertanya-tanya. Bernakah seorang maling bisa jujur? Mengingat kebiasaan para maling adalah melakukan tipudaya dan tidak ingin tertangkap basah. Di sinilah menariknya.  Dengan bahasa yang tidak rumit, penulis sukses memebuat kita terperangah dengan sebuah kisah sederhana ini.  Kisah tentang Astavy Ivanovitch dengan pemilik rumah kosnya juga dengan teman lamanya Emelyan Ilyitch.

Dari kisah-kisah yang termatub di sini, penulis mengkritisi tentang rendahnya tingkat kepercayaan yang terbangun antara individu,  betapa manusia kerap kali diperbudak kerakusan akan uang, sehingga berani melakukan tindakan licik dan jahat, lalu banyak manusia yang gila kehormatan dan jabatan. Di sisi lain dari buku ini kita bisa mengambil pembelajaran bahwa kita harus menjauhi prasangka, cemburu buta dan dendam, kita juga harus membiasakan bersikap jujur. Karena ketidakjujuran hanya akan membuat kita dihantui rasa bersalah sampai kapan pun. 

Srobyong, 30 Desember 2017 

Tuesday, 12 December 2017

[Resensi] Membongkar Ketimpangan Realita Hidup Lewat Cerita

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 24 November 2017 


Judul               : Cemong
Penulis             : Ida Fitri
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, September 2017
Tebal               : 184 halaman
ISBN               : 978-602-61246-2-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Meski kita kerap kali membaca berbagai cerpen dengan tema-tema yang hampir serupa, namun pada kenyataannya kita tidak pernah bosan dengan sajian cerpen yang hadir setiap pekan di berbagai media. Kita tetap haus dengan kisah-kisah menarik yang disajikan dari berbagai latar dan pendidikan penulis. Karena setiap penulis memiliki sisi unik tersendiri dalam mengemas sebuah cerita. Hal itulah yang membuat perbukuan kumpulan cerpen tetap  tumbuh dan berkembang.

Berbagai penerbit masih menerbitkan kumpulan cerpen yang kebanyakannya pun sudah pernah tersiar di berbagai media. Dan realitas di pasar buku-buku tersebut tetap diterima para pembaca dengan baik. Misalnya saja “Cemong” karya Ida Fitri, penulis asal Aceh, yang diterbitkan di Basabasi.  Terdiri dari 22 cerpen, buku ini mencoba membongkar  ketimpangan yang kerap kali terjadi dalam realitas masyarakat kita.

Misalnya saja cerpen berjudul “Lelakiku  Tertawaan Gunung”. Di mana cerpen ini mengisahkan tentang Cut Meulu yang tidak pernah berhenti menunggu dan setia kepada sang suami—Yid Ahmad yang mengabdi sebagai guru di kaki gunung. Detik demi detik waktu dia gunakan untuk menyiapkan makanan kesukaan sang suami. Dia memasak sayur Plik U—sayuran yang terbuat dari kelapa busuk yang diambil minyaaknya dan dikeringkan, di mana proses pembuatannya hampir memakan waktu seminggu (hal 21).

Selain itu Cut Meulu juga harus menyiapkan ikan asin, salah satu menu favorit lain suaminya. Mungkin saja sewaktu-waktu suaminya akan pulang dan ingin makan. Namun malangnya setiap kali selesai memasak, dia menyadari suaminya tidak  kunjung kembali. Hingga akhirnya masakan itu berakhir untuk dibagi-bagikan kepada tetangga.

Kejadian itu terus terjadi hingga akhirnya membuat Cut Meulu pasrah. Dia meyakini cinta pasti akan menemukan jalannya. Namun di suatu siang yang panas, dia mendapati sebuah kabar yang sungguh menyayat hatinya. Dikhianati dan diduakan? Itukah balasan dari kesetiannya?

Cerpen ini ditutup dengan ending yang tidak terduga, tanpa meninggalkan kesan kesedihan yang menyakitkan bagi tokoh juga pembaca sendiri..   Kisah ini seolah menjawab realitas yang memang kerap terjadi dalam masyarakat. Di mana seorang pria  tidak bisa lepas dari perempuan dan kesepian. Hal itulah yang pada akhirnya memicu terjadinya perselingkuhan, ketika jarak menjadi pemisah sepasang suami-istri.

Selain itu ada pula cerpen berjudul “Kota Tanpa Kenangan”. Bercerita tentang sebuah daerah yang tiba-tiba jadi asing bagi semua orang. Sam memutuskan mengunjungi tanah kelahirannya—Jentaka.  Dia sudah tidak sabar bercumbu dengan masa lalu. Menikmati keindahan desa, bertemu teman dan sauadara. Nanun ketika dia akhirnya sampai di tempat itu, Sam hanya melihat kesedihan yang membingungkan (hal 27).

Sam mendapati kabar yang menyatakan kalau warga mulai hilang ingat. Itulah yang melatar belakangi berbagai pemandangan yang membuaat Sam bingung. Seperti saat melihat seorang ibu yang meninggalkan anaknya.  Dan anehnya perlahan-lahan memori yang dia miliki pun mulai menghilang. Dia lupa alasan pergi ke Jentaka.

Dalam cerpen ini, kita diperlihatkan tentang realitas hidup, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dan uang banyak, selalu menghalalkan segala cara untuk melindungi diri dari perbuatan jahat yang dia miliki.  Baik itu dengan menyuap atau memakai perantara orang pintar.

Tidak kalah menarik adalah cerpen berjudul “Kematian Seekor Tikus”. Cerpen ini adalah contoh nyata bagaimana pola hukum di Indonesia berjalan. Bagaimana hukum yang berusaha menutupi kejahatan karena bantuan orang dalam yang memiliki pangkat kuat. Namun uniknya cerpen ini, penulis memberikan kejutan menarik di akhir cerita.

Selain beberapa cerpen itu, masih ada pula cerpen lain yang juga sangat menarik. Seperti Seraut Wajah Berbingkai Pohon, Mamawa Ya Tambora, Bukan Sulaiman, Buntalan Mikail, Kanibal Linge dan banyak lagi. Dipaparakan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan tidak berat, membuat buku ini sangat asyik untuk dinikmati.  Keunggulan lainnya adalah  bagaimana penulis memilih judul-judul yang menarik dan pembukaan alenia yang membuat kita penasaran untuk menuntaskan kisah sampai akhir.

Hanya saja dalam buku ini ada ketidakkonsistenan dalam memberikan catatan kaki di akhir setiap cerpen.  Begitupula dalam pemberian catatan kaki tentang bahasa daerah yang menurut saya kurang jelas dalam penulisannya. Namun lepas dari kekurangannya, rasa lokalitas dalam buku ini menjadi nilai tambah yang menarik.

Srobyong, 28 Oktober 2017 

Friday, 10 November 2017

[Resensi] Dari Cinta, Kritik Sosial Hingga Plagiasi

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 5 November 2017


Judul               : Percakapan Kunang-kunang
Penulis             : Sam Edy
Penerbit           : LovRinz Publishing
Cetakana         : Pertama, Januari 2017
Tebal               : x + 131 halaman
ISBN               : 978-602-6526-40-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Selain tulisan-tulisaan semacam esai atau pun artikel, cerpen—cerita pendek  adalah salah satu sarana yang sering digunakan sebagai wadah kritik dalam kehidupan sehari-hari—baik masalah sosial kemasyarakan atau pun tentang tatana negara.  Jadi selain memberi hiburan, cerpen juga memiliki maksud atau tujuan lain yang sejatinya bisa dijadikan perenungan. Dan karena cerpen diceritakan dengan gaya naratif fiktif, kesan kritik sosial yang termaktub di dalamnya tidak selugas dalam esai atau artikel—namun terselip rapi—bisa tersirat atau pun tersurat.

Itulah hal yang saya temukan dalam buku “Percakapan Kunang-kunang”.  Dalam setiap kisah yang ditulis Sam Edy, selalu termaktub kritik-kritik sosial secara halus. Namun selain kritik sosial, penulis juga menghadirkan tema cinta yang menarik dan tidak biasa.  Buku  ini sendiri terdiri  17 cerpen. Di  antaranya ada yang   sudah pernah dimuat di berbagai media ada pula yang belum.  

Sebut saja  cerpen berjudul “Di Tepi Serayu”  dengan bahasa yang mudah dipahami, penulis memaparkan kisah percintaan khas remaja yang lancar. Pertemuan Theo dengan Andhis, juga adanya Keyla yang diam-diam menaruh hati kepada Theo. Kisah tidak anak manusia ini membuat kita meyakini bahwa kita tidak akan pernah tahu nasib yang menunggu kita esok hari (hal 13).

Ada pula kisah berjudul “Kekasih Rahasia”  cerita ini cukup mengejutkan. Karena kita akan digiring pada ranah cinta yang tidak biasa. Namun yang pasti cerpen ini cukup menghibur dan membuat kita terbengong di akhir kisah. Haryanto sangat mencintai Silivia, namun  ternyata gadis itu telah menodai kepercayaan Haryanto. Hal itu tentu saja membuatnya sedih. akan tetapi dari kesedihan yang dirasakan Haryanto ada sosok lain yang lebih sedih melihat kenyataan itu. Entah kenapa (hal 19).

Cerita  lainnya yang tidak kalah menarik adalah “Plagiator” sebagaimana judulnya cerpen ini mencoba menyindir pada pelaku plagiasi yang masih marak terjadi dalam dunia literasi. “Kok ada ya, orang yang ingin jadi penulis secara instan?” (hal 40).   Andra Gunawan adalah seorang penulis. Suatu hari  dia melihat ada sebuah cerpen yang dimuat koran nasional.  Awalnya dia merasa kagum dengan cerita tersebut, karena sangat menarik dilihat dari segi ide dan eksekusinya. Namun  mendadak dia sadar kalau cerpen itu adalah hasil plagiat dari salah satu sastrawan di Indonesia.

Cerpen “Negeri CCTV’ juga menarik. Dalam cerpen ini secara halus penulis mengkritisi tentang sifat masyarakat saat ini,  yang terlalu meremahkan masalah-masalah kecil. Mereka berpendapat tidak apa-apa melakukan sedikit kesalahan, pasti mereka akan diampuni. Apalagi tidak ada bukti mereka pernah melakukan kesalahan.  Padahal setiap kecil perbuatan manusia itu pasti akan mendapat balasan masing-masing.

Selanjutkan ada cerpen “Joki CPNS” dari judulnya kita pasti bisa menebak, bahwa kisah yang  dipaparkan penulis,  tidak jauh-jauh dari masalah CPNS.  Di sini dengan bahasa satire, penulis mengkritisi proses CPNS yang kerapa kali dilakukan dengan tidak sehat.  Karena ternyata banyak orang-orang yang rela membeli pikiran orang lain untuk mengerjakan tes yang seharusnya dilakukan sendiri (hal 101).

Selain cerpen-cerpen yang sudah dipaparkan, tentu saja masih banyak cerpen-cerpen lain yang tidak kalah menarik. seperti Aborsi, Honor Cerpen,  Ketika Aku Ingin Bunuh Diri, Liliana dan banyak lagi.  Secara keseluruhan buku ini sangat asyik dinikmati. Penulis memaparkan setiap cerita dengan bahasa lugas dan jelas, sehingga enak dibaca. Hanya saja saya merasa cerpen-cerpen di sini terlalu mudah ditebak pada bagian ending. Padahal pasti akan lebih seru jika ending itu mengejutkan dan tidak terduga. Selain itu di sini masih cukup banyak kesalahan tulis yang saya lihat. Namun lepas dari kekuranganyam buku ini tetap  asyik untuk dibaca. Karena dari cerpen-cerpen yang ada kita bisa merenungkan tentang pesan-pesan yang ingin disampaikan penulis.

Srobyong,  1 Oktober 2017 


Friday, 3 November 2017

[Resensi] Karya Peraih Nobel Sastra yang Mengkritisi Sosial Budaya

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 27 Oktober 2017 


Judul               : Maut Lebih Kejam daripada Cinta
 Penulis            : Orhan Pamuk, dkk
Penyusun         : Anton Kurnia
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : 280 halaman
ISBN               : 978-602-6651-04-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Dalam setiap bidang  industri kreatif kita akan dikenalkan dengan berbagai penghargaan sebagai bukti prestasi luar biasa yang telah dicapai.  Misalnya saja Academy Award—atau disebut juga Piala Oskar, yang merupakan pengharagaan film Amerika untuk menghargai industri film.  Ada pula Grammy Award—yaitu penghargaan bergengsi yang diberikan guna menghargai prestasi luar biasa dalam industri musik. Sedang dalam dunia literasi, pengharaan yang paling prestisus adalah Penghargaan Nobel Sastra. Dan menurut data terbaru, peraih penghargaan Nobel Sastra 2017 ini diraih oleh Kazuo Ishiguro, penulis Inggris berdarah Jepang.

Sebagaimana kita ketahui, sastra memang hadir, tidak hanya hadir sebagai hiburan semata. Dengan kekuatan kata yang tajam, sastra juga hadir sebagai salah satu media yang kerap mengkritisi berbagai masalah sosial budaya masyarakat bahkaan masalah politik. Baik itu dengan prosa liris atau satire. Jadi secara tidak langsung keberadaan sastra semakin menunjukkan  eksistensinya.

Buku ini, yang merupakan hasil pengumpulan dan diterjemaahkan oleh Anton Kurnia—sastrawan Indonesia—di mana sudah banyak karya cerpen, esais atau hasil terjemahannya di muat diberbagai media, merupakaan kumpulan karya para peraih nobel dari berbagai dunia. Anton Kurrnia memilih 25 kisah yang sedikit banyak mengangkat tema cinta, keluarga dan berbagai kritisk sosial budaya.

Misalnya saja cerpen berjudul “Ayah dan Anak” karya Bjornstjerne Bjornson. Cerpen ini menyadarkan kita bahwa seorang ayah tidak memedulikan apa pun, yang terpenting adalah anaknya bahagia. Bahkan jika itu harus menghabiskan banyak biaya. “Aku punya sesuatu yang ingin aku dermakan kepada orang-orang miskin. Aku ingin menjadikan itu sedekah atas nama putraku.” (hal 13).

Dalam cerpen ini diceritakan ada seorang lelaki berpengaruh dan paling kaya di desanya. Namanya Thord Overaas. Dia rela melakukan apa saja untuk anaknya—Finn. Dimuali dari pembabtisan yang dilakukan secara khusus, kemudian doa untuk kelulusan Finn, hingga akhir di mana Finn menikah. Namun sebuah kejadian membuat Thord Overass sangat sedih.

Ada pula kisah  berjudul “Hantu Kekasih” karya Rudyar Kipling. Cerpen ini membuat kita memahami bahwa kita tidak boleh bersikap kejam pada seseorang.  Kita juga harus menjaga ucapan agar tidak membuat orang lain tersakiti. Selain itu ceritaa ini juga mengingatkan agar tidak membenci seseorang secara berlebihan. Karenaa batas benci dan cinta itu setipis benang.

Menceritakan tentang laki-laki bernama Pansay yang kerap kali bergonta-ganti pasaangan. Dia terbiasa memutuskaan hubungan dengan wanaita yang dikencaninya jika bosan. Namun suatu hari ada salah satu wanita bernama Nyonya Wessington yang tidak rela jika harus putus dengan Pansay. Hal itulah yang pada akhirnya membuat Pansay berlaku agak keras agar Nyonya Wessington mau pergi. Hanya saja akibat perbuatannyaa itu Pansay harus menerima kenyataan yang lebih kejam dari apa yang telah dilakukananyaa kepada Nyonya Wessington (hal 15).

Tidak kalah menarik ada cerpen berjudul “Tukang Sepatu”  karya John Galsworthy. Di sini penulis mengkritisi para pelaku bisnis yang kerap melakukan tindakan kotor demi meraih banyak keuntungan. Mereka menjual iklan tanpa memedulikan dengan kualitas karya. Hal ini tergambar jelas dari kisah yang dipaparkan tentang Gesser bersaudara—tukang sepatu. Ketika tukang sepatu lain sudah mulai lalai dan kerap berlaku curang, mereka tetap memilih berjalan pada jalan kebenaran dengan menghasilkan karya terbaik, meski harus terseok-seok dalam bertahan hidup.

Lalu cerpen “Maut Lebih Kejam daripada Cinta” karya Gabriel Garcia Marquez. Sebuah cerpen yang mengkritisi sikap pejabat yang kerap kali mudah tergoda dengan wanita.  Juga tentang kebohongan publik yang kerap dilakukan pejabat—di mana orasi yang dilakukan ketika mencalonkan diri hanya kebohongan, karena setelah terpilih kebanyakan akan ingkar janji. Adalah Senator Onesimo Sanchez yang awalnya selalu menolak membantu Nelson, namun ketika dia menyodorkan putrinya, seketika itu pertahanan sang senator runtuh (hal 133).

Selain itu tentu saja masih banyaak cerita lain yang tidak kalah menarik. Seperti Idiot yang mengkritisi masalah adat, Gelang Emas yang mengiritisi tentang halal dan haram, Bila Dara Jatuh Cinta dan banyak lagi. Semua dipaparkan dengan terjemahan yang lugas dan mudah dimengerti.  Buku ini juga dilengkapi sejarah masalah Penghargaan Nobel Sastra yang pastinya bisa menambah wawasan kita.


Srobyong, 19 Oktober 2017