Saturday, 22 June 2019

[Resensi] Perjuangan dan Pemikiran Sosrokartono, Kakak Kartini


Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 13 Januari 2019


Judul               : Sosrokartono
Penulis             : Aguk Irawan M.N
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, September 2018
Tebal               : 370 halaman
ISBN               : 978-602-7926-42-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Dalam sejarah kita lebih sering mendengar nama besar R.A Kartini, pejuang emansipasi wanita. Kita tidak tahu, bahwa di balik semangat juang Kartini, ada  Sosrokartono, kakak Kartini, yang ternyata merupakan inspirator dan  guru  bagi Kartini. Pria kelahiran Jepara, 10 April 1877, merupakan sosok jenius. Sosrokartono adalah seorang poliglot yang menguasai 26 bahasa asing dan 10 bahasa Nusantara.

Buku ini dengan pembahasan yang lugas dan mudah dicerna, mengajak kita untuk  mengenal lebih dalam tentang sosok Sostokartono, seorang tokoh yang juga memiliki sumbangsih terhadap tanah air Indonesia. Dia memiliki jiwa patriotisme yang tinggi, yang memiliki kepedulian terhadapan pendidikan rakyat Hindia. Hal itu terbutki nyata dari usahanya yang mencoba melobi salah satu petinggi Hindia Belanda, Tuan Rooseboom yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda.

Tanpa rasa gentar Sosrokartono mengungkapkan tentang ketidakadilan pemerintah Hindia Belanda yang membatasi pendidikan kaum pribumi dan meminta kelonggaran agar kaum pribumi bisa mengenyam pendidikan. “Dengan sepenuh jiwa, dari seorang pemuda Hindia yang selalu rindu dan haus akan pengetahuan, saya, sekali lagi memohon Tuan yang bijaksana, untuk memerhatikan pendidikan rakyat Jawa.” (hal 180).

Dia juga memanfaaatkan momen di Kongres Bahasa dan Sastra Belanda, untuk mengemukakan ide dan gagasan tentang pentingnya mempelajari bahasa Belanda bagi kaum pribumi, agar bisa memahami sistem-sistem yang dilakukan para penjajah.  Sehingga tidak ada salah paham antara pemerintah Hindia Belanda dengan rakyat pribumi. Di mana kerap sekali karena kesalahpahaman berbahasa banyak pribumi yang mendapat hukuman tanpa tahu kesalahan mereka.  Tidak hanya itu Sosrokartono juga menggemborkan tentang sikap perdamaian dan kasih sayang bangsa penjajah  dan tidak bertindak semena-mena (hal 200).

Bagi sebagian kaum cendekiawan Belanda sangat salut dengan gagasan Sosrokartono. Akan tetapi bagi para elit cendekiawan yang memiliki mental penjajah sangat marah dengan keberanian pidato yang disampaikan Sosrokartono.  “Untuk mencapai kemajuan, diperlukan usaha yang lebih keras, Tuan. Untuk mencapai kemajuan pula, selalu ada pihak-pihak yang menentang.” (hal 241).

Di antaranya adalah Prof. Dr. Snouck Hurgronje. Di mana menurut pendapatnya jika, sampai pemerintah Hindia Belanda memenuhi harapan Sosrokartono, maka dikhawarikan rakyat pribumi akan menjadi pribadi yang lebih cerdas dan bisa merongrong kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.
Mereka ingin kaum pribumi tetap bodoh. Karena dengan begitu, mereka akan mudah mengendalikannya. Oleh sebab itu, melihat kepintaran dan luasnya pergaulan Sosrokartono, Dr. Snouck sangat khawatir dan mulai mencari kelemahan Sosrokartono untuk dipermalukan dan tidak berani melawan pemerintah Hindia Belanda.

Sosrokartono juga bersumbangsih dalam berdirinya, sebuah organisasi yang bernama Indische Vereegining atau Perhimpunan Hindia, yang awalnya membahas tentang kehidupan para pelajar mahasiswa Hindia di Belanda namun kemudian berubah menjadi organisasi politik yang bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Meskipun  puluhan tahun Sosrokartono bersekolah di Belanda dan mengembara ke Eropa, dia tetap mencitai bangsanya dan tidak mau menghempaskan nilai-nilai pribumi. Di mana dia tegaskan pada saat berpidato di Kongres Bahasa dan Sastra Belandan ke-25 di Gent, Belgia, pada September 1899, “Dengan  tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selamat matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang.”

Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Apalagi memang jarang sekali buku yang membahasa tentang biografi Sosrokartono. Pria jenius dengan segudang prestasinya ini adalah sosok yang patut kita teladani. Karena dia merupakan sosok yang luar biasa. Selain sangat mencintai tanah airnya, dia adalah pemuda yang selalu taat kepada ibu dan ayahnya. Tidak hanya itu dia merupakan sosok yang memiliki spritual tinggi. Di mana karena kemampuannya itu dia bisa mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang lain dan bisa menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dunia medis. Meskipun sedikit banyak masih ada beberapa kekurangan dalam buku ini, hal itu tidak mengurangi esensi yang ditawarkan penulis.

Srobyong, 1 November 2018

[Resensi] Meredakan Islamofobia di Dunia Barat

Dimuat di Jateng Pos, Minggu  13 Januari 2019 

Judul               : Islamofobia
Penulis             : Karen Armstrong, dkk
Penerjemah      : Pilar Muhammad P
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 352 halaman
ISBN               : 978-602-441-055-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Sejak serangan-serangan  terorisme yang mengerikan, seperti kejadian di Amerika (11 September 2001) serta serangan di Paris (13 November 2015) oleh para ekstremis yang mengatasnamakan Islam, sejak itu timbul-lah prasangka, permusuhan,  ketakutan  dan kebencian terhadap sebagian besar umat Islam.  Gejala inilah yang kemudian lazim disebut dengan Islamofobia.

Dan karena sikap para oknum yang mengatasnamakan Islam dalam perbuatan kejinya, kini Islam dianggap sebagai agama yang monolitik (tunggal-kaku tanpa variasi) dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan realitas-realitas baru. Islam dianggap tidak memiliki nilai-nilai yang sama dengan yang diajarkan agama-agama besar lainnya. Islam adalah agama inferior dalam pandangan Barat, yaitu agama yang kuno, biadab dan tidak rasional. Islam merupakan agama kekerasan dan mendukung terorisme. Dan Islam adalah ideoligi politik yang buas (hal 13).

Dari sebagian kecil umat Islam yang bertindak telah bertindak jahat, kini semua muslim disamaratakan sebagai sosok terorisme dan esktrimisme. Padahal jika boleh jujur, dari sekian banyak korban terorisme  adalah umat Islam itu sendiri.  Kenyataan itu tentu saja cukup membingungkan.  Buku ini hadir dalam upaya untuk menemukan alasan dari mana akar kemunculan Islamofobia di Dunia Barat. Namun lebih dari itu, buku ini juga mengajak kita untuk mencoba meredakan islamofobia agar mengembalikan sikap welas asih antar agama dan antar sesama.

Dibuka dengan artikel karya Karen Amstong, di sini kita akan mendapati fakta bahwa sebenarnya islamofobia sudah muncul  cukup lama di dunia Barat. Pada 2013, Uni Eropa menyatakan bahwa Wahabisme adalah sumber utama terorisme global. Namun, mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa semptinya visi Wahabi merupakan lahan subur bagi berkembangnya ekstremisme. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, para kepala suku beraliran Wahabi memang benar-benar melakukan serentetan ekspedisi militer penuh kekerasan terhadap kaum Syi’ah (hal 19-20).

John L. Espposito, dalam artikelnya memaparkan bahwa dari berbagai penelitian yang ada  islamfobia meningkat secara siginifikan tidak hanya dengan terjadinya insiden terorisme domestik, tetapi juga pada saat pemilu, seperti yang terlihat pada pemilu presiden tahun 2008 dan 2012 dan pemilu kongres tahun 2010. Selama kampanye, Newt Gingrich, Rick Santorum, Herman Cain dan lainnnya berusaha untuk mendapatkan perhatian dengan membuat pernyataan sembrono tentang orang Islam (hal 87).

Sedangkan sejak awal Islam merupakan agama yang mencintai kedamaian. Hal ini bisa kita lihat dari padangan Nabi Muhammad selama mengajarkan Islam. Nabi Muhammad  mengajarkan umatnya untuk selalu mengasihi manusia agar Allah pun mengasihi mereka. Islam melarang membunuh tawanan, membunuh masyarakar sipil. Islam harus menegakkan hukum dan ketertiban, memerdekan budak, melarang pemerkosaan, mewujudkan perdamaian, melarang membakar hidup-hidup makhluk hidup, dan melarang menyebut orang Muslim sebagai orang kafir.
Dan semua sikap itu berbanding terbalik dengan ajaran para terorisme yang tidak memiliki belas kasih terhadap sesama manusia, tega membunuh masyarakat sipil dan melegalkan perbudakan dan menyukai aksi-aksi kekerasan.

Oleh sebab itu penting sekali bagi kita untuk mulai meredakan islamofobia di dunia Barat. Sehingga dalam hubungan keagamaan dan antar sesama, akan tercipta sikap welas asih juga saling menghormati.  Di antaranya kita bisa memulainya dengan menghormati instrumen-instrumen semua agama, baik itu berupa bangunan yang menaungi penganut agam, ayat-ayat suci atau kitab suci yang dianggap merupakan wahyu Tuhan dan sifat kenabian, meluangkan waktu dengan orang-orang Islam di komunitas, berpikiran terbuka dan banyak lagi.

Imam Abdul Malik Mujahid dalam artikelnya memaparkan 14 cara dalam melawan islamofobia.  Di antaranya kita harus mengingat Nabi. Nabi didera penghinaan mengerikan dan kejahatan kebencian dalam masa hidupnya. Dia tetap teguh, sabar dan toleran menghadapi islamofobia ini.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan anatara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia.” (hal 133).

Buku ini sangat patut dibaca sebagai wacana dalam mengenal sejarah tumbuh kembangnya islamofobia dan di Barat dan bagaimana cara kita melawan dan atau merdakan Islamofobia.

Srobyong, 8 Desember 2018

Saturday, 27 April 2019

[Resensi] Petualangan Tiga Sahabat Ke Dunia Paralel dan Inspirasinya






Judul               : Ceros dan Batozar  // Komet //  Komet Minor
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Co –Author     : Diena Yashinta
Cetakan           : Dua, Mei 2018 // Tiga, Juli 2018 // Tiga, April 2019
Tebal               : 376 hal // 384 hal // 376 hal
ISBN               : 978-602-038-591-4 //  978-602-038-593-8 // 978-602-062-339-9


Masih ingat dengan serial “BUMI”?  Buku bergenre fantasi dan science fiction yang dipaparkan dengan apik oleh Tere Liye, salah satu penulis Indonesia yang sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam menulis. Mengingat hampir semua bukunya yang terbit—baik di Gramedia atau Republika, semuanya masuk jajaran buku-buku best seller. Ketiga buku ini —Ceros dan Batozar, Komet dan Komet Minor—merupakan seri kelanjutan serial “Bumi” yang sudah banyak ditunggu oleh para penikmatnya.

Kisah ini sendiri masih fokus dengan petualangan tiga sahabat—Raib, Seli dan Ali—yang menarik dan banyak menyimpan nilai-nilai kehidupan. Raib sendiri merupakan keturunan Klan Bulan, yang punya kekuatan menghilang juga penyembuhan. Sedangkan Seli adalah keturunan dari Klan Matahari yang bisa mengeluarkan petir. Dan terakhir ada Ali, cowok cuek, suka bikin onar,  namun sangat jenius yang berasal dari Klan Bumi dan bisa berubah menjadi beruang.

Pada buku “Ceros & Batozar” seri ke-4,5 serial “BUMI”, kita akan diajak keluar sejenak dari masalah genting yang tengah terjadi—sebagai pengingat, pada seri sebelumnya (baca novel Bintang) ketiga sahabat itu tengah fokus mencari pasak bumi untuk menyelamatkan kehidupan seluruh Klan yang ada. Namun siapa sangka di balik keberhasilan mereka menemukan pasak bumi, sebuah bencana yang lebih besar telah menanti, di mana Si Tanpa Mahkota berhasil lolos dari  Penjara Bayangan di Bawah Bayangan,  yang sudah mengurungnya selama ini.

Ceros dan Batozar akan menghadirkan kisah  yang tidak kalah menarik perihal  dunia paralel  yang sudah pernah dialami oleh Raib, Seli dan Ali. Di mana sedikit banyak kisahnya akan membuat kita mundur ke masa lampau dan membuka sebuah tabir kebenaran yang selama ini tertutup rapat dan punya peran penting pada seri lanjutnya Komet.

Raib, Seli dan Ali bertemu dengan  Ngglanggeran dan Ngglanggeram,  si kembar ahli memasak yang juga  bisa berubah menjadi  moster badak yang mengerikan—Ceros yang  berasal dari Klan Aldebaran yang bisa memanipulasi ruang dan waktu (hal 72 – Ceros dan Batozar).   Mereka tinggal di Bor-O-Bdur—sebuah tempat yang terletak jauh di perut bumi—karena sebuah alasan yang tidak terduga.  Salah satu alasannya berkenaan dengan sarung tangan yang kini dikenalan Ali.  

Lepas dari pertemuan dengan Ceros, mereka bertemu dengan  Batozar sang penjagal—seorang buronan paling berbahaya dari Klan Bulan yang telah melarikan diri dari penjara.  Di mana dia dinyatakan telah membunuh seluruh keluarga dari salah satu anggota Komite Klan.   Batozar sendiri sengaja melarikan diri untuk misi tertentu untuk menemukan ingatannya kembali.

Pertemuan dengan dua petarung  hebat itu sedikit banyak telah menambah banyak pengetahuan Raib, Seli dan Ali. Dari  sejarah hidup Ceros dan Batozar yang tidak terduga, masalah dunia paralel yang ternyata sangat luas,  serta teknik-teknik pertarungan yang menakjubkan.

Komet  seri ke-5, memaparkan tentang petualangan Raib, Seli dan Ali yang akhirnya berhasil masuk ke portal menuju Klan Komet.  Mereka tengah berusaha mengejar Si Tanpa Mahkota yang sebelumnya sudah berhasil masuk portal tersebut. Si Tanpa Mahkota berambisi menemukan pusaka paling hebat di dunia Paralel, yang konon terletak di Klan Komet.

Baik Raib, Seli, Ali serta para petinggi setiap klan, tidak bisa membayangkan jika Si Tanpa Mahkota berhasil dengan misinya, maka dunia paralel akan mengalami masalah besar. Karena bisa dipastikan akan ada kekacauan yang sangat mengerikan. Namun sayangnya, mereka terdampat di tempat yang aneh.  Di tempat tersebut, semua benda elektronik tidak bisa digunakan. Hal itu tentu saja sangat menghambat pencarian tiga sahabat yang terbiasa menggunakan berbagai alat canggih dalam berbagai hal.

Beruntung mereka bertemu Paman Kay dan Bibi Nay yang sedikit banyak membantu mereka. Ternyata mereka mendarat di salah satu gugusan pulau di samudra luas, yang memiliki tujuh pulau.  Dengan petunjuk itu mereka mencoba menjari jalan untuk menuju Klan Komet dan sekaligus mencari Si Tanpa Mahkota. Tapi petualangan itu tidak semudah yang mereka bayangkan. Banyak ujian yang harus mereka lewati untuk menemukan pulau dengan tumbuhan aneh yang bisa mengantarkan mereka ke tempat tujuan selanjutnya.

Komet Minor merupakan seri ke-6 atau  seri pamungkas petualangan Raib, Seli dan Ali menghadapi Si Tanpa Mahkota. Raib, Seli dan Ali akhirnya berhasil masuk ke portal menuju Klan Komet Minor.  Namun keberhasilan itu  merupakan  awal  petualangan yang sangat mendebarkan.  Berbeda dari seri sebelumnya,  di mana mereka hanya bertualang sendiri, kali ini petualangan  mereka  dipandu Batazor.

Terpojok karena ulah Si Tanpa Mahkota yang berhasil memodohi mereka saat bertualang di pulau komet, dan mengikat mereka dengan jaring perak.   Ali berhasil memanggil Batozar untuk mendapat bala bantuan.  Bersama Batozar meraka mendapat pengalaman sebagai pengintai  dengan teknik berperang yang hebat.  Mereka berusaha menggagalkan misi Si Tanpa Mahkota yang ingin memburu senjata paling hebat di dunia paralel,  yang menurut Tuan Entre sudah dipecah menjadi tiga bagian. Masing-masing potongan itu dijaga oleh Arci, Nyonya Kulture dan Finale.

Akan tetapi, kekuatan mereka ternyata tidak sepadan dengan Si Tanpa Mahkota. Meski sudah mengeluarkan kekuatan semaksimal mungkin, mereka tidak bisa mengalahkan Si Tanpa Mahkota. Berkali-kali Raib, Ali, Seli dan Batozar harus merelakan potongan senjata yang sudah berhasil mereka dapatkan dengan susah payah. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Si Tanpa Mahkota berhasil menggabungkan tiga potongan tersebut.

Secara keseluruhan ketiga novel ini sangat menarik, mendebarkan dan menginspirasi. Dengan lihai penulis berhasil menyajikan kisah yang membuat kita penasaran sejak awal membaca serial ini. Kita akan dibuat bertanya-tanya bagaimana akhir kisah petualangan Raib, Seli dan Ali, juga kejutan apa yang akan dihadirkan oleh penulis pada setiap seri.

Salut dengan bank ide yang dimiliki Tere Liye, yang bisa menciptakan kisah  unik dan jarang digarap penulis lain.  Petualangan Dunia Paralel yang digarapnya berhasil  memikat banyak orang dari berbagai usia  dan berbagai latar profesi.   Padahal genre fantasi dan science fiction memiliki kadar kesulitan yang lebih tinggi dari genre kisah lainnya.  Untuk mengasilkan kisah bergenre  semi fantasi dan science fiction, penulis membutuhkan riset yang mendalam. Karena penulis harus pintar dalam menggabungkan kisah fiksi dengan data ilmiah  secara tepat dan akurat, agar kisahnya tidak terkesan fiktif belaka atau bohong besar dan tidak berdasar. Melalui serial “Bumi” ini setidaknya  mengukuhkan bahwa Tere Liye merupakan penulis mulitalenta yang berhasil menggarap novel dalam berbagai genre.

Keunggulan dari buku-buku ini adalah penulis menceritakan kisahnya dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami.  Dari segi penokohan pun, penulis  berhasil menggambarkan setiap tokoh dengan sikap yang khas dan konsisten dari setiap seri. Pun dengan sudut pandang cerita yang sejak awal konsisten menggunakan sudut pandang orang pertama dari tokoh Raib. Meski pada kisah “Komet” ada sedikit bagian yang tiba-tiba menggunakan sudut padang orang ketiga (hal 120 – Komet). 

Untuk setting cerita juga digarap dengan apik dan menarik, seolah kita merasa berada di tempat kejadian, membuat saya ikut membayangkan hewan-hewan raksasa di dunia Paralel yang menarik tapi juga pastinya mengerikan. Hanya saja pada kisah “Ceros dan Batozar”  ada beberapa bagian yang tidak dijelaskan secara mendetail tentang bagunan kuno, yang sejarahnya mengarah pada Candi Borobudur, meski dengan beberapa perubahan  yang disesuaikan dengan cerita.

Perbedaan dari seri sebelumnya yang ditulis sendiri, ketiga novel ini ditulis dengan menggunakan co-author.  Namun jangan khawatir untuk gaya bercerita masih terasa kental khas Tere Liye. Meski ada sedikit perbedaan, di mana quote inspiratif yang sering memenuhi buku-buku Tere Liye sedikit berkurang.

Beberapa kekurangan dalam novel ini adalah adanya beberapa kesalahan dalam menyebutkan nama pada seri “Komet” di mana banyak sekali tokoh bernama Kay. Di Pulau Hari Rabu panggilan yang benar adalah Petani Kay, bukan Kakek Kay. Panggilan Kakek Kay seharusnya dipakai ketika berada di Pulau Hari Selasa (hal 200 – Komet).  Kemudian  pada “Komet Minor” saya merasa porsi Raib hanya sedikit dibanding Seli. Karena biasanya dari semua seri, Raib kerap memiliki porsi cerita lebih banyak dari yang lainnya.

Membaca tiga seri ini,  saya merasa sedang membaca gabungan kisah dari Harry Potter, Komik One Piece dan Komik Naruto.  Bagaimana tidak untuk tokoh utamanya sendiri, sudah mengingatkan saya akan persahabatan dan petualangan menarik ala Harry Potter, Ron Weasley dan Hermione Grenger meski dengan formasi berbeda. 


Atau Av yang  mengingatkan saya dengan Profesor Albus Dumbledore



Dan Si Tanpa Mahkota yang mirip tokoh Lord Voldemort, meski Si Tanpa Mahkota ini digambarkan memiliki wajah yang memesona :) 



Rasa One Piece saya rasakan ketika membaca petualangan dari satu pulau ke pulau lain (di novel Komet—bagian perompak di Pulau Hari Kamis) guna mencari pulau yang memiliki tumbuhan aneh. Di mana kisah itu seperti perjalanan Ruffi dan teman-temannya yang harus bertualangan ke berbagai pulau untuk menemukan harta karun bernama “One Piece” peninggalan Gol D. Roger. Tak hanya itu ada pula jaring perak (Novel Komet dan Komet Minor)  yang mengingatkan tentang jaring batu laut yang digukanan untuk menangkap orang-orang pemakan buah iblis. Karena di sini ada bagian Raib, Seli dan Ali langsung lemah ketika dikurung di jaring perak (hal 5 – Komet Minor).

[Episode di mana Ruffi, Zorro dan tema-temannya mengejar Crocodile namun mereka ditangkap dengan jaring batu laut]

Satu lagi adalah kekuatan Si Tanpa Mahkota yang bisa menutupi tubuhnya dengan cahaya hitam pekat, yang mengingatkan akan kekuatan  Marshall D. Teach atau dikenal dengan sebutan Kurohige yang bisa melingkupi dirinya dengan asap hitam (hal 350 – Komet Minor).


Kemudian kekuatan Batozar  (Novel Komet Minor) yang bisa membelah diri menjadi enam belas ini seperti jurus dalam Komik Naruto, yaitu jurus seribu bayangan atau kage bunsin no jutsu (hal 75-76 – Komet Minor).



Lepas dari kelebihan dan kekurangan yang ada, seri novel ini sangat menarik untuk dibaca,  karena banyak pengetahuan yang bisa kita dapatkan.

ü  “Balon-balon dengan tenaga gas bisa terbang hingga 10.00-12.000 meter dan membahayakan pesawat terbang.” (hal 29 – Ceros dan Batozar).

ü  “Kalian tahu burung albatros di dunia kita? Nah, burung itu bahkan terbang sambil tidur.” (hal 48- Komet Minor).

ü  “Kamu tahu  wombat?  Hewan berkantong dengan tubuh gendut itu kotorannya berbentuk kubus.” (hal 236-237- Komet Minor).

 Kemudian ada  juga nilai-nilai hidup yang bisa kita jadikan renungan.  Seperti kisah “Ceros dan Batozar”  yang mengajarkan tentang arti penting persahabatan dan keberanian,  “Ketahuilah, bukan tehnik bertarung, bukan menghancurkan gunung-gunung kekuatan terbaik dunia paralel, melainkan persahabatan. Selalu menjadi orang  baik dan berani” (hal 124 – Ceros dan Batozar).

Atau nasihat untuk tidak menilai seseorang hanya dari luarnya saja.  “Kamu tidak bisa  menilai seseorang  hanya dari  wajahnya, hanya dari penampilannya. Itu tidak adil.” (hal  180 – Ceros dan Batozar).

 “Komet” mengajarkan kita tentang pentingnya memiliki sikap baik dan selalu berbuat baik kepada sesama, mau saling menolong. “Ada banyak sekali kekuatan di dunia paralel. Tapi ketahuilah, salah satu yang paling hebat adalah  perbuatan baik.” (hal 87 – Komet).

Dan melalui “Komet Minor”   kita diajarkan tentang setia kawan, kasih sayang dan kebijaksanaan.  “Kita tidak bisa memilih akan terlahir seperti apa,  tapi kita bisa memilih mau menjadi teman-teman terbaik atau tidak.” (hal 141 – Komet Minor).

Secara keseluruhan ketiga novel ini mengajarkan  banyak nilai-nilai kehidupan. Bahwa di mana pun kita tinggal kita harus menjaga perdamaian, jangan ragu untuk berbuat baik dan menolong orang lain, selalu bersikap tulus terhadap teman, serta bijak menyikapi masalah.

Sebagai penutup saya terkesan dengan sindiran halus dari penulis tentang sikap manusia atau masalah politik sosial yang dipaparkan secara tersirat.

ü  “Pengetahuan digunakan untuk  membuat senjata, lupa bahwa senjata itu akan mengerogoti akal sehat dan membuat ketergatungan. Bumi dipenuhi peperangan besar.”  (hal 123 – Ceros dan Batozar).

ü  “Semua pertikaian antar pemilik kekuatan dan  orang-orang biasa hanyalah kedok, topeng. Sejatinya  itu hanyalah perebutan kekuasaan. Politik. Ambisi  orang-orang yang ingin  berkuasa.  Kebencian, prasangka antara pemilik kekuatan dan  orang-orang biasa sengaja mereka jadikan alat agar mereka bisa berkuasa. Penuh pencitraan, penuh kebohongan.” (hal273 – Ceros dan Batozar).

ü  “Tidak mudah lagi  mengajarkan budaya leluhur di zaman berbeda. Generasi sekarang semua serba instan. Apalagi sejarah mereka tidak peduli.” (hal 274-275)

Srobyong. 26-27  April 2019

Thursday, 4 April 2019

[Resensi] Kisah di Tanah Seberang dan Nasionalisme

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 11 Januari 2019 


Judul               :  Tanah Seberang
Penulis             : Kurnia Gusti Sawiji
Penerbit           : Mojok
Cetakan           : Pertama, Juli 2018
Tebal               : 270 halaman
ISBN               : 978-602-1318-68-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Hidup itu seperti sungai. Sungai itu berkelok-kelok dan cabangnya, membuat kita harus memilih jalan mana yang kita tempuh dengan harus tahu bahwa kita ingin menuju satu tempat yang sama.” (hal 116).
\
Adanya masalah dalam kehidupan ini memang sudah lumrah. Karena hidup tidak mungkin selalu berjalan mulus. Ada kalanya krikil atau bantu sandungan yang menghadang.  Di mana kita disuruh memilih tentang bagaimana cara menyelesaikannya. Setidaknya itulah tema yang diangkat penulis, selain tema masalah dan konfilk keluarga yang begitu kental terasa di sini, serta tentang jati diri—masalah kebangsaan dan nasionalisme.

Dibagi dalam tiga bagian cerita, novel ini mengiring pembaca pada kisah yang seru dan menarik. Di mana kita akan dihadapkan pada cerita-cerita yang menggugah dan menginspirasi. Apalagi ketika melihat bagaimana cara mereka mencoba menyelesaikan setiap masalah yang tengah dihadapi.

Pada kisah pertama, ada Amran, Imran dan Umar yang memiliki tekad kuat untuk menyambangi Dunia Ufuk Barat yang konon menyajikan suasan yang lebih indah dari pada Dunia Ufuk Timur—tepatnya di Raja Alang—tempat tinggal mereka.  Kisah-kisah yang didongengkan Tok Mus, telah membuat mereka begitu terpesona dengan tempat itu. Tapi masalanya, sang ibu—Nur Halimah—wanita asal tanah Jawa itu, selalu melarang keinginan mereka. Ibunya akan marah besar jika ketiga putranya membahas tentang Dunia Ufuk Barat. Tentu saja ada alasan di balik larangan itu.

Pada kisah kedua berhubungan dengan masalah yang harus dihadapi pemuda bangsa yang hidup di tanah rantau. Sejak kecil Nusa memang tinggal dan tumbuh di Malaysia. Akan tetapi sejak kecil dia tetap didik untuk mencintai tanah airnya Indonesia, oleh orangtuanya. Mengingat kedua orangtuanya memang berasal dari Indonesia dan memilih merantau di Malaysia.  Dan Nusa memang tumbuh sebagai pribadi yang memiliki sikap nasionalisme.

Namun sebuah kenyataan tidak terduga yang disampaikan orangtuanya suatu hari, benar-benar mengoyak hatinya. Dia bingung dan bimbang.  Orangtuanya mengabarkan bahwa mereka ingin merubah kewarganegaraan sebagai jalan keluar dari polemik kesehatan tengah dihadapi. Mengingat tunjangan yang diberikan  pemerintah akan sangat membantu dalam upaya penyembuhan penyakit diabetes yang diderita ayahnya.

Sedang cerita yang ketiga adalah kisah Langgam  yang harus menghadapi hidup dengan penuh tantangan. Di usianya yang masih muda, dia tidak bisa menjalaninya layaknya remaja lainnya.  Karena dia harus merawat ayahnya yang mengalami  stroke, yang harus selalu melakukan cuci darah. Tidak hanya masalah itu, dia juga harus mendengar kemarahan ibunya setiap hari. Bagaimana sang ibu selalu menyalahkan ayahnya yang mulai sakit-sakitan. Puncaknya adalah ketika ayahnya tidak akan mendapat asuransi lagi dari perusahaan.

Di sini Langgam dihadapkan pada dua pilihan. Tetap memilih tinggal di Malaysia namun dengan keterbatasan setelah tidak ada topangan biaya dari ayahnya atau kembali ke Indonesia dan memulai semua dari awal. Bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah yang dihadapi? lebih lengkapnya bisa kita baca dalam buku ini.

Benang merah yang disusun penulis dalam kisah ini, membuka mata kita bahwa dalam hidup ini kita tidak bisa  hidup sendirian. Sebagai makhluk sosial kita memerlukan bantuan orang lain. Oleh sebab itu kita harus saling tolong menolong di mana pun berada.  Hal ini ditunjukkan dengan sikap Tok Mus—tokoh penting yang menurut saya menjadi benang merah dari kisah ini.

Secara keseluruhan novel ini cukup menarik untuk dibaca. gambaran kehidupan orang-orang yang hidup di perantauan dengan berbagai polemik yang harus diselesaikan, dieksekusi dengan apik dan menarik oleh penulis. Hanya saja saya kurang sreg dengan adanya bahasa melayu yang tidak ada penjelasan dalam bahasa Indonesia. Sehingga saat membaca saya harus mengira-mengira artinya. Namun lepas dari kekurangannya saya menyukai pesan tersirat dari novel ini. bahwa dalam hidup kita harus saling tolong menolong, jangan menilai seseorang dari luarnya saja dan nasionalisme tidak akan terhapus meski hidup di tanah seberang.

Srobyong, 4 Januari 2019


[Resensi] Membangun Mental Juara untuk Meraih Mimpi



Dimuat di Koran Jakarta, Selasa, 8 Januari 2019 


Judul               : Raih Impian dengan Berpikir Seperti Juara
Penulis             : Gabriela Gonzalez & Ruben Gonzalez
Penerjemah      : Agnes Cynthia
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, September 2018
Tebal               : 278 halaman
ISBN               : 978-602-03-8805-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Menjadi yang terbaik—menjadi juara—merupakan harapan atau impian bagi setiap orang.  Mimpi itu tidak hanya dimiliki oleh pelajar, mahasiswa, karyawan ataupun para pengusaha. Karena dalam hidup kita memang selalu berkompetisi untuk meraih yang terbaik dan teratas. Hanya saja, tidak semua orang mengetahui tentang bagaimana caranya dalam meraih impian tersebut.

Buku ini merupakan kumpulan kisah nyata dari para peraih medali olimpiade dalam menghadapi suka duka,  saat berusaha mewujudkan mimpi mereka. Dengan membaca kisah ini, kita bisa belajar tentang bagaimana cara mereka dalam meraih kesuksesan yang telah lama mereka impikan. Kita juga belajar tentang bagaimana cara membangun mental juara, serta bagaimana membangkitkan kepercayaan diri.

Robert Benitez,  atlet tinju, melalui  kisahnya dia mengingatkan kepada kita bahwa agar berhasil meraih mimpi,  kita harus percaya dengan mimpi itu sendiri dan yakin bahwa kita mampu meraihnya.
Tahun 2000 dia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tes kualifikasi olimpiade. Hal itu tentu saja sangat membuat Robert semangat. Namun sayangnya sekali, dia harus menelan kegagalan. Sedih, kecewa dan marah, tentu saja dirasakan Robert. Namun daripada memelihara kesedihan berkepanjangan, dia memilih bangkit dengan berlatih untuk mempersiapkan diri pada kejuaraan olimpiade 2004 (hal 23).

Hanya saja pada titik itu tantangan yang harus dihadapinya lebih besar dan menantang.  Belum lagi banyak orang yang menganggap bahwa dia tidak akan mampu dalam menyelesaikan misi itu. Namun hal itu tidak mengendorkan mental Robert. Dengan mental yang kuat dan semangat tinggi, Robert membuktikan bahwa dirinya mampu (hal 24).

Khadevis Robinson, atlet lari. Dia menunjukkan bahwa untuk sukses meraih mimpi,  kita harus membuat rencana-rencana ke depan.  Pada tahun 2000, dia mengikuti ajang Kualifikasi Olimpiade Olahraga Luar Ruang AS sebagai salah satu favorit untuk masuk tim olimpiade. Akan tetapi perkiraan itu salah. Khadev gagal dalam kualifikasi tersebut.  Kenyataan itu tentu sangat memukulnya. Tapi dia memilih bangkit, menyusun rencana dan fokus untuk berlatih lagi. Pengalamannya di masa lalu,  mengajarinya untuk selalu berpikir positif.  Membangun pikiran negatif hanya akan membuat dirinya down.

Eddie Liddie, atlet judo, lewat pengalamannya menyadarkan kepada kita bahwa mimpi bisa kita raih jika kita bersikap gigih dan memiliki komitmen. Bagi Eddie olahraga judo awalnya hanya sebuah kebiasaan, karena  setiap hari dia dilatih judo oleh ayahnya. Mengingat kedua orangtuanya merupakan pemegang sabuk hitam dalam judo. Namun ketika dia duduk di bangku kuliah,  dia menyadari bahwa dirinya  sangat menyukai olahraga ini dan ingin mengikuti olimpiade. Di sanalah dia sadar bahwa untuk meraih impiannya mengikuti olimpiade, dia harus berjuang keras. Dia harus gigih dan pantang menyerah.

Janet Evans, atlet renang, menurutnya agar kita bisa meraih impian, maka kita harus siap mengambil tindakan dan menunjukkan kesungguhan kita. Pertama kali dia memimpikan olimpiade adalah setelah setelah menghadiri Seremoni Pembukaan Olimpiade 1984 sebagai penonton. Sejak hari itu dia bertekad bahwa nantinya dia akan ikut olimpiade cabang renang. Untuk mewujudkannya dia mulai rajin berlatih renang dan rela bangun pagi setiap hari, agar bisa melatih kemampuannya.

Shannon Miller, atlet senam, memaparkan jika kita ingin meraih sebuah impian, maka kita tidak boleh menyerah.  Dalam perjalanan menunju olimpiade, dia mengalami cedera, kelelahan fisik, emosional, perubahan dalam ukuran dan bentuk tubuh, serta tekanan  dari diri sendiri untuk meraih kesempurnaan. Masa itu merupakan masa yang cukup berat. Namun dengan semangat yang tidak mudah menyerah, dia berhasil mengatasi ketakutannya dan tetap tampil terbaik saat mengikuti olimpiade.

Secara keseluruhan melalui buku ini kita belajar bahwa dalam meraih mimpi kita harus memegang lima prinsip. Yaitu  mempercayai mimpi, menyusun rencana ke depan, berkomitmen pada impian, siap mengambil tindakan dan  tidak mudah menyerah.

Bruce Jenner, atlet Dasalomba Atletik memaparkan, “Satu-satunya cara untuk mencapai tujuan dalam hidup ini ialah dengan  bekerja keras. Entah kita seorang pemusik, penulis, atlet, entah pebisnis, tidak ada jalan pintas untuk mencapainya. Jika kita melakukannya, kita akan menang. Jika tidak kita tidak akan menang.” (hal 153).

Srobyong, 4 Desember 2018