Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Tuesday, 24 September 2019

Membuka Gerbang Pengetahuan dengan Membaca








Sumber gambar : shutterstock


“Bacalah! Karena membaca kita bisa membuka gerbang pengetahuan. Bacalah! Karena membaca bisa membawa kita ke berbagai negeri seberang. Bacalah! Karena membaca bisa memberi kita kesehatan—terapi jiwa. Bacalah! Karena membaca kita berdaya guna.” (Ratnani Latifah)

Membaca merupakan salah satu gerakan literasi yang harus kita tanamkan kepada anak sejak dini. Usia dini merupakan waktu yang tepat dalam upaya mengenalkan kebiasaan membaca. Karena masa kanak-kanak, merupakan masa golden age—di mana pada masa tersebut, merupakan masa emas pada pertumbuhan anak. Artinya pada masa golden age, anak berada pada masa kondisi yang baik  untuk menumbuhkan atau meningkatan kecerdasan yang dimiliki,  dengan memberikan rangsangan-rangsangan yang baik atau memberikan pembelajaran yang baik kepada anak.  Masa golden age adalah masa kritis, yang akan menjadi landasan dan fondasi dari sikap anak itu sendiri.

Ketika kebiasaan baik—seperti pendidikan akhlak—sudah diajarkan sejak kecil, maka ke depannya kebiasaan itu akan terus melekat hingga tumbuh dewasa. Sebagaimana kebiasaan membaca. Ketika sejak kecil, kita sudah diberi rangsangan untuk mengenal dan mencintai membaca buku, maka ketika tumbuh dewasa, rasa suka itu akan terus ada. Karena disadari atau tidak, sering kali kita tumbuh berdasarkan kebiasaan yang sudah tertanam sejak kecil.

Keluarga sebagai orang terdekat anak, memiliki peran dan tanggung jawab pertama  untuk mengenalkan kebiasaan membaca, membangun gerakan literasi. Karena keluarga—tepatnya orangtua—merupakan role mode yang akan ditiru dan diteladani oleh anak. Di samping itu orangtua juga merupakan madrasah pertama anak. Oleh sebab itu, orangtua harus pintar-pintar dalam mendidik dan mengasuh anak, agar anak tumbuh sebagai generasi bangsa yang cerdas, beprestasi, berdedikasi, berguna bagi agama nusa dan bangsa.  Hal itu merupakan, tugas dan tantangan bagi orangtua.

Literasi sendiri adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan pada kehidupan sehari-hari. Sehingga literasi, tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. [1]

Literasi di sini tidak hanya berhubungan dengan masalah baca tulis, karena literasi ternyata merangkum banyak hal, sebagaimana yang dipaparkan Ibnu Aji Setiawan, bahwa literasi terdiri dari beberapa jenis yaitu, literasi kesehatan, literasi finansial, literas digital, literasi data, literasi kritikal, literasi visual, literasi teknologi, literasi statistik, dan literasi informasi.

Dan hemat saya, membaca adalah pangkal atau awal mula, agar kita bisa berkembang untuk bisa menggalakkan semua jenis literasi tersebut. Tanpa membaca kita akan kering dari ilmu pengetahuan dan informasi.  Karena membaca adalah  guru dan sahabat yang bisa memberikan banyak sekali sumber pengetahuan. Dengan membaca, berbagai ilmu pengetahuan akan mudah kita peroleh, dan kita pun bisa berkembang untuk mempelajari suatu ilmu atau bidang berdasarkan minat atau passion kita.

Namun, fakta di lapangan, minat membaca di Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan berbagai survei dunia yang pernah dilakukan, Indonesia berada di urutan 62 dari 72 negara—diambil dari penelitian Program for International Student Assessment (PISA) 2015.  Dan pada tahun 2016, The World’s Most Literate Nations (WMLN), merilis daftar peringkat negara  perihal tingkat literasi di dunia. Di mana hal itu bersasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jhon W. Miller, Presiden Central Connecticut State Univesity (CCSU), di mana Indonesia berada di urutan nomor 60 dari 61 negara. Miris sekali bukan?

Sumber : Pustakawan Jogja

Dan terlepas dari penelitian yang ada, di daerah saya sendiri, minat baca di sana sangat rendah. Sebagai seorang yang berjibaku dengan buku—suka menulis dan membaca—saya sangat ingin mengajak orang-orang di sekitar saya untuk ikut gemar membaca. Saya bahkan menyediakan koleksi saya untuk dibaca atau bahkan dipinjam. Namun sayang sekali, respon yang ada menunjukkan sebaliknya. Banyak anak atau remaja yang lebih senang bermain gadget dari pada membaca.  Tidak hanya itu alasan kenapa tingkat membaca di daerah saya rendah, ada kalanya berhubungan dengan orangtua yang tidak mendukung anak ketika ingin membaca.

Ada sebuah pengalaman menarik yang beberapa kali saya temui di sekitar saya.  Ada dua anak sebut saja nama Indah dan Mila. Kedua anak ini sebenarnya memiliki rasa penasaran dan senang membaca buku. Namun sayangnya, kesenangan itu tidak mendapat dukungan dari orangtua mereka.  Ketika Indah dan Mila  ingin dibelikan buku, orangtua mereka langsung mundur teratur, ketika mendengar harga buku yang diinginkan anak. Di mana  menurut orangtua mereka harga buku yang diinginkan Mila dan Indah  terlalu  mahal.  Padahal orangtua mereka mampu membelikan Mila dan Intan gadget keluaran terbaru. Wow.

Kejadian itu sungguh membuat saya miris.  Saya benar-benar tidak habis pikir, kenapa satu buku seharga Rp 50.000, - terasa lebih mahal dari pada membelikan anak gadget dengan harga jutaan rupiah?   Dan yang lebih membuat saya tertohok adalah ketika ibu-ibu tersebut mengatakan dengan enteng, “Aku pikir harga bukunya cuma sepuluh ribu rupiah.”


Nah, kalau semua orangtua bersikap seperti itu, lalu bagaimana minat baca anak bisa meningkat? Harga sebuah buku itu tidak sebanding dengan isi dan pengetahuan yang bisa kita peroleh. Dan orangtua merupakan fondasi atau cikal bakal yang memiliki peran penting dalam mengenalkan minat baca. Agar anak tumbuh sebagai sosok yang gemar membaca, ada baiknya kita melakukan pendekatan sebagai beriku :

Cara Mengenalkan Kebiasaan Membaca pada Anak

1.                  Membacakan cerita dari berbagai buku pada anak sejak dini

Sebagaimana yang pernah saya di paparkan di atas, masa kanak-kanan merupakan masa golden age. Pada masa tersebut, anak memiliki potensi terbaik dalam merekam segala hal yang dicontohkan orangtua. Nah, ketika sejak dini kita sudah membiasakan anak mendengar berbagai cerita dari berbagai buku, maka secara tidak langsung kita telah mengenalkan buku serta membangun fondasi awal dalam gerakan literasi.

Selain memberi manfaat dalam mengenalkan buku, membacakan cerita kepada anak, juga bermanfaat dalam memberikan rangsangan daya pikir anak, sehingga anak lebih kritis, serba ingin tahu serta membangkitkan imajinasi anak.  Tidak kalah penting membacakan cerita pun berpotensi menjadi awal mula orangtua dalam mendidik karakter modal sejak dini. Karena buku-buku cerita yang ada saat ini, selalu memberikan pesan moral yang bisa dijadikan contoh dan teladan.

2.                  Mengajak anak membeli buku sendiri

Ketika orangtua ingin mengenalkan buku pada anak, maka salah satunya adalah dengan mengajak anak ikut berbelanja memilih buku sendiri.  Kita bisa memberikan kebebasan bagi anak untuk memilikih buku yang disukai dan tidak memaksan anak untuk membaca buku sesuai dengan selera kita. Yang terpenting adalah, kita tetap mengawasi dan memberikan masukan jika memang diperlukan.

3.                  Membuat perpustakaan untuk anak

Agar anak semakin semangat membaca, kita juga bisa membuatkan perpustakaan unuk  anak. Di sana kita menyediakan berbagai buku khusus tentang dunia anak. Keberadaan persputakaan anak akan membuat anak semangat untuk memilih buku sesuai dengan kesukaannya dan bisa membaca dengan puas. Dengan catatan dalam memilih buku anak kita juga harus menyesuaikan dengan usia anak. Kita tidak boleh sembarangan dalam memilih buku. Ketika anak baru usia 5 tahun, buku bergambar lebih direkomendasikan dari pada memberi anak buku novel yang terdiri dari banyak kata.  Dan tentunya itu  cara yang salah dalam tahap awal mengenalkan minat membaca. Ketika buku tidak sesuai usia, anak malah bisa jadi terbebani dan merasa takut. 

4.                  Mengajak anak pergi ke perpustakaan

Selain memiliki perpustakaan sendiri di rumah, mengajak jalan-jalan anak ke perpustakaan daerah atau perpustakaan nasioanl pun bisa menjadi salah satu cara untuk mengenalkan anak dengan kegemaran mencintai buku dan suka membaca. Lewat jalan-jalan tersebut kita bisa menjelaskan tentang manfaat dari membaca buku, dengan cara yang lebih santai dan menyenangkan.

5.                  Tidak Mengenalkan Gadget kepada Anak sebelum Waktunya

Saat ini hampir setiap orangtua membiarkan anaknya bermain dengan gadget. Padahal ada masa tersendiri bagi anak untuk dipebolehkan menggunakan gawai tersebut. Memang benar, ketika anak diberi gadget, anak akan diam dan tidak rewel. Sehingga orangtua bisa bebas melakukan aktivitas harian di rumah. Namun perlu kita ketahui, di balik kemudahan itu, gagdet memiliki banyak sekali dampak buruk bagi anak.

Dalam buku “Digital Parenthink”  karya Mona Ratuliu, memaparkan dengan gamblang tentang berbagai dampak gadget bagi pertumbuhan anak.  Di antara dampak yang akan terjadi pada anak ketika terlalu sering menggunakan gadget adalah anak akan kehilangan waktu untuk melakukan permainan dan melibatkan fisik. Hasilnya, anak akan mengalami kesulitan pada keseimbangan tubuh.  Selain gadget juga membuat anak malah bergerak sehingga mudah terserang penyakit, menjadi pribadi yang anti sosial dan banyak lagi.

Ikatan Dokter Anak di Amerika Serikat mengeluarkan waktu tatap layar yang tepat. Anak di bawah 18 bulan tidak diperkenankan menggunakan gadget, kecuali untuk aplikasi video chating.  Bagi anak berusia 2-5 maksimal satu jam perhari dalam menatap layar, namun harus dengan bimbingan orangtua. Anak berusia di atas enam tahun ke atas, bisa diberikan batasan waktu yang tegas, dalam menggunakan digital, di luar waktu “wajib” seperti sekolah, mengerjakan tugas sekolah, membantu orangtua dan tidur.  

Nah, daripada mengenalkan gadget kepada anak, alangkah lebih baiknya orangtua mengenalkan buku yang memiliki banyak potensi dalam mengembangkan daya kreativitas anak  juga bisa menambah pengetahuan anak.

Lepas dari bagaimana cara mengenalkan buku kepada anak, kita juga harus memerhatikan cara memiliki buku bacaan yang tepat bagi anak.  Mengambil referensi dari buku  karya Arleen A berjudul “Belajar Menulis Cerita Anak” kita bisa menemukan buku yang pas sesuai dengan kebutuhan anak.

Cara Memilih Bacaan Anak yang Baik Sesuai Usia

  1. Buku Kata-kata (Word Book)   (Bayi - 3 tahun)
Buku ini biasanya belum mengandung cerita atau hanya cerita tanpa plot. Halaman buku lebih banyak berisi gambar.  Buku ini terdiri dari 1-2 kata per halaman, untuk menjelaskan gambar. Untuk jumlah halaman buku biasanya hanya terdiri dari 10-20 halaman.

Contoh Buku Word Book

  1. Buku cerita bergambar pendek (Picture Book)  (2-5 tahun)
Untuk buku picture book, di sini sudah ada cerita sederhana. Seperti word book, buku ini juga dipenuhi gambar per halaman dengan tambahan 1-2 kalimat dengan kosakata yang sederhana. Jumlah halaman biasanya 16-24 halaman.

Contoh Buku Picture Books

  1. Buku dengan bab (Chapter Book) ( 5-8 tahun)
Buku ini biasanya memiliki cerita yang lebih panjang dan dibagi dalam beberapa bab.  Halamannya tidak lagi dipenuhi gambar, dan biasanya hanya ada beberapa gambar pada satu babnya. Kosakata yang digunakan sudah diperluas. Dan per halaman biasanya sudah penuh dengan teks cerita. Jumlah halaman buku sekitar 40-100 halaman

Contoh Buku Chapter Book

  1. Novel    (7 tahun ke atas)
Buku novel ceritanya panjang dengan plot yang rumit dan sulit ditebak dan biasanya dibagi dalam beberapa bab. Untuk buku berjenis novel sudah mulai tidak menggunakan gambar, dan susunan kalimatnya sudah menggunakan berbagai struktuk. Jumlah halaman untuk novel biasanya lebih dari 80 halaman.

Contoh Buku Novel Anak

Kemudian tidak kalah penting  untuk mengenalkan buku kepada anak, kita harus memahami genre-genre yang bisa dijadikan pilihan anak. Karena sudah tentu setiap anak memiliki selera berbeda dalam memilih buku.  Ada anak yang suka membaca buku misteri, petualangan, ada juga yang suka membaca bergenre sejarah atau nonfiksi.

Memilih Genre Bacaan untuk Anak

  1. Petualangan, Misteri  dan Horor
Genre ini meski kadang menakutkan, namun genre misteri dan horor, bisa mengasah keberanian dan rasa kritis anak dalam menyelesaikan masalah.

Buku Bergenre Petualangan, Mistri dan Horor. Sumber : Buku Erlita Pratiwi


  1. Fantasi
Membiarkan anak membaca buku bergenre fantasi akan membantu anak dalam mengembangkan imajinasi anak yang unik dan tidak terbatas.

Buku Bergenre Fantasi. Sumber : IG Gramedia Pustaka Utama 

  1. Sejarah
Buku bergenre sejarah—baik sejarah perjuangan atau sejarah nabi, pastinya akan banyak membantu anak untuk mengetahui sejarah di masa lampau juga untuk mengambil pembelajaran dari sana—baik itu tentang semangat juang, atau kesabaran orang-orang terdahulu.

Buku Bergenre Sejarah


  1. Nonfiksi
Untuk buku nonfiksi, buku-buku semacam ini akan menawarkan banyak berbagai pengetahuan baru dan wawasan bagi anak. Di mana pengetahuan itu tidak hanya tentang pengetahuan umum, namun juga pengetahuan sejarah, sains, keagamaan dan banyak lagi.

Buku bergenre nonfiksi 

Selain orangtua atau keluarga yang berupaya dalam mengenalkan dan meningkatkan minat baca, masyarakat pun harus ikut berperan aktif melakukan kegiatan yang serupa. Dengan kerjasama yang baik atau saling mendukung kegiatan gerakan literasi akan berpeluang lebih besar untuk berkembang.  Apa saja yang bisa dilakukan masyarakat dalam mengenalkan dan meningkatkan gerakan literasi? Kita bisa melakukan beberapa hal ini.

Peran Masyarakat dalam Meningkatkan Budaya Membaca dan Literasi

  1. Membuka Taman Baca
Untuk meningkatkan minat baca kepada anak dan masyarakat luas, salah satu caranya adalah dengan membuat taman baca. Keberadan taman baca dengan menghadirkan buku-buku lengkap—baik buku anak, buku-buku untuk remaja, sastra dan buku-buku pengetahuan lainnya, hal itu akan membantu masyarakat dalam mengakses buku.  Apalagi jika daerah yang bersangkutan, memiliki akses buku yang sulit.

  1. Membangun Komunitas Membaca
Selain taman baca, membangun komunitas membaca juga bisa menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan minat baca. Di mana dalam komunitasi itu kita bisa membuat ide agar setiap anggota rajin membaca dan mendapat tugas membuat ulasan dari setiap buku yang sudah selesaikan dikhatamkan.  Atau bisa juga setiap berapa minggu sekali dilakukan diskusi  membahasa buku-buku terbaru.

  1. Mengadakan Pelatihan Menulis
Tidak kalah menarik, kita juga bisa mengadakan pelatihan menulis, bagi siapa saja yang tertarik untuk belajar menulis—baik itu menulis puisi, cerpen, opini, resensi atau bahkan novel.  Pelatihan menulis akan membantu kita menemukan bibit-bibit baru yang kompeten dan berbakat untuk meramaikan dunia literasi.

Namun untuk mensukseskan gerakalan literasi, semua harus dimulai dari kesadaran diri masiang-masing. Tanpa adanya kesadaran diri, kita tidak akan bisa mewujudkan semua rencana-rencana yang kita buat tersebut. Kita harus mulai berpikir terbuka dan berpikir maju. Ketika gerakan literasi semakin tumbuh berkembang, hal itu juga akan meningkatkan mutu sumber daya manusia di masyarakat.

#SahabatKeluarga  #LiterasiKeluarga

Srobyong, 24 September 2019

Sumber : 

Arleen A, Belajar Menulis Cerita Anak, Jakarta Erlangga for Kids, 2018

Damarjati Danu, Benarkah Minat Baca Anak Indonesia Serendah Ini?, https://news.detik.com/berita/d-4371993/benarkah-minat-baca-orang-indonesia-serendah-ini, diakeses tanggal 24 September 2019.

Pustakawan Jogja, “Peringkat Negara Literasi di Dunia : No. 1 Findaliandia, Lha Indonesia?” http://pustakawanjogja.blogspot.com/2016/03/peringkat-negara-literasi-di-dunia-no-1.html, diakeses tanggal 24 September 2019.

Ratuliu Mona, Digital Parenthink, Jakarta  : Noura Books,  2018.

Setiawan, Ibnu Aji, Kupas Tuntas Jenis dan Pengertian Literasi,  http://gurudigital.id/jenis-pengertian-literasi-adalah/ diakeses tanggal 24 September 2019.




[1] Ibnu Aji Setiawan, “Kupas Tuntas Jenis dan Pengertian Literasi”,  http://gurudigital.id/jenis-pengertian-literasi-adalah/ akses 24 September 2019

Thursday, 5 October 2017

[Artikel] Makanan Halal Sehatkan Jiwa

Sumber Riawani Elyta


“Makanlah dari yang bagus-bagus dan kerjakanlah yang baik-baik.” (QS. Al-Mu’minun : 51).

~*~

Membicarakan tentang halal dan haram makanan, saya langsung teringat dengan kisah ayah dari Imam Syafi’i—Idris bin Abbas.   Masih ingat, kan dengan kisah tersebut? Mari coba kita gali kembali ingatan kita. 

Diceritakan pada suatu masa Idris bin Abbas di tengah perjalannya, dia merasa haus dan lapar. Bertepatan dengan rasa itu, Idris pun melihat aliran sungai. Dia pun segera meminumnya untuk menghilangkan dahaga. Ketika dia minum, tiba-tiba pandangannya menangkap buah delima yang mengalir ke arahnya. Tanpa ragu Idris pun mengambil delima tersebut. Mungkin delima itu bisa dia gunakan untuk sekadar mengganjal perutnya yang tengah lapar.

Namun setelah satu gigitan, Idris langsung beristigfar. Astagfirullah hal Adzim? Apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku sampai memakain buah ini? Kenapa aku tidak berpikir kalau buah ini memiliki pemilik yang sah? Berbagai kecamuk pertanyaan menggema di kepala Idris.

Sebagaimana diketahui, Idris ini dikenal sebagai seorang pemuda yang selalu menjaga makanannya. Dia tidak ingin memakan makanan haram atau subhat yang tidak diketahui dari mana asalnya. Oleh karena itu, dengan tekad kuat, Idris pun kemudian menyusuri sungai. Siapa tahu dia bisa menemukan pohon delima di sekitar sana. Dan benar saja ketika melihat ada sebuah rumah dengan perkebunan delima yang rimbun, Idris langsung menemui pemilik buah delima. Dia menceritakan semua kejadian yang dia alami. Selain itu Idris juga memohon agar buah yang sudah terlanjur dia telan itu dihalalkan. Dia bahkan rela melakukan apa saja, asal sang pemilik delima mau menghalalkan.

~*~

Inspiratif sekali bukan? Bagaimana perjuangan Idris bin Abbas dalam menjaga diri dari makanan halal.  Oh ... iya selain Idris bin Abbas, ada juga kisah dari tokoh  lain yang tidak kalah menginspirasi.  

Siapa yang tidak mengenal sahabat  Abu Bakar as shiqid? Dia adalah sahabat Rasul dan merupakan salah satu orang yang masuk agama Islam pertama kali. Abu Bakar ini memang dikenal sangat menjaga diri dari makanan yang syubhat dan haram. Namun pada suatu hari salah satu pembantunya memberikan makanan kepada Abu Bakar. Dengan santai dan tanpa bertanya ini-itu Abu Bakar memakannya. Padahal biasanya Abu Bakar selalu bertanya asal usul makanan yang dihidangkan padanya.

Melihat hal itu, pembantu Abu Bakar pun berkata, “Wahai Tuan mengapa engkau tidak bertanya terlebih dahulu tentang makanan yang kuberikan padamu?”

Mendengar pertanyaan itu Abu Bakar terdiam. Tadi dia memang sangat lapar, oleh karena itu dia langsung memakan makanan itu.  Dia pun meminta pembantunya untuk bercerita. Dan betapa terkejutnya Abu Bakar ketika mengetahui asal usul makanan yang baru dia makan. Cepat-cepat Abu Bakar  memasukkan jari-jarinya untuk mengambil  makanan agar bisa dimuntahkan.

~*~

Lepas dari kisah-kisah inspiratif, masalah halal dan haram sebuah makanan memang perlu kita perhatikan dengan saksama. Karena hal itu berkaitan erat dengan baik dan buruk perangai kita. Perlu kita ketahui apa yang kita makan, selain berpengaruh pada kesehatan tubuh, juga berpengaruh dengan akhlak dan kepribadian kita. Makanan juga memberi dampak akan kesehatan, jiwa juga dalam masalah ibadah.   Jika kita sering memakan makanan haram, lama kelamaan hati kita akan berkarat dan sulit dinaasihati. Sebaliknya jika kita terbiasa memakan makanan halal, Allah akan melunakkan hati kita agar mudah mendapat petunjuk. 

Trus pengertian makanan halal itu apa sih? Nah makanan halal itu berararti apa-apa yang telah dihalalkan oleh Allah baik yang diterangkan melalui Al-Quran atau hadist.

Allah berfirman :

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah : 168).

Oh ... iya selain halal  kita juga perlu  perhatikan apakah  makanan itu  thayyib atau tidak. Eh ... thayyib itu apa?  Thayyib di sini berarti berarti makanan itu suci, tidak najis juga tidak haram. Bisa juga dibilang thayyib itu  enak, sehat, bergizi,  tidak basi atau mengandung hal-hal yang berbahaya.  Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah :

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”  (QS. Al-Maidah : 88).

Contoh makanan halal dan baik adalah sayur-mayur, buah-buahan, madu, nasi, dan banyak lagi.

Sedangkan makanan haram adalah makanan yang dilarang Allah baik yang diterangkan dalam Al-Quran atau hadist.  Yaitu makanan yang bisa merusak tubuh atau akal. Seperti narkoba, daging anjing, khamar, babi dan banyak lagi.

Namun selain itu, penting kita ketahui juga adalah proses dari memperoleh makanan halal itu sendiri. Karena makanan yang halal jika dicari dengan cara yang haram, hal itu bisa membuat kehalalan makanan itu luntur. 

“Dan janganlah kamu makan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak halal).” (QS. Al-Baqarah : 188).

Nabi juga bersabda, “Mencari yang halal itu, adalah fardu atas tiap-tiap muslim. Mencari ilmu, adalah fardu atas tiap-tiap muslim.” (HR. Ibnu Mas’ud r.a).

Bisa kita simpulkan bahwa ilmu yang dimaksud nabi adalah tentang pengetahuan perihal halal haram.  Karena dengan memiliki ilmu kita akan tersesat atau salah jalan. Berbeda jika kita tidak berilmu, kita akan mudah dibodohi dan dibohongi.

Oleh karena itu betapa kita harus memerhatikan makanan yang akan kita makan. Baik itu tentang kehalalan makanan itu sendiri, juga asal muasal—dari pekerjaan apa makanan itu akhirnya diperoleh. Seperti yang saya bilang sebelumnya, makanan halal bisa menjadi haram jika dalam mencari rezeki  kita melakukannya dengan jalan yang haram.

Nabi Bersabda : “Barangsiapa berusaha untuk keluarganya dari yang halal, maka ia seperti orang yang berjihad fi sabilllah. Dan barangsiapa mencari dunia yang halal dalam menjaga diri dari yang haram, niscaya  adalah ia pada derajat orang-orang syahid.” (HR. Thabrani dari Abu Hurairah).

Sumber Google 


Biar lebih jelas, yuk kita mengenal dampak memakan makanan yang halal dan haram.

Ø  Manfaat Memakan Makanan Halal

1.      Orang yang selalu memakan makanan yang halal akan mendapat nur (cahaya) dari Allah

Nabi bersabda : “Barangsiapa memakan yang halal empat puluh hari, niscaya dianugerahi nur dalam hatinya dan dialirkan mata air nikmat dari hatinya kepada lidahnya.”  (Dari kitab Ihya Ulumuddin jilid 2).     
   
Ini berarti siapa saja yang selalu memakan makanan halal, Allah akan selalu menjaga hatinya agar selalu bercahaya—yaitu mudah diingatkan dan selalu ingat kepada Allah.

2.      Akan diterima doanya

“Baguskan makanmu, niscaya diterima doamu.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).

Hal ini menunjukkan, kita diperintahkan Allah agar selalu menjaga makanan kita. Agar apa yang masuk di dalam perut kita ini tidak dimasuki makanan yang syubhat atau haram.  Dengan begitu ketika kita berdoa, doa kita akan diterima.

3.      Memberi kesehatan jiwa

Jangan meremehkan makanan halal. Karena dari makanan yang halal baik dan berkah itulah, hati menjadi  sehat. Sehat di sini berarti selalu ingat kepada Allah dan tidak mudah terlena.

Ø  Akibat Memakan Makanan Haram

1.      Merusak kesehatan hati

Dalam sebuah hadis dipaparkan, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam diri ini terdapat segumpal dagingm jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Ketauilah bahwa dia adalah hati.” (HR. Mutaffaq ‘Alaih).

Hal ini menjelaskan bahwa perkara makan halal atau haram memiliki kaitan erat dengan kesehatan hati. Jika terlalu sering memakan makanan yang haram, hati menjadi keras. Berbeda jika selalu memakan makanan yang halal, hati kita muda mendapat cahaya ilahi.

2.      Doa tidak dikabulkan

Nabi bersabda “Banyaklah orang yang centang-perenang, berdebu, yang lari ke sana- ke mari dalam perjalanan jauh, makanannya haram, pakaiannya haram dan selalu memakaan yang haram, yang mengangkat kedua tangannyaa. Lalu berdoa, Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku Maka bagaimanakah diterima doaanya itu jika demikian?” (HR. Musliam dari Abu Hurairah).

Padahal orang-orang yang akan dikabulkan doanya adalah mereka yang selalu memperbanyak zikir dan menjauhi segala hal yang diharamkan.

3.      Merusak amal salih.

Ibnu Abbas berkata, “Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang di dalam lambungnya terdapat makanan haram.”

Wah ... mengerikan bukan? Bagaimana kalau shalat kita tidak diterima? Padahal shalat adalah amal pertama yang dihisab pada hari akhir, dan shalat adalah tiang agama. Oleh karena itu mari kita perlu hati-hati dalam memilih makanan.

4.      Merasa hina dan rendah diri

Nabi bersabda : “Dan dosa adalah sesuatu yang membuat goncang hatimu dan engkau tidak suka orang-orang  mengetahuinya.”  (HR. Muslim).

Tanpa kita sadari ketika kita melakukan hal-hal yang kurang baik, maka hati kita akan merasa malu. Begitu pula saat kita makan dengan cara tidak halal atau makan makanan yang haram. maka dengan sendirinya hati kita menjadi tidak tenang, merasa hina dan rendah diri.

5.      Menyebabkan keturunan rusak.

Disadari atau tidak, jika seseorang yang sering memakan makanan yang haram, dampaknya ternyata tidak hanya pada dirinya sendiri. Dampak jangka lama adalah ketika mereka sudah berkeluarga dan kemudian memiliki keturunan. Di mana seseorang yang terlahir dari ayah atau ibu yang suka makan makanan haram akan membuat anak-anak mereka lebih cenderung menjadi anak yang susah diatur—rusak agama juga akhlak yang dimiliki.

6.      Merusak tali silaturrahim

Nabi bersabda : “Barangsiapa memperoleh harta dari perbuatan yang dosa, lalu dipergunakan uang itu untuk menyambung silatururrahim atau bersedekah dengan uang itu atau membelanjakannya pada jalan Allah, nisacaya dikumpulkan oleh Allah semuanya, kemudian dilemparkannya ke neraka.”

Mengerikan bukan? Ternyata dampak memakan makanan halal itu sangat besar. Padahal hukum memutus silaturrahim juga sangat menakutkan.

7.      Menimbulkan banyak penyakit pada tubuh

Nabi bersabda : “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mangharamkan jual beli, khamar, bangkai babi dan berhala.” (HR. Muslim).

Perlu kita ketahui adanya larangan memakan makanan yang telah dipaparkan dalam hadis tersebut itu sejatinya sangat bermanfaat bagi manusia.  Saya pernah membaca dalam buku beberapa penyakit banyak terjadi karena terlalu sering mengkonsumi minuman keras.  Seperti gagal jantung, hipertensi, pembesaran kelenjar prostat.  Akibat terlalu sering meminum khamar juga membuat darah  menjadi kental.

Dan bagi yang suka makan babi, ternyata dalam tubuh babi ini terdapat banyak bibit penyakit yang bisa menyerang tubuh kita.  Dalam sebuah penelitian menunjukkan kalau babi adalah salah satu gudang bakteri terbesar.  Di mana dalam babi ada cacing pita yang jika menempel pada usus,  cacing pita itu akan ikut  mengalir  bersama darah.  Dan jika sampai ke otak, bisa menyebabkan ayan atau lepsi, gangguan saraf, hingga kematian. Selain itu babi juga menyebabkan penyakit toxo plasmosis—yang menyebabkan keguguran, kanker, jatung, encok,  hingga penyakit kulit dan alergi yang disebabkan babi.

Jadi, betapa pentingnya untuk  memahami  dan mematuhi masalah halal dan haram makanan, juga makanan yang tyyaib. Dengan memahami dan mematuhi tentang batasan halal dan haram serta makanan yang baik, kita bisa memilah-milah makanan yang bisa kita makan.  

Sebagai seorang muslim kita memang tidak boleh meremehkan masalah makanan. Saya pernah dengar—entah dari mana—kalau orang yang suka memakan makanan haram, maka dalam perut mereka nanti akan terbakar.  Ich ... ngeri ya! Yuk, mulai memperbaiki diri. Salah satunya dengan membaca buku terbaru Mbak Riawani Elyta dan Risa Mutia "Waspada Jejak Haram yang Mengintai" terbitan Qibla, Bhuana Ilmu Populer. 

Srobyong, 5 Oktober 2017 

Sumber Riawani Elyta


Referensi :

Erlita Pratiwi dan dr. Yekti Mumpuni, Tetap Sehat saat Lansia, Rapha Publihisng, Jogjakarta: 2017.

Indah Hanaco, 35 Fakta Sains yang Diajarkan Nabi Muhammad saw, Gramedia, Jakarta : 2017.

Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin Jilid 2, Cv. Faizan

Mahira Taqiyah, Pengaruh Halal dan Haram, http://a10mahira.blogspot.co.id/2016/08/pengaruh-makanan-halal-dan-haram-bagi.html diakses 4/10/17



Al-Quran